Proposal Penelitian
PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DAN CITRA PERUSAHAAN
(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social
Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di
Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Menyelesaikan Pendidikan Strata 1 (S1)
di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Disusun Oleh:
FERINA ZULYANA POHAN 040904031
PROGRAM STUDI HUMAS
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Ferina Zulyana Pohan
NIM : 040904031
Departemen : Ilmu Komunikasi (Humas)
Judul : Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) ”Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa USU)
Medan, Mei 2008
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Drs.Safrin, M.Si.
NIP. 131570481 NIP. 131654104 Drs. Amir Purba, M.A.
Dekan FISIP USU,
NIP. 131757010
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Departemen Ilmu
Komunikasi oleh:
Nama : Ferina Zulyana Pohan
NIM : 040904031
Judul : Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan
(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program
Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di kalangan
mahasiswa USU)
Hari/ Tanggal : Senin, 12 Mei 2008
Pukul : 10.00 WIB
Tempat : Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU
PANITIA PENGUJI
Ketua Penguji : Dra. Fatmawardy Lubis, M.A. ( )
Penguji : Drs. Safrin, M.Si. ( )
ABSTRAKSI
Skripsi ini berjudul “Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara”. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang program CSR “Satu untuk Sepuluh” yang dilaksanakan selama bulan Juli hingga September 2007 di daerah Timor Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timur. “Satu untuk Sepuluh” ini bertujuan untuk membantu anak-anak di daerah Timor Tengah Selatan, dimana daerah tersebut mengalami kekurangan air bersih.
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara. Alasan peneliti memilih mahasiswa dari dua fakultas tersebut adalah mayoritas dari para mahasiswa tersebut memahami tentang CSR karena mereka juga mempelajari tentang CSR dalam perkuliahan. Sehingga dengan pengetahuan tentang CSR yang mereka miliki tersebut, mereka dapat menilai secara lebih kritis tentang pelaksanaan program CSR “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan citra AQUA. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April 2008 dengan membagikan kuesioner kepada para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara variabel-variabel. Metode korelasional bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain. Dalam penelitian ini, metode korelasional digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara program CSR “Satu untuk Sepuluh” terhadap citra AQUA.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin penulis ucapkan kehadirat atas segala rahmat
dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Program Corporate Social Responsibility
(CSR) dan Citra Perusahaan”. Suatu studi korelasional tentang pengaruh program
Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” terhadap citra
AQUA.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan
Sarjana S1 Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara. Hal ini juga dimaksudkan agar mahasiswa dapat
mengaplikasikan secara langsung ilmu yang telah diperoleh selama di bangku
perkuliahan dan menambah pengalaman, khususnya yang berhubungan dengan
ilmu komunikasi.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari pihak-pihak yang telah membantu
sebelum, selama, dan setelah penulis mengerjakan skripsi. Secara khusus, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang
sangat penulis sayangi, Ayahanda Ir. H. Zulkifli Pohan dan Ibunda Hj. Fatma Sari
Hasibuan atas pengertian dan dukungannya kepada penulis. Mudah-mudahan
semua yang penulis lakukan dapat membahagiakan dan membanggakan
Ayahanda dan Ibunda.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
2. Bapak Drs. Amir Purba M.A., Ketua Departemen Ilmu Komunikasi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., selaku Dosen Wali penulis.
4. Bapak Drs. Safrin, M.Si., selaku Dosen Pembimbing yang telah
membimbing dan meluangkan waktu, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini serta nasehat-nasehat yang telah diberikan
kepada penulis.
5. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A. dan Ibu Dra. Lusiana A. Lubis, M.A.,
selaku Dosen Penguji penulis dalam Ujian Meja Hijau. Terima kasih atas
nasehat yang telah diberikan kepada penulis.
6. Seluruh staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi pada khususnya dan
staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU pada
umumnya. Terima kasih atas ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan
kepada penulis.
7. Abangku Andi dan adikku Ipan, yang selalu memotivasi penulis untuk
menjadi yang terbaik dan terus memberikan semangat kepada penulis agar
segera menyelesaikan skripsi ini.
8. Atra, yang selalu ada dan siap membantu penulis selama penulisan skripsi
ini hingga selesai dan terus memotivasi penulis serta mendukung penulis
dalam berbagai hal. Terima kasih sudah menjadi orang yang paling
mengerti penulis.
9. Titin, Anna, Riri, Yusi, Bebby, Sarah, teman seperjuangan di bangku
kuliah yang bersedia membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima
Mudah-mudahan kita tetap menjadi sahabat untuk selama-lamanya. Tetap
semangat ya mengerjakan skripsinya.
10.Anum, Dini, Fadlun, Helly yang setia menemaniku selama bertahun-tahun
dan memotivasi penulis dalam berbagai hal. Terima kasih untuk semangat
dan do’anya.
11.Kak Ros, Kak Icut, Maya, Rotua, terima kasih atas bantuannya untuk
segala urusan administrasi penulis.
12.Nomaden crews di Sofyan 58, terima kasih atas segala bantuannya. Tetap
semangat ya kuliahnya.
13.Kak Ana, Kak Yuna, dan Kak Yurika, dan seluruh Kakak-kakak dan
Abang-abang senior di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah
membantu penulis selama kuliah dan mengerjakan skripsi.
14.Masri dan Kiki, teman seperjuangan penulis dalam bimbingan skripsi.
Terima kasih atas do’a dan bantuannya.
15.Rudi, Sudi, Rosmery, Meta, Widya, Nina, dan seluruh teman-teman kuliah
penulis di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini dan menemani hari-hari kuliah penulis.
Terima kasih atas segala bantuannya dan telah menjadi teman penulis
selama kuliah dan mudah-mudahan untuk seterusnya.
Medan, Mei 2008
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAKSI ………...i
KATA PENGANTAR ... ………..ii
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR SKEMA ………...viii
DAFTAR TABEL ………ix
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah ……….1
I.2. Perumusan Masalah ………7
I.3. Pembatasan Masalah ………...8
I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian I.4.1. Tujuan Penelitian ………...8
I.4.2. Manfaat Penelitian ………...9
I.5. Kerangka Teori ………...9
I.5.1. Public Relations ………...10
I.5.2. Community Relations ………...12
I.5.3. Corporate Social Responsibility ………..14
I.5.4. Satu untuk Sepuluh ………..16
I.5.5. Citra ……….17
I.6. Kerangka Konsep ………..20
I.7. Model Teoritis ………...22
I.8. Operasional Variabel ………22
I.9. Defenisi Operasional ……….23
BAB II URAIAN TEORITIS
II.2. Community Relations ...36
II.3. Corporate Social Responsibility (CSR) ………41
II.4. Satu untuk Sepuluh ………..47
II.5. Citra ………...50
BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metode Penelitian ………..56
III.2. Deskripsi Lokasi Penelitian III.2.1. Sejarah USU ………..56
III.2.2. Profil USU ……….59
III.2.3. Organisasi USU ……….62
III.2.4. Lokasi Kampus ………..64
III.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ………65
III.4. Populasi dan Sampel III.4.1. Populasi ………..65
III.4.2. Sampel ………66
III.5. Teknik Penarikan Sampel III.5.1. Sampel Acak Stratifikasi Proporsional ...68
III.5.2. Purposive Sampling ………68
III.6. Teknik Pengumpulan Data ……….69
III.7. Teknik Analisis Data ………..70
III.7.1. Analisa Tabel Tunggal ………...70
III.7.2. Analisa Tabel Silang ………..70
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Pengumpulan Data ……….73
IV.2. Teknik Pengolahan Data ………74
IV.3. Analisa Tabel Tunggal ………...75
IV.4. Analisa Tabel Silang ………104
IV.5. Uji Hipotesis ………118
IV.6. Pembahasan ……….119
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ………123
5.2. Saran ………..124
DAFTAR SKEMA
1. Skema Model Pembentukan Citra ………18
2. Skema Model Teoritis ………...22
3. Skema Model Two Way Symmetrical ………...36
DAFTAR TABEL
1. Tabel Operasional Variabel ………...22
2. Tabel Populasi ………...66
3. Tabel Sampel ……….67
4. Tabel Jenis Kelamin ………..76
5. Tabel Fakultas………76
6. Tabel Stambuk ………..77
7. Tabel Pengetahuan Responden Tentang CSR ………...78
8. Tabel Tingkat Pemahaman Responden Terhadap CSR ………....78
9. Tabel Pengetahuan Responden Tentang AQUA Sebagai Pelaksana Tanggung Jawab Sosial ……….79
10.Tabel Pengetahuan Responden Tentang “Satu untuk Sepuluh” Sebagai Salah Satu Bentuk Tanggung Jawab Sosial AQUA ……….80
11.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Adanya Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ………80
12.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Adanya Iklan Kampanye “Satu untuk Sepuluh” ………..81
13.Tabel Frekuensi Responden Menonton Iklan Kampanye “Satu untuk Sepuluh” ………....82
14.Tabel Kesesuaian Pemakaian Tema “Satu untuk Sepuluh” ………..82
17. Tabel Pemahaman Responden Terhadap Tujuan Program CSR “Satu
untuk Sepuluh” ………..84
18.Tabel Penilaian Responden Terhadap Tujuan Program CSR “Satu untuk
Sepuluh” ………85
19.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Lokasi Kegiatan “Satu untuk
Sepuluh” ………86
20.Tabel Ketepatan Pemilihan Daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa
Tenggara Timur Sebagai Lokasi Kegiatan “Satu untuk Sepuluh” ………86
21.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Jingle “Satu untuk Sepuluh” ….87
22.Tabel Pengaruh Jingle Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ...88
23.Tabel Tingkat Pengaruh Jingle dalam Kampanye Program CSR “Satu
untuk Sepuluh” ………..88
24.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Mekanisme Program CSR “Satu
untuk Sepuluh” ………..89
25.Tabel Penilaian Responden Terhadap Mekanisme Program CSR “Satu
untuk Sepuluh” ………..90
26.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk
Sepuluh” ………90
27.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Iklan Kampanye “Satu untuk
Sepuluh” ………91
28.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Tema “Satu untuk Sepuluh” …92
29.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Tujuan Program CSR “Satu
30.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Lokasi Kegiatan “Satu untuk
Sepuluh” ………93
31.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Jingle “Satu untuk Sepuluh” ...94
32.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Mekanisme Program CSR “Satu
untuk Sepuluh” ………..94
33.Tabel Kesan Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh”
………...95
34.Tabel Kecukupan Informasi Tentang program CSR “Satu untuk
Sepuluh”……….96
35.Tabel Penyampaian Informasi Tentang Program CSR “Satu untuk
Sepuluh” Melalui Kampanye ………96
36.Tabel Pemahaman Responden Terhadap “Satu untuk Sepuluh” Sebagai
Tanggung Jawab Sosial AQUA ………97
37.Tabel “Satu untuk Sepuluh” Sebagai Tanggung Jawab Sosial AQUA …98
38.Tabel Pemenuhan Tanggung Jawab Sosial AQUA Melalui Program CSR
“Satu untuk Sepuluh” ………98
39.Tabel Tanggapan Responden Terhadap “Satu untuk Sepuluh” Sebagai
Tanggung Jawab Sosial AQUA ………99
40.Tabel Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial AQUA Melalui Program CSR
“Satu untuk Sepuluh” ………..100
41.Tabel Sikap Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh”
………..100
42.Tabel Pengaruh Program CSR “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra
43.Tabel Tingkat Pengaruh Program CSR “Satu untuk Sepuluh” Terhadap
Citra AQUA ………102
44.Tabel Hubungan Antara Tingkat Pemahaman Responden Terhadap CSR
dan “Satu untuk Sepuluh” Sebagai Cerminan Tanggung Jawab Sosial
AQUA ……….103
45.Tabel Hubungan Antara Frekuensi Responden Menonton Iklan Kampanye
“Satu untuk Sepuluh” dan Penyampaian Informasi Tentang Program CSR
“Satu untuk Sepuluh” ………..104
46.Tabel Hubungan Antara Kesesuaian Pemakaian Tema “Satu untuk
Sepuluh” dan Kesan Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk
Sepuluh” ………..106
47.Tabel Hubungan Antara Pemahaman Responden Terhadap Program CSR
“Satu untuk Sepuluh” dan Sikap Responden Terhadap Program CSR “Satu
untuk Sepuluh” ………108
48.Tabel Hubungan Antara Ketepatan Pemilihan Daerah Timor Tengah
Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur Sebagai Lokasi Kegiatan “Satu
untuk Sepuluh” dan Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial AQUA Melalui
Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ………...110
49.Tabel Hubungan Antara Tingkat Pengaruh Jingle Dalam Kampanye
Program CSR “Satu untuk Sepuluh” dan Ketertarikan Responden
Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ………..112
ABSTRAKSI
Skripsi ini berjudul “Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara”. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang program CSR “Satu untuk Sepuluh” yang dilaksanakan selama bulan Juli hingga September 2007 di daerah Timor Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timur. “Satu untuk Sepuluh” ini bertujuan untuk membantu anak-anak di daerah Timor Tengah Selatan, dimana daerah tersebut mengalami kekurangan air bersih.
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara. Alasan peneliti memilih mahasiswa dari dua fakultas tersebut adalah mayoritas dari para mahasiswa tersebut memahami tentang CSR karena mereka juga mempelajari tentang CSR dalam perkuliahan. Sehingga dengan pengetahuan tentang CSR yang mereka miliki tersebut, mereka dapat menilai secara lebih kritis tentang pelaksanaan program CSR “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan citra AQUA. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April 2008 dengan membagikan kuesioner kepada para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara variabel-variabel. Metode korelasional bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain. Dalam penelitian ini, metode korelasional digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara program CSR “Satu untuk Sepuluh” terhadap citra AQUA.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Seperti angin semilir kemudian bertiup semakin kencang, begitulah
hembusan wacana tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa disebut
Corporate Social Responsibility (CSR). Hari demi hari gaungnya pun semakin
terasa dan seolah telah menjadi tren global. Secara singkat, CSR dapat diartikan
sebagai tanggung jawab sosial perusahaan kepada para stakeholders-nya.
Stakeholders atau para pemangku kepentingan tersebut merupakan pihak-pihak
yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung terhadap eksistensi
atau aktivitas perusahaan, seperti karyawan, pemegang saham, konsumen,
masyarakat, pers, maupun pemerintah.
Secara teoritis, The World Business Council for Sustainable Development
(WBCSD) dalam publikasinya Making Good Business Sense (Wibisono, 2007: 7) mendefenisikan CSR sebagai komitmen dunia usaha untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.
CSR yang kini banyak diimplementasikan banyak perusahaan, mengalami
evolusi dan metamorfosis dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada saat
industri berkembang setelah terjadi revolusi industri, kebanyakan perusahaan
masih memfokuskan dirinya sebagai organisasi yang mencari keuntungan belaka.
dirinya sendiri, terjadilah perubahan. Masyarakat tak hanya menuntut organisasi
bisnis untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukannya, melainkan juga
menuntut untuk bertanggung jawab secara sosial, karena kegiatan operasional
perusahaan umumnya juga memberikan dampak negatif, misalnya eksploitasi
sumber daya dan rusaknya lingkungan di sekitar operasi perusahaan.
Itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya konsep CSR yang
paling primitif, yakni kedermawanan yang bersifat karitatif. Gema CSR semakin
terasa pada tahun 1960-an, dimana secara global, masyarakat dunia telah pulih
dari Perang Dunia II dan mulai menapaki jalan menuju kesejahteraan (Wibisono,
2007: 4). Sejak saat itu, perhatian terhadap permasalahan lingkungan semakin
berkembang dan mendapat perhatian yang kian luas.
Di era 1980-an, makin banyak perusahaan yang menggeser konsep
filantropisnya kearah community development. Dasawarsa 1990-an adalah
dasawarsa yang diwarnai dengan beragam pendekatan, seperti, pendekatan
integral, pendekatan stakeholder, maupun pendekatan civil society. (Wibisono,
2007: 6)
Terobosan besar dalam konteks CSR dilakukan oleh John Elkington
(Wibisono, 2007: 6) melalui konsep “3P” (profit, people, dan planet) yang
dituangkan dalam bukunya “Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of
Twentith Century Business” yang dirilis pada tahun 1997. Ia berpendapat, jika
perusahaan ingin sustain, maka ia perlu memperhatikan 3P, yakni bukan cuma
profit yang diburu, namun juga harus memberikan kontribusi positif kepada
(planet). Gaung CSR kian bergema setelah diselenggarakan World Summit on
Sustainable Development (WSSD) tahun 2002 di Johannesburg Afrika Selatan.
Aktivitas CSR memang memperlihatkan kecendrungan yang sangat
meningkat, baik di Indonesia maupun di berbagai negara. Sulit dipungkiri bahwa
wacana CSR yang sebelumnya merupakan isu marginal, kini telah menjelma
menjadi isu sentral. Komitmen untuk bertanggung jawab secara sosial disadari
bahwa keuntungan untuk keberlangsungan suatu entitas usaha, secara jangka
panjang hanya bisa didapatkan dengan adanya kesejahteraan masyarakat. Hal ini
dapat dilihat dari adanya peningkatan pemberian nilai sumbangan yang bersifat
charity, dari US $ 9,6 milyar pada tahun 1999 menjadi US $ 12,19 milyar pada
tahun
Body Shop, dari awal kemunculannya telah menunjukkan perhatiannya
pada dunia ketiga, tidak melakukan uji coba pada hewan, serta menolak kekerasan
dalam rumah tangga (Mix 16, Oktober, 2006, hlm. 15). Selain itu, McDonald juga
mendirikan Ronald McDonald House Charities yang telah berjalan lebih dari 30
tahun serta Ben & Jerry’s dengan memberikan kontribusi sebesar 1,1 juta dolar
AS per tahun melalui kegiatan kemanusiaan (Marketing 11, November, 2007,
hlm. 59). Bahkan Nike pernah mendapatkan CSR Award yang tentunya berkat
pelaksanaan CSR-nya.
Tren global lainnya adalah di bidang pasar modal. Beberapa bursa sudah
menerapkan indeks yang memasukkan kategori saham-saham perusahaan yang
memiliki Dow Jones Sustainability Index (DJSI) bagi saham-saham perusahaan
yang dikategorikan memiliki nilai CSR yang baik. DJSI mulai dipraktekkan sejak
tahun 1991. DJSI mencakup lebih dari 200 perusahaan dari 68 industri di 22
negara dengan jumlah kapitalisasi pasar mencapai 4,3 trilyun dolar AS pada tahun
1999 (Iriantara, 2004: 50).
Begitu pula London Stock Exchange yang memiliki Socially Responsible
Investment (SRI) Index dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang
mempunyai FTSE4Good sejak 2001. Belakangan, inisiatif ini mulai diikuti oleh
otoritas bursa saham di Asia, seperti di Hangseng Stock Exchange dan Singapore
Stock Exchange (Wibisono, 2007: 75).
Di Indonesia sendiri, perusahaan yang melakukan CSR masih sangat
sedikit dan pemahaman mengenai CSR pun masih belum merata. Mewujudkan
CSR memang tidak semudah dalam ucapan. Di Indonesia, konsep ini masih
dianggap sebagai hal yang ideal. Hal ini diperkuat oleh penelitian Chambers dan
kawan-kawan (Wibisono, 2007: 72) terhadap pelaksanaan CSR di tujuh Negara
Asia, yakni India, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, dan
Indonesia. Dari masing-masing negara diambil 50 perusahaan yang berada pada
peringkat atas berdasarkan pendapatan operasional untuk tahun 2002, lalu dikaji
implementasi CSR-nya. Hasilnya, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling
rendah penetrasi pelaksanaan CSR dan derajat keterlibatan komunitasnya.
Namun demikian, berbagai perusahaan di Indonesia berupaya untuk bisa
menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan. Seperti Lifebouy dengan Berbagi
Bogasari melalui pendampingan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah,
serta PT Astra Internasional Tbk. dengan membentuk Politeknik Manufaktur
Astra. Bahkan beberapa perusahaan pernah memenangkan CSR Award, antara
lain PT Petrokimia Gresik, PT Semen Gresik Tbk., dan PT Riau Andalan Pulp &
Paper.
Tak ketinggalan AQUA yang juga berupaya melaksanakan tanggung
jawab sosialnya. PT AQUA Golden Mississippi yang hadir di Bumi Pertiwi sejak
tahun 1973 dan telah memutuskan untuk bergabung dengan Group DANONE
pada tahun 1998, sudah diakui eksistensi, integritas, dan kredibilitasnya.
Sebagai perusahaan air minum terkemuka, AQUA menaruh perhatian
besar terhadap tersedianya air bersih, terutama bagi kebutuhan anak-anak
Indonesia. Air bersih penting bagi kesehatan dan masa depan anak-anak. Namun Dari hari
ke hari manfaatnya kian optimal dengan produk yang semakin berkualitas juga
selalu menjawab kebutuhan, dan kepedulian sosialnya melalui CSR begitu
membanggakan dan benefit juga terus dirasakan masyarakat. Melalui gerakan
AQUA Lestari, sebuah model bisnis yang dirancang untuk melestarikan sumber
daya air sehingga mampu memiliki sumber daya air yang berkelanjutan, mereka
kemudian berkembang kepada masalah lingkungan dan sosial. Selain itu, juga
permainan Ramsar yang memang dibuat Danone AQUA agar anak-anak lebih
mudah mengenali permasalahan lingkungan dan Danone Nations Cup (DNC)
yang digelar sejak tahun 2000 telah berhasil mengajak 15 juta anak seluruh dunia
berpartisipasi dalam DNC, serta yang terkini program CSR bertajuk “Satu untuk
sayangnya, di Indonesia masih banyak anak-anak yang hidup di daerah kesulitan
mendapat akses air bersih. Padahal, air bersih merupakan faktor penting untuk
mewujudkan hidup sehat. Di beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur, masih
banyak warganya yang mengalami kelangkaan air bersih. Untuk mendapatkannya,
tak jarang mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Alhasil, banyak
anak-anak kehilangan waktu bermain karena harus mengambil air. Kelangkaan air
bersih memang menjadi sumber munculnya berbagai persoalan di Timor Tengah
Selatan (TTS). Masa depan sekolah tak terurus karena anak-anak harus
berkonsentrasi penuh mencari air bersih. Belum lagi, penyakit demam berdarah,
malaria, dan diare akut silih berganti mendera mereka.
Program charity ataupun pemberian sumbangan sebagai bentuk tanggung
jawab sosial perusahaan kepada masyarakat sudah menjadi hal yang biasa. Untuk
itu, AQUA menyelenggarakan program CSR “Satu untuk Sepuluh” yang
merupakan bagian dari rangkaian kegiatan AQUA untuk Anak Indonesia (AuAI)
berkomitmen aktif membantu memperbaiki kesejahteraan anak Indonesia
“Satu untuk Sepuluh” merupakan kegiatan CSR AQUA yang dilakukan
melalui kegiatan marketing (cause related marketing). Dalam hal ini AQUA
membuat sebuah cara yang baru. Memang AQUA tetap menggunakan produk
terjual sebagai dasar perhitungan, serta dalam kerangka waktu tertentu. Namun,
AQUA tidak menggunakan persentase atau proporsi tertentu untuk menentukan
jumlah uang yang mereka sumbangkan, melainkan untuk menentukan jumlah air
bersih yang akan mereka sediakan. Perhitungannya adalah volume untuk volume,
bukan unit untuk uang. Pendekatan ini sangat menarik, terutama karena AQUA
kampanye yang didukung oleh bekas pemain sepak bola terbaik di dunia yang
juga sebagai duta DANONE, Zinedine Zidane, program ini berhasil menarik
banyak minat, sehingga volume air yang akan disediakan cukup tampak fantastis.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Program Corporate Social Responsibility
(CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA”. Untuk lokasi penelitian,
peneliti memilih untuk melakukan penelitian ini di Universitas Sumatera Utara
(USU). Mahasiswa (USU) terdiri dari manusia-manusia kritis yang dapat
memandang segala sesuatu secara bijak, termasuk tanggung jawab sosial yang
dilakukan AQUA melalui program bertajuk “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan
citra AQUA. Para mahasiswa USU juga dapat memahami dengan baik tentang
tanggung jawab sosial perusahaan, terutama mahasiswa Fakultas Ekonomi dan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Alasan tersebut yang melandasi
peneliti melakukan penelitian di USU.
I.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, masalah yang
akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Sejauhmanakah program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu
I.3. Pembatasan Masalah
Perumusan masalah yang terlalu umum dapat mengakibatkan masalah
yang akan dibahas tidak jelas hasilnya. Oleh karena itu, perlu adanya pembatasan
masalah agar ruang lingkup masalah lebih jelas dan terarah. Adapun pembatasan
masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan terhadap program Corporate Social Responsibility
(CSR) “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan citra AQUA.
2. Khalayak yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa
aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara S-1 Reguler.
3. Penelitian dilakukan pada tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April
2008.
I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
I.4.1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan dalam program CSR “Satu
untuk Sepuluh”.
b. Untuk mengetahui perhatian khalayak terhadap program CSR “Satu untuk
Sepuluh”.
c. Untuk mengetahui penilaian khalayak terhadap program CSR “Satu untuk
d. Untuk mencari hubungan antara pengaruh program Corporate Social
Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” dengan citra AQUA.
I.4.2. Manfaat Penelitian
a. Secara akademis, penelitian ini diharapakan dapat memperkaya khasanah
penelitian komunikasi dan sumber bacaan, khususnya penelitian tentang
public relations.
b. Secara teoritis, penelitian ini diharapakan dapat memperluas cakrawala
dan wawasan peneliti tentang public relations, khususnya yang berkaitan
dengan tanggung jawab sosial perusahaan dan citra perusahaan.
c. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap pengetahuan mahasiswa tentang public relations, terutama yang
berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan.
I.5. Kerangka Teori
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir
dalam memecahkan masalah atau menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun
kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari
sudut mana penelitian tersebut disoroti (Nawawi, 1995: 40).
Menurut Kerlinger (Rakhmat, 2004: 6), teori merupakan himpunan
dengan menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan
gejala tersebut.
Dengan adanya kerangka teori, akan membantu peneliti dalam
menentukan tujuan dan arah penelitiannya. Kerangka teori akan membantu
penelitian dalam memilih kosep-konsep yang tepat, guna membentuk
hipotesa-hipotesa selanjutnya.
Adapun teori-teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
I.5.1. Public Relations (PR)
Public relations (PR) menyangkut kepentingan setiap organisasi, baik itu
organisasi yang bersifat komersial maupun non-komersial. Kehadirannya tidak
bisa dicegah, terlepas dari kita menyukainya atau tidak. Sebenarnya, PR terdiri
dari semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara organisasi yang
bersangkutan dengan siapa saja yang menjalin kontak dengannya. Setiap orang
pada dasarnya juga selalu mengalami PR, kecuali jika ia terisolasi dan tidak
menjalin kontak dengan manusia lainnya.
Secara etimologis, public relations terdiri dari dua kata, yaitu public dan
relations. Public berarti publik dan relations berarti hubungan-hubungan. Jadi,
public relations berarti hubungan-hubungan dengan publik. Menurut (British)
Institute of Public Relations (IPR) (Jefkins, 2004: 9), public relations (PR) adalah
rangka menciptakan dan memelihara niat baik (goodwill) dan saling pngertian
antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.
Cultip dan Center (Suhandang, 2004: 45) dalam bukunya Effective Public
Relations mengemukakan defenisi public relations sebagai suatu kegiatan
komunikasi dan penafsiran, serta komunikasi-komunikasi dan gagasan-gagasan dari suatu lembaga kepada publiknya, serta pendapat dari publiknya itu kepada lembaga tadi, dalam usaha yang jujur untuk menumbuhkan kepentingan bersama sehingga dapat tercipta suatu persesuaian yang harmonis dari lembaga itu dengan masyarakatnya.
Dari defenisi Cultip dan Center, tergambar adanya ciri khas dari PR, yaitu
suatu kegiatan timbal balik antara lembaga dengan publiknya. Tidak saja
melakukan kegiatan kepada publik yang ada di luar lembaga, tetapi juga pihak
publiknya melakukan kegiatan terhadap lembaga itu, sehingga terjadilah suatu
pengertian bersama dalam meraih kepentingan bersama. Dalam proses
komunikasinya, PRtidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menerima.
Secara lebih rinci, Lesly (Iriantara, 2004: 57) menyusun semacam daftar
objektif kegiatan PR, diantaranya:
1. Prestise atau “citra yang favourable” dan segenap faedahnya
2. Promosi produk atau jasa
3. Mendeteksi dan mengahadapi isu dan peluang
4. Menetapkan postur organisasi ketika berhadapan dengan publiknya
5. Good will karyawan atau anggota organisasi
7. Mengatasi kesalahpahaman dan prasangka
8. Merumuskan dan membuat pedoman kebijakan
Tujuan kegiatan PR tersebut, pada gilirannya akan memberi manfaat
terhadap organisasi. Prestise atau citra yang baik, misalnya akan memberi manfaat
yang sangat besar bagi organisasi, bahkan citra dan reputasi ini sering disebut
sebagai aset terbesar perusahaan. Karena itu, reputasi mendapat perhatian yang
sangat besar, dan manajemen reputasi merupakan salah satu bagian dari kegiatan
PR yang penting. Untuk mempertahankan bahkan meningkatkan citra dan reputasi
organisasi atau perusahaan dapat dilakukan salah satunya dengan melaksanakan
program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial
perusahaan dalam rangkaian kegiatan PR.
I.5.2. Community Relations
Jerold (Iriantara, 2004: 20) mendefenisikan community relations sebagai
peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui
berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas.
DeMartinis (Iriantara, 2004: 20) menjelaskan community relations hanya
sebagai cara berinteraksi dengan berbagai publik yang saling terkait dengan
operasi organisasi. Publik dalam public relations (PR) disebut sebagai
stakeholders. Stakeholders ini terbagi dua, yaitu stakeholders internal dan
stakeholders eksternal. Yang termasuk dalam stakeholders internal, antara lain
karyawan. Sedangkan stakeholders eksternal terdiri dari konsumen, penyalur dan
pemasok, pemerintah, pers, pesaing, serta komunitas dan masyarakat. Konsep
DeMartinis tentang komunikasi menunjukkan bahwa sesungguhnya apa yang
dinamakan publik dalam PRitu adalah komunitas.
Hubungan antara organisasi dengan komunitas bukanlah soal bertetangga
belaka. Konsep komunitas telah megalami pergeseran, sehingga komunitas tidak
hanya dimaknai dengan lokalitas belaka, melainkan juga dimaknai secara
struktural, artinya dilihat dari aspek interaksi yang ada saat ini bisa saja
berlangsung diantara individu yang berbeda lokasinya. Karena itu, hubungan
antara organisasi dan komunitas lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung
jawab sosial organisasi.
Create Profit Inc. (2001) (Iriantara, 2004: 27) menggambarkan 3 tahapan
perkembangan konsep tanggung jawab sosial organisasi bisnis dalam konteks
community relations. Pertama, community relations dan pemberian sumbangan
sebagai respons atau kebutuhan/ tekanan lokal dan manajemen senior/ chief
executive officer (CEO) pada tahun 1960-an dan 1970-an. Kedua, pada tahun
1980-an dan 1990-an berkembang model community relations yang dinamakan
“Model Kewarganegaraan Korporat” yang didasarkan pada isu-isu etis. Ketiga,
berkembang konsep aliansi strategis yang terkait erat dengan tujuan organisasi
yang muncul sejak tahun 1999.
Pada dasarnya, Community relations dikembangkan demi kemaslahatan
I.5.3. Corporate Social Responsibility (CSR)
Sebagai sebuah konsep yang makin populer, Corporate Social
Responsibility (CSR) ternyata belum memiliki defenisi yang tunggal. Dari sisi
etimologis, CSR kerap diterjemahkan sebagai “Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan”
Ada banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan tanggung jawab
sosial perusahaan. Ada yang menyebutnya tanggung jawab korporat, ada juga
yang menyebut dengan kewarganegaraan korporat (corporate citizenship), ada
yang menamakannya juga corporate community relationship, atau juga yang
menyebutnya organisasi berkelanjutan. Selain itu, juga ada yang menyebutnya
tanggung jawab sosial korporasi atau tanggung jawab sosial dunia usaha
(tansodus).
The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)
(Wibisono, 2007: 7) dalam publikasinya Making Good Business Sense
mendefenisikan CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan sebagai komitmen dunia usaha untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.
Sedangkan menurut Chambers et.al. (Iriantara, 2004: 49) tanggung jawab
sosial perusahaan adalah melakukan tindakan sosial (termasuk lingkungan hidup)
lebih dari batas-batas yang dituntut peraturan perundang-undangan. Secara
singkat, CSR dapat diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan yang
bersifat sukarela. CSR adalah konsep yang mendorong organisasi untuk memiliki
lingkungan, dan seluruh stakeholder. Sedangkan program charity dan community
development merupakan bagian dari pelaksanaan CSR.
Lebih jauh lagi, CSR dapat dimaknai sebagai komitmen dalam
menjalankan bisnis dengan memperhatikan aspek sosial, norma-norma dan etika
yang berlaku, bukan saja pada lingkungan sekitar, tetapi juga pada lingkup
internal dan eksternal yang lebih luas. Tidak hanya itu, CSR dalam jangka
panjang memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan.
Perusahaan yang menjalankan program CSR dengan sepenuh hati akan
memperoleh sejumlah manfaat(Wibisono, 2007: 78) sebagai berikut:
1. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan
2. Layak mendapatkan social license to operate
3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan
4. Melebarkan akses sumber daya
5. Membentangkan akses menuju market
6. Mereduksi biaya
7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders
8. Memperbaikihubungan dengan regulator
9. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan
I.5.4. Satu untuk Sepuluh
“Satu untuk Sepuluh” adalah kegiatan Corporate Social Responsibility
(CSR) AQUA yang ditujukan terutama untuk membantu meningkatkan
kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup
sehat. “Satu untuk Sepuluh” merupakan bagian dari rangkaian kegiatan AQUA
untuk Anak Indonesia (AuAI) untuk membantu meningkatkan kesejahteraan
anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa.
Untuk mekanisme programnya, yaitu dari setiap 1 liter botol AQUA
ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga
September 2007, AQUA akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas
di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai
tahap awal
Pemilihan NTT sebagai lokasi kegiatan ini didasarkan pada survey terbaru
yang dilakukan oleh LSM internasional ACF (Action Contre la Faim)
(http://auai.aqua.com). NTT juga dianggap sebagai lokasi yang tepat disebabkan
oleh kondisi kelangkaan air yang umum terjadi di Indonesia belahan timur.
Namun, NTT hanya merupakan tahapan awal dan menggambarkan permulaan
dari komitmen AQUA untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi
anak-anak.
Selain penyuluhan hidup sehat, AQUA juga mengupayakan
memperpendek jarak sumber air ke kawasan penduduk dari 710 meter menjadi 50
meter melalui titik-titik pengambilan air dan melakukan pembangunan
secara berkesinambungan untuk mengikutsertakan warga setempat memelihara
sumber air. Upaya pemeliharaan ini berkelanjutan sampai dengan 10 tahun
Dengan kampanye yang didukung Zinedine Zidane, program ini berhasil
menarik banyak minat, sehingga volume air yang disediakan cukup tampak
fantastis. Dalam waktu sekitar tiga bulan saja, jumlah air bersih yang disediakan
AQUA mencapai lebih dari satu milyar liter
I.5.5. Citra
Menciptakan citra yang positif terhadap perusahaan merupakan tujuan
utama bagi seorang Public Relations. Citra merupakan suatu penilaian yang
sifatnya abstrak yang hanya bisa dirasakan oleh perusahaan dan pihak-pihak yang
terkait. Citra yang ideal merupakan impresi yang benar, yang sepenuhnya
berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta pemahaman atas kenyataan yang
sesungguhnya.
Dalam buku Essential of Public Relations (Soemirat dan Ardianto, 2004:
111), Jefkins menyebut bahwa citra adalah kesan yang diperoleh berdasarkan
pengetahuan dan pengertian seseorang tentang fakta-fakta atau kenyataan.
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi (Soemirat dan
realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas, citra adalah dunia menurut realitas.
Citra terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima
seseorang.
Untuk mengetahui citra seseorang terhadap suatu objek, dapat diketahui
dari sikapnya terhadap objek tersebut. Solomon, dalam Rakhmat (Soemirat dan
Ardianto, 2004: 115), menyatakan semua sikap bersumber pada organisasi
kognitif, pada informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Efek kognitif dari
komunikasi sangat mempengaruhi proses pembentukan citra seseorang. Citra
terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima
seseorang. Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu,
tetapi cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang
lingkungan.
Proses pembentukan citra dalam struktur kognitif yang sesuai dengan
pengertian sistem komunikasi dijelaskan oleh John S. Nimpoene (Soemirat dan
Ardianto, 2004: 115), dalam laporan penelitian tentang tingkah laku konsumen
sebagai berikut:
Model Pembentukan Citra
pengalaman mengenai stimulus
Stimulus Respon
Rangsang Perilaku
Rangsang Kognisi
Persepsi Sikap
Public relations digambarkan sebagai input-output, proses intern dalam
model ini adalah pembentukan citra, sedangkan input adalah stimulus yang
diberikan dan output adalah tanggapan atau perilaku tertentu. Citra itu sendiri
digambarkan melalui persepsi-kognisi-motivasi-sikap.
Model pembentukan citra ini menunjukkan bagaimana stimulus yang
berasal dari luar diorganisasikan dan mempengaruhi respons. Stimulus (rangsang)
yang diberikan pada individu dapat diterima atau ditolak. Empat komponen
persepsi-kognisi-motivasi-sikap diartikan sebagai citra individu terhadap
rangsang. Walter Lipman menyebut ini sebagai “picture in our head”.
Jika stimulus mendapat perhatian, individu akan berusaha untuk mengerti
tentang rangsang tersebut. Persepsi diartikan sebagai hasil pengamatan terhadap
unsur lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan. Dengan kata
lain, individu akan memberikan makna terhadap rangsang tersebut. Kemampuan
mempersepsi itulah yang dapat melanjutkan proses pembentukan citra. Persepsi
individu akan positif apabila informasi yang diberikan oleh rangsang dapat
memenuhi kognisi individu.
Kognisi yaitu suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus.
Keyakinan ini akan timbul apabila individu telah mengerti rangsang tersebut,
sehingga individu harus diberikan informasi-informasi yang cukup yang dapat
mempengaruhi perkembangan kognisinya. Motivasi dan sikap yang ada akan
menggerakkan respons seperti yang diinginkan oleh pemberi rangsang.
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong
suatu tujuan. Sedangkan sikap adalah kecendrungan bertindak, berpersepsi,
berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap
mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap menentukan apakah orang harus
pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan
diinginkan. Sikap mengandung aspek evaluatif, artinya mengandung nilai
menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sikap juga dapat diperteguh atau
diubah. Proses pembentukan citra pada akhirnya akan menghasilkan sikap,
pendapat, tanggapan, atau perilaku tertentu.
I.6. Kerangka Konsep
Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang
bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang dicapai dan dapat
mengantar penelitian pada rumusan hipotesa (Nawawi, 1995: 33).
Konsep adalah penggambaran secara tepat fenomena yang hendak diteliti,
yakni istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak
kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi perhatian ilmu sosial.
Dengan demikian, kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional
dalam menguraikan rumusan hipotesa, yang sebenarnya merupakan jawaban
sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat
diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalisasikan dengan mengubahnya
Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas merupakan segala faktor atau unsur yang menentukan atau
mempengaruhi munculnya variabel kedua yang disebut variabel terikat. Tanpa
variabel ini maka variabel berubah, sehingga akan muncul variabel terikat yang
berbeda atau yang lain sama sekali tidak muncul (Nawawi, 1995: 57).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah program CSR “Satu untuk
Sepuluh”.
b. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat merupakan sejumlah gejala ataupun faktor maupun unsur
yang ada ataupun muncul, dipengaruhi, atau ditentukan oleh adanya variabel
bebas (Nawawi, 1995: 57).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah citra AQUA.
c. Variabel Antara (Z)
Variabel antara merupakan variabel yang berada diantara variabel bebas
dan variabel terikat, berfungsi sebagai penguat atau pelemah hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat.
I.7. Model Teoritis
Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep
dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut:
I.8. Operasional Variabel
Berdasarkan kerangka konsep di atas, maka dibuat operasionalisasi
variabel yang berfungsi membentuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian,
yaitu sebagai berikut:
Variabel Teoritis Variabel Operasional
1. Variabel Bebas (X)
Program CSR “Satu untuk
Sepuluh”
a. Frekuensi Menonton Iklan Kampanye “Satu untuk Sepuluh”
b. Tema Kegiatan
c. Tujuan Kegiatan
d. Lokasi Kegiatan
Variabel Bebas (X)
Program CSR “Satu untuk Sepuluh”
Variabel Terikat (Y)
Citra AQUA
Variabel Antara (Z)
e. Jingle “Satu untuk Sepuluh” f. Mekanisme Program
2. Variabel Terikat (Y)
Citra AQUA
a. Persepsi
b. Kognisi
c. Sikap
3. Variabel Antara (Z)
Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin
b. Fakultas
c. Stambuk
I.9. Defenisi Operasional
Defenisi operasional merupakan unsur penelitian untuk mengetahui
bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Dengan kata lain, defenisi
operasional adalah suatu informasi alamiah yang sangat membantu peneliti lain
yang akan menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 2006: 46).
Adapun defenisi operasional variabel-variabel dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Variabel Bebas (Program CSR “Satu untuk Sepuluh”)
a. Frekuensi menonton iklan kampanye AQUA “Satu untuk Sepuluh”, yakni
apakah responden pernah atau tidak pernah menonton iklan kampanye
“Satu untuk Sepuluh”.
c. Tujuan Kegiatan, yakni tujuan kegiatan CSR “Satu untuk Sepuluh”.
d. Lokasi Kegiatan, yakni lokasi kegiatan CSR “Satu untuk Sepuluh”.
e. Jingle “Satu untuk Sepuluh”, yakni jingle dalam kampanye program CSR
“Satu untuk Sepuluh”.
f. Mekanisme Program, yakni teknik atau cara yang digunakan dalam
program CSR “Satu untuk Sepuluh”.
2. Variabel Terikat (Citra AQUA)
a. Persepsi, yakni hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang
dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan.
b. Kognisi, yakni suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus.
c. Sikap, yakni kecendrungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa
dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai.
3. Variabel Antara (Karakteristik Responden)
a. Jenis Kelamin, yakni jenis kelamin responden, pria/ wanita.
b. Fakultas, yakni fakultas responden program S-1 Reguler USU.
I.10. Hipotesis
Secara etimologis hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu hypo dan thesis.
Hypo berarti kurang dan thesis berarti pendapat. Jadi, hipotesis merupakan
kesimpulan yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan
membuktikan kebenaran hipotesis itu dengan menguji hipotesis dengan data di
lapangan (Bungin, 2001: 90).
Hipotesis adalah suatu pernyataan sementara mengenai sesuatu, yang
keandalannya biasanya tidak diketahui. Dengan hipotesis, penelitian menjadi tidak
mengambang, karena dibimbing oleh hipotesis tersebut.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho : Tidak terdapat hubungan antara program CSR “Satu untuk Sepuluh”
dengan citra AQUA.
Ha : Terdapat hubungan antara program CSR “Satu untk Sepuluh” dengan citra
diubah. Proses pembentukan citra pada akhirnya akan menghasilkan sikap,
pendapat, tanggapan, atau perilaku tertentu.
Berikut ini adalah bagan dari orientasi public relations, yakni image
building (membangun citra), dapat dilihat sebagai model komunikasi dalam public
relations (Soemirat dan Ardianto, 2004: 118).
Sumber Komunikator Pesan Komunikan Efek
Perusahaan Lembaga Organisasi
Bidang/ Divisi Publik Relations
Kegiatan-kegiatan
Publik-publik PR
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
korelasional. Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara
variabel-variabel. Metode korelasional bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu
variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain (Rakhmat, 2004: 27).
III.2. Deskripsi Lokasi Penelitian
III.2.1. Sejarah Universitas Sumatera Utara (http://usu.ac.id)
Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya
Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Pendirian yayasan
ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan
masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.
Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung
oleh Gubernur Sumatera Utara, dengan susunan sebagai berikut:
1. Abdul Hakim (Ketua)
2. Dr. T. Mansoer (Wakil Ketua)
4. Ir. R. S. Danunagoro, Drh. Sahar, Drg. Oh Tjie Lien, Anwar Abubakar,
Madong Lubis, Dr. Maas, J. Pohan, Drg. Barlan, dan Soetan Pane
Paruhum (Anggota)
Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah
mulai sejak sebelum Perang Dunia II, tetapi tidak disetujui oleh pemerintah
Belanda pada waktu itu. Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang
terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat
rancangan perguruan tinggi Kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia,
pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia.
Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul
Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera
Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini.
Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian
perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari
Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro, dan sekretaris Mr. Djaidin Purba. Selain
Dewan Pimpinan Yayasan, Organisasi USU pada awal berdirinya terdiri dari
Dewan Kurator, Presiden Universitas, Majelis Presiden dan Asesor, Senat
Universitas, dan Dewan Fakultet.
Sebagai hasil kerja sama dan bantuan moril dan material dari seluruh
masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa
Aceh, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di
Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa diantaranya dua orang
Masyarakat (1954), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956), dan Fakultas
Pertanian (1956).
Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik
Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia.
Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di
Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I.
Kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960)
di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, USU terdiri dari lima fakultas di Medan
dan dua fakultas di Banda Aceh. Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas
Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982),
Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), dan
Fakultas Farmasi (2007).
Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri
(PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).
Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di
Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun
2000. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).
Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah
menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas
Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan
Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian
(1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED)
yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setelah itu,
berdiri Politeknik Negeri Medan (1999), yang semula adalah Politeknik USU.
III.2.2. Profil Universitas Sumatera Utara
1.
USU memiliki 13 fakultas/sekolah yaitu Kedokteran, Hukum,
Pertanian, Teknik, Kedokteran Gigi, Ekonomi, Sastra, Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kesehatan
Masyarakat, Farmasi, Psikologi, dan Pascasarjana. Jumlah program studi
yang ditawarkan sebanyak 101, terdiri dari 8 tingkat doktoral, 28 magister, 15
spesialis, 5 profesi, 50 sarjana, dan 15 diploma. Jumlah mahasiswa terdaftar
saat ini lebih dari 32.000 orang, 688 di antaranya adalah mahasiswa asing.
Program Studi
2.
Sejak awal pendiriannya, USU dipersiapkan menjadi pusat pendidikan
tinggi di Kawasan Barat Indonesia. Sewaktu didirikan pada tahun 1952, USU
merupakan sebuah Yayasan, kemudian beralih status menjadi PTN pada
tahun 1957, dan selanjutnya berubah menjadi PT-BHMN pada tahun 2003.
Sekilas Pandang
Kampus USU berlokasi di Padang Bulan, sebuah area yang hijau dan
rindang seluas 120 ha yang terletak di tengah Kota Medan. Zona akademik
mahasiswa. Sistem pembelajaran didukung oleh fasilitas perpustakaan dan
lebih dari 200 laboratorium. Perpustakaan menyediakan berbagai jenis
sumber belajar baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Perpustakaan
USU merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Kampus
Padang Bulan juga didukung oleh infrastruktur teknologi informasi untuk
memfasilitasi akses terhadap berbagai sumber daya informasi dan
pengetahuan untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian
mahasiswa dan dosen.
Selain itu, di dalam kampus juga terdapat berbagai sarana seperti
asrama, arena olah raga, wisma, kafetaria, toko, bank, dan kantor pos. Wisuda
dan berbagai acara akademik lainnya diadakan di Auditorium dan
Gelanggang Mahasiswa. Sebuah rumah sakit pendidikan akan dibangun di
lokasi kampus pada tahun 2008.
Sebuah kampus baru seluas 300 ha yang berlokasi di Kwala Bekala,
berjarak 15 km dari Kampus Padang Bulan sedang dikembangkan, yang saat
ini digunakan untuk mendukung berbagai penelitian dan percobaan di bidang
pertanian, kehutanan, perkebunan, dan peternakan. Dalam upaya
mengembangkan diri sebagai universitas berjangkauan luas, USU mengelola
Kebun Percobaan seluas sekitar 550 ha di Langkat. USU juga telah
memperoleh izin pengembangan hutan percontohan seluas 10.000 ha di
3.
Diawali dengan membuka sekolah kedokteran, USU memposisikan
diri sebagai universitas unggulan. Proses pendidikan dan penelitian
melibatkan 1.680 orang dosen, 78% di antaranya memiliki latar belakang
pendidikan pascasarjana. Hingga saat ini USU memiliki lebih dari 103.000
alumni yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Sejumlah alumni
menempati posisi penting di berbagai sektor kerja, baik pemerintahan
maupun swasta.
Keunggulan Kompetitif
Program studi bidang kesehatan seperti Kedokteran, Kedokteran Gigi,
dan Farmasi saat ini menjadi primadona bagi mahasiswa asing terutama yang
berasal dari Malaysia. Program studi pada Fakultas MIPA dan Pertanian
menjadi ujung tombak berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian
masyarakat. Program Studi Etnomusikologi memiliki kekhasan tentang
musik-musik etnik di Sumatera. Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu-Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik banyak terlibat dalam pengembangan hukum dan
penataan administrasi pemerintahan. Sebuah produk penjernihan air - Ferro
Filter - hasil penemuan dosen Fakultas Teknik sedang dalam proses
pengurusan hak paten, telah banyak digunakan di berbagai wilayah Sumatera.
Penataan dan pengembangan sistem penjaminan mutu, yang didukung
dengan komitmen tinggi para manajer di semua lini, dilakukan secara
terus-menerus dan menjadi agenda utama USU dalam upaya menghasilkan lulusan
III.2.3. Organisasi Universitas Sumatera Utara
1. Struktur
Struktur organisasi USU sebagai PT-BHMN terdiri dari:
a. Majelis Wali Amanat (MWA), Dewan Audit, Unit Usaha
Komersial, Senat Akademik, Pimpinan Universitas (Rektor dan
Pembantu Rektor), Dewan Guru Besar (DGB), Sekretaris
Eksekutif, Satuan Audit Internal, dan Satuan Penjaminan Mutu
(organisasi sentral);
b. Fakultas, Sekolah Pasacasarjana, dan Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada masyarakat (unsur pelaksana akademik);
c. Biro Akademik, Biro Sumber Daya Manusia, Biro Keuangan, Biro
Kemahasiswaan dan Kealumnian, Biro Perencanaan dan
Kerjasama, dan Biro Pengembangan dan Pemeliharaan Aset (unsur
pelaksana administratif); dan
d. Perpustakaan dan Sistem Informasi, Pelayanan dan Pengembangan
Pendidikan, Unit Usaha Non Komersial, dan Unit Pengadaan
(unsur penunjang).
2. Visi:
1. Mempersiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat akademik
dan profesional dalam menerapkan, mengembangkan pengetahuan
ilmiah, teknologi dan seni, serta berdaya saing tinggi.
3. Misi:
2. Memperluas partisipasi dalam pembelajaran untuk memenuhi
kebutuhan nasional dalam pembelajaran dan modernisasi cara
pembelajaran.
3. Mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan ilmiah,
teknologi, seni, dan rancangan penerapannya untuk mendukung
produktivitas dan daya saing masyarakat.
1. Memperluas partisipasi dalam pelayanan pendidikan bagi
masyarakat dalam mendukung pemenuhan pendidikan nasional
serta memodernisasi cara pembelajaran.
4. Tujuan:
2. Meningkatkan partisipasi aktif dalam pengembangan ilmiah,
teknologi dan seni/budaya serta kemanusiaan.
3. Mengembangkan pusat informasi serta sistem teknologi
komunikasi dan sistem penjaminan mutu yang handal.
4. Membangun sistem tata pamong universitas yang efektif, efisien
dan demokratis.
5. Mewujudkan lingkungan pengajaran dan pembelajaran yang
6. Memperkuat departemen dalam pengelolaan disiplin silang antar
departemen/program studi.
7. Membangun kemampuan pendanaan sendiri melalui
kerjasama/kemitraan dalam usaha-usaha ventura.
8. Mengembangkan kemampuan dalam memasarkan produk-produk
pengetahuan ilmiah, konsep-konsep, pemecahan masalah
industrial, jasa tenaga ahli, dan lain-lain.
9. Membangun pendekatan baru dalam pembelajaran yang berfokus
kepada pembelajaran sesuai kebutuhan (demand-driven learning
system).
III.2.4. Lokasi Kampus
Kampus USU Padang Bulan sebagai kampus utama berlokasi di
Keluarahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru. Kampus ini mulai digunakan
sejak tahun 1957, sebelumnya beberapa Fakultas di lingkungan USU
menggunakan sejumlah gedung yang tersebar di kota Medan termasuk di
antaranya berlokasi di Jalan Seram, Jalan Cik Ditiro, Jalan Sempali, dan Jalan
Gandhi. Kampus Padang Bulan yang pada awalnya terdapat di pinggiran kota
Medan, kemudiaan dengan perkembangan kota Medan sehingga sekarang berada
di tengah-tengah kota. Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha, dengan zona
Kampus Padang Bulan dapat dicapai dengan mudah baik dari pusat kota
maupun dari bandar udara. Jarak kampus dengan pusat kota (Lapangan Merdeka)
sekitar 15 km yang dapat ditempuh dengan menggunakan taksi selama sekitar 20
menit atau dengan bus mini angkutan kota selama sekitar 30 menit. Jarak kampus
dengan bandar udara Polonia Internasional Airport sekitar 6 km yang dapat
ditempuh dengan menggunakan taksi selama sekitar 15 menit.
III.3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Sumatera Utara (USU), Padang
Bulan, Keluarahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru. Waktu pelaksanaan
penelitian berlangsung mulai tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April 2008.
III.4. Populasi dan Sampel
III.4.1. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu objek yang akan
diteliti. Populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa
manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup,
dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian
(Bungin, 2001: 101).
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial
Reguler. Alasan peneliti memilih populasi dari dua fakultas tersebut adalah
berdasarkan hasil pra penelitian di lapangan, mayoritas dari para mahasiswa
tersebut memahami tentang CSR karena mereka juga mempelajari tentang CSR
dalam perkuliahan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pra penelitian, jumlah
mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas
Ekonomi USU S-1 Reguler adalah sebanyak 4334 orang (Badan Administrasi
Akademik USU, 31 Oktober 2007).
Fakultas Populasi
ISIP 2038
Ekonomi 2296
Jumlah 4334
III.4.2. Sampel
Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang
dianggap dapat menggambarkan populasinya. David Nachmias dan Vhava
Nachmias (Bulaeng, 2004: 156) mendefenisikan sampel sebagai bagian dari
populasi yang karakteristiknya tidak berbeda dengan karakteristik populasi.
Sampel harus memenuhi unsur representatif atau mewakili dari seluruh
sifat-sifat populasi. Sampel yang representatif bisa diartikan bahwa sampel
tersebut mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional atau
sehingga dapat mewakili keadaan sebenarnya dalam keseluruhan populasi
(Kriyantono, 2006: 150).
Berdasarkan data yang diperoleh, maka untuk menghitung jumlah sampel
digunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 10% dengan tingkat kepercayaan
90%, yakni sebagai berikut:
n =
N = Jumlah Populasi
n = Sampel
d² = Presisi
Berdasarkan sampel yang diperoleh, maka dapat dihitung sampel yang
terpilih dari setiap fakultas, yaitu:
Fakultas Populasi Penarikan Sampel Sampel
III.5. Teknik Penarikan Sampel
III.5.1. Sampel Acak Stratifikasi Proporsional
Sampel acak stratifikasi proporsional dipakai untuk populasi yang
heterogen, berbeda dalam hal karaketristik populasi, seperti tingkat pendidikan,
tingkat penghasilan, usia, atau jenis kelamin. Untuk menggambarkan secara tepat
mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan
harus dibagi terlebih dahulu dalam lapisan (strata) yang seragam (Eriyanto, 1999:
95).
Teknik penarikan sampel ini bertujuan untuk membuat sifat homogen dari
populasi yang heterogen. Keuntungan teknik ini adalah dapat memperoleh secara
jelas mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang
bersangkutan harus dibagi-bagi dalam strata yang seragam, dan dari setiap lapisan
dapat diambil secara acak.
III.5.2. Purposive Sampling
Teknik penarikan sampel ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas
dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan peneliti.
Sedangkan orang-orang dalam populasi yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut
tidak dijadikan sampel. Purposive Sampling dilakukan dengan cara mengambil
subjek, bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah, tetapi didasarkan atas