• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Corporate Social Responsibilty (CSR) Dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Program Corporate Social Responsibilty (CSR) Dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara)"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

Proposal Penelitian

PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DAN CITRA PERUSAHAAN

(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social

Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di

Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Menyelesaikan Pendidikan Strata 1 (S1)

di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Disusun Oleh:

FERINA ZULYANA POHAN 040904031

PROGRAM STUDI HUMAS

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Ferina Zulyana Pohan

NIM : 040904031

Departemen : Ilmu Komunikasi (Humas)

Judul : Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) ”Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa USU)

Medan, Mei 2008

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Drs.Safrin, M.Si.

NIP. 131570481 NIP. 131654104 Drs. Amir Purba, M.A.

Dekan FISIP USU,

NIP. 131757010

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Departemen Ilmu

Komunikasi oleh:

Nama : Ferina Zulyana Pohan

NIM : 040904031

Judul : Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan

(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program

Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di kalangan

mahasiswa USU)

Hari/ Tanggal : Senin, 12 Mei 2008

Pukul : 10.00 WIB

Tempat : Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU

PANITIA PENGUJI

Ketua Penguji : Dra. Fatmawardy Lubis, M.A. ( )

Penguji : Drs. Safrin, M.Si. ( )

(4)

ABSTRAKSI

Skripsi ini berjudul “Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara”. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang program CSR “Satu untuk Sepuluh” yang dilaksanakan selama bulan Juli hingga September 2007 di daerah Timor Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timur. “Satu untuk Sepuluh” ini bertujuan untuk membantu anak-anak di daerah Timor Tengah Selatan, dimana daerah tersebut mengalami kekurangan air bersih.

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara. Alasan peneliti memilih mahasiswa dari dua fakultas tersebut adalah mayoritas dari para mahasiswa tersebut memahami tentang CSR karena mereka juga mempelajari tentang CSR dalam perkuliahan. Sehingga dengan pengetahuan tentang CSR yang mereka miliki tersebut, mereka dapat menilai secara lebih kritis tentang pelaksanaan program CSR “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan citra AQUA. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April 2008 dengan membagikan kuesioner kepada para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara variabel-variabel. Metode korelasional bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain. Dalam penelitian ini, metode korelasional digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara program CSR “Satu untuk Sepuluh” terhadap citra AQUA.

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin penulis ucapkan kehadirat atas segala rahmat

dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Program Corporate Social Responsibility

(CSR) dan Citra Perusahaan”. Suatu studi korelasional tentang pengaruh program

Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” terhadap citra

AQUA.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan

Sarjana S1 Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Universitas Sumatera Utara. Hal ini juga dimaksudkan agar mahasiswa dapat

mengaplikasikan secara langsung ilmu yang telah diperoleh selama di bangku

perkuliahan dan menambah pengalaman, khususnya yang berhubungan dengan

ilmu komunikasi.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari pihak-pihak yang telah membantu

sebelum, selama, dan setelah penulis mengerjakan skripsi. Secara khusus, penulis

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang

sangat penulis sayangi, Ayahanda Ir. H. Zulkifli Pohan dan Ibunda Hj. Fatma Sari

Hasibuan atas pengertian dan dukungannya kepada penulis. Mudah-mudahan

semua yang penulis lakukan dapat membahagiakan dan membanggakan

Ayahanda dan Ibunda.

Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

(6)

2. Bapak Drs. Amir Purba M.A., Ketua Departemen Ilmu Komunikasi,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., selaku Dosen Wali penulis.

4. Bapak Drs. Safrin, M.Si., selaku Dosen Pembimbing yang telah

membimbing dan meluangkan waktu, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini serta nasehat-nasehat yang telah diberikan

kepada penulis.

5. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A. dan Ibu Dra. Lusiana A. Lubis, M.A.,

selaku Dosen Penguji penulis dalam Ujian Meja Hijau. Terima kasih atas

nasehat yang telah diberikan kepada penulis.

6. Seluruh staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi pada khususnya dan

staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU pada

umumnya. Terima kasih atas ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan

kepada penulis.

7. Abangku Andi dan adikku Ipan, yang selalu memotivasi penulis untuk

menjadi yang terbaik dan terus memberikan semangat kepada penulis agar

segera menyelesaikan skripsi ini.

8. Atra, yang selalu ada dan siap membantu penulis selama penulisan skripsi

ini hingga selesai dan terus memotivasi penulis serta mendukung penulis

dalam berbagai hal. Terima kasih sudah menjadi orang yang paling

mengerti penulis.

9. Titin, Anna, Riri, Yusi, Bebby, Sarah, teman seperjuangan di bangku

kuliah yang bersedia membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima

(7)

Mudah-mudahan kita tetap menjadi sahabat untuk selama-lamanya. Tetap

semangat ya mengerjakan skripsinya.

10.Anum, Dini, Fadlun, Helly yang setia menemaniku selama bertahun-tahun

dan memotivasi penulis dalam berbagai hal. Terima kasih untuk semangat

dan do’anya.

11.Kak Ros, Kak Icut, Maya, Rotua, terima kasih atas bantuannya untuk

segala urusan administrasi penulis.

12.Nomaden crews di Sofyan 58, terima kasih atas segala bantuannya. Tetap

semangat ya kuliahnya.

13.Kak Ana, Kak Yuna, dan Kak Yurika, dan seluruh Kakak-kakak dan

Abang-abang senior di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah

membantu penulis selama kuliah dan mengerjakan skripsi.

14.Masri dan Kiki, teman seperjuangan penulis dalam bimbingan skripsi.

Terima kasih atas do’a dan bantuannya.

15.Rudi, Sudi, Rosmery, Meta, Widya, Nina, dan seluruh teman-teman kuliah

penulis di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah membantu penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini dan menemani hari-hari kuliah penulis.

Terima kasih atas segala bantuannya dan telah menjadi teman penulis

selama kuliah dan mudah-mudahan untuk seterusnya.

Medan, Mei 2008

Penulis,

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAKSI ………...i

KATA PENGANTAR ... ………..ii

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR SKEMA ………...viii

DAFTAR TABEL ………ix

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah ……….1

I.2. Perumusan Masalah ………7

I.3. Pembatasan Masalah ………...8

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian I.4.1. Tujuan Penelitian ………...8

I.4.2. Manfaat Penelitian ………...9

I.5. Kerangka Teori ………...9

I.5.1. Public Relations ………...10

I.5.2. Community Relations ………...12

I.5.3. Corporate Social Responsibility ………..14

I.5.4. Satu untuk Sepuluh ………..16

I.5.5. Citra ……….17

I.6. Kerangka Konsep ………..20

I.7. Model Teoritis ………...22

I.8. Operasional Variabel ………22

I.9. Defenisi Operasional ……….23

(9)

BAB II URAIAN TEORITIS

II.2. Community Relations ...36

II.3. Corporate Social Responsibility (CSR) ………41

II.4. Satu untuk Sepuluh ………..47

II.5. Citra ………...50

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metode Penelitian ………..56

III.2. Deskripsi Lokasi Penelitian III.2.1. Sejarah USU ………..56

III.2.2. Profil USU ……….59

III.2.3. Organisasi USU ……….62

III.2.4. Lokasi Kampus ………..64

III.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ………65

III.4. Populasi dan Sampel III.4.1. Populasi ………..65

III.4.2. Sampel ………66

III.5. Teknik Penarikan Sampel III.5.1. Sampel Acak Stratifikasi Proporsional ...68

III.5.2. Purposive Sampling ………68

III.6. Teknik Pengumpulan Data ……….69

III.7. Teknik Analisis Data ………..70

III.7.1. Analisa Tabel Tunggal ………...70

III.7.2. Analisa Tabel Silang ………..70

(10)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Pengumpulan Data ……….73

IV.2. Teknik Pengolahan Data ………74

IV.3. Analisa Tabel Tunggal ………...75

IV.4. Analisa Tabel Silang ………104

IV.5. Uji Hipotesis ………118

IV.6. Pembahasan ……….119

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ………123

5.2. Saran ………..124

(11)

DAFTAR SKEMA

1. Skema Model Pembentukan Citra ………18

2. Skema Model Teoritis ………...22

3. Skema Model Two Way Symmetrical ………...36

(12)

DAFTAR TABEL

1. Tabel Operasional Variabel ………...22

2. Tabel Populasi ………...66

3. Tabel Sampel ……….67

4. Tabel Jenis Kelamin ………..76

5. Tabel Fakultas………76

6. Tabel Stambuk ………..77

7. Tabel Pengetahuan Responden Tentang CSR ………...78

8. Tabel Tingkat Pemahaman Responden Terhadap CSR ………....78

9. Tabel Pengetahuan Responden Tentang AQUA Sebagai Pelaksana Tanggung Jawab Sosial ……….79

10.Tabel Pengetahuan Responden Tentang “Satu untuk Sepuluh” Sebagai Salah Satu Bentuk Tanggung Jawab Sosial AQUA ……….80

11.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Adanya Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ………80

12.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Adanya Iklan Kampanye “Satu untuk Sepuluh” ………..81

13.Tabel Frekuensi Responden Menonton Iklan Kampanye “Satu untuk Sepuluh” ………....82

14.Tabel Kesesuaian Pemakaian Tema “Satu untuk Sepuluh” ………..82

(13)

17. Tabel Pemahaman Responden Terhadap Tujuan Program CSR “Satu

untuk Sepuluh” ………..84

18.Tabel Penilaian Responden Terhadap Tujuan Program CSR “Satu untuk

Sepuluh” ………85

19.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Lokasi Kegiatan “Satu untuk

Sepuluh” ………86

20.Tabel Ketepatan Pemilihan Daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa

Tenggara Timur Sebagai Lokasi Kegiatan “Satu untuk Sepuluh” ………86

21.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Jingle “Satu untuk Sepuluh” ….87

22.Tabel Pengaruh Jingle Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ...88

23.Tabel Tingkat Pengaruh Jingle dalam Kampanye Program CSR “Satu

untuk Sepuluh” ………..88

24.Tabel Pengetahuan Responden Tentang Mekanisme Program CSR “Satu

untuk Sepuluh” ………..89

25.Tabel Penilaian Responden Terhadap Mekanisme Program CSR “Satu

untuk Sepuluh” ………..90

26.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk

Sepuluh” ………90

27.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Iklan Kampanye “Satu untuk

Sepuluh” ………91

28.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Tema “Satu untuk Sepuluh” …92

29.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Tujuan Program CSR “Satu

(14)

30.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Lokasi Kegiatan “Satu untuk

Sepuluh” ………93

31.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Jingle “Satu untuk Sepuluh” ...94

32.Tabel Ketertarikan Responden Terhadap Mekanisme Program CSR “Satu

untuk Sepuluh” ………..94

33.Tabel Kesan Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh”

………...95

34.Tabel Kecukupan Informasi Tentang program CSR “Satu untuk

Sepuluh”……….96

35.Tabel Penyampaian Informasi Tentang Program CSR “Satu untuk

Sepuluh” Melalui Kampanye ………96

36.Tabel Pemahaman Responden Terhadap “Satu untuk Sepuluh” Sebagai

Tanggung Jawab Sosial AQUA ………97

37.Tabel “Satu untuk Sepuluh” Sebagai Tanggung Jawab Sosial AQUA …98

38.Tabel Pemenuhan Tanggung Jawab Sosial AQUA Melalui Program CSR

“Satu untuk Sepuluh” ………98

39.Tabel Tanggapan Responden Terhadap “Satu untuk Sepuluh” Sebagai

Tanggung Jawab Sosial AQUA ………99

40.Tabel Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial AQUA Melalui Program CSR

“Satu untuk Sepuluh” ………..100

41.Tabel Sikap Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh”

………..100

42.Tabel Pengaruh Program CSR “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra

(15)

43.Tabel Tingkat Pengaruh Program CSR “Satu untuk Sepuluh” Terhadap

Citra AQUA ………102

44.Tabel Hubungan Antara Tingkat Pemahaman Responden Terhadap CSR

dan “Satu untuk Sepuluh” Sebagai Cerminan Tanggung Jawab Sosial

AQUA ……….103

45.Tabel Hubungan Antara Frekuensi Responden Menonton Iklan Kampanye

“Satu untuk Sepuluh” dan Penyampaian Informasi Tentang Program CSR

“Satu untuk Sepuluh” ………..104

46.Tabel Hubungan Antara Kesesuaian Pemakaian Tema “Satu untuk

Sepuluh” dan Kesan Responden Terhadap Program CSR “Satu untuk

Sepuluh” ………..106

47.Tabel Hubungan Antara Pemahaman Responden Terhadap Program CSR

“Satu untuk Sepuluh” dan Sikap Responden Terhadap Program CSR “Satu

untuk Sepuluh” ………108

48.Tabel Hubungan Antara Ketepatan Pemilihan Daerah Timor Tengah

Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur Sebagai Lokasi Kegiatan “Satu

untuk Sepuluh” dan Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial AQUA Melalui

Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ………...110

49.Tabel Hubungan Antara Tingkat Pengaruh Jingle Dalam Kampanye

Program CSR “Satu untuk Sepuluh” dan Ketertarikan Responden

Terhadap Program CSR “Satu untuk Sepuluh” ………..112

(16)

ABSTRAKSI

Skripsi ini berjudul “Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Citra Perusahaan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA di Kalangan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara”. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang program CSR “Satu untuk Sepuluh” yang dilaksanakan selama bulan Juli hingga September 2007 di daerah Timor Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timur. “Satu untuk Sepuluh” ini bertujuan untuk membantu anak-anak di daerah Timor Tengah Selatan, dimana daerah tersebut mengalami kekurangan air bersih.

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara. Alasan peneliti memilih mahasiswa dari dua fakultas tersebut adalah mayoritas dari para mahasiswa tersebut memahami tentang CSR karena mereka juga mempelajari tentang CSR dalam perkuliahan. Sehingga dengan pengetahuan tentang CSR yang mereka miliki tersebut, mereka dapat menilai secara lebih kritis tentang pelaksanaan program CSR “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan citra AQUA. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April 2008 dengan membagikan kuesioner kepada para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara variabel-variabel. Metode korelasional bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain. Dalam penelitian ini, metode korelasional digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara program CSR “Satu untuk Sepuluh” terhadap citra AQUA.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Seperti angin semilir kemudian bertiup semakin kencang, begitulah

hembusan wacana tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa disebut

Corporate Social Responsibility (CSR). Hari demi hari gaungnya pun semakin

terasa dan seolah telah menjadi tren global. Secara singkat, CSR dapat diartikan

sebagai tanggung jawab sosial perusahaan kepada para stakeholders-nya.

Stakeholders atau para pemangku kepentingan tersebut merupakan pihak-pihak

yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung terhadap eksistensi

atau aktivitas perusahaan, seperti karyawan, pemegang saham, konsumen,

masyarakat, pers, maupun pemerintah.

Secara teoritis, The World Business Council for Sustainable Development

(WBCSD) dalam publikasinya Making Good Business Sense (Wibisono, 2007: 7) mendefenisikan CSR sebagai komitmen dunia usaha untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.

CSR yang kini banyak diimplementasikan banyak perusahaan, mengalami

evolusi dan metamorfosis dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada saat

industri berkembang setelah terjadi revolusi industri, kebanyakan perusahaan

masih memfokuskan dirinya sebagai organisasi yang mencari keuntungan belaka.

(18)

dirinya sendiri, terjadilah perubahan. Masyarakat tak hanya menuntut organisasi

bisnis untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukannya, melainkan juga

menuntut untuk bertanggung jawab secara sosial, karena kegiatan operasional

perusahaan umumnya juga memberikan dampak negatif, misalnya eksploitasi

sumber daya dan rusaknya lingkungan di sekitar operasi perusahaan.

Itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya konsep CSR yang

paling primitif, yakni kedermawanan yang bersifat karitatif. Gema CSR semakin

terasa pada tahun 1960-an, dimana secara global, masyarakat dunia telah pulih

dari Perang Dunia II dan mulai menapaki jalan menuju kesejahteraan (Wibisono,

2007: 4). Sejak saat itu, perhatian terhadap permasalahan lingkungan semakin

berkembang dan mendapat perhatian yang kian luas.

Di era 1980-an, makin banyak perusahaan yang menggeser konsep

filantropisnya kearah community development. Dasawarsa 1990-an adalah

dasawarsa yang diwarnai dengan beragam pendekatan, seperti, pendekatan

integral, pendekatan stakeholder, maupun pendekatan civil society. (Wibisono,

2007: 6)

Terobosan besar dalam konteks CSR dilakukan oleh John Elkington

(Wibisono, 2007: 6) melalui konsep “3P” (profit, people, dan planet) yang

dituangkan dalam bukunya “Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of

Twentith Century Business” yang dirilis pada tahun 1997. Ia berpendapat, jika

perusahaan ingin sustain, maka ia perlu memperhatikan 3P, yakni bukan cuma

profit yang diburu, namun juga harus memberikan kontribusi positif kepada

(19)

(planet). Gaung CSR kian bergema setelah diselenggarakan World Summit on

Sustainable Development (WSSD) tahun 2002 di Johannesburg Afrika Selatan.

Aktivitas CSR memang memperlihatkan kecendrungan yang sangat

meningkat, baik di Indonesia maupun di berbagai negara. Sulit dipungkiri bahwa

wacana CSR yang sebelumnya merupakan isu marginal, kini telah menjelma

menjadi isu sentral. Komitmen untuk bertanggung jawab secara sosial disadari

bahwa keuntungan untuk keberlangsungan suatu entitas usaha, secara jangka

panjang hanya bisa didapatkan dengan adanya kesejahteraan masyarakat. Hal ini

dapat dilihat dari adanya peningkatan pemberian nilai sumbangan yang bersifat

charity, dari US $ 9,6 milyar pada tahun 1999 menjadi US $ 12,19 milyar pada

tahun

Body Shop, dari awal kemunculannya telah menunjukkan perhatiannya

pada dunia ketiga, tidak melakukan uji coba pada hewan, serta menolak kekerasan

dalam rumah tangga (Mix 16, Oktober, 2006, hlm. 15). Selain itu, McDonald juga

mendirikan Ronald McDonald House Charities yang telah berjalan lebih dari 30

tahun serta Ben & Jerry’s dengan memberikan kontribusi sebesar 1,1 juta dolar

AS per tahun melalui kegiatan kemanusiaan (Marketing 11, November, 2007,

hlm. 59). Bahkan Nike pernah mendapatkan CSR Award yang tentunya berkat

pelaksanaan CSR-nya.

Tren global lainnya adalah di bidang pasar modal. Beberapa bursa sudah

menerapkan indeks yang memasukkan kategori saham-saham perusahaan yang

(20)

memiliki Dow Jones Sustainability Index (DJSI) bagi saham-saham perusahaan

yang dikategorikan memiliki nilai CSR yang baik. DJSI mulai dipraktekkan sejak

tahun 1991. DJSI mencakup lebih dari 200 perusahaan dari 68 industri di 22

negara dengan jumlah kapitalisasi pasar mencapai 4,3 trilyun dolar AS pada tahun

1999 (Iriantara, 2004: 50).

Begitu pula London Stock Exchange yang memiliki Socially Responsible

Investment (SRI) Index dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang

mempunyai FTSE4Good sejak 2001. Belakangan, inisiatif ini mulai diikuti oleh

otoritas bursa saham di Asia, seperti di Hangseng Stock Exchange dan Singapore

Stock Exchange (Wibisono, 2007: 75).

Di Indonesia sendiri, perusahaan yang melakukan CSR masih sangat

sedikit dan pemahaman mengenai CSR pun masih belum merata. Mewujudkan

CSR memang tidak semudah dalam ucapan. Di Indonesia, konsep ini masih

dianggap sebagai hal yang ideal. Hal ini diperkuat oleh penelitian Chambers dan

kawan-kawan (Wibisono, 2007: 72) terhadap pelaksanaan CSR di tujuh Negara

Asia, yakni India, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, dan

Indonesia. Dari masing-masing negara diambil 50 perusahaan yang berada pada

peringkat atas berdasarkan pendapatan operasional untuk tahun 2002, lalu dikaji

implementasi CSR-nya. Hasilnya, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling

rendah penetrasi pelaksanaan CSR dan derajat keterlibatan komunitasnya.

Namun demikian, berbagai perusahaan di Indonesia berupaya untuk bisa

menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan. Seperti Lifebouy dengan Berbagi

(21)

Bogasari melalui pendampingan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah,

serta PT Astra Internasional Tbk. dengan membentuk Politeknik Manufaktur

Astra. Bahkan beberapa perusahaan pernah memenangkan CSR Award, antara

lain PT Petrokimia Gresik, PT Semen Gresik Tbk., dan PT Riau Andalan Pulp &

Paper.

Tak ketinggalan AQUA yang juga berupaya melaksanakan tanggung

jawab sosialnya. PT AQUA Golden Mississippi yang hadir di Bumi Pertiwi sejak

tahun 1973 dan telah memutuskan untuk bergabung dengan Group DANONE

pada tahun 1998, sudah diakui eksistensi, integritas, dan kredibilitasnya.

Sebagai perusahaan air minum terkemuka, AQUA menaruh perhatian

besar terhadap tersedianya air bersih, terutama bagi kebutuhan anak-anak

Indonesia. Air bersih penting bagi kesehatan dan masa depan anak-anak. Namun Dari hari

ke hari manfaatnya kian optimal dengan produk yang semakin berkualitas juga

selalu menjawab kebutuhan, dan kepedulian sosialnya melalui CSR begitu

membanggakan dan benefit juga terus dirasakan masyarakat. Melalui gerakan

AQUA Lestari, sebuah model bisnis yang dirancang untuk melestarikan sumber

daya air sehingga mampu memiliki sumber daya air yang berkelanjutan, mereka

kemudian berkembang kepada masalah lingkungan dan sosial. Selain itu, juga

permainan Ramsar yang memang dibuat Danone AQUA agar anak-anak lebih

mudah mengenali permasalahan lingkungan dan Danone Nations Cup (DNC)

yang digelar sejak tahun 2000 telah berhasil mengajak 15 juta anak seluruh dunia

berpartisipasi dalam DNC, serta yang terkini program CSR bertajuk “Satu untuk

(22)

sayangnya, di Indonesia masih banyak anak-anak yang hidup di daerah kesulitan

mendapat akses air bersih. Padahal, air bersih merupakan faktor penting untuk

mewujudkan hidup sehat. Di beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur, masih

banyak warganya yang mengalami kelangkaan air bersih. Untuk mendapatkannya,

tak jarang mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Alhasil, banyak

anak-anak kehilangan waktu bermain karena harus mengambil air. Kelangkaan air

bersih memang menjadi sumber munculnya berbagai persoalan di Timor Tengah

Selatan (TTS). Masa depan sekolah tak terurus karena anak-anak harus

berkonsentrasi penuh mencari air bersih. Belum lagi, penyakit demam berdarah,

malaria, dan diare akut silih berganti mendera mereka.

Program charity ataupun pemberian sumbangan sebagai bentuk tanggung

jawab sosial perusahaan kepada masyarakat sudah menjadi hal yang biasa. Untuk

itu, AQUA menyelenggarakan program CSR “Satu untuk Sepuluh” yang

merupakan bagian dari rangkaian kegiatan AQUA untuk Anak Indonesia (AuAI)

berkomitmen aktif membantu memperbaiki kesejahteraan anak Indonesia

“Satu untuk Sepuluh” merupakan kegiatan CSR AQUA yang dilakukan

melalui kegiatan marketing (cause related marketing). Dalam hal ini AQUA

membuat sebuah cara yang baru. Memang AQUA tetap menggunakan produk

terjual sebagai dasar perhitungan, serta dalam kerangka waktu tertentu. Namun,

AQUA tidak menggunakan persentase atau proporsi tertentu untuk menentukan

jumlah uang yang mereka sumbangkan, melainkan untuk menentukan jumlah air

bersih yang akan mereka sediakan. Perhitungannya adalah volume untuk volume,

bukan unit untuk uang. Pendekatan ini sangat menarik, terutama karena AQUA

(23)

kampanye yang didukung oleh bekas pemain sepak bola terbaik di dunia yang

juga sebagai duta DANONE, Zinedine Zidane, program ini berhasil menarik

banyak minat, sehingga volume air yang akan disediakan cukup tampak fantastis.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Pengaruh Program Corporate Social Responsibility

(CSR) “Satu untuk Sepuluh” Terhadap Citra AQUA”. Untuk lokasi penelitian,

peneliti memilih untuk melakukan penelitian ini di Universitas Sumatera Utara

(USU). Mahasiswa (USU) terdiri dari manusia-manusia kritis yang dapat

memandang segala sesuatu secara bijak, termasuk tanggung jawab sosial yang

dilakukan AQUA melalui program bertajuk “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan

citra AQUA. Para mahasiswa USU juga dapat memahami dengan baik tentang

tanggung jawab sosial perusahaan, terutama mahasiswa Fakultas Ekonomi dan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Alasan tersebut yang melandasi

peneliti melakukan penelitian di USU.

I.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, masalah yang

akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Sejauhmanakah program Corporate Social Responsibility (CSR) “Satu

(24)

I.3. Pembatasan Masalah

Perumusan masalah yang terlalu umum dapat mengakibatkan masalah

yang akan dibahas tidak jelas hasilnya. Oleh karena itu, perlu adanya pembatasan

masalah agar ruang lingkup masalah lebih jelas dan terarah. Adapun pembatasan

masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan terhadap program Corporate Social Responsibility

(CSR) “Satu untuk Sepuluh” terkait dengan citra AQUA.

2. Khalayak yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa

aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara S-1 Reguler.

3. Penelitian dilakukan pada tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April

2008.

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

I.4.1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan dalam program CSR “Satu

untuk Sepuluh”.

b. Untuk mengetahui perhatian khalayak terhadap program CSR “Satu untuk

Sepuluh”.

c. Untuk mengetahui penilaian khalayak terhadap program CSR “Satu untuk

(25)

d. Untuk mencari hubungan antara pengaruh program Corporate Social

Responsibility (CSR) “Satu untuk Sepuluh” dengan citra AQUA.

I.4.2. Manfaat Penelitian

a. Secara akademis, penelitian ini diharapakan dapat memperkaya khasanah

penelitian komunikasi dan sumber bacaan, khususnya penelitian tentang

public relations.

b. Secara teoritis, penelitian ini diharapakan dapat memperluas cakrawala

dan wawasan peneliti tentang public relations, khususnya yang berkaitan

dengan tanggung jawab sosial perusahaan dan citra perusahaan.

c. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

terhadap pengetahuan mahasiswa tentang public relations, terutama yang

berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan.

I.5. Kerangka Teori

Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir

dalam memecahkan masalah atau menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun

kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari

sudut mana penelitian tersebut disoroti (Nawawi, 1995: 40).

Menurut Kerlinger (Rakhmat, 2004: 6), teori merupakan himpunan

(26)

dengan menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan

gejala tersebut.

Dengan adanya kerangka teori, akan membantu peneliti dalam

menentukan tujuan dan arah penelitiannya. Kerangka teori akan membantu

penelitian dalam memilih kosep-konsep yang tepat, guna membentuk

hipotesa-hipotesa selanjutnya.

Adapun teori-teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

I.5.1. Public Relations (PR)

Public relations (PR) menyangkut kepentingan setiap organisasi, baik itu

organisasi yang bersifat komersial maupun non-komersial. Kehadirannya tidak

bisa dicegah, terlepas dari kita menyukainya atau tidak. Sebenarnya, PR terdiri

dari semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara organisasi yang

bersangkutan dengan siapa saja yang menjalin kontak dengannya. Setiap orang

pada dasarnya juga selalu mengalami PR, kecuali jika ia terisolasi dan tidak

menjalin kontak dengan manusia lainnya.

Secara etimologis, public relations terdiri dari dua kata, yaitu public dan

relations. Public berarti publik dan relations berarti hubungan-hubungan. Jadi,

public relations berarti hubungan-hubungan dengan publik. Menurut (British)

Institute of Public Relations (IPR) (Jefkins, 2004: 9), public relations (PR) adalah

(27)

rangka menciptakan dan memelihara niat baik (goodwill) dan saling pngertian

antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.

Cultip dan Center (Suhandang, 2004: 45) dalam bukunya Effective Public

Relations mengemukakan defenisi public relations sebagai suatu kegiatan

komunikasi dan penafsiran, serta komunikasi-komunikasi dan gagasan-gagasan dari suatu lembaga kepada publiknya, serta pendapat dari publiknya itu kepada lembaga tadi, dalam usaha yang jujur untuk menumbuhkan kepentingan bersama sehingga dapat tercipta suatu persesuaian yang harmonis dari lembaga itu dengan masyarakatnya.

Dari defenisi Cultip dan Center, tergambar adanya ciri khas dari PR, yaitu

suatu kegiatan timbal balik antara lembaga dengan publiknya. Tidak saja

melakukan kegiatan kepada publik yang ada di luar lembaga, tetapi juga pihak

publiknya melakukan kegiatan terhadap lembaga itu, sehingga terjadilah suatu

pengertian bersama dalam meraih kepentingan bersama. Dalam proses

komunikasinya, PRtidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menerima.

Secara lebih rinci, Lesly (Iriantara, 2004: 57) menyusun semacam daftar

objektif kegiatan PR, diantaranya:

1. Prestise atau “citra yang favourable” dan segenap faedahnya

2. Promosi produk atau jasa

3. Mendeteksi dan mengahadapi isu dan peluang

4. Menetapkan postur organisasi ketika berhadapan dengan publiknya

5. Good will karyawan atau anggota organisasi

(28)

7. Mengatasi kesalahpahaman dan prasangka

8. Merumuskan dan membuat pedoman kebijakan

Tujuan kegiatan PR tersebut, pada gilirannya akan memberi manfaat

terhadap organisasi. Prestise atau citra yang baik, misalnya akan memberi manfaat

yang sangat besar bagi organisasi, bahkan citra dan reputasi ini sering disebut

sebagai aset terbesar perusahaan. Karena itu, reputasi mendapat perhatian yang

sangat besar, dan manajemen reputasi merupakan salah satu bagian dari kegiatan

PR yang penting. Untuk mempertahankan bahkan meningkatkan citra dan reputasi

organisasi atau perusahaan dapat dilakukan salah satunya dengan melaksanakan

program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial

perusahaan dalam rangkaian kegiatan PR.

I.5.2. Community Relations

Jerold (Iriantara, 2004: 20) mendefenisikan community relations sebagai

peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui

berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas.

DeMartinis (Iriantara, 2004: 20) menjelaskan community relations hanya

sebagai cara berinteraksi dengan berbagai publik yang saling terkait dengan

operasi organisasi. Publik dalam public relations (PR) disebut sebagai

stakeholders. Stakeholders ini terbagi dua, yaitu stakeholders internal dan

stakeholders eksternal. Yang termasuk dalam stakeholders internal, antara lain

(29)

karyawan. Sedangkan stakeholders eksternal terdiri dari konsumen, penyalur dan

pemasok, pemerintah, pers, pesaing, serta komunitas dan masyarakat. Konsep

DeMartinis tentang komunikasi menunjukkan bahwa sesungguhnya apa yang

dinamakan publik dalam PRitu adalah komunitas.

Hubungan antara organisasi dengan komunitas bukanlah soal bertetangga

belaka. Konsep komunitas telah megalami pergeseran, sehingga komunitas tidak

hanya dimaknai dengan lokalitas belaka, melainkan juga dimaknai secara

struktural, artinya dilihat dari aspek interaksi yang ada saat ini bisa saja

berlangsung diantara individu yang berbeda lokasinya. Karena itu, hubungan

antara organisasi dan komunitas lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung

jawab sosial organisasi.

Create Profit Inc. (2001) (Iriantara, 2004: 27) menggambarkan 3 tahapan

perkembangan konsep tanggung jawab sosial organisasi bisnis dalam konteks

community relations. Pertama, community relations dan pemberian sumbangan

sebagai respons atau kebutuhan/ tekanan lokal dan manajemen senior/ chief

executive officer (CEO) pada tahun 1960-an dan 1970-an. Kedua, pada tahun

1980-an dan 1990-an berkembang model community relations yang dinamakan

“Model Kewarganegaraan Korporat” yang didasarkan pada isu-isu etis. Ketiga,

berkembang konsep aliansi strategis yang terkait erat dengan tujuan organisasi

yang muncul sejak tahun 1999.

Pada dasarnya, Community relations dikembangkan demi kemaslahatan

(30)

I.5.3. Corporate Social Responsibility (CSR)

Sebagai sebuah konsep yang makin populer, Corporate Social

Responsibility (CSR) ternyata belum memiliki defenisi yang tunggal. Dari sisi

etimologis, CSR kerap diterjemahkan sebagai “Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan”

Ada banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan tanggung jawab

sosial perusahaan. Ada yang menyebutnya tanggung jawab korporat, ada juga

yang menyebut dengan kewarganegaraan korporat (corporate citizenship), ada

yang menamakannya juga corporate community relationship, atau juga yang

menyebutnya organisasi berkelanjutan. Selain itu, juga ada yang menyebutnya

tanggung jawab sosial korporasi atau tanggung jawab sosial dunia usaha

(tansodus).

The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)

(Wibisono, 2007: 7) dalam publikasinya Making Good Business Sense

mendefenisikan CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan sebagai komitmen dunia usaha untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.

Sedangkan menurut Chambers et.al. (Iriantara, 2004: 49) tanggung jawab

sosial perusahaan adalah melakukan tindakan sosial (termasuk lingkungan hidup)

lebih dari batas-batas yang dituntut peraturan perundang-undangan. Secara

singkat, CSR dapat diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan yang

bersifat sukarela. CSR adalah konsep yang mendorong organisasi untuk memiliki

(31)

lingkungan, dan seluruh stakeholder. Sedangkan program charity dan community

development merupakan bagian dari pelaksanaan CSR.

Lebih jauh lagi, CSR dapat dimaknai sebagai komitmen dalam

menjalankan bisnis dengan memperhatikan aspek sosial, norma-norma dan etika

yang berlaku, bukan saja pada lingkungan sekitar, tetapi juga pada lingkup

internal dan eksternal yang lebih luas. Tidak hanya itu, CSR dalam jangka

panjang memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang

berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan.

Perusahaan yang menjalankan program CSR dengan sepenuh hati akan

memperoleh sejumlah manfaat(Wibisono, 2007: 78) sebagai berikut:

1. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan

2. Layak mendapatkan social license to operate

3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan

4. Melebarkan akses sumber daya

5. Membentangkan akses menuju market

6. Mereduksi biaya

7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders

8. Memperbaikihubungan dengan regulator

9. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan

(32)

I.5.4. Satu untuk Sepuluh

“Satu untuk Sepuluh” adalah kegiatan Corporate Social Responsibility

(CSR) AQUA yang ditujukan terutama untuk membantu meningkatkan

kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup

sehat. “Satu untuk Sepuluh” merupakan bagian dari rangkaian kegiatan AQUA

untuk Anak Indonesia (AuAI) untuk membantu meningkatkan kesejahteraan

anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa.

Untuk mekanisme programnya, yaitu dari setiap 1 liter botol AQUA

ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga

September 2007, AQUA akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas

di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai

tahap awal

Pemilihan NTT sebagai lokasi kegiatan ini didasarkan pada survey terbaru

yang dilakukan oleh LSM internasional ACF (Action Contre la Faim)

(http://auai.aqua.com). NTT juga dianggap sebagai lokasi yang tepat disebabkan

oleh kondisi kelangkaan air yang umum terjadi di Indonesia belahan timur.

Namun, NTT hanya merupakan tahapan awal dan menggambarkan permulaan

dari komitmen AQUA untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi

anak-anak.

Selain penyuluhan hidup sehat, AQUA juga mengupayakan

memperpendek jarak sumber air ke kawasan penduduk dari 710 meter menjadi 50

meter melalui titik-titik pengambilan air dan melakukan pembangunan

(33)

secara berkesinambungan untuk mengikutsertakan warga setempat memelihara

sumber air. Upaya pemeliharaan ini berkelanjutan sampai dengan 10 tahun

Dengan kampanye yang didukung Zinedine Zidane, program ini berhasil

menarik banyak minat, sehingga volume air yang disediakan cukup tampak

fantastis. Dalam waktu sekitar tiga bulan saja, jumlah air bersih yang disediakan

AQUA mencapai lebih dari satu milyar liter

I.5.5. Citra

Menciptakan citra yang positif terhadap perusahaan merupakan tujuan

utama bagi seorang Public Relations. Citra merupakan suatu penilaian yang

sifatnya abstrak yang hanya bisa dirasakan oleh perusahaan dan pihak-pihak yang

terkait. Citra yang ideal merupakan impresi yang benar, yang sepenuhnya

berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta pemahaman atas kenyataan yang

sesungguhnya.

Dalam buku Essential of Public Relations (Soemirat dan Ardianto, 2004:

111), Jefkins menyebut bahwa citra adalah kesan yang diperoleh berdasarkan

pengetahuan dan pengertian seseorang tentang fakta-fakta atau kenyataan.

Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi (Soemirat dan

(34)

realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas, citra adalah dunia menurut realitas.

Citra terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima

seseorang.

Untuk mengetahui citra seseorang terhadap suatu objek, dapat diketahui

dari sikapnya terhadap objek tersebut. Solomon, dalam Rakhmat (Soemirat dan

Ardianto, 2004: 115), menyatakan semua sikap bersumber pada organisasi

kognitif, pada informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Efek kognitif dari

komunikasi sangat mempengaruhi proses pembentukan citra seseorang. Citra

terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima

seseorang. Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu,

tetapi cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang

lingkungan.

Proses pembentukan citra dalam struktur kognitif yang sesuai dengan

pengertian sistem komunikasi dijelaskan oleh John S. Nimpoene (Soemirat dan

Ardianto, 2004: 115), dalam laporan penelitian tentang tingkah laku konsumen

sebagai berikut:

Model Pembentukan Citra

pengalaman mengenai stimulus

Stimulus Respon

Rangsang Perilaku

Rangsang Kognisi

Persepsi Sikap

(35)

Public relations digambarkan sebagai input-output, proses intern dalam

model ini adalah pembentukan citra, sedangkan input adalah stimulus yang

diberikan dan output adalah tanggapan atau perilaku tertentu. Citra itu sendiri

digambarkan melalui persepsi-kognisi-motivasi-sikap.

Model pembentukan citra ini menunjukkan bagaimana stimulus yang

berasal dari luar diorganisasikan dan mempengaruhi respons. Stimulus (rangsang)

yang diberikan pada individu dapat diterima atau ditolak. Empat komponen

persepsi-kognisi-motivasi-sikap diartikan sebagai citra individu terhadap

rangsang. Walter Lipman menyebut ini sebagai “picture in our head”.

Jika stimulus mendapat perhatian, individu akan berusaha untuk mengerti

tentang rangsang tersebut. Persepsi diartikan sebagai hasil pengamatan terhadap

unsur lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan. Dengan kata

lain, individu akan memberikan makna terhadap rangsang tersebut. Kemampuan

mempersepsi itulah yang dapat melanjutkan proses pembentukan citra. Persepsi

individu akan positif apabila informasi yang diberikan oleh rangsang dapat

memenuhi kognisi individu.

Kognisi yaitu suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus.

Keyakinan ini akan timbul apabila individu telah mengerti rangsang tersebut,

sehingga individu harus diberikan informasi-informasi yang cukup yang dapat

mempengaruhi perkembangan kognisinya. Motivasi dan sikap yang ada akan

menggerakkan respons seperti yang diinginkan oleh pemberi rangsang.

Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong

(36)

suatu tujuan. Sedangkan sikap adalah kecendrungan bertindak, berpersepsi,

berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap

mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap menentukan apakah orang harus

pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan

diinginkan. Sikap mengandung aspek evaluatif, artinya mengandung nilai

menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sikap juga dapat diperteguh atau

diubah. Proses pembentukan citra pada akhirnya akan menghasilkan sikap,

pendapat, tanggapan, atau perilaku tertentu.

I.6. Kerangka Konsep

Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang

bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang dicapai dan dapat

mengantar penelitian pada rumusan hipotesa (Nawawi, 1995: 33).

Konsep adalah penggambaran secara tepat fenomena yang hendak diteliti,

yakni istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak

kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi perhatian ilmu sosial.

Dengan demikian, kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional

dalam menguraikan rumusan hipotesa, yang sebenarnya merupakan jawaban

sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat

diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalisasikan dengan mengubahnya

(37)

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas merupakan segala faktor atau unsur yang menentukan atau

mempengaruhi munculnya variabel kedua yang disebut variabel terikat. Tanpa

variabel ini maka variabel berubah, sehingga akan muncul variabel terikat yang

berbeda atau yang lain sama sekali tidak muncul (Nawawi, 1995: 57).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah program CSR “Satu untuk

Sepuluh”.

b. Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat merupakan sejumlah gejala ataupun faktor maupun unsur

yang ada ataupun muncul, dipengaruhi, atau ditentukan oleh adanya variabel

bebas (Nawawi, 1995: 57).

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah citra AQUA.

c. Variabel Antara (Z)

Variabel antara merupakan variabel yang berada diantara variabel bebas

dan variabel terikat, berfungsi sebagai penguat atau pelemah hubungan antara

variabel bebas dan variabel terikat.

(38)

I.7. Model Teoritis

Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep

dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut:

I.8. Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka konsep di atas, maka dibuat operasionalisasi

variabel yang berfungsi membentuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian,

yaitu sebagai berikut:

Variabel Teoritis Variabel Operasional

1. Variabel Bebas (X)

Program CSR “Satu untuk

Sepuluh”

a. Frekuensi Menonton Iklan Kampanye “Satu untuk Sepuluh”

b. Tema Kegiatan

c. Tujuan Kegiatan

d. Lokasi Kegiatan

Variabel Bebas (X)

Program CSR “Satu untuk Sepuluh”

Variabel Terikat (Y)

Citra AQUA

Variabel Antara (Z)

(39)

e. Jingle “Satu untuk Sepuluh” f. Mekanisme Program

2. Variabel Terikat (Y)

Citra AQUA

a. Persepsi

b. Kognisi

c. Sikap

3. Variabel Antara (Z)

Karakteristik Responden

a. Jenis Kelamin

b. Fakultas

c. Stambuk

I.9. Defenisi Operasional

Defenisi operasional merupakan unsur penelitian untuk mengetahui

bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Dengan kata lain, defenisi

operasional adalah suatu informasi alamiah yang sangat membantu peneliti lain

yang akan menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 2006: 46).

Adapun defenisi operasional variabel-variabel dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Variabel Bebas (Program CSR “Satu untuk Sepuluh”)

a. Frekuensi menonton iklan kampanye AQUA “Satu untuk Sepuluh”, yakni

apakah responden pernah atau tidak pernah menonton iklan kampanye

“Satu untuk Sepuluh”.

(40)

c. Tujuan Kegiatan, yakni tujuan kegiatan CSR “Satu untuk Sepuluh”.

d. Lokasi Kegiatan, yakni lokasi kegiatan CSR “Satu untuk Sepuluh”.

e. Jingle “Satu untuk Sepuluh”, yakni jingle dalam kampanye program CSR

“Satu untuk Sepuluh”.

f. Mekanisme Program, yakni teknik atau cara yang digunakan dalam

program CSR “Satu untuk Sepuluh”.

2. Variabel Terikat (Citra AQUA)

a. Persepsi, yakni hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang

dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan.

b. Kognisi, yakni suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus.

c. Sikap, yakni kecendrungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa

dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai.

3. Variabel Antara (Karakteristik Responden)

a. Jenis Kelamin, yakni jenis kelamin responden, pria/ wanita.

b. Fakultas, yakni fakultas responden program S-1 Reguler USU.

(41)

I.10. Hipotesis

Secara etimologis hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu hypo dan thesis.

Hypo berarti kurang dan thesis berarti pendapat. Jadi, hipotesis merupakan

kesimpulan yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan

membuktikan kebenaran hipotesis itu dengan menguji hipotesis dengan data di

lapangan (Bungin, 2001: 90).

Hipotesis adalah suatu pernyataan sementara mengenai sesuatu, yang

keandalannya biasanya tidak diketahui. Dengan hipotesis, penelitian menjadi tidak

mengambang, karena dibimbing oleh hipotesis tersebut.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara program CSR “Satu untuk Sepuluh”

dengan citra AQUA.

Ha : Terdapat hubungan antara program CSR “Satu untk Sepuluh” dengan citra

(42)

diubah. Proses pembentukan citra pada akhirnya akan menghasilkan sikap,

pendapat, tanggapan, atau perilaku tertentu.

Berikut ini adalah bagan dari orientasi public relations, yakni image

building (membangun citra), dapat dilihat sebagai model komunikasi dalam public

relations (Soemirat dan Ardianto, 2004: 118).

Sumber Komunikator Pesan Komunikan Efek

Perusahaan Lembaga Organisasi

Bidang/ Divisi Publik Relations

Kegiatan-kegiatan

Publik-publik PR

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

korelasional. Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara

variabel-variabel. Metode korelasional bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu

variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain (Rakhmat, 2004: 27).

III.2. Deskripsi Lokasi Penelitian

III.2.1. Sejarah Universitas Sumatera Utara (http://usu.ac.id)

Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya

Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Pendirian yayasan

ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan

masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung

oleh Gubernur Sumatera Utara, dengan susunan sebagai berikut:

1. Abdul Hakim (Ketua)

2. Dr. T. Mansoer (Wakil Ketua)

(44)

4. Ir. R. S. Danunagoro, Drh. Sahar, Drg. Oh Tjie Lien, Anwar Abubakar,

Madong Lubis, Dr. Maas, J. Pohan, Drg. Barlan, dan Soetan Pane

Paruhum (Anggota)

Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah

mulai sejak sebelum Perang Dunia II, tetapi tidak disetujui oleh pemerintah

Belanda pada waktu itu. Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang

terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat

rancangan perguruan tinggi Kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia,

pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia.

Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul

Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera

Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini.

Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian

perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari

Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro, dan sekretaris Mr. Djaidin Purba. Selain

Dewan Pimpinan Yayasan, Organisasi USU pada awal berdirinya terdiri dari

Dewan Kurator, Presiden Universitas, Majelis Presiden dan Asesor, Senat

Universitas, dan Dewan Fakultet.

Sebagai hasil kerja sama dan bantuan moril dan material dari seluruh

masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa

Aceh, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di

Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa diantaranya dua orang

(45)

Masyarakat (1954), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956), dan Fakultas

Pertanian (1956).

Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik

Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia.

Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di

Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I.

Kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960)

di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, USU terdiri dari lima fakultas di Medan

dan dua fakultas di Banda Aceh. Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas

Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982),

Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), dan

Fakultas Farmasi (2007).

Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri

(PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di

Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun

2000. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).

Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah

menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas

Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan

Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian

(46)

(1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED)

yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setelah itu,

berdiri Politeknik Negeri Medan (1999), yang semula adalah Politeknik USU.

III.2.2. Profil Universitas Sumatera Utara

1.

USU memiliki 13 fakultas/sekolah yaitu Kedokteran, Hukum,

Pertanian, Teknik, Kedokteran Gigi, Ekonomi, Sastra, Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kesehatan

Masyarakat, Farmasi, Psikologi, dan Pascasarjana. Jumlah program studi

yang ditawarkan sebanyak 101, terdiri dari 8 tingkat doktoral, 28 magister, 15

spesialis, 5 profesi, 50 sarjana, dan 15 diploma. Jumlah mahasiswa terdaftar

saat ini lebih dari 32.000 orang, 688 di antaranya adalah mahasiswa asing.

Program Studi

2.

Sejak awal pendiriannya, USU dipersiapkan menjadi pusat pendidikan

tinggi di Kawasan Barat Indonesia. Sewaktu didirikan pada tahun 1952, USU

merupakan sebuah Yayasan, kemudian beralih status menjadi PTN pada

tahun 1957, dan selanjutnya berubah menjadi PT-BHMN pada tahun 2003.

Sekilas Pandang

Kampus USU berlokasi di Padang Bulan, sebuah area yang hijau dan

rindang seluas 120 ha yang terletak di tengah Kota Medan. Zona akademik

(47)

mahasiswa. Sistem pembelajaran didukung oleh fasilitas perpustakaan dan

lebih dari 200 laboratorium. Perpustakaan menyediakan berbagai jenis

sumber belajar baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Perpustakaan

USU merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Kampus

Padang Bulan juga didukung oleh infrastruktur teknologi informasi untuk

memfasilitasi akses terhadap berbagai sumber daya informasi dan

pengetahuan untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian

mahasiswa dan dosen.

Selain itu, di dalam kampus juga terdapat berbagai sarana seperti

asrama, arena olah raga, wisma, kafetaria, toko, bank, dan kantor pos. Wisuda

dan berbagai acara akademik lainnya diadakan di Auditorium dan

Gelanggang Mahasiswa. Sebuah rumah sakit pendidikan akan dibangun di

lokasi kampus pada tahun 2008.

Sebuah kampus baru seluas 300 ha yang berlokasi di Kwala Bekala,

berjarak 15 km dari Kampus Padang Bulan sedang dikembangkan, yang saat

ini digunakan untuk mendukung berbagai penelitian dan percobaan di bidang

pertanian, kehutanan, perkebunan, dan peternakan. Dalam upaya

mengembangkan diri sebagai universitas berjangkauan luas, USU mengelola

Kebun Percobaan seluas sekitar 550 ha di Langkat. USU juga telah

memperoleh izin pengembangan hutan percontohan seluas 10.000 ha di

(48)

3.

Diawali dengan membuka sekolah kedokteran, USU memposisikan

diri sebagai universitas unggulan. Proses pendidikan dan penelitian

melibatkan 1.680 orang dosen, 78% di antaranya memiliki latar belakang

pendidikan pascasarjana. Hingga saat ini USU memiliki lebih dari 103.000

alumni yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Sejumlah alumni

menempati posisi penting di berbagai sektor kerja, baik pemerintahan

maupun swasta.

Keunggulan Kompetitif

Program studi bidang kesehatan seperti Kedokteran, Kedokteran Gigi,

dan Farmasi saat ini menjadi primadona bagi mahasiswa asing terutama yang

berasal dari Malaysia. Program studi pada Fakultas MIPA dan Pertanian

menjadi ujung tombak berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian

masyarakat. Program Studi Etnomusikologi memiliki kekhasan tentang

musik-musik etnik di Sumatera. Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu-Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik banyak terlibat dalam pengembangan hukum dan

penataan administrasi pemerintahan. Sebuah produk penjernihan air - Ferro

Filter - hasil penemuan dosen Fakultas Teknik sedang dalam proses

pengurusan hak paten, telah banyak digunakan di berbagai wilayah Sumatera.

Penataan dan pengembangan sistem penjaminan mutu, yang didukung

dengan komitmen tinggi para manajer di semua lini, dilakukan secara

terus-menerus dan menjadi agenda utama USU dalam upaya menghasilkan lulusan

(49)

III.2.3. Organisasi Universitas Sumatera Utara

1. Struktur

Struktur organisasi USU sebagai PT-BHMN terdiri dari:

a. Majelis Wali Amanat (MWA), Dewan Audit, Unit Usaha

Komersial, Senat Akademik, Pimpinan Universitas (Rektor dan

Pembantu Rektor), Dewan Guru Besar (DGB), Sekretaris

Eksekutif, Satuan Audit Internal, dan Satuan Penjaminan Mutu

(organisasi sentral);

b. Fakultas, Sekolah Pasacasarjana, dan Lembaga Penelitian dan

Pengabdian kepada masyarakat (unsur pelaksana akademik);

c. Biro Akademik, Biro Sumber Daya Manusia, Biro Keuangan, Biro

Kemahasiswaan dan Kealumnian, Biro Perencanaan dan

Kerjasama, dan Biro Pengembangan dan Pemeliharaan Aset (unsur

pelaksana administratif); dan

d. Perpustakaan dan Sistem Informasi, Pelayanan dan Pengembangan

Pendidikan, Unit Usaha Non Komersial, dan Unit Pengadaan

(unsur penunjang).

2. Visi:

(50)

1. Mempersiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat akademik

dan profesional dalam menerapkan, mengembangkan pengetahuan

ilmiah, teknologi dan seni, serta berdaya saing tinggi.

3. Misi:

2. Memperluas partisipasi dalam pembelajaran untuk memenuhi

kebutuhan nasional dalam pembelajaran dan modernisasi cara

pembelajaran.

3. Mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan ilmiah,

teknologi, seni, dan rancangan penerapannya untuk mendukung

produktivitas dan daya saing masyarakat.

1. Memperluas partisipasi dalam pelayanan pendidikan bagi

masyarakat dalam mendukung pemenuhan pendidikan nasional

serta memodernisasi cara pembelajaran.

4. Tujuan:

2. Meningkatkan partisipasi aktif dalam pengembangan ilmiah,

teknologi dan seni/budaya serta kemanusiaan.

3. Mengembangkan pusat informasi serta sistem teknologi

komunikasi dan sistem penjaminan mutu yang handal.

4. Membangun sistem tata pamong universitas yang efektif, efisien

dan demokratis.

5. Mewujudkan lingkungan pengajaran dan pembelajaran yang

(51)

6. Memperkuat departemen dalam pengelolaan disiplin silang antar

departemen/program studi.

7. Membangun kemampuan pendanaan sendiri melalui

kerjasama/kemitraan dalam usaha-usaha ventura.

8. Mengembangkan kemampuan dalam memasarkan produk-produk

pengetahuan ilmiah, konsep-konsep, pemecahan masalah

industrial, jasa tenaga ahli, dan lain-lain.

9. Membangun pendekatan baru dalam pembelajaran yang berfokus

kepada pembelajaran sesuai kebutuhan (demand-driven learning

system).

III.2.4. Lokasi Kampus

Kampus USU Padang Bulan sebagai kampus utama berlokasi di

Keluarahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru. Kampus ini mulai digunakan

sejak tahun 1957, sebelumnya beberapa Fakultas di lingkungan USU

menggunakan sejumlah gedung yang tersebar di kota Medan termasuk di

antaranya berlokasi di Jalan Seram, Jalan Cik Ditiro, Jalan Sempali, dan Jalan

Gandhi. Kampus Padang Bulan yang pada awalnya terdapat di pinggiran kota

Medan, kemudiaan dengan perkembangan kota Medan sehingga sekarang berada

di tengah-tengah kota. Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha, dengan zona

(52)

Kampus Padang Bulan dapat dicapai dengan mudah baik dari pusat kota

maupun dari bandar udara. Jarak kampus dengan pusat kota (Lapangan Merdeka)

sekitar 15 km yang dapat ditempuh dengan menggunakan taksi selama sekitar 20

menit atau dengan bus mini angkutan kota selama sekitar 30 menit. Jarak kampus

dengan bandar udara Polonia Internasional Airport sekitar 6 km yang dapat

ditempuh dengan menggunakan taksi selama sekitar 15 menit.

III.3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Universitas Sumatera Utara (USU), Padang

Bulan, Keluarahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru. Waktu pelaksanaan

penelitian berlangsung mulai tanggal 13 Maret 2008 sampai dengan 5 April 2008.

III.4. Populasi dan Sampel

III.4.1. Populasi

Populasi adalah jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu objek yang akan

diteliti. Populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa

manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup,

dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian

(Bungin, 2001: 101).

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial

(53)

Reguler. Alasan peneliti memilih populasi dari dua fakultas tersebut adalah

berdasarkan hasil pra penelitian di lapangan, mayoritas dari para mahasiswa

tersebut memahami tentang CSR karena mereka juga mempelajari tentang CSR

dalam perkuliahan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pra penelitian, jumlah

mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas

Ekonomi USU S-1 Reguler adalah sebanyak 4334 orang (Badan Administrasi

Akademik USU, 31 Oktober 2007).

Fakultas Populasi

ISIP 2038

Ekonomi 2296

Jumlah 4334

III.4.2. Sampel

Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang

dianggap dapat menggambarkan populasinya. David Nachmias dan Vhava

Nachmias (Bulaeng, 2004: 156) mendefenisikan sampel sebagai bagian dari

populasi yang karakteristiknya tidak berbeda dengan karakteristik populasi.

Sampel harus memenuhi unsur representatif atau mewakili dari seluruh

sifat-sifat populasi. Sampel yang representatif bisa diartikan bahwa sampel

tersebut mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional atau

(54)

sehingga dapat mewakili keadaan sebenarnya dalam keseluruhan populasi

(Kriyantono, 2006: 150).

Berdasarkan data yang diperoleh, maka untuk menghitung jumlah sampel

digunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 10% dengan tingkat kepercayaan

90%, yakni sebagai berikut:

n =

N = Jumlah Populasi

n = Sampel

d² = Presisi

Berdasarkan sampel yang diperoleh, maka dapat dihitung sampel yang

terpilih dari setiap fakultas, yaitu:

Fakultas Populasi Penarikan Sampel Sampel

(55)

III.5. Teknik Penarikan Sampel

III.5.1. Sampel Acak Stratifikasi Proporsional

Sampel acak stratifikasi proporsional dipakai untuk populasi yang

heterogen, berbeda dalam hal karaketristik populasi, seperti tingkat pendidikan,

tingkat penghasilan, usia, atau jenis kelamin. Untuk menggambarkan secara tepat

mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan

harus dibagi terlebih dahulu dalam lapisan (strata) yang seragam (Eriyanto, 1999:

95).

Teknik penarikan sampel ini bertujuan untuk membuat sifat homogen dari

populasi yang heterogen. Keuntungan teknik ini adalah dapat memperoleh secara

jelas mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang

bersangkutan harus dibagi-bagi dalam strata yang seragam, dan dari setiap lapisan

dapat diambil secara acak.

III.5.2. Purposive Sampling

Teknik penarikan sampel ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas

dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan peneliti.

Sedangkan orang-orang dalam populasi yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut

tidak dijadikan sampel. Purposive Sampling dilakukan dengan cara mengambil

subjek, bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah, tetapi didasarkan atas

Gambar

Tabel di atas menunjukkan jumlah responden yang lebih banyak adalah
Tabel di atas menunjukkan bahwa, AQUA merupakan salah satu
Tabel di atas menunjukkan hubungan antara tingkat pemahaman
Tabel di atas menunjukkan hubungan antara frekuensi responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Sejauhmana hubungan antara program CSR Bakti Olahraga PT Djarum terhadap peningkatan citra perusahaan di kalangan mahasiswa USU..

Corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan merupakan kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi sebagai bentuk komitmen dunia usaha untuk

Alasan ini yang mendasari munculnya tanggung jawab sosial perusahaan atau dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk

Syukur alhamdulilah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-NYA, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Program

Telekomunikasi Indonesia Divisi Regional V Jawa Timur memiliki kewajiban untuk ikut bertanggung jawab dalam kesenjangan Teknologi Komputer dan Internet di Surabaya,

Untuk menjadi perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial, sebuah. perusahaan harus memiliki hukum dan

peningkatan sumberdaya produktif, khusus masyarakat kampus dan masyarakat disekitar kampus, bentuk tanggung jawab tersebut maih dalam taraf peningkatan

Selain mendapatkan perhatian dari perusahaan, manfaat tanggung jawab sosial bagi masyarakat juga akan mendapatkan pandangan baru bahwa mengenai hubungan perusahaan dan masyarakat yang