• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Sulfas Ferrosus Sebagai Pengikat Fosfat (Phosphate Binder) Pada Pasien PGK Dengan Hemodialisis Reguler

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peran Sulfas Ferrosus Sebagai Pengikat Fosfat (Phosphate Binder) Pada Pasien PGK Dengan Hemodialisis Reguler"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN SULFAS FERROSUS SEBAGAI PENGIKAT FOSFAT (PHOSPHATE BINDER) PADA PASIEN PGK DENGAN

HEMODIALISIS REGULER

PENELITIAN DI BAGIAN / SMF ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN USU / RSUD DR. PIRNGADI MEDAN

APRIL – OKTOBER 2010

TESIS

OLEH ERWINSYAH

057101006

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP H. ADAM MALIK / RSUD DR. PIRNGADI

(2)

PERAN SULFAS FERROSUS SEBAGAI PENGIKAT FOSFAT (PHOSPHATE BINDER) PADA PASIEN PGK DENGAN

HEMODIALISIS REGULER

T E S I S

DIAJUKAN DAN DIPERTAHANKAN DI DEPAN SIDANG LENGKAP DEWAN PENILAI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN USU

DAN DITERIMA SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENDAPATKAN KEAHLIAN DALAM BIDANG

ILMU PENYAKIT DALAM

ERWINSYAH 057101006

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM

(3)

Judul Tesis : PERAN SULFAS FERROSUS SEBAGAI PENGIKAT FOSFAT (PHOSPHATE BINDER) PADA PASIEN PGK DENGAN HEMODIALISIS REGULER

Nama Mahasiswa : Erwinsyah Nomor Induk Kandidat : 057101006 Bidang Ilmu : Penyakit Dalam

MENYETUJUI PEMBIMBING TESIS

(Prof. dr. HARUN RASYID LUBIS, SpPD-KGH)

DISAHKAN OLEH

KEPALA DEPARTEMEN KETUA PROGRAM STUDI ILMU PENYAKIT DALAM ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN USU FAKULTAS KEDOKTERAN USU

(dr. SALLI R. NASUTION,SpPD-KGH) (dr. ZULHEMI BUSTAMI,SpPD-KGH)

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur serta terimakasih kepada Allah Yang Maha Kuasa, saya dapat menyelesaikan tesis yang berjudul : ‘PERAN SULFAS FERROSUS SEBAGAI PENGIKAT FOSFAT (PHOSPHATE BINDER) PADA PASIEN PGK DENGAN HEMODIALISIS REGULER’, yang merupakan persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan dokter ahli di bidang Ilmu Penyakit Dalam pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

Dengan selesainya karya tulis ini, maka penulis ingin menyampaikan terima kasih dan rasa hormat serta penghargaan setinggi-tingginya kepada :

1. Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, SpPD-KGH, selaku Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU/ RSUP H.Adam Malik Medan Divisi Nefrologi dan Hipertensi, sekaligus sebagai pembimbing I tesis penulis, yang memberi segala kemudahan, bimbingan dan perhatian besar kepada penulis selama dalam pembuatan tesis ini.

2. Prof. dr. Lukman Hakim Zain, SpPD-KGEH, selaku Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU/ RSUP H.Adam Malik Medan Divisi Gastroentero Hepatologi yang telah bermurah hati menerima saya sebagai peserta PPDS Ilmu Penyakit Dalam, saat menjabat sebagai Kabag Ilmu Penyakit Dalam sewaktu saat pertama saya masuk mengikuti program pendidikan ini.

3. dr. Zulhemi Bustami, SpPD-KGH sebagai ketua program studi Ilmu Penyakit Dalam sekaligus pembimbing II tesis penulis. Kesempatan ini saya juga mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada panitia tim penguji saya : Prof. dr. Lukman Hakim Zain, SpPD-KGEH, Prof. dr. M. Yusuf Nasution, SpPD-KGEH, DR. dr. Juwita Sembiring, SpPD-KGEH, DR. dr. Blondina Marpaung, SpPD-KGEH, dr. Alwinsyah Abidin, SpPD-KP dan dr. A. Adin S. Bagindo, SpPD-KKV.

(5)
(6)

6. Prof. dr. Sutomo Kasiman, SpPD-KKV, SpJP (K)., selaku Ketua Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan persetujuan untuk pelaksanaan penelitian ini

7. Direktur RSUD Dr Pirngadi Medan yang telah memberikan begitu banyak kemudahan dan izin dalam menggunakan fasilitas dan sarana Rumah Sakit untuk menunjang pendidikan keahlian ini.

8. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan izin dan menerima saya, sehingga dapat mengikuti pendidikan keahlian ini.

9. Para sejawat PPDS-Interna, paramedis dan seluruh karyawan/ti bagian Penyakit Dalam : Lely Husna, Syafruddin Abdullah, Yanti, Theresia, Fitri, Ita, Wanti, Sari, Tika dan Deni yang telah banyak membantu dan bekerjasama selama ini. 10. Khusus buat teman-teman penulis dr. Radar Tarigan, SpPD, dr. Rudi

Dwilaksono, dr. Hotlan Sihombing, dr. Dharma Muda, dr. Safrian, dr. Ameliana, dr. Faisal, dr. Leny S. yang telah banyak memberi bantuan, dorongan dan pengorbanan serta mengalami banyak suka duka bersama, selama menjalani pendidikan sehingga terjalin rasa persaudaraan yang erat.

11. Kepada Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes yang telah memberikan bantuan yang tulus kepada penulis khususnya dalam metodologi penelitian ini dan statistik yang dibutuhkan pada penulisan tesis ini.

12. Kepada seluruh perawat di ruang hemodialisa, pihak Laboratorium Klinik Thamrin yang diwakili oleh Ibu dr. Hely, terima kasih atas segala bantuannya dari pengumpulan data dan sampel sampai proses pengerjaan sampel dan penulisan akhir tesis penelitian ini.

13. Para pasien rawat inap dan rawat jalan di ruang Hemodialisa RSUD Dr. Pirngadi Medan, karena tanpa adanya mereka tidak mungkin penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.

(7)

yang penulis kasihi, tiada kata-kata yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaan hati, rasa terimakasih atas segala jasa-jasa bapak dan ibu yang tiada mungkin terucapkan dan terbalaskan. Puji syukur selalu padaNya, luar biasa berkat dan karunia Tuhan pada kita. Terima kasih juga kepada saudara-saudara kandung saya ( Ardiansyah, SP dan M. Azhari) dan seluruh saudara ipar saya yang selalu memberikan dorongan dan motivasi selama saya mengikuti pendidikan ini. Demikian juga kepada bapak mertua H. Asril Alwi dan Ibu mertua Hj. Jusnimarti, terimakasih untuk segala jerih payah dan pengorbanan yang bapak dan ibu berikan. Kiranya Allah SWT yang membalasnya.

15. Kepada istriku tercinta Kiki Sandria, terimakasih untuk segala keikhlasanmu dalam kesabaran, kebijaksanaanmu dalam memberi dorongan, bantuan, serta semangat sehingga perjuangan dalam melewati sekolah ini bisa tercapai. Kepada anakku yang kusayangi Cantika Salsabilla dan Davinsyah Islami Putra yang senantiasa menjadi pendorong semangat serta pelipur lara bagiku selama mengikuti pendidikan. Harapan saya kiranya Allah SWT jugalah yang memperkenankan kita hidup dengan baik, selalu terjaga oleh perlindunganNya. Kalau ada sedikit ilmu atau berkat yang didapat, kiranya Allah SWT jugalah yang memberi kesempatan untuk itu bisa berguna bagi semua umatNya.

Akhirnya izinkanlah penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekurangan selama mengikuti pendidikan ini, semoga segala bantuan, dorongan dan petunjuk yang diberikan kepada penulis selama mengikuti pendidikan kiranya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT Yang Maha Pengasih, dan Maha Pemurah. Amin.

Medan, 27 Oktober 2010

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFAR GAMBAR ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN ... 6

2.1. Patofisiologi serta Konsekuensi hiperfosfatemia pada PGK .. 7

2.2. Hiperparatiroidisme sekunder ... 7

2.3. Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik (GMT-PGK)... 10

2.3.1. Osteodistrofi Renal ... 11

2.4. Kalsifikasi Kardiovaskuler dan jaringan ikat lunak ... 11

2.5. Kalsifilaksis... 12

(9)

2.6.1. Menghambat hiperfosfatemia ... 13

a. Mengurangi Asupan Fosfat ... 13

b. Pemberian Pengikat Fosfat ... 13

c. Dialisa ... 16

2.6.2. Menghambat konsekuensi hiperfosfatemia ... 17

a. Pemberian Vitamin D 3 atau analognya... 17

b. Pemberian bahan kalsimemetik (Cinacalcet)... 18

c. Paratiroidektomi... 19

BAB III PENELITIAN SENDIRI... 20

3.1. Latar Belakang ... 20

3.2. Perumusan masalah... 23

3.3. Hipotesis... 23

3.4. Tujuan Penelitian ... 23

3.5. Manfaat Penelitian ... 23

3.6. Kerangka Konsepsional ... 24

3.7. Bahan Dan Cara ... 24

3.7.1. Desain penelitian... 24

3.7.2. Waktu dan tempat penelitian... 24

3.7.3. Subjek penelitian... 25

3.7.4. Kriteria yang dimasukkan ... 25

(10)

3.7.6. Besar sampel ... 25

3.7.7. Cara penelitian ... ... 26

3.7.8. Analisa data ... 27

3.8. Kerangka Operasional... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 28

4.1. Hasil Penelitian ... 28

4.2. Pembahasan... 32

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 39

5.1. Kesimpulan ... 39

5.2. Saran... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

LAMPIRAN (L) Lampiran 1 Master Tabel ... 45

Lampiran 2 Lembar Penjelasan kepada Calon Subyek Penelitian ... 47

Lampiran 3 Lembar Persetujuan setelah Penjelasan ... 50

Lampiran 4 Informed Consent ... 54

Lampiran 5 Persetujuan Komite Etik ... 57

Lampiran 6 Daftar Riwayat Hidup ... 60

Lampiran 3 Lembar Persetujuan setelah Penjelasan ... 51

Lampiran 4 Profil Peserta Studi ... 52

Lampiran 5 Etika Kedokteran ... 53

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi GMT-PGK ... 10 Tabel 4.1 Gambaran Karakteristik PGK (n = 34) ... 29 Tabel 4.2 Gambaran Karakteristik Klinis dan Laboratorium penderita PGK

berdasarkan kelompok perlakuan sebelum pemberian obat ... 30 Tabel 4.3 Gambaran Awal kadar serum posfat pada kelompok yang diberi

sulfas Ferrosus dan placebo ... ... 31 Tabel 4.4 Gambaran kadar serum posfat setelah diberikan Sulfas Ferossur

dan Placebo pada tahap awal... 31 Tabel 4.5 Gambaran kadar serum posfat setelah diberikan Sulfas Ferrosus

dan Placebo pada tahap kedua (tahap cross over)... 32

Tabel 4.6 Etiologi dan mekanisme kenaikan sekresi hormon paratiroid pada PGK ... 33 Tabel 4. 7 Konsentrasi optimal kalsium, fosfat dan HP serum untuk

mencegah hiperparatiroidisme ... 35

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Grafik Jumlah Kasus Dialisis PT ASKES... 5

Gambar 2 Skema Patogenesis hiperparatiroidisme sekunder ... 9

Gambar 3 Kerangka Konsepsional ... 24

Gambar 4 Kerangka Operasional ... 27

(13)

DAFTAR SINGKATAN

Singkatan Kepanjangan

PGK Penyakit Ginjal Kronik

LFG Laju Filtrasi Glormerulus

PGOI Penyakit Ginjal Obstruksi Inflamasi

HPTi Hormon Paratiroid

USRDS Dialysis Morbidity and Mortality Study

Ca x P Calsium dikali Posfat

CaR Calsium Ratio

KDIGO Kidney Disease: Improving Global

Outcomes

OR Osteodistrofi Renal

GMT-PGK Gangguan Mineral Tulang – Penyakit Ginjal Kronik

Fe Ion Ferri

ml milliliter

% persen

mmHg millimeter air raksa

mg/dl milligram per desiliter

n jumlah sampel

Zα deviat baku normal untuk α

Zβ deviat baku normal untuk β

d selisih rerata kedua kelompok yang

bermakna

Sd Standar deviasi perkiraan

SB Simpang baku

p tingkat kemaknaan

r kekuatan korelasi

(14)

PERAN SULFAS FERROSUS SEBAGAI PENGIKAT FOSFAT (PHOSPHATE BINDER) PADA PASIEN PGK DENGAN HEMODIALISIS

REGULER

Erwinsyah, Zulhelmi Bustami, Abdurrahim Rasyid Lubis, Harun Rasyid Lubis Bagian Penyakit Dalam Divisi Hipertensi dan Nefrologi

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Latar Belakang

Penderita penyakit ginjal kronik (PGK) mempunyai resiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normal. Hiperfosfatemia dan tingginya produk kalsium/phosfor berasosiasi secara independent terhadap mortalitas pasien PGK stadium akhir yang menjalani dialisis. Kondisi ini juga berhubungan dengan peningkatan kejadian hiperparatiroidisme, kalsifikasi organ kardiovaskuler dan lain sebagainya. Beberapa peneliti melaporkan bahwa obat mengandung komponen besi dapat dipakai sebagai fosfat binder, ketika diberikan secara oral bersama dengan makanan. Di Indonesia, obat sulfas ferrosus digunakan untuk pengobatan anemia relatif murah dan luas penggunaannya. Kami mencoba studi secara klinik sejauh mana tablet sulfas ferrosus dapat digunakan sebagai fosfat binder.

Tujuan

Untuk menguji peran dari sulfas ferrosus yang diberikan secara oral dalam mengikat serum fosfat pada pasien hemodialisis reguler.

Metode

(15)

Hasil

Kadar serum fosfat tidak meningkat pada keduanya setelah diberikan obat aktif maupun placebo. Setelah cross over, pada kedua grup terjadi peningkatan pada fosfat tetapi hanya pada grup yang awalnya mendapat sulfas ferrosus terjadi peningkatan yang signifikan meskipun tidak mempunyai arti secara klinis.

Kesimpulan

Studi kecil ini tidak menunjukkan efek pemberian 300 mg sulfas ferrosus sebagai fosfat binder. Penelitian kedepan diperlukan untuk studi ini, masalah rekrutmen pasien, peningkatan dosis obat dan waktu pemberian obat yang lebih lama.

Kata kunci :

(16)

ROLE OF FERROUS SULPHATE AS PHOSPHATE BINDER IN REGULAR HEMODIALYSIS PATIENTS

Erwinsyah, Zulhelmi Bustami, Abdurrahim Rasyid Lubis, Harun Rasyid Lubis Nephrology and Hypertension Division, Department of Internal

Medicine, Medical Faculty of North Sumatera University, Pirngadi/Adam Malik Hospital, Medan

ABSTRACT

Background

Patient suffering from chronic kidney disease (CKD) have a higher risk of death compared to the normal population. Hyperphosphatemia and high calcium/phosporus product independently associated to the mortality of ESRD patients on haemodialysis. This condition are also associated increased incidence of hyperthyroidism, cardiovascular organ calcification,etc. Several researchses reported that iron containing drugs, were able to act as phosphate binder, when given orally together with meals. In Indonesia, ferrous sulphate drug was used for the anemia treatment, relative cheap and widely available. We tried clinically to study whether ferrous suphate tablets can act as phosphate binder.

Aim

To determine the role of oral ferrous sulphate in binding serum phosphate in patients on regular haemodialysis.

Methods

(17)

Result

Phosphate serum did not decrease both after the administration of active drugs and placebo. After the cross over in both groups phosphate increased, but only in the group having ferrous sulphate previously showed significance although had no clinical meaning.

Conclusion

This small study did not show any effect of 300 mg ferrous sulphate as phosphate binder. Further researches are needed for this study,recruiting more patients, increase in dosase and for longer period of administration.

Keywords:

(18)

PERAN SULFAS FERROSUS SEBAGAI PENGIKAT FOSFAT (PHOSPHATE BINDER) PADA PASIEN PGK DENGAN HEMODIALISIS

REGULER

Erwinsyah, Zulhelmi Bustami, Abdurrahim Rasyid Lubis, Harun Rasyid Lubis Bagian Penyakit Dalam Divisi Hipertensi dan Nefrologi

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Latar Belakang

Penderita penyakit ginjal kronik (PGK) mempunyai resiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normal. Hiperfosfatemia dan tingginya produk kalsium/phosfor berasosiasi secara independent terhadap mortalitas pasien PGK stadium akhir yang menjalani dialisis. Kondisi ini juga berhubungan dengan peningkatan kejadian hiperparatiroidisme, kalsifikasi organ kardiovaskuler dan lain sebagainya. Beberapa peneliti melaporkan bahwa obat mengandung komponen besi dapat dipakai sebagai fosfat binder, ketika diberikan secara oral bersama dengan makanan. Di Indonesia, obat sulfas ferrosus digunakan untuk pengobatan anemia relatif murah dan luas penggunaannya. Kami mencoba studi secara klinik sejauh mana tablet sulfas ferrosus dapat digunakan sebagai fosfat binder.

Tujuan

Untuk menguji peran dari sulfas ferrosus yang diberikan secara oral dalam mengikat serum fosfat pada pasien hemodialisis reguler.

Metode

(19)

Hasil

Kadar serum fosfat tidak meningkat pada keduanya setelah diberikan obat aktif maupun placebo. Setelah cross over, pada kedua grup terjadi peningkatan pada fosfat tetapi hanya pada grup yang awalnya mendapat sulfas ferrosus terjadi peningkatan yang signifikan meskipun tidak mempunyai arti secara klinis.

Kesimpulan

Studi kecil ini tidak menunjukkan efek pemberian 300 mg sulfas ferrosus sebagai fosfat binder. Penelitian kedepan diperlukan untuk studi ini, masalah rekrutmen pasien, peningkatan dosis obat dan waktu pemberian obat yang lebih lama.

Kata kunci :

(20)

ROLE OF FERROUS SULPHATE AS PHOSPHATE BINDER IN REGULAR HEMODIALYSIS PATIENTS

Erwinsyah, Zulhelmi Bustami, Abdurrahim Rasyid Lubis, Harun Rasyid Lubis Nephrology and Hypertension Division, Department of Internal

Medicine, Medical Faculty of North Sumatera University, Pirngadi/Adam Malik Hospital, Medan

ABSTRACT

Background

Patient suffering from chronic kidney disease (CKD) have a higher risk of death compared to the normal population. Hyperphosphatemia and high calcium/phosporus product independently associated to the mortality of ESRD patients on haemodialysis. This condition are also associated increased incidence of hyperthyroidism, cardiovascular organ calcification,etc. Several researchses reported that iron containing drugs, were able to act as phosphate binder, when given orally together with meals. In Indonesia, ferrous sulphate drug was used for the anemia treatment, relative cheap and widely available. We tried clinically to study whether ferrous suphate tablets can act as phosphate binder.

Aim

To determine the role of oral ferrous sulphate in binding serum phosphate in patients on regular haemodialysis.

Methods

(21)

Result

Phosphate serum did not decrease both after the administration of active drugs and placebo. After the cross over in both groups phosphate increased, but only in the group having ferrous sulphate previously showed significance although had no clinical meaning.

Conclusion

This small study did not show any effect of 300 mg ferrous sulphate as phosphate binder. Further researches are needed for this study,recruiting more patients, increase in dosase and for longer period of administration.

Keywords:

(22)

BAB I

PENDAHULUAN

Penderita penyakit - penyakit ginjal kronik (PGK) mempunyai resiko

kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normal. Banyak faktor

yang berkontribusi terhadap tingginya, resiko kematian ini. Faktor-faktor

tersebut antara lain : gangguan kardiovaskuler, diabetes, hipertensi, inflamasi,

dislipidemia, dan gangguan metabolisme mineral. Salah satu diantara

gangguan metabolisme mineral adalah gangguan metabolisme fosfat dan

kalsium.1

Gangguan metabolisme kalsium dan fosfat merupakan salah satu

komplikasi Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang harus mendapat perhatian

karena mempunyai peran yang sangat besar pada morbiditas dan mortalitas

PGK. Pada PGK, akibat terhambatnya ekskresi fosfat, akan terjadi

hiperfosfatemia yang secara fisikokimiawi akan mengakibatkan terjadinya

hipokalsemia. Selanjutnya, hiperfofatemia dan hipokalsemia akan merangsang

peningkatan sekresi hormon paratiroid (HPT). Kondisi hiperfosfatemia dan

hipokalsemia ini pada umumnya terjadi pada kliren kreatinin kurang dari 50

ml/menit. Apabila tidak mendapat penanggulangan secara tepat atau apabila

terjadi asupan kalsium berlebih, kondisi tersebut akan berubah menjadi

hiperfosfatemia dan hiperkalsemia. Hiperfosfatemia-hipokalsemia maupun

hiperfosfatemia dan hiperkalsemia, keduanya memberikan kontribusi yang

cukup besar dalam morbiditas dan mortalitas PGK. Block dkk (1998),

melaporkan peningkatan resiko kematian yang berkaitan dengan

hiperfosfatemia pada 6407 penderita gagal ginjal kronik yang menjalani

(23)

6,5 mg/dl memperlihatkan angka kematian yang meningkat sebesar 27%.2

Setelah dilakukan penyesuaian terhadap usia, onset gagal ginjal kronik,

ras, jenis kelamin, diabetes, AIDS, neoplasma dan perokok aktif, kematian

masih 27% lebih tinggi dibandingkan dengan penderita dengan kadar fosfat

serum antara 5 – 6,5 mg/dl (p< 0,01). Hiperfosfatemia pada PGK memberikan

konsekuensi : 1) hiperparatiroidisme, 2) peningkatan insiden kalsifikasi

jaringan ikat lunak dan sindrom kalsifilaksis, dan 3) gangguan terhadap sekresi

hormon paratiroid (HPT).3,4

Gangguan mineral dan tulang pada penyakit ginjal kronik (GMT-PGK)

ialah sekelompok gangguan tulang pada PGK yang merupakan konsekuensi

hiperfosfatemia setelah terjadi hiperparatiroidisme sekunder. Salah satu

contohnya ialah osteodistrofi renal. Sindrom ini mencakup salah satu atau

kombinasi dari 1) Kelainan laboratorium yang terjadi akibat gangguan

metabolisme kalsium, fosfat, HPT dan Vitamin D, 2) Kelainan tulang dalam

hal turnover, mineralisasi, volume, pertumbuhan linier dan kekuatannya, 3)

Kalsifikasi vaskuler atau jaringan lunak lain.5,6

Belum diketahui secara pasti, penyebab percepatan progresifitas gagal

ginjal, apakah vitamin D aktif, atau kelebihan hormone fosfaturik FGF 23.

Block dkk (2004), lewat penelitian kohort berskala besar melaporkan bahwa,

yang berperan besar dalam kejadian tersebut adalah

hiperfosfatemia-hiperkalsemia dan hiperparatiroidisme yang berat. Kematian penderita

terutama disebabkan oleh gangguan kardiovaskuler dan yang terkait dengan

kalsifikasi kardiovaskuler. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk

penanggulangan hiperfosfatemia pada PGK ini. Usaha-usaha tersebut adalah ,

1) restriksi asupan fosfat, 2) pemberian pengikat fosfat (phosphate binder), 3)

(24)

(calcimemetic agent). Untuk menekan morbiditas dan mortalitas, KDOQI

menargetkan kadar fosfat serum penderita PGK adalah 3,5 – 5,5 mg/dl, dan

perkalian kadar fosfat dan kalsium kurang dari 55 mg2/dl2 (dengan

mempergunakan kadar kalsium yang telah dikoreksikan dengan kadar albumin

plasma). Tetapi target ini masih belum sepenuhnya bisa dicapai, terbukti dari

masih tingginya prevalensi hiperfosfatemia pada pasien PGK. USRDS (United

States Renal Data System) (1993), mencatat prevalensi hiperfosfatemia masih

53,6 %, walaupun pengikat fosfat sudah diberikan pada sekitar 80% kasus.

Dapat disimpulkan bahwa, diet restriksi fosfat (dietary intervention), dialisis

yang ketat dan pemakaian obat-obatan yang dilakukan selama ini, masih belum

cukup untuk memenuhi target KDOQI dalam mengatasi hiperfosfatemia.

Masih dibutuhkan usaha yang lebih intensif.3

Beberapa peneliti melaporkan bahwa komponen ferri dapat mengikat

fosfat yang ada dalam makanan bila diberikan secara oral. Hergessel dan Ritz

(1999), melaporkan terjadi penurunan kadar fosfat darah sebesar 20 % serta

ekskresi fosfat lewat urin sebesar 37 % pada 13 penderita PGK dengan

hiperfosfatemia.7

Penelitian Chen dkk (1999), juga melaporkan bahwa komponen garam

ferri yang dicampurkan, bersama-sama dengan makanan dan diberikan pada

percobaan kelompok hewan tikus yang normal maupun kelompok tikus

azotemic (sudah subtotal nefrectomy) juga efektif mengikat fosfat dan

menurunkan penyerapan fosfat diusus halus setelah diberikan selama 2 dan 4

minggu. Namun demikian masih diperlukan penelitian lebih lanjut. 8

Adapun keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan besi

dalam bentuk sediaan hidrat sulfat ferrosus (FeSO4.7 H2O) 300 mg sebagai

(25)

garam aluminium sebagai phosphate binder yang pemakaiannya dalam jangka

waktu yang lama dapat menimbulkan intoksikasi aluminium, sedangkan

penggunan garam kalsium beresiko terjadinya hiperkalsemia.8

Sebab itu, dicobalah penggunaan sediaan hidrat sulfas ferrosus ini

sebagai pengikat fosfat (phosphate binder), disamping harganya murah juga

mudah didapat. Hal ini berdampak mengurangi biaya pengobatan

hiperfosfatemia yang terjadi pada pasien. Pasien-pasien PGK di Indonesia

yang sebagian besar menggunakan jasa pelayanan Jamkesmas dan Askes saat

melakukan hemodialisis tentunya akan sangat terbantu dengan kondisi ini. Saat

ini banyak pemberian berbagai jenis pengikat fosfat yang ada dan dibutuhkan

pasien PGK dengan hiperfosfatemia ini tidak mendapat tanggungan

pengobatan dari Askes maupun Jamkesmas.9

Berikut ini disajikan gambaran grafik jumlah kasus yang menjalani

dialisis yang diambil datanya dari PT. ASKES. Data ini tidak mencerminkan

seluruh kasus dialisis di Indonesia, tetapi hanya kasus dialisis yang di biayai

oleh PT. ASKES. Namun demikian jumlah kasus yang di biayai oleh PT.

ASKES mencapai lebih dari 80% jumlah kasus dialisis, yaitu sekitar 14,6 juta

pegawai negeri sipil dan pensiunannya serta 74,6 juta peserta Jamkesmas yang

(26)

5

Jumlah kasus dialisis yang dibiayai oleh PT ASKES pada tahun 1988-2006.10

Dengan latar belakang demikian, maka penulis ingin mencoba

mengamati dan meneliti adanya peran sulfas ferrosus sebagai pengikat fosfat

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit ginjal kronik merupakan suatu keadaan abnormalitas struktural

atau fungsional ginjal setidaknya selama 3 bulan atau lebih, dengan atau tanpa

penurunan filtrasi glomerulus (LFG) yang bermanifestasi sebagai kelainan

patologis atau kerusakan ginjal, termasuk ketidakseimbangan komposisi zat

didalam darah atau urine serta ada atau tidaknya gangguan hasil pemeriksaan

pencitraan.11

Secara epidemiologi, kejadian penyakit ginjal kronik di negara

berkembang didapatkan 40-60 kasus /1 juta penduduk/ tahun. Pada

pasien-pasien dengan penyebab hipertensi berat, glomerulonefritis dan obstruktif

uropati, insidensinya menjadi lebih tinggi bahkan dapat mencapai 100 kasus/1

juta penduduk/tahun. Di Malaysia diperkirakan terdapat 1.800 kasus baru

penyakit ginjal kronik setiap tahun. Di Amerika serikat dijumpai 200.000

penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisis reguler dengan peningkatan

10 persen setiap tahunnya. Pasien-pasien gagal ginjal terminal yang baru

terdiagnosa mencapai 100 pasien/ 1 juta penduduk. Insiden ini meningkat

empat kali lebih besar pada golongan kulit hitam dan hispanik dibanding

dengan golongan kaukasian yang meningkat sesuai dengan bertambahnya usia

pasien12. Sedangkan data di Indonesia, sedikit studi epidemiologis tentang

penyakit ginjal kronik. Sehingga sulit didapatkan pola morbiditas dan

mortalitas baik dari rumah sakit rujukan nasional maupun rujukan rumah sakit

(28)

Penyebab penyakit ginjal kronik dari beberapa data yang ada bervariasi

untuk setiap negara dimana tingkat insidensinya berbeda pada negara maju dan

negara berkembang. Di Amerika Serikat (1999 – 2005) etiologi terbanyak

adalah Diabetes melitus (44%), dengan DM tipe 1 (7%), DM tipe 2 (37%),

Hipertensi dan penyakit pembuluh darah besar (27%), Glomerulonefritis (10%),

Nefritis interstitialis (4%), Kista dan penyakit bawaan lain (3%), penyakit

sistemik ( Lupus dan Vaskulitis) (2%), neoplasma (2%), penyakit lain (4%)

dan tidak diketahui (4%).12 Data etiologi penyebab ginjal di Indonesia pada

tahun 2005 adalah Glomerulonefritis (46,39%), Diabetes melitus (18,65%),

Obstruksi dan infeksi (12,85%) Hipertensi (8,46%) dan lain lainnya

(13,65%).13

2.1. Patofisiologi serta konsekuensi hiperfosfatemia pada PGK

Hiperfosfatemia pada PGK terjadi akibat kegagalan ginjal dalam

mengekskresi fosfat, tingginya asupan fosfat atau peningkatan pelepasan fosfat

dari ruang intraseluler. Ginjal merupakan organ ekskresi utama bagi fosfat,

sehingga hampir tidak mungkin terjadi hiperfosfatemia pada fungsi ginjal yang

masih normal. Ginjal masih mampu mempertahankan keseimbangan fosfat

pada klirens kreatinin di atas 30 ml/menit. Hiperfosfatemia mengakibatkan

berbagai konsekwensi yang cukup memberikan kontribusi pada mortalitas dan

morbiditas PGK. Konsekuensi hiperfosfatemia pada PGK adalah

hiperparatiroidisme sekunder, osteodistrofi renal, kalsifikasi kardiovaskuler

(29)

2.2. Hiperparatiroidisme sekunder

Tiga faktor yang berperan terhadap patogenesis hiperparatiroidisme

sekunder adalah, hiperfosfatemia, hipokalsemia dan hipokalsitriolemia

(kekurangan Calcitriol/ vitamin D Analog). Adapun indikasi pasien PGK

diberikan vitamin D Analog antara lain pasien yang menjalani hemodialisis

atau dialisis peritoneal dengan kadar HPTi > 300 pg/ml dianjurkan untuk

mendapat Calcitriol/ vitamin D analog (Paricalcitol, Alfacalcidol, atau

Doxercalciferol). Calcitriol/ vitamin D analog diberikan pada pasien dengan

kadar calsium serum < 9,5 mg/dl jika kadar HPTi plasma 300 – 600 pg/ml,

atau calsium serum < 10 mg/dl pada kadar HPTi plasma 1000 pg/dl. Skema 1

(30)

Level Rendah1,25 (OH)2 D3 Fosfat Retensi

Ketahanan Tulang PTH

Hypocalcemia

Hiperparatiroidisme

Penurunan Sensor

Ca

Penurunan Reseptor 1,25 (OH)2 D3 Gagal Ginjal Kronis

Skema 1. Patogenesis hiperparatiroidisme Sekunder17

Hipokalsitriolemia terjadi akibat penurunan massa ginjal. Hipokalsemia

terjadi melalui dua mekanisme yaitu, hiperfosfatemia yang mengakibatkan

perubahan keseimbangan fisikokimiawi, dan hipokalsitriolemia yang

(31)

diatas secara bersama-sama berkontribusi terhadap peningkatan sekresi

hormon paratiroid (HPT). 14,15

2.3. Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik

(GMT-PGK)

Gangguan mineral dan tulang pada penyakit ginjal kronik (GMT-PGK)

ialah suatu sindrom klinik yang terjadi akibat gangguan sistemik pada

metabolisme mineral dan tulang pada PGK. Sindrom ini mencakup salah satu

atau kombinasi dari hal-hal berikut :5

1. Kelainan laboratorium yang terjadi akibat gangguan metabolisme

kalsium, fosfat, HPT dan vitamin D.

2. Kelainan tulang dalam hal turnover, mineralisasi, volume,

pertumbuhan linier dan kekuatannya.

3. Kalsifikasi vaskuler atau jaringan lunak lain.

Kalsifikasi GMT-PGK tergantung pada ada atau tidaknya salah satu

atau kombinasi dari ketiga komponen diatas.

Tabel 2.1 . Klasifikasi GMT-PGK5

(32)

2.3.1. Osteodistrofi Renal

Osteodistrofi Renal (OR) merupakan gangguan morfologi tulang pada

PGK. OR merupakan salah satu pemeriksaan komponen skeletal dari suatu

gangguan sistemik GMT-PGK yang dapat diukur melalui pemeriksaan

histomorfometri dari biopsi tulang. Termasuk dalam kelompok ini adalah,

osteomalasia, osteotis fibrosa, adynamic bone disease, dan jenis campuran.

Ada dua spektrum osteodistrofi renal yaitu, high turnover dan low turnover.

High turnover terjadi pada kadar fosfat tinggi-kalsium rendah HPT tinggi.

Termasuk spektrum ini adalah osteitis fibrosa. Sedangkan low turnover terjadi

pada kadar kalsium tinggi aluminium tinggi, dan termasuk dalam spektrum ini

adalah osteomalasia dan a dynamic bone disease. Salah satu bentuk

osteodistrofi renal yang berada di antara kedua spektrum diatas adalah bentuk

campuran.18,19

2.4. Kalsifikasi kardiovaskuler dan jaringan ikat lunak

Mekanisme lain, lewat mana hiperfosfatemia berkontribusi terhadap

peningkatan morbiditas dan mortalitas pasien PGK adalah melalui terjadinya

kalsifikasi jaringan lunak, terutama pada kalsifikasi kardiovaskuler. Dari otopsi

dilaporkan bahwa, kalsifikasi kardiovaskuler terjadi pada hampir 60 % pasien

PGK yang menjalani hemodialisis.

Kalsifikasi ini terjadi pada miokardium, perikardium, sistem konduksi,

aorta, katup mitral dan arteri koroner. Keadaan ini dapat mengakibatkan

aritmia, disfungsi ventrikel, stenosis ataupun regurgitasi aorta dan mitral,

complete heart block, iskemia miokard dan payah jantung kongestif.

Faktor-faktor yang memicu terjadinya kalsifikasi kardiak ini adalah

(33)

Ca x P), dan alkalinisasi jaringan. Pasien-pasien dengan kadar fosfat yang lebih

dari 6,5 mg/dl mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan

dengan penyakit arteri koroner (termasuk infark miokard dan penyakit jantung

aterosklerotik). Resiko relatif kematian akibat penyakit jantung koroner 52 %

lebih tinggi pada pasien-pasien dengan kadar fosfat > 6,5 mg/dl dibandingkan

dengan kadar fosfat < 6,5 mg/dl. Prediktor yang paling nyata dalam terjadinya

kalsifikasi kardiak ini adalah tingginya perkalian produk Ca x P. Pasien-pasien

dengan dialisis regular yang mempunyai perkalian produk Ca x P lebih dari 55

mg2/dl2 mempunyai prevalensi kalsifikasi katup mitral lebih tinggi bermakna

dibandingkan normal. KDIGO menetapkan sasaran perkalian produk Ca x P

kurang dari 55 mg2 / dl2. 20-22

Selain di jaringan kardiovaskuler, hiperfosfatemia juga dapat

mengakibatkan kalsifikasi pada jaringan ikat lunak lain seperti otak, subkutan,

periartikuler, paru dan jaringan interstitial ginjal.21

2.5. Kalsifilaksis

Sindrom kalsifilaksis pertama kali dilaporkan oleh Selye thn 1962,

berupa nekrosis iskemia jaringan perifer, kalsifikasi vaskuler dan ulserasi kulit,

yang terjadi pada PGK yang menjalani hemodialisis reguler atau setelah

transplantasi ginjal. Patogenesis sindrom ini belum diketahui secara pasti,

diduga karena adanya obstruksi mekanis vaskuler akibat deposisi kalsium otot

polos, arterial dan terjadinya spasme vaskuler. Faktor predisposisi sindrom ini

adalah pasien PGK dengan hemodialisis yang mempergunakan kalsium

karbonat dosis tinggi, dialisat konsentrasi kalsium tinggi, obesitas, diabetes

melitus, pasca transplantasi, obat-obat golongan steroid/imunosupresan, serta

(34)

2.6. Penatalaksanaan23

Penatalaksanaan hiperfosfatemia serta konsekuensinya pada PGK dilakukan

dengan berbagai upaya yaitu :

2.6.1. Menghambat hiperfosfatemia

a. Mengurangi Asupan Fosfat

Pembatasan asupan fosfat pada penderita PGK merupakan cara yang

paling efektif dalam menghambat terjadinya hiperfosfatemia. Hal ini

dilakukan seiring dengan pembatasan asupan protein, karena fosfat

sebagian besar terkandung pada sumber protein, seperti daging, telur,

susu serta berbagai produknya. Upaya ini harus segera dimulai pada

klirens kreatinin 60ml/menit. Asupan fosfat pada PGK dianjurkan

sebanyak 600-900 mg/hari. Fosfat sejumlah itu, jika dikonversikan

ke jumlah asupan protein yang dibutuhkan pada pasien

hemodialisis/peritoneal dialisis sebesar 1,2 - 1,4 protein

gr/kg.bb./hari. Dalam keadaan seperti ini, jumlah asupan protein

lebih diutamakan guna mencegah penderita jatuh ke kondisi

malnutrisi.23

b. Pemberian Pengikat Fosfat

Pengikat fosfat, diharapkan dapat mengikat fosfat yang ada pada

makanan penderita PGK, sehingga tidak diabsorbsi dan dikeluarkan

lewat feces. Dengan demikian kadar fosfat dalam darah tidak

meningkat. Berbagai jenis pengikat fosfat yang sering dipergunakan

adalah, 1) garam aluminium (Aluminium hidroksida), 2) garam ferri,

(35)

polyallylamine hidroksida (sevelamer/RenaGel ®), 5)lanthanum

kartbonat, dan 6) pengikat fosfat berbasis besi (trivalent iron salt).23

Garam aluminium

Garam aluminium merupakan pengikat fosfat yang paling dulu

diketahui, sangat efektif dalam menurunkan fosfat plasma, dan

bisa berperan sebagai antasida yang dapat mengurangi gejala

mual, muntah pada penderita uremia. Tetapi pemakaian jangka

panjangnya dapat mengakibatkan intoksikasi aluminium dengan

gejala anemia, gangguan cerebral, gangguan tulang (a dynamic

bone disease). Indikasi pemakaian garam aluminium jangka

pendek adalah hiperfosfatemia diserta hiperkalsemia, atau hasil,

perkalian Ca x PO4 lebih dari 65 mg2/dl2. pemberian dilakukan

selama 4-8 minggu, setelah kadar kalsium normal dipertahankan

dengan pengikat fosfat garam kalsium.23

Garam Ferri 7

Beberapa studi terdahulu menduga bahwa komponen garam ferri

dapat mengikat fosfat yang ada dalam makanan dan memiliki

potensi sebagai pengikat fosfat (phosphate binder) bila diberikan

secara oral bersama-sama dengan makanan.

Ritz dan Hergessel (1999), melaporkan terjadi penurunan kadar

fosfat darah sebesar 20% serta ekskresi fosfat lewat urin sebesar

37 % pada 13 penderita PGK dengan hiperfosfatemia yang

diberikan 3 x 2,5 gr besi hidroksi polinuklear bersama-sama

makanan selama 2 minggu.Namun demikian masih diperlukan

(36)

Garam kalsium

Garam kalsium yang dipergunakan sebagai pengikat fosfat

adalah kalsium karbonat dan kalsium asetat. Suwitra (2000),

mendapatkan penurunan yang bermakna kadar fosfat darah

penderita PGK yang menjalani hemodialisis kronik setelah

pemberian kalsium karbonat 3,125 gr perhari selama 12 minggu.

Disamping itu, didapatkan juga peningkatan kadar bikarbonat

plasma sebanyak 1 - 2 mol/lt. Di dalam saluran cerna kalsium

karbonat akan terurai menjadi ion kalsium dan karbonat. Ion

kalsium akan berikatan dengan fosfat yang ada pada ion

karbonat akan diabsorbsi kedalam darah untuk kemudian

menjadi bikarbonat. Garam kalsium asetat dilaporkan

mempunyai kapasitas mengikat fosfat yang lebih kuat

dibandingkan kalsium karbonat, sehingga resiko hiperkalsemia

yang terjadi juga lebih kecil. Tetapi efek samping gangguan

pencernaan yang ditimbulkan lebih sering, dan harganya lebih

mahal dibandingkan kalsium karbonat.23

Sevelamer hydrochloride

Sevelamer merupakan pengikat fosfat sintetik pertama, non

kalsium dan non aluminium. Merupakan pengikat fosfat yang

kuat, tidak diabsorbsi di saluran cerna, dan resisten terhadap

degradasi. Banyak studi klinis membuktikan bahwa sevalemer

mempunyai kemampuan mengikat fosfat yang sebanding dengan

garam kalsium, walau masih lebih lemah dibandingkan garam

(37)

banyak dibandingkan garam kalsium, sehingga memperkecil

resiko kematian akibat gangguan kardiovaskuler pada penderita

PGK. Beberapa kekurangan yang dimiliki sevelamer sebagai

pengikat fosfat adalah, efektifitasnya yang berkurang pada

suasana asam, sehingga dapat menghambat absorbsi vitamin

yang larut dalam lemak (antara lain vitamin D), dapat

mengurangi kadar bikarbonat yang kemungkinan disebabkan

oleh adanya ikatan hydrochloride. Disamping itu ukuran

tabletnya yang besar mengurangi kenyamanan pasien untuk

mengkonsumsinya.23

Lantanum karbonat

Lantanum karbonat adalah pengikat fosfat non kalsium, non

aluminium yang terbaru. Banyak studi membuktikan bahwa,

lantanum karbonat memiliki kemampuan mengikat fosfat yang

sama dengan garam aluminium, tanpa efek samping yang berarti.

Efektif pada suasana asam (pH 3-5) dan tidak menghambat

absorbsi vitamin yang larut lemak. Demikian juga efek samping

gastrointestinalnya sangat kecil. Finn (2004), juga membuktikan

bahwa lanthanum karbonat secara bermakna dapat menurunkan

hasil perkalian Ca x PO4 pada, pasien PGK.23

c. Dialisis

Jumlah fosfat yang dieliminasi selama dialisis bervariasi, tergantung

pada kadar fosfat serum pradialisis dan efikasi dialiser yang

(38)

sesi hemodialisis sekitar 30-60 mmol dan pada dialisis peritoneal

sebesar 10-12 mmol/hari. Data tersebut menunjukkan adanya

keseimbangan fosfat yang positif, walaupun dengan asupan fosfat

yang optimal. Dialiser dengan membran diasetat, mempunyai klirens

fosfat yang lebih tinggi dibandingkan dengan membran selulose.

Cara lain untuk meningkatkan ekskresi fosfat melalui hemodialisis

adalah dengan memperpanjang waktu (duration) hemodialisis.

Nocturnal hemodialysis yang dilakukan selama 6-8 jam tiap sesi, 6-7

kali perminggu dilaporkan dapat menurunkan kadar fosfat serum

secara bermakna. tanpa pemakaian pengikat fosfat.23

2.6.2. Menghambat konsekuensi hiperfosfatemia

Satu-satunya konsekuensi hiperfosfatemia yang dapat dihambat adalah

hiperparatiroidisme. Hiperparatiroidisme dapat dihambat dengan cara,

a) pemberian analog vitamin D3, b) pemberian bahan kalsimemetik, dan

c) paratiroidektomi.23

a. Pemberian vitamin D3 atau analognya

Vitamin D, dalam bentuk 1,25-(OH2)D3 atau analognya, pada

awalnya dipergunakan untuk terapi hiperparatiroidisme sekunder

dan abnormalitas metabolisme kalsium dan fosfat pada PGK.

Beberapa, studi terdahulu mendapatkan bahwa, kelebihan vitamin D

berkontribusi terhadap hiperkalsemia dan kalsifikasi vaskuler, yang

berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas PGK. Namun

studi-studi terbaru menunjukkan bahwa, pada pasien-pasien dengan

hemodialisis, vitamin D terbukti secara bermakna dapat menurunkan

(39)

kardiovaskuler. Diduga ada tiga mekanisme efek protektif yang

dimiliki vitamin D yaitu, 1) dapat menghambat berbagai bentuk

inflamasi yang dipercaya sebagai patogenesis proses aterosklerosis,

2) mempunyai efek antiproliferatif dan anti hipertrofi sel miokard

yang merupakan patogenesis gagal jantung kongestif, dan 3)

mempunyai efek regulator endoktrin negatif terhadap sistem

renin-angiotensin-aldosteron, yang berperan penting dalam patogenesis

hipertensi dan kelainan kardiovaskuler.23

b. Pemberian bahan kalsimemetik (Cinacalcet) 25-27

Kalsimemetik adalah suatu bahan yang dapat berkaitan dengan

calcium-sensing-receptor (CaR) pada kelenjar paratiroid, sehingga

mengakibatkan penurunan sekresi HPT. Bahan mi memodulasi CaR

secara allosterically, meningkatkan kepekaan CaR terhadap kalsium

ekstraseluler, dan akhirnya menimbulkan efek penekanan terhadap

sekresi HPT. Banyak studi yang telah menunjukkan bahwa

cinacalcet sangat efektif menurunkan kadar HPT pada PGK yang

disertai hiperparatiroidisme sekunder dibandingkan placebo.

Berlawanan dengan vitamin D, cinacalcet dapat menurunkan kadar

HPT bersama-sama dengan penurunan kalsium, fosfat dan produk

calcium x phosphorus (Ca x P). Cunningham dkk (2005), dalam

studinya mendapatkan bahwa cinacalcet dapat menurunkan kejadian

paratiroidektomi, fraktur, dan kelainan kardiovaskuler pada pasien

PGK dengan hiperparatiroidisme sekunder, dibandingkan dengan

(40)

19

c. Paratiroidektomi

Paratiroidektomi dilakukan atas beberapa indikasi, yaitu :28

− hiperkalsemia yang berat

− peningkatan kadar HPT yang sangat tinggi dan tidak dapat ditekan dengan obat-obatan (nonsuppresible) > 800pg/ml.

− osteodistrofi renal yang progresif

(41)

BAB III

PENELITIAN SENDIRI

3.1 LATAR BELAKANG

Penderita penyakit penyakit ginjal kronik (PGK) mempunyai resiko

kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normal. Banyak faktor

yang berkontribusi terhadap tingginya, resiko kematian ini. Faktor-faktor

tersebut antara lain : gangguan kardiovaskuler, diabetes, hipertensi, inflamasi,

dislipidemia, dan gangguan metabolisme mineral1. Salah satu diantara

gangguan metabolisme mineral adalah gangguan metabolisme fosfat dan

kalsium. Block dkk 1998 mendapatkan bahwa hiperfosfatemia dan angka

perkalian fosfat dan kalsium yang tinggi berasosiasi secara independent

terhadap mortalitas menderita PGK stadium yang menjalani dialisis.

Dilaporkan bahwa, penderita dengan kadar fosfat serum > 6.5 mg/dl angka

kematiannya meningkat sebanyak 27 %2. Konsekuensi metabolisme fosfat dan

kalsium yang dianggap berperan terhadap peningkatan morbiditas dan

mortalitas penderita PGK adalah, hiperparatiroidisme, osteodistrofi renal,

kalsifikasi kardiovaskuler dan jaringan ikat lunak serta kalsifilaksi29.

Beberapa peneliti melaporkan bahwa komponen ferri dapat mengikat

fosfat yang ada dalam makanan bila diberikan secara oral. Hergessel dan Ritz,

tahun 1999 melaporkan penurunan kadar fosfat darah sebesar 20 % serta

ekskresi fosfat lewat urin sebesar 37 % pada 13 penderita PGK dengan

hiperfosfatemia yang diberikan 3 x 2,5 gr polinuclear iron hidrochlorida

bersama-sama makanan selama 2 minggu. Tidak ada efek samping jangka

(42)

Penelitian Chen dkk (1999), juga melaporkan bahwa komponen garam

ferri yang dicampurkan, bersama-sama dengan makanan dan diberikan pada

percobaan kelompok hewan tikus yang normal maupun kelompok tikus

azotemic (sudah subtotal nefrectomi) juga efektif mengikat fosfat dan

menurunkan penyerapan fosfat diusus halus setelah diberikan selama 2 dan 4

minggu. Namun demikian masih diperlukan penelitian lebih lanjut. 8

Tubuh manusia sehat mengandung ± 3,5 g Fe yang hampir seluruhnya

dalam bentuk ikatan kompleks dengan protein. Ikatan ini kuat dalam bentuk

organik, yaitu sebagai ikatan nonion dan lebih lemah dalam bentuk anorganik,

yaitu sebagai ikatan ion.

Absorpsi Fe melalui saluran cerna terutama berlangsung di duodenum,

makin ke distal absorpsinya makin berkurang. Zat ini lebih mudah diabsorpsi

dalam bentuk ferro. Transportnya melalui sel mukosa usus terjadi secara

transport aktif. Ion ferro yang sudah diabsorpsi akan diubah menjadi ion ferri

dalam sel mukosa. Selanjutnya ion ferri akan masuk ke dalam plasma dengan

perantara transferin, atau diubah menjadi feritin dan disimpan dalam sel

mukosa usus.

Jumlah Fe yang dibutuhkan setiap hari dipengaruh oleh berbagai faktor.

Faktor umur, jenis kelamin (sehubungan dengan kehamilan dan laktasi pada

wanita) dan jumlah darah dalam badan (dalam hal ini Hb) dapat mempengaruhi

kebutuhan, walaupun keadaan depot Fe memegang peranan yang penting pula.

Dalam keadaan normal dapat diperkirakan bahwa seorang laki-laki dewasa

memerlukan asupan 10 mg, dan wanita memerlukan 12 mg sehari guna

memenuhi ambilan besar masing-masing 1 mg dan 1,2 mg sehari. 28

Besi untuk pemberian oral tersedia dalam bentuk berbagai garam ferro

(43)

perbedaan absorpsi diantara garam-garam Fe ini. Jika ada, mungkin

disebabkan oleh perbedaan kelarutannya dalam asam lambung. Dalam bentuk

garam sitrat, tartrat, karbonat, pirofosfat, ternyata Fe sukar diabsorpsi;

demikian pula sebagai garam ferri (Fe+++).28

Sediaan yang banyak digunakan dan murah ialah hidrat sulfat ferosus

(FeSO4.7 H2O) 300 mg yang mengandung 20% Fe. Dalam hal ini mula-mula

absorpsi berjumlah ± 45 mg sehari, dan setelah depot Fe dipenuhi menurun

menjadi 5-10 mg sehari. Pada mereka yang intoleran terhadap dosis tertinggi

ini, dosis harus dikurangi sampai jumlah yang diterima, atau bila perlu sediaan

diganti dengan sediaan parenteral.28

Berbeda dengan ferro sulfat, ferro fumarat tidak mudah mengalami

oksidasi pada udara lembab; dosis efektifnya 600-800 mg/hari dalam dosis

terbagi. Ferro glukonat, ferro laktat, ferro karbonat dosis efektifnya kira-kira

sam dengan ferro sulfat. Terdapat pula sediaan Fe lepas lambat dan salut

enterik, tetapi biovailabilitasnya kurang baik.28

keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan besi dalam

bentuk sediaan hidrat sulfat ferrosus (FeSO4.7 H2O) 300 mg sebagai pengikat

fosfat (phosphate binder) antara lain mencoba menggantikan peran garam

aluminium sebagai phosphate binder yang pemakaiannya dalam jangka waktu

yang lama dapat menimbulkan intoksikasi aluminium, sedangkan penggunan

garam kalsium beresiko terjadinya hiperkalsemia. Oleh sebab itu dicobalah

garam sediaan hidrat sulfas ferrosus ini, sebagai pengikat fosfat (phosphate

binder), disamping harganya murah juga mudah didapat. Sehingga berdampak

mengurangi biaya pengobatan hiperfosfatemia yang terjadi pada pasien-pasien

PGK dengan hemodialisis reguler, meskipun dapat terjadi efek samping berupa

(44)

3.2. PERUMUSAN MASALAH

Apakah Sulfas ferrosus dapat berperan sebagai pengikat fosfat

(phosphate binder) pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler.

3.3. HIPOTESIS

Ada hubungan pemberian Sulfas ferrosus dengan penurunan kadar

fosfat. darah pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler.

3.4 . TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui apakah ada hubungan pemberian Sulfas ferrosus

dengan penurunan kadar fosfat darah pada pasien PGK yang menjalani

hemodialisis reguler.

3.5. MANFAAT PENELITIAN

1. Mengetahui kegunaan pemberian Sulfas ferrosus sebagai pengikat fosfat

(phosphate binder) pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler.

2. Mengetahui besarnya penurunan kadar fosfat darah setelah pemberian

(45)

3.6. KERANGKA KONSEPSIONAL

PGK

Gangguan faal sekresi

Pemberian hidrat Sulfas ferrosus (FeSO4.7 H2O)

↓ hipokalsemia

↑ HPT Kalsifikasi metastatik dan Cardiovaskuler

↓ Osteitis fibrosa

↓ Osteoderosis

CaXP < 55 Hiperfosfatemia

↓ PJK

3.7. BAHAN DAN CARA

3.7.1. Desain Penelitian

Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan perlakuan ulang (pre

dan post test design)

3.7.2. Waktu dan tempat penelitian

Penelitian dilakukan di unit hemodialisis Rumah Sakit Pirngadi Medan

(46)

3.7.3. Subjek penelitian

Penderita gagal ginjal terminal dengan HD reguler di unit Hemodialisis

Rumah Sakit Pirngadi Medan yang bersedia ikut penelitian dengan

diperiksa kadar fosfat serumnya sebelum dan sesudah diberi obat.

3.7.4. Kriteria inklusi

• Penderita dengan gagal ginjal terminal dengan HD reguler minimal 3 bulan.

• Umur > 18 tahun

• Kadar albumin > 2,5 mg/dl • Bersedia ikut dalam penelitian.

3.7.5. Kriteria eksklusi

• Tidak mengikuti tahap-tahap penelitian yang lengkap • Penderita hiperparatiroidisme primer

• Tidak sedang mengkomsumsi pengikat fosfat jenis lain • Hiperfosfatemia yang berat

• Pasien dengan keadaan hiperferritinemia.

3.7.6. Besar sampel

Perkiraan besar sampel :

(47)

sd = simpangan baku kedua kelompok = 0,19

jadi besarnya sampel sebanyak 34 orang.

3.7.7. Cara penelitian

a. dilakukan pemeriksaan laboratorium pada semua pasien yang

diteliti darah rutin, ureum, creatinin, kadar serum feritin,

kadar fosfat serum, albumin serum pada saat sebelum

pemberian Sulfas ferrosus.

b. Pada hari ke-30 s/d 0 (selama 1 bulan) dilakukan pemberian

obat Sulfas Ferrosus ataupun plasebo secara random.

c. Pada hari ke 1 s/d 60 (selama, 2 bulan) dilakukan cross over

pemberian obat Sulfas ferrosus dan Plasebo.

d. Dosis Sulfas ferrosus sebanyak 3 X 1 tab (300 mg)

bersama-sama makanan selama 1 bulan.

e. Dosis dan jumlah plasebo yang diberikan sama banyaknya

dengan dosis Sulfas ferrosus yang diberikan untuk 1 bulan.

f. Evaluasi pemakaian Sulfas ferrosus menggunakan sistem pill

count yaitu diberi setiap 1 bulan dan evaluasinya dengan cara,

menghitung tablet.

g. Dilakukan pemeriksaan ulang kadar fosfat serum pada

(48)

27

3.7.8. Analisa Data

• untuk membandingkan hasil peningkatan kadar fosfat serum setelah pemberian Sulfas ferrosus digunakan uji t berpasangan.

• Untuk membandingkan perubahan kadar fosfat serum pada saat diberikan plasebo dibandingkan saat diberi Sulfas ferrosus dilakukan

uji t berpasangan.

3.8. KERANGKA OPERASIONAL

Periksa kadar Periksa darah rutin, ureum,

creatinin, kadar serum feritin, kadar fosfat serum dan

albumin

Periksa ulang

Plasebo

cross-over 2 Minggu

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di unit hemodialisis Rumah Sakit Pirngadi Medan

mulai April 2010 s/d Oktober 2010. Pengambilan sampel dilakukan kepada

setiap pasien penderita gagal ginjal terminal dengan HD reguler di unit

Hemodialisis Rumah Sakit Pirngadi Medan yang bersedia ikut penelitian

dengan diperiksa kadar fosfat serumnya sebelum dan sesudah diberi obat.

Diinklusikan pasien laki-laki sebanyak 19 pasien dan perempuan

sebanyak 15 pasien yang berumur > 18 tahun, yang sedang menjalani

hemodialisis dengan diagnosa penyakit gagal ginjal terminal dengan HD

reguler di Unit Hemodialisis Rumah Sakit Pirngadi Medan.

Data-data yang diperlukan dicatat oleh peneliti dan asisten peneliti

(anamnesa pribadi, lama dan jenis pelayanan pengobatan yang digunakan,

pengukuran hemoglobin, leukosit, trombosit, ureum, creatinim, albumin, kadar

serum feritin, dan kadar fosfat serum yang dilakukan sebelum penelitian).

Kemudian pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebesar jumlah sampel

diminta kesediaannya untuk diambil sampel pemeriksaan darah di unit

hemodialisis Rumah Sakit Pirngadi Medan saat menjalani tindakan

hemodialisis. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar fosfat kedua setelah

pemberian Sulfas ferrosus ataupun plasebo yang dipilih secara acak (random).

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar fosfat yang ketiga setelah sampel

(50)

Dari tabel 4.1 terlihat karakteristik dasar pada sampel penelitian yang

berjumlah 34 orang.

Tabel 4.1. Gambaran Karakteristik Penderita PGK (n=34)

Sulfas ferrosus Plasebo Jumlah

n (%) n (%) n (%)

Jenis Kelamin

- Laki-laki 12 (35,3) 7 (20,6) 19 (55,9)

- Perempuan 9 (26,5) 6 (17,6) 15 (44,1)

Status Pasien

- Askes 16 (47,1) 7 (20,6) 23 (67,6)

- Jamkesmas 5 (14,7) 6 (17,6) 11 (32,4)

Jumlah pasien yang dilakukan pemberian secara acak obat Sulfas

ferrosus dan plasebo sebanyak 34 orang. Dari sampel didapatkan jenis kelamin

laki-laki sebanyak 19 orang (55,9%) lebih banyak yang ikut dalam penelitian

ini dibandingkan wanita yaitu sebanyak 15 orang (44,1%) dengan status

sebagian besar sebagai pasien Askes sebanyak 23 orang (67,6%) dan

(51)

Tabel 4.2. Gambaran Karakteristik Klinis dan Laboratorium penderita PGK

berdasarkan Kelompok perlakuan sebelum pemberian obat.

Sulfas Ferrosus Plasebo

Variabel

n x ± SD n x ± SD

P S/

NS

Lama HD (bulan) 21 45,857 ± 25,68 13 47,308 ± 19,47 0,863 NS

Hb 21 9,733 ± 2,11 13 9,269 ± 1,91 0,523 NS

Lekosit 21 7204,619 ± 4882,86 13 6574,615 ± 2243,25 0,666 NS

Trombosit 21 214,000 ± 116,44 13 227,154 ± 114,47 0,749 NS

Ureum 21 75,857 ± 33,72 13 63,692 ± 17,57 0,239 NS

Creatinin 21 6,610 ± 2,65 13 5,6538 ± 2,66 0,539 NS

Albumin 21 3,3300 ± 0,68 13 3,3685 ± 0,63 0,870 NS

Kadar Ferritin 21 281,000 ± 115,08 13 274,154 ± 128,21 0,873 NS

*SD : Standar Deviasi, S :Significant (p < 0,001), NS : Non Significant

Tidak ada perbedaan yang bermakna (signifikan) secara statistik

gambaran karakteristik klinis dan laboratorium antara subjek penelitian baik

yang mendapatkan pengobatan dengan Sulfas ferrosus maupun dengan plasebo

(52)

Tabel 4.3. Gambaran Awal Kadar serum fosfat pada kelompok yang diberi

Sulfas ferrosus dan Plasebo

Fosfat Awal n x± SD P S/NS

Kelompok SF 21 4,310 ± 2,31 0,739 NS

Kelompok Placebo 13 4,085 ± 0,81 0,687 NS

*SD : Standar Deviasi, SF : Sulfas ferrosus, S :Significant (p < 0,001), NS :

Non Significant

Pada tabel 4.3 didapat tidak ada perbedaan yang bermakna (signifikan)

secara statistik antara subjek yang penelitian yang mendapatkan pengobatan

dengan Sulfas ferrosus maupun plasebo pada tahap awal pemberian obat.

Tabel 4.4. Gambaran kadar serum fosfat setelah diberikan SF dan Placebo

pada tahap awal

Sebelum Sesudah Fosfat Awal n

x± SD x± SD

P S/NS

Kelompok SF 21 4,310 ± 2,31 3,543 ± 0,79 0,107 NS

Kelompok Placebo 13 4,085 ± 0,81 4,801 ± 1,44 0,651 NS

*SD : Standar Deviasi, SF : Sulfas Ferrosus, S :Significant (p < 0,001), NS :

Non Significant

Pada tabel 4.4 tidak didapatkan perbedaan yang signifikan dari

pemberian Sulfas ferrosus dan plasebo pada tahap awal sesudah diberikan

(53)

serum fosfat yang tidak signifikan pada kelompok yang diberikan Sulfas

ferrosus.

Tabel 4.5. Gambaran kadar serum fosfat setelah diberikan SF dan Placebo pada

tahap kedua (tahap cross over)

Sebelum Sesudah

*SD : Standar Deviasi, SF : Sulfas Ferrosus, S :Significant (p < 0,001), NS :

Non Significant

Dari tabel 4.5 didapatkan perbedaan yang signifikan peningkatan kadar serum

fosfat setelah diberikan plasebo pada tahap kedua (tahap cross over) dimana

pada tahap pertama kelompok ini mendapatkan Sulfas ferrosus, namun hasil ini

tidak mempunyai arti klinis.

4.2. Pembahasan

Pemeriksaan kadar fosfat pada pasien–pasien Hemodialisis sebaiknya

rutin dilakukan, guna menurunkan morbilitas dan mortalitas penderita PGK.

Konsekuensi metabolisme fosfat dan kalsium yang berperan terhadap kejadian

ini antara lain : hiperparatiroidisme sekunder, gangguan mineral tulang

(osteodistrofi renal), kalsifikasi kardiovaskuler dan jaringan ikat lunak dan

kalsifilaksis29.

Patogenesis hiperparatiroidisme sekunder pada penyakit ginjal kronik

(PGK) multi faktor. Pengurangan massa ginjal (renal mass) menyebabkan dua

(54)

kalsitriol serum (1.25[OH]2D3) dan aktifitas metabolit vitamin D. Penurunan

sekresi kalsitriol disebabkan defisiensi aktivitas 1 α-Hydroxylase renal, diikuti

gangguan (penurunan) absorpi kalsium dari saluran cerna dan penurunan

konsentrasi ion kalsium (ionized calcium). Semua gangguan ini sebagai

pemicu untuk rangsangan sekresi hormon paratiroid (HP)30.

Tabel 4.6 Etiologi dan mekanisme kenaikan sekresi hormon paratiroid

pada PGK

Rangsangan Patogenesis

Hiperfosfatemia

Hipokalsemia

Serum kalsitriol rendah

Shift of the calcemic setpoint for PTH

Resisten skeletal terhadap hormon

paratiroid (HP)

Pengurangan degradasi HP

Penurunan ekskresi fosfat (kehilangan

nefron)

Penurunan kalsitriol, hiperfosfatemia

Pengurangan massa ginjal (renal

mass) dan retensi fosfat

Penurunan sensivitas sensor reseptor

kalsium (azotenic toxicity)

Penurunan kalsitriol, hiperfosfatemia,

dan gangguan reseptor HP (azotemic

toxicity)

Pengurangan massa ginjal (renal

(55)

Peranan resistensi relatif terhadap kerja HP pada tulang diduga

mempunyai hubungan penurunan dengan penurunan reseptor kalsitriol kelenjar

paratiroid seperti terungkap pada (gambar 5) 30.

Gambar 5. Regulasi sekresi hormon paratiroid (HP)

(+) = Rangsangan, (-) =Inhibisi

Retensi fosfat disebabkan pengurangan massa nefron yang aktif,

sehingga dapat menghambat sintesis kalsitriol yang merupakan stimulus untuk

sekresi hormon paratiroid (HP). Disamping itu, hiperfosfatemia dapat menekan

konsentrasi serum kalsium dan diduga langsung merangsang sekresi hormon

(56)

Hiperfosfatemia merupakan silent killer pasien dialisis yang

berhubungan dengan presentasi klinik penyakit jantung koroner, infark

miokard, kalsifikasi arterial dan kematian jantung (cardiac death)30.

Tabel 4.7 Konsentrasi optimal kalsium, fosfat dan HP serum untuk

mencegah hiperparatiroidisme

Kalsium

Fosfat

Hormon paratiroid (HP)

25 OH vitamin D3

2.4-2.7 mmol/L (9.6-10.8 mg%)

< 1.8 mmol/L (5.6 mg%)

100 – 200 pg/ml (2-3 kali lebih dari normal)

> 10 mg/ml

Karena itu sangat dibutuhkan penatalaksanaan yang optimal dan

adekuat terjadinya peningkatan kadar serum fosfat dalam darah dengan

berbagai upaya antara lain : mengurangi asupan fosfat, pemberian pengikat

fosfat, memperpanjang waktu hemodialisis, pemberian vitamin D3 atau

analognya, pemberian bahan kalsimemetik dan tindakan paratiroidektomi.26

Berbeda dengan populasi umum pada pasien PGK dengan hemodialisis reguler

terjadinya peningkatan kadar fosfat serum (hiperfosfatemia) akibat kegagalan

ginjal dalam mengekresikan fosfat, tingginya asupan fosfat atau peningkatan

pelepasan fosfat dari ruang intraseluler, dimana fungsi ginjal yang sudah tidak

normal pada pasien-pasien PGK ini tidak mampu mempertahankan

keseimbangan kadar serum fosfat dalam darah.23

Beberapa penelitian melaporkan bahwa komponen ferri dapat mengikat

fosfat yang ada dalam makanan bila diberikan secara oral maupun intravena.

Dalam penelitian Hergesell dan Ritz (1999) terhadap 13 pasien hemodialisis

(57)

sachet yang dikonsumsi bersama makanan selama 2 minggu dilaporkan terjadi

penurunan kadar fosfat darah sebesar 20%, serta ekskresi fosfat urin sebesar

37%. Tidak ada efek samping jangka selain obstipasi dan tinja berwarna

hitam.7

Chen dkk (1999), juga melaporkan bahwa komponen garam ferri yang

dicampurkan, bersama-sama dengan makanan dan diberikan pada percobaan

kelompok hewan tikus yang normal maupun kelompok tikus azotemic (sudah

subtotal nefrectomy) juga efektif mengikat fosfat dan menurunkan penyerapan

fosfat diusus halus setelah diberikan selama 2 dan 4 minggu.8

Keryx Biopharmaceutical Inc (2010), telah memproduksi sebuah obat

makan Zerenex ( ferri sitrat) yang digunakan untuk menurunkan kadar serum

fosfat yang abnormal pada pasien-pasien PGK dan menemukan keberhasilan

uji coba pada percobaan yang ketiga31.

Kepada 146 pasien yang menjalani hemodialisis, selama 28 hari

diberikan obat Zerenex (ferri sitrat) sebanyak 6 gram perhari, ternyata dapat

menurunkan kadar serum fosfat rata-rata dari 7,6 mg/dl menjadi 5,7mg/dl dan

pasien-pasien yang mendapatkan dosis 8 gram perhari kadar serum fosfatnya

juga menurun rata-rata dari 7,5 mg/dl menjadi 5,3 mg/dl31.

Penelitian ini juga mencoba menganalisa peran sulfas ferrosus sebagai

pengikat fosfat (phospate binder) dengan menggunakan populasi pasien PGK

dengan hemodialisis reguler yang berusia diatas 18 tahun, dengan lama

menjalani hemodialisis reguler diatas 3 bulan. Berdasarkan sampel yang

diambil secara acak (random), didapatkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 19

orang dan 15 orang wanita dengan status pelayanan kesehatan menggunakan

(58)

Rerata terjadi penurunan kadar serum fosfat pada kelompok yang

mendapat sulfas ferrosus pada tahap awal dari (4,310 ± 2,31) menjadi (3,543 ±

0,79), meskipun tidak signifikan dengan (p = 0,107). Penelitian ini berbeda

hasilnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Hergesell dan Ritz (1999).

Terjadinya perbedaan hasil ini mungkin disebabkan oleh banyak hal antara lain

mungkin disebabkan ikatan kimia obat pada sulfas ferrosus yang mengandung

ion ferro (Fe+2), dimana hal ini berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya

yang ikatan kimia obatnya umumnya mengandung ion ferri ((Fe+3). Jumlah

dosis yang berbeda yang diberikan pada penelitian sebelumnya, sifat ion ferro

(Fe+2) yang mudah diabsorbsi diusus dibandingkan dengan ion ferri (Fe+3) sehingga kemampuan mengikat fosfat saat diberikan bersama dengan makanan menjadi sangat lemah, juga mempengaruhi hasil penelitian ini. Efek samping berupa bab hitam yang dialami pasien saat mengkonsumsi obat sulfas ferrosus, sehingga ada rasa

ketakutan dan kecemasan pasien saat mengkonsumsi obat ini, juga ikut

mempengaruhi hasil akhir penelitian.

Pada penelitian ini juga tidak dilakukan pemeriksaan kadar kalsium dan

kadar hormon paratiroid, hal ini berguna untuk mengamati keadaan

hipokalsemia yang dapat memicu kenaikan sekresi hormon paratiroid

(hiperparatiriodisme) pada pasien PGK disamping keadaan hiperfosfatemia

yang juga dapat mempengaruhi kenaikan sekresi hormon ini.

Nilai rerata kadar serum fosfat mengalami kenaikan yang signifikan dari

(3,543 ± 0,79) menjadi (5,719 ± 1,76) dengan (p < 0,0001). Kelompok ini yang

awalnya mendapat terapi sulfas ferrosus kemudian setelah dilakukan cross

over mendapat terapi plasebo, tetapi hasil ini tidak mempunyai arti klinis.

Hubungan antara penurunan kadar serum fosfat dengan pemberian

(59)

38

(cross over) yang masing-masing dilakukan selama 2 minggu tidak bermakna

secara signifikan dengan nilai (p = 1,107) dan (p = 0,65). Hal ini bertentangan

dengan penelitian Hergessel dan Ritz, tahun 1999.

Perlu studi dengan metodologi yang lebih baik dan pengawasan

penelitian yang lebih cermat dengan jumlah kasus yang lebih banyak lagi

dalam menganalisa peran obat sulfas ferrosus sebagai pengikat fosfat pada

(60)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

Dari hasil yang ditemukan dan pembahasan dari penelitian ini dapat

diajukan kesimpulan sebagai berikut :

1. Penelitian ini tidak mendapatkan hasil yang signifikan adanya peran

preparat besi berupa sulfas ferrosus sebagai phosphate binder, hasil

ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

2. Pada penelitian ini baik dilakukan pada tahap I maupun tahap II

(cross over) dengan waktu masing-masing 2 minggu tidak terdapat

penurunan kadar serum fosfat yang signifikan baik dengan

pemberian sulfas ferrosus maupun placebo.

3. Rerata terjadi penurunan kadar serum fosfat pada kelompok yang

mendapat sulfas ferrosus pada tahap awal dari (4,310 ± 2,31)

menjadi (3,543 ± 0,79), meskipun tidak signifikan dengan (p =

0,107).

4. Jenis ikatan ion dan sifat ion yang berbeda, serta jumlah dosis obat

yang berbeda yang diberikan pada penelitian ini, dibandingkan

dengan penelitian-penelitian sebelumnya kemungkinan ikut serta

(61)

40

5.2. SARAN

Studi ini dapat dijadikan studi awal dimana perlu dilakukan lagi studi

lanjutan dengan desain studi yang sama ataupun yang berbeda seperti kohort

dengan sampel lebih besar, analisis dan evaluasi faktor resiko yang lebih

objektif. Tentu saja ini memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang lebih besar

nantinya, namun hasil yang diharapkan mungkin akan lebih akurat untuk

memperoleh bukti adanya korelasi antara pemberian sulfas ferrosus dengan

(62)

DAFTAR PUSTAKA

1. Foley RN, Parfrey PS, Sarnak MJ. Clinical epidemiology of

cardiovascular disease in chronic renal disease. Am J Kidney Dis 1998;

32: 112-119

2. Block GA, Hulbert-Shearon TE, Levin NW, Port FK. Association of

serum phosphorus and calcium phosphate product with mortality risk in

chronic hemodialysis patient : a national study. Am J Kidney Dis

1998; 31: 607-617

3. Suwitra K. Peran gangguan fosfat dan kalsium pada morbiditas dan

mortalitas penyakit ginjal kronik. Dalam : “Peranan stres oksidatif dan

pengendalian resiko pada progresif Penyakit ginjal kronik serta

Hipertensi”. Naskah lengkap JNHC (Jakarta Nephrology and

Hypertension Course). PERNEFRI 2006.

4. Drueke TB. Hyperparathyroidism in chronic kidney disease. [cited 2009

october 1] Available from URL: 2009.

http://www.endotext.org/parathyroid/parathyroid6/ parathyroidframe6.

5. Suwitra K, Prodjosudjadi W, Lubis HR, Susalit E, Yogiantoro M,

Suhardjono, et all. Konsensus gangguan mineral dan tulang pada

Penyakit Ginjal Kronik (GMT-PGK). PERNEFRI 2009; 9 – 33

6. Lydia A. Gangguan Mineral dan Tulang Pada Penyakit Ginjal Kronik.

Terapi Lantanum Karbonat. In Annual Meeting of Indonesian Society

of Nephrology. Badan Penerbit Universitas Diponegoro 2010; 133-137

7. Hergesell O, Ritz E. Stabilized polynuclear iron hydroxide is an

efficient oral phosphate binder in uraemic patients. Kidney Int 1999;

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi GMT-PGK ..................................................................
Tabel 2.1 . Klasifikasi GMT-PGK5
Tabel 4.1. Gambaran Karakteristik Penderita PGK  (n=34)
Tabel 4.2. Gambaran Karakteristik Klinis dan Laboratorium penderita PGK
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pertama dan yang paling utama penulis ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmad dan karunia- Nya sehingga tesis yang

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah dengan judul ANALISA KADAR FOSFAT DAN TSS

Puji dan Syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmad dan karuniaNya, alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dalam bentuk tesis dengan judul

Peran supervisi kepala ruangan sangatlah penting untuk mengarahkan, mengontrol atau mengawasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien termasuk pelaksanaan

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, atas Ridho dan Rahmat serta BarokahNya penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul ANALISIS

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Penolong lagi Maha Pengasih, atas anugrahNya saya dapat menyelesaikan studi demikian juga tugas akhir Tesis pada

vi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul