• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembentukan Dan Perkembangan Gereja Methodist Indonesia Di Pematang Siantar (1960-1985)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pembentukan Dan Perkembangan Gereja Methodist Indonesia Di Pematang Siantar (1960-1985)"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Iwan Bernando Samosir
  • Pengajar:
    • Dra. Penina Simanjuntak MS
  • Sekolah: Universitas Sumatera Utara
  • Mata Pelajaran: Ilmu Sejarah
  • Topik: Pembentukan Dan Perkembangan Gereja Methodist Indonesia Di Pematang Siantar (1960-1985)
  • Tipe: Skripsi
  • Tahun: 2010
  • Kota: Medan

I. PENDAHULUAN

Bagian ini memberikan latar belakang mengenai pembentukan Gereja Methodist Indonesia, termasuk konteks sejarah dan sosial yang melatarbelakanginya. Penelitian ini berfokus pada perkembangan gereja dari tahun 1960 hingga 1985, dengan tujuan untuk memahami dinamika yang terjadi dalam komunitas gereja, serta konflik yang muncul antara distrik etnis Batak Toba dan Tionghoa. Hal ini penting untuk memahami bagaimana identitas etnis mempengaruhi perkembangan gereja dan interaksi sosial di Pematang Siantar.

1.1 Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah membahas asal-usul istilah 'Methodist' dan bagaimana gereja ini berkembang di Indonesia. Jhon Wesley, pendiri aliran Methodist, memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan ajarannya yang menekankan pada cara beribadah yang tidak monoton. Penelitian ini juga menggambarkan bagaimana Gereja Methodist Indonesia menjadi tempat berkumpul bagi berbagai etnis, termasuk Tionghoa dan Batak Toba, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga kesatuan di tengah perbedaan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah mengidentifikasi empat pertanyaan utama yang akan dijawab dalam penelitian ini, yaitu proses terbentuknya Gereja Methodist Indonesia, konflik antara distrik Batak Toba dan Tionghoa, pemecahan masalah antara kedua distrik, dan dampak konflik terhadap perkembangan gereja. Pertanyaan-pertanyaan ini membantu fokus penelitian dan memberikan arah yang jelas dalam analisis.

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pembentukan dan perkembangan Gereja Methodist Indonesia serta konflik yang terjadi di dalamnya. Manfaat penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan bagi masyarakat dan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengisi kekosongan literatur mengenai sejarah gereja di Pematang Siantar.

1.4 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka merangkum berbagai sumber yang relevan dengan topik penelitian, termasuk buku-buku dan artikel yang membahas tentang sejarah Gereja Methodist dan pengaruhnya di Indonesia. Penelitian ini menggabungkan pendekatan multidimensional dengan teori-teori sosiologi dan antropologi untuk memahami konteks sosial gereja dalam masyarakat.

1.5 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Proses pengumpulan data dilakukan melalui penelitian kepustakaan dan wawancara, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan relevan mengenai perkembangan Gereja Methodist di Pematang Siantar.

II. GAMBARAN UMUM PENELITIAN

Bagian ini memberikan konteks geografis dan demografis Kota Pematang Siantar, yang merupakan latar belakang penting bagi perkembangan Gereja Methodist. Dengan memahami keadaan geografis, penduduk, mata pencaharian, dan pendidikan, kita dapat melihat bagaimana gereja berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya. Ini juga mencakup analisis tentang bagaimana struktur sosial mempengaruhi dinamika gereja.

2.1 Keadaan Geografis Kota Pematang Siantar

Kota Pematang Siantar terletak di tengah Kabupaten Simalungun dengan topografi berbukit dan iklim yang mendukung pertanian. Keadaan geografis ini berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, serta menjadi faktor penting dalam penyebaran ajaran gereja. Lingkungan yang subur memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan berbagai mata pencaharian, yang pada gilirannya mempengaruhi interaksi mereka dengan gereja.

2.2 Keadaan Penduduk Kota Siantar

Setelah menjadi kota Madya, Pematang Siantar mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat. Berbagai etnis, termasuk Batak Toba dan Tionghoa, berkontribusi pada keragaman sosial kota ini. Penelitian ini menyoroti bagaimana urbanisasi dan industrialisasi mempengaruhi komposisi penduduk dan dinamika sosial, serta bagaimana gereja menjadi tempat berkumpul bagi berbagai etnis.

2.3 Mata Pencaharian Masyarakat Kota Siantar

Mata pencaharian penduduk Pematang Siantar sebagian besar berada di sektor non-agraris. Perubahan dalam struktur ekonomi ini menciptakan tantangan dan peluang bagi Gereja Methodist dalam menarik jemaat baru. Penelitian ini menganalisis bagaimana perkembangan ekonomi mempengaruhi kehidupan masyarakat dan keterlibatan mereka dalam kegiatan gereja.

2.4 Pendidikan

Pematang Siantar dikenal sebagai kota pendidikan dengan berbagai lembaga pendidikan. Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang ajaran gereja dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam kegiatan gereja. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pendidikan berkontribusi pada perkembangan Gereja Methodist di kota ini.

2.5 Struktur Sosial Masyarakat Kota Siantar

Struktur sosial di Pematang Siantar sangat dipengaruhi oleh berbagai etnis dan budaya yang ada. Penelitian ini membahas bagaimana interaksi antar etnis mempengaruhi dinamika gereja, serta bagaimana Gereja Methodist beradaptasi dengan keragaman sosial yang ada. Struktur sosial ini juga menciptakan tantangan dalam menjaga kesatuan di dalam gereja.

III. SEJARAH RINGKAS ALIRAN METHODIST

Bagian ini menjelaskan latar belakang terbentuknya aliran Methodist dan bagaimana ajaran ini sampai ke Indonesia. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang bagaimana tradisi Methodist berkembang dan beradaptasi dengan konteks lokal, serta tantangan yang dihadapi selama proses tersebut.

3.1 Latar Belakang Terbentuknya Aliran Methodist

Aliran Methodist muncul sebagai hasil reformasi yang dipelopori oleh Jhon Wesley. Ajaran Wesley menekankan pada pengalaman spiritual pribadi dan kasih sayang kepada sesama. Penelitian ini menggali bagaimana ajaran Wesley membentuk dasar teologis gereja dan bagaimana prinsip-prinsip ini diterapkan dalam konteks masyarakat Indonesia.

3.2 Masuknya Ajaran Methodist Ke Indonesia

Penyebaran ajaran Methodist ke Indonesia dimulai pada awal abad ke-20 melalui misi zending dari Amerika Serikat. Penelitian ini mencakup perjalanan misi yang dilakukan di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera, serta bagaimana ajaran Methodist diterima oleh masyarakat lokal. Hal ini juga mencakup tantangan yang dihadapi dalam proses penyebaran ajaran tersebut.

IV. PENGEMBANGAN GEREJA METHODIST INDONESIA DI PEMATANG SIANTAR

Bagian ini membahas perkembangan Gereja Methodist Indonesia di Pematang Siantar, termasuk konflik yang terjadi antara distrik Batak Toba dan Tionghoa. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana gereja beradaptasi dan berkembang di tengah tantangan yang dihadapi.

4.1 Terbentuknya Gereja Methodist Indonesia Di Pematang Siantar Dan Perkembangannya

Gereja Methodist Indonesia mulai terbentuk di Pematang Siantar pada tahun 1964. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan gereja dan bagaimana gereja ini berkembang di tengah masyarakat yang beragam. Proses ini mencakup pengembangan jemaat dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh gereja.

4.2 Methodist Terbagi Menjadi Dua Distrik

Konflik antara distrik Batak Toba dan Tionghoa muncul akibat perbedaan budaya dan bahasa dalam pelaksanaan kebaktian. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perpecahan ini mempengaruhi perkembangan gereja dan upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

4.3 Gereja Methodist Indonesia Satu Distrik Kembali

Pada tahun 1983, Gereja Methodist Indonesia berhasil menyatukan kembali dua distrik yang terpisah. Penelitian ini membahas proses dan tantangan yang dihadapi dalam penyatuan ini, serta dampaknya terhadap perkembangan gereja di Pematang Siantar.

4.4 Konstitusi Gereja Methodist Indonesia

Konstitusi gereja memainkan peran penting dalam mengatur struktur dan fungsi Gereja Methodist Indonesia. Penelitian ini menganalisis bagaimana konstitusi ini diterapkan dan bagaimana hal ini mempengaruhi pengelolaan gereja serta hubungan antar jemaat.

V. KESIMPULAN

Kesimpulan merangkum temuan utama dari penelitian ini, menyoroti pentingnya memahami konteks sosial dan budaya dalam perkembangan Gereja Methodist Indonesia di Pematang Siantar. Penelitian ini menunjukkan bahwa gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai entitas sosial yang berperan dalam kehidupan masyarakat.

Referensi Dokumen

  • Agama ( Abdullah, Taufik )
  • Metode Penelitian Sejarah ( Abdulrahman, Dudung )
  • Garis-garis Besar Hukum Gereja ( Abi Neno, J.L )
  • Teologi Lintas Budaya: Refleksi Barat Di Asia ( Adams, D. J )
  • Berbagai Aliran Dalam Gereja ( Aritonang, Jan. S )

Gambar

TABEL. 1. Komposisi Menurut Penduduk
TABEL.2. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian.
TABEL.4. komposisi Penduduk Pematang Siantar

Referensi

Dokumen terkait