BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh: PERUCA DWI LESTARI
20120340031
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
i
KARYA TULIS ILMIAH
EFEKTIFITAS GEL EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica Papaya L.) 75% TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKIBAT BAHAN
BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh: PERUCA DWI LESTARI
20120340031
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
ii
HALAMAN PENGESAHAN KTI
EFEKTIFITAS GEL EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica Papaya L.) 75% TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKIBAT BAHAN
BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)
Disusun Oleh:
PERUCA DWI LESTARI 20120340031
Telah disetujui dan diseminarkan pada tanggal : 30 Mei 2016
Dosen Pembimbing Dosen Penguji
drg. Any Setyawati Sp. KG drg. Sartika Puspita, MDSc NIK : 19741202200710173084 NIK : 19791028200910173109
Mengetahui,
Kaprodi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas MuhammadiyahYogyakarta
iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Peruca Dwi Lestari
NIM : 20120340031
Program Studi : Pendidikan Dokter Gigi
Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis
ini benar–benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dalam karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir
Karya Tulis Ilmiah ini. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan
Karya Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tersebut.
Yogyakarta, 30 Mei 2016
Tanda tangan
iv MOTTO
“Semua hal yang dilakukan dengan pikiran yang positif akan menghasilkan
sesuatu yang positif, selalu berbuat baik kepada semua orang sekecil apapun,
karena yakin bahwa Allah maha melihat dan akan membalas semua perbuatan
makhluknya sesuai dengan apa yang dia perbuat. “
Peruca Dwi Lestari
“Hasil tidak akan mengkhianati suatu proses. Maka nikmatilah segala proses,
jalanilah dengan hati yang ikhlas, dan usaha yang keras”
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini persembahkan untuk :
ALLAH S.W.T
Keluarga yang selalu memberikan dukungan, terutama kedua orangtua penulis
ibu Hj. Sri Redjeki, ayah Ir. H. Setio Purwanto, kakak kandung Renata Nurul
Setyawati, keluarga besar, dan Alan Hendrawan atas doa dan dukunganya
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang
telah memberikan rahmah dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai
gelar sarjana Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Penyusun Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Efektifitas gel ekstrak daun pepaya
(carica papaya l. ) 75% terhadap penyembuhanlukaakibatefek samping bleaching
(ditinjau dari diameter luka gingiva dan jumlah sel limfosit)” dapat diselesaikan
tanpa halangan suatu apapun, tentu karya tulis ilmiah ini dapat selesai berkat dan
tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya
sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Kedua orangtua peneliti yang selalu memberikan doa, dukungan, semangat,
materi, dan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah
ini.
3. dr. H. Ardi Pramono, Sp. An., M. Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4. drg. Hastoro Pintadi, Sp. Prost., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
5. drg. Any Setyawati sp. KG., selaku dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah
vii
bimbingan dan dorongan yang sangat berguna bagi peneliti dalam
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. drg. Yusrini Pasril, Sp.KG., selaku dosen penguji proposal Karya Tulis Ilmiah
ini yang telah bersedia memberikan banyak bimbingan sehingga peneliti dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
7. drg. Tita Ratya Utari, Sp.Ort., selaku dosen penguji proposal Karya Tulis
Ilmiah ini yang telah bersedia memberikan banyak bimbingan sehingga
peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
8. drg. Sartika Puspita, MDSc.,selaku dosen penguji Karya Tulis Ilmiah ini yang
telah bersedia memberikan banyak bimbingan sehingga peneliti dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
9. Seluruh dosen Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, dan dosen-dosen pakar yang telah banyak memberikan
pengarahan kepada penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
10.Seluruh staf dan karyawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
11.Renata Nurul Setyawati, selaku kakak kandung penulis yang selalu
memberikan dukungan dan semangat.
12.Alan Hendrawan, Adhila Shintia Devi, dan Novia Arisandi sebagai partner
karya tulis ilmiah peneliti yang selalu memberikan semangat serta kerja sama
yang baik dan telah mau berbagi ilmiah dengan saya.
13.Agil, Nadya, Eliza dan Shanni yang selalu memberi doa dan dukungannya.
14.Teman-teman prodi Kedokteran Gigi angkatan 2012 yang selalu meramaikan
viii
15.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis ucapkan terima
kasih atas bantuan serta dukungan selama ini.
Semua bantuan yang diberikan kepada penulis semoga mendapatkan balasan
dan karunia yang lebih dari Allah SWT. Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kebaikan penulisan ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi
kemajuan ilmu Kedokteran Gigi pada umumnya dan bermanfaat bagi pembaca
khususnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Yogyakarta, 30 Mei 2016
Penulis
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN KTI ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii
MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ...v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
INTISARI ... xii
ABSTRACT ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Perumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. KeaslianPenelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah pustaka ... 12
1. Gigi ... 12
2. Bleaching ... 14
3. Cedera sel dan luka ... 17
4. Penyembuhan luka ... 18
5. Sel Limfosit ... 20
6. Obat Kimia ... 26
7. Obat Herbal ... 26
8. Ekstrak ... 29
9. Gel ... 31
10. Tikus Putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley ... 32
B. Landasan Teori ... 34
C. Kerangka Konsep ... 36
D. Hipotesis ... 37
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 38
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38
C. Subyek dan Sampel Penelitian ... 38
D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi... 40
E. Identifikasi Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 41
F. Instrumen Penelitian ... 44
G. Cara Kerja ... 46
H. CaraPengamatan dan Pengumpulan Data ... 52
I. Analisi Data ... 53
x
K. Alur Penelitian ... 54 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ... 55 B. Pembahasan ... 71 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil rata rata diameter luka ...58
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk pada Kelompok Perlakuan ...60
Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas pada Diameter Luka ...61
Tabel 4. Hasil uji One Way AnovaDiameter Luka ...61
Tabel 5. Uji Least Significant Difference pada Kelompok Perlakuan ...62
Tabel 6. Rata rata sel Limfosit Setiap Kelompok pada Proses Penyembuhan Luka Gingiva tikus (Sprague Dawley) Jantan...66
Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk pada Kelompok Perlakuan ...67
Tabel 8. Hasil Uji Homogenitas pada Jumlah Limfosit ...68
Tabel 9. Hasil uji One Way AnovaJumlah sel Limfosit ...69
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bentukan limfosit dilihat secara mikroskopis ...21
Gambar 2. Daun Pepaya (Carica papaya) ...28
Gambar 3. Tikus Putih(Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley ...33
Gambar 4. Kerangka konsep ...36
Gambar 5. Kerangka Ekstrak: ...48
Gambar 6. Alur Penelitian ...54
Gambar 7. Pengukuran diameter luka dengan sliding caliper ...56
Gambar 8. Diameter Luka Pasca induksi luka setelah 1 hari dengan hidrogen peroksida pada tikus spraguey dawley jantan ...56
Gambar 9. Diameter Luka Pasca induksi luka menggunakan hidrogen peroksida dengan menggunakan perlakuan aquades pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ...57
Gambar 10. Diameter Luka Pasca induksi luka menggunakan hidrogen peroksida dengan menggunakan perlakuan Ekstrak daun pepaya konsentrasi 75% pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ... 57
Gambar 11. Diameter Luka Pasca induksi luka menggunakan hidrogen peroksida dengan menggunakan perlakuan kenalog in orabase pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ... 58
Gambar 12. Gambaran mikroskopis dengan perbesaran 40x menggunakan pewarnaan HE perlakuan Ekstrak daun pepaya konsentrasi 75% pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ...64
Gambar 13. Gambaran mikroskopis dengan perbesaran 40x menggunakan pewarnaan HE perlakuan kenalog in orabase pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ...65
Gambar 14. Gambaran mikroskopis dengan perbesaran 40x menggunakan pewarnaan HE perlakuan Aquades pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7... 65
xiii INTISARI
Latar Belakang : Salah satu efek samping dari Hidrogen peroksida 35% adalah menyebabkan inflamasi pada gingiva. Sel yang terkandung pada saat fase infamasi adalah sel limfosit. Daun Pepaya mengandung senyawa aktif saponin, tanin, dan flavonoid. Kandungan senyawa aktif daun pepaya dapat berperan sebagai antiinflamasi dan mempercepat penyembuhan luka.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas gel ekstrak daun pepaya terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka pada proses penyembuhan lukaakibat bahan bleaching.
Metode Penelitian : Desain penelitian ini adalah eksperimental murni in vivo. Subjek pada penelitian ini menggunakan tikus jantan sebanyak 33 ekor. Tikus diberi perlukaan dengan Hidrogen Peroksida 35 % menggunakan microbrush. Dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok I (Kenalog) sebagai kontrol positif, kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya), kelompok III (Aquades) sebagai kontrol negatif. . Perlakuan dilakukan setiap hari dan hari ke 1,3,5 dan 7 tikus diambil satu secara acak untuk pengukuran diameter luka dan dekapitulasi rahang. Pembuatan preparat dengan perwarnaan HE. Dan dilakukan perhitungan jumlah sel limfosit. Analisa data menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk, kemudian dilakukan uji hipotesis One WayAnova, dan uji lanjutan dengan uji
Least Significant Differences.
Hasil : Didapatkan 2 data yaitu Diameter luka dan jumlah sel limfosit. Hasil uji normalitas Shapiro Wilk (p-value> 0,05), menunjukan distribusi data yang normal. Hasil uji One Way Anova diperoleh nilai signifikansi 0,039 (p-value< 0,05), terdapat perbedaan jumlah sel limfosit diantara ketiga kelompok, hasil uji
Least Significant Differences diperoleh jumlah sel limfosit signifikan pada kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya 75%).
Kesimpulan : Pemberian gel ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L.)
konsentrasi 75% efektif terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka terhadap penyembuhan luka akibat bahan bleaching pada tikus (Sprague Dawley) jantan (p<0,05).
Kata Kunci : Gel ekstrak daun pepaya, sel limfosit, Penyembuhan luka, hydrogen
xiv ABSTRACT
Background : One side effect of the hydrogen peroxide 35% is causing inflammation of the gingiva . Cells contained in the phase of inflamation is lymphocyte cells . The Papaya leaves contains some active compound of saponin , tannins and flavonoids . The active compound of the papaya leaves can be as an anti-inflammatory substance and wound healing
Research Objectives : This research aims to determine the effectiveness of papaya leaves extract gel towards amount oflymphocyte cells and wound diameter in the process of wound healing causes by bleaching materials on male rats.
Research methods : The research design was purely experimental in vivo. The subject of this research was 33 male rats. The rats given the injury with Hydrogen Peroxide 35% using microbrush. The subject which were divided into three treatment groups. The first group is (kenalog) as a positive control, the second group (papaya leaves extract gel 75%), the third group is (Aquades) as a negative control. The treatment was done every day and in day 1,3,5 and 7 the rats were taken at random for measuring the diameter of the wound and recapitulation of the jaw. The preparat of tool was colored by HE. Furthermore, observe the number of lymphocytes in the preparations. Data analysis was using the Shapiro Wilk normality test, and the it was tested by using the hypothesis One Way Anova, and advanced testing with theLeast Significant Differences.
Results : There are tworesults in this research which iswound diameter and the amount of lymphocytes cells . The Shapiro Wilk normality test results ( p - value> 0.05 ), it indicates that the data has normal distribution of data . One Way Anova test results significance value of 0.039 ( p - value < 0.05 ) , it means there is a differences in the number of lymphocytes among the three groups , the test results obtained Least Significant Differences lymphocyte cell counts significantly in group II ( Gel papaya leaf extract 75 % )
Conclusion : The provision of papaya extract gel concentration of 75% effective to decrease the number of lymphocytes and the diameter of the wound in the process of wound healing causes by bleaching materials in male rats( p < 0.05 ) .
i INTISARI
Latar Belakang : Salah satu efek samping dari Hidrogen peroksida 35% adalah menyebabkan inflamasi pada gingiva. Sel yang terkandung pada saat fase infamasi adalah sel limfosit. Daun Pepaya mengandung senyawa aktif saponin, tanin, dan flavonoid. Kandungan senyawa aktif daun pepaya dapat berperan sebagai antiinflamasi dan mempercepat penyembuhan luka.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas gel ekstrak daun pepaya terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka pada proses penyembuhan lukaakibat bahan bleaching.
Metode Penelitian : Desain penelitian ini adalah eksperimental murni in vivo. Subjek pada penelitian ini menggunakan tikus jantan sebanyak 33 ekor. Tikus diberi perlukaan dengan Hidrogen Peroksida 35 % menggunakan microbrush. Dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok I (Kenalog) sebagai kontrol positif, kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya), kelompok III (Aquades) sebagai kontrol negatif. . Perlakuan dilakukan setiap hari dan hari ke 1,3,5 dan 7 tikus diambil satu secara acak untuk pengukuran diameter luka dan dekapitulasi rahang. Pembuatan preparat dengan perwarnaan HE. Dan dilakukan perhitungan jumlah sel limfosit. Analisa data menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk, kemudian dilakukan uji hipotesis One WayAnova, dan uji lanjutan dengan uji
Least Significant Differences.
Hasil : Didapatkan 2 data yaitu Diameter luka dan jumlah sel limfosit. Hasil uji normalitas Shapiro Wilk (p-value> 0,05), menunjukan distribusi data yang normal. Hasil uji One Way Anova diperoleh nilai signifikansi 0,039 (p-value< 0,05), terdapat perbedaan jumlah sel limfosit diantara ketiga kelompok, hasil uji
Least Significant Differences diperoleh jumlah sel limfosit signifikan pada kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya 75%).
Kesimpulan : Pemberian gel ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L.)
konsentrasi 75% efektif terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka terhadap penyembuhan luka akibat bahan bleaching pada tikus (Sprague Dawley) jantan (p<0,05).
Kata Kunci : Gel ekstrak daun pepaya, sel limfosit, Penyembuhan luka, hydrogen
ii ABSTRACT
Background : One side effect of the hydrogen peroxide 35% is causing inflammation of the gingiva . Cells contained in the phase of inflamation is lymphocyte cells . The Papaya leaves contains some active compound of saponin , tannins and flavonoids . The active compound of the papaya leaves can be as an anti-inflammatory substance and wound healing
Research Objectives : This research aims to determine the effectiveness of papaya leaves extract gel towards amount oflymphocyte cells and wound diameter in the process of wound healing causes by bleaching materials on male rats.
Research methods : The research design was purely experimental in vivo. The subject of this research was 33 male rats. The rats given the injury with Hydrogen Peroxide 35% using microbrush. The subject which were divided into three treatment groups. The first group is (kenalog) as a positive control, the second group (papaya leaves extract gel 75%), the third group is (Aquades) as a negative control. The treatment was done every day and in day 1,3,5 and 7 the rats were taken at random for measuring the diameter of the wound and recapitulation of the jaw. The preparat of tool was colored by HE. Furthermore, observe the number of lymphocytes in the preparations. Data analysis was using the Shapiro Wilk normality test, and the it was tested by using the hypothesis One Way Anova, and advanced testing with theLeast Significant Differences.
Results : There are tworesults in this research which iswound diameter and the amount of lymphocytes cells . The Shapiro Wilk normality test results ( p - value> 0.05 ), it indicates that the data has normal distribution of data . One Way Anova test results significance value of 0.039 ( p - value < 0.05 ) , it means there is a differences in the number of lymphocytes among the three groups , the test results obtained Least Significant Differences lymphocyte cell counts significantly in group II ( Gel papaya leaf extract 75 % )
Conclusion : The provision of papaya extract gel concentration of 75% effective to decrease the number of lymphocytes and the diameter of the wound in the process of wound healing causes by bleaching materials in male rats( p < 0.05 ) .
1 A. Latar Belakang Masalah
Warna gigi normal pada manusia adalah kuning keabu-abuan, putih
keabu-abuan, dan putih kekuning-kuningan. Warna gigi ditentukan oleh
ketebalan email, ketebalan dentin, warna dentin yang melapisi bawahnya,
warna pulpa dan transluensi. Gigi manusia dapat berubah warna, hal tersebut
dinamakan diskolorisasi gigi atau perubahan warna. (Grossman, 1995).
Prosedur restorasi gigi yang digunakan untuk memodifikasi bentuk gigi,
merapikan gigi atau warna gigi sangat berguna untuk mencapai tujuan estetik.
Salah satu prosedur yang digunakan adalah bleaching. Prosedur bleaching
merupakan alternatif perawatan restoratif yang popular yang tujuannya untuk
mencapai warna enamel yang lebih terang (Kermanshah, dkk., 2013). Untuk
mengetahui penggunaan teknik-teknik yang terlibat dalam bleaching, penting
diketahui penyebab dan lokasi penyebab perubahan warna, serta berbagai
macam metode perawatan yang dapat dilakukan (Walton dan Torabinejad,
2008). Prosedur bleaching memiliki berbagai macam cara, diantaranya; 1)
Bleaching dapat dikerjakan di klinik oleh dokter gigi secara langsung (office
bleaching), 2) Bleaching dapat dilakukan dirumah dengan pantauan dokter
gigi (home bleaching) (Aschheim danDale, 2001).
Bahan bleaching yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi antara lain
cairan hidrogen peroksida, karbamid peroksida dan natrium perborat. Bahan
adalah oksidator. Hidrogen peroksida dan karbamid peroksida terutama
diindikasikan untuk pemutihan secara eksternal, sedangkan natrium perborat
dipakai untuk pemutihan secara internal (Walton dan Torabinejad, 2008).
Contoh produk hidrogen peroksida yang ada di pasaran adalah Superoxol,
bahan ini mengandung hidrogen peroksida sebesar 30%. Dan bahan ini dapat
menyebabkan luka pada kulit (Sidauruk, dkk., 2009).
Bleaching mempunyai 2 efek samping yang paling sering dijumpai,
yaitu gigi sensitif dan iritasi gingiva. Selain itu bisa juga menyebabkan sakit
tenggorokan, rasa perih pada jaringan rongga mulut dan sakit kepala(Jenssen
dan Tran, 2011).
Secara umum, iritasi gingiva dapat menyebabkan cedera pada sel.
Penyebab cedera sel sangat bervariasi, mulai dari kekerasan fisik eksternal
dan penyebab endogen atau internal. Penyebab cedera sel dapat
dikelompokkan dalam kategori seperti kekurangan oksigen, faktor fisik,
kimiawi, dan biologis, reaksi imunologis, kelainan genetik dan
ketidakseimbangan nutrisi (Syamsuhidayat, dkk., 2012). Salah satu zat kimia
yang dapat menyebabkan cedera pada sel yang terkandung dalam bahan
bleaching adalah hidrogen peroksida 35%. Bahan tersebut merupakan bahan
yang tajam dan dapat menyebabkan gingiva terbakar dan mengelupas. Apabila
bahan kimia yang kuat ini dipakai pada jaringan lunak, harus dilapisi dengan
menggunakan pasta pelindung (Walton dan Torabinejad, 2008). Luka yang
timbul mengakibatkan gangguan pada struktur jaringan yang utuh dan dapat
2005). Adanya luka pada gingiva menyebabkan terganggunya perlindungan
gingiva terhadap infeksi maupun kerusakan mekanis akibat hilangnya
kontinuitas jaringan sehingga integritas jaringan tulang yang berada dibawah
gingiva dapat terancam (Abrams, 1994). Selain itu luka yang biasa disebabkan
oleh zat kimia adalah luka bakar (Syamsuhidayat, dkk. 2012).
Penyembuhan luka yang paling sederhana dapat dilakukan secara alami
oleh tubuh. Seperti pada insisi pembedahan, yang tepi lukanya dapat saling
didekatkan untuk dimulainya proses penyembuhan. Penyembuhan semacam
itu disebut penyembuhan primer (Price & Wilson, 2006). Proses
penyembuhan luka dibagi menjadi tiga fase, meliputi fase inflamasi, fase
poliferatif, dan fase remodeling (Syamsuhidayat, dkk., 2012). Dalam fase
inflamasi terdapat sel limfosit yang umumnya terdapat di dalam eksudat
dalam jumlah yang sangat sedikit hingga waktu yang cukup lama, yaitu
sampai reaksi-reaksi peradangan menjadi kronis. Karena fungsi-fungsi
limfosit yang diketahui semuanya berada dalam bidang imunologik (Price dan
Wilson, 2006).
Selain hal tersebut pada proses inflamasi terdapat kerusakan
mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke
jaringan radang (Ganiswara, 2005). Leukosit atau sel darah putih terdiri dari
beberapa jenis Sel seperti neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, monosit yang
berinterkasi satu sama lain dalam proses inflamasi (Effendi, 2003).
Limfosit adalah leukosit mononuklear yang berdiameter antara 7-20 μm,
yang berwarna biru pucat. Pada prose peradangan sel limfosit muncul sebagai
reseptor antigen yang pada kondisi tepat menginduksi suatu respon
imunospesifik dan bereaksi dengan produk produk respon tersebut (Dorland,
2002). Limfosit dapat menjadi lebih sensitif selama stadium seluler lebih
lanjut. Sensitifitas ini dapat muncul pada saat sel plasma memproduksi
antibodi atau pada saat limfosit T memproduksi limfokin untuk
mempermudah proses peradangan (Saraf, 2006).
Limfosit umumnya terdapat pada eksudat dalam jumlah yang sangat
kecil untuk waktu yang cukup lama yaitu sampai reaksi peradangan menjadi
kronik (Price dan Wilson, 2005). Menurut Bellanti (1993) pada proses
keradangan, limfosit berfungsi memberikan respons imunologik untuk
melawan agen asing dengan fenomena humoral dan seluler spesifik. Limfosit
memiliki peranan fungsional yang berbeda, yang semuanya berhubungan
dengan reaksi imunitas dalam bertahan terhadap serangan mikroorganisme,
makromolekul asing dan sel kanker. Limfosit T secara langsung
menghancurkan sel-sel sasaran spesifik, suatu proses yang dikenal sebagai
respon imun yang diperantarai sel hidup (respon imun seluler). Sel yang
menjadi sasaran limfosit T mencakup sel-sel tubuh yang dimasuki oleh virus
dan sel kanker (Sherwood, 2001).
Menurut Savage dan McCullough, (2005) pengobatan untuk
penyembuhan luka pada mukosa mulut bisa menggunakan topikal
kortikosteroid. Topikal kortikosteroid berfungsi sebagai agen anti-inflamasi.
kenalog in orabase, salep hydrocortisone acetate 1% dan salep
bethamethasone dipropionate 0,05%.Obat kimia merupakan upaya untuk
mempercepat proses penyembuhan luka, seperti penggunaan topikal
kortikosteroid yang dianjurkan untuk pengobatanulserasi pada mukosa mulut.
Kenalog® merupakan jenis topical kortikosteroid yang sudah banyak
digunakan sebagai agen anti inflamasi untuk mengobati luka pada mukosa
mulut (Krasteva,dkk., 2010). Menurut Skidmore–Roth (2014), triamcinolone
acetonide memiliki kontraindikasi terhadap infeksi jamur, virus, atau bakteri
pada mulut dan tenggorokan. Hal tersebut perlu diperhatikan karena
penggunaan kortikosteroid pada masa infeksi aktif dapat menekan sistem
imun tubuh (McGee dan Hirschmann, 2008). Salah satu efek samping
kortikosteroid topikal pada mukosa oral adalah meningkatnya pertumbuhan
Candida sp. dalam rongga mulut yang dapat menyebabkan kandidiasis (Eisen
dan Lynch, 2001; Savage dan McCullough, 2005). Adanya kontraindikasi dan
efek samping yang tinggi akibat penggunaan obat antiinflamasi golongan
steroid, maka saat ini banyak dikembangkan pengobatan yang berasal dari
bahan alami seperti suplemen dan obat herbal sebagai pereda rasa nyeri dan
inflamasi (Maroon dkk., 2010).
Indonesia mempunyai lebih dari 20.000 jenis tumbuhan obatdan 300
jenis diantaranya sudah dimanfaatkan sebagai obat herbal. Pepaya (Carica
papaya) adalah salah satu tanaman berkhasiat yang bisa dijadikan obat. Salah
satu bagian dari tanaman pepaya yang berkhasiat obat ialah daunnya. Daun
(Yapian, dkk., 2013).Daun papaya memiliki kandungan senyawa aktif berupa
enzim papain dan flavonoid sebagai anti inflamasi. Ekstrak daun pepaya
mempunyai efek antiinflamasi berupa penurunan jumlah sel makrofag
(Aldelina, dkk., 2013).
Berbagai macam tumbuhan herbal yang ada dibumi memiliki banyak
manfaat dan pada dasarnya semua tumbuhan yang ada dibumi itu baik, sesuai
dalam Al-Quran surat Asy-Syuara ayat 7 yang berbunyi :
مي ك جْ ّلك ْ م ا يف ا ْتبْ أ ْمك ضْ ْْا ىلإ اْ ي ْمل أ
Artinya, “Dan apakah mereka tidak memperlihatkan bumi, betapa kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik”.
Penggunaan sumber daya yang ada dibumi harus dimanfaatkan dengan
bijaksana dan maksimal sesuai manfaatnya, sesuai dalam surat Al-Quran surat
Al-Isra ayat 27 :
ّ إ ي ّ ب ْلاا اك ا ْخإ يطايّشلاۖ اك اطْيّشلا ّب لً فكا
Artinya, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Berdasarkan ayat diatas peneliti memaknai bahwa Allah SWT
menciptakan semua tumbuhan di dunia ini baik dan mempunyai manfaat, kita
harus memaksimalkan pemanfaatan dari tumbuhan tersebut agar kita tidak
termasuk orang yang boros. Bahan uji seperti obat yang akan dimanfaatkan
pada manusia harus lolos dari pengujian laboratorium secara tuntas dan
dilanjutkan dengan penelitian pada hewan percobaan untuk mengetahui
dan mengkaji seluruh reaksi dan interaksi bahan uji yang diberikan, serta
dampak yang dihasilkan secara utuh dan mendalam (EndiRidwan, 2013).
Pemanfaatan daun papaya (Carica Papaya L ) masih jarang, terutama dalam
bidang kedokteran gigi. Berdasarkan latarbelakang tersebut peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang efektifitas gel ekstrak daun papaya
(Carica Papaya L.) terhadap penyembuhan luka gingiva akibat bahan
bleachin gyaitu hidrogen peroksida melalui pengamatan penurunan diameter
luka pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley jantan
Menurut Adiyati (2011), hewan coba merupakan hewan yang
dikembang biakkan untuk digunakan sebagai hewan uji coba. Tikus sering
digunakan pada berbagai macam penelitian medis selama bertahun - tahun.
Hal ini disebabkan karena tikus memiliki karakteristik genetik yang unik,
mudah berkembang biak, murah serta mudah untuk mendapatkannya. Pada
penelitian ini menggunakan tikus putih Sprague Dawley jantan.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat
dirumuskan suatu permasalahan yaitu apakah gel ekstrak daun papaya (Carica
Papaya L.) konsentrasi 75% efektif mempercepat penyembuhan luka yang
diakibatkan oleh hidrogen peroksida konsentrasi 35% sebagai bahan
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan umum
Mengetahui efektifitas gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.)
konsentrasi 75% dalam mempercepat proses penyembuhan luka gingiva
yang diakibatkan oleh hidrogen peroksida konsentrasi 35% sebagai bahan
bleaching pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley
jantan.
2. Tujuan khusus
Mengetahui efektifitas gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.)
konsentrasi 75% terhadap penurunan diameter luka dan jumlah sel
limfositpada proses penyembuhan luka gingiva yang diakibatkan oleh
hidrogen peroksida konsentrasi 35% sebagai bahan bleaching pada tikus
putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley jantan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi peneliti
Menambah pengalaman dan mendapat informasi baru mengenai
manfaat gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.) sebagai terapi
alternatif dalam penyembuhan luka gingiva yang diakibatkan oleh
hidrogen peroksida sebagai bahan bleaching pada tikus putih (Rattus
norvegicus) galur Sprague Dawley jantan melalui pengamatan penurunan
2. Bagi masyarakat
Menambah wawasan publik tentang terapi alternatif dalam upaya
peningkatan durasi penyembuhan luka gingiva dan menambah nilai
ekonomis dari daun pepaya.
3. Bagi ilmu pengetahuan
Memberikan informasi baru dalam ilmu kedokteran khususnya
kedokteran gigi dan diharapkan penelitian ini menjadi acuan dalam
melakukan penelitian selanjutnya mengenai terapi alternatif dalam
penyembuhan luka gingiva yang diakibatkan oleh iritasi hidrogen
peroksida sebagai bahan bleaching.
E. KeaslianPenelitian
Terdapat beberapa penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya yaitu:
1. Efek Ekstrak Etanol Daun Awar-Awar (Ficus Septica Burm.F) terhadap
Kemampuan Epitelisasi pada Tikus (Rattus Norvegicus). Oleh Rahman,
dkk. pada tahun 2013. Penelitian tersebut menggunakan ekstrak etanol
daun awar-awar pada konsentrasi 0,5%, 1% dan 1,5%. Pada
perlukaandilakukandengan menempelkan logam panas (1000C) selama 2
detik pada daerah kulit punggung tikus.Ekstrak etanol daun awar-awar
memiliki kemampuan epitelisasi pada tikus putih dan pada konsentrasi 1.5
% sangat signifikan sebagai obat untuk penyembuhan. Perbedaannya
dengan penelitian saya adalah bahan yang digunakan berupa daun pepaya
35%. Persamaannya adalah variabel yang diamati yaitu penurunan
diameter luka sebagai indikator penyembuhan.
2. Pengaruh Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Jumlah Sel Limfosit Pada
Gingiva Tikus Wistar Jantan Yang Mengalami Periodontitis. Oleh
Bramanto dkk tahun 2014.
Penelitian tersebut dilakukan dengan memberikn induksi P. gingivalis
dengan jumlah bakteri 3 x 106 (McFarlan) dan dipasang ligature pada
regio molar kiri rahang bawah pada tikus. Dan dekapitulasi rahang tikus
untuk menghitung jumlah sel limfosit pada mikroskop. Hasil penelitian
membuktikan bahwa terjadi penurunan jumlah sel limfosit pada gingiva
tikus wistar jantan yang mengalami periodontitis setelah diberikan ekstrak
daun pepaya. Konsentrasi ekstrak daun pepaya yang paling efektif adalah
75%. Perbedaan dengan penelitian saya adalah, induksi luka yang
digunakan yaitu menggunakan bahan hidrogen Peroksida sebagai bahan
bleaching 35%. Persamaannya adalah yang diamati yaitu sel radang
limfosit melalui mikroskop.
3. Efek Pemberian Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) terhadap Jumlah
Sel Makrofag pada Gingiva Tikus Wistar yang Diinduksi Porphyromonas
gingivalis. Oleh Aldelina, dkk. pada tahun 2013. Penelitian tersebut
menyatakan bahwa terdapat efek anti inflamasi ekstrak daun pepaya
berupa penurunan jumlah sel makrofag. Peradangan (inflamasi) dilakukan
dengan menginduksikan Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi
papaya konsentrasi 25%, 50% dan 75%.Konsentrasi 75% mempunyai efek
terbesar dalam menurunkan jumlah sel makrofag. Perbedaan dengan
penelitian saya adalah indicator penyembuhan luka yang diamati berupa
penurunan diameter luka dan induksi lukanya menggunakan bahan
bleaching hidrogen peroksida 35%. Persamaannya adalah menggunakan
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah pustaka 1. Gigi
a. Warna gigi normal
Warna normal gigi sulung adalah putih kebiru-biruan.
Sedangkan, warna normal gigi permanen adalah kuning keabu-abuan,
putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Warna gigi
ditentukan oleh transluensi dan ketebalan email, ketebalan dan warna
dentin yang melapisi dibawahnya, dan juga warna pulpa. Perubahan
dalam warna dapat bersifat fisiologik dan patologik atau eksogenus
dan endogenus. (Grossman, dkk., 1995).
Semakin meningkatnya usia, email manusia menjadi lebih tipis
karena abrasi atau erosi, dan dentin menjadi lebih tebal karena deposisi
dentin sekunder dan reparatif, yang menghasilkan perubahan warna
pada gigi seseorang. Dan pada orang tua biasanya gigi berwarna lebih
kuning atau keabu-abuan dibandingkan dengan gigi orang muda.
(Grossman, dkk., 1995).
b. Diskolorisasi gigi
Diskolorisasi gigi adalah suatu kondisi perubahan warna gigi
dengan etiologi multifaktorial yang diklasifikasikan sebagai ekstrinsik
kondisi sistemik dan faktor lokal seperti luka (Kermanshah, dkk.,
2013).
Klasifikasi Diskolorisasi gigi menurut (Jenssen dan Tran, 2011)
diklasifikasikan menjadi:
1) Diskolorisasi ekstrinsik
Diskolorisasi ekstrinsik biasa ditemukan pada permukaan
luar gigi dan bersifat lokal, contohnya adalah noda/stain tembakau.
Beberapa kasus diskolorisasi ekstrinsik seperti noda teh atau
tembakau dapat dihilangkan dengan scalling dan pemolesan.
2) Diskolorisasi intrinsik
Pada dislorisasi intrisik komposisi struktural pada jaringan
keras gigi berubah. Diskolorisasi intrinsik dibagi lagi menjadi dua
yaitu; a) Sistemik, seperti genetik atau dari obat-obatan dan ke b)
Lokal, seperti pendarahan pulpa atau resorbsi akar.
Menurut (Walton dan Torabinejad, 2008), penyebab perubahan
warna gigi atau diskolorisasi disebabkan oleh:
1) Noda alamiah atau didapat :
a) Nekrosis Pulpa
b) Pendarahan Intrapulpa
c) Metamorfosis kalsium
d) Defek perkembangan: Obat obatan sistemik, defek dalam
2) Perubahan warna Iatrogenik
Perubahan warna karena perawatan Endodonsi: Material
obturasi, sisa-sisa jaringan pulpa, obat-obatan intrakanal dan
restorasi korona.
2. Bleaching
a. Definisi bleaching
Bleaching bukan hal yang baru lagi dalam dunia kedokteran gigi.
Bleaching adalah upaya awal untuk mencerahkan gigi dengan bahan
pemutih sudah berlangsung lebih dari satu abad yang lalu. Bahan
pemutih dapat diaplikasikan langsung pada permukaan gigi, atau
diaplikasikan secara tidak langsung ke dalam gigi non vital. (Goldstein
dan Garber, 1995)
Bleaching dalam kedokteran gigi biasanya ditujukan pada
bahan-bahan yang mengandung Hidrogen Peroksida untuk pemutihan gigi.
Peroxide merupakan bahan bleaching yang paling sering digunakan
untuk membutuhkan waktu singkat. Kemampuan pemutihan gigi
seringkali ditunjukkan dari jumlah persentase peroxide didalamnya
(Goldstein & Garber, 1995).
b. Teknik bleaching
1) Teknik internal
Prosedur bleaching internal atau “Walking Bleach”, teknik
ini dapat digunakan untuk diskolorisasi gigi yang berasal dari
terdiri dari natrium perborate dan air atau 3% hidrogen peroksida
( H2O2 ) masing-masing dalam ruang pulpa. Tetapi penyataan
tersebut diatas dari teknik Walking bleach dengan campuran
sodium perborate dan air disebutkan dalam laporan kongres oleh
Marsh dan diterbitkanoleh Salvas ,Nutting dan Poe, dan
menganjurkan untuk penggunaan 30% Hidrogen Peroksida tidak
dengan air. (Navageni, dkk., 2011)
2) Teknik eksternal
Prosedur bleaching eksternal, atau teknik pemutihan vital
merupakan aplikasi oksidator pada permukaan email dari gigi
dengan pulpa yang masih vital. Tetapi dengan teknik eksternal
mempunyai kekurangan karena lebih banyak menggunakan
variabel daripada teknik internal. Bahan pemutih yang diletakkan
pada email yang relatif tidak permiabel, sehingga lebih sedikit
peluangnya untuk mencapai daerah yang terjadi diskolorisasi
(Walton dan Torabinejad, 2008).
c. Bahan bleaching
1) Carbamide peroxide (CH6N2O3)
Dalam 10% larutan encer Carbamide Peroxide paling banyak
digunakan pada home bleaching. Bahan ini dipecah lagi menjadi
3,35% larutan Hidrogen peroksida dan 6,65% larutan urea
digunakan oleh dokter gigi untuk prosedur home bleaching.
(Jenssen dan Tran, 2011)
2) Hidrogen peroksida (H2O2)
Menurut (Kihn, 2007), hidrogen peroksida adalah agen
pengoksidasi yang berdifusi ke gigi dan pecah menghasilkan
radikal bebas yang tidak stabil. Radikal bebas yang tidak stabil
menyerang molekul pigmen organik di ruang antara garam
anorganik yang berada pada enamel gigi bagian dalam. sehingga
unsur molekul yang berpigmem lebih kecil. Molekul kecil
mencerminkan kurang cahaya , sehingga menciptakan efek
pemutihan.
Konsentrasi hidrogen peroksida yang biasa dipakai pada in
office bleaching adalah 30-35%. Dan makin besar konsentrasi
hidrogen peroksida, makin baik efek dalam proses oksidasi.
(Goldstein dan Garber, 1995)
d. Efek samping bleaching
1) Gigi sensitif
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gigi sensitif itu
adalah penggunaan bahan glycerin yang terkandung di dalam
bahan pemutih gigi. Bahan tersebut menyebabkan penyerapan air
dari tekanan yang lebih rendah. Dalam hal ini dari email, tubulus
tersebut menyebabkan rasa ngilu dan sensitif. (Jenssen dan Tran,
2011)
2) Iritasi gingiva
Selama proses bleaching jarigan gingiva dapat mengalami
iritasi. Iritasi gingiva dapat meluas dihubungkan dengan konsetrasi
peroksida yang ditemukan pada bahan bleaching. Bisa juga
dikarenakan tray yang mendorong melawan gingiva selama proses
bleaching dan dapat menyebabkan trauma mekanis (Jenssen dan
Tran,2011).
Dua bahan bleaching yang sering dipakai adalah Sodium
Perborate dan hidrogen peroksida konsentrasi 30-35%. Bahan ini
dipakai sudah hampir selama 30 tahun. Tetapi hidrogen peroksida
memiliki dua kali lipat efek oksidator dibandingkan dengan
sodium perborate. Bahan ini memiliki efek yang lebih reaktif pada
bleaching tetapi memliki efek samping membakar jaringan lebih
besar pula. (Goldstein dan Garber, 1995)
3. Cedera sel dan luka
Menurut (Hasibuan,dkk., 2010) luka adalah hilang atau rusaknya
sebagian jaringan tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh trauma benda
tajam dan tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, segatan listrik atau
Terdapat beberapa jenis luka menurut (Hasibuan, dkk., 2010) yaitu
antara lain;
a. Luka bakar
Luka bakar dapat menyebabkan hilangnya integritas kulit dan
juga menimbulkan efek sistemik yang sangat kompleks. Penyebab luka
bakar adalah paparan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan
kimia.
b. Luka akibat zat kimia
Luka tersebut dapat disebabkan karena kelengahan,
pertengkaran, kecelakaan kerja atau kecelakaan industri laboratorium.
Kerusakan yang terjadi sebanding dengan kadar dan jumlah bahan
yang mengenai tubuh, cara dan lamanya kontak, dan juga sifat dan
cara kerja zat kimia tersebut.
4. Penyembuhan luka
Penyembuhan luka dapat dibagi menjadi 3 fase menurut (Hasibuan,
dkk., 2010):
a. Fase inflamasi (peradangan)
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka. Pendarahan
yang diakibatkan oleh terputusnya pembuluh darah akan dihentikan
oleh tubuh dengan vasokontriksi, pengerutan ujung pembuluh darah
yang putus (retraksi), dan reaksi hemostasis. Tanda dan gejala klinis
reaksi radang berupa rubor (merah), kalor (panas), dolor (nyeri) dan
Dalam fase ini terdapat aktivitas seluler yang terjadi yaitu
pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka
karena daya kemotaksis (Hasibuan,dkk., 2010). Salah satu jenis
leukosit yaitu limfosit. Limfosit biasa terdapat dalam eksudat dengan
jumlah yang sangat sedikit hingga waktu yang cukup lama, yaitu
sampai reaksi peradangan menjadi kronis. (Price danWilson, 2006).
Tetapi limfosit lebih banyak terdapat di dalam stroma organ limfoid
dan dalam lamina propria saluran cerna. Pada lokasi tersebut, limfosit
berfungsi melindungi lumen usus terhadap flora bakteri (Bloom dan
Fawcett, 2002).
b. Fase proliferasi
Pada fase ini yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast.
Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira akhir
minggu ketiga. Fibroblas berasal dari sel mesenkim yang baru
berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asam amino glisin,
dan prolin yang merupakan bahan dasar serat kolagen yang akan
mempertautkan tepi luka(Syamsuhidayat, dkk., 2012).
c. Fase remodelling
Fase remodeling merupakan proses pematangan yang terdiri atas
penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan yang sesuai
dengan gaya gravitasi, dan akhirnya menghasilkan penampakan ulang
jaringan yang baru. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan
ini berlangsung, dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lentur.
Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir fase ini,
penampakan luka kulit mampu menahan renggangan kira-kira 80%
kemampuan kulit normal (Syamsuhidayat, dkk., 2012).
5. Sel Limfosit
a. Definisi Limfosit
Limfosit merupakan komponen yang beradaptasi dengan sistem
imun. Limfosit mengatur pembentukan antibody (Feldman, 2000).
Sistem imun tubuh terdiri atas dua komponen utama, yaitu limfosit B
dan limfosit T. Sel B bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral
yang bersirkulasi yang dikenal dengan nama imunoglobulin. Sel T
terlibat dalam berbagai proses imunologik yang diperantarai oleh sel.
Imunoglobulin plasma merupakan imunoglobulin yang disintesis di
dalam sel plasma. Sel plasma merupakan sel khusus turunan sel B
yang mensintesis dan mensekresikan imonoglobulin ke dalam plasma
sebagai respon terhadap paparan berbagai macam antigen (Murray,
2003).
Limfosit memiliki nucleus besar bulat dengan menempati
sebagian besar sel limfosit berkembang dalam jaringan limfe. Ukuran
bervariasi dari 7 sampai dengan 15 mikron. Banyaknya 20-25% dan
fungsinya membunuh dan memakan bakteri masuk ke dalam jaringan
Gambar 1. Bentukan limfosit dilihat secara mikroskopis Sumber : Tagliasacchi dan Carboni, 1997
b. Jenis Limfosit
Menurut Fawcet (2002) berdasarkan diameter dan jumlah relatif
sitoplasmasnya limfosit dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Limfosit kecil
Limfosit kecil mendominasi dalam darah, memiliki inti sferis
yang mana terlihat lekukan kecil pada salah satu intinya yang
bulat, kromatinnya padat dan tampak sebagai gumpalan kasar,
sehingga inti lebih terlihat gelap pada sajian biasa. Sitoplasmanya
sangat sedikit dan pada hapusan darah tampak sebagai tepian tipis
disekitar inti. Limfosit hidup bersifat motil dan dapat menyusup
diantara sel-sel endotel pembuluh darah. Mereka juga mampu
bermigrasi melalui epitel basal lainnya (Junqueira et al., 2007).
Berdasar sifat fungsionalnya limfosit kecil digolongkan dalam dua
kelompok besar yaitu :
a) Limfosit T
Limfosit-T timbul dari dalam sel induk sumsum tulang
sel T dewasa dan meninggalkan timus. Sel T matur ikut aliran
darah dan aliran limfe torakal dan juga berada dijaringan
limfoid perifer. Sel T ini mengarahkan beragam unsur imunitas
selular juga penting untuk menginduksi imunitas humoral yang
berasal dari sel B terhadap antigen. Sel T berjumlah 60%-70%
dari limfosit dalam sirkulasi darah dan juga merupakan tipe
limfosit utama dalam selaput periarteriol limpa (Robbins et al.,
2007).
Limfosit T bertanggung jawab dalam pembentukan
limfosit teraktivasi yang dapat membentuk imunitas diperantai
sel. Ketika terpapar antigen yang sesuai, limfosit T akan
berproliferasi dan melepaskan banyak sel T yang teraktivasi,
yang kemudian akan masuk kedalam sirkulasi dan disebarkan
keseluruh tubuh, melewati dinding kapiler masuk kedalam
cairan limfe dan darah, dan bersirkulasi keseluruh tubuh
demikian seterusnya, kadang-kadang berlangsung sampai
berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun (Guyton and Hall,
2008).
Respon sel T terhadap antigen sangat bersifat spesifik,
sama seperti respon antibodi sel B. Pada kenyataannya respon
imun adaptif membutuhkan bantuan sel T untuk memulainya
dan sel T berperan penting untuk membantu melenyapkan
sel T pembantu, sel T sitotoksik dan sel T supressor (Guyton
and Hall, 2008).
b) Limfosit B
Limfosit B merupakan kelompok limfosit yang
bertanggung jawab dalam pembentukan antibodi yang
memberikan imunitas humoral. Limfosit B ini mula-mula
diolah lebih dahulu dalam hati selama masa pertengahan
kehidupan janin dan sesudah dilahirkan. Kemudian sel ini
bermigrasi ke jaringan limfoid diseluruh tubuh dimana mereka
menempati daerah yang sedikit lebih kecil daripada limfosit-T
(Guyton and Hall, 2008).
Menurut Leeson et al (1996), limfosit ini bertugas untuk
memproduksi antibodi (humoral antibody response) yang
beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus
dengan antigen asing yang menyebabkan terbentuknya antigen
asing terikat antibodi (Antibody-Coated Foreign Antigen).
Kompleks ini mempertinggi kemampuan fagositosis dan
penghancuran oleh sel pembunuh (“Nature Killer cell atau NK
cell”) dari organisme yang menyerang. Jumlah limfosit B
dalam total limfosit normal pada manusia adalah sekitar 15 %.
Nilai limfosit B mendapat rangsangan yang sesuai, akan
plasma dalam jaringan dan menghasilkan immunoglobulin
(Junqueira et al., 2007).
2) Limfosit Sedang
Menurut Bajpai (1989) limfosit sedang mempunyai ukuran
10-12 μm, dengan inti besar, eukariotik, sitoplasma lebih banyak
dan mengandung retikulum endoplasma.
3) Limfosit besar
Limfosit besar memiliki inti yang sedikit lebih besar dari
limfosit kecil. Intinya bulat atau bengkok kecil pada salah satu
sisinya. Pada mulanya sangat sulit membedakan limfosit besar dan
monosit yang sepintas agak mirip. Namun pada umumnya limfosit
besar pada umumnya lebih sedikit kecil dari monosit dan jumlah
sitoplasmanya tidak sebanyak pada monosit, dan meskipun intinya
mungkin berlekuk kecil, tidak pernah berbentuk ginjal seperti pada
monosit. Dilain pihak, bila dibandingkan dengan limfosit kecil,
limfosit besar memiliki lebih banyak sitoplasma dan tingkat
basofilia sitoplasma yang seimbang (Junqueira et al., 2007).
Hammersen (1993) membagi limfosit menjadi dua yaitu
limfosit magnus dan parvus berdasarkan gambaran histologisnya.
Limfosit magnus mempunyai sitoplasma lebih lebih tebal, lebih
banyak mengandung sitoplasma pucat dan mempunyai granula
c. Peranan Limfosit Dalam Peradangan
Limfosit umumnya terdapat pada eksudat dalam jumlah yang
sangat kecil untuk waktu yang cukup lama yaitu sampai reaksi
peradangan menjadi kronik (Price dan Wilson, 2005). Menurut
Bellanti (1993) pada proses keradangan, limfosit berfungsi
memberikan respons imunologik untuk melawan agen asing dengan
fenomena humoral dan seluler spesifik. Limfosit memiliki peranan
fungsional yang berbeda, yang semuanya berhubungan dengan reaksi
imunitas dalam bertahan terhadap serangan mikroorganisme,
makromolekul asing dan sel kanker. Limfosit T secara langsung
menghancurkan sel-sel sasaran spesifik, suatu proses yang dikenal
sebagai respon imun yang diperantarai sel hidup (respon imun seluler).
Sel yang menjadi sasaran limfosit T mencakup sel-sel tubuh yang
dimasuki oleh virus dan sel kanker (Sherwood, 2001).
Baik limfosit T maupun limfosit B juga memperlihatkan
peristiwa memori imunologik. Setiap limfosit disiapkan untuk
memberikan respon hanya terhadap satu antigen saja. Beberapa sel
yang dihasilkan itu akan berkembang menjadi sel efektor misalnya
sebuah limfosit B akan berkembang menjadi sel plasma yang
menghasilkan antibodi. Sel lain tetap tidak aktif (sel memori) namun
disiapkan untuk memberikan respon yang lebih cepat dan lebih hebat
terhadap pertemuan berikut dengan antigen spesifik itu (Junqueira et
6. Obat Kimia
Pemakaian obat topikal kortikosteroid dianjurkan untuk pengobatan
ulserasi pada mukosa mulut. Fungsinya sebagai agen antiinflamasi.
Topikal kortikosteroid dapat berupa triamcinolone acetonide 0,1%,
kenalog in orabase, salep hydrocortisone acetate 1% dan salep
bethamethasone dipropionate 0,05% (Krasteva, dkk., 2010). Kenalog
merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan luka akut dan kronis
dari mukosa mulut. Kenalog dianjurkan untuk penyembuhan stomatitis
ulseratif, erosif lichen planus, denture stomatitis, gingivitis deskuamatif,
dan stomatitis aphthous. Kenalog juga mengandung kortikosteroid topikal
yang sangat efektif dalam adesif. Dosis penggunaan kenalog pada mukosa
mulut setiap olesan atau lima gram maksimal dua sampai tiga kali dalam
sehari (Balaji, 2009).
7. Obat Herbal
Obat herbal merupakan obat-obatan yang dibuat dari bahan
tumbuhan, baik itu tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun
tumbuhan liar. Obat herbal adalah salah satu bagian dari obat tradisional
mencakup juga obat yang dibuat dari bahan hewan, mineral, atau
gabungan dari bahan hewan, mineral, dan tumbuhan (Mangan, 2003).
Pepaya
a. Klasifikasitumbuhan pepaya, yaitu:
Kingdom : Plantae
Sub-Divisi : Angiosperma
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Caricales
Famil : Caricaceae
Spesies : Carica papaya L.
(Rukmana, 1995)
b. Karakteristik
Pepaya (Carica papaya) bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman
papaya berasal dari Amerika Tengah yang beriklim tropis. Di
Indonesia, tanaman pepaya baru dikenal secara umum sekitar tahun
1930-an, khususnya di kawasan pulau Jawa (Haryoto, 1998).
Tanaman pepaya termasuk tumbuhan perdu dan dapat
tumbuh setahun atau lebih. Tinggi tanaman dapat mencapai 15 meter
(Handayani dan Maryani, 2004). Batang tanaman berbentuk bulat
lurus, berbuku-buku, di bagian tengahnya berongga, dan tidak berkayu
(Haryoto, 1998).
Bunga berwarna putih. Buah berbentuk elips, berwarna
hijau saat masih muda dan berubah kuning kemerahan setelah masak
(Handayani dan Maryani, 2004). Bagian dalam buah berongga dan
berisi banyak biji berwarna hitam (Haryoto, 1998).
Daun pepaya bertulang menjari, permukaan daun bagian atas
muda. Daun pepaya tergolong besar, tunggal, tangkainya panjang dan
[image:46.595.268.411.167.268.2]berongga (Haryoto, 1998).
Gambar 2. Daun Pepaya (Carica papaya)
c. Kandungan dan manfaat
Kandungan zat kimia pepaya cukup banyak. Getahnya
mengandung cauthouc, damar, papaine, dan payotine. Daun pepaya
mengandung carpaine (alkaloida pahit) (Handayani dan Maryani,
2004). Kandungan alkaloid karpain menyebabkan rasa pahit pada
daun. Alkaloid memiliki aktivitas sebagai antibakteri (Kalie, 2000).
Daun pepaya juga mengandung senyawa aktif yaitu enzim papain dan
flavonoid sebagai anti radang. Penelitian sebelumnya menyatakan
enzim papain bekerja sama dengan vitamin A, C dan E untuk
mencegah radang, sedangkan flavonoid menghambat enzim
siklooksigenase dan lipooksigenase. Penghambatan kedua enzim
tersebut diharapkan dapat menurunkan proses radang (Aldelina,
dkk.,2013).
Flavonoid adalah bahan aktif yang dikenal sebagai antiinflamasi
alamiah, sebagai bakterisida, dan dapat menurunkan kadar kolesterol
jahat atau LDL didalam darah (Jaelani, 2007).
Saponin memiliki rasa pahit pada bahan pangan nabati. Saponin
berfungsi menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu
kadar kolesterol menjadi normal (Ide, 2010). Senyawa saponin
berberan sebagai antikoagulan yang berfungsi untuk mencegah
penggumpalan darah. Saponin juga berkhasiat sebagai ekspektoran,
yaitu mengencerkan dahak (Jaelani, 2007).
Tanin adalah antioksidan berjenis polifenol yang mencegah serta
menetralisasi efek radikal bebas yang merusak, menyatu, dan mudah
teroksidasi menjadi asam tanat. Sedangkan asam tanat sendiri
berfungsi membekukan protein yang berefek negatif pada mukosa
lambung (Shinya, 2008).
d. Khasiat daun pepaya
Daun papaya dimanfaatkan untuk mengobati penyakit demam,
keputihan, jerawat, penambah nafsu makan, dan pelancar ASI
(Handayani dan Maryani, 2004).
8. Ekstrak
Ekstrak merupakan sediaan kental yang diperoleh dengan
mengekstrak senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani
menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua
pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan
adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Ditjen
POM, 2000).
Proses ekstraksi dapat digunakan sebagai bahan pelarut seperti air,
etanol, atau campuran air, dan etanol (Mahendra,2008). Memilih metode
ekstraksi berdasarkan sifat bahan yang akan diolah, daya penyesuaian
dengan setiap jenis metode ekstraksi dan memperoleh ekstrak yang
sempurna (Ansel, 2008). Ada beberapa cara metode ekstraksi dengan
menggunakan pelarut menurut Ditjen POM (2000), yaitu:
a. Cara dingin
1) Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperatur kamar. Remaserasi berarti dilakukan
pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan
maserat pertama dan seterusnya.
2) Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru, yang
umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Prosesnya terdiri
dari tahapan pengembangan bahan, tahapan maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesanataupenampungan ekstrak), terus
menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang tidak
meninggalkan sisa bila 500 mg perkolat terakhir diuapkan pada
b. Cara panas
1) Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik
didihnya, selama waktu tertentu, dan jumlah pelarut terbatas yang
relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya
dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali
sehingga proses ekstraksi sempurna.
2) Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru
yang umumnya dikakukan dengan alat khusus sehingga terjadi
ekstrak kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan
adanya pendingin balik.
3) Digesti adalah maserasi kinetik (pengadukan) pada temperatur
yang lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-50ºC.
4) Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 96-98ºC
selama 15-20 menit dipenangas air dapat berupa bejana infus
tercelup dengan penangas air mendidih.
9. Gel
Gel adalah sediaan semi padat digunakan pada kulit, umumnya
sediaan tersebut berfungsi sebagai pembawa pada obat-obat topikal,
pelunak kulit atau sebagai pelindung. Gel didefinisikan sebagai suatu
system setengah padat yang tersusun baik dari partikel anorganik maupun
bersifat lunak, lembut, mudah dioleskan, dan tidak meninggalkan lapisan
berminyak pada permukaan kulit (Wardani, 2009).
Gel (gelones) terkadang disebut jelly yang merupakan system padat
(masa lembek). Gel terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan terpenestrasi
oleh suatu cairan. Jika masa gel terdiri atas jaringan partikel kecil yang
terpisah, gel digolongkan sebagai system dua fase. Dalam system dua fase,
jika ukuran partikel fase terdispersi relative besar, masa gel terkadang
dinyatakan sebagai magma yang bersifat tiksotropik, artinya massa akan
mengental jika dibiarkan dan akan mengalir kembali jika dikocok. Jika
massanya banyak air, gel itu disebut jelly (Syamsuni, 2006). Gel
digunakan pada berlendir (mukosa) atau kulit yang peka (Priyanto, 2008)
10.Tikus Putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley
Menurut Adiyati (2011), hewan coba merupakan hewan yang
dikembang biakkan untuk digunakan sebagai hewan uji coba. Tikus sering
digunakan pada berbagai macam penelitian medis selama bertahun - tahun.
Hal ini disebabkan karena tikus memiliki karakteristik genetik yang unik,
mudah berkembang biak, murah serta mudah untuk mendapatkannya.
Tikus adalah hewan yang melakukan aktivitasnya pada malam hari
(nocturnal). Tikus putih (Rattus norvegicus) atau biasa dikenal dengan
nama lain Norway Rat berasal dari wilayah Cina dan menyebar ke Eropa
bagian barat (Sirois 2005). Pada wilayah Asia Tenggara, tikus ini
(Adiyati, 2011). Tikus digolongkan ke dalam Ordo Rodentia (hewan
pengerat), Famili Muridae dari kelompok mamalia (hewan menyusui).
Menurut Priyambodo (1995) Ordo Rodentia merupakan ordo terbesar dari
kelas mamalia karena memiliki jumlah spesies (40%) dari 5.000 spesies
di seluruh mamalia
Menurut (Akbar, 2010) Klasifikasi tikus putih adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Odontoceti
Familia : Muridae
Genus : Rattus
[image:51.595.150.452.297.645.2]Spesies : Rattus norvegicus
Gambar 3. Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley
Tikus putih yang digunakan untuk percobaan laboratorium yang
dikenal ada tiga macam galur yaitu Sprague Dawley, Long Evans dan
ditemukan oleh seorang ahli Kimia dari Universitas Wisconsin, Dawley.
Dalam penamaan galur ini, dia mengkombinasikan dengan nama pertama
dari istri pertamanya yaitu Sprague dan namanya sendiri menjadi Sprague
Dawley (Akbar, 2010).
B. Landasan Teori
Perubahan warna gigi merupakan masalah yang cukup diperhatikan
dalam masyarakat. Bleaching merupakan salah satu prosedur restorasi untuk
merubah warna gigi menjadi lebih terang. Bahan bleaching yang digunakan
antara lain yaitu hidrogen peroksida atau karbamid peroksida. Hidrogen
peroksida yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi memiliki konsentrasi
30-35%. Bahan tersebut memiliki sifat iritatif dan dapat pula membuat gigi
sensitif. Sifat iritatif tersebut dapat melukai jaringan gingiva pada mulut
apabila dalam penggunaan tidak menggunakan pelindung yang tepat. Pada
penelitian ini menggunakan hidrogen peroksida dengan kandungan 35%.
Luka pada gingiva yang dihasilkan akibat hidrogen peroksida adalah
luka bakar. Luka pada jaringan gingiva tersebut melewati berbagai fase seperti
fase inflamasi, fase proliferasi dan fase remodelling. Pada proses
penyembuhan luka tersebut dapat dilakukan dua perlakuan yaitu 1) pemberian
obat kimia dan 2) pemberian obat tradisional. Daun papaya (Carica Papaya L.)
merupakan pohon Asia yang telah digunakan dalam obat tradisional yang
mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan penting dalam
proses penyembuhan luka. Pada penelitian ini mengunakan gel ekstrak daun
gingiva yang diakibatkan oleh hidrogen peroksida sebagai bahan bleaching
melalui pengamatan penurunan ukuran diameter luka dan jumlah sel limfosit
C. Kerangka Konsep
Keterangan : Garislurus ( ) = dilakukan penelitian
[image:54.595.137.514.123.646.2]Garis putus-putus (---) = tidak dilakukan penelitian
Gambar 4. Kerangka konsep Bleaching
Efek Samping
Gigi Sensitif Iritasi Gingiva
Bahan Bleaching
Proses penyembuhan Luka Hidrogen Peroksida (H2O2) konsentrasi 30%
Fase Remodelling Fase Proliferasi
Fase Inflamasi
Daun papaya (Carica Papaya L.)
Limfosit Neutrofil Makrofag Fibroblas
Pengukuran diameter luka Obat kimia
Obat Herbal
Pengobatan Luka
D. Hipotesis
Berdasarkan teori yang diuraikan pada tinjauan pustaka, maka hipotesis
penelitian ini adalah pemberian gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.)
konsentrasi 75% efektif terhadap penyembuhan luka gingiva akibat efek
samping hidrogen peroksida 35% sebagai bahan bleaching ditinjau dari
penurunan diameter luka dan penurunan jumlah sel limfosit.
38 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental laboratoris
in vivo pada tikus Sprague Dawley jantan.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan di beberapa tempat, yaitu :
a. Daun pepaya diperolehdari Perkebunan Muntilan.
b. Pembuatan ekstrakdaun pepaya (Carica papaya)dilaksanakan di
Laboratorium Farmasi unit II Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
c. Pembuatan gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya)dilaksanakan di