• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS GEL EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica Papaya L.) 75% TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKIBAT BAHAN BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIFITAS GEL EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica Papaya L.) 75% TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKIBAT BAHAN BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh: PERUCA DWI LESTARI

20120340031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

(2)

i

KARYA TULIS ILMIAH

EFEKTIFITAS GEL EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica Papaya L.) 75% TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKIBAT BAHAN

BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh: PERUCA DWI LESTARI

20120340031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN KTI

EFEKTIFITAS GEL EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica Papaya L.) 75% TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKIBAT BAHAN

BLEACHING (DITINJAU DARI DIAMETER LUKA DAN JUMLAH SEL LIMFOSIT)

Disusun Oleh:

PERUCA DWI LESTARI 20120340031

Telah disetujui dan diseminarkan pada tanggal : 30 Mei 2016

Dosen Pembimbing Dosen Penguji

drg. Any Setyawati Sp. KG drg. Sartika Puspita, MDSc NIK : 19741202200710173084 NIK : 19791028200910173109

Mengetahui,

Kaprodi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas MuhammadiyahYogyakarta

(4)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama : Peruca Dwi Lestari

NIM : 20120340031

Program Studi : Pendidikan Dokter Gigi

Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis

ini benar–benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau

dikutip dalam karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain

telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir

Karya Tulis Ilmiah ini. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan

Karya Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas

perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 30 Mei 2016

Tanda tangan

(5)

iv MOTTO

“Semua hal yang dilakukan dengan pikiran yang positif akan menghasilkan

sesuatu yang positif, selalu berbuat baik kepada semua orang sekecil apapun,

karena yakin bahwa Allah maha melihat dan akan membalas semua perbuatan

makhluknya sesuai dengan apa yang dia perbuat. “

Peruca Dwi Lestari

“Hasil tidak akan mengkhianati suatu proses. Maka nikmatilah segala proses,

jalanilah dengan hati yang ikhlas, dan usaha yang keras”

(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini persembahkan untuk :

ALLAH S.W.T

Keluarga yang selalu memberikan dukungan, terutama kedua orangtua penulis

ibu Hj. Sri Redjeki, ayah Ir. H. Setio Purwanto, kakak kandung Renata Nurul

Setyawati, keluarga besar, dan Alan Hendrawan atas doa dan dukunganya

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang

telah memberikan rahmah dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai

gelar sarjana Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Penyusun Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Efektifitas gel ekstrak daun pepaya

(carica papaya l. ) 75% terhadap penyembuhanlukaakibatefek samping bleaching

(ditinjau dari diameter luka gingiva dan jumlah sel limfosit)” dapat diselesaikan

tanpa halangan suatu apapun, tentu karya tulis ilmiah ini dapat selesai berkat dan

tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini

penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya

sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

2. Kedua orangtua peneliti yang selalu memberikan doa, dukungan, semangat,

materi, dan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah

ini.

3. dr. H. Ardi Pramono, Sp. An., M. Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

4. drg. Hastoro Pintadi, Sp. Prost., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

5. drg. Any Setyawati sp. KG., selaku dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah

(8)

vii

bimbingan dan dorongan yang sangat berguna bagi peneliti dalam

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

6. drg. Yusrini Pasril, Sp.KG., selaku dosen penguji proposal Karya Tulis Ilmiah

ini yang telah bersedia memberikan banyak bimbingan sehingga peneliti dapat

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

7. drg. Tita Ratya Utari, Sp.Ort., selaku dosen penguji proposal Karya Tulis

Ilmiah ini yang telah bersedia memberikan banyak bimbingan sehingga

peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

8. drg. Sartika Puspita, MDSc.,selaku dosen penguji Karya Tulis Ilmiah ini yang

telah bersedia memberikan banyak bimbingan sehingga peneliti dapat

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

9. Seluruh dosen Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta, dan dosen-dosen pakar yang telah banyak memberikan

pengarahan kepada penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

10.Seluruh staf dan karyawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

11.Renata Nurul Setyawati, selaku kakak kandung penulis yang selalu

memberikan dukungan dan semangat.

12.Alan Hendrawan, Adhila Shintia Devi, dan Novia Arisandi sebagai partner

karya tulis ilmiah peneliti yang selalu memberikan semangat serta kerja sama

yang baik dan telah mau berbagi ilmiah dengan saya.

13.Agil, Nadya, Eliza dan Shanni yang selalu memberi doa dan dukungannya.

14.Teman-teman prodi Kedokteran Gigi angkatan 2012 yang selalu meramaikan

(9)

viii

15.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis ucapkan terima

kasih atas bantuan serta dukungan selama ini.

Semua bantuan yang diberikan kepada penulis semoga mendapatkan balasan

dan karunia yang lebih dari Allah SWT. Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih

jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

membangun demi kebaikan penulisan ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi

kemajuan ilmu Kedokteran Gigi pada umumnya dan bermanfaat bagi pembaca

khususnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Yogyakarta, 30 Mei 2016

Penulis

(10)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN KTI ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii

MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ...v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

INTISARI ... xii

ABSTRACT ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. KeaslianPenelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah pustaka ... 12

1. Gigi ... 12

2. Bleaching ... 14

3. Cedera sel dan luka ... 17

4. Penyembuhan luka ... 18

5. Sel Limfosit ... 20

6. Obat Kimia ... 26

7. Obat Herbal ... 26

8. Ekstrak ... 29

9. Gel ... 31

10. Tikus Putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley ... 32

B. Landasan Teori ... 34

C. Kerangka Konsep ... 36

D. Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 38

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38

C. Subyek dan Sampel Penelitian ... 38

D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi... 40

E. Identifikasi Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 41

F. Instrumen Penelitian ... 44

G. Cara Kerja ... 46

H. CaraPengamatan dan Pengumpulan Data ... 52

I. Analisi Data ... 53

(11)

x

K. Alur Penelitian ... 54 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 55 B. Pembahasan ... 71 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil rata rata diameter luka ...58

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk pada Kelompok Perlakuan ...60

Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas pada Diameter Luka ...61

Tabel 4. Hasil uji One Way AnovaDiameter Luka ...61

Tabel 5. Uji Least Significant Difference pada Kelompok Perlakuan ...62

Tabel 6. Rata rata sel Limfosit Setiap Kelompok pada Proses Penyembuhan Luka Gingiva tikus (Sprague Dawley) Jantan...66

Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk pada Kelompok Perlakuan ...67

Tabel 8. Hasil Uji Homogenitas pada Jumlah Limfosit ...68

Tabel 9. Hasil uji One Way AnovaJumlah sel Limfosit ...69

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bentukan limfosit dilihat secara mikroskopis ...21

Gambar 2. Daun Pepaya (Carica papaya) ...28

Gambar 3. Tikus Putih(Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley ...33

Gambar 4. Kerangka konsep ...36

Gambar 5. Kerangka Ekstrak: ...48

Gambar 6. Alur Penelitian ...54

Gambar 7. Pengukuran diameter luka dengan sliding caliper ...56

Gambar 8. Diameter Luka Pasca induksi luka setelah 1 hari dengan hidrogen peroksida pada tikus spraguey dawley jantan ...56

Gambar 9. Diameter Luka Pasca induksi luka menggunakan hidrogen peroksida dengan menggunakan perlakuan aquades pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ...57

Gambar 10. Diameter Luka Pasca induksi luka menggunakan hidrogen peroksida dengan menggunakan perlakuan Ekstrak daun pepaya konsentrasi 75% pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ... 57

Gambar 11. Diameter Luka Pasca induksi luka menggunakan hidrogen peroksida dengan menggunakan perlakuan kenalog in orabase pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ... 58

Gambar 12. Gambaran mikroskopis dengan perbesaran 40x menggunakan pewarnaan HE perlakuan Ekstrak daun pepaya konsentrasi 75% pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ...64

Gambar 13. Gambaran mikroskopis dengan perbesaran 40x menggunakan pewarnaan HE perlakuan kenalog in orabase pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7 ...65

Gambar 14. Gambaran mikroskopis dengan perbesaran 40x menggunakan pewarnaan HE perlakuan Aquades pada tikus spraguey dawley jantan pada hari ke 1,3,5, dan 7... 65

(14)

xiii INTISARI

Latar Belakang : Salah satu efek samping dari Hidrogen peroksida 35% adalah menyebabkan inflamasi pada gingiva. Sel yang terkandung pada saat fase infamasi adalah sel limfosit. Daun Pepaya mengandung senyawa aktif saponin, tanin, dan flavonoid. Kandungan senyawa aktif daun pepaya dapat berperan sebagai antiinflamasi dan mempercepat penyembuhan luka.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas gel ekstrak daun pepaya terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka pada proses penyembuhan lukaakibat bahan bleaching.

Metode Penelitian : Desain penelitian ini adalah eksperimental murni in vivo. Subjek pada penelitian ini menggunakan tikus jantan sebanyak 33 ekor. Tikus diberi perlukaan dengan Hidrogen Peroksida 35 % menggunakan microbrush. Dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok I (Kenalog) sebagai kontrol positif, kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya), kelompok III (Aquades) sebagai kontrol negatif. . Perlakuan dilakukan setiap hari dan hari ke 1,3,5 dan 7 tikus diambil satu secara acak untuk pengukuran diameter luka dan dekapitulasi rahang. Pembuatan preparat dengan perwarnaan HE. Dan dilakukan perhitungan jumlah sel limfosit. Analisa data menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk, kemudian dilakukan uji hipotesis One WayAnova, dan uji lanjutan dengan uji

Least Significant Differences.

Hasil : Didapatkan 2 data yaitu Diameter luka dan jumlah sel limfosit. Hasil uji normalitas Shapiro Wilk (p-value> 0,05), menunjukan distribusi data yang normal. Hasil uji One Way Anova diperoleh nilai signifikansi 0,039 (p-value< 0,05), terdapat perbedaan jumlah sel limfosit diantara ketiga kelompok, hasil uji

Least Significant Differences diperoleh jumlah sel limfosit signifikan pada kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya 75%).

Kesimpulan : Pemberian gel ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L.)

konsentrasi 75% efektif terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka terhadap penyembuhan luka akibat bahan bleaching pada tikus (Sprague Dawley) jantan (p<0,05).

Kata Kunci : Gel ekstrak daun pepaya, sel limfosit, Penyembuhan luka, hydrogen

(15)

xiv ABSTRACT

Background : One side effect of the hydrogen peroxide 35% is causing inflammation of the gingiva . Cells contained in the phase of inflamation is lymphocyte cells . The Papaya leaves contains some active compound of saponin , tannins and flavonoids . The active compound of the papaya leaves can be as an anti-inflammatory substance and wound healing

Research Objectives : This research aims to determine the effectiveness of papaya leaves extract gel towards amount oflymphocyte cells and wound diameter in the process of wound healing causes by bleaching materials on male rats.

Research methods : The research design was purely experimental in vivo. The subject of this research was 33 male rats. The rats given the injury with Hydrogen Peroxide 35% using microbrush. The subject which were divided into three treatment groups. The first group is (kenalog) as a positive control, the second group (papaya leaves extract gel 75%), the third group is (Aquades) as a negative control. The treatment was done every day and in day 1,3,5 and 7 the rats were taken at random for measuring the diameter of the wound and recapitulation of the jaw. The preparat of tool was colored by HE. Furthermore, observe the number of lymphocytes in the preparations. Data analysis was using the Shapiro Wilk normality test, and the it was tested by using the hypothesis One Way Anova, and advanced testing with theLeast Significant Differences.

Results : There are tworesults in this research which iswound diameter and the amount of lymphocytes cells . The Shapiro Wilk normality test results ( p - value> 0.05 ), it indicates that the data has normal distribution of data . One Way Anova test results significance value of 0.039 ( p - value < 0.05 ) , it means there is a differences in the number of lymphocytes among the three groups , the test results obtained Least Significant Differences lymphocyte cell counts significantly in group II ( Gel papaya leaf extract 75 % )

Conclusion : The provision of papaya extract gel concentration of 75% effective to decrease the number of lymphocytes and the diameter of the wound in the process of wound healing causes by bleaching materials in male rats( p < 0.05 ) .

(16)
(17)

i INTISARI

Latar Belakang : Salah satu efek samping dari Hidrogen peroksida 35% adalah menyebabkan inflamasi pada gingiva. Sel yang terkandung pada saat fase infamasi adalah sel limfosit. Daun Pepaya mengandung senyawa aktif saponin, tanin, dan flavonoid. Kandungan senyawa aktif daun pepaya dapat berperan sebagai antiinflamasi dan mempercepat penyembuhan luka.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas gel ekstrak daun pepaya terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka pada proses penyembuhan lukaakibat bahan bleaching.

Metode Penelitian : Desain penelitian ini adalah eksperimental murni in vivo. Subjek pada penelitian ini menggunakan tikus jantan sebanyak 33 ekor. Tikus diberi perlukaan dengan Hidrogen Peroksida 35 % menggunakan microbrush. Dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok I (Kenalog) sebagai kontrol positif, kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya), kelompok III (Aquades) sebagai kontrol negatif. . Perlakuan dilakukan setiap hari dan hari ke 1,3,5 dan 7 tikus diambil satu secara acak untuk pengukuran diameter luka dan dekapitulasi rahang. Pembuatan preparat dengan perwarnaan HE. Dan dilakukan perhitungan jumlah sel limfosit. Analisa data menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk, kemudian dilakukan uji hipotesis One WayAnova, dan uji lanjutan dengan uji

Least Significant Differences.

Hasil : Didapatkan 2 data yaitu Diameter luka dan jumlah sel limfosit. Hasil uji normalitas Shapiro Wilk (p-value> 0,05), menunjukan distribusi data yang normal. Hasil uji One Way Anova diperoleh nilai signifikansi 0,039 (p-value< 0,05), terdapat perbedaan jumlah sel limfosit diantara ketiga kelompok, hasil uji

Least Significant Differences diperoleh jumlah sel limfosit signifikan pada kelompok II (Gel ekstrak daun pepaya 75%).

Kesimpulan : Pemberian gel ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L.)

konsentrasi 75% efektif terhadap penurunan jumlah sel limfosit dan diameter luka terhadap penyembuhan luka akibat bahan bleaching pada tikus (Sprague Dawley) jantan (p<0,05).

Kata Kunci : Gel ekstrak daun pepaya, sel limfosit, Penyembuhan luka, hydrogen

(18)

ii ABSTRACT

Background : One side effect of the hydrogen peroxide 35% is causing inflammation of the gingiva . Cells contained in the phase of inflamation is lymphocyte cells . The Papaya leaves contains some active compound of saponin , tannins and flavonoids . The active compound of the papaya leaves can be as an anti-inflammatory substance and wound healing

Research Objectives : This research aims to determine the effectiveness of papaya leaves extract gel towards amount oflymphocyte cells and wound diameter in the process of wound healing causes by bleaching materials on male rats.

Research methods : The research design was purely experimental in vivo. The subject of this research was 33 male rats. The rats given the injury with Hydrogen Peroxide 35% using microbrush. The subject which were divided into three treatment groups. The first group is (kenalog) as a positive control, the second group (papaya leaves extract gel 75%), the third group is (Aquades) as a negative control. The treatment was done every day and in day 1,3,5 and 7 the rats were taken at random for measuring the diameter of the wound and recapitulation of the jaw. The preparat of tool was colored by HE. Furthermore, observe the number of lymphocytes in the preparations. Data analysis was using the Shapiro Wilk normality test, and the it was tested by using the hypothesis One Way Anova, and advanced testing with theLeast Significant Differences.

Results : There are tworesults in this research which iswound diameter and the amount of lymphocytes cells . The Shapiro Wilk normality test results ( p - value> 0.05 ), it indicates that the data has normal distribution of data . One Way Anova test results significance value of 0.039 ( p - value < 0.05 ) , it means there is a differences in the number of lymphocytes among the three groups , the test results obtained Least Significant Differences lymphocyte cell counts significantly in group II ( Gel papaya leaf extract 75 % )

Conclusion : The provision of papaya extract gel concentration of 75% effective to decrease the number of lymphocytes and the diameter of the wound in the process of wound healing causes by bleaching materials in male rats( p < 0.05 ) .

(19)

1 A. Latar Belakang Masalah

Warna gigi normal pada manusia adalah kuning keabu-abuan, putih

keabu-abuan, dan putih kekuning-kuningan. Warna gigi ditentukan oleh

ketebalan email, ketebalan dentin, warna dentin yang melapisi bawahnya,

warna pulpa dan transluensi. Gigi manusia dapat berubah warna, hal tersebut

dinamakan diskolorisasi gigi atau perubahan warna. (Grossman, 1995).

Prosedur restorasi gigi yang digunakan untuk memodifikasi bentuk gigi,

merapikan gigi atau warna gigi sangat berguna untuk mencapai tujuan estetik.

Salah satu prosedur yang digunakan adalah bleaching. Prosedur bleaching

merupakan alternatif perawatan restoratif yang popular yang tujuannya untuk

mencapai warna enamel yang lebih terang (Kermanshah, dkk., 2013). Untuk

mengetahui penggunaan teknik-teknik yang terlibat dalam bleaching, penting

diketahui penyebab dan lokasi penyebab perubahan warna, serta berbagai

macam metode perawatan yang dapat dilakukan (Walton dan Torabinejad,

2008). Prosedur bleaching memiliki berbagai macam cara, diantaranya; 1)

Bleaching dapat dikerjakan di klinik oleh dokter gigi secara langsung (office

bleaching), 2) Bleaching dapat dilakukan dirumah dengan pantauan dokter

gigi (home bleaching) (Aschheim danDale, 2001).

Bahan bleaching yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi antara lain

cairan hidrogen peroksida, karbamid peroksida dan natrium perborat. Bahan

(20)

adalah oksidator. Hidrogen peroksida dan karbamid peroksida terutama

diindikasikan untuk pemutihan secara eksternal, sedangkan natrium perborat

dipakai untuk pemutihan secara internal (Walton dan Torabinejad, 2008).

Contoh produk hidrogen peroksida yang ada di pasaran adalah Superoxol,

bahan ini mengandung hidrogen peroksida sebesar 30%. Dan bahan ini dapat

menyebabkan luka pada kulit (Sidauruk, dkk., 2009).

Bleaching mempunyai 2 efek samping yang paling sering dijumpai,

yaitu gigi sensitif dan iritasi gingiva. Selain itu bisa juga menyebabkan sakit

tenggorokan, rasa perih pada jaringan rongga mulut dan sakit kepala(Jenssen

dan Tran, 2011).

Secara umum, iritasi gingiva dapat menyebabkan cedera pada sel.

Penyebab cedera sel sangat bervariasi, mulai dari kekerasan fisik eksternal

dan penyebab endogen atau internal. Penyebab cedera sel dapat

dikelompokkan dalam kategori seperti kekurangan oksigen, faktor fisik,

kimiawi, dan biologis, reaksi imunologis, kelainan genetik dan

ketidakseimbangan nutrisi (Syamsuhidayat, dkk., 2012). Salah satu zat kimia

yang dapat menyebabkan cedera pada sel yang terkandung dalam bahan

bleaching adalah hidrogen peroksida 35%. Bahan tersebut merupakan bahan

yang tajam dan dapat menyebabkan gingiva terbakar dan mengelupas. Apabila

bahan kimia yang kuat ini dipakai pada jaringan lunak, harus dilapisi dengan

menggunakan pasta pelindung (Walton dan Torabinejad, 2008). Luka yang

timbul mengakibatkan gangguan pada struktur jaringan yang utuh dan dapat

(21)

2005). Adanya luka pada gingiva menyebabkan terganggunya perlindungan

gingiva terhadap infeksi maupun kerusakan mekanis akibat hilangnya

kontinuitas jaringan sehingga integritas jaringan tulang yang berada dibawah

gingiva dapat terancam (Abrams, 1994). Selain itu luka yang biasa disebabkan

oleh zat kimia adalah luka bakar (Syamsuhidayat, dkk. 2012).

Penyembuhan luka yang paling sederhana dapat dilakukan secara alami

oleh tubuh. Seperti pada insisi pembedahan, yang tepi lukanya dapat saling

didekatkan untuk dimulainya proses penyembuhan. Penyembuhan semacam

itu disebut penyembuhan primer (Price & Wilson, 2006). Proses

penyembuhan luka dibagi menjadi tiga fase, meliputi fase inflamasi, fase

poliferatif, dan fase remodeling (Syamsuhidayat, dkk., 2012). Dalam fase

inflamasi terdapat sel limfosit yang umumnya terdapat di dalam eksudat

dalam jumlah yang sangat sedikit hingga waktu yang cukup lama, yaitu

sampai reaksi-reaksi peradangan menjadi kronis. Karena fungsi-fungsi

limfosit yang diketahui semuanya berada dalam bidang imunologik (Price dan

Wilson, 2006).

Selain hal tersebut pada proses inflamasi terdapat kerusakan

mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke

jaringan radang (Ganiswara, 2005). Leukosit atau sel darah putih terdiri dari

beberapa jenis Sel seperti neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, monosit yang

berinterkasi satu sama lain dalam proses inflamasi (Effendi, 2003).

Limfosit adalah leukosit mononuklear yang berdiameter antara 7-20 μm,

(22)

yang berwarna biru pucat. Pada prose peradangan sel limfosit muncul sebagai

reseptor antigen yang pada kondisi tepat menginduksi suatu respon

imunospesifik dan bereaksi dengan produk produk respon tersebut (Dorland,

2002). Limfosit dapat menjadi lebih sensitif selama stadium seluler lebih

lanjut. Sensitifitas ini dapat muncul pada saat sel plasma memproduksi

antibodi atau pada saat limfosit T memproduksi limfokin untuk

mempermudah proses peradangan (Saraf, 2006).

Limfosit umumnya terdapat pada eksudat dalam jumlah yang sangat

kecil untuk waktu yang cukup lama yaitu sampai reaksi peradangan menjadi

kronik (Price dan Wilson, 2005). Menurut Bellanti (1993) pada proses

keradangan, limfosit berfungsi memberikan respons imunologik untuk

melawan agen asing dengan fenomena humoral dan seluler spesifik. Limfosit

memiliki peranan fungsional yang berbeda, yang semuanya berhubungan

dengan reaksi imunitas dalam bertahan terhadap serangan mikroorganisme,

makromolekul asing dan sel kanker. Limfosit T secara langsung

menghancurkan sel-sel sasaran spesifik, suatu proses yang dikenal sebagai

respon imun yang diperantarai sel hidup (respon imun seluler). Sel yang

menjadi sasaran limfosit T mencakup sel-sel tubuh yang dimasuki oleh virus

dan sel kanker (Sherwood, 2001).

Menurut Savage dan McCullough, (2005) pengobatan untuk

penyembuhan luka pada mukosa mulut bisa menggunakan topikal

kortikosteroid. Topikal kortikosteroid berfungsi sebagai agen anti-inflamasi.

(23)

kenalog in orabase, salep hydrocortisone acetate 1% dan salep

bethamethasone dipropionate 0,05%.Obat kimia merupakan upaya untuk

mempercepat proses penyembuhan luka, seperti penggunaan topikal

kortikosteroid yang dianjurkan untuk pengobatanulserasi pada mukosa mulut.

Kenalog® merupakan jenis topical kortikosteroid yang sudah banyak

digunakan sebagai agen anti inflamasi untuk mengobati luka pada mukosa

mulut (Krasteva,dkk., 2010). Menurut Skidmore–Roth (2014), triamcinolone

acetonide memiliki kontraindikasi terhadap infeksi jamur, virus, atau bakteri

pada mulut dan tenggorokan. Hal tersebut perlu diperhatikan karena

penggunaan kortikosteroid pada masa infeksi aktif dapat menekan sistem

imun tubuh (McGee dan Hirschmann, 2008). Salah satu efek samping

kortikosteroid topikal pada mukosa oral adalah meningkatnya pertumbuhan

Candida sp. dalam rongga mulut yang dapat menyebabkan kandidiasis (Eisen

dan Lynch, 2001; Savage dan McCullough, 2005). Adanya kontraindikasi dan

efek samping yang tinggi akibat penggunaan obat antiinflamasi golongan

steroid, maka saat ini banyak dikembangkan pengobatan yang berasal dari

bahan alami seperti suplemen dan obat herbal sebagai pereda rasa nyeri dan

inflamasi (Maroon dkk., 2010).

Indonesia mempunyai lebih dari 20.000 jenis tumbuhan obatdan 300

jenis diantaranya sudah dimanfaatkan sebagai obat herbal. Pepaya (Carica

papaya) adalah salah satu tanaman berkhasiat yang bisa dijadikan obat. Salah

satu bagian dari tanaman pepaya yang berkhasiat obat ialah daunnya. Daun

(24)

(Yapian, dkk., 2013).Daun papaya memiliki kandungan senyawa aktif berupa

enzim papain dan flavonoid sebagai anti inflamasi. Ekstrak daun pepaya

mempunyai efek antiinflamasi berupa penurunan jumlah sel makrofag

(Aldelina, dkk., 2013).

Berbagai macam tumbuhan herbal yang ada dibumi memiliki banyak

manfaat dan pada dasarnya semua tumbuhan yang ada dibumi itu baik, sesuai

dalam Al-Quran surat Asy-Syuara ayat 7 yang berbunyi :

مي ك جْ ّلك ْ م ا يف ا ْتبْ أ ْمك ضْ ْْا ىلإ اْ ي ْمل أ

Artinya, “Dan apakah mereka tidak memperlihatkan bumi, betapa kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik”.

Penggunaan sumber daya yang ada dibumi harus dimanfaatkan dengan

bijaksana dan maksimal sesuai manfaatnya, sesuai dalam surat Al-Quran surat

Al-Isra ayat 27 :

ّ إ ي ّ ب ْلاا اك ا ْخإ يطايّشلاۖ اك اطْيّشلا ّب لً فكا

Artinya, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah

saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Berdasarkan ayat diatas peneliti memaknai bahwa Allah SWT

menciptakan semua tumbuhan di dunia ini baik dan mempunyai manfaat, kita

harus memaksimalkan pemanfaatan dari tumbuhan tersebut agar kita tidak

termasuk orang yang boros. Bahan uji seperti obat yang akan dimanfaatkan

pada manusia harus lolos dari pengujian laboratorium secara tuntas dan

dilanjutkan dengan penelitian pada hewan percobaan untuk mengetahui

(25)

dan mengkaji seluruh reaksi dan interaksi bahan uji yang diberikan, serta

dampak yang dihasilkan secara utuh dan mendalam (EndiRidwan, 2013).

Pemanfaatan daun papaya (Carica Papaya L ) masih jarang, terutama dalam

bidang kedokteran gigi. Berdasarkan latarbelakang tersebut peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang efektifitas gel ekstrak daun papaya

(Carica Papaya L.) terhadap penyembuhan luka gingiva akibat bahan

bleachin gyaitu hidrogen peroksida melalui pengamatan penurunan diameter

luka pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley jantan

Menurut Adiyati (2011), hewan coba merupakan hewan yang

dikembang biakkan untuk digunakan sebagai hewan uji coba. Tikus sering

digunakan pada berbagai macam penelitian medis selama bertahun - tahun.

Hal ini disebabkan karena tikus memiliki karakteristik genetik yang unik,

mudah berkembang biak, murah serta mudah untuk mendapatkannya. Pada

penelitian ini menggunakan tikus putih Sprague Dawley jantan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat

dirumuskan suatu permasalahan yaitu apakah gel ekstrak daun papaya (Carica

Papaya L.) konsentrasi 75% efektif mempercepat penyembuhan luka yang

diakibatkan oleh hidrogen peroksida konsentrasi 35% sebagai bahan

(26)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tujuan umum

Mengetahui efektifitas gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.)

konsentrasi 75% dalam mempercepat proses penyembuhan luka gingiva

yang diakibatkan oleh hidrogen peroksida konsentrasi 35% sebagai bahan

bleaching pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley

jantan.

2. Tujuan khusus

Mengetahui efektifitas gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.)

konsentrasi 75% terhadap penurunan diameter luka dan jumlah sel

limfositpada proses penyembuhan luka gingiva yang diakibatkan oleh

hidrogen peroksida konsentrasi 35% sebagai bahan bleaching pada tikus

putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley jantan.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi peneliti

Menambah pengalaman dan mendapat informasi baru mengenai

manfaat gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.) sebagai terapi

alternatif dalam penyembuhan luka gingiva yang diakibatkan oleh

hidrogen peroksida sebagai bahan bleaching pada tikus putih (Rattus

norvegicus) galur Sprague Dawley jantan melalui pengamatan penurunan

(27)

2. Bagi masyarakat

Menambah wawasan publik tentang terapi alternatif dalam upaya

peningkatan durasi penyembuhan luka gingiva dan menambah nilai

ekonomis dari daun pepaya.

3. Bagi ilmu pengetahuan

Memberikan informasi baru dalam ilmu kedokteran khususnya

kedokteran gigi dan diharapkan penelitian ini menjadi acuan dalam

melakukan penelitian selanjutnya mengenai terapi alternatif dalam

penyembuhan luka gingiva yang diakibatkan oleh iritasi hidrogen

peroksida sebagai bahan bleaching.

E. KeaslianPenelitian

Terdapat beberapa penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya yaitu:

1. Efek Ekstrak Etanol Daun Awar-Awar (Ficus Septica Burm.F) terhadap

Kemampuan Epitelisasi pada Tikus (Rattus Norvegicus). Oleh Rahman,

dkk. pada tahun 2013. Penelitian tersebut menggunakan ekstrak etanol

daun awar-awar pada konsentrasi 0,5%, 1% dan 1,5%. Pada

perlukaandilakukandengan menempelkan logam panas (1000C) selama 2

detik pada daerah kulit punggung tikus.Ekstrak etanol daun awar-awar

memiliki kemampuan epitelisasi pada tikus putih dan pada konsentrasi 1.5

% sangat signifikan sebagai obat untuk penyembuhan. Perbedaannya

dengan penelitian saya adalah bahan yang digunakan berupa daun pepaya

(28)

35%. Persamaannya adalah variabel yang diamati yaitu penurunan

diameter luka sebagai indikator penyembuhan.

2. Pengaruh Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Jumlah Sel Limfosit Pada

Gingiva Tikus Wistar Jantan Yang Mengalami Periodontitis. Oleh

Bramanto dkk tahun 2014.

Penelitian tersebut dilakukan dengan memberikn induksi P. gingivalis

dengan jumlah bakteri 3 x 106 (McFarlan) dan dipasang ligature pada

regio molar kiri rahang bawah pada tikus. Dan dekapitulasi rahang tikus

untuk menghitung jumlah sel limfosit pada mikroskop. Hasil penelitian

membuktikan bahwa terjadi penurunan jumlah sel limfosit pada gingiva

tikus wistar jantan yang mengalami periodontitis setelah diberikan ekstrak

daun pepaya. Konsentrasi ekstrak daun pepaya yang paling efektif adalah

75%. Perbedaan dengan penelitian saya adalah, induksi luka yang

digunakan yaitu menggunakan bahan hidrogen Peroksida sebagai bahan

bleaching 35%. Persamaannya adalah yang diamati yaitu sel radang

limfosit melalui mikroskop.

3. Efek Pemberian Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) terhadap Jumlah

Sel Makrofag pada Gingiva Tikus Wistar yang Diinduksi Porphyromonas

gingivalis. Oleh Aldelina, dkk. pada tahun 2013. Penelitian tersebut

menyatakan bahwa terdapat efek anti inflamasi ekstrak daun pepaya

berupa penurunan jumlah sel makrofag. Peradangan (inflamasi) dilakukan

dengan menginduksikan Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi

(29)

papaya konsentrasi 25%, 50% dan 75%.Konsentrasi 75% mempunyai efek

terbesar dalam menurunkan jumlah sel makrofag. Perbedaan dengan

penelitian saya adalah indicator penyembuhan luka yang diamati berupa

penurunan diameter luka dan induksi lukanya menggunakan bahan

bleaching hidrogen peroksida 35%. Persamaannya adalah menggunakan

(30)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah pustaka 1. Gigi

a. Warna gigi normal

Warna normal gigi sulung adalah putih kebiru-biruan.

Sedangkan, warna normal gigi permanen adalah kuning keabu-abuan,

putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Warna gigi

ditentukan oleh transluensi dan ketebalan email, ketebalan dan warna

dentin yang melapisi dibawahnya, dan juga warna pulpa. Perubahan

dalam warna dapat bersifat fisiologik dan patologik atau eksogenus

dan endogenus. (Grossman, dkk., 1995).

Semakin meningkatnya usia, email manusia menjadi lebih tipis

karena abrasi atau erosi, dan dentin menjadi lebih tebal karena deposisi

dentin sekunder dan reparatif, yang menghasilkan perubahan warna

pada gigi seseorang. Dan pada orang tua biasanya gigi berwarna lebih

kuning atau keabu-abuan dibandingkan dengan gigi orang muda.

(Grossman, dkk., 1995).

b. Diskolorisasi gigi

Diskolorisasi gigi adalah suatu kondisi perubahan warna gigi

dengan etiologi multifaktorial yang diklasifikasikan sebagai ekstrinsik

(31)

kondisi sistemik dan faktor lokal seperti luka (Kermanshah, dkk.,

2013).

Klasifikasi Diskolorisasi gigi menurut (Jenssen dan Tran, 2011)

diklasifikasikan menjadi:

1) Diskolorisasi ekstrinsik

Diskolorisasi ekstrinsik biasa ditemukan pada permukaan

luar gigi dan bersifat lokal, contohnya adalah noda/stain tembakau.

Beberapa kasus diskolorisasi ekstrinsik seperti noda teh atau

tembakau dapat dihilangkan dengan scalling dan pemolesan.

2) Diskolorisasi intrinsik

Pada dislorisasi intrisik komposisi struktural pada jaringan

keras gigi berubah. Diskolorisasi intrinsik dibagi lagi menjadi dua

yaitu; a) Sistemik, seperti genetik atau dari obat-obatan dan ke b)

Lokal, seperti pendarahan pulpa atau resorbsi akar.

Menurut (Walton dan Torabinejad, 2008), penyebab perubahan

warna gigi atau diskolorisasi disebabkan oleh:

1) Noda alamiah atau didapat :

a) Nekrosis Pulpa

b) Pendarahan Intrapulpa

c) Metamorfosis kalsium

d) Defek perkembangan: Obat obatan sistemik, defek dalam

(32)

2) Perubahan warna Iatrogenik

Perubahan warna karena perawatan Endodonsi: Material

obturasi, sisa-sisa jaringan pulpa, obat-obatan intrakanal dan

restorasi korona.

2. Bleaching

a. Definisi bleaching

Bleaching bukan hal yang baru lagi dalam dunia kedokteran gigi.

Bleaching adalah upaya awal untuk mencerahkan gigi dengan bahan

pemutih sudah berlangsung lebih dari satu abad yang lalu. Bahan

pemutih dapat diaplikasikan langsung pada permukaan gigi, atau

diaplikasikan secara tidak langsung ke dalam gigi non vital. (Goldstein

dan Garber, 1995)

Bleaching dalam kedokteran gigi biasanya ditujukan pada

bahan-bahan yang mengandung Hidrogen Peroksida untuk pemutihan gigi.

Peroxide merupakan bahan bleaching yang paling sering digunakan

untuk membutuhkan waktu singkat. Kemampuan pemutihan gigi

seringkali ditunjukkan dari jumlah persentase peroxide didalamnya

(Goldstein & Garber, 1995).

b. Teknik bleaching

1) Teknik internal

Prosedur bleaching internal atau “Walking Bleach”, teknik

ini dapat digunakan untuk diskolorisasi gigi yang berasal dari

(33)

terdiri dari natrium perborate dan air atau 3% hidrogen peroksida

( H2O2 ) masing-masing dalam ruang pulpa. Tetapi penyataan

tersebut diatas dari teknik Walking bleach dengan campuran

sodium perborate dan air disebutkan dalam laporan kongres oleh

Marsh dan diterbitkanoleh Salvas ,Nutting dan Poe, dan

menganjurkan untuk penggunaan 30% Hidrogen Peroksida tidak

dengan air. (Navageni, dkk., 2011)

2) Teknik eksternal

Prosedur bleaching eksternal, atau teknik pemutihan vital

merupakan aplikasi oksidator pada permukaan email dari gigi

dengan pulpa yang masih vital. Tetapi dengan teknik eksternal

mempunyai kekurangan karena lebih banyak menggunakan

variabel daripada teknik internal. Bahan pemutih yang diletakkan

pada email yang relatif tidak permiabel, sehingga lebih sedikit

peluangnya untuk mencapai daerah yang terjadi diskolorisasi

(Walton dan Torabinejad, 2008).

c. Bahan bleaching

1) Carbamide peroxide (CH6N2O3)

Dalam 10% larutan encer Carbamide Peroxide paling banyak

digunakan pada home bleaching. Bahan ini dipecah lagi menjadi

3,35% larutan Hidrogen peroksida dan 6,65% larutan urea

(34)

digunakan oleh dokter gigi untuk prosedur home bleaching.

(Jenssen dan Tran, 2011)

2) Hidrogen peroksida (H2O2)

Menurut (Kihn, 2007), hidrogen peroksida adalah agen

pengoksidasi yang berdifusi ke gigi dan pecah menghasilkan

radikal bebas yang tidak stabil. Radikal bebas yang tidak stabil

menyerang molekul pigmen organik di ruang antara garam

anorganik yang berada pada enamel gigi bagian dalam. sehingga

unsur molekul yang berpigmem lebih kecil. Molekul kecil

mencerminkan kurang cahaya , sehingga menciptakan efek

pemutihan.

Konsentrasi hidrogen peroksida yang biasa dipakai pada in

office bleaching adalah 30-35%. Dan makin besar konsentrasi

hidrogen peroksida, makin baik efek dalam proses oksidasi.

(Goldstein dan Garber, 1995)

d. Efek samping bleaching

1) Gigi sensitif

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gigi sensitif itu

adalah penggunaan bahan glycerin yang terkandung di dalam

bahan pemutih gigi. Bahan tersebut menyebabkan penyerapan air

dari tekanan yang lebih rendah. Dalam hal ini dari email, tubulus

(35)

tersebut menyebabkan rasa ngilu dan sensitif. (Jenssen dan Tran,

2011)

2) Iritasi gingiva

Selama proses bleaching jarigan gingiva dapat mengalami

iritasi. Iritasi gingiva dapat meluas dihubungkan dengan konsetrasi

peroksida yang ditemukan pada bahan bleaching. Bisa juga

dikarenakan tray yang mendorong melawan gingiva selama proses

bleaching dan dapat menyebabkan trauma mekanis (Jenssen dan

Tran,2011).

Dua bahan bleaching yang sering dipakai adalah Sodium

Perborate dan hidrogen peroksida konsentrasi 30-35%. Bahan ini

dipakai sudah hampir selama 30 tahun. Tetapi hidrogen peroksida

memiliki dua kali lipat efek oksidator dibandingkan dengan

sodium perborate. Bahan ini memiliki efek yang lebih reaktif pada

bleaching tetapi memliki efek samping membakar jaringan lebih

besar pula. (Goldstein dan Garber, 1995)

3. Cedera sel dan luka

Menurut (Hasibuan,dkk., 2010) luka adalah hilang atau rusaknya

sebagian jaringan tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh trauma benda

tajam dan tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, segatan listrik atau

(36)

Terdapat beberapa jenis luka menurut (Hasibuan, dkk., 2010) yaitu

antara lain;

a. Luka bakar

Luka bakar dapat menyebabkan hilangnya integritas kulit dan

juga menimbulkan efek sistemik yang sangat kompleks. Penyebab luka

bakar adalah paparan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan

kimia.

b. Luka akibat zat kimia

Luka tersebut dapat disebabkan karena kelengahan,

pertengkaran, kecelakaan kerja atau kecelakaan industri laboratorium.

Kerusakan yang terjadi sebanding dengan kadar dan jumlah bahan

yang mengenai tubuh, cara dan lamanya kontak, dan juga sifat dan

cara kerja zat kimia tersebut.

4. Penyembuhan luka

Penyembuhan luka dapat dibagi menjadi 3 fase menurut (Hasibuan,

dkk., 2010):

a. Fase inflamasi (peradangan)

Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka. Pendarahan

yang diakibatkan oleh terputusnya pembuluh darah akan dihentikan

oleh tubuh dengan vasokontriksi, pengerutan ujung pembuluh darah

yang putus (retraksi), dan reaksi hemostasis. Tanda dan gejala klinis

reaksi radang berupa rubor (merah), kalor (panas), dolor (nyeri) dan

(37)

Dalam fase ini terdapat aktivitas seluler yang terjadi yaitu

pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka

karena daya kemotaksis (Hasibuan,dkk., 2010). Salah satu jenis

leukosit yaitu limfosit. Limfosit biasa terdapat dalam eksudat dengan

jumlah yang sangat sedikit hingga waktu yang cukup lama, yaitu

sampai reaksi peradangan menjadi kronis. (Price danWilson, 2006).

Tetapi limfosit lebih banyak terdapat di dalam stroma organ limfoid

dan dalam lamina propria saluran cerna. Pada lokasi tersebut, limfosit

berfungsi melindungi lumen usus terhadap flora bakteri (Bloom dan

Fawcett, 2002).

b. Fase proliferasi

Pada fase ini yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast.

Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira akhir

minggu ketiga. Fibroblas berasal dari sel mesenkim yang baru

berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asam amino glisin,

dan prolin yang merupakan bahan dasar serat kolagen yang akan

mempertautkan tepi luka(Syamsuhidayat, dkk., 2012).

c. Fase remodelling

Fase remodeling merupakan proses pematangan yang terdiri atas

penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan yang sesuai

dengan gaya gravitasi, dan akhirnya menghasilkan penampakan ulang

jaringan yang baru. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan

(38)

ini berlangsung, dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lentur.

Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir fase ini,

penampakan luka kulit mampu menahan renggangan kira-kira 80%

kemampuan kulit normal (Syamsuhidayat, dkk., 2012).

5. Sel Limfosit

a. Definisi Limfosit

Limfosit merupakan komponen yang beradaptasi dengan sistem

imun. Limfosit mengatur pembentukan antibody (Feldman, 2000).

Sistem imun tubuh terdiri atas dua komponen utama, yaitu limfosit B

dan limfosit T. Sel B bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral

yang bersirkulasi yang dikenal dengan nama imunoglobulin. Sel T

terlibat dalam berbagai proses imunologik yang diperantarai oleh sel.

Imunoglobulin plasma merupakan imunoglobulin yang disintesis di

dalam sel plasma. Sel plasma merupakan sel khusus turunan sel B

yang mensintesis dan mensekresikan imonoglobulin ke dalam plasma

sebagai respon terhadap paparan berbagai macam antigen (Murray,

2003).

Limfosit memiliki nucleus besar bulat dengan menempati

sebagian besar sel limfosit berkembang dalam jaringan limfe. Ukuran

bervariasi dari 7 sampai dengan 15 mikron. Banyaknya 20-25% dan

fungsinya membunuh dan memakan bakteri masuk ke dalam jaringan

(39)
[image:39.595.246.433.111.239.2]

Gambar 1. Bentukan limfosit dilihat secara mikroskopis Sumber : Tagliasacchi dan Carboni, 1997

b. Jenis Limfosit

Menurut Fawcet (2002) berdasarkan diameter dan jumlah relatif

sitoplasmasnya limfosit dibagi menjadi tiga, yaitu:

1) Limfosit kecil

Limfosit kecil mendominasi dalam darah, memiliki inti sferis

yang mana terlihat lekukan kecil pada salah satu intinya yang

bulat, kromatinnya padat dan tampak sebagai gumpalan kasar,

sehingga inti lebih terlihat gelap pada sajian biasa. Sitoplasmanya

sangat sedikit dan pada hapusan darah tampak sebagai tepian tipis

disekitar inti. Limfosit hidup bersifat motil dan dapat menyusup

diantara sel-sel endotel pembuluh darah. Mereka juga mampu

bermigrasi melalui epitel basal lainnya (Junqueira et al., 2007).

Berdasar sifat fungsionalnya limfosit kecil digolongkan dalam dua

kelompok besar yaitu :

a) Limfosit T

Limfosit-T timbul dari dalam sel induk sumsum tulang

(40)

sel T dewasa dan meninggalkan timus. Sel T matur ikut aliran

darah dan aliran limfe torakal dan juga berada dijaringan

limfoid perifer. Sel T ini mengarahkan beragam unsur imunitas

selular juga penting untuk menginduksi imunitas humoral yang

berasal dari sel B terhadap antigen. Sel T berjumlah 60%-70%

dari limfosit dalam sirkulasi darah dan juga merupakan tipe

limfosit utama dalam selaput periarteriol limpa (Robbins et al.,

2007).

Limfosit T bertanggung jawab dalam pembentukan

limfosit teraktivasi yang dapat membentuk imunitas diperantai

sel. Ketika terpapar antigen yang sesuai, limfosit T akan

berproliferasi dan melepaskan banyak sel T yang teraktivasi,

yang kemudian akan masuk kedalam sirkulasi dan disebarkan

keseluruh tubuh, melewati dinding kapiler masuk kedalam

cairan limfe dan darah, dan bersirkulasi keseluruh tubuh

demikian seterusnya, kadang-kadang berlangsung sampai

berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun (Guyton and Hall,

2008).

Respon sel T terhadap antigen sangat bersifat spesifik,

sama seperti respon antibodi sel B. Pada kenyataannya respon

imun adaptif membutuhkan bantuan sel T untuk memulainya

dan sel T berperan penting untuk membantu melenyapkan

(41)

sel T pembantu, sel T sitotoksik dan sel T supressor (Guyton

and Hall, 2008).

b) Limfosit B

Limfosit B merupakan kelompok limfosit yang

bertanggung jawab dalam pembentukan antibodi yang

memberikan imunitas humoral. Limfosit B ini mula-mula

diolah lebih dahulu dalam hati selama masa pertengahan

kehidupan janin dan sesudah dilahirkan. Kemudian sel ini

bermigrasi ke jaringan limfoid diseluruh tubuh dimana mereka

menempati daerah yang sedikit lebih kecil daripada limfosit-T

(Guyton and Hall, 2008).

Menurut Leeson et al (1996), limfosit ini bertugas untuk

memproduksi antibodi (humoral antibody response) yang

beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus

dengan antigen asing yang menyebabkan terbentuknya antigen

asing terikat antibodi (Antibody-Coated Foreign Antigen).

Kompleks ini mempertinggi kemampuan fagositosis dan

penghancuran oleh sel pembunuh (“Nature Killer cell atau NK

cell”) dari organisme yang menyerang. Jumlah limfosit B

dalam total limfosit normal pada manusia adalah sekitar 15 %.

Nilai limfosit B mendapat rangsangan yang sesuai, akan

(42)

plasma dalam jaringan dan menghasilkan immunoglobulin

(Junqueira et al., 2007).

2) Limfosit Sedang

Menurut Bajpai (1989) limfosit sedang mempunyai ukuran

10-12 μm, dengan inti besar, eukariotik, sitoplasma lebih banyak

dan mengandung retikulum endoplasma.

3) Limfosit besar

Limfosit besar memiliki inti yang sedikit lebih besar dari

limfosit kecil. Intinya bulat atau bengkok kecil pada salah satu

sisinya. Pada mulanya sangat sulit membedakan limfosit besar dan

monosit yang sepintas agak mirip. Namun pada umumnya limfosit

besar pada umumnya lebih sedikit kecil dari monosit dan jumlah

sitoplasmanya tidak sebanyak pada monosit, dan meskipun intinya

mungkin berlekuk kecil, tidak pernah berbentuk ginjal seperti pada

monosit. Dilain pihak, bila dibandingkan dengan limfosit kecil,

limfosit besar memiliki lebih banyak sitoplasma dan tingkat

basofilia sitoplasma yang seimbang (Junqueira et al., 2007).

Hammersen (1993) membagi limfosit menjadi dua yaitu

limfosit magnus dan parvus berdasarkan gambaran histologisnya.

Limfosit magnus mempunyai sitoplasma lebih lebih tebal, lebih

banyak mengandung sitoplasma pucat dan mempunyai granula

(43)

c. Peranan Limfosit Dalam Peradangan

Limfosit umumnya terdapat pada eksudat dalam jumlah yang

sangat kecil untuk waktu yang cukup lama yaitu sampai reaksi

peradangan menjadi kronik (Price dan Wilson, 2005). Menurut

Bellanti (1993) pada proses keradangan, limfosit berfungsi

memberikan respons imunologik untuk melawan agen asing dengan

fenomena humoral dan seluler spesifik. Limfosit memiliki peranan

fungsional yang berbeda, yang semuanya berhubungan dengan reaksi

imunitas dalam bertahan terhadap serangan mikroorganisme,

makromolekul asing dan sel kanker. Limfosit T secara langsung

menghancurkan sel-sel sasaran spesifik, suatu proses yang dikenal

sebagai respon imun yang diperantarai sel hidup (respon imun seluler).

Sel yang menjadi sasaran limfosit T mencakup sel-sel tubuh yang

dimasuki oleh virus dan sel kanker (Sherwood, 2001).

Baik limfosit T maupun limfosit B juga memperlihatkan

peristiwa memori imunologik. Setiap limfosit disiapkan untuk

memberikan respon hanya terhadap satu antigen saja. Beberapa sel

yang dihasilkan itu akan berkembang menjadi sel efektor misalnya

sebuah limfosit B akan berkembang menjadi sel plasma yang

menghasilkan antibodi. Sel lain tetap tidak aktif (sel memori) namun

disiapkan untuk memberikan respon yang lebih cepat dan lebih hebat

terhadap pertemuan berikut dengan antigen spesifik itu (Junqueira et

(44)

6. Obat Kimia

Pemakaian obat topikal kortikosteroid dianjurkan untuk pengobatan

ulserasi pada mukosa mulut. Fungsinya sebagai agen antiinflamasi.

Topikal kortikosteroid dapat berupa triamcinolone acetonide 0,1%,

kenalog in orabase, salep hydrocortisone acetate 1% dan salep

bethamethasone dipropionate 0,05% (Krasteva, dkk., 2010). Kenalog

merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan luka akut dan kronis

dari mukosa mulut. Kenalog dianjurkan untuk penyembuhan stomatitis

ulseratif, erosif lichen planus, denture stomatitis, gingivitis deskuamatif,

dan stomatitis aphthous. Kenalog juga mengandung kortikosteroid topikal

yang sangat efektif dalam adesif. Dosis penggunaan kenalog pada mukosa

mulut setiap olesan atau lima gram maksimal dua sampai tiga kali dalam

sehari (Balaji, 2009).

7. Obat Herbal

Obat herbal merupakan obat-obatan yang dibuat dari bahan

tumbuhan, baik itu tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun

tumbuhan liar. Obat herbal adalah salah satu bagian dari obat tradisional

mencakup juga obat yang dibuat dari bahan hewan, mineral, atau

gabungan dari bahan hewan, mineral, dan tumbuhan (Mangan, 2003).

Pepaya

a. Klasifikasitumbuhan pepaya, yaitu:

Kingdom : Plantae

(45)

Sub-Divisi : Angiosperma

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Caricales

Famil : Caricaceae

Spesies : Carica papaya L.

(Rukmana, 1995)

b. Karakteristik

Pepaya (Carica papaya) bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman

papaya berasal dari Amerika Tengah yang beriklim tropis. Di

Indonesia, tanaman pepaya baru dikenal secara umum sekitar tahun

1930-an, khususnya di kawasan pulau Jawa (Haryoto, 1998).

Tanaman pepaya termasuk tumbuhan perdu dan dapat

tumbuh setahun atau lebih. Tinggi tanaman dapat mencapai 15 meter

(Handayani dan Maryani, 2004). Batang tanaman berbentuk bulat

lurus, berbuku-buku, di bagian tengahnya berongga, dan tidak berkayu

(Haryoto, 1998).

Bunga berwarna putih. Buah berbentuk elips, berwarna

hijau saat masih muda dan berubah kuning kemerahan setelah masak

(Handayani dan Maryani, 2004). Bagian dalam buah berongga dan

berisi banyak biji berwarna hitam (Haryoto, 1998).

Daun pepaya bertulang menjari, permukaan daun bagian atas

(46)

muda. Daun pepaya tergolong besar, tunggal, tangkainya panjang dan

[image:46.595.268.411.167.268.2]

berongga (Haryoto, 1998).

Gambar 2. Daun Pepaya (Carica papaya)

c. Kandungan dan manfaat

Kandungan zat kimia pepaya cukup banyak. Getahnya

mengandung cauthouc, damar, papaine, dan payotine. Daun pepaya

mengandung carpaine (alkaloida pahit) (Handayani dan Maryani,

2004). Kandungan alkaloid karpain menyebabkan rasa pahit pada

daun. Alkaloid memiliki aktivitas sebagai antibakteri (Kalie, 2000).

Daun pepaya juga mengandung senyawa aktif yaitu enzim papain dan

flavonoid sebagai anti radang. Penelitian sebelumnya menyatakan

enzim papain bekerja sama dengan vitamin A, C dan E untuk

mencegah radang, sedangkan flavonoid menghambat enzim

siklooksigenase dan lipooksigenase. Penghambatan kedua enzim

tersebut diharapkan dapat menurunkan proses radang (Aldelina,

dkk.,2013).

Flavonoid adalah bahan aktif yang dikenal sebagai antiinflamasi

(47)

alamiah, sebagai bakterisida, dan dapat menurunkan kadar kolesterol

jahat atau LDL didalam darah (Jaelani, 2007).

Saponin memiliki rasa pahit pada bahan pangan nabati. Saponin

berfungsi menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu

kadar kolesterol menjadi normal (Ide, 2010). Senyawa saponin

berberan sebagai antikoagulan yang berfungsi untuk mencegah

penggumpalan darah. Saponin juga berkhasiat sebagai ekspektoran,

yaitu mengencerkan dahak (Jaelani, 2007).

Tanin adalah antioksidan berjenis polifenol yang mencegah serta

menetralisasi efek radikal bebas yang merusak, menyatu, dan mudah

teroksidasi menjadi asam tanat. Sedangkan asam tanat sendiri

berfungsi membekukan protein yang berefek negatif pada mukosa

lambung (Shinya, 2008).

d. Khasiat daun pepaya

Daun papaya dimanfaatkan untuk mengobati penyakit demam,

keputihan, jerawat, penambah nafsu makan, dan pelancar ASI

(Handayani dan Maryani, 2004).

8. Ekstrak

Ekstrak merupakan sediaan kental yang diperoleh dengan

mengekstrak senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani

menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua

pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan

(48)

adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Ditjen

POM, 2000).

Proses ekstraksi dapat digunakan sebagai bahan pelarut seperti air,

etanol, atau campuran air, dan etanol (Mahendra,2008). Memilih metode

ekstraksi berdasarkan sifat bahan yang akan diolah, daya penyesuaian

dengan setiap jenis metode ekstraksi dan memperoleh ekstrak yang

sempurna (Ansel, 2008). Ada beberapa cara metode ekstraksi dengan

menggunakan pelarut menurut Ditjen POM (2000), yaitu:

a. Cara dingin

1) Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau

pengadukan pada temperatur kamar. Remaserasi berarti dilakukan

pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan

maserat pertama dan seterusnya.

2) Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru, yang

umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Prosesnya terdiri

dari tahapan pengembangan bahan, tahapan maserasi antara, tahap

perkolasi sebenarnya (penetesanataupenampungan ekstrak), terus

menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang tidak

meninggalkan sisa bila 500 mg perkolat terakhir diuapkan pada

(49)

b. Cara panas

1) Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik

didihnya, selama waktu tertentu, dan jumlah pelarut terbatas yang

relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya

dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali

sehingga proses ekstraksi sempurna.

2) Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru

yang umumnya dikakukan dengan alat khusus sehingga terjadi

ekstrak kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan

adanya pendingin balik.

3) Digesti adalah maserasi kinetik (pengadukan) pada temperatur

yang lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu secara umum

dilakukan pada temperatur 40-50ºC.

4) Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 96-98ºC

selama 15-20 menit dipenangas air dapat berupa bejana infus

tercelup dengan penangas air mendidih.

9. Gel

Gel adalah sediaan semi padat digunakan pada kulit, umumnya

sediaan tersebut berfungsi sebagai pembawa pada obat-obat topikal,

pelunak kulit atau sebagai pelindung. Gel didefinisikan sebagai suatu

system setengah padat yang tersusun baik dari partikel anorganik maupun

(50)

bersifat lunak, lembut, mudah dioleskan, dan tidak meninggalkan lapisan

berminyak pada permukaan kulit (Wardani, 2009).

Gel (gelones) terkadang disebut jelly yang merupakan system padat

(masa lembek). Gel terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel

anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan terpenestrasi

oleh suatu cairan. Jika masa gel terdiri atas jaringan partikel kecil yang

terpisah, gel digolongkan sebagai system dua fase. Dalam system dua fase,

jika ukuran partikel fase terdispersi relative besar, masa gel terkadang

dinyatakan sebagai magma yang bersifat tiksotropik, artinya massa akan

mengental jika dibiarkan dan akan mengalir kembali jika dikocok. Jika

massanya banyak air, gel itu disebut jelly (Syamsuni, 2006). Gel

digunakan pada berlendir (mukosa) atau kulit yang peka (Priyanto, 2008)

10.Tikus Putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley

Menurut Adiyati (2011), hewan coba merupakan hewan yang

dikembang biakkan untuk digunakan sebagai hewan uji coba. Tikus sering

digunakan pada berbagai macam penelitian medis selama bertahun - tahun.

Hal ini disebabkan karena tikus memiliki karakteristik genetik yang unik,

mudah berkembang biak, murah serta mudah untuk mendapatkannya.

Tikus adalah hewan yang melakukan aktivitasnya pada malam hari

(nocturnal). Tikus putih (Rattus norvegicus) atau biasa dikenal dengan

nama lain Norway Rat berasal dari wilayah Cina dan menyebar ke Eropa

bagian barat (Sirois 2005). Pada wilayah Asia Tenggara, tikus ini

(51)

(Adiyati, 2011). Tikus digolongkan ke dalam Ordo Rodentia (hewan

pengerat), Famili Muridae dari kelompok mamalia (hewan menyusui).

Menurut Priyambodo (1995) Ordo Rodentia merupakan ordo terbesar dari

kelas mamalia karena memiliki jumlah spesies (40%) dari 5.000 spesies

di seluruh mamalia

Menurut (Akbar, 2010) Klasifikasi tikus putih adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mammalia

Ordo : Rodentia

Subordo : Odontoceti

Familia : Muridae

Genus : Rattus

[image:51.595.150.452.297.645.2]

Spesies : Rattus norvegicus

Gambar 3. Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley

Tikus putih yang digunakan untuk percobaan laboratorium yang

dikenal ada tiga macam galur yaitu Sprague Dawley, Long Evans dan

(52)

ditemukan oleh seorang ahli Kimia dari Universitas Wisconsin, Dawley.

Dalam penamaan galur ini, dia mengkombinasikan dengan nama pertama

dari istri pertamanya yaitu Sprague dan namanya sendiri menjadi Sprague

Dawley (Akbar, 2010).

B. Landasan Teori

Perubahan warna gigi merupakan masalah yang cukup diperhatikan

dalam masyarakat. Bleaching merupakan salah satu prosedur restorasi untuk

merubah warna gigi menjadi lebih terang. Bahan bleaching yang digunakan

antara lain yaitu hidrogen peroksida atau karbamid peroksida. Hidrogen

peroksida yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi memiliki konsentrasi

30-35%. Bahan tersebut memiliki sifat iritatif dan dapat pula membuat gigi

sensitif. Sifat iritatif tersebut dapat melukai jaringan gingiva pada mulut

apabila dalam penggunaan tidak menggunakan pelindung yang tepat. Pada

penelitian ini menggunakan hidrogen peroksida dengan kandungan 35%.

Luka pada gingiva yang dihasilkan akibat hidrogen peroksida adalah

luka bakar. Luka pada jaringan gingiva tersebut melewati berbagai fase seperti

fase inflamasi, fase proliferasi dan fase remodelling. Pada proses

penyembuhan luka tersebut dapat dilakukan dua perlakuan yaitu 1) pemberian

obat kimia dan 2) pemberian obat tradisional. Daun papaya (Carica Papaya L.)

merupakan pohon Asia yang telah digunakan dalam obat tradisional yang

mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan penting dalam

proses penyembuhan luka. Pada penelitian ini mengunakan gel ekstrak daun

(53)

gingiva yang diakibatkan oleh hidrogen peroksida sebagai bahan bleaching

melalui pengamatan penurunan ukuran diameter luka dan jumlah sel limfosit

(54)

C. Kerangka Konsep

Keterangan : Garislurus ( ) = dilakukan penelitian

[image:54.595.137.514.123.646.2]

Garis putus-putus (---) = tidak dilakukan penelitian

Gambar 4. Kerangka konsep Bleaching

Efek Samping

Gigi Sensitif Iritasi Gingiva

Bahan Bleaching

Proses penyembuhan Luka Hidrogen Peroksida (H2O2) konsentrasi 30%

Fase Remodelling Fase Proliferasi

Fase Inflamasi

Daun papaya (Carica Papaya L.)

Limfosit Neutrofil Makrofag Fibroblas

Pengukuran diameter luka Obat kimia

Obat Herbal

Pengobatan Luka

(55)

D. Hipotesis

Berdasarkan teori yang diuraikan pada tinjauan pustaka, maka hipotesis

penelitian ini adalah pemberian gel ekstrak daun papaya (Carica Papaya L.)

konsentrasi 75% efektif terhadap penyembuhan luka gingiva akibat efek

samping hidrogen peroksida 35% sebagai bahan bleaching ditinjau dari

penurunan diameter luka dan penurunan jumlah sel limfosit.

(56)

38 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental laboratoris

in vivo pada tikus Sprague Dawley jantan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan di beberapa tempat, yaitu :

a. Daun pepaya diperolehdari Perkebunan Muntilan.

b. Pembuatan ekstrakdaun pepaya (Carica papaya)dilaksanakan di

Laboratorium Farmasi unit II Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

c. Pembuatan gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya)dilaksanakan di

Gambar

Gambar 1. Bentukan limfosit dilihat secara mikroskopis Sumber : Tagliasacchi dan Carboni, 1997
Gambar 2. Daun Pepaya  (Carica papaya)
Gambar 3. Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley
Gambar 4. Kerangka konsep
+7

Referensi

Dokumen terkait

etanol daun gulma siam dan uji efektivitas sediaan gel ekstrak etanol daun gulma terhadap penyembuhan luka sayat.. Sediaan gel di evaluasi dan diuji efektivitasnya terhadap

Kesimpulan penelitian ini adalah getah pepaya (Carica papaya L.) mempunyai efek untuk proses mempercepat penyembuhan terhadap luka sayat pada kulit.. Kata kunci :

Sedangkan antara penggunaan kitosan gel 1% dan 2% terhadap jumlah sel osteoblas pada proses penyembuhan luka. pencabutan gigi pada pengamatan 7

Pada uji sitotoksik ekstrak etanol daun pepaya terhadap sel MCF-7 terlihat bahwa peningkatan konsentrasi dapat menyebabkan penurunan persentase sel hidup namun nilai IC50

Kesimpulan: Ekstrak etanol daun sambung rambat dapat diformulasi dalam bentuk sediaan gel dan mempercepat penyembuhan luka sayat.. Kata kunci : ekstrak etanol daun

Kesimpulan: Ekstrak etanol daun gulma siam dapat diformulasi sebagai gel dan memiliki efektivitas dalam penyembuhan luka sayat, konsentrasi terbaik dalam penyembuhan

Hasil pengujian menunjukkan bahwa dengan pemberian gel ekstrak daun kerehau dapat mempercepat penyembuhan luka pada model tikus diabetes dimana sediaan gel ekstrak daun

Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa masker gel peel off ekstrak daun pepaya memenuhi persyaratan uji mutu fisik produk