• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akvifitas Lipase Dari Getah Pepaya (Carica Papaya, Linn.) Terhadap Minyak Lemak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Akvifitas Lipase Dari Getah Pepaya (Carica Papaya, Linn.) Terhadap Minyak Lemak"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

AKVIFITAS LIPASE DARI GETAH PEPAYA (Carica papaya,

Linn.) TERHADAP MINYAK LEMAK

SKRIPSI

OLEH :

GOKMAN U. SIDABUTAR

NIM 060804040

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

AKTIVITAS LIPASE DARI GETAH PEPAYA (Carica papaya,

Linn.) TERHADAP MINYAK LEMAK

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH :

GOKMAN U. SIDABUTAR NIM 060804040

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Pembimbing II,

(Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt.) NIP 195006071979031001

LEMBAR PENGESAHAN

AKTIVITAS LIPASE DARI GETAH PEPAYA (Carica papaya, Linn.) TERHADAP MINYAK LEMAK

OLEH :

GOKMAN U. SIDABUTAR NIM 060804040

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

Pada Tanggal : Juni 2011

Medan, Juni 2011 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Dekan,

(Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra., Apt.) NIP. 195311281983031002 Pembimbing I,

(Drs. Immanuel Meliala, M.Si., Apt.) NIP 195001261983031002

Panitia Penguji,

(Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt.) NIP 195008281976032002

(Drs. Immanuel Meliala, M.Si., Apt.) NIP 195001261983031002

(Drs. Syahrial Yoenoes, SU., Apt.) NIP 195112061983031001

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat

kasih dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang

berjudul ”Aktivitas Lipase dari Getah Pepaya (Carica papaya, Linn.) Terhadap

Minyak Lemak”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar sarjana farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda

tercinta, K. Sidabutar(Alm.) dan H. Sinaga, yang tiada pernah ada hentinya

berkorban dengan tulus ikhlas bagi kesuksesan penulis, juga kepada Abangku

Saut Indra E. Sidabutar dan Kakak - kakakku (Masta Yosie E. Sidabutar, Gilfrida

Nitaria Sidabutar, Dhebora K. Sidabutar, Maya S. Sidabutar) serta Leaku Julianto

P. Siregar dan Bereku tersayang Fiorenza E. J. Siregar yang selalu setia memberi

doa, dorongan dan semangat.

Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus

dan ikhlas kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi

USU Medan yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat

menyelesaikan pendidikan.

2. Ibu Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt. selaku penasehat akademis yang telah

memberikan bimbingan kepada penulis selama ini dan Bapak dan Ibu staf

pengajar Fakultas Farmasi USU Medan yang telah mendidik selama

(5)

3. Drs. Immanuel S. Meliala, M.Si, Apt. dan Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc,

Apt. selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan, dan

nasehat selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt., Bapak Drs. Syahrial Yoenoes,

SU., Apt., Apt. dan Ibu Dra. Masria Lasma Tambunan, M.Si., Apt. selaku

dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran, dan arahan kepada penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak kepala Laboratorium Sintesa Bahan Obat serta staf yang telah

membimbing dan memberikan fasilitas serta petunjuk selama penelitian.

6. Sahabat-sahabatku panitia ”Unity In Christ”, ”Imagodei”, Rico Ngeri, Ribut,

Komting, Mumu, Aulia, Hendo, Ari, Yogi serta rekan-rekan farmasi stambuk

2006, senior dan junior mahasiswa fakultas farmasi, para asisten laboratorium

steril serta kawan-kawan yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang

memberi bantuan, dukungan, motivasi, dan inspirasi selama masa perkuliahan

hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk

penyempurnaannya. Harapan saya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu

pengetahuan kefarmasian.

Medan, Juni 2011

Penulis

(6)

AKTIVITAS LIPASE DARI GETAH PEPAYA (Carica papaya, Linn.)

TERHADAP MINYAK LEMAK

ABSTRAK

Getah pepaya (Carica papaya Linn.), disamping mempunyai aktifitas preteolitik juga memiliki aktifitas lipolitik. Lipase dari getah buah pepaya (Carica

papaya Linn.) diketahui mempunyai aktifitas hidrolitik terhadap asam lemak

rantai pendek. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktifitas hidrolitik enzim lipase dari getah buah pepaya terhadap beberapa jenis lemak dengan komposisi asam lemak yang bervariasi, yakni Minyak Kelapa, Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Jagung yang diperoleh dari salah satu swalayan di kotamadya Medan. Minyak dihidrolisis dengan penambahan enzim lipase getah buah pepaya 10% dari berat minyak, kemudian didiamkan selama 180, 360, 540, 720, 900, 1440 menit.

Parameter yang diukur meliputi aktifitas hidrolitik lipase, kecepatan hidrolisis dan perubahan bilangan penyabunan dari minyak yang tidak terhidrolisis. Hasil menunjukkan bahwa aktifitas hidrolitik dari lipase getah buah pepaya pada Minyak Kelapa menunjukkan hasil yang nyata pada awal pendiaman. Kemudian semakin lama pendiaman, aktifitas hidrolitik semakin menurun. Pada Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Jagung, meskipun mengalami penurunan, namun terlihat tidak begitu nyata. Bilangan penyabunan dari minyak yang tersisa semakin rendah sejalan dengan lama pendiaman.

(7)

THE ACTIVITY OF LATEX FROM PAPAYA (Carica papaya, Linn.)

AGAINST FAT OIL

ABSTRACT

The latex from papaya (Carica papaya Linn.), aside from possessing proteolytic activity also posses lipolytic activity. The lipase from papaya fruit latex is hydrolytic activity against short chain fatty acid. The objective of this research is to assess the hydrolytic activity of lipase enzyme from papaya fruit latex against several types of fat with varied composition of fatty acid, which were coconut oil, coconut palm oil and corn oil obtained from a convenience store in Medan. The oil was hydrolyzed with the addition of papaya fruit latex lipase 10% of oil weight, and then left for 180, 360, 540, 720, 900, and 1440 minutes respectively.

The measured parameter consist of hydrolytic activity, hydrolysis speed and the change in soaping value from the un hydrolyzed oil. The result showed that the hydrolytic activity from the papaya fruit latex lipase in coconut oil showed significant result in the beginning. Then, the longer the process, the hydrolytic activity decreased. In coconut palm oil and corn oil, despite showed the decrease, it was not very significant. The soaping value of the rest of the oil became lower along with the length of the process.

Keyword(s) : papaya latex, lipase enzyme, hydrolytic speed.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ………... vi

ABSTRACT ………... vii

DAFTAR ISI ……… ... viii

DAFTAR TABEL ………... xi

DAFTAR GAMBAR ………... xii

DAFTAR LAMPIRAN ………... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ………... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Hipotesis... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 4

2.1 Minyak dan Lemak ... 4

2.1.1 Sifat Minyak Lemak ... 5

2.1.2 Asam Lemak ... 6

2.1.3 Metabolisme Minyak dan Lemak ... 8

(9)

2.2 Enzim ... 11

2.2.1 Enzim Lipase ... 12

2.2.2 Aktivitas Lipase dari Getah Pepaya ... 12

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 15

3.1 Alat dan Bahan Penelitian ... 15

3.1.1 Alat ... 15

3.1.2 Bahan ... 15

3.2 Pembuatan Pereaksi ... 16

3.3 Prosedur Penelitian... 16

3.3.1 Pembakuan Larutan NaOH 0,1 N ... 16

3.3.2 Pembakuan Larutan HCl 0,5 N ... 16

3.3.3 Pengambilan Getah Buah Pepaya atau Penyadapan ... 17

3.3.4 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase ... 17

3.3.5 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Kecepatan Hidrolisis Enzim Lipase ... 18

3.3.6. Pengaruh Aktivitas Enzim Lipase Selama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan dari Minyak ... 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20

4.1. Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase 20

4.2. Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Kecepatan Hidrolisis Enzim Lipase ... 22

(10)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 28

5.1. Kesimpulan ... 28

5.2. Saran ... 29

DAFTAR PUSTAKA ... 30

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Komposisi Asam Lemak (%) dari beberapa Minyak ... 8

2.2 Klasifiakasi enzim lipase berdasarkan spesifikasinya ... 13

4.1 Aktivitas hidrolitik enzim lipase setelah dilakukan pendiaman ... 20

4.2 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase ... 22

4.3 Pengaruh Aktivitas Enzim Lipase Selama Pendiaman terhadap

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Metabolisme dan transportasi triasilgliserol pada manusia ... 5

4.1 Hubungan Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase ... 21

4.2 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Trigliserida Yang Tidak

Terhidrolisis ... 23

4.3 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase ... 24

4.4 Pengaruh Aktivitas Enzim Lipase Selama Pendiaman terhadap

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase Terhadap Minyak Kelapa ... 32

2 Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase Terhadap Minyak Kelapa Sawit ... 33

3 Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase Terhadap Minyak Jagung ... 34

4 Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase Terhadap Minyak Kelapa ... 35

5 Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase Terhadap Minyak Kelapa Sawit ... 36

6 Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase Terhadap Minyak Jagung ... 37

7 Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan

Terhadap Minyak Kelapa ... 38

8 Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan

Terhadap Minyak Kelapa Sawit ... 39

9 Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan

Terhadap Minyak Jagung ... 40

10 Contoh perhitungan pengaruh lama pendiaman terhadap aktivitas

lipase ... 41

11 Contoh perhitungan pengaruh lama pendiaman terhadap laju

hidrolisis lipase ... 42

12 Contoh perhitungan pengaruh lama pendiaman terhadap

trigliserida yang tidak terhidrolisis ... 43

13 Pengaruh aktifitas enzim lipase selama pendiaman terhadap

bilangan penyabunan dari minyak ... 44

14 Perhitungan pembakuan NaOH 0,1 N ... 46

(14)

16 Foto tanaman pepaya ... 48

(15)

AKTIVITAS LIPASE DARI GETAH PEPAYA (Carica papaya, Linn.)

TERHADAP MINYAK LEMAK

ABSTRAK

Getah pepaya (Carica papaya Linn.), disamping mempunyai aktifitas preteolitik juga memiliki aktifitas lipolitik. Lipase dari getah buah pepaya (Carica

papaya Linn.) diketahui mempunyai aktifitas hidrolitik terhadap asam lemak

rantai pendek. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktifitas hidrolitik enzim lipase dari getah buah pepaya terhadap beberapa jenis lemak dengan komposisi asam lemak yang bervariasi, yakni Minyak Kelapa, Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Jagung yang diperoleh dari salah satu swalayan di kotamadya Medan. Minyak dihidrolisis dengan penambahan enzim lipase getah buah pepaya 10% dari berat minyak, kemudian didiamkan selama 180, 360, 540, 720, 900, 1440 menit.

Parameter yang diukur meliputi aktifitas hidrolitik lipase, kecepatan hidrolisis dan perubahan bilangan penyabunan dari minyak yang tidak terhidrolisis. Hasil menunjukkan bahwa aktifitas hidrolitik dari lipase getah buah pepaya pada Minyak Kelapa menunjukkan hasil yang nyata pada awal pendiaman. Kemudian semakin lama pendiaman, aktifitas hidrolitik semakin menurun. Pada Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Jagung, meskipun mengalami penurunan, namun terlihat tidak begitu nyata. Bilangan penyabunan dari minyak yang tersisa semakin rendah sejalan dengan lama pendiaman.

(16)

THE ACTIVITY OF LATEX FROM PAPAYA (Carica papaya, Linn.)

AGAINST FAT OIL

ABSTRACT

The latex from papaya (Carica papaya Linn.), aside from possessing proteolytic activity also posses lipolytic activity. The lipase from papaya fruit latex is hydrolytic activity against short chain fatty acid. The objective of this research is to assess the hydrolytic activity of lipase enzyme from papaya fruit latex against several types of fat with varied composition of fatty acid, which were coconut oil, coconut palm oil and corn oil obtained from a convenience store in Medan. The oil was hydrolyzed with the addition of papaya fruit latex lipase 10% of oil weight, and then left for 180, 360, 540, 720, 900, and 1440 minutes respectively.

The measured parameter consist of hydrolytic activity, hydrolysis speed and the change in soaping value from the un hydrolyzed oil. The result showed that the hydrolytic activity from the papaya fruit latex lipase in coconut oil showed significant result in the beginning. Then, the longer the process, the hydrolytic activity decreased. In coconut palm oil and corn oil, despite showed the decrease, it was not very significant. The soaping value of the rest of the oil became lower along with the length of the process.

Keyword(s) : papaya latex, lipase enzyme, hydrolytic speed.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lipase adalah enzim yang berperan sebagai katalis dalam reaksi hidrolisis

dan sintesis dari asil gliserol. Enzim lipase tersebar cukup banyak di alam,

terdapat pada hewan, mikroba, dan juga pada tumbuhan (Foglia & Villeneuve,

1997). Saat ini banyak peneliti tertarik untuk mengetahui aktivitas lipase yang

berasal dari tanaman karena dapat dengan cepat diambil, mudah diisolasi dan

mudah dimurnikan (Villeneuve, et. al., 1997).

Minyak dan lemak yang berasal dari satu sumber adalah campuran

trigliserida yang diperoleh dari hasil esterifikasi dari satu gliserol dan tiga molekul

asam lemak. Fungsi trigliserida dalam hal ini minyak/lemak dapat ditinjau dari 2

aspek, yaitu aspek teknologi pangan yang berfungsi sebagai pemberi cita rasa,

aroma, tekstur dan penampilan serta aspek dalam sistem fisiologis yaitu sebagai

sumber energi (9 kilo kalori per gram), pelarut vitamin A, D, E, K dan sumber

asam lemak essensial (Akoh, 1988; Haumann. 1997).

Penomoran stereospesifik dari asam lemak (stereospesific numbering =

sn) yaitu posisi sn-1,2 dan 3 pada molekul lemak (triasilgliserol = TAG)

mempengaruhi nilai gizi dan sifat fisika kimia dari lemak. Enzim lipase sangat

berperan menghidrolisis asam lemak pada TAG pada saat metabolisme dalam

tubuh. Ada tiga sumber lipase yang aktif menghidrolisis lemak sebelum diabsorpsi

yaitu lipase air liur, lipase lambung dan lipase pankreas. Enzim lipase pada

manusia bekerja secara spesifik pada posisi sn-1,3 dan tidak menghirolisis asil

(18)

Karena komposisi suatu minyak/lemak tertentu adalah spesifik, maka

penggunaannya sangat terbatas. Untuk memperoleh suatu minyak/lemak sesuai

keinginan atau penggunaannya, maka minyak/lemak dapat dimodifikasi dengan

berbagai cara, baik secara kimia maupun enzimatik. Secara kimia misalnya

dengan hidrogenasi dan interesterifikasi. Sedangkan melalui proses enzimatik

misalnya dengan penggunaan enzim lipase (Haumann, 1997).

Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa lateks atau getah dari

tanaman pepaya (Carica papaya Linn.) yang dikenal baik mengandung enzim

protease, diantaranya papain yaitu suatu thiol protease yang digunakan dalam

banyak bidang industri seperti pelunak daging, pembersih kontak lensa, pembantu

proses pencernaan, penghilang noda darah dalam aktivitasnya sebagai deterjen,

ternyata tidak hanya mempunyai aktivitas proteolitik, tetapi juga mempunyai

aktivitas lipolitik yang dapat digunakan untuk menghidrolisis ataupun mensintesis

minyak/lemak. Sehingga penggunaan dan biokatalis tanaman pepaya memiliki

keuntungan tersendiri karena biayanya yang murah dan mudah diperoleh (Foglia

& Villeneuve, 1997). Juga telah diketahui bahwa lipase dari getah papaya ini

mengkatalis lipolisis dari trigliserida dan selektif terhadap asam lemak rantai

pendek(C4-8;10) dan hanya aktif terhadap asam lemak yang terletak pada posisi

sn-1,3 (karbon primer) (Giordani, et. al., 1991).

Aktivitas lipase dari getah pepaya terhadap minyak kelapa yang banyak

mengandung asam lemak rantai pendek sampai sedang telah diteliti. Parameter

yang digunakan adalah aktifitas lipase, kecepatan hidrolisis dan bilangan

penyabunan (Silalahi dkk, 1999). Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini

(19)

tersebut terhadap minyak/lemak yang mempunyai asam lemak dengan rantai

pendek, sedang sampai panjang.

1.2 Perumusan Masalah

Apakah enzim lipase dari getah buah pepaya mempunyai aktivitas berbeda

terhadap trigliserida pada berbagai jenis minyak yang mempunyai komposisi

asam lemak rantai pendek, sedang maupun yang panjang.

1.3 Hipotesis

Bahwa enzim lipase dari getah buah pepaya mempunyai pengaruh berbeda

terhadap trigliserida pada berbagai jenis minyak yang mempunyai komposisi asam

lemak rantai pendek, sedang maupun yang panjang.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas enzim Iipase dari getah buah

pepaya (Carica papaya Linn.), terhadap trigliserida pada berbagai jenis minyak

yang mempunyai komposisi asam lemak rantai pendek, sedang maupun yang

panjang.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi aktivitas enzim lipase dari

getah buah pepaya terhadap trigliserida pada berbagai jenis minyak yang

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak dan Lemak

Minyak dan lemak secara kimiawi adalah trigliserida yang merupakan

bagian terbesar dari kelompok lipida. Dalam pembentukannya, trigliserida

merupakan hasil proses kondensasi dan esterifikasi satu molekul gliserol dengan

tiga molekul asam lemak yang sama atau berbeda (umumnya ketiga asam lemak

berbeda) yang membentuk satu molekul triasil gliserol dan tiga molekul air.

O

H2C-OH HOOCR1 H2C-O-C-R1

O

HC-OH + HOOCR2 H2C-O-C-R2 + 3 H2O

O

H2C-OH HOOCR3 H2C-O-C-R3

Gliserol Asam Lemak Trigliserida Air

Jika Rl = R2 = R3 maka trigliserida yang terbentuk adalah trigliserida

sederhana (simple triglyceride) dan jika berbeda disebut trigliserida campuran

(mixed triglyceride). Apabila satu molekul gliserol hanya mengikat satu molekul

asam lemak, maka hasilnya disebut monogliserida dan bila dua asam lemak

disebut digliserida. Trigliserida sederhana adalah senyawa yang terdiri dari ester

organik dimana terdapat satu jenis asam Iemak yang teresrerifikasi dengan

gliserol. Masing-masing atom karbon pada molekul gliserol ini diberi penomoran

yakni 1-, 2-, 3- atau α, β, dan α'. Apabila struktur gliserol hanya mengandung dua

(21)

posisi ini. Gugus hidroksil yang terletak di tengah atau pada posisi kedua, disebut

juga sn-2 sedangkan alkohol primer umumnya adalah sn-1 dan sn-3 (Perkins,

1991).

O

H2C-O-C-R (α) (1) H2C-OH

O

HC-OH (β) (2) H-C-O-C-R

H2C-OH (α') (3) H2C-OH

1-Monogliserida 2-Monogliserida

Lemak yang terdapat secara alami mengandung berbagai asam lemak yang

meliputi asam lemak dengan jumlah atom karbon 2 - 40 tetapi yang paling

dominan adalah C18 dan C20 (Winarno, 1992). Lemak yang berasal dari suatu

sumber lemak mempunyai komposisi asam lemak serta posisinya pada molekul

trigliserol yang spesifik dan unik sehingga walaupun komposisi asam lemak sama

tetapi jika posisinya berbeda maka sifatnya akan berbeda pula (Silalahi, 1999).

2.1.1 Sifat Minyak Lemak

Sifat asam lemak dapat dibedakan berdasarkan komposisi dan posisi atau

distribusi gugus asil (residu asam lemak dalam molekul lemak). Modifikasi

minyak lemak alami dapat ditempuh dengan mengubah komposisi dan posisi atau

distribusi gugus asil (residu asam lemak dalam molekul lemak) untuk membentuk

suatu lemak baru seperti lemak yang titik lelehnya meningkat, lemak yang lebih

stabil dan akhir-akhir ini suatu lemak yang khas yang dapat digunakan secara

(22)

berantai sedang (medium chain triglycerides = MCT), lemak berantai pendek dan

panjang (short and long acyl triglyceride molecules = Salatrim) dan lemak

terstruktur yang ditargetkan ( targeted SL) (Haumann, 1997; Akoh,1998).

Reaksi pertukaran gugus asil diantara ester merupakan interesterifikasi.

Interesterifikasi dapat dilakukan baik secara kimia ataupun secara enzimatik.

Interesterifikasi kimia akan menghasilkan randomisasi keberadaan asam lemak

pada setiap posisi dalam molekul gliserol. Interesterifikasi enzimatik dapat

dimanipulasi, terutama dengan memilih enzim tertentu untuk memperoleh atau

menempatkan asam lemak pada posisi tertentu dalam molekul triasilgliserol

(TAG) (Ibrahim, et al, 2008; Robinson, et al, 2009).

Akibat dari perobahan posisi asam lemak dalam molekul TAG maka sifat

kimia, fisika dan biokimia dari lemak akan berubah yang meliputi titik leleh,

stabilitas dan penyerapannya dalam pencernaan. Distribusi asam lemak dalam

molekul lemak dapat diklassifikasikan berdasarkan stereoisomer atau atom karbon

dalam molekul gliserol yakni sn-1, sn-2 dan sn-3. Penyerapan yang lebih effisien

jika asam lemak berada pada posisi sn-2 (Decker, 1996; Silalahi, 1999). Untuk

penempatan suatu asam lemak pada posisi sn-2 harus melibatkan/menggunakan

enzim yang bekerja secara spesifik pada posisi sn-2 dalam reaksi interesterifikasi

yang disebut interesterifikasi enzimatik (Silalahi, 1999; Willis, et al, 1998;Willis,

and Marangoni, 1999; Ibrahim, et al, 2008).

2.1.2 Asam Lemak

Asam lemak adalah asam monokarboksilat rantai lurus tanpa cabang yang

mengandung atom karbon genap mulai dari C-4, tetapi yang paling banyak adalah

(23)

ada tidaknya ikatan rangkap dan isomer trans-cis. Asam lemak berdasarkan

panjang rantai meliputi asam lemak rantai pendek (short chain fatty acids, SCFA)

yang mengandung jumlah atom karbon C-4 sampai dengan C-8; asam lemak

rantai sedang (medium chain fatty acids, MCFA) mengandung atom karbon C-10

dan C-12, dan asam lemak rantai panjang (long chain fatty acids, LCFA)

mengandung jumlah atom karbon C-14 atau lebih (White, 2009).

Berdasarkan jumlah ikatan rangkap, asam lemak terdiri dari asam lemak

jenuh dapat dibagi atas tiga golongan; asam lemak jenuh (saturated fatty acid;

SFA) karena tidak mempunyai ikatan rangkap, asam lemak tak jenuh tunggal

(mono unsaturated fatty acids; MUFA) hanya memiliki satu ikatan rangkap dan

asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid; PUFA) memiliki lebih

dari satu ikatan rangkap. Juga dikenal asam lemak tak jenuh bentuk cis dan

trans-isomer. Secara alamiah biasanya asam lemak tak jenuh berada sebagai bentuk

cis-isomer, hanya sedikit dalam bentuk trans (trans fatty acid; TFA) (Silalahi, 2006;

White, 2009).

Pada minyak dan lemak nabati, asam lemak jenuh kebanyakan terdapat

pada posisi luar sn-1 dan sn-3 dan asam lemak tak jenuh pada bagian dalam sn-2.

Sebaliknya pada lemak hewani asam lemak jenuh berada pada posisi sn-2 dengan

proporsi yang besar. Perbedaan posisi asam lemak di dalam molekul lemak turut

menentukan sifat kimia, fisika dan biokimia lemak. Oleh karena itu walaupun

minyak A memiliki komposisi asam lemak yang sama dengan lemak B, tidak

berarti bahwa keduanya memiliki nilai gizi dan sifat aterogenik yang sama

(Kris-Etherton, et. al., 2005; Silalahi, 2000; Berry, 2006). Komposisi Asam Lemak (%)

(24)

Tabel 2.1 Komposisi Asam Lemak (%) dari beberapa Minyak

Asam Lemak Minyak Kelapa Minyak Kelapa Sawit Minyak Jagung

6:00 - - -

8:00 7,6 - -

10:00 7,3 - -

12:00 48,2 0,1 -

14:00 16,6 1,2 -

16:00 8,0 46,8 11,5

16:01 1,0 - -

18:00 3,3 3,8 2,2

18:01 5,0 37,8 26,6

18:02 2,5 10,0 58,7

18:03 - - 0,8

20:00 0,2 0,2 0,2

(Sumber : Weiss, 1983; Ong, et. al., 1995).

2.1.3 Metabolisme Minyak dan Lemak

Metabolisme dan daya cerna lemak dipengaruhi oleh panjang rantai dan

posisi asam lemak didalam molekul TAG. Enzim lipase bertanggung jawab pada

metabolisme lemak dalam pencernaan manusia. Enzim lipase pada manusia

bekerja secara spesifik pada posisi sn-1 dan sn-3, dan tidak menghidrolisis asil

pada posisi sn-2. Ada tiga sumber lipase yang aktif menghidrolisis lemak

sebelum diabsorpsi. Hidrolisis lemak dimulai oleh lingual lipase dalam mulut

terutama pada bayi tetapi aktivitasnya rendah pada orang dewasa dan cendrung

menghidrolisis asam lemak rantai pendek. Enzim ini aktif dalam pencernaan

bagian atas, menghidrolisis lemak (TAG) menjadi monoasilgliserol (MAG),

diasilgliserol (DAG), dan asam lemak bebas rantai pendek. (Willis, et al, 1998;

Gupta, et al, 2003; Berry, 2009).

Asam lemak rantai pendek dan sedang akan lebih mudah berinteraksi

dengan medium air sehingga dapat langsung diserap melalui lambung ke sirkulasi

(25)

et al, 1998; Willis and Marangoni, 1999). Hal ini terutama penting pada pasien

yang penyerapan lemak yang tidak baik (fat malabsorption) dan juga untuk

menghasilkan energi yang cepat untuk bayi yang prematur. Asam lemak rantai

pendek dan sedang juga dapat dimanfaatkan untuk mensuplai energi yang cepat

dalam otot karena transportasi ke mitokondria tidak memerlukan carnitine. Di

dalam lambung lemak dihidrolisis oleh lipase lambung (gastric lipase) yang juga

aktif terhadap asam lemak rantai pendek dan sedang, kemudian memasuki

sirkulasi via vena porta juga langsung ke hati (Silalahi, 2006; Willis and

Marangoni, 1999). Bagan metabolisme lemak oleh lipase pencernaan dapat dilihat

pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Metabolisme dan transportasi triasilgliserol pada manusia (sumber:

Willis et al, 1998)

Keterangan:

TAG: Triasilgliserol, DAG: Diasilgliserol , MAG: Monoasilgliserol, MCFA:

Medium chain fatty acid (asam lemak rantai sedang), LCFA: Long chain fatty acid

(asam lemak rantai panjang), FFA: Free Fatty Acid (asam lemak bebas).

Lipase air liur

Lipase lambung

FFA, 2-MAG

Lipase pankreatik LCFA, MAG,

DAG, FFA

Hati

Jantung

MCFA

(≤C12)

Lambung TAG

Usus halus Jaringan

Lapisan mukosa usus

MCFA

(≤C12)

Sistem limpatik

Mulut

(26)

Lipase pankreas (pancreatic lipase) yang berada di dalam usus halus

menghidrolisis tahap akhir dari lemak yang sedikit lebih aktif terhadap asam

lemak pada posisi sn-1, tetapi dapat juga menghidrolisis asam lemak panjang yang

berada pada posisi sn-1,3. Setelah hidrolisis asam lemak dan 2-MAG dalam

bentuk misel bersama dengan cairan empedu diabsorpsi melalui mukosa

intestinal. Asam lemak dalam bentuk 2-MAG yang diserap, bercampur dengan

kilomikron, dan diangkut melalui saluran limpha. Asam lemak rantai panjang

jenuh dalam bentuk bebas tidak diserap dengan baik, karena titik leleh yang tinggi

akan berupa zat padat dan bereaksi dengan kalsium atau magnesium membentuk

garam yang tak larut dalam air. Oleh karena itu, diupayakan untuk menempatkan

asam lemak yang bermanfaat bagi kesehatan pada posisi sn-2 agar diserap lebih

baik, tetapi asam lemak yang merugikan pada sn-1,3 agar tidak terserap (Willis, et

al, 1998; Willis and Marangoni, 1999).

2.1.4 Pengujian Minyak dan Lemak

Pengujian minyak atau lemak secara kimiawi didasarkan pada penelitian

atau penetapan bagian tertentu dari komponen kimia minyak atau lemak.

1. Bilangan Peroksida

Bilangan peroksida menyatakan oksigen yang diikat oleh asam lemak

tidak jenuh pada minyak atau lemak. Bilangan peroksida merupakan nilai

terpenting untuk menentukan derajat kerusakan minyak dan lemak, dimana asam

lemak tidak jenuh dapat menikat oksigen pada ikatan rangkap sehingga

membentuk peroksida. Semakin tinggi bilangan peroksida maka mutu minyak

semakin rendah (Belitz & Grosch, 1987).

(27)

Bilangan asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas, dihitung

berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan

asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH 0,1 N yang digunakan untuk

menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak.

Asam lemak bebas sangat menentukan mutu minyak yang digunakan sebagai

minyak goreng, dimana semakin tinggi jumlah asam lemak bebas dalam minyak

dan lemak maka mutu minyak dan lemak semakin rendah (Belitz & Grosch,

1987).

3. Bilangan Iodium

Bilangan iodium menyatakan derajat ketidakjenuhan asam lemak

penyusun minyak dan lemak. Asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iodium

dan membentuk persenyawaan yang jenuh. Bilangan iodium dapat dinyatakan

sebagai banyaknya ikatan rangkap, dimana asam lemak tidak jenuh mampu

mengikat iodium dan membentuk persenyawaan yang jenuh. Bilangan iodium

dapat dinyatakan sebagai banyaknya gram iodium yang diikat oleh 100 gram

minyak atau lemak (Belitz & Grosch, 1987).

4. Bilangan Penyabunan

Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk

menyabunkan sejumlah contoh minyak atau lemak. Bilangan penyabunan

dinyatakan dengan jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1

gram minyak atau lemak. Bilangan penyabunan merupakan parameter untuk

identitas yang berkaitan dengan berat molekul (BM) minyak atau lemak. Makin

tinggi BM minyak atau lemak maka bilangan penyabunan makin rendah (Belitz &

(28)

2.2 Enzim

Enzim adalah golongan protein yang disintesis oleh sel hidup dan

mempunyai fungsi penting sebagai katalisator dalam setiap reaksi metabolisme

yang terjadi pada organisasi hidup. Enzim juga merupakan biokatalisator yang

menunjang berbagai proses industri. Hal ini disebabkan enzim mempunyai

efisiensi dan efektifitas yang tinggi, reaksinya tidak menimbulkan produk

samping, serta dapat digunakan berulangkali dengan teknik amobilisasi

(Lehninger, 1995). Tempat katalik (catalytic site) dari suatu enzim adalah bagian

dari tempat pengikatan dimana gugus asam amino pada tempat pengikatan hanya

cocok untuk beberapa senyawa saja, dengan perkataan lain enzim menunjukkan

kekhususan (spesifitas) yang tinggi terhadap substratnya (Mc Gilvery &

Goldstein, 1996).

2.2.1 Enzim Lipase

Lipase didefinisikan sebagai enzim hidrolase untuk ester karboksilat yang

mampu menghidrolisis tri-, di- dan monogliserida dengan adanya interfase antara

substrat yang tidak larut air (lipid) dan fase aqueous dimana enzim berada. Secara

skematik reaksi hidrolisis yang mengkatalis oleh lipase tersebut dapat diterangkan

sebagai berikut :

TAG + H2O DAG + ALB

DAG + H2O MAG + ALB

MAG + H2O Gliserol + ALB

Keterangan:

(29)

Reaksi tersebut bersifat reversibel dan lipase dapat juga mengkatalisis

pembentukan gliserida dari gliserol dan asam lemak bebas. Beberapa jenis lipase

juga diketahui dapat mengkatalisis reaksi reversibel hidrolisis/sintesis ester selain

ester gliserol - asam karboksilat pada kondisi tertentu (Elisabeth, 1997).

Klasifiakasi enzim lipase berdasarkan spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.2 Klasifiakasi enzim lipase berdasarkan spesifikasinya

Klasifikasi Enzim

Lipase Spesifikasi Sumber

Spesifik pada Substart

Monoasilgliserol Jaringan lemak pada tikus

Mono- dan Diasilgliserol Penicillium

camembertii

Triasilgliserol Penicillium sp.

Regiospesifik Posisi sn-1,3

Pankreas babi Mucor miehei Aspergillus niger Thermomyces lanuginose Rhizomucor meihei

Posisi sn-2 Candida antartica A

Nonspesifik -

Penicillium expansum Aspergillus sp.

Pseudomonas cepacia

Asilspesifik pada lemak

Asam lemak rantai pendek

Penicillium roquefortii

Lambung bayi

Getah Caricca papaya Asam lemak jenuh cis-9 Geotrichum candidum

Asam lemak jenuh rantai

panjang Botrystis cinerea

Stereospesifik Posisi sn-1 Humicola lanugunose Pseudomonas aeruginose Posisi sn-3 Fusarium solani cutinase Lambung Kelinci (Sumber : Aechle, 2004; Villeneuve and Foglia, 1997).

(30)

Enzim yang berasal dari getah buah pepaya telah lama digunakan untuk

tujuan komersial dalam industri. Enzim yang biasa digunakan adalah enzim

papain yang mempunyai aktifitas proteolitik. Namun juga diketahui bahwa getah

buah pepaya juga mengandung enzim lipase yang mempunyai aktifitas lipolitik

yang dapat digunakan untuk memodifikasi minyak atau lemak (Villeneuve &

Foglia, 1997).

Alternatif lain yang dapat digunakan untuk memperoleh asam lemak

adalah dengan memanfaatkan aktifitas enzim. Cara enzimatik ini lebih

menguntungkan karna dapat dilakukan pada temperatur kamar, tidak

menghasilkan produk sampingan. Enzim yang dapat dipakai adalah lipase yang

banyak tersebar di alam pada hewan, mikroba, dan tumbuhan. Banyak peneliti

tertarik untuk mengetahui aktifitas lipase yang berasal dan tanaman karena dapat

diambil cepat, mudah diisolasi dan dimurnikan (Villeneuve, et. al., 1997).

Juga telah diketahui bahwa lipase dari getah papaya ini selektif terhadap

asam lemak rantai pendek dan hanya aktif terhadap asam lemak yang terletak

pada posisi sn-1,3 (Giordani, et. al, 1991). Berdasarkan aktifitas tersebut maka

getah buah pepaya telah digunakan sebagai biokatalis dari sintesis trigliserida

terstruktur untuk memperoleh sifat fisika dan kimia yang diharapkan.

Pemanfaatan lipase dari getah buah pepaya pada minyak kelapa (Coconut oil)

akan menghidrolisis trigliserida rantai pendek yang kemudian dapat dipisahkan

dari trigliserida rantai sedang dan trigliserida rantai panjang. Disamping itu dapat

digunakan untuk memperoleh asam lemak rantai pendek. Kecepatan hidrolisis

enzim terhadap minyak kelapa mula-mula adalah relatif besar kemudian menurun

(31)

dari minyak yang tidak mengalami hidrolisis (sisa) berubah relatif cepat pada awal

pendiaman kemudian menjadi lambat sampai hampir stabil. Ini menunjukkan

bahwa lipase dari getah pepaya hanya selektif terhadap asam lemak rantai pendek

(32)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk mengetahui

aktivitas enzim lipase dari getah buah pepaya terhadap pengaruhnya pada minyak

kelapa, minyak kelapa sawit, minyak jagung dengan variasi pendiaman sebagai

variabes bebas berdasarkan hidrolisis asam lemak bebas, kecepatan hidrolisis dan

bilangan penyabunan sebagai variabel terikat. Penelitian ini dilakukan di

Laboratorium Sintesa Bahan Obat, Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara,

Medan pada bulan Desember 2010 sampai Maret 2011.

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan terdiri dari alat gelas laboratorium (Erlenmeyer,

gelas beaker, buret, gelas ukur, labu tentukur, gelas corong, labu alas bulat, kaca

arloji, cawan porselen, corong pisah, pandingin bola), neraca analitis , waterbath,

magnetic stirrer, hot plate stirrer, statif dan klem.

3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian adalah getah buah

pepaya (Carica papaya, Linn.). Pengambilan sampel dilakukan secara purposif,

lokasi pengambilan sampel dilakukan di Kelurahan Namogajah Kecamatan

Medan Tuntungan. Minyak kelapa (Barco) 1000 ml, minyak kelapa sawit

(Bimoli) 1000 ml, minyak jagung (Soy Bean) 1000 ml. Bahan-bahan kimia

lainnya berkualitas pro analisis produksi e-merck : Natrium hidroksida, Kalium

biftalat, Hidrogen klorida pekat, Natrium karbonat, Natrium klorida, N-heksan,

(33)

3.2 Pembuatan pereaksi

Pereaksi- pereaksi yang digunakan adalah natrium hidroksida 0,1 N, asam

klorida 0,5 N, kalium hidroksida beralkohol, indikator fenolftalen, indikator metil

merah. Natrium hidroksida 0,1 N dibuat dengan melarutkan natrium hidroksida

pellet sebanyak 4,000 g dengan air bebas karbon dioksida dalam labu takar 1 L,

dan ditambahkan air suling hingga garis tanda. Asam klorida 0,5 N dibuat dengan

mengencerkan 43,55 ml larutatan asam klorida pekat dengan air suling hingga

1000 ml (Depkes RI, 1995).

Kalium hidroksida beralkohol dibuat dengan melarutkan kalium

hidroksida pellet sebanyak 34 g dalam 20 ml air dan tambahkan etanol bebas

aldehida hingga 1000 ml. Indikator fenolftalen dibuat dengan melarutkan 1 g

fenolftalen dalam 100 ml etanol. Indikator metil merah dibuat dengan melarutkan

100 mg metil merah dalam 100 ml etanol, saring jika perlu (Depkes RI, 1995).

3.3 Prosedur Penelitian

3.3.1 Pembakuan Larutan NaOH 0,1 N

Ditimbang seksama 160 mg Kalium biftalat yang telah dikeringkan pada

suhu 28oC selama 2 jam. Kemudian dilarutkan dalam 25 ml air suling bebas

karbondioksida. Titrasi dengan NaOH menggunakan indikator fenolftalein

terbentuk warna merah jambu yang mantap. Satu ml Natrium hidroksida setara

dengan 204,2 mg Kalium biftalat (Depkes RI, 1995).

3.3.2 Pembakuan Larutan HCl 0,5 N

Ditimbang seksama lebih kurang 800 mg baku primer natrium karbonat

anhidrat yang sebelumnya telah di panaskan pada suhu 270oC selama 1 jam.

(34)

asam perlahan-lahan dari buret sambil diaduk hingga berwarna merah muda pucat.

Panaskan larutan hingga mendidih, dinginkan dan lanjutkan titrasi. Panaskan lagi

hingga mendidih, dan titrasi lagi bila perlu hingga warna merah muda pucat tidak

hilang dengan pendidihan lebih lanjut. Hitung normalitas larutan. Satu ml asam

klorida 1 N setara dengan 52,99 mg natrium karbonat anhidrat (Depkes RI, 1995).

3.3.3 Pengambilan Getah Buah Pepaya atau Penyadapan

Penorehan dilakukan memanjang sepanjang buah pepaya. Kedalaman

torehan ± 1 mm (jangan sampai mengenai daging buah). Jarak antar goresan ± 2

mm. Biasanya dalam setiap kali penyadapan dapat diperoleh getah sebanyak ± 4

g/buah,dapat dilihat pada lampiran 16. Setiap buah dapat disadap sebanyak 13 kali

(efektif 7 kali) dengan selang waktu setiap kali penyadapan adalah 4 hari Tiap kali

penyadapan hanya 4 buah dalam 1 pohon. Syarat: umur 2,5-3 bulan, kondisi

segar, warna daging putih bersih.

3.3.4 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

Sejumlah 10 gr sampel (minyak) ditimbang dalam erlenmeyer 125 ml

Lalu dalam minyak ditambahkan getah buah pepaya sebanyak 10 % dari berat

minyak. Campuran ini diaduk dengan menggunakan pengaduk magnet selama

10 menit untuk menghomogenkan. kemudian didiamkan dengan variasi lama

pendiaman : 180, 360, 540, 720, 900 dan 1440 menit. Setelah masa pendiaman

tercapai, diinaktifkan dengan penambahan etanol 95 % (teknis) sebanyak 50 ml.

Selanjutnya ditambahkan indikator fenolftalein 1% sejumlah 2-3 tetes dan

campuran dititrasi dengan NaOH 0,1 N. Titrasi dihentikan jika sudah tabentuk

warna merah jambu. Untuk penentuan blanko, prosedur yang sama dilakukan

(35)

diinaktifkan dengan penambahan etanol, kemudian dihitung aktivitas lipase

(Silalahi dkk, 1999a).

Aktivitas = (A-B) xN NaOH x 1000/n

Dimana : A = ml NaOH untuk titrasi sampel

B = ml NaOH untuk titrasi blanko

N NaOH = normalitas NaOH

1000 = konversi dari mmol ke µ mol

n = waktu pendiaman (menit)

3.3.5 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim Lipase

Sejumlah 10 gr sampel (minyak) ditimbang dalam erlenmeyer 125 ml

Lalu dalam minyak ditambahkan getah buah pepaya sebanyak 10 % dari berat

minyak. Campuran ini diaduk dengan menggunakan pengaduk magnet selama

10 menit untuk menghomogenkan. kemudian didiamkan dengan variasi lama

pendiaman : 180, 360, 540, 720, 900 dan 1440 menit. Setelah masa pendiaman

tercapai, diinaktifkan dengan penambahan etanol 95 % (teknis) sebanyak 50 ml.

Kemudian campuran dipindahkan kedalam corong pisah, ditambahkan 20 ml

n-heksan, diekstraksi dan terbentuk dua lapisan. Lapisan atas (lapisan n-heksan)

dipisahkan sebagai filtrat I. Lapisan alkohol dikocok dengan 20 ml n-heksan,

setelah didiamkan beberapa saat diambil lapisan atas (filtrat II). Kumpulkan filtrat

I dan filtrat II kemudian dicuci dengan 25 ml aquades. Filtrat yang diperoleh

diuapkan diatas penganas air didalam cawan penguap yang sudah diketahui

beratya. Minyak yang diperoleh dari hasil penguapan ditimbang sampai berat

(36)

Laju hidrolisis dari enzin dihitung sebagai berikut.

(menit) pendiaman

Waktu

mg x akhir) Berat -awal (Berat hirolisis

Laju =

Trigliserida yang tidak terhidrolisis (%) = x 100% awal

Berat akhir Berat

3.3.6 Pengaruh Lama Pendiaman Enzim Lipase Selama Pendiaman Terhadap Bilangan Penyabunan dari Minyak

Sampel minyak hasil ekstraksi yang diperoleh diatas, ditimbang sejumlah

5 g dalam labu alas bulat 250 ml kemudian ditambahkan 50 ml KOH beralkohol

dan kemudian direfluks selama 1 jam. Hasil refluks dipindahkan kedalam

erlemeyer 125 ml, dinginkan dan ditambahkan indikator fenolftalein 2-3 fetes.

Dititrasi, dengan HCL 0,5 N sampai warna merah jambu hilang. Sebagai blanko

dilakukan hal yang sama tanpa sampel (Perkins, 1991).

(g) sampel Berat

56,1 x HCl N x sampel)

-(blanko Penyabunan

Bilangan =

Dimana : blanko = ml HCl yang digunakan untuk titrasi blanko

Sampel = ml HCl yang digunakan untuk titrasi sampel

N HCl = normalitas HCl untuk titrasi

56,1 = berat molekul KOH

(37)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

Hasil penelitian dari pengaruh lama pendiaman terhadap aktivitas lipase

pada konsentarsi getah pepaya 10% dari berat minyak dapat pada Tabel 3.1 dan

Gambar 3.1. Data selengkapnya dan contoh perhitungan dapat dilihat pada

[image:37.595.111.487.281.443.2]

Lampiran 1, 2, 3, dan 10.

Tabel 4.1 Aktivitas hidrolitik enzim lipase selama dilakukan pendiaman

Lama pendiaman

(menit)

Aktivitas Hidrolitik (µmol/menit)

Minyak Kelapa Minyak Kelapa Sawit Minyak Jagung

180 13,92 12,53 11,94

360 8,05 7,19 6,87

540 6,52 5,17 5,34

720 5,61 5,01 4,58

900 4,84 4,39 3,95

1440 3,23 3,00 3,02

Keterangan: hasil didapat dari data rata rata tiga kali pengulangan

Dari Tabel 3.1 dan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa semakin lama

pendiaman aktivitas hidrolitik semakin menurun. Pada pendiaman 180 menit,

aktifitas hirolitik untuk minyak kelapa adalah 13,92 µmol/menit, untuk minyak

kelapa sawit 12,53 µmol/menit dan untuk minyak jagung 11,94 µmol/menit.

Untuk lama pendiaman selanjutnya, aktivitas hidrolitik makin menurun.

Pada minyak kelapa tampak nyata penurunan aktivitas hidrolitik. Hal ini

dikarenakan komposisi penyusun trigliseridanya adalah asam lemak rantai pendek

(Giordani et. al., 1991 & Silalahi, 1999). Sedangkan pada minyak kelapa sawit

dan minyak jagung penyusun utamanya adalah asam lemak rantai panjang dan

asam lemak dengan ikatan rangkap. Dinyatakan bahwa lipase dari getah pepaya

(38)

pendek dan hanya terhadap asam lemak yang terletak pada posisi sn-1,3 dari

[image:38.595.115.511.136.361.2]

rantai trigliseridany(Giordani et. al., 1991 & Villeneuve et. al.,1995).

Gambar 4.1 Hubungan Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

Dari hasil penelitian silalahi dkk. (1999) juga diperoleh bahwa pada lama

pendiaman 180 menit aktivitas hidrolitik yang diperoleh cukup tinggi,

menunjukkan bahwa cukup banyak trigliserida yang dapat dihidrolisis oleh lipase

dari getah pepaya tersebut. Semakin lama pendiaman maka aktivitas hidrolitik

makin menurun karena semakin sedikit asam lemak rantai pendek yang tersisa

sehingga reaksi hidrolitik makin lambat sampai semua habis terhirolisis. Dan

waktu mendekati akhir pendiaman yang dilakukan masih terlihat aktivitas yang

rendah mungkin karena enzim lipase getah pepaya masih aktif terhadap asam

lemak rantai sedang dan panjang walaupun sangat lambat (Villeneuve, et. al.,

1997).

Hal ini menunjukkan bahwa lipase dari getah pepaya kurang efektif

bekerja pada trigliserida yang mempunyai asam lemak rantai panjang dan asam

lemak yang berikatan rangkap/tidak jenuh.

0 2 4 6 8 10 12 14 16

180 360 540 720 900 1440

A k ti fi ta s H id ro li ti k ( µ m o l/ m e n it )

Lama pendiaman (menit)

(39)

4.2 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim Lipase

Hasil penelitian terhadap pengukuran jumlah trigliserida yang tidak

terhidrolisis dan kecepatan hidrólisis dapat dilihat pada Tabel 3.2, Gambar 3.2 dan

Gambar 3.3. Data selengkapnya dan contoh perhitungan dapat dilihat pada

Lampiran 4, 5, 6, 11 dan 12.

Untuk menentukan kecepatan hidrólisis, dilakukan dengan memisahkan

hasil hidrólisis minyak yang terdirir dari mono- dan di-gliserida, asam lemak

rantai pendek dan kemungkinan juga gliserol dari minyak yang belum terhidrolisis

yang tersisa dan diduga terdiri dari trigliserida rantai panjang sesuai dengan

spesifisitas lipase getah pepaya (Giordani, et. al., 1991 & Villeneuve, et. al.,

[image:39.595.112.513.399.652.2]

1997).

Tabel 4.2 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrólisis Enzim Lipase Lama Pendia man (menit)

Minyak Kelapa Miyak Kelapa Sawit Minyak Jagung Triglis erida yang tidak Terhid rolisis (%) Kecepatan Hidrolisis (mg/menit) Triglis erida yang tidak Terhid rolisis (%) Kecepatan Hidrolisis (mg/menit) Triglis erida yang tidak Terhid rolisis (%) Kecepatan Hidrolisis (mg/menit)

0 100,00 - 100,00 - 100,00 -

180 77,68 12,44 85,74 7,94 85,81 7,90

360 75,80 6,74 84,85 4,22 84,74 4,25

540 74,97 4,65 83,78 3,01 83,86 2,99

720 71,51 3,97 83,57 2,29 83,46 2,30

900 69,62 3,38 83,32 1,86 83,27 1,86

1440 67,21 2,28 81,68 1,28 83,07 1,18

Keterangan: hasil didapat dari data rata rata tiga kali pengulangan

Dari Tabel 3.2 dan Gambar 3.2, dapat dilihat bahwa persentase trigliserida

yang tidak terhidrolisis mengalami penurunan untuk minyak kelapa, minyak

(40)

yang terhidrolisis antara ketiga jenis minyak, yaitu minyak kelapa mempunyai

nilai yang lebih tinggi daripada 2 jenis minyak yang lain, yaitu minyak kelapa

sawit dan minyak jagung. Antara minyak kelapa sawit dengan minyak jagung

terdapat sedikit perbedaan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya

perbedaan komposisi asam lemak penyusun trigliserida dari ketiga jenis minyak.

Minyak kelapa mempunyai komposisi asam lemak penyusun trigliserida jenis

asam rantai pendek. Untuk minyak kelapa sawit dan minyak jagung, mempunyai

komposisi penyusun trigliserida jenis asam lemak rantai panjang dan asam lemak

[image:40.595.115.513.333.567.2]

yang mempunyai ikatan rangkap/tidak jenuh.

Gambar 4.2 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Trigliserida Yang Tidak Terhidrolisis

Dari Tabel 3.2 dan Gambar 3.3, dapat dilihat bahwa semakin lama

pendiaman, maka kecepatan hidrolisis enzim lipase terhadap minyak semakin

kecil. Pada pendiaman 180 menit, kecepatan hidrolisis untuk minyak kelapa

adalah 12,44 mg/menit, untuk minyak kelapa sawit adalah 7,94 mg/menit dan

untuk minyak jagung adalah 7,90 mg/menit dan menurun sesuai dengan lama

pendiaman. 50 60 70 80 90 100 110

0 180 360 540 720 900 1440

T ri g li ser id a Y an g T id ak T er h id ro li si s (% )

Lama Pendiaman (menit)

Minyak Kelapa Miyak Kelapa Sawit

(41)

Minyak kelapa mempunyai kecepatan hidrolisis yang lebih tinggi

dibandingkan dengan kecepatan hidrólisis pada minyak kelapa sawit dan minyak

jagung. Kemampuan hidrólisis dari enzim lipase secara umum terbatas pada

trigliserida dengan rantai pendek (Giordani et. al., 1991). Hasil ini menunjukan

bahwa enzim lipase dari getah pepaya selektif terhadap asam lemak rantai pendek

dan sesudah asam lemak rantai pendek habis terhidrolisis maka selanjutnya

[image:41.595.114.517.279.505.2]

kecepatan hidrolisis akan sangat lambat (Villeneuve, et. al., 1997).

Gambar 4.3 Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim Lipase

Oleh karena itu jika lama pendiaman semakin bertambah, maka trigliserida

yang mengandung rantai pendek sudah tidak tersedia lagi untuk hidrolisis oleh

enzim lipase dan yang tinggal adalah trigliserida rantai sedang dan rantai panjang,

sehingga kecepatan hidrolisis semakin rendah.

4.3 Pengaruh Aktivitas Enzim Lipase Selama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan dari Minyak

Bilangan penyabunan dari suatu minyak menunjukkan hubungan

berbanding terbalik terhadap berat molekul rata-rata dari trigliserida penyusun 0

2 4 6 8 10 12 14

0 180 360 540 720 900 1440

kecep

at

an

H

id

ro

li

si

s

(m

g

/m

en

it

)

Lama Pendiaman (menit)

Minyak Kelapa Miyak Kelapa Sawit

(42)

suatu minyak. Bilangan penyabunan yang rendah menunjukkan berat molekul

yang tinggi dan sebaliknya (Perkins, 1991).

Hasil pengukuran bilangan penyabunan dari minyak yang tidak

terhidrolisis ditunjukkan pada Tabel 3.3 dan Gambar 3.4. Data selengkapnya dan

contoh perhiungan dapat dilihat pada Lampiran 7, 8, 9 dan 13.

Dari Tabel 3.3 dan Gambar 3.4 secara umum dapat dilihat bahwa semakin

lama pendiaman, bilangan penyabunan menurun. Untuk minyak kelapa pada lama

pendiaman 180 menit, bilangan penyabunan menurun dari 252,17 menjadi 244,68.

Untuk minyak kelapa sawit bilangan penyabunan menurun dari 200,36 menjadi

199,18 dan untuk minyak jagung bilangan penyabunan menurun dari 195,11

menjadi 194,40. Pada lama pendiaman 360 menit, bilangan penyabunan untuk

minyak kelapa menjadi 240,50, untuk minyak kelapa sawit menjadi 197,98 dan

untuk minyak jagung menjadi 194,45. Selanjutnya sampai lama pendiaman 1440

[image:42.595.112.499.476.708.2]

menit terjadi juga penurunan bilangan penyabunan.

Tabel 4.3 Pengaruh Aktivitas Enzim Lipase Selama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan dari Minyak

Lama Pendiaman

(menit)

Bilangan Penyabunan

Minyak Kelapa Minyak Kelapa Sawit Minyak Jagung

0 252,17 200,36 195,11

180 244,68 199,18 194,40

360 240,50 197,98 194,45

540 239,46 198,64 193,65

720 238,99 200,58 194,08

900 237,98 198,34 193,19

1440 236,84 197,90 192,04

(43)

Semakin lama pendiaman, penurunan bilangan penyabunan yang

dihasilkan tidak terlalu besar. Hal ini terjadi karena pada awal pendiaman

trigliserida yang mengandung asam lemak rantai pendek adalah substrat yang baik

bagi aktifitas lipase dari getah pepaya (Giordani, et. al., 1991). Setelah asam

lemak rantai pendek habis terhidrolisis oleh enzim lipase, trigliserida yang tersisa

adalah trigliserida rantai sedang dan panjang yang tidak peka terhadap enzim

[image:43.595.118.512.276.502.2]

lipase getah pepaya (Villeneuve, et. al., 1997).

Gambar 4.4 Pengaruh Aktivitas Enzim Lipase Selama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan dari Minyak

Hasil penelitian silalahi dkk. (1999) juga didapatkan bahwa semakin lama

pendiaman, penurunan bilangan penyabunan yang dihasilkan tidak terlalu besar.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada awal reaksi, trigliserida yang

mengandung rantai pendek sudah dihidrolisis oleh enzim lipase (Giordani et. al.,

1991) dan yang tinggal adalah trigliserida rantai sedang dan rantai panjang.

Ini dibuktikan dengan penurunan bilangan penyabunan pada minyak

kelapa sawit dan minyak jagung, dengan nilai penurunan yang sangat kecil.

Seperti diketahui minyak kelapa sawit dan minyak jagung mempunyai komposisi

150 170 190 210 230 250 270

0 180 360 540 720 900 1440

B

il

a

n

g

a

n

P

e

n

y

a

b

u

n

a

n

Lama Pendiaman (menit)

(44)

asam lemak penyusun trigliserida dari jenis asam lemak rantai panjang dan asam

lemak yang mempunyai ikatan rangkap juga mengandung asam lemak dengan

rantai sedang namun dalam jumlah yang sangat kecil. Pada reaksi interesterifikasi,

trigliserida yang mengandung asam lemak dengan rantai sedang dan rantai

panjang mengalami reaksi lebih lambat dari pada rantai pendek dan hal ini bias

juga terjadi pada reaksi hidrolisis (Villeneuve et. al., 1997). Sehingga walaupun

terjadi reaksi hidrolisis oleh lipase getah papaya terhadap minyak kelapa sawit dan

minyak jagung, namun tidak sampai memberikan perubahan terhadap berat

molekul minyak, ditunjukkan dengan perubahan bilangan penyabunan yang tidak

(45)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari penelitian yang dilakukan aktivitas hidrolitik enzim lipase yang

berasal dari getah pepaya menunjukkan hasil yang berbeda terhadap ketiga jenis

minyak yang dicobakkan. Untuk minyak kelapa mempunyai nilai yang lebih

tinggi dibandingkan dengan dua jenis minyak yang lain yaitu minyak kelapa sawit

dan minyak jagung, sedangkan minyak kelapa sawit dan minyak jagung

mempunyai nilai yang hampir sama. Disini terlihat bahwa semakin lama masa

pendiaman minyak, maka aktifitas hidrolitik dan kecepatan hidrolisis enzim lipase

pada getah pepaya semakin kecil.

Bilangan penyabunan minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi reaksi

hidrolisis oleh enzim lipase selama pendiaman secara umum mengalami

perubahan. Semakin lama masa pendiaman, maka bilangan penyabunan minyak

semakin kecil. Penurunan bilangan penyabunan secara jelas ditunjukkan oleh

minyak kelapa. Namun bilangan penyabunan kedua minyak lainnya yaitu minyak

kelapa sawit dan minyak jagung juga mengalami penurunan meskipun tidak

(46)

5.2. Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengadakan analisa

terhadap komposisi asam lemak pada trigliserida yang telah mengalami hidrolisis

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Akoh, C.C. (1998). Fat Replacers. Journal of Food Technology.Vol. 52(3). pp. 47-53.

Berry, SEE. (2006). Triacylglycerol structure and interesterification of palmitic and stearic acid-rich fats: an overview and implications for cardiovascular disease. Nutrition Reseacrh Reviews. 22; pp. 3-17.

Decker, E.A. (1996). The Role of Stereospesific Saturated Fatty Acid Positions onLipid Nutrition. Nutrition Reviews. April(1): pp. 108-110.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi ke IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. hal 1217-1218.

Elisabeth, J. (1997). Studi Inkorporasi Enzimatik Eicosapentaenoic Acid (EPA)

dan Docosapentaenoic Acid (DHA) pada Trigliserida Minyak Ikan Tuna dan Crude Palm Oil (CPO). Disertasi. Program Pasca Sarjana. IPB.

Foglia, T.A. & Villeneuve, P. (1997). Carica papaya Latex-Catalyzed Synthesis of Structured Triacylglicerols. J. Amer Oil Chem. Soc. Vol. 74(11). pp. 1447-1450.

Gandhi, N.N. (1997). Application of Lipase. J. Amer Oil Chem. Soc. vol. 74 (6). pp 621-34.

Giordani, R., Moulin, A., and Verger, R. (1991). Tributyroylglycerol hydrolase activity in Carica papaya and other latices. Phytochemistry, (30). pp. 1069-72.

Gupta, R., rathi, P., and Bradoo, S. (2003). Lipase Mediated Upgradation of Dietary Fats and Oils. Crit Rev Food Sci Nutr.; 43(6): pp. 635-644.

Haumann, B.F. (1997). Structured Lipids Allow Fat Tailoring. Inform. Vol.8(10).

Ibrahim, NA., Nielsen,ST., Wigneswaran V,. Zhang H., and Xu X. (2008). Online Pre-purification for the Continuous Enzymatic Interesterification of Bulk Fats Containing Omega-3 Oil. J.Amer Oil Chem. Soc.. 85(1): pp. 95-98.

Kris-Etherton, PM., Griel, AE, Pwsota, TL, Gebauer, SK., Zhang, J., and Etherton TD. (2005). Dietray Stearic acid and Risk of Cardiovascular Disease: Intake, Sources, Digestion, and Absorption. Lipids. 40(12): pp. 1193-1200.

Lehninger, A.L. (1995). Dasar-dasar Biokimia I. Erlangga. Jakarta.

Ong, A.S.H., Choo, Y.M., Ooi, C.K. (1995). Developments in Palm Oil. in : Developments in Oils and Fats. Hamilton, R.J.,(editor). First edition. Blackie

(48)

Perkins, E.G. (1991). Analysis of Fats, Oils and Derivatives. AOCS Press. Illinois. pp. 154.

Robinson, DM, Martin, NC, Robinson LE., Ahmadi, L., Marangoni, AG and Wright, AJ. (2009). Influence of Interesterification of a Stearic Acid- Rich Spreadable Fat on Acute Metabolic Risk Factors. Lipids.; 44(1): pp. 17-26.

Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional. Kanisius. Yogyakarta.; hal. 85-99

Silalahi, J. (1999). Modification of Fats and Oils. Media Farmasi. Vol.7(1). hal 1-16.

Silalahi, J., Meliala, I.S., dan Purba, A. (1999a). Aktifitas Hidrolitik Enzim Lipase Getah Buah Pepaya (Carica papaya, Linn.) Terhadap Minyak Kelapa (Cocos nucifera, Linn). Media Farmasi. Vol.7(2). hal 162-167.

Silalahi, J. (2000). Hypocholesterolemic Factors in Foods. A Review. Indonesian

Food and Nutrition Progress, 7: pp. 26-35.

Villenuve, P., Montet, D., and Graille, J. (1995). Carica Papaya Latex Lipase: sn-3 Stereoselectivity or Short Chain Selectivity? Model Chiral Trigliserides are Removing The Ambiguity. J. Amer Oil Chem. Soc. Vol. 72(11). pp. 1447-1449.

Villenuve, P., Montet, D., Graille, J., and Foglia, TA. (1997). Specificity of Carica Papaya Latex in Lipase - Catalyzed interesterification Reactions. Biotechnol

Techniques. Vol. 11(2). pp. 91-94.

Weiss, T.J. (1983). Food Oils and Their Uses. Second edn. Avi Publishing Company. Westport. Connecticut. pp. 1-31.

White, B. (2009). Dietary Fatty Acids. American Family Physician. 80(4). Pp. 345-350.

Willis, WM., and Marangoni, AG. (1999). Biotechnological Strategies for the Modification of Food Lipids. Biotech. Genetic Eng. Rev. 16 April: pp. 141-175.

Willis, W.M., Lencki, R.W. and Marangoni, A.G. (1998). Lipid Modification Strategies in The Production Of Nutritionally Functional Fats and oil.

Critical Reviews in Food Science and Nutrition. Canada. 38(8): pp. 638-674.

(49)

Lampiran 1. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

Terhadap Minyak Kelapa

Lama Pendiaman (menit) Minyak Kelapa V.NaOH Blanko (ml) V.NaOH Sampel (ml) Aktfitas Hidrolitik (µmol/mnt.) 180

4,20 28,10 13,68

3,90 28,90 14,31

4,50 28,60 13,79

13,92

360

4,30 32,80 8,15

4,00 32,10 8,04

4,50 32,30 7,95

8,05

540

4,10 38,40 6,54

4,40 38,10 6,43

4,20 38,80 6,60

6,52

720

4,30 43,50 5,61

4,50 43,90 5,64

4,20 43,20 5,58

5,61

900

3,90 46,10 4,83

4,20 46,50 4,84

4,50 46,90 4,85

4,84

1440

4,20 49,30 3,23

4,50 49,50 3,22

3,90 49,10 3,23

(50)

Lampiran 2. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

Terhadap Minyak Kelapa Sawit

Lama Pendiaman

(menit)

Minyak Kelapa Sawit

V.NaOH Blanko

(ml)

V.NaOH Sampel

(ml)

Aktfitas Hidrolitik (µmol/mnt.)

180

3,50 25,10 12,36

3,30 24,90 12,36

2,90 25,40 12,88

12,53

360

3,40 28,50 7,18

3,50 28,80 7,24

3,10 28,10 7,15

7,19

540

3,50 30,90 5,23

3,00 30,50 5,25

2,90 29,30 5,04

5,17

720

3,50 38,60 5,02

3,30 38,20 4,99

2,90 37,90 5,01

5,01

900

2,90 41,10 4,37

3,20 41,50 4,38

3,10 41,70 4,42

4,39

1440

3,30 45,60 3,03

2,90 45,20 3,03

3,50 44,90 2,96

(51)

Lampiran 3. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

Terhadap Minyak Jagung

Lama Pendiaman

(menit)

Minyak Jagung

V.NaOH Blanko

(ml)

V.NaOH Sampel

(ml)

Aktfitas Hidrolitik (µmol/mnt.)

180

3,80 24,00 11,56

3,50 24,80 12,19

3,30 24,40 12,07

11,94

360

3,40 27,30 6,84

3,50 27,50 6,87

3,70 27,80 6,90

6,87

540

3,50 31,30 5,30

3,30 31,70 5,42

3,70 31,50 5,30

5,34

720

3,30 35,30 4,58

3,50 35,80 4,62

3,80 35,50 4,53

4,58

900

3,40 38,30 3,99

3,80 37,90 3,90

3,50 38,10 3,96

3,95

1440

3,80 45,30 2,97

3,50 45,80 3,03

3,30 46,10 3,06

(52)

Lampiran 4. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase Terhadap Minyak Kelapa

Lama Pendiaman

(menit)

Minyak Kelapa

Berat Awal (mg)

Berat Akhir (mg)

Kec. Hidrolisis (mg/mnt.)

180

10025,8 7832,0 12,19 10032,2 7762,9 12,61 10035,1 7782,0 12,52

12,44

360

10029,0 7623,7 6,68 10038,2 7592,0 6,80 10015,1 7585,9 6,75

6,74

540

10038,6 7584,1 4,55 10020,9 7457,5 4,75 10012,1 7502,1 4,65

4,65

720

10011,9 7273,1 3,80 10018,8 6967,1 4,24 10032,1 7256,7 3,85 3,97

900

10016,3 6875,8 3,49 10021,9 7092,3 3,26 10014,3 6954,7 3,40 3,38

1440

10024,1 6712,0 2,30 10017,5 6656,5 2,33 10017,1 6835,0 2,21

(53)

Lampiran 5. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase Terhadap Minyak Kelapa Sawit

Lama Pendiaman

(menit)

Minyak Kelapa Sawit

Berat Awal (mg) Berat Akhir (mg) Kec. Hidrolisis (mg/mnt.) 180

10011,6 8557,3 8,08 10021,3 8701,5 7,33 10027,2 8515,0 8,40

7,94

360

10017,6 8432,5 4,40 10034,7 8567,3 4,08 10029,4 8525,4 4,18

4,22

540

10012,8 8428,1 2,93 10029,9 8362,4 3,09 10037,1 8410,5 3,01

3,01

720

10019,5 8397,3 2,25 10031,1 8359,2 2,32 10021,5 8374,0 2,29

2,29

900

10023,9 8366,5 1,84 10024,9 8354,2 1,86 10024,5 8337,5 1,87

1,86

1440

10038,8 7942,3 1,46 10015,6 8317,0 1,18 10037,2 8320,2 1,19

(54)

Lampiran 6. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Laju Hidrolisis Enzim

Lipase Terhadap Minyak Jagung

Lama Pendiaman (menit) Minyak Jagung Berat Awal (mg) Berat Akhir (mg) Kec. Hidrolisis (mg/mnt.) 180

10018,6 8589,3 7,94 10019,7 8632,5 7,71 10024,3 8574,0 8,06

7,90

360

10034,7 8569,3 4,07 10020,7 8477,9 4,29 10021,5 8439,2 4,40

4,25

540

10011,9 8387,5 3,01 10021,1 8367,2 3,06 10013,4 8443,1 2,91

2,99

720

10018,5 8299,3 2,39 10023,8 8412,0 2,24 10014,1 8374,1 2,28

2,30

900

10013,4 8375,2 1,82 10016,3 8362,0 1,84 10012,1 8279,8 1,92

1,86

1440

10016,8 8341,9 1,16 10013,1 8329,2 1,17 10017,3 8290,5 1,20

(55)

Lampiran 7. Data Pengaruh Lama Pendiaman terhadap Bilangan Penyabunan

Terhadap Minyak Kelapa

Lama Pendiaman (menit) Minyak Kelapa Berat (gr) V.titrasi (ml) Bilangan Penyabunan 0

5,0226 5,2 252,80 5,0249 5,0 252,11 5,0240 5,3 251,59

252,17

180

5,0343 6,7 243,71 5,0365 6,4 243,60 5,0305 6,1 246,73

244,68

360

5,0511 7,0 241,20 5,0501 7,1 238,99 5,0490 6,9 241,30

240,50

540

5,0601 6,9 241,34 5,0135 7,5 238,46 5,0589 7,3 238,57

239,46

720

5,0596 7,1 240,23 5,0644 7,0 238,88 5,0619 7,4 237,87

238,99

900

5,0665 7,5 237,65 5,0671 7,1 238,19 5,0692 7,3 238,09

237,98

1440

5,0587 7,6 237,46 5,0651 7,3 237,16 5,0677 7,7 235,91

(56)

Lampiran 8. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Bilangan Penyabunan

Terhadap Minyak Kelapa Sawit

Lama Pendiaman

(menit)

Minyak Kelapa Sawit

Berat (gr) V.titrasi (ml) Bilangan Penyabunan 0

5,0335 11,0 201,80 5,0288 11,1 199,15 5,0329 11,2 200,12

200,36

180

5,0193 11,3 200,67 5,0180 11,4 197,87 5,0322 11,4 199,02

199,18

360

5,0338 11,5 198,95 5,0261 11,8 195,29 5,0288 11,3 199,72

197,98

540

5,0292 11,4 199,70 5,0317 11,2 198,47 5,0355 11,6 197,75

198,64

720

5,0605 11,9 195,65 5,0494 10,5 201,73 5,0538 10,3 204,38

200,58

900

5,0598 11,8 196,24 5,0580 11,1 198,00 5,0449 11,0 200,78

198,34

1440

5,0444 11,2 200,23 5,0632 11,6 194,98 5,0454 11,4 198,50

(57)

Lampiran 9. Data Pengaruh Lama Pendiaman Terhadap Bilangan Penyabunan

Terhadap Minyak Jagung

Lama Pendiaman (menit) Minyak Jagung Berat (gr) V.titrasi (ml) Bilangan Penyabunan 0

5,0177 13,2 191,63 5,0246 12,7 196,48 5,0199 12,4 197,23

195,11

180

5,0231 12,8 193,70 5,0271 12,7 196,38 5,0236 13,1 193,11

194,40

360

5,0231 12,6 194,83 5,0242 13,1 194,22 5,0220 12,9 194,31

194,45

540

5,0181 13,0 192,75 5,0355 12,8 195,48 5,0338 13,1 192,72

193,65

720

5,0437 12,8 192,91 5,0319 12,6 196,76 5,0379 13,1 192,56

194,08

900

5,0408 12,6 194,15 5,0406 13,5 191,33 5,0275 12,9 194,10

193,19

1440

5,0402 13,2 190,77 5,0277 13,5 191,82 5,0278 13,0 193,52

Gambar

Tabel 2.1 Komposisi Asam Lemak (%) dari beberapa Minyak
Gambar 2.1  Metabolisme dan transportasi triasilgliserol pada manusia (sumber: Willis et al, 1998)
Tabel 2.2 Klasifiakasi enzim lipase berdasarkan spesifikasinya Klasifikasi Enzim
Tabel 4.1 Aktivitas hidrolitik enzim lipase selama dilakukan pendiaman Aktivitas Hidrolitik (µmol/menit)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil persentase kematian ikan nila terhadap getah buah pepaya pada kelompok kontrol (0 ppm), 4 ppm, dan 20 ppm, tidak mengalami kematian hewan ujia. Hasil penelitian menunjukkan

Telah dilakukan penelitian uji antibakteri getah pepaya ( Carica papaya L.) dan getah jarak ( Jatropha curcas L.) terhadap pertumbuhan bakteri patogen pada air

Nilai massa jenis minyak murni lebih kecil dibandingkan dengan minyak kasar karena minyak murni telah kehilangan asam lemak bebas dan pengotor lainnya selama proses pemurnian,

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah enzim papain yang diisolasi dari getah pepaya muda dapat diimobilisasi dengan kappa karagenan dan dapat digunakan

Prinsip: di dalam getah pankreas terdapat enzim lipase yang berfungsi memecah lem ak menjadi asam lemak dan gliserol, enzim lipase aktif pada kondisi basa dan pada suhu tubuh...

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh getah pepaya terhadap kualitas lada putih, konsentrasi getah pepaya yang paling baik dalam perendaman lada, waktu

GETAH BUAH PEPAYA ( Carica papaya L.) TERHADAP IKAN NILA (Oreochromis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hidrolisis minyak kelapa menggunakan enzim lipase kentos kelapa menghasilkan asam lemak bebas paling banyak pada konsentrasi substrat minyak kelapa