• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bangkitan Perjalanan Pada Perumah Menteng Indah Di Kecamatan Medan Denai Pada Pagi Hari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Bangkitan Perjalanan Pada Perumah Menteng Indah Di Kecamatan Medan Denai Pada Pagi Hari"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

BANGKITAN PERJALANAN PADA PERUMAHAN MENTENG

INDAH DI KECAMATAN MEDAN DENAI PADA PAGI HARI

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat Untuk Menempuh Ujian

Sarjana Teknik Sipil

Disusun Oleh :

MICHAEL OCTAVIANUS

08 0404 131

BIDANG STUDI TRANSPORTASI

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan anugrah, berkat dan karunia-Nya hingga terselesaikannya tugas akhir ini

dengan judul “Bangkitan Perjalanan Pada Perumahan Menteng Indah Di Kecamatan Medan Denai

Tugas akhir ini disusun untuk diajukan sebagai syarat dalam ujian sarjana

teknik sipil bidang studi transportasi pada fakultas teknik Universitas Sumatera Utara

Medan. Penulis menyadari bahwa isi dari tugas akhir ini masih banyak

kekurangannya. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan dan kurangnya

pemahaman penulis. Untuk penyempurnaannya, saran dan kritik dari bapak dan ibu

dosen serta rekan mahasiswa sangatlah penulis harapkan.

Penulis juga menyadari bahwa tanpa bimbingan, bantuan dan dorongan dari

berbagai pihak, tugas akhir ini tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik. Oleh

karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang senantiasa penulis cintai yang dalam

keadaan sulit telah memperjuangkan hingga penulis dapat menyelesaikan

perkuliahan ini.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan selaku ketua Departemen Teknik Sipil

Fakultas Teknik USU serta selaku dosen pembanding yang telah memberikan

kritikan dan nasehat yang membangun.

(3)

3. Bapak Ir. Indra Jaya Pandia, MT selaku dosen pembimbing yang telah bersedia

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan saran

kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

4. Bapak Medis Surbakti, ST, MT selaku dosen pembanding yang telah

memberikan kritikan dan nasehat yang membangun.

5. Bapak Yusandi Aswad, ST, MT selaku dosen pembanding yang telah

memberikan kritikan dan nasehat yang membangun.

6. Bapak Ir Joni Harianto, selaku dosen pembanding yang telah memberikan

kritikan dan nasehat yang membangun.

7. Bapak Irwan S. Sembiring, ST, MT selaku dosen pembanding yang telah

memberikan kritikan dan nasehat yang membangun.

8. Bapak/Ibu Dosen Staf Pengajar Jurusan teknik Sipil Universitas Sumatera Utara.

9. Kedua orang tua penulis yang turut mendukung segala kegiatan akademis

penulis dan selalu memberikan semangat kepada penulis.

10. Rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan dan semangat kepada

penulis, stambuk 08, Nurul, Astri, Ester , Fernando, Dapot, Putri, Baby, Nurul

Aini, Futri, Tito, Luhut, Pardi, Rosiva, Triyana, Rama dan teman – teman lain

yang tidak dapat disebutkan satu persatu semuanya, serta senior-senior dan

adik-adik yang memberikan dukungan serta info mengenai kegiatan sipil.

11. Seluruh pegawai administrasi yang telah memberikan bantuan dan kemudahan

dalam penyelesaian administrasi, Kak Lince, Bang Zul, dan lain – lain.

Walaupun dalam menyusun Tugas akhir ini penulis telah berusaha untuk

(4)

Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun

tentulah sangat penulis harapkan di kemudian hari.

Medan, Desember 2012

(5)

ABSTRAK

Pertumbuhan penduduk yang semakin besar merupakan akibat dari perkembang kota dan industrialisasi terutama di beberapa kota yang ada di Indonesia yang memberi dampak yang sangat berpengaruh terhadap kota tersebut, yaitu kebutuhan akan pemukiman sebagai kebutuhan yang paling utama dari tiga kebutuhan manusia pada umumnya. Masalah pemukiman lebih terasa jika dilihat didaerah perkotaan merupakan daerah yang diperuntukkan seperti, pusat pemerintahan, industri, perdagangan dan sebagainya. Pembangunan perumahan memiliki banyak dimensi dimana sebagian darinya merupakan proses perkembangan sosial dan sebagainya.

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bangkitan pergerakan dari komplek perumahan Menteng Indah Medan. Mendapatkan jumlah bangkitkan perjalanan oleh penghuni komplek perumahan Menteng Indah Medan ketempat beraktivitas dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor), penelitian ini menggunakan 2 (dua) sumber data yaitu data primer dan data sekunder. data sekunder yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan data primer yang di dapat melalui penyebaran kuisioner dengan pengambilan sampel secara acak atau random sampling. metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi linear berganda dengan uji statistik dan metode analisa kategori.

Analisis yang pertama dilakukan adalah analisis uji antar variabel dengan menggunakan matriks korelasi, dari hasil matriks korelasi ternyata ada 5 (lima) variabel bebas yang berpengaruh kuat terhadap total bangkitan pergerakan yang terjadi yaitu jumlah anggota keluarga (X1), jumlah kepemilikan kendaraan mobil (X2), jumlah kepemilikan kendaraan sepeda motor (X3), jumlah anggota keluarga

yang bekerja

(X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5) dengan persamaan Y =

-0,400+0,201X1+0,161X2+0,135X3+0,388X4+0,534X5, maka diperoleh Y = 3150

pergerakan/hari, kemudian dilakukan uji statistik yaitu Uji–T ( parsial / individu ) dan Uji F (simultan) dengan tingkat keyakinan 95 %. Uji Validasi, Uji Linearitas dan Uji Sensitivitas model, untuk mengetahui ketepatan dari model yang terbentuk digunakan nilai koefisien determinan (R2). Untuk analisa kategori setiap variabel bebas dibagi atas 4 kelas, kelas 1,2,3,4, jumlah kategori yang terbentuk adalah 4096 kategori, dilampirkan 35 kategori, jumlah pergerakan yang dihasilkan oleh analisa kategori adalah 2929,7075882 pergerakan/hari.

(6)

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ... ii

Kata Pengantar ... iii

Abstrak ... vi

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel ... x

Daftar Grafik ... xi

Daftar Gambar ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I.1. Latar Belakang ... 1

I.2. Permasalahan ... 2

I.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

I.4. Keaslian Penelitian ... 5

I.5. Pembatasan Masalah dan Metodologi Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 20

II.1. Pengertian Perumahan ... 20

II.2. Perkembangan Perumahan ... 21

II.3. Masalah Perumahan di Indonesia... 25

II.4. Gambaran Umum Kota ... 27

II.4.1. Fungsi Kota ... 28

II.4.2. Ciri-ciri Kota ... 39

II.4.3. Tata Ruang Kota ... 30

(7)

II.6. Hubungan permukiman dan perumahan dengan masalah

transportasi ... 32

II.7. Perencanaan Transportasi... 32

II.7.1. Konsep Perencanaan Transportasi ... 33

II.7.1.1 Bangkitan pergerakan (Trip generation) ... 33

II.7.1.2 Distribusi perjalanan (Trip distribution) ... 38

II.7.1.3 Pemilihan moda (Modal split) ... 39

II.7.1.4 Pembebanan jaringan (Trip assignment) ... 40

II.8. Bangkitan Perjalanan Kawasan Perumahan ... 41

II.9. Metode Analisis Bangkitan Perjalanan (Trip Generation) ...43

BAB III METODE PENELITIAN ... 48

III.1. Pengertian Metode Penelitian ... 48

III.2 Tahap- Tahap Proses Penelitian ... 48

III.3 Peralatan Penelitian ... 52

III.4 Metode Pengumpulan Data ... 52

III.4.1 Pembuatan Kuesioner...53

III.5 Penentuan Jumlah Sampel...55

III.6 Pelaksanaan Pengumpulan Data...56

III.7 Analisis Regresi Linear Sederhana...58

III.7.1 Regresi Linier Sederhana...59

III.7.2 Regresi Linear berganda...63

III.7 Analisis Kategori...65

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 69

(8)

IV.1.1. Lokasi Penelitian ... 69

IV.1.2. Letak Geografis Kecamatan Medan Denai ... 70

IV.2 Data yang diperoleh... 71

IV.2.1 Karakteristik Responden ...71

IV.3 Model Perhitungan Produksi Perjalanan ... 77

IV.3.1 Analisa Korelasi ... 77

IV.3.2 Model Analisis Regresi Untuk Mendapatkan Persamaan Model Bangkitan... 83

IV.4 Uji Determinasi ... 105

IV.5 Uji T ... 108

IV.6 Uji F ... 112

IV.7 Uji Validasi ... 116

IV.8 Uji Linearitas ... 119

IV.9 Sensitivitas Model ... 120

IV.10 Analisis kategori ... 122

IV.10 Perbandingan Antara Regresi linear Dan Analisa Kategori ... 124

BAB V Kesimpulan dan Saran ... 125

V.1 Kesimpulan ... 125

V.2 Saran ... 127

Daftar Pustaka ... xiii

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Contoh distribusi perjalanan ……….……....……...40

Tabel IV.1 Jumlah anggota keluarga ………...71

Tabel IV.2 Anggota keluarga bekerja …...72

Tabel IV.3 Anggota keluarga bersekolah...72

Tabel IV.4 Pendapatan rata-rata (juta)...73

Tabel IV.5 Jumlah Kepemilikan Kenderaan (Mobil)...74

Tabel IV.6 Jumlah Kepemilikan Kenderaan (Sepeda Motor)...74

Tabel IV.7 Tujuan Perjalanan...75

Tabel IV.8 Jenis Kendaraan...76

Tabel IV.9 Waktu Perjalanan...76

Tabel IV.10 Korelasi ………....……….…...78

Tabel IV.11 Persamaan regresi, R2, R ………...………...….. 106

(10)

DAFTAR GRAFIK

Grafik IV.1 Jumlah anggota keluarga ………...71

Grafik IV.2 Anggota keluarga bekerja …...72

Grafik IV.3 Anggota keluarga bersekolah...73

Grafik IV.4 Pendapatan rata-rata (juta)...73

Grafik IV.5 Jumlah Kepemilikan Kenderaan (Mobil)...74

Grafik IV.6 Jumlah Kepemilikan Kenderaan (Sepeda Motor)...75

Grafik IV.7 Tujuan Perjalanan...75

Grafik IV.8 Jenis Kendaraan...76

Grafik IV.9 Waktu Perjalanan...76

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Trip Production dan Trip Attraction ………...……...36

Gambar II.2 Bangkitan dan Tarikan Pergerakan …...37

Gambar II.3 Perjalanan antara zona i dengan zona j...40

Gambar II.4 Pembebanan jaringan antara zona i dengan j...42

Gambar III.1 Bagan Alir...53

(12)

ABSTRAK

Pertumbuhan penduduk yang semakin besar merupakan akibat dari perkembang kota dan industrialisasi terutama di beberapa kota yang ada di Indonesia yang memberi dampak yang sangat berpengaruh terhadap kota tersebut, yaitu kebutuhan akan pemukiman sebagai kebutuhan yang paling utama dari tiga kebutuhan manusia pada umumnya. Masalah pemukiman lebih terasa jika dilihat didaerah perkotaan merupakan daerah yang diperuntukkan seperti, pusat pemerintahan, industri, perdagangan dan sebagainya. Pembangunan perumahan memiliki banyak dimensi dimana sebagian darinya merupakan proses perkembangan sosial dan sebagainya.

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bangkitan pergerakan dari komplek perumahan Menteng Indah Medan. Mendapatkan jumlah bangkitkan perjalanan oleh penghuni komplek perumahan Menteng Indah Medan ketempat beraktivitas dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor), penelitian ini menggunakan 2 (dua) sumber data yaitu data primer dan data sekunder. data sekunder yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan data primer yang di dapat melalui penyebaran kuisioner dengan pengambilan sampel secara acak atau random sampling. metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi linear berganda dengan uji statistik dan metode analisa kategori.

Analisis yang pertama dilakukan adalah analisis uji antar variabel dengan menggunakan matriks korelasi, dari hasil matriks korelasi ternyata ada 5 (lima) variabel bebas yang berpengaruh kuat terhadap total bangkitan pergerakan yang terjadi yaitu jumlah anggota keluarga (X1), jumlah kepemilikan kendaraan mobil (X2), jumlah kepemilikan kendaraan sepeda motor (X3), jumlah anggota keluarga

yang bekerja

(X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5) dengan persamaan Y =

-0,400+0,201X1+0,161X2+0,135X3+0,388X4+0,534X5, maka diperoleh Y = 3150

pergerakan/hari, kemudian dilakukan uji statistik yaitu Uji–T ( parsial / individu ) dan Uji F (simultan) dengan tingkat keyakinan 95 %. Uji Validasi, Uji Linearitas dan Uji Sensitivitas model, untuk mengetahui ketepatan dari model yang terbentuk digunakan nilai koefisien determinan (R2). Untuk analisa kategori setiap variabel bebas dibagi atas 4 kelas, kelas 1,2,3,4, jumlah kategori yang terbentuk adalah 4096 kategori, dilampirkan 35 kategori, jumlah pergerakan yang dihasilkan oleh analisa kategori adalah 2929,7075882 pergerakan/hari.

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Perkembangan penduduk yang terjadi di kota besar, cenderung untuk

terkonsentrasi di kawasan pusat kota, namun pusat kota memiliki lahan yang sangat

terbatas untuk menampung perkembangan penduduk ini, karena kawasan pusat kota

telah dipadati oleh segala aktivitas sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, yang

merupakan fungsi kehidupan suatu kota. Fungsi tersebut membawa konsekuensi

pada perkembangan dan pengembangan kota sebagai akibat pengaruh dari luar

maupun fungsi kota itu sendiri. (Reza, 2009).

Pada dasarnya pembangunan komplek perumahan apabila tidak diperhatikan

penempatannya dapat menimbulkan bangkitan yang mempengaruhi lalu lintas. Dan

transportasi di sekitarnya. Transportasi merupakan salah satu persoalan yang paling

penting, karena transportasi adalah alat penunjang terlaksananya kegiatan penduduk

sehari-hari. Transportasi timbul karena adanya pertumbuhan penduduk, peningkatan

pendapatan, peningkatan kepemilikan kendaraan dan fasilitas lainnya. Hal yang

harus diperhatikan adalah semakin banyak jumlah dan jenis kendaraan yang

beroperasi, akibatnya tingkat pelayanan jalan semakin rendah dan menimbulkan

kemacetan. Kemacetan merupakan pemborosan yang sangat mahal. BBM yang

terbuang secara tidak efisien, karena kendaraan beroperasi dibawah kecepatan

(14)

Seiring dengan pertambahan dan perkembangan penduduk serta

kecenderungan persaingan yang semakin ketat dalam aspek ekonomi dan aspek

sosial lainnya, menyebabkan tingginya tingkat aktivitas/bangkitan pergerakan yang

terjadi. Pemenuhan akan berbagai kebutuhan dan pemanfaatan tata guna lahan

merupakan suatu parameter untuk mengetahui seberapa besar tingkat bangkitan

pergerakan yang terjadi. Kondisi demikian membuat daerah di kota Medan

mengalami perkembangan yang cukup pesat menjadi daerah terbangun karena

tingginya permintaan di sektor hunian.

Kecamatan Medan Denai adalah salah satu dari 21 kecamatan di kota Medan,

Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan Medan Denai berbatasan dengan Medan Kota

dan Medan Area di sebelah barat, Kabupaten Deli Serdang di timur, Medan Amplas

di selatan, dan Medan Tembung di utara. Koordinat: 3°34'41"N 98°43'19"E. Pada

tahun 2001, kecamatan ini mempunyai penduduk sebesar 125.505 jiwa. Luasnya

adalah 11,19 km². Daerah ini adalah bekas kawasan perkebunan Tembakau Deli

yang terkenal. (wikipedia).

I.2. Permasalahan

Transportasi merupakan proses pergerakan atau perpindahan orang atau

barang dari suatu tempat ke tempat lain. Proses ini dapat dilakukan dengan sarana

transportasi berupa kendaraan. Tujuan transportasi untuk mewujudkan

penyelenggaraan pelayanan transportasi yang selamat, aman, cepat, lancar, dan tertib

serta sebagai pendorong, pergerakan dan penunjang pembangunan nasional serta

mempererat hubungan antar daerah atau bangsa. Dengan adanya perkembangan

(15)

volume lalu lintas sehingga mengakibatkan semakin besarnya tuntutan sarana

transportasi. Tetapi untuk mendapatkan lahan untuk membangun kawasan

perumahan ini tidak mudah, terutama dikawasan pusat kota yang harga untuk lahan

yang kosong sangat tinggi, oleh karena itu kawasan lahan untuk perumahan bergeser

ke daerah pinggiran kota. Selain distribusi kepadatan penduduk yang terpusat pada

suatu lokasi (kota) ada juga faktor lain yang membuat pertambahan penduduk dikota

Medan semakin pesat yaitu semakin tingginya tingkat urbanisasi merupakan

permasalahan umum yang dihadapi oleh kota-kota yang sedang berkembang. Sejalan

dengan meningkatnya kepadatan penduduk perkotaan, maka jumlah perjalanan juga

meningkat. Apabila peningkatan tersebut tidak diikuti dengan perbaikan sistem

sarana dan prasarana transportasi akan mengakibatkan terjadinya ketimpangan

antara penyedia dan permintaan. Untuk mengantisipasi itu maka diperlukan studi

tentang bangkitan pergerakan dan perumahan yang dipengaruhi oleh faktor

pendapatan, kepemilikan kendaraan, jumlah penduduk, pekerjaan penduduk, dll

Lokasi penelitian ini adalah Komplek Perumahan Menteng Indah Medan

yang terletak dipinggiran kota Medan, perumahan ini berada di kecamatan Medan

Denai, lokasi ini adalah lokasi bermukim yang berpendapatan menengah keatas,

hampir semua masyarakat yang menghuni rumah ini untuk beraktivitasnya

sehari-hari menggunakan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor), komplek perumahan

ini terletak beberapa kilometer dari pusat keramaian, seperti pasar, sekolah dan

perkantoran, jalan tol, stasiun Amplas dan sebagainya, sehingga untuk melaksanakan

aktivitas dan pemenuhan kebutuhannya, masyarakat akan melakukan perjalanan yang

pada umumnya mereka bekerja dipusat kota yang menghasilkan bangkitan

(16)

I.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah:

1. Mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bangkitan

pergerakan dari Komplek Perumahan Menteng Indah.

2. Mendapatkan jumlah bangkitkan perjalanan oleh penghuni Komplek

Perumahan Menteng Indah ketempat beraktivitas dengan menggunakan

kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor).

Manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah:

1. Dari aspek praktis, dapat diketahui bahwa pembangunan kawasan

pemukiman yang setipe dengan kawasan yang distudi akan menghasilkan

bangkitan yang tidak jauh berbeda, sehingga dalam perencanaan

pembangunan kawasan pemukiman nantinya sudah akan termasuk juga

perencanaan lalu–lintasnya.

2. Dari aspek akademik, diharapkan dapat menemukan konsep yang cocok guna

memecahkan masalah penelitian serta menjadi media untuk mengaplikasikan

berbagai teori yang telah dipelajari sehingga selain berguna dalam penelitian

juga dapat berguna bagi pengembangan konsep-konsep yang sudah dan

merangsang munculnya penelitian lebih lanjut tentang analisa moda

transportasi ke tempat kerja.

3. Perencanaan yang dapat dijadikan acuan untuk pengembangan transportasi

dalam beberapa tahun yang akan datang. Salah satu dasar dari perencanaan

(17)

dan prasarana transportasi, untuk masa sekarang maupun masa yang akan

datang (ramalan).

I.4. Keaslian Penelitian

Penelitian yang pernah dilakukan untuk bangkitan perjalanan dalam kawasan

perumahan adalah sebagi berikut:

1. Bangkitan Perjalanan Pada Perumahan Bougenville Di Palembang ( Jurnal Sipil, Vol. 5 No. 2, Maret 2011). Penelitian dari Hamdi menghasilkan

persamaan: Y = -0,188+0,830X1-0,038X2+0,021X3+0,183X4 Dengan nilai

nilai koefisien determinan (R)= 0,588 dan nilai F dihitung sebesar 48,517

serta t-hitung sebesar 6,793; 5,798; 6,785; 3,329

2. Model bangkitan perjalanan keluarga dengan variabel bebas tunggal pada

zona perumahan di kelurahan bukit datuk, Media Teknik Sipil, Volume X,

Januari 2010, Leo Sentosa, Mardani Sebayang, Shanti Yunita Dalam 4

Kawasan Perumahan yakni: Pertamina, Beringin Patra, Rawasari, Baruna

dengan hasil sebagai berikut:

Zona Perumahan Persamaan R2

Pertamina Y= 1,3995X0,794 0,77746

Beringin Patra Y=1,3013X0,7734 0,80136

Rawasari Y=1,234X0,8306 0,83905

(18)

3. Studi Perbandingan Variabel Berpengaruh Pada Model Bangkitan Perjalanan

Di Kawasan Perumahan (Studi Kasus Perumahan Katjhu, Aceh). Model yang

dihasilkan adalah: Y=1,909887X1+1,139548X2-1,139548.

4. Model Bangkitan Pergerakan Zona Kecamatan Palu Barat Kota Palu

Ismadarni, Majalah Ilmiah Mektek. Menghasilkan persamaan regresi: Y=

0,679+0,608X1+0,274X2; Koefisien determinan = 0,294 Uji-t (thitung > ttabel) 9,823; 2,917> 1,9663

5. Model Persamaan Bangkitan Pergerakan yang terbaik adalah Y =

-1,813+0,757X1+2,156X2. Besarnya bangkitan perjalanan yang terjadi

dipengaruhi oleh besarnya jumlah anggota keluarga (X1) dan jumlah

kepemilikan kendaraan (X2). Nilai koefisien determinan (R)= 0,588 dan nilai

F dihitung sebesar 48,517 serta t-hitung sebesar 6,793 dan 5,798.

6. Analisa Bangkitan Perjalanan Pada Kecamatan Deli Tua. Skripsi oleh Daniel

Simbolon dari hasil uji model, diperoleh model bangkitan perjalanan terbaik

di Kecamatan Deli Tua yaitu Y= -0,226+1,106X4+1,005X5.

7. 0,878+0,423X1+1E-007X2+0,447X3, dimana X1 adalah anggota keluarga, X2

adalah jumlah penghasilan keluarga, X3 adalah jumlah keluarga, dan Y

adalah produksi perjalanan, dengan nilai R2 Y dan X1 adalah 0,808.

8. Penetapan Model Bangkitan Pergerakan Beberapa Tipe Perumahan Di Kota

Pematangsiantar (Studi Kasus: Perumahan Pinggiran Kota

(19)

dihasilkan adalah Y= -0,728+1,885X1+0,649X3+0,772X6 adalah model yang

paling sesuai, menggambarkan 3 variabel yang ada yaitu X1= jumlah anggota

keluarga, X3= jumlah kepemilikan mobil, X6= jumlah anggota keluarga yang

bersekolah, hal ini dapat dilihat dari analisis Anova Regresi (F) sebesar

=20,791.

9. Bangkitan Pergerakan Perjalanan Ke Tempat Kerja Studi Kasus Perumahan

Johor Indah Permai I Medan. Tesis oleh Edy Hermanto menghasilkan

persamaan: Y=0,325+0,505X1+2,39-008X2+0,840X3, dengan Y adalah

produksi perjalanan, X1 adalah jumlah anggota keluarga, X2 adalah jumlah

penghasilan keluarga, X3 adalah jumlah kepemilikan kendaraan dengan nilai

R= 0,890.

10. Analisa Penghuni Perumahan Di Sebelah Utara Dan Sebelah Selatan Kota

Medan (Studi Kasus: Kec Medan Marelan dan Kec Medan Tuntungan ).

Skripsi oleh Natan P sinaga. menghasilkan beberapa model sebagai berikut,

Tipe Model Persamaan R2

Fungsi linier Y=1,027+2,629X1 0,308

Fungsi Eksponensial Y=1,891e0,597X2 0,204

Fungsi Kuadratik Y=3,656X20,876 0,308

(20)

I.5. Pembatasanlah Masalah dan Metodologi

Pembatasanlah Masalah

Untuk menghindari penelitian terlalu luas dan terbatasnya waktu,

maka pembatasan masalah dalam penelitian akan menitik beratkan pada

beberapa hal yaitu:

1. Daerah penelitian dilakukan di perumahan Menteng Indah di

Kecamatan Medan Denai , perjalanan yang dilakukan oleh penghuni

perumahan yang dianalisis berdasarkan home base trip, yaitu semua

perjalanan yang berasal dari ruamh dan diakhiri dengan pulang

kerumah.

2. Metode yang digunakan pada tulisan ini pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner dan wawancara (indepth interview) sebagai

alat ukur dengan satuan rumah tangga (house hold) dilakukan dengan

sistem acak.

Metodologi Penelitian

Ada beberapa tahap pelaksanaan secara garis besar sebaga berikut :

 Tahap pertama adalah melakukan studi literatur dalam usaha

memperoleh teori-teori yang berhubungan dengan penyelesaian tugas

akhir ini. Pada tahapan ini peneliti melakukan apa yang disebut

dengan kajian pustaka, yaitu mempelajari buku-buku referensi dan

hasil penelitian sejenis sebelumnya yang pernah dilakukan oleh

(21)

mengenai masalah yang akan diteliti. Teori merupakan pijakan bagi

peneliti untuk memahami persoalan yang diteliti dengan benar dan

sesuai dengan kerangka berpikir ilmiah.

 Tahap kedua adalah menentukan jumlah dan distribusi sampel yang

sesuai pada daerah penelitian. Yaitu dengan menggunakan Rumus

(Dixon dan B. Leach)

N =( �

�)

2

n = jumlah sample.

Z = Convidence level ( tingkat kepercayaan ) 1,96.

V = Vareabilitas yang dapat diperoleh dengan rumus

V = �(100− �)

� = persentase karakteristik sample yang dianggap benar.

C = Confidence limit ( %)

 Tahap ketiga adalah pengorganisasian data yang dibutuhkan, data

yang terkumpul meliputi karakteristik responden yaitu :

 Jumlah keluarga (orang)

 Pendidikan (jumlah keluarga yang bersekolah)

 Pendapatan (rupiah)

(22)

 Kepemilikan kendaraan (mobil)

 Jumlah pergerakan dalam sehari

 Jumlah keluarga yang bekerja (orang)

 Tahap keempat adalah melakukan pengumpulan data. Dalam

penelitian ini diperoleh dua sumber data yaitu data primer dan data

sekunder. Data primer adalah data yang terkumpul yang meliputi

karakteristik responden, seperti pada tahap ketiga. Data sekunder

adalah:

 Jumlah populasi penduduk kawasan perumahan menteng

indah Medan Denai

 Peta kecamatan Medan Denai

 Peta jaringan jalan di kecamatan Medan Denai

Untuk memperoleh data, maka harus ada pembuatan kuesioner.

Pembuatan Kuesioner

Kuesioner yang dibuat adalah kuesioner yang

diperuntukkan sebagai alat pengumpulan data, dan kuesioner ini

terdiri dari dua bagian yaitu karakteristik rumah tangga dan

karakteritik perjalanan.

(23)

Untuk karakteristik rumah tangga Data yang diperoleh

adalah sebagai berikut:

 Jumlah keluarga (orang)

 Pendidikan (jumlah keluarga yang bersekolah)

 Pendapatan (rupiah)

 Kepemilikan kendaraan (mobil)

 Jumlah pergerakan dalam sehari

 Jumlah keluarga yang bekerja (orang)

 Kepemilikan kendaraan (sepeda motor)

2. Karakteristik Perjalanan

Perjalanan yang dilakukan

Perjalanan yang dilakukan oleh penghuni perumahan

adalah perjalanan yang berbasis rumah yaitu perjalanan

yang berawal dan perumahan tersebut. Pada penelitian

ini tujuan perjalanan yang diperhitungkan adalah

perjalanan rutin dilakukan, seperti perjalanan ke tempat

kerja, perjalanan ke sekolah dan lain- lain.

Moda yang dipakai

Moda yang dipakai dalam melakukan perjalanan

(24)

Perjalanan dilakukan dengan kenderaan pribadi atau

dengan kendaraan umum merupakan karakteristik yang

cukup penting mengingat pembebanannya yang berbeda

pada jaringan jalan yang ada.

Waktu

Dalam Hal ini waktu yang dimaksud adalah waktu

untuk memulai dan mengakhiri.

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini

maka dilakukan survei terhadap keluarga yang tinggal di lokasi

penelitian. yaitu dengan metode kuesioner yang dilakukan ke

masing-masing responden yang dipilih secara acak. Salah satu cara yang

paling sering digunakan dalam Ilmu Statistik untuk memperoleh

sampel yang representatif adalah dengan cara simple random. Cara ini

tidak memilih-milih subjek untuk dijadikan sampel. Jadi tiap-tiap

subjek dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk menjadi

anggota sampel

 Tahap kelima adalah melakukan analisis data hasil survei dengan

menggunakan Software SPSS (Statistical Product and Service

Solution) dan Microsoft Excel.

 Analisis Regres linear dan Analisis Regresi Linear Berganda

Dengan menggunakan analisis Regresi Linear Berganda

(25)

kesimpulan dari tujuan penelitian ini untuk menjawab perumusan

masalah yang telah ditetapkan, yaitu berapa besar pengaruh

variabel mengenai bangkitan pergerakan (X) seperti : jumlah

anggota keluarga (orang), jumlah penghasilan rata-rata keluarga

(rupiah), jumlah kepemilikan kendaraan mobil (unit), jumlah

kepemilikan kendaraan sepeda motor (unit), jumlah keluarga yang

bekerja (orang), jumlah keluarga yang sekolah (orang), jenis

pekerjaan, terhadap produksi perjalanan (Y), perlu dilakukan

beberapa tahapan penting untuk menganalisis data yang diperoleh

melalui survei kuesioner. Uji korelasi dan proses kalibrasi

dilakukan dengan menggunakan bantuan Software SPSS (Statistical Product and Service Solution) yaitu suatu program statistik yang mampu memproses data statistik secara cepat dan

tepat serta menyajikannya dalam berbagai output yang

dikehendaki para pengambil keputusan. Ada pun beberapa

tahapan yang perlu dilakukan, adalah :

a. Tahap pertama adalah analisis bivariat, yaitu analisis uji korelasi untuk melihat hubungan antar variabel yaitu variabel

terikat dengan variabel bebas. Variabel bebas harus mempunyai

korelasi tinggi terhadap variabel terikat dan sesama variabel bebas

tidak boleh saling berkorelasi. Apabila terdapat korelasi diantara

variabel bebas, pilih salah satu yang mempunyai nilai korelasi

(26)

b. Tahap kedua adalah analisis multivariat, yaitu analisis untuk mendapatkan model yang paling sesuai (fit) menggambarkan pengaruh satu atau beberapa variabel bebas

terhadap variabel terikatnya, dapat digunakan analisis regresi

linear berganda (Multiple Linear Regression Analysis).

Analisis regresi linear berganda (Multiple Linear Regression Analysis) yaitu suatu cara yang dimungkinkan untuk melakukan beberapa proses dengan langkah-langkah sebagai

berikut :

1. Pada langkah awal adalah memilih variabel bebas yang

mempunyai korelasi yang besar dengan variabel terikatnya.

2. Pada langkah berikutnya menyeleksi variabel bebas yang

saling berkorelasi, jika ada antara variabel bebas memiliki

korelasi besar maka untuk ini dipilih salah satu, dengan kata lain

korelasi harus kecil antara sesama variabel bebas. Pada tahap

akhir memasukkan variabel bebas dan variabel terikat ke dalam

persamaan model regresi linear berganda , yaitu :

Y = a + b1 X1 + b2 X2 …….. + bn Xn

Dimana:

 Y = variabel terikat (jumlah produksi perjalanan), terdiri dari:

 a = konstanta (angka yang akan dicari)

(27)

 X1, X2 … Xn = variabel bebas (faktor-faktor berpengaruh)

Kemudian dilakukan analisis pemilihan variabel bebas dan

tidak bebas berdasarkan nilai korelasinya, pembangunan model

dilakukan dengan analisis linear berganda, model yang diperoleh

ditentukan oleh nilai R2 dan simpangan bakunya kemudian model

yang diperoleh tidak linear akan diubah menjadi linear dengan

cara mengubah hubungan matematisnya. Dan ketepatan

persamaan mengukuti uji-t ( parsial/ individu) dan uji-F.

 Analisis kategori

Metode analisis kategori dikembangkan pertama sekali pada

The Puget Sound Transportation Study pada tahun 1964. Metode

analisis kategori ini didasarkan pada adanya keterkaitan antara

terjadinya pergerakan dengan atribut rumah tangga. Asumsi

dasarnya adalah tingkat bangkitan pergerakan dapat dikatakan

stabil dalam waktu untuk setiap stratifikasi rumah tangga tertentu

(Tamin, 1997). Analisis kategori merupakan metode yang

digunakan untuk mengidentifikasikan hubungan antar berbagai

variabel yang berpengaruh terhadap aspek penentuan tujuan

(destination). Konsep dasarnya sederhana, dan variabel yang

umum digunakan dalam analisis kategori adalah:

1. Ukuran rumah tangga (jumlah orang)

(28)

3. Pendapatan rumah tangga

Kategori ditetapkan menjadi tiga dan kemudian rata-rata

tingkat bangkitan pergerakan (dari data empiris) dibebankan

untuk setiap kategori. Kategori ini kemudian digunakan untuk

menentukan sifat ketergantungan antar variabel. Persamaan

analisis kategori yang digunakan untuk bangkitan pergerakan dengan tujuan ‗p‘ yang dilakukan oleh orang berjenis ‘n‘ di zona

‗i‘ adalah berikut ini (Tamin 1997):

Qpi = =1� ��� �� ��� (�)

Dimana:

 Qpi = perkiraan jumlah perjalanan yang diproduksi oleh

zona pemukiman i yang tengah kita teliti per hari pada

tahun rencana.

�� = rata-rata tingkat perjalanan per rumah tangga yang

ada dalam kelas/kategori ci

(�) = perkiraan jumlah rumah tangga yang ada dalam

kelas/kategori ci yang berlokasi di zona pemukiman i yang

tengah kita teliti pada tahun rencana. ( Miro, 2004)

Sebagai pendekatan analisis, metode ini harus melalui 4

tahapan sebagai berikut (Black, 1981):

(29)

Menetapkan beberapa variabel utama dimana

variabel-variabel ini merupakan penggambaran

karakteristik-karakteristik individu rumah tangga yang ada din zona

pemukiman yang kita teliti. Pada studi-studi yang telah

dilakukan seperti di Inggris misalnya, variabel-variabel

berikut diasumsikan dapat dan telah terbukti menimbulkan

serta mempengaruhi produksi (bangkitan) perjalanan dari

zona pemukiman penduduk:

 Variabel ukuran rumah tangga, merupakan jumlah

orang yang mendiami rumah tangga seperti, 1, 2, 3, 4 orang

dan seterusnya.

 Variabel jumlah kendaraan yang dimiliki oleh rumah

tangga, merupakan jumlah kendaraan (biasanya roda 4)

yang dipunyai oleh suatu rumah tangga misalnya 0, 1, 2

kendaraan dan seterusnya. (Miro, 2004)

 Variabel tingkat pendapatan rumah tangga per satuan

waktu/bulan, merupakan penghasilan yang diterima oleh

kepala rumah tangga dari hasil pekerjaannya seperti

misalnya Rp. 500.000,- per bulan

 Variabel jumlah pekerja yang ada di dalam suatu

rumah tangga, merupakan jumlah orang yang sudah bekerja

di rumah tangga itu. Misalnya 1 orang yang bekerja, 2

(30)

2. Tahap Kedua

Mengalokasikan setiap rumah tangga yang telah kita

survei secara sampel melalui wawancara rumah tangga/

daftar kuesioner ke dalam setiap kelas sedemikian rupa

sehingga tiap kelas memuat beberapa rumah tangga yang

betul-betul sama tingkat karakteristiknya. Dari tahap kedua

ini, biasanya kita sudah berhasil mendapat angka jumlah

rumah tangga yang pasti dalam satu kelas yang sama dan

jumlah perjalanan yang dibuat oleh seluruh rumah tangga

yang ada pada kelas tersebut.

3. Tahap Ketiga

Menentukan rata-rata tingkat perjalanan per rumah

tangga pada masing-masing kelas yang sudah kita tetapkan

di kedua dengan cara membagi jumlah perjalanan pada

kelas yang bersangkutan dengan jumlah rumah tangga yang

terdapat pada kelas tersebut.

4. Tahap Keeempat

Menentukan jumlah perjalanan masing-masing kelas

dengan cara mengalikan jumlah perjalanan rata-rata per

rumah tangga pada kelas yang bersangkutan dengan jumlah

rumah tangga hasil perkiraan dan mentotalkannya untuk

(31)

jumlah perjalanan yang diproduksi oleh zona pemukiman

(32)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Perumahan

Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan

tempat tinggal atau hunian yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan yaitu

kelengkapan dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum, pembuangan

sampah, tersedianya listrik, telepon, jalan, yang memungkinkan lingkungan

pemukiman berfungsi sebagaimana mestinya. Menurut WHO, rumah adalah struktur

fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk

kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan kelu arga

dan individu.

Staf Ahli Menteri Negara Perumahan Rakyat Bidang Hukum mengemukakan,

jika suatu daerah telah tumbuh dan berkembang, rumah-rumah sebagai suatu proses

bermukim yaitu kehadiran manusia dalam menciptakan ruang dalam lingkungan

masyarakat dan alam sekitarnya dinamakan perumahan. Jadi, dapat dikatakan bahwa

perumahan adalah kumpulan rumah-rumah sebagai tempat bermukim manusia dalam

melangsungkan kehidupannya Rumah juga dijadikan sebagai tempat berlindung dan

merupakan keperluan peringkat ke dua yang mesti dicapai untuk tujuan keselamatan

sebelum keperluan-keperluan dalam peringkat yang lebih tinggi dipenuhi. Rumah

sebagai keperluan diri dan keluarga yang memisahkan satu keluarga dengan keluarga

(33)

II.2 Perkembangan Perumahan

Perumahan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi kehidupan manusia,

banyak kondisi yang mempengaruhi pemilihan letak perumahan untuk setiap orang

tersebut, seperti sarana transportasi, dekat dengan tempat bekerja dan sarana

prasarana yang ada untuk mendapatkan kenyamanan. Untuk mempertahankan tingkat

kenyamanan tersebut, maka rumah tangga tersebut akan menggunakan pelayanan

perumahan lebih besar atau tanah lebih luas. Selanjutnya pertambahan unit bangunan

dan luas tanah tentu saja mempunyai batas tertentu, sehingga peningkatan

penggunaan pelayanan perumahan dapat juga diartikan sebagai kenaikan kualitas

rumah dan kondisi lingkungan yang lebih menyenangkan.

Karena pemukiman adalah tempat tinggal penduduk dan tempat melakukan

kegiatan hidup sehari-hari. Pemukiman menyangkut kebutuhan manusia dari

berbagai aspek. Pembangunan pemukiman di perkotaan dan daerah pinggiran kota

tujuannya sama yaitu untuk kebutuhan tempat tinggal. Karena tingkat perekonomi

berbeda-beda maka klasifikasi untuk perumahan/pemukiman tersebut akan berbeda,

seperti adanya perumahan kelas atas, menengah dan bawah. Bukan hanya tergantung

pada tingkat perekonomian masyarakat yang menghuninya, Klasifikasi ini tergantung

juga dari kondisi fisik perumahan dan status sosial lingkungan, sehinggan walaupun

jaraknya terhadap pusat kota sama, tetapi harganya akan berbeda, semakin baik

kualitas perumahan maka semakin tinggi pula kepuasan seseorang untuk bermukim

di kawasan tersebut.

Saat ini pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan daya

dukung sumber daya lingkungan di banyak tempat sudah sangat terganggu. Hunian

(34)

waktu terakhir. Perkembangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari beberapa faktor,

seperti suku bunga, kondisi infrastruktur, dan gaya hidup. Diperlukan dukungan dari

semua pihak untuk mempertahankan pertumbuhan ini. Kebutuhan

perumahan akan menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan perumahan

Indonesia diperkirakan sebanyak 2.6 juta pertahun dan diperkirakan akan terus

meningkat hingga seiring pertambahan jumlah penduduk.

Pemenuhan kebutuhan perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar.

Dengan demikian, total permintaan di sektor properti akan terus bertambah.

Kebutuhan tidak hanya karena dari keluarga baru, tetapi juga karena pada saat ini,

kebutuhan perumahan yang besar. Untuk itu, diperlukan kondisi ekonomi yang

kondusif, pembangunan infrastruktur yang lebih cepat, dan Kreativitas dari para

pengembang untuk mengambil keuntungan dari situasi ini. Pemerintah juga

diharapkan dapat bergerak lebih cepat untuk memperbaiki lingkungan pajak, sumber

daya keuangan, dan status kepemilikan dari sektor properti.

Banyak pihak yang terkait dalam pengadaan perumahan, salah satunya adalah

Peran pihak swasta dalam pengadaan perumahan bagi rakyat, terutama ditinjau dari

sisi masyarakat yang harus menyediakan perumahannya sendiri. Masalah-masalah

pemukiman ini merupakan masalah umum yang selalu dihadapi oleh kota-kota yang

sedang berkembang. Fakta menunjukkan bahwa sampai pada tingkat perkembangan

tertentu dari suatu kota, semakin besar kota tersebut semakin menyolok pula masalah

pemukiman yang dihadapi. Hal ini berawal dari adanya daya tarik kota yang kuat

terhadap migran (pendatang) untuk tinggal menetap di kota. Laju pertambahan

(35)

Walaupun pembangunan perumahan di pinggir kota sudah terlaksana, tapi

harus diikuti dengan perluasan jaringan transportasi yang dapat menjangkau daerah

pinggiran kota tersebut karena transportasi merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi karakteristik penghuni perumahan dimana fungsi dari transportasi

tersebut adalah memberikan fasilitas untuk pertukaran barang dan jasa, dari suatu

tempat menuju tempat yang lain yaitu kegiatan ekonomi yang terletak jauh dari

pemukiman yang ada, sehingga mengakibatkan terjadinya pergerakan barang dan

orang. Adanya pemikiran dari masyarakat yang memilih perumahan, bahwa setelah

memilih tempat tinggal di perumahan, para penghuni masih tetap bekerja ditempat

yang lama, ini dikarenakan mungkin tempat bekerja yang lama masih memiliki

kemudahan dijangkau dari rumah penghuni yang baru, inilah yang membuat

penghuni tersebut memilih perumahan tersebut menjadi tempat tinggalnya. Dapat

disimpulkan bahwa transportasi sangat dibutuhkan oleh setiap orang, termasuk untuk

penghuni perumahan, hampir di seluruh kegiatan rumah tangga mereka

menggunakan transportasi, sehingga menjadi hal penting dan menentukan.

Dalam kawasan perkotaan pertumbuhan lapangan pekerjaan sangat tinggi,

tumbuhnya lapangan kerja tersebut maka hubungan antara kota dengan daerah

sekelilingnya menjadi berubah. Jadi pertumbuhan lapangan pekerjaan pada suatu

tempat akan menarik penduduk dari kawasan metropolitan. Bahkan, pertumbuhan

lapangan pekerjaan dapat menarik pekerja dari luar kawasan metropolitan atau para

migran.

Salah satu variabel yang merupakan bagian terpenting dari karakteristik

penghuni perumahan adalah tersedianya sarana dan prasarana kota (fasilitas kota),

(36)

 Sarana pendidikan

 Sarana kesehatan

 Sarana air bersih

 Sarana listrik

 Sarana rumah ibadah

 Sarana hiburan dan tempat rekreasi

 Dan lain lain

Sarana yang tersedia diatas adalah merupakan faktor yang lain selain

transportasi untuk memilih bermukim di suatu area perumahan. Selain itu kondisi

dari sarana dan prasarana tersebut juga akan banyak berpengaruh pada karakteristik

penghuni perumahan tersebut.

Peranan faktor ekonomi perkotaan, faktor sosial dan politik kebijaksanaan

menyebabkan suatu kota berkembang dengan cepat dibanding kota lainnya. Dengan

dasar konsep ekonomi perkotaan maka keberadaan lokasi perumahan harus dilihat

dari potensi lahan yang dimilikinya dan dapat dikembangkan sebagai titik tumbuh

tersendiri. Perkembangan lokasi perumahan harus diargumentasikan sebagai

perkembangan lahan yang mempunyai peluang untuk mendapatkan suatu lingkungan

hidup yang aktraktif dengan tatanan ruang yang berkualitas dan mempunyai nilai

ekonomis yang memberikan dampak berganda dan juga memberikan insentif yang

cukup menjanjikan akibat distribusi dan desentralisasi kegiatan ekonomi kota.

II.3 Masalah Perumahan di Indonesia

Pada negara-negera berkembang seperti Indonesia dan beberapa negara

(37)

penduduknya hal ini tidak terlepas dari bagaimana jumlah penduduk pada negara

berkembang memang masih sangat sulit untuk dikendalikan, ini merupakan poin

utama kita saat ini dalam membahas masalah yang sering dijumpai pada negara

berkembang dan saat ini kita akan memfokuskan pada negara kita sendiri yaitu

negara Indonesia.

1. Sudah dijelaskan sebelumnya, komponen utama dalam permasalahan

perumahan adalah penduduk, ini tidak dapat dipungkiri karena pada negara

berkembang seperti Indonesia tingkat pertumbuhan penduduknya sangat

tinggi, berbeda pada negara-negara maju yang tingkat pertumbuhan

penduduknya sudah rendah. Dengan ledakan jumlah penduduk yang semakin

besar, menyebabkan populasi penduduk semakin besar, hal ini akan

berdampak pada kebutuhan akan tempat tinggal semakin banyak, sedangkan

lahan yang tersedia jumlahnya tetap. Akibatnya muncul dampak dari ketidak

sesuaian ini, antara lain munculnya perumahan kumuh yang biasanya muncul

di kawasan perkotaan. Dampak lainnya adalah muncul perumahan yang

mempunyai kualitas rendah karena daya beli masyarakat yang minim, KDB

yang tinggi pada perumaan di perkotan dan masih banyak dampak lainnya.

2. Apabila dilihat kecenderungannya, maka permasalahan perumahan yang

terjadi di Indonesia sering terjadi di daerah perkotaan, hal ini diakibatkan

karena adanya fenomena urbanisasi yang menyebabkan jumlah penduduk

diperkotaan semakin banyak.

3. Untuk menyelesaikan permasalahan perumahan ini, pemerintah sudah

(38)

pembangunan rusunawa pada kawasan perkotaan sebagai solving terhadap

pemukiman kumuh yang sering muncul di kawasan marginal perkotaan,

membuat Perumahan Nasional (Perumnas) untuk kalangan ekonomi

menengah kebawah. Tetapi apakah solving yang dilakukan pemerintah

tersebut efektif? kenyataanya masih banyak menimbulkan masalah baru,

yaitu rusunawa yang pada awalnya dibangun dengan standar 5 lantai tidak

terlalu efektif karena masyarakat yang tinggal hanya mau menempati sampai

lantai tiga, sehingga banyak rusunawa yang ada tidak ditempat tinggali pada

lantai empat dan lima, hal ini tentu sangat tidak efisien dari segi investasi atau

dana yang dikeluarkan, akhirnya untuk mengatasi hal ini rusunawa

mempunyai satndar 3 lantai dengan harapan semua masyarakat bisa

menempatinya. permasalahan lainnya adalah rumah yang dibangun oleh

pemerintah untuk kalangan menegah kebawah yaitu Perumahan

Nasional(Perumnas) juga sering mengalami permasalahan sehinggal pada

tahun 2011 kemarin sekitar 40.000 unit rumah Perumnas gagal dijual ke

masyarakat yang menyebabkan kerugian besar bagi pemerintah sendiri. Hal

ini disebabkan kurang koordinasinya antara pemerintah, pihak pengembang,

dan pihak bank sebagai pemberi kredit.

II.4 Gambaran Umum Kota

Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh

kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai

(39)

sebagaimana yang diterapkan di Indonesia mencakup pengertian "town" dan "city"

dalam bahasa Inggris. Selain itu, terdapat pula kapitonim "Kota" yang merupakan

satuan administrasi negara di bawah provinsi. Kota dibedakan secara kontras dari

desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan,

atau status hukum. Desa atau kampung didominasi oleh lahan terbuka bukan

pemukiman. Kota mempunyai banyak sekali pengertian, Adapun pengertian tersebut

antara lain:

 Sebuah kota merupakan pusat pengembangan dari wilayah

pengaruhnya defenisi kota bergantung pada sudut pendekatan tertentu

Kota adalah suatu ciptaan peradaban umat manusia.

 Kota sebagai hasil dari peradaban lahir dari pedesaan, tetapi kota

berbeda dengan pedesaan Pedesaan sebagai ―daerah yang melindungi

kota‖ (Kota seolah-olah mempunyai karakter tersendiri, mempunyai

jiwa, organisasi, budaya atau peradaban tersendiri.

 Kota sebagai tempat pertemuan yang berorientasi ke luar. Sebelum

kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota

sebagai suatu tempat orang pulang balik untuk berjumpa secara

teratur, jadi ada semacam daya tarik pada penghuni luar kota untuk

kegiatan rohaniah dan perdagangan serta,kegiatan lain.

 Penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya

lewat pasar setempat dan ciri kota ada pasarnya.

 Melihat kota dari timbulnya suatu golongan spesialis non agraris dan

(40)

 Kota adalah sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai oleh

strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis. Menurut

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No 4/1980 Kota

adalah wadah yang memiliki batasan administratif wilayah seperti

kotamadya dan kota administrasi.

II.4.1 Fungsi Kota

Kota yang telah berkembang maju mempunyai peranan dan fungsi

yang lebih luas lagi antara lain sebagai berikut :

 Sebagai pusat produksi (production centre). Contoh: Surabaya,

Gresik, Bontang

 Sebagai pusat perdagangan (centre of trade and commerce).

Contoh: Jakarta, Bandung, Hong Kong, Singapura

 Sebagai pusat pemerintahan (political capital). Contoh: Jakarta

(ibukota Indonesia), Washington DC (ibukota Amerika Serikat),

Canberra (ibukota Australia)

 Sebagai pusat kebudayaan (culture centre). Contoh: Yogyakarta

dan Surakarta

II.4.2 Ciri-ciri Kota

Ciri fisik kota meliputi hal sebagai berikut:

 Tersedianya tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan

(41)

 Terdapatnya sarana rekreasi dan sarana olahraga

Ciri kehidupan kota adalah sebagai berikut:

 Adanya pelapisan sosial ekonomi misalnya perbedaan tingkat

penghasilan, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.

 Adanya jarak sosial dan kurangnya toleransi sosial di antara

warganya.

 Adanya penilaian yang berbeda-beda terhadap suatu masalah

dengan pertimbangan perbedaan kepentingan, situasi dan

kondisi kehidupan.

 Warga kota umumnya sangat menghargai waktu.

 Cara berpikir dan bertindak warga kota tampak lebih rasional

dan berprinsip ekonomi.

 Masyarakat kota lebih mudah menyesuaikan diri terhadap

perubahan sosial disebabkan adanya keterbukaan terhadap

pengaruh luar.

 Pada umumnya masyarakat kota lebih bersifat individu

sedangkan sifat solidaritas dan gotong royong sudah mulai

tidak terasa lagi.

II.4.3 Tata Ruang Kota

Pada prinsipnya program penataan kota bertujuan untuk meningkatkan

(42)

mendorong pemantapan fungsi kawasan-kawasan kota sehingga dapat

meningkatkan produktifitas kota dengan tidak mengesampingkan

aspek-aspek pemerataan, lingkungan, dan budaya. Penataan ruang adalah salah

satu usaha untuk merencanakan seberapa besar jumlah penggunaan lahan

untuk keperluan tertentu, termasuk mengatur hubungan antara pemukiman

dengan tempat bekerja, tempat sekolah, tempat berbelanja, tempat hiburan

dan lain-lain yang semuanya juga sangat penting tergantung pada rencana

jaringan jalan dikota. (Robinson Tarigan, 2003)

II.5. Kota dan Kawasan Perumahan

Kawasan perumahan sebagai salah satu unsur yang membentuk kota terdiri

dari berbagai bangunan dan prasarana lingkungan yang merupakan unsur yang paling

menonjol dari pada unsur-unsur sarana dan prasarana kota lainnya.

Bangunan-bangunan sesungguhnya merupakan unsur perkotaan yang paling jelas terlihat,

dipandang dari satu kapanpun dan dari tempat manapun di kota. Sebagai

konsekuensinya, maka potensi yang dimiliki cukup besar dalam menimbulkan

permasalahan perkotaan jika dalam pengadaan dan pengembangan tidak diatur

dengan benar.

Permasalahan perkotaan yang dimaksud adalah selain dapat menimbulkan

kesembrawutan wajah kota, maka pembangunan rumah-rumah tinggal berikut

fasilitas rumah yang tidak memenuhi kriteria sehat, akan menimbulkan

masalah-masalah sosial yang sulit untuk dipecahkan. Selain permasalah-masalahan itu, ada juga

permasalahan perkotaan yang lain yaitu:

(43)

2. kontroversi (pertentangan),

3. kompetisi (persaingan),

4. kegiatan pada masyarakat pedesaan, dan

5. sistem nilai budaya

Perumahan adalah salah satu kebutuhan pokok dari tiga kebutuhan pokok

lainnya selain sandang pangan yang harus dipenuhi oleh manusia. Untuk mencukupi

kebutuhan ini bukanlah suatu hal yang mudah. Di kawasan perkotaan, pemukiman

menjadi sesuatu yang sangat mahal akibat dari tingginya harga tanah. Tingkat

bagusnya suatu kota salah satunya diukur dari tingkat kualitas dari perumahan dan

pemukiman yang ada di kota tersebut. Kualitas yang dimaksud, yakni kualitas

material konstruksi dari bangunan-bangunan yang ada, kelengkapan sarana dan

prasarana sosial dan lingkungan, serta keterkaitan yang harmonis antara kawasan

perumahan dengan kawasan-kawasan lainnya.

II.6.Hubungan permukiman dan perumahan dengan masalah transportasi

Seperti negara sedang berkembang lainnya, berbagai kota besar di Indonesia

berada dalam tahap pertumbuhan urbanisasi yang tinggi akibat laju pertumbuhan

ekonomi yang pesat sehingga kebutuhan penduduk untuk melakukan pergerakan pun

menjadi semakin meningkat. Mobil sebagai kendaraan pribadi sangat

menguntungkan, terutama dalam hal mobilitas pergerakannya. Jumlah penduduk

yang tinggal di perkotaan di Indonesia diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun

akibat tingginya tingkat urbanisasi. Tantangan bagi pemerintah negara berkembang

(44)

transportasi perkotaan adalah masalah kemacetan lalulintas serta pelayanan angkutan

umum perkotaan. Di suatu daerah permukiman dan perumahan juga akan terlihat

suatu masalah dalam hal transportasi, di mana pada waktu jam sibuk akan berdampak

pada kemacetan jika jaringan jalan di daerah tersebut tidak dapat menampung

pengguna jalan. Tingginya urbanisasi secara tidak langsung dapat dikatakan akibat

tidak meratanya pertumbuhan wilayah di Indonesia antara daerah pedalaman dengan

daerah perkotaan dikarenakan di perkotaan menawarkan banyak kesempatan, baik di

sektor formal maupun informal. Semakin besarnya perbedaan antara tingkat

pertumbuhan wilayah tersebut menyebabkan semakin tingginya tingkat urbanisasi,

yang pada gilirannya akan menimbulkan beberapa paermasalahan perkotaan,

khususnya transportasi.

II.7.Perencanaan Transportasi

Perencanaan Transportasi adalah suatu perencanaan kebutuhan prasarana

transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta sarana untuk

mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar serta berwawasan

lingkungan.

II.7.1.Konsep Perencanaan Transportasi

Terdapat beberapa konsep perencanaan transportasi yang telah berkembang sampai saat ini yang paling populer adalah ― Model Perencanaan

Transportasi Empat Tahap‖. Model perencanaan ini merupakan gabungan

dari beberapa sub model yang masing-masing harus dilakukan secara terpisah

dan berurutan. Dalam sistem perencanaan transportasi terdapat empat langkah

(45)

1. Bangkitan pergerakan (Trip generation)

2. Distribusi perjalanan (Trip distribution)

3. Pemilihan moda (Modal split)

4. Pembebanan jaringan (Trip assignment) II.7.1.1.Bangkitan pergerakan (Trip generation)

Bangkitan pergerakan adalah suatu proses analisis yang

menetapkan atau menghasilkan hubungan antara aktivitas kota

dengan pergerakan. (Tamin, O.Z. 1997) perjalanan dibagi menjadi

dua yaitu:

1. Home base trip adalah pergerakan yang berbasis rumah. Artinya

perjalanan yang dilakukan berasal dan rumah dan kembali ke

rumah.

2. Non home base trip adalah pergerakan berbasis bukan rumah.

Artinya perjalanan yang asal dan tujuannya bukan rumah.

Pernyataan di atas menyatakan bahwa ada dua jenis zona yaitu

zona yang menghasilkan pergerakan (trip production) dan zona yang menarik suatu pergerakan (trip attraction). Defenisi trip attraction

dan trip production adalah:

a. Bangkitan perjalanan (trip production) adalah suatu perjalanan yang mempunyai tempat asal dari kawasan perumahan ditata

(46)

b. Tarikan perjalanan (trip attraction) adalah suatu perjalanan yang berakhir tidak pada kawasan perumahan tata guna tanah

tertentu.

Gambar II.1 Trip Production dan Trip Attraction

Kawasan yang membangkitkan perjalanan adalah kawasan

perumahan sedangkan kawasan yang cenderung untuk menarik

perjalanan adalah kawasan perkantoran, perindustrian, pendidikan,

pertokoan dan tempat rekreasi. Bangkitan dan tarikan perjalanan

dapat dilihat pada diagram berikut (Tamin, O.Z. 1997).

[image:46.595.176.499.169.294.2]

Gambar II.2 Bangkitan dan Tarikan Pergerakan

Parameter tujuan perjalanan yang berpengaruh di dalam produksi

perjalanan adalah:

(47)

2. Kawasan perbelanjaan

3. Kawasan pendidikan

4. Kawasan usaha (bisnis)

5. Kawasan hiburan (rekreasi)

Perjalanan dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:

1. Berdasarkan tujuan perjalanan, perjalanan dapat

dikelompokkan menjadi beberapa bagian sesuai dengan tujuan

perjalanan tersebut yaitu:

• Perjalanan ke tempat kerja

• Perjalanan dengan tujuan pendidikan

• Perjalanan ke pertokoan / belanja

• Perjalanan untuk kepentingan sosial

• dll

2. Berdasarkan waktu perjalanan biasanya dikelompokkan

menjadi perjalanan pada jam sibuk dan jam tidak sibuk.

Perjalanan pada jam sibuk pagi hari merupakan perjalanan

utama yang harus dilakukan setiap hari (untuk kerja dan

sekolah).

3. Berdasarkan jenis orang, pengelompokan perjalanan individu

(48)

• Tingkat pendapatan

• Tingkat pemilikan kendaraan

• Ukuran dan struktur rumah tangga

Dalam penelitian ini, perjalanan yang ditinjau adalah

pergerakan orang yang dilakukan dari rumah (asal) ke luar kawasan

penelitian (tujuan). Misalnya, perjalanan dari rumah ke kantor, dari

rumah ke sekolah dan lain-lain. Sehingga satu kali perjalanan adalah

satu kali pergerakan yang dilakukan seseorang dari rumah hingga

sampai ke tempat tujuannya yang lokasinya berada luar kawasan

perumahan tersebut.

Bangkitan perjalanan yang berasal dari kawasan perumahan

kecenderungan masyarakat dari kawasan tersebut melakukan

perjalanan berkaitan dengan sosial–ekonomi dari masyarakatnya dan

lingkungan sekitarnya yang terjabarkan dalam beberapa variabel,

seperti: kepemilikan kendaraan, jumlah anggota keluarga, jumlah

penduduk dewasa dan tipe dari struktur rumah.

Menurut Warpani (1990), beberapa penentu bangkitan perjalanan

yang dapat diterapkan di Indonesia:

a. Penghasilan keluarga

b. jumlah kepemilikan kenderaan

(49)

d. Moda perjalanan

e. Penggunaan kenderaan

f . Saat/waktu

II.7.1.2. Distribusi perjalanan (Trip distribution)

Distribusi perjalanan adalah salah satu langkah dalam

perencanaan transportasi empat tahap (Four step transport planning)

yang berkaitan dengan distribusi jumlah perjalanan (trip) antara satu

zona dengan zona lain.

[image:49.595.250.495.363.432.2]

Gambar II.3 Perjalanan antara zona i dengan zona j

Tabel berikut menunjukkan contoh distribusi perjalanan dengan z

jumlah zona.

Asal \ Tujuan 1 2 3 Z

1 T11 T12 T13 T1Z

2 T21

3 T31

[image:49.595.235.475.613.756.2]
(50)

Tabel II.1 Contoh distribusi perjalanan

Dimana Tij adalah jumlah perjalanan dari zona i menuju zona j.

II.7.1.3. Pemilihan moda (Modal split)

Pilihan moda adalah tahap ketiga dari perencanaan

transportasi empat tahap merupakan analisis terhadap pilihan moda

dalam melakukan perjalanan, apakah menggunakan kendaraan

pribadi atau kendaraan umum, menggunakan kendaraan pribadi bisa

dengan berjalan kaki, bersepeda, sepeda motor atau mobil sedang

angkutan umum bisa becak, taxi, bus atau kereta api. Ada beberapa

faktor yang memengaruhi pilihan moda seperti:

 Jaringan pelayanan angkutan umum

 Biaya angkutan, kalau angkutan umum disubsidi akan

memengaruhi penggunaan angkutan umum, termasuk kalau

biaya penggunaan kendaraan pribadi tinggi akan memengaruhi

penggunaan angkutan umum.

 Kecepatan perjalanan dengan angkutan umum dan angkutan

pribadi

 Fasilitas yang disediakan untuk moda tertentu seperti:

o Trotoar dan fasilitas pejalan kaki yang baik untuk

(51)

o Jaringan bagi pesepeda

II.7.1.4. Pembebanan jaringan (Trip assignment)

Pembebanan perjalanan atau disebut juga pembebanan lalu

lintas adalah tahapan terakir dari perencanaan transportasi empat

tahap yang merupakan pilihan rute yang dipilih dalam melakukan

perjalanan dari satu zona ke zona lainnya. Rute yang dipilih adalah

rute yang ditempuh dengan waktu yang paling cepat atau biaya yang

paling murah.

Gambar II.4 Pembebanan jaringan antara zona i dengan j

Pendekatan yang digunakan dalam analisis pembebanan rute adalah:

Semua atau sama sekali tidak

Disebut juga sebagai all or nothing adalah pendekatan dimana rute yang dipilih adalah rute yang jaraknya paling

pendek, disini diasumsikan bahwa semua perjalanan dari zona i

(52)

Keterbatasan kapasitas

Karena keterbatasan kapasitas jalan di dalam memilih rute

maka pilihan akan jatuh pada rute dengan biaya perjalanan yang

paling rendah atau waktu perjalanan yang paling singkat.

Pendekatan yang digunakan untuk menghitung waktu perjalanan

mengikuti rumus berikut:

dimana:

 T adalah waktu tempuh antara zona i dengan zona j,

 To adalah waktu tempuh antara zona i dengan zona j dalam

kondisi arus bebas,

 V adalah besarnya arus lalu lintas

 C adalah kapasitas jalan

II.8. Bangkitan Perjalanan Kawasan Perumahan

The Puget Sound Regional Transportation Study, pada tahun 1964 pertama kali menggunakan dan mengembangkan metode perjalanan berbasis rumah (home based trip generation) untuk memperkirakan bangkitan perjalanan pada kawasan perumahan. (Miro, 2005). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya

pergerakan, yaitu:

(53)

Merupakan sifat manusia bahwa apabila penghasilannya meningkat

maka standar kebutuhan hidupnya juga akan meningkat. Kebutuhan yang

meningkat dapat menyebabkan peningkatan jumlah perjalanan untuk

memenuhi kebutuhan tersebut.

2). Kepemilikan kendaraan

Kepemilikan kendaraan pada suatu rumah tangga dapat menyebabkan

kecenderungan peningkatan jumlah perjalanan pada suatu rumah tangga.

Berdasarkan hasil penelitian di Detroit Area disebutkan bahwa peningkatan

pemilikan kendaraan menyebabkan meningkatnya jumlah perjalaanan

penduduk per orang per hari maupun jumlah perjalanan dengan menggunakan

kendaraan pribadi.

3). Struktur rumah tangga

Struktur rumah tangga merupakan faktor yang tidak kalah penting

dalam menentukan besarnya bangkitan yang terjadi di daerah pemukiman.

Keluarga yang memiliki banyak jumlah anggota keluarga yang masih

produktif (berusia antara 5 sampai batas akhir usia kerja) maka

kecenderungan untuk meningkatnya jumlah perjalanan semakin besar.

4). Jarak pemukiman terhadap pusat kegiatan

Menurut penelitian dikatakan bahwa daerah pemukiman yang terletak

di pusat kota (dimana merupakan pusat berbagai aktivitas sosial, ekonomi,

(54)

dibandingkan dengan jumlah perjalanan dari kawasan pemukiman yang

berada di pinggiran kota.

5). Kepadatan daerah permukiman

Semakin padat jumlah penduduk di suatu daerah pemukiman maka

cenderung semakin besar jumlah perjalanan yang terjadi

6). Aksesibilitas

Semakin mudah aksesibilitas dari daerah pemukiman ke daerah tujuan

pusat-pusat kegiatan, maka akan semakin besar pula jumlah perjalanan yang

terjadi.

II.9 Metode Analisis Bangkitan Perjalanan (Trip Generation)

Secara umum terdapat tiga metode untuk menganalisis bangkitan perjalanan yaitu:

1. Analisis regresi linear

Metode analisis regresi akan digunakan untuk menghasilkan

hubungan dalam bentuk numerik dan untuk melihat bagaimana dua (regresi

sederhana) atau lebih ( regresi berganda) variabel —variabel saling

berhubungan satu sama lain. Salah satu langkah untuk menyelesaikan analisis

regresi adalah mengetahui pasti variabel-variabel yang berhubungan dengan

masalah yang ditinjau dan mengetahui dengan pasti variabel yang dianggap

sebagai variabel - variabel bebas atau variabel -variabel tidak bebas. Untuk

mengetahui dan menentukan variabel - variabel mana yang sesuai untuk

(55)

dan tenaga yang tidak sedikit, terutama apabila angka variabel yang hendak

dipakai itu besar. Jadi suatu model dianggap terbaik apabila model tersebut

terdiri dari beberapa variabel bebas yang sangat berkaitan dengan variabel

tidak bebas.

Variabel terikat yang dipilih adalah Jumlah pergerakan dalam sehari

Variabel - variabel bebas yang dipilih dalam analisa ini adalah :

 Jumlah keluarga (orang)

 Pendidikan (jumlah keluarga yang bersekolah)

 Pendapatan (rupiah)

 Kepemilikan kendaraan (mobil)

 Jumlah pergerakan dalam sehari

 Jumlah keluarga yang bekerja (orang)

 Kepemilikan sepeda motor

Jadi persamaan linear yang dipakai adalah:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 …….. + bn Xn

Dimana:

“Y” = variabel terikat (jumlah produksi perjalanan), terdiri dari:

a = konstanta (angka yang akan dicari)

b1,b2….bn = koefisien regresi (angka yang akan dicari)

(56)

(faktor-faktor berpengaruh)(Tamin, O.Z. 1997)

Tata cara pembuatan suatu model analisis regresi adalah dengan cara sebagai berikut:

1. Perhatikan hubungan antara variabel tidak bebas dengan setiap variabel bebas.

Cara yang paling mudah untuk mengetahuinya adalah dengan memplotkan

variable - variabel tersebut dengan mempergunakan komputer. Hubungan

yang tidak linear akan diubah menjadi linear. Pengujian yang biasa dilakukan

adalah dengan mengubahnya ke dalam bentuk persamaan Y = a + bX.

2. Membuat Matriks Korelasi Koefisien korelasi dapat bernilai positif atau

negatif. Nilai positif menujukkan hubungan yang positif, yaitu kemiringan

garis regresi adalah positif, sementara bernilai negatif menunjukkan

hubungan yang negatif, yaitu kemiringan garis regresi yang negatif.

Memeriksa melalui matriks korelasi, apabila ada variabel bebas berhubungan

Gambar

Gambar II.2 Bangkitan dan Tarikan Pergerakan
Tabel berikut menunjukkan contoh distribusi perjalanan dengan z
Gambar III.1 Bagan Alir Penelitian
Gambar IV.1 Peta Kecamatan Medan Denai
+7

Referensi

Dokumen terkait

Angka kejadian penyakit kulit yang berada pada urutan kedua penyakit terbesar di Puskesmas Medan Denai serta perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan perorangan

Bagi para pekerja dengan adanya industri lampion selendang ini membawa dampak yang baik terutama bagi tingkat pendapatan mereka.Melalui pekerjaan ini para ibu

muda terutama di perkotaan. Saat ini, graffiti semakin berkembang di kota Medan. Seiring dengan perkembangan seni Graffii di Kota Medan, banyak bermunculan berbagai

sangat sedikit penelitian tentang kawasan mangrove di Kabupaten Deli Serdang.. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin

Angka kejadian penyakit kulit yang berada pada urutan kedua penyakit terbesar di Puskesmas Medan Denai serta perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan

Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan penyakit akibat kerja yang paling banyak terjadi pada proses penjahitan pakaian. Besarnya kasus dan dampak

Karakteristik Jalan lokal primer menurut Ditjen Bina Marga (1990) adalah sebagai berikut. 1) Jalan lokal primer dalam kota merupakan terusan jalan lokal primer luar kota. 2) Jalan

Ini bunga yang indah sekali di