• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi Diastolik Dan Implikasi Klinisnya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Fungsi Diastolik Dan Implikasi Klinisnya"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

FUNGSI DIASTOLIK

DAN

IMPLIKASI KLINISNYA

OLEH :

ANGGIA CHAIRUDDIN LUBIS

DEPARTEMEN KARDIOLOGI DAN

KEDOKTERAN VASKULER

FAKULTAS KEDOKTERAN USU / RSUP H. ADAM MALIK

MEDAN

(2)

 

 

Fungsi Diastolik dan Implikasi Klinisnya 

 

Refarat Basic

Dr. Anggia Chairuddin Lubis

Diastolik didefinisikan sebagai periode yang dimulai pada saat akhir ejeksi ventrikel

(pada saat penutupan katup-katup semilunar) hingga menutupnya katup-katup

atrioventrikuler, yang secara sederhana diastolik sering diartikan sebagai pengisian dari

ventrikel. Fungsi diastolik dikatakan normal bila ventrikel mampu terisi tanpa disertai

peningkatan abnormal dari tekanan diastolik. Secara tradisional penilaian performa

jantung hanya menitik beratkan pada fungsi sistolik, dan fungsi diastolik hanya dianggap

sebagai perhatian kedua. Bagaimanapun dalam perkembangannya, fungsi diastolik

ternyata juga berperan penting dalam hal morbiditas dan mortalitas. 1-10

Fungsi Diastolik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ruang-ruang jantung,

myokard, perikard, serta faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah denyut jantung,

yang akan menentukan berapa lama waktu yang tersedia untuk pengisian dari ventrikel.

Faktor lain yang juga turut berperan adalah tekanan atrioventrikuler, di mana peningkatan

laju relaksasi mampu mempertahankan tekanan atrium pada batas normal. Hingga saat

ini, tehnik-tehnik non-invasif terus dikembangkan untuk dapat mendiagnosa disfungsi

diastolik sedini mungkin dan mengembangkan terapi yang potensial pada disfungsi

diastolik. 1,2, 11-18

Siklus Jantung

Siklus Jantung secara lengkap dipopulerkan oleh Lewis pada 1920, tetapi sebenarnya

pertama kali diperkenalkan oleh Wiggers pada 1915, yang berhasil menyediakan runtutan

waktu dan kejadian dalam satu siklus jantung. Tiga kejadian mendasar yang terjadi dalam

satu siklus jantung adalah (1) Kontraksi Ventrikel Kiri, (2) Relaksasi Ventrikel Kiri dan

(3) Pengisian Ventrikel Kiri. Fase sistolik ditandai dengan peningkatan tekanan ventrikel

kiri di atas atrium, ataupun penutupan katup mitral dan diakhiri pada saat tekanan

(3)

Calcium ditarik ke dalam sarcoplasma reticulum. Periode relaksasi ventrikel kiri dan

pengisian ventrikel kiri inilah yang disebut sebagai fase diastolik. Selain itu didapati juga

pendapat minoritas lainnya yang diajukan oleh Brutsaert dkk. yang menyatakan diastolik

dimulai lebih telat lagi, yaitu hanya setelah proses kontraksi dan relaksasi ventrikel

terlewati. 9

Diagram 1. Siklus Lewis atau Wiggers 

(4)

1) Relaksasi Isovolumik 

2) Pengisian dini ventrikel kiri 

3) Diastasis 

4) Pengisian Kontraksi Atrium 

Seperti yang terlihat pada diagram 2, beberapa faktor turut memberikan andil sesuai

dengan peran dan interaksinya dalam fase diastolik yang berbeda. Fase relaksasi

isovolumik dimulai pada saat penutupan katup aorta, dan terus berlanjut hingga tekanan

ventrikel kiri menurun di bawah tekanan atrium kiri. Fase relaksasi ini merupakan proses

aktif yang sangat membutuhkan tenaga. Fase pengisian dini ventrikel kiri dimulai pada

saat katup mitral membuka hingga tekanan pada ventrikel kiri menyamai atau melebihi

tekanan pada atrium kiri. Jika waktu pengisian diastolik cukup lama, maka akan didapati

fase diastasis pada saat tekanan di ventrikel kiri dan atrium kiri hampir sama dan sedikit

tambahan pengisian ventrikel kiri akan muncul. Hingga kontraksi dari atrium akan

menstabilkan perbedaan tekanan trans-mitral yang akan menberikan tambahan darah lagi

dari atrium ke ventrikel kiri pada ujung fase diastolik.19-22

Gambar 2. Faktor yang berperan dalam diastolic ventrikel kiri, dan hubungannya dengan fase‐fase  diastolik. 

Secara mendasar fungsi diastolik bergantung pada dua proses, 1) Proses aktif,

relaksasi dari ventrikel dan 2) Proses pasif, atau kekakuan dari ventrikel. Komponen

pertama, yaitu komponen aktif diastolik biasanya ditandai dengan konstanta waktu dari

(5)

monoexponential terhadap kurva tekanan ventrikel pada fase isovolumik. Konstanta τ

ditentukan dengan rumus

τ = - 1 / α

α adalah penurunan hubungan tekanan-waktu, dengan nilai normal τ = 48 milidetik, dan

interval 30 hingga 60 milidetik. Nilai τ yang lebih rendah menggambarkan masa

relaksasi yang lebih singkat. Proses relaksasi dapat dinyatakan lengkap pada saat 3.5 kali

dari konstanta τ setelah katup aorta menutup. 9, 19, 22,23

Gambar 3. Perhitungan konstanta waktu dari relaksasi ventrikel (tau, τ). Sumbu y menggambarkan  tekanan ventrikel kiri, dan sumbu x menggambarkan waktu.  

Ketika jembatan silang actin-myosin yang terbentuk sudah maksimal, maka

selanjutnya faktor-faktor mekanis akan lebih berperan dalam proses pasif diastolik.

Beberapa faktor yang memberi andil dalam proses pasif diastolik, seperti massa myokard,

matriks ekstraselular serta geometri ruang-ruang jantung, perfusi koroner, jaringan

kolagen, tekanan perikard, tekanan intra thorakal, volume intra vascular, dan lainnya.

Kekenyalan myokard ditunjukkan oleh jaringan elastis myocardium yang dipengaruhi

oleh interstitial jantung dan komposisi struktural myosit sendiri. Peningkatan sedikit saja

volume intraperikard, akan memicu peningkatan tekanan diastolik dalam ruang jantung.

Peningkatan volume jantung, hingga melebihi batas elastisitas jaringan perikard akan

(6)

salah satu sisi ruang jantung (kiri atau kanan) juga akan mempengaruhi pengisian pada

sisi jantung lainnya dengan meningkatkan tekanan diastolik. 9,19,22

Secara bersamaan, faktor-fator ini akan berperan dalam hubungan tekanan –

volume pada akhir diastolik (end-diastolic pressure-volume relationship). Pergeseran dan

perubahan bentuk kurva hubungan tekanan – volume memiliki makna yang beragam.

Karena hubungan tekanan – volume ventrikel kiri juga dipengaruhi oleh faktor dari luar,

setiap peningkatan volume akan diikuti dengan peningkatan tekanan pada ventrikel. Jika

kurva tekanan – volume tidak mengalami perubahan, pergeseran ke arah kiri

mengindikasikan adaya penurunan tahanan ruang jantung, sementara pergeseran ke kanan

mengindikasikan peningkatan tahanan ruang jatung.

Gambar 4. Kurva hubungan volume dan tekanan. Pergeseran kurva ke kiri menunjukkan ruang  jantung yang lebih kaku, sementara pergeseran ke kanan menunjukkan ruang jantung yang  fleksibel. 

Tekanan Pengisian Diastolik Ventrikel Kiri

Hubungan antara tekanan atrium kiri dan ventrikel kiri pada diastolik, atau yang disebut

dengan perbedaan tekanan trans mitral, akan menentukan arus darah yang melalui mitral

serta pengisian ventrikel kiri. Tekanan ventrikel kiri pada akhir diastolik (Left Ventricular

End Diastolic Pressure) berperan dalam meregang myokard, dan melalui mekanisme

(7)

ventrikel kiri yang lebih lambat akan menurunkan perbedaan tekanan pada awal diastolik,

sementara tekanan atrium kiri yang lebih tinggi akan meningkatkannya. 24-25

Ketika tekanan ventrikel kiri pada akhir diastolik dibutuhkan untuk meningkat

dalam rangka pengisian ventrikel yang sudah terganggu, ada dua kemungkinan yang

dapat terjadi. Ketika penyakit masih dini, kontraksi dari atrium yang hipertrofi akan

meningkatkan tekanan atrium kiri yang terganggu hingga tekanan pada atrium kiri tetap

terjaga normal. Sementara pada kemampuan ventrikel kiri yang sudah menurun lebih

lanjut dengan tekanan atrium kiri yang sudah meningkat, kongesti pulmonal sering kali

dijumpai peningkatan tekanan awal diastolik secara cepat.19

Peran Calcium Ion dalam Kontraksi – Relaksasi

Peran Calcium dalam mengatur kontrasi maupun relaksasi dalam siklus jantung sangat

penting. Hipotesa yang paling lazim digunakan adalah peranan calcium yang akan

memicu pelepasan calcium dari sarcoplasma reticulum (SR). Jumlah ion calcium yang

keluar dan masuk myosit jantung pada setiap siklusnya relatif sedikit, tetapi jumlah yang

jauh lebih besar akan dijumpai keluar dan masuk SR. Pada setiap gelombang depolarisasi

melewati tubulus T akan membuka channel Calcium type-L yang terletak di dekat SR,

dan kumpulannya disebut dengan reseptor ryanodine. Karenanya setiap depolarisasi akan

melepas ion calcium dalam jumlah besar ke myosit jantung. Ion calcium masuk ke dalam

SR melalui aktifitas pompa calcium yang disebut dengan SERCA (SR Ca2+). Proses ini

akan meningkatkan ion calcium dalam cytosol hingga 10 kali lipat, hal ini akan

meningkatkan interaksi antara ion calcium dan troponin C dan memicu proses kontraksi.9

Proses relaksasi ventrikel kiri bergantung pada dua proses biologis, yaitu pompa

Calcium seluler dan interaksi actin-myosin. Kontraksi pada jantung mamalia muncul

karena depolarisasi sel sebagai hasil dari pelepasan secara pasif ion Calcium yang

berlanjut ke aktivasi kaskade ion Calcium / troponin / actin / myosin. Sementara

kebalikannya, pengambilan kembali ion Calcium ke dalam SR pada proses relaksasi

merupakan proses aktif yang bergantung kepada energy (ATP) dan tenaga dari pompa

SERCA. Pompa SERCA berperan membantu laju relaksasi ventrikel kiri, dan memiliki

system pengaturan endogen, phospholamban. Phospholamban sendiri distimulasi oleh

(8)

Disfungsi dari pompa SERCA sendiri akan mengakibatkan penurunan laju

pengikatan kembali ion Calcium, sehingga menghambat relaksasi ventrikel kiri, ataupun

mengakibatkan jembatan silang yang terbentuk tidak sempurna dan meningkatkan

kekakuan dari ruang jantung. Berbagai mekanisme berbeda lainnya juga dapat menunda

proses deaktifasi. Hipertensi, stenosis aorta, disfungsi endothel, iskemia atau obat-obatan

inotropik negatif dapat memperlambat, mengganggu ataupun menurunkan laju pengisian

elastik dan waktu untuk pengisian ventrikel. (Mayo) Gangguan relaksasi merupakan

proses awal yang terjadi pada angina pectoris. Penjelasan metaboliknya adalah gangguan

pembentukan energi, di mana menekan kebutuhan ATP pada pengikatan calcium oleh SR

pada awal diastolik dan selanjutnya mengakibatkan penundaan kembalinya ion calcium

ke nilai normal pada saat diastolik. Kondisi Hipotiroid akan memperpanjang relaksasi,

yang juga akan ditandai dengan penundaan kembalinya peningkatan calcium pada saat

sistolik. Sementara pada kebanyakan penderita penyakit jantung koroner memiliki

berbagai variasi gangguan diastolik. Secara teori, berbagai macam kelainan relaksasi

sangat potensial untuk kembali normal, karena proses relaksasi yang sangat bergantung

dengan pola pergerakan ion calcium. 9,10

Gambar 5. Eksitasi – kontraksi myosit jantung 

Hubungan dengan proses Penuaan dan olah raga

Meski banyak faktor telah berhasil dihubungkan dengan fungsi diastolik, relaksasi

(9)

menentukan perbedaan tekanan trans-mitral dan pengisian ventrikel kiri. Olah raga akan

meningkatkan denyut jantung, darah balik ke jantung, isi sekuncup dan tekanan sistolik.

Relaksasi ventrikel kiri menjadi lebih singkat dan interval PR pada EKG memendek.

Proses ini akan mengurangi pengisian ventrikel kiri seiring dengan denyut jantung yang

semakin kencang.

Pada individu muda relaksasi ventrikel kiri terjadi cukup cepat, dengan 70-90 %

pengisian ventrikel kiri muncul pada awal diastolik. Proses penuaan, proses relaksasi

ventrikel kiri akan diperlambat seiring dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan

massa ventrikel kiri, di mana volume pengisian darah pada saat kontraksi atrial

meningkat hingga 30-40 % pada usia sekitar 65 tahun. 26

Peranan Echocardiografi pada Fungsi Diastolik

Kitabatake dkk. pada 1982 untuk pertama kali memperkenalkan pulsed-wave Doppler

untuk mengukur laju kecepatan trans mitral dan memperkirakan pengisian diastolik pada

ventrikel kiri, sebelum semakin dikembangkan oleh Aplleton dkk. pada 1988. Dalam

perkembangannya tehnik pemeriksaan ini terus berkembang dan menjadi modalitas

utama dalam penilaian fungsi diastolik ventrikel kiri. Melalui pemeriksaan Doppler

echocardiografi, laju kecepatan trans mitral dan vena-vena sentral dipergunakan untuk

menilai pola pengisian ventrikel kiri dan secara tidak langsung memperkirakan tekanan

pengisian ventrikel kiri. Pemeriksaan ini tidak hanya dipergunakan untuk mendiagnosa,

tetapi juga untuk menentukan prognosa dan evaluasi dari pengobatan. Meski begitu

tehnik pemeriksaan ini juga dipengaruhi oleh beberapa variabel fisiologis, sehingga

dalam pelaksanaannya tetap dibutuhkan informasi klinis dan data invasif yang

(10)

Gambar 6.Hubungan relaksasi dan beban jantung terhadap fungsi diastolic 

Aliran Mitral (Transmitral Inflow)

Untuk mendapatkan laju aliran mitral yang maksimal, dipergunakan pulsed wave dengan

meletakkan sample volume diantara kedua ujung daun katup pada saat diastolik, tetapi

tidak boleh terlalu masuk ke dalam alur masuk. 1,10,22

Tinggi rendahnya gelombang pengisian cepat dan gelombang kontraksi atrium

pada kurva kecepatan aliran mitral dalam rasio dipergunakan untuk membedakan fungsi

diastolik normal dan abnormal, dan lebih dikenal dengan rasio E/A. Gelombang E

menunjukkan proses proses pengisian cepat pada awal diastolik, dan gelombang A

menunjukkan proses pengisian lambat dari kontraksi atrium. Gambaran kurva kecepatan

aliran mitral dari perubahan relatif yang terjadi dari tekanan atrium kiri terhadap ventrikel

kiri akan menunjukkan interpretasi terhadap fungsi diastolik:

1. Pola Mitral Normal. Ditunjukkan dengan rasio kurva E/A > 1 , dengan waktu 

deselerasi 150‐240 mdet. 

2. Relaksasi  Abnormal.  Mekanisme  ini  terjadi  bila  terjadi  kegagalan  relaksasi, 

(11)

yang melakukan kompensasi, yang ditunjukkan dengan gambaran gelobang E 

yang rendah, waktu deselerasi yang memanjang dan gambaran deviasi E/A yang 

terbalik dengan gelombang A yang lebih tinggi dari gelombang E (E/A <1). 

3. Pola Pseudonormalisasi. Seiring dengan perjalanan penyakit tingkat elastisitas / 

kekenyalan dari ventrikel akan menurun dan tekanan pengisian akan meningkat 

karena  kompensasi  dari  tekanan  atrium  kiri,  sehingga  pola  pengisian  yang 

terlihat adalah relative normal (pseudonormalization). Pola ini mencerminkan 

proses relaksasi yang tidak lagi normal, dengan adanya penurunan elastisitas / 

kekenyalanyang dapat terlihat dengan pemendekan waktu deselerasi. 

4. Pola  Restriktif. Pada  kegagalan diastolik  yang berat,  proses relaksasi atrium 

dengan tekanan yang sangat tinggi sebagai kompensasi, mengakibatkan tekanan 

darah yang sangat cepat dan deras pada awal diastolik. Namun, kontraksi atrium 

pada akhir diastolik tidak lagi sanggup memompakan darah dengan kecepatan 

yang memadai sehingga menghasilkan gambaran gelombang A yang rendah. 

Gambaran pola restriktif ini terlihat pada ventrikel yang mengalami disfungsi 

berat yang ditandai dengan penurunan komplians ventrikel dan peningkatan dari 

tekanan atrium, kondisi ini juga dihubungkan dengan prognosis yang buruk. 

(12)

Gambar 7. Perubahan gambaran Doppler alur masuk mitral pada disfungsi diastolik 

Kecepatan Aliran Vena Pulmonal (Pulmonary Venous Flow)

Kecepatan aliran vena pulmonal dilakukan pada posisi apikal, dan sample volume

diletakkan 1-2 cm dalam vena pulmonalis superior dextra. 10,21

Seperti aliran vena-vena lainnya, aliran pada vena pulmonal terjadi pada

sepanjang siklus jantung baik pada sistolik maupun diastolik. Spektrum aliran vana

pulmonal terbagi dalam 3 variabel, yaitu (1) Komponen Sistolik Antegrade, (2)

Komponen Diastolik Antegrade dan (3) Komponen spektrum gelombang kecepatan

aliran balik atrium (gelombang A / PVa / AR).

Komponen sistolik antegrade muncul sebagai akibat dari relaksasi dari atrium kiri

dan pergerakan annulus mitral ke arah apeks ventrikel pada saat sistolik ventrikel. Aliran

sistolik antegrade pulmonal ini juga berhubungan erat dengan tekanan di atrium kiri, di

mana bila tekanan pada atrium kiri meningkat maka pengisian sistolik dari vena pulmonal

akan berkurang. Komponen Diastolik Antegrade dijumpai pada saat diastolik, ketika

didapati adanya hubungan antara vena pulmonalis, atrium kiri, katup mitral yang

membuka dan ventrikel kiri. Sementara gelombang aliran balik atrium menunjukkan

aliran yang balik ke vena pulmonalis pada saat kontraksi dari atrium. Pada saat kontraksi

(13)

Gambaran pada disfungsi diastolik dengan gangguan relaksasi, akan didapati

gelombang S yang lebih besar dari gelombang D, dan aliran arah balik atrial yang lebih

menonjol. Pola aliran vena pulmonal selanjutnya sangat berguna untuk membedakan

fungsi diastolik yang normal dan pseudonormal. Pada pseudonormal akan didapati

gelombang sistolik yang tumpul, dan gelombang A vena pulmonal yang sangat menonjol.

Sementara pada perburukan fungsi diastolik yang lebih lanjut akan didapati fraksi

pengisian sistolik yang sangat berkurang dan gelombang A vena pulmonal yang jauh

melebihi gelombang A mitral (arus balik yang masuk ke vena pulmonalis lebih banyak

dari arus masuk ke ventrikel kiri). 10,20,27

Gambar 8. Perubahan kurva Doppler vena pulmonalis disfungsi diastolik 

Waktu Deselerasi (Decceleration Time / DT)

Waktu deselerasi merupakan parameter waktu deselerasi yang paling sering digunakan,

dengan nilai normal 150 - 240 mdet. Pada kondisi relaksasi yang abnormal akan diikuti

dengan pemanjangan DT > 240 mdet. Pada perkembangannya menjadi pseudonormal

yang diikuti dengan gangguan elastisitas / kekenyalan relaksasi ventrikel kiri maka

deselerasi akan kembali menajam dan menghasilkan gambaran waktu deselerasi yang

kembali memendek, 150 - 240 mdet. Pada tahapan restriktif ventrikel kiri, tekanan akhir

sistolik dan diastolik akan sangat tinggi, sehingga kecepatan pengisian awal yang sangat

(14)

Propagansi Aliran Intrakardiak (Flow Propagation Velocity)

Dengan mengukur kemiringan aliran pada awal gelombang transmitral, laju yang

mempropogasi dalam ventrikel dapat diperkirakan, dengan merekam Doppler M-mode

berwarna pada alur masuk mitral selama fase diastolik. Cara ini membuat M-mode

berwarna melintasi ruang ventrikel kiri melalui transmitral. Aliran darah transmitral

direkam pada sudut pandang apikal 4-ruang. Semakin tajam kemiringan yang dihasilkan

maka semakin baik fungsi kekenyalan ventrikel kiri, dan sebaliknya bila semakin landai

kemiringan yang dihasilkan maka semakin rendah pula kekenyalan ventrikel kiri.

Didapati 5 macam metode pengukuran propagansi aliran intrakariak,yaitu Metode

Brun, Duval-Garcia, Stugaard, Takatsuji dan Greenberg, di mana nilai acuan normal dari

setiap pemeriksaan berbeda. Penting untuk diingat bahwa variasi angka yang diperoleh

dapat sangat beragam hingga 250 % bergantung dengan metodologi yang dipergunakan,

karenanya interpretasi yang didapatkan juga harus diserta dengan keterangan

metodologinya. Hingga saat ini metode Duval-Moulin/Garcia merupakan metode yang

paling mudah dan paling sering dipergunakan. 20,27,35

Pencitraan Doppler Jaringan (Doppler Tissue Imaging)

Kecepatan myokard tergambar dalam tiga profil gelombang yang berbeda, yaitu (1)

Kecepatan Sistolik Myokard (Sm), (2) Kecepatan awal diastolik Myokard (Em) dan (3)

Kecepatan akhir diastolik myokard (Am). Spektrum pemeriksaan ini menggambarkan

fungsi sistolik dan diastolik sekaligus, dengan parameter yang relatif independen dari

kondisi beban (preload dan afterload). Kelemahan dari tehnik pemeriksaan ini adalah

pengukuran yang harus dilakukan pada tempat tertentu, sehingga didapati keterbatasan

pada pasien dengan abnormalitas gerakan dinding yang hanya segmental. Gelombang

diastolik myokard yang diperoleh dari pencitraan Doppler jaringan tidak terpengaruh

dengan preload relaksasi ventrikel kiri. Secara non-invasif indeks ini sangat bermanfaat

(15)

  Gambar 9. Gambaran Pencitraan Doppler Jaringan 

Manuver Vasalva

Aliran pseudonormal muncul ketika telah terjadi gangguan relaksasi disertai peningkatan

tekanan atrium kiri. Pada saat dilakukannya manuver vasalva akan didapati penurunan

darah balik ke jantung dan penurunan tekanan preload (tekanan atrium kiri), karenanya

maneuver vasalva dapat dilakukan untuk dapat mengetahui adanya gangguan relaksasi.

Pada fungsi diastolik, dengan relaksasi normal dan tekanan atrium kiri yang

normal, penurunan tekanan preload akibat maneuver vasalva akan mengakibatkan

penurunan kecepatan baik pada gelombang E dan gelombang A, sehingga rasio E/A tetap

lebih besar dari 1. Sementara pada kondisi pseudonormal, penurunan preload akan

menurunkan kecepatan gelombang E transmitral, sementara gelombang A tidak

mengalami penurunan atau hanya sedikit mengalami penurunan, sehingga rasio E/A akan

turun di bawah 1.

Manuver Vasalva dapat dilakukan dengan memerintahkan pasien untuk menahan

(16)

layaknya sedang meniup balon. Tehnik lain yang dapat digunakan adalah dengan

menghembuskan nafas melalui hidung, tapi dengan kondisi idung dan mulut tertutup

rapat, seperti yang biasa dilakukan ketika berada di atas pesawat. 10,20,34

Pola pengisian Diastolik pada Atrial Fibrilasi

Kriteria klasik yang biasa dipergunakan untuk mengklasifikasi kelainan diastolik tidak

dapat diterapkan pada penderita atrial fibrilasi karena tidak didapatinya gelombang A

pada alur masuk mitral, dan aliran sistolik antegrade pada vena pulmonalis nyaris tidak

lagi dijumpai. Tehnik yang dipergunakan adalah waktu deselerasi transmitral yang

kurang dari 130 mdet berguna untuk mengidentifikasi pengisian restriktif pada penderita

atrial fibrilasi. Penting untuk diingat bahwa pengukuran waktu deselerasi pada atrial

fibrilasi hanya dapat dipergunakan bila waktu deselerasi berakhir sebelum munculnya

(17)

Daftar Pustaka

1. Ren X, Ristow B, Na B, et al. Prevalence and prognosis of asymptomatic left ventricular 

diastolic dysfunction in ambulatory patients with coronary heart disease. Am J Cardiol 

2007;99:1643‐47. 

Doppler imaging adds independent and incremental prognostic value. J Am Coll Cardiol 

2003; 41:820‐6. 

6. Zile MR. Heart Failure with preserved ejection fraction:is this diastolic heart failure? J 

Am Coll Cardiol 2003;41:1519‐1522. 

7. Dong SJ, Fuentes LD, Brown AL, et al. N‐terminal pro B‐type natriuretic peptide levels: 

correlation with echocardiographically determined left ventricular diastolic function in 

an ambulatory cohort. J Am Soc Echocardiogr 2006; 19:1017‐1025. 

8. Khunri  TM,  Reid  KJ,  Kosiborod  M,  et  al.  Usefulness  of  left  ventricular  diastolic 

dysfunction as a predictor of one year rehospitalization in survivors of acute myocardial 

infarction. Am J Cardiol 2009;103:17‐21. 

9. Zipes  DP, Libby  P,  Bonow  RO, et  al,  editors. Braunwald’s Heart Disease  A  Textbook of Cardiovascular Medicine. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders,  2005. 

10. Oh JK, Seward JB, Tajik AJ. The Echo Manual. 3rd ed. Philadelphia: Lippincott‐ Raven Publishers, 2006. 

11. O’Rourke MF. Diastolic Heart Failure, Diastolic left ventricular dysfunction and exercise 

(18)

12. Lamb HJ, Beyerbacht HP, Roos AD, et al. Left Ventricular Remodelling early after aortic 

valve replacement : differential effects on diastolic function in aortic valve stenosis and 

aortic regurgitation. J Am Coll Cardiol 2002;40:2182‐8. 

Diastolic  Dysfunction  Trial:  Evolving  the  management  of  diastolic  dysfunction  in 

hypertension. Am Heart J 2006; 152:246‐52. 

18. Oh JK, Hatle L, Tajik AJ, et al. Diastolic Heart Failure can be diagnosed by comprehensive 

two‐dimensional and Doppler echocardiography. J Am Coll Cardiol 2006;47:500‐6. 

19. Murphy JG, Lloyd MA, editors. Mayo Clinic Cardiology. 3rd ed. Minnesota: Mayo  Clinic Scientific Press. 

20. Anderson  B.  Echocardiography  ‐The  Normal  Examination  and  Echocardiographic 

Measurements. 2nd ed. Australia:MGA Graphics, 2007. 

21. Salomon SD, ed. Essential Echocardiography. New Jersey:Humana Press, 2007. 

22. Maurer  MS,  Spevack  D,  Burkhoff  D.  Diastolic  dysfunction.  J  Am  Coll  Cardiol 

2004;44:1543‐9 

23. Plappert  T,  Sutton  MGSJ.  The  Echocardiographer’s  Guide.  Philadelphia:  Informa 

Healthcare, 2006. 

24. Editorial. Mitral flow derived Doppler indices of left ventricular diastolic function. Eur 

Heart J 2000;21:1298‐1300. 

25. Arteaga RB, Hreybe H, Patel D, et al. Derivation and validation of a diagnostic model for 

the evaluation of left ventricular filling pressures and diastolic function using mitral 

(19)

26. Schmitz L, Koch H, Bein G, et al. Left ventricular diastolic unction in infants, children, and 

adolescent. Refrence values and analysis of morphologic and physiologic determinants 

of echocardiographic Doppler flow signals during qrowth and maturation. J Am Coll 

Cardiol 1998;32:1441‐8. 

27. Oemar  H,  Nanda NC,  Yoshida K,  Shiota  T,  et  al.  Textbook  of  Echocardiography: 

interpretasi dan diagnosis klinis. Jakarta: YMB, 2005 

28. Rivas‐Gotz C. Khoury DS, Manolios M, et al. Time interval between onset of mitral inflow 

remodeling and diastolic dysfunction in patients without coronary artery disease. Am J 

Cardiol 2006;98:116‐120. 

31. Heerebeek  Lv, Paulus  WJ.The  dialogue  between  diabetes  and  diastole.  EurHeartJ 

2009;11:3‐5. 

32. Galderisi M. Diastolic dysfunction and diabetic cardiomyopathy. J Am Coll Cardiol 

2006;48:1548‐51. 

33. Osranek M, Seward JB, Buschenreithner B, et al. Diastolic function assessment in clinical 

practice: the value of 2‐dimensional echocardiography. Am Heart J 2007; 154:130‐6. 

34. Almuntaser I, Brown A, Murphy R, et al. Comparison of echocardiographic measures of 

left ventricular diastolic function in early hypertension. Am J Cardiol 2007;100:1771‐

1775. 

ventricular diastolic function and filling pressure in atrial fibrillation. Am J Cardiol 

(20)

Gambar

Gambar 2. Faktor yang berperan dalam diastolic ventrikel kiri, dan hubungannya dengan fase‐fase 
Gambar 3. Perhitungan konstanta waktu dari relaksasi ventrikel (tau, τ). Sumbu y menggambarkan 
Gambar 4. Kurva hubungan volume dan tekanan. Pergeseran kurva ke kiri menunjukkan ruang 
Gambar 5. Eksitasi – kontraksi myosit jantung 
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengetahui hubungan antara tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan nadi dan tekanan arteri rata-rata dengan fungsi kognitif pada usia lima puluh

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa LA filling dan emptying slope merupakan parameter yang dapat digunakan dalam membedakan fungsi diastolik normal dengan.. disfungsi

Terapi relaksasi otot progresif lebih efektif menurunkan tekanan darah sistolik, namun kurang efektif untuk menurunkan tekanan darah diastolik dan dapat dijadikan

Diastolic Stress Test menggunakan ekokardiografi biasanya dilakukan untuk mendeteksi penurunan kapasitas sistolik dan/atau diastolik ventrikel kiri pada penyakit

DARAH DIASTOLIK, TEKANAN NADI DAN TEKANAN ARTERI RATA-RATA DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA USIA DI ATAS LIMA PULUH TAHUN ” dan setelah mendapat kesempatan mengajukan

Dengan mengetahui hubungan antara tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan nadi dan tekanan arteri rata-rata dengan fungsi kognitif pada usia lima puluh

Judul Tesis : HUBUNGAN ANTARA TEKANAN DARAH SISTOLIK, TEKANAN DARAH DIASTOLIK, TEKANAN NADI DAN TEKANAN ARTERI RATA-RATA DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA USIA DI

Fungsi diastolik pada MR sangat sulit dianalisis akibat peningkatan volume pengisian. Relaksasi ventrikel kiri biasanya memanjang dan kekakuan ventrikel kiri juga