• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Hukum Pelarangan Ekspor Mineral Mentah Terkait Dengan Prinsip-Prinsip General Agreement On Tariffs And Trade (Gatt)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Aspek Hukum Pelarangan Ekspor Mineral Mentah Terkait Dengan Prinsip-Prinsip General Agreement On Tariffs And Trade (Gatt)"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

ASPEK HUKUM PELARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH

TERKAIT DENGAN PRINSIP-PRINSIP GENERAL AGREEMENT ON

TARIFFS AND TRADE (GATT)

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi

Syarat-Syarat dalam Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

DEVID JUHENDRI

110200555

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

ASPEK HUKUM PELARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH

TERKAIT DENGAN PRINSIP-PRINSIP GENERAL AGREEMENT ON

TARIFFS AND TRADE (GATT)

S k r i p s i

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir dan Melengkapi Syarat

dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

DEVID JUHENDRI

110200555

Disetujui oleh :

Ketua Departemen Hukum Ekonomi

Windha, S.H., M.Hum

NIP : 197501122005012002

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum Dr.Mahmul Siregar, S.H., M.Hum

NIP : 195905111986011001 NIP : 197302202002121001

PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

i

ABSTRAK

ASPEK HUKUM PELARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH TERKAIT DENGAN PRINSIP-PRINSIP GENERAL AGREEMENT ON

TARIFFS AND TRADE (GATT)

Devid Juhendri* Budiman Ginting** Mahmul Siregar***

Pemerintah menyusun kebijakan peningkatan nilai tambah terhadap mineral melalui pelarangan ekspor terhadap mineral yang belum diolah/dimurnikan sampai batasan tertentu. Namun dalam pelaksanaannya menimbulkan berbagai masalah, permasalahan tersebut akan dibahas dalam skripsi ini yaitu pertama, bagaimanakah pelarangan ekspor mineral mentah dalam hukum positif Indonesia; kedua, bagaimanakah penyelesaian sengketa yang terjadi antara pengusaha pertambangan dengan pemerintah akibat diterapkannya kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah; ketiga, bagaimanakah kedudukan kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah terhadap prinsip-prinsip GATT

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini bersifat penelitian hukum normatif atau penelitian kepustakaan dengan teknik analisis data kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, tersier. Keseluruhan data tersebut dikumpulkan dengan teknik studi kepustakaan.

Kesimpulan yang dicapai dalam penulisan ini adalah pertama, pelarangan ekspor mineral mentah berdasarkan hukum positif Indonesia tidak tercantum dengan tegas dalam peraturan perundang-undangan. Ketentuan pelarangan ekspor mineral mentah hanya dapat diketahui melalui penafsiran terhadap Pasal-Pasal yang terdapat dalam peraturan kewajiban peningkatan nilai tambah; kedua, penyelesaian sengketa antara pengusaha pertambangan dengan pemerintah akibat diterapkannya kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah selalu mengedepankan penyelesaian sengketa alternatif; ketiga, kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah berkedudukan dibawah prinsip-prinsip General

Agreement on Tariffs and Trade (GATT) hal tersebut dikarenakan Indonesia telah

meratifikasi Agreement Establishing the World Trade Organization (WTO) yang merupakan satu kesatuan dengan GATT, dengan demikian seluruh peraturan yang dibuat semestinya selaras dengan ketentuan GATT, namun kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah melanggar prinsip penghapusan hambatan kuantitatif yang terdapat di dalam GATT.

Kata Kunci : Pelarangan Ekspor, Mineral Mentah, Penyelesaian Sengketa, GATT.

*

) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**

)Dosen Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***

(4)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang

senantiasa memberikan harapan, semangat, kekuatan, kesabaran, dan bimbingan

selama proses penulisan skripsi ini sehingga dapat menyelesaikannya dengan baik

dan tepat waktu.

Penulisan skripsi yang berjudul "ASPEK HUKUM PELARANGAN

EKSPOR MINERAL MENTAH TERKAIT DENGAN PRINSIP-PRINSIP

GENERAL AGREEMENT ON TARIFFS AND TRADE (GATT)" ini ditujukan

untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Hukum (SH) di

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari ketidaksempurnaan sehingga

besar harapan kepada para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk

membaca skripsi ini agar dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran

yang membangun demi menghasilkan sebuah karya ilmiah yang baik dan

sempurna lagi.

Secara khusus, penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya

kepada kedua orang tua penulis, M. Lubis dan Omega A. Deliana, S.Sos. Terlebih

khusus kepada Ibunda atas semua perjuangannya dalam mendidik, membimbing,

mendukung, serta harapan dan doa-doanya yang senantiasa mengiringi kehidupan

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini serta memperoleh

pendidikan formal sampai pada tingkat Strata Satu. Terima kasih juga kepada

abang dan adik tercinta, dr. Riadi Vinsensius dan Agnes Aurelia. Skripsi ini

(5)

iii

Dengan ini izinkanlah penulis mengucapkan rasa hormat dan terima

kasih setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses

penyusunan skripsi ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara (USU).

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M.Hum, selaku Pembantu Dekan I,

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai Dosen

Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu dalam membimbing

penulis sehingga terselesaikannya skripsi ini.

3. Bapak Syafruddin Hasibuan, S.H., M.Hum., DFM selaku Pembantu Dekan II

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU).

4. Bapak Dr.O.K Saidin, S.H., M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Windha, S.H., M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi,

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Ucapan terima kasih

sebesar-besarnya atas segala saran dan kritik yang sangat berarti dan bermanfaat bagi

penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Ramli Siregar, S.H., M.Hum, selaku sekretaris jurusan Departemen

Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Ucapan terima

kasih sebesar-besarnya atas ilmu yang telah diberikan dalam perkuliahan.

7. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II.

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya karena telah bersedia meluangkan

(6)

iv

8. Bapak Syamsul Rizal, S.H., M.Hum. selaku Dosen Penasihat Akademik.

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya atas segala bantuan sejak baru menjadi

mahasiswa sampai sekarang selesai menyelesaikan pendidikan.

9. Para Dosen, Asisten Dosen, dan seluruh staf administrasi di Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara yang telah berjasa mendidik dan membantu

Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10.Teman-teman seperjuangan yang merupakan teman dekat, teman satu grup,

dan tim klinis, yaitu Michael, Richard TGS, Masmur Purba, Juantha Barus,

Fadillah Mahraini, Syafitri Ditami, Yuliana Siregar.

11.Teman-teman seperjuangan "GASTER" yang merupakan teman-teman yang

di luar akal sehat, tidak rasional, dan gila, banyak pengalaman senang, sedih,

jengkel, pembelajaran hidup, yang penulis dapatkan dari mereka. Kumpulan

orang tidak waras tersebut yaitu; apara Asido Malau, apara Philip Damanik,

Juanda Tampubolon, Timoty, Vincent Nadeak, Tirta Silalahi, Danny Sinaga,

Rio Silalahi, Arius Lumbanbatu, Ivan Halawa, Nio Romario, Lambok, Putra,

Bruno Saragih, Chocky, Guntur Gultom, Ady, Roboy, Togar, Jhon.

12.Kepada Saudara-saudariku di Keluarga Mahasiswa Katolik St. Fidelis

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yaitu, Nova Sagala, Maruli

Simalango, Ruba Silaen, Richard Sitio, Eni sipayung, Kristina Simbolon, Kak

Anggi Sinaga, Kak Agnes, Bang Rio, Bang Jigo, Bang Leo, serta adik-adik

yang terkasih.

13.Kepada seluruh pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang

namanya tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu

(7)

v

Akhirnya Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat

bukan hanya kepada penulis, tetapi juga kepada masyarakat.

Medan, April 2015 Penulis

(8)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah... 11

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11

D. Keaslian Penulisan ... 12

E. Tinjauan Pustaka ... 13

F. Metode Penelitian ... 19

G. Sistematika Penulisan ... 22

BAB II PELARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH BERDASARKANPERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA A. Aspek Hukum Pertambangan di Indonesia ... 24

1. Sejarah Pengaturan Pertambangan di Indonesia ... 24

2. Pelarangan Ekspor Mineral Berdasarkan UU Minerba ... 29

3. Pelarangan Ekspor Mineral Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Kedua Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara ... 33

(9)

vii

5. Pelarangan Ekspor Mineral Berdasarkan Peraturan Menteri

Perdagangan Nomor 04 / M-DAG / PER / 1 / 2014 tentang

Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan

Pemurnian. ... 41

6. Pelarangan Ekspor Mineral Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.6/PMK.011.2014 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar ... 43

B. Latar Belakang Lahirnya Kebijakan Pelarangan Ekspor Mineral Mentah di Indonesia ... 46

1. Pengertian Pelarangan Ekspor Mineral Mentah ... 46

2. Konsep Kedaulatan Negara Atas Bahan Tambang ... 49

3. Pengertian dan Dasar Hukum Penguasaan Hak Penguasaan Negara ... 51

C. Permasalahan yang timbul akibat diterapkannya kebijakan Pelarangan ekspor mineral mentah ... 57

BAB III PENYELESAIAN SENGKETA BIDANG PERTAMBANGAN TERKAIT DENGAN PELARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH A. Bentuk Penyelesaian Sengketa di Indonesia ... 61

1. Arbitrase ... 61

2. Penyelesaian Sengketa Alternatif ... 64

B. Bentuk Penyelesaian Sengketa Lingkup Internasional ... 66

1. Arbitrase Internasional ... 66

2. WTO ... 70

(10)

viii

BAB IV KEDUDUKAN LARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH

TERHADAP PRINSIP-PRINSIP GENERAL AGREMENT ON

TARIFFS AND TRADE (GATT)

A. Tinjauan Umum Mengenai GATT ... 84

1. Sejarah Terbentuknya GATT ... 85

2. Tujuan dan Fungsi GATT ... 88

3. Sekilas mengenai Prinsip-Prinsip GATT ... 89

B. Indonesia dalam GATT dan WTO ... 93

1. Keterlibatan Indonesia dalam GATT ... 93

2. Indonesia dalam Putaran Uruguay ... 94

3. Keterlibatan Indonesia dalam Penyelesaian Sengketa Perdagangan ... 98

4. Indonesia dan WTO ... 100

C. Analisis Mengenai Pelarangan Ekspor Mineral Mentah Terkait dengan Prinsip-prinsip GATT ... 103

1. Prinsip-prinsip GATT yang Berkaitan dengan Kebijakan Pelarangan Ekspor Mineral Mentah ... 104

2. Pengecualian Terhadap Prinsip-prinsip GATT ... 104

3. Analisis Kedudukan Kebijakan Pelarangan Ekspor Mineral Mentah Terhadap Prinsip-prinsip GATT ... 113

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 125

B. Saran ... 127

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tabel Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor Energi dan

(12)

i

ABSTRAK

ASPEK HUKUM PELARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH TERKAIT DENGAN PRINSIP-PRINSIP GENERAL AGREEMENT ON

TARIFFS AND TRADE (GATT)

Devid Juhendri* Budiman Ginting** Mahmul Siregar***

Pemerintah menyusun kebijakan peningkatan nilai tambah terhadap mineral melalui pelarangan ekspor terhadap mineral yang belum diolah/dimurnikan sampai batasan tertentu. Namun dalam pelaksanaannya menimbulkan berbagai masalah, permasalahan tersebut akan dibahas dalam skripsi ini yaitu pertama, bagaimanakah pelarangan ekspor mineral mentah dalam hukum positif Indonesia; kedua, bagaimanakah penyelesaian sengketa yang terjadi antara pengusaha pertambangan dengan pemerintah akibat diterapkannya kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah; ketiga, bagaimanakah kedudukan kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah terhadap prinsip-prinsip GATT

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini bersifat penelitian hukum normatif atau penelitian kepustakaan dengan teknik analisis data kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, tersier. Keseluruhan data tersebut dikumpulkan dengan teknik studi kepustakaan.

Kesimpulan yang dicapai dalam penulisan ini adalah pertama, pelarangan ekspor mineral mentah berdasarkan hukum positif Indonesia tidak tercantum dengan tegas dalam peraturan perundang-undangan. Ketentuan pelarangan ekspor mineral mentah hanya dapat diketahui melalui penafsiran terhadap Pasal-Pasal yang terdapat dalam peraturan kewajiban peningkatan nilai tambah; kedua, penyelesaian sengketa antara pengusaha pertambangan dengan pemerintah akibat diterapkannya kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah selalu mengedepankan penyelesaian sengketa alternatif; ketiga, kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah berkedudukan dibawah prinsip-prinsip General

Agreement on Tariffs and Trade (GATT) hal tersebut dikarenakan Indonesia telah

meratifikasi Agreement Establishing the World Trade Organization (WTO) yang merupakan satu kesatuan dengan GATT, dengan demikian seluruh peraturan yang dibuat semestinya selaras dengan ketentuan GATT, namun kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah melanggar prinsip penghapusan hambatan kuantitatif yang terdapat di dalam GATT.

Kata Kunci : Pelarangan Ekspor, Mineral Mentah, Penyelesaian Sengketa, GATT.

*

) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**

)Dosen Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang berlimpah yang dapat

digunakan untuk kemakmuran rakyat. Salah satu sumber daya alam yang dapat

dimanfaatkan sebagai instrument memakmurkan rakyat adalah mineral dan

batubara (Minerba). Mengingat bahwa mineral dan batubara merupakan kekayaan

alam yang tak terbarukan yang mempunyai peran penting dalam meningkatkan

perekonomian nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan serta

mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan maka

pengelolaan dan pemanfaatan Minerba harus dilakukan dengan optimal dan

semaksimal mungkin.2

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) Indonesia menduduki

peringkat ke-6 sebagai negara yang kaya akan sumber daya tambang. Selain itu,

dari potensi bahan galiannya untuk batubara, Indonesia menduduki peringkat ke-3

untuk ekspor batubara, peringkat ke-2 untuk produksi timah, peringkat ke-2 untuk

produksi tembaga, peringkat ke-6 untuk produksi emas. Berbagai macam bahan

tambang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, dari sabang sampai merauke,

mulai dari emas, timah, tembaga, perak, intan, batubara, minyak, bauksit, dan

lain-lain. Berdasarkan data USGS, cadangan emas Indonesia berkisar 2,3% dari

cadangan emas dunia. Dengan cadangan sebesar itu, Indonesia menduduki

peringkat ke-7, sedangkan produksinya sekitar 6,7% dari produksi emas dunia dan

menduduki peringkat ke-6. Sementara itu, posisi cadangan timah Indonesia

2

(14)

2

menduduki peringkat ke-5, yakni sebesar 8,1% dari cadangan timah dunia.

Cadangan tembaga Indonesia sekitar 4,1% dari cadangan tembaga dunia, dan

merupakan peringkat ke-7 sedangkan dari sisi produksi adalah 10,4% dari

produksi dunia dan merupakan peringkat ke-2. Potensi nikel Indonesia juga luar

biasa. Cadangan nikel Indonesia mencapai sekitar 2,9% dari cadangan nikel dunia,

dan merupakan peringkat ke-8, sedangkan produksinya 8,6% dan merupakan

peringkat ke-4 dunia.3

Ketiadaan pengetahuan, modal, dan teknologi yang memadai untuk

menggali dan mengolahnya, membuat sumber daya mineral dan batubara belum

memilki manfaat yang berarti. Padahal, kekayaan bahan tambang, khususnya

mineral, apabila diproses lebih lanjut dapat menghasilkan bahan baru yang lebih

bermanfaat dan bernilai jual tinggi.

4

Masih rendahnya manfaat ekonomi yang diperoleh negara selama ini

antara lain dapat dilihat dari nilai penerimaan negara bukan panjak (PNBP)

[image:14.595.112.538.553.634.2]

mineral.

Tabel 1

Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Sumber : http://www.majalahglobalreview.com/industri/pertambangan/13-pertambangan /105-tataniaga-ekspor-untuk-hilirisasi-minerba.html

3

http: / / w w w . i m a - a p i . c o m / i n d e x . p h p ? o p t i o n = c o m _ c o n t e n t & v i e w = article&id=1937:potensi-dan-tantangan-pertambangan-di-indonesia&catid=47:media-news&Itemid=98&lang=id (diakses tanggal 9 Desember 2014)

4

Sukandarrumidi, Memahami Pengelolaan Bahan Tambang di Indonesia: Referensi Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 (Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara, 2010), hlm.25.

NO TAHUN PERTAMBANGAN UMUM MIGAS TOTAL

MINERAL BATU BARA

1 2007 Rp. 2.94 triliun Rp. 5.75 triliun Rp. 134.5 triliun Rp. 143.2 triliun

(15)

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD

1945) Pasal 33 ayat (3) menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang

terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk

sebesar-besar kemakmuran rakyat. Mengingat mineral dan batubara sebagai kekayaan

alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tidak

terbarukan, pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien,

transparan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan agar

memperoleh manfaat sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat secara

berkelanjutan.5 Mahkamah Konstitusi memberikan penafsiran terhadap klausul

“dikuasai negara” dimana mencakup makna penguasaan oleh negara dalam arti

luas yang bersumber dan diturunkan dari konsepsi kedaulatan negara rakyat

Indonesia atas segala sumber kekayaan “bumi dan air dan kekayaan alam yang

terkandung di dalamnya, termasuk pula di dalamnya pengertian kepemilikan

publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber kekayaan yang dimaksud.

Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandat

kepada negara untuk melakukan fungsinya dalam mengadakan kebijakan (beleid)

dan tindakan pengurusan (bestuursdaad), pengaturan (regelendaad), pengelolaan

(beheersdaad), dan pengawasan (toezichtoudensdaad) untuk tujuan

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.6

Kondisi pengelolaan sumber daya alam, khususnya sumber daya mineral

di Indonesia saat ini sebagian besar diekspor masih dalam bentuk bahan mentah,

tanpa dilakukan pengolahan dan/atau pemurnian terlebih dahulu. Di sisi lain,

5

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Penjelasan Umum

6

(16)

4

beberapa industri pengolahan yang menggunakan sumber daya mineral sebagai

bahan baku utama ataupun penunjang masih merupakan produk impor. Kondisi

tersebut mengakibatkan sumber daya mineral tidak menghasilkan nilai tambah

(value-added) secara langsung sebagaimana yang diharapkan.7

Peningkatan nilai tambah adalah usaha untuk meningkatkan nilai

keekonomian suatu hasil tambang melalui teknologi pengolahan dan pemurnian

sehingga menghasilkan dampak pada kemanfaatan lebih tinggi pada produk yang

dihasilkan dan memberikan multiplier-effect pada pengembangan industri hilir

terkait.8 Multiplier-effect yang dimaksud terdiri dari meningkatkan pendapatan

rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan

surplus usaha untuk menarik minat investor menanamkan modalnya,

meningkatkan pendapatan pajak untuk menaikkan kemampuan dan kemandirian

fiskal bagi pemerintah pusat dan daerah, memperluas lapangan pekerjaan bagi

masyarakat sekaligus mengurangi pengangguran, dan adanya nilai tambah total

untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Dasar filosofis peningkatan nilai tambah

pada produk akhir dari usaha pertambangan adalah untuk meningkatkan dan

mengoptimalkan nilai tambang, menyediakan bahan baku industri, menyerap

tenaga kerja, dan meningkatkan penerimaan negara.9

Kebijakan peningkatan nilai tambah hasil penambangan mineral di dalam

negeri melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian sebenarnya telah dikenal pada

saat berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang

7

Suryartono, dkk., Good Mining Practice: Konsep Tentang Pengelolaan Pertambangan Yang Baik dan Benar (Semarang: Studi Nusa,2003), hlm.191.

8

Juwita, Catherine, "Perbedaan Pengaturan Peningkatan Nilai Tambah Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian di Dalam Negeri Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Dampaknya Terhadap Investasi Pertambangan Tembaga di Indonesia (Studi Kasus: Kontrak Karya PT Freeport Indonesia Company)," (Skripsi Sarjana Ilmu Hukum, Universitas Indonesia, 2013), hlm.66.

(17)

Ketentuan Pokok Pertambangan, meskipun memang tidak dituangkan secara tegas

tentang bagaimana mekanisme dan tatacaranya. Ketentuan Pasal 2 huruf f

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 misalnya telah dikemukakan definisi

pengolahan dan pemurnian sebagai “pekerjaan untuk mempertinggi mutu bahan

galian serta untuk memanfaatkan dan memperoleh unsur-unsur yang terdapat pada

bahan galian itu”.10 Penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967

juga menyatakan bahwa: “Pengolahan dan pemurnian sejauh mungkin harus

diusahakan untuk dilakukan di dalam negeri”.11

Praktik dan pengaturan lebih lanjut terkait dengan kewajiban tersebut

dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 diarahkan kepada

perusahaan-perusahaan pemegang Kontrak Karya. Investor Asing yang ingin berinvestasi di

sektor mineral melaksanakan usahanya dalam bentuk Kontrak Karya yang di

dalamnya tertuang ketentuan yang mewajibkan perusahaan untuk meningkatkan

nilai tambah mineral di dalam negeri dalam rangka mendukung pembangunan

sektor hilir pertambangan. Sedangkan bagi perusahaan nasional dalam bentuk

Kuasa Pertambangan (KP) belum diatur kewajiban untuk melakukan peningkatan

nilai tambah mineral lewat kegiatan pengolahan dan pemurnian.12

Seiring dengan berkembangnya kegiatan pertambangan di Indonesia,

banyak permasalahan dan tantangan yang tidak dapat ditanggulangi oleh

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan

10

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan, Pasal 2 huruf f.

11

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan, Penjelasan Pasal 15.

12

(18)

6

sehingga diperlukan perubahan peraturan perundangan-undangan bidang

pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengolah dan mengusahakan

potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing,

efisien, berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara

berkelanjutan dalam pengaturan pertambangan di Indonesia.13

Lahirnya UU Minerba pada tanggal 12 Januari 2009 membawa pengaruh

besar terhadap kebijakan peningkatan nilai tambah hasil tambang di Indonesia.

Dalam UU Minerba kebijakan peningkatan nilai tambah hasil tambang

diberlakukan untuk seluruh perusahaan pertambangan dalam bentuk Izin Usaha

Pertambangan (IUP) atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) tanpa

membedakan status penanaman modal perusahaan pemegang IUP atau IUPK

tersebut. Hal tersebut dapat dilihat di ketentuan Pasal 102 UU Minerba

menyatakan bahwa: “Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah

sumber daya mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan,

pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan mineral dan batubara”. Sedangkan

Pasal 103 ayat (1) UU Minerba menyatakan bahwa: “Pemegang IUP dan IUPK

Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan

di dalam negeri”. Pasal 170 menyatakan bahwa: “Pemegang kontrak karya

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan

pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-lambatnya 5

(lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.”

Untuk menjawab

persoalan tersebut maka lahirlah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara (selanjutnya disebut sebagai UU Minerba).

13

(19)

Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat dikatakan bahwa

semua penambang yang menambang hasil tambang di Indonesia baik yang

berbentuk IUP, IUPK, dan kontrak karya (KK) wajib melakukan peningkatan nilai

tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri, tetapi terdapat perbedaan

waktu dalam melakukan peningkatan nilai tambah tersebut dimana ketentuan

Pasal 170 UU Minerba diatas memberikan pengertian bahwa setiap Pemegang

Kontrak Karya, khususnya yang telah berproduksi untuk segera merencanakan

dan membangun fasilitas pemurnian (smelter) dalam negeri. Mengingat waktu

yang dibutuhkan untuk membangun smelter tidak seketika dan membutuhkan

dukungan dari berbagai faktor seperti, investasi, ketersediaan infrastruktur,

sumber daya energi yang mencukupi. Pemerintah memberikan jangka waktu

selama 5 (lima) tahun sejak berlakunya UU Minerba ini, dengan kata lain fasilitas

pemurnian tersebut sudah harus beroperasi paling lambat sampai dengan 12

Januari 2014. Tetapi jangka waktu tersebut tidak berlaku bagi pemegang IUP dan

IUPK Operasi Produksi karena kewajiban peningkatan nilai tambah mineral dan

batubara bagi pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi berlaku seketika sejak

diberlakukannya UU Minerba.14

Konsekuensi logis dari Pasal 102 dan 103 UU Minerba yang menyatakan

bahwa pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan peningkatan Mengabaikan kewajiban Pasal 102, 103, dan 170

UU Minerba, para pengusaha penambang lebih memilih meningkatkan ekspor

bijih (raw material atau ore) daripada membangun fasilitas pengolahan dan

pemurnian di dalam negeri yang menyebabkan terjadinya peningkatan yang

sangat tajam terhadap volume ekspor bijih (raw material atau ore).

14

(20)

8

nilai tambah terhadap produksi tambangnya dan peningkatan nilai tambah tersebut

wajib dilakukan di dalam negeri, maka konsekuensinya adalah ekspor terhadap

mineral mentah harus dilarang. Sebab kalau tidak dilarang, maka adanya norma

yang mengatur bahwa pengolahan dan pemurnian wajib dilakukan di dalam negeri

menjadi tidak ada artinya.15

“peningkatan nilai tambah sumber daya mineral yang dihasilkan, yang menurut Undang-Undang, harus dilakukan dengan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil pertambangan di dalam negeri dan dengan demikian Pemerintah dalam regulasinya melarang ekspor bijih (raw material atau ore) adalah wajar oleh karena pengolahan dan pemurnian hasil pertambangan di dalam negeri dapat dilakukan manakala bijih (raw material atau ore) tersedia di dalam negeri dan untuk itu maka ekspor bijih( raw material atau ore) dilarang. Hal tersebut adalah wajar dan benar dengan mendasarkan pada fakta bahwa tersedianya bijih (raw

material atau ore) yang harus diolah di dalam negeri tersebut dapat

dijamin manakala ekspor bijih (raw material atau ore) dilarang.”

Mahkamah Konstitusi dalam putusannya terhadap

perkara Nomor 10/PUU-XII/2014 menyatakan sebagai berikut:

16

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa pelarangan ekspor

mineral mentah merupakan konsekuensi logis dari kewajiban peningkatan nilai

tambah mineral dan batubara di dalam negeri. Dimana kewajiban peningkatan

nilai tambah hasil penambangan tersebut dapat terlaksana jika ekspor terhadap

mineral mentah dilarang. Pelarangan ekspor mineral mentah adalah larangan

penjualan bijih (raw material atau ore) ke luar negeri tanpa proses pengolahan

dan/atau pemurnian terlebih dahulu sampai batas tertentu di dalam negeri, dengan

kata lain bijih (raw material atau ore) harus diolah dan/atau dimurnikan terlebih

dahulu sampai batas tertentu sebelum dapat dijual ke luar negeri atau diekspor.

Guna memperkuat kebijakan pelarangan ekspor bijih (raw material atau ore)

15

Yusril Ihza Mahendra, Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi perkara nomor 10/PUU-XII/2014 tanggal 1 September 2014, hlm.7.

16

(21)

pemerintah mengeluarkan berbagai perangkat peraturan untuk mendukung

kebijakan tersebut. Pada 11 Januari 2014 Pemerintah mengeluarkan 4 (empat)

peraturan terkait pelarangan ekspor bijih (raw material atau ore).

Pertama, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan

Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan

Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batuba; kedua, Peraturan Menteri

Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai

Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian di Dalam Negeri;

ketiga, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 04/M-DAG/PER/1/2014 tentang

Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian;

keempat, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153 / PMK.011 / 2014 Tentang

Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 75 / PMK.011 / 2012

Tentang Penetapan Barang Ekspor Yang dikenakan Bea Keluar Dan Tarif Bea

Keluar.

Penerapan kebijakan pelarangan ekspor bijih (raw material atau ore)

ternyata menimbulkan berbagai permasalahan yang diantaranya adalah terjadinya

pemutusan hubungan kerja (PHK) massal hal ini dikarenakan beberapa

perusahaan tambang tidak sanggup membangun smelter.17

17

Hilirisasi Berbuntut PHK Massal,

Sebagai akibat tidak

adanya smelter, terjadi penumpukan hasil tambang di berbagai wilayah

pertambangan karena tidak dapat di ekspor ke luar negeri, yang menyebabkan

pendapatan perusahaan berkurang dan untuk mengurangi beban pengeluaran,

perusahaan memberhentikan sejumlah pegawainya untuk dapat tetap beroperasi.

(22)

10

Terkait dengan pelarangan ekspor bijih (raw material atau ore ) PT

Newmont Nusa Tenggara mengajukan gugatan arbitrase internasional terhadap

pemerintah Indonesia. Menurut Newmont, pengenaan ketentuan baru terkait

ekspor, bea keluar, serta larangan ekspor konsentrat tembaga yang akan dimulai

Januari 2017, yang diterapkan kepada Newmont oleh pemerintah tidak sesuai

dengan Kontrak Karya (KK) serta perjanjian investasi bilateral antara Indonesia

dan Belanda.18

Tidak berhenti sampai disitu pembatasan ekspor mineral mentah

diindikasikan melanggar ketentuan dalam Pasal XI:1 GATT yang mengatur

mengenai penghapusan hambatan kuantitatif. Dalam Pasal tersebut, setiap negara

diharuskan melakukan penghapusan peraturan yang membatasi jumlah dari

barang yang akan diimpor atau diekspor. Hambatan ini dapat juga berbentuk

larangan impor atau ekspor secara umum.19

Pembatasan ekspor sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui,

dalam hal ini mineral, dapat dilakukan oleh Negara anggota GATT apabila sesuai

pengecualian umum yang diatur di dalam Pasal XX huruf g GATT. Dalam Pasal

tersebut terdapat 3 (tiga) prasyarat, yaitu:

1. Tujuan kebijakan yang ingin dicapai haruslah untuk menjaga kelestarian

sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui;

2. Tindakan tersebut haruslah berhubungan dengan tujuan kebijakan tersebut;

dan

18

Newmont gugat Repubik Indonesia, http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/517791-dilarang-ekspor-minerba-mentah--newmont-gugat-ri-ke-arbitrase (diakses tanggal 26 Februari 2015).

19

(23)

3. Tindakan tersebut haruslah diberlakukan secara bersama-sama dengan

larangan terhadap produksi atau konsumsi domestik.20

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka tulisan skripsi ini diberi judul:

“Aspek Hukum Pelarangan Ekspor Mineral Mentah Terkait Dengan

Prinsip-Prinsip General Agreement On Tariffs And Trade (GATT)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana diuraikan di atas,

dapat dikemukakan pokok permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelarangan ekspor mineral mentah berdasarkan hukum positif

Indonesia?

2. Bagaimanakah penyelesaian sengketa yang terjadi antara pengusaha

pertambangan dengan pemerintah akibat diterapkannya kebijakan pelarangan

ekspor mineral mentah?

3. Bagaimanakah kedudukan kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah terkait

dengan prinsip-prinsip General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penulisan yang diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk memahami pengaturan pelarangan ekspor mineral mentah berdasarkan

hukum positif Indonesia.

2. Untuk memahami penyelesaian sengketa yang terjadi antara pengusaha

pertambangan dengan pemerintah akibat diterapkannya kebijakan pelarangan

ekspor mineral mentah.

20

(24)

12

3. Untuk memahami kedudukan kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah

terkait dengan prinsip-prinsip General Agreement on Tariffs and Trade

(GATT).

Selain itu, penulisan skripsi ini juga ditujukan sebagai pemenuhan tugas

akhir dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara. Adapun manfaat penulisan yang diperoleh dari penulisan skripsi

ini adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis

Secara teoritis, pembahasan terhadap pelarangan ekspor mineral mentah

terkait dengan prinsip-prinsip General Agreement On Tariffs and Trade (GATT)

ini akan memberikan pemahaman dan pengetahuan baru bagi para pembaca

mengenai pelarangan ekspor mineral mentah, penyelesaian sengketa yang terjadi

akibat dari kebijakan tersebut, serta kedudukan kebijakan tersebut terhadap

prinsip-prinsip GATT.

2. Secara praktis

Penulisan ilmiah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

bagi para pembaca terutama bagi para pihak yang berkecimpung di dunia

pertambangan Indonesia, juga sebagai bahan bagi para akademisi dalam

menambah wawasan dan pengetahuan mengenai kebijakan pelarangan ekspor

mineral mentah di Indonesia.

D. Keaslian Penulisan

Karya ilmiah penulis, skripsi ini, adalah asli dan belum pernah diajukan

untuk mendapat gelar akademik (Sarjana) baik di Universitas Sumatera Utara

(25)

diperiksa oleh Perpustakaan Universitas Cabang FH USU/ Pusat Dokumentasi

dan Informasi Hukum FH USU dan tidak ada judul yang sama dan tidak terlihat

adanya keterkaitan.

Dilihat dari permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai dengan

penulisan skripsi ini, maka dapat diketahui semua yang tertuang di dalam skripsi

ini adalah asli dan bukan hasil jiplakan dari skripsi yang telah ada, dan diperoleh

melalui hasil pemikiran para pakar dan praktisi, referensi, buku-buku,

makalah-makalah dari bahan-bahan seminar, serta bantuan dari berbagai pihak, berdasarkan

pada asas-asas keilmuan yang jujur, rasional dan terbuka. Semua ini adalah

merupakan implikasi dari proses penemuan kebenaran ilmiah, maka dari itu

penulisan skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah

maupun secara akademik.

E. Tinjauan Pustaka

1. Pelarangan ekspor mineral mentah

Pasal 1 angka 2 UU Minerba menyatakan “Mineral adalah senyawa

anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu

serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik

dalam bentuk lepas atau padu.”21 Senyawa anorganik adalah semua

elemen-elemen atau unsur yang sudah bersatu padu di dalam alam.22 Definisi Mentah

adalah belum diolah, belum jadi.23

21

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 1 angka 2.

Bijih adalah kumpulan mineral yang

22

Salim Hs, Op.Cit., hlm.39. 23

(26)

14

mengandung 1 (satu) logam atau lebih yang dapat diolah secara

menguntungkan.24 Dalam bahasa Inggris Bijih diartikan juga sebagai Ore.25

Mineral terbagi atas 4 (empat) golongan, yaitu:

1. mineral radioaktif;

2. mineral logam;

3. mineral bukan logam; dan

4. batuan. 26

Mineral golongan radioaktif tidak termasuk dalam golongan komoditas

tambang mineral yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya.27 Nilai Tambah adalah

pertambahan nilai mineral sebagai hasil dari proses pengolahan dan/atau

pemurnian mineral.28 Peningkatan Nilai Tambah adalah peningkatan nilai mineral

melalui kegiatan pengolahan dan/atau pemurnian sehingga menghasilkan manfaat

ekonomi, sosial dan budaya.29 Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha

pertambangan untuk meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk

memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.30

24

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri, Pasal 1 Angka 6.

25

Jhon M; Echols, Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm.408.

26

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 2.

27

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri, Pasal 2 angka 1.

28

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri, Pasal 1 angka 12.

29

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri, Pasal 1 Angka 13.

30

(27)

Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.31

Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat,

perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona

Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang didalamnya berlaku

Undang-Undang Kepabeanan.32

Produk Pertambangan yang berasal dari mineral logam, mineral bukan

logam, dan batuan dalam bentuk ore dan belum mencapai batasan minimum

pengolahan dan / atau pemurnian dilarang diekspor.33

Pelarangan ekspor bijih (raw material atau ore) bertujuan untuk

menjamin ketersediaan bijih (raw material atau ore) di dalam negeri sehingga

dapat dilakukan pengolahan dan pemurnian terlebih dahulu terhadap bijih (raw

material atau ore) tersebut untuk meningkatkan nilai tambahnya sebelum

diekspor.

Pelarangan ekspor mineral

mentah adalah larangan terhadap ekspor mineral yang belum diolah atau

dimurnikan terlebih dahulu di dalam negeri.

34

31

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 04/M-DAG/PER/1/2014 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian, Pasal 1 angka 1.

Terkait dengan kebijakan pengendalian penjualan bijih (raw material

atau ore) Mineral ke luar negeri serta dalam rangka meningkatkan nilai tambah

dan ketersediaan sumber daya mineral di dalam negeri, perlu mengatur mengenai

bea keluar terhadap barang ekspor berupa bijih (raw material atau ore) mineral.

Bea keluar adalah pungutan negara berdasarkan Undang-undang Kepabeanan

32

Pengertian Daerah Pabean,

http://www.beacukai.go.id/index.html?page=faq/pengertian-daerah-pabean.html (diakses tanggal 28 Februari 2015).

33

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 04/M-DAG/PER/1/2014 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian, Pasal 2 angka 3.

34

(28)

16

yang dikenakan terhadap barang ekspor.35

2. Penyelesaian sengketa bidang pertambangan

Barang ekspor yang dimaksud dalam

hal ini adalah mineral yang telah diolah atau dimurnikan terlebih dahulu.

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam

rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang

meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,

penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta

kegiatan pasca tambang.36

Sengketa tambang adalah Sengketa atau konflik atau pertentangan yang

terjadi dalam pelaksanaan kegiatan pertambangan.

37

Ayat 1, dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanam modal, para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa tersebut melalui musyawarah dan mufakat.

Dalam Undang-Undang

Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal ketentuan mengenai

penyelesaian sengketa penanaman modal asing diatur dalam Pasal 32 ayat 1,2 dan

4 yaitu:

Ayat 2, dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai, penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternative penyelesaian sengketa atau pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ayat 4, dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanam modal asing, para pihak akan menyelesaikan sengketa tersebut melalui arbitrase internasional yang harus disepakati oleh para pihak.

Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar

peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara

35

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153 / PMK.011 / 2014 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 75 / PMK.011 / 2012 Tentang Penetapan Barang Ekspor Yang dikenakan Bea Keluar Dan Tarif Bea Keluar, Pasal 1 angka 2.

36

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 1 angka 1.

37

(29)

tertulis oleh para pihak yang bersengketa.38 Alternatif Penyelesaian Sengketa

adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang

disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara

konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.39

3. Prinsip-Prinsip General Agreement On Tariffs and Trade (GATT)

Untuk mencapai tujuan-tujuannya, GATT berpedoman pada lima prinsip

utama. Prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Prinsip Non-Diskriminasi (Non-Discrimination Principle)

Prinsip ini meliputi: Prinsip Most Favoured Nation (MFN Principle), dan

Prinsip National Treatment (NT Principle).40

1) Prinsip Most Favoured Nation (MFN)

Prinsip ini diatur dalam Article 1 section (1) GATT 1947, yang berjudul

General Favoured Nation Treatment, merupakan prinsip Non

Diskriminasi terhadap produk sesama negara-negara anggota WTO.41

Menurut prinsip ini, semua negara anggota terikat untuk memberikan

negara-negara lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan

kebijakan impor dan ekspor serta menyangkut biaya-biaya lainnya.42

2) Prinsip National Treatment (NT)

Prinsip ini diatur dalam Article III GATT 1947, berjudul “National

Treatment on International Taxation and Regulation”, yang menyatakan

bahwa, ”this standard provides for inland parity that is say equality for

38

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Pasal 1 angka 1.

39

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Pasal 1 angka 10.

40

Muhammad Sood, Hukum Perdagangan Internasional (Jakarta: Rajawali Press, 2012), hlm.41.

41 Ibid. 42

(30)

18

treatment between nation and foreigners”.43 Berdasarkan ketentuan diatas, bahwa prinsip ini tidak menghendaki adanya diskriminasi antar produk

serupa dari luar negeri.44

b. Prinsip resiprositas (Reciprocity Principle)

Prinsip resiprositas (Reciprocity Principle) yang diatur dalam Article II

GATT 1947, mensyaratkan adanya perlakuan timbal balik di antara sesama

negara anggota WTO dalam kebijaksanaan perdagangan internasional.45

c. Prinsip penghapusan hambatan kuantitatif (Prohibition of Quantitative

Restriction)

Prinsip ini telah diatur dalam Article IX GATT 1947, menghendaki

transparasi dan penghapusan hambatan kuantitatif dalam perdagangan

internasional. Hambatan kuantitatif dalam persetujuan GATT/WTO adalah

hambatan perdagangan yang bukan merupakan tarif atau bea masuk.46

Ketentuan dasar GATT adalah larangan restriksi kuantitatif yang

merupakan rintangan terbesar terhadap GATT. Restriksi kuantitatif terhadap

ekspor atau impor dalam bentuk apa pun (misalnya penetapan kuota impor

atau ekspor, restriksi penggunaan lisensi impor atau ekspor), pada umumnya

dilarang (Pasal IX).47

43

Ibid.,hlm.43.

Namun demikian, dalam pelaksanaannya, hal tersebut

dapat dilakukan dalam hal: pertama, untuk mencegah terkurasnya

produk-produk esensial di negara pengekspor; kedua, untuk melindungi pasar dalam

negeri khususnya yang menyangkut produk pertanian dan perikanan; ketiga;

44 Ibid. 45

Ibid., hlm.45. 46

Ibid., hlm.46. 47

(31)

untuk mengamankan, berdasarkan escape clause (Pasal XIX), meningkatnya

impor yang berlebihan(increase of imports) di dalam negeri sebagai upaya

untuk melindungi, misalnya, terancamnya produksi dalam negeri; keempat,

untuk melindungi neraca pembayaran (luar negerinya) (Pasal XII).48

d. Prinsip perdagangan yang adil (Fairness Principle)

Prinsip fairness dalam perdagangan internasional yang melarang

Dumping (Article VI) dan Subsidi (Article XVI), dimaksudkan agar jangan

sampai terjadi suatu negara menerima keuntungan tertentu dengan melakukan

kebijaksanaan tertentu, sedangkan di pihak lain, kebijaksanaan tersebut justru

menimbulkan kerugian bagi negara lainnya.49

e. Prinsip tarif mengikat (Binding Tarif Principle)

Prinsip ini diatur dalam Article II section (2) GATT-WTO 1995, bahwa

setiap negara anggota WTO harus memenuhi berapapun besarnya tarif yang

telah disepakatinya atau disebut dengan prinsip tarif mengikat.50

F. Metode Penelitian

Setiap penulisan haruslah menggunakan metode penelitian yang sesuai

dengan bidang yang diteliti. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian

dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini disesuaikan dengan

permasalahan-permasalahan yang dibahas di dalamnya yaitu penelitian hukum

normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan

48

Ibid. 49

Muhammad Sood, Op.Cit.,hlm.47. 50

(32)

20

cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka.51

2. Data penelitian

Jenis penelitian hukum

yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian normatif karena sumber

penulisan yang didasarkan pada data sekunder yang diperoleh dari studi

kepustakaan , peraturan perundang-undangan, dan data penelitian yang dilakukan

oleh lembaga resmi atau pihak lain.

Data yang dipergunakan berupa data sekunder. Adapun data sekunder

yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

a. Bahan hukum primer, yaitu berupa peraturan perundang-undangan yang

terdiri dari Undang-Undang Dasar, Undang-Undang, Peraturan

Pemerintah, Peraturan Menteri dan Perjanjian Internasional. Adapun bahan

hukum primer ini terdiri dari Undang-Undang yang berkaitan langsung

dengan Pelarangan Ekspor Mineral Mentah yaitu Undang-Undang Nomor

4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Peraturan

Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan kedua Peraturan

Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Kegiatan Usaha Pertambangan

Mineral dan Batubara. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor

04/M-DAG/PER/1/2014 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil

Pengolahan dan Pemurnian dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber

Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah

Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam

Negeri. Peraturan Menteri Keuangan No.6/PMK.011.2014 tentang

51

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan

(33)

Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor

75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea

Keluar dan Tarif Bea Keluar. Perjanjian Perdagangan Multilateral atau

General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)

b. Bahan hukum sekunder, yaitu buku-buku hukum, karya tulis ilmiah

ataupun buku lain yang terkait dengan tulisan ini. Seperti seminar hukum,

majalah-majalah, jurnal, pidato, dan beberapa sumber dari situs internet

yang berkaitan dengan persoalan di atas.

c. Bahan hukum tersier merupakan semua dokumen yang berisi

konsep-konsep dan keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer

dan bahan hukum sekunder yaitu kamus dan ensiklopedia.

3. Teknik pengumpulan data

Dalam memperoleh bahan-bahan guna menyusun skripsi ini agar tujuan

dapat lebih terarah dan dipertanggungjawabkan, maka penulis menggunakan

metode pengumpulan data dengan cara studi kepustakaan (Library Research)

yang mempelajari dan menganalisis secara sistematis seperti: peraturan

perundang-undangan, buku-buku, majalah, internet, pendapat sarjana, karya tulis

ilmiah dan berbagai bahan lainnya yang berkaitan dengan skripsi ini.

4. Analisis data

Penelitian yang dilakukan penulis termasuk jenis penelitian hukum

normatif. Pengolahan data pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mengolah

atau menganalisis data-data sekunder terhadap permasalahan yang akan dikaji.

(34)

22

a. mengumpulkan peraturan perundang-undangan dan bahan kepustakaan

lainnya yang relevan dengan penelitian;

b. mengelompokkan peraturan perundang-undangan dan bahan hukum yang

ada;

c. melakukan interpretasi terhadap peraturan perundang-undangan terkait;

d. menguraikan bahan-bahan hukum sesuai dengan masalah yang

dirumuskan;

e. menarik kesimpulan.

G. Sistematika Penulisan

Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya

harus disusun secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka

diperlukan adanya penguraian dalam bab per bab secara teratur dan berkaitan satu

sama lain. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas hal-hal yang umum dalam sebuah tulisan ilmiah,

antara lain : latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan

manfaat penelitian, keaslian penulisan, tinjauan pustaka, metode

penelitian, sistematika penulisan.

BAB II LARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH BERDASARKAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

Bab ini membahas mengenai pengaturan pelarangan ekspor mineral

mentah dalam hukum positif Indonesia, kemudian latar belakang

lahirnya kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah, dan

permasalahan yang timbul akibat diterapkannya kebijakan

(35)

BAB III PENYELESAIAN SENGKETA BIDANG PERTAMBANGAN

TERKAIT DENGAN PELARANG EKSPOR MINERAL

MENTAH

Bab ini membahas tentang bentuk-bentuk penyelesaian sengketa di

bidang pertambangan baik dalam lingkup nasional maupun

internasional serta penyelesaian sengketa yang terjadi akibat

diterapkannya kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah.

BAB IV KEDUDUKAN LARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH

TERHADAP PRINSIP-PRINSIP GENERAL AGREMENT ON

TARIFFS AND TRADE(GATT)

Bab ini membahas tentang tinjauan umum mengenai GATT,

selanjutnya mengenai indonesia dalam GATT dan WTO, serta

Analisis mengenai kedudukan larangan ekspor mineral mentah

terhadap prinsip-prinsip yang terdapat dalam GATT.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Berisikan bagian penutup yang sekaligus merupakan bab terakhir

dalam penulisan skripsi ini dimana dikemukakan kesimpulan dan

saran yang berkaitan dengan pembahasan sebelumnya dalam

(36)

24

BAB II

LARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH BERDASARKAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

A. Aspek Hukum Pertambangan di Indonesia

1. Sejarah pengaturan pertambangan di Indonesia

Sejarah telah mencatat bahwa penjajahan Belanda atas kepulauan

nusantara, berawal pada tahun 1619. Dalam tahun itu, pasukan Vereenigde

OostInische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen berhasil

merebut Jayakarta dan kemudian mendirikan kota baru yang diberi nama

Batavia.52

“ Dalam hal penyelidikan geologi yang bersifat mendasar, cukup banyak yang telah dilakukan dan dihasilkan oleh para pakar Belanda. Hal ini tidak mengherankan, karena Bangsa Belanda sejak dulu sudah terkenal memiliki ilmuan-ilmuan besar di berbagai bidang. Dalam bidang pertambangan sebaliknya, ternyata orang-orang Belanda tidak mampu mengembangkan Hindia Belanda menjadi suatu wilayah pertambangan terkemuka, meskipun potensi mineral wilayah ini, sesungguhnya cukup besar. Hal ini-pun tidak perlu mengherankan, karena negeri Belanda bukan negara pertambangan. Sebelum memasuki era industry pada dasarnya rakyat Belanda hidup dari pertanian dan perdagangan.”

Selama lebih dari tiga abad penjajahan Belanda di Hindia Belanda,

Soetaryo Sigit seorang pakar pertambangan terkemuka Indonesia, menyimpulkan

bahwa;

53

Pada tahun 1852 pemerintah mendirikan “Dienst van het Mijnwezen”

(Jawatan Pertambangan). Tugas Jawatan ini adalah melakukan eksplorasi

geologi-pertambangan di beberapa daerah untuk kepentingan Pemerintah Hindia-Belanda.

52

Abrar Saleng, Hukum Pertambangan (Jogjakarta : UII Press, 2004), hlm.61. 53

(37)

Hasil penemuannya antara lain; endapan batubara Ombilin Sumatera Barat

(1866), namun baru berhasil ditambang oleh pemerintah pada tahun 1891.54

Baru pada tahun 1899, Pemerintah Hindia Belanda berhasil

mengundangkan Indische Mijnwet (Staatblad 1899-214). Indische Mijnwet hanya

mengatur mengenai penggolongan bahan galian dan pengusahaan

pertambangan.55 Oleh karena Indische Mijnwet hanya mengatur pokok-pokok

persoalan saja, sehingga pemerintah colonial mengeluarkan peraturan pelaksanaan

berupa Mijnorodnnantie yang diberlakukan mulai 1 Mei 1907. Mijnordonnantie

mengatur pula mengenai Pengawasan Keselamatan Kerja (tercantum dalam Pasal

356 sampai dengan Pasal 612). Kemudian pada tahun 1930 Mijnordonnantie 1907

dicabut dan diperbaharui dengan Mijn Ordonannatie 1930 yang berlaku sejak

tanggal 1 Juli 1930. Dalam Mijn Ordonnantie 1930, tidak lagi mengatur mengenai

Pengawasan Keselamatan Kerja Pertambangan, tetapi diatur tersendiri dalam Mijn

Politie Reglement (Staatblad 1930 No.341) yang hingga kini masih berlaku.56

Menyerahnya tentara kerajaan Hindia Belanda KNIL kepada balatentara

Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 menandai berakhirnya kekuasaan pemerintah

Hindia Belanda atas Indonesia. Selama pendudukan Jepang Indische Minjwet

1899 praktis tidak jalan, sebab semua kebijakan mengenai pertambangan

termasuk operasi minyak berada di tangan Komando Militer Jepang yang

disesuaikan dengan situasi perang.57

54

Ibid., hlm.63.

Pada tanggal 27 Desember 1949 berlangsung

secara resmi penyerahan kedaulatan dari pihak Belanda kepada Republik

55

Ibid., hlm.64. 56

Ibid. 57

(38)

26

Indonesia Serikat dan pada tanggal 17 Agustus1950 RIS dilebur menjadi Negara

kesatuan Republik Indonesia.58

Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia, masalah

pengawasan atas usaha pertambangan timah dan minyak bumi yang masih

dikuasai modal Belanda dan modal asing lainnya merupakan isu politik yang

sangat peka. Oleh karena itu, pada bulan Juli 1951 anggota Dewan Perwakilan

Rakyat Sementara (DPRS), Teuku Mr.Moh. Hassan mengambil langkah guna

membenahi pengaturan dan pengawasan usaha pertambangan di Indonesia.59

Usul mosi ini yang kemudian dikenal dengan sebutan “Mosi Teuku

Moh.Hassan dkk” yang memuat beberapa hal yang diantaranya yang terpenting

ialah yang mendesak pemerintah supaya:60

a. Membentuk suatu Komisi Negara Urusan Pertambangan dalam jangka

waktu satu bulan dengan tugas sebagai berikut:

1) Menyelidiki masalah pengolahan tambang minyak, timah, batubara,

tambang emas/perak dan bahan mineral lainnya di Indonesia.

2) Mempersiapkan rencana undang-undang pertambangan Indonesia yang

sesuai dengan keadaan dewasa ini.

3) Mencari pokok-pokok pikiran bagi Pemerintah untuk

menyelesaikan/mengatur pengolahan minyak di Sumatera khususnya

dan sumber-sumber minyak di tempat lain.

4) Mencari pokok-pokok pikiran bagi Pemerintah mengenai status

Pertambangan di Indonesia.

58

Ibid., hlm.67. 59

Ibid., hlm.68. 60

(39)

5) Mencari pokok-pokok pikiran bagi Pemerintah mengenai penetapan

pajak dan penetapan harga minyak.

6) Membuat usul-usul lain mengenai pertambangan sebagai sumber

penghasilan Negara.

b. Menunda segala pemberian izin, konsesi, eksplorasi maupun

memperpanjang izin-izin yang sudah habis waktunya, selama menunggu

hasil pekerjaan Panitia Negara Urusan Pertambangan.

Pada tahun 1960 pemerintah menerbitkan suatu peraturan mengenai

pertambangan yang diundangkan sebagai Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 37 Prp. Tahun

1960 tentang Pertambangan yang lebih dikenal sebagai Undang-Undang

Pertambangan 1960. Undang-undang ini mengakhiri berlakunya Indische Mijnwet

1899 yang tidak selaras dengan cita-cita kepentingan nasional dan merupakan

Undang-undang pertambangan nasional yang pertama.61

Pada tahun 1966 pemerintah menerbitkan Ketetapan MPRS No.

XXII/MPRS/1966 tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan Ekonomi,

Keuangan dan Pembangunan. Ketetapan MPRS tersebut, memuat beberapa hal

yang terkait dengan sector pertambangan, antara lain sebagai berikut:62

a. kekayaan potensi yang terdapat dalam alam Indonesia perlu digali dan

diolah agar dapat dijadikan kekuatan ekonomi rill (Bab II Pasal 8);

b. potensi modal, teknologi dan keahlian dari luar negeri dapat dimanfaatkan

untuk penanggulangan kemerosotan ekonomi serta pembangunan Indonesia

(Bab II, Pasal 10);

61

Ibid., hlm.70. 62

(40)

28

c. dengan mengingat terbatasnya modal dari luar negeri, perlu segera

ditetapkan undang-undang mengenai modal asing dan modal domestik

(Bab VIII, Pasal 62).

Berdasarkan ketetapan MPRS di atas, disusunlah rancangan

undang-udang tentang penanaman modal asing, kemudian diundangkan menjadi

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Untuk

menyesuaikan kebijaksanaan baru dalam perekonomian, khususnya mengenai

usaha pertambangan tidak mungkin dilaksanakan tanpa mengganti undang-undang

pertambangan 1960. Menyadari sepenuhnya urgensi penanganan ini, Departemen

Pertambangan segera membentuk Panitia Penyusun Rencana Undang-undang

Pertambangan. Hasil kerja Panitia diajukan kepada DPR menjelang pertengahan

tahun 1967. Menyusul terbitnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang

Penanaman Modal Asing, terbit pula Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967

tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan atau UUPP 1967.63

Dengan mempertimbangkan perkembangan nasional maupun

internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang

Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang telah mengatur kegiatan pertambangan

mineral dan batu bara di Indonesia selama lebih kurang 42 tahun dianggap sudah

tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan

di bidang pertambangan mineral dan batu bara yang dapat mengelola dan

mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan,

berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna menjamin

63

(41)

pembangunan nasional secara berkelanjutan. Pertimbangan tersebut dijadikan

dasar untuk pembentukan UU Minerba.

2. Pelarangan ekspor mineral mentah berdasarkan UU Minerba

UU Minerba dibentuk untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11

Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang dianggap

sudah tidak mampu lagi memenuhi perkembangan nasional maupun internasional

yang terkait dengan Pertambangan.

Undang-undang ini mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut:64

a. Mineral dan batubara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai

oleh Negara dan pengembangan serta pendayagunaannya dilaksanakan oleh

Pemerintah dan pemerintah daerah bersama dengan pelaku usaha.

b. Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang

berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat

setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dan batubara berdasarkan

izin, yang sejalan dengan otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah

dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

c. Dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah,

pengolahan pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan

prinsip eskternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan

Pemerintah dan pemerintah daerah.

d. Usaha pertambangan harus memberi manfaat ekonomi dan sosial yang

sebesar-besar bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.

64

(42)

30

e. Usaha pertambangan harus dapat mempercepat pengembangan wilayah dan

mendorong kegiatan ekonomi masyarakat/pengusaha kecil dan menengah

serta mendorong tumbuhnya industri penunjang pertambangan.

f. Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha

pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip

lingkungan hidup, transparansi, dan partisipasi masyarakat.

Salah satu perubahan yang sangat mendasar dalam UU Minerba adalah

perubahan sistem pengusahaan pertambangan mineral dan batubara. Dalam

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967, maka sistem yang digunakan dalam

pengusahaan pertambangan mineral dan batubara adalah menggunakan kontrak,

baik kontrak karya maupun perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara

(PKP2B), sedangkan UU Minerba menggunakan izin. Izin yang diberikan kepada

pemohon, meliputi Izin Usaha Pertambangan (IUP), IPR dan IUPK. Izin usaha

pertambangan (IUP) adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.

Walaupun dalam undang-undang ini telah ditetapkan sistem yang digunakan

dalam pengusahaan pertambangan mineral, yaitu IUP, namun dalam Pasal 169

UU Minerba tetap mengakui keberadaan kontrak karya yang telah ditandatangani

sebelum berlakunya undang-undang ini sampai dengan jangka waktu berakhirnya

kontrak karya.65 Tetapi kontrak karya tersebut tetap harus disesuaikan dengan

ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam UU Minerba selambat-lambatnya 1

(satu) tahun sejak UU Minerba diundangkan.66

Selain itu UU Minerba juga mengatur tentang peningkatan nilai tambah

hasil penambangan mineral dan batubara di dalam negeri. Pasal 102 UU Minerba

65

Salim HS, Op.Cit., hlm.3. 66

(43)

menyatakan bahwa “Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah

sumber daya mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan,

pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan mineral dan batubara”. Nilai

tambah dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan produk akhir dari

usaha pertambangan atau pemanfaatan terhadap mineral ikutan.67

Kewajiban melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di

dalam negeri tidak hanya berlaku bagi Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi

tetapi juga berlaku bagi pemegang kontrak karya.

Selanjutnya

pada Pasal 103 ayat (1) UU Minerba diatur tentang kewajiban bagi Pemegang IUP

dan IUPK Operasi Produksi untuk melakukan pengolahan dan pemurnian hasil

penambangan di dalam negeri. Dengan melihat penjelasan Pasal 103 ayat (1)

dapat diketahui tujuan dari melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri

yaitu untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang dari produk,

tersedianya bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan

penerimaan negara.

68

Namun terdapat perbedaan

waktu dalam melaksanakan kewajiban tersebut. Bagi pemegang kontrak karya

kewajiban tersebut harus dilaksanakan selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak

UU Minerba diundangkan .69 Namun bagi pemegang IUP dan IUPK Operasi

Produksi berlaku mengikat seketika sejak diundangkannya UU Minerba.70

Konsekuensi logis dari Pasal 102 dan 103 UU Minerba yang menyatakan

bahwa pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan peningkatan

67

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Penjelasan Pasal 102.

68

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 170.

69

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 170.

70

(44)

32

nilai tambah terhadap produksi tambangnya dan peningkatan nilai tambah tersebut

wajib dilakukan di dalam negeri, maka konsekuensinya adalah ekspor terhadap

mineral mentah harus dilarang. Sebab kalau tidak dilarang, maka adanya norma

yang mengatur bahwa pengolahan dan pemurnian wajib dilakukan di dalam negeri

menjadi tidak ada artinya.71

“peningkatan nilai tambah sumber daya mineral yang dihasilkan, yang menurut Undang-Undang, harus dilakukan dengan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil pertambangan di dalam negeri dan dengan demikian Pemerintah dalam regulasinya melarang ekspor bijih (raw material atau ore) adalah wajar oleh karena pengolahan dan pemurnian hasil pertambangan di dalam negeri dapat dilakukan manakala bijih (raw material atau ore) tersedia di dalam negeri dan untuk itu maka ekspor bijih( raw material atau ore) dilarang. Hal tersebut adalah wajar dan benar dengan mendasarkan pada fakta bahwa tersedianya bijih (raw material atau ore) yang harus diolah di dalam negeri tersebut dapat dijamin manakala ekspor bijih (raw material atau ore) dilarang.”

Mengenai pelarangan ekspor mineral mentah tersebut

ditegaskan lebih lanjut oleh Mahkamah Konstitusi di dalam putusannya terhadap

perkara Nomor 10/PUU-XII/2014 yang menyatakan sebagai berikut:

72

Berdasarkan keterangan tersebut dapat dimengerti bahwa pelarangan

ekspor mineral mentah merupakan konsekuensi logis dari kewajiban peningkatan

nilai tambah mineral dan batubara di dalam negeri. Dimana kewajiban

peningkatan nilai tambah hasil penambangan tersebut dapat terlaksana jika ekspor

terhadap mineral mentah dilarang. Pelarangan ekspor mineral mentah adalah

larangan penjualan bijih (raw material atau ore) ke luar negeri tanpa proses

pengolahan dan/atau pemurnian terlebih dahulu sampai batas tertentu di dalam

negeri, dengan kata lain bijih (raw material atau ore) harus diolah dan/atau

dimurnikan terlebih dahulu sampai batas tertentu sebelum dapat dijual ke luar

negeri atau diekspor.

71

Yusril Ihza Mahendra, Loc.Cit., hlm.7. 72

(45)

Memperhatikan kembali ketentuan Pasal 102 dan Pasal 103 UU Minerba,

maka dapat diketahui bahwa Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi tidak

boleh mengekspor mineral mentah terhitung sejak berlakunya UU Minerba.

Sedangkan bagi pemegang k

Gambar

Tabel 1  Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor Energi dan Sumber Daya

Referensi

Dokumen terkait