Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
Medan pada Tahun 2012
Oleh :
MARIA BINTANG A.P.
100100098
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada
Tahun 2012
KARYA TULIS ILMIAH
Ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh :
MARIA BINTANG A.P.
100100098
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
LEMBAR PERNYATAAN
Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012
Nama : Maria Bintang A.P. NIM : 100100098
Dosen Pembimbing, Dosen Penguji 1,
dr. Jessy Chrestella, M. Ked (PA), Sp. PA dr. Kiking Ritarwan, Sp. S
NIP. 198201132008012006 NIP. 196811171997021002 Dosen Penguji 2,
dr. Dedi Ardinata, M. Kes
NIP. 196812271998021002
Medan, 10 Januari 2014 Dekan Fakultas Kedokteran USU,
HALAMAN PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah dengan Judul:
Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012
Yang dipersiapkan oleh:
MARIA BINTANG A.P. 100100098
Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan disetujui
Medan, Desember 2013 Disetujui,
Dosen Pembimbing
ABSTRAK
Tumor ganas ovarium menduduki peringkat kelima dari keganasan pada wanita di Indonesia menurut data dari GLOBOCAN Project yang merupakan salah satu program World Health Organization (WHO) pada tahun 2008. Gejala klinis yang tidak spesifik pada stadium dini, kurangnya kesadaran diri wanita dengan faktor risiko untuk melakukan skrining serta kurangnya pengetahuan tentang faktor risiko tumor ganas ovarium menyebabkan pasien lebih banyak didiagnosa pada stadium lanjut.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil penderita tumor ganas ovarium yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Jumlah penderita tumor ganas ovarium pada penelitian ini adalah 42 orang.
Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa tumor ganas ovarium paling banyak berdasarkan umur, pada kelompok usia 40-60 tahun; berdasarkan jumlah paritas, pada kelompok nullipara; berdasarkan status hormon penderita, pada kelompok produktif; berdasarkan stadium, pada kelompok stadium III; berdasarkan indeks massa tubuh, pada kelompok normal; berdasarkan penggunaan pil kontrasepsi, pada kelompok yang tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi; berdasarkan tipe histopatologi, pada kelompok epithelial ovarian tumor, dan terapi adjuvan adalah jenis penatalaksanaan yang paling banyak dipilih.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab pada seorang wanita dalam mendapat tumor ganas ovarium. Oleh karena itu, wanita dengan faktor risiko haruslah diskrining dan dievaluasi untuk deteksi dini dan langkah awal untuk mencegah terjadinya tumor ganas ovarium.
ABSTRACT
Malignant ovarian tumors was ranked fifth of malignancy in women in Indonesia, according to GLOBOCAN Project which was a program from the World Health Organization (WHO) in 2008. Non-spesific clinical symptoms at an early stage, lack of self-awareness of women with high risk factors for screening and lack of knowledge about risk factors for malignant ovarian tumors cause more patients were diagnosed at an advanced stage.
This study was conducted to determine the profile of patients with malignant ovarian tumors who were admitted to Haji Adam Malik Hospital in 2012. This was a descriptive observational research with cross-sectional study design. The total number of patients in this study was 42.
The result shows that malignant ovarian tumors were found mostly in the age group 40-60 years old, women with productive age, among women who have never giving birth, and who did not use contraceptive pills. Based on body mass index, most women with malignant ovarian tumors fall into the normal BMI category. Most malignant ovarian tumors was diagnosed at stage III with epithelial histopathology type. For the management, adjuvant therapy was the most preferred.
There were various factors influencing a woman in having ovarian cancer. Therefore women with high risk factors should be screened and frequently evaluated as for early detection and one step to prevent malignant ovarian tumors.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012” berhasil diselesaikan.
Di dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini ternyata penulis mendapat banyak bantuan baik akal moral, materil, dan spiritual dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada :
1. Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp. PD. KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas izin penelitian yang telah diberikan.
2. dr. Jessy Chrestella, M. Ked (PA), Sp. PA selaku dosen pembimbing saya yang telah memberikan bantuan, bimbingan, dan pengarahan kepada penulis selama menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
3. dr. Kiking Ritarwan, Sp. S dan dr. Dedi Ardinta, M. Kes selaku dosen penguji saya yang banyak memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. dr. Lukmanul Hakim Nasution, Sp. KK selaku direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan atas izin penelitian yang diberikan untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
5. Kedua orangtua saya, Alm. Adrianus Parlindungan Panggabean, dan Ria Veronica Sinaga, SE, MBA serta Happy Mentari, Regina Claudia, Gabriel Roito sebagai adik saya atas doa dan dukungannya.
7. Seluruh pegawai Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam proses pembuatan surat izin penelitian dan ethical clearence.
Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan karya tulis ini agar berguna untuk kehidupan orang banyak. Demikian dan terimakasih.
Medan, Desember 2013
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan... i
Halaman Persetujuan... ii
Abstrak... iii
Daftar Singkatan... xi
Daftar Lampiran... xii
BAB 1 PENDAHULUAN... 1
1.1.Latar Belakang... 1
1.2.Rumusan Masalah... 4
1.3.Tujuan Penelitian... 4
1.3.1. Tujuan Umum... 4
1.3.2. Tujuan Khusus... 4
1.4.Manfaat Penelitian... 4
1.4.1. Bagi Ilmu Pengetahuan... 4
1.4.2. Bagi Masyarakat... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 6
2.1.Anatomi Ovarium... 6
2.2.Histologi Ovarium... 7
2.3.Tumor Ganas Ovarium... 9
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL.. 24
3.1.Kerangka Konsep Penelitian... 24
3.2.Definisi Operasional... 25
3.2.1. Variabel Bebas... 25
3.2.2. Variabel Terikat... 25
BAB 4 METODE PENELITIAN... 29
4.1.Jenis Penelitian... 29
4.2.Lokasi dan Waktu Penelitian... 29
4.3.Populasi dan Sampel Penelitian... 29
4.3.1. Populasi Penelitian... 29
4.3.2. Sampel Penelitian... 30
4.4.Teknik Pengumpulan Data... 30
4.5.Metode Analisa Data... 30
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 31
5.1.Hasil Penelitian... 31
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian... 31
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel... 31
5.1.2.1.Berdasarkan Umur... 32
5.1.2.2.Berdasarkan Jumlah Paritas... 32
5.1.2.3.Berdasarkan Status Hormon... 33
5.1.2.4.Berdasarkan Stadium... 33
5.1.2.5.Berdasarkan Indeks Massa Tubuh... 34
5.1.2.6.Berdasarkan Pil Kontrasepsi... 35
5.1.2.7.Berdasarkan Tipe Histopatologi... 35
5.1.2.8.Berdasarkan Penatalaksanaan... 36
5.2.Pembahasan... 36
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN... 47
6.1.Kesimpulan... 47
6.2.Saran... 47
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1. Klasifikasi Tumor Ovarium berdasarkan WHO 14
2.2. Staging Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan 18
International Federation of Gynecologist and Obstetricians (FIGO, 1987) 5.1. Deskripsi Sampel Berdasarkan Umur 32
5.2. Deskripsi Sampel Berdasarkan Jumlah Paritas 32
5.3. Deskripsi Sampel Berdasarkan Status Hormon Penderita 33
5.4. Deskripsi Sampel Berdasarkan Stadium 33
5.5. Deskripsi Sampel Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Penderita 34
5.6. Deskripsi Sampel Berdasarkan Penggunaan Pil Kontrasepsi 35
5.7. Deskripsi Sampel Berdasarkan Tipe Histopatologi 35
5.8. Deskripsi Sampel Berdasarkan Penatalaksanaan 36
5.9. Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovariun Berdasarkan Kelompok Umur dan Kelompok Histopatologi 37
5.10 Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Umur 38
5.11 Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Histopatologi dan Kelompok Penatalaksanaan 39
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1. Anatomi Ovarium 6
2.2. Histologi Ovarium 8
DAFTAR SINGKATAN
BMI body mass index
MHT menopausal hormone therapy
FSH follicle stimulating hormone
LH luteinizing hormone
HBOC hereditary breast and ovarian cancer
HNPCC hereditary nonpolyposis colorectal cancer
RB retinoblastoma
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 2 Surat Izin Penelitian
Lampiran 3 Surat Ethical Clearance
Lampiran 4 Data Penelitian / Data Induk
ABSTRAK
Tumor ganas ovarium menduduki peringkat kelima dari keganasan pada wanita di Indonesia menurut data dari GLOBOCAN Project yang merupakan salah satu program World Health Organization (WHO) pada tahun 2008. Gejala klinis yang tidak spesifik pada stadium dini, kurangnya kesadaran diri wanita dengan faktor risiko untuk melakukan skrining serta kurangnya pengetahuan tentang faktor risiko tumor ganas ovarium menyebabkan pasien lebih banyak didiagnosa pada stadium lanjut.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil penderita tumor ganas ovarium yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Jumlah penderita tumor ganas ovarium pada penelitian ini adalah 42 orang.
Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa tumor ganas ovarium paling banyak berdasarkan umur, pada kelompok usia 40-60 tahun; berdasarkan jumlah paritas, pada kelompok nullipara; berdasarkan status hormon penderita, pada kelompok produktif; berdasarkan stadium, pada kelompok stadium III; berdasarkan indeks massa tubuh, pada kelompok normal; berdasarkan penggunaan pil kontrasepsi, pada kelompok yang tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi; berdasarkan tipe histopatologi, pada kelompok epithelial ovarian tumor, dan terapi adjuvan adalah jenis penatalaksanaan yang paling banyak dipilih.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab pada seorang wanita dalam mendapat tumor ganas ovarium. Oleh karena itu, wanita dengan faktor risiko haruslah diskrining dan dievaluasi untuk deteksi dini dan langkah awal untuk mencegah terjadinya tumor ganas ovarium.
ABSTRACT
Malignant ovarian tumors was ranked fifth of malignancy in women in Indonesia, according to GLOBOCAN Project which was a program from the World Health Organization (WHO) in 2008. Non-spesific clinical symptoms at an early stage, lack of self-awareness of women with high risk factors for screening and lack of knowledge about risk factors for malignant ovarian tumors cause more patients were diagnosed at an advanced stage.
This study was conducted to determine the profile of patients with malignant ovarian tumors who were admitted to Haji Adam Malik Hospital in 2012. This was a descriptive observational research with cross-sectional study design. The total number of patients in this study was 42.
The result shows that malignant ovarian tumors were found mostly in the age group 40-60 years old, women with productive age, among women who have never giving birth, and who did not use contraceptive pills. Based on body mass index, most women with malignant ovarian tumors fall into the normal BMI category. Most malignant ovarian tumors was diagnosed at stage III with epithelial histopathology type. For the management, adjuvant therapy was the most preferred.
There were various factors influencing a woman in having ovarian cancer. Therefore women with high risk factors should be screened and frequently evaluated as for early detection and one step to prevent malignant ovarian tumors.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tumor ovarium merupakan bentuk neoplasma yang paling sering ditemukan pada wanita. Sekitar 80% merupakan tumor jinak dan sisanya adalah tumor ganas ovarium (Crum, 1999).
Tumor ganas ovarium merupakan peringkat ketujuh keganasan yang paling sering didiagnosis dan peringkat kelima jenis keganasan yang paling mematikan di dunia. Pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 224.747 kasus baru keganasan ovarium di dunia, dengan 99.521 kasus didiagnosis di negara berkembang dan 125.226 kasus lainnya di negara kurang berkembang (Stewart, 2012).
Data dari GLOBOCAN Project, 2008 menunjukkan bahwa tumor ganas ovarium berada pada peringkat kelima dari keganasan pada wanita di Indonesia setelah tumor ganas payudara, kolonrektal, serviks uteri, dan paru-paru. Sedangkan menurut Djuana, 2001, tumor ganas ovarium menduduki urutan keenam terbanyak dari keganasan pada wanita setelah tumor ganas serviks uteri, payudara, kolorektal, kulit, dan limfoma. Dari beberapa penelitian di Indonesia, tingkat kejadian keganasan ovarium adalah 30,5% di Yogyakarta, 7,4% di Surabaya, 13,8% di Jakarta, dan 10,64% di Medan dari seluruh angka kejadian keganasan ginekologi (Sahil, 2007).
cell, dan 1,9% berasal dari germ cell (Stewart, 2012). Kira-kira 75-80% keganasan ovarium tipe epitel merupakan tipe serous, 10%, merupakan tipe
mucinous dan endometrioid dan masing-masing kurang lebih 1% merupakan tipe
clear cell dan Benner (Berek, 2000).
Faktor umur telah dilaporkan sebagai publikasi insidensi yang paling sering pada tumor ganas ovarium. Menurut Crum (1999), tumor jinak ovarium umumnya lebih banyak terjadi pada wanita berumur 20-45 tahun, sedangkan tumor ganas lebih sering menyerang wanita dengan umur 45-60 tahun. Secara umum, insidensi tumor ganas ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada umur 0-14 tahun didapat insidensi sebesar 0,2 dan pada umur diatas 75 tahun didapatkan angka 29,2. Hal ini lebih sering ditemukan pada negara yang lebih berkembang. Di Amerika Serikat, insidensi tumor ganas ovarium pada umur 5-9 tahun adalah 0,3 dan pada umur diatas 85 tahun didapat insidensi sebesar 44,2. Pada umur 80-84 adalah puncak insidensi dengan angka 50,6 (Stewart, 2012).
Selain faktor umur, masih banyak lagi faktor yang dapat meningkatkan insidensi kejadian tumor ganas ovarium, yaitu faktor genetik, reproduksi, hormonal, dan gaya hidup seperti aktivitas fisik, diet, dan merokok. Faktor genetik mungkin adalah faktor yang paling berhubungan dengan meningkatnya insidensi tumor ganas ovarium. Dilaporkan sekurangnya 10% dari tumor ganas epitel ovarium merupakan penyakit keturunan, dengan 90% nya berhubungan dengan mutasi gen BRCA (Stewart, 2012).
Belum ada kesimpulan yang pasti pada hubungan faktor gaya hidup dengan peningkatan insidensi kejadian tumor ganas ovarium. Beberapa penelitian menunjukkan ada peningkatan risiko pada wanita obesitas sedangkan penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan antara body mass index (BMI) dengan risiko terjadi tumor ganas ovarium (Stewart, 2012).
Hal ini juga ditemukan pada hubungan aktivitas fisik dengan peningkatan risiko tumor ganas ovarium. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan risiko keganasan ovarium, sedangkan penelitian lain menyimpulkan tidak ada hubungan antara keduanya. Merokok dilaporkan menunjukkan peningkatan risiko pada epithelial subtype mucinous adenocarcinoma, tetapi tidak pada subtipe yang lainnya (Stewart, 2012).
Pemeriksaan tumor marker CA125 yang telah diketahui sebagai salah satu skrining pada tumor ganas ovarium mempunyai spesifisitas yang paling tinggi dibandingkan pemeriksaan lainnya. Pada 83% pasien dengan tumor ganas epitel ovarium ditemukan peningkatan level CA125. Peningkatan juga ditemukan pada 50% pasien pada stadium awal dan pada lebih dari 90% pasien dengan stadium lanjut (Menon, 2000).
Selain dengan pemeriksaan tumor marker CA125, tumor ganas ovarium juga dapat dideteksi dengan pemeriksaan transabdominal ultrasonography. Spesifisitas pemeriksaan ini memang tidak setinggi pemeriksaan tumor marker, namun pemeriksaan ini menunjukkan sensitifitas yang tinggi dalam mendeteksi tumor ganas ovarium stadium awal (Berek, 2000).
Diketahui tingkat kejadian tumor ganas ovarium di kota Medan adalah sebesar 10,64% (Sahil, 2007), melatarbelakangi peneliti untuk mengetahui profil apa saja yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tumor ganas ovarium. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebagai salah satu pusat pelayanan dan pusat rujukan kesehatan untuk wilayah regional Pulau Sumatera dipilih peneliti untuk menjadi tempat penelitian.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: bagaimanakah profil penderita tumor ganas ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012? 1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
1. Mengetahui profil penderita tumor ganas ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui profil penderita tumor ganas ovariun di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012 berdasarkan umur, status hormon, jumlah anak, riwayat keluarga, dan diagnosa tumor ovarium.
2. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan penunjang dengan gambaran histopatologi tumor malignant ovarium dan subtipenya.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Ilmu Pengetahuan
1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan acuan untuk skrining pasien tumor ganas ovarium.
2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan acuan untuk diagnosa pasien tumor ganas ovarium.
1.4.2. Bagi Masyarakat
1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi tentang bahaya penyakit tumor ganas ovarium.
2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi tentang pentingnya skrining tumor ganas ovarium pada usia muda.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Ovarium
Ovarium adalah sepasang organ berbentuk buah kenari yang mempunyai panjang sekitar 1,5 inchi atau 4 cm, lebar 1,5 cm, dan tebal 1 cm, terletak di kiri dan di kanan, dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium melekat pada lapisan belakang ligamentum latum dengan mesovarium. Selain mesovarium, ovarium juga mempunyai dua perlekatan lain, ligamentum infundibulopelvikum (ligamentum suspensorium ovarii), yang merupakan tempat melintasnya pembuluh darah, pembuluh limfe, dan persarafan ovarium dari dinding pelvis, dan ligamentum ovarii, yang menghubungkan ovarium dan uterus (Ellis, 2006).
Ovarium menerima aliran darah dari arteri ovarii yang merupakan percabangan dari aorta. Pada aliran darah balik, vena ovarii kanan menuju ke vena cava inferior, sedangkan vena ovarii kiri menuju ke vena renal. Pembuluh limfe ovarium melewati aortic nodes di level yang sama dengan pembuluh ginjal, mengikuti peraturan umum bahwa aliran pembuluh limfe suatu organ sama seperti aliran pembuluh vena organ tersebut. Untuk persarafan, ovarium menerima persarafan dari aortic plexus (T10) (Ellis, 2006).
2.2. Histologi Ovarium
Setiap ovarium mempunyai bagian-bagian histologi sebagai berikut :
1. Germinal Epithelium atau epitel germinativum adalah epitel selapis gepeng atau selapis kuboid yang menutupi permukaan ovarium (Junqueira, 2002).
2. Tunica Albuginea atau tunika albuginea adalah selapis jaringan ikat padat yang menyebabkan warna ovarium menjadi keputihan dan terletak di bawah epitel germinativum (Junqueira, 2002).
3. Ovarian Cortex atau daerah korteks terletak dibawah tunika albuginea, merupakan daerah yang terutama ditempati folikel ovarium dan oositnya. Folikel ini terbenam dalam jaringan ikat (stroma) di daerah korteks. Stroma ini terdiri atas fibroblas berbentuk kumparan khas yang berespon dengan berbagai cara terhadap rangsangan hormon dari fibroblas organ lain (Junqueira, 2002).
4. Ovarian Medulla atau daerah medula yang terletak dibawah daerah korteks, merupakan bagian terdalam ovarium. Tidak ada batas tegas antara daerah korteks dan medulla, tetapi daerah medulla tersusun dari jaringan ikat longar dan berisi pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf (Junqueira, 2002).
membentuk rongga yang lebih besar, yaitu antrum. Folikel ini sekarang disebut folikel sekunder atau folikel antrum (Junqueira, 2002).
6. Mature (Graafian) Follicle atau folikel matang, pra-ovulasi, atau folikel Graaf, sangat besar (berdiameter sekitar 2,5 cm) sehingga dapat menonjol dari permukaan ovarium dan dapat dideteksi dengan ultrasonografi. Folikel ini merupakan folikel dominan yang dapat mengalami ovulasi dan biasanya hanya satu untuk setiap siklus menstruasi. Sedangkan folikel lainnya mengalami atresia (Junqueira, 2002).
7. Corpus Luteum atau korpus luteum (badan kuning) merupakan folikel matang setelah ovulasi. Korpus luteum menghasilkan progesterone, estrogen, relaxin, dan inhibin akibat rangsangan LH (Luteinizing Hormone). Nasib korpus luteum ditentukan oleh ada tidaknya kehamilan. Setelah dirangsang LH, korpus luteum terprogram untuk bersekresi selama 10-12 hari. Jika tidak ada rangsangan hormon lain dan tidak ada kehamilan, sel-sel korpus luteum akan berdegenerasi melalui apoptosis. Fibroblas di dekatnya memasuki daerah ini dan membentuk parut jaringan ikat padat yang disebut korpus albikans atau badan putih (karena banyaknya kolagen) (Junqueira, 2002).
Gambar 2.3. Histologi Ovarium (Tortora et al., 2009) 2.3. Tumor Ganas Ovarium
Tumor ganas ovarium jenis epitel adalah penyebab utama kematian akibat keganasan ginekologi di Amerika Serikat. Pada tahun 2003 diperkirakan terdapat 25.400 kasus tumor ganas ovarium dengan 14.300 kematian, yang mencakup kira-kira 5% dari semua kematian wanita karena tumor ganas (Busmar, 2006).
Karena belum ada metode skrining yang efektif untuk tumor ganas ovarium, 70% kasus ditemukan pada keadaan yang sudah lanjut yakni setelah tumor menyebar jauh di luar ovarium (Busmar, 2006).
2.3.1. Etiologi Tumor Ganas Ovarium
1. Hipotesis Incessant Ovulation
Teori ini pertama sekali diperkenalkan oleh Fathalla pada tahun 1972, yang menyatakan bahwa pada saat terjadi ovulasi terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium. Untuk penyembuhan luka yang sempurna dibutuhkan waktu. Jika sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru, proses penyembuhan akan terganggu dan dapat menimbulkan proses transformasi dari sel-sel ovarium menjadi sel-sel tumor (Busmar, 2006).
2. Hipotesis Gonadotropin
Teori ini didasarkan pada data yang diperoleh dari percobaan terhadap binatang dan data epidemiologi. Hormon hipofisa diperlukan untuk perkembangan tumor ovarium pada beberapa percobaan pada binatang rodenria. Pada percobaan ini ditemukan bahwa jika kadar hormon estrogen rendah di sirkulasi perifer, maka kadar hormon gonadotropin akan meningkat. Peningkatan kadar hormon gonadotropin ini ternyata berhubungan dengan makin bertambah besarnya tumor ovarium pada binatang percobaan.
Berkurangnya risiko tumor ganas ovarium pada wanita multipara dan wanita pemakai pil kontrasepsi dapat diterangkan dengan rendahnya kadar gonadotropin pada kedua kelompok ini (Busmar, 2006).
3. Hipotesis Androgen
Dalam penelitian epidemiologi juga ditemukan tingginya kadar androgen (androstenedion, dehidroepiandrosteron) dalam darah wanita penderita tumor ganas ovarium. Jadi, berdasarkan hipotesis ini menurunnya risiko terjadinya tumor ganas ovarium pada wanita yang memakai pil kontrasepsi dapat dijelaskan yaitu dengan terjadinya penurunan kadar androgen (Busmar, 2006).
4. Hipotesis Progesteron
Progesteron memiliki peranan protektif terhadap terjadinya tumor ganas ovarium dan epitel normal ovarium mengandung reseptor progesteron. Progesteron menginduksi terjadinya apoptosis sel epitel ovarium, sedangkan estrogen menghambatnya.
Pada kehamilan, dimana kadar progesteron tinggi akan menurunkan risiko tumor ganas ovarium. Hal ini menjelaskan mengapa risiko terjadinya tumor ganas ovarium pada wanita dengan paritas yang tinggi lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang nulipara. Pil kontrasepsi kombinasi atau yang hanya mengandung progesteron yang menekan ovulasi juga menurunkan risiko tumor ganas ovarium (Busmar, 2006).
5. Paritas
Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terjadinya tumor ganas ovarium yang lebih rendah daripada nulipara, yaitu dengan risiko relatif 0,7. Pada wanita yang mengalami 4 atau lebih kehamilan aterm, risiko terjadinya tumor ganas ovarium berkurang sebesar 40% jika dibandingkan dengan wanita nulipara (Busmar, 2006).
6. Pil Kontrasepsi
Penelitian dari Centre for Disease Control menemukan penurunan risiko terjadinya tumor ganas ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontrasepsi, yaitu dengan risiko relatif 0,6.
lima tahun menurunkan risiko sampai 50%. Penurunan risiko semakin nyata dengan semakin lama pemakaiannya (Busmar, 2006).
7. Terapi Hormon Pengganti pada Masa Menopause
Pemakaian terapi hormon pengganti pada masa menopause (Menopausal Hormone Therapy = MHT) dengan estrogen saja selama 10 tahun meningkatkan risiko relatif 2,2. Sementara itu, jika masa pemakaian MHT selama 20 tahun atau lebih, risiko relatif meningkat menjadi 3,2. Pemakaian MHT dengan estrogen yang kemudian diikuti dengan pemberian progestin, ternyata masih menunjukkan meningkatnya risiko relatif menjadi 1,5.
Oleh karena itu, MHT, khususnya dengan estrogen saja, secara nyata meningkatkan risiko relatif terkena tumor ganas ovarium. Pemakaian MHT dengan kombinasi estrogen dan progestin, meskipun lebih aman dari MHT dengan estrogen saja, untuk jangka panjang tidak dianjurkan lagi sebagai salah satu terapi suportif bagi wanita yang telah menopause (Busmar, 2006).
8. Obat-obat yang Meningkatkan Kesuburan (Fertility Drugs)
Obat-obat yang meningkatkan fertilitas seperti klomifen sitrat, yang diberikan secara oral, dan obat-obat gonadotropin yang diberikan dengan suntikan seperti Follicle stimulating hormone (FSH), kombinasi FSH dengan Luteinizing Hormone (LH), akan menginduksi terjadinya ovulasi atau multipel ovulasi.
Menurut hipotesis incessant ovulation dan hipotesis gonadotropin, pemakaian obat penyubur ini jelas akan meningkatkan risiko relatif terjadinya tumor ganas ovarium. Pemakaian klomifen sitrat yang lebih dari 12 siklus akan menigkatkan risiko relatif menjadi 11. Tumor ovarium yang terjadi adalah tumor ovarium jenis borderline (Busmar, 2006).
9. Faktor Herediter
risiko relatifnya 3,8, dan anak dari penderita tumor ganas ovarium risiko relatifnya 6.
Antara 5-10% dari tumor ganas ovarium dianggap bersifat herediter. Kelompok tumor ganas ovarium ini termasuk dalam sindroma hereditary breast and ovarian cancer (HBOC) dan disebabkan oleh terjadinya mutasi di gen BRCA1 dan BRCA2. Wanita dengan gen BRCA1 yang telah bermutasi, mempunyai risiko terkena tumor ganas ovarium sebesar 40%-60%, dan risiko terkena tumor ganas payudara sebesar hampir 90%. Risiko untuk menderita tumor ganas ovarium pada wanita dengan gen BRCA2 yang telah bemutasi lebih rendah daripada risiko pembawa gen BRCA1 yang bermutasi yaitu 16%-27%. Selain itu, tumor ganas ovarium juga merupakan bagian dari sindroma hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC). HNPCC adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh
autosomal dominant disorder yang berkaitan dengan kerusakan gen yang bertanggung jawab atas terjadinya reparasi yang tidak normal dari DNA (Busmar, 2006).
2.3.2. Klasifikasi Tumor Ovarium
Kira-kira 90% tumor ganas ovarium berasal dari epitel koelom atau mesotelium (epithelial ovarian tumor) dan 10% adalah tumor ganas ovarium non-epthelial (non-epithelial ovarian tumor).
Tumor ganas ovarium dikelompokkan atas 6 kelompok, yaitu:
Tumor epitelial
Tumor sex-cord dan stromal
Tumor sel germinal
Tumor sel lipid
Sarkoma
Tabel 2.1. Klasifikasi Tumor Ovarium berdasarkan WHO (Busmar, 2006: 477-484)
Tumor Ovarium Epitel
Serous Tumors
Benign
Cystadenoma and papillary cystadenoma
Surface papilloma
Adenofibroma and cystadenofibroma
Tumor of low malignant potential
Malignant
Adenocarcinoma
Surface papilary adenocarcinoma
Malignant adenofibroma and cystaadenofibroma Mucinous Tumors
Benign
Cystadenoma
Adenofibroma and cystadenofibroma
Tumor of low malignant potential
Intestinal type
Endocervical like
Malignant
Adenocarcinoma
Malignant adenofibroma
Mural nodule arising in mucinous cystic tumor Endometrioid Tumors
Benign
Adenoma and cystadenoma
Adenofibroma and cystadenofibroma
Tumor of low malignant potential
Malignant
Adenocarcinoma
Adenoacanthoma
Adenosquamous carcinoma
Malignant adenofibroma with a malignant stromal component
Adenosarcoma
Endometrial stromal sarcoma
Carcinosarcoma homologous and heterologous
Undifferentiated sarcoma Clear Cell Tumors
Benign
Tumor of low malignant potential
Malignant
Brenner tumour of borderline malignancy
Malignant
Malignant Brenner tumour
Transitional cell carcinoma (non-Brenner type) Squamous Cell Tumors
Squamous cell carcinoma
Epidermoid cyst
Mixed Epithelial Tumours (specify type)
Benign
Borderline
Malignant
Tumor Sex-Cord-Stromal
Granulosa-Stromal Cell Tumors
Granulosa cell tumors
Tumors of the thecoma-fibroma group
Thecoma
Fibroma-fibrocarcoma
Sclerosing stromal tumor
Androblastomas; Sertolli-Leydig-Cell Tumors
Well-differentiated
Sertolli cell tumor
Sertolli-Leydig-cell tumor
Leydig-cell tumour; hilus cell tumor
Moderately differentiated
Poorly differentiated (carcomatoid)
With heterologous elements Gynandroblastoma
Sex Cord-Stromal Tumors of Mixed or Unclassified Cell Types
Tumor Ovarium Sel Germinal
Disgerminoma
Dermoid cyst (mature cystic teratoma)
Dermoid cyst with malignant transformation
Monodermal and highly specialized
Struma ovarii
Carcinoid
2.3.3. Faktor Risiko
Ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam perkembangan tumor ganas ovarium:
Usia : tumor jinak ovarium umumnya lebih banyak terjadi pada wanita berumur 20-45 tahun, sedangkan tumor ganas lebih sering menyerang wanita dengan umur 45-60 tahun (Crum, 1999). Secara umum, insidensi tumor ganas ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada umur 0-14 tahun didapat insidensi sebesar 0,2 dan pada umur diatas 75 tahun didapatkan angka 29,2. Hal ini lebih sering ditemukan pada negara yang lebih berkembang. Di Amerika Serikat, insidensi tumor ganas ovarium pada umur 5-9 tahun adalah 0,3 dan pada umur diatas 85 tahun didapat insidensi sebesar 44,2. Pada umur 80-84 adalah puncak insidensi dengan angka 50,6 (Stewart, 2012).
Demografi : wanita berkulit putih lebih rentan dibanding wanita kulit berwarna (Waruwu, 2013).
Faktor reproduksi : penelitian-penelitian sebelumnya selalu menunjukkan bahwa insidensi kejadian tumor ganas ovarium meningkat pada wanita
nulliparity atau yang tidak melahirkan. Penggunaan kontrasepsi dilaporkan dapat menurukan risiko keganasan ovarium sedangkan terapi hormon pada wanita menopause dapat meningkatkan risiko keganasan ovarium (Stewart, 2012).
Others Endodermal Sinus Tumor Embryonal Carcinoma Polyembryoma
Choriocarcinoma
Hubungan familial/ familial tendency : sejumlah penelitian yang membuktikan hubungan tumor ganas ovarium dengan family history ada risiko menderita tumor ganas ovarium pada garis keturunan pertama (Busmar, 2006).
Mutasi gen: 90% dari tumor ganas ovarium berhubungan dengan mutasi gen BRCA (Stewart, 2012).
Diet : beberapa penelitian menunjukkan ada peningkatan risiko pada wanita obesitas sedangkan penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan antara body mass index (BMI) dengan risiko terjadi tumor ganas ovarium (Stewart, 2012).
Faktor lingkungan : radiasi, asbesitosis, infeksi virus (rubella, mump), penggunaan talk (bedak) pada perineal (Waruwu, 2013).
2.3.4. Gejala Klinis
Tumor ganas ovarium tidak menunjukkan gejala yang khas pada stadium awal, hal ini yang menyebabkan lebih dari 70% penderita tumor ganas ovarium ditemukan pada stadium yang telah lanjut (stadium III dan IV) (Busmar, 2006).
Mayoritas penderita tumor ganas ovarium jenis epitelial tidak menunjukkan gejala sampai periode waktu tertentu. Pada stadium awal tumor ganas ovarium ini muncul dengan gejala-gejala tidak khas. Bila penderita dalam usia perimenopause, keluhan mereka adalah haid yang tidak teratur. Bila massa tumor telah menekan kandung kemih atau rektum, keluhan sering berkemih dan konstipasi muncul. Kadang-kadang gejala seperti distensi perut sebelah bawah, rasa tertekan, dan nyeri dapat pula ditemukan (Berek, 2000).
2.3.5. Stadium
Tabel 2.2. Staging Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan International Federation of Gynecologist and Obstetricians (FIGO, 1987) (Busmar, 2006)
Stadium I
Pertumbuhan terbatas pada ovarium
1. Stadium Ia : pertumbuhan terbatas pada satu ovarium; tidak ada asites yang berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul utuh.
2. Stadium Ib : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium; tidak ada asites yang berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul utuh.
3. Stadium Ic : tumor dengan stadium Ia atau Ib tetapi ada tumor di permukaan luar satu atau kedua ovarium; atau dengan kapsul pecah; atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif.
Stadium II
Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke panggul
1. Stadium IIa : perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba.
2. Stadium IIb : perluasan ke jaringan pelvis lainnya.
3. Stadium IIc : tumor stadium IIa atau IIb tetapi dengan tumor pada permukaan satu atau kedua ovarium; atau dengan kapsul pecah; atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif.
Stadium III
2.3.6. Deteksi Dini
Metode pemeriksaan yang sekarang ini digunakan sebagai skrining tumor ganas ovarium adalah:
Pemeriksaan pelvik dan rektal: termasuk perabaan uterus dan ovarium untuk mengetahui bentuk dan ukuran yag abnormal, meskipun pemeriksaan rektovaginal tidak dapat mendeteksi stadium dini tumor ganas ovarium (Berek, 2000).
Transabdominal Ultrasonography (USG): pemeriksaan ini memiliki spesifisitas yang terbatas tapi memiliki sensitivitas yang cukup tinggi untuk mendeteksi stadium awal tumor ganas ovarium (Berek, 2000).
Tumor marker CA-125: pemeriksaan ini mempunyai spesifisitas dan
positive predictive value yang rendah (Busmar, 2006). Namun terbatas dalam pelvis kecil, tetapi secara histologik terbukti meluas ke usus besar atau omentum.
1. Stadium IIIa : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologik dan dikonfirmasi secara mikroskopik adanya penumbuhan (seeding) di permukaan peritoneum abdominal.
2. Stadium IIIb : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik, diameter tidak melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening negatif.
3. Stadium IIIc : implan di abdomen dengan diameter > 2cm dan/atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif.
Stadium IV
pemeriksaan ini dapat mendeteksi 50% penderita pada stage 1 dan 60% penderita pada stage 2. Spesifisitas akan meningkat jika dilakukan bersamaan dengan transabdominal ultrasonography atau pemeriksaan secara berkala (Berek, 2000).
Computed Tomography Scanning (CT-Scan): dengan pemeriksaan ini dapat diketahui ukuran tumor primer, adanya metastasis ke hepar dan kelenjar getah bening, asites, dan penyebaran ke dinding perut. Akan tetapi CT-scan kurang disenangi karena (1) risiko radiasi, (2) risiko alergi terhadap zat kontras, (3) kurang tegas dalam membedakan tumor kistik dengan tumor padat, dan (4) biayanya mahal (Busmar, 2006).
2.3.7. Penatalaksanaan
Untuk pengobatan tumor ganas ovarium umumnya ditentukan berdasarkan stadium keganasannya. Pada stadium awal (I) tumor borderline, operasi primary tumor resection paling sering dilakukan. Histerektomi dan salpingo-oophorectomy merupakan pilihan operasi pada stadium awal dengan risiko rendah kanker ovarium. Sedangkan pada stadium lanjut (II, III, IV), jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah debulking atau cytoreductive surgery/operasi sitoreduksi (Berek, 2000).
Operasi sitoreduksi adalah operasi yang bertujuan membuang massa tumor sebanyak mungkin. Berdasarkan alat-alat yang digunakan, operasi sitoreduksi dibagi menjadi dua, yaitu : (Busmar, 2006)
1. Sitoreduksi Konvensional
Operasi sitoreduksi dengan menggunakan alat-alat operasi lazim seperti pisau, gunting, dan jarum jahit.
2. Sitoreduksi Teknik baru
Operasi sitoreduksi dengan menggunakan alat-alat seperti:
Argon Beam Coagulator
Cavitron Ultrasonic Surgical Aspirator (CUSA)
Setelah penatalaksanaan secara operasi, dapat diberikan juga terapi ajuvan pascaoperasi pada penderita tumor ganas ovarium stadium dini. Berdasarkan risiko terjadinya relaps pascaoperasi, para ahli sepakat untuk mengelompokkan penderita dalam dua kelompok: (Busmar, 2006)
1. Kelompok Risiko Rendah
Penderita kanker ovarium stadium dini dimasukkan dalam kelompok risiko rendah jika:
Stadium Ia atau Ib
Derajat diferensiasi 1 atau 2 2. Kelompok Risiko Tinggi
Penderita kanker ovarium stadium dini dimasukkan dalam kelompok risiko tinggi jika:
Stadium Ic
Stadium I, derajat diferensiasi 3 Stadium II
Tumor jenis clear cell
2.3.8. Prognosis
Prognosis seluruh kanker ovarium umumnya jelek akibat langsung dari pertumbuhannya yang sangat cepat dan pada stadium awal tidak menunjukkan gejala. Survival rate 5 Tahun: 35%; 10 Tahun : 28%; 25 tahun :15%.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis adalah sebagai berikut:
Usia. Pasien usia muda prognosisnya lebih baik. Ada tidaknya metastasis.
Asites. Jika dijumpai asites, salah satu tanda prognosis yang jelek.
Grading dan jenis tumor. Grading kanker dan jenis kanker (serous, musinous, endometrioid atau yang lain) sangat erat hubungannya dengan survival rate.
Psammoma bodies. Tumor serous mempunyai psammoma bodies memiliki prognosis yang lebih baik.
Ruptur kapsul tumor. Tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa komplikasi intraopeartive mempengaruhi tingkat survival rate.
DNA ploidy. Pada analisis DNA dengan menggunakan Flow cytometry merupakan indikator prognosis yang kuat. Tumor yang eneuploid memiliki prognosis yang lebih jelek dibandingkan tumor yang diploid. Adanya hubungan antara tumor DNA ploidy dan respon terhadap kemoterapi.
CA 125 . Serum marker meningkat pada stadium awal terutama stadium 2 dan dipakai sebagai parameter untuk menilai apakah ada rekurren.
Penanda yang lain seperti : overekpressi P53, c-erbB-2 dan level dari colony stimulating faktor, memiliki hubungan dengan agresivitas kanker ovarium (Waruwu, 2013).
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep ialah rangkaian variabel-variabel yang tersusun dalam suatu bagan yang menjelaskan hubungan masing-masing sesuai tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian adalah:
Profil Penderita 1. Umur
2. Jumlah Paritas 3. Riwayat Keluarga 4. Status Hormon 5. Staging
6. Indeks Massa Tubuh
7. Penggunaan Pil Kontrasepsi 8. Tipe Histopatologi
9. Penatalaksanaan
Rekam Medik
3.2. Definisi Operasional
3.2.1. Variabel Terikat
1. Tumor ganas ovarium
Wanita yang didiagnosa menderita tumor ganas ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012.
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
3.2.2. Variabel Bebas
1. Umur adalah umur penderita ketika didiagnosa tumor ganas ovarium seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Crum, 1999):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. <45 tahun 2. 45-60 tahun 3. >60 tahun Skala pengukuran : Interval
2. Jumlah paritas adalah jumlah penderita melahirkan seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Busmar, 2006):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. Tidak pernah
2. 1-4 kali 3. >4 kali Skala pengukuran : Interval
medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Busmar, 2006):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. Ibu kandung
2. Saudara kandung perempuan 3. Anak kandung perempuan Skala pengukuran : Nominal
4. Status hormon adalah keadaan hormonal penderita saat didiagnosa tumor ganas ovarium seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan :
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. Produktif
2. Menopause Skala pengukuran : Nominal
5. Staging adalah stadium tumor ganas yang didiagnosa pada pasien seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Busmar, 2006):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. Stadium 1
2. Stadium 2
3. Stadium 3
4. Stadium 4
Skala pengukuran : Ordinal
6. Indeks massa tubuh adalah keadaan perbandingan berat badan dan tinggi badan penderita seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Stewart, 2012):
Alat pengukuran : Rekam medik Hasil pengukuran : 1. <18,5 kg\m2
2. 18,5-22,9 kg\m2 3. >23,0 kg\m2 4. 23,0-24,9 kg\m2 5. 25,0-29,9 kg\m2 6. >30,0 kg\m2 Skala pengukuran : Interval
7. Penggunaan pil kontrasepsi adalah riwayat penderita menggunakan kontrasepsi seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Busmar, 2006):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. Ya
2. Tidak Skala pengukuran : Nominal
8. Tipe histopatologi adalah jenis sel yang menyebabkan keganasan seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Berek, 2000):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran : 1. Epithelial ovarian tumor 2. Non-epithelial ovarian tumor
Skala pengukuran : Nominal
9. Penatalaksanaan adalah jenis terapi yang dipilih penderita seperti tercatat di rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang dikategorikan berdasarkan aturan (Busmar, 2006):
Cara pengukuran : Observasi rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
2. Histerektomi
3. Sitoreduksi atau Debulking
4. Terapi Adjuvan
5. Operasi + Terapi Adjuvan Skala pengukuran : Nominal
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observational dengan desain penelitian cross-sectional yang akan menilai profil penderita tumor ganas ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Deskriptif adalah studi yang ditujukan untuk menentukan jumlah atau frekuensi serta distribusi penyakit berdasarkan variabel orang, tempat, dan waktu. Cross-sectional karena pengukuran data variabel hanya dilakukan sekali.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan bahwa Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik merupakan Rumah Sakit Rujukan untuk wilayah regional Pulau Sumatera dan rumah sakit ini memiliki jumlah kasus yang banyak. Waktu penelitian dimulai dari bulan Agustus 2013 – November 2013.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi Penelitian
4.3.2. Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah data penderita tumor ganas ovarium yang datang berobat dan dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang diambil dari rekam medik. Besar sampel diperoleh dengan menggunakan total sampling, yakni mengambil sampel dari seluruh jumlah populasi yang memenuhi kriteria inklusi.
Kriteria inklusi penelitian ini adalah semua penderita tumor ganas ovarium pada tahun 2012 di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang mempunyai:
1. Data rekam medik yang lengkap.
2. Hasil pemeriksaan histopatologi sebagai diagnosa pasti tumor ganas ovarium.
3. Pasien yang mendapat penatalaksanaan sampai tuntas. 4.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa data rekam medik yang diambil dari komputer ruangan rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dari tanggal 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2012. Data rekam medik penderita tumor ganas ovarium yang dipilih sebagai sampel, dikumpul dan dilakukan pencatatan tabulasi sesuai dengan variabel yang diteliti.
4.5. Metode Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan memasukkan data ke dalam program komputer dan menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Package for the Social Science). Kemudian dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi dan dilakukan pembahasan sesuai dengan pustaka yang ada.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik kota medan Provinsi Sumatera Utara. RSUP Haji Adam Malik berlokasi di Jalan Bunga Lau No.17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan. Rumah Sakit ini merupakan Rumah Sakit Pemerintah dengan Kategori Kelas A. Selain itu, RSUP Haji Adam Malik Medan juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Sumatera yang meliputi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau, sehingga dapat dijumpai pasien dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 502/ Menkes/ IX/ 1991 tanggal 6 September 1991, RSUP Haji Adam Malik Medan ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel
5.1.2.1.Deskripsi Sampel Berdasarkan Umur Penderita Tabel 5.1. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Umur
UMUR PENDERITA n %
< 40 Tahun 17 40,5
40 - 60 Tahun 21 50,0
>60 Tahun Total
4 42
9,5 100,0
Berdasarkan penelitian, didapat bahwa penderita tumor ganas ovarium yang paling banyak datang berobat dijumpai pada kelompok umur dalam rentang 40–60 tahun, yaitu sebanyak 21 orang (50,0%), kemudian diikuti dengan kelompok umur dibawah 40 tahun sebanyak 17 orang (40,5%) dan kelompok umur paling sedikit dijumpai pada usia diatas 60 tahun, yaitu sebanyak 4 orang (9,5%).
5.1.2.2.Deskripsi Sampel Berdasarkan Jumlah Paritas Penderita
Tabel 5.2. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Jumlah Paritas
JUMLAH PARITAS n %
Tidak pernah 21 50,0
1-4 kali 18 42,9
>4 kali Total
3 42
Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa penderita tumor ganas ovarium yang paling banyak datang merupakan kelompok wanita yang tidak pernah melahirkan yaitu sebanyak 21 orang (50,0%), kemudian diikuti dengan kelompok yang pernah melahirkan 1 – 4 kali sebanyak 18 orang (42,9%) dan kelompok wanita yang pernah melahirkan di atas 4 kali merupakan kelompok yang paling sedikit dijumpai, yaitu sebanyak 3 orang ( 7,1%).
5.1.2.3.Deskripsi Sampel Berdasarkan Status Hormon Penderita Tabel 5.3. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Status Hormon Penderita
STATUS HORMON n %
Produktif 29 69,0
Menopause Total
13 42
31,0 100,0
5.1.2.4.Deskripsi Sampel Berdasarkan Stadium
Tabel 5.4. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Stadium
STADIUM n %
Berdasarkan penelitian, didapatkan penderita tumor ganas ovarium yang datang paling banyak dengan stadium III, yaitu sebanyak 26 orang (61,9%), diikuti dengan kelompok stadium I sebanyak 8 orang (19,0%) , kemudian diikuti kelompok stadium IV, yaitu sebanyak 5 orang (11,9%) dan paling sedikit dijumpai pada kelompok stadium II, yaitu sebanyak 3 orang (7,9%).
5.1.2.5.Deskripsi Sampel Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Penderita Tabel 5.5. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Penderita
Berdasarkan penelitian, didapat bahwa penderita tumor ganas ovarium paling banyak dijumpai pada kelompok IMT normal atau antara 18,5 sampai 22,9 kg/m2, yaitu sebanyak 15 orang (35,7%), diikuti dengan kelompok underweight
atau dengan angka IMT dibawah 18,5 kg/m2, yaitu sebanyak 11 orang (26,2%) , kemudian diikuti kelompok obesity I atau dengan angka IMT antara 25,0 sampai 29,9 kg/m2, yaitu sebanyak 10 orang ( 23,8%), diikuti dengan kelompok pra-obesity atau dengan angka IMT antara 23,0 sampai 24,9 kg/m2 sebanyak 4 orang (9,5%) dan kelompok IMT paling sedikit dijumpai pada kelompok obesity II atau dengan angka IMT diatas 30,0 kg/m2, yaitu sebanyak 2 orang (4,8%). Tidak didapati penderita tumor ganas ovarium yang datang dengan status IMT
overweight atau dengan angka IMT diatas 23,0 kg/m2 (0%)
5.1.2.6.Deskripsi Sampel Berdasarkan Penggunaan Pil Kontrasepsi Tabel 5.6. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Penggunaan Pil Kontrasepsi
PIL KONTRASEPSI n %
Ya 2 4,8
Tidak Total
40 42
95,2 100,0
5.1.2.7.Deskripsi Sampel Berdasarkan Tipe Histopatologi Tabel 5.7. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Tipe Histopatologi
TIPE HISTOPATOLOGI n %
Epithelial ovarian tumor 35 83,3
Non-epithelial ovarian tumor
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa jenis histopatologi yang paling banyak ditemukan pada penderita tumor ganas merupakan tipe epithelial ovarian tumor, yaitu sebanyak 35 orang (83,3%) dan paling sedikit dijumpai pada kelompok tipe non-epithelial ovarian tumor yang hanya sebanyak 7 orang (16,7%).
5.1.2.8.Deskripsi Sampel Berdasarkan Penatalaksanaan Tabel 5.8. Tabel Deskripsi Sampel Berdasarkan Penatalaksanaan
PENATALAKSANAAN n %
Sitoreduksi / Debulking 10 23,8
Terapi Adjuvan
penatalaksanaan gabungan operasi yang dilanjutkan dengan terapi adjuvan dipilih oleh 6 orang (14,3%). Tidak didapati penderita tumor ganas ovarium yang memilih penatalaksanaan dengan cara primary tumor resection dan histerektomi
(0%).
5.1.3. Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium
Dengan hasil deskripsi karakteristik di atas, penulis ingin mengetahui beberapa hubungan antar variabel bebas sebagai tambahan hasil penelitian. Data yang telah dikumpulkan diolah secara statistik menggunakan data komputer SPSS (Statistical Package for Social Sciences) versi 17.0 dan dilakukan uji statistik
crosstab. Bermakna secara statistik jika p value <0,05.
5.1.3.1.Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Histopatologi dan Kelompok Umur
Tabel 5.9. Tabel Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovariun Berdasarkan Kelompok Histopatologi dan Kelompok Umur
TIPE HISTOPATOLOGI <40 40-60 >60
Epithelial ovarian tumor 13 19 3
Pada tabel 5.9. didapatkan bahwa tipe histopatologi epithelial ovarian tumor paling banyak ditemukan pada kelompok umur 40-60 tahun yaitu sebanyak 19 orang dari 42 orang penderita tumor ganas ovarium. Kemudian diikuti dengan kelompok umur <40 tahun yaitu sebanyak 13 orang dan kelompok umur >60 tahun yaitu sebanyak 3 orang.
kelompok umur 40-60 tahun yaitu sebanyak 2 orang, dan kelompok umur >60 tahun yaitu sebanyak 1 orang.
5.1.3.2.Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Umur
Tabel 5.10. Tabel Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Umur
STADIUM <40 40-60 >60
Dari 42 penderita tumor ganas ovarium, ternyata stadium I lebih banyak didapatkan pada kelompok umur 40-60 tahun yaitu sebanyak 4 orang, diikuti dengan kelompok umur <40 tahun dan >60 tahun yaitu sebanyak masing-masing 2 orang. Pada kelompok stadium II lebih banyak didapatkan pada kelompok umur <40 tahun yaitu sebanyak 2 orang. Diikuti dengan kelompok umur 40-60 tahun yaitu sebanyak 1 orang dan tidak didapatkan stadium II pada kelompok umur >60 tahun.
5.1.3.3.Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Histopatologi dan Kelompok Penatalaksanaan
Tabel 5.11. Tabel Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Histopatologi dan Kelompok Penatalaksanaan
HISTOPATOLOGI Sitoreduksi/Debulking Terapi Adjuvan
Operasi+Terapi Adjuvan
Epithelial ovarian tumor 10 21 4
Non-epithelial ovarian tumor
Total
0 10
5 26
2 6
5.1.3.4.Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Penatalaksanaan
Tabel 5.12. Tabel Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Penatalaksanaan
STADIUM Sitoreduksi/Debulking Terapi Adjuvan Operasi+Terapi Adjuvan
Berdasarkan tabel 5.12, ditemukan bahwa kelompok stadium I lebih banyak memilih terapi adjuvan sebagai penatalaksanaannya yaitu sebanyak 6 orang, diikuti dengan sitoreduksi/debulking dan kombinasi operasi dan terapi adjuvan yang dipilih masing-masing oleh 1 orang. Hal sebaliknya terlihat untuk pemilihan penatalaksanaan pada kelompok stadium II yang lebih banyak memilih sitoreduksi/debulking sebagai penatalaksanaanya. Lalu diikuti dengan terapi adjuvan yang dipilih oleh 1 orang, sedangkan kombinasi operasi dan terapi adjuvan tidak ada yang memilih (0 orang).
5.1.4. Uji Statistik
Untuk melihat hubungan tipe histopatologi dengan umur penderita tumor ganas ovarium dengan menggunakan uji statistik crosstab diperoleh hasil p=0,461 (p value >0,05). Hasil uji statistik tidak menunjukkan ada hubungan antara peningkatan umur wanita dengan tipe histopatologi yang dideritanya.
Untuk melihat hubungan stadium dengan umur penderita tumor ganas ovarium dengan menggunakan uji statistik crosstab diperoleh hasil p=0,658 (p value >0,05). Hasil uji statistik tidak menunjukkan ada hubungan antara peningkatan umur wanita dengan stadium yang dideritanya.
Untuk melihat hubungan penatalaksanaan yang dipilih penderita tumor ganas ovarium dengan tipe histopatologi dengan menggunakan uji statistik
crosstab diperoleh hasil p=0,190 (p value >0,05). Hasil uji statistik tidak menunjukkan ada hubungan antara pemilihan penatalaksanaan dengan tipe hispatologi yang dideritanya.
Untuk melihat hubungan penatalaksanaan yang dipilih penderita tumor ganas ovarium dengan stadium yang didiagnosa dengan menggunakan uji statistik crosstab diperoleh hasil p=0,452 (p value >0,05). Hasil uji statistik tidak menunjukkan ada hubungan antara pemilihan penatalaksanaan dengan stadium yang dideritanya.
5.2. Pembahasan
medik yang double atau rangkap. Pada saat dilakukan penelitian, hanya terdapat 155 data rekam medik yang dapat diakses dan 42 data rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan penulis.
Penulis juga menghilangkan variabel riwayat keluarga, hal ini dikarenakan kurangnya data yang dicantumkan dalam rekam medik, sehingga riwayat keluarga pasien tidak dapat diketahui dengan jelas. Dilaporkan sekurangnya 10% dari tumor ganas ovarium merupakan penyakit keturunan, dengan 90% nya berhubungan dengan mutasi gen BRCA (Stewart, 2012). Busmar (2006) juga menuliskan bahwa ada sejumlah penlitian yang membuktikan hubungan tumor ganas ovarium dengan family history ada risiko menderita tumor ganas ovarium pada garis keturunan pertama.
Crum (1999) telah melaporkan bahwa tumor jinak ovarium umumnya lebih banyak terjadi pada wanita berumur 20-45 tahun, sedangkan tumor ganas lebih sering menyerang wanita dengan umur 45-60 tahun. Pada tabel 5.1. dapat dilihat bahwa penderita tumor ganas ovarium paling banyak dijumpai pada kelompok umur dalam rentang 40-60 tahun (50,0%). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilaksanakan dari bulan Juni hingga Juli 2012 di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik dimana, kelompok umur yang paling banyak menderita tumor ganas ovarium adalah kelompok umur 35-50 tahun sebanyak 142 orang dari 337 kasus (42,1%) (Johari, 2013). Menurut Sahil (2007) dari penelitian Fadlan di Medan tahun 1981-1990, dilaporkan insidensi tumor ganas ovarium terbanyak pada kelompok umur 41-50 tahun, sedangkan Harahap di Jakarta tahun 1984, melaporkan insiden tertinggi tumor ganas ovarium terdapat pada kelompok umur 40-70 tahun.
Hal ini terjadi karena, peningkatan umur memberikan waktu pada masa untuk terjadinya perubahan genetik pada sel epitel permukaan pada ovarium.
Berdasarkan jumlah paritas penderita tumor ganas ovarium, didapatkan kelompok terbanyak adalah kelompok wanita yang tidak pernah melahirkan atau
nullipara yaitu 21 orang (50,0%). Hal ini sesuai dengan penelitian Johari (2013) yang melaporkan bahwa insidensi tumor ganas ovarium paling banyak pada wanita kelompok nullipara yaitu 91 orang (27,0%) dibandingkan dengan wanita yang mempunyai jumlah paritas yang banyak. Hal ini sesuai dengan hipotesis
incessant ovulation yang menyatakan bahwa pada saat terjadi ovulasi terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium. Untuk penyembuhan luka yang sempurna dibutuhkan waktu, namun apabila sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi maka proses penyembuhan akan terganggu dan dapat menimbulkan proses transformasi dari sel-sel ovarium menjadi sel-sel tumor (Busmar, 2006). Tetapi pada penelitian Nasution (2011) didapatkan hasil yang berbeda dimana tumor ganas ovarium paling banyak pada wanita dengan jumlah paritas antara 1-3 kali yaitu sebanyak 22 orang dari 46 kasus (47,8%).
Pada tabel 5.2. dapat terlihat juga bahwa tingkat kejadian tumor ganas ovarium menurun dengan peningkatan paritas. Hal ini sejajar dengan teori Hinkula (2006) dimana secara umum, setiap live birth akan menurunkan risiko terjadinya tumor ganas ovarium (Johari, 2013). Selain itu, ada juga hipotesis gonadotropin yang menyatakan bahwa rendahnya kadar hormon gonadotropin pada wanita multipara adalah salah satu faktor protektif, dan hipotesis progesteron yang menyatakan bahwa progesteron menginduksi apoptosi sel-sel epitel ovarium dan tingginya kadar progesteron pada wanita multipara merupakan salah satu faktor protektif.
13,1% penderita belum menopause dan 27,7% penderita sudah menopause, namun pada penelitian Johari (2013) didapati bahwa kasus tumor ganas ovarium banyak terjadi pada pasien yang belum menopause atau produktif yaitu 202 orang ( 59,4%). Menurut Johari (2013), hal yang sama juga ditemukan pada penelitian Akbar (2011) bahwa penderita tumor ganas ovarium banyak ditemukan pada wanita yang belum menopause (59,4%).
Berdasarkan tabel 5.4. tumor ganas ovarium paling sering didiagnosa pada stadium III yaitu sebanyak 26 orang (61,9%). Hal ini sama seperti data dari Anglia Cancer Network dari tahun 2004 sampai 2008 yang menyatakan bahwa dari 1443 kasus didapati 652 kasus (45%) yang didiagnosa pada stadium III. Stadium dapat menentukan tingkat prognosis penderita tumor ganas ovarium, semakin tinggi stadium maka 5-years survival rate akan semakin kecil. Namun, karena kurangnya skrining yang dilakukan pada wanita-wanita dengan faktor risiko tinggi, penderita tumor ganas ovarium lebih sering terdiagnosa pada stadium lanjut.
Penelitian dari Centre for Disease Control menemukan penurunan risiko terjadinya tumor ganas ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontrasepsi (Busmar, 2006). Hal ini terbukti pada tabel 5.6. yang menunjukkan bahwa tumor ganas ovarium paling banyak ditemukan pada kelompok wanita yang tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi yaitu 40 orang (95,2%), sedangkan pada kelompok wanita yang mengkonsumsi pil kontrasepsi hanya ditemukan 2 orang (4,8%). Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kasus tumor ganas ovarium banyak terjadi pada pasien tanpa riwayat penggunaan hormon yaitu 233 orang (69,1%) (Johari, 2013). Hal ini juga sejalan dengan teori Whittemore (1992) dimana wanita yang tidak pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi lebih berisiko dengan risiko relatif 1,0. Hal ini karena, dengan penggunaan pil kontrasepsi bersifat protektif terhadap tumor ganas ovarium dengan cara menghalangi proses ovulasi yang berulang. Selain itu, menurunnya risiko terjadinya tumor ganas ovarium pada wanita yang memakai pil kontrasepsi juga dapat dijelaskan dengan hipotesis androgen, dimana terjadinya penurunan kadar androgen sehingga epitel ovarium jarang terpapar pada androgenik steroid sehingga tidak terjadi pertumbuhan sel-sel tumor ganas ovarium (Busmar,2006).
Berdasarkan tipe histopatologi pada tabel 5.7, penderita tumor ganas ovarium paling banyak didiagnosa dengan tipe epithelial ovarian tumor yaitu sebanyak 35 orang (83,3%). Hal ini sesuai seperti penelitian Stewart (2012) yang melaporkan bahwa 91,9% tumor ganas ovarium berasal dari sel epitel, 1,2% berasal dari sex cord-stromal cell, dan 1,9% berasal dari germ cell. Ada juga penelitian Goodman (2003) yang melaporkan bahwa dari 94,3% penderita tumor ganas ovarium yang telah melakukan pemeriksaan hitopatologi ditemukan 91,2% nya merupakan tumor ganas epitel ovarium.
tanpa dilakukan operasi debulking. Kemoterapi pada penderita tumor ganas yang telah menjalani operasi optimal debulking, diberikan dalam 6 siklus platinum-based therapy dengan menggunakan cisplatin atau carboplatin yang dikombinasikan dengan taxane ataupun paclitaxel. Sedangkan pada penderita yang menjalani operasi suboptimally debulking perlu dilakukan pemberian kemoterapi dengan cispatin dan paclitaxel dosis tinggi sebanyak 6 siklus yang harus selesai dalam 3 minggu (Jelovac, 2011).
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Distribusi karakteristik penderita tumor ganas ovarium:
Berdasarkan umur, yang paling banyak adalah pada kelompok umur 40 - 60 tahun, yaitu 50,0%.
Berdasarkan jumlah paritas, yang paling banyak adalah pada kelompok wanita yang tidak pernah melahirkan, yaitu 50,0%.
Berdasarkan status hormon, yang paling banyak adalah pada kelompok status hormon produktif, yaitu 69,9%.
Berdasarkan stadium yang diderita, yang paling banyak adalah pada kelompok stadium III, yaitu 61,9%.
Berdasarkan indeks massa tubuh, yang paling banyak adalah pada kelompok normal atau dengan angka IMT 18,5-22,9 kg/m2, yaitu 35,7%.
Berdasarkan penggunaan pil kontrasepsi, yang paling banyak adalah pada kelompok yang tidak menggunakan pil kontrasepsi, yaitu 95,2%. 2. Distribusi penderita tumor ganas ovarium berdasarkan tipe histopatologi,
yang paling banyak adalah pada kelompok tipe epithelial ovarian tumor, yaitu 83,3%.
3. Distribusi penderita tumor ganas ovarium berdasarkan jenis penatalaksanaan yang dipilih, yang paling banyak adalah pada kelompok terapi adjuvan, yaitu 61,9%.
6.2. Saran
jumlah paritas dengan risiko meningkatnya kejadian tumor ganas ovarium.
2. Perlunya memperbaiki gaya hidup, dimulai dari rutin memeriksakan diri ke rumah sakit dan menggunakan pil kontrasepsi sebagai langkah awal untuk mencegah kejadian tumor ganas ovarium.
3. Diperlukan deteksi dini pada kelompok usia diatas 40 tahun, terutama bagi wanita yang memiliki riwayat keluarga terkena tumor ganas ovarium dan tidak pernah melahirkan.
4. Diharapkan Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan meningkatkan kualitas data rekam medik terutama anamnesa tentang riwayat keluarga agar lebih lengkap dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengamatan.