PENGARUH FAKTOR KEUANGAN DAN NON-KEUANGAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI PADA PERUSAHAAN NON-KEUANGAN YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2010-2013
(Skripsi)
Oleh
AGUSTIA WIRANDIKA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH FAKTOR KEUANGAN DAN NON-KEUANGAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI
oleh
AGUSTIA WIRANDIKA
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor keuangan ( ukuran perusahaan (size), profitabilitas, likuiditas, leverage ) dan non-keuangan ( jaminan (secure), reputasi auditor ) terhadap peringkat obligasi. Hipotesis yang diajukan (1) ukuran perusahaan (size) berpengaruh terhadap peringkat obligasi, (2) profitabilitas berpengaruh terhadap peringkat obligasi, (3) likuiditas berpengaruh terhadap
peringkat obligasi, (4) leverage berpengaruh terhadap peringkat obligasi, (5) jaminan (secure) berpengaruh terhadap peringkat obligasi (6) reputasi auditor berpengaruh terhadap peringkat obligasi.
Penelitian ini menggunakan 56 perusahaan non-keuangan yang terdaftar di BEI 2010-2013. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode purposive sampling terhadap perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data penelitian dianalisa dengan analisis regresi logistik.
Hasil dari penelitian ini berdasarkan analisis regresi logistik menunjukkan bahwa likuiditas dan reutasi auditor berpengaruh terhadap peringkat obligasi. Sedangkan ukuran perusahaan (size), profitabilitas, leverage, jaminan (secure) tidak berpengaruh terhadap peringkat obligasi.
Kata kunci : ukuran perusahaan (size), profitabilitas, likuiditas, leverage, jaminan (secure),
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF FINANCIAL FACTORS AND NON FINANCIAL ON THE RATINGS OF BONDS
By
AGUSTIA WIRANDIKA
This research aims to test the influence of financial factors ( the size of the company (size) , profitability, liquidity, leverage and non-financial secure , the reputation of auditors for bond rating. Hypothesis advanced by (1) the size of the company ( size ) impact on bond rating, (2) profitability impact on bond rating, (3) liquidity impact on bond rating, (4) leverage effect on bond rating, (5) secure impact on bond rating, (6) the reputation of auditors impact on bond rating.
This study used 56 non-financial companies listed on the BEI 2010 to 2013. Data was collected by using a purposive sampling method towards non-financial companies listed in the Indonesia Stock Exchange. The research data were analyzed with logistic regression analysis.
The result of this research based on logistic regression analysis shows that liquidity and the reputation of auditors impact on bond rating .While the size of the company (size) , profitability , leverage , secure no impact on bond rating .
PENGARUH FAKTOR KEUANGAN DAN NON-KEUANGAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI PADA PERUSAHAAN NON-KEUANGAN YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2010-2013
Oleh
AGUSTIA WIRANDIKA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI
Pada
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandarlampung pada tanggal 07 agustus 1992, sebagai anak
ketiga dari Bapak Drs. Izmir Hasan dan Ibu Suarni.
Penulis menyelesaikan pendidikan kanak-kanak di TK KARTIKA 2 tahun 1998,
kemudian dilanjutkan dengan pendidikan dasar di SD 2 Sumur Batu Bandarlampung
dan lulus pada tahun 2004. Selanjutnya, penulis menempuh pendidikan menengah
pertama di SMP Negeri 23 Bandarlampung yang diselesaikan pada tahun 2007,
kemudian penulis melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMK Negeri 4
Bandarlampung hingga lulus pada tahun 2010.
Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
MOTO
PERSEMBAHAN
Karya kecilku ini kupersembahkan kepada:
“
Ibu dan ayah tercinta suarni dan Drs. Izmir Hasan
”
“
Untuk ketiga kakak tersayang like okta wijaya, almar,
dan ahmad dwi okta
”
“
Keponakan terkasih raihan dan fatin
”
“
Kawan-
kawan DKDSBH’10
dan akutansi 2010
”
“
Special untuk Lady Usa Simpati yang selalu suport
“
“
Serta, universitas lampung
khususnya fakultas ekonomi dan bisnis
SANWACANA
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul “Pengaruh faktor keuangan dan non-keuangan terhadap peringkat obligasi pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2010-2013”.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan, bimbingan, bantuan, dan kerja
sama semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaiannya. Untuk itu
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Satria Bangsawan, S.E., M.Si., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung;
2. Ibu Dr. Fajar Gustiawaty Dewi, S.E., M.Si.,Akt., selaku Ketua Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung;
3. Ibu Yuztitya Asmaranti, S.E., M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
4. Ibu Dr. Rindu Rika Gamayuni S.E.,M.Si., Akt., selaku Dosen Pembimbing
Utama yang telah meluangkan waktu untuk memberi saran, kritik,
bimbingan, dan nasihatnya dalam menyelesaikan skripsi ini;
5. Bapak Lego Waspodo, S.E., M.Si., Akt., selaku Dosen Pembimbing
Kedua yang telah banyak membantu dalam memberikan masukan,
bimbingan, perhatian, kesabaran, dan kesediaan meluangkan waktu selama
proses penyelesaian skripsi ini;
6. Ibu Dr. Lindrianasari, S.E., M.Si., Akt., selaku Dosen Penguji Utama yang
telah memberikan saran-saran yang membangun dan bermanfaat;
7. Bapak Usep Syaipudin, S.E., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik;
8. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu
dan pengetahuan yang bermanfaat selama penulis menyelesaikan
pendidikan di Universitas Lampung;
9. Bapak Sobari, Mas Yana, Mas Leman, Mbak Sri, Mpok, dan Mas Yono
serta Seluruh Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Lampung, atas bantuannya selama penulis bergabung bersama civitas
akademika Universitas Lampung;
10.Kedua Orang Tuaku, Ayahanda Drs. Izmir Hasan dan Ibunda Suarni
sebagai motivator terbesar dalam menyelesaikan pendidikanku.
11.kakakku, Like okta wijaya, Almar, Ahmad Dwi Okta yang telah banyak
bersabar, memaklumi dan memberi dukungan selama ini;
12.Sahabat-sahabat terbaikku, DKDSBH’10 Apri fajar, Dicky andika, Erlian
fitrah bramatala, Este Debol, Ferindo saputra, Frassyda pratama, M.
yusnandar yang selalu memberikan motivasi, dorongan, selalu
meluangkan waktu untuk mendengarkan, menemani, menghibur, dan
selalu menjadi penyemangat;
13.Teman-teman seperjuangan akuntansi 2010, Dianti, Echa, Mei Rizky,
Arlenti, Rere, Iqbal, Egha, Devri, Santo, Eka, Surya, Anas, Teja, Satria,
Mahmut, Sela, Jeni, Feny, Feby, Latifa, Marlina, Ira, Dwi, Rossy, Mareta,
Fery, Ben, Rika, Rizal, Wahyu, Topik, Hendrik, dan semua teman-teman
yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih atas
kebersamaannya selama ini, merupakan suatu kebanggaan bertemu dengan
kalian semua. Semoga sukses dan keberkahan meliputi kita;
14.Serta kepada semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu
persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah
diberikan.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis, pembaca, dan pihak-pihak lainnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Bandarlampung, 22 April 2015
Penulis,
DAFTAR ISI
1.3 Tujuan Penelitian dan manfaat penelitian ... .... 8
1.3.1 Tujuan Penelitian ... .... 8
1.3.2 Manfaat penelitian ... .... 8
2.5 Pengembangan Hipotesis ... .... 34
2.5.1 Pengaruh size Perusahaan Terhadap Peringkat Obligasi ... .... 34
2.5.2 Pengaruh Profitabilitas terhadap Peringkat Obligasi ... .... 35
2.5.3 Pengaruh likuiditas terhadap Peringkat Obligasi ... .... 36
2.5.4 Pengaruh Leverage terhadap Peringkat Obligasi ... .... 37
2.5.5 Pengaruh Jaminan (secure) terhadap Peringkat Obligasi ... .... 38
2.5.6 Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Peringkat Obligasi ... .... 39
BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Teknik Pengumpulan Data ... .... 41
3.3.2.1 Uji Multikolinearitas ... .... 48
3.3.3 Uji Hipotesis ... .... 49
3.3.3.1 Menilai Kelayakan Model Regresi ... .... 50
3.3.3.3 Nilai Nagel Karke (R2)... .... 51
3.3.3.4 Menguji koefisien regresi ... .... 51
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif ... .... 52
4.2 Uji Asumsi Klasik ... .... 56
4.2.1 Uji Multikolinearitas ... .... 56
4.3 Pengujian Hipotesis ... .... 47
4.3.1 Menilai Kelayakan Model Regresi ... .... 50
4.3.2 Menilai Keseluruhan Model (overal model fit) ... .... 50
4.3.3 Nilai Nagel Karke (R2) ... .... 51
4.3.4 Menguji koefisien regresi ... .... 51
4.3.4.1 Uji Hipotesis 1 ... .... 60
4.3.4.2 Uji Hipotesis 2 ... .... 61
4.3.4.3 Uji Hipotesis 3 ... .... 62
4.3.4.4 Uji Hipotesis 4 ... .... 63
4.3.4.5 Uji Hipotesis 5 ... .... 65
4.3.4.6 Uji Hipotesis 6 ... .... 66
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... .... 68
5.2 Keterbatasan Penelitian ... .... 70
5.3 Saran ... .... 70
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Proses Rating………... 16
Tabel 2.2 Peringkat Obligasi berdasarkan PEFINDO..………... 19
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu………... 31
Tabel 3.1 Proses seleksi sample penelitian………... 43
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif atas Variabel Penelitian..………... 52
Tabel 4.2 Hasil Uji Multikolinearitas .………. 56
Tabel 4.3 Menilai Kelayakan Model Regresi ……….……. 57
Tabel 4.4 Menilai Keseluruhan Model (overal model fit)..……….… 57
Tabel 4.5 Nilai Nagel Karke R2………..……….… 58
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Daftar Kode dan Nama Perusahaan
Lampiran 2. Tabulasi data penelitian tahun 2010-2013
Lampiran 3. Data Olah SPSS Statistics 21 Tahun 2010-2013
Lampiran 4. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Lampiran 5. Hasil Uji Multikolinieritas
Lampiran 5. Hasil Uji Kelayakan Model Regresi
Lampiran 6. Hasil Uji Keseluruhan Model Awal
Lampiran 7. Hasil Uji Keseluruhan Model Akhir
Lampiran 8. Hasil Uji Nilai Nagel Karke R2
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Obligasi adalah utang jangka panjang yang akan dibayar kembali pada saat jatuh
tempo dengan bunga yang tetap jika ada. Obligasi sering dipandang sebagai investasi
yang relatif aman, tetapi tidak tertutup kemungkinan investor mengalami kerugian
baik yang berasal dari faktor diluar kinerja perusahaan maupun faktor internal
perusahaan, misalnya risiko dana jatuh tempo tidak terbayar tepat waktu
(Brigham,Gapenski, dan Daves., 1999).
Fenomena di Indonesia terjadi beberapa emiten yang mengalami gagal bayar (default)
kebetulan memiliki peringkat layak investasi (investment-grade). Tahun 2009,
obligasi gagal bayar (default risk) terjadi pada perusahaan yang cukup populer bagi
masyarakat. PT. Mobile-8 Telecom Tbk. yang menerbitkan Bond I Year 2007, telah
gagal bayar 2 kali untuk kupon 15 Maret 2009 dan 15 Juni 2009 dengan obligasi
senilai Rp 675 Miliar yang jatuh tempo Maret 2012 (Kompas, 9 Februari 2010). Per
Juni 2008 dan 2009, peringkat obligasi PT. Mobile-8 Telecom Tbk. pada Indonesia
Bond Market Directory adalah idBBB+. Per Juni 2010, peringkatnya diturunkan menjadi idD.
Selanjutnya ada Davomas International Finance Company Pte. Ltd., anak usaha
2
Mei 2009 sebesar 13,09 juta dolar yang jatuh tempo 2011 sebesar 238 juta dolar. Ada
lagi obligasi Blue Ocean Resources Pte. Ltd., anak usaha PT. Central Proteinprima
Tbk.-produsen dan pengolah udang terbesar di Indonesia, gagal membayar kupon
bunga periode 28 Desember 2009 sebesar 17,9 juta dolar yang jatuh tempo tanggal 28
Juni 2012 senilai 325 juta dolar. Pemeringkat Fitch Rating menurunkan obligasinya
dari CC menjadi C, akibat anjloknya keuangan tahun 2009. Alasannya ditengarai
karena serangan virus, krisis finansial global, tuduhan transhipmen, dan alasan lain.
Kisruh di PT. Central Proteinprima Tbk. juga menyangkut gagal bayar obligasi
tukar berjaminan (secure convertible) Red Dragon, salah satu pemegang saham PT.
Central Proteinprima Tbk., senilai 200 juta dolar yang terbit pada Juni 2007 dengan
wali amanat The Bank of New York Mellon.
Menurut Chan dan Jagadeesh (1999), salah satu alasan mengapa peringkat obligasi
yang dikeluarkan oleh agen pemeringkat tersebut bias karena agen pemeringkat tidak
melakukan monitor terhadap kinerja perusahaan setiap hari. Agen pemeringkat hanya
dapat menilai setelah terjadinya suatu peristiwa yang menyebabkan. perubahan
peringkat sehingga menyebabkan para pelaku pasar lebih memperhatikan informasi
yang dimiliki perusahaan secara langsung sebagai dasar keputusan investasi obligasi.
Obligasi-obligasi sebelum ditawarkan, harus diperingkat oleh suatu lembaga atau
agen pemeringkat obligasi (Rating Agency) yang menerbitkan peringkat obligasi.
Peringkat obligasi menyatakan skala risiko atau tingkat keamanan suatu obligasi yang
diterbitkan. Peringkat obligasi merupakan sarana pengawasan aktivitas manajemen
3
yang akan melakukan pencatatan efek bersifat utang di bursa wajib memenuhi salah
satu ketentuan yaitu: hasil pemeringkatan efek dari lembaga pemeringkat efek yang
terdaftar di BAPEPAM sekurang-kurangnya BBB- (investment grade).
Menurut Winardi. (2013) Saat ini terdapat dua lembaga pemeringkat yang diakui oleh
Bursa Efek Indonesia, yaitu PT PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia) dan PT
Fitch Ratings Indonesia. Dari kedua lembaga pemeringkat tersebut, PT PEFINDO
merupakan lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat obligasi terbanyak.
Sehingga penelitian ini menggunakan peringkat obligasi yang dikeluarkan oleh PT
PEFINDO.
Analisis laporan keuangan yang berupa analisis rasio keuangan dan perhitungan
statistik dapat dipergunakan untuk mendeteksi under or overvalued suatu sekuritas
(Kaplan dan Urwitz, 1979). Penelitian terhadap rasio keuangan di Indonesia banyak
dihubungkan dengan harga saham ataupun kinerja perusahaan. Sejumlah penelitian
yang meneliti peringkat obligasi di Indonesia masih relatif jarang dilakukan. Hal ini
disebabkan karena adanya keterbatasan data obligasi serta pengetahuan para investor
terhadap obligasi. Wansley et al. (1992) menyatakan pula bahwa sebagian besar
perdagangan obligasi dilakukan melalui pasar negosiasi (over the counter market)
dan secara historis tidak terdapat informasi harga yang tersedia pada saat penerbitan
atau saat penjualan.
Pemilihan variabel-variabel yang diduga dapat mempengaruhi peringkat obligasi
4
Nurhasanah (2003) menghasilkan variabel yang signifikan secara statistik dengan
menggunakan MDA ( Multiple Discriminant Analysis ) adalah profitabilitas,
leverage, likuiditas, solvensi, produktivitas sedangkan dengan regresi logistik hanya rasio leverage dan solvensi yang signifikan. Adrian (2011) yang menyimpulkan
bahwa profitabilitas tidak berpengaruh pada peringkat obligasi dan penelitian
Manurung, dkk. (2008) yang menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh positif
pada peringkat obligasi. Variabel lainnya dalam penelitian Yasa (2007), Adrian
(2011) dan Manurung, dkk. (2008) menyimpulkan bahwa likuiditas berpengaruh
positif pada peringkat obligasi, sedangkan leverage tidak berpengaruh pada peringkat
obligasi.
Penelitian ini menggunakan faktor keuangan dan faktor non keuangan untuk
mengukur apakah faktor-faktor ini berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi
diantaranya adalah faktor keuangan yang terdiri dari ( ukuran perusahaan (size),
profitabilitas, likuiditas, dan leverage) sedangkan faktor non-keuangan terdiri dari
(jaminan (secure) dan reputasi auditor).
Menurut Elton (1995), size (ukuran perusahaan) juga dapat mempengaruhi prediksi
peringkat obligasi. Pada penelitian yang dilakukan oleh
5
perusahaan kecil memiliki risiko yang lebih besar. Perusahaan-perusahaan yang
mempunyai aset lebih besar cenderung memiliki kemampuan bersaing yang lebih
baik dibandingkan dengan perusahaan- perusahaan yang memiliki aset kecil.
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya
dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Menurut Kamstra et al.,
(2001), rasio profitabilitas yang diukur dengan return on assets (ROA) mempunyai
pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan laba karena rasio ini mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset
tertentu. Ketika laba perusahaan tinggi maka akan memberikan peringkat obligasi
yang tinggi pula.
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban finansial
jangka pendek tepat pada waktunya. Burton et al. (1998) menyatakan bahwa tingkat
likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan
sehingga secara finansial akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.
Leverage merupakan rasio keuangan yang menunjukkan proporsi penggunaan utang untuk membiayai investasi terhadap modal yang dimiliki. Rasio ini digunakan untuk
mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan utang dalam membiayai
investasinya. Perusahaan yang tidak mempunyai leverage berarti menggunakan
modal sendiri 100% (Wisnu, 37 : 2012 ). Semakin tinggi rasio ini berarti sebagian
besar aset didanai dari hutang. Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan dihadapkan
6
Jaminan adalah Tingkat risiko yang terkandung dalam sebuah obligasi salah satunya
dipengaruhi oleh jaminan. Brister et al. (1994) menyatakan bahwa investor akan
menyukai obligasi yang dijamin dibanding obligasi yang tidak dijamin. Sedangkan
Dominick (2002) dalam Widya (2005) menyatakan bahwa semakin tinggi aset yang dijaminkan untuk obligasi maka peringkatpun akan membaik sehingga obligasi
tersebut aman untuk diinvestasikan.
Argumentasi yang mendasari dimasukkannya Reputasi Auditor adalah semakin tinggi
reputasi auditor maka akan memberikan hasil audit yang dapat dipercaya sehingga
kecil kemungkinan perusahaan mengalami kegagalan (Sejati, 2010). Menurut
Nuryaman (2008) dalam Prasetiyo (2010) peran auditor eksternal yaitu memberikan
penilaian secara independen dan profesional atas keandalan dan kewajaran penyajian
laporan keuangan perusahaan.
Berdasarkan latar belakang diatas, Peringkat Obligasi sangat penting bagi para
investor. Dimana dari penelitian terdahulu terdapat hasil penelitian yang belum
konklusif. Maka, judul penitian ini adalah ”pengaruh faktor keuangan dan
non-keuangan terhadap peringkat obligasi pada perusahaan non-non-keuangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2013”
Menurut Pertiwi (2013) Peneliti memilih sektor non-keuangan karena merupakan
sektor yang paling dominan di Indonesia dan paling banyak terdaftar di Bursa Efek
7
perusahaan sektor non-keuangan lebih berpotensi gagal bayar dibandingkan
perusahaan-perusahaan sektor keuangan.
1.2Rumusan Masalah
Pada saat investor ingin membeli obligasi memerlukan informasi keuangan dari
lembaga pemeringkat obligasi. Hal tersebut menjadi dasar pertimbangan apakah
obligasi perusahaan tersebut dikategorikan baik atau tidak. Namun ada beberapa
emiten yang mengalami gagal bayar meskipun peringkat obligasinya dikatakan baik
oleh lembaga pemeringkat obligasi. Untuk mengetahui peringkat obligasi seuatu
.perusahaan memerlukan pengukuran dari faktor keuangan dan non-keuangan.
Berdasarkan pada hal tersebut, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah :
1. Apakah Ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif signifikan terhadap
peringkat obligasi.
2. Apakah Profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat
obligasi.
3. Apakah Likuiditas berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat obligasi.
4. Apakah leverage berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat obligasi.
5. Apakah jaminan (secure) berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat
obligasi.
6. Apakah Reputasi Auditor berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat
8
1.3Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Menguji pengaruh faktor keuangan Ukuran perusahaan (size) berpengaruh
positif signifikan dalam memprediksi peringkat obligasi yang terdaftar di
BEI.
2. Menguji pengaruh faktor keuangan Profitabiltas berpengaruh positif
signifikan dalam memprediksi peringkat obligasi yang terdaftar di BEI.
3. Menguji pengaruh faktor keuangan Likuiditas berpengaruh positif signifikan
dalam memprediksi peringkat obligasi yang terdaftar di BEI.
4. Menguji pengaruh faktor keuangan Leverage berpengaruh positif signifikan
dalam memprediksi peringkat obligasi yang terdaftar di BEI.
5. Menguji pengaruh faktor non-keuangan jaminan (secure) berpengaruh positif
signifikan dalam memprediksi peringkat obligasi yang terdaftar di BEI.
6. Menguji pengaruh faktor non-keuangan reputasi auditor berpengaruh positif
signifikan dalam memprediksi peringkat obligasi yang terdaftar di BEI.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah
1. Bagi akademisi, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk
9
non-keuangan terhadap peringkat obligasi pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesian Tahun 2010-2013.
2. Bagi investor, untuk mengetahui peringkat Obligasi pada perusahaan
nonkeuangan yang terdaftar di BEI
3. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat untuk menambah wawasan mengenai
kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan demi kelangsungan
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Jensen dan Meckling, 1976 yang menyatakan
bahwa teori keagenan merupakan teori ketidaksamaan kepentingan antara prinsipal
dan agen. Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak antara pemegang saham atau
pemilik serta manajemen atau manajer. Menurut teori ini, hubungan antara pemilik
dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan yang saling
bertentangan.
Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas saham
perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi
kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung
bertindak untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk memaksimumkan perusahaan.
Inilah yang nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency cost).
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan untuk
mengurangi konflik kepentingan, yaitu : a) meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen (insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih
(earning after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang, d)
11
Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua (Eisenhardt dan
Bourgeois,1989), yaitu positive agency research dan principal agent research. Positve agent research memfokuskan pada identifikasi situasi dimana agen dan prinsipal mempunyai tujuan yang bertentangan dan mekanisme pengendalian yang
terbatas hanya menjaga perilaku self serving agen. Secara ekslusif, kelompok ini
hanya memperhatikan konflik tujuan antara pemilik (stockholder) dengan manajer.
Sementara itu principal agent research memfokuskan pada kontrak optimal antara
perilaku dan hasilnya, secara garis besar penekanan pada hubungan principal dan
agent.
Dalam teori keagenan (agency theory), hubungan agensi muncul ketika satu orang
atau lebih (prinsipal) memperkerjakan orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa
dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agen
tersebut. Hubungan antara prinsipal dan agen dapat mengarah pada kondisi
ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information) karena agen berada pada
posisi yang memiliki informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan
dengan prinsipal. Dengan asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk
memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan informasi asimetri yang
dimilikinya akan mendorong agen untuk menyembunyikan beberapa informasi yang
tidak diketahui prinsipal. Dalam kondisi yang asimetri tersebut, agen dapat
mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan
12
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005), teori agensi adalah hubungan atau
kontrak antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap
individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga
menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.
2.1.2 Teori Pensinyalan
Teori pensiyalan menunjukkan adanya asimetri informasi antara manajemen
perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan informasi tertentu.
Teori ini menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai inisiatif dan dorongan untuk
memberikan informasi kepada pihak eksternal (Tearney et al, 2000).
Teori pensinyalan menjelaskan alasan perusahaan menyajikan informasi kepada
publik (Wolk et al., 2001:308). Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan,
informasi kebijakan perusahaan maupun informasi lain yang dilakukan secara
sukarela oleh manajemen perusahaan.
Menurut Jogiyanto (2000: 392), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu
pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan
investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan
pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar.
Menurut Sharpe (1997: 211) dan Ivana (2005:16), pengumuman informasi
akuntansi memberikan signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di
masa mendatang (good news) sehingga investor tertarik untuk melakukan
13
perubahan dalam volume perdagangan saham.
Teori pensinyalan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa manajemen perusahaan
sebagai pihak yang memberikan sinyal berupa laporan keuangan perusahaan dan
informasi non keuangan kepada lembaga pemeringkat. Lembaga pemeringkat
obligasi ini melakukan proses pemeringkatan sehingga dapat menerbitkan peringkat
obligasi bagi perusahaan penerbit obligasi ini. Peringkat obligasi ini memberikan
sinyal tentang probabilitas kegagalan pembayaran utang sebuah perusahaan.
2.1.3 Peringkat Obligasi.
Peringkat obligasi merupakan opini dari lembaga pemeringkat serta sumber
informatif bagi pemodal atas risiko obligasi yang diperdagangkan
(Berdasarkan Keputusan BAPEPAM dan Lembaga keuangan Ke151/BL/2009).
Informasi peringkat tersebut diharapkan dapat membantu investor dalam
mengambil keputusan investasi. Dengan demikian investor dapat melakukan
strategi apakah akan membeli obligasi atau tidak. Bagi emiten, peringkat bermanfaat
untuk mengetahui struktur obligasi dan mengetahui posisi kinerjanya dibanding
perusahaan lain (Raharjo, 2003). Jika perusahaan mendapatkan peringkat yang
baik, maka dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan meningkatkan
kepercayaan investor (Robert, 1997). Hal tersebut dikarenakan perusahaan memiliki
kemampuan untuk membayar obligasi dengan baik. Dengan demikian pemodal
yang berinvestasi pada obligasi perusahaan tersebut semakin banyak dan sumber
14
Berdasarkan Keputusan Ketua BAPEPAM dan Lembaga Keuangan Nomor:
135/BL/2006 Tentang “Pemeringkatan Atas Efek Bersifat Utang” menyatakan
bahwa emiten yang akan menerbitkan obligasi wajib memperoleh hasil
pemeringkatan obligasi. Hasil pemeringkatan tersebut diterbitkan oleh lembaga
pemeringkat yang telah mendapat izin usaha sebagai lembaga pemeringkat
dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Lembaga
pemeringkat memberikan peringkat obligasi setiap satu tahun sekali selama
obligasi tersebut belum lunas. Pemeringkatan antara perusahaan satu dan lainnya
tidak dilakukan serentak seluruh perusahaan melainkan secara terpisah sesuai
dengan perjanjian yang telah disepakati masing-masing perusahaan dengan
lembaga rating. Proses pemeringkatan obligasi dilakukan dengan menunjuk salah
satu lembaga pemeringkat. Setelah ada kesepakatan antara emiten dan lembaga
rating, pihak manajemen menyerahkan data yang dibutuhkan untuk proses
pemeringkatan. Kemudian survei dan wawancara akan dilakukan terhadap pihak
manajemen. Lama pengumpulan data dan analisis memakan waktu lebih dari 1
bulan (Raharjo, 2003).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis obligasi, yaitu (Raharjo,
2003):
1. Kinerja Industri
Mencakup persaingan industri, prospek dan pangsa pasar, ketersediaan bahan
baku, struktur industri, pengaruh kebijakan pemerintah, dan kebijakan
15
2. Kinerja Keuangan
Meliputi aspek kualitas aset, rasio profitabilitas, pengelolaan aset dan pasiva,
rasio kecukupan modal, tingkat pengelolaan utang, dan rasio kecukupan
pembayaran bunga.
3. Kinerja Non Keuangan
Terdiri dari aspek manajemen, reputasi perusahaan, serta perjanjian indenture
(meliputi sinking fund, debt test, dividend test, merger, dan sale of asset).
Selain itu untuk kelengkapan prosedur pemeringkatan, beberapa data yang
diperlukan antara lain:
1. Akte perusahaan atau izin perusahaan.
2. Laporan keuangan yang diaudit selama 5 tahun terakhir.
3. Proyeksi laporan keuangan untuk 3 tahun ke depan atau selama masa
penerbitan surat utang tersebut.
4. Info memo tentang proses penerbitan surat utang.
5. Informasi pihak ketiga (pemberi garansi atau bank garansi).
6. Daftar pemegang saham selama lima tahun terakhir.
7. Daftar riwayat hidup komisaris/manajemen perusahaan.
8. Struktur organisasi perusahaan dan keterangan detail tugas dan tanggung jawab.
9. Informasi tentang grup, afiliasi, dan holding dari perusahaan.
2.1.4 Proses Pemeringkatan Obligasi (PT PEFINDO)
PT PEFINDO didirikan di Jakarta pada tanggal 21 Desember 1993 atas ijin
16
13 Agustus 1994, PT PEFINDO memperoleh lisensi dari BAPEPAM
(No.39/PM-PI/1994) dan menjadi salah satu institusi pendukung di pasar modal
Indonesia. Lembaga ini berafiliasi dengan Standard & Poor’s, yang merupakan agen pemeringkat internasional. Jenis pemeringkatan dilakukan berdasarkan dua
jenis yaitu pemeringkatan terhadap perusahaan atau emiten (corporate rating) dan pemeringkatan terhadap produk efek yang akan dikeluarkan perusahaan
(securities rating). Tahapan pemeringkatan obligasi PT PEFINDO dapat dilihat pada Tabel 2.1 proses Rating berawal dari permintaan resmi dari perusahaan yang
membutuhkan rating. PEFINDO akan menjawab permintaan tersebut dengan
mengirimkan draft kontrak dan daftar persyaratan yang harus dipenuhi.
Persyaratan umum terdiri dari laporan keuangan yang diaudit 3-5 tahun,
pertanyaan rinci beberapa data operasional yang tercantum dalam kuesioner
standar PEFINDO, dan beberapa dokumen lainnya seperti prospektus, memo, dll.
Draft kontrak mengatur hak dan tanggung jawab kedua belah pihak, sedangkan
pertanyaan kuesioner tergantung dari sektor perusahaan.
Proses peringkat akan resmi dilakukan setelah PEFINDO menerima kontrak
yang ditandatangani dan semua persyaratan terpenuhi. Tugas peringkat tersebut
akan selesai dalam 30 hari kerja setelah kontrak resmi kedua pihak. PEFINDO
akan menetapkan tim analis yang biasanya terdiri dari 2 analis yang memiliki
keahlian sesuai dengan industri atau sektor perusahaan. Selama proses analisis,
analisis situs perusahaan diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
17
pencarian data dan informasi dari sumber-sumber lain yang terpercaya.
Setelah dilakukan analisis situs, tim analis akan mengatur “rapat
manajemen” dengan manajemen perusahaan dan beberapa orang penting yang
terkait untuk mendapatkan pandangan lebih baik tentang kebijakan dan rencana
strategis perusahaan. Untuk pertemuan ini tim analis akan disertai oleh satu atau
beberapa dewan direksi PEFINDO. Rapat manajemen dilakukan untuk
memperoleh penilaian kualitatif terutama tentang pengetahuan manajemen,
kompetensi, komitmen, dan kebijakan yang diberlakukan pada perusahaan.
Setelah proses analisis selesai, tim analis ditugaskan mengadakan “rapat komite
rating” untuk menyajikan dan mengusulkan hasil penilaian pada anggota komite rating yang terdiri dari dewan direksi PEFINDO dan sebagian besar analis.
Setiap anggota komite berhak untuk bertanya dan menentang tim analis sebelum
memberikan suara rating yang diusulkan. Peringkat akhir yang diberikan perusahaan berdasarkan mayoritas suara anggota komite.
Hasil peringkat akan diberitahukan tim analis kepada perusahaan (issuer). Peringkat
yang dihasilkan dalam bentuk laporan yang berisi alasan pemberian peringkat
(simbol). Simbol yang diberikan PEFINDO dapat dilihat pada Tabel 2 Peringkat
Obligasi. Perusahaan dapat menyatakan ketidaksetujuan hasil peringkat pada PEFINDO dengan memberikan sejumlah data atau informasi. Peringkat dapat
diubah jika perusahaan memberikan data tambahan yang mendukung. Berdasarkan
18
Tentang “Pemeringkatan Atas Efek Bersifat Utang” menyatakan data diserahkan
paling lambat 2 (dua) hari sejak adanya fakta baru. Namun tidak ada jaminan
bahwa dengan informasi baru akan mengubah keputusan komite rating sebelumnya.
Peringkat akan dipublikasikan atau tidak tergantung dari perjanjian
perusahaan dengan PEFINDO. Bagi perusahaan yang setuju, peringkat akan
dipublikasikan pada websitePEFINDO. Berdasarkan Keputusan Ketua BAPEPAM-LK Nomor: KEP-156/BL/2009 tentang “Publikasi oleh Perusahaan
Pemeringkat Efek” menyebutkan bahwa Publikasi tersebut wajib diselesaikan
paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah pemeringkatan berakhir.
Tabel 2.1 Proses Rating PEFINDO
Permintaan rating
Komite rating Pemberitahuan pada issuer
Penerbitan rating
Tidak
19
Sumber : PEFINDO (1996)
Seorang investor yang tertarik membeli obligasi sebaiknya memperhatikan peringkat
obligasi (credit rating). Menurut Kuljeet dan Rajinder (2011:1) peringkat obligasi
merupakan sebuah simbol indikator dari opini agen pemeringkat mengenai
kemampuan relatif dari penerbit surat utang untuk melaksanakan kewajiban sesuai
kontrak. Peringkat obligasi mengukur tingkat risiko kegagalan dari obligasi, yaitu
peluang terjadinya emiten tidak mampu membayar pokok hutang dan bunganya pada
saat jatuh tempo. Semakin tinggi peringkat maka semakin rendah tingkat risiko
kegagalan obligasi.
Berdasarkan definisi Peringkat PEFINDO adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Peringkat Obligasi Berdasarkan PEFINDO
Peringkat Keterangan
AAA Efek utang yang peringkatnya paling tinggi dan beresiko paling rendah yang didukung oleh
kemampuan obligor yang superior relatif dibanding
entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi
kewajiban jangka panjangnya sesuai dengan
perjanjian.
20
kemampuan obligor yang sangat kuat untuk
memenuhi kewajiban financial jangka panjangnya
sesuai dengan perjanjian, relatif dibanding dengan
entitas Indonesia lainnya. Dan tidak mudah
dipengaruhi oleh perubahan keadaan.
A Efek utang yang beresiko investasi rendah dan memiliki kemampuan dukungan obligor yang kuat
dibanding entitas Indonesia lainnya untuk
memenuhi kewajiban financialnya sesuai dengan
perjanjian namun cukup peka terhadap perubahan
yang merugikan.
BBB Efek utang yang beresiko investasi cukup rendah didukung oleh kemampuan obligor yang memadai,
relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk
memenuhi kewajiban financialnya sesuai dengan
perjanjian namun kemampuan tersebut dapat
diperlemah oleh perubahan keadaan bisnis dan
perekonomian yang merugikan.
BB Efek utang yang menunjukkan dukungan
kemampuan obligor yang agak lemah relatif
disbanding entitas Indonesia lainnya untuk
21
sesuai dengan perjanjian serta peka terhadap
keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak
menentu dan merugikan.
B Efek utang yang menunjukkan parameter
perlindungan yang sangat lemah. Walaupun obligor
masih memiliki kemampuan untuk memenuhi
kewajiban financial jangka panjangnya, namun
adanya perubahan keadaan bisnis dan
perekonomian yang merugikan akan memperburuk
kemampuan tersebut untuk memenuhi kewajiban
financialnya.
CCC Efek utang yang tidak mampu lagi memenuhi kewajiban financialnya serta hanya bergantung
kepada perbaikan keadaan eksternal.
D Efek utang yang macet atau emitennya sudah berhenti berusaha.
Sumber : (PEFINDO,1996)
2.1.5 Ukuran Perusahaan (size)
Ukuran perusahaan adalah rata–rata total penjualan bersih untuk tahun yang
bersangkutan sampai beberapa tahun. Dalam hal ini penjualan lebih besar daripada
22
pajak. Sebaliknya jika penjualan lebih kecil daripada biaya variabel dan biaya tetap
maka perusahaan akan menderita kerugian (Brigham dan Houston 2001).
Ukuran perusahaan merupakan proksi volatilitas operasional dan inventory
cotrolability yang seharusnya dalam skala ekonomis besarnya perusahaan
menunjukkan pencapaian operasi lancar dan pengendalian persediaan (Mukhlasin,
2002).
Sedangkan menurut Ferry dan Jones (dalam Sujianto, 2001), ukuran perusahaan
menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva,
jumlah penjualan, rata–rata total penjualan dan rata–rata total aktiva. Jadi, ukuran
perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki oleh perusahaan.
Keadaan yang dikehendaki oleh perusahaan adalah perolehan laba bersih sesudah
pajak karena bersifat menambah modal sendiri. Laba operasi ini dapat diperoleh jika
jumlah penjualan lebih besar daripada jumlah biaya variabel dan biaya tetap. Agar
laba bersih yang diperoleh memiliki jumlah yang dikehendaki maka pihak
manajemen akan melakukan perencanaan penjualan secara seksama, serta dilakukan
pengendalian yang tepat, guna mencapai jumlah penjualan yang dikehendaki.
Manfaat pengendalian manajemen adalah untuk menjamin bahwa organisasi telah
melaksanakan strategi usahanya dengan efektif dan efisien.
Menurut Riyanto (1995), suatu perusahaan yang besar yang sahamnya tersebar sangat
luas, setiap perluasan modal saham hanya akan mempunyai pengaruh yang kecil
23
dominan terhadap perusahaan bersangkutan. Sebaliknya, perusahaan yang kecil,
dimana sahamnya tersebar hanya di lingkungan kecil, penambahan jumlah saham
akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemungkinan hilangnya kontrol
pihak dominan terhadap perusahaan yang bersangkutan.
Dengan demikian, maka perusahaan yang besar akan lebih berani mengeluarkan
saham baru dalam memenuhi kebutuhan untuk membiayai pertumbuhan penjualan
dibandingkan dengan perusahaan yang kecil.
Francis (1986), Elton (1995) serta Fama dan French (1995) dalam Panjaitan, dkk (2004) berpendapat bahwa perusahaan yang mempunyai nilai skala kecil cenderung
kurang menguntungkan dibandingkan dengan perusahaan yang berskala besar.
Perusahaan kecil hanya memiliki faktor-faktor pendukung untuk memproduksi
barang dengan jumlah terbatas. Oleh karena itu, perusahaan yang berskala kecil
mempunyai risiko yang lebih besar daripada perusahaan besar. Perusahaan yang
mempunyai risiko yang besar biasanya menawarkan return yang besar untuk menarik
investor.
Miswanto dan Husnan (1999) dalam penelitiannya mengenai pengaruh ukuran
perusahaan pada risiko bisnis menemukan bahwa besar kecilnya perusahaan
mempengaruhi risiko bisnis. Dari penelitiannya diperoleh bukti empiris bahwa
perusahaan kecil memiliki risiko dan return yang lebih tinggi dibanding perusahaan
24
Selain itu McKeown et al. (1991) mengatakan bahwa perusahaan besar lebih banyak
menawarkan fee audit tinggi daripada yang ditawarkan oleh perusahaan kecil. Dalam
kaitannya mengenai kehilangan fee audit yang signifikan tersebut, menyebabkan
auditor mungkin menjadi ragu untuk mengeluarkan opini audit going concern pada
perusahaan besar.
Tetapi adal hal ini Mutcler et al. (1997) menyatakan bahwa dalam penelitian
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laporan audit pada perusahaan yang gulung tikar
terdapat bukti empiris bahwa ada hubungan negatif antara ukuran perusahaan dengan
penerimaan opini audit going concern.
2.1.6 Profitabilitas
Menurut Budianas (2013) Profitabilitas merupakan kemampuan yang dicapai oleh
perusahaan dalam satu periode tertentu. Dasar penilaian profitabilitas adalah laporan
keuangan yang terdiri dari laporan neraca dan rugi-laba perusahaan. Berdasarkan
kedua laporan keuangan tersebut akan dapat ditentukan hasil analisis sejumlah rasio
dan selanjutnya rasio ini digunakan untuk menilai beberapa aspek tertentu dari
operasi perusahaan.
Analisis profitabilitas bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba, baik dalam hubungannya dengan penjualan, assets, maupun modal
sendiri. Jadi hasil profitabilitas dapat dijadikan sebagai tolak ukur ataupun gambaran
tentang efektivitas kinerja manajemen ditinjau dari keuntungan yang diperoleh
25
seperti neraca, laporan rugi-laba dan cash flow dianalisis dengan menggunakan alat
analisis yang sesuai dengan kebutuhan analis. Alat analisis keuangan antara lain :
analisis sumber dan penggunaan dana, analisis perbandingan, analisis trend, analisis
Lavarege, analisis break even, analisis rasio keuangan dan lain-lain.
Rasio merupakan salah satu metode untuk menilai kondisi keuangan perusahaan
berdasarkan perhitungan-perhitungan rasio atas dasar analisis kuantitatif, yang
menunjukkan hubungan antara satu unsur dengan unsur yang lainnya dalam laporan
rugi-laba dan neraca. Di samping itu juga, dipergunakan rasio-rasio finansial
perusahaan yang memungkinkan untuk membandingkan rasio suatu perusahaan
dengan perusahaan lain yang sejenis atau dengan rasio rata-rata industri.
Rasio ini bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba. Menurut Suad dan Enny (1998 : 74), rasio profitabilitas yaitu, margin laba atas
penjualan, hasil pengembalian modal, dan hasil pengembalian modal sendiri.
Menurut Sartono (2002:120), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan
memperoleh laba dalam hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal
sendiri.
Sedangkan menurut Mamduh dan Halim (2000:83) rasio profitabilitas
adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan
(profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham tertentu. Investasi
dalam bentuk obligasi secara langsung sebenarnya tidak terpengaruh oleh
profitabilitas perusahaan, karena berapapun besarnya profit yang mampu dihasilkan
26
ditentukan. Akan tetapi para analis tetap tertarik terhadap profitabilitas perusahaan
karena profitabilitas mungkin merupakan satu-satunya indikator yang paling baik
mengenai kesehatan keuangan perusahaan (Tandelilin (1991:76)).
Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan menghasilkan laba dan juga untuk mengetahui efektifitas perusahaan
dalam mengelola sumber-sumber yang dimilikinya.
2.1.7 Likuiditas
Likuiditas perusahan, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar
kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya. Likuiditas perusahaan
ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah untuk diubah
menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang, persediaan. Dari aktiva lancar
tersebut, persediaan merupakan aktiva lancar yang paling kurang liquid dibanding
dengan yang lainnya. Semakin tinggi rasio likuditas ini berarti semakin besar
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek
(Sartono, 2005). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Carson dan Scott (1997) serta
Bouzoita dan Young (1998) dalam Purnomo (2005) menemukan adanya hubungan
antara likuiditas dengan cerdit rating. Semakin tinggi likuiditas perusahaan maka
semakin baik peringkat perusahaan tersebut. rasio likuiditas dapat dihitung dengan
menggunakan current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang
27
Menurut Mamduh dan Halim (2000:77), rasio likuiditas mengukur kemampuan
likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif
terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban perusahaan).
Analis keuangan dapat menggunakan beberapa rasio likuiditas untuk menilai apakah
perusahaan mempunyai kemampuan untuk membayar kewajiban-kewajibannya yang
segera jatuh tempo ( Tandelilin (1991:74)).
Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan
rasio lancar (current ratio). Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban
keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid
dan mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancarnya (Almalia, 2007).
2.1.8 Leverage
Rasio leverage atau rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya, berapa
besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio leverage digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya baik jangka pendek
maupun jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi (Kasmir, 2009:112). Menurut
28
1) Dengan memperoleh dana melalui utang, para pemegang saham dapat
mempertahankan kendali mereka atas perusahaan tersebut dengan sekaligus
membatasi investasi yang mereka berikan.
2) Kreditor akan melihat pada ekuitas, atau dana yang diperoleh sendiri, sebagai suatu
batasan keamanan, sehingga semakin tinggi proporsi dari jumlah modal yang
diberikan oleh pemegang saham, maka semakin kecil risiko yang harus dihadapi
kreditor.
3) Jika perusahaan mendapatkan hasil dari investasi yang didanai dengan dana hasil
pinjaman lebih besar daripada bunga yang dibayarkan, maka pengembalian dari
modal pemilik akan diperbesar, atau “diungkit” (leveraged). Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur leverage adalah dengan menggunakan debt to equity ratio.
Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas.
Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam
(kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang. Semakin besar
leverage perusahaan, semakin besar risiko kegagalan perusahaan. 2.1.9 Jaminan (secure)
Tingkat resiko yang terkandung dalam sebuah obligasi dipengaruhi oleh jaminan.
Berdasarkan obligasi tersebut, obligasi dibedakan atas obligasi yang dijamin dan
29
Menurut Widya (2005) debenture atau unsecured bond adalah suatu obligasi yang
tidak dijamin dengan kekayaan tertentu tetapi dengan kekayaan penerbitnya secara
umum. Sedangkan corporate bond mempunyai klaim umum atas asset bisnis dari
perusahaan, asset penjamin obligasi memegang prioritas klaim yang paling tinggi atas
aset spesifik dari penerbit. Apabila obligasi dijamin dengan asset yang bernilai tinggi,
maka rating pun akan membaik.
Sedangkan menurut Efraim (1997:26) juga mengatakan bahwa utang obligasi bisa
merupakan obligasi dengan jaminan atau obligasi tanpa jaminan. Obligasi dengan
jaminan yaitu obligasi yang harus disertai dengan jaminan aktiva tertentu, misalnya
mortage bond yang dijamin dengan bangunan atau aktiva lain atau collateral bond yang dijamin dengan surat-surat berharga milik perusahaan lain yang dimiliki. Jenis
obligasi tanpa jaminan adalah junk bond yaitu obligasi yang memiliki tingkat bunga
sebab memiliki tingkat resiko kredit yang besar.
Sedangkan Dominick (2002) dalam Widya (2005) menyatakan bahwa asset yang
dijaminkan untuk obligasi maka ratingpun akan membaik sehingga obligasi tersebut
aman untuk diinvestasikan. Berdasarkan jaminan, obligasi dikelompokkan menjadi
obligasi yang dijamin dan obligasi yang tidak dijamin (debenture).
Menurut Brister et al. (1994) dalam Widya, (2005) menyatakan bahwa investor lebih
menyukai obligasi yang aman dibanding debenture. Investor lebih menyukai obligasi
30
2.2 Reputasi Auditor
Argumentasi yang mendasari dimasukkannya reputasi auditor adalah semakin tinggi
reputasi auditor maka semakin tinggi pula tingkat kepastian suatu perusahaan
sehingga semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami kegagalan.
Allen (1994) melakukan pengujian mengenai persepsi agen pemeringkat atas manfaat informasi akuntansi yang dinilai dengan pengujian hubungan antara informasi
akuntansi dan bond ratings. Dalam hal ini pengguna informasi keuangan merasa
bahwa auditor big 8 menyediakan kualitas audit yang lebih baik untuk perusahaan
dan pemerintah daerah (municipal). Analisis empiris mendukung hipotesis bahwa
audit big 8 berhubungan dengan kemampuan informasi akuntansi untuk memprediksi
secara akurat keputusan bond rating municipal. Hasilnya mengindikasikan bahwa
informasi akuntansi berhubungan dengan audit non big 8 yang tidak dapat untuk
memprediksi keputusan bond rating municipal lebih baik daripada random. Emiten
obligasi yang lemah namun dijamin oleh perusahaan yang kuat maka emiten diberi
rating yang kuat.
Allen (1994) menyatakan bahwa pengguna informasi keuangan merasa bahwa auditor big 8 menyediakan kualitas kredit yang lebih baik untuk perusahaan dan
pemerintah daerah. Dengan reputasi auditor yang baik maka akan memberikan hasil
audit yang dapat dipercaya. Sementara di Indonesia emiten yang diaudit oleh auditor
31
Menurut Nuryaman (2008) dalam Prasetiyo (2010) peran auditor eksternal yaitu
memberikan penilaian secara independen dan profesional atas keandalan dan
kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan. Auditor eksternal dapat menjadi
mekanisme pengendalian terhadap manajemen agar dapat menyajikan informasi
keuangan secara andal dan terbebas dari praktek kecurangan akuntansi.
Velury (2003) dalam Susilowati dan Sumarto (2010) menyatakan dari semua perusahaan yang menerbitkan obligasi, hampir semuanya diaudit oleh KAP big 4,
sehingga laporan keuangan yang diaudit oleh KAP big 4 lebih berkualitas. Dengan
begitu investor dapat mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban-kewajibannya. yang berdampak pada obligasi yang aman untuk
diinvestasikan sehingga peringkat obligasi perusahaan dapat meningkat.
2.3 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Hasil Penelitian
1 Almilia dan devi
(2007)
Penelitian ini menemukan bahwa pada teknik
analisis data menggunakan analisisi regresi logistik.
Variabel yang secara statistik signifikan dalam
model ini dan merupakan variabel yang paling
dominan untuk memprediksi peringkat obligasi
perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta
adalah variabel Likuiditas berpengaruh negatif yang
32
2 Magreta dan
Nurmayanti (2009)
Penelitian ini menemukan bahwa profitabilitas
berpengaruh positif signifikan dan jaminan (scure)
yang berpengaruh negatif signifikan dalam
menentukan peringkat obligasi.
3 Susilowati dan
Sumarto (2010)
Dari hasil penelitian Likuiditas berpengaruh positif
signifikan terhadap peringkat obligasi.
4 Adrian (2011) Penelitian ini menghasilkan bahwa likuiditas dan
umur obligasi berpengaruh positif terhadap
peringkat obligasi pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di perusahaan BEI.
5 Yuliana dkk. (2011) Peneliti menemukan bahwa profitability
berpengaruh positif signifikan sedangkan size,
Jaminan (scure), Reputasi Auditor secara
bersama-sama berpengaruh negative signifikan terhadap
prediksi peringkat obligasi pada perusahaan
keuangan yang terdaftar di BEI.
6 Sari dkk. (2011) Hasil penelitian menemukan bahwa ukuran
perusahaan (size), jaminan (secure) dan reputasi
auditor berpengaruh positif sedangkan likuiditas
berpengaruh negative terhadap peringkat obligasi di
33
7 Pertiwi (2013) Hasil penelitin ini menemukan bahwa leverage
jaminan (secure) berpengaruh positif signifikan
terhadap peringkat obligasi di Bursa Efek Indonesia
(BEI).
8 Winardi (2013) Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa ukuran
perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap
prediksi peringkat obligasi sedangkan reputasi
auditor berpengaruh negatif signifikan terhadap
prediksi peringkat obligasi.
9 Nurhidayati (2013) Penelitian ni menemukan bahwa likuiditas dan
reputasi auditor berpengaruh positif terhadap
peringkat obligasi sedangkan ukuran perusahaan
(size) berpengaruh negative terhadap peringkat obligasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI).
10 Septyawanti (2013) Hasil penelitian menemukan bahwa profitabilitas
dan leverage berpengaruh negatif terhadap
34
2.4 Model Penelitian
2.5 Pengembangan Hipotesis
2.5.1 Pengaruh Size Perusahaan terhadap Peringkat Obligasi
Menurut Elton (1995) perusahaan-perusahaan besar kurang beresiko dibandingkan
perusahaan-perusahaan kecil karena perusahaan kecil memiliki resiko yang lebih
besar. Apabila semakin besar perusahaan, potensi mendiversifikasikan resiko non
systematic-nya juga semakin besar sehingga membuat resiko obligasi perusahaan
tersebut menurun.
Ogden (1987) dalam Widya (2005) berpendapat bahwa karena total utang dan ukuran perusahaan mempunyai korelasi yang kuat dan positif, ukuran perusahaan juga bisa
digunakan sebagai proksi untuk mengukur likuiditas. Pada umumnya perusahaan
yang besar akan memberikan peringkat yang baik (investment grade) Disamping itu, Keuangan:
1. Size
2. Profitabilitas 3. Likuiditas
4. leverage PERINGKAT OBLIGASI
dan Nonkeuangan :
1. jaminan
35
ukuran perusahaan juga bisa mempunyai korelasi terhadap tingkat resiko
kebangkrutan atau kegagalan sehingga dapat mempengaruhi rating obligasi.
Menurut Nurhidayati (2013) perusahaan dengan aset yang besar sebagian besar
berasal dari hutang sehingga kondisi demikian akan memberatkan perusahaan dengan
meningkatnya beban pembiayaan perusahaan terhadap hutang tersebut. Hal ini akan
menurunkan rating obligasi perusahaan.
Berdasarkan analisis dan temuan penelitian diatas, maka hipotesis penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:
H1 : Ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat
obligasi perusahaan
2.5.2 Pengaruh Profitabilitas Perusahaan terhadap Peringkat Obligasi
Menurut Sartono (2002:120), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan
memperoleh laba dalam hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal
sendiri.
Menurut Bouzoita & Young (1998) menyatakan semakin tinggi tingkat profitabilitas
perusahaan maka semakin rendah risiko ketidakmampuan membayar (default)
semakin baik peringkat yang diberikan terhadap perusahaan tersebut. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Kie, Lina (2010), profitabilitas secara signifikan dapat
36
Menurut Putri (2010) pada hasil penelitiannya mengatakan bahwa profitabilitas tidak
mempengaruhi peringkat obligasi pada perusahaan secara signifikan.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah:
H2: Profitability berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat obligasi
perusahaan
2.5.3 Pengaruh Likuiditas Perusahaan terhadap Peringkat Obligasi
Pengaruh Likuiditas Perusahaan terhadap Peringkat Obligasi. Menurut Sartono
(2002:116), likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban
financial jangka pendek tepat pada waktunya.
Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan
rasio lancar (current ratio). Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban
keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid
dan mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancarnya (Almalia, 2007).
Burton et al (2000) menyatakan bahwa tingkat likuiditas yang tinggi akan
menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga secara financial akan
mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.
Maharti (2011) berdasarkan hasil penelitiannya mengatakan bahwa faktor keungan
tidak berpengaruh secara signifikan terdap peringkat obligaasi perusahaan
37
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah:
H3 : Likuiditas berpengaruh positif signifikan pada peringkat obligasi Perusahaan
2.5.4 Pengaruh Leverage terhadap Peringkat Obligasi
Rasio leverage menunjukkan proporsi penggunaan utang untuk membiayai investasi
terhadap modal yang dimiliki. Rendahnya nilai rasio leverage dapat diartikan bahwa
hanya sebagian kecil aktiva didanai dengan utang dan semakin kecil risiko kegagalan
perusahaan. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung memiliki
kemampuan yang rendah dalam memenuhi kewajibannya (yuliana dkk., 2011:6).
Dengan demikian, semakin rendah leverage perusahaan maka akan semakin tinggi
peringkat yang diberikan pada perusahaan. (Raharja & Sari, 2008) menyatakan bahwa
leverage berpengaruh negatif terhadap rating obligasi. Semakin rendah nilai rasio,
maka semakin kecil aktiva yang didanai dengan utang. Tingkat leverage yang tinggi
kurang baik karena tanggungan beban bunga utang. Apabila tingkat leverage yang
tinggi (extreme leverage) menyebabkan perusahaan tidak mampu melunasi seluruh
kewajibannya (termasuk obligasi), maka peringkat obligasi perusahaan menjadi
kurang baik.
Menurut Pertiwi (2013) mengatakan bahwa leverage berpengaruh secara signifikan
terhadap peringkat obligasi disuatu perusahaan. Dengan demikian, hasil temuan
38
bernilai positif yang berarti semakin besar DER berarti semakin baik peringkat
obligasi yang diperoleh.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah:
H4: Leverage berpengaruh negatif terhadap prediksi peringkat obligasi.
2.5.5 Pengaruh Jaminan (secure) terhadap Peringkat Obligasi
Tingkat resiko yang terkandung dalam sebuah obligasi dipengaruhi oleh jaminan.
Berdasarkan obligasi tersebut, obligasi dibedakan atas obligasi yang dijamin dan
tidak dijamin.
Menurut Widya (2005) debenture atau unsecured bond adalah suatu obligasi yang
tidak dijamin dengan kekayaan tertentu tetapi dengan kekayaan penerbit nya secara
umum. Sedangkan corporate bond mempunyai klaim umum atas asset bisnis dari
perusahaan, asset penjamin obligasi memegang prioritas klaim yang paling tinggi atas
aset spesifik dari penerbit. Apabila obligasi dijamin dengan asset yang bernilai tinggi,
maka ratingpun akan membaik.
Sedangkan Dominick (2002) dalam Widya (2005) menyatakan bahwa asset yang
dijaminkan untuk obligasi maka ratingpun akan membaik sehingga obligasi tersebut
aman untuk diinvestasikan. Berdasarkan jaminan, obligasi dikelompokkan menjadi
39
Menurut Brister et al. (1994) dalam Widya, (2005) menyatakan bahwa investor lebih
menyukai obligasi yang aman dibanding debenture. Investor lebih menyukai obligasi
dengan jaminan dikarenakan untuk mengurangi risiko default obligasi.
Menurut Almilia dan devi (2007) mengatakan bahwa jaminan (secure) tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap peringkat obligasi disuatu perusahaan perlu
ada proksi khusus untuk dapat mendapatkan hasil yang signifikan.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah:
H5 : Jaminan (secure) berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat obligasi
perusahaan
2.5.6 Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Peringkat Obligasi
Argumentasi yang mendasari dimasukkannya reputasi auditor adalah semakin tinggi
reputasi auditor maka semakin tinggi pula tingkat kepastian suatu perusahaan
sehingga semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami kegagalan.
Menurut Nuryaman (2008) dalam Prasetiyo (2010) peran auditor eksternal yaitu
memberikan penilaian secara independen dan profesional atas keandalan dan
kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan. Auditor eksternal dapat menjadi
mekanisme pengendalian terhadap manajemen agar dapat menyajikan informasi
keuangan secara andal dan terbebas dari praktek kecurangan akuntansi.
40
sehingga laporan keuangan yang diaudit oleh KAP big 4 lebih berkualitas. Dengan
begitu investor dapat mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban-kewajibannya. yang berdampak pada obligasi yang aman untuk
diinvestasikan sehingga peringkat obligasi perusahaan dapat meningkat.
Maharti (2011) mengatakan dalam hasil penelitian memaparkan bahwa reputasi
auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi perusahaan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H6 : Reputasi Auditor berpengaruh positif signifikan terhadap peringkat obligasi
41
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Teknik Pengumpulan Data
3.1.1 Jenis Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah
data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi berupa publikasi, data sudah
dikumpulkan oleh pihak instansi lain ( Supranto,1991). Data sekunder yang
digunakan berasal dari sumber eksternal, yaitu data laporan keuangan perusahaan.
3.1.2 Sumber Data
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari :
1. Laporan keuangan Perusahaan Non-keuangan pada IDX (Indonesia Stock
Exchanges) tahun 2010-2013
2. Indonesian Capital Market Directory (ICMD) pada IDX (Indonesia Stock Exchanges) tahun 2010-2013
3. Lembaga pemeringkat obligasi dari PT. PERINDO
3.1.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data-data yang diperlukan dikumpulkan dengan metode studi
pustaka dan dokumentasi. Studi pustaka dilakukan dengan literature, jurnal, maupun
media tertulis lain yang berkaitan dengan topik pembahasan dalam penelitian ini.
42
data dokumenter seperti laporan keuangan tahunan perusahaan yang menjadi sampel
penelitian.
3.1.4 Populasi dan Sampel
3.1.4.1 Populasi
Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai
karakteristik tertentu (Indriantoro dan Supomo, 1999: 115). Populasi dalam penelitian
ini adalah laporan keuangan dari sektor Non-keuangan yang terdaftar di BEI tahum
2010-2013.
3.1.4.2 Sampel
Adapun metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan (Judgement Sampling). Metode
ini menurut Indriantoro dan Supomo (1999:131) merupakan bagian dari pemilihan
sampel bertujuan (purposive sampling) yang bagian dari metode pemilihan sampel
nonprobabilitas. Adapun pertimbangan peneliti dalam menentukan sampel adalah
sebagai berikut:
1. Jumlah perusahaan non-keuangan yang tedaftar di BEI dan menerbitkan
obligasi diPefindo th 2010-2013
2. Menyediakan laporan tahunan lengkap selama tahun 2010-2013.
3. Perusahaan yang memiliki kelengkapan data mengenai Obligasi di Lembaga
43
Tabel 3.1 Proses seleksi sample penelitian
No. Kriteria Jumlah
1. Jumlah perusahaan non-keuangan yang tedaftar di BEI dan menerbitkan obligasi diPefindo th 2010-2013
135
2. Kelengkapan mengenai obligasi yang terdaftar diPefindo dari th 2010-2013
61
3. Annual report yang tercatat tidak aktif selama 4th berturut-turut th 2010-2013
( 5 )
Perusahaan yang dijadikan sample perusahaan 56 Sumber : data diolah
Dari kriteria diatas terdapat 56 perusahaan penerbit obligasi yang akan dijadikan
sample penelitian dari kurun waktu 2010-2013.
3.2 Pengukuran Variabel
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, dimana dalam
penelitian ini peneliti menggunakan angka-angka dalam menghitung proksi-proksi
variabel-variabelnya.
3.2.1 Variabel Dependen
Menurut Adrian (2011) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah peringkat
obligasi. Variabel ini dilihat berdasarkan peringkat yang dikeluarkan oleh PEFINDO
yang secara umum terbagi menjadi dua yaitu investment grade (AAA, AA, A,