MORFOMETRI KUMBANG PENYERBUK KELAPA SAWIT
(
Elaeidobius kamerunicus
Faust)
EGA BAYU LESMANA
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Morfometri Kumbang Penyerbuk Kelapa Sawit (Elaeidobius kamerunicus Faust) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
EGA BAYU LESMANA. Morfometri Kumbang Penyerbuk Kelapa Sawit (Elaeidobius kamerunicus Faust). Dibimbing oleh TRI ATMOWIDI dan BERRY JULIANDI.
Penyerbukan alami kelapa sawit terjadi dengan bantuan angin atau kumbang. Kumbang yang efektif untuk penyerbukan kelapa sawit adalah Elaeidobius kamerunicus Faust. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis morfometri kumbang E. kamerunicus sebagai penyerbuk kelapa sawit dari beberapa daerah di Jawa Barat dan Banten. Pengambilan sampel kumbang dilakukan di empat lokasi, yaitu Rangkasbitung, Sukabumi, Jasinga, dan Cianjur. Di setiap lokasi dikoleksi 200 individu kumbang dengan jumlah jantan dan betina masing-masing 100 individu. Pengukuran 11 karakter kumbang E. kamerunicus dilakukan dengan perangkat lunak Image Raster. Hasil pengukuran kumbang diuji dengan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada perangkat lunak R. Kumbang jantan dan betina E. kamerunicus memiliki variasi ukuran tubuh pada setiap lokasi. Kumbang jantan E. kamerunicus memiliki rata-rata panjang tubuh 3.443 mm (2.274-4.202 mm), lebar abdomen 1.385 mm (1.099-1.700 mm), dan tinggi abdomen 1.044 mm (0.798-1.328 mm). Kumbang betina E. kamerunicus memiliki panjang total tubuh 3.046 mm (2.008-3.825 mm), lebar abdomen 1.245 mm (1.026-1.482 mm), dan tinggi abdomen 0.956 mm (0.756-1.196 mm). Ukuran tubuh terpanjang ditemukan pada kumbang di daerah Cianjur, diikuti kumbang di Jasinga, Rangkasbitung, dan Sukabumi.
Kata kunci : Elaeidobius kamerunicus, kelapa sawit, morfometri, penyerbukan
ABSTRACT
EGA BAYU LESMANA. Morphometry of weevil pollinator of Oil Palm (Elaeidobius kamerunicus Faust). Supervised by TRI ATMOWIDI and BERRY JULIANDI.
Pollination of oil palm mediated by wind or weevil. E. kamerunicus is an effective pollinator of oil palm. The purpose of this research was to analyze the morphometry of E. kamerunicus as oil palm pollinators. Weevils samples were collected in four regions in West Java and Banten, i.e. Rangkasbitung, Sukabumi, Cianjur, and Jasinga. Two hundreds individual of weevil were collected in each location consisted of 100 males and 100 females. Measurement of body part of E. kamerunicus were conducted on 11 characters using Raster Image software. Body measurements were tested by ANOVA and post hoc test with Tukey using R software. Male and female weevils of E. kamerunicus have different body sizes in each location. Mean of total length of male weevils was 3,443 mm (2274-4202 mm), total body width was 1,385 mm (1099-1700 mm) and abdomen height was 1.044 mm (0.798-1.328 mm). Mean of total lenght of female weevil was 3,046 mm (2008-3825 mm), total body width was 1,245 mm (1026-1482 mm) and abdomen height was 0.956 mm (0.756-1.196 mm). Total body length of weevil was largest in Cianjur followed by weevils in Jasinga, Rangkasbitung, and Sukabumi.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
pada
Departemen Biologi
MORFOMETRI KUMBANG PENYERBUK KELAPA SAWIT
(
Elaeidobius kamerunicus
Faust)
EGA BAYU LESMANA
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Morfometri Kumbang Penyerbuk Kelapa Sawit (Elaeidobius kamerunicus Faust)
Nama : Ega Bayu Lesmana NIM : G34100085
Disetujui oleh
Dr Tri Atmowidi, MSi Pembimbing I
Dr Berry Juliandi, MSi Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Iman Rusmana, MSi Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini berjudul Morfometri Kumbang Penyerbuk Kelapa Sawit (Elaeidobius kamerunicus Faust). Penelitian dilaksanakan sejak bulan Desember 2013 sampai Maret 2014 di Jawa Barat yaitu Sukabumi, Cianjur, Jasinga dan Rangkasbitung, Banten dan bagian Biosistematika dan Ekologi Hewan Departemen Biologi, FMIPA IPB.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Tri Atmowidi, MSi dan Dr Berry Juliandi, MSi atas bimbingan, saran, dan ilmu yang bermanfaat selama melaksanakan penelitian dan penulisan karya ilmiah. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Triadiati MSi selaku penguji yang memberikan masukan untuk penyempurnaan skripsi. Terima kasih penulis ucapkan kepada Sarah Nila, Mira Nurseha, Syam Amirul Hakim, Rifai Ahmad, Mochamad Fadli, Wahyu Setiadi yang telah membantu selama pengumpulan data. Di samping itu, terima kasih penulis ucapkan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih dukungannya, serta kepada Riri Fitria yang telah memberikan kasih sayangnya, serta teman-teman Biologi angkatan 47 dan OWA 13 atas semangat, dan kebersamaannya.
Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan informasi yang berguna dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Bogor, September 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
METODE 2
Waktu dan Tempat 2
Metode Penelitian 2
Pengambilan dan Pengawetan Spesimen 2
Pengukuran Tubuh Elaeidobius kamerunicus 2
Analisis Data 3
HASIL 3
PEMBAHASAN 4
SIMPULAN 6
DAFTAR PUSTAKA 6
DAFTAR TABEL
1 Kondisi lingkungan di kebun kelapa sawit tempat koleksi Elaeidobius
kamerunicus 3
2 Ukuran tubuh kumbang E. kamerunicus jantan asal lokasi pengamatan 3 3 Ukuran tubih kumbang E. kamerunicus betina asal lokasi pengamatan 5
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil uji ANOVA pada kumbang betina E. kamerunicus asal lokasi
pengamatan 10
2 Hasil uji ANOVA pada kumbang jantan E. kamerunicus asal lokasi
pengamatan 12
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa sawit adalah tanaman monoecious, namun bunga jantan dan betina terpisah dalam satu tanaman. Anthesis bunga jantan dan betina terjadi pada waktu yang berbeda atau sangat jarang terjadi bersamaan (Hartley 1977). Pada dasarnya, semua ketiak daun pada tanaman kelapa sawit menghasilkan bakal karangan bunga, tetapi sebagian mengalami aborsi pada stadium dini, sehingga tidak semua ketiak daun menghasilkan bunga (Mangoensoekarjo dan Semangun 2005). Tingkat produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi jumlah tandan bunga jantan yang pada umumnya tergantung pada penyerbukan kumbang (Susanto et al. 2007). Penyerbukan alami pada kelapa sawit terjadi dengan bantuan angin, tetapi biasanya kurang efektif sehingga jumlah buah yang dihasilkan relatif lebih sedikit pada setiap tandannya. Oleh karena itu, untuk memperoleh tandan-tandan dengan jumlah buah yang optimal, penyerbukan dapat dibantu melalui penyerbukan bantuan (assisted pollination). Penyerbukan bantuan kurang efektif untuk lahan yang luas karena memiliki kendala, yaitu membutuhkan biaya dan tenaga yang sangat besar. Penyerbukan kelapa sawit paling efektif dilakukan oleh kumbang Elaeidobius kamerunicus yang bersifat spesifik dan beradaptasi baik pada musim basah maupun kering (Setyamidjaja 2006).
Kumbang penyerbuk kelapa sawit, E. kamerunicus termasuk dalam ordo Coleoptera, famili Curculionidae. Kumbang ini berukuran kecil (panjang ± 4 mm dan lebar ± 1.5 mm) dan berwarna coklat kehitaman (Syed et al. 1982). Hasibuan et al. (2002) melaporkan bahwa kumbang penyerbuk didatangkan dari Kamerun (Afrika) pada tahun 1983 dan dilepas pertama kali di kebun percobaan kelapa sawit Sungai Pancur, Sumatera Utara. Morfologi kumbang E. kamerunicus memiliki karakteristik yang berbeda antara jantan dan betina. Kumbang jantan memiliki tonjolan pada pangkal elytra dan terdapat banyak rambut pada elytra. Kumbang jantan memiliki moncong yang lebih pendek dibandingkan kumbang betina. Kumbang betina E. kamerunicus mempunyai panjang tubuh 2-3 mm, tidak memiliki tonjolan pada pangkal elytra, dan hanya memiliki sedikit rambut-rambut pada elytranya (Siregar 2010).
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah berkembang ke berbagai daerah, seperti Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sunarko 2007). Penelitian mengenai E. kamerunicus ini telah banyak dilakukan terutama tentang populasi, yaitu di Banten (Kurniawan 2010), Kalimantan (Mandiri 2010; Siregar 2010; Wibowo 2010; Windhi 2010), dan Jawa Barat (Harumi 2011, dan Yanti 2011). Studi demografi kumbang E. kamerunicus telah dilaporkan oleh Kurniawan (2010), Novelia (2010), dan Sholehana (2010).
2
dengan kemampuan adaptasi dan seleksi alam. Kemampuan adaptasi diduga berkaitan dengan ukuran tubuhnya.
Morfometri adalah pengukuran dan analisis bentuk tubuh yang secara luas dapat diterapkan untuk menjelaskan kehidupan serangga, seperti sejarah hidup, fisiologi, dan sistematika (Daly 1985). Keragaman morfometri pada serangga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran morfometri kumbang E. kamerunicus dari berbagai lokasi di Jawa Barat dan Banten
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menganalisis morfometri kumbang penyerbuk kelapa sawit (E. kamerunicus Faust) yang berasal dari kebun kelapa sawit di Banten dan Jawa Barat.
METODE
Waktu dan Tempat
Koleksi kumbang dilakukan di kebun kelapa sawit milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di empat lokasi di Jawa Barat dan Banten, yaitu Sukabumi, Cianjur, Jasinga, dan Rangkasbitung. Keempat lokasi tersebut memiliki topografi dan iklim yang berbeda. Koleksi kumbang dilakukan pada bulan Desember 2013 hingga Maret 2014. Identifikasi spesimen kumbang dilakukan di bagian Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, FMIPA, IPB.
Metode Penelitian
Pengambilan dan Pengawetan Spesimen. Spesimen kumbang E. kamerunicus diambil di bunga jantan. Sebanyak 200 individu E. kamerunicus masing-masing terdiri atas 100 individu betina dan 100 individu jantan dikoleksi dari masing-masing lokasi. Kumbang E. kamerunicus ditangkap menggunakan kantong plastik dan diawetkan secara basah dalam ethanol 70%. Selain itu, dilakukan juga pengukuran faktor lingkungan di tempat pengambilan kumbang, meliputi suhu udara, kelembapan udara, dan ketinggian lokasi.
Pengukuran tubuh E. kamerunicus. Spesimen kumbang E. kamerunicus diamati di bawah mikroskop stereo dan difoto menggunakan OpticLab. Sebanyak 11 karakter tubuh kumbang diukur, yaitu panjang moncong, panjang antena, panjang abdomen, tinggi abdomen, lebar abdomen, panjang toraks, tinggi toraks, lebar toraks, panjang elytra, lebar elytra dan panjang total tubuh dengan metode morfometrika tradisional menggunakan perangkat lunak Image Raster.
3
HASIL
Kebun kelapa sawit di daerah Rangkasbitung (81 m dpl) memiliki suhu udara 28.75oC dan kelembapan 83.4%, dengan kisaran suhu udara tahunan 23-32oC.
Daerah yang memiliki ketinggian tertinggi adalah daerah Cianjur (561 m dpl) memiliki suhu udara 30.33oC dan kisaran suhu udara pertahunan 23-32oC. Kelembapan relatif udara tertinggi (85.13%) berada di daerah Jasinga (213 m dpl), sedangkan daerah kelembapan relatif udara terendah (56.8%) di Sukabumi (521 m dpl) (Tabel 1).
Tabel 1 Kondisi lingkungan di kebun kelapa sawit tempat koleksi E. kamerunicus
Tempat Ketinggian
(m dpl)
Suhu udara (oC) Kelembapan (%)
Rataan Min-Max* Rataan Min-Max*
Rangkasbitung 81 28.75 23-32 83.4 55-94
Jasinga 213 26.3 22-32 85.13 55-95
Sukabumi 521 32.6 22-32 56.8 55-95
Cianjur 561 30.33 22-32 72.73 55-95
Keterangan : (*) data diambil dari BMKG setempat.
Kumbang jantan dan betina yang dikoleksi dari tiap lokasi memiliki variasi ukuran tubuh (Tabel 2 dan 3).
Tabel 2 Ukuran tubuh kumbang E. kamerunicus jantan asal lokasi pengamatan
Karakter Cianjur (mm) (561 mdpl)
Tinggi Abdomen 1.098c
(0.950-1.289)
Panjang Antena 0.989ab
(0.872-1.098)
Panjang Elytra 2.376c
(2.062-2.652)
4
Kumbang jantan dan betina di daerah Jasinga (213 m dpl), cenderung mempunyai tinggi abdomen, lebar abdomen, panjang antena, lebar elytra, panjang torak, tinggi torak, lebar torak paling besar, diikuti kumbang di daerah Cianjur (561 m dpl), Rangkasbitung (81 m dpl), dan Sukabumi (521 m dpl). Kumbang di daerah Sukabumi memiliki ukuran tubuh paling kecil dibandingkan tiga lokasi lainnya. Hasil uji Anova dan Tukey bagian-bagian tubuh kumbang dari empat lokasi tertera dalam lampiran 1-4.
Tabel 3 Ukuran tubuh kumbang E. kamerunicus betina asal lokasi pengamatan
Karakter Cianjur (mm) (561 mdpl)
Tinggi Abdomen 0.958b
(0.756-1.171)
Panjang Antena 1.094b
(1.689-2.107)
Panjang Elytra 1.902c
(1.689-2.107)
Keterangan : Huruf yang berbeda pada baris yang sama menyatakan berbeda nyata berdasarkan uji Tukey pada taraf uji = 5% (p<0.05)
PEMBAHASAN
5 kisaran suhu tersebut, E. kamerunicus dapat menggunakan energi dalam tubuhnya secara optimum untuk terbang dan mencari pakan. Suhu dapat mempengaruhi morfologi (Speight et al. 2008), pertumbuhan dan perkembangan, dan ukuran tubuh serangga (Atkinson 1994). Suhu rendah akan berpengaruh terhadap periode pertumbuhan, sedangkan suhu tinggi berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan serangga (Davidowitz dan Nijhout 2004). Kelembapan relatif udara di kebun kelapa sawit adalah 55.9-86.2%. Mandiri (2010) melaporkan bahwa populasi kumbang E. kamerunicus ditemukan tinggi pada kisaran 70-80%. Menurut Sastrodiharjo (1984) kelembapan udara memiliki dampak secara tidak langsung terhadap kehidupan populasi serangga.
Ukuran tubuh kumbang jantan E. kamerunicus cenderung lebih besar dibandingkan kumbang betina (Tabel 2). Kumbang jantan E. kamerunicus di daerah Cianjur mempunyai panjang moncong, tinggi abdomen, panjang total, panjang elytra, lebar elytra, panjang toraks yang tidak berbeda nyata dengan kumbang jantan dari daerah Jasinga, namun berbeda nyata dengan kumbang dari daerah Rangkasbitung dan Sukabumi. Karakteristik lainnya, yaitu panjang moncong, lebar abdomen, tinggi toraks dan lebar torak berbeda nyata antar lokasi. Ukuran tubuh kumbang jantan E. kamerunicus dari daerah Rangkasbitung dan Jasinga tidak berbeda (Tabel 2). Keragaman fenotip pada setiap individu ditentukan oleh adanya interaksi antara faktor genetik dan lingkungan (Zera 2004). Panjang moncong kumbang betina E. kamerunicus di daerah Jasinga tidak berbeda dengan Sukabumi. Panjang total tubuh kumbang betina E. kamerunicus di daerah Cianjur dan Jasinga tidak berbeda. Ukuran tubuh mempunyai korelasi yang kuat dengan morfologi dan ketahanan hidup (Blackenhorn 2000).
Perbedaan ukuran tubuh dari kumbang E. kamerunicus diduga berkaitan dengan sumber makanan. Makanan kumbang E. kamerunicus, yaitu serbuk sari dan nektar. Serbuk sari memiliki kandungan protein tinggi, yakni 16%-30%. Selain itu, serbuk sari juga mengandung 1%-10% lemak, 1%-7% pati, dan vitamin (Hartley 1977). Ketersediaan makanan pada bunga jantan akan membantu larva kumbang untuk tumbuh dewasa. Susanto et al. (2007) melaporkan larva E. kamerunicus terdiri atas tiga instar. Larva instar pertama berwarna putih kekuningan dan berada di sekitar tempat peletakan telur. Setelah 1-2 hari, terbentuk larva instar kedua yang kemudian pindah ke pangkal bunga jantan yang sama. Larva instar ketiga terjadi sekitar 5-9 hari. Larva instar ketiga berwarna kuning terang dan dapat memakan lima sampai enam bunga jantan. Larva juga memakan bagian dalam bunga jantan (Howard et al. 2001). Setelah larva instar ke tiga, kemudian memasuki fase pupa, dan kemudian menjadi imago. Imago tidak akan tumbuh lagi, sehingga ukuran imago ditentukan sepenuhnya oleh ukuran larva terakhir (Nijhout et al. 2010)
6
yaitu memfasilitasi penyebaran, memungkinkan serangga untuk bersembunyi dari predator, dan memungkinkan hewan untuk memanfaatkan bahan makanan yang tersedia dalam jumlah yang sedikit (Gillot 2005).Ukuran tubuh besar ini juga diduga memiliki kemampuan membawa polen lebih banyak dan efektif untuk melakukan penyerbukan kelapa sawit. Kumbang jantan E. kamerunicus memiliki kemampuan membawa sebanyak 3285 polen dan 74.18% diantaranya viabel untuk menyerbuki bunga betina (Nabilah 2011). Kumbang betina E. kamerunicus mampu membawa polen sebanyak 1567 polen dan 76.23% viabel untuk menyerbuki bunga betina (Agenginardi 2011). Menurut Syed et al. (1982) kumbang jantan membawa 985 polen dan kumbang betina membawa 446 polen dengan 60% viabel untuk menyerbuki bunga betina. Bagian tubuh yang membawa polen lebih banyak pada betina dan jantan terdapat pada elytra karena terdapat rambut-rambut halus dan permukaan yang luas yang mampu ditempeli oleh polen. Nabilah (2011) melaporkan bagian tubuh yang paling banyak membawa polen berada pada daerah elytra (1067 polen), kepala (495 polen), dan abdomen (296 polen) dan paling sedikit terdapat di antena (27 polen).
SIMPULAN
Kumbang jantan dan betina yang dikoleksi dari tiap lokasi dalam penelitian ini memiliki variasi ukuran tubuh. Kumbang jantan E. kamerunicus memiliki rataan panjang total tubuh 3.443 mm (2.274-4.202 mm), lebar abdomen 1.385 mm (1.099-1.700 mm) dan tinggi abdomen 1.044 mm (0.789-1.328 mm). Kumbang betina E. kamerunicus memiliki rataan panjang total tubuh 3.046 mm (2.008-3.825 mm), lebar 1.245 mm (1.026-1.482 mm) dan tinggi abdomen 0.956 mm (0.756-1.196 mm). Kumbang jantan di daerah Jasingan memiliki tujuh karakter ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan kumbang dari daerah Cianjur. Kumbang betina di daerah Jasinga mempunyai enam ukuran cenderung lebih besar daripada daerah Cianjur. Ukuran tubuh kumbang E. kamerunicus paling besar ditemukan pada lokasi Jasinga diikuti, Cianjur, Rangkasbitung, dan Sukabumi.
DAFTAR PUSTAKA
Agenginardi EB. 2011. Jumlah Polen Kelapa Sawit dan Viabilitasnya pada Tubuh Kumbang Betina Elaeidobius kamerunicus Faust. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor
Atkinson D. 1994. Temperature and organism size-a biological law for ectotherms?. Adv. Ecol. Res. 25:1–58
Blackenhorn WU. 2000. The evolution of body size: what keeps organisms small. The Quarterly Rev of Biol. 75(4):385-407
Chow SL, klok CJ. 2003. Altitudinal body size cline: latitudinal effect associated with changing seasionality. Ecography. 26(4): 445-455
7 Davidowitz G, Nihjout HF. 2004. The physiological basis of reaction norm: the interaction among growth rate, the duration of growth and body size. Integr. Comp. Biol. 44:443–449
Gillot C. 2005. Entomology edisi ke-3. Belanda (NL): Springer
Guitierrez AP. 1996. Applied Population Ecology: A Supply-Demand Approach. New York (US) : John Willey & Sons Inc.
Hartley CWS. 1977. The Oil Palm. London (GB): Longmans Group Ltd
Harumi ER. 2011. Populasi Kumbang Elaeidobius kamerunicus Faust pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di PTPN VIII Cimulang, Bogor. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Hasibuan R, Swibawa ID, Agus M, Pramono S. 2002. Dampak insektisida permetrin terhadap kumbang hama (Thosea sp.) dan kumbang penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus) kelapa sawit. Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 2: 42-46.
Howard FW, Abad RG, Moore D. 2001. Insect on Palms. New York (US): CABI Publishing
Kurniawan Y. 2010. Demografi populasi kumbang Elaidobius kamerunicus Faust (Coleoptera: Curculionidae) sebagai penyerbuk kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Mandiri TL. 2010. Populasi kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus Faust pada kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) umur enam tahun. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Mangoensoekarjo S, Semangun H. 2005. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada Univ Press.
Nabilah S. 2011. Jumlah Polen Kelapa Sawit dan Viabilitasnya pada Tubuh Kumbang Jantan Elaeidobius kamerunicus Faust. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Novalia M. 2010. Demografi dan perbanyakan kumbang Elaeidobiuskamerunicus sebagai penyerbuk kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sastrodiharjo. 1984. Pengantar Entomologi Terapan. Bandung (ID): ITB
Setyamidjaja D. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budi Daya, Panen, dan Pengolahan. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius.
Sholehana A. 2010. Demografi kumbang penyerbuk kelapa sawit, Elaeidobius kamerunicus (Coleoptera : Curculionidae) [Skripsi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sipayung A, Lubis AU. 1987. Dampak pelepasan Elaeidobius kamerunicus Faust di Indonesia dan Malaysia. Bull Pusat Penelitian Marihat. 7(2) :7-14 Siregar DS. 2010. Populasi kumbang Elaeidobius kamerunicus sebagai penyerbuk
kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) umur dua belas tahun. [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Speight MR, Hunter MD, Watt AD. 2008. Ecology of Insect : Concepts and Applications. London (GB): Blackwell Science
Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka.
8
Syed R, Law JH, Corley RHW. 1982. Insect pollination of oil palm: introduction, establisment and pollinating efficiency of Elaeidobious kamerunicus. Malaysia Planter. 58: 547-561.
Wahid MB, Kamarudin NHJ. 1997. Role effevtiveness of Elaidobius kamerunicus, Thrips hawaiiensis and Pyroderces sp. in pollination of mature oil palm in peninsular Malaysia. Elaeis. 9(1) :1-16
Wibowo ES. 2010. Dinamika populasi kumbang Elaeidobus kamerunicus (Curculionidae: Coleoptera) sebagai penyerbuk kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) umur enam tahun. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Windhi DV. 2010. Populasi kumbang Elaeidobius kamerunicus Faust. (Curculionidae :Coleoptera) pada bunga jantan tanaman kelapa sawit (Elaeisguineensis Jacq.). [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Yanti FA. 2010. Populasi kumbang Elaeidobius kamerunicus Faust pada tanaman
kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di PTPN VIII kebun Sukamaju, Cikidang, Sukabumi. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Young AM. 1982. Population Biology of Tropical Insect. New York (US): Plenum
Press.
9
10
Lampiran 1 Hasil uji ANOVA kumbang jantan E. kamerunicus asal lokasi pengamatan
Response : antenna
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 4.018 1.33947 2.8919 0.03523 *
Residual 396 183.422 0.46319 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : moncong
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 2.2856 0.76185 194.77 < 2.2e-16 ***
Residual 396 1.5490 0.00391 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : panjang abdomen
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 13.480 4.6133 156.72 < 2.2e-16 *** Residual 396 11.657 0.0294
Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : tinggi abdomen
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 3.1562 1.05208 245.46 < 2.2e-16 ***
Residual 396 1.6973 0.00429 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : lebar abdomen
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 9.518 3.1727 6.4276 0.0002943 ***
Residual 396 195.467 0.4936 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : panjang total
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 28.386 9.4621 140.86 < 2.2e-16 *** Residual 396 26.601 0.9672
11 Response : panjang elytra
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 13.4019 4.46731 239.22 < 2.2e-16 *** Residual 396 7.3952 0.0187
Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : tinggi toraks
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 1.9709 0.65695 29.745 < 2.2e-16 ***
Residual 396 8.7461 0.02209 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : lebar toraks
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 4.1530 1.38433 236.07 < 2.2e-16 ***
Residual 396 2.3222 0.00586 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : lebar elytra
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 1.943 0.64783 4.8879 0.002389 ***
Residual 396 52.485 0.13254 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : panjang toraks
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 1.7753 0.59175 162.9 < 2.2e-16 ***
12
Lampiran 2 Hasil uji ANOVA kumbang betina E. kamerunicus asal lokasi pengamatan
Response : antena
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 4.018 1.33947 2.8919 0.03523 *
Residual 396 183.422 0.46319 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : moncong
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 2.2856 0.76185 194.77 < 2.2e-16 ***
Residual 396 1.5490 0.00391 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : panjang abdomen
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 13.840 4.6133 156.72 < 2.2e-16 ** Residual 396 11.657 0.0294
Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : tinggi abdomen
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 3.1562 1.05208 245.46 < 2.2e-16 ***
Residual 396 1.6973 0.00429 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : lebar abdomen
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 9.518 3.1727 6.4276 0.0002934 ***
Residual 396 195.467 0.4936 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : pnjang total
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 28.386 9.4621 140.86 < 2.2e-16 ***
Residual 396 26.601 0.0672 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : panjang elytra
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 13.4019 4.4673 239.22 < 2.2e-16 ***
13
Response : lebar elytra
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 1.943 0.64783 4.8879 0.002389 **
Residual 396 52.485 0.13254 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : panjang toraks
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 1.7753 0.59175 162.93 < 2.2e-16 ***
Residual 396 1.4383 0.00363 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : tinggi toraks
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 1.9709 0.65695 29.745 < 2.2e-16 ***
Residual 396 8.7461 0.02209 Signif. codes: 0 ‘***’ 0.001 ‘**’ 0.01 ‘*’ 0.05 ‘.’ 0.1 ‘ ’ 1
Response : lebar toraks
Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr(>F) Signif code Lokasi 3 4.1530 1.38433 236.07 < 2.2e-16 ***
14
Lampiran 3 Hasil uji Tukey kumbang jantan E. kamerunicus pada taraf nyata 5% Response :
moncong
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.043177 -0.0659964 -0.0203576 9.1e-06
Rangkasbitung-Cianjur
-0.088398 -0.1112174 -0.0655786 0.0e+00
Sukabumi-Cianjur
-0.202804 -0.2256234 -0.1799846 0.0e+00
Rangkasbitung-Jasinga
-0.045221 -0.0680404 -0.0224016 3.0e-06
Sukabumi-Jasinga
-0.159627 -0.1824464 -0.1368076 0.0e+00
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.114406 -0.1372254 -0.0915866 0.0e+00
Response : panjang abdomen
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.019365 -0.08196532 0.04323532 0.8529196
Rangkasbitung-Cianjur
-0.195372 -0.25797232 -0.13277168 0.0000000
Sukabumi-Cianjur
-0.463538 -0.52613832 -0.40093768 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.176007 -0.23860732 -0.11340668 0.0000000
Sukabumi-Jasinga
-0.444173 -0.50677332 -0.38157268 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.268166 -0.33076632 -0.20556568 0.0000000
Response : lebar abdomen
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.119568 -0.3759094 0.136773395 0.6250394
Rangkasbitung-Cianjur
-0.261476 -0.5178174 -0.005134605 0.0436081
Sukabumi-Cianjur
-0.411998 -0.6683394 -0.155656605 0.0002409
Rangkasbitung-Jasinga
-0.141908 -0.3982494 0.114433395 0.4824288
Sukabumi-Jasinga
-0.292430 -0.5487714 -0.036088605 0.0180108
Sukabumi-Rangkasbitung
15 Response :
tinggi abdomen
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.046596 0.02270903 0.07048297 4.3e-06
Rangkasbitung-Cianjur
-0.074004 -0.09789097 -0.05011703 0.0e+00
Sukabumi-Cianjur
-0.188635 -0.21252197 -0.16474803 0.0e+00
Rangkasbitung-Jasinga
-0.120600 -0.14448697 -0.09671303 0.0e+00
Sukabumi-Jasinga
-0.235231 -0.25911797 -0.21134403 0.0e+00
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.114631 -0.13851797 -0.09074403 0.0e+00
Response : antena
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.219334 -0.02898403 0.467652034 0.1047227
Rangkasbitung-Cianjur
0.103992 -0.14432603 0.352310034 0.7016877
Sukabumi-Cianjur
-0.038780 -0.28709803 0.209538034 0.9778532
Rangkasbitung-Jasinga
-0.115342 -0.36366003 0.132976034 0.6282258
Sukabumi-Jasinga
-0.258114 -0.50643203 -0.009795966 0.0380886
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.142772 -0.39109003 0.105546034 0.4485174
Response : panjang total
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.037859 -0.132425 0.05670701 0.730243
Rangkasbitung-Cianjur
-0.256891 -0.351457 -0.16232499 0.000000
Sukabumi-Cianjur
-0.670260 -0.764826 -0.57569399 0.000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.219032 -0.313598 -0.12446599 0.000000
Sukabumi-Jasinga
-0.632401 -0.726967 -0.53783499 0.000000
Sukabumi-Rangkasbitung
16
Response : panjang elytra
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.000200 -0.05006074 0.04966074 0.9999996
Rangkasbitung-Cianjur
-0.183834 -0.23369474 -0.13397326 0.0000000
Sukabumi-Cianjur
-0.446942 -0.49680274 -0.39708126 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.183634 -0.23349474 -0.13377326 0.0000000
Sukabumi-Jasinga
-0.446742 -0.49660274 -0.39688126 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.263108 -0.31296874 -0.21324726 0.0000000
Response : lebar elytra
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.069895 -0.202726 0.062936002 0.5268284
Rangkasbitung-Cianjur
-0.097481 -0.230312 0.035350002 0.2325140
Sukabumi-Cianjur
-0.194285 -0.327116 -0.061453998 0.0010611
Rangkasbitung-Jasinga
-0.027586 -0.160417 0.105245002 0.9502727
Sukabumi-Jasinga
-0.124390 -0.257221 0.008441002 0.0757066
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.096804 -0.229635 0.036027002 0.2382040
Response : panjang toraks
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.017191 -0.0047977 0.0391797 0.1833968
Rangkasbitung-Cianjur
-0.044569 -0.0665577 -0.0225803 0.0000016
Sukabumi-Cianjur
-0.153904 -0.1758927 -0.1319153 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.061760 -0.0837487 -0.0397713 0.0000000
Sukabumi-Jasinga
-0.171095 -0.1930837 -0.1491063 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
17 Response :
tinggi toraks
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.004113 -0.05833676 0.050110755 0.9973417
Rangkasbitung-Cianjur
-0.049996 -0.10421976 0.004227755 0.0828409
Sukabumi-Cianjur
-0.173677 -0.22790076 -0.119453245 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.045883 -0.10010676 0.008340755 0.1297005
Sukabumi-Jasinga
-0.16956 -0.22378776 -0.115340245 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.123681 -0.17790476 -0.069457245 0.0000001
Response : lebar toraks
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.032635 0.004694564 0.06057544 0.0145507
Rangkasbitung-Cianjur
-0.075882 -0.103822436 -0.04794156 0.0000000
Sukabumi-Cianjur
-0.231457 -0.259397436 -0.20351656 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.108517 -0.136457436 -0.08057656 0.0000000
Sukabumi-Jasinga
-0.264092 -0.292032436 -0.23615156 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
18
Lampiran 4 Hasil uji Tukey kumbang betina E. kamerunicus pada taraf nyata 5% Response :
moncong
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.044891 -0.074725636 -0.01505636 0.0006987
Rangkasbitung-Cianjur
-0.008542 -0.038376636 0.02129264 0.8814268
Sukabumi-Cianjur
-0.055459 -0.085293636 -0.02562436 0.0000136
Rangkasbitung-Jasinga
0.036349 0.006514364 0.06618364 0.0096823
Sukabumi-Jasinga
-0.010568 -0.040402636 0.01926664 0.7974637
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.046917 -0.076751636 -0.01708236 0.0003476
Response : panjang abdomen
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.030806 -0.0891994 0.027587395 0.5245984
Rangkasbitung-Cianjur
-0.061272 -0.1196654 -0.002878605 0.0355262
Sukabumi-Cianjur
-0.078697 -0.1370904 -0.020303605 0.0031486
Rangkasbitung-Jasinga
-0.030466 -0.0888594 0.027927395 0.5341229
Sukabumi-Jasinga
-0.047891 -0.1062844 0.010502395 0.1497770
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.017425 -0.0758184 0.040968395 0.8680109
Response : tinggi abdomen
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.020593 -0.002217706 0.043403706 0.0932016
Rangkasbitung-Cianjur
0.004344 -0.018466706 0.027154706 0.9610047
Sukabumi-Cianjur
-0.030791 -0.053601706 -0.007980294 0.0030877
Rangkasbitung-Jasinga
-0.016249 -0.039059706 0.006561706 0.2571610
Sukabumi-Jasinga
-0.051384 -0.074194706 -0.028573294 0.0000001
Sukabumi-Rangkasbitung
19 Response :
lebar abdomen
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.003058 -0.02351241 2.962841e-02 0.9908867
Rangkasbitung-Cianjur
-0.023467 -0.05003741 3.103409e-03 0.1047710
Sukabumi-Cianjur
-0.085654 -0.11222441 -5.908359e-02 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.026525 -0.05309541 4.540884e-05 0.0505802
Sukabumi-Jasinga
-0.088712 -0.11528241 -6.214159e-02 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.062187 -0.08875741 -3.561659e-02 0.0000000
Response : antena
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.094151 -0.05733012 0.24563212 0.3777664
Rangkasbitung-Cianjur
-0.005186 -0.15666712 0.14629512 0.9997528
Sukabumi-Cianjur
-0.174926 -0.32640712 -0.02344488 0.0161520
Rangkasbitung-Jasinga
-0.099337 -0.25081812 0.05214412 0.3293067
Sukabumi-Jasinga
-0.269077 -0.42055812 -0.11759588 0.0000364
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.169740 -0.32122112 -0.01825888 0.0210371
Response : panjang total
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.0682307 -0.15011704 0.013655642 0.1394094
Rangkasbitung-Cianjur
-0.0845540 -0.16644034 -0.002667658 0.0399692
Sukabumi-Cianjur
-0.1848710 -0.26675734 -0.102984658 0.0000001
Rangkasbitung-Jasinga
-0.0163233 -0.09820964 0.065563042 0.9556558
Sukabumi-Jasinga
-0.1166403 -0.19852664 -0.034753958 0.0015376
Sukabumi-Rangkasbitung
20
Response : panjang elytra
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.032393 -0.22073439 0.155948386 0.9707959
Rangkasbitung-Cianjur
0.058386 -0.12995539 0.246727386 0.8544909
Sukabumi-Cianjur
-0.181279 -0.36962039 0.007062386 0.0640939
Rangkasbitung-Jasinga
0.090779 -0.09756239 0.279120386 0.5995080
Sukabumi-Jasinga
-0.148886 -0.33722739 0.039455386 0.1753313
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.239665 -0.42800639 -0.051323614 0.0061303
Response : lebar elytra
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur -0.042814 -0.06091404 -0.024713964 0.0000000
Rangkasbitung-Cianjur
-0.009675 -0.02777504 0.008425036 0.5132349
Sukabumi-Cianjur
-0.062134 -0.08023404 -0.044033964 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
0.033139 0.01503896 0.051239036 0.0000191
Sukabumi-Jasinga
-0.019320 -0.03742004 -0.001219964 0.0312012
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.052459 -0.07055904 -0.034358964 0.0000000
Response : panjang toraks
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.019447 -0.09995759 0.13885159 0.9750134
Rangkasbitung-Cianjur
0.019084 -0.10032059 0.13848859 0.9763292
Sukabumi-Cianjur
-0.019470 -0.13887459 0.09993459 0.9749285
Rangkasbitung-Jasinga
-0.000363 -0.11976759 0.11904159 0.9999998
Sukabumi-Jasinga
-0.038917 -0.15832159 0.08048759 0.8349125
Sukabumi-Rangkasbitung
21 Response :
tinggi toraks
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.034156 0.01131228 0.05699972 0.0000559
Rangkasbitung-Cianjur
0.009572 -0.01327172 0.03241572 0.5906427
Sukabumi-Cianjur
-0.046476 -0.06931972 -0.02363228 0.0000013
Rangkasbitung-Jasinga
-0.024584 -0.04742772 -0.00174028 0.0073210
Sukabumi-Jasinga
-0.080632 -0.10347572 -0.05778828 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
-0.056048 -0.07889172 -0.03320428 0.0000000
Response : lebar toraks
Lokasi diff lwr upr P adj
Jasinga-Cianjur 0.026740 0.0005434967 0.0529365 0.0433929
Rangkasbitung-Cianjur
0.020473 -0.0057235033 0.0466695 0.1836740
Sukabumi-Cianjur
-0.079447 -0.1056435033 -0.0532505 0.0000000
Rangkasbitung-Jasinga
-0.006267 -0.0324635033 0.0199295 0.9265651
Sukabumi-Jasinga
-0.106187 0.1323835033 -0.0799905 0.0000000
Sukabumi-Rangkasbitung
22
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lebak pada tanggal 6 April 1993. Penulis merupakan putra ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Bapak Suganda dan Ibu Herawati. Penulis lulus dari SMA Negeri 2 Rangkasbitung pada tahun 2010 dan melanjutkan pendidikan S1 di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB(USMI).
Semasa studi penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Ekologi Dasar tahun 2013/2014, Avertebrata dan Fisiologi Tumbuhan tahun 2014 serta asisten Praktek Lapangan 2014 di Gunung Walat. Penulis melaksanakan Studi Lapangan tahun 2012 di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan kawasan Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat dengan judul Diversitas Serangga di Kebun Raya Cibodas dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang dibimbing oleh Dr Tri Atmowidi, MSi. Penulis juga berperan aktif dalam anggota dan ketua climbing Observasi Wahana Alam Biologi. Berperan aktif dalam staf Himpunan Mahasiswa Biologi pada tahun 2011/2012 dan 2012/2013.