• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Efek Ekstrak Daun Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) Sebagai Penurun Kadar Kolesterol Darah Marmot Jantan (Cavia cobaya).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Uji Efek Ekstrak Daun Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) Sebagai Penurun Kadar Kolesterol Darah Marmot Jantan (Cavia cobaya)."

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

UJI EFEK EKSTRAK DAUN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack) SEBAGAI PENURUN

KADAR KOLESTEROL DARAH MARMOT JANTAN (Cavia cobaya)

SKRIPSI

Oleh : MARINA PANE

NIM 071524043

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

BAHAN SKRIPSI

UJI EFEK EKSTRAK DAUN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack) SEBAGAI PENURUN

KADAR KOLESTEROL DARAH MARMOT JANTAN (Cavia cobaya)

Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

Oleh : MARINA PANE

NIM 071524043

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Pengesahan Skripsi

UJI EFEK EKSTRAK DAUN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack) SEBAGAI PENURUN

KADAR KOLESTEROL DARAH MARMOT JANTAN (Cavia cobaya)

Oleh: MARINA PANE

NIM 071524043

Dipertahankan Di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal : Desember 2010

Pembimbing I, Panitia Penguji

(Drs. Awaluddin Saragih, MSi, Apt.)

NIP 19500822 197412 1002 (Drs. Rasmadin Mukhtar, MS., Apt.) NIP 19490910 198003 1002

(Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt.) NIP 19531030 198003 1002

Dekan Fakultas Farmasi

(Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.)

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia Nya sehingga penelitian dan penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

Terima kasih yang tulus dan tak terhingga penulis sampaikan kepada Ayahanda Maulana Pane dan Ibunda Murniaty, S yang tercinta serta kakanda Rahmadhani Pane dan Adinda Fadila Ahmad Pane atas segala doa, kasih sayang, dorongan moril dan materil kepada penulis selama masa perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Drs. Saiful Bahri, MS., Apt dan Bapak Drs. Awaluddin Saragih, MSi., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab selama melakukan penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas

Farmasi yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan.

2. Ibu Dra. Fat Aminah, MSc., Apt., sebagai dosen wali yang telah banyak membimbing penulis selama masa perkuliahan hingga selesai.

3. Bapak Drs. Panal Sitorus, MSi., Apt., selaku Kepala Laboratorium Farmakognosi yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian.

(5)

telah memberi masukan dan saran kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan.

6. Teman-teman mahasiswa/i Farmasi Ekstensi 07, Indah, Bang Diding, Baginda, Sri, Dewi, Winda, Surya, puji, Bang Bagus, Bang Dadang, Kak Nita, Kak Mery, dan Khomaidi Hambali Siambaton yang selalu memberikan bantuan, semangat dan perhatian selama ini sehingga penelitian dan penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.

Kiranya Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, Desember 2010

Penulis,

(6)

UJI EFEK EKSTRAK DAUN KEMUNING (Murraya pniculata (L.) Jack) SEBAGAI PENURUN

KADAR KOLESTEROL DARAH MARMOT JANTAN (Cavia cobaya)

ABSTRAK

Kadar kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab aterosklerosis. Pengobatan untuk penderita kolesterol tinggi dengan obat-obatan kimia harganya relatif mahal dan memiliki efek samping sehingga masyarakat sudah menggunakan obat tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi. Salah satunya adalah daun kemuning.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kemuning terhadap kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia dengan cara memberikan makanan induksi berupa kuning telur (dosis 1% bb) serta lemak kambing 15 g/100 g jumlah pakan yang diberikan selama 14 hari.

Pada penelitian dilakukan karakterisasi simplisia, ekstraksi serbuk simplisia dan uji efek penurun kadar kolesterol ekstrak daun kemuning (Murraya

paniculata (L.) Jack, suku Rutaceae) terhadap marmot yang dibuat

hiperkolesterolemia. Ekstrak daun kemuning diberikan secara oral dengan dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB. Simvastatin dosis 0,80 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi Na-CMC 0,5% sebagai pembanding negatif.

Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia daun kemuning diperoleh kadar air 5,65%, kadar abu total 5,92%, kadar abu tidak larut dalam asam 1,39%, kadar sari larut dalam air 27,07%, kadar sari larut dalam etanol 17,78%. Ekstraksi dilakukan secara perkolasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%.

Dari hasil pengujian statistik diperoleh bahwa pada pemberian ekstrak daun kemuning dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB memberikan penurunan kadar kolesterol yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi simvastatin 0,80 mg/kg BB.

(7)

THE EFFICACY TEST OF KEMUNING LEAF (Murraya paniculata (L.) Jack) EXTRACT

IN LOWERING THE BLOOD CHOLESTEROL LEVEL OF MALE GUINEA PIG (Cavia Cobaya)

ABSTRACT

Hypercholesterolemia is one of the main risk factor that causing atherosclerosis. The treatment for high cholesterol patients using chemical drugs is rather expensive nowadays and has various adverse effect, causing people to begin using traditional drugs to decrease high cholesterol level. One of these traditional drugs is kemuning leaf.

The objective of this research is to assess the effect of treatment with kemuning leaf extract against hypercholesterolemia-induced guinea pigs blood cholesterol level. The hypercholesterolemia was induced by giving inducing diets containing 15g goat fat/100 g of food and yolk (dose 1% BW), given for fourteen days.

In the research, simplex characterization, simplex powder extraction and the assessment of cholesterol decreasing effect of kemuning leaf (Murraya paniculata (L.) Jack, family Rutaceae) extract to hypercholesterolemia induced guinea pig were done. The kemuning leaf extract was given orally with the dosage of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, 400 mg/kg BW. Simvastatin with dosage of 0,80 mg/kg BW was used as positive control and Na-CMC suspension 0,5% was used as negative control.

The result of the simplex characterization showed water content of 9,13%, total ash content of 4,54%, acid insoluble ash content of 1,66 %, water soluble extract content of 17,17%, and ethanol soluble extract content of 11,71%. The extraction was done with percolation method using ethanol 96% as solvent.

From the result of the statistical test, it was found that in the administration of kemuning leaf extract with dosage of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, 400 mg/kg BW,all showed cholesterol lowering effect insignificantly different with the administration of simvastatin suspension dose 0,80 mg/kg BW.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ………. i

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 3

1.3 Perumusan Masalah ... 3

1.4 Hipotesis ... 4

1.5 Tujuan Penelitian ... 4

1.6 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Uraian Tumbuhan Kemuning ... 5

2.1.1 Sistematika Tumbuhan ... 5

2.1.2 Nama Lain ... 6

2.1.3 Morfologi Tumbuhan ... 6

(9)

2.1.5 Kandungan Kimia ... 7

2.2 Simplisia dan Ekstraksi ... 7

2.3 Metode Ekstraksi ... 8

2.4 Kolesterol ... 8

2.4.1 Jenis Kolesterol ... 11

2.4.2 Kolesterol dan Hubungannya Pada Beberapa Penyakit.. 14

2.5 Hiperlipidemia ... 16

2.6 Obat – obat Penurun Kolesterol ... 18

BAB III METODE PENELITIAN ... 20

3.1 Alat dan Bahan ... 20

3.1.1 Alat ... 20

3.1.2 Bahan ... 20

3.2 Penyiapan Sampel ... 21

3.2.1 Pengambilan Sampel ... 21

3.2.2 Identifikasi Sampel... 21

3.2.3 Pengolahan Sampel ... 21

3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia ... 22

3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik ... 22

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik ... 22

3.3.3 Penetapan Kadar Air ... 22

3.3.4 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air ... 23

3.3.5 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol ... 23

3.3.6 Penetapan Kadar Abu Total ... 24

(10)

3.4 Pembuatan Ekstrak Daun Kemuning ... 24

3.5 Penyiapan Hewan Percobaan ... 25

3.6 Percobaan Efek Penurun Kadar Kolesterol ... 25

3.6.1 Penyiapan Bahan ... 25

3.6.1.1 Pembuatan Suspensi CMC-Na 0,5% (b/v) ... 25

3.6.1.2 Pembuatan Suspensi Ekstrak Daun Kemuning ... ... 26

3.6.1.3 Pembuatan Suspensi Simvastatin ... 26

3.6.2 Penyiapan Hewan Uji yang Hiperkolesterolemia... 26

3.6.3 Pengujian Efek Penurun Kadar Kolesterol …..…... 27

3.6.3.1 Pemberian Suspensi Kontrol, Suspensi EDK dan Suspensi Simvastatin Pada Marmot Yang Hiperkolesterolemia ... 27

3.6.3.2 Pengambilan Darah ... 27

3.6.3.3 Penetapan Kadar Kolesterol Serum Darah Marmot. . 28

3.7 Analisis Data ... 28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 36

5.1 Kesimpulan ... 36

5.2 Saran .. ... 36

DAFTAR PUSTAKA ... 37

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Hasil Identifikasi Tumbuhan ………... 40

2. Gambar Tumbuhan Kemuning dan Simplisia Daun Kemuning …… 41

3. Bagan Penelitian Daun Kemuning ………. 42

4. Mikroskopik Serbuk Simplisia Daun Kemuning ………... 43

5. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia ……… 44

6. Hasil Penetapan Kadar Abu Serbuk Simplisia ……… 49

7. Bagan Alur Penyiapan Hewan Uji Hiperkolesterolemia ………. 50

8. Bagan Alur Pengujian Efek Penurun Kolesterol ... 51

9. Bagan Alur Pengambilan Darah Marmut ……… 52

10. Bagan alur pengukuran kadar kolesterol darah marmot ... 53

11. Contoh perhitungan dosis ... 54

12. Alat Pengukur Kadar Kolesterol Microlab 300 (E-Merk) …………. 56

13. Data Pengukuran Kadar Kolesterol Darah Marmot ………... 57

14. Hasil Perhitungan Deskriptif Kadar Kolesterol dengan SPSS ……... 58

15. Hasil Perhitungan ANOVA Kadar Kolesterol dengan SPSS ………. 59

16. Hasil Uji Duncan ... 60

17. Spesifikasi Alat Microlab 300 (E-Merk) ... 62

18. Pengoperasian Alat Microlab 300 (E-Merk) ... 65

19. Reagensia Kolesterol ... 67

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1.1. Diagram Kerangka Konsep Penelitian ... 3

2.1. Struktur Kolesterol ... 11

3.2. Tumbuhan Kemuning ... 41

3.3. Simplisia Daun Kemuning ... 41

3.4. Bagan Penelitian Daun Kemuning ... 42

3.5. Mikroskopik Serbuk Simplisia Daun Kemuning ... 43

3.6. Bagan Alur Penyiapan Hewan Uji Hiperkolesterolemia ... 50

3.7. Bagan Alur Pengujian Efek Penurun Kolesterol ... 51

3.8. Bagan Alur Pengambilan Darah Marmot ... 52

3.9. Bagan Alur Pengukuran Kadar Kolesterol Darah Marmot ... 53

3.1. Alat Mikrolab 300 ( E. Merck) ... 56

4.1. Grafik kadar kolesterol darah marmot (mg/dl) vs Waktu (Hari) pada berbagai perlakuan... 31

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.3. Konversi Perhitungan Dosis Antar Jenis Hewan ... 54

3.4. Hasil Perhitungan Deskriptif Kadar Kolesterol dengan SPSS ... 58

3.5. Hasil Perhitungan ANOVA Kadar Kolesterol dengan SPSS ... 59

3.6. Hasil Uji Duncan ... 60

4.1. Hasil Karakteristik Serbuk Simplisia ... 30

(14)

UJI EFEK EKSTRAK DAUN KEMUNING (Murraya pniculata (L.) Jack) SEBAGAI PENURUN

KADAR KOLESTEROL DARAH MARMOT JANTAN (Cavia cobaya)

ABSTRAK

Kadar kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab aterosklerosis. Pengobatan untuk penderita kolesterol tinggi dengan obat-obatan kimia harganya relatif mahal dan memiliki efek samping sehingga masyarakat sudah menggunakan obat tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi. Salah satunya adalah daun kemuning.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kemuning terhadap kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia dengan cara memberikan makanan induksi berupa kuning telur (dosis 1% bb) serta lemak kambing 15 g/100 g jumlah pakan yang diberikan selama 14 hari.

Pada penelitian dilakukan karakterisasi simplisia, ekstraksi serbuk simplisia dan uji efek penurun kadar kolesterol ekstrak daun kemuning (Murraya

paniculata (L.) Jack, suku Rutaceae) terhadap marmot yang dibuat

hiperkolesterolemia. Ekstrak daun kemuning diberikan secara oral dengan dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB. Simvastatin dosis 0,80 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi Na-CMC 0,5% sebagai pembanding negatif.

Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia daun kemuning diperoleh kadar air 5,65%, kadar abu total 5,92%, kadar abu tidak larut dalam asam 1,39%, kadar sari larut dalam air 27,07%, kadar sari larut dalam etanol 17,78%. Ekstraksi dilakukan secara perkolasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%.

Dari hasil pengujian statistik diperoleh bahwa pada pemberian ekstrak daun kemuning dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB memberikan penurunan kadar kolesterol yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi simvastatin 0,80 mg/kg BB.

(15)

THE EFFICACY TEST OF KEMUNING LEAF (Murraya paniculata (L.) Jack) EXTRACT

IN LOWERING THE BLOOD CHOLESTEROL LEVEL OF MALE GUINEA PIG (Cavia Cobaya)

ABSTRACT

Hypercholesterolemia is one of the main risk factor that causing atherosclerosis. The treatment for high cholesterol patients using chemical drugs is rather expensive nowadays and has various adverse effect, causing people to begin using traditional drugs to decrease high cholesterol level. One of these traditional drugs is kemuning leaf.

The objective of this research is to assess the effect of treatment with kemuning leaf extract against hypercholesterolemia-induced guinea pigs blood cholesterol level. The hypercholesterolemia was induced by giving inducing diets containing 15g goat fat/100 g of food and yolk (dose 1% BW), given for fourteen days.

In the research, simplex characterization, simplex powder extraction and the assessment of cholesterol decreasing effect of kemuning leaf (Murraya paniculata (L.) Jack, family Rutaceae) extract to hypercholesterolemia induced guinea pig were done. The kemuning leaf extract was given orally with the dosage of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, 400 mg/kg BW. Simvastatin with dosage of 0,80 mg/kg BW was used as positive control and Na-CMC suspension 0,5% was used as negative control.

The result of the simplex characterization showed water content of 9,13%, total ash content of 4,54%, acid insoluble ash content of 1,66 %, water soluble extract content of 17,17%, and ethanol soluble extract content of 11,71%. The extraction was done with percolation method using ethanol 96% as solvent.

From the result of the statistical test, it was found that in the administration of kemuning leaf extract with dosage of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, 400 mg/kg BW,all showed cholesterol lowering effect insignificantly different with the administration of simvastatin suspension dose 0,80 mg/kg BW.

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid lainnya di dalam tubuh, misal kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D. Kolesterol disintetis di dalam tubuh dari asetil-KoA membentuk mevalonat melalui sebuah jalur yang kompleks (Murray, 2002).

Kolesterol penting bagi metabolisme tubuh. Kebutuhan tubuh akan kolesterol dapat diperoleh dari sintetis yang dilakukan hati maupun dari asupan makanan. Tubuh membutuhkan kolesterol, kolesterol secara terus-menerus dibentuk atau disintesis di dalam hati. Sekitar 70% kolesterol dalam darah merupakan hasil sintesis dalam hati, sedangkan sisanya 30 % merupakan sumbangan dari konsumsi produk hewani seperti jeroan, otak, kuning telur, daging, hasil perikanan seperti; kerang, kepiting, siput, udang, dan lain-lain (Netzer, 1994).

(17)

Indonesia adalah negara yang kaya dengan bahan alam terutama tumbuhan yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan dan dikembangkan secara maksimal. Perubahan sikap kembali ke alam (back to nature) sekarang ini justru membuat pemanfaatan tanaman obat semakin meningkat (AgroMedia, 2008).

Dari sekian banyak tumbuhan yang berkhasiat sebagai penurun kolesterol, tumbuhan kemuning merupakan salah satu tumbuhan yang juga berkhasiat sebagai penurun kolesterol. Selain itu tumbuhan kemuning juga berkhasiat sebagai pemati rasa (anastesia), penenang (sedatif), antiradang, antirematik, antitiroid, penghilang bengkak, pelangsing tubuh, pelancar peredaran darah, dan penghalus kulit. Secara tradisional pemanfaatan daun kemuning sebagai penurun kolesterol adalah cuci 20 gram daun kemuning segar hingga bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas air. Minum ramuan ini 3 kali sehari (Harmanto, 2005).

Daun kemuning mengandung cadinena, metil-antranilat, bisabolena, β -kariopilena, geraniol, carane-3, eugenol, citronelol, metil-salisilat, s-guaiazulena, osthol, paniculatin, tanin, dan coumurrayin (Iskandar, 2005). Menurut Materia Medika Indonesia, daun kemuning mengandung minyak atsiri, damar, tanin, glikosida murrayin (Ditjen POM, 1977).

(18)

1.2 Kerangka konsep penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan kerangka konsep seperti ditunjukkan berikut ini:

Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Gambar 1.1. Diagram kerangka konsep penelitian

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah penelitian adalah: a. apakah ekstrak daun kemuning memiliki aktivitas sebagai penurun kadar

(19)

b. apakah ada perbedaan antara efek penurun kadar kolesterol dari ekstrak daun kemuning dibandingkan simvastatin.

1.4 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas maka dibuat hipotesis sebagai berikut:

a. ekstrak daun kemuning memiliki aktivitas sebagai penurun kadar kolesterol darah marmot yang hiperkolesterolemia.

b. pemberian ekstrak daun kemuning memberikan efek penurunan kolesterol dibandingkan dengan simvastatin.

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kemuning terhadap kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia.

b. untuk membandingkan efek ekstrak daun kemuning sebagai penurun kadar kolesterol dengan obat simvastatin.

1.6 Manfaat Penelitian

1. sebagai sumber informasi ilmiah mengenai khasiat ekstrak daun kemuning sebagai penurun kadar kolesterol.

2. menambah inventaris tumbuhan obat Indonesia yang berkhasiat penurun kadar kolesterol yang didukung oleh penelitian ilmiah.

3. mendapatkan dosis yang tepat dari ekstrak daun kemuning yang memberikan efek menurunkan kadar kolesterol optimal.

(20)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan Kemuning

Secara geografis, tumbuhan kemuning berasal dari daratan India, Asia Selatan (Iskandar, 2005). Kemuning bersosok perdu dengan tinggi mencapai 8 meter. Selain tumbuh liar di semak belukar, kemuning juga ditanam orang sebagai tanaman hias. Tempat tumbuhnya dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut .

Daun tumbuhan ini dapat digunakan sebagai penurun kadar kolesterol dalam darah dengan kandungan kimia berupa tannin, flavanoid, steroid, dan alkaloid (Harmanto, 2005).

2.1.1 Sistematika Tumbuhan

Sistematika tumbuhan kemuning adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae ( plants )

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Sapindales

Famili : Rutaceae

Genus : Murraya

(21)

2.1.2 Nama lain

Tumbuhan kemuning mempunyai nama lain adalah sebagai berikut 1. Nama ilmiah : Murraya paniculata (L) Jack.

2. Nama daerah

Jawa : kamuning (Sunda), kemuning (Jawa Tengah), kamoneng (Madura)

Sumatera : kemuning (Melayu), kemunieng (Minangkabau) Bali : kemuning

Nusa Tenggara : kemuni (Bima), kemuning (Sumba), Sukik (Roti)

Sulawesi : kamuning (Menado, Makasar), kamoni (Bare), palopo (Bugis) Maluku : eschi (Wetar), fanasa (Aru), kamoni (Ambon, Ulias), kamone (Buru)

3. Nama Asing : Jiu Li Xiang, Yueh Chu (C), Orange Jasmine (I), Ekangi, Bibzar Koonti, Thanethha, May-Kay, Honey Bush, Cosmetic Box.

(Dalimartha, 1999)

2.1.3 Morfologi Tumbuhan

(22)

bunga kemuning keluar dari ketiak daun atau ujung ranting. Buah kemuning berbentuk bulat telur atau bulat memanjang dengan panjang 8-12 mm. Bila masih muda, buah berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah mengkilap. Di dalam buah terdapat dua buah biji (Iskandar, 2005).

2.1.4 Sifat dan Khasiat Tumbuhan

Kemuning bersifat pedas, pahit, dan hangat. Selain berkhasiat sebagai penurun kolesterol, kemuning juga berkhasiat sebagai pemati rasa (anastesia), penenang (sedatif), antiradang, antirematik, antitiroid, penghilang bengkak, pelangsing tubuh, pelancar peredaran darah, dan penghalus kulit (Iskandar, 2005). Daun kemuning berkhasiat sebagai antitiroida (Ditjen POM, 1977).

2.1.5 Kandungan Kimia

Daun kemuning mengandung cadinena, metil-antranilat, bisabolena,

β-kariopilena, geraniol, carane-3, eugenol, citronelol, metil-salisilat, s-guaiazulena, osthol, paniculatin, tanin, dan coumurrayin (Iskandar, 2005). Daun

kemuning mengandung minyak atsiri, damar, tanin, glikosida murrayin (Ditjen POM, 1977).

2.2 Simplisia dan Ekstraksi

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2000).

(23)

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan (Ditjen POM, 2000).

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.

2.3 Metode Ekstraksi

Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu, dengan cara dingin dan cara panas.

1. Cara dingin dapat dilakukan dengan cara: a. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru, yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahapan maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai diperoleh perkolat yang jumlahnya 1-5 kali jumlah bahan.

2. Cara panas dapat dilakukan dengan cara: a. Refluks

(24)

dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga proses ekstraksi sempurna.

b. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru dan pada umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. c. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 400 - 500C.

d. Infus

Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 96-98oC selama waktu 15-20 menit di penangas air, dapat berupa bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih.

e. Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (≥ 30 menit) dan temperatur sampai titik didih air (Ditjen POM, 2000).

2.4 Kolesterol

(25)

merupakan komponen penting dari selaput sel, selulubung sel saraf yang membungkus sel-sel saraf serta empedu. Selain lemak, ada juga golongan lemak lainnya yang sebenarnya tidak berkaitan dengan asam lemak tetapi masih digolongkan sebagai lemak karena mempunyai sifat-sifat yang serupa dengan lemak yang sebenarnya. Zat yang sama ini dikenal dengan istilah lipomimetic compoud, yaitu komponen yang menyerupai lemak. Contohnya kolesterol. Kolesterol adalah zat alamiah dengan sifat fisik seperti lemak tapi memiliki rumus seperti steroida (Tjay, 2002).

Kolesterol terdapat di dalam jaringan dan lipoprotein plasma, yang bisa dalam bentuk kolesterol bebas atau gabungan dengan asam lemak rantai panjang sebagai ester kolesteril. Unsur ini disintesis di banyak jaringan dari asetil-KoA dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh di dalam empedu sebagai garam kolesterol atau empedu. Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid lainnya di dalam tubuh, misal kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D (Murray, 2003).

Biosintesis kolesterol dapat dibagi menjadi lima tahap sebagai berikut: 1. Mevalonat, yang merupakan senyawa enam-karbon, disintesis dari

asetil-KoA.

2. Unit isoprenoid dibentuk dari mevalonat dengan menghilangkan CO2. 3. Enam unit isoprenoid mengadakan kondensasi untuk membentuk skualen. 4. Skualen mengalami siklisasi untuk menghasilkan senyawa steroid induk,

yaitu lanosterol.

(26)

Rumus struktur kolesterol dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut ini:

Gambar 2.1. Struktur kolesterol.

Kolesterol merupakan zat yang berguna untuk menjalankan fungsi tubuh. Kolesterol berasal dari lemak yang menghasilkan 9 kalori. Sementara itu, karbohidrat dari tepung dan gula hanya menghasilkan 4 kalori. Lemak yang termakan terdiri atas lemak jenuh dan lemak tak jenuh yang masing – masing dibutuhkan tubuh. Selain berguna untuk proses metabolisme, kolesterol berguna membungkus jaringan saraf (myelin), melapisi selaput sel, dan pelarut vitamin. Pada anak – anak kolesterol dibutuhkan untuk mengembangkan jaringan otaknya. Kolesterol hanya diperoleh dari makanan yang terdapat pada hewan, seperti otak, jeroan, daging, dan kulit ayam (Wiryowidagdo, 2007).

2.4.1 Jenis Kolesterol

Lipid plasma yang utama yaitu kolesterol, trigliserida, fosfolipiddan asam lemak bebas tidak larut dalam cairan plasma. Agar lipid plasma dapat diangkut dalam sirkulasi, maka susunan molekul lipid tersebut perlu dimodifikasi, yaitu dalam bentuk lipoprotein yang bersifat larut dalam air. Lipoprotein ini bertugas mengangkut lipid dari tempat sintetisnya menuju tempat penggunaannya (Suyatna, 1995). Lipoprotein dbagi menjadi 5 bagian yakni kilomikron, very low density lipoprotein (VLDL), intermediate density lipoprotein (IDL), low density lipoprotein ( LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Dari kelimanya, yang penting untuk diketahui adalah LDL dan HDL.

(27)

1. Low density lipoprotein (LDL) merupakan lipoprotein yang mengangkut kolesterol terbesar untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh dan pembuluh nadi. LDL sering disebut kolesterol jahat karena efeknya yang

arterogenik (mudah melekat pada dinding pmbuluh darah), sehingga dapat menyebabkan penumpukan lemak dan penyempitan pembuluh darah (arterosclerosis). Kadar LDL di dalam darah sangat tergantung dari lemak yang masuk Semakin tinggi/banyak lemak yang masuk, semakin menumpuk pula LDL. Hal ini disebabkan LDL merupakan lemak jenuh yang tidak mudah larut.

(28)

kolesterol dan trigliserida dari makanan bergabung dan membentuk ikatan protein menjadi partikel lipoprotein yang besar yang disebut kilomikron. Di dalam hati, lipida ini bersama- sama dengan lipida yang disintesis dalam hati sendiri dirubah menjadi bentuk lain dari lipoprotein yaitu VLDL. VLDL ini bersama aliran darah dibawa ke seluruh tubuh dan selama dalam perjalanan tersebut VLDL melepaskan trigliserida dari ikatannya untuk keperluan energi atau untuk disimpan dalam jaringan tubuh sebagai cadangan lemak (Moehyi, 1995).

HDL dan LDL mempunyai fungsi yang bertolak belakang, HDL merupakan partikel lipoprotein yang sangat kecil dan dibuat di dalam hati, mengandung Apo A yang memiliki efek anti aterogenik sehingga disebut kolesterol baik. Fungsi utama HDL mengambil kolesterol dari jaringan perifer sehingga mencegah penimbunan lemak dan aterosklerosis, dengan demikian penimbunan kolesterol di perifer berkurang. HDL dianggap sebagai pembersih kolesterol dari dinding arteri terol yang sudah diangkut tersebut masuk ke hati, diproses menjadi asam empedu dan dikeluarkan usus untuk mengaktifksn absorpsi lemak. Pembentukan HDL merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menjaga keseimbangan lemak dalam tubuh (Wiryowidagdo, 2007).

LDL merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar untuk mengedarkan kolesterol ke seluruh tubuh yang diperlukan untuk pembentukan sel tubuh. Sel-sel jaringan tubuh mempunyai alat penerima kolesterol yang disebut kolesterol reseptor. LDL disebut kolesterol jahat karena efeknya yang aterogenik

(29)

Kadar LDL dalam darah sangat tergantung dari lemak yang masuk dan kemampuan kolesterol reseptor untuk mengikat kolesterol. Fungsi LDL membawa kolesterol ke jaringan perifer. Meningkatnya LDL akan menyebabkan kolesterol menumpuk dalam jaringan, sel-sel, dan organ tubuh. Walaupun demikian, kemampuan kolesterol reseptor untuk menyerap kolesterol ada batasnya. Kolesterol yang tidak bisa diserap oleh kolesterol reseptor akan tetap tinggal pada pembuluh darah dan membentuk plak. Jika keadaan ini terjadi terus-menerus pembuluh darah tersebut akan tersumbat. Sumbatan ini bisa fatal jika terjadi pada pembuluh darah penting seperti di otak dan jantung (Suyatna, 1995).

2.4.2 Kolesterol dan Hubungannya Pada Beberapa Penyakit

Beberapa penyakit yang berhubungan dengan kolesterol adalah sebagai berikut:

a. Penyakit jantung. Penyakit jantung terutama disebabkan oleh penebalan dan pengerasan dinding pembuluh darah yang dikenal dengan aterosklerosis.

Aterosklerosis terjadi akibat proses jangka panjang yang berawal dari penimbunan lemak di dinding pembuluh darah . Penimbunan ini terjadi terus menerus dan secara alami tanpa menimbulkan gejala hingga terjadi penyempitan yang cukup nyata. Penyempitan ini dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah total sehingga menyebabkan kerusakan atau kematian jaringan dari organ yang terhenti aliran darahnya (Mursito, 2002). b. Hipertensi. Hipertensi terjadi sebagai akibat pengaruh tingginya tekanan darah

(30)

organ-organ penting. Pengaruh hipertensi terhadap pembuluh-pembuluh darah sebagai berikut: peningkatan tekanan darah arteri dapat berubah dan merusak dinding sebelah dalam arteri. Dinding arteri menjadi lebih tebal sementara ruang untuk transportasi darah menjadi kecil. Lemak yang terbentuk, disebut juga plak, menghasilkan kerusakan pada dinding arteri dan menyumbat aliran darah sepanjang arteri sehingga tekanan darah menjadi lebih tinggi. Bekuan-bekuan darah lebih mudah terbentuk dan menjadi lebih berbahaya bila tidak dikeluarkan (Moehyi, 1995).

c. Angina pectoris. Selama dalam peredaran darah ada kecendrungan kolesterol menempel pada dinding pembuluh darah sehingga mempersempit pembuluh tersebut. Proses ini terjadi karena sifat dari LDL yang sangat aterogenik. Kondisi demikian akan membuat aliran darah menjadi tidak lancar dan lemak terlarut dalam darah semakin tidak mencukupi proses metabolisme sehingga mengganggu keseimbangan kebutuhan dan persediaan oksigen (aerobic). Bila yang terjadi merupakan metabolisme anaerobik, maka akan terjadi penumpukan asam laktat sehingga seseorang akan merasa nyeri di balik tulang dada. Peristiwa ini disebut anginapectoris (Mursito, 2002).

(31)

2.5 Hiperlipidemia

Hiperlipidemia (lebih tepat hiperlipoproteinemia) adalah keadaan dimana kadar lipoprotein darah meningkat. Dapat dibedakan dua jenis, yakni :

- hiperkolesterolemia dengan peningkatan kadar LDL dan kolesterol total. - hipertrigliseridemia dengan peningkatan kadar TG (Tjay, 2002).

Klasifikasi hiperlipoproteinemia yang dikenal adalah klasifikasi Frederickson yang membagi hiperlipoproteinemia atas dasar fenotip plasma, mengidentifikasi jenis lipoprotein yang meningkat dengan gejala klinik serta bermanfaat dalam menentukan pengobatan tanpa memandang etiologi penyakit (Suyatna, 1995).

Tipe I Hiperkilomikronemia familial. Hiperkilomikronemia masif pada waktu puasa walapun jumlah lemak dalam diet normal, menyebabkan peningkatan triasilgliserol serum yang sangat tinggi. Pengobatan dengan diet rendah lemak. Tidak ada obat yang efektif untuk hiperlipidemia tipe I.

Tipe IIA Hiperkolesterolemia familial. Peningkatan LDL dengan kadar

VLDL normal karena penghambatan dalam degradasi LDL, sehingga terdapat peningkatan kolesterol serum tetapi triasilgliserol normal. Pengobatan dengan diet rendah kolesterol dan rendah lemak jenuh. Heterozigot : kolesteramin atau kolestipol dan /atau lovastatin atau mevastatin. Homozigot : seperti di atas ditambah niasin.

Tipe IIB Hiperlipidemia kombinasi familial. Sama dengan IIA kecuali

(32)

Tipe III Disbetalipoproteinemia familial. Konsentrasi IDL serum meningkat menyebabkan peningkatan kadar triasilgliserol dan kolesterol disebabkan overproduksi atau IDL kurang digunakan. Pengobatan dengan menurunkan berat badan (jika perlu), pembatasan diet kolesterol dan alkohol, terapi obat dengan niasin dan klofibrat atau lovastatin.

Tipe IV Hipertrigliseridemia familial. Kadar VLDL meningkat dan kadar

IDL normal atau berkurang, mengakibatkan kolesterol normal atau meningkat dan peningkatan kadar trisasilgliserol yang beredar disebabkan overproduksi dan/atau berkurangnya pengeluaran VLDL triasilgliserol dalam serum. Pengobatan sama seperti tipe III.

Tipe V Hipertrigliseridemia kombinasi familial. Kadar VLDL, kilomikron

(33)

2.6 Obat-Obat Penurun Kolesterol

Tujuan pengobatan hiperkolesterolemia adalah menguasakan agar kadar kolesterol dalam darah mencapai kadar yang aman. Pengobatan hiperkolesterolemia meliputi:

a. Pengobatan non farmakologi, yaitu pengobatan tanpa menggunakan obat-obatan oleh dokter.

b. Pengobatan farmakologi, yaitu pengobatan dengan memakai obat-obatan Penurunan kadar kolesterol dalam darah dengan pengobatan non farmakologi dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Menghentikan kebiasaan merokok. Nikotin pada tembakau rokok dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit sehingga terjadi kenaikan tekanan darah dan berpotensi menybabkan aterosklerosis.

b. Olah raga. Bila badan tidak banyak berolah raga maka kadar kolesterol naik, kadar HDL rendah, dan menimbulkan kelebihan berat badan.. Usahakan untuk berolah raga setiap hari.

c. Membatasi makanan yang merupakan sumber kolesterol.

d. Menjaga berat badan. Kelebihan berat badan akan memberikan tekanan ekstra pada jantung dan mendatangkan resiko penyakit-penyakit lain seperti diabetes, kolesterol tinggi, atau hipertensi.

(34)

Bila sudah melakukan perubahan pola makan dan berolah raga, LDL tetap tinggi dan HDL-nya rendah maka pengobatan farmakologi diperlukan. Jenis- jenis obat yang tersedia antara lain:

a. Resin. Contohnya kolestiramin dan kolestipol, berkhasiat menurunkan LDL dan kolesterol total berdasarkan pengikatan asam empedu dalam usus halus menjadi kompleks yang dikeluarkan melalui tinja. Kolesterol tanpa asam empedu tidak diserap lagi. Kadar asam empedu dalam plasma menurun dan hati distimulasi untuk meningkatkan sintesa asam empedu dari kolesterol (Tjay, 2002).

(35)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian ini adalah metode eksperimental berdasarkan rancangan acak lengkap. Penelitian ini meliputi penyiapan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak, penyiapan hewan percobaan dan pengujian efek penurun kadar kolesterol pada hewan percobaan. Data hasil penelitian dianalisis secara ANAVA (analisis variansi) dan dilanjutkan dengan uji beda rata-rata Duncan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 16.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Swing Type Centrifuge (Model CD-50 SR Tomy Seiko), Microlab 300 (Merck), mikropipet (Clinicon), neraca kasar, neraca listrik (Chyo JP2-600), lemari pengering, seperangkat alat destilasi untuk penetapan kadar air, perkolator, rotary evaporator,

freeze dryer (Edward), oral sonde, blender (National), mikroskop (Olympus), spuit, rak tabung reaksi, mortir, stamfer, kertas saring, alumunium foil, alat-alat gelas laboratorium, kaca objek dan kaca penutup.

3.1.2 Bahan-bahan

(36)

kuning telur ayam (Pasar Sore Padang Bulan), etanol 96% , regensia kolesterol CHOD-PAP, toluen, kloralhidrat, dan air suling.

3.2 Penyiapan Sampel 3.2.1 Pengambilan Sampel

Sampel yang digunakan adalah daun kemuning yang sudah tua, kondisinya utuh atau tidak cacat. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Sampel diambil dari Desa si Gara-gara, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Gambar tumbuhan daun kemuning dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 41.

3.2.2 Identifikasi Sampel

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat Penelitian Biologi, Bogor. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada lampiran 1, halaman 40.

3.2.3 Pengolahan Sampel

(37)

3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia

Pemeriksaan karakterisasi simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam ( Ditjen POM, 1995).

3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik terhadap simplisia meliputi pemeriksaan bentuk, bau, rasa dan warna. Hasil gambar simplisia daun kemuning dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 41.

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik terhadap serbuk simplisia dilakukan dengan cara meneteskan larutan kloralhidrat diatas kaca objek, kemudian diatasnya ditaburkan serbuk simplisia, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di bawah mikroskop. Hasil pemeriksaan mikroskopik dapat dilihat pada lampiran 4, halaman 43.

3.3.3 Penetapan Kadar Air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen). Alat terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat penampung, pendingin, tabung penerima 5 ml berskala 0,05 ml, tabung penyambung, pemanas.

Cara Kerja :

(38)

Kedalam labu alas bulat tersebut kemudian dimasukkan 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang dengan seksama. Setelah toluen mulai mendidih, destilasi dengan kecepatan 2 tetes tiap detik hingga sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan destilasi ditingkatkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bilas bagian dalam pendingin dengan toluena. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian labu penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar dan bersihkan tetesan air yang mungkin masih terdapat pada dinding tabung penerima. Setelah air dan toluena memisah sempurna, baca volume air (volume II). Hitung kadar air dalam persen (WHO, 1992). Perhitungan kadar air dapat dilihat pada lampiran 5, halaman 44.

3.3.4 Penetapan Kadar Sari Yang Larut Dalam Air

Sebanyak 5 g serbuk, dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml air kloroform (2,5 ml kloroform dalam air suling sampai 1 liter) menggunakan labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring, diuapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara (Ditjen POM, 1995). Perhitungan kadar sari larut dalam air dapat dilihat pada lampiran 5, halaman 45.

3.3.5 Penetapan Kadar Sari Yang Larut Dalam Etanol

(39)

cawan dangkal berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 96% dihitung terhadap bahan yang dikeringkan diudara (Ditjen POM, 1995). Perhitungan kadar sari larut dalam etanol dapat dilihat pada lampiran 5, halaman 46.

3.3.6 Penetapan Kadar Abu Total

Sebanyak 2 g serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pemijaran dillakukan pada suhu 5000C selama 2 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. (Ditjen POM, 1995). Perhitungan kadar abu total dapat dilihat pada lampiran 5, halaman 47.

3.3.7 Penetapan Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam

Abu yang telah diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring dipijarkan sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. (Ditjen POM, 1995). Perhitungan kadar abu tidak larut dalam asam dapat dilihat pada lampiran 5, halaman 48.

3.4 Pembuatan Ekstrak Daun Kemuning

(40)

dengan alumunium foil dan dibiarkan selama 24 jam, kemudian kran perkolator dibuka dan dibiarkan tetesan ekstrak mengalir dengan kecepatan 1 ml per menit, cairan penyari ditambahkan berulang – ulang sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari diatas simpisia, sampai cairan yang keluar tidak berwarna lagi, yang keluar terakhir bila diuapkan tidak meninggalkan sisa. Perkolat yang diperoleh dipekatkan dengan alat penguap vakum putar pada temperatur tidak lebih dari 50o C hingga diperoleh ekstrak kental. Kemudian dikeringkan dengan

freeze dryer selama lebih kurang 24 jam dan diperoleh ekstrak kental sebanyak 90,4 g.

3.5 Penyiapan Hewan Percobaan

Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah marmot jantan dengan berat 400-650 gram berumur 3 bulan yang dikondisikan selama 2 minggu dalam kandang yang baik untuk meyesuaikan lingkungannya..

3.6 Percobaan Efek Penurun Kadar Kolesterol

Percobaan efek penurun kadar kolesterol terdiri dari beberapa tahap yaitu penyiapan bahan, penyiapan hewan uji yang hiperkolesterolemia dan pengujian efek penurun kadar kolesterol.

3.6.1 Penyiapan Bahan

Penyiapan bahan-bahan meliputi kontrol (Na-CMC), bahan uji (Ekstrak Daun Kemuning, obat pembanding (Simvastatin).

3.6.1.1 Pembuatan Suspensi CMC-Na 0,5% (b/v)

(41)

3.6.1.2 Pembuatan Suspensi Ekstrak Daun Kemuning

Dosis ekstrak daun kemuning ditentukan berdasarkan orientasi pada hewan percobaan, yaitu dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 800 mg/kg BB. Hasil orientasi dipilih variasi dosis sebanyak tiga dosis. Dosis I 100 mg/kg BB marmot, dosis II 200 mg/kg BB marmot dan dosis III 400 mg/kg BB marmot.

Cara kerja :

Ekstrak daun kemuning masing-masing sebanyak 100 mg, 200 mg dan 400 mg dimasukkan ke dalam lumpang yang berisi sedikit Suspensi Na-CMC 0,5% digerus homogen lalu dicukupkan dengan suspensi Na-CMC 0,5% hingga 10 ml.

3.6.1.3 Pembuatan Suspensi Simvastatin

Sebanyak 50 mg simvastatin digerus dalam lumpang, lalu ditambahkan Suspensi Na-CMC 0,5% sedikit demi sedikit sambil terus digerus hingga homogen, lalu dicukupkan dengan suspensi Na-CMC 0,5% hingga 625ml.

3.6.2 Penyiapan Hewan Uji Yang Hiperkolesterolemia

(42)

McNamara, 1993). Diukur kadar kolesterolnya. Bagan alur pengerjaannya dapat dilihat pada Lampiran 7, halaman 50.

3.6.3 Pengujian Efek Penurun Kadar Kolesterol

Pengujian efek penurun kadar kolesterol menggunakan dosis ekstrak daun kemuning 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dengan pembanding suspensi simvastatin dosis 0,80 mg/kg BB marmot dan kontrol suspensi Na-CMC 0,5%.

3.6.3.1 Pemberian Suspensi Kontrol, Suspensi EDK dan Suspensi Simvastatin Pada Marmot Yang Hiperkolesterolemia.

Marmot dibagi menjadi 5 kelompok dimana kelompok pertama diberikan suspensi sebagai Na-CMC 0,5% control (-). Kelompok kedua diberikan suspensi Simvastatin sebagai control (+). Kelompok ketiga diberikan suspensi ekstrak daun kemuning dosis 100 mg/kg BB/hari. Kelompok keempat diberikan suspensi ekstrak daun kemuning dosis 200 mg/kg BB/hari. Kelompok kelima diberikan suspensi ekstrak daun kemuning dosis 400 mg/kg BB/hari. Lalu setiap kelompok marmot ditentukan kolesterol darahnya pada hari ke – 19 dan ke – 23. Bagan alur pengerjaannya dapat dilihat pada Lampiran 8, halaman 51.

3.6.3.2 Pengambilan Darah

(43)

3.6.3.3 Penetapan Kadar Kolesterol Serum Darah Marmot

Serum dipipet sebanyak 10 µl kemudian dimasukkan kedalam tabung yang berisi reagensia kolesterol sebanyak 1000µl, lalu di inkubasi pada suhu 37oC selama 10 menit. Kemudian diukur kadar kolesterolnya menggunakan alat

microlab 300 (Merck). Hasil yang tercantum pada data dicatat. Bagan alur pengukuran kadar kolesterol dapat dilihat pada Lampiran 10, halaman 53.

3.7 Analisis Data

(44)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil identifikasi bahan uji di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat Penelitian Biologi, Bogor, menunjukkan identitas sampel tumbuhan adalah (Murraya paniculata (L.) Jack) suku Rutaceae. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada lampiran I dan gambar tumbuhan kemuning pada lampiran 2.

Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia daun kemuning menunjukkan bahwa helai daun berbentuk corong, ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip, berwarna kuning kehijauan, bau khas aromatik bila diremas, dan rasa agak pahit. Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia daun kemuning menunjukkan adanya: rambut penutup, jaringan epidermis, jaringan palisade, jaringan bunga karang, celah stomata (tipe anomositik), berkas pembuluh, kristal kalsium oksalat bentuk prisma, dan adanya kelenjar minyak atsiri.

(45)

Tabel 4.1. Hasil Karakteristik Serbuk Simplisia

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil karakteristik serbuk simplisia yang diteliti sesuai dengan persyaratan Materia Medika Indonesia (MMI).

Hasil penyarian 892 g serbuk simplisia daun kemuning dengan pelarut etanol 96% diperoleh ekstrak kental yang kemudian diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator dan kemudian dikeringkan dengan menggunakan

freeze dryer diperoleh 90,4 g ekstrak (rendemen 10,13%).

Penelitian ini menggunakan marmot jantan sebagai hewan percobaan yang dibuat hiperkolesterolemia dengan harapan tercapai kenaikan kadar kolesterol dalam darah dengan penginduksi kuning telur ayam yang diberikan oral dan pemberian pakan yang dicampur dengan lemak kambing 15g/100g jumlah pakan selama dua minggu.

(46)

Pembanding positif pada penelitian ini dipakai obat simvastatin 10 mg, pemilihan obat ini karena harganya murah. Efek simvastatin sudah nyata selama dua minggu dan maksimal sesudah satu bulan (Tjay, 2002).

Pengujian efek penurun kadar kolesterol darah dari daun kemuning diawali dengan melakukan orientasi dosis ekstrak. Dosis orientasi adalah 100 mg/kgbb, 200 mg/kgbb, 400 mg/kgbb, 800 mg/kgbb. Dosis yang dipilih adalah dosis yang memberikan penurunan kadar kolesterol dalam darah. Dari ketiga dosis yang diuji maka dipilih suspensi ekstrak dengan dosis 100 mg/kgbb, 200 mg/kgbb, dan 400 mg/kgbb sebagai larutan uji pada percobaan.

Hasil pengkondisian marmot yang dibuat hiperkolesterolemia selama 14 hari dapat dilihat pada gambar 4.1. yang menunjukkan adanya peningkatan kadar kolesterol darah normal menjadi hiperkolesterolemia.

(47)

pemberian makanan induksi berupa kuning telur (dosis 1% bb) dan lemak kambing 15 g/100g jumlah pakan diberikan selama 14 hari berturut – turut dapat meningkatkan kadar kolesterol darah marmot.

Dari grafik dapat dilihat bahwa suspensi simvastatin dan EDK memberikan efek penurunan kadar kolesterol bila dibandingkan dengan kontrol. Dari grafik terlihat bahwa suspensi simvastatin memberikan efek penurunan kadar kolesterol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan EDK dosis 100 mg/kgbb. Sebaliknya memberikan efek penurunan kadar kolesterol yang lebih rendah jika dibandingkan dengan EDK dosis 200 mg/kgbb dan EDK dosis 400 mg/kgbb. Peningkatan dosis yang terjadi pada EDK dosis 400 mg/kgbb memberikan efek yang tidak begitu berbeda dengan EDK dosis 200 mg/kgbb. Hanya sedikit perbedaan efek yang diberikan oleh EDK dosis 400 mg/kgbb. Oleh karena itu EDK dosis 200 mg/kgbbmerupakan dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar kolesterol darah.

Kadar kolesterolemia dapat dilihat dari adanya kadar lemak yang terukur yaitu kadar kolesterol. Hasil ini dinyatakan sebagai kondisi hiperkolesterolemia. Bila dibandingkan dengan kadar sebelum perlakuan hiperkolesterolemia, kadar kolesterol setelah perlakuan dengan pemberian kuning telur ayam memperlihatkan kadar kolesterol yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa marmot tersebut telah hiperkolesterolemia (Sitepoe, 1992).

(48)

pakan yang mengandung kuning telur sebanyak 2,02 gram sudah dapat menaikkan kadar kolesterol (Lidya, 1998). Asam lemak jenuh yang banyak terdapat pada lemak hewani (seperti lemak kambing) yang dikonsumsi dapat diubah di dalam hati menjadi kolesterol sehingga menyebabkan kenaikan kadar kolesterol. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah dapat bersifat sinergis apabila bahan pangan yang mengandung kolesterol dikonsumsi bersama dengan lemak jenuh (Sitepoe, 1992).

Hasil pengujian efek ekstrak daun kemuning sebagai penurun kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia dengan penginduksi kuning telur dan pakan yang dicampur dengan lemak kambing diperoleh penurunan kadar kolesterol yang diukur pada hari ke – 19 dan hari ke – 23 dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Rata – rata kolesterol darah marmot setelah pemberian obat pada hari ke – 19 dan ke – 23.

Kadar kolesterol (mg/dl) + SD Setelah pemberian obat pada

A : untuk perlakuan pemberian suspensi Na-CMC 0,5% (dosis 1% bb) selama 7 hari

B : untuk perlakuan pemberian suspensi simvastatin (dosis 0,80 mg/kgbb/hari) selama 7 hari.

C : untuk perlakuan pemberian Ekstrak Daun Kemuning (dosis 100 mg/kgbb/hari) selama 7 hari.

(49)

E : untuk perlakuan pemberian Ekstrak Daun Kemuning (dosis 400 mg/kgbb/hari) selama 7 hari.

Gambar 4.2. Grafik penurunan kadar kolesterol darah marmot

Berdasarkan gambar 4.2 diatas dapat dilihat bahwa suspensi simvastatin dan EDK memberikan efek penurunan kadar kolesterol bila dibandingkan dengan kontrol. Dari grafik terlihat bahwa suspensi simvastatin memberikan efek penurunan kadar kolesterol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan EDK dosis 100 mg/kgbb. Sebaliknya memberikan efek penurunan kadar kolesterol yang lebih rendah jika dibandingkan dengan EDK dosis 200 mg/kgbb dan EDK dosis 400 mg/kgbb. EDK dosis 200 mg/kgbb memberikan efek yang lebih efektif dalam menurunkan kolesterol darah dibandingkan dengan EDK dosis 400 mg/kgbb. Peningkatan dosis tidak sesuai dengan peningkatan efek yang terjadi dimana pada EDK dosis 400 mg/kgbb memberikan efek yang tidak begitu berbeda dengan EDK dosis 200 mg/kgbb. Hanya sedikit perbedaan efek yang diberikan oleh EDK dosis 400 mg/kgbb. Oleh karena itu EDK dosis 200 mg/kgbb merupakan dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar kolesterol darah.

(50)

Dari hasil uji ANAVA (lampiran 15, halaman 59) pada t-15 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok uji (p > 0,05), Sedangkan pada t-0, t-19 dan t-23 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok uji (p < 0,05). Untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan, dilakukan uji beda rata-rata Duncan.

Dari hasil uji beda rata-rata Duncan pada t-19 (lampiran 16, halaman 60) diperoleh kelompok simvastatin pada subset 1. Ini menunjukkan bahwa pada pemberian suspensi simvastatin dengan dosis 0,80 mg/kgbb/hari tidak menurunkan kadar kolesterol yang signifikan dibandingkan terhadap kelompok EDK dosis 100 mg/kgbb, dosis 200 mg/kgbb dan dosis 400 mg/kgbb serta pemberian Na-CMC (kontrol) selama 4 hari. Sedangkan pemberian EDK dosis 100 mg/kgbb, dosis 200 mg/kgbb dan dosis 400 mg/kgbb dibandingkan dengan pemberian Na-CMC selama 4 hari menunjukkan perbedaan, berarti EDK tersebut menurunkan kadar kolesterol secara nyata secara statistik.

(51)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

a. Pemberian ekstrak daun kemuning menyebabkan penurunan kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia dengan induksi kuning telur 1% bb secara oral dan pemberian pakan yang dicampur dengan lemak kambing 15g/100g jumlah pakan.

b. Dari hasil pengujian statistik diperoleh bahwa pemberian ekstrak daun kemuning dosis 100 mg/kgbb, 200 mg/kgbb dan 400 mg/kgbb memberikan penurunan kadar kolesterol yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi simvastatin 0,80 mg/kgbb.

5.2 Saran

a. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti pengaruh ekstrak daun kemuning terhadap kadar HDL, LDL dan TG darah marmot.

(52)

DAFTAR PUSTAKA

AgroMedia. (2008). 273 Ramuan Tradisional Untuk mengatasi Aneka Penyakit. Jakarta: Agromedia Pustaka. Halaman 1-13.

Dalimartha, S. (1999). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid I. Cetakan Pertama. Jakarta: Trubus Agriwidya. Halaman 73-74, 76.

Depkes RI. (1984). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 9, 31, 902.

Depkes RI. (2000). Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I). Jilid II. Jakarta: Departemen Kesehatan RI dan Kesejahteraan Sosial RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Halaman 163-164.

Ditjen POM. (1977). Materia Medika Indonesia. Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 58 – 62.

Ditjen POM. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Halaman 321-325.

Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 3-5, 10-11.

Harmanto, Ning. (2005). Mengusir Kolesterol Bersama Mahkota Dewa. Cetakan pertama. Jakarta: Agromedia Pustaka. Halaman 5-13, 34-35.

(53)

Katzung, B. G. (2002). Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerjemah dan Editor: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Erlangga. Edisi VIII. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Halaman 433.

Kelompok Kerja Ilmiah. (1993). Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinik. Jakarta: Penerbit Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica.

Lidya, J. J., Kivisto, K. T., Neuvonen, P. J. (1998). Clinical Pharmacology Theraphy. Diakses tanggal 21 juni 2009.

Moehyi, S. (1995). Pengaturan Mkanan dan Diet untuk Penyembuhan Penyakit.

Cetakan kelima. Jakarta: PT. Gramedia. Halaman 85.

Mursito, B. (2003). Ramuan Tradisional Untuk Pelangsing Tubuh. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya. Halaman 82-83.

Murray, R.K., dkk. (2003). Biokimia Harper. Edisi 25. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Halaman 270.

Mycek, M.J., Haevery, R.A., and Champe, P.C. (2001). Farmakologi: Ulasan Bergambar. Penerjemah: Agoes, A. Edisi II. Jakarta: Penerbit Widya Medika. Halaman 209.

Sitepoe, M. (1993). Kolesterol Fobia keterkaitannya Dengan Penyakit Jantung. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Halaman 10-11, 17, 42, 59, 107 – 108.

(54)

Tjay, T.H., Rahardja, K. (2002). Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo. Halaman 540-541.

(55)
(56)

Lampiran 2

Gambar 3.1. Tumbuhan kemuning

(57)

Lampiran 3

Gambar 3.3. Bagan Penelitian Uji Efek Ekstrak Daun Kemuning sebagai penurun kadar kolesterol darah marmot.

Daun Kemuning

Dicuci dari pengotor sampai bersih

Ditiriskan dan ditimbang

4.Penetapan Kadar Sari yang larut Air

5.Penetapan Kadar Sari yang larut Etanol

6.Penetapan Kadar Abu total 7.Penetapan Kadar Abu yang

(58)

Lampiran 4

Gambar 3.4.. Mikroskopik dari serbuk daun kemuning Perbesaran 10 x 40

Keterangan : 1 = rambut penutup 2 = kutikula

3 = jaringan epidermis 4 = jaringan palisade 5 = jaringan bunga karang 6 = celah stomata

7 = berkas pembuluh

(59)

Lampiran 5. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia a. Perhitungan hasil penetapan kadar air

(60)

b. Perhitungan hasil penetapan kadar sari larut dalam air

1. Sampel I

Berat sampel = 5,003 g Berat sari = 0,273 g

Kadar sari larut dalam air = 0,273 x 100 x 100 % 5,003 20

= 27,28% 2. Sampel II

Berat sampel = 5,004 g Berat sari = 0,262 g

Kadar sari larut dalam air = 0,262 x 100 x 100 % 5,004 20

= 26,17 % 3. Sampel III

Berat sampel = 5,006 g Berat sari = 0,278 g

Kadar sari larut dalam air = 0,278 x 100 x 100 % 5,006 20

= 27,76 %

Kadar sari larut dalam air rata-rata = 27,28 % + 26,17 % + 27,76 % 3

= 27,07 %

(61)

c. Perhitungan hasil penetapan kadar sari larut dalam etanol

1. Kadar sari larut dalam etanol I Berat sampel = 5,003 g Berat sari = 0,188 g

Kadar sari larut dalam etanol = 0,188 x 100 x 100 % 5,003 20

= 18,78 % 2. Kadar sari larut dalam etanol II

Berat sampel = 5,004 g Berat sari = 0,164g

Kadar sari larut dalam etanol = 0,164 x 100 x 100 % 5,004 20

= 16,38 % 3. Kadar sari larut dalam etanol III

Berat sampel = 5,001 g Berat sari = 0,182 g

Kadar sari larut dalam etanol = 0,182 x 100 x 100 % 5,001 20

= 18,19 %

Kadar sari larut dalam etanol rata-rata = 18,78 % + 16,38 % + 18,19 % 3

= 17,78 %

(62)
(63)
(64)
(65)

Lampiran 7

Gambar 3.5. Bagan Alur Penyiapan Hewan Uji Hiperkolesterolemia Marmot

Marmot Hiperkolesterolemia

Diberi pakan yang dicampur dengan lemak

kambing 15g/100g jumlah makanan selama 14

hari

Diukur kadar kolesterolnya

Diberi induksi kuning telur 1% berat badan secara

(66)

Lampiran 8

Gambar 3.6. Bagan Alur Pengujian Efek Penurun Kolesterol Marmot

Kadar kolesterol normal

Dikondisikan selama 2 minggu

Kadar

Hiperkolesterolemia

Kadar kolesterol

1. Diukur kadar kolesterol 2. Diberikan perlakuan hiper kolesterolemia selama 14 hari

Diukur kadar kolesterol

3. Diberikan perlakuan dengan dan tanpa pemberian suspensi EDK dan pemberian suspensi simvastatin selama 7 hari mulai dari hari ke 15

(67)

Lampiran 9

Gambar 3.7. Bagan Alur Pengambilan Darah Marmut Marmot

Dipuasakan selama 10 – 14 jam

di cukur bulu telinganya

Telinga yang bersih

Ditusuk dengan jarum spuit pada vena tepi telinga marmot hingga berdarah

Darah Marmot

Ditampung dalam tabung yang bersih

(68)

Lampiran 10

Gambar 3.8. Bagan alur pengukuran kadar kolesterol darah marmot Darah Marmot

Disentrifugasi selama 10 menit dengan

kecepatan 1000 rpm

Terbentuk 2 lapisan

Serum Padatan

Dipipet sebanyak 10 μl

Dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi larutan

reagensia kolesterol 1000 μl

Diinkubasi pada suhu 370C Dihomogenkan

Diukur pada alat microlab 300 dengan panjang

gelombang 546 nm Dibiarkan selama 10 menit

Dicatat hasilnya

(69)

Lampiran 11. Contoh perhitungan dosis

Tabel 3.3 Konversi perhitungan dosis antar jenis hewan Mencit

Contoh perhitungan Dosis suspensi simvastatin 0.01% Dosis manusia(berat 70 kg) = 10 mg

Dosis marmot (berat 400 g) = 0,031 x 10 mg = 0,31 mg

= 1000/400 x 0,31mg = 0,775 mg/ kg BB = 0,80 mg/kg BB Suspensi simvastatin sebanyak 0,8 mg/kg BB dibuat dalam sediaan 10 ml, dengan penimbangan minimal 50 mg maka dibuat dalam sediaan 50 mg x 10 ml= 625 ml 0,80 mg/kg BB

Dosis untuk Marmot (Berat 415 g) = 415 g x 0,8 mg/1000 g = 0,332 mg

Sediaan yang dibuat = 50 mg/ 625 ml = 0,08 mg/ml Jadi volume suspensi simvastin yang diberikan: 0,332 mg = 4,15 ml

(70)

(Sambungan)

Contoh perhitungan dosis untuk marmot dengan berat badan 400 g dengan dosis ekstrak daun kemuning 100 mg/Kg BB

Dosis ekstrak 100 mg/kg BB dibuat dalam botol yang telah dikalibrasi 10 ml, maka di dalam 10 ml mengandung ekstrak daun kemuning 100 mg untuk 1 kg berat badan.

Dosis = 10 ml/kg BB

(71)

Lampiran 12

(72)
(73)

Lampiran 14

Tabel 3.4. Hasil Perhitungan Deskriptif Kadar Kolesterol dengan SPSS

Descriptives

N Mean Std. Deviation Std. Error

95% Confidence Interval for Mean

Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound

t0 Na-CMC 6 42.83 7.139 2.915 35.34 50.33 30 48

Simvastatin 6 35.17 7.305 2.982 27.50 42.83 26 47

EDK 100 6 26.67 9.647 3.938 16.54 36.79 12 40

EDK 200 6 25.00 5.404 2.206 19.33 30.67 17 33

EDK 400 6 27.50 7.450 3.041 19.68 35.32 15 36

Total 30 31.43 9.740 1.778 27.80 35.07 12 48

t15 Na-CMC 6 102.50 38.067 15.541 62.55 142.45 69 155

Simvastatin 6 93.50 26.883 10.975 65.29 121.71 63 138

EDK 100 6 79.00 13.971 5.704 64.34 93.66 64 99

EDK 200 6 107.67 27.790 11.345 78.50 136.83 70 142

EDK 400 6 88.83 26.769 10.928 60.74 116.93 60 136

Total 30 94.30 27.757 5.068 83.94 104.66 60 155

t19 Na-CMC 6 102.33 38.124 15.564 62.32 142.34 66 154

Simvastatin 6 71.83 12.766 5.212 58.44 85.23 54 83

EDK 100 6 64.17 15.842 6.467 47.54 80.79 39 80

EDK 200 6 69.33 17.580 7.177 50.88 87.78 44 87

EDK 400 6 50.67 11.501 4.695 38.60 62.74 39 72

Total 30 71.67 26.394 4.819 61.81 81.52 39 154

t23 Na-CMC 6 99.50 35.753 14.596 61.98 137.02 64 148

Simvastatin 6 45.83 12.432 5.076 32.79 58.88 27 58

EDK 100 6 46.67 11.165 4.558 34.95 58.38 33 60

EDK 200 6 50.83 20.469 8.356 29.35 72.31 22 73

EDK 400 6 25.83 9.174 3.745 16.21 35.46 16 39

(74)

Lampiran 15

Tabel 3.5. Hasil perhitungan ANOVA kadar kolesterol dengan SPSS

ANOVA Sum of

Squares df Mean Square F Sig. t0 Between

Groups 1340.867 4 335.217 5.941 .002

Within Groups 1410.500 25 56.420

Total 2751.367 29

t15 Between

Groups 3063.133 4 765.783 .993 .430

Within Groups 19279.167 25 771.167

Total 22342.300 29

t19 Between

Groups 8659.000 4 2164.750 4.688 .006

Within Groups 11543.667 25 461.747

Total 20202.667 29

t23 Between

Groups 17962.533 4 4490.633 10.896 .000

Within Groups 10303.333 25 412.133

Total 28265.867 29

(75)

Lampiran 16

Tabel 3.6. Hasil Uji Duncan Post Hoc Test

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

(76)

t-19

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

(77)

Lampiran 17. Spesifikasi Alat Microlab 300 (E-Merk) MICROLAB 300 (MERCK)

Light Source

 Quartz Halogen Lamp 12V-20W

Wavelenght range

 Automatic by 12 positions filter-wheel;

 6 standar interference filters : 340, 405, 505, 546, 578 dan 620 nm;

 6 positions for optional filters

Photometric Range

 -0.1 to 2.3 Absorbance

Detector

 Photo diode (320-1000 nm).

Blanking

 Automatic zero setting

Operator interface

 Membrame keyboard, for direct function and alpha numeric entry;

 Optional external keyboard;

 High contrast graphical LCD display

 Real time clock, 24 hours system

Languages

 Other languages on request

Measurements Procedures

 Kinetic, with linearity check;

 Kinetic, with linearity check and sample slope blank;

 Two point kinetic, with or without reagent blank;

 End point, with or without reagent blank;

 Bichromatic end point; , with or without reagent blank;

(78)

Multiple testing

 Up to nine replicates;

 Means, SD and CV.

Measuring time

 Programmable, 2 to 998 second for kinetic and two point type of test;

 For end point fixed at 2 seconds Delay time

 Programmable, 0 to 999 seconds

Method Parameter Setting

 Factor, one-point, two point and multiple point;

 Automatic on standard (linear mode);

 Automatic on up to 10 standard (non linear mode).

Quality Control

 Two control per test;

 QC suvey of last 30 control measurements;

 Levey Jenning plot;

Flow cell

 Metal, with quartz windows;

(79)

Temperature control

 By means of peltier elements;

 Fixed temperature at 370C

Aspiration system

 Internal pump of bellows type; driven by stepper motor

 Back panel connection for waste;

 Aspiration volume programmable.

Printer

 Matrix printer

 Normal paper;

 External printer port available. Signal interface

 Centronics type parallel port;

 RS 232 type serial port;

 PS 2 type port for external keyboard

Quality

 UL

 CE

 CB cetificate

Power Requirements

 100-240 VAC nominal, 50/60 Hz;

 Battery back-up to retain data.

Dimensions

 40 x 17 x 36,5 cm (W x H x D)

Weight

Gambar

Gambar  Halaman
Gambar 2.1. Struktur kolesterol.
Gambar 4.1. Grafik kadar kolesterol darah marmot (mg/dl) vs Waktu (hari) pada
Tabel 4.2. Rata – rata kolesterol darah marmot setelah pemberian obat pada hari
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk menilai efek ekstrak etanol daun kemuning terhadap peningkatan kadar HDL tikus Wistar jantan agar daun kemuning ini dapat

Ekstrak etanol daun kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) berefek menurunkan kadar Low- density Lipoprotein (LDL) darah tikus putih Wistar

Kristal hasil isolasi senyawa flavonoida dari tumbuhan kemuning (Murraya paniculata (L) Jack diperoleh kristal kuning berbentuk jarum sebanyak 99.6 mg dengan titik lebur 197 – 198

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etil asetat daun binahong terhadap kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia,

Pemberian ekstrak daun kemuning dalam air minum pada puyuh layer malon tidak mempengaruhi kualitas fisik telur (persentase bobot kuning telur, persentase

Hasil yang diperoreh men'nJ'uktan bahwa ekstrak air daun Kenuning (Munala ptiaiata (L) Jack ) dengan kadar 50 yo,75 o/o, dan l0O % rrralrr;.o menunmksn kelebihan kolesterol

Terdapat pengaruh pemberian infusa daun kemuning yang signifikan terhadap kadar kolesterol darah tikus pada dosis infusa daun kemuning 5cc dengan nilai

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etil asetat daun binahong terhadap kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia,