BAHAN DISKUSI
PENDAHULUAN
Kesempurnaan hanya milik-Nya, tapi meraih kesempurnaan tidak ada salahnya, begitupun tidak ada daya dukung biarlah Dia yang mendukungnya
Banyak peristiwa dan kejadian di dunia ini, yang membuat kita cerdas secara akseleratif. Salah satu contoh fenomena krisis global telah menaikan ekonomi syari’ah diatas angin; persoalannya adalah apakah sub-sistem ini bisa berjalan pada system yang ada?
Menurut Syari’ati kita harus “keluar dari penjara” dan menurut Abdul Qadir Djaelani “kita harus keluar dari jendela”. Keluar dari mainstrem lingkungan system sebab dengan seperti itu akan terlihat haq dan bathil.
Belajar akan kebutuhan akan menjadi efektif dibanding belajar karena ingin tahu.
Ingin tahu akan menjadi pengetahuan an-sich, belajar karena kebutuhan akan menjadi dialogis, sistematis dan radikal.
Mengapa kita harus menempuh kecerdasan akseleratif? Sebab kita dengan mereka terjadi ketidak seimbangan.
Jika kita tidak menempuh hal itu, maka sejarah akan mencatat kita sebagai pecundang, kita ingin tercatat sebagai pemenang bukan pecundang.
Kita mafhum secara filosofis makna pemenang dan pecundang, disadari atau tidak saat ini, apakah kita pemenang atau pecundang dimata mereka?
Sistem nilai kita adalah sebuah doktrin yang segar, kitanya yang layu, P3 kita adalah dinamis, kitanya yang statis
Melihat kemandegan dan kejumudan, kemudian mengannggap diri kita kurang sabar adalah sebuah kekeliruan, kita butuh kenyataan bukan pernyataan
MN telah membangun otoritas dan kepentingan Nubuwwah, ia harus mampu mengalirkan hingga kesamudra dalam kejernihannya.
Mujahid yang baik adalah yang mampu mempekerjakan Iblis secara maksimal
Ketika SN-P3 disosialisasikan, out-putnya wah, maka Iblis rapat paripurna untuk menghadapi kekuatan dari Mujahid itu, dari kopral hingga Jendral disiapkan ditapal batas, tapi ditunggu-tunggu tidak muncul juga kekuatan itu, sehingga pasukan Iblis santai lagi.
Dari pendahuluan diatas maka ada beberapa poin penting yang akan dijadikan bahan diskusi kita kali ini :