• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kaji Banding Kemampuan Bertahan Terhadap Proses Pembekuan Spermatozoa Sapi Simmental, Limousin dan Fries Holstein

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kaji Banding Kemampuan Bertahan Terhadap Proses Pembekuan Spermatozoa Sapi Simmental, Limousin dan Fries Holstein"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

Freezability Comparison of Simmental, Limousin and Fries Holstein Spermatozoa Nugraha, F. W. Komariah dan Arifiantini, R. I

The purpose of this research was to study and to compare the freezability of Simmental, Limousin and Fries Holstein (FH) frozen semen from Lembang Artificial Insemination Centre, Bandung, West Java. In total 24 bulls were used in this study consist of 8 Simmental, 8 Limousin and 8 FH, ages 4 years old with a weight of 800-900 kg. Secondary data were taken from the period of November to December 2010. The data was collected from raw semen, before freezing, post thawing motility and longevity. The results showed that spermatozoa motility of raw and before freezing semen from Simmental significantly higher (P<0,05) than Limousin and FH bull. But there were no difference (P>0,05) between post thawing motility, longevity and value of recovery rate among three breeds.

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Konsumsi makanan secara global akan meningkat 40-50 persen pada tahun

2050 (Food and Agriculture Organization, 2010). Peningkatan konsumsi makanan

khususnya akan lebih cepat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut informasi Badan Pusat Statistik (2010) pertambahan penduduk Indonesia

rata-rata 1,25% per tahun, jumlah penduduk yang tercatat di badan pusat statistik

tahun 2000 yaitu 206.264.595 jiwa dan tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa. Jumlah

penduduk yang terus bertambah harus diimbangi dengan peningkatan ketahanan

pangan berupa kebutuhan protein hewani dengan cara pembangunan sektor pertanian

yang berkelanjutan.

Pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan, tidak hanya berbicara

tentang perkembangan mengenai sisi pasok tetapi juga mengedepankan aspek

permintaan yang terkait pola konsumsi. Bibit sapi yang berpotensi yaitu Simmental,

Limousin dan Fries Holstein (FH) karena memiliki pertumbuhan bobot badan harian

yang tinggi dan dapat beradaptasi dengan baik.

Berdasarkan road map pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014, ditargetkan penyediaan daging sapi produksi lokal sebesar 420,3 ribu ton (90%) dan

dari impor sapi bakalan (sapi potong dan sapi perah) sebesar 46,6 ribu ton (10%)

(Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2012). Said (2011)

menyatakan sampai saat ini Indonesia masih mengimpor sapi bakalan dan daging

sapi sekitar 30% dari kebutuhan, oleh sebab itu untuk meningkatkan populasi dan

mutu genetik ternak salah satu cara dapat dilakukan aplikasi teknologi reproduksi

inseminasi buatan (IB).

Inseminasi Buatan merupakan cara yang lebih efisien dan efektif dalam

penggunaan semen pejantan untuk membuahi sapi, sehingga dapat meningkatkan dan

memperbaiki populasi sapi di Indonesia. Salah satu kelebihan program IB adalah

daya guna seekor pejantan yang genetiknya unggul dapat dimanfaatkan semaksimal

mungkin, namun IB juga memiliki kekurangan yaitu diperlukan pelaksana yang

terlatih baik dan terampil untuk melaksanakan penampungan, penilaian,

(3)

menggunakan semen beku. Semen beku atau frozen semen adalah semen yang

disimpan pada suhu di bawah titik beku (-79 °C sampai -196 °C). Untuk mengatasi

ketergantungan pada semen beku impor, tahun 1976 didirikan Balai Inseminasi

Buatan (BIB) Lembang (Jawa Barat) dan BIB Singosari, kedua BIB tersebut

merupakan BIB nasional yang melayani kebutuhan semen beku di Indonesia.

Balai Inseminasi Buatan Lembang bergerak dalam usaha memproduksi

semen beku bibit unggul. Semen beku memiliki keunggulan yaitu dapat digunakan

dalam jangka waktu yang lama, namun memiliki kelemahan yaitu kualitas semen

dapat menurun setelah semen diencerkan, dikarenakan selama proses pembekuan

spermatozoa melewati berbagai suhu ekstrim yang dapat menurunkan kualitas semen

(Nebel, 2007). Menurut Srianto et al. (2009) volume semen, konsentrasi dan motilitas spermartozoa yang dihasilkan oleh setiap sapi pejantan yang digunakan

untuk proses produksi semen beku berbeda. Selain kualitas semen segar, bangsa sapi

juga berpengaruh terhadap kualitas semen beku yang dihasilkan,hal ini terbukti dari

perbedaan nilai recovery rate (Garner dan Hafez, 2000).

Recovery Rate adalah kemampuan pemulihan spermatozoa setelah pembekuan dengan cara membandingkan persentase motilitas spermatozoa pada

semen segar dengan post thawing motility. Penilaian Recovery Rate (RR) pada semen

beku sapi Simmental, Limousin dan FH sangat dibutuhkan untuk mengetahui

kemampuan spermatozoa dari masing-masing bangsa terhadap proses pembekuan

(freezability). Tingkat keberhasilan IB yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan

efisiensi produksi, sehingga dapat memenuhi permintaan kebutuhan protein hewani

di Indonesia.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan membandingkan penurunan

kualitas spermatozoa semen beku sapi Simmental, Limousin dan FH di Balai

(4)

TINJAUAN PUSTAKA Bangsa Sapi

Sapi adalah hewan sosial yang hidupnya berkelompok (Bouissou dan Boissy

2005), sedangkan bangsa sapi adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik

tertentu yang sama. Bangsa Taurus (Simmental, Limousin dan FH) memiliki

karakteristik performans yang berbeda sesuai dengan genetiknya (Kuswahyuni,

2008). Karakteristik tersebut dapat dibedakan dari ternak lainnya meskipun masih

dalam spesies yang sama. Seluruh sapi berpotensi dijadikan sebagai ternak bibit yang

didasarkan pada berbagai faktor.

Sapi asli Indonesia yang meliputi sapi Bali, sapi Madura, sapi Pesisir, sapi

Aceh dan sapi Hissar, sedangkan kelompok sapi persilangan yaitu bangsa sapi impor

yang meliputi sapi Simmental, sapi Limousin, sapi Angus, sapi Brahman dan sapi

Brangus. Keunggulan yang dimiliki oleh sapi Indonesia pada umumnya adalah daya

adaptasi dan tingkat kesuburan tinggi, persentase karkas lebih tinggi, dapat

digunakan sebagai tenaga kerja dan daya tahan terhadap caplak. Karmita et al. (2001) menyatakan khususnya sapi Bali memiliki potensi ekonomi yang tinggi

dibandingkan sapi Indonesia lainnya. Adapun sapi persilangan biasanya unggul

dalam hal pertumbuhan bobot badan yang tinggi dan mempunyai kualitas daging

lebih baik.

Sapi merupakan ternak potensial untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu

di Indonesia. Prajogo et al. (2002) menyatakan ternak sapi perah yang potensial di Indonesia adalah sapi FH, sedangkan ternak sapi potong yang potensial adalah sapi

Limousin dan Simmental. Program peningkatan populasi sapi potong dapat

dilakukan melalui pengendalian pemotongan ternak sapi produktif, pengendalian

penyakit reproduksi dan penyediaan bibit ternak sapi bermutu (Sodiq, 2006). Faktor

yang menentukan efisiensi maksimum produksi susu sapi perah adalah berapa

banyak liter susu yang diproduksi per hari sepanjang hidupnya, sedangkan untuk sapi

tipe pedaging faktor yang menentukan adalah kecepatan tumbuh setiap hari dan dari

(5)

Sapi Fries Holstein

Sapi FH merupakan sapi tipe perah yang banyak terdapat di Indonesia. Sapi

perah ini berasal dari daerah subtropis provinsi Belanda Utara dan daerah Friesland

Barat (Philips, 2001). Sapi ini dikembangkan dari nenek moyang sapi liar Bos

(Taurus) Typicus Primigineus. Sapi FH mempunyai ciri-ciri kepala panjangnya sedang, mulut lebar dengan hidung terbuka lebar, rahang kuat, dahi lebar, leher

panjang dan warna tubuh belang hitam putih. Hasil penelitian di Thailand, yang juga

negara tropis menunjukan bahwa sapi-sapi perah subtropis dapat beraklimatisasi

dengan baik pada suhu dibawah 18 ºC dan kelembaban di atas 55% (Siregar, 2003).

Sapi FH dapat dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan dimana bobot badannya

mencapai sekitar 400 kg, dan lama bunting sapi FH umumnya 9 bulan (Oklahoma

State University, 2000).

Populasi sapi perah di Indonesia menunjukan perkembangan, selama kurun

waktu 1970 hingga 2009 dari 52.000 ekor menjadi 500.000 ekor. Tahun 1994

produksi susu tercatat 426.727 ton dan meningkat menjadi 750.000 ton pada tahun

2009 (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2009). Philips (2001)

menyatakan FH adalah sapi yang intensif dalam system produksi susu di dunia, di Inggris 90% produsen susu menggunakan sapi ini karena produksi susu sapi perah ini

dapat mencapai 7342 kg/tahun (Talib et al., 2003). Faktor yang menyebabkan belum

terpenuhinya kriteria mutu susu segar di Indonesia adalah kebutuhan jumlah dan

jenis pakan yang tidak terpenuhi, penerapan sanitasi dan higiene yang tidak benar

dalam proses pemeliharaan, pemerahan serta kebersihan kandang yang kurang

memadai (Mirdhayati et al., 2008). Imbangan rumput lapangan dan konsentrat 70 :

30 merupakan ransum terbaik bila ditujukan untuk meningkatkan kadar lemak susu,

kadar protein dan bahan kering tanpa lemak (Suherman, 2005).

Sapi Simmental

Sapi Simmental adalah bangsa Bos Taurus berasal dari lembah Simme di Swiss, sapi ini sudah banyak menyebar di daerah Eropa Tengah dan Eropa Timur

(Philips, 2001). Setengah dari ternak di Swiss berasal dari sapi Simmental dan

merupakan jenis ternak sapi yang paling populer di Eropa. Sapi Simmental memiliki

wajah putih dengan tubuh gelap, memiliki tubuh yang besar (sapi jantan dewasa

(6)

sekitar 658-816 kg) dan dapat beradaptasi dalam berbagai iklim. Simmental memiliki

pertumbuhan yang sangat cepat, sekitar 3 pon (1,4 kg) per hari (Gillespie dan

Flanders, 2009). Sapi ini bukan hanya sapi dwiguna, tetapi triguna karena dapat

berfungsi sebagai sapi pekerja, meskipun Simmental digolongkan dalam tipe triguna,

tetapi pemanfaatan sapi ini umumnya sebagai ternak pedaging karena memiliki

pertumbuhan otot yang sangat baik, menghasilkan karkas yang tinggi dan sedikit

lemak (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2006).

Sapi Limousin

Sapi Limousin berasal dari Perancis keturunan dari Bos Taurus. Sapi Limousin memiliki bulu warna mulai dari kuning sampai merah keemasan dan

tanduknya berwarna cerah dengan tanduk jantan tumbuh keluar dan melengkung.

Kepala Limousin adalah kecil dan pendek dengan dahi yang lebar dan leher yang

pendek. Sapi jantan dewasa bobot badan 907-998 kg dan bobot badan sapi betina

dewasa 544-635 kg. Sapi Limousin dikenal untuk efektivitas mereka dalam efisiensi

pakan ternak, karkas yang tinggi dan besarnya daerah loin (Gillespie dan Flanders,

2009).

Sapi potong ini termasuk jenis yang berukuran tubuh besar, bentuk tubuh

panjang, mempunyai perototan bagus dan kandungan lemaknya sedikit,

menghasilkan 63% daging dengan tekstur yang baik, 16% lemak dan 21% tulang dari

bobot karkas, sedangkan pada sapi jenis lain daging yang dihasilkan 43%, lemak

44% dan tulang 13%. Secara genetik Limousin merupakan sapi tipe besar,

mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah

konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang

cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur (Gillespie dan

Flanders, 2009).

Inseminasi Buatan

Aplikasi teknologi IB menggunakan semen beku telah dilakukan di Indonesia

sejak tahun 1972 menggunakan semen beku hasil impor. Produksi semen beku di

Indonesia telah dimulai sejak tahun 1976 di BIB Lembang (Jawa Barat) dan

dilanjutkan di Singosari (JawaTimur) pada tahun 1982 (Feradis, 2010a).

(7)

a. Mendapatkan genetik yang diinginkan jadi dapat disesuaikan dengan

kebutuhan para peternak dan dapat memanfaatkan pejantan yang genetik

unggul dengan semaksimal mungkin.

b. Penghematan biaya, tidak perlu memelihara pejantan yang belum tentu

merupakan pejantan yang terbaik untuk diternakkan.

c. Lebih aman, penggunaan IB dapat menghindari penggunaan hanya satu

pejantan dalam persilangan dengan banyak betina di dalam suatu peternakan.

d. Fleksibel, untuk mendapatkan semen dari pejantan yang berkualitas baik

tidak perlu membawa pejantan ke lokasi, hanya membawa semen saja.

Semen

Semen adalah sekresi kelamin jantan yang secara normal diejakulasikan ke

dalam saluran kelamin betina saat kopulasi yang terdiri atas plasma semen dan

spermatozoa. Semen normal akan mengandung sejumlah spermatozoa yang bergerak

progresif, mati, hidup tetapi immotil atau motilitasnya lemah (Campbell et al., 2003a). Ejakulat normal semen sapi berwarna krem sampai putih, semen dengan

konsentrasi yang rendah akan terlihat bening, tembus cahaya dan volume semen

berkisar antara 6-8 ml (Garner dan Hafez, 2000).

Karakteristik semen sapi dapat dilihat secara makroskopis dan mikroskopis.

Penilaian secara makroskopis meliputi warna, konsistensi, volume dan pH. Derajat

keasaman (pH) normal untuk semen sapi berkisar antara 6,5-6,9. Menurut Feradis

(2010b) semen sapi yang normal memiliki konsistensi dari sedang sampai kental.

Campbell et al. (2003b) menyatakan bahwa konsentrasi spermatozoa pada sapi jantan dewasa berkisar antara 800-1200 juta/ml semen. Pejantan dianggap sudah

memuaskan jika memiliki konsentrasi spermatozoa >500 juta/ml dengan nilai

motilitas spermatozoa sapi antara 70-80% (Garner dan Hafez, 2000).

Pengamatan mikroskopis yang harus diperhatikan adalah morfologi

(normalitas) dari spermatozoa. Spermatozoa dalam suatu kelompok mempunyai

kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke satu arah yang menyerupai

gelombang-gelombang yang tebal dan tipis, bergerak cepat atau lamban tergantung

dari konsentrasi spermatozoa yang hidup di dalamnya. Gerakan massa semen yang

memiliki kualitas baik (++), bila terlihat gelombang-gelombang kecil, tipis, jarang,

(8)

terlihat gelombang-gelombang besar, banyak, gelap, tebal dan aktif (Feradis, 2010b).

Jumlah volume, konsentrasi dan konsistensi dari seekor pejantan sangat bervariasi

hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kondisi masing-masing individu,

seperti kualitas organ reproduksi, umur dan kondisi manajemen peternakan (Gordon,

2004). Persentase motilitas spermatozoa mempunyai korelasi dengan fertilitas,

sehingga motilitas dapat menjadi parameter kualitas semen yang utama (Tappa et al., 2007). Pengujian konsentrasi spermatozoa dan morfologi spermatozoa merupakan dasar hubungan kondisi spermatozoa yang dapat menentukan tingkat

abnormal dan dapat berpengaruh pada fertilitas ternak (Januskaukas dan Zilinskas,

2002).

Spermatogenesis

Spermatozoa dibentuk di dalam testes melalui proses yang disebut

spermatogenesis, tetapi mengalami pematangan lebih lanjut di dalam epididimis

dimana spermatozoa disimpan sampai saat ejakulasi.

Tahapan spermatogenesis meliputi:

a. pembentukan spermatosit primer dan sekunder dari spermatogonia tipe A

b. spermiogenesis atau metamorfosis spermatozoa dari spermatid.

Spermatositogenesis dikendalikan oleh FSH dari adenohypophysa dan

spermiogenesis berada di bawah pengaruh LH dan testosteron. Proses

spermatogenesis pada sel-sel kelamin jantan berkembang secara progresif dan

bermigrasi dari membrana basalis ke arah lumen tubuli seminiferi.

a. Fase I (15-17 hari)

Pembelahan mitosis spermatogonia tipe A menjadi dua anak sel yaitu

spermatogonium dorman yang menjamin kontinuitas spermatogonia dan satu

spermatogonium aktif yang membagi diri empat kali hingga akhirnya

membentuk 16 spermatosit primer (2n).

b. Fase II (kurang lebih 15 hari)

Pembelahan meiosis dari spermatosit primer (2n) menjadi spermatosit

sekunder (n)

c. Fase III (beberapa jam)

Pembelahan spermatosit sekunder menjadi spermatid

(9)

Metamorfosis spermatosit menjadi spermatozoa tanpa pembelahan sel. Proses

spermatogenesis disini meliputi perombakan radikal bentuk sel dimana

sebagian besar sitoplasma termasuk asam ribo nukleat (ARN), air dan

glikogen terlepas atau menghilang (Nuryadi, 2001).

Spermatid adalah suatu sel bundar yang relatif besar sedangkan spermatozoa

merupakan suatu sel langsing memanjang yang kompak dan motil, dan terdiri dari

kepala dan ekor. Aparat golgi dari spermatid membentuk tudung anterior atau

akrosom spermatozoa dan mitokondria dari sitoplasma berkumpul pada ekor yang

bertumbuh keluar sentriol (Feradis 2010a).

Secara teoritis pada sapi 16 spermatosit primer dan 64 spermatozoa

berkembang dari spermatogonia tipe A, akan tetapi selama meiosis terjadi kehilangan

sel, sekitar 25% yang ditandai oleh adanya inti-inti piknotis. Spermatozoa akhirnya

dilepaskan dari sitoplasma sel-sel sertoli dan memasuki lumen tubuli seminiferi.

Kurang lebih 15 hari setelah terbentuk, spermatogonia dorman mulai membagi diri

dengan cara yang sama dan proses ini berulang secara terus menerus. Fase I, II dan

III disebut spermatositogenesis dan fase IV disebut spermiogenesis. Spermatozoa

sapi memerlukan kira-kira 10 hari untuk melewati epididimis, karena

spermatogenesis pada sapi berlangsung selama 50 sampai 62 hari maka waktu yang

dibutuhkan dari spermatogonia tipe A sampai spermatozoa yang diejakulasikan pada

sapi kira-kira 60 sampai 70 hari (Feradis 2010a).

Spermatozoa

Spermatozoa terbagi atas kepala, akrosom dan ekor. Kepala spermatozoa

umumnya berbentuk oval, datar dan inti mengandung kromatin yang kompak. Inti

spermatozoa terdiri deoksiribonukleat acid (DNA) kompleks yang merupakan

protein dasar disebut dengan protamines spermatozoa (Ax et al., 2000)

Bagian ujung anterior inti spermatozoa di lindungi oleh kantong membran

berlapis ganda dan tipis yang disebut akrosom. Akrosom mengandung enzim

akrosin, hialuronidase dan enzim hidrolitik lainnya yang akan mempengaruhi proses

fertilisasi. Ekor spermatozoa terdiri atas bagian leher, tengah, utama dan ujung. Ekor

spermatozoa mengandung axonema yang ditutupi oleh membran plasma, dimana

axonema tersebut bertanggung jawab terhadap motilitas spermatozoa. Komponen

(10)

unsur pokok inorganik dari spermatozoa adalah phosphor, nitrogen dan sulfur

(Garner dan Hafez, 2000).

Pengencer Semen

Media yang digunakan untuk pengenceran semen tidak hanya menambah

volume tetapi juga dapat mempertahankan kelangsungan dan lama hidup dari

spermatozoa dalam jangka waktu tertentu. Tujuan utama pengenceran semen adalah

untuk memperbanyak volume semen sehingga menambah jumlah betina yang akan

dikawinkan (Campbell et al., 2003b) dan dilakukan untuk menjamin kebutuhan fisik

dan kimiawi spermatozoa (Nuryadi, 2001).

Bahan pengencer semen biasanya menggunakan kuning telur, karena

mengandung lipoprotein dan lesitin yang berfungsi untuk melindungi dan

mempertahankan integritas selubung lipoprotein spermatozoa (Gordon, 2004). Aku

et al. (2007) menyatakan lesitin adalah campuran phosfatida dan senyawa-senyawa lemak yang meliputi Phosphatidil choline, phosphatidil anolamin dan phosphatidil

inositol yang merupakan bahan penyusun alami pada hewan maupun tanaman.

Zat pelindung yang sering digunakan untuk mempertahankan spermatozoa

dalam jangka waktu yang lama dan mencegah spermatozoa dari pengaruh buruk

pembekuan semen disebut dengan agen krioprotektan. Salah satu krioprotektan yang

sering ditambahkan dalam pengencer semen adalah gliserol. Penambahan gliserol ke

dalam pengencer bergantung pada jenis pengencer, metode pembekuan dan spesies

hewan yang digunakan (Garner dan Hafez, 2000). Penambahan gliserol dapat

mencegah pembentukan kristal es besar, pembentukan kristal es dapat merusak

organel sel secara mekanis misalnya jika lisosom pecah akan mengeluarkan asam

hidrolase yang dapat mencerna bagian lain dari sel, jika mitokondria rusak maka

rantai oksidasi akan terputus (Gordon, 2004).

Semen Beku

Nebel (2007), menyebutkan semen beku atau frozen semen adalah semen yang disimpan pada suhu di bawah titik beku suhu (-79 °C sampai -196 °C). Salah

satu kerusakan pada spermatozoa selama proses kriopreservasi sampai pencairan

kembali adalah peroksidasi lipid (Waluyo, 2006). Pembekuan semen (kriopreservasi)

(11)

melalui proses pengolahan, pengawetan dan penyimpanan semen sehingga dapat

digunakan pada suatu waktu sesuai dengan kebutuhan.

Pembekuan adalah suatu fenomena pengeringan fisik, pada pembekuan

semen terbentuk kristal-kristal es, terjadi penumpukan elektrolit dan bahan terlarut

lainnya di dalam larutan atau di dalam sel. Pada umumnya masalah pengawetan

semen berkisar pada dua hal, yaitu pengaruh cold shock terhadap sel yang dibekukan

dan perubahan-perubahan intraseluler akibat pengeluaran air yang berhubungan

dengan pembentukan kristal-kristal es. Kedua masalah tersebut akan menyebabkan

kerusakan pada spermatozoa. Menurut Gao dan Crister (2000), kerusakan sel selama

proses pembekuan terjadi pada saat sel yang tersuspensi didinginkan hingga

mencapai suhu -15 °C, kristal es mulai terbentuk di ruang ekstraseluler sedangkan sel

itu sendiri tidak ikut membeku, hal ini disebabkan karena membran plasma menahan

perkembangan kristal es di dalam sitoplasma sel. Air yang terdapat di dalam sel

kemudian berdifusi keluar karena meningkatnya konsentrasi cairan ekstraseluler

yang disebabkan oleh membekunya sebagian besar air yang ada di ruang

ekstraseluler.

Komposisi dasar sebagai krioprotektan untuk air mani beku adalah: a)

substansi non-ionik dan ion mempertahankan osmolaritas dan menyediakan kapasitas

buffer, b) sumber lipoprotein untuk mencegah kejutan dingin, seperti kuning telur,

susu atau kedelai (lesitin), c) glukosa atau fruktosa aditif sebagai sumber energi

(12)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu

Penelitian menggunakan data sekunder di Laboratorium Balai Inseminasi

Buatan (BIB) Lembang, Bandung, Jawa Barat. Data penelitian yang digunakan

adalah data sekunder produksi semen November-Desember 2010.

Materi

Sapi-sapi pejantan yang digunakan sudah diseleksi dan mempunyai kualitas

unggul. Jumlah sapi yang digunakan adalah 24 sapi jantan yang terdiri atas 8 ekor

sapi Simmental, 8 ekor sapi Limousin dan 8 ekor sapi FH berumur sekitar 4 tahun,

dengan kisaran bobot badan sapi FH 800±43,4 kg; Limousin 850±40,38 kg dan

Simmental 900±50,85 kg. Materi yang diperoleh pada penelitian ini berupa data

semen segar yaitu warna, volume, konsistensi, konsentrasi, pH, gerakan massa, motilitas, before freezing, post thawing motility dan longivitas.

Prosedur Data yang ditabulasikan adalah :

1. Semen segar (warna, volume, konsistensi, pH, gerakan massa, motilitas

spermatozoa)

2. Before freezing

3. Post thawing motility (PTM) 4. Recovery rate

5. Longivitas (water incubator test)

1. Pemeriksaan Molitilitas Spermatozoa Semen Segar a. Secara Makroskopis

Melihat dan mencatat:

- Volume

- Warna dengan kriteria penilaian (susu, krem, kuning)

- Konsistensi dengan kriteria penilaian (encer, sedang, kental)

- Pemeriksaan pH dengan cara :

a. Nyalakan pH meter

(13)

c. Kalibrasi pH meter dengan merendam elektroda pada larutan pH 4,

pH 7, dan pH 9 lalu tekan tanda “ cal “. Sebelum dan sesudahnya

elektroda harus dalam keadaan bersih

d. Standar deviasi kalibrasi sekitar 0,02

e. kalibrasi berhenti sampai keluar tanda A

f. pH meter siap digunakan

g. Celupkan elektroda pada semen yang akan diuji lalu tekan “ read”

tunggu sampai keluar tanda A

h. Baca nilai pH

I. Matikan pH meter

J. Masukkan elektroda yang sudah bersih pada karet pelindung yang

telah berisa KCL 3 mol/1.

b. Secara Mikroskopis (Gerakan massa)

- Menggunakan mikroskop elektrik dengan pembesaran 4x10

- Memasang kabel fiting ke stop kontak

- Menyiapkan air hangat dalam beaker glass, stick glass, object glass, cover glass dan tisu

- Meletakan object glass, cover glass diatas warmer slide dan meneteskan

semen yang diperiksa dengan menggunakan stick glass

- Melihat dibawah mikroskop sambil mengatur jarak lensa dengan objek

yang dilihat sehingga terlihat gerakan massa semen, dengan penilaian

sebagai berikut:

0 : Tidak ada gerakan spermatozoa maupun gerakan massa spermatozoa

+ : Gerakan massa spermatozoa lemah berupa gelombang-gelombang

tipis dan jarang

++ : Gerakan massa spermatozoa berupa gelombang-gelombang tebal,

gelap dan cepat

+++ : Gerakan massa spermatozoa berupa gelombang-gelombang tebal,

gelap dan sangat cepat

Semen segar yang layak diproses adalah semen dengan nilai gerakan

(14)

Pemeriksaan Konsentrasi - Menggunakan spektrofotometer

- Semen diambil dengan pipet scoret sebanyak 0,05 ml dimasukkan ke dalam larutan NaCl 2% 9,95 ml lalu dicampur

- campuran semen dimasukkan ke dalam tabung spektrofotometer yang terlebih dahulu sudah distandarkan dengan NaCl 2 %, lalu jarum petunjuk

menunjukkan angka yang kemudian harus dikonversikan pada tabel

konsentrasi spermatozoa.

Pembuatan bahan pengencer a. Bahan dan peralatan

- Susu skim - Aquabidest - Antibiotika

- Kuning telur - Glukosa - gliserol

- measuring cylinder - pompa penghisap - pipet

- beaker glass - tisu - pinset

- filter paper - timbangan analitik - elektrothermal - stick glass

- glass - thermometer

b. prosedur

- membuat buffer untuk 1000 cc : susu skim 100 g dan aquabidest 960 cc

buffer dipanaskan sampai suhu 90 oC lalu didiamkan selama 12 menit dan

disaring, setelah dingin disimpan di dalam refrigerator

- setelah dingin ditambahkan antibiotika dengan perbandingan 100:1

antibiotika yang digunakan adalah penicillin 3 juta IU dan Streptomycin 3

gram di campur lalu ditambahkan aquabidest sampai volumenya 30 cc

A. membuat bahan pengencer part A (untuk 1000 cc): buffer antibiotika 950 cc

ditambahkan kuning telur 50 cc

B. membuat bahan pengencer part B (untuk 1000 cc)

buffer antibiotika : 770 cc ditambahkan gliserol : 160 cc, kuning telur : 50 cc

(15)

Proses Pengenceran

A. Bahan dan Peralatan

- Incubator - Cool top - Beaker glass

- Timer - Bahan pengencer A dan B

- Measuring cylinder - Label - Air Hangat

Cara kerja

- Semen yang akan diproses dicampur dengan part A yang telah disimpan

di dalam incubator (dalam water jacket) suhu 37 oC dan diberi label (nomor bull), kemudian disimpan dalam cool top yang bersuhu 4 oC selama 35 menit, setelah 35 menit water jacket dilepaskan.

- 50 menit kemudian dilakukan dengan part A yang telah disiapkan

sebelumnya di dalam cool top

- Pencampuran part B dilakukan sebanyak 4 kali setiap 15 menit di dalam

cool top (proses glycerolisasi)

- Pencampuran ini akan diikuti dengan proses pengisian/filling dan sealing

ke dalam straw yang telah diberi label, pelaksanaan ini dilakukan 2,5 jam

setelah pencampuran dengan part B terakhir

Proses Pembekuan Cara kerja :

Straw yang sudah berisi semen disusun di rak pembekuan dan hitung

jumlahnya, kemudian dibekukan diatas permukaan uap N2 cair di dalam

storage container dengan temperatur -110 °C sampai dengan -120 °C selama

5 menit. Setelah 5 menit straw dimasukkan ke dalam goblet dengan kapasitas

disesuaikan dengan jumlah straw, lalu disimpan di dalam container yang

terendam N2cair dengan temperatur -196 °C.

Penyimpanan Semen Beku Cara Kerja :

a. Semen beku disimpan pada storage container yang di dalamnya terdapat beberapa canister, dimana setiap canister terdapat 2 - 3 goblet dan setiap

(16)

menyimpan sekitar 150,000 - 350,000 dosis mini straw dalam rendaman

210 - 800 liter nitrogen cair

b. Untuk menjaga volume N2 yang hilang karena penguapan, maka setiap hari

ditambahkan 30 liter N2 untuk setiap storage container

Pengujian Before freezing

Setelah equilibrasi dalam cool top, sebelum dibekukan sample straw dievaluasi motilitasnya. Straw dihangatkan kemudian digunting dikedua sumbatnya

dan semen dikeluarkan ke dalam tabung tes1 tetes semen di simpan kedalam object

glass kemudian ditutup dengan cover glass dan dilihat dibawah mikroskop pembesaran 400 X

Pengujian Post Thawing Motility

a. Meyiapkan tabung tes dan simpan di dalam dry/water incubator dengan temperatur 37 °C.

b. Ambil 2 dosis straw semen beku, thawing pada air hangat dengan temperatur 37 °C selama 15 detik, keringkan dengan kertas tisu kemudian

potong kedua ujung straw dengan gunting straw.

c. Meneteskan semen yang telah cair ke dalam tabung yang telah disiapkan,

ditutup dengan penutup karet dan telah diberi nomor.

d. Dengan menggunakan stick glass homogenkan kemudian teteskan semen ke atas object glass yang telah disiapkan di atas warmer stage lalu ditutup

dengan cover glass.

e. Dilihat dibawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 40

f. Persentase spermatozoa yang motil progresif dinilai dari lima lapang

pandang penilaian antara 0 -100 %.

g. Melihat gerakan individu spermatozoa, dengan nilai sebagai berikut :

0 : Tidak ada gerakan individu spermatozoa

1 : Gerakan individu spermatozoa lambat

2 : Gerakan indivdu spermatozoa sedang

3 : Gerakan individu spermatozoa cepat

(17)

Longivitas (Water Incubator Test)

a. Setelah 4 jam ambil tabung dari dalam water/dry incubator dan buka sumbatnya

b. Dengan menggunakan stick glass homogenkan kemudian teteskan semen ke atas object glass yang telah disiapkan diatas warmer stage lalu tutup dengan cover glass

c. Melihat gerakan individu spermatozoa dibawah mikroskop dengan

pembesaran 10 x 10 dan menentukan motilitasnya dan gerakan individu

spermatozoa. Standar minimal 5-10 % gerakan individu 1.

Recovery Rate (RR)

Motilitas spermatozoa setelah thawing

RR = x 100%

Motilitas spermatozoa pada semen segar

(Garner dan Hafez, 2000)

Rancangan dan Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan

Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan (bangsa sapi yang berbeda) dan empat

kali ulangan pada masing-masing bangsa sapi. Seluruh data yang diproleh diolah

menggunakan software Statistix 8, data disajikan dalam bentuk rataan dan simpangan

baku. Pengaruh perlakuan yang nyata pada penelitian ini dilanjutkan dengan uji

lanjut yaitu uji Tukey (Steel dan Torrie, 1991).

Model matematisnya adalah:

Keterangan:

Yij = Nilai motilitas spermatozoa dari sapi ke-i yang mendapat nilai perlakuan

ke-j

µ = Nilai rata-rata umum

Pi = Pengaruh perlakuan ke-i

(18)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Semen adalah cairan yang mengandung suspensi sel spermatozoa, (gamet

jantan) dan sekresi dari organ aksesori saluran reproduksi jantan (Garner dan Hafez,

2000). Menurut Feradis (2010a) semen adalah sekresi kelamin pejantan yang secara

normal diejakulasikan ke dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi, tetapi

dapat ditampung untuk keperluan IB. Pemeriksaan semen dapat memberikan

informasi tentang kesuburan pejantan dan indikatornya adalah meningkatnya angka

konsepsi dari betina yang dikawinkan atau diinseminasikan dengan semen pejantan,

sehingga bertambahnya jumlah populasi ternak.

Evaluasi Semen Segar

Semen segar sapi yang telah ditampung harus dilakukan evaluasi. Tujuan

evaluasi semen adalah untuk mengetahui kelayakan semen untuk diproses lebih

lanjut, menentukan volume pengencer yang harus ditambahkan dan untuk

mengetahui jumlah straw yang dapat dihasilkan dalam proses pembekuan semen

(Feradis, 2010a). Pemeriksaan semen segar meliputi makroskopis dan mikroskopis.

Hasil evaluasi semen secara makroskopis meliputi warna, volume (ml), konsistensi

dan pH, sedangkan mikroskopis adalah gerakan massa, motilitas (%) dan konsentrasi

(jt/ml). Data nilai motilitas semen segar yang diperoleh selama penelitian dari sapi

Limousin, Simmental dan FH disajikan pada Tabel 1.

Menurut Ax et al., (2000) ejakulat normal semen sapi berwarna krem susu sampai putih susu, semen dengan konsentrasi yang rendah akan terlihat bening dan

tembus cahaya. Semen sapi bisa saja berwarna kuning disebabkan banyaknya pigmen

riboflavin dan pigmen ini tidak mempengaruhi kesuburan. Pengamatan warna semen

yang diperoleh dari sapi Limousin, Simmental dan FH yaitu putih susu.

Volume semen merupakan jumlah semen setiap ejakulasi. Hasil penelitian

menunjukkan kualitas semen secara makroskopis cukup bagus dengan volume semen

berkisar antara 6-8 ml hasil volume semen yang didapatkan masih dalam kisaran

normal karena hasil yang diperoleh sesuai dengan pendapat Garner dan Hafez (2000)

volume semen sapi setiap satu kali ejakulasi berkisar antara 5-8 ml. Volume rendah

tidak merugikan tetapi apabila disertai konsentrasi yang rendah akan membatasi

(19)

menurunkan jumlah volume semen juga akan menurunkan jumlah spermatozoa (Ball

dan Peters, 2004).

Tabel 1. Rataan Karakteristik Semen Sapi Limousin, Simmental dan Fries Holstein

Karakteristik

Bangsa Sapi

Limmousin Simmental Fries Holstein Makroskopis

Warna Putih susu Putih susu Putih susu

Volume (ml) 7,1±2,4 6,8±1,1 8,8±2,3

Konsistensi Sedang Sedang Sedang

pH 6,50±0,2 6,51±0,2 6,9±0,1

Mikroskopis

Gerakan massa ++ ++ ++

Motilitas (%) 75,3±6,4 80,16±7,8 73,2±5,01

Konsentrasi (jt/ml) 1721,20±332,60 1899,3±254,8 1561,8±312,5

Keterangan : (-) = Buruk (+) = Sedang (++) = Baik (+++) = Sangat Baik

Konsistensi atau derajat kekentalan semen sapi dari ketiga bangsa adalah

konsistensi sedang, semen sapi yang normal memiliki konsistensi dari sedang sampai

kental. Konsistensi semen mempunyai korelasi dengan warna, misalnya semen yang

berwarna krem biasanya konsistensinya pekat atau kental, sedangkan yang warnanya

jernih atau terang biasanya konsistensinya encer (Feradis, 2010a).

Rata-rata pH (derajat keasaman) semen ketiga bangsa sapi yang diperoleh

selama penelitian adalah (6,49-6,54). Nilai ini termasuk normal karena kisaran pH

semen sapi adalah 6,4-7,8 (Garner dan Hafez, 2000). Derajat keasaman memegang

peran yang sangat penting karena mempengaruhi viabilitas spermatozoa.

Ketiga bangsa sapi menunjukkan gerakkan masa spermatozoa yang normal

yaitu positif 2 dengan skala 0-3, sesuai dengan pernyataan (Feradis, 2010b). Nilai ini

termasuk cukup baik mengingat pada semen sapi kisaran normal gerakan massa

adalah ++ sampai dengan +++ (Campbel et al., 2003a). Spermatozoa dalam suatu kelompok mempunyai kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke satu arah

yang menyerupai gelombang-gelombang yang tebal dan tipis, bergerak cepat atau

lamban tergantung dari konsentrasi spermatozoa yang hidup di dalamnya. Gerakan

massa semen yang memiliki kualitas baik (++), bila terlihat gelombang-gelombang

(20)

baik (+++), bila terlihat gelombang-gelombang besar, banyak, gelap, tebal dan aktif

(Feradis, 2010b).

Nilai motilitas spermatozoa semen segar sapi Simmental adalah

80,16±7,80%, nilai ini lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan Limousin dan FH

masing-masing hanya 75,3±6,4 dan 73,2±5,01%. Nilai motilitas spermatozoa dari

ketiga breed tersebut termasuk normal, karena menurut Bearden et al. (2004) nilai motilitas semen sapi antara 70 sampai 80%. Banyak faktor-faktor yang

mempengaruhi perbedaan nilai motilitas spermatozoa seperti perbedaan antar bangsa,

umur, kematangan spermatozoa dan plasma semen (Garner dan Hafez, 2000).

Konsentrasi adalah jumlah sel spermatozoa per milliliter semen. Hasil

pengamatan menunjukkan konsentrasi spermatozoa semen segar yang diperoleh dari

ketiga bangsa sapi tersebut adalah 1561,87 sampai dengan 1899,3 juta/ml.

Konsentrasi spermatozoa ketiga sapi tersebut sangat tinggi, mengingat bahwa

konsentrasi spermatozoa pada sapi jantan dewasa berkisar antara 800-1200 juta/ml

semen (Campbel et al., 2003b). Hal ini disebabkan karena sapi-sapi yang digunakan

pada penelitian ini adalah milik Balai IB yang merupakan hasil seleksi yang sudah

teruji kualitasnya dan dipelihara dengan manajemen yang baik. Jumlah spermatozoa

per unit volume penting untuk mengetahui jumlah bahan pengencer yang

ditambahkan dan berapa jumlah betina yang dapat diinseminasikan (Campbel et al.,

2003b). Tingginya konsentrasi spermatozoa tampak pada warna semen tersebut,

semakin pekat warna semen maka semakin tinggi pula konsentrasinya dan begitu

pula sebaliknya (Feradis, 2010a).

Gordon (2004) menyatakan bahwa warna, jumlah volume, konsentrasi,

konsistensi, gerakan massa, pH dan motilitas spermatozoa semen segar dari seekor

pejantan sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kondisi

masing-masing individu, seperti kualitas organ reproduksi, umur ternak, kondisi

manajemen peternakan, jenis pakan yang diberikan dan bangsa sapi. Hasil

pemeriksaan menunjukan bahwa semen yang diperoleh selama penelitian dari sapi

Limousin, Simmental dan FH berada pada kisaran normal dan dapat dikategorikan

semen yang berkualitas baik sehingga dapat diproses lebih lanjut menjadi semen

(21)

Motilitas Spermatozoa Semen Segar, Before Freezing, Post Thawing Motility, Longivitas dan Recovery Rate

Pemeriksaan motilitas spermatozoa semen segar dilakukan untuk dapat

diproses lebih lanjut yang digunakan sebagai produksi semen beku. Equilibrasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh spermatozoa untuk menyesuaikan diri sebelun

dilakukan pembekuan dilakukan dengan cara menempatkan straw pada temperatur 5

o

C selama empat jam. Berdasarkan hasil penelitian, nilai motilitas spermatozoa

setelah before freezing pada Tabel 2 dan Gambar 1 menunjukkan bahwa sapi Simmental lebih tinggi yaitu 65,16±5,53% dibandingkan sapi Limmousin dan FH

dengan nilai motilitas spermatozoa masing-masing adalah 63,44±3,22 dan

63,12±3,53%.

Post thawing motility (PTM) yaitu pengujian motilitas spermatozoa setelah

dibekukan dengan cara melakukan thawing semen beku pada air hangat dengan temperatur 37 °C selama 30 detik. Motilitas spermatozoa PTM pada ketiga bangsa

sapi tersebut ternyata tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05) dengan nilai PTM

masing-masing adalah Limousin 44,06±3,46; Simmental 44,69±2,98 dan FH

42,97±2,80%.

Tabel 2. Nilai Motilitas Spermatozoa pada Berbagai Tahapan Pembekuan

Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan nyata

(P<0,05)

Recovery rate (RR) adalah kemampuan pemulihan spermatozoa setelah pembekuan dengan membandingkan motilitas spermatozoa semen segar dengan

motilitas spermatozoa setelah thawing (Hafez, 2000). Hasil penelitian ini juga tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05) dengan nilai RR untuk masing-masing sapi

Limousin, Simmental dan FH yaitu 58,87±6,37; 56,27±7,08 dan 58,87±5,31%.

Perlakuan

Peubah

Limousin Simmental Fries Holstein ---%--- Semen segar 75,31±6,47 b 80,16±7,80 a 73,29±5,01 b Before Freezing 63,44±3,22 b 65,16±5,53 a 63,12±3,53 b Post Thawing Motility 44,06±3,46 44,69±2,98 42,97±2,80 Recovery Rate 58,87±6,37 56,27±7,08 58,87±5,31

(22)

Longivitas adalah kemampuan spermatozoa bertahan hidup pada temperatur

tertentu (Hafez, 2000). Pengujian longivitas di BIB Lembang menggunakan teknik

water incubator test. Hasil penelitian juga tidak menunjukan perbedaan longivitas (P>0,05) antara spermatozoa sapi Limousin, Simmental dan FH dengan nilai

masing-masing 13,91±5,34; 13,91±4,35 dan 14,06±5,60%.

Agar penggunaan pejantan yang bebas penyakit dan bermutu genetik tinggi

secara maksimal dapat tercapai dalam program IB, maka daya fertilisasi optimum

spermatozoa harus diawetkan untuk beberapa lama setelah penampungan. Untuk itu

harus dicampur dengan larutan pengencer yang menjamin kebutuhan fisik dan

kimiawinya dan disimpan pada suhu dan kondisi tertentu yang mempertahankan

kehidupan spermatozoa selama waktu yang diinginkan untuk dipakai sesuai dengan

kebutuhan.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kerusakan sel selama proses

pembekuan dan thawing seperti pengaruh peroksidasi lipid pada spermatozoa sehingga dapat menurunkan daya hidup (Bearden et al., 2004). Hafez (2000) menyebutkan untuk menghasilkan semen beku yang berkualitas tinggi, baik dan

terjamin kualitasnya untuk semen yang akan diinseminasikan maka dibutuhkan

bahan pengencer semen yang mampu mempertahankan kualitas spermatozoa selama

proses pembekuan maupun pada saat pengenceran, karena itu bahan pengencer

semen beku harus mengandung sumber nutrisi, buffer, bahan anti cold shock, antibiotik dan krioprotektan yang dapat melindungi spermatozoa selama proses

pembekuan dan thawing. Beberapa karbohidrat yang sederhana seperti glukosa, dapat dipakai sebagai sumber energi bagi spermatozoa. Kuning telur dan air susu

yang mengandung lipoprotein dan lesitin berfungsi melindungi spermatozoa dari

cold shock. Berbagai bahan penyanggah dapat dipakai untuk mempertahankan pH semen, yaitu sitrat, phosfat dan tris. Penisilin dan streptomisin ditambahkan dalam

pengencer semen untuk penghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan untuk

proses pembekuan perlu ditambahkan gliserol untuk melindungi spermatozoa

terhadap efek letal pembekuan (Feradis, 2010a).

Hasil dari analisis statistik sapi Simmental memiliki nilai motilitas

(23)

mempengaruhi kualitas semen yang dihasilkan, hasil yang didapat sesuai dengan

pernyataan Garner dan Hafez (2000) perbedaan antar bangsa juga mempengaruhi

kualitas semen yang dihasilkan dan Srianto et al. (2009) menyebutkan bahwa jumlah

volume, konsentrasi dan motilitas spermatozoa yang dihasilkan oleh tiap-tiap sapi

pejantan yang digunakan untuk proses produksi semen beku berbeda. Perbedaan ini

bisa saja disebabkan oleh genetik bangsa sapi Simmental yang lebih baik.

Motilitas spermatozoa setelah thawing, recovery rate dan longivitas pada ketiga bangsa sapi tersebut tidak menunjukan perbedaan (P>0,05) diduga karena

jenis pengencer yang digunakan dan pemberian pakan yang diberikan sama untuk

ketiga jenis tersebut sama, hasil yang didapat dari penelitian ini berbeda dari hasil

penelitian Arifiantini et al. (2005) motilitas spermatozoa setelah thawing pada sapi FH dengan menggunakan pengencer tris, asam sitrat, laktosa dan raffinosa yaitu

52,09±7,07%, sedangkan pada penelitian ini menggunakan susu skim dan glukosa,

seperti yang dinyatakan Paulenz et al. (2002) bahwa jenis pengencer semen sangat bervariasi dan masing-masing memiliki keistimewaan. Kemungkinan lain juga dapat

dikarenakan pengujian lama waktu longivitas yang sama yaitu 4 jam pada suhu 37

o

C, sedangkan pada penelitian Arifiantini et al. (2005) diuji cobakan lama waktu longivitas dari 0 jam sampai 9 jam dengan menggunakan pengencer yang

mengandung kacang kedelai pada pengamatan jam ke 4 yaitu 20,81±17,68% dan

yang menggunakan pengencer Tris Raffinose yaitu 10,09±7,07%; sedangkan yang

menggunakan pengencer Tris Fruktosa memiliki nilai longivitas 10,61±8,49%.

Recovery rate yang menggunakan pengencer kacang kedelai 69,56±11,32% tris raffinose 63,48±9,25%, sedangkan tris fruktosa 59,40±1l,24%. Hasil penelitian

yang dibandingkan dengan penelitian Arifiantini et al. (2004) dengan menggunakan

pengencer berbeda dan pengamatan lama waktu longivitas yang berbeda sangat

(24)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Motilitas spermatozoa semen segar dan before freezing sapi Simmental lebih

tinggi daripada sapi Limousin dan FH, tidak ada perbedaan post thawing motility, recovery rate dan longivitas spermatozoa pada ketiga bangsa tersebut.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh masing-masing

individu ternak untuk dapat melihat dan menseleksi lebih lanjut kualitas semen dari

(25)

KAJI BANDING KEMAMPUAN BERTAHAN TERHADAP PROSES

PEMBEKUAN SPERMATOZOA SAPI SIMMENTAL,

LIMOUSIN DAN FRIES HOLSTEIN

SKRIPSI

FACHRI WIDYA NUGRAHA

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(26)

KAJI BANDING KEMAMPUAN BERTAHAN TERHADAP PROSES

PEMBEKUAN SPERMATOZOA SAPI SIMMENTAL,

LIMOUSIN DAN FRIES HOLSTEIN

SKRIPSI

FACHRI WIDYA NUGRAHA

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(27)

RINGKASAN

Fachri Widya Nugraha. D14070239. 2012. Kaji Banding Kemampuan Bertahan terhadap Proses Pembekuan Spermatozoa Sapi Simmental, Limousin dan Fries Holstein. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Ir. Hj. Komariah, M.Si.

Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Dra. R. Iis Arifiantini, M.Si.

Kebutuhan protein hewani masyarakat akan semakin meningkat, oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan ternak dengan sumberdaya genetik yang cukup tinggi. Salah satu ternak penghasil protein hewani adalah sapi. Permintaan hasil produk ternak ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, jumlah penduduk, sosial budaya, serta selera masyarakat. Permintaan di wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi, karena jumlah penduduk lebih padat dan pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan, oleh karena itu untuk meningkatkan produksi dan kualitas sapi saat ini diterapkan teknologi inseminasi buatan (IB). Salah satu kegiatan dari IB adalah memproduksi semen beku, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas semen beku yang dihasilkan seperti kualitas semen segar, jenis sapi yang digunakan dan proses produksi semen beku. Semen beku memiliki keunggulan yaitu dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama, namun memiliki kelemahan yaitu kualitas semen dapat menurun setelah semen diencerkan, dikarenakan selama proses pembekuan spermatozoa melewati berbagai suhu ekstrim yang dapat menurunkan kualitas semen.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan membandingkan penurunan kualitas spermatozoa semen beku sapi Simmental, Limousin dan Fries Holstein (FH) di Balai Inseminasi Buatan Lembang, Bandung, Jawa Barat. Penelitian menggunakan data sekunder BIB Lembang bulan November sampai Desember 2010. Jumlah sapi yang digunakan pada penelitian ini adalah 24 ekor sapi jantan yang terdiri atas 8 Simmental, 8 Limousin dan 8 FH berumur 4 tahun dengan bobot badan 800-900 kg. Data yang diambil adalah data motilitas semen segar yang meliputi, before freezing, post thawing motility (PTM) dan longivitas. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah motilitas semen segar dan before freezing sapi Simmental lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan sapi Limousin dan FH, sedangkan hasil PTM, longivitas dan recovery rate tidak nyata pada ketiga jenis sapi tersebut. Kualitas semen jenis sapi sangat berpengaruh terhadap kualitas semen yang dihasilkan.

(28)

ABSTRACT

Freezability Comparison of Simmental, Limousin and Fries Holstein Spermatozoa Nugraha, F. W. Komariah dan Arifiantini, R. I

The purpose of this research was to study and to compare the freezability of Simmental, Limousin and Fries Holstein (FH) frozen semen from Lembang Artificial Insemination Centre, Bandung, West Java. In total 24 bulls were used in this study consist of 8 Simmental, 8 Limousin and 8 FH, ages 4 years old with a weight of 800-900 kg. Secondary data were taken from the period of November to December 2010. The data was collected from raw semen, before freezing, post thawing motility and longevity. The results showed that spermatozoa motility of raw and before freezing semen from Simmental significantly higher (P<0,05) than Limousin and FH bull. But there were no difference (P>0,05) between post thawing motility, longevity and value of recovery rate among three breeds.

(29)

KAJI BANDING KEMAMPUAN BERTAHAN TERHADAP PROSES

PEMBEKUAN SPERMATOZOA SAPI SIMMENTAL,

LIMOUSIN DAN FRIES HOLSTEIN

FACHRI WIDYA NUGRAHA D14070239

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(30)

Judul : Kaji Banding Kemampuan Bertahan Terhadap Proses Pembekuan Spermatozoa Sapi Simmental, Limousin dan Fries Holstein Nama : Fachri Widya Nugraha

NRP : D14070239

Menyetujui,

Pembimbing Utama

(Ir. Hj. Komariah, M.Si) NIP. 19590515 198903 2001

Pembimbing Anggota

(Prof. Dr. Dra. R. Iis Arifiantini, M.Si) NIP. 19600804 198103 2001

Mengetahui, Ketua Departemen

Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc) NIP: 19591212 198603 1 004

(31)

RIWAYAT HIDUP

Penulis, Fachri Widya Nugraha dilahirkan pada tanggal 23 Januari 1990 di

Jakarta dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Adil

Nugraha dan Ibu Wiwit Widya Wati. Penulis mengawali pendidikan dari TK

Gembira Jatibening 2 Bekasi Timur pada tahun 1994, dilanjutkan tahun 1995 ke

Sekolah Dasar Negeri Jatibening 07 Bekasi Timur dan dilanjutkan ke tingkat SLTP

di SLTPN 195 Jakarta Timur tahun 2001. Tahun 2004 penulis diterima di SMUN

107 Jakarta Timur dan diselesaikan pada tahun 2007.

Tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor

(IPB) melalui jalur Ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan tahun

2008 diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi

Peternakan. Selama mengikuti pendidikan, penulis aktif dalam kegiatan Unit

Kegiatan Mahasiswa Basket IPB tahun 2007/2008, UKM Center Enterpreneurship of

The Youth (CENTURY) IPB sebagai staf akademik tahun 2007/2010, Himpunan

Mahasiswa Produksi Peternakan (HIMAPROTER) tahun 2009/2010 sebagai staf

divisi animal breeding club dan di Majalah Emulsi penulis sebagai staf divisi

layouter tahun 2009/2010. Penulis pernah mengikuti kegiatan magang di Fakultas

Peternakan IPB pada tahun 2009 dan di Nusantara Polo Club pada tahun 2010.

Penulis pernah menjadi asisten praktikum pada Mata Kuliah Teknik Pengolahan

Ternak Dasar Unggas pada tahun ajaran 2011/2012 dan juga aktif menjadi panitia

pada berbagai acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Kemahasiswaan Fakultas

Peternakan dan IPB. Tahun 2009 penulis berkesempatan memperoleh PKM dengan

(32)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta dan Pemilik Ilmu

Pengetahuan, yang memberikan banyak rahmat bagi makhluk-Nya. Alhamdulillah

puji Syukur penulis panjatkan atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah

diberikan sehingga penulis memperoleh kemudahan dalam penyusunan dan

penyelesaian skripsi yang berjudul “Kaji Banding Kemampuan Bertahan terhadap Proses Pembekuan Spermatozoa Sapi Simmental, Limousin dan Fries

Holstein”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas

Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Reproduksi adalah suatu fungsi tubuh yang secara fisiologik tidak vital bagi

kehidupan individual tetapi sangat penting bagi kelanjutan keturunan suatu jenis atau

bangsa hewan dan kelangsungan hidup hewan. Ternak sapi merupakan salah satu

hewan ternak yang sangat berperan dalam suplai dan memenuhi kebutuhan protein

hewani masyarakat. Penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) pada sapi

merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan populasi sapi. Inseminasi dapat

dilakukan dengan menggunakan semen beku. Tingkat keberhasilan IB yang tinggi

diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produktivitas, yang ditandai dengan

meningkatnya populasi ternak sapi potong dan sapi perah di Indonesia sehingga

dapat memenuhi permintaan kebutuhan daging dan susu sapi di Indonesia.

Kesempurnaan hakiki hanya milik Sang Pencipta, sehingga Penulis

menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga skripsi ini

bermanfaat untuk balai-balai IB dan peternakan yang ada di Indonesia khususnya

dan masyarakat pada umumnya.

Bogor, Maret 2012

(33)
(34)

Recovery rate…………...……… 16 Rancangan dan Analisis Data……...……… 16

HASIL DAN PEMBAHASAN………. 17

Evaluasi Semen Segar………..……… 18

Motilitas Spermatozoa Semen Segar, Before Freezing, Post Thawing Motility, Longivitas dan Recovery Rate………..……….. 20

KESIMPULAN DAN SARAN………. 23

Kesimpulan……… 23

Saran………... 23

UCAPAN TERIMAKASIH……….. 24

DAFTAR PUSTAKA……… 25

(35)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Rataan Karakteristik Semen Sapi Limousin, Simmental dan FH ... 18

(36)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Karakteristik Makroskopis Bangsa Sapi Limousin ... 29

2. Karakteristik Mikroskopis Bangsa Sapi Limousin ... 30

2a. Karakteristik Mikroskopis Bangsa Sapi Limousin ... 31

3. Karakteristik Makroskopis Bangsa Sapi Simmental ... 32

4. Karakteristik Mikroskopis Bangsa Sapi Simmental ... 33

4a. Karakteristik Mikroskopis Bangsa Sapi Simmental ... 34

5. Karakteristik Makroskopis Bangsa Sapi Fries Holstein ... 35

6. Karakteristik Mikroskopis Bangsa Sapi Fries Holstein ... 36

6a. Karakteristik Mikroskopis Bangsa Sapi Fries Holstein ... 37

7. Motilitas Spermatozoa Semen Segar ... 38

8. Uji Tukey Motilitas Spermatozoa ... 38

9. Motilitas Spermatozoa Before Freezing ... 38

10. Uji Tukey Motilitas Spermatozoa Before Freezing ... 38

11. Motilitas Spermatozoa Post Thawing Motility ... 39

12. Longivitas ... 39

(37)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Konsumsi makanan secara global akan meningkat 40-50 persen pada tahun

2050 (Food and Agriculture Organization, 2010). Peningkatan konsumsi makanan

khususnya akan lebih cepat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut informasi Badan Pusat Statistik (2010) pertambahan penduduk Indonesia

rata-rata 1,25% per tahun, jumlah penduduk yang tercatat di badan pusat statistik

tahun 2000 yaitu 206.264.595 jiwa dan tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa. Jumlah

penduduk yang terus bertambah harus diimbangi dengan peningkatan ketahanan

pangan berupa kebutuhan protein hewani dengan cara pembangunan sektor pertanian

yang berkelanjutan.

Pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan, tidak hanya berbicara

tentang perkembangan mengenai sisi pasok tetapi juga mengedepankan aspek

permintaan yang terkait pola konsumsi. Bibit sapi yang berpotensi yaitu Simmental,

Limousin dan Fries Holstein (FH) karena memiliki pertumbuhan bobot badan harian

yang tinggi dan dapat beradaptasi dengan baik.

Berdasarkan road map pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014, ditargetkan penyediaan daging sapi produksi lokal sebesar 420,3 ribu ton (90%) dan

dari impor sapi bakalan (sapi potong dan sapi perah) sebesar 46,6 ribu ton (10%)

(Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2012). Said (2011)

menyatakan sampai saat ini Indonesia masih mengimpor sapi bakalan dan daging

sapi sekitar 30% dari kebutuhan, oleh sebab itu untuk meningkatkan populasi dan

mutu genetik ternak salah satu cara dapat dilakukan aplikasi teknologi reproduksi

inseminasi buatan (IB).

Inseminasi Buatan merupakan cara yang lebih efisien dan efektif dalam

penggunaan semen pejantan untuk membuahi sapi, sehingga dapat meningkatkan dan

memperbaiki populasi sapi di Indonesia. Salah satu kelebihan program IB adalah

daya guna seekor pejantan yang genetiknya unggul dapat dimanfaatkan semaksimal

mungkin, namun IB juga memiliki kekurangan yaitu diperlukan pelaksana yang

terlatih baik dan terampil untuk melaksanakan penampungan, penilaian,

(38)

menggunakan semen beku. Semen beku atau frozen semen adalah semen yang

disimpan pada suhu di bawah titik beku (-79 °C sampai -196 °C). Untuk mengatasi

ketergantungan pada semen beku impor, tahun 1976 didirikan Balai Inseminasi

Buatan (BIB) Lembang (Jawa Barat) dan BIB Singosari, kedua BIB tersebut

merupakan BIB nasional yang melayani kebutuhan semen beku di Indonesia.

Balai Inseminasi Buatan Lembang bergerak dalam usaha memproduksi

semen beku bibit unggul. Semen beku memiliki keunggulan yaitu dapat digunakan

dalam jangka waktu yang lama, namun memiliki kelemahan yaitu kualitas semen

dapat menurun setelah semen diencerkan, dikarenakan selama proses pembekuan

spermatozoa melewati berbagai suhu ekstrim yang dapat menurunkan kualitas semen

(Nebel, 2007). Menurut Srianto et al. (2009) volume semen, konsentrasi dan motilitas spermartozoa yang dihasilkan oleh setiap sapi pejantan yang digunakan

untuk proses produksi semen beku berbeda. Selain kualitas semen segar, bangsa sapi

juga berpengaruh terhadap kualitas semen beku yang dihasilkan,hal ini terbukti dari

perbedaan nilai recovery rate (Garner dan Hafez, 2000).

Recovery Rate adalah kemampuan pemulihan spermatozoa setelah pembekuan dengan cara membandingkan persentase motilitas spermatozoa pada

semen segar dengan post thawing motility. Penilaian Recovery Rate (RR) pada semen

beku sapi Simmental, Limousin dan FH sangat dibutuhkan untuk mengetahui

kemampuan spermatozoa dari masing-masing bangsa terhadap proses pembekuan

(freezability). Tingkat keberhasilan IB yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan

efisiensi produksi, sehingga dapat memenuhi permintaan kebutuhan protein hewani

di Indonesia.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan membandingkan penurunan

kualitas spermatozoa semen beku sapi Simmental, Limousin dan FH di Balai

(39)

TINJAUAN PUSTAKA Bangsa Sapi

Sapi adalah hewan sosial yang hidupnya berkelompok (Bouissou dan Boissy

2005), sedangkan bangsa sapi adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik

tertentu yang sama. Bangsa Taurus (Simmental, Limousin dan FH) memiliki

karakteristik performans yang berbeda sesuai dengan genetiknya (Kuswahyuni,

2008). Karakteristik tersebut dapat dibedakan dari ternak lainnya meskipun masih

dalam spesies yang sama. Seluruh sapi berpotensi dijadikan sebagai ternak bibit yang

didasarkan pada berbagai faktor.

Sapi asli Indonesia yang meliputi sapi Bali, sapi Madura, sapi Pesisir, sapi

Aceh dan sapi Hissar, sedangkan kelompok sapi persilangan yaitu bangsa sapi impor

yang meliputi sapi Simmental, sapi Limousin, sapi Angus, sapi Brahman dan sapi

Brangus. Keunggulan yang dimiliki oleh sapi Indonesia pada umumnya adalah daya

adaptasi dan tingkat kesuburan tinggi, persentase karkas lebih tinggi, dapat

digunakan sebagai tenaga kerja dan daya tahan terhadap caplak. Karmita et al. (2001) menyatakan khususnya sapi Bali memiliki potensi ekonomi yang tinggi

dibandingkan sapi Indonesia lainnya. Adapun sapi persilangan biasanya unggul

dalam hal pertumbuhan bobot badan yang tinggi dan mempunyai kualitas daging

lebih baik.

Sapi merupakan ternak potensial untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu

di Indonesia. Prajogo et al. (2002) menyatakan ternak sapi perah yang potensial di Indonesia adalah sapi FH, sedangkan ternak sapi potong yang potensial adalah sapi

Limousin dan Simmental. Program peningkatan populasi sapi potong dapat

dilakukan melalui pengendalian pemotongan ternak sapi produktif, pengendalian

penyakit reproduksi dan penyediaan bibit ternak sapi bermutu (Sodiq, 2006). Faktor

yang menentukan efisiensi maksimum produksi susu sapi perah adalah berapa

banyak liter susu yang diproduksi per hari sepanjang hidupnya, sedangkan untuk sapi

tipe pedaging faktor yang menentukan adalah kecepatan tumbuh setiap hari dan dari

(40)

Sapi Fries Holstein

Sapi FH merupakan sapi tipe perah yang banyak terdapat di Indonesia. Sapi

perah ini berasal dari daerah subtropis provinsi Belanda Utara dan daerah Friesland

Barat (Philips, 2001). Sapi ini dikembangkan dari nenek moyang sapi liar Bos

(Taurus) Typicus Primigineus. Sapi FH mempunyai ciri-ciri kepala panjangnya sedang, mulut lebar dengan hidung terbuka lebar, rahang kuat, dahi lebar, leher

panjang dan warna tubuh belang hitam putih. Hasil penelitian di Thailand, yang juga

negara tropis menunjukan bahwa sapi-sapi perah subtropis dapat beraklimatisasi

dengan baik pada suhu dibawah 18 ºC dan kelembaban di atas 55% (Siregar, 2003).

Sapi FH dapat dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan dimana bobot badannya

mencapai sekitar 400 kg, dan lama bunting sapi FH umumnya 9 bulan (Oklahoma

State University, 2000).

Populasi sapi perah di Indonesia menunjukan perkembangan, selama kurun

waktu 1970 hingga 2009 dari 52.000 ekor menjadi 500.000 ekor. Tahun 1994

produksi susu tercatat 426.727 ton dan meningkat menjadi 750.000 ton pada tahun

2009 (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2009). Philips (2001)

menyatakan FH adalah sapi yang intensif dalam system produksi susu di dunia, di Inggris 90% produsen susu menggunakan sapi ini karena produksi susu sapi perah ini

dapat mencapai 7342 kg/tahun (Talib et al., 2003). Faktor yang menyebabkan belum

terpenuhinya kriteria mutu susu segar di Indonesia adalah kebutuhan jumlah dan

jenis pakan yang tidak terpenuhi, penerapan sanitasi dan higiene yang tidak benar

dalam proses pemeliharaan, pemerahan serta kebersihan kandang yang kurang

memadai (Mirdhayati et al., 2008). Imbangan rumput lapangan dan konsentrat 70 :

30 merupakan ransum terbaik bila ditujukan untuk meningkatkan kadar lemak susu,

kadar protein dan bahan kering tanpa lemak (Suherman, 2005).

Sapi Simmental

Sapi Simmental adalah bangsa Bos Taurus berasal dari lembah Simme di Swiss, sapi ini sudah banyak menyebar di daerah Eropa Tengah dan Eropa Timur

(Philips, 2001). Setengah dari ternak di Swiss berasal dari sapi Simmental dan

merupakan jenis ternak sapi yang paling populer di Eropa. Sapi Simmental memiliki

wajah putih dengan tubuh gelap, memiliki tubuh yang besar (sapi jantan dewasa

(41)

sekitar 658-816 kg) dan dapat beradaptasi dalam berbagai iklim. Simmental memiliki

pertumbuhan yang sangat cepat, sekitar 3 pon (1,4 kg) per hari (Gillespie dan

Flanders, 2009). Sapi ini bukan hanya sapi dwiguna, tetapi triguna karena dapat

berfungsi sebagai sapi pekerja, meskipun Simmental digolongkan dalam tipe triguna,

tetapi pemanfaatan sapi ini umumnya sebagai ternak pedaging karena memiliki

pertumbuhan otot yang sangat baik, menghasilkan karkas yang tinggi dan sedikit

lemak (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2006).

Sapi Limousin

Sapi Limousin berasal dari Perancis keturunan dari Bos Taurus. Sapi Limousin memiliki bulu warna mulai dari kuning sampai merah keemasan dan

tanduknya berwarna cerah dengan tanduk jantan tumbuh keluar dan melengkung.

Kepala Limousin adalah kecil dan pendek dengan dahi yang lebar dan leher yang

pendek. Sapi jantan dewasa bobot badan 907-998 kg dan bobot badan sapi betina

dewasa 544-635 kg. Sapi Limousin dikenal untuk efektivitas mereka dalam efisiensi

pakan ternak, karkas yang tinggi dan besarnya daerah loin (Gillespie dan Flanders,

2009).

Sapi potong ini termasuk jenis yang berukuran tubuh besar, bentuk tubuh

panjang, mempunyai perototan bagus dan kandungan lemaknya sedikit,

menghasilkan 63% daging dengan tekstur yang baik, 16% lemak dan 21% tulang dari

bobot karkas, sedangkan pada sapi jenis lain daging yang dihasilkan 43%, lemak

44% dan tulang 13%. Secara genetik Limousin merupakan sapi tipe besar,

mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah

konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang

cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur (Gillespie dan

Flanders, 2009).

Inseminasi Buatan

Aplikasi teknologi IB menggunakan semen beku telah dilakukan di Indonesia

sejak tahun 1972 menggunakan semen beku hasil impor. Produksi semen beku di

Indonesia telah dimulai sejak tahun 1976 di BIB Lembang (Jawa Barat) dan

dilanjutkan di Singosari (JawaTimur) pada tahun 1982 (Feradis, 2010a).

Gambar

Tabel 1. Rataan Karakteristik Semen Sapi Limousin, Simmental dan Fries Holstein
Tabel 1. Rataan Karakteristik Semen Sapi Limousin, Simmental dan Fries Holstein

Referensi

Dokumen terkait

Viabilitas spermatozoa pasca thawing lebih sedikit bila dibandingkan dengan semen segar hal ini disebabkan suhu yang sangat rendah saat pembekuan mengakibatkan bocornya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak straw dengan nitrogen cair pada proses pre freezing serta jarak straw yang terbaik terhadap kualitas semen beku Sapi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang paling optimal untuk pengujian keutuhan membran plasma spermatozoa semen beku sapi Limousin dan Frisien

primer dan abnormalitas sekunder pada semen segar, semen cair dan semen beku.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi viabilitas spermatozoa Sapi Bali selama