DESAIN
ARTWORK
PADA TAMAN PULAU DAN MEDIAN JALAN
DI JALAN MEDAN MERDEKA JAKARTA
SIGIT MULYANSYAH EFFENDY
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Desain Artwork pada Taman Pulau dan Median Jalan di Jalan Medan Merdeka Jakarta adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2013
Sigit Mulyansyah E
ABSTRAK
SIGIT MULYANSYAH EFFENDY. Desain Artwork pada Taman Pulau dan Median Jalan di Jalan Medan Merdeka Jakarta. Dibimbing oleh DEWI REZALINI ANWAR.
Ruang terbuka merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat untuk bersantai. Ruang terbuka dapat memiliki banyak bentuk dan fungsi, diantaranya adalah taman pulau dan median jalan. Taman pulau dan median jalan memiliki potensi sebagai media display untuk membentuk karakter dan memberikan mental map bagi suatu kawasan. Karakter suatu kawasan dapat dibentuk dengan unsur-unsur di dalamnya, salah satunya dengan penempatan artwork. Artwork dapat menjadi elemen mental map yang berfungsi untuk menavigasi seseorang untuk berpindah dari satu titik ke titik lain, terutama di kota besar seperti Jakarta. Kawasan Medan Merdeka dikelilingi oleh taman pulau dan median jalan, hingga saat ini masih belum memiliki karakter dan daya tarik untuk membentuk mental map bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat desain artwork
yang dapat membentuk karakter dan mental map di kawasan jalan Medan Merdeka. Kegiatan ini dilakukan di kawasan Medan Merdeka selama 16 minggu dengan metode observasi langsung dan wawancara. Output dari penelitian ini meliputi desain artwork di taman pulau dan median jalan.
Kata kunci: artwork, median jalan, mental map, ruang terbuka, taman pulau
ABSTRACT
SIGIT MULYANSYAH EFFENDY. Artwork Design on The Traffic Island and Street Median on Medan Merdeka Road Jakarta. Supervised by DEWI REZALINI ANWAR.
Open space is a part of the community's needs for leisure. Open space can have many forms and functions. One of them is the traffic island and street median. Traffic Island and street median has potential as a media of display to form character and give a mental map for an area. Character of a region can be shaped with elements inside, one of these with the placement of the artwork. Artwork can be a an element mental map to guide a person to move from one point to other, especially in big cities such as Jakarta. The Medan Merdeka road is surrounded by traffic islands, up to now still not have character and appeal to form a mental map of its users. This study aims to create the artwork design can shape the character and attitudes docket in the Medan Merdeka Area. This activity is carried out on the grounds of The Medan Merdeka region in 16 weeks with the method of direct observation and interviews. The Output from this research includes the design artwork on the traffic Island.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Arsitektur Lanskap
DESAIN
ARTWORK
PADA TAMAN PULAU DAN MEDIAN JALAN
DI JALAN MEDAN MERDEKA JAKARTA
SIGIT MULYANSYAH EFFENDY
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Desain Artwork pada Taman Pulau dan Median Jalan di Jalan Medan Merdeka Jakarta
Nama : Sigit Mulyansyah Effendy NIM : A44090081
Disetujui oleh
Dewi Rezalini Anwar, SP, M.A.Des Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Bambang Sulistyantara, MAgr Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah yang berjudul Desain Artwork pada Taman Pulau dan Median Jalan di Jalan Medan Merdeka Jakarta ini berhasil diselesaikan. Penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Atas perhatian, bimbingan bantuan dan dukungannya yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu, Bapak, Kakak, Adik serta keluarga besar lainnya atas kesabaran dan dukungan yang tak henti-hentinya diberikan kepada penulis.
2. Ibu Dewi Rezalini Anwar SP, MADes selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, arahan dan semangat dalam penyusunan tugas akhir ini.
3. Seluruh Dosen dan Staf Departemen Arsitektur Lanskap atas bimbingan dan bantuannya selama penulis menjadi Mahasiswa.
4. Pihak yang terkait dalam penelitian ini atas kesediannya dalam menyediakan waktu dan tenaganya dalam membantu penulis dalam pengumpulan data. 5. Keluarga besar Arsitektur Lanskap khususnya Angkatan 46 atas kenangan yang
telah dilalui bersama.
Penelitian membahas mengenai desain artwork yang dapat membentuk karekter dan identitas sehingga memiliki fungsi sebagai elemen mental map. Pentingnya suatu artwork untuk membentuk identitas suatu kawasan, dan dapat memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Desember 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Kerangka Pikir 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 3
TINJAUAN PUSTAKA 3
Desain/Perancangan 3
Artwork 3
Taman Pulau dan Median Jalan 6
Jalan Medan Merdeka 7
METODE 8
Lokasi dan Waktu 8
Alat dan Bahan 8
Metode Penelitian 8
Tahapan Penelitian 10
Proses Desain 12
Batasan Penelitian 12
HASIL DAN PEMBAHASAN 13
Kondisi Umum 13
Aspek Fisik dan Biofisik 13
Lokasi dan Batas Tapak 13
Topografi dan Kemiringan 13
Tanah dan Hidrologi 14
Iklim 15
Vegetasi 15
Aksesibilitas dan Sirkulasi 18
Fasilitas dan Utilitas 19
Elemen Seni 21
Aspek Sosial 23
Pengguna 23
Pengelola 23
Aspek Seni 23
Hasil Wawancara Arsitek Lanskap dan Seniman 23
Artwork sebagai Elemen Lanskap 24
Artwork Medan Merdeka 25
Analisis dan Sintesis 25
Aspek Fisik dan Biofisik 25
Lokasi dan Batas Tapak 25
Topografi dan Kemiringan 26
Iklim 26
Vegetasi 27
Aksesibilitas dan Sirkulasi 28
Visual 34
Aspek Sosial 35
Fungsi Artwork sebagai Elemen Mental map 35
Elemen Artwork sebagai Fungsi Aktif 38
Aspek Seni 40
Konsep 40
Konsep Dasar 40
Konsep Desain 40
Konsep Ruang dalam Kosmologi Jawa 41
Pengembangan Konsep 42
Konsep Warna 42
Konsep Vegetasi 43
Konsep Sirkulasi 43
Konsep Visual 44
Konsep Suasana 44
Desain 45
Desain Artwork Jalan Medan Merdeka Utara 45
Desain Artwork Jalan Medan Merdeka Timur 51
Desain Artwork Jalan Medan Merdeka Selatan 51
Desain Artwork Jalan Medan Merdeka Barat 52
Artwork sebagai Elemen Mental Map 68
Singularity 68
Form Simplicity 68
Continuity 69
Dominance 69
Directional Differeniation 69
Motion Awareness 70
Time Series 70
Detil Desain Artwork 71
Detil Desain Artwork Medan Merdeka Utara 71
Detil Desain Artwork Medan Merdeka Timur 71
Detil Desain Artwork Medan Merdeka Selatan 72
Detil Desain Artwork Medan Merdeka Barat 72
SIMPULAN DAN SARAN 83
Simpulan 83
Saran 83
DAFTAR PUSTAKA 83
RIWAYAT HIDUP 84
LAMPIRAN 85
KUISIONER PENELITIAN 85
Desain Artwork pada Taman-Taman Pulau dan Median Jalan di Jalan Medan
DAFTAR TABEL
1. Ukuran standar median jalan 6
2. Standar jalan kolektor 7
3. Jenis, sumber, dan kegunaan data 10
4. Jenis, sumber, dan kegunaan data (Lanjutan) 11
5. Data iklim rata-rata tahun 2012 15
6. Jenis dan fungsi vegetasi dalam tapak 15
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka pikir 2
2. Gaya dan aliran seni rupa dalam public art 5
3. Tipe persimpangan bercabang 3 6
4. (a) Tipe persimpangan bercabang banyak (b) Bundaran (Rottary) 7
5. Peta lokasi penelitian. 8
6. Proses desain menurut Simonds 1996 (modifikasi) 12
7. Orientasi dan batas tapak 13
8. Kondisi topografi pada tapak 14
9. Drainase pada tapak 14
10.Aksesibilitas meuju tapak 19
11.Kondisi jalan dan median Jalan Medan Merdeka 20
12.Fasilitas dan utilitas pada tapak 21
13.Elemen seni pada tapak 21
14.Kondisi umum tapak 22
15.Kualitas bentuk tapak 26
16.Elemen vertikal memberikan kontras dengan bentukan tapak 26 17.Vegetasi dapat memberi penekanan pada artwork 27 18.Fungsi vegetasi sebagai latar (a) (Foreground) (b) (Background)
artwork 28
19.Analisis fungsi vegetasi Jalan Medan Merdeka Utara 29 20.Analisis fungsi vegetasi Jalan Medan Merdeka Timur 30 21.Analisis fungsi vegetasi Jalan Medan Merdeka Selatan 31 22.Analisis fungsi vegetasi Jalan Medan Merdeka Barat 32
23.Jarak pandang pejalan kaki 33
24.Jarak pandang untuk menginterpretasi artwork 34 25.Sudut pandang horizontal (a) kendaraan (b)pedestrian 34 26.Sudut pandang vertikal dan ketinggian mata normal dari pejalan kaki
dan pengendara kendaraan bermotor 35
27.Analisis sirkulasi 36
28.Analisis sirkulasi 36
29.Analisis visual 37
30.Bangunan menjadi landmark lawasan yang mudah dikenali 38 31.Fungsi artwork yang diinginkan oleh pengguna 38
32.Konsep yang diinginkan oleh pengguna 39
33.Konsep artwork yang diinginkan oleh pengguna 39
34.Konsep desain 41
35.Konsep ruang kosmologi jawa (modifikasi) 42
36.Konsep warna 42
37.Konsep vegetasi 43
38.Konsep sirkulasi 44
39.Konsep visual 44
40.Aplikasi elemen air pada tapak 45
41.Aplikasi jarak pandang antara pengamat dan artwork 46
42.Block plan Medan Merdeka Utara 47
43.Block plan Medan Merdeka Timur 48
45.Block plan Medan Merdeka Barat 50
46.Aplikasi elemen angin pada tapak 51
47.Aplikasi elemen api pada tapak 52
48.Aplikasi elemen tanah pada tapak 52
49.Siteplan Medan Merdeka Utara 53
50.Perspektif Medan Merdeka Utara 54
51.Siteplan Medan Merdeka Timur 55
52.Perspektif Medan Merdeka Selatan 56
53.Perspektif Medan Merdeka Timur 56
54.Siteplan Medan Merdeka Selatan 57
55.Perspektif Medan Merdeka Selatan 58
56.Siteplan Medan Merdeka Barat 59
57.Siteplan Medan Merdeka Barat 60
58.Siteplan Medan Merdeka Barat 61
59.Perspektif Medan Merdeka Barat 62
60.Potongan tampak Medan Merdeka Utara 63
61.Potongan Tampak Medan Merdeka Timur 1 64
62.Potongan tampak Medan Merdeka Timur 2 65
63.Potongan tampak Medan Merdeka Selatan 66
64.Potongan tampak Medan Merdeka Barat 67
65.Aplikasi fungs singularity pada artwork 68
66.Aplikasi fungsi form simplicity pada artwork 68
67.Aplikasi fungsi continuity pada artwork 69
68.Aplikasi fungsi dominance pada artwork 69
69.Aplikasi directional differentation pada tapak 70
70.Aplikasi motion awarness pada tapak 70
71.Aplikasi time series pada artwork 70
72.Contoh LED artwork 71
73.Detil artwork Medan Merdeka Utara 73
74.Perspektif malam Medan Merdeka Utara 74
75.Detil artwork Medan Merdeka Timur 75
76.Perspektif malam Medan Merdeka Timur 76
77.Detil artwork Medan Merdeka Selatan 77
78.Detil artwork Medan Merdeka Selatan 78
79.Perspektif malam Medan Merdeka Selatan 79
80.Detil artwork Medan merdeka Barat 80
81.Detil artwork Medan merdeka Barat 2 81
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ruang terbuka yang ada di kota merupakan bagian dari ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Ruang terbuka baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur biasanya berfungsi sebagai kawasan pertamanan kota, hutan kota, rekreasi kota, pemakaman, pertanian, jalur hijau kota, dan kawasan hijau pekarangan (Hakim dan Utomo 2004). Fungsi dari karakter suatu ruang terbuka dapat membantu seseorang dalam melakukan pergerakan dari satu titik ke titik lainnya. Sistem tersebut dapat memandu orientasi seseorang, maka elemen-elemen di dalam suatu ruang perlu memperhatikan jarak dan arah agar tidak terjadi disorientasi. Sistem tersebut biasa dikenal dengan mental map (Porteus 1977).
Taman pulau dan median jalan merupakan bentuk pemanfaatan ruang terbuka dalam skala mikro pada satu area. Taman pulau dan median jalan dapat dimanfaatkan sebagai ruang sosial ataupun komersial. Taman pulau dan median jalan berfungsi juga untuk mengatur lalu lintas, pemisah, pembatas, dan pengatur kecepatan kendaraan. Menurut Lynch (1981) taman pulau dan median jalan juga harus dapat memberi karakter suatu area/kawasan atau disebut juga sebagai identitas kawasan. Selain itu karakter dari taman pulau dan median jalan dapat menjadi elemen mental map yang dapat dikenali oleh penggunanya.
Perancangan taman pulau dan median jalan biasanya kurang menampilkan visual yang menarik dan tidak memiliki karakter elemen mental map sehingga sulit bagi seseorang untuk menavigasi dirinya. Taman pulau dan median jalan juga memiliki potensi untuk dijadikan media untuk menampilkan artwork yang menarik sebagai identitas kawasan dan elemen mental map bagi penggunanya.
Artwork adalah salah satu bagian dari elemen lanskap, pembentuk karakter dari ruang publik/identitas kawasan. Karakter tapak yang menarik harus dipertahankan atau diciptakan, sehingga semua elemen lanskap yang banyak variasinya dapat menjadi satu kesatuan yang harmonis (Simonds dan Starke 2006). Pentingnya suatu artwork dapat menjadi landmark dan dapat memberi daya tarik secara visual. Menurut Porteus (1977) suatu landmark harus memiliki legibility/sense of place, dengan memperhatikan atribut bentuk, atribut visibilitas, dan atribut dari makna dan penggunaan suatu artwork maka diperlukan desain yang dapat memenuhi fungsi tersebut.
Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu landmark dan menjadi icon
2
Kerangka Pikir
Permasalahan sering terjadinya disorientasi terhadap ruang dikarenakan kurangnya pemanfaatan ruang-ruang terbuka di kota sebagai area publik yang memperhatikan fungsi dan karakter ruang, sehingga menyebabkan tidak adanya identitas sebuah kawasan yang dapat digunakan sebagai elemen mental map. Dengan penambahan artwork sebagai bagian dari elemen lanskap diharapkan dapat memberikan karakter yang kuat dengan memperhatikan elemen-elemen pembentuknya
Untuk membentuk elemen mental map maka perlu memperhatikan aspek aspek yang dapat membentuk fungsi tersebut. Aspek-aspek tersebut akan membentuk konsep
artwork yang sesuai pada kawasan Jalan Medan Merdeka. Kerangka penelitian dapat dilihat di Gambar 1.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan pengguna akan artwok serta elemen-elemen pembentuk artwork pada taman pulau dan median jalan di Jalan Medan Merdeka sebagai pembentuk kawasan untuk pembentuk mental map,
2. membuat konsep artwork pada taman pulau dan median jalan di Jalan Medan Merdeka, dan
3. membuat desain artwork yang memiliki nilai fungsional dan estetika juga dapat diaplikasikan pada taman pulau dan median jalan di Jalan Medan Merdeka.
3
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah;
1. menambah karya baru di bidang Arsitektur Lanskap,
2. dapat menjadi referensi bagi pihak-pihak terkait dalam merancang/desain artwork, 3. menjadi referesi perancangan taman pulau yang lebih menarik, dan
4. menambah fungsi ruang terbuka.
TINJAUAN PUSTAKA
Desain/Perancangan
Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Desain dalam arsitektur lanskap diterjemahkan juga sebagai proses dari penggabungan seni dan ilmu pengetahuan dalam menata ruang untuk menghasilkan nilai yang estetika dan fungsional. American Society of Landscape Architects (ASLA) mendefinisikan arsitektur lanskap sebagai seni dalam mendesain/menata dengan mengkombinasikan elemen lunak (softscape) dan elemen keras (hardscape) dengan memperhatikan sumberdaya alam untuk menghasilkan lingkungan yang fungsional dan menyenangkan. Merancang adalah membentuk, kreativitas bertujuan untuk mengembangkan bentuk (koneksi, koherensi) seperti proyek seni rupa (misalnya patung), yang biasanya dikelola dan ditangani dengan secara langsung (1:1), skala (landscape) proyek arsitektur fundamental membutuhkan persiapan langkah menengah dari representasi simbolis (desain dalam tanda) sebagai sebuah abstraksi dari realitas yang akan datang (Loidl dan Bernard 2003). Simonds (1983) mengatakan bahwa perancangan akan menghasilkan ruang tiga dimensi dimana ditujukan pada volume ruang, pada setiap volume memiliki bentuk, ukuran, bahan, warna, tekstur dan kualitas lainnya. Semuanya dapat mengekspresikan dan mengakomodasikan fungsi-fungsi yang ingin dicapai. Loidl dan Bernard dalam Nugraha (2011) menyatakan bahwa perancangan adalah membuat bentuk, sebuah kreativitas yang ditujukan untuk mengembangkan bentuk, merancang tidak seperti pekerjaan seni.
Dalam melakukan perancangan perlu memperhatikan prinsip-prinsip desain. Menurut Kartika (2004) menyatakan bahwa prinsip desain merupakan bagian dasar dalam mendesain untuk menghasilkan suatu komposisi yang baik. Prinsip desain menurut Kartika (2004) meliputi harmoni (harmony), kesatuan (unity), kontras (contras), repetisi (repetition), keseimbangan (balance) dan emphasis (accentuation).
Artwork
4
Perbedaan medium dan material perlu penghayatan dalam memahami sebuah karya seni. Penghayatan dihadirkan melalui nilai estetika atau perasaan sensitivitas. Menurut Read dalam Kartika (2004) seni itu tidak harus indah. Terdapat tiga tingkatan dasar untuk menikmati estetis/artistika:
1. Tingkatan pertama: pengamatan terhadap kualitas material, warna, suara, gerak dan reaksi fisik lainnya.
2. Tingkatan kedua: pengamatan terhadap penyusunan bentuk yang menyenangkan dengan pertimbangan harmoni, kontras, balance dan unity.
3. Tingkatan ketiga: Pengamatan yang dihubungkan dengan perasaan atau emosi, tergantung tingkat kepekaan penikmat seni.
Karya seni dalam fungsi seni rupa ditinjau berdasarkan segi fungsi terhadap masyarakat atau kebutuhan manusia terbagi atas seni murni (fine art) dan seni terapan (applied art) (Kartika, 2004). Secara teoritis terbagi juga menjadi fungsi sosial yaitu kecenderungan untuk mempengaruhi tingkah laku masyarakat. Karya seni sebagai fungsi sosial merupakan karya seni yang diciptakan sebagai karya yang dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Seni arsitektur merupakan bagian dari seni terapan dengan mempertimbangkan pengguna sebagai tujuan utama sesuai dengn filosofi “design must be for people”.
Pada era modern muncullah aliran-aliran seni rupa modern yang dihasilkan oleh seniman. Seni rupa modern merupakan hasil kreativitas untuk menciptakan karya yang baru. Seni rupa modern lahir karena seniman tidak ingin terikat oleh tradisi seni yang lampau yang berlaku pada era sebelumnya. Menurut Kartika (2004) seni rupa modern lahir di abad ke-20 gerakan ini disebut sebagai masa transisi dari konvensi realis kebentuk kebebasan seniman. Seni rupa Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan seni rupa di Eropa hal tersebut juga mempengaruhi senimannya dalam berkarya. Perubahan corak seni rupa tradisional ke seni rupa modern adalah corak karya seni rupa yang sudah mengalami kemajuan, perubahan, dan pembaruan. Gaya seni rupa ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu gaya representatif, gaya deformatif dan gaya abstraksionisme.
Pengertian representatif adalah nyata atau sesuai dengan keadaannya. Gaya seni rupa yang termasuk dalam gaya representatif adalah realisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan kenyataan hidup, gaya ini dengan aliran ini berkembang di Indonesia pada zaman reformasi hal tersebut terlihat pada beberapa karya artwork yang ada di Jakarta.
Seni rupa modern yang berkembang di Eropa memiliki gaya deformatif, yaitu perubahan bentuk dari aslinya, sehingga menghasilkan bentuk baru namun tidak meninggalkan bentuk dasar aslinya. Menurut Kartika (2004), yang termasuk gaya deformatif yaitu;
1. ekspresionisme: merupakan pengembangan dari realisme dengan memberikan ekspresi seniman kedalam karyanya,
2. fauvisme: merupakan ekspresi seniman yang lebih bebas sehingga objek seni dibuat kontras dengan aslinya, pada aliran ini sudah memperkenalkan gaya-gaya abstrak, 3. kubisme: karya ini banyak menggunakan bentuk-bentuk geometris,
4. futurisme: karya ini dipengaruhi oleh gerak, pencahayaan dari bentuk yang bergerak, dan
5 Gaya abstraksionisme adalah suatu bentuk yang sulit untuk dikenali. Bentuk dasar dari gaya ini sudah meninggalkan bentuk aslinya. Gaya yang tergolong dalam gaya abstrak adalah abstrak ekspresionisme memandang bahwa ekspresi jiwa tidak dapat dihubungkan dengan objek apapun, aliran ini berpendapat bahwa melukis adalah memadukan unsur-unsur gambar berupa garis, warna, bidang, tekstur dan abstrak geometris, aliran ini menonjolkan bidang yang diisi dengan warna dan dipilah dengan garis-garis tegas.
Banyak seniman yang kini mengekspresikan karya seninya pada ruang terbuka atau ruang publik dalam menampilkan hasil karya seninya. Dalam beberapa tahun terakhir, seni publik telah semakin berkembang dalam lingkup dan aplikasi baik ke daerah-daerah yang lebih luas dan menantang lainnya dari bentuk seni (artform), dan juga di berbagai tempat, jauh lebih luas dari apa yang bisa disebut sebagai ranah publik. Hasil karya seni tersebut dapat menambah fungsi ruang dan memberikan karakter pada kawasan tersebut. Dalam menciptakan karya seni di ruang publik perlu adanya pemahaman antara seniman karya seni dan penghayat (masyarakat). Gambar 2 merupakan contoh dari gaya dan aliran seni rupa yang digunakan pada patung sebagai
public art (seni publik).
6
Taman Pulau dan Median Jalan
Seiring perkembangan suatu kota taman pulau dan median jalan menjadi bagian yang penting untuk mengatur lalu lintas dan keamanan jalan. Taman pulau dan median jalan merupakan bagian jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan, dapat berupa marka jalan atau bagian jalan yang ditinggikan. Taman pulau dan median jalan berfungsi untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas pada ruas jalan ataupun di persimpangan jalan melalui pemisahan arus (PU, 2013).
Pengembangan fungsi taman pulau dan median jalan saat ini sangat pesat terkait dengan memenuhi kebutuhan dan pemanfaatan ruang yang sudah semakin menyempit. Disamping fungsi standar seperti jalur hijau jalan, pemisah jalan, pengatur lalu lintas, meningkatkan keselamatan lalu lintas pada ruas jalan ataupun di persimpangan jalan. Taman pulau dan median jalan juga dapat berfungsi sebagai fungsi sosial dan fungsi komersial. Fungsi sosial yang digunakan seperti media display, ruang tunggu penyebrangan dan shelter bus. Sedangkan sebagai media komersial pemasangan iklan-iklan digital ataupun papan reklame yang dipasang pada median ataupun taman pulau. Ukuran dari median dan taman pulau itu sendiri tergantung jenis jalan tersebut.
Ukuran dari median jalan dan taman pulau tergantung dari kelas jalan tersebut. Berikut Tabel 1 merupakan ukuran standar dari median jalan.
Tabel 1 Ukuran standar median jalan
Kelas Jalan Lebar Median Jalan Lebar Jalur Tepian
Minimum Minimum *Minimum Khusus
I, II 2.50 1.00 0.25
IIIA, IIIB 1.50 1.00 0.25
0.40 median datar
Ket: *) digunakan pada jembatan bentang ≥ 50 m Sumber: Dir. Bintek dan Binamarga (2004)
Taman pulau yang berada pada persimpangan jalan biasanya tergantung lebar atau luas persimpangan jalan. Menurut Hariyanto (2004), berdasarkan bentuk dan ukurannya ada beberapa macam jenis persimpangan yaitu persimpangan bercabang 3 (Pertigaan) (Gambar 3), persimpangan bercabang 4 (perempatan), persimpangan bercabang banyak, dan bundaran (Rotary Interrsection)(Gambar 4).
7
Jalan Medan Merdeka
Lanskap jalan perlu didesain secara khusus dengan memperhatikan standar dan atribut-atribut jalan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. Menurut Nasarudin (1994) dalam jalur hijau jalan sebagai bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) merupakan kawasan hijau sebagai bagian kota yang dinikmati secara umum dan pembentuk wajah kota. Lanskap yang terbentang sepanjang jalan harus memberikan kesan menyenangkan dengan menyatukan keharmonisan dan keselarasan sehingga fungsional secara fisik dan visual (Simonds, 1983).
Jalan Medan Merdeka berada pada core area atau area inti yaitu pusat pemerintahan dan kawasan perkantoran. Menurut Arie Bastaman1 (2013) Jalan Medan Merdeka merupakan white area atau lingkar satu Indonesia, maka diperlukan perencanaan dan perancangan yang tepat. Menurut Rosen2 (2004) Medan Merdeka Barat, Utara, Timur dan Selatan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan maka diperlukan perancangan yang harmoni. Jalan Medan Merdeka juga menghubungkan pusat kota yaitu istana pemerintahan (Istana Merdeka) istana rakyat (Tugu Monas) dan istana umat (Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral). Lanskap jalan dapat membentuk karakter dari suatu kawasan. Klasifikasi jalan menurut Direktorat Jenderal Binamarga terbagi atas jalan lokal, jalan kolektor, jalan arteri, dan jalan primer. Berdasarkan fungsinya dan karakter jalan, Jalan Medan Merdeka termasuk dalam jalan kolektor/protokol. Tabel 2 merupakan standar untuk jalan kolektor.
Tabel 2 Standar jalan kolektor
Jenis
Sumber: Eismon dan Gallion (1994) Modifikasi.
1
Wakil Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia)
2
Pemilik Newseum Jl. Veteran I/26, Jakarta
(a) (b)
8
METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di taman pulau dan median jalan yang berada di Jalan Merdeka, Jakarta. Taman pulau dan median jalan yang menjadi lokasi penelitian meliputi taman pulau dan median jalan di Jalan Merdeka Utara, Timur, Selatan dan Barat. Lokasi penelitian (Gambar 5) ini berbatasan dengan pusat perkantoran, pusat pemerintahan dan kawasan landmark Indonesia yaitu Monas. Penelitian ini dilaksanakan mulai Januari sampai Mei 2013.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini terbagi atas alat dan bahan untuk kegiatan survei lapang dan kegiatan studio. Alat yang digunakan untuk survei lapang seperti kamera, alat tulis dan peralatan lainnya yang digunakan saat di lapang. Pada kegiatan studio digunakan PC/laptop dengan software AutoCAD, Sketchup,
Photoshop, Microsoft Office Word dan Microsoft Office Excel. Sedangkan bahan yang diperlukan adalah peta dasar sebagai acuan, daftar pertanyaan untuk wawancara dan kuisioner.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian desain artwork pada taman pulau dan median jalan ini yaitu adalah sebagai berikut.
1. Inventarisasi
1.1.Observasi atau pengamatan secara langsung terhadap tapak pada waktu-waktu tertentu dengan kondisi yang berbeda-beda. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data fisik dan biofisik seperti bentukan-bentukan elemen lanskap dan intensitas cahaya matahari pada bagian tertentu di dalam tapak yang akan mempengaruhi bentukan artwork yang akan didesain.
1.2.Wawancara dalam bentuk kuesioner tertutup (purposive sampling) dengan pengguna tapak yang dipilih secara sengaja sebanyak 30 responden yang disebar ke dalam empat lokasi untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai
9 pentingnya suatu artwork, dan wawancara dalam bentuk kuisoner terbuka (indepth interview) ditunjukan kepada pengelola, seniman dan arsitek lanskap untuk mendapatkan persepsi dan sudut pandang mengenai desain artwork yang menjadi pertimbangan dalam mendesain.
2. Analisis dan Sintesis
2.1.Aspek Seni dan Sosial
Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan desain artwork yang memiliki nilai estetik dan fungsional dengan melakukan analisis secara spasial dan deskriptif.
2.2.Aspek Pengguna
2.2.1. Pendekatan psikologis: pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui fungsi artwork nantinya terhadap emosional user/pengguna untuk membentuk elemen mental map.
2.2.2. Pendekatan keamanan dan kenyamanan: pendekatan ini dilakukan untuk mempertimbangkan arah dan arus sirkulasi dalam menentukan titik peletakan artwork untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna jalan. Menurut Harris dan Dines (1998) perlu memperhatikan jarak pandang pengguna terhadap objek didepannya. Untuk menghitung jarak pandang antara pengguna dan artwork maka diketahui rumus berikut.
Persepsi dan reaksi (Pr):
Pr = Untuk menghitung jarak ketika pengemudi bereaksi dan memberi persepsi terhadap objek didepannya (m).
t = Waktu yang dibutuhkan ketika bereaksi dan memberi persepsi terhadap objek (2.5 detik).
v = Kecepatan kendaraan (Jalan Medan Merdeka termasuk jalan protokol dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam).
Jarak berhenti (d):
d = Jarak untuk menginterpretasi objek (m).
v = Kecepatan kendaraan (Jalan Medan Merdeka termasuk jalan protokol dengan kecepatan rat-rata 40 km/jam).
f = Nilai koefisien 0.60 (dipengaruhi psikologi pengguna jalan dan jenis
perkerasan).
Jarak pandang minimum (D):
Pr= 1.47(t)(v)
D =
10
Tahapan Penelitian
Penelitian ini merupakan kegiatan proses desain artwork pada taman pulau dan median jalan di kawasan Jalan Medan Merdeka Jakarta, dengan memperhatikan atribut-atribut penting untuk membentuk karakter suatu kawasan agar dapat menjadi elemen
mental map. Atribut-atribut tersebut dipelajari melalui masyarakat yang berpotensi sebagai pengguna. Tahapan yang dilakukan dalam kegiatan penelitian ini yaitu:
1. Persiapan
Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah, tujuan penelitian, penyusunan literatur, studi literatur, penyusunan proposal penelitian dan makalah kolokium. 2. Pengumpulan Data
Tahapan ini merupakan kegiatan pengambilan data yang dilakukan dengan survei langsung dan kegiatan studio berupa studi literatur. Pengumpulan data dilakukan setelah penetapan lokasi. Pengambilan data survei berupa data fisik tapak, biofisik dan persepsi pengguna dan pihak yang terkait untuk pertimbangan desain. Data yang diperoleh kemudian diidentifikasi berdasarkan jenis data yang diperoleh. Tabel 3 merupakan jenis, sumber dan kegunaan data yang akan di gunakan.
Tabel 3 Jenis, sumber dan kegunaan data Jenis/Aspek data Unit data Kategori
data
Cara pengambilan
Sumber data Kegunaan data
Biofisik
Curah hujan mm/tahun Sekunder - BMKG Menentukan penempatan
11
Tabel 3 Jenis, sumber, dan kegunaan data (Lanjutan)
Jenis/Aspek data Unit data Kategori data
Cara pengambilan
Sumber data Kegunaan data
Biofisik
5. Vegetasi Satuan unit Primer Survei lapangan - Menentukan jenis vegetasi untuk mendukung desain
6. Aksesibilitas Jalur pencapaian
Primer Survei lapangan - Menentukan desain sirkulasi
jam Primer Survei lapangan & wawancara
12
3. Pengolahan data
Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan spasial yang akan menjadi pertimbangan dalam sintesis. Tahap selanjutnya merupakan proses desain. Proses desain merupakan bagian penting dalam penelitian ini. Proses desain yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti teori Simonds 1996 meliputi
commissioning, inventarisasi, analisis, sintesis, konsep desain, konstruksi dan pelaksanaan (Gambar 6).
Proses Desain
Proses mendesain pada penelitian ini menggunakan model Simonds (1996) yang dimodifikasi. Proses desain dimodifikasi pada tahap inventarisasi.
1. Inventarisasi, merupakan tahapan setelah penerimaan kerja/proyek dengan mengambil data fisik, visual dan sosial yang berupa data primer dan sekunder. Dengan modifikasi pada tahap ini penyebaran kuesioner pada pengguna dan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan preferensi dan informasi mengenai tapak.
2. Analisis-sintesis dapat dilakukan secara bersama, menganalisis potensi, kendala dan preferensi pengguna dengan melakukan penyebaran kuisioner dan wawancara yang akan menjadi pertimbangan mendesain nantinya.
3. Hasil analisis-sintesis dari data yang diperoleh akan dikembangkan menjadi konsep dasar, konsep desain dan konsep pengembangan. Pada tahap ini hasil preferensi mengenai bentuk dan fungsi artwork sangat menjadi pertimbangan.
4. Konstruksi, pada tahap ini merupakan pengembangan dari tahap sebelumnya. Penggambaran secara detil, bentuk, struktur, bahan dan material yang digunakan sehingga dapat diterapkan pada tapak.
Batasan Penelitian
Batasan pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui pentingnya suatu artwork
bagi pengguna dan elemen-elemen pembentuk artwork di kawasan Jalan Medan Merdeka Jakarta. Desain artwork dan gambar kerja berupa gambar detil, potongan dan perspektif.
13
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Aspek Fisik dan Biofisik
Aspek fisik dan biofisik yang diinventarisasi meliputi aspek-aspek yang terkait dalam perancangan artwork diantaranya;
Lokasi dan Batas Tapak
Lokasi taman pulau dan median jalan ini berada di daerah Jakarta Pusat tepatnya berada di Jalan Medan Merdeka Utara, Selatan, Barat dan Timur. Jalan di Kawasan Medan Merdeka merupakan jalan utama yang mengelilingi kawasan Monas dan berbatasan dengan wilayah pusat perkantoran dan pusat pemerintahan nasional (Gambar 7). Berdasarkan letak geografisnya lokasi yang berada di Jakarta Pusat berada di antara 106°.22’.42’’ BT sampai dengan 106°.58’.18’’ BT dan 5°.19’.12’’ LS sampai dengan 6°.23’.54’’ LS.
Topografi dan Kemiringan
Menurut Riyanto Indra (2009) Wilayah DKI terbagi atas tiga tingkat ketinggian yang dominan, Jakarta Pusat termasuk dalam kategori dengan ketinggian permukaan tanah kurang dari 10 mdpl dan termasuk dalam kategori topografi relatif datar dengan kemiringan 0-8% dan berada pada dataran rendah. Kondisi topografi dan kemiringan pada Gambar 8.
14
Tanah dan Hidrologi
Kawasan Medan Merdeka dengan curah hujan yang rendah maka pemeliharaan tanaman dilakukan dengan sumber air berasal dari PDAM. Kondisi drainase tapak cukup baik karena tidak ada genangan air dan sirkulasi air dalam tapak mengarah ke aliran drainase terdekat, namun jika curah hujan tinggi drainase pada tapak akan menggenang bahkan banjir akibat penutupan dengan beton dan kurangnya resapan air ke dalam tanah.
Jenis tanah pembentuk di Jakarta Pusat termasuk jenis tanah alluvial atau disebut dengan inseptisol dengan tingkat kesuburan yang tinggi (Ballittanah, 2013). Jenis tanah ini merupakan jenis tanah yang berada di dataran rendah atau lembah, Jakarta Pusat termasuk dalam dataran rendah. Dengan kondisi yang sekarang jenis tanah pada lokasi dapat dikategorikan sebagai tanah urugan karena tingkat pembangunan yang tinggi sehingga menutup tanah asli. Kondisi tanah dan hidrologi pada Gambar 9.
15
Iklim
Lokasi tapak berada pada dataran rendah sehingga memiliki iklim yang sedikit panas dengan suhu rata-rata pada tahun 2012 sebesar 28°C. Curah hujan rata-rata di tahun 2012 sebesar 136.2 mm/bulan dan kelembaban sebesar 73.9%. Data rata-rata perubahan iklim setiap bulannya terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Data iklim rata-rata tahun 2012
Jenis Data Bulan
Pada umumnya struktur dan vegetasi yang digunakan pada jalan merupakan vegetasi yang berfungsi untuk mengarahkan dan vegetasi estetika untuk membentuk karakter jalan. Fungsi utama vegetasi di perkotaan untuk menanggulangi penurunan kualitas lingkungan dan berkaitan langsung dengan kehidupan penghuni kota serta sebagai satu kesatuan sistem ekologi kota (Wungkar, 2005). Berikut jenis vegetasi yang ada di dalam tapak (Tabel 5).
16
Tabel 5 Jenis dan fungsi vegetasi dalam tapak (Lanjutan) No Nama
Lokal Nama Latin Famili Lokasi Gambar Fungsi
3. Bromelia Bromelia sp Bromeliaceae
Medan
Hias Calathea Luthea Marantaceae
Medan
6. Kucai Carex morowii Liliaceae
Medan
8 Puring Codiaeum sp Euphordiaceae Medan
Merdeka Timur
Estetik
9 Jatimas Cordia sebestana Boraginaceae
Medan Merdeka Selatan
Pengarah
10 Hanjuang Cordyline Sp Agaveceae
Medan
11 Sikas Cycas revoluta Cycadaceae
Medan Merdeka Selatan
Pengisi ruang
12. Drasena Dracena sp Agaveceae
Medan Merdeka Selatan
17 Tabel 5 Jenis dan fungsi vegetasi dalam tapak (Lanjutan)
No Nama
Hias Heliconia sp Strelitciceae
Medan
18. Serdang Livistonia sp Araceae
Medan Merdeka Selatan
Pengisi ruang
19. Ubi Hias Lpomoea sp Convolvulaceae Medan
Merdeka Barat
Pengisi ruang
20. Petunia Petunia Solanaceae
Medan Merdeka Selatan
Pengisi ruang
21. Daun Pilo Philodendrons Araceae
Medan
22. Palem Fiji Pritchardia
pacifica Araceae
23. Angsana Pterocarpus
indicus Papilionaceae
Medan Merdeka Utara
18
Tabel 5 Jenis dan fungsi vegetasi dalam tapak (Lanjutan) No Nama
Wregu Rhapis excelsa Araceae
Medan
Merdeka Timur
Estetik
26. Palem
Raja Roystonea regia Araceae
Medan
Merah Syzygium oleina Myrtaceae
Medan
Jalan Medan Merdeka dapat diakses melalui Jalan M.H Thamrin, Jalan Majapahit, Jalan Veteran, Jalan Perwira, Jalan Pejambon dan Jalan Moch Ichwan Ridwan Rais (Gambar 10). Aksesibilitas dapat menggunakan kendaraan bermotor baik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum dan dengan berjalan kaki. Sirkulasi Jalan Medan Merdeka terbagi atas dua jalur kendaraan bermotor dan dua jalur untuk pejalan kaki (pedestrian). Kondisi sirkulasi Jalan Medan Merdeka cukup lancar dan kondisi jalan yang baik.
19 lainnya hanya sebagai pembatas sehingga hanya terdapat sirkulasi primer yaitu sirkulasi kendaraan bermotor dan sirkulasi sekunder yaitu sirkulasi pejalan kaki di luar maupun di dalam tapak. Sirkulasi primer termasuk dalam kategori jalan protokol atau disebut juga sebagai jalan kolektor. Kondisi jalan dan median jalan dapat dilihat pada Gambar 11.
Visual
Masing-masing visual pada tapak memiliki karakter yang berbeda, hal tersebut dikarenakan perbedaan kondisi lingkungan sekitarnya. Visual pada tapak yang baik berada pada Medan Merdeka Barat dan Selatan karena memiliki sudut pandang yang lebih luas dan mengarah ke Patung Arjuna Wijaya dan Patung Thamrin. Secara keseluruhan tidak terdapat visual yang buruk pada tapak.
Fasilitas dan Utilitas
Umumnya fasilitas pada tapak tergantung dengan kondisi luas tapak masing- masing, pada umumnya fasilitas yang tersedia adalah penerangan jalan umum (PJU). Penanda atau marka untuk memberi tanda-tanda tertentu kepada pengguna jalan. Marka jalan pada tapak seperti tanda berhenti dan memutar juga lampu lalu lintas untuk kendaraan bermotor maupun manusia untuk menyeberang jalan. Utilitas dalam tapak merupakan jaringan listrik yang digunakan untuk PJU. Kondisi fasilitas dan utilitas pada tapak di Gambar 12.
20
21
Elemen Seni
Terdapat beberapa elemen seni pada tapak khususnya pada bagian Medan Merdeka Barat dan Selatan. Elemen seni tersebut ialah Patung Arjuna Wijaya, Patung Thamrin dan Gerombong. Elemen seni tersebut dibuat dengan material yang masiv berupa perunggu dan tanaman yang dibentuk menjadi elemen seni. Kondisi elemen seni cukup baik karena diletakkan pada posisi yang strategis sehingga memiliki visual yang baik. Fungsi dari elemen seni tersebut sebagai elemen estetika kota untuk menambah keindahan serta memanfaatkan median dan taman pulau sebagai media display. Keberadaan elemen seni di tapak belum dapat memberikan identitas dan karakter bagi kawasan setempat. Kondisi elemen seni pada tapak ada pada Gambar 13.
Sumber gambar: Dokumen pribadi
Gambar 12 Fasilitas dan utilitas pada tapak
22
Ga
mbar
14 Kondisi
umu
m t
apa
23
Aspek Sosial Pengguna
Penguna tapak pada umumnya adalah karyawan yang bekerja di kawasan perkantoran di Jalan Medan Merdeka, pengguna melewati tapak untuk menyeberang dari satu arah ke arah yang lainnya. Penggunaan tapak yang cukup padat berada pada Jalan Medan Merdeka Barat dikarenakan dekat dengan halte busway dan letaknya berdekatan dengan area perkantoran, sedangkan untuk pengguna tapak pada area lainnya tergolong sepi karena merupakan area pemerintahan. Waktu penggunaan padat pada tapak dimulai pada pukul 08.00-10.00 dan 16.00-17.00 WIB dikarenakan waktu masuk bekerja dan waktu pulang bekerja. Selain pengguna di dalam tapak, ada juga pengguna di luar tapak seperti pengguna dengan kendaraan bermotor yang memanfaatkan tapak sebagai area berputar arah, pembatas jalan dan keamanan.
Pengelola
Tapak dikelola oleh Dinas Pemakaman dan Pertamanan DKI Jakarta. Pengelolaan terbagi atas Pengelolaan Jalur Hijau dan Keindahan Kota. Jalan Medan Merdeka Jakarta termasuk koridor hijau dengan pengelola oleh sub bidang Jalur Hijau. Pengelola mengharapkan fungsi dari taman pulau dan median jalan dapat dimaksimalkan. Dari segi vegetasi penanaman masih kurang ideal dan bentuk tajuk yang berantakan. Pengelolaan oleh sub bidang jalur hijau dilakukan pada tanaman pohon, semak, dan rumput agar tetap menampilkan fungsi fisik yang maksimal. Pengelolaan terhadap elemen seni pada tapak dikelola oleh sub bidang keindahan kota. Pengelola mengatakan penambahan elemen seni pada tapak perlu memperhatikan aspek lanskap pembentuknya dari lokasi tersebut. Fungsi dari elemen tersebut harus dapat menjadi penciri/identitas dan memperhatikan nilai monumentalitas bagi kawasannya, fungsi dari artwork
diharapkan tidak hanya menjadi elemen estetis tetapi juga, dapat menjadi fungsi mental map bagi penggunanya. Selain itu elemen tersebut juga memperhatikan keselamatan bagi pengguna jalan. Pengelola juga mengharapkan penggunaan material yang ramah lingkungan, tahan lama dan pengelolaan yang minimum.
Aspek Seni Hasil Wawancara Arsitek Lanskap dan Seniman
Untuk melakukan pendekatan seni maka dilakukan wawancara pada seniman dan arsitek lanskap untuk mengetahui persepsi terhadap artwork. Hasil dari wawancara diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dapat mempengaruhi artwork terhadap suatu lanskap. Dalam wawancara ini dapat diketahui fungsi artwork dalam lanskap dan aspek-aspek yang perlu diperhatikan untuk membentuk monumentalitas sebuah artwork.
Prinsip artwork
Karya seni kini sudah tidak hanya ditampilkan dalam bangunan-bangunan/galeri tertutup, tetapi karya seni juga sudah dapat menjadi elemen pembentuk suatu lanskap kota. Penambahan elemen lanskap berupa artwork dapat memberi karakter pada ruang dan perlu memperhatikan aspek-aspek yang dapat meningkatkan sense of place suatu
24
Aspek-aspek legibilitas yang perlu diperhatikan menurut Porteous (1977):
1. Struktur (form): Dalam struktur perlu memperhatikan kontur atau perbedaan level, dengan perbedaan level dapat membuat karakter menjadi lebih kuat dibanding dengan yang datar. Bentuk yang dibuat merupakan poin yang penting karena dapat mejadi karakter yang imageable bagi suatu kawasan. Poin penting lainnya seperti tekstur, kecerahan dan kualitas penggunaan atribut yang kadang kurang imageable.
2. Visual: Visual berkaitan dengan titik pandang dimana peletakan atau posisi diletakkannya suatu elemen agar dapat terlihat jelas tanpa terhalangi oleh bangunan lainnya. Peletakan elemen juga harus memperhatikan sirkulasi agar dapat menarik perhatian.
3. Kegunaan dan simbolis: Penggunaan area dengan intensitas tinggi penting dalam
mental map. Penggunaan objek secara tunggal, jarak antar pengguna, aktivitas bersama dan fasilitas, tetapi penyimbolan mengacu pada aspek politik atau sejarah yang signifikan menjadi sangat penting. Dengan mengetahui kegunaan simbolisme agar sesuai dengan prinsip form follow function (Louis Sullivan, 1986).
Dalam penataan ruang perlu memperhatikan elemen didalamnya agar tidak membuat disorientasi terhadap ruang. Penambahan elemen berupa artwork dapat memberikan identitas pada ruang dan menjadi simbol bagi masing-masing lokasi. Menurut Arie Bastaman (2013) fungsi artwork dapat dilihat kedalam tiga aspek, fungsi pertama artwork dilihat secara skala terbagai atas skala kota, kawasan dan komunitas; fungsi artworks dilihat sebagai fungsi orientasi yaitu sebagai orientasi pembangunan suatu kota dan sebagai simbol suatu lokasi; fungsi ketiga artworks dilihat sebagai fungsi penanda yaitu sebagai penanda tempat dan penanda suasana. Dari ketiga fungsi tersebut dapat menciptakan elemen mental map bagi penggunanya.
Untuk menciptakan fungsi-fungsi tersebut maka penambahan elemen artwork pada ruang publik juga perlu memperhatikan aspek sosial. Menurut Tatang Ramadhan3 (2013) artwork yang baik memiliki nilai etik dan tidak terlalu jauh dari masyarakat sehingga masyarakat dapat mengapresiasi dengan baik. Fungsi sosial menurut Arie Bastaman merupakan fungsi yang dapat diapresiasi oleh masyarakat. Artwork juga sebaiknya mudah dibaca/tersirat dalam bentuk yang dapat dinikmati dan dapat dicermati sehingga memiliki makna simbolik.
Artwork sebagai Elemen Lanskap
Menurut Umardi Zain4 (2013) artwork merupakan bagian dari elemen pembentuk lanskap dan sebagai pengisi ruang. Artwork juga dapat menjadi aksen dalam suatu ruang. Sebagai elemen lanskap maka dalam membentuk suatu artwork perlu memperhatikan lingkungannya. Menurut Ketut Winata5 (2013) artwork pada ruang publik perlu mempertimbangkan lokasi peletakkannya, karena dapat menentukan pengertian/makna dalam bentuk simbolik. Artwork sebagai bagian dari elemen lanskap juga harus memiliki nilai harmonis terhadap fisik lingkungannya. Untuk itu maka diperlukan monumentalitas sebuah artwork terhadap lingkungannya.
Monumentalitas artwork
Arie Bastaman (2013) mengatakan bahwa untuk menciptakan karya seni (arsitektural) yang monumental perlu memperhatikan jarak pandang, dimensi
3
Sculpture artist contemporer
4
Arsitek Lanskap profesional (pemilik OemarDi Zain Landscape Consultant)
5
25 lingkungan, struktur, apakah keberadaan karya seni dapat menambah kekuatan kawasan atau tidak, bentuk dan siluet. Menurut Ketut Winata (2013) hal yang menjadi pertimbangan untuk menciptakan monumentalitas sebuah artwork lokasi, jarak yang sering dilihat dan apakah artwork tersebut dekat dengan masyarakat atau tidak. Pertimbangan tersebut dapat menentukan dimensi artwork terhadap lingkungannya. Selain itu kepekaan terhadap lingkungan juga diperlukan, membaca ruang dan mengetahui latar belakang suatu lokasi akan memperkuat monumentalitas sebuah
artwork. Selain fungsi sosial fungsi sebuah karya seni (arsitektur) juga dapat meningkatkan kualitas lingkungan, meningkatkan karakter kawasan, menjadi elemen
mental map dan memberi citra kawasan. Selain dimensi terhadap ruang material juga dapat memberikan dan menciptakan kesan monumentalitas terhadap artwork.
Material artwork
Material ruang luar sangat peka terhadap perubahan iklim. Pemilihan material yang tepat juga dapat memberikan karakter terhadap artwork. Karakter material dapat memperkuat konsep estetika menurut Arie Bastaman (2013). Material juga dapat menggunakan bahan alami seperti penggunaan tanaman untuk membentuk artwork. Karakter artwork dapat diciptakan menggunakan material yang memiliki tekstur atau memberikan warna pada artwork.
Artwork Medan Merdeka
Menurut Tatang Ramadhan (2013) peletakan artwork menjadi pertimbangan dengan memperhatikan tingkat sosial masyarakat pada suatu kawasan untuk menentukan simbol yang dihadirkan dalam bentuk artwork. Jenis seni seperti apa yang akan dihadirkan dilokasi tersebut apakah jenis seni realis, simbolik, suerealis, abstrak dan lain sebagainya. Jakarta sebagai ibukota negara memiliki dua wajah, apakah sebagai wajah budaya lokal atau wajah internasional yang menentukan peradaban suatu bangsa. Jakarta tidak hanya mewakili satu etnik, tetapi sebagai etalase suatu bangsa yang seharusnya sejajar dengan negara-negara lain.
Analisis dan Sintesis
Aspek Fisik dan Biofisik
Aspek fisik dan biofisik dianalisis yang dapat mempengaruhi desain artwork, aspek fisik dan biofisik yang dianalisis meliputi;
Lokasi dan Batas Tapak
Medan Merdeka merupakan kawasan perkantoran dan pusat pemerintahan. Menurut Arie Bastaman (2013) kawasan tersebut disebut sebagai white area (area yang disterilkan) atau lingkar satu Indonesia, maka artwork dalam kawasan tersebut perlu memperhatikan sejarahnya. Kawasan Medan Merdeka terbagai atas empat bagian yaitu bagian Utara, Barat, Selatan dan Timur, pada setiap sisinya memiliki luas median dan taman pulau yang berbeda. Penetapan artwork pada Kawasan Medan Merdeka baik Utara, Barat, Selatan dan Timur harus memiliki satu kesatuan/harmonis terhadap lingkungannya. Medan merdeka sebagai ring satu seharusnya menampilkan artwork
26
Ramadhan (2013). Menurut Ketut Winata (2013) manusia cenderung ingin mudah dan
simple dalam mengingat dan memperhatikan bentuk khususnya artwork pada area publik. Patung dengan bentuk nama menjadi lebih sulit diingat dan menandakan perdaban yang tertinggal.
Topografi dan Kemiringan
Menurut Booth (1983), tapak yang memiliki topografi dengan kategori datar merupakan tapak ideal dan dapat dikembangkan secara maksimal. Bentukan Tapak yang datar memiliki kesan stabil, netral, istirahat dan tenang. Tapak datar memiliki potensi sudut padang yang jauh (Gambar 15).
Salah satu kelemahan dari tapak yang datar adalah memiliki visual yang monoton. Untuk memberikan kesan kontras pada tapak yang datar maka diperlukan elemen vertikal untuk memberikan perbedaan level dan menjadi elemen yang dominan sehingga membentuk suatu vocal point yang atraktif.
Penambahan elemen artwork untuk memberikan perbedaan level pada tapak sehingga tapak datar memiliki ritme sesuai dengan prinsip desain. Untuk memberikan elemen vertikal perlu memperhatikan lingkungannya agar tidak bersaing satu sama lainnya dan dapat menjadi vocal point (Gambar 16).
Iklim
Berdasarkan data iklim rata-rata pada tahun 2012 Kawasan Medan Merdeka memiliki iklim yang cukup panas. Karya seni sangat peka terhadap iklim, perubahan iklim dapat memberikan efek terhadap karya seni. Karya seni seperti sculpture perlu memperhatikan penggunaan material yang dapat memperkuat karakter artwork yang
Sumber gambar: Booth 1983
Gambar 16 Elemen vertikal memberikan kontras dengan bentukan tapak Sumber gambar: Booth 1983
27 diciptakan. Iklim dapat menentukan penggunaan dan pemilihan material artwork yang tahan lama dan minimum pengelolaan. Menurut Tatang Ramadhan (2013) pemilihan material ruang luar perlu memperhatikan cuaca, adaptif terhadap perubahan cuaca, tahan lama, dan kontemporer. Jenis dan material ruang luar sudah banyak dan dapat diaplikasikan seperti perunggu, tembaga, kuningan, alumunium, granit, kaca dan lain sebagainnya
Vegetasi
Vegetasi merupakan elemen yang penting untuk memperkuat karakter suatu lanskap. Untuk memberikan karakter yang kuat pada suatu lanskap perlu memperhatikan bentuk arsitektural tanaman yang berpengaruh terhadap visual tanaman tersebut yaitu skala, ukuran, bentuk, warna dan tekstur (Halle 1998) dalam Wungkar (2005).
Vegetasi pada tapak saat ini memiliki fungsi sebagai pengarah pada bagian Medan Merdeka Utara, Selatan dan Barat. Fungsi lainnya sebagai pengisi ruang untuk menambah estetika jalan. Menurut Simonds (1983) lanskap jalan harus memberikan kesan yang menyenangkan dengan menyelaraskan keharmonisan dan kesatuan tanaman sehingga fungsional secara fisik dan visual. Menurut Todd (1987) penggabungan elemen desain seperti garis, bentuk, tekstur dan warna dapat menciptakan keharmonisan, daya tarik dan mempengaruhi pengguna jalan.
Untuk menata elemen soft material ataupun hard material perlu susunan atau komposisi yang baik untuk menciptakan nilai-nilai artistik. Komposisi kedua elemen lanskap dapat membentuk kesan kesatuan, irama dan keseimbangan ( Reid 1993) dalam Wungkar (2005). Fungsi estetik tanaman lainnya menurut Booth (1983) dapat memberi penekanan terhadap benda di depannya sehingga membuat ruang menjadi mudah dikenali. Untuk memberikan efek tersebut perlu memeperhatikan ukuran tanaman, bentuk, warna dan tekstur (Gambar 17).
Bentuk fisik vegetasi dapat memberikan efek tertentu terhadap artwork. Menurut Booth (1983) batang dan cabang perdu dapat menjadi latar depan (foreground) terhadap satu ruang yang menjadi vocal point (Gambar 18). Semak yang tinggi dapat berfungsi sebagai latar belakang (background) yang netral pada objek yang ada didepannya. Warna pada tanaman juga dapat mempengaruhi ruang yang terbentuk. Penggunaan warna tanaman yang lebih gelap akan memberikan visual pada ruang menjadi lebih dekat, sedangkan penggunaan warna tanaman yang lebih terang memberikan efek visual terhadap ruang menjadi lebih jauh. Jarak juga dapat dipengaruhi oleh tekstur yang
Sumber gambar: Booth 1983
28
dihasilkan tanaman. Tekstur yang lebih kasar dapat memberikan efek dekat sedangkan tekstur yang lebih halus dapat memberikan efek lebih jauh sehingga dapat mempengaruhi ruang yang terbentuk. Analisis fungsi vegetasi secara spasial dapat dilihat pada Gambar 19 sampai dengan Gambar 22.
Aksesibilitas dan Sirkulasi
Sirkulasi dapat menentukan interpretasi terhadap suatu ruang. Menurut Simonds (2006) sirkulasi dapat memberi persepsi yang berbeda terhadap suatu objek dalam satu waktu dan ruang. Persepsi yang terbentuk berdasarkan pergerakan seseorang dari satu titik ke titik lainnya sehingga memiliki pengalaman yang berbeda dalam menginterpretasi objek tersebut. Dalam meletakan objek pada jalan perlu memperhatikan jarak pandang pengguna jalan agar tetap aman dan objek dapat terinterpretasi dengan baik.
Jarak pandang adalah panjang jalan depan yang dapat terlihat oleh pengemudi. Minimum jarak pandang yang tersedia pada setiap bentangan jalan harus cukup untuk memungkinkan kendaraan dapat menempuh atau mendekati kecepatan yang ditentukan untuk berhenti sebelum mencapai obyek yang terdapat di depannya (Harris C dan Dines N, 1998).
Desain sirkulasi kendaraan yang aman dan efisien tergantung dari kemampuan pengemudi untuk melihat jarak didepannya sambil bergerak di sepanjang jalan (Harris C dan Dines N, 1998) maka arah dan arus sirkulasi menjadi pertimbangan dalam menentukan titik peletakan artwork.
Jarak pandang minimal memiliki dua fungsi untuk menginterpretasi artwork. Fungsi pertama yaitu jarak ketika pengemudi pertama kali melihat objek di depannya. Dimana pada periode ini pengemudi akan bereaksi dan memberikan persepsi terhadap objek. Pada jarak selanjutnya pengemudi akan memperlambat dan mulai mengiterpretasi objek di depannya. Perhitungan untuk mengetahui jarak dan peletakan
artwork (Gambar 23).
Sumber gambar: Booth 1983
Gambar 18 Fungsi vegetasi sebagai latar (a) (Foreground) (b) (Background) artwork
29
30
31
32
33
Persepsi dan reaksi (Pr) Pr = 1.47(t)(v)
Pr = Untuk menghitung jarak ketika pengemudi bereaksi dan member persepsi terhadap objek didepannya (m)
t = (2.5 Detik)
v = (Jalan Medan Merdeka termasuk jalan protokol dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam)
Pr = 1.47(2.5)(40) = 44.1 m Jarak Berhenti (d) :
d =
v = Jalan Medan Merdeka termasuk jalan protokol dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam
f = Nilai koefisien (dipengaruhi psikologi pengguna jalan dan jenis perkerasan)(0,60)
Jarak pandang minimum (D) D = Pr + d
= 4410 + 2670 = 70.8 m
Berdasarkan perhitungan, jarak pandang yang aman bagi pengendara bermotor terhadap artwork adalah 70.8 m dengan jarak tersebut diperkirakan pengendara bermotor masih dapat menginterpretasi artwork dengan baik. Selain itu sirkulasi pejalan kaki juga menjadi pertimbangan untuk meletakan atwork. Dalam berbagai hal, skala dan ruang akan mempengaruhi perilaku pejalan kaki dan komunikasi sosial yang terjadi. Maka jarak fisik seseorang perlu diperhatikan. Jarak yang masih dapat diterima seseorang ialah 24 meter dengan kecepatan rata-rata orang dewasa berjalan normal menurut Harris C dan Dines N (1998) ialah 4.3 km/jam agar dapat menginterpretasi
artwork (Gambar 24). Setelah diketahui jarak pandang minimum pengguna tapak baik pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor maka di lakukan analisis spasial untuk mengetahui titik peletakan artwork dapat dilihat pada Gambar 27.
34
Visual
Visibilitas pengguna jalan perlu diperhatikan untuk memberikan interpretasi dan keamanan bagi pengguna jalan. Pengendara bermotor dan pejalan kaki memiliki sudut dan jarak pandang yang berbeda. Kemampuan melihat seseorang menurut Loidl H dan Bernard S (2003) terbagi atas sudut horizontal dan sudut vertikal.
Sudut pandang digunakan untuk menciptakan monumentalitas terhadap lingkungannya. Sudut pandang horizontal (Gambar 25) pengguna jalan yang menggunakan kendaraan bermotor dan pejalan kaki memiliki lebar sudut yang sama yaitu 60°. Sudut pandang vertikal pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor memiliki sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pengendara bermotor ialah 12° sedangkan pejalan kaki adalah 30°.
Sudut pandang vertikal (Gambar 26) digunakan untuk membaca objek secara spasial. Tinggi maksimum artwork agar dapat menjadi vocal point dengan perbandingan antara jarak dan tinggi artwork yaitu 4:1. Dengan perbandingan tersebut
artwork dapat menjadi terlihat monumentalitas terhadap lingkungannya. Dengan perhitungan yang telah diketahui bahwa jarak rata-rata pengendara bermotor dan pejalan kaki sebesar 47.4 m maka :
4h =47.4 H =11.85 m
Rata-rata lebar median dan taman pulau sebesar 10.38 m
Maka panjang dan lebar dari artwork adalah 11.85 m/ 10.38 m = 1.38 m
(a) (b)
Sumber gambar: Harris C dan Dines N, 1998
Gambar 25 Sudut pandang horizontal (a) kendaraan (b)pedestrian Sumber gambar: Harris C dan Dines N, 1998 (Modifaksi)
35 Potensi visual pengguna tapak diarahkan ke artwork. Untuk menghasilkan visual yang maksimal perlu memperhatikan jarak pandang pengguna kendaraan bermotor dan pejalan kaki. Sudut pandang pengguna dipertimbangkan untuk mengetahui dimensi
artwork terhadap ruang (Gambar 27).
Aspek Sosial
Aspek sosial yang dianalisis berdasarkan hasil kuisioner yang diberikan pada responden yang dipilih secara sengaja pada Kawasan Jalan Medan Merdeka. Karakter dari responden yang dipilih yaitu yaitu pengguna jalan baik pengguna kendaraan motor maupun pejalan kaki yang melintasi kawasan tersebut dan pekerja yang berada di sekitar lokasi. Untuk mengetahui aspek sosial yang dapat mempengaruhi desain artwork
diklasifikasin yaitu;
Fungsi Artwork sebagai Elemen Mental map
Kawasan Jalan Medan Merdeka merupakan kawasan yang cukup padat dilalui oleh kendaraan bermotor maupun pejalan kaki, karena kawasan tersebut merupakan pusat pemerintahan dan perkantoran dan menghubungkan beberapa kawasan penting di Jakarta. Untuk mengetahui apakah pengguna kawasan tersebut dapat membedakan antara Medan Merdeka Utara, Barat, Selatan dan Timur maka dilakukan penyebaran kepada responden dari setiap lokasi yang mewakilinya.
Responden menyatakan bahwa mereka masih sulit mengenali perbedaan lokasi antara Medan Merdeka Utara, Barat, Selatan dan Timur sehingga mereka sering mengalami disorientasi. Pada grafik di Gambar 30 diketahui bahwa 80% dari hasil responden mengenali masing-masing lokasi hanya dari bangunan yang sudah menjadi
landmark bagi setiap lokasinya. Elemen artwork pada Medan Merdeka Barat dan selatan belum dapat menjadi elemen penanda yang berfungsi sebagai elemen mental map. Maka diperlukan elemen artwork yang dapat menjadi penanda bagi setiap lokasi sehingga dapat berfungsi sebagai elemen mental map.
Sumber gambar: Harris C dan Dines N, 1998
36
Ga
mbar
27 An
ali
sis
37
Ga
mbar
29 An
ali
sis
38
Elemen Artwork sebagai Fungsi Aktif
Ruang publik kota kini banyak dihiasi patung-patung berskala kecil hanya memiliki fungsi sebagai elemen estetika kota, saat zaman Soekarno patung-patung dibuat dalam skala besar untuk menetukan struktur kota (Marco K, 2004)). Fungsi
artwork pada tapak hanya berfungsi sebagai elemen pasif. Agar elemen artwork dapat menjadi penanda yang mudah dikenali bagi masing-masing lokasi maka perlu memperhatikan fungsi artwork terhadap fungsi Aktif. Fungsi artwork sebagai fungsi aktif berarti artwork tidak hanya sebagai elemen estetik/fungsi pasif tetapi masyarakat dapat berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung pada artwork. Pada diagram di Gambar 31 diketahui bahwa dari hasil responden menyatakan artwork perlu berfungsi sebagai elemen taman seperti bangku taman, lampu, air mancur dan sebagainya sehingga memiliki fungsi aktif. Fungsi aktif juga dapat memudahkan masyarakat mengenali artwork dan menjadi elemen yang dapat digunakan sehingga tidak hanya menjadi elemen yang pasif yang hanya dapat dilihat.
Selain fungsi aktif bentuk dari artwork tersebut juga perlu diperhatikan untuk mempermudah pengguna mengenali masing-masing lokasi. Hasil dari kuisioner di diagram pada Gambar 32 menyatakan bahwa pengguna menginginkan bentuk
Gambar 30 Bangunan menjadi landmark lawasan yang mudah dikenali
80% 20%
Landmark Berupa Bangunan
Landmark Lainnya
Gambar 31 Fungsi artwork yang diinginkan oleh pengguna
24%
71%
5% Hasil Seni Patung/pahat
Ornamen Taman
39 kombinasi yaitu geometris dan organik agar mudah dikenali. Bentuk kombinasi dapat memberikan kesan dinamis pada lanskap jalan sehingga dapat terlihat kontras namun tetap harmonis terhadap lingkungannya. Bentuk merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan menurut Porteous (1977) untuk membentuk struktur kawasan. Selain itu bentuk artwork juga perlu menjadi simbol bagi kawasannya untuk memperkuat karakter dan memberi pembeda bagi masing masing lokasi yang menjadi salah satu syarat pembentuk mental map. Menurut Lynch (1960) simbol dapat berupa karaktek non fisik yang dapat memperkuat karakter artwork.
Untuk memperkuat karakter artwork agar harmonis dengan kawasannya maka konsep yang akan diangkat di Jalan Medan merdeka juga perlu diperhatikan. Pada diagram di Gambar 33, responden menyatakan bahwa konsep artwork yang sesuai pada kawasan Jalan Medan Merdeka adalah konsep sejarah sebesar 60% memilih konsep tersebut untuk diangkat di Kawasan Jalan Medan Merdeka.
Gambar 33 Konsep artwork yang diinginkan oleh pengguna
60% 35%
5%
Historik
futuristik
Lainnya
Gambar 32 Konsep yang diinginkan oleh pengguna
27%
27% 46%
0%
Organik
Geometris
Kombinas (Geometrik & Organik)