1
PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KERJA
SISWA BERBASIS GROUP INVESTIGATION
TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP
FLUIDA STATIS
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh: YANI ASTUTI NIM: 1110016300024
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
iii
ABSTRAK
Yani Astuti,”Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa Berbasis Group
Investigation terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis”.
Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Lembar Kerja Siswa Berbasis Group Investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis. Penelitian ini dilakukan di SMAN 10 Tangerang Selatan pada bulan Maret - April 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Quasi Eksperimen. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 10 Tangerang Selatan yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Instrumen tes objektif pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban terdiri dari 25 butir soal. Teknik analisis yang digunakan adalah uji “t”. berdasarkan perhitungan diperoleh thitung
3,33 dan ttabel 1,66 pada taraf signifikasi 0,05, sehingga thitung > ttabel (terdapat
pengaruh Lembar Kerja Siswa berbasis Group Investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis pada kelas XI SMAN 10 Tangerang Selatan).
iv ABSTRACT
Yani Astuti, "Influence of Student Worksheet Based Group Investigation of the Student Results on Static Fluid Concepts". Thesis, Department of Physics Education, Education Department of Natural Sciences, Faculty of Science and Teaching Tarbiyah, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.
This study aims to determine the effect of the Student Worksheet Group Investigation Based on students result in a static fluid concept. This research was conducted at SMAN 10 Tangerang in March - April 2015. The method used is the Quasi Experiment method. The research sample is a class XI student of SMAN 10 Tangerang which consists of two groups: control groups and experimental groups. The sampling technique used was purposive sampling. Multiple choice objective test instrument with five alternative answers consisted of 25 items. The analysis technique used is the "t". Based on calculations obtained t 3,33 and ttable 1.67 at 0.05 level of significance, so tcount> ttable (that
there is influence Student Worksheet Investigation Group based on students result in a static fluid concept in class XI SMAN 10 South Tangerang)
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah menciptakan
semesta dengan segala kesempurnaan. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurah untuk Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah memberi ajaran
Islam agar kita menjadi orang yang bermanfaat.
Puji syukur karena penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa berbasis Group Investigation terhadap Hasil belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis” sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini melibatkan banyak pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, mama Armini dan bapa Sukram Sumaryo yang tak
pernah bosan mendengarkan keluh kesah, dan selalu memberikan dukungan
berupa ridho, doa, restu, nasihat, dan materi.
2. Seluruh keluarga yang selalu ada dan membantu dalam segala hal. Terutama lik
Trisno, kang Kismo, yu Dewi, lik Ratna, dede Nano, Atin, Atun, lik Sarwo, tua
Kustam, tua Darno, mama Syarif, lik Sul, dan semua keluarga yang tidak bisa
disebutkan satu-satu.
3. Almarhum Ratum Ratmaji, kakek tercinta dan almarhumah Natiyem, nenek
tercinta. Terima kasih atas pelajaran hidupnya. Syurga adalah sebaik-baiknya
tempat untuk kalian. Aamiin.
4. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
5. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
6. Bapak Dwi nanto, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika
vi
7. Ibu Kinkin Suartini, M.Pd dan Ibu Fathiah Alatas, M.Si, selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi
8. Bapak Drs. H. Agus Purwanto, selaku Kepala SMAN 10 Tangerang Selatan
yang telah memberikan izin untuk penelitian di sekolah.
9. Ibu Lily Vebrina, S.Si, selaku guru Fisika SMAN 10 Tangerang Selatan yang
memberikan arahan dalam penelitian
10.Teman-teman seperjuangan Pendididikan Fisika 2010 (Graviten)yang selalu
memberikan dukungan, motivasi dan berbagi ilmu selama penulisan skripsi ini.
Terutama untuk PAPRIKA (Yessi, Redha, Eksa, Uyun, Yayu, dan Anaa),
semoga persahabatan kita abadi. Aamiin.
11.Sahabat/i Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon P.IPA
Komisariat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (KOMFAKTAR) Cabang
Ciputat, yang telah memberikan berbagai pengalaman dan ilmu baru yang tidak
pernah didapatkan di bangku perkuliahan. Saya bangga pernah bergerak
bersama dan menjadi bagian kecil dari PMII. Salam Pergerakan!
12.Sahabat-sahabat HMJ P.IPA dan GAMMA UIN Jakarta yang turut membantu
memberikan pengalaman menjadi bagian kecil dari organisasi intra kampus.
Terutama untuk kak Rifqi, Alvian, Tuti, Aida, Dian, Cuda, Ipeh, Ditya, Tyo,
Ristha A, Ristha B, Lianda, Ipah, Ifan, Faiz, Eka Setiawan, dll.
13.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
penulis secara terbuka menerima setiap kritik dan saran yang bersifat membangun.
Walaupun demikian, penulis tetap berharap skripsi ini dapat berguna khususnya
bagi pembaca dan umumnya bagi penyelenggara khasanah keilmuan di lingkungan
pendidikan.
Jakarta, Juni 2015
vii
B. Identifikasi Masalah 4
C. Pembatasan Masalah 4
D. Perumusan Masalah 5
E. Tujuan Penelitian 5
F. Manfaat penelitian 5
BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis 6
1. Bahan Ajar 6
2. Lembar Kerja Siswa 8
a. Definisi LKS 8
b. Unsur-unsur LKS Sebagai Bahan Ajar 11
c. Macam-macam LKS 11
d. Langkah-langkah penyusunan LKS 12
3. Model pembelajaran Kooperatif 13
4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation 15 5. Kelebihan dan Kelemahan Group Investigation 19
6. LKS berbasis Group Investigation 20
7. Hasil Belajar 22
8. Fluida Statis 22
a. Kompetensi Dasar 23
b. Karakteristik Konsep 25
c. Peta Konsep 26
viii
B. Kerangka Berpikir 32
C. Penelitian Relevan 35
D. Hipotesis 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat penelitian 38
B. Metode Penelitian 38
C. Desain Penelitian 38
D. Variabel Penelitian 38
E. Populasi dan Sampel 38
1. Populasi 38
2. Sampel 38
F. Prosedur Penelitian 40
G. Instrument Penelitian 41
1. Uji Validitas 41
2. Uji Reliabilitas 43
3. Uji Tingkat Kesukaran Butir Soal 44
4. Uji Daya Pembeda 45
H. Teknik Analisis Data 48
1. Pemberian Skor 52
2. Uji Prasyarat Hipotesis 52
3. Uji Hipotesis Penelitian 54
I. Hipotesis Statistik 54
BAB IV HASL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 54
1. Hasil pretest kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol 54 2. Hasil posttest kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol 56 3. Uji Normalitas Gain kelompok Eksperimen dan Kontrol 59 4. Uji Homogenitas Gain kelompok Eksperimen dan Kontrol 60
5. Uji Hipotesis 61
B. Pembahasan 62
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan 64
B. Saran 64
DAFTAR PUSTAKA 65
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Keadaan Benda dalam Zat Cair 30
Tabel 3.1 Nonequivalent Control Group Design 39
Tabel 3.2 Kategori Koefisien Korelasi Nilai r 42
Tabel 3.3 Hasil Analisis Validitas Instrumen Tes 42
Tabel 3.4 Kategori Reliabilitas 43
Tabel 3.5 Hasil Analisis Reliabilitas Instrumen Tes 44
Tabel 3.6 Kategori Taraf Kesukaran 45
Tabel 3.7 Hasil Analisis Taraf Kesukaran Instrumen Tes 45
Tabel 3.8 Klasifikasi Daya Pembeda 46
Tabel 3.9 Hasil Analisis Daya Pembeda Instrumen Tes 46
Tabel 3.10 kisi-kisi Penulisan Instrumen Tes 48
Tabel 4.1 Nilai Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 55
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Kontrol 56
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Nilai Posttest Kelompok Eksperimen 57
Tabel 4.4 Nilai Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 59
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Nilai Posttest Kelompok Kontrol 59
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Eksperimen 60
Tabel 4.7 Uji Normalitas Kelompok Kontrol dan Eksperimen 61
Tabel 4.8 Uji Homogenitas Kelompok Kontrol dan Eksperimen 62
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Konsep 27
Gambar 2.2 Contoh Penerapan Hukum Pascal: Dongkrak Hidrolik 29
Gambar 2.3 Keadaan Benda dalam Zat Cair 30
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Perangkat Pembelajaran
Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 67
Lampiran 2 Lembar Kerja Siswa 92
Lampiran Instrumen Penelitian dan Uji Coba Instrumen Penelitian
Lampiran 3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian 153
Lampiran 4 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Uji Validitas 182
Lampiran 5 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Uji Reliabilitas 185
Lampiran 6 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Taraf Kesukaran 187
Lampiran 7 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Daya Pembeda 189
Lampiran 8 soal Instrumen Tes yang Dipakai dalam Penelitian 191
Lampiran 9 Angket Observasi guru 197
Lampiran 10 Angket Observasi siswa 200
Lampiran Uji Analisis Data
Lampiran 11 Data Nilai Pretest dan Posttest 203
Lampiran 12 Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest kelompok Kontrol 206
Lampiran 13 Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest kelompok Eksperimen
208
Lampiran 14 Uji Normalitas 210
Lampiran 15 Uji Homogenitas 220
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu alam merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur dan perilaku
alam berdasarkan fakta-fakta yang dapat dibuktikan. Sedangkan fisika adalah salah
satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam yang pada dasarnya bertujuan untuk
mempelajari dan memberi pemahaman baik secara kualitatif maupun kuantitatif
tentang berbagai gejala atau proses alam dan sifat zat serta penerapannya.1 Dalam
meningkatkan pendidikan di Indonesia proses belajar mengajar yang merupakan
kegiatan inti harus ditingkatkan sehingga tercapai tujuan pendidikan dalam bentuk
terjadinya perubahan tingkah laku, pengetahuan dan keterampilan siswa.2 Dengan
demikian, untuk mengembangkan potensi siswa, salah satu upaya yang dapat
dilakukan adalah meningkatkan kualitas pendidikan.3
Fisika merupakan satu bidang sains yang diajarkan pada sekolah jenjang
menengah. Sebagian siswa mengaku tertarik mempelajari fisika namun sebagian
lain beranggapan bahwa mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran yang sulit
sehingga berimbas pada kegiatan siswa di dalam kelas yang pasif dan tidak
berorientasi (disoriented). Hal ini menyebabkan hasil pembelajaran fisika
menunjukkan hasil yang kurang baik.4 Pernyataan ini didasarkan pada hasil
penyebaran angket yang dilakukan oleh penulis pada 11 SMA Negeri di Tangerang
Selatan dan menemukan bahwa sebagian besar responden (58,2 %) yang terdiri dari
1 Mundilarto. Penilaian Hasil Belajar Fisika. (Yogyakarta: Pusat Pengembangan
Instruksional Sains FMIPA UNY cet kedua, 2010), h. 3
2Tri Hertati Girsang.”Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa SMAN 1 Sumbul Tahun Pembelajaran 2013/2014,” Skripsi pada
Universitas Negeri Medan, 2014, h.1, dipublikasikan
3 Felasufiah maulani. “Pengaruh keterampilan bertanya guru dalam meningkatkan hasil
belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 17 Ciputat”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015, h. 1, tidak dipublikasikan
4 Nike Gusmedi. Penaruh Penerapan Lembar Kerja Siswa Berbasis Sains Teknologi
siswa SMA kelas XI dan XII mengalami kesulitan dalam belajar fisika yang
kemudian diakui siswa menyebabkan rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa
Selain itu, berdasarkan hasil penyebaran lembar angket didapatkan bahwa
masih kurangnya kegiatan laboratorium di sekolah untuk menambah pemahaman
siswa terhadap materi fisika yang sedang diajarkan. Sebanyak 65,8% siswa
mengaku pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih bersifat konvensional. Hal
ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Mayasari bahwa kegiatan
laboratorium jarang dilakukan oleh guru sehingga interaksi antar-siswa kurang
berjalan dengan baik dan siswa tidak mendapatkan pengalaman dalam
pembelajaran IPA Fisika yang seharusnya dilakukan melalui praktikum langsung
di laboratorium.5 Penggunaan LKS dalam kegiatan praktikum dapat melatih siswa
belajar secara cakap, kreatif dan mandiri. LKS juga dapat membantu guru untuk
menyampaikan materi. Sementara dari hasil wawancara terbuka dengan guru mata
pelajaran fisika, guru beralasan bahwa sarana yang diperlukan untuk menunjang
kegiatan praktikum belum terpenuhi. Mereka juga berdalih bahwa eksperimen atau
praktikum harus menggunakan alat laboratorium, padahal sebenarnya eksperimen
bisa dilakukan dengan alat sederhana.
Pembelajaran seperti ini mengakibatkan siswa cenderung hanya menerima
pembelajaran, kurang memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat, enggan
untuk bertanya bila ada materi yang kurang jelas, kurang memiliki kemampuan
merumuskan gagasan sendiri dan siswa belum terbiasa bersaing dalam
menyampikan pendapat dengan orang lain.6 Oleh karena itu, diperlukan perbaikan
dalam pembelajaran agar proses belajar mengajar terlaksana dengan baik dan hasil
belajar meningkat, yaitu dengan menciptakan suatu proses belajar mengajar yang
lebih menarik, mudah dipahami dan dapat mendorong siswa untuk berperan aktif
di dalam kelas. Salah satu model yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah model
pembelajaran kooperatif.
5
Ade Mayasari. Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation berbantukan LKS terhadap hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VII SMPN 8 Padang. Jurnal pendidikan FisikaVol.2 h 145.2013.
6Tri Hertati Girsang.”Pengaruh Model Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi
belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil dengan keahlian berbeda, dan
di dalam kelompok kecil tersebut siswa saling belajar dan bekerjasama untuk
sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun
pengalaman kelompok.7 Model pembelajaran kooperatif dibagi menjadi beberapa
tipe, diantaranya adalah: Student Teams-Achievement Divisions (STAD), Team-Game-Tournament (TGT), Team-Assisted Individualisation (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Group Investigation (GI), dan Jigsaw.8
Penulis memlih tipe Group Investigation (GI) karena melalui pembelajaran
kooperatif tipe GI setiap siswa dalam kelompok memiliki tugas dan tanggungjawab
masing-masing untuk berkontribusi dalam kelompok sehingga setiap anggota
kelompok memiliki peran, fungsi dan tanggungjawab masing-masing terhadap
kelompoknya. Oleh karena itu, melalui model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation akan memudahkan guru untuk memfasilitasi siswa dalam bertukar pikiran di kelas bersama teman sebayanya dan akan terjadi proses give and take antara siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa yang berkemampuan rendah.
Setiap siswa juga dapat berperan aktif di dalam kelompoknya. Model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation menekankan kebersamaan dalam kelompok.
Konsep fisika yang dipelajari di SMA terbagi menjadi konsep yang bersifat
teori dan konsep yang bersifat eksperimental. Salah satu materi yang bersifat
eksperimental adalah materi fluida statis. Dari beberapa materi yang ditawarkan
pada lembar angket siswa, ternyata sebanyak 50,8 % siswa menganggap bahwa
konsep fluida statis merupakan salah satu konsep yang dianggap sulit karena
cakupan materinya yang cukup banyak dan disertai dengan formula yang dianggap
rumit. Untuk mengatasi hal tersebut maka penulis memilih model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation yang diharapkan sesuai untuk diterapkan dalam
konsep fluida statis.
7 Zulfiani dkk. Strategi Pembelajaran Sains. (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Jakarta.2009), h. 130
8 Robert E Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa
Menurut pengakuan siswa yang tercermin dari lembar angket, fluida statis
merupakan konsep yang memungkinkan untuk melakukan percobaan secara
langsung untuk memahami konsep secara mendalam karena fenomena fluida statis
dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga melalui percobaan, siswa
dapat lebih memahami materi fluida statis karena dapat membuktikan teori yang
sedang dipelajari di dalam kelas.
Perpaduan yang tepat antara bahan ajar yang digunakan, model
pembelajaran dan konsep yang diajarkan akan menghasilkan output yang baik pula.
Dalam penelitian ini, penulis memadukan bahan ajar berupa Lembar Kerja Siswa
(LKS) jenis eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI terhadap
hasil belajar siswa. Penelitian ini diharapkan dapat mengubah pola pembelajaran
untuk meningkatkan minat belajar siswa. Dengan meningkatnya minat belajar
siswa, maka diharapkan hasil belajar siswa juga meningkat. Oleh karena itu, penulis mengambil judul ”Pengaruh Peggunaan Lembar Kerja Siswa Berbasis Group Investigation terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis”.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang dipaparkan diatas dapat diidentifikasikan
masalahnya sebagai berikut:
1. Siswa menganggap Fisika sebagai mata pelajaran yang sulit (58,2%)
2. Hasil belajar siswa masih rendah
3. Kurangnya kegiatan laboratorium
4. Pembelajaran oleh guru masih bersifat konvensional
5. Fluida statis sebagai salah satu materi yang bersifat eksperimental dan dianggap
sulit
C. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1. Hasil belajar fisika yang diukur hanya mencakup aspek kognitif pada tingkatan
C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (menerapkan), dan C4 (menganalisis).
D. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh penggunaan LKS berbasis Group Investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis? ”
Secara operasional rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dijabarkan ke
dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana hasil pre-test kelompok kontrol dan eksperimen?
2. Bagaimana hasil post-test kelompok kontrol dan eksperimen?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh
penggunaan LKS berbasis GI terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
a. Bagi siswa, diharapkan agar siswa terlatih untuk belajar secara mandiri dan
terbiasa untuk melakukan eksperimen serta dapat melatih siswa untuk
bekerjasama dengan teman sebaya sehingga dapat meningkatkan peran siswa
dalam proses pembelajaran di kelas.
b. Bagi guru: diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas guru untuk membuat
bahan ajar yang dapat meningkatkan peran siswa dan melatih siswa belajar
secara mandiri.
Bagi peneliti: meningkatkan pengetahuan tentang strategi yang digunakan
dalam pembelajaran fisika khususnya bahan ajar LKS yang berbasis GI dan
6
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis 1. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru
atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Lebih lanjut lagi,
bahan ajar ini berfungsi sebagai:20
a. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses
pembelajaran.
b. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses
pembelajaran.
c. Alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.
Bahan ajar disusun dengan tujuan sebagai berikut:21
a. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan
mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan
karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.
b. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping
buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
c. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Manfaat yang diperoleh ketika guru mengembangkan bahan ajar, antara lain:22
a. Guru akan memiliki bahan ajar yang dapat membantu dalam pelaksanaan
kegiatan pembelajaran
b. Bahan ajar dapat diajukan sebagai karya yang dinilai untuk menambah angka
kredit pendidik guna keperluan kenaikan pangkat
c. Menambah penghasilan bagi guru jika karyanya diterbitkan
20
Depdiknas, Panduan Pengembangan Bahan Ajar, (Jakarta: Depdiknas, 2008) h.6
21Ibid, h. 9
22 Andi Prastowo. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, (Yogyakarta: DIVA
Manfaat penggunaan bahan ajar bagi siswa yaitu:23
a. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b. Siswa menjadi lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara
mandiri dengan bimbingan guru.
c. Siswa mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang
harus dikuasainya.
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip
pembelajaran, diantaranya: 24
a. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang konkret untuk
memahami yang abstrak.
b. Pengulangan akan memperkuat pemahaman.
c. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa.
d. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu penentu keberhasilan belajar.
e. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan
mencapai ketinggian tertentu.
f. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus
mencapai tujuan.
Bahan ajar yang baik dipenuhi jika bahan ajar yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran, sehingga untuk mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan
pmbelajaran, maka diperlukan beberapa analisis bahan ajar yang melingkupi:25
a. Analisis SK-KD. Analisis ini digunakan untuk menentukan
kompetensi-kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar.
b. Analisis sumber belajar. Analisis dilakukan terhadap ketersediaan, kesesuaian,
dan kemudahan dalam memanfaatkannya.
c. Pemilihan dan penentuan bahan ajar, hal ini diperlukan untuk memenuhi salah
satu kriteria bahwa bahan ajar harus menarik, dapat membantu siswa untuk
mencapai kompetensi.
Bahan ajar dibagi menjadi 2 yaitu bahan ajar cetak dan bahan ajar non cetak.
Bahan ajar cetak misalnya LKS, modul, buku, dan lain-lain. Sedangkan bahan ajar
non cetak bisa berupa kaset, media dengar (radio), dll.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar cetak
diantaranya: 26
a. Susunan tampilan, susunan tampilan diantaranya urutan yang mudah dipahami,
terdapat daftar isi, struktur kognitifnya jelas, rangkuman, dan tugas yang harus
dilaksanakan oleh pembaca.
b. Bahasa yang mudah, yaitu penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh
pembaca, jelas, singkat dan menggunakan kalimat-kalimat yang tidak terlalu
panjang.
c. Bahan ajar yang baik mampu memberikan pemahaman terhadap pembacanya.
Untuk menguji pemahaman pembaca diperlukan uji pemahaman, salah satunya
dengan menggunakan check list sebagai tanda bahwa pembaca telah memahami
isi bahan ajar tersebut.
d. Stimulan. Tulisan yang disajikan dalam bahan ajar cetak harus dapat
mendorong pembaca untuk berpikir, sehingga dapat menstimulasi kerja otak.
e. Kemudahan dibaca, hal ini terkait jenis huruf yang digunakan, susunan tulisan
atau paragraf, kerapihan tulisan, dan ukuran huruf yang dipakai.
f. Materi instruksional, yang menyangkut: pemilihan teks, bahan kajian, lembar
kerja (work sheet).
2. Lembar Kerja Siswa (LKS) a. Definisi LKS
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan bentuk bahan ajar cetak untuk
mendukung proses pembelajaran. 27 Dalam penelitian lain disebutkan bahwa LKS
adalah bahan ajar yang berisi tugas disertai petunjuk dan langkah-langkah untuk
26Depdiknas, Op.Cit, h. 18
27 Nike Gusmedi, Pengaruh penerapan Lembar Kerja Siswa berbasis Sains Teknologi
menyelesaikannya.28 Depdikbud dalam Trianto mendefinisikan Lembar Kegiatan
Siswa (LKS) adalah suatu bentuk lembar kerja yang berisi pedoman bagi siswa
untuk melakukan kegiatan terprogram.29 Dari beberapa definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa LKS adalah bentuk bahan ajar cetak yang berisi pedoman atau
petunjuk untuk melakukan kegiatan terprogram guna mendukung proses
pembelajaran. Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan teoritis maupun kegiatan
praktis disesuaikan dengan materi yang sedang dipelajari. Tugas teoritis contohnya
membaca artikel, membuat resume dan lain sebagainya, sedangkan kerja
laboratorium yakni melakukan percobaan di dalam laboratorium maupun di
lapangan. 30
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain LKS yaitu mengenai
tingkat kemampuan membaca dan pengetahuan siswa. Berikut ini yaitubatasan
umum yang dapat dijadikan pedoman dalam menentukan desain LKS: 31
1) Ukuran
Gunakan ukuran yang dapat mengakomodasi kebutuhan instruksional yang
telah ditetapkan.
2) Kepadatan halaman
Usahakan agar halaman tidak terlalu dipadati dengan tulisan karena dapat
mengakibatkan siswa sulit memfokuskan perhatian.
3) Kejelasan
Pastikan bahwa materi dan instruksi yang diberikan dalam LKS dapat jelas
dibaca siswa. Meskipun sempurna materi yang disiapkan tetapi jika siswa tidak
dapat membacanya dengan jelas maka LKS tidak akan memberikan hasil yang
optimal.
28 Nikmatul Husna, Penggunaan ICT pada LKS berorientasi STS Terhadap Hasil belajar
siswa kelas VII SMPN 1 Padang. Jurnal Pendidikan Fisika Vol.2. 2013, h. 132.
29 Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran tematik, (Jakarta: Kencana, 2011), h.243
30
Nikmatul husna. loc. cit.
31 Denny Setiawan, dkk. Pengembangan Bahan Ajar. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)
Langkah-langkah dalam mengembangkan LKS, yaitu: 32
1) Tentukan tujuan Instruksional yang akan diturunkan dalam LKS.
Tentukan desain, perhatikan variabel ukuran, kepadatan halaman, dan
kejelasan.
2) Pengumpulan bahan.
Tentukan materi dan tugas yang akan diberikan kepada siswa dan pastikan
bahwa pilihan ini sejalan dengan tujuan instruksional. Kumpulkan bahan/
materi dan buat perincian tugas yang harus dilaksanakan oleh siswa. Bahan
yang dimuat dalam LKS dapat juga dikembangkan sendiri atau memanfaatkan
materi yang sudah tersedia.
3) Penyusunan elemen
Ini merupakan langkah pengintegrasian desain dengan materi dan tugas. Kedua
hal ini dipadukan sehingga menjadi sebuah paduan yang selaras.
4) Pengecekan dan penyempurnaan.
Lakukan pengecekan terhadap LKS yang telah dikembangkan. Terdapat empat
variabel yang harus diperiksa, yaitu:
a.) Kesesuaian desain dengan tujuan instruksional. Kesesuaian desain
maksudnya yaitu memastikan bahwa desain yang telah ditentukan dapat
mengakomodasi pencapaian tujuan instruksional.
b.) Kesesuaian materi dengan tujuan instruksional. Kesesuaian materi yang
dimuat dalam LKS harus dipastikan sesuai dengan tujuan instruksional yang
ditargetkan.
c.) Kesesuaian elemen dengan tujuan instruksional maksudnya bahwa tugas
dan latihan yang diberikan dapat menunjang pencapaian tujuan
instruksional.
d.) Kejelasan penyampaian. Hal ini menyangkut keterbacaan LKS dan
ketersediaan ruang untuk mengerjakan tugas yang diminta.
LKS memiliki setidaknya empat fungsi sebagai berikut33:
1) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran guru, namun lebih
mengaktifkan siswa.
2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah siswa untuk memahami materi yang
diberikan.
3) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih, serta
4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa.
b. Unsur-unsur LKS Sebagai Bahan Ajar
Berdasarkan formatnya, LKS memuat paling tidak delapan unsur, yaitu judul,
kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan atau bahan yang
diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang
harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan.34
c. Macam-macam LKS
Penyusunan LKS harus disesuaikan dengan materi-materi dan tugas tertentu
agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga setiap LKS memiliki maksud
dan tujuan pengemasan materi. Hal ini mengakibatkan LKS memiliki beberapa
bentuk, yaitu : 35
1) LKS yang membantu siswa menemukan suatu konsep, LKS jenis ini memuat
apa yang harus dilakukan siswa, meliputi melakukan, mengamati, dan
menganalisis.
2) LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep
yang telah ditemukan, yaitu dengan cara memberikan tugas kepada siswa untuk
melakukan diskusi dan berlatih memberikan kebebasan berpendapat yang
bertanggungjawab.
3) LKS yang berfungsi sebagai penuntun belajar. LKS ini berisi latihan soal atau
pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ada di dalam buku, sehingga siswa
akan dapat mengerjakan LKS tersebut jika mereka membaca buku.
33 Prastowo, Op. Cit, h. 205-206 34Ibid, h.208
4) LKS yang berfungsi sebagai penguatan. LKS ini berisi pendalaman materi yang
dapat digunakan sebagai pembelajaran pokok dan untuk pengayaan.
5) LKS yang berfungsi sebagai petunjuk praktikum. Dalam LKS bentuk ini, LKS
berisi petunjuk untuk melakukan sebuah praktikum.
Popi Kamalia Devi dkk menyantumkan dua jenis LKS untuk pembelajaran
IPA, yaitu : 36
1) LKS untuk eksperimen berupa petunjuk untuk melaksanakan praktikum yang
menggunakan alat-alat dan bahan-bahan.
2) LKS non eksperimen berupa lembar kegiatan yang memuat teks yang menuntun
siswa melakukan kegiatan diskusi suatu materi pembelajaran.
d. Langkah-langkah penyusunan LKS
Menurut Andi Prastowo terdapat beberapa langkah dalam menyusun LKS,
yaitu: 37
1) Melakukan Analisis Kurikulum
Langkah analisis dilakukan dengan cara melihat materi pokok, pengalaman
belajar, serta materi yang akan diajarkan.
2) Menyusun Peta Kebutuhan LKS
Peta kebutuhan sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKS yang harus
ditulis serta melihat urutan LKS-nya.
3) Menentukan Judul-judul LKS
Judul LKS ditentukan atas dasar kompetensi dasar, materi pokok, atau
pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum.
4) Penulisan LKS
Untuk menuliskan LKS, langkah-langkah yang perlu dilakukan diantaranya
yaitu merumuskan kompetensi dasar, menentukan alat penilaian, menyusun
materi, dan memperhatikan struktur LKS (judul, petunjuk belajar atau petunjuk
siswa, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan
langkah kerja, serta penilaian).
36 Popi Kamalia Devi, dkk. Pengembangan perangkat Pembelajaran untuk SMP,
(Jakarta: PPPPTK IPA, 2009) h. 32-33
3. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang
anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang
bersifat heterogen.38 Pembelajaran dengan menggunakan model ini akan
menciptakan sebuah interaksi dan komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa
dengan siswa (multiway traffic communication).39
Salah satu asumsi yang mendasari pengembangan pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) bahwa sinergi yang muncul melalui kerjasama akan
meningkatkan motivasi yang jauh lebih besar daripada melalui lingkungan
kompetitif individual. Kelompok-kelompok sosial integratif memiliki pengaruh
yang lebih besar daripada kelompok yang dibentuk secara berpasangan. Perasaan
saling keterhubungan (feelings of connectedness) dapat menghasilkan energi yang
positif. 40
Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa jenis, diantaranya Student Teams
Achievement Divisions (STAD), Team Game Tournament (TGT), Team Assisted Individualization (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Group Investigation (GI), dan Jigsaw. 41
Nurulhayati mengemukakan lima unsur dasar model pembelajaran kooperatif
yaitu :42
1) Ketergantungan yang positif, yaitu bentuk kerjasama antar anggota kelompok
untuk mencapai tujuan bersama karena kesuksesan kelompok bergantung pada
kesuksesan anggotanya.
2) Pertanggungjawaban individual. Kesuksesan kelompok bergantung pada cara
belajar anggota kelompok. Setiap anggota berkewajiban menjelaskan konsep
38 Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Depok:
PT Raja Grafindo Persada, 2012), edisi kedua h. 202
39Ibid, h.203
40 Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2014) h. 111
pada anggota lain dan memastikan bahwa setiap anggota mampu melaksanakan
aktivitas tanpa pertolongan anggota lain.
3) Kemampuan bersosialisasi. Dalam sebuah kelompok, kerjasama anggota
yaitusebuah kemampuan yang harus dimiliki untuk mencapai tujuan bersama.
Kelompok tidak akan berfungsi secara efektif jika antar anggota tidak memiliki
kemampuan bersosialisasi yang baik.
4) Tatap muka, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu dan
melakukan diskusi sehingga dapat menguntungkan semua anggota kelompok.
5) Evaluasi proses kelompok, guru memberikan waktu bagi setiap kelompok untuk
melakukan evaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama agar selanjutnya
bisa bekerjasama lebih efektif.
Secara umum pembelajaran kooperatif terdiri dari lima karakteristik, yaitu:43
1) Siswa belajar bersama pada tugas-tugas umum atau aktivitas untuk
menyelesaikan tugas atau aktivitas pembelajaran.
2) Siswa saling bergantung secara positif.
3) Siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2-5 siswa.
4) Siswa menggunakan perilaku kooperatif, pro-sosial.
5) Setiap siswa secara mandiri bertanggungjawab untuk pekerjaan pembelajaran
mereka.
Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya: 44
1) Pembelajaran secara tim, tim harus mampu membuat siswa belajar dan setiap
anggota tim harus bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
2) Didasarkan pada manajemen kooperatif, yaitu fungsi manajemen sebagai
perencanaan pelaksanaan, fungsi manajemen sebagai organisasi, dan fungsi
manajemen sebagai kontrol.
3) Kemauan untuk bekerjasama, kerjasama antar anggota kelompok sebagai salah
satu pemicu keberhasilan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerjasama
yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.
4) Keterampilan bekerjasama. Siswa didorong untuk berinteraksi dan
berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.
Intinya, dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam kelompok kecil
dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Dalam menyelesaikan tugas
kelompok, mereka saling membantu dan bekerjasama untuk memahami suatu
bahan pembelajaran.
4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)
Pengembangan belajar kooperatif GI didasarkan atas suatu premis bahwa
proses belajar di sekolah menyangkut kawasan dalam domain sosial dan intelektual
serta proses yang terjadi merupakan penggabungan nilai-nilai kedua domain
tersebut. Oleh karenanya, kesuksesan implementasi teknik kooperatif tipe GI sangat
tergantung dari pelatihan awal dalam penguasaan keterampilan komunikasi dan
sosial. Tugas-tugas akademik harus diarahkan pada pemberian kesempatan bagi
anggota kelompok untuk memberikan berbagai macam kontribusinya, bukan hanya
sekedar didesain untuk mendapat jawaban dari suatu pertanyaan yang bersifat
faktual (apa, siapa, di mana, atau sejenisnya).45
Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat dipakai guru untuk mengembangkan kreativitas siswa, baik secara perorangan atau kelompok.
Group investigation tidak akan dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak
memerhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran di dalam kelas. Dalam GI,
siswa diberi kontrol dan pilihan penuh untuk merencanakan apa yang ingin
dipelajari dan diinvestigasi.46 Sesuai namanya, GI sesuai untuk projek-projek studi
yang terintegrasi dalam ranah kognitif yang berhubungan dengan hal-hal seperti
penguasaan, analisis, dan mensintesis informasi sehubungan dengan upaya
menyelesaikan masalah yang bersifat multi-aspek.47
45 Rusman, op. cit. h. 221
46 Miftahul Huda. Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model
Penerapan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015) . h. 123
Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation memiliki enam tahapan sebagai berikut :48
a. Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Siswa ke dalam Kelompok
Pada tahap ini, guru mempresentasikan serangkaian permasalahan atau isu dan
para siswa mengidentifikasikan dan memilih berbagai macam subtopik untuk
dipelajari berdasarkan pada ketertarikan dan latar belakang siswa. Partisipasi siswa
dalam tahap ini yaitusiswa mengekspresikan ketertarikan siswa pada subtopik yang
telah dipilih dan saling bertukar gagasan dan pendapat dengan teman sekelas.49
Selanjutnya, kelompok-kelompok dibentuk berdasarkan pada ketertarikan siswa
untuk mempelajari subtopik dari pilihan mereka sendiri. Namun, guru juga boleh
membatasi jumlah anggota dalam satu kelompok. Lebih singkatnya dapat ditulis
sebagai berikut :50
1) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan
mengkategorikan saran-saran.
2) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah
mereka pilih.
3) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat
heterogen.
4) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.
b. Merencanakan Tugas yang Akan Dipelajari
Pada tahap ini anggota kelompok menentukan aspek dari subtopik yang akan
siswa investigasi, sehingga tiap kelompok harus merumuskan sebuah masalah yang
akan diteliti, memutuskan bagaimana cara meneliti, menentukan sumber-sumber
yang diperlukan untuk melakukan investigasi tersebut. Selanjutnya, siswa harus
mengetahui tujuan atau kepentingan apa mereka menginvestigasi topik tersebut.
Setidaknya pada tahap ini setiap anggota sudah mantap dengan subtopik pilihannya
dan kemudian secara bersama-sama merencanakan kegiatan investigasi. Dalam
48Ibid, h. 218
kegiatan ini, setiap kelompok yang dipandu oleh ketua kelompok membagi tugas
setiap anggotanya.
c. Melaksanakan Investigasi
Dalam tahap ini tiap kelompok melaksanakan rencana yang telah
diformulasikan sebelumnya. Satu demi satu anggota kelompok mengumpulkan,
menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan-kesimpulan, dan
mengaplikasikan pengetahuan baru yang menjadi bagian mereka untuk
menciptakan sebuah resolusi atas masalah yang diteliti oleh kelompok. Selanjutnya,
kelompok tersebut akan berkumpul kembali dan para anggota kelompok saling
berbagi pengetahuan yang mereka dapatkan. Tahap ini dapat ditulis secara ringkas
sebagai berikut:51
1) Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat
kesimpulan.
2) Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan
kelompoknya.
3) Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklasifikasi, dan mensintesis semua
gagasan.
d. Menyiapkan Laporan Akhir
Tahap ini merupakan transisi dari tahap pengumpulan data dan klasifikasi ke
tahap dimana kelompok-kelompok yang ada melaporkan hasil investigasi siswa.
Lebih jelasnya sebagai berikut: 52
1) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari projek siswa.
2) Anggota kelompok merencanakan “apa” yang akan mereka laporkan, dan “bagaimana” mereka akan membuat presentasi mereka.
3) Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah “panitia acara” untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.
51Ibid, h. 219
Terdapat beberapa hal yang perlu dipedomani sebagai persiapan tahap
berikutnya agar semuanya berjalan sesuai dengan agenda acara. Hal-hal yang perlu
dipedomani pada tahap ini antara lain:53
1) Menekankan gagasan utama dan kesimpulan dari investigasi.
2) Memformulasikan kepada kelas mengenai sumber-sumber yang dirundingkan
kelompok dan bagaimana kelompok-kelompok tersebut mengumpulkan
informasi.
3) Memberikan kesempatan untuk tanya jawab.
4) Memastikan bahwa semua orang di dalam kelompok memainkan sebuah
peranan penting dalam presentasi.
5) Memastikan semua peralatan atau materi yang dibutuhkan.
e. Mempresentasikan Laporan Akhir
Pada tahap ini, siswa berkumpul kembali dan kembali pada posisi kelas sebagai
satu keseluruhan. Masing-masing kelompok sudah mempersiapkan diri untuk
mempresentasikan laporan akhir kelompoknya di depan kelas. Berikut kegiatan
siswa pada tahap ini: 54
1) Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk.
2) Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif.
3) Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh seluruh anggota kelas.
f. Evaluasi
Guru harus mampu membentuk evaluasi siswa yang dapat diandalkan yang
didasarkan pada percakapan dan observasi yang sering dilakukan terhadap aktivitas
akademik siswa. Umpan balik dari para siswa sendiri harus mampu memperlihatkan
53 Nurul Ulfah, “Pengaruh Model Cooperative Learning tipe Group Investigation
terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa pada Konsep Wujud Zat”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013, h. 18, tidak dipublikasikan
bagaimana perasaan mereka mengenai pekerjaan yang telah mereka lakukan. Tahap
evaluasi ini dapat ditulis secara lebih jelas sebagai berikut:55
1) Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai
tugas yang telah dikerjakan, mengenai keefektifan pengalaman-pengalaman.
2) Guru dan siswa berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
3) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.
5. Kelebihan dan Kelemahan Group Investigation
Beberapa kelebihan dan kelemahan group investigation sebagai berikut:56
a. Kelebihan GI
1) Secara Pribadi
Kelebihan GI jika dilihat dari sisi personal atau pribadi yakni dapat
meningkatkan rasa percaya diri, dapat belajar untuk menangani dan memecahkan
masalah, dapat memberikan semangat untuk inisiatif, kreatif dan aktif, serta
meningkatkan rasa tanggung jawab.
2) Secara berkelompok:
Kelebihan GI jika ditinjau dari segi kelompok belajar diantaranya yakni dapat
meningkatkan kerjasama, belajar berkomunikasi dengan sistematis dan baik
bersama teman sendiri maupun guru, belajar menghargai pendapat orang lain dan
meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan.
b. Kelemahan GI
Sedikitnya materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan, sulitnya
memberikan penilaian secara personal, tidak semua topik cocok dengan model
pembelajaran GI, model pembelajaran GI cocok untuk diterapkan pada suatu topik
yang menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan dari pengalaman yang
dialami sendiri
55Ibid, h. 219-220
56
6. LKS Berbasis Group Investigation
LKS berbasis group investigation yaitu LKS yang disusun berdasarkan
tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe GI. LKS yang dimaksud yaitu LKS jenis
eksperimen. Penyusunan LKS ini merujuk pada penyusunan LKS menurut Andi
Prastowo yaitu melalui langkah-langkah sebagai berikut: melakukan analisis
kurikulum, menyusun peta kebutuhan LKS, menentukan judul-judul LKS, dan
Penulisan LKS.57 LKS ini menyajikan sejumlah instruksi sebagai panduan dalam
melakukan eksperimen atau praktik laboratorium dan dilengkapi dengan beberapa
pertanyaan terkait praktikum yang telah dilakukan agar siswa dapat memahami dan
menyimpulkan materi yang sedang dipelajari.
Penggunaan LKS berbasis GI ini dapat memudahkan guru dalam
menyampaikan materi yang bersangkutan dan siswa juga akan lebih mudah untuk
memahami materi yang sedang dipelajari. LKS ini didesain sesuai dengan tahapan
model GI, sehingga proses pembelajaran yang berlangsung menjadi student centered. Dalam penyusunannya, LKS ini dilengkapi dengan unsur-unsur penyusunan LKS agar lebih jelas dan disertai dengan gambar-gambar yang
menarik. Gambar-gambar ini juga membantu siswa dalam memahami petunjuk atau
instruksi yang ada di dalam LKS.
Karakteristik LKS ini dilihat dari langkah-langkah penulisan LKS yang
disesuaikan dengan tahapan-tahapan model GI yaitu terdiri dari enam tahap sebagai
berikut:
a. Identifikasi topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok
b. Merencanakan investigasi
c. Melakukan investigasi
d. Menyiapkan laporan akhir
e. Mempresentasikan laporan akhir
f. Evaluasi
LKS ini disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk
mengarahkan siswa belajar secara berkelompok, berdiskusi dan
menyimpulkan materi bersama teman sekelompoknya
7. Hasil Belajar
Abdurrahman mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang
diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. 58 Belajar itu sendiri adalah
merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu
bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.
Benjamin S. Bloom berpendapat bahwa hasil belajar dapat dikelompokkan ke
dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari
empat kategori, yaitu: 59
1) Pengetahuan tentang fakta atau pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar
yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan
suatu masalah.
2) Pengetahuan tentang prosedural, meliputi pengetahuan tentang keterampilan
khusus, tahapan sistematis mengenai sistem program (meliputi; input, proses,
dan output). Prosedur berarti tahap demi tahap suatu proses untuk mencapai
hasil yang diharapkan.
3) Pengetahuan tentang konsep, berkaitan dengan klasifikasi, kategori;
prinsip-prinsip, generalisasi; teori, model dan struktur. Penguasaan pengetahuan faktual
ditandai dengan kemampuan mengklasifikasikan data, mengelompokan data
berdasarkan ciri-ciri kesamaannya, atau berdasarkan perbedaannya;
menunjukkan kekuatan atau kelemahan sebuah pernyataan, mengenali
prinsip-prinsip, menyimpulkan, menguasai teori, menunjukan contoh, dan mengenali
struktur.
4) Pengetahuan metakognitif, ialah kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa
yang tidak diketahui. Strategi metakognitif merujuk kepada cara untuk
58 Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Presindo,
2012), h. 14
meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang
berlaku.
Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu: 60
1) Keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif.
2) Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motoric.
3) Keterampilan bereaksi atau bersikap.
4) Keterampilan berinteraksi.
Terdapat tiga aspek kompetensi yang harus diraih untuk mengetahui seberapa
besar kompetesi yang telah dicapai, aspek tersebut sebagai berikut:
1) Penguasaan Materi Akademik (Kognitif)
Ranah kognitif juga berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan
keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Aspek tersebut yakni:61
a) Pengetahuan/ingatan (knowledge).
b) Pemahaman (comprehension).
c) Penerapan (application).
d) Analisis (analysis).
e) Sintesis (synthesis).
f) Evaluasi (evaluation).
2) Hasil Belajar yang Bersifat Proses Normatif (Afektif)
Domain afektif mencakup pemilikan minat, sikap, dan nilai yang ditanamkan
melalui proses belajar mengajar. Tujuan instruksional yang termasuk dalam domain
afektif diklasifikasikan oleh David Kratwohl ke dalam lima jenjang, yaitu: 62
a) Penerimaan (receiving), merupakan kepekaan menerima rangsangan (stimulus)
baik berupa situasi maupun gejala;
60Ibid, h. 15
61 Ahmad Sofyan, dkk. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, h. 14
b) Penanggapan (responding), berkaitan dengan reaksi yang diberikan seseorang
terhadap stimulus yang datang;
c) Penilaian (valuing), berkaitan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala
atau stimulus yang datang;
d) Organisasi (organization), yaitu penerimaan terhadap berbagai nilai yang
berbeda berdasarkan suatu sistem nilai tertentu yang lebih tinggi;
e) Karakteristik nilai (characterization by a value complex), merupakan
keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
3) Aplikatif Produktif (Psikomotor)
Domain psikomotor mencakup kemampuan yang berupa keterampilan fisik
(motorik) atau keterampilan manipulatif. Ranah psikomotor ada yang membagi
menjadi 7 tingkatan dan adapula yang menjadi 4 dan 6 tingkatan, yakni:63
a) Persepsi (perception). Mampu menafsirkan rangsangan, peka terhadap rangsangan, menyeleksi obyek.
b) Kesiapan (set). Mampu berkonsentrasi, menyiapkan diri secara fisik, emosi dan
mental.
c) Gerakan terbimbing (guided response). Mampu meniru contoh, mencoba-coba,
pengembangan respon baru.
d) Gerakan terbiasa (mechanism). Berketerampilan, berpegang pada pola, respon
baru muncul dengan sendirinya.
e) Gerakan kompleks (complex overt response). Sangat terampil secara lancer, luwes, supel, gesit, lincah.
f) Penyesuaian pola gerakan (adaptation). Mampu menyesuaikan diri, bervariasi,
pemecahan masalah.
g) Kreatifitas/keaslian (creativity/origination). Mampu menciptakan yang baru, berinisiatif.
Trowbridge dan Bybe mengklasifikasikan domain psikomotor kedalam empat
kategori, yaitu:64
a) Bergerak (moving). Kategori ini merujuk pada sejumlah gerak tubuh yang melibatkan koordinasi gerakan-gerakan fisik.
b) Memanipulasi (manipulating). Kategori ini merujuk pada aktivitas yang mencakup pola-pola yang terkoordinasi dari gerakan-gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh.
c) Berkomunikasi (communicating). Kategori ini merujuk pada upaya untuk menyampaikan pendapat, gagasan ataupun perasaan agar diketahui oleh orang
lain.
d) Menciptakan (creating). Kategori ini merujuk pada proses dan kinerja yang dihasilkan dari gagasan-gagasan baru.
Harrow dan Nitko mengemukakan enam kategori, yaitu:65
a) Gerakan refleks, yaitu respon terhadap rangsangan yang dilakukan tanpa sadar
sebagai dasar dari semua perilaku bergerak.
b) Gerakan dasar fundamental, yaitu gerakan yang muncul tanpa perlu latihan
namun dapat diperhalus melalui praktik, gerakan terpola dan dapat ditebak.
c) Kemampuan perseptual, yaitu gerakan lanjutan dengan bantuan persepsi.
d) Kemampuan fisik, yaitu gerakan yang berkembang melalui kematangan dan
belajar sehingga lebih efisien.
e) Gerakan-gerakan terlatih, mengontrol berbagai tingkatan gerak, terampil,
tangkas, cekatan melakukan gerakan yang rumit.
f) Komunikasi non verbal, mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan estetik
dan gerak kreatif.
Hasil belajar setiap individu dipengaruhi oleh belajar siswa. Hasil belajar fisika
dapat dikelompokkan ke dalam kompetensi yang berupa perilaku (behavioral
objectives) dan kompetensi bukan perilaku (non - behavioral objectives). Kompetensi yang berupa perilaku terwujud dalam perilaku khusus yang harus
ditunjukkan oleh siswa bahwa telah terjadi proses belajar, baik dalam ranah
kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sedangkan kompetensi non perilaku berupa
soft skills atau outcomes, misalnya siswa mampu bersikap dewasa dalam menghadapi masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari.66
Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi belajar siswa yaitu faktor internal,
eksternal dan pendekatan belajar. 67
1.) Faktor dari dalam yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang
berasal dari siswa belajar. Faktor dari dalam (internal) meliputi dua aspek,
fisiologi dan psikologis. Faktor fisiologi meliputi kondisi jasmaniah secara
umum dan kondisi panca indra. Faktor psikologis meliputi kecerdasan, bakat,
minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.
2.) Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa yang
mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini meliputi lingkungan
sosial dan lingkungan non sosial. Lingkungan sosial yang dimaksud yaitu
manusia atau sesama manusia, baik manusia itu ada (kehadirannya) ataupun
tidak langsung hadir. Dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar
siswa ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu rumah, sekolah dan masyarakat.
Lingkungan non sosial meliputi keadaan udara, waktu belajar, cuaca, lokasi
gedung sekolah dan alat-alat pembelajaran.
3.) Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yaitu jenis upaya belajar yang
meliputi strategi, model dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
8. Fluida Statis a. Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar yang ingin dicapai pada konsep gerak dua dimensi ini, yaitu:
3.7 Menerapkan hukum-hukum pada fluida statis dalam kehidupan sehari-hari
Sedangkan indikator ketercapaiannya sebagai berikut: 1) Siswa menentukan besaran tekanan
66 Mundilarto, op.cit, h. 7
67 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014) h.
2) Siswa memformulasikan prinsip dasar fluida statis
3) Siswa memformulasikan Prinsip Pascal dan aplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari
4) Siswa memformulasikan Prinsip Archimedes dan aplikasinya dalam
kehidupan sehari-hari
5) Siswa menerapkan tegangan permukaan, kapilaritas dan viskositas.
b. Karakteristik Konsep
Karakteristik dari materi fluida statis bersifat eksperimental. Artinya, kajian dalam
materi fluida statis memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan langsung seperti
percobaan untuk dapat membuktikan kebenaran teori yang telah dipelajari di dalam kelas.
Adapun yang diperlukan dalam percobaan tersebut diantaranya Lembar Kerja Siswa
(LKS) sebagai acuan dalam melakukan percobaan. Peneliti ingin mengkaji hasil belajar
siswa setelah pembelajaran dilakukan dengan bantuan bahan ajar berupa Lembar Kerja
c. Peta Konsep
Gambar 2.1 Peta Konsep Fluida Statis Prinsip
Gaya Angkat ke atas dan keadaan benda
Viskositas Hukum Stokes
Dipengaruhi oleh gaya adhesi dan
Kohesi Serangga yang
berjalan di atas air
Meresapnya zat cair melalui pipa kapiler
Derajat kekentalan zat
1) Tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang dimiliki zat cair yang disebabkan oleh
beratnya sendiri. Secara matematis tekanan hidrostatis dituliskan sebagai berikut:
�ℎ = �. �. ℎ (2-3)
Tekanan mutlak adalah tekanan yang terdapat dalam suatu zat ditambah
dengan tekanan udara luar.
� = � + �. �. ℎ (2-4)
Hukum Pokok Hidrostatistika
� . �. ℎ = �2. �. ℎ2 (2-5) 2) Prinsip Pascal
Prinsip Pascal berbunyi: “tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup diteruskan sama besar ke segala arah.”68
Hukum Pascal dapat dirumuskan sebagai berikut : � = �2
� � =
�
� (2-6)
Penerapan hukum Pascal dalam kehidupan sehari-hari contohnya pada
penggunaan dongkrak hidrolik, rem hidrolik, pompa ban sepeda, dan mesin hidrolik
pengangkat mobil.
68 Puji Dwiyantoro. Fisika itu Mudah dan Menyenangkan, (Jakarta: Cerdas Interaktif.
Gambar 2.3 Contoh penerapan Prinsip Pascal: Dongkrak Hidrolik
3) Prinsip Archimedes
Prinsip Archimedes menyatakan bahwa gaya apung yang bekerja pada sebuah
benda yang tercelup sama dengan berat fluida yang dipindahkan.69
Gaya apung dapat dirumuskan sebagai berikut:
FA= Wudara-Wfluida
Gaya Archimedes dapat dirumuskan:
FA= �. Vbf. g (2-7)
Prinsip Archimedes digunakan untuk menentukan letak benda yang dicelupkan
ke dalam suatu fluida. Letak benda dalam suatu fluida dipengaruhi oleh massa jenis
benda tersebut. Benda-benda yang mempunyai massa jenis lebih besar dari massa
jenis zat cair akan tenggelam dalam zat cair. Sedangkan benda yang memiliki massa
jenis yang lebih kecil daripada massa jenis zat cair akan melayang. Untuk benda
yang memiliki massa jenis sama dengan massa jenis zat cair akan melayang di
dalam zat cair. Untuk lebih jelasnya perhatikan Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Keadaan Benda dalam Zat Cair70
Keadaan benda Keterangan Syarat
Terapung benda berada di
permukaan zat cair
� ��� > � �
Melayang benda berada diantara
permukaan dan dasar zat
cair.
� ��� = � �
Tenggelam benda berada di dasar
zat cair.
� ��� < � �
Lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini.
Gambar 2.4 Keadaan Benda dalam Zat Cair Penerapan prinsip Archimedes : kapal laut, hidrometer, balon udara. 71
4) Tegangan Permukaan dan Gejala Kapilaritas
Tegangan permukaan adalah kecenderungan zat cair untuk menegang sehingga
permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis. 72
� =� (2-8)
Kapilaritas adalah peristiwa naik turunnya permukaan fluida di dalam pipa
kapiler atau pembuluh sempit. 73
ℎ = 2� o ��. . (2-9)
h= ketinggian fluida dalam pipa kapiler
�= tegangan permukaan (N/m) = sudut kontak
�= massa jenis fluida (kg/m3) g= percepatan gravitasi (m/s2)
r= jari-jari pipa kapiler (m)
5) Viskositas
Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar
kecilnya gesekan di dalam fluida.
Persamaan untuk viskositas yaitu:
�� = 6 � ��� (2-10)
Keterangan:
Fs = gaya gesekan stokes ( N )
r = jari-jari bola ( m )
� = koefisien viskositas fluida ( Pa s ) v = kelajuan bola ( m/s )
Kecepatan terminal adalah kecepatan yang paling besar dan konstan yang dialami
sebuah benda di dalam zat cair. Persamaan untuk kecepatan terminal adalah:
Vt = 2 9 ρb−ρf (2-11)
Keterangan:
Vt = kecepatan terminal benda (m/s)
r = jari-jari benda (m)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2) = koefisien viskositas fluida b = massa jenis benda (kg/m3)
B. Kerangka Berpikir
Salah satu masalah dalam pembelajaran Fisika di sekolah yaitu rendahnya hasil
belajar siswa. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa
diantaranya yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor
yang berasal dari diri siswa sendiri, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang
berasal dari lingkungan sekitar, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non
sosial.
Pada dasarnya, sebagian siswa mengaku tertarik mempelajari Fisika namun
sebagian yang lain beranggapan bahwa mata pelajaran Fisika merupakan mata
pelajaran yang sulit, hal ini dikarenakan bahan ajar yang digunakan oleh guru
kurang memfasilitasi siswa dalam memahami pelajaran fisika.
Fisika sebagai mata pelajaran dalam rumpun IPA yang bersifat eksperimental,
maksudnya yaitu mata pelajaran yang memungkinkan siswa untuk melakukan
eksperimen atau percobaan untuk membuktikan konsep atau materi yang sedang
dipelajari. Melalui eksperimen, siswa mendapatkan pengalaman secara langsung di
dalam laboratorium sehingga siswa dapat lebih memahami konsep yang dipelajari.
Melalui eksperimen, fisika bukan lagi ditempatkan sebagai ilmu hafalan yang berisi
bacaan, tetapi ilmu eksak yang mempelajari fenomena sehari-hari. Eksperimen
tersebut akan berjalan dengan baik jika disertai LKS sebagai petunjuk dan pedoman
dalam melaksanakan percobaan atau eksperimen. Namun sayangnya, di
sekolah-sekolah seringkali kegiatan laboratorium digantikan dengan tayangan
menggunakan powerpoint.
Selain hal-hal yang tersebut di atas, hal lain yang turut berkontribusi dalam
pencapaian hasil belajar siswa yaitu penggunan model pembelajaran yang
dilakukan oleh guru. Model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan
siswa di dalam kelas yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.
Model ini dapat membantu guru dalam mengorganisir kelas mengingat kemampuan
siswa yang beragam dan jumlah siswa yang cukup banyak sehingga siswa dituntut
untuk belajar secara berkelompok dan berbagi tanggung jawab di dalam kelompok
untuk menyelesaikan tugas bersama. Sehingga melalui model ini akan terjadi proses
berkemampuan rendah. Pembelajaran dengan model ini akan menjadi pembelajaran
yang bermakna yaitu dapat memeratakan kemampuan siswa dan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
Perpaduan yang tepat antara bahan ajar dan model pembelajaran yang
digunakan oleh guru serta disesuaikan dengan konsep atau materi pelajaran yang
berlangsung akan menghasilkan output yang baik pula. Oleh karena itu, LKS berbasis Group Investigation diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa
pada konsep fluida statis. Lebih jelasnya, kerangka berpikir dalam penelitian ini
Gambar 2.5 Kerangka Berpikir
Diperlukan upaya untuk
meningkatkan hasil belajar siswa melalui pengembangan bahan ajar disertai dengan model pembelajaran
Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan ajar ceetak
Bahan ajar yang digunakan belum memenuhi kebutuhan siswa
Kemampuan siswa yang beragam dalam jumlah banyak
Kurangnya kegiatan praktikum Hasil belajar siswa
rendah
Penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Group
Investigation
LKS berbasis Group Investigation
Peningkatan hasil belajar siswa
Solusinya yaitu
denganmenggunakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan model pembelajaran