• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh penggunaan lembar kerja siswa berbasis Group investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "pengaruh penggunaan lembar kerja siswa berbasis Group investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis"

Copied!
235
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KERJA

SISWA BERBASIS GROUP INVESTIGATION

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP

FLUIDA STATIS

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: YANI ASTUTI NIM: 1110016300024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

iii

ABSTRAK

Yani Astuti,”Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa Berbasis Group

Investigation terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis”.

Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Lembar Kerja Siswa Berbasis Group Investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis. Penelitian ini dilakukan di SMAN 10 Tangerang Selatan pada bulan Maret - April 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Quasi Eksperimen. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 10 Tangerang Selatan yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Instrumen tes objektif pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban terdiri dari 25 butir soal. Teknik analisis yang digunakan adalah uji “t”. berdasarkan perhitungan diperoleh thitung

3,33 dan ttabel 1,66 pada taraf signifikasi 0,05, sehingga thitung > ttabel (terdapat

pengaruh Lembar Kerja Siswa berbasis Group Investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis pada kelas XI SMAN 10 Tangerang Selatan).

(5)

iv ABSTRACT

Yani Astuti, "Influence of Student Worksheet Based Group Investigation of the Student Results on Static Fluid Concepts". Thesis, Department of Physics Education, Education Department of Natural Sciences, Faculty of Science and Teaching Tarbiyah, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.

This study aims to determine the effect of the Student Worksheet Group Investigation Based on students result in a static fluid concept. This research was conducted at SMAN 10 Tangerang in March - April 2015. The method used is the Quasi Experiment method. The research sample is a class XI student of SMAN 10 Tangerang which consists of two groups: control groups and experimental groups. The sampling technique used was purposive sampling. Multiple choice objective test instrument with five alternative answers consisted of 25 items. The analysis technique used is the "t". Based on calculations obtained t 3,33 and ttable 1.67 at 0.05 level of significance, so tcount> ttable (that

there is influence Student Worksheet Investigation Group based on students result in a static fluid concept in class XI SMAN 10 South Tangerang)

(6)

v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah menciptakan

semesta dengan segala kesempurnaan. Shalawat serta salam semoga senantiasa

tercurah untuk Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah memberi ajaran

Islam agar kita menjadi orang yang bermanfaat.

Puji syukur karena penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa berbasis Group Investigation terhadap Hasil belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis” sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan

Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini melibatkan banyak pihak.

Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, mama Armini dan bapa Sukram Sumaryo yang tak

pernah bosan mendengarkan keluh kesah, dan selalu memberikan dukungan

berupa ridho, doa, restu, nasihat, dan materi.

2. Seluruh keluarga yang selalu ada dan membantu dalam segala hal. Terutama lik

Trisno, kang Kismo, yu Dewi, lik Ratna, dede Nano, Atin, Atun, lik Sarwo, tua

Kustam, tua Darno, mama Syarif, lik Sul, dan semua keluarga yang tidak bisa

disebutkan satu-satu.

3. Almarhum Ratum Ratmaji, kakek tercinta dan almarhumah Natiyem, nenek

tercinta. Terima kasih atas pelajaran hidupnya. Syurga adalah sebaik-baiknya

tempat untuk kalian. Aamiin.

4. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

5. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

6. Bapak Dwi nanto, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika

(7)

vi

7. Ibu Kinkin Suartini, M.Pd dan Ibu Fathiah Alatas, M.Si, selaku dosen

pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi

8. Bapak Drs. H. Agus Purwanto, selaku Kepala SMAN 10 Tangerang Selatan

yang telah memberikan izin untuk penelitian di sekolah.

9. Ibu Lily Vebrina, S.Si, selaku guru Fisika SMAN 10 Tangerang Selatan yang

memberikan arahan dalam penelitian

10.Teman-teman seperjuangan Pendididikan Fisika 2010 (Graviten)yang selalu

memberikan dukungan, motivasi dan berbagi ilmu selama penulisan skripsi ini.

Terutama untuk PAPRIKA (Yessi, Redha, Eksa, Uyun, Yayu, dan Anaa),

semoga persahabatan kita abadi. Aamiin.

11.Sahabat/i Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon P.IPA

Komisariat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (KOMFAKTAR) Cabang

Ciputat, yang telah memberikan berbagai pengalaman dan ilmu baru yang tidak

pernah didapatkan di bangku perkuliahan. Saya bangga pernah bergerak

bersama dan menjadi bagian kecil dari PMII. Salam Pergerakan!

12.Sahabat-sahabat HMJ P.IPA dan GAMMA UIN Jakarta yang turut membantu

memberikan pengalaman menjadi bagian kecil dari organisasi intra kampus.

Terutama untuk kak Rifqi, Alvian, Tuti, Aida, Dian, Cuda, Ipeh, Ditya, Tyo,

Ristha A, Ristha B, Lianda, Ipah, Ifan, Faiz, Eka Setiawan, dll.

13.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,

penulis secara terbuka menerima setiap kritik dan saran yang bersifat membangun.

Walaupun demikian, penulis tetap berharap skripsi ini dapat berguna khususnya

bagi pembaca dan umumnya bagi penyelenggara khasanah keilmuan di lingkungan

pendidikan.

Jakarta, Juni 2015

(8)

vii

B. Identifikasi Masalah 4

C. Pembatasan Masalah 4

D. Perumusan Masalah 5

E. Tujuan Penelitian 5

F. Manfaat penelitian 5

BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis 6

1. Bahan Ajar 6

2. Lembar Kerja Siswa 8

a. Definisi LKS 8

b. Unsur-unsur LKS Sebagai Bahan Ajar 11

c. Macam-macam LKS 11

d. Langkah-langkah penyusunan LKS 12

3. Model pembelajaran Kooperatif 13

4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation 15 5. Kelebihan dan Kelemahan Group Investigation 19

6. LKS berbasis Group Investigation 20

7. Hasil Belajar 22

8. Fluida Statis 22

a. Kompetensi Dasar 23

b. Karakteristik Konsep 25

c. Peta Konsep 26

(9)

viii

B. Kerangka Berpikir 32

C. Penelitian Relevan 35

D. Hipotesis 37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat penelitian 38

B. Metode Penelitian 38

C. Desain Penelitian 38

D. Variabel Penelitian 38

E. Populasi dan Sampel 38

1. Populasi 38

2. Sampel 38

F. Prosedur Penelitian 40

G. Instrument Penelitian 41

1. Uji Validitas 41

2. Uji Reliabilitas 43

3. Uji Tingkat Kesukaran Butir Soal 44

4. Uji Daya Pembeda 45

H. Teknik Analisis Data 48

1. Pemberian Skor 52

2. Uji Prasyarat Hipotesis 52

3. Uji Hipotesis Penelitian 54

I. Hipotesis Statistik 54

BAB IV HASL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 54

1. Hasil pretest kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol 54 2. Hasil posttest kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol 56 3. Uji Normalitas Gain kelompok Eksperimen dan Kontrol 59 4. Uji Homogenitas Gain kelompok Eksperimen dan Kontrol 60

5. Uji Hipotesis 61

B. Pembahasan 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 64

B. Saran 64

DAFTAR PUSTAKA 65

(10)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keadaan Benda dalam Zat Cair 30

Tabel 3.1 Nonequivalent Control Group Design 39

Tabel 3.2 Kategori Koefisien Korelasi Nilai r 42

Tabel 3.3 Hasil Analisis Validitas Instrumen Tes 42

Tabel 3.4 Kategori Reliabilitas 43

Tabel 3.5 Hasil Analisis Reliabilitas Instrumen Tes 44

Tabel 3.6 Kategori Taraf Kesukaran 45

Tabel 3.7 Hasil Analisis Taraf Kesukaran Instrumen Tes 45

Tabel 3.8 Klasifikasi Daya Pembeda 46

Tabel 3.9 Hasil Analisis Daya Pembeda Instrumen Tes 46

Tabel 3.10 kisi-kisi Penulisan Instrumen Tes 48

Tabel 4.1 Nilai Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 55

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Kontrol 56

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Nilai Posttest Kelompok Eksperimen 57

Tabel 4.4 Nilai Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 59

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Nilai Posttest Kelompok Kontrol 59

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Eksperimen 60

Tabel 4.7 Uji Normalitas Kelompok Kontrol dan Eksperimen 61

Tabel 4.8 Uji Homogenitas Kelompok Kontrol dan Eksperimen 62

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Konsep 27

Gambar 2.2 Contoh Penerapan Hukum Pascal: Dongkrak Hidrolik 29

Gambar 2.3 Keadaan Benda dalam Zat Cair 30

(12)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Perangkat Pembelajaran

Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 67

Lampiran 2 Lembar Kerja Siswa 92

Lampiran Instrumen Penelitian dan Uji Coba Instrumen Penelitian

Lampiran 3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian 153

Lampiran 4 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Uji Validitas 182

Lampiran 5 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Uji Reliabilitas 185

Lampiran 6 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Taraf Kesukaran 187

Lampiran 7 Analisis Butir Soal Instrumen Tes Daya Pembeda 189

Lampiran 8 soal Instrumen Tes yang Dipakai dalam Penelitian 191

Lampiran 9 Angket Observasi guru 197

Lampiran 10 Angket Observasi siswa 200

Lampiran Uji Analisis Data

Lampiran 11 Data Nilai Pretest dan Posttest 203

Lampiran 12 Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest kelompok Kontrol 206

Lampiran 13 Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest kelompok Eksperimen

208

Lampiran 14 Uji Normalitas 210

Lampiran 15 Uji Homogenitas 220

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu alam merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur dan perilaku

alam berdasarkan fakta-fakta yang dapat dibuktikan. Sedangkan fisika adalah salah

satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam yang pada dasarnya bertujuan untuk

mempelajari dan memberi pemahaman baik secara kualitatif maupun kuantitatif

tentang berbagai gejala atau proses alam dan sifat zat serta penerapannya.1 Dalam

meningkatkan pendidikan di Indonesia proses belajar mengajar yang merupakan

kegiatan inti harus ditingkatkan sehingga tercapai tujuan pendidikan dalam bentuk

terjadinya perubahan tingkah laku, pengetahuan dan keterampilan siswa.2 Dengan

demikian, untuk mengembangkan potensi siswa, salah satu upaya yang dapat

dilakukan adalah meningkatkan kualitas pendidikan.3

Fisika merupakan satu bidang sains yang diajarkan pada sekolah jenjang

menengah. Sebagian siswa mengaku tertarik mempelajari fisika namun sebagian

lain beranggapan bahwa mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran yang sulit

sehingga berimbas pada kegiatan siswa di dalam kelas yang pasif dan tidak

berorientasi (disoriented). Hal ini menyebabkan hasil pembelajaran fisika

menunjukkan hasil yang kurang baik.4 Pernyataan ini didasarkan pada hasil

penyebaran angket yang dilakukan oleh penulis pada 11 SMA Negeri di Tangerang

Selatan dan menemukan bahwa sebagian besar responden (58,2 %) yang terdiri dari

1 Mundilarto. Penilaian Hasil Belajar Fisika. (Yogyakarta: Pusat Pengembangan

Instruksional Sains FMIPA UNY cet kedua, 2010), h. 3

2Tri Hertati Girsang.”Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa SMAN 1 Sumbul Tahun Pembelajaran 2013/2014,” Skripsi pada

Universitas Negeri Medan, 2014, h.1, dipublikasikan

3 Felasufiah maulani. “Pengaruh keterampilan bertanya guru dalam meningkatkan hasil

belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 17 Ciputat”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015, h. 1, tidak dipublikasikan

4 Nike Gusmedi. Penaruh Penerapan Lembar Kerja Siswa Berbasis Sains Teknologi

(14)

siswa SMA kelas XI dan XII mengalami kesulitan dalam belajar fisika yang

kemudian diakui siswa menyebabkan rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa

Selain itu, berdasarkan hasil penyebaran lembar angket didapatkan bahwa

masih kurangnya kegiatan laboratorium di sekolah untuk menambah pemahaman

siswa terhadap materi fisika yang sedang diajarkan. Sebanyak 65,8% siswa

mengaku pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih bersifat konvensional. Hal

ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Mayasari bahwa kegiatan

laboratorium jarang dilakukan oleh guru sehingga interaksi antar-siswa kurang

berjalan dengan baik dan siswa tidak mendapatkan pengalaman dalam

pembelajaran IPA Fisika yang seharusnya dilakukan melalui praktikum langsung

di laboratorium.5 Penggunaan LKS dalam kegiatan praktikum dapat melatih siswa

belajar secara cakap, kreatif dan mandiri. LKS juga dapat membantu guru untuk

menyampaikan materi. Sementara dari hasil wawancara terbuka dengan guru mata

pelajaran fisika, guru beralasan bahwa sarana yang diperlukan untuk menunjang

kegiatan praktikum belum terpenuhi. Mereka juga berdalih bahwa eksperimen atau

praktikum harus menggunakan alat laboratorium, padahal sebenarnya eksperimen

bisa dilakukan dengan alat sederhana.

Pembelajaran seperti ini mengakibatkan siswa cenderung hanya menerima

pembelajaran, kurang memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat, enggan

untuk bertanya bila ada materi yang kurang jelas, kurang memiliki kemampuan

merumuskan gagasan sendiri dan siswa belum terbiasa bersaing dalam

menyampikan pendapat dengan orang lain.6 Oleh karena itu, diperlukan perbaikan

dalam pembelajaran agar proses belajar mengajar terlaksana dengan baik dan hasil

belajar meningkat, yaitu dengan menciptakan suatu proses belajar mengajar yang

lebih menarik, mudah dipahami dan dapat mendorong siswa untuk berperan aktif

di dalam kelas. Salah satu model yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah model

pembelajaran kooperatif.

5

Ade Mayasari. Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation berbantukan LKS terhadap hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VII SMPN 8 Padang. Jurnal pendidikan FisikaVol.2 h 145.2013.

6Tri Hertati Girsang.”Pengaruh Model Pembelajaran

(15)

Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi

belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil dengan keahlian berbeda, dan

di dalam kelompok kecil tersebut siswa saling belajar dan bekerjasama untuk

sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun

pengalaman kelompok.7 Model pembelajaran kooperatif dibagi menjadi beberapa

tipe, diantaranya adalah: Student Teams-Achievement Divisions (STAD), Team-Game-Tournament (TGT), Team-Assisted Individualisation (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Group Investigation (GI), dan Jigsaw.8

Penulis memlih tipe Group Investigation (GI) karena melalui pembelajaran

kooperatif tipe GI setiap siswa dalam kelompok memiliki tugas dan tanggungjawab

masing-masing untuk berkontribusi dalam kelompok sehingga setiap anggota

kelompok memiliki peran, fungsi dan tanggungjawab masing-masing terhadap

kelompoknya. Oleh karena itu, melalui model pembelajaran kooperatif tipe Group

Investigation akan memudahkan guru untuk memfasilitasi siswa dalam bertukar pikiran di kelas bersama teman sebayanya dan akan terjadi proses give and take antara siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa yang berkemampuan rendah.

Setiap siswa juga dapat berperan aktif di dalam kelompoknya. Model pembelajaran

kooperatif tipe Group Investigation menekankan kebersamaan dalam kelompok.

Konsep fisika yang dipelajari di SMA terbagi menjadi konsep yang bersifat

teori dan konsep yang bersifat eksperimental. Salah satu materi yang bersifat

eksperimental adalah materi fluida statis. Dari beberapa materi yang ditawarkan

pada lembar angket siswa, ternyata sebanyak 50,8 % siswa menganggap bahwa

konsep fluida statis merupakan salah satu konsep yang dianggap sulit karena

cakupan materinya yang cukup banyak dan disertai dengan formula yang dianggap

rumit. Untuk mengatasi hal tersebut maka penulis memilih model pembelajaran

kooperatif tipe Group Investigation yang diharapkan sesuai untuk diterapkan dalam

konsep fluida statis.

7 Zulfiani dkk. Strategi Pembelajaran Sains. (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN

Jakarta.2009), h. 130

8 Robert E Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa

(16)

Menurut pengakuan siswa yang tercermin dari lembar angket, fluida statis

merupakan konsep yang memungkinkan untuk melakukan percobaan secara

langsung untuk memahami konsep secara mendalam karena fenomena fluida statis

dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga melalui percobaan, siswa

dapat lebih memahami materi fluida statis karena dapat membuktikan teori yang

sedang dipelajari di dalam kelas.

Perpaduan yang tepat antara bahan ajar yang digunakan, model

pembelajaran dan konsep yang diajarkan akan menghasilkan output yang baik pula.

Dalam penelitian ini, penulis memadukan bahan ajar berupa Lembar Kerja Siswa

(LKS) jenis eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI terhadap

hasil belajar siswa. Penelitian ini diharapkan dapat mengubah pola pembelajaran

untuk meningkatkan minat belajar siswa. Dengan meningkatnya minat belajar

siswa, maka diharapkan hasil belajar siswa juga meningkat. Oleh karena itu, penulis mengambil judul ”Pengaruh Peggunaan Lembar Kerja Siswa Berbasis Group Investigation terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang dipaparkan diatas dapat diidentifikasikan

masalahnya sebagai berikut:

1. Siswa menganggap Fisika sebagai mata pelajaran yang sulit (58,2%)

2. Hasil belajar siswa masih rendah

3. Kurangnya kegiatan laboratorium

4. Pembelajaran oleh guru masih bersifat konvensional

5. Fluida statis sebagai salah satu materi yang bersifat eksperimental dan dianggap

sulit

C. Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:

1. Hasil belajar fisika yang diukur hanya mencakup aspek kognitif pada tingkatan

C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (menerapkan), dan C4 (menganalisis).

(17)

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh penggunaan LKS berbasis Group Investigation terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis? ”

Secara operasional rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dijabarkan ke

dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana hasil pre-test kelompok kontrol dan eksperimen?

2. Bagaimana hasil post-test kelompok kontrol dan eksperimen?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh

penggunaan LKS berbasis GI terhadap hasil belajar siswa pada konsep fluida statis.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:

a. Bagi siswa, diharapkan agar siswa terlatih untuk belajar secara mandiri dan

terbiasa untuk melakukan eksperimen serta dapat melatih siswa untuk

bekerjasama dengan teman sebaya sehingga dapat meningkatkan peran siswa

dalam proses pembelajaran di kelas.

b. Bagi guru: diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas guru untuk membuat

bahan ajar yang dapat meningkatkan peran siswa dan melatih siswa belajar

secara mandiri.

Bagi peneliti: meningkatkan pengetahuan tentang strategi yang digunakan

dalam pembelajaran fisika khususnya bahan ajar LKS yang berbasis GI dan

(18)

6

BAB II

DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis 1. Bahan Ajar

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru

atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Lebih lanjut lagi,

bahan ajar ini berfungsi sebagai:20

a. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses

pembelajaran.

b. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses

pembelajaran.

c. Alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

Bahan ajar disusun dengan tujuan sebagai berikut:21

a. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan

mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan

karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.

b. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping

buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.

c. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Manfaat yang diperoleh ketika guru mengembangkan bahan ajar, antara lain:22

a. Guru akan memiliki bahan ajar yang dapat membantu dalam pelaksanaan

kegiatan pembelajaran

b. Bahan ajar dapat diajukan sebagai karya yang dinilai untuk menambah angka

kredit pendidik guna keperluan kenaikan pangkat

c. Menambah penghasilan bagi guru jika karyanya diterbitkan

20

Depdiknas, Panduan Pengembangan Bahan Ajar, (Jakarta: Depdiknas, 2008) h.6

21Ibid, h. 9

22 Andi Prastowo. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, (Yogyakarta: DIVA

(19)

Manfaat penggunaan bahan ajar bagi siswa yaitu:23

a. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.

b. Siswa menjadi lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara

mandiri dengan bimbingan guru.

c. Siswa mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang

harus dikuasainya.

Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip

pembelajaran, diantaranya: 24

a. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang konkret untuk

memahami yang abstrak.

b. Pengulangan akan memperkuat pemahaman.

c. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa.

d. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu penentu keberhasilan belajar.

e. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan

mencapai ketinggian tertentu.

f. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus

mencapai tujuan.

Bahan ajar yang baik dipenuhi jika bahan ajar yang sesuai dengan tujuan

pembelajaran, sehingga untuk mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan

pmbelajaran, maka diperlukan beberapa analisis bahan ajar yang melingkupi:25

a. Analisis SK-KD. Analisis ini digunakan untuk menentukan

kompetensi-kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar.

b. Analisis sumber belajar. Analisis dilakukan terhadap ketersediaan, kesesuaian,

dan kemudahan dalam memanfaatkannya.

c. Pemilihan dan penentuan bahan ajar, hal ini diperlukan untuk memenuhi salah

satu kriteria bahwa bahan ajar harus menarik, dapat membantu siswa untuk

mencapai kompetensi.

(20)

Bahan ajar dibagi menjadi 2 yaitu bahan ajar cetak dan bahan ajar non cetak.

Bahan ajar cetak misalnya LKS, modul, buku, dan lain-lain. Sedangkan bahan ajar

non cetak bisa berupa kaset, media dengar (radio), dll.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar cetak

diantaranya: 26

a. Susunan tampilan, susunan tampilan diantaranya urutan yang mudah dipahami,

terdapat daftar isi, struktur kognitifnya jelas, rangkuman, dan tugas yang harus

dilaksanakan oleh pembaca.

b. Bahasa yang mudah, yaitu penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh

pembaca, jelas, singkat dan menggunakan kalimat-kalimat yang tidak terlalu

panjang.

c. Bahan ajar yang baik mampu memberikan pemahaman terhadap pembacanya.

Untuk menguji pemahaman pembaca diperlukan uji pemahaman, salah satunya

dengan menggunakan check list sebagai tanda bahwa pembaca telah memahami

isi bahan ajar tersebut.

d. Stimulan. Tulisan yang disajikan dalam bahan ajar cetak harus dapat

mendorong pembaca untuk berpikir, sehingga dapat menstimulasi kerja otak.

e. Kemudahan dibaca, hal ini terkait jenis huruf yang digunakan, susunan tulisan

atau paragraf, kerapihan tulisan, dan ukuran huruf yang dipakai.

f. Materi instruksional, yang menyangkut: pemilihan teks, bahan kajian, lembar

kerja (work sheet).

2. Lembar Kerja Siswa (LKS) a. Definisi LKS

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan bentuk bahan ajar cetak untuk

mendukung proses pembelajaran. 27 Dalam penelitian lain disebutkan bahwa LKS

adalah bahan ajar yang berisi tugas disertai petunjuk dan langkah-langkah untuk

26Depdiknas, Op.Cit, h. 18

27 Nike Gusmedi, Pengaruh penerapan Lembar Kerja Siswa berbasis Sains Teknologi

(21)

menyelesaikannya.28 Depdikbud dalam Trianto mendefinisikan Lembar Kegiatan

Siswa (LKS) adalah suatu bentuk lembar kerja yang berisi pedoman bagi siswa

untuk melakukan kegiatan terprogram.29 Dari beberapa definisi tersebut dapat

disimpulkan bahwa LKS adalah bentuk bahan ajar cetak yang berisi pedoman atau

petunjuk untuk melakukan kegiatan terprogram guna mendukung proses

pembelajaran. Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan teoritis maupun kegiatan

praktis disesuaikan dengan materi yang sedang dipelajari. Tugas teoritis contohnya

membaca artikel, membuat resume dan lain sebagainya, sedangkan kerja

laboratorium yakni melakukan percobaan di dalam laboratorium maupun di

lapangan. 30

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain LKS yaitu mengenai

tingkat kemampuan membaca dan pengetahuan siswa. Berikut ini yaitubatasan

umum yang dapat dijadikan pedoman dalam menentukan desain LKS: 31

1) Ukuran

Gunakan ukuran yang dapat mengakomodasi kebutuhan instruksional yang

telah ditetapkan.

2) Kepadatan halaman

Usahakan agar halaman tidak terlalu dipadati dengan tulisan karena dapat

mengakibatkan siswa sulit memfokuskan perhatian.

3) Kejelasan

Pastikan bahwa materi dan instruksi yang diberikan dalam LKS dapat jelas

dibaca siswa. Meskipun sempurna materi yang disiapkan tetapi jika siswa tidak

dapat membacanya dengan jelas maka LKS tidak akan memberikan hasil yang

optimal.

28 Nikmatul Husna, Penggunaan ICT pada LKS berorientasi STS Terhadap Hasil belajar

siswa kelas VII SMPN 1 Padang. Jurnal Pendidikan Fisika Vol.2. 2013, h. 132.

29 Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran tematik, (Jakarta: Kencana, 2011), h.243

30

Nikmatul husna. loc. cit.

31 Denny Setiawan, dkk. Pengembangan Bahan Ajar. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)

(22)

Langkah-langkah dalam mengembangkan LKS, yaitu: 32

1) Tentukan tujuan Instruksional yang akan diturunkan dalam LKS.

Tentukan desain, perhatikan variabel ukuran, kepadatan halaman, dan

kejelasan.

2) Pengumpulan bahan.

Tentukan materi dan tugas yang akan diberikan kepada siswa dan pastikan

bahwa pilihan ini sejalan dengan tujuan instruksional. Kumpulkan bahan/

materi dan buat perincian tugas yang harus dilaksanakan oleh siswa. Bahan

yang dimuat dalam LKS dapat juga dikembangkan sendiri atau memanfaatkan

materi yang sudah tersedia.

3) Penyusunan elemen

Ini merupakan langkah pengintegrasian desain dengan materi dan tugas. Kedua

hal ini dipadukan sehingga menjadi sebuah paduan yang selaras.

4) Pengecekan dan penyempurnaan.

Lakukan pengecekan terhadap LKS yang telah dikembangkan. Terdapat empat

variabel yang harus diperiksa, yaitu:

a.) Kesesuaian desain dengan tujuan instruksional. Kesesuaian desain

maksudnya yaitu memastikan bahwa desain yang telah ditentukan dapat

mengakomodasi pencapaian tujuan instruksional.

b.) Kesesuaian materi dengan tujuan instruksional. Kesesuaian materi yang

dimuat dalam LKS harus dipastikan sesuai dengan tujuan instruksional yang

ditargetkan.

c.) Kesesuaian elemen dengan tujuan instruksional maksudnya bahwa tugas

dan latihan yang diberikan dapat menunjang pencapaian tujuan

instruksional.

d.) Kejelasan penyampaian. Hal ini menyangkut keterbacaan LKS dan

ketersediaan ruang untuk mengerjakan tugas yang diminta.

(23)

LKS memiliki setidaknya empat fungsi sebagai berikut33:

1) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran guru, namun lebih

mengaktifkan siswa.

2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah siswa untuk memahami materi yang

diberikan.

3) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih, serta

4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa.

b. Unsur-unsur LKS Sebagai Bahan Ajar

Berdasarkan formatnya, LKS memuat paling tidak delapan unsur, yaitu judul,

kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan atau bahan yang

diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang

harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan.34

c. Macam-macam LKS

Penyusunan LKS harus disesuaikan dengan materi-materi dan tugas tertentu

agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga setiap LKS memiliki maksud

dan tujuan pengemasan materi. Hal ini mengakibatkan LKS memiliki beberapa

bentuk, yaitu : 35

1) LKS yang membantu siswa menemukan suatu konsep, LKS jenis ini memuat

apa yang harus dilakukan siswa, meliputi melakukan, mengamati, dan

menganalisis.

2) LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep

yang telah ditemukan, yaitu dengan cara memberikan tugas kepada siswa untuk

melakukan diskusi dan berlatih memberikan kebebasan berpendapat yang

bertanggungjawab.

3) LKS yang berfungsi sebagai penuntun belajar. LKS ini berisi latihan soal atau

pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ada di dalam buku, sehingga siswa

akan dapat mengerjakan LKS tersebut jika mereka membaca buku.

33 Prastowo, Op. Cit, h. 205-206 34Ibid, h.208

(24)

4) LKS yang berfungsi sebagai penguatan. LKS ini berisi pendalaman materi yang

dapat digunakan sebagai pembelajaran pokok dan untuk pengayaan.

5) LKS yang berfungsi sebagai petunjuk praktikum. Dalam LKS bentuk ini, LKS

berisi petunjuk untuk melakukan sebuah praktikum.

Popi Kamalia Devi dkk menyantumkan dua jenis LKS untuk pembelajaran

IPA, yaitu : 36

1) LKS untuk eksperimen berupa petunjuk untuk melaksanakan praktikum yang

menggunakan alat-alat dan bahan-bahan.

2) LKS non eksperimen berupa lembar kegiatan yang memuat teks yang menuntun

siswa melakukan kegiatan diskusi suatu materi pembelajaran.

d. Langkah-langkah penyusunan LKS

Menurut Andi Prastowo terdapat beberapa langkah dalam menyusun LKS,

yaitu: 37

1) Melakukan Analisis Kurikulum

Langkah analisis dilakukan dengan cara melihat materi pokok, pengalaman

belajar, serta materi yang akan diajarkan.

2) Menyusun Peta Kebutuhan LKS

Peta kebutuhan sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKS yang harus

ditulis serta melihat urutan LKS-nya.

3) Menentukan Judul-judul LKS

Judul LKS ditentukan atas dasar kompetensi dasar, materi pokok, atau

pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum.

4) Penulisan LKS

Untuk menuliskan LKS, langkah-langkah yang perlu dilakukan diantaranya

yaitu merumuskan kompetensi dasar, menentukan alat penilaian, menyusun

materi, dan memperhatikan struktur LKS (judul, petunjuk belajar atau petunjuk

siswa, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan

langkah kerja, serta penilaian).

36 Popi Kamalia Devi, dkk. Pengembangan perangkat Pembelajaran untuk SMP,

(Jakarta: PPPPTK IPA, 2009) h. 32-33

(25)

3. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa

belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang

anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang

bersifat heterogen.38 Pembelajaran dengan menggunakan model ini akan

menciptakan sebuah interaksi dan komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa

dengan siswa (multiway traffic communication).39

Salah satu asumsi yang mendasari pengembangan pembelajaran kooperatif

(cooperative learning) bahwa sinergi yang muncul melalui kerjasama akan

meningkatkan motivasi yang jauh lebih besar daripada melalui lingkungan

kompetitif individual. Kelompok-kelompok sosial integratif memiliki pengaruh

yang lebih besar daripada kelompok yang dibentuk secara berpasangan. Perasaan

saling keterhubungan (feelings of connectedness) dapat menghasilkan energi yang

positif. 40

Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa jenis, diantaranya Student Teams

Achievement Divisions (STAD), Team Game Tournament (TGT), Team Assisted Individualization (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Group Investigation (GI), dan Jigsaw. 41

Nurulhayati mengemukakan lima unsur dasar model pembelajaran kooperatif

yaitu :42

1) Ketergantungan yang positif, yaitu bentuk kerjasama antar anggota kelompok

untuk mencapai tujuan bersama karena kesuksesan kelompok bergantung pada

kesuksesan anggotanya.

2) Pertanggungjawaban individual. Kesuksesan kelompok bergantung pada cara

belajar anggota kelompok. Setiap anggota berkewajiban menjelaskan konsep

38 Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Depok:

PT Raja Grafindo Persada, 2012), edisi kedua h. 202

39Ibid, h.203

40 Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, 2014) h. 111

(26)

pada anggota lain dan memastikan bahwa setiap anggota mampu melaksanakan

aktivitas tanpa pertolongan anggota lain.

3) Kemampuan bersosialisasi. Dalam sebuah kelompok, kerjasama anggota

yaitusebuah kemampuan yang harus dimiliki untuk mencapai tujuan bersama.

Kelompok tidak akan berfungsi secara efektif jika antar anggota tidak memiliki

kemampuan bersosialisasi yang baik.

4) Tatap muka, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu dan

melakukan diskusi sehingga dapat menguntungkan semua anggota kelompok.

5) Evaluasi proses kelompok, guru memberikan waktu bagi setiap kelompok untuk

melakukan evaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama agar selanjutnya

bisa bekerjasama lebih efektif.

Secara umum pembelajaran kooperatif terdiri dari lima karakteristik, yaitu:43

1) Siswa belajar bersama pada tugas-tugas umum atau aktivitas untuk

menyelesaikan tugas atau aktivitas pembelajaran.

2) Siswa saling bergantung secara positif.

3) Siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2-5 siswa.

4) Siswa menggunakan perilaku kooperatif, pro-sosial.

5) Setiap siswa secara mandiri bertanggungjawab untuk pekerjaan pembelajaran

mereka.

Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya: 44

1) Pembelajaran secara tim, tim harus mampu membuat siswa belajar dan setiap

anggota tim harus bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

2) Didasarkan pada manajemen kooperatif, yaitu fungsi manajemen sebagai

perencanaan pelaksanaan, fungsi manajemen sebagai organisasi, dan fungsi

manajemen sebagai kontrol.

3) Kemauan untuk bekerjasama, kerjasama antar anggota kelompok sebagai salah

satu pemicu keberhasilan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerjasama

yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

(27)

4) Keterampilan bekerjasama. Siswa didorong untuk berinteraksi dan

berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan.

Intinya, dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam kelompok kecil

dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Dalam menyelesaikan tugas

kelompok, mereka saling membantu dan bekerjasama untuk memahami suatu

bahan pembelajaran.

4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)

Pengembangan belajar kooperatif GI didasarkan atas suatu premis bahwa

proses belajar di sekolah menyangkut kawasan dalam domain sosial dan intelektual

serta proses yang terjadi merupakan penggabungan nilai-nilai kedua domain

tersebut. Oleh karenanya, kesuksesan implementasi teknik kooperatif tipe GI sangat

tergantung dari pelatihan awal dalam penguasaan keterampilan komunikasi dan

sosial. Tugas-tugas akademik harus diarahkan pada pemberian kesempatan bagi

anggota kelompok untuk memberikan berbagai macam kontribusinya, bukan hanya

sekedar didesain untuk mendapat jawaban dari suatu pertanyaan yang bersifat

faktual (apa, siapa, di mana, atau sejenisnya).45

Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat dipakai guru untuk mengembangkan kreativitas siswa, baik secara perorangan atau kelompok.

Group investigation tidak akan dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak

memerhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran di dalam kelas. Dalam GI,

siswa diberi kontrol dan pilihan penuh untuk merencanakan apa yang ingin

dipelajari dan diinvestigasi.46 Sesuai namanya, GI sesuai untuk projek-projek studi

yang terintegrasi dalam ranah kognitif yang berhubungan dengan hal-hal seperti

penguasaan, analisis, dan mensintesis informasi sehubungan dengan upaya

menyelesaikan masalah yang bersifat multi-aspek.47

45 Rusman, op. cit. h. 221

46 Miftahul Huda. Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model

Penerapan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015) . h. 123

(28)

Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation memiliki enam tahapan sebagai berikut :48

a. Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Siswa ke dalam Kelompok

Pada tahap ini, guru mempresentasikan serangkaian permasalahan atau isu dan

para siswa mengidentifikasikan dan memilih berbagai macam subtopik untuk

dipelajari berdasarkan pada ketertarikan dan latar belakang siswa. Partisipasi siswa

dalam tahap ini yaitusiswa mengekspresikan ketertarikan siswa pada subtopik yang

telah dipilih dan saling bertukar gagasan dan pendapat dengan teman sekelas.49

Selanjutnya, kelompok-kelompok dibentuk berdasarkan pada ketertarikan siswa

untuk mempelajari subtopik dari pilihan mereka sendiri. Namun, guru juga boleh

membatasi jumlah anggota dalam satu kelompok. Lebih singkatnya dapat ditulis

sebagai berikut :50

1) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan

mengkategorikan saran-saran.

2) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah

mereka pilih.

3) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat

heterogen.

4) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.

b. Merencanakan Tugas yang Akan Dipelajari

Pada tahap ini anggota kelompok menentukan aspek dari subtopik yang akan

siswa investigasi, sehingga tiap kelompok harus merumuskan sebuah masalah yang

akan diteliti, memutuskan bagaimana cara meneliti, menentukan sumber-sumber

yang diperlukan untuk melakukan investigasi tersebut. Selanjutnya, siswa harus

mengetahui tujuan atau kepentingan apa mereka menginvestigasi topik tersebut.

Setidaknya pada tahap ini setiap anggota sudah mantap dengan subtopik pilihannya

dan kemudian secara bersama-sama merencanakan kegiatan investigasi. Dalam

48Ibid, h. 218

(29)

kegiatan ini, setiap kelompok yang dipandu oleh ketua kelompok membagi tugas

setiap anggotanya.

c. Melaksanakan Investigasi

Dalam tahap ini tiap kelompok melaksanakan rencana yang telah

diformulasikan sebelumnya. Satu demi satu anggota kelompok mengumpulkan,

menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan-kesimpulan, dan

mengaplikasikan pengetahuan baru yang menjadi bagian mereka untuk

menciptakan sebuah resolusi atas masalah yang diteliti oleh kelompok. Selanjutnya,

kelompok tersebut akan berkumpul kembali dan para anggota kelompok saling

berbagi pengetahuan yang mereka dapatkan. Tahap ini dapat ditulis secara ringkas

sebagai berikut:51

1) Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat

kesimpulan.

2) Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan

kelompoknya.

3) Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklasifikasi, dan mensintesis semua

gagasan.

d. Menyiapkan Laporan Akhir

Tahap ini merupakan transisi dari tahap pengumpulan data dan klasifikasi ke

tahap dimana kelompok-kelompok yang ada melaporkan hasil investigasi siswa.

Lebih jelasnya sebagai berikut: 52

1) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari projek siswa.

2) Anggota kelompok merencanakan “apa” yang akan mereka laporkan, dan “bagaimana” mereka akan membuat presentasi mereka.

3) Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah “panitia acara” untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.

51Ibid, h. 219

(30)

Terdapat beberapa hal yang perlu dipedomani sebagai persiapan tahap

berikutnya agar semuanya berjalan sesuai dengan agenda acara. Hal-hal yang perlu

dipedomani pada tahap ini antara lain:53

1) Menekankan gagasan utama dan kesimpulan dari investigasi.

2) Memformulasikan kepada kelas mengenai sumber-sumber yang dirundingkan

kelompok dan bagaimana kelompok-kelompok tersebut mengumpulkan

informasi.

3) Memberikan kesempatan untuk tanya jawab.

4) Memastikan bahwa semua orang di dalam kelompok memainkan sebuah

peranan penting dalam presentasi.

5) Memastikan semua peralatan atau materi yang dibutuhkan.

e. Mempresentasikan Laporan Akhir

Pada tahap ini, siswa berkumpul kembali dan kembali pada posisi kelas sebagai

satu keseluruhan. Masing-masing kelompok sudah mempersiapkan diri untuk

mempresentasikan laporan akhir kelompoknya di depan kelas. Berikut kegiatan

siswa pada tahap ini: 54

1) Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk.

2) Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif.

3) Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi

berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh seluruh anggota kelas.

f. Evaluasi

Guru harus mampu membentuk evaluasi siswa yang dapat diandalkan yang

didasarkan pada percakapan dan observasi yang sering dilakukan terhadap aktivitas

akademik siswa. Umpan balik dari para siswa sendiri harus mampu memperlihatkan

53 Nurul Ulfah, “Pengaruh Model Cooperative Learning tipe Group Investigation

terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa pada Konsep Wujud Zat”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013, h. 18, tidak dipublikasikan

(31)

bagaimana perasaan mereka mengenai pekerjaan yang telah mereka lakukan. Tahap

evaluasi ini dapat ditulis secara lebih jelas sebagai berikut:55

1) Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai

tugas yang telah dikerjakan, mengenai keefektifan pengalaman-pengalaman.

2) Guru dan siswa berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.

3) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.

5. Kelebihan dan Kelemahan Group Investigation

Beberapa kelebihan dan kelemahan group investigation sebagai berikut:56

a. Kelebihan GI

1) Secara Pribadi

Kelebihan GI jika dilihat dari sisi personal atau pribadi yakni dapat

meningkatkan rasa percaya diri, dapat belajar untuk menangani dan memecahkan

masalah, dapat memberikan semangat untuk inisiatif, kreatif dan aktif, serta

meningkatkan rasa tanggung jawab.

2) Secara berkelompok:

Kelebihan GI jika ditinjau dari segi kelompok belajar diantaranya yakni dapat

meningkatkan kerjasama, belajar berkomunikasi dengan sistematis dan baik

bersama teman sendiri maupun guru, belajar menghargai pendapat orang lain dan

meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan.

b. Kelemahan GI

Sedikitnya materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan, sulitnya

memberikan penilaian secara personal, tidak semua topik cocok dengan model

pembelajaran GI, model pembelajaran GI cocok untuk diterapkan pada suatu topik

yang menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan dari pengalaman yang

dialami sendiri

55Ibid, h. 219-220

56

(32)

6. LKS Berbasis Group Investigation

LKS berbasis group investigation yaitu LKS yang disusun berdasarkan

tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe GI. LKS yang dimaksud yaitu LKS jenis

eksperimen. Penyusunan LKS ini merujuk pada penyusunan LKS menurut Andi

Prastowo yaitu melalui langkah-langkah sebagai berikut: melakukan analisis

kurikulum, menyusun peta kebutuhan LKS, menentukan judul-judul LKS, dan

Penulisan LKS.57 LKS ini menyajikan sejumlah instruksi sebagai panduan dalam

melakukan eksperimen atau praktik laboratorium dan dilengkapi dengan beberapa

pertanyaan terkait praktikum yang telah dilakukan agar siswa dapat memahami dan

menyimpulkan materi yang sedang dipelajari.

Penggunaan LKS berbasis GI ini dapat memudahkan guru dalam

menyampaikan materi yang bersangkutan dan siswa juga akan lebih mudah untuk

memahami materi yang sedang dipelajari. LKS ini didesain sesuai dengan tahapan

model GI, sehingga proses pembelajaran yang berlangsung menjadi student centered. Dalam penyusunannya, LKS ini dilengkapi dengan unsur-unsur penyusunan LKS agar lebih jelas dan disertai dengan gambar-gambar yang

menarik. Gambar-gambar ini juga membantu siswa dalam memahami petunjuk atau

instruksi yang ada di dalam LKS.

Karakteristik LKS ini dilihat dari langkah-langkah penulisan LKS yang

disesuaikan dengan tahapan-tahapan model GI yaitu terdiri dari enam tahap sebagai

berikut:

a. Identifikasi topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok

b. Merencanakan investigasi

c. Melakukan investigasi

d. Menyiapkan laporan akhir

e. Mempresentasikan laporan akhir

f. Evaluasi

(33)

LKS ini disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk

mengarahkan siswa belajar secara berkelompok, berdiskusi dan

menyimpulkan materi bersama teman sekelompoknya

7. Hasil Belajar

Abdurrahman mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang

diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. 58 Belajar itu sendiri adalah

merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu

bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.

Benjamin S. Bloom berpendapat bahwa hasil belajar dapat dikelompokkan ke

dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari

empat kategori, yaitu: 59

1) Pengetahuan tentang fakta atau pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar

yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan

suatu masalah.

2) Pengetahuan tentang prosedural, meliputi pengetahuan tentang keterampilan

khusus, tahapan sistematis mengenai sistem program (meliputi; input, proses,

dan output). Prosedur berarti tahap demi tahap suatu proses untuk mencapai

hasil yang diharapkan.

3) Pengetahuan tentang konsep, berkaitan dengan klasifikasi, kategori;

prinsip-prinsip, generalisasi; teori, model dan struktur. Penguasaan pengetahuan faktual

ditandai dengan kemampuan mengklasifikasikan data, mengelompokan data

berdasarkan ciri-ciri kesamaannya, atau berdasarkan perbedaannya;

menunjukkan kekuatan atau kelemahan sebuah pernyataan, mengenali

prinsip-prinsip, menyimpulkan, menguasai teori, menunjukan contoh, dan mengenali

struktur.

4) Pengetahuan metakognitif, ialah kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa

yang tidak diketahui. Strategi metakognitif merujuk kepada cara untuk

58 Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Presindo,

2012), h. 14

(34)

meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang

berlaku.

Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu: 60

1) Keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif.

2) Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motoric.

3) Keterampilan bereaksi atau bersikap.

4) Keterampilan berinteraksi.

Terdapat tiga aspek kompetensi yang harus diraih untuk mengetahui seberapa

besar kompetesi yang telah dicapai, aspek tersebut sebagai berikut:

1) Penguasaan Materi Akademik (Kognitif)

Ranah kognitif juga berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang

terdiri dari enam aspek, kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan

keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Aspek tersebut yakni:61

a) Pengetahuan/ingatan (knowledge).

b) Pemahaman (comprehension).

c) Penerapan (application).

d) Analisis (analysis).

e) Sintesis (synthesis).

f) Evaluasi (evaluation).

2) Hasil Belajar yang Bersifat Proses Normatif (Afektif)

Domain afektif mencakup pemilikan minat, sikap, dan nilai yang ditanamkan

melalui proses belajar mengajar. Tujuan instruksional yang termasuk dalam domain

afektif diklasifikasikan oleh David Kratwohl ke dalam lima jenjang, yaitu: 62

a) Penerimaan (receiving), merupakan kepekaan menerima rangsangan (stimulus)

baik berupa situasi maupun gejala;

60Ibid, h. 15

61 Ahmad Sofyan, dkk. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. Jakarta:

Lembaga Penelitian UIN Jakarta, h. 14

(35)

b) Penanggapan (responding), berkaitan dengan reaksi yang diberikan seseorang

terhadap stimulus yang datang;

c) Penilaian (valuing), berkaitan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala

atau stimulus yang datang;

d) Organisasi (organization), yaitu penerimaan terhadap berbagai nilai yang

berbeda berdasarkan suatu sistem nilai tertentu yang lebih tinggi;

e) Karakteristik nilai (characterization by a value complex), merupakan

keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang

mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

3) Aplikatif Produktif (Psikomotor)

Domain psikomotor mencakup kemampuan yang berupa keterampilan fisik

(motorik) atau keterampilan manipulatif. Ranah psikomotor ada yang membagi

menjadi 7 tingkatan dan adapula yang menjadi 4 dan 6 tingkatan, yakni:63

a) Persepsi (perception). Mampu menafsirkan rangsangan, peka terhadap rangsangan, menyeleksi obyek.

b) Kesiapan (set). Mampu berkonsentrasi, menyiapkan diri secara fisik, emosi dan

mental.

c) Gerakan terbimbing (guided response). Mampu meniru contoh, mencoba-coba,

pengembangan respon baru.

d) Gerakan terbiasa (mechanism). Berketerampilan, berpegang pada pola, respon

baru muncul dengan sendirinya.

e) Gerakan kompleks (complex overt response). Sangat terampil secara lancer, luwes, supel, gesit, lincah.

f) Penyesuaian pola gerakan (adaptation). Mampu menyesuaikan diri, bervariasi,

pemecahan masalah.

g) Kreatifitas/keaslian (creativity/origination). Mampu menciptakan yang baru, berinisiatif.

(36)

Trowbridge dan Bybe mengklasifikasikan domain psikomotor kedalam empat

kategori, yaitu:64

a) Bergerak (moving). Kategori ini merujuk pada sejumlah gerak tubuh yang melibatkan koordinasi gerakan-gerakan fisik.

b) Memanipulasi (manipulating). Kategori ini merujuk pada aktivitas yang mencakup pola-pola yang terkoordinasi dari gerakan-gerakan yang melibatkan

bagian-bagian tubuh.

c) Berkomunikasi (communicating). Kategori ini merujuk pada upaya untuk menyampaikan pendapat, gagasan ataupun perasaan agar diketahui oleh orang

lain.

d) Menciptakan (creating). Kategori ini merujuk pada proses dan kinerja yang dihasilkan dari gagasan-gagasan baru.

Harrow dan Nitko mengemukakan enam kategori, yaitu:65

a) Gerakan refleks, yaitu respon terhadap rangsangan yang dilakukan tanpa sadar

sebagai dasar dari semua perilaku bergerak.

b) Gerakan dasar fundamental, yaitu gerakan yang muncul tanpa perlu latihan

namun dapat diperhalus melalui praktik, gerakan terpola dan dapat ditebak.

c) Kemampuan perseptual, yaitu gerakan lanjutan dengan bantuan persepsi.

d) Kemampuan fisik, yaitu gerakan yang berkembang melalui kematangan dan

belajar sehingga lebih efisien.

e) Gerakan-gerakan terlatih, mengontrol berbagai tingkatan gerak, terampil,

tangkas, cekatan melakukan gerakan yang rumit.

f) Komunikasi non verbal, mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan estetik

dan gerak kreatif.

Hasil belajar setiap individu dipengaruhi oleh belajar siswa. Hasil belajar fisika

dapat dikelompokkan ke dalam kompetensi yang berupa perilaku (behavioral

objectives) dan kompetensi bukan perilaku (non - behavioral objectives). Kompetensi yang berupa perilaku terwujud dalam perilaku khusus yang harus

(37)

ditunjukkan oleh siswa bahwa telah terjadi proses belajar, baik dalam ranah

kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sedangkan kompetensi non perilaku berupa

soft skills atau outcomes, misalnya siswa mampu bersikap dewasa dalam menghadapi masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari.66

Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi belajar siswa yaitu faktor internal,

eksternal dan pendekatan belajar. 67

1.) Faktor dari dalam yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang

berasal dari siswa belajar. Faktor dari dalam (internal) meliputi dua aspek,

fisiologi dan psikologis. Faktor fisiologi meliputi kondisi jasmaniah secara

umum dan kondisi panca indra. Faktor psikologis meliputi kecerdasan, bakat,

minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.

2.) Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa yang

mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini meliputi lingkungan

sosial dan lingkungan non sosial. Lingkungan sosial yang dimaksud yaitu

manusia atau sesama manusia, baik manusia itu ada (kehadirannya) ataupun

tidak langsung hadir. Dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar

siswa ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu rumah, sekolah dan masyarakat.

Lingkungan non sosial meliputi keadaan udara, waktu belajar, cuaca, lokasi

gedung sekolah dan alat-alat pembelajaran.

3.) Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yaitu jenis upaya belajar yang

meliputi strategi, model dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan

kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

8. Fluida Statis a. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar yang ingin dicapai pada konsep gerak dua dimensi ini, yaitu:

3.7 Menerapkan hukum-hukum pada fluida statis dalam kehidupan sehari-hari

Sedangkan indikator ketercapaiannya sebagai berikut: 1) Siswa menentukan besaran tekanan

66 Mundilarto, op.cit, h. 7

67 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014) h.

(38)

2) Siswa memformulasikan prinsip dasar fluida statis

3) Siswa memformulasikan Prinsip Pascal dan aplikasinya dalam kehidupan

sehari-hari

4) Siswa memformulasikan Prinsip Archimedes dan aplikasinya dalam

kehidupan sehari-hari

5) Siswa menerapkan tegangan permukaan, kapilaritas dan viskositas.

b. Karakteristik Konsep

Karakteristik dari materi fluida statis bersifat eksperimental. Artinya, kajian dalam

materi fluida statis memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan langsung seperti

percobaan untuk dapat membuktikan kebenaran teori yang telah dipelajari di dalam kelas.

Adapun yang diperlukan dalam percobaan tersebut diantaranya Lembar Kerja Siswa

(LKS) sebagai acuan dalam melakukan percobaan. Peneliti ingin mengkaji hasil belajar

siswa setelah pembelajaran dilakukan dengan bantuan bahan ajar berupa Lembar Kerja

(39)

c. Peta Konsep

Gambar 2.1 Peta Konsep Fluida Statis Prinsip

Gaya Angkat ke atas dan keadaan benda

Viskositas Hukum Stokes

Dipengaruhi oleh gaya adhesi dan

Kohesi Serangga yang

berjalan di atas air

Meresapnya zat cair melalui pipa kapiler

Derajat kekentalan zat

(40)

1) Tekanan Hidrostatis

Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang dimiliki zat cair yang disebabkan oleh

beratnya sendiri. Secara matematis tekanan hidrostatis dituliskan sebagai berikut:

�ℎ = �. �. ℎ (2-3)

Tekanan mutlak adalah tekanan yang terdapat dalam suatu zat ditambah

dengan tekanan udara luar.

� = � + �. �. ℎ (2-4)

Hukum Pokok Hidrostatistika

� . �. ℎ = �2. �. ℎ2 (2-5) 2) Prinsip Pascal

Prinsip Pascal berbunyi: “tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup diteruskan sama besar ke segala arah.”68

Hukum Pascal dapat dirumuskan sebagai berikut : � = �2

� � =

� (2-6)

Penerapan hukum Pascal dalam kehidupan sehari-hari contohnya pada

penggunaan dongkrak hidrolik, rem hidrolik, pompa ban sepeda, dan mesin hidrolik

pengangkat mobil.

68 Puji Dwiyantoro. Fisika itu Mudah dan Menyenangkan, (Jakarta: Cerdas Interaktif.

(41)

Gambar 2.3 Contoh penerapan Prinsip Pascal: Dongkrak Hidrolik

3) Prinsip Archimedes

Prinsip Archimedes menyatakan bahwa gaya apung yang bekerja pada sebuah

benda yang tercelup sama dengan berat fluida yang dipindahkan.69

Gaya apung dapat dirumuskan sebagai berikut:

FA= Wudara-Wfluida

Gaya Archimedes dapat dirumuskan:

FA= �. Vbf. g (2-7)

Prinsip Archimedes digunakan untuk menentukan letak benda yang dicelupkan

ke dalam suatu fluida. Letak benda dalam suatu fluida dipengaruhi oleh massa jenis

benda tersebut. Benda-benda yang mempunyai massa jenis lebih besar dari massa

jenis zat cair akan tenggelam dalam zat cair. Sedangkan benda yang memiliki massa

jenis yang lebih kecil daripada massa jenis zat cair akan melayang. Untuk benda

yang memiliki massa jenis sama dengan massa jenis zat cair akan melayang di

dalam zat cair. Untuk lebih jelasnya perhatikan Tabel 2.1 berikut:

(42)

Tabel 2.1 Keadaan Benda dalam Zat Cair70

Keadaan benda Keterangan Syarat

Terapung benda berada di

permukaan zat cair

� ��� > � �

Melayang benda berada diantara

permukaan dan dasar zat

cair.

� ��� = � �

Tenggelam benda berada di dasar

zat cair.

� ��� < � �

Lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 2.4 Keadaan Benda dalam Zat Cair Penerapan prinsip Archimedes : kapal laut, hidrometer, balon udara. 71

4) Tegangan Permukaan dan Gejala Kapilaritas

Tegangan permukaan adalah kecenderungan zat cair untuk menegang sehingga

permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis. 72

� =� (2-8)

Kapilaritas adalah peristiwa naik turunnya permukaan fluida di dalam pipa

kapiler atau pembuluh sempit. 73

ℎ = 2� o ��. . (2-9)

(43)

h= ketinggian fluida dalam pipa kapiler

�= tegangan permukaan (N/m) = sudut kontak

�= massa jenis fluida (kg/m3) g= percepatan gravitasi (m/s2)

r= jari-jari pipa kapiler (m)

5) Viskositas

Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar

kecilnya gesekan di dalam fluida.

Persamaan untuk viskositas yaitu:

�� = 6 � ��� (2-10)

Keterangan:

Fs = gaya gesekan stokes ( N )

r = jari-jari bola ( m )

� = koefisien viskositas fluida ( Pa s ) v = kelajuan bola ( m/s )

Kecepatan terminal adalah kecepatan yang paling besar dan konstan yang dialami

sebuah benda di dalam zat cair. Persamaan untuk kecepatan terminal adalah:

Vt = 2 9 ρb−ρf (2-11)

Keterangan:

Vt = kecepatan terminal benda (m/s)

r = jari-jari benda (m)

g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)  = koefisien viskositas fluida b = massa jenis benda (kg/m3)

(44)

B. Kerangka Berpikir

Salah satu masalah dalam pembelajaran Fisika di sekolah yaitu rendahnya hasil

belajar siswa. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa

diantaranya yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor

yang berasal dari diri siswa sendiri, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang

berasal dari lingkungan sekitar, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non

sosial.

Pada dasarnya, sebagian siswa mengaku tertarik mempelajari Fisika namun

sebagian yang lain beranggapan bahwa mata pelajaran Fisika merupakan mata

pelajaran yang sulit, hal ini dikarenakan bahan ajar yang digunakan oleh guru

kurang memfasilitasi siswa dalam memahami pelajaran fisika.

Fisika sebagai mata pelajaran dalam rumpun IPA yang bersifat eksperimental,

maksudnya yaitu mata pelajaran yang memungkinkan siswa untuk melakukan

eksperimen atau percobaan untuk membuktikan konsep atau materi yang sedang

dipelajari. Melalui eksperimen, siswa mendapatkan pengalaman secara langsung di

dalam laboratorium sehingga siswa dapat lebih memahami konsep yang dipelajari.

Melalui eksperimen, fisika bukan lagi ditempatkan sebagai ilmu hafalan yang berisi

bacaan, tetapi ilmu eksak yang mempelajari fenomena sehari-hari. Eksperimen

tersebut akan berjalan dengan baik jika disertai LKS sebagai petunjuk dan pedoman

dalam melaksanakan percobaan atau eksperimen. Namun sayangnya, di

sekolah-sekolah seringkali kegiatan laboratorium digantikan dengan tayangan

menggunakan powerpoint.

Selain hal-hal yang tersebut di atas, hal lain yang turut berkontribusi dalam

pencapaian hasil belajar siswa yaitu penggunan model pembelajaran yang

dilakukan oleh guru. Model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan

siswa di dalam kelas yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.

Model ini dapat membantu guru dalam mengorganisir kelas mengingat kemampuan

siswa yang beragam dan jumlah siswa yang cukup banyak sehingga siswa dituntut

untuk belajar secara berkelompok dan berbagi tanggung jawab di dalam kelompok

untuk menyelesaikan tugas bersama. Sehingga melalui model ini akan terjadi proses

(45)

berkemampuan rendah. Pembelajaran dengan model ini akan menjadi pembelajaran

yang bermakna yaitu dapat memeratakan kemampuan siswa dan dapat

meningkatkan hasil belajar siswa.

Perpaduan yang tepat antara bahan ajar dan model pembelajaran yang

digunakan oleh guru serta disesuaikan dengan konsep atau materi pelajaran yang

berlangsung akan menghasilkan output yang baik pula. Oleh karena itu, LKS berbasis Group Investigation diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa

pada konsep fluida statis. Lebih jelasnya, kerangka berpikir dalam penelitian ini

(46)

Gambar 2.5 Kerangka Berpikir

Diperlukan upaya untuk

meningkatkan hasil belajar siswa melalui pengembangan bahan ajar disertai dengan model pembelajaran

Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan ajar ceetak

 Bahan ajar yang digunakan belum memenuhi kebutuhan siswa

 Kemampuan siswa yang beragam dalam jumlah banyak

 Kurangnya kegiatan praktikum Hasil belajar siswa

rendah

Penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Group

Investigation

LKS berbasis Group Investigation

Peningkatan hasil belajar siswa

Solusinya yaitu

denganmenggunakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan model pembelajaran

Gambar

Gambar 2.1  Peta Konsep Fluida Statis
Gambar 2.3  Contoh penerapan Prinsip Pascal: Dongkrak Hidrolik
Tabel 2.1 Keadaan Benda dalam Zat Cair70
Gambar 2.5 Kerangka Berpikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

praktikum yang akan menjadi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan praktikum sehingga pengembangan LKS berbasis inkuiri perlu dilakukan agar dapat

Maka salah satu metode yang dapat digunakan dalanm pembelajaran kimia khususnya pada materi larutan penyangga adalah dengan metode eksperimen, karena dengan metode

S impulan dari penelitian peng- embangan ini adalah: (1) penelitian ini menghasilkan produk berupa lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing pada materi fluida statis;

Hasil penelitian menunjukkan perolehan skor posttes dan N-gain kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, artinya terjadi peningkatan keterampilan befikir kritis

Beberapa hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan model TGT tersebut antara lain (1) penelitian Van Wyk (2011) menyimpulkan bahwa kelompok eksperimen yang menggunakan model

Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh peng- gunaan lembar kerja siswa berbasis problem based learning

Terkait dengan materi bangun ruang sisi lengkung salah satu kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa adalah kerangka berpikir yang sistematis dan analitik agar dapat

Kedua kelompok ini mendapatkan perlakuan pengajaran yang sama dari segi tujuan dan isi materi pembelajaran tetapi pengajaran pada kelas eksperimen akan menggunakan model