Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S. Psi.)
Oleh: Noviana NIM : 109070000220
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
“
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada
kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada
kemudahan.”
(Q.S. Al-Insyiroh, 5-6)
Ku berlari . . . bersama sang mentari
Semangat lagi . . . tak ada kata nanti
Ku bernyanyi . . . tak hanya dalam hati
Suatu hari nanti semua kan ku nikmati
berdoa, memberi dukungan dan menunggu keberhasilan
saya dalam mencapai kesuksesan.
Untuk Mama yang senantiasa berdo’a, dan
memberikan kasih sayang.
Untukkakak, dan adik-adik yang saya sayangi dan
cintai
D) Xiii + 79 Halaman + Lampiran
E) Pengaruh Inteligensi, Tipe Kepribadian, dan Iklim Kreatif terhadap Kreativitas.
F) Kreativitas merupakan suatu hal yang penting untuk dikembangkan bagi kemajuan bangsa Indonesia. Pengembangan kreativitas harus diperhatikan, terutama dalam bidang pendidikan.
G) Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh inteligensi, tipe kepribadian extraversion, agreeableness, constiousness, neuroticism, dan openness, iklim kreatif terhadap kreativitas siswa-siswi SMAN 3 Tangerang.
H) Sampel pada penelitian ini siswa SMAN 3 Tangerang dengan jumlah keseluruhan 201. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling. Penelitian menggunakan metode kuantitatif melalui pemberian kuesioner dan alat tes pada sampel penelitian. Kemudian, melakukan uji alat ukur menggunakan CFA (Confirmatory Factor Analysis) dengan bantuan software Lisrel dan menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan multiple regression analysis dengan bantuan software SPSS.
I) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya dua variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap kreativitas yaitu inteligensi dan iklim kreatif. Variabel lainnya, yaitu tipe kepribadian; extraversion, agreeableness, constiousness, neuroticsm, dan openness tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kreativitas. Inteligensi dan iklim kreatif mempunyai pengaruh yang signifikan atau memiliki persentase kontribusi terbesar terhadap kreativitas dibandingkan dengan variabel lain, dengan perincian variabel inteligensi memberikan sumbangan sebesar 7,5% dan iklim kreatif sebesar 1,9%. Sehingga dapat diketahui bahwa variabel yang terbesar pengaruhnya terhadap kreativitas adalah inteligensi.
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas ... 16
2.1.3 Pengukuran kreativitas ... 19
2.2 Inteligensi ... 21
2.2.1 Pengertian inteligensi ... 21
2.2.2 Teori-teori inteligensi ... 22
2.2.3 Pengukuran inteligensi ... 23
2.3 Kepribadian ... 26
2.3.1 Pengertian kepribadian ... 26
2.3.2 Dimensi big five personality ... 27
3.1.2 Sampel penelitian ... 41
3.2 Variabel penelitian ... 41
3.3 Definisi operasional variabel ... 42
3.3.1 Kreativitas ... 42
3.3.2 Inteligensi ... 42
3.3.3 Kepribadian ... 42
3.3.4 Iklim kreatif ... 43
3.4 Pengumpulan Data ... 44
3.4.1 Teknik pengumpulan data ... 44
3.4.2 Instrumen penelitian ... 45
3.5 Prosedur pengumpulan data ... 48
3.6 Uji vliditas instrumen penelitian ... 48
3.6.1 Uji validitas konstruk skala kepribadian ... 49
3.6.2 Uji validitas konstruk skala iklim kreatif ... 57
3.7 Metode analisis data ... 60
3.8 Prosedur penelitian ... 62
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 64-72 4.1 Deskripsi subjek penelitian ... 64
4.2 Analisis deskriptif ... 65
4.3 Kategorisasi variabel penelitian ... 67
4.4 Uji hipotesis penelitian ... 68
4.4.1 Hasil uji regresi ... 68
4.4.2 Pengujian proporsi varian masing-masing dari IV ... 72
BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 74-78 5.1 Kesimpulan ... 74
5.2 Diskusi ... 75
5.3 Saran ... 77
5.3.1 Saran teoritis ... 77
5.3.2 Saran Praktis ... 78
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kreativitas merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan
data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Secara operasional kreativitas dapat
dirumuskan sebagai “kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan
(fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk
mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan”
(Munandar, 1999).
Dalam berbagai aspek kehidupan, kebutuhan akan kreativitas sangatlah
terasa. Kita menghadapi macam-macam tantangan, baik dalam bidang ekonomi,
kesehatan, politik, maupun sosial. Kemajuan teknologi yang meningkat dan
ledakan penduduk yang disertai berkurangnya persediaan sumber-sumber alami di
lain pihak, menuntut adaptasi secara kreatif dan kemampuan untuk mencari
pemecahan yang imajinatif (Munandar, 2009).
Alexander (2007), juga menyatakan bahwa kesuksesan hidup individu itu
sangat ditentukan oleh kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara kreatif,
baik dalam skala besar maupun kecil. Hal tersebut juga terungkap oleh Sapta
Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada acara penutupan
bahwa kreativitas yang dimiliki bangsa Indonesia menjadi modal dasar untuk
dapat berkarya dan menghasilkan hal-hal baru yang terinspirasi dari hal-hal yang
pernah ada. Kreativitas merupakan sebuah daya yang dapat terus menghidupkan
manusia (www.parekraf.go.id).
Aburizal Bakrie juga mengungkapkan hal yang sama dalam blog nya ketika
bertemu dengan anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas
kreatif di kota Surabaya dan Bandung. Beliau mengungkapkan, “Saya yakin anak
muda Indonesia mampu. Kemampuan dan kreativitas anak-anak muda Indonesia
tak diragukan lagi. Saya yakin masa depan industri kreatif kita cerah di tangan
mereka. Ini sesuatu yang penting. Karena ini menjadi modal utama bagi bangsa
ini untuk lebih maju lagi dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia”
(Bakrie, 2013).
Boenjamin Setiawan (dalam Munandar, 2001) juga menyatakan bahwa
kreativitas dan inovasi sangat besar pengaruhnya untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, apabila manusia tidak memiliki sifat
kreatif dan inovatif, maka semua penemuan yang memperbaiki derajat hidup kita
tidak ada, maka dari itu peran kreativitas sangat besar.
Dari beberapa pernyataan di atas peneliti menyimpulkan bahwa kreativitas
di kehidupan ini adalah penting dan merupakan modal utama untuk memajukan
bangsa Indonesia. Namun pengembangan kreativitas juga harus diperhatikan,
terutama dalam bidang pendidikan. Menurut Munandar (2009), pendidikan
diri individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan negara. Tujuan dari
pendidikan, pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan
anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal,
sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan
kebutuhan pribadinya dan masyarakat.
Sebab utama lainnya dari kurangnya perhatian dunia pendidikan dan
psikolog terhadap kreativitas terletak pada kesulitan merumuskan konsep
kreativitas itu sendiri. Saat ini hampir setiap orang, dari orang awam, pemimpin
lembaga kependidikan, manajer perusahaan sampai dengan pejabat pemerintah,
berbicara tentang pentingnya kreativitas dikembangkan di sekolah, di tuntut dalam
pekerjaan, dan diperlukan untuk pembangunan (Munandar, 2009).
Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara 1999 – 2004 terdapat penjelasan
secara umum, bahwa adanya penurunan peranan dan kualitas diri di kalangan
generasi muda. Seperti kreativitas, kemauan, dan kemampuan mengembangkan
pemikiran dan melakukan kegiatan eksploratif, melakukan aksi sosial untuk
berani mencoba pada generasi muda yang mengalami hambatan sehingga pada
akhirnya menghambat proses kaderisasi bangsa. Sedangkan bangsa Indonesia
mempunyai visi untuk masa depan, dengan menetapkan beberapa misi, berikut
salah satu misi yang ditetapkan; “Pewujudan kehidupan sosial budaya yang
berkepribadian, dinamis, kreatif dan berdaya tahan terhadap pengaruh
globalisasi”. Selanjutnya ditekankan pula dalam arah kebijakan di bidang
ekonomi yang masih membahas mengenai kreativitas, “Mengupayakan kehidupan
bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar dengan mengembangkan sistem dana
jaminan sosial melalui program pemerintah serta menumbuh kembangkan usaha
dan kreativitas masyarakat yang pendistribusiannya dilakukan dengan birokrasi
yang efektif dan efisien serta ditetapkan dengan undang-undang”.
Mengenai pengembangan kreativitas dalam sistem pendidikan juga
disebutkan dalam tujuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Situs berita online Suara Merdeka (2013) mengatakan bahwa dalam
kurikulum pendidikan sudah terdapat upaya untuk mengembangkan kreativitas,
tapi hal tersebut belum terlaksana cukup baik, baik dari metode mengajarnya,
iklim kelasnya, atau sarana prasarana yang mendukung hal tersebut. Nang Primadi
Tabrani selaku Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan
"Lebih jauh lagi, cara belajar dalam pendidikan saat ini sudah terlalu lama
dikuasai oleh rezim pemikiran rasio. Sehingga menggabungkan proses belajar
rasional dan kreatif menjadi sulit dilaksanakan" (Puspitarini, 2014).
Kreativitas dalam kehidupan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penulis
Faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal, yang
terungkap berdasarkan hasil-hasil penelitian yang ditemukan. Dalam penelitian
yang dilakukan oleh To dan Fisher (2011), ditemukan bahwa mood
mempengaruhi kreativitas, yang dapat digolongkan dalam faktor internal. Mood
(suasana hati) merupakan suatu emosi yang lemah, lembut, biasanya merupakan
suatu peralihan yang sifatnya tidak berlangsung lama (Chaplin, 2008). Terungkap
dalam penelitian To dan Fisher, bahwa ada pengaruh yang kuat ketika mood
positif diaktifkan terhadap pencapaian hasil dan kreativitas, sedangkan ketika
mood negatif diaktifkan ada efek lambat pada proses kreativitas.
Faktor internal lainnya adalah inteligensi yang merupakan kemampuan
memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari
pengalaman sehari-hari (Santrock, 2006). Penelitian yang ditemukan oleh Benedek,
Franz, Heene, dan Neubauer (2012) mengungkapkan bahwa inteligensi
berhubungan positif dengan divergent thinking dan ideational originality dimana
hal tersebut merupakan komponen dari kreativitas. Selain berhubungan dengan
inteligensi, ada beberapa pernyataan dan penelitian yang mengatakan bahwa
kepribadian juga mempengaruhi kreativitas. Seperti yang diungkapkan oleh
Hurlock (2007) bahwa kreativitas memberikan kesenangan dan kepuasan pribadi
yang sangat besar, dan merupakan sebuah penghargaan yang mempunyai
pengaruh terhadap perkembangan kepribadian.
Batey, Furnham, & Safiullina (2010) menyatakan ada hubungan positif dan
negatif antara kreativitas dengan dimensi dari big five personality. Kreativitas
negatif dengan agreeableness, conscientiousness dan neuroticism. Sedangkan
dalam penelitian yang dilakukan Nowrozi, Shaker, Meamar, Ghaderi (2011)
menunjukkan bahwa dimensi dari big five personality, yakni openness,
extraversion, agreeableness, dan conscientiousness berkorelasi positif dengan
kreativitas, dan berkorelasi negatif dengan neuroticism.
Selain faktor internal yang telah dipaparkan di atas, ada faktor eksternal
yang juga mempengaruhi kreativitas. Silvano Arieti (dalam Munandar, 2009)
menamakan sebuah kebudayaan yang menunjang, memupuk, dan memungkinkan
perkembangan kreativitas, dengan sebutan “creativogenic”. Dalam penelitiannya
Arieti mengemukakan sembilan faktor creativogenic, yaitu tersedianya sarana
kebudayaan, keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan, penekanan pada
“becoming”, memberikan kesempatan bebas, terdapat diskriminasi ringan,
keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda, adanya toleransi dan
minat terhadap pandangan yang divergen, adanya interaksi antara pribadi-pribadi
yang berarti. Pada faktor pertama Arieti berpendapat bahwa seorang musikus
seperti Beethoven akan sulit mengembangkan bakatnya apabila ia hidup dalam
lingkungan dimana tidak ada kemungkinan untuk mempelajari musik secara wajar
walaupun ia berbakat. Begitupun pada faktor-faktor yang lain yang menunjang
kreativitas seseorang.
Pada penelitian Jacqueline Mayfield dan Milton Mayfield (2008), juga
menyatakan bahwa iklim kreatif mempunyai pengaruh terhadap kreativitas
seseorang. Dimana lingkungan kreativitas pekerja berperan kuat bagi peningkatan
tingkat kreativitas individu, dimana lingkungan tersebut memiliki peran untuk
para pekerja, sehingga dapat memberi hasil atau nilai bagi pengembangan
organisasi.
Irvan Prihartono (2011) menemukan bahwa ada korelasi positif dan
signifikan antara iklim kelas (affiliation, student influence, dan involvement)
terhadap sikap kreatif. Chang, Hsu, dan Chen (2013) juga menemukan bahwa ada
korelasi positif antara iklim kelas dengan suasana yang menyenangkan terhadap
kreativitas menggambar dan berbahasa pada siswa.
Tajari dan Tajari (2011) juga menemukan faktor eksternal yang
mempengaruhi kreativitas. Terungkap bahwa peningkatan kreativitas dapat
dipengaruhi oleh metode mengajar. Metode mengajar dengan cara yang kreatif
dapat meningkatkan komponen kreativitas (fluent, originality, flexibility, dan
expansion) seseorang menjadi lebih efektif. Selain itu Munandar (2009) juga
mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif berhubungan erat dengan
cara mengajar. Dalam suasana non otoriter, ketika belajar atas prakarsa sendiri
dapat berkembang, dengan kepercayaan guru terhadap kemampuan anak untuk Sementara itu, McLellan dan Nicholl (2013) melakukan penelitian
mengenai penerapan dimensi iklim kreatif di dalam organisasi ke dalam ruang
kelas. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan di organisasi, menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh dimensi iklim kreatif terhadap kreativitas. Namun,
dalam penelitian yang mereka lakukan di sekolah menengah dengan rentangan
berpikir dan berani mengemukakan gagasan baru dan anak diberi kesempatan
untuk bekerja sesuai dengan minat dan kebutuhannya, kemampuan kreatif dapat
tumbuh dengan subur. Suasana seperti ini dapat dibangun pada sekolah secara
umum atau melalui iklim kelas.
Berdasarkan data yang penulis temukan terdapat sekolah yang turut
mengembangkan kreativitas, yaitu SMAN 3 Tangerang. Sekolah ini mempunyai
misi yang dapat meningkatkan kreativitas siswa salah satunya adalah
melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan inovatif. Situs berita
online Tangerang Ekspres mengungkapkan bahwa SMA Negeri 3 Tangerang ini
mampu mengubah sampah plastik, sedotan, kemasan kopi, kulit jagung, koran dan
karung beras menjadi barang berharga seperti bunga, baju, tas, sandal, sepatu,
keranjang, sajadah dan permadani. Siti Nurlaela selaku guru bahasa Inggris
mengatakan, “Di sekolah kami siswa wajib mengumpulkan sampah setiap
harinya. Jika sudah didaur ulang dibuat kerajinan tangan, maka karya siswa
akan dijual uangnya bisa untuk tambahan jajan”. Menurutnya, kegiatan daur
ulang sampah sangat penting. Selain mengurangi beban sampah di lingkungan
sekolah, daur ulang sampah juga dapat mendorong kreativitas siswa untuk
berkarya. Dengan kegiatan tersebut diharapkan siswa mampu membiasakan diri
untuk menjaga kebersihan dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan
begitu, sampah yang biasa mengotori lingkungan sekolah menjadi lebih
bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis tinggi.
Pada website SMAN 3 Tangerang, disebutkan bahwa pada tanggal 28
memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal
28 Oktober 2012. Lomba-lomba tersebut meliputi lomba musikalisasi puisi,
telling story, membaca puisi, scrabble, bercerita dalam bahasa Jerman, dan
bercerita dalam bahasa Indonesia. Menurut Rahmat, selaku guru SMAN 3, hal
tersebut bertujuan untuk meningkatkan kreativitas verbal siswa-siswi (wawancara,
15 Oktober 2014). Informasi ini mendorong penulis untuk mengetahui bagaimana
kreativitas siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Telah dijelaskan dari berbagai sumber dan tokoh bahwa setiap individu
membutuhkan kreativitas dalam kehidupan sehari-hari serta dalam proses
peningkatan kualitas sumber daya manusia, banyak juga
1.2 Pembatasan Masalah
faktor yang
mempengaruhi kreativitas seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Oleh karena
banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap kreativitas, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang pengaruh inteligensi, tipe kepribadian dan
iklim kreatif terhadap kreativitas.
Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh inteligensi, tipe kepribadian dan iklim
kreatif terhadap kreativitas. Adapun batasan-batasan tentang konsep variabel yang
diteliti adalah:
1. Kreativitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kreativitas verbal
yang mengukur dimensi operasi berpikir divergen, dengan dimensi konten
verbal, dimana setiap sub tes mengukur aspek yang berbeda dari berpikir
2. Inteligensi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengukur
kemampuan seseorang secara global dalam bertindak secara sengaja,
berpikir secara rasional, dan efektivitas seseorang dalam menangani
lingkungannya.
3. Kepribadian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah karakteristik
seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran,
dan perilaku (Pervin, Cervone & John, 2012). Dalam penelitian ini
difokuskan pada lima tipe kepribadian (Big Five Personality); extraversion,
agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness.
4. Iklim kreatif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah iklim yang
memajukan generasi, pemikiran, penggunaan produk baru, pelayanan, dan
cara kerja. Iklim tersebut turut mendukung pembangunan, pembauran, dan
pemanfaatan dalam berbagai macam pendekatan serta konsep yang baru dan
berbeda (Isaksen, Lauer & Ekvall, 1998) dengan model iklim kreatif dari
McLellan dan Nicholl (2013) yaitu; tantangan (challenge), kebebasan
(freedom), keterbukaan (trust/openness), waktu untuk menemukan ide (idea
time), kesenangan (playfulness/humour), pengambilan resiko (risk tasking),
dukungan untuk ide (idea support), debat (debate), dan konflik (conflict).
5. Individu yang dijadikan subjek penelitian ini adalah siswa-siswi SMA
1.3 Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah disajikan, perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
1. Apakah ada pengaruh yang signifikan inteligensi, tipe kepribadian dan iklim
kreatif terhadap kreativitas?
2. Apakah ada pengaruh yang signifikan inteligensi terhadap kreativitas?
3. Apakah ada pengaruh yang signifikan tipe-tipe kepribadian terhadap
kreativitas?
4. Apakah ada pengaruh yang signifikan iklim kreatif terhadap kreativitas?
5. Dimensi manakah yang paling berpengaruh signifikan terhadap kreativitas?
6. Berapa proporsi varians inteligensi, tipe kepribadian dan iklim kreatif yang
berpengaruh terhadap munculnya kreativitas?
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada pengaruh inteligensi, tipe
kepribadian dan iklim kreatif, terhadap kreativitas dan variabel manakah yang
paling kuat mempengaruhi kreativitas. Secara khusus, tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menguji:
1. Pengaruh inteligensi terhadap kreativitas .
2. Pengaruh tipe kepribadian extraversion terhadap kreativitas.
3. Pengaruh tipe kepribadian agreeableness terhadap kreativitas.
5. Pengaruh tipe kepribadian neuroticism terhadap kreativitas.
6. Pengaruhtipe kepribadian openness terhadap kreativitas.
7. Pengaruh iklim kreatif terhadap kreativitas.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan bagi para
pembaca, memberikan kontribusi dalam lapangan psikologi dan pendidikan.Selain
itu juga dapat menjadi penguat dan pendukung atau kritik terhadap teori-teori dan
penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
1.5.2 Manfaat praktis
Manfaat praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam
mengembangkan kreativitas siswa yang akan bermanfaat untuk masa depannya.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB 1 : PENDAHULUAN
Bab ini meliputi latar belakang masalah, batasan dan perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pembahasan pada bab ini meliputi teori, konsep dan pengukuran kreativitas,
inteligensi, tipe kepribadian dan iklim kreatif, kerangka berpikir dan hipotesis
BAB 3 : METODE PENELITIAN
Pada bab ini dikemukakan, populasi dan sampel, variabel penelitian, definisi
operasional variabel, instrumen pengumpulan data, teknik analisis data, dan
prosedur penelitian.
BAB 4: HASIL PENELITIAN
Berisi analisis deskriptif dan pengujian hipotesis penelitian.
BAB 5 : KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
BAB 2
LANDASAN TEORI
Pembahasan pada bab ini meliputi teori, konsep dan pengukuran kreativitas,
inteligensi, tipe kepribadian dan iklim kreatif, kerangka berpikir dan hipotesis
penelitian.
2.1 Kreativitas
2.1.1 Pengertian kreativitas
Munandar (1999) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk
membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada.
Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai “kemampuan yang
mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam
berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya,
memperinci) suatu gagasan”.
Kim (2007) mengungkapkan bahwa kreativitas adalah fenomena antara
individu dan kebudayaan yang memungkinkannya untuk mengubah kemungkinan
menjadi kenyataan. Ketika seorang individu menemukan wawasan atau
menghasilkan bentuk-bentuk seni yang baru dan diterima dari orang lain, maka
temuan tersebut menjadi bagian dari tradisi budaya, tercatat, dan dikirim ke
generasi selanjutnya.
Menurut Runco (2007), kreativitas adalah topik yang sangat menarik.
yang menarik, terutama ketika melakukan pekerjaan yang disenangi (kesenian,
penemuan, buku, dan wawasan) dalam arti ia melakukannya dengan original dan
tidak biasa.
Hurlock (1999) menambahkan mengenai kreativitas, menurutnya
kreativitas adalah proses mental yang unik, suatu proses yang semata-mata
dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan orisinal. Begitu
juga Sternberg (2008) yang juga menyatakan bahwa kreativitas sebagai proses
memproduksi sesuatu yang orisinil dan bernilai. Sesuatu yang dimaksud adalah
berupa sebuah teori, tarian, zat kimia, suatu proses atau prosedur, cerita, simfoni,
dan lain-lain. Lalu Santrock (2007) menyatakan bahwa kreativitas adalah
kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru dan tidak biasa serta
menghasilkan pemecahan masalah yang unik. Maksud dari definisi tersebut,
kreativitas adalah bagaimana seseorang berfikir dengan cara baru yang
menghasilkan pemecahan masalah yang belum ada sebelumnya sehingga
seseorang dapat menemukan produk atau solusi yang belum pernah ditemukan
orang lain.
Berdasarkan uraian diatas teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teori dari Utami Munandar (2009), yakni kreativitas adalah kemampuan
untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas
Hurlock (1999) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi kreativitas,
diantaranya;
1. Jenis kelamin
Anak laki-laki lebih kreatif dibandingkan dengan anak perempuan. Hal
tersebut disebabkan karena anak laki-laki lebih diberi kesempatan untuk
mandiri, bahkan didesak oleh teman sebayanya untuk bertindak suatu hal
yang beresiko, dan juga anak laki-laki didorong oleh para orang tua dan
guru untuk menunjukkan inisiatif dan orisinalitas.
2. Status sosioekonomi
Seseorang yang memiliki status sosioekonomi lebih tinggi cenderung lebih
kreatif dari yang lebih rendah status sosioekonominya. Hal tersebut
disebabkan karena status sosioekonomi yang lebih tinggi memberikan
lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman
yang diperlukan bagi kreativitas.
3. Urutan kelahiran
Anak dengan urutan kelahiran tengah, belakang dan anak tunggal,
mungkin lebih kreatif dari yang lahir pertama, karena pada umumnya anak
yang lahir pertama akan lebih ditekan untuk menyesuaikan diri dengan
harapan orang tuanya. Penjelasan mengenai perbedaan ini lebih
4. Ukuran keluarga
Dalam ukuran keluarga yang kecil, lebih memungkinkan anak untuk lebih
kreatif dibandingkan ketika anak berada dalam ukuran keluarga yang
besar, terlebih jika anak terdidik secara otoriter dan kondisi sosioekonomi
yang rendah.
5. Lingkungan kota versus lingkungan desa
Lingkungan kota cenderung lebih memungkinkan anak untuk kreatif
dibandingkan anak dari lingkungan desa. Disebabkan, karena dalam
lingkungan desa pada umumnya anak dididik secara otoriter yang kurang
merangsang kreativitas.
6. Inteligensi
Setiap anak yang pandai menunjukkan kreativitas yang lebih besar. Hal ini
disebabkan, karena mereka mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk
menanganiih besar. Hal ini disebabkan, karena mereka mempunyai lebih
banyak gagasan baru untuk menangani suasana konflik sosial dan mampu
merumuskan lebih banyak penyelesaian pada konflik tersebut.
Dibawah ini merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi kreativitas yang
terungkap berdasarkan hasil-hasil penelitian yang ditemukan, diantaranya;
1. Metode mengajar
Peningkatan kreativitas dapat dipengaruhi dengan metode mengajar. Tajari
dan Tajari (2011), menyatakan bahwa metode mengajar dengan cara yang
kreatif dapat meningkatkan komponen kreativitas (fluent, originality,
2. Kepribadian
Kepribadian merupakan bagian yang khas dari setiap individu. Hal ini
yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya.
Hoseinifar, Siedkalan, Zirak, Nowrozi, Shaker, Meamar dan Ghaderi
(2011) menyatakan bahwa kepribadian seseorang mempengaruhi
kreativitas. Ditemukan bahwa dari ke lima faktor kepribadian terdapat
empat faktor yang mempengaruhi secara positif yaitu openness,
extraversion, agreeableness dan conscientiousness. Sedangkan
neuroticism mempunyai pengaruh negatif terhadap kreativitas.
3. Inteligensi
Batey, Furnham, dan Safiullina (2010) mengungkapkan bahwa kreativitas
mempunyai hubungan positif dengan inteligensi. Ditemukan dalam
penelitiannya, bahwa kreativitas berhubungan positif dan signifikan
terhadap crystallized intelligence dan fluid intelligence. Horn (dalam Alan,
1994) menjelaskan pengertian dari crystallized intelligence dan fluid
intelligence. Crystallized intelligence mengacu pada fungsi intelektual
pada tugas-tugas yang menyerukan akulturasi, pendidikan dan pelatihan
sebelumnya, sedangkan fluid intelligence melibatkan pemecahan masalah
dan penalaran di mana kuncinya adalah adaptasi dan fleksibilitas ketika
dihadapkan dengan rangsangan asing.
4. Iklim kreatif
Iklim kreatif juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
Mayfield (2008), menyatakan bahwa iklim kreatif mempunyai pengaruh
terhadap kreativitas seseorang. Dimana lingkungan kreativitas pekerja
berperan kuat bagi peningkatan hasil organisasi.
5. Mood
Dalam penelitian yang dilakukan oleh To dan Fisher (2011), menemukan
bahwa mood mempengaruhi kreativitasyang dapat digolongkan dalam
faktor internal. Mood (suasana hati) merupakan satu emosi yang lemah,
lembut, biasanya merupakan suatu peralihan yang sifatnya tidak
berlangsung lama (Chaplin, 2008). Terungkap dalam penelitian To dan
Fisher, bahwa ada pengaruh yang kuat ketika mood positif diaktifkan
terhadap pencapaian hasil dan kreativitas, sedangkan ketika mood negatif
diaktifkan ada efek lambat pada proses kreativitas.
Berdasarkan uraian faktor yang mempengaruhi kreativitas di atas, dalam
penelitian ini akan diuji faktor internal dan eksternal yaitu; inteligensi dan
kepribadian sebagai faktor internal, dan iklim kreatif sebagai faktor eksternal.
2.1.3 Pengukuran kreativitas
Utami Munandar (dalam Munandar, 2009) mengkonstruksi tes kreativitas pertama
di Indonesia pada tahun 1977, yaitu tes kreativitas verbal, yang mengukur
kemampuan berpikir divergen. Tes tersebut berlandaskan model struktur intelek
dari Guilford sebagai kerangka teoretis. Tes ini terdiri dari enam sub-tes
(permulaan kata, menyusun kata, membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifat yang
sama, macam-macam penggunaan dan apa akibatnya) yang semuanya mengukur
masing-masing berbeda dalam dimensi produk. Setiap sub-tes mengukur aspek yang
berbeda dari berpikir kreatif.
Tes kreativitas berikutnya merupakan adaptasi dari circle test dari
Torrance, dan digunakan pertama kali di Indonesia oleh Utami Munandar pada
tahun 1976 dan dilakukan penelitian standarisasi pada tahun 1988, yaitu TKF (Tes
Kreativitas Figural). TKF dapat mengukur kreativitas sebagai kemampuan untuk
membuat kombinasi antara unsur-unsur yang diberikan, yaitu dengan memberikan
skor untuk bonus orisinalitas jika subjek mampu menggabung dua lingkaran atau
lebih menjadi satu objek; makin banyak lingkaran yang dapat digabung, makin
tinggi nilai (skor) yang diperoleh (Munandar, 2009).
Guilford (dalam Munandar, 2009) menggunakan Tes Kemampuan
Berpikir Divergen yang mencakup dimensi operasi (proses), dimensi content dan
dimensi produk. Tes kreativitas ini digunakan untuk populasi remaja dan orang
dewasa, meskipun ada juga yang untuk anak-anak usia kelas 4 sampai kelas 6 SD.
Tes tersebut disusun untuk anak-anak terdiri dari 10 sub-tes, yaitu; nama untuk
cerita, apa yang dapat dilakukan, arti yang sama, menulis kalimat, macam-macam
orang, membuat dekorasi. Tes ini mempunyai batas waktu, hal tersebut penting
untuk pengetesan yang cermat.
Berdasarkan macam-macam alat ukur yang telah dipaparkan, kreativitas
pada penelitian ini diukur dengan menggunakan Tes Kemampuan Verbal (TKV)
Utami Munandar yang dimodifikasi. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewakili
berpikir kreatif pada usia remaja, yang disesuaikan dengan perkembangan remaja
masa kini.
2.2 Inteligensi
2.2.1 Pengertian inteligensi
Sternberg (2008) mengungkapkan bahwa inteligensi adalah kapasitas untuk belajar
dari pengalaman dengan menggunakan proses-proses metakognitif dalam upayanya
meningkatkan pembelajaran, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan
sekitar. Inteligensi mensyaratkan kemampuan adaptasi yang berbeda di dalam
konteks-konteks sosial dan budaya yang berbeda.
Santrock (2006) mendefinisikan bahwa inteligensi adalah kemampuan
memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari
pengalaman sehari-hari. Lalu Ormrod (2009) menambahkan bahwa inteligensi
merupakan kemampuan menerapkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya
secara fleksibel untuk menghadapi tugas-tugas baru yang menantang. Sedangkan
Wade dan Tavris (2007) mendefinisikan inteligensi sebagai suatu karakteristik
dalam diri seseorang yang didapatkan melalui penalaran, umumnya didefinisikan
sebagai suatu kemampuan untuk mengambil keuntungan dari suatu pengalaman,
memperoleh pengetahuan, berpikir secara abstrak, bertindak berdasarkan alasan,
atau beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan.
Berdasarkan berbagai definisi yang telah dikemukakan di atas, definisi
bahwa inteligensi merupakan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan
untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman sehari-hari.
2.2.2. Teori-teori inteligensi
Berikut merupakan macam-macam teori inteligensi yang dijelaskan dari beberapa
teori, diantaranya;
a. Faktor ‘g’
Spearman (dalam Sternberg, 2008) mengatakan bahwa inteligensi dapat
dimengerti berdasarkan dua jenis faktor. Pertama, faktor umum ‘g’ (general) yang
merupakan faktor pendorong performa di semua tes kemampuan mental, faktor ini
menjadi kunci untuk memahami inteligensi. Faktor yang kedua yaitu faktor
spesifik yang terlibat di dalam performa dan terdapat pada tipe-tipe tertentu tes
kemampuan mental.
b. Model-model hierarkis
Cattel (dalam Sternberg, 2008) menyatakan bahwa model ini mengandung dua
sub faktor utama, yaitu fluid abillities dan crystallized abillities. Fluid abillities
merupakan kecepatan dan akurasi penalaran abstrak, khususnya ketika seseorang
dihadapkan pada masalah-masalah baru. Sedangkan crystallized abillities
merupakan pengetahuan dan kosa kata yang terakumulasi untuk waktu yang lama,
tersimpan di dalam memori jangka panjang, dan dapat digunakan ketika
Vernon (dalam Sternberg, 2008) menyatakan bahwa sub faktor utama
yang telah disebutkan mencakup faktor lain yang lebih spesifik, yaitu kemampuan
mekanis praktis dan pendidikan verbal. Sedangkan Carrol (dalam Sternberg,
2008) menyatakan bahwa model hierarkis yang lebih baru adalah model yang
mengandung tiga strata. Strata I mencakup kemampuan spesifik, seperti
kemampuan mengeja dan kecepatan penalaran. Starta II mencakup kemampuan
yang luas, seperti fluid intelligence dan crystallized intelligence. Strata III
mencakup inteligensi umum tunggal.
c. Multi Inteligensi
Howard Gardner (dalam Sternberg, 2008) menyatakan bahwa inteligensi
mengandung berbagai konstruk yang independen. Teori ini menggunakan delapan
kriteria untuk melihat jenis inteligensi yang berbeda-beda, yaitu; kecerdasan
linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musik,
kecerdasan kinestetika tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal,
dan kecerdasan naturalistik. Gardner melihat setiap kemampuan ini sebagai
sebuah kecerdasan yang berbeda, bukan hanya sebagai bagian dari sebuah
keseluruhan.
2.2.3 Pengukuran inteligensi
Tes inteligensi merupakan ukuran umum mengenai fungsi kognitif saat ini;
seringkali digunakan untuk memprediksikan prestasi akademik dalam jangka
Stanford – Binet mengukur inteligensi menggunakan skala inteligensi Stanford –
Binet yang sudah mengalami perbaikan berkali-kali. Stanford – Binet edisi
keempat (SB-IV), mempertahankan keunggulan utama pada edisi awal yaitu
sebagai instrumen klinis yang diselenggarakan secara individu. Skala ini
dirancang untuk usia dua tahun sampai tingkat dewasa. Materinya mencakup buku
kecil berisi kartu-kartu untuk presentasi, flip-over soal-soal tes, objek-objek tes;
balok, papan bentuk, manik-manik dengan berbagai macam dan warna, gambar
boneka besar yang uniseks dan multietnik, buku catatan kecil untuk penguji
memberikan skor dan catatan, serta buku pedoman untuk skor dan cara
melaksanakan. Terdiri dari 15 tes yang mencakup empat bidang kognitif;
penalaran verbal (kosa kata, pemahaman, absurditas, hubungan verbal), penalaran
kuantitatif (kuantitatif, seri angka, membangun persamaan), penalaran
abstrak/visual (analisis pola, meniru, matriks, melipat dan menggunting kertas),
memori jangka pendek (bead memory, memori untuk kalimat, memori untuk digit,
memori untuk objek) (Anastasi & Urbina, 2007).
Skala Kaufman adalah instrumen klinis yang diselenggarakan secara
individu. Skala ini mencakup tiga skala, yaitu K-ABC, KAIT, dan K-BIT. K-ABC
(Kaufman Assesment Battery for Children), skala ini dirancang untuk usia 2
setengah tahun sampai 12 tahun 6 bulan. Skala ini mencakup skala pretasi yang
terdiri dari beberapa subtes, yaitu; kemampuan membaca, aritmatik, pengetahuan
kata, dan informasi umum. Namun bukan untuk mengukur pengetahuan faktual
yang diajarkan disekolah, melainkan tes-tes sikap. KAIT (Kaufman Adolescent
menampilkan upaya untuk mengintegrasikan teori tentang fluid intelligence dan
crystallized intelligence. Skala ini mengukur konsep-konsep yang didapat dari
proses sekolah dan akulturasi, dan mengukur kemampuan untuk menyelesaikan
permasalahan. K-BIT (KaufmanBrief Intelligence Test), dirancang untuk usia 4
sampai 90 tahun. Skala ini dirancang sebagai instrumen penyaringan yang cepat
untuk memperkirakan tingkat intelektual yang terdiri dari satu subtes verbal yang
terdiri dari 45 soal kosa kata ekspresif dan 37 definisi, dan satu subtes nonverbal
yang terdiri dari 48 matriks (Anastasi & Urbina, 2007).
David Wechsler dalam mengukur inteligensi mencakup tiga skala, yaitu
skala untuk orang dewasa, untuk anak usia sekolah, dan untuk anak usia pra
sekolah. WAIS-R (Wechsler Adult Intelligence Scale- Revised) untuk usia 16-74
tahun, WISC-III (Wechsler Intelligence Scale for Children – Third Edition) untuk
usia 6 – 16 tahun 11 bulan, WPPSI-R (Wechsler Preschool and Primary Scale of
Intelligence- Revised) untuk usia 3 – 7 tahun 3 bulan (Anastasi & Urbina, 2007).
Dalam tes inteligensi umum ini mengukur kemampuan seseorang secara global
dalam bertindak secara sengaja, berpikir secara rasional, dan efektivitas seseorang
dalam menangani lingkungannya.
Pada penelitian ini penulis tidak melakukan tes inteligensi sendiri, tetapi
mengambil hasil data tes inteligensi siswa-siswi yang telah dilakukan di sekolah
pada 14 Juli 2012 untuk kelas XII, 13 Juli 2013 untuk kelas XI, dan 12 Juli 2014
untuk kelas X, yang menggunakan WAIS-R (Wechsler Adult Intelligence Scale-
2.3. Kepribadian
2.3.1. Pengertian kepribadian
Allport (dalam Hall, Linzey & Campbell, 1997) mendefinisikan kepribadian
sebagai organisasi atau susunan yang dinamis dari sistem psikofisik dalam diri
individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik (khas) terhadap
lingkungannya). Sedangkan Pervin, Cervone& John (2012) mengungkapkan
bahwa kepribadian adalah karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya
konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku.
Feist dan Feist (2006) menyatakan bahwa kepribadian (personality) adalah
sebuah pola dari sifat yang relatif menetap dan karakteristik unik, dimana
memberikan konsistensi dan individualitas pada perilaku seseorang. Sifat (trait)
menunjukan perbedaan individual dalam berperilaku, perilaku yang konsistensi
sepanjang waktu, dan stabilitas perilaku dalam berbagai situasi. Karakteristik
(characteristis) merupakan ciri khas seseorang yang unik, dan termasuk pada
temperamen, fisik dan inteligensi yang dimilkinya.
Salah suatu pendekatan tipe terhadap kepribadian yang digunakan dalam
psikologi adalah melaluilima tipe kepribadian (Big Five Personality), yaitu;
extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness
(Friedman &Schustack, 2008). Raymond B. Cattell merupakan peletak dasar
teoritis dari pengukuran terhadap kepribadian yang kemudian berkembang
menjadi bentuk dasar dari struktur kepribadian yang saat ini lebih dikenal dengan
Dari pengertian di atas maka peneliti menggunakan definisi dari Pervin,
Cervone& John (2012) yang mengungkapkan bahwa kepribadian adalah
karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan,
pemikiran, dan perilaku yang dapat dianalisis melalui lima tipe kepribadian (Big
Five Personality); extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism,
dan openness.
2.3.2. Dimensi Big Five Personality
John & Srivastava (1999) menjelaskan karakteristik kelima dimensi tipe dalam
pendekatan Big Five:
1. Extraversion (E)
Extraversion sering disebut juga dengan surgency. Individu dengan skor tinggi
pada faktor extraversion (E) cenderung penuh dengan kasih sayang, periang,
banyak bicara, suka berkumpul, dan menyukai kesenangan. Sebaliknya, individu
dengan tingkat extraversion rendah lebih menyukai untuk berdiam diri, tenang,
penyendiri, pasif, dan kekurangan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan.
2. Agreeableness (A)
Faktor Agreeableness (A) membedakan antara individu yang berhati lembut
dengan yang tak mengenal belas kasih. Individu dengan skor tinggi pada faktor ini
memiliki kecenderungan untuk memiliki kepercayaan yang penuh, dermawan,
suka mengalah, penerima, dan baik hati. Faktor ini juga disebut dengan social
adaptibility yaitu mencirikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang
tingkat agreeableness yang rendah, suka mencurigai, kikir, tidak ramah, mudah
tersinggung, cenderung untuk lebih agresif dan mengkritik orang lain serta kurang
kooperatif.
3. Conscientiousness (C)
Conscientiouness digambarkan dengan individu yang patuh, terkontrol, teratur,
ambisius, berfokus pada pencapaian, dan disiplin diri. Faktor ini dapat juga
disebut dengan dependability, impulse control dan will to achive. Secara umum,
individu yang memiliki skor tinggi pada faktor ini adalah pekerja keras, cermat,
tepat waktu, dan tekun. Sebaliknya, pada individu yang berskor rendah dalam
faktor ini cenderung tidak teratur, lalai, pemalas, dan tidak memiliki tujuan serta
mudah menyerah ketika menemui kesulitan dalam tugas-tugasnya.
4. Neuroticism (N)
Individu dengan skor tinggi pada faktor Neuroticism (N), memiliki kecenderungan
untuk mengalami kecemasan, temperamental, mengasihani diri sendiri, sadar diri,
emosional, dan rentan terhadap gangguan stress. Seseorang yang memiliki tingkat
neuroticism yang rendah akan lebih gembira dan puas terhadap hidup jika
dibandingkan yang memiliki tingkat neuroticism tinggi, sedangkan individu
dengan skor yang rendah pada N, biasanya tenang, bertemperamental datar, puas
akan diri sendiri, dan tidak emosional.
5. Openness (O)
Openness mengacu pada bagaimana individu tersebut bersedia untuk melakukan
ciri mudah bertoleransi, memiliki kapasitas dalam menyerap informasi, fokus dan
mampu untuk waspada pada berbagai perasaan, pemikiran dan impulsivitas. Pada
individu dengan tingkat openness yang rendah digambarkan sebagai pribadi yang
berpikiran sempit, konservatif dan tidak menyukai adanya perubahan.
2.3.3 Pengukuran kepribadian
Puccio & Grivas (2009), mengukur kepribadian dengan alat ukur DiSC. Alat ukur
DiSC terdiri dari 28 set kata-kata, ada empat kata sifat dalam setiap set.
Responden diminta untuk mengulas setiap kata-kata dan mengidentifikasi kata
terbaik yang menggambarkan diri sendiri, juga kata yang paling deskriptif. Dari
ulasan tersebut, maka akan menghasilkan skor kepribadian pada empat dimensi:
Dominance, Influence, Steadiness dan Conscientiousness. Seseorang yang
memiliki skor tinggi pada Dominance, maka ia adalah seseorang yang aktif ketika
berhadapan dengan masalah dan tantangan. Skor tinggi pada Influence, maka
berkaitan dengan antusias, persuasif, dan optimis. Steadiness mengacu pada
seseorang yang tidak menyukai perubahan dan lebih suka pada kecepatan yang
tetap dan keamanan. Seseorang yang memiliki skor tinggi pada
Conscientiousness, biasanya menghasilkan kualitas bekerja dan menjelaskan
secara berhati-hati menuntut dan sistematis.
Costa dan McCrae (dalam John, O. P. dan Srivastava,1999), menggunakan
NEO-PI-R (NEO Personality Inventory) sebagai alat ukur kepribadian. Alat ukur
dengan validitas pertanyaan, 30 aspek, dan lima dimensi, yaitu; neuroticism,
extraversion, openness, agreeableness, dan conscientiousness.
John, O. P. dan Srivastava, S (1999), mengukur kepribadian dengan
menggunakan alat ukur BFI (Big Five Inventory). Alat ukur ini tediri dari 44 item
yang yang mengukur individu dengan lima tipe faktor kepribadian (Goldberg,
1993). Masing-masing dari item tersebut, mencakup aspek-aspek kepribadian,
yaitu; extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness.
Kepribadian yang diteliti pada penelitian ini diukur dengan menggunakan
adaptasi skala oleh John, O. P. dan Srivastava, S, yaitu BFI (Big Five Inventory).
Hal ini dimaksudkan agar item-item yang dibuat mampu mewakili kepribadian
yang dilandasi oleh karakteristik yang diungkapkan John, O. P. dan Srivastava, S
(1999).
2.4 Iklim kreatif
2.4.1 Pengertian iklim kreatif
Isaksen (McLellan & Nicholl, 2013) menjelaskan iklim berdasarkan literatur
organisasi. Iklim merupakan tingkah laku, sikap, dan perasaan individu yang
bersatu di dalam sebuah kelompok organisasi, yang sudah dibedakan dari budaya,
dan mengacu pada nilai, serta keyakinan yang mendasari peraturan sosial. Dalam
bidang pendidikan, istilah iklim belum dapat didefinisikan menjadi satu definisi.
Istilah iklim ini masih sering digunakan dengan istilah lain, seperti; budaya,
Iklim kreativitas dan perubahan iklim (The climate for creativity and
change) adalah iklim yang memajukan generasi, pemikiran, penggunaan produk
baru, pelayanan, dan cara kerja. Iklim tersebut turut mendukung pembangunan,
pembauran, dan pemanfaatan dalam berbagai macam pendekatan serta konsep
yang baru dan berbeda (Isaksen, Lauer & Ekvall, 1998).
Berdasarkan uraian dari definisi di atas, maka penulis akan menggunakan
definisi iklim kreatif dari Isaksen, Lauer dan Ekvall (1998) untuk penelitian ini,
yaitu iklim yang memajukan generasi, pemikiran, penggunaan produk baru,
pelayanan, dan cara kerja. Iklim tersebut turut mendukung pembangunan,
pembauran, dan pemanfaatan dalam berbagai macam pendekatan serta konsep
yang baru dan berbeda. Penulisjuga akan menggunakan dimensi-dimensi iklim
kreatif dari McLellan dan Nicholl (2013) untuk melihat apakah iklim kelas di
Indonesia sudah termasuk dalam dimensi-dimensi tersebut.
2.4.2 Dimensi-dimensi iklim kreatif
Menurut Ekvall dan Isaksen (dalam McLellan & Nicholl, 2013), terdapat
sembilan dimensiiklim kreatif yang akan berlaku untuk setiap pengaturan dimana
individu bersama-sama datang untuk tujuan yang ditetapkan, sehingga dapat
berlaku untuk situasi yang berbeda seperti tim olahraga, kelas dan
organisasi.Berikut ke sembilan dimensi iklim kreatif yang dimodifikasi menjadi
1. Challenge
Sejauh mana seseorang terlibat dalam pencapaian target kegiatan keseharian,
tujuan jangka panjang, dan visi. Ketika tingkatan sebuah tantangan dan
keterlibatan ini semakin tinggi, maka seseorang akan merasa semakin termotivasi
dan mau berkomitmen untuk berkontribusi. Iklim yang menantang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut; dinamis, menggairahkan dan menginspirasi, sehingga dapat
menimbulkan munculnya gagasan atau ide.
2. Freedom
Kebebasan seseorang dalam melakukan sesuatu. Iklim yang membebaskan
sebagai berikut; seseorang diberikan kebebasan sebanyak-banyaknya, diberikan
kemandirian, dan sumber daya yang digunakan untuk penetapan dari pekerjaan
mereka.Seseorang mempunyai kesempatan dalam berinisiatif untuk belajar dan
berbagi informasi.
3. Trust/openness
Kepercayaan terbentuk dengan menjaga emosional dalam sebuah hubungan.
Ketika ada kepercayaan yang tinggi, individu dapat benar-benar terbuka dan jujur
satu sama lain. Seseorang akan mengandalkan satu sama lainnya untuk
mendapatkan dukungan secara profesional maupun pribadi. Seseorang akan
memiliki rasa hormat yang tulus antara satu dengan yang lainnya.
4. Idea time
Dalam situasi yang sangat bagus untuk memunculkan ide, ada kemungkinan
mengembangkan ide-ide baru. Ada jadwal yang fleksible, yang memungkinkan
orang untuk menjelajahi alternatif baru.
5. Playfulness/humour
Spontanitas dan kemudahan ditampilkan dalam dunia kerja. Profesional, namun
situasi yang santai, penuh tawa, lelucon, dan baik hati sering terjadi. Orang lain
dapat melihat bahwa orang-orang di dalamnya sedang bersenang-senang di tempat
kerja. Iklim ini dipandang sebagai iklim yang easy going dan ringan hati.
6. Risk-taking
Adanya toleransi ketidakpastian dan ambiguitas di tempat kerja. Dalam kasus
pengambilan resiko tinggi, inisiatif berani dapat diambil bahkan ketika hasil tidak
diketahui. Orang-orang merasa seperti ‘sedang berjudi yang belum diketahui
hasilnya’ saat mengajukan ide.
7. Idea support
Salah satu cara untuk mendapatkan ide-ide baru adalah dengan sebuah iklim yang
mendukung, penerimaan ide dan saran yang penuh perhatian dan professional dari
atasan, teman sebaya, dan juga dengan bawahan. Seseorang mendengar satu sama
lain dan mendorong dengan sebuah inisiatif. Hal ini memungkinkan seseorang
untuk mendapatkan sebuah ide baru.
8. Debate
Debat merupakan suatu forum yang memungkinkan munculnya kesamaan dan
perdebatan, banyak gagasan yang didengar dan dipertimbangkan. Dalam suasana
debat sering terlihat pembahasan dengan pandangan dari beragam perspektif.
9. Conflict
Adanya kehadiran pribadi dan ketegangan emosional dalam organisasi. Ketika
tingkat konflik sedang tinggi, kelompok dan individu kemungkinan akan tidak
menyukai atau bahkan benci satu sama lain. Iklim dapat dicirikan dengan ‘perang
interpersonal’. Alur, perangkap, perjuangan kekuasaan dan wilayah adalah unsur
yang biasa pada hidup organisasi. Perbedaan kepribadian akan menghasilkan
gosip dan fitnah.
2.4.3. Pengukuran Iklim Kreatif
Ekvall (dalam McLellan & Nicholl, 2013) menggunakan CCQ (Creative Climate
Questionnaire) sebagai alat ukur iklim kreatif di sebuah organisasi. CCQ
memiliki sembilan dimensi iklim kreatif diantaranya; challenge, freedom,
trust/openness, idea time, playfulness/humour, risk taking, idea support, debate,
dan conflict.
Dalam penelitian ini, peneliti akan memodifikasi alat ukur iklim kreatif
CCQ (Creative Climate Questionnaire) yang meliputi sembilan dimensi CCQ,
yaitu challenge, freedom, trust/openness, ideatime, playfulness/humour, risk
taking, idea support, debate dan conflict sebagai cakupan dari indikator-indikator
2.5 Kerangka berpikir
Kreativitas merupakan suatu hal yang penting untuk dikembangkan bagi
kemajuan bangsa Indonesia. Bahkan tidak jarang perekonomian bangsa ini
memerlukan sumber daya manusia yang kreatif. Boenjamin Setiawan (dalam
Munandar, 2001) menyatakan bahwa kreativitas dan inovasi sangat besar
pengaruhnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, apabila
manusia tidak memiliki sifat kreatif dan inovatif, maka semua penemuan yang
memperbaiki derajat hidup kita tidak ada, maka dari itu peran kreativitas sangat
besar; pengembangan kreativitas juga harus diperhatikan, terutama dalam bidang
pendidikan.
Namun dalam Situs berita online Suara Merdeka (2013) dikatakan bahwa
pelaksanaan untuk mengembangkan kreativitas dalam pendidikan di sekolah
belum dijalankan dengan baik, seperti; metode mengajarnya, iklim kelasnya, atau
sarana prasarana yang mendukung hal tersebut, padahal dalam kurikulum
pendidikan sudah terdapat upaya untuk mengembangkan kreativitas.
Selain itu, dari beberapa literatur terdapat beberapa perbedaan pendapat
mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kreativitas, salah satunya
adalah inteligensi. Hurlock (1999) mengatakan bahwa kreativitas seringkali
dianggap sinonim dengan kecerdasan tinggi. Keyakinan ini telah diperkuat dengan
kenyataan bahwa orang dengan inteligensi yang sangat tinggi disamakan dengan
kreativitas. Sedangkan Sternberg, Grigorenko dan Singer (dalam Santrock, 2007)
Furnham, dan Safiullina (2010) mengungkapkan bahwa kreativitas mempunyai
hubungan positif dengan inteligensi. Ditemukan dalam penelitiannya, bahwa skala
kreativitas berhubungan positif dan signifikan terhadap crystallized intelligence
dan fluid intelligence. Horn (dalam Alan, 1994) menjelaskan bahwa crystallized
intelligence mengacu pada fungsi intelektual pada tugas-tugas yang menyerukan
akulturasi, pendidikan dan pelatihan sebelumnya, sedangkan fluid intelligence
melibatkan pemecahan masalah dan penalaran di mana kuncinya adalah adaptasi
dan fleksibilitas ketika dihadapkan dengan rangsangan asing. Dari pengertian
tersebut, dapat dikatakan bahwa inteligensi memang mempunyai pengaruh
terhadap kreativitas.
Beberapa peneliti lainnya menemukan bahwa kreativitas dipengaruhi juga
oleh kepribadian. Seperti yang dijelaskan dalam salah satu penelitian oleh Batey,
Furnham, & Safiullina (2010) menyatakan ada hubungan positif dan negatif
antara kreativitas dengan dimensi dari big five personality. Kreativitas
berhubungan positif dengan dimensi extraversion dan openness, dan berhubungan
negatif dengan agreeableness, conscientiousnessdan neuroticism. Individu
dengan dimensi openness memiliki karakteristik kreatif, minat yang luas, ingin
tahu, orisinal, imajinatif, dan tidak tradisional membuat individu ini mempunyai
pengaruh yang tinggi terhadap kreativitas. Sedangkan neuroticism merupakan
dimensi yang memiliki ciri cemas, gugup, emosional, tidak aman, dan tidak cakap
yang mengidentifikasikan individu tersebut rentan terhadap tekanan psikologis,
dan rentan pada ide yang tidak realistis hal tersebut menjadikan rendahnya
Selain itu, lingkungan juga merupakan faktor yang mempengaruhi
kreativitas. Individu kreatif mengemukakan bahwa mereka memiliki waktu dan
kebebasan dalam suatu keadaan yang menyenangkan untuk memperhatikan
sejumlah besar jalan keluar dalam memecahkan suatu masalah (Santrock, 2003).
Sedangkan McLellan dan Nicholl (2013) menemukan bahwa tidak ada
pengaruh iklim kreatif terhadap kreativitas siswa. Disimpulkan dari hasil
wawancara guru dan murid, bahwa iklim kreatif yang mereka rasakan tidak
kondusif dalam mewujudkan kreativitas. Dalam penelitian ini siswa tidak
merasakan ada iklim yang menantang, bebas dan dukungan untuk mewujudkan
ide-ide mereka. Padahal dalam dimensi menantang, seseorang akan merasa
semakin termotivasi dan mau berkomitmen dalam sebuah kontribusidengan begitu
seseorang akan menemukan kebahagiaan dan kebermaknaan dalam pekerjaannya.
Iklim kebebasan seseorang diberikan kebebasan sebanyak-banyaknya, diberikan
kemandirian, dan sumber daya yang digunakan untuk penetapan dari pekerjaan
mereka, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk berinisiatif untuk belajar
dan berbagi informasi pekerjaannya. Begitu juga dengan iklim idea support salah
satu cara untuk mendapatkan ide-ide baru adalah dengan sebuah iklim yang Jacqueline Mayfield dan Milton Mayfield (2008), menyatakan bahwa iklim yang
kreatif mempunyai pengaruh terhadap kreativitas seseorang. Dimana lingkungan
kreativitas pekerja berperan kuat bagi peningkatan hasil organisasi. Situasi
lingkungan kreatif tersebut dirancang untuk mengetahui tingkat kreativitas
individu, dimana lingkungan tersebut memiliki peran untuk para pekerja, sehingga
mendukung, penerimaan ide dan saran yang penuh perhatian dan professional dari
atasan, teman sebaya, dan juga dengan bawahan. Seseorang mendengar satu sama
lain dan mendorong dengan sebuah inisiatif. Hal ini memungkinkan seseorang
untuk mendapatkan sebuah ide baru.
Jadi pada penelitian ini peneliti akan meneliti pengaruh inteligensi, tipe
kepribadian, dan iklim kreatifterhadap kreativitas. Gambar 2.1 merupakan dengan
kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini.
Gambar 2.1. Kerangka berpikir
2.6 Hipotesis penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir tentang pengaruh inteligensi, tipe kepribadian dan
iklim kelas terhadap kreativitas dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Extraversion
Agreeableness
Kreativitas
Conscientiousness
Neuroticism
Inteligensi
Tipe Kepribadian
Openness
Ha1
H
: Ada pengaruh yang signifikan inteligensi, tipe-tipe kepribadian dan iklim
kreatif terhadap kreativitas.
a2
H
:Ada pengaruh positif yang signifikan inteligensi terhadap kreativitas.
a3
H
:Ada pengaruh positif yang signifikan tipe kepribadian extraversion
terhadap kreativitas.
a4
H
: Ada pengaruh positif yang signifikan tipe kepribadian agreeableness
terhadap kreativitas.
a5
H
: Ada pengaruh negatif yang signifikan tipe kepribadian conscientiousness
terhadap kreativitas.
a6
H
: Ada pengaruh negatif yang signifikan tipe kepribadian neuroticism
terhadap kreativitas.
a7
H
: Ada pengaruh positif yang signifikan tipe kepribadian openness terhadap
kreativitas.
BAB 3
METODE PENELITIAN
Pada bab ini dipaparkan tentang populasi dan sampel penelitian, variabel
penelitian, definisi operasional variabel, instrumen pengumpulan data, uji
validitas instrumen, teknik analisis data dan prosedur pengumpulan data.
3.1 Subjek penelitian
3.1.1 Populasi penelitian
Populasi penelitian ini, adalah siswa SMAN 3 Tangerangdengan jumlah sebanyak
989 orang. Siswa SMA yang dijadikan populasi adalah siswa yang sudah
mengikuti tes inteligensi dan sudah dalam pembagian kelas; kelas IPA dan IPS.
Alasan peneliti mengambil populasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Relevan dengan tujuan penelitian yang hendak meneliti siswa SMA.
2. Siswa-siswa SMA diasumsikan sudah memiliki kosa kata yang lebih banyak
dan sudah mampu untuk memecahkan masalah meski hanya dikemukakan
secara verbal (Santrock, 2003).
3. Siswa-siswa SMA sudah ada pembagian kelas; kelas IPA dan IPS yang
mendukung tujuan peneliti untuk melihat pengaruh dari iklim kelas.
4. Memiliki kemampuan membaca dan memahami petunjuk pengisian
3.1.2 Sampel penelitian
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 201 orang yang
terdiri dari kelas X, XI, dan XII, kelas X terdiri dari 36 siswa untuk IPS dan 35
siswa untuk IPA, kelas XI terdiri dari 37 siswa untuk IPS dan 34 siswa untuk IPA,
kelas XII terdiri dari 34 siswa untuk IPS dan 25 siswa untuk IPA.
Penetapanjumlah tersebut dilakukan agar hasil penelitian dan kesimpulan yang
diperoleh dapat mewakili seluruh siswa SMAN 3 Tangerang.
Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan adalah stratified
random sampling; sampel dipilih secara random distratifikasikan, sehingga
diperoleh enam kelas dari tiga tingkatan kelas, yakni; 1 kelas IPA dan 1 kelas IPS
dari kelas X, 1 kelas IPA dan 1 kelas IPS dari kelas XI, dan 1 kelas IPA dan 1
kelas IPS dari kelas XII.
3.2 Variabel penelitian
Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah kreativitas dan
variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah inteligensi
sebagai variabel bebas 1 (X1), extraversion sebagai variabel bebas 2 (X2),
agreeableness sebagai variabel bebas 3 (X3), conscientiousness sebagai variabel
bebas 4 (X4), neuroticism sebagai variabel bebas 5 (X5), openness sebagai
3.3 Definisi operasional variabel
3.3.1 Kreativitas
Kreativitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan yang
terungkap secara verbal, berdasarkan data atau informasi yang didapat dari
banyaknya kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya
terletak pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Secara
operasional diukur dengan tes kreativitas verbal atau mengukur kemampuan
berpikir divergen. Tes ini terdiri dari enam sub-tes (permulaan kata, menyusun
kata, membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifat yang sama, macam-macam
penggunaan dan apa akibatnya) yang semuanya mengukur dimensi operasi
berpikir divergen. Setiap sub-tes mengukur aspek yang berbeda dari berpikir
kreatif.
3.3.2 Inteligensi
Inteligensi yang dimaksud dalam penelitisn ini adalah mengukur kemampuan
seseorang secara global dalam bertindak secara sengaja, berpikir secara rasional,
dan efektivitas seseorang dalam menangani lingkungannya, meliputi inteligensi
verbal dan inteligensi performance.
3.3.3 Kepribadian
Kepribadian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah karakteristik seseorang
yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku
meliputilima tipe kepribadian extraversion, agreeableness, conscientiousness,
a. Extraversion (E) adalah seseorang yang cenderung penuh dengan kasih
sayang, periang, banyak bicara, suka berkumpul, dan menyukai kesenangan.
b. Agreeableness (A) adalah seseorang yang rendah, suka mencurigai, kikir,
tidak ramah, mudah tersinggung, cenderung untuk lebih agresif dan
mengkritik orang lain serta kurang kooperatif.
c. Conscientiouness (C) adalah seseorang yang pekerja keras, cermat, tepat
waktu, dan tekun.
d. Neuroticism (N) adalah seseorang yang memiliki kecenderungan untuk
mengalami kecemasan, temperamental, mengasihani diri sendiri, sadar diri,
emosional, dan rentan terhadap gangguan stress.
e. Openness (O) adalah seseorang yang mudah bertoleransi, memiliki kapasitas
dalam menyerap informasi, fokus dan mampu untuk waspada pada berbagai
perasaan, pemikiran dan impulsivitas.
3.3.4 Iklim kreatif
Iklim kreatif yang dimaksud adalah iklim yang memajukan generasi, pemikiran,
penggunaan produk baru, pelayanan, dan cara kerja. Iklim tersebut turut
mendukung pembangunan, pembauran, dan pemanfaatan dalam berbagai macam
pendekatan serta konsep yang baru dan berbeda (Isaksen, Lauer & Ekvall, 1998),
meliputi challenge, freedom, trust/openness, idea time, dynamism/liveliness,
3.4 Pengumpulan data
3.4.1 Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah
dengan menggunakan hasil tes, tes kreativitas verbal, dan self inventory, dalam
bentuk skala model Likert dengan 4 alternatif jawaban. Selain itu pernyataannya
dibuat dengan kategori positif atau kesetujuan (favorable) dan item negatif atau
ketidaksetujuan (unfavorable). Pada penelitian ini peneliti menggunakan skala
model Likert dengan menggunakan 4 pilihan jawaban yakni:
• Sangat sesuai (SS)
• Sesuai (S)
• Tidak sesuai (TS)
• Sangat tidak sesuai (STS)
Adapun perolehan skor dari item-item berdasarkan dari jawaban yang
dipilih sesuai dengan jenis pernyataan yakni favorable atau unfavorable. Jika
digambarkan dalam bentuk tabel, maka hasilnya sebagai berikut:
Tabel 3.1
Tabel bobot skor
Kategori Respon SS S TS STS
Favorable 4 3 2 1
3.4.2 Instrumen penelitian
Pada penelitian ini digunakan instrumen pengambilan data berupa (1) tes
kreativitas verbal (2) tes inteligensi (3) skala kepribadian (4) skala iklim kreatif.
1. Tes Kreativitas Verbal (TKV)
Peneliti menggunakan modifikasi Tes Kreativitas Verbal yang dikonstruksi oleh
Utami Munandar (1977), yang terdiri dari enam sub tes (Permulaan Kata,
Menyusun Kata, Membentuk Kalimat Tiga Kata, Sifat-Sifat Yang Sama,
Macam-Macam Penggunaan Dan Apa Akibatnya). Modifikasi dilakukan dengan
mengganti sub tes Permulaan Kata dan Membentuk Kalimat Tiga Kata dengan
sub tes Apa Yang Bisa Dilakukan, sehingga dalam penelitian ini peneliti
menggunakan lima sub tes (Menyusun Kata, Sifat-Sifat Yang Sama,
Macam-Macam Penggunaan, Apa Akibatnya, Apa Yang Bisa Dilakukan). Adapun blue
print tes kreativitas verbal terdapat dalam tabel 3.2.
Tabel 3.2
Blueprint tes kreativitas verbal
No. Dimensi Jumlah
1. Menyusun kata 4
2. Sifat-sifat yang sama 4
3. Macam-macam penggunaan 4
4. Apa akibatnya 4
2. Tes Inteligensi
Skor inteligensi dikumpulkan dari data skor inteligensi siswa, dengan melihat
hasil tes psikologi yang sudah dilakukan sebelumnya disekolah. Tes intelegensi
yang dipakai adalah tes WAIS-R (Wechsler Adult Intelligence Scale- Revised).
3. Skala Tipe Kepribadian
Penulis menggunakan skala BFI yang dikembangkan oleh John dan Srivastava
(1999).Adapun blue print skalaBFIterdapat dalam tabel 3.3.
Tabel 3.3
Blueprint skala big five inventory
Didalam pernyataan-pernyataan tersebut terdapat dua jenis
pernyataan yaitu pernyataan favorable dan unfavorable dan jumlah item yang
digunakan yaitu sebanyak 44 item.
No. Aspek Pernyataan F/UF Jumlah
1. Extraversion 1, 6*, 11, 16, 21*, 26, 31*, 36 8
2. Agreeableness 2*, 7, 12*, 17, 22, 27*, 32,
37*, 42 9
3.
Conscientiousness
3, 8*, 13, 18*, 23*, 28, 33, 38,
43* 9
4.
Neuroticism
4, 9*, 14, 19, 24*, 29, 34*, 39 8
5.
Openness
5, 10, 15, 20, 25, 30, 35*, 40,
41*, 44 10