• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Aksioma dan Teorema

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Aksioma dan Teorema"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Aksioma dan Teorema

Dalam penulisan skripsi ini, dijabarkan beberapa aksioma dan teorema yakni sebagai

berikut :

Aksioma 1

Untuk setiap kejadian , . Yakni bahwa probabilitas dari setiap kejadian adalah

non-negatif.

Aksioma 2

, menyatakan bahwa jika setiap kejadian pasti untuk terjadi, maka probabilitas

dari kejadian tersebut adalah 1.

Aksioma 3

Untuk jumlah kejadian saling asing yang tidak terbatas

Aksioma ini menyatakan bahwa untuk dua kejadian atau lebih yang saling asing, maka

probabilitas dari suatu kejadian atau lebih yang terjadi adalah jumlah dari masing-masing

probabilitasnya.

(2)

Bukti : Andaikan kejadian sedemikian hingga untuk Karena

, maka kejadian adalah kejadian saling asing, untuk

Berdasarkan aksioma 3, diperoleh :

Teorema 2

Untuk kejadian yang saling asing

Bukti : Andaikan kejadian tak terbatas dimana dimana

adalah kejadian yang diberikan dan untuk . Maka untuk kejadian yang tak

terbatas ini adalah saling asing dan

(3)

Untuk setiap kejadian

Bukti : Andaikan kejadian dan saling asing dan

Teorema 4

Untuk setiap kejadian

Bukti : Dari aksioma 1 diperoleh . Jika , maka dari teorema 3

yang mana ini berkontradiksi dengan aksioma 1, yang menyatakan

probabilitas setiap kejadian harus non-negatif, maka sehingga .

Teorema 5

Jika , maka

Bukti : Pada gambar berikut :

Gambar 2.1 Himpunan

Dari gambar, kejadian adalah gabungan dari kejadian dan , sehingga

, dari aksioma 1, , maka .

S

B

(4)

B A

Teorema 6

Untuk dua kejadian dan ,

Bukti: Pada gambar berikut :

Gambar 2.2 Himpunan

Dari gambar di atas dapat dituliskan

Dari teorema 2 didapat

Dari gambar.2 juga diperoleh

Maka

Sehingga

Teorema 7

Diberikan ruang sampel , jika S mempunyai N bagian dari kejadian untuk kejadian

dari .

Bukti : Diberikan dimana setiap adalah titik sampel dari ekperimen.

Untuk titik sampel dari probabilitas untuk semua , . Lalu diberikan

(5)

Teorema 8

Jika adalah sampel diskrit dengan elemen kejadian , dimana

mempunyai , maka untuk kejadian

Bukti :

, jika

, jika

Teorema 9

Jika , adalah partisi dari ruang sampel eksperimen dan untuk

untuk kejadian dari , maka dapat di tulis:

Bukti :

adalah mutually exclusive (saling bebas), dimana dimana

sehingga diperoleh adalah himpunan dari kejadian yang

mutually exclusive. Sekarang diperoleh diberikan

, untuk itu

Tetapi

(6)

2.2 Probabilitas

Probabilitas suatu kejadian adalah jumlah bobot semua titik sampel yang termasuk .

Probabilitas adalah suatu nilai untuk mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu

kejadian yang tidak pasti. Misalnya, = 0,80 artinya probabilitas bahwa suatu

kejadian akan terjadi sebesar 80% dan probabilitas tidak terjadi adalah sebesar 20%.

Nilai probabilitas ini dapat dihitung berdasarkan nilai hasil pengamatan (obyektif) atau

berdasarkan pertimbangan (subyektif).

Besarnya probabilitas terjadinya suatu kejadian adalah antara nol sampai satu.

Atau dapat dapat dituliskan , dimana menyatakan nilai kemungkinan

bagi munculnya kejadian . Dan jumlah semua kemungkinan dari seluruh hasil kejadian

yang mungkin muncul adalah satu. Pernyataan tersebut dapat dituliskan

atau dimana menyatakan anggota ruang hasil.

Nilai probabilitas suatu kejadian dapat dihitung dengan rumus:

dimana: Probabilitas terjadinya kejadian

Banyaknya kejadian yang mungkin terjadi (populasi)

Kejadian yang ingin diukur (sampel)

Contoh : Berapa probabilitasnya terambil kartu gambar hati dari satu set kartu bridge

pada sekali pengambilan?

Jawab: (jumlah satu set kartu bridge)

(banyaknya kartu gambar hati dalam satu set kartu bridge)

(7)

2.3 Probabilitas Bersyarat

1. Bila dan mutually exclusive (kejadian yang saling meniadakan), maka :

2. Bila dan dua kejadian sembarang, maka

3. Bila ada kejadian yaitu yang mutually exclusive dan

membentuk kejadian , maka :

4. Bila dan independent (bebas), maka :

5. Bila A dan B dependent (tidak bebas), maka :

, dimana

Probabilitas bersyarat adalah probabilitas terjadinya kejadian A dengan syarat

kejadian B telah terjadi. Notasi dituliskan dalam bentuk dan dibaca probabilitas A

dengan syarat

Definisi : Jika A dan B adalah dua kejadian sedemikian hingga , maka :

2.4 Teorema Bayes, Probabilitas Prior dan Probabilitas Posterior

Teorema Bayes

Teorema Bayes berdasar pada probabilitas bersyarat. Dalam teorema Bayes, jika terdapat

(8)

saling meniadakan (mutually exclusive event), kemudian suatu kejadian di mana , maka :

dimana : = Probabilitas terjadinya kejadian Ai, dengan syarat terjadi

kejadian .

= Probabilitas terjadinya kejadian .

= Probabilitas terjadinya kejadian dengan syarat terjadi

kejadian

dengan = .

Teorema Bayes tersebut dapat dibuktikan sebagai berikut:

Probabilitas Prior

Probabilitas prior atau sering juga disebut sebagai probabilitas awal merupakan informasi

awal yang menyatakan nilai probabilitas suatu kejadian.

Contoh : Anda ingin membeli 100 unit suku cadang sepeda motor. Lalu sebelum transaksi

dilaksanakan, penjual mengatakan kepada Anda bahwa perusahaan mereka mentolerir 5%

hasil produksi yang cacat dari semua barang hasil produksi mereka per bulannya. 5% atau

0,05 ini adalah nilai probabilitas awal yang anda ketahui tentang kondisi suku cadang

(9)

Probabilitas Posterior

Probabilitas posterior sering juga disebut probabilitas tambahan untuk mendukung

probabilitas prior. Untuk lebih jelasnya, kembali pada contoh di atas, jika sekiranya

dilakukan pemeriksaan kembali atas hasil produksi suku cadang pada bulan tersebut, lalu

hasilnya didapat bahwa probabilitas suku cadang yang cacat ternyata tidaklah lagi 0,05

melainkan 0,10 atau 10 %. 0,10 atau 10% inilah yang disebut probabilitas posterior

sebagai pengganti probabilitas prior yang diketahui sebelumnya.

2.5 Probabilitas Obyektif dan Probabilitas Subyektif

Pada umumnya probabilitas selalu dikaitkan dengan distribusi frekuensi yang

menunjukkan seberapa seringnya (how frequently) suatu kejadian terjadi. Probabilitas

sering diperkirakan dengan limit dari frekuensi relatif.

Didalam prakteknya nilai frekuensi relatif itu sendiri dipergunakan untuk

memperkirakan nilai probabilitas. Misalnya kalau mata uang logam dilempar 1000 kali

kemudian gambar burung muncul 499 kali, maka = probabilitas

untuk memperoleh gambar burung sebesar 499/1000 = 0,499 atau 0,5. Kemudian

dikatakan, secara limit = 0,5 walaupun bisa terjadi dalam 100 kali lemparan,

gambar burung mungkin muncul 90 kali.

Di dalam jangka panjang, kalau lemparan sampai ribuan kali, angka rasio atau

perbandingan antrara munculnya dengan banyak lemparan ( , limitnya mendekati

0,5. Itulah sebabnya = 0,5. Analisis frekuensi relatif inilah yang pada dasarnya

mendasari nilai kemungkinan pada pelemparan mata uang, dan disebut sebagai

probabilitas obyektif.

Untuk memperoleh probabilitas obyektif dibutuhkan situasi dimana percobaan

(10)

Selain konsep probabilitas seperti di atas, kenyataan yang sering dihadapi adalah

hal yang berbeda. Sering persoalan yang dihadapi adalah situasi yang belum pernah

terjadi sebelumnya, misalnya : Apakah barang hasil produksi perusahaan akan dapat

diterima oleh pasar, apakah seseorang yang meminjam uang akan mengembalikan uang

yang dipinjamnya tepat pada waktu yang ditentukan dan lain sebagainya.

Untuk menghadapi persoalan semacam ini, dibutuhkan konsep probabilitas yang

lain, yang dapat menerangkan ketidakpastian tanpa harus menggunakan berbagai data

atau percobaan sebelum dapat dinyatakan nilai probabilitasnya. Probabilitas yang

demikian adalah probabilitas subyektif.

Probabilitas subyektif mencerminkan tingkat keyakinan (confident level) seseorang terhadap suatu kejadian yang tak pasti dan ini didasarkan pada pengalaman dan

informasi yang dia miliki pada saat itu. Oleh karena itu, pernyataan probabilitas semacam

ini akan menghasilkan probabilitas subyektif. Selain itu, nilai probabilitas yang dihasilkan

juga akan berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain, karena pengalaman

ataupun keterampilan yang mereka miliki.

Perbedaaan utama antara pandangan subyektif dan obyektif adalah pada

pernyataan probabilitasnya (probability statement). Pandangan obyektif menyatakan probabilitas sebagai state of thing, yaitu ciri atau karakteristik suatu benda atau proses,

sama halnya dengan berat, volume, cepat, lambat dan sebagainya. Sebaliknya pandangan

subyektif menyatakan probabilitas sebagai state of mind atau suatu tingkat pengetahuan

yang dimiliki oleh seseorang berkenaan dengan suatu keadaan.

(11)

mengenai utilitas adalah bahwa dimungkinkan untuk memperoleh suatu ekspresi angka

mengenai preferensi seseorang.

Utilitas adalah angka yang mengekspresikan nilai pay-off sebenarnya sesuai dengan konsekuensi keputusan. Pay-off yang dimaksud disini dapat berupa satuan mata

uang (smu), jumlah satuan barang ataupun bentuk-bentuk ukuran lain yang bentuknya

sangat jelas. Untuk suatu himpunan hasil (set of outcomes) yang sudah dibuat peringkat berdasarkan preferensinya, dapat ditentukan nilai utilitasnya yang menjelaskan preferensi

tersebut. Utilitas terbesar untuk hasil yang paling disukai, sedangkan semakin kecil nilai

utilitas semakin tidak disukai.

Berikut dijabarkan beberapa asumsi untuk menentukan nilai utilitas yang

mempunyai kesamaan bahwa nilai utilitas yang diperoleh hanya mengenai individu

tunggal (hanya berlaku untuk perorangan) dan berperilaku taat azas (consistently) yang sesuai dengan seleranya. Dalam kata lain, kapanpun dan dimanapun, jika menghadapi

persolan yang sama, keputusan yang aakan diambilnya akan sama.

Asumsi-asumsi tersebut adalah :

1. Peringkat Preferensi

Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang dapat menentukan untuk setiap pasang

hasil dan apakah Ia lebih memilih daripada , atau sebaliknya, atau tak

membedakan sama sekali antara memilih maupun . Asumsi ini akan mudah

dimengerti jika pay-off dalam bentuk satuan mata uang ataupun ukuran-ukuran kuantitatif lainnya. Peringkat preferensi akan menjadi lebih susah bila pay-off

dinyatakan secara kualitatif. Selama preferensi terhadap dua hasil pilihan tidak

dapat ditentukan, selama itu pula nilai utilitas tidak dapat diperoleh nilainya.

2. Transitivitas Preferensi

Asumsi kedua ialah apabila lebih disukai dari dan lebih disukai dari ,

maka jelas bahwa lebih disukai dari . Sifat yang demikian disebut

(12)

seseorang lebih menyukai buah durian daripada pepaya, dan Ia lebih menyukai

pepaya daripada pisang. Sehingga sifat taat azasnya adalah bahwa Ia lebih

menyukai durian daripada pisang.

3. Asumsi Kontinuitas

Asumsi kontinuitas menyatakan, ada beberapa permainan yang memiliki hasil

terbaik dan terburuk sebagai hasilnya, namun ada kalanya bahwa seseorang

menganggap sama preferensinya dengan hasil yang sedang (cukup) atau hasil

diantara dua keadaan hasil yang sangat ekstrim tersebut.

4. Asumsi Substitutabilitas

Asumsi substitutabilitas menyatakan, memungkinkan untuk

memperbaiki/merevisi suatu permainan dengan penggantian (substituting) suatu hasil dengan hasil lainnya, asalkan ada kesamaan. Dalam kata lain, seseorang

bersedia untuk menukar hasil yang diperolehnya pada sebuah permainan dengan

hasil yang ditawarkan pada permainan lain dimana Ia merasa tidak berbeda antara

keduanya.

5. Asumsi Peningkatan Preferensi

Asumsi ini berkenaan dengan setiap pasangan kejadian dengan hasil yang sama

yang mungkin dialami dalam sebuah permainan. Kejadian dengan nilai

probabilitas terbesar untuk hasil yang lebih diinginkan, harus lebih disukai. Atau

dalam artian lain, preferensi akan kejadian dengan probabilitas penerimaan hasil

terbesar pasti lebih disukai daripada yang sebaliknya.

2.7 Fungsi utilitas

Sebelum dipakai dalam pengambilan keputusan, tentunya perlu diketahui bagaimana

pengungkapan fungsi utilitas tersebut. Proses penjajagan ini juga harus dibuat sedemikian

(13)

Yang pertama sekali dilakukan dalam penjajagan fungsi utilitas adalah penentuan

batasaan nilai. Penjajagan ini dilakukan setelah keseluruhan model yang mencakup

ketidakpastian, probabilitas atau nilai kemungkinan dan kriteria penilaiannya adalah

tunggal, sehingga hanya terdapat satu besaran yang digunakan.

Syarat utama agar sebuah fungsi utilitas dapat ditentukan adalah bahwa nilai

maksimum dan nilai minimum dari persoalan yang sedang dihadapi tercakup dalam

fungsi tersebut. Oleh karena itu, pengambil keputusan harus mampu untuk menentukan

nilai maksimum dan minimum pada persoalan yang dihadapinya.

Selanjutnya, yang harus dilakukan adalah menggambarkan semua kumpulan

titik-titik nilai ekivalen tetap dari sebanyak mungkin situasi dan membentuknya dalam sebuah

kurve fungsi utilitas.

Contoh : ambil sebuah permasalahan dengan kriteria penilaian hasil dengan satuan

matuan uang rupiah yang berkisar antara Rp. 5000,- sampai dengan Rp. 50000,-. Lalu

kedua nilai di atas dijadikan sebagai batas-batas fungsi utilitas dengan Rp.5000,- sebagai

batas terendah ( dinyatakan dengan utilitas sebesar nol sedangkan Rp.50000,-

sebagi nilai tertinggi dinyatakan dengan utilitas sebesar . Dengan begitu, telah

didapat 2 titik dalam kurve fungsi utilitas yaitu ( dan ( , lalu dapat dijajagi titik

lainnya yang diperlukan.

Selanjutnya, untuk nilai ekivalen tetap ( , ( dan dapat dihitung

(14)

Sehingga secara keseluruhan, kelima titik fungsi utilitas di atas dapat digambarkan

[image:14.612.115.536.175.473.2]

sebagai berikut :

Gambar.2.3 Penggabungan titik-titik hasil penjajagan kurva Utilitas

Secara matematis fungsi utilitas dapat dinyatakan dalam bentuk eksponensial,

yang bentuk umumnya adalah:

dimana : = Fungsi utilitas untuk nilai x

= batas bawah fungsi utilitas

= batas atas fungsi utilitas

= 2,7182 (nilai eksponensial 0,25

0,50 1

(15)

2.8 Pohon Keputusan

Diagram pohon keputusan adalah suatu diagram berupa pohon bercabang-cabang yang

menggambarkan hubungan antara alternatif keputusan/tindakan dengan kejadian-kejadian

tak pasti yang melingkupi setiap alternatif dan hasil alternatif keputusan yang dipilih.

Saat pengambilan keputusan adalah saat dimana pengambil keputusan sepenuhnya

memilih kendali dalam bertindak, sedangkan saat kejadian tak pasti adalah saat dimana

faktor eksternal yang menentukan apa yang akan terjadi.

Notasi yang digunakan dalam diagram pohon keputusan adalah sebagai berikut :

Tanda empat persegi sebagai simbol keputusan.

Tanda lingkaran sebagai simbol kejadian tak pasti.

Tahapan dalam penggambaran diagram pohon keputusan :

1. Tentukan terlebih dahulu kumpulan alternatif tindakan awal.

2. Tentukan kejadian tak pasti yang melingkupi alternatif tindakan awal.

3. Tentukan adanya alternatif tindakan lanjutan.

Gambar

Gambar.2.3 Penggabungan titik-titik hasil penjajagan kurva Utilitas

Referensi

Dokumen terkait

Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disusun suatu pengertian umum mengenai probabilitas, yaitu sebagai berikut Probabilitas adalah suatu indeks atau nilai

Informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian- kejadian yang nyata

Jumlah partikel (joshi) dalam bahasa Jepang sangat banyak sehingga setiap fungsi dan penggunaan dari masing-masing partikel pun berbeda dalam membentuk suatu kalimat

Menurut Jones dan Rama (2006, p61), Detailed Activity Diagram memberikan gambaran secara detail dari suatu aktifitas yang terjadi dengan suatu atau lebih event yang

Dari penegrtian diatas, dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil pengeolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian

Komposit adalah suatu jenis material baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan (dalam level makroskopis) dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama

Misalkan X adalah peubah acak yang mempunyai bentuk fungsi probabilitas tertentu tetapi fungsi probabilitasnya bergantung kepada suatu parameter yang tidak diketahui... Misalkan

Availability adalah probabilitas suatu komponen atau sistem dapat beroperasi sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam waktu tertentu ketika digunakan pada kondisi operasi