• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hadis al-wahn dan relevansinya dengan konteks kekinian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hadis al-wahn dan relevansinya dengan konteks kekinian"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

KONTEKS KEKINIAN

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh :

AMINAH BINTI SHAFIE NIM: 109034000109

JURUSAN TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh:

AMINAH BINTI SHAFIE NIM: 109034000109

Di Bawah Bimbingan:

DR. ATIYATUL ULYA, MA NIP. 19700112 199603 2 001

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(3)
(4)
(5)

Skripsi yang berjudul “HADIS AL-WAHN DAN RELEVANSINYA

DENGAN KONTEKS KEKINIAN” telah diujikan dalam sidang Munaqasyah

Fakultas Ushuluddin “UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” pada tanggal 6 Agustus 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata Satu (S1) Pada Jurusan Tafsir Hadis.

Jakarta, 6 Agustus 2010

Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si Rifqi Muhammad Fathi, MA NIP. 19651129 199403 1 002 NIP. 19770120 200312 1 003

Anggota

Rifqi Muhammad Fathi, MA Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si NIP. 19770120 200312 1 003 NIP. 19651129 199403 1 002

(6)

Segala puji dan syukur dirafa’kan ke hadrat Allah; Tuhan sekalian alam; yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; dan yang sentiasa melimpahkan rahmat dan kurniaan. Selawat dan salam tercurahkan ke haribaan junjungan mulia, manusia teladan, insan pilihan, rasul termulia yakni Nabi Muhammad SAW, ahli keluarganya, para sahabat dan tabien serta al-sabiqun dan al-awwalun yang istiqamah dalam memperjuangkan sunnah dan ajarannya.

Kesyukuran yang tidak terungkapkan kata kepada Rabbul ‘Adzim karena pertamanya memberi peluang kepada penulis memijak tanah bumi Negara serumpun ini sebagai seorang mahasiswa internasional. Yang mencetus ide untuk memahami budaya cultural Indonesia, mengutip seberapa banyak manfaat, ilmu pengetahuan, ‘ibrah dan teladan, serta mengimarah antara pusat pengajian Islam. Dan kedua diberi semangat kebertanggungjawaban untuk meyelesaikan tugas menyusun skripsi yang berjudul ‘Hadis al-Wahn dan Relevansinya dengan

Konteks Kekinian’.

Sesungguhnya dengan keterbatasan upaya, materi dan pengetahuan ilmiah, penulis menyedari bahwa tidak mungkin penulisan skripsi ini selesai tanpa dorongan motivasi, saran dan kritik dari semua pihak. Jadi pada kesempatan ini, penulis ingin menghulurkan ucapan terima kepada:

1. Bpk. Prof. DR. Zainon Kamaluddin Fakih, MA., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

2. Dr. Bustamin, M.Si, Ketua Jurusan Tafsir Hadis, dan Bpk Rifqi

(7)

ii 

4. Seluruh tenaga pengajar program studi Tafsir Hadis (TH), Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ushuluddin, Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ushuluddin, Akademik Pusat, dan Rektorat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Seluruh ahli keluarga di Malaysia, Ibunda tercinta, Mandak Abdullah, Saudara-saudaraku k.Tie, Aisyah dan Ibrahim.

6. Teman-teman seperjuangan di UIN. Teman sekuliah Sya, Su, Saifuddin dan Hadi. Teman-teman Indonesia Atik, Nita dan selainnya. Juga tidak dilupakan teman-teman dari Malaysia angkatan 2009/2010.

Semoga usaha kecil penyusunan skripsi ini sebagai satu amal yang ikhlas, yang membuahkan ganjaran di sisi Allah, yang menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat, dan menambah ilmu dan kesadaran kepada penulis khususnya. Akhirnya, segala kesempurnaan itu adalah mutlak milik sang Pencipta dan kekurangan-kekurangan itu tentunya dari yang tercipta; makhluk yang rentan kesalahan dan kekhilafan. Wassalam

Jakarta, 15 Juli 2010 3 Sya’ban 1431

(8)

Huruf Arab

Huruf

Latin Keterangan

ا tidak dilambangkan

ب B be

ت T te

ث Ts te dan es

ج J je

ح H ha dengan garis di bawah

خ Kh ka dan ha

د D de

ذ Dz de dan zet

ر R er

ز Z zet

س S es

ش Sy es dan ye

ص S es dengan garis di bawah

ض D de dengan garis di bawah

ط Th te dan ha

ظ Z zet dengan garis di bawah

ع ‘ koma terbalik diatas hadap kanan

غ Gh ge dan ha

ف F ef

ق Q ki

ك K ka

ل L el

م M em

ن N en

و W we

ـه H ha

ء ` apostrof

ي Y ye

b. Vokal

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

a fathah

i kasra

u dammah

Adapun Vokal Rangkap

(9)

و

au a dan u

c. Vokal Panjang

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ﺎــ

â a dengan topi di atas

ــــــ î i dengan topi di atas

ﻮـــــــ û u dengan topi di atas

d. Kata Sandang

Kata sandang yang dalam Bahasa Arab dilambangkan dengan huruf

(

لا

)

, dialih-aksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Contoh

ﺔ ﺴﻤﺸﻟا

= al-syamsiyyah,

ﺔ ﺮﻤﻘﻟا

= al-qamariyyah. e. Tasydîd

Dalam alih-aksara, tasydîd dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda tasydîd itu. Tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tasydîd itu terletak setelah kata sandang yang diikuti huruf-huruf samsiyyah.

f. Ta Marbûtah

Jika ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/. begitu juga jika ta marbûtah tersebut diikuti kata sifat (na‘t). Namun jika ta marbûtah diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/.

g. Huruf Kapital

Huruf kapital digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Jika nama didahulukan oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya . Contoh

رﺎﺨﺒﻟا

= al-Bukhâri.

(10)

v   

KATA PENGANTAR ... i

PEDOMAN TRANSLITERASI ... iii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Metode Penelitian ... 7

E. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II KAJIAN SANAD DAN MATAN HADIS A. Teks Hadis dan Terjemahan ... 10

B. Identifikasi Hadis ... 10

C. Kegiatan Iktibar ... 13

D. Kegiatan Penelitian Sanad ... 15

E. Kegiatan Penelitian Matan ... 41

1. Meneliti Matan dengan Melihat Kualitas Sanadnya. ... 42

2. Mengindektifikasikan Bentuk Periwayatan ... 42

3. Meneliti Susunan Lafal Berbagai Matan yang Semakna. ... 42

(11)

vi   

B. Pengertian al-wahn dan Penafsiran Hadis... 49 C. Karakteristik al-wahn dan Problemika Umat Islam Kontemporer 56 D. Relevansi Interpretasi Teks dan Kebenarannya Melalui

Pembuktian di Konteks Modern ... 71 E. Esensi Segala Krisis dan Rahsia Konspirasi Musuh ... 78

BAB IV KESIMPULAN

A. Kesimpulan ... 81 B. Saran-saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(12)

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, seluruh jagat telah menyaksikan nasib malang yang dialami oleh negara dan masyarakat muslim baik di dalam kasus pertahanan, pentadbiran, persoalan teologi, penguasaan ekonomi, media massa dan sebagainya. Kita telahpun menyaksikan bagaimana pencerobohan yang dilakukan oleh Amerika Serikat ke atas tanah dan negara Islam Irak, Afghanistan, juga ancaman terhadap Iran, pendominasian ekonomi dan industri oleh Barat, pemurtadan serius dalam kalangan muda mudi, kekaburan fakta benar dalam informasi maklumat dan lain-lain.

Problem tersebut ini bukan hanya fenomena semasa. Ini karena, buku-buku sejarah dan peradaban telah mencatat kekelaman dunia Islam dahulu akibat penjajahan Barat dan sekutunya seperti kehancuran kerajaan Abbasiyah di bawah serangan tentera Monggol,1 kehancuran Turki Usmani yang dipimpin oleh bapa modern Kamal Artartuk,2 dan perebutan kuasa di Sepanyol oleh tentera Kristen di bawah pimpinan Ferdinand III dari Castilla yang menyebabkan supremasi Islam mulai mengalami kemunduran.3

Apa yang menimpa dunia Islam modern ini dari sudut sebab, strategi, metode dan akibatnya adalah sama dengan apa yang menimpanya dunia Islam terdahulu, yang berbeda hanya pelaku, alat dan waktu.

       1

Busman Edyar, ed., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Asatruss, September 2009), cet. ke- 2, h. 113.

2

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT RajaGraFido Persada, t.t.), h. 70-71. 3

Yatim, Sejarah Peradaban Islam, h. 115-117. 

(13)

Kecelakaan, keaiban dan kelemahan ini menyebabkan kita semua sudah kehilangan akal apakah ini semua disebabkan karena takut, tiada kuasa, atau pokok dan punca masalah sebenarnya adalah penyakit al-wahn; satu ungkapan yang bermaksud cinta dunia dan takut mati di dalam sebuah hadis yang berisi petunjuk antara sebab mengapa ‘Seluruh Dunia Mengerumuni Negara Islam’. Redaksinya adalah seperti berikut:

ﺮ ﺎﺟ

ْا

ﺎ ﺪ

ﺮْﻜ

ْ

ﺮْ

ﺎ ﺪ

ْ ﺪ ا

هاﺮْإ

ْ

ْ ﺮ ا

ﺪْ

ﺎ ﺪ

ﻮ أ

ﺄْا

ﻚ ﻮ

و

ﻪْ

ﻪ ا

ﻪ ا

لﻮ ر

لﺎ

لﺎ

نﺎ ْﻮ

ْ

مﺎ ا

ﺪْ

لﺎ

ﺬ ْﻮ

ْ

ْ و

لﺎ ﻓ

ﺎﻬ ْ

ﻰ إ

ﺔ آﺄْا

ﻰ اﺪ

ﺎ آ

ْ ﻜْ

ﻰ اﺪ

ْنأ

ْ

ْﻮ

ْ ْأ

ﺔ ﺎﻬ ْا

ْ آوﺪ

روﺪ

ْ

ﻪ ا

ﺰْ و

ْ ا

ءﺎ آ

ءﺎ

ْ ﻜ ﻜ و

ﺮ آ

ا

لﺎ

ْهﻮْا

ﺎ و

ﻪ ا

لﻮ ر

لﺎ ﻓ

ْهﻮْا

ْ ﻜ ﻮ

ﻪ ا

ﻓﺬْ و

ْ ﻜْ

ﺎ ْﺪ

ﺮآو

تْﻮ ْا

ﺔ ها

4

Artinya: Menyampaikan hadis kepada kami ‘Abd Rahman bin Ibrâhîm al-Dimasyqî menyampaikan hadis pada kami Bisyr bin Bakr menyampaikan hadis kepada kami Ibn Jâbir meriwayatkan hadis kepadaku Abû Abd al-Salâm daripada Tsaubân berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang-orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya, “Apa kami saat itu sedikit”? Jawab beliau, “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih di laut. Allah sungguh akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan Allah sungguh akan mencampakkan penyakit wahn ke dalam hatimu.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu wahn? Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati”.5

       4

Abî Dâwud Sulaimân bin al-`Asy‘ast al-Sijistânî 202-275, Sunan Abî Dâwud, (T.tp.: Dar al- A‘lam, 1423H/2003M), cetakan pertama, h. 698.

5

(14)

Namun demikian, problem yang menyangkut teks sebuah hadis masih dapat saja muncul. Apakah pemahaman makna sebuah ritual hadis harus dikaitkan dengan konteksnya (substance) atau tidak? Apakah konteks tersebut berkaitan dengan pribadi pengucapnya saja, atau mencakup pula mitra bicara dan kondisi sosial ketika diucapkan atau diperagakan? Relevankah kebenarannya sekiranya diinterpretasikan dengan kondisi zaman-zaman setelah Nabi? Itulah sebagian persoalan yang dapat muncul dalam pembahasan tentang pemahaman makna hadis.6

Dengan demikian, apabila hadis ini dipahami secara kontekstual dan

dikomparasikan kebenarannya dengan problem yang berlaku dalam kelangsungan hidup masyarakat saat ini, sangat jelas memperlihatkan kebenaran sabda Nabi SAW.

Gambaran yang jelas dan nyata daripada hadis dan fakta itu ialah ada satu kelompok manusia yang dikuasai dan dijadikan makanan manakala ada satu kelompok manusia lain yang menguasai dan mengerumuni untuk memakannya. Sebab terjadinya tidak disebutkan dengan jelas dalam berita pertama. Kedua berita ini saling keterkaitan yang mana salah satunya adalah satu bukti kebenarannya. Pertamanya adalah hadis yang diungkap oleh Rasulullah SAW, dan kedua adalah suatu bukti kebenarannya. Negara dan masyarakat Islam dijadikan makanan oleh sekumpulan kelompok manusia dari Negara-negara dan agama bukan Islam yang pada kenyataannya musuh agama. Mereka bangga dan tidak merasa takut terhadap umat Islam, bahkan memperkecilkan mereka.

       6

(15)

Umat Islam adalah kelompok yang kalah, lemah dan senang dikuasai sehingga mereka dijadikan hidangan dengan niat dicabik, dikoyak, dicampuradukkan, dipisahkan dan juga diperkosa kesuciannya oleh penyantap hidangan. Mereka seperti

disebutkan dengan jelas oleh hadis, karena terkena penyakit al-wahn yakni

ﺎ ْﺪ ا

اﺮآو

تْﻮ ْا

ﺔ ه

.

Penyakit al-wahn yang menjadi penyebab utama kekalahan dalam setiap perjuangan menimpa umat sebelum Islam bahkan ia dijadikan sunnahtullah (qadâ` al-Mubram) oleh Yang Maha Kuasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda maksudnya; “Umatku akan ditimpa penyakit yang pernah menimpa umat terdahulu.” Sahabat bertanya , “apakah penyakit umat terdahulu itu?” Nabi SAW menjawab; “

penyakit itu telah terlalu banyak seronok, terlalu mewah, menghimpun harta

sebanyak mungkin, tipu menipu dalam merebut harta benda dunia, saling memarah,

hasut-menghasut sehingga jadi zalim menzalimi”- (Hadith riwayat al-Hakim)

(16)

Pada saat itu, hilanglah nilai akhlak dan yang terwujud hanyalah kecurangan, khianat, hasut-menghasut dan sebagainya.

Maka jelaslah di sini bahwa hadis yang disabdakan Rasulullah SAW perlu lebih diteliti kesahihan, esensi dan substansinya supaya pemahaman yang lebih tepat karena al-wahn adalah satu wabah yang dapat memudaratkan pribadi umat muslim sekiranya tidak ada inisiatif bagi menghalangi dan membendung penularannya.

Hubungan hadis tersebut sangat terkait dengan realitas kehidupan manusia dewasa ini dan memerlukan penjelasan yang lebih luas. Permasalahan inilah yang ingin diangkat dalam judul skripsi, dan penulis merasa tertarik untuk meneliti dan mengeksperimentasi relevansi hadis tersebut dengan konteks kekinian yang akan dituangkan di dalam skripsi berjudul “Hadis al-Wahn dan Relevansinya dengan Konteks Kekinian”.

B. Pembatasan Masalah dan Perumusannya

(17)

Penulis juga akan membuat penelitian terhadap sanad dan matan hadis. Mencoba menjelaskan apakah yang sebenarnya diartikan dalam hadis bersumber dari kitab Sunan Abû Dâwud dan kitab Syarahnya ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwud’.

Berdasarkan uraian pembatasan masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalah yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang al-wahn dalam kitab Sunan Abû Dâwud dan Sunan Ahmad ibn Hanbal.

2. Bagaimana kualitas hadis sahih dapat direlevansi kebenaran dari penafsiran teksnya dengan konteks kekinian.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dan manfaat yang ingin digapai dalam penelitian ini antaranya adalah: 1. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui kualitas dan kandungan pokok hadis tentang masalah umat dan kejelasan kedudukan dan status hadis tersebut apakah sahîh, hasan atau daîf.

b. Mengetahui kebenaran hadis yang disabdakan oleh Rasulullah SAW Sebagaimana firman Allah SWT:

(18)

c. Mengetahui adakah teks hadis tersebut sesuai dan relevan atau tidak jika dikomparasikan substansinya dengan konteks sebagaimana yang dikemukakan pada perumusan masalah.

d. Untuk menentukan apakah hadis tentang penyakit al-wahn dapat dijadikan hujjah dan pengajaran atau tidak.

2. Manfaat penelitian

a. Supaya lebih menyakini terhadap satu-satu hadis untuk dijadikan hujjah atau dalil dalam lapangan dakwah.

b. Memperkayakan pemikiran Islam khususnya tentang bidang hadis.

c. Bagi memperoleh gelar Sarjana (SI) dalam bidang Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin.

D. Metodologi Penelitian

(19)

Adapun teknik penulisan skripsi ini mengacu pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, disertasi), yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” dengan kerjasama CeQDA (Center for Development and Assurance), cetakan II, tahun 2007.

E. Sistematika Penelitian

Penulisan skripsi ini dibuat dalam empat bab, adapun perinciannya adalah sebagai berikut.

Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisi dari uraian singkat mengenai materi yang akan dibahas, yang merupakan penegasan pembatasan dan perumusan masalah yang difokuskan kepada kasus relevansi kebenaran hadis dalam konteks kekinian, di dalamnya mencakup latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

Bab kedua adalah Takhrîj al-hadîts mengenai hadis al-Wahn. Pembahasan ini meliputi melacak sumber hadis tersebut. Setelah itu, dikemukakan komparasi periwayatan. Selain itu, ditelusuri biografi para periwayat dan komentar para ulama mengenai kredibilitas mereka. Kemudian akan diberikan analisa terhadap kualitas riwayat tersebut.

(20)
(21)

10 A. Teks Hadis dan Terjemahan

ﺮ ﺎﺟ

ْا

ﺎ ﺪ

ﺮْﻜ

ْ

ﺮْ

ﺎ ﺪ

ْ ﺪ ا

هاﺮْإ

ْ

ْ ﺮ ا

ﺪْ

ﺎ ﺪ

لﻮ ر

لﺎ

لﺎ

نﺎ ْﻮ

ْ

مﺎ ا

ﺪْ

ﻮ أ

ﻚ ﻮ

و

ﻪْ

ﻪ ا

ﻪ ا

ْ

ْ و

لﺎ ﻓ

ﺎﻬ ْ

ﻰ إ

ﺔ آﺄْا

ﻰ اﺪ

ﺎ آ

ْ ﻜْ

ﻰ اﺪ

ْنأ

ﺄْا

ْ ا

ءﺎ آ

ءﺎ

ْ ﻜ ﻜ و

ﺮ آ

ﺬ ْﻮ

ْ ْأ

ْ

لﺎ

ﺬ ْﻮ

روﺪ

ْ

ﻪ ا

ﺰْ و

ْ ﻜ ﻮ

ﻪ ا

ﻓﺬْ و

ْ ﻜْ

ﺔ ﺎﻬ ْا

ْ آوﺪ

ْهﻮْا

ﺎ و

ﻪ ا

لﻮ ر

لﺎ ﻓ

لﺎ

ْهﻮْا

تْﻮ ْا

ﺔ هاﺮآو

ﺎ ْﺪ ا

1

Artinya: Menyampaikan hadis kepada kami ‘Abd Rahman bin Ibrâhîm al-Dimasyqî menyampaikan hadis pada kami Bisyr bin Bakr menyampaikan hadis kepada kami Ibn Jâbir meriwayatkan hadis kepadaku Abû ‘Abd al-Salâm daripada Tsaubân berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang-orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya, “Apa kami saat itu sedikit”? Jawab beliau, “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih di laut. Allah sungguh akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan Allah sungguh akan mencampakkan penyakit wahn ke dalam hatimu.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu wahn? Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati”.2

B. Identifikasi Hadis

Langkah pertama yang dilakukan di dalam menelusuri dan meneliti sebuah hadis adalah menemukan sanad-sanad hadis dan perawi-perawi hadis yang ada di dalamnya melalui metode takhrîj.

       1

Abî Dâwud Sulaimân bin al-`Asy‘ats al-Sijistânî, Sunan Abî Dâwud, kitab Al-Malâhim, hadis ke-4297, (T.tp.: Dar al-A‘lam, 1423H/2003M), cet. 1, h. 698. 

2

(22)

Dalam melakukan kegiatan takhrîj al-hadîts, penulis telah menggunakan metode takhrîj al-hadîts bi al-lafaz (penelusuran hadis melalui lafal atau kata-kata dalam matan hadis).3 Untuk kepentingan takhrîj al-hadîts yang disebutkan, penulis merujuk kepada kitab kamus al-Mujam al-Mufahras li al-Alfâz al-Hadîts al-Nabawî.

Dari matan hadis yang diperoleh di atas, apabila ditempuh metode takhrîj

al-hadîts bi al-lafaz, maka lafal-lafal yang dapat ditelesuri adalah

ءﺎ

-

ْ ا

-

ْهﻮْا

.

Tujuan dan rasional penulis memilih lafal-lafal demikian adalah karena eksistensinya yang asing ketimbang lafal selainnya. Adapun data yang disajikan oleh kitab al-Mu’jam lewat penelesuran tiga lafal tersebut adalah sebagai berikut :

ْهو

4

)

ﻰ و

,

لﺎ

ْهﻮْا

ﺎ و

ﺎ ْ

لﺎ

ْهﻮْا

ْ ﻜ ﻮ

ْ و

تْﻮ ْا

ﺔ هاﺮآو

ﺎ ْﺪ ا

:

ءﺎ

5

,

ْ ا

ءﺎ آ

ءﺎ

ْ ﻜ ﻜ و

:

ْ ا

6

,

ْ ا

ءﺎ آ

ءﺎ

ْ ﻜ ﻜ و

:

1

.

د

:

٥

2

.

:

٢

,

٥

,

٥

,

Berdasarkan data dari kitab kamus al-Mujam tersebut, ternyata riwayat untuk hadis yang ditakhrîj di atas masing-masing terletak di kitab-kitab seperti berikut:

       3

Metode ini tergantung kepada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik hadis itu berupa ism atau fiil. Para penyusun kitab-kitab takhrîj hadis menitikberatkan peletakan hadis-hadisnya menurut lafal-lafal yang asing. Semakin asing ( ﺮ ) suatu kata, maka pencarian hadis akan semakin mudah dan efisien. Lihat Metode Takhrij Hadits, penerjemah Agil Husin Munawwar dan Ahmad Rifqi Muchtar, (Semarang: Dina Utama, t.t), h. 60. 

4

A.J Wensick, Al-Mujam al-Mufahras li al-Alfâz al-Hadîts al-Nabawî, penerjemah M. Fouad Abdel Baky, (Leiden: E.J. Brill, 1936 M), juz 7, h. 342.

5

A.J Wensick, Al-Mujam al-Mufahras li al-Alfâz al-Hadîts al-Nabawî, juz 4, h. 406. 6

(23)

1. Sunan Abû Dâwud, nomor hadis 4297, kitab al-Malâhim, bab fî Tadâ’î al-Umam ‘alâ al-Islâm, halaman 698.

2. Musnad Ahmad bin Hanbal, juz II, halaman 359 dan juz V halaman 278. Berikut ini penulis menggunakan riwayat-riwayat hadis tersebut dari setiap

mukharrij berdasarkan naskhah aslinya. Riwayat hadis dari mukharrij Abû Dâwud:

ﺮْﻜ

ْ

ﺮْ

ﺎ ﺪ

ْ ﺪ ا

هاﺮْإ

ْ

ْ ﺮ ا

ﺪْ

ﺎ ﺪ

ْا

ﺎ ﺪ

ﻪْ

ﻪ ا

ﻪ ا

لﻮ ر

لﺎ

لﺎ

نﺎ ْﻮ

ْ

مﺎ ا

ﺪْ

ﻮ أ

ﺮ ﺎﺟ

لﺎ ﻓ

ﺎﻬ ْ

ﻰ إ

ﺔ آﺄْا

ﻰ اﺪ

ﺎ آ

ْ ﻜْ

ﻰ اﺪ

ْنأ

ﺄْا

ﻚ ﻮ

و

ْ و

ْ ا

ءﺎ آ

ءﺎ

ْ ﻜ ﻜ و

ﺮ آ

ﺬ ْﻮ

ْ ْأ

ْ

لﺎ

ﺬ ْﻮ

ْ

ْهﻮْا

ْ ﻜ ﻮ

ﻪ ا

ﻓﺬْ و

ْ ﻜْ

ﺔ ﺎﻬ ْا

ْ آوﺪ

روﺪ

ْ

ﻪ ا

ﺰْ و

ﻪ ا

لﻮ ر

لﺎ ﻓ

تْﻮ ْا

ﺔ هاﺮآو

ﺎ ْﺪ ا

لﺎ

ْهﻮْا

ﺎ و

7

Riwayat hadis dari mukharrij Ahmad ibn Hanbal:

ﻪ ا

ﺪْ

ﻮ أ

قوزْﺮ

ﺎ ﺪ

ﺔ ﺎﻀﻓ

ْ

كرﺎ ْا

ﺎ ﺪ

ﺮْﻀ ا

ﻮ أ

ﺎ ﺪ

ﺎ ْ أ

ﻮ أ

ﺎ ﺪ

ْ ْا

ﻪْ

ﻪ ا

ﻪ ا

لﻮ ر

ﻰ ْﻮ

نﺎ ْﻮ

ْ

ﺮ ا

ء

لﺎ

و

ﺄْا

ْ ﻜْ

ﻰ اﺪ

ْنأ

ﻚ ﻮ

و

ﻪْ

ﻪ ا

ﻪ ا

لﻮ ر

لﺎ

ْ أ

ﻪ ا

لﻮ ر

ﺎ ْ

لﺎ

ﺎﻬ ْ

ﺔ آﺄْا

ﻰ اﺪ

ﺎ آ

ﻓأ

آ

ْ

آ

ﺬ ْﻮ

ْ ْأ

لﺎ

ﺬ ْﻮ

ْ ﻜ و

ْ

ﺔ ﺎﻬ ْا

عﺰ ْ

ْ ا

ءﺎ آ

ءﺎ

نﻮ ﻮﻜ

      

7

(24)

اﺪ ْا

ﺮ ْ ﺟ

ﻮ أ

ﺎ ﺪ

ﻪ أ

ْ

يدْزﺄْا

ْ

ا

ﺪْ

ﺎ ﺮ ْ أ

ﻪ ا

لﻮ ر

ْ

لﺎ

ةﺮْﺮه

أ

ْ

فْﻮ

ْ

ْ

ْ

ﻪ ا

ﺪْ

ْ

ْﻮ

ْأ

ْآ

نﺎ ْﻮ

لﻮ

و

ﻪْ

ﻪ ا

ﺄْا

ْ ﻜْ

ْ اﺪ

ْذإ

نﺎ

ﻪ ا

لﻮ ر

أو

نﺎ ْﻮ

لﺎ

ﻪْ

نﻮ

مﺎ ﻄ ا

ﺔ ْ

ْ ﻜ اﺪ آ

ْ ﻜ ﻮ

ﻰ ْ

ْ ﻜ و

ﺮ آ

ﺬ ْﻮ

ْ ْأ

لﺎ

ْ أ

هﻮْا

ﺎ و

اﻮ ﺎ

هﻮْا

لﺎ ْا

ْ ﻜ هاﺮآو

ﺎ ْﺪ ا

ْ ﻜ

لﺎ

ﻪ ا

لﻮ ر

9

Dalam melakukan penelitian sanad hadis (al-naqd al-sanad) ini, penulis akan mengambil dan berusaha mengikuti beberapa langkah metodologis yaitu melakukan kegiatan al-i‘tibâr, meneliti pribadi periwayat hadis yang berkenaan (kritik sanad) dan membuat kesimpulan hasil pengumpulan data-data dari kitab-kitab takhrîj dan kritik periwayat.

C. Kegiatan al-I‘tibâr

Tujuan kegiatan ini dilakukan adalah untuk memperlihatkan dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang diteliti, termasuk nama-nama periwayatnya, dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat yang bersangkutan. Karena itu, untuk mempermudahkan proses kegiatan al-i’tibâr, penulis akan membuat skema sanad dari kutipan dua mukharrij bagi hadis yang dijadikan obyek penelitian. (lihat lampiran 1)

       8

Ahmad ibn Muhammad bin Hanbal ibn Hilâl ibn Asad al-Syaibânî, Al-Musnad li al-Imâm Ahmad bin Hanbal, juz 8, hadis nomor 22460, (Beirut: Dar al-Fikr, 1414H/1994M), cet. 2, h. 327. 

9

(25)

Namun, sebelum dikemukakan skema sanadnya, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu. Dengan demikian, skema akan mudah difahami.

1. Dari tiga jalur sanad, ada tertulis periwayat yang menyandarkan nama kepada

nasab atau kuniyyah. Pertama Ibn Jâbir yang nama sebenarnya adalah ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir al-Azadî.10 Kedua periwayat ‘Abd al-Salâm yang nama sebenarnya adalah Sâlih bin Rustam al-Hâsyimî.11Ketiga Abû al-Nadar yang nama sebenarnya Hâsyim bin al-Qâsim bin Muslim bin Muqsam.12 Keempat Asmâ` al-Rahabî yang nama sebenarnya ‘Amrû bin Martsad.13 Kelima Abû Ja‘far al-Madâ`inî yang nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ja‘far.14 Keenam Abû Hurairah yang nama sebenarnya adalah ‘Abd al-Rahman bin Sakhr.15

2. Dari tiga jalur sanad tersebut duanya berakhir kepada Tsaubân. Dan sisanya berakhir kepada Abû Hurairah.

Pada skema tampak bahwa periwayat pertama dan yang keseterusnya terdapat periwayat yang berstatus pendukung berupa syâhid dan mutâbi’.16 Akan tetapi hadis

      

10

Jamâl al-Dîn Abî al-Hujjâj Yûsuf al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ`al-Rijâl, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1413H/1992M), cet. 3, juz 11, h. 421.

11

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 9, h. 26.

12

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 19, h. 214.

13

Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 745. Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 2, h. 295.

14

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 16, h. 175.

15

‘Izz al-Dîn Ibn Al-Asir Abî al-Hasan ‘Alî bin Muhammad al-Jazrî, UUsl al-Ghâbah fî

Marifah al-Sahâbah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1398H/1978M), cet 1, juz 5, h. 318-319.  16

(26)

ini hanya diterima oleh dua orang sahaja (‘azîz).17 Ini berarti bahwa hadis tersebut merupakan bagian dari yang hadis berkategori âhâd, maka perlu diteliti, apakah hadis yang bersangkutan dapat dipertanggungjawab keorisinalnya berasal dari Nabi SAW ataupun tidak.

D. Kegiatan Penelitian Sanad

Dalam melihat kualitas periwayat hadis, maka dua aspek yang harus diperhatikan yaitu:

1. Aspek ketersambungan sanad.18 2. Aspek intelektualitas periwayat.19

Oleh kerana hadis yang menjadi obyek penelitian hanya didapati dari tiga jalur sanad, yaitu masing-masing satu jalur daripada sanad Abû Dâwud melalui Tsaubân dan dua jalur dari sanad Ahmad ibn Hanbal melalui Tsaubân dan Abû Hurairah, maka penulis akan meneliti kesemua hadis tersebut.

Urutan nama periwayat hadis riwayat Abû Dâwud:       

17

Azîz adalah hadis yang diterima oleh dua orang sahaja walau pada satu tempat. Lihat, Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1997), cet. 1, h. 347. 

18

Kriteria ketersambungan sanad: Pertama, periwayat hadis yang terdapat dalam sanad hadis yang diteliti semua berkualitas tsiqât (‘adl dan dhabt). Kedua, masing-masing periwayat menggunakan kata-kata penghubung yang berkualitas tinggi yang sudah disepakati ulama (al-samâ’), yang menunjukkan adanya pertemuan di antara guru dan murid. Ketiga, adanya indikasi kuat perjumpaan antara mereka. Ada tiga indikator yang menunjukkan pertemuan antara mereka: A) Terjadi proses guru dan murid, yang dijelaskan oleh para penulis rijâl al-hadîts dalam kitabnya. B) Tahun lahir dan wafat mereka diperkirakan adanya pertemuan antara mereka atau dipastikan bersamaan. C) Mereka tinggal belajar atau mengabdi (mengajar) di tempat yang sama. Lihat, Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 53. 

19

(27)

1. Periwayat I: Tsaubân bin Yujdud al-Qurasyî al-Hâsyimî 2. Periwayat II: Sâlih bin Rustam al-Hâsyimî al-Dimasyqî 3. Periwayat III: ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir al-Azadî 4. Periwayat IV: Bisyr bin Bakr al-Tinnîsî

5. Periwayat V: ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm bin ‘Amrû bin Maimûn al-Qurasyî Urutan nama periwayat hadis riwayat Ahmad ibn Hanbal:

Jalur Tsaubân

1. Periwayat I: Tsaubân bin Yujdud al-Qurasyî al-Hâsyimî

2. Periwayat II: ‘Amrû bin Martsad al-Rahabî al-Syâmî al-Dimasyqî 3. Periwayat III: Marzûq Abû ‘Abdullah al-Syâmî al-Himsî

4. Periwayat IV: Al-Mubârak bin Fadâlah bin Abî Umayyah al-Qurasyî 5. Periwayat V: Hâsyim bin al-Qâsyim al-Laitsî al-Baghdâdî

Jalur Abû Hurairah

1. Periwayat I: ‘Abd al-Rahman bin Sakhr

2. Periwayat II: Syubail bin ‘Auf bin Abî Hayyah 3. Periwayat III: Habîb bin ‘Abdullah

4. Periwayat IV: ‘Abd al-Samad bin Habîb bin ‘Abdullah 5. Periwayat V: Muhammad bin Ja‘far

Dalam kegiatan kritik sanad (naqd al-sanad), akan dimulai pada periwayat terakhir (mukharrij), yakni Abû Dâwud, lalu diikuti pada periwayat sebelumnya dan seterusnya sampai periwayat pertama.

(28)

a) Nama lengkapnya: Menurut Ibn Abî Hâtim adalah Sulaimân bin al-`Asy‘ats bin Syidâd bin ‘Amr bin ‘Âmir. Sedang menurut al-Khathîb al-Baghdâdî, namanya adalah Sulaimân bin al-`Asy‘ats bin Syidâd bin ‘Amr bin ‘Imrân. Beliau dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan,sebuah negara muslim di Asia Tengah yang kini termasuk bekas wilayah Uni Soviet dan meninggal dunia di Basrah pada 16 Syawal tahun 275 H/889 M dalam usia 73 tahun.20 b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadits: Di antara guru Abû

Dâwud adalah Ahmad bin Hanbal (240 H), Yahyâ bin Ma‘în Abû Zakariyâ (233 H), Musaddad bin Musarhad al-Asadî al-Basrî (228 H), dan ‘Amrû bin ‘Aun Nazîl al-Basrah (225 H). Sedang murid Abû Dâwud yang terkenal adalah Abû ‘Îsâ al-Turmudzî, putranya; Abû Bakr Ibn Abû Dâwud, Ahmad bin Muhammad bin Hârûn Hilâl Hanbâlî, Zakariyâ bin Yahyâ al-Sajiyyû.21

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap diri beliau:

1. Abû Hâtim ibn Hibbân berkata, “Abû Dâwud adalah salah seorang Imam yang pintar, berilmu, dan hafîz. Dia telah mengumpulkan banyak hadis, membukukannya dan telah mengoreksi karyanya; Al-Sunan.

2. Al-Hâkim berkata: Abû Dâwud adalah imam ahli hadis di masanya tanpa dapat diragukan lagi.22

      

20

Al-Mizî, jil. 2, h. 367. 

21

Al-Mizî,Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ`al-Rijâl, jil. 2, h. 356-360. Lihat Abû Dâwud Sulaimân bin al-Asy‘ats Al-Sijistânî, Sunan Abû Dâwud, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), juz. 1, h. 10. 

22

(29)

3. Al-Dzahabî berkata: Abû Dâwud adalah seorang imam dalam hadis, ulama besar dalam bidang fikih dan kitab karyanya merupakan bukti akan hal itu. Dia termasuk murid Ahmad bin Hanbal yang terkemuka. Sewaktu

mulâzamah (bersama) dengan Ahmad bin Hanbal, dia banyak bertanya kepada imam Ahmad tentang permasalahan-permasalahan usûl dan furû’

secara detail.23

4. Mûsâ bin Hârûn: Aku belum pernah melihat orang yang lebih alim dari imam Abû Dâwud.24

Banyak ulama yang memberikan pujian terhadap kepribadian Abû Dâwud. Dengan kedudukannya sebagai mukharrij maka tidak perlu diragukan lagi akan pernyataannya yang menerima hadis dari ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm. Periwayatan hadis antara keduanya setelah diteliti juga ternyata bersambung.

2. ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm

a) Nama lengkapnya: ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm bin ‘Amrû bin Maimûn.

Nasabnya adalah al-Qurasyî. Manakala kuniyyahnya adalah Abû Sa‘îd al-Dimasyqî . Beliau lebih dikenali dengan laqabnya Duhaim ibn al-Yatîm,25 juga merupakan hamba dalam keluarga khalifah Utsmân bin ‘Affân.

       23

Syams al-Dîn Muhammad ibn Ahmad ibn Utsmân Al-Dzahabî, Siyâr al-A‘lâm Al-Nubalâ`, (Qaherah: Dar al-Hadits, 2006), juz 13, h. 215-216. 

24

Al-Dzahabî, Siyâr al-A‘lâm Al-Nubalâ`, juz 13, h. 212-213.  25

(30)

b) Terdapat banyak pendapat yang membicarakan tentang tanggal kelahiran dan kewafatannya. Ada yang mengatakan beliau dilahirkan pada bulan Syawal 170 H dan wafat pada hari ahad,13 terakhir Ramadhan 245 H di Palestin.26 Beliau pernah menjawat jawatan hakim di Urdun dan Palestin.27

c) Guru ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm cukup banyak, antara lain Bisyr bin Bakr al-Tinnîsî , ‘Abdullah bin Nâfi‘ al-Sâ`igh, dan Sufyân bin Uyainah.28 Ulama yang disebutkan pertama adalah guru beliau dalam hadis yang sedang diteliti. Muridnya juga banyak, antara lainnya adalah al-Bukhârî (w.256 H), Abû Dâwud (w. 275 H), al-Nasâ`î (w. 303 H), dan anak lelakinya Ibrâhîm.29

d) Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:

1. Abû Sa‘îd bin Yûnus: Beliau adalah periwayat yang tsiqah tsabat.

2. Ahmad bin ‘Abdullah al-‘Ijlî, Abû Hâtim, al-Nasâ`î, dan al-Darâqutnî:

Tsiqah.

3. Al-Nasâ`î: Ma’mûn lâ ba’s bih.

4. Abû Dâwud: Hujjah, tidak mungkin ada orang yang sepertinya di Damsyiq pada zamannya. Beliau adalah tsiqah.30

5. Abû Ahmad bin ‘Ady: Duhaim atsbat dari Harmalah bin Yahyâ.31 6. Musagghir bin al-Yatîm: Tsiqah hâfiz mutqin.32

       26

Jamâl al-Dîn Abî al-Hajjâj Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1980), cet. 1, juz 11, h. 90. 

27

Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, (Beirut: Dar al-Kutub Al-Sittah, 1983), cet 1, juz 2, h. 137. 

28

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 87.   29

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 88.  30

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 89.  31

(31)

Penelitian para kritikus hadis tersebut menunjukkan bahwa ‘Abd al-Rahman adalah kibâr tâbi al-atbâ‘ yang tsiqah. Tidak ada seorang pun kritikus hadis yang mencela pribadi ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm. Pujian-pujian yang diberikan orang kepadanya dikemukakan oleh kritikus berperingkat tinggi sekalipun ada pujian tersebut menunjukkan peringkat lafal keterpujian tingkat keempat yang menghasilkan

sahîh dalam bentuk kedua, yang dikategorikan sebagai hadis hasan oleh al-Turmudzî.33 Dengan demikian, pernyataan ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm yang mngatakan bahwa dia menerima riwayat hadis di atas dari Bisyr bin Bakr dengan metode al-samâ‘ (dengan lambang haddatsanâ) dapat dipercaya kebenarannya. Itu berarti, sanad antara ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm dan Bisyr bin Bakr dalam keadaan bersambung.

3) Bisyr bin Bakr al-Tinnîsî

a) Nama lengkapnya: Bisyr bin Bakr. Nasabnya adalah al-Tinnîsî al-Bajalî manakala kuniyyahnya adalah Abû ‘Abd Allah.34 Beliau dilahirkan pada

       32

Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, jilid 1, h. 559.  33

Al-Siddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, h. 61.  34

(32)

tahun 124 H35 dan ada beberapa pendapat tentang tanggal kewafatannya. Ada yang mengatakan pada tahun 200 H dan ini adalah pernyataan dari Hanbal bin Ishâq. Abû Sa‘îd bin Yûnus mengatakan pada bulan Zulka’dah tanggal 205 H dan makamnya berada di Turnisia dan daerah Dimyath. Abû Nasr al-Kalâbadzî mengatakan pada akhir tahun 205H.36

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Antara guru Bisyr bin Bakr adalah ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin bin Jâbir, Sa‘îd bin ‘Abd al-‘Azîz al-Tanûkhî, dan ‘Abd al-Hamîd bin Sawwar. Muridnya juga banyak, antara lain ‘Abd al-Rahman bin Ibrâhîm Duhaim, Sulaimân bin Syu‘aib al-Kaisânî, dan Muhammad bin Idrîs al-Syâfi‘î.

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya: 1. Abû Zur‘ah: Tsiqah.

2. Abû Hâtim: Mâ bih ba’s. 3. Al-Darâqutnî: Tsiqah.37

4. Marrah: Laisa bih ba’s, tidakku ketahui kecuali hal-hal yang baik-baik sahaja.

5. Al-‘Ijlî dan al-‘Aqilî: Tsiqah

6. Al-Hâkim: Ma’mûn.

       35

Ahmad ibn ‘Alî Hajar Abû al-Fadhl Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984M/1404H), cet. 1, juz 1, h. 288. 

36

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 3, h. 60. Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 1, h. 101. 

37

(33)

7. Musalmah bin Qâsim, diriwayatkan dari al-Auzâ‘î: Lâ ba’s bih insya Allah.

8. Ibn Hibbân (w. 354H/965M) juga menempatkan nama beliau namanya di dalam kitab al-Tsiqât.38

Penelitian para kritikus hadis tersebut menunjukkan bahwa Bisyr bin Bakr adalah al-sughrâ min al-atbâ‘ yang tsiqah. Tidak ada seorang pun kritikus hadis yang mencela pribadi Bisyr bin Bakr. Pernyataannya menerima riwayat hadis di atas dari ‘Abd al-Rahman bin Yazîd dengan metode al-samâ‘ (dengan lambang haddatsanâ) dapat dipercaya kebenarannya. Ini terbukti sanad antara Bisyr bin Bakar dan ‘Abd al-Rahman bin Yazîd dalam keadaan (muttasil) bersambung.

4) Ibn Jâbir

a) Nama lengkapnya: Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir. Nasabnya adalah al-Azadî al-Dimasyqî al-Dârimî. Manakala kuniyyahnya adalah Abû ‘Utbah. Saudara kepada Yazîd bin Yazîd bin Jâbir dan bapa kepada ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir.39 Banyak pendapat tentang tanggal kewafatannya yaitu sekitar tahun 153, 154, 155, dan 156 H.40

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru Ibn Jâbir cukup banyak antaranya Abî ‘Abd al-Salâm Sâlih bin Rustam, ‘Abd Allah bin ‘Umar

       38

Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 288.  39

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 421.  40

(34)

bin ‘Abd al-‘Azîz, dan Zaid bin Aslam.41 Manakala muridnya dalam bidang ini antaranya adalah Bisyr bin Bakr al-Tinnîsî, ‘Abd Allah bin al-Mubârak, dan ‘Îsâ bin Yûnus.42

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya: 1. Ahmad bin Hanbal: Laisa bih ba’s.

2. Yahyâ bin Ma‘în: Tsiqah.

3. Ahmad bin ‘Abdullah al-‘Ijlî, Muhammad bin Sa‘îd, al-Nasâ`î dan selainnya: Tsiqah.

4. Ya‘qûb bin Utsmân: ‘Abd al-Rahman dan Yazîd adalah anak lelaki Yazîd bin Jâbir, keduanya tsiqah, menetap di Basrah kemudian berpindah ke Syam.

5. Abû Dâwud: Beliau adalah tsiqât al-Nâs. 6. Abû Bakr bin Abî Dâwud: Tsiqah ma’mûn.

7. Mûsâ Hârûn: Abû Usâmah meriwayatkan dari ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir, beliau meyangka tidak akan menemui Ibn Jâbir sebaliknya menemui ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Tamîm yang disangkanya adalah Ibn Jâbir. Ibn Jâbir tsiqah, Ibn Tamîm daîf.43

Penelitian para kritikus hadis tersebut menunjukkan bahwa ‘Abd al-Rahman bin Yazîd adalah kibâr al-atbâ‘ yang tsiqah. Tiada kritikus hadis yang mencela pribadi beliau. Dengan demikian, pernyataannya menerima riwayat hadis di atas dari       

41

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 421.  42

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 422.  43

(35)

Sâlih bin Rustam dengan metode al-samâ‘ (dengan lambang haddatsanî) dapat dipercayai. Itu berarti, sanad antara ‘Abd al-Rahman bin Yazîd dan Sâlih bin Rustam dalam keadaan (muttasil) bersambung.

5) ‘Abd al-Salâm

a) Nama lengkapnya: Sâlih bin Rustam. Nasabnya al-Hâsyimî. Manakala

kuniyyahnya adalah Abû ‘Abd al-Salâm al-Dimasyqî.44Generasi kedua tabi‘in Syam.45

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru ‘Abd al-Salâm adalah Tsaubân; hamba Rasulullah SAW, ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman bin Hawâlah al-Azadî dan Makhul al-Syâmî. Manakala muridnya adalah Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir, Sa’îd bin Ayyûb, dan bapanya; ‘Abd al-Rahman bin Yazîd bin Jâbir.

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya:

1. ‘Abd al-Rahman bin Abî Hâtim: Aku bertanya kepada ayahku tentangnya, dia menjawab: Majhûl lâ nurifuh.46

       44

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 9, h. 26. Lihat juga Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 428. 

45

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 9, h. 26.  46

(36)

2. Abû Zur‘ah al-Damsyiqî: Beliau adalah generasi kedua dari tabi‘in Syam, Abû ‘Abd al-Salâm; yang meriwayatkan darinya adalah Ibn Jâbir, namanya adalah Sâlih bin Rustam, aku bertanya kepada syeikh siapakah yang melahirkannya, jawabnya dengan namanya (tidak diketahui identitasnya).

3. Ibn Hibbân menyebut nama beliau di dalam kitabnya al-Tsiqât.47

Sekalipun identitas Sâlih bin Rustam dalam kesamaran, beliau masih dapat dikategorikan surghrâ min al-atbâ’ yang tsiqah kerana pernyataan ahli hadis dengan minimal ada dua orang yang meriwayatkan darinya atau lebih dapat menghilangkan kejahalahan periwayat tersebut.48

6) Tsaubân

a) Nama lengkapnya: Tsaubân bin Yujdud. Nasabnya adalah Qurasyî al-Hâsyimî. Kuniyyahnya adalah Abû ‘Abd Allah. Ada yang mengatakan Abû ‘Abd al-Rahman. Beliau meninggal di Hims pada tahun 44 H.49

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru Tsaubân adalah Nabi Muhammad SAW. Manakala muridnya antaranya adalah Abû ‘Abd al-Salâm Sâlih bin Rustam, Syidâd bin Aus,50 dan Abû Asmâ` al-Rahabî.

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya:       

47

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, Juz 9, h. 26. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 4, h. 341. 

48

Lihat Muhammad ‘Ajaj al-Khathib, UUsûl Al-Hadîts, penerjemah Qodirun Nur dan

AhmadMusyafiq, (Jakarta: Gaya Media Pranata, 2007), cet. 4, h. 242.  49

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, Juz 3, h. 272. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrîb Tahdzîb, juz 1, h. 151. Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 1, h. 119. 

50

(37)

1. Ibn Hibbân menyebutnya sebagai tsiqât.

Tsaubân merupakan hamba kepada Rasulullah SAW dan penduduk al-Sarah; tempat atau daerah di antara Makkah dan Yaman.51 Para ahli kritik hadis tidak ada yang mencela pribadi Tsaubân dalam periwayatan hadis. Lambang periwayatan yang digunakan dalam meriwayatkan hadis yang sedang diteliti sanadnya ini adalah qâla

yang oleh sebagian ulama, lambang itu disamakan kedudukannya dengan ‘an atau pun ‘annâ. Kredibilitas keadilan sahabat juga tidak perlu dipertikai berdasarkan dalil-dalil sifat adil sahabat dari kitab52 dan juga hadis.53

Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa hadis yang sanadnya diteliti ini diterima langsung oleh Tsaubân dari Nabi, itu berarti pula bahwa antara Nabi dan Tsaubân telah terjadi persambungan periwayatan hadis.

Selanjutnya, perlu dikemukakan bahwa sanad Abû Dâwud setelah diteliti tidak mengandung syudzûdz (kejanggalan) dan ‘illah (cacat). Dinyatakan demikian, kerana seluruh periwayatan yang terdapat dalam sanad yang diteliti, masing-masing dari mereka itu bersifat tsiqât (adil dan dhabit), walau mayoritas periwayatnya telah dinyatakan lafal keterpujian pada level yang keempat (yang menghasilkan sahîh

       51

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 3, h. 271. 

52

Maksudnya: Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). Dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakkan mereka: orang-orang yang fasik. Surat al-Imran ayat 110. Lihat, Al-Khathib, UUsûl Al-Hadîts, h. 388. 

53

Manakala contoh hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudriy berbunyi:

(38)

dalam bentuk kedua yaitu hasan), dan sanadnya bersambung mulai dari mukharrij

sampai kepada sumber utama berita, yaitu Rasulullah SAW.

Ini berarti, hadis yang diteliti ini telah memenuhi unsur-unsur kaidah kasahihan sanad hadis, sehingga natijahnya dapat dinyatakan berkualitas sahih li dzâtih.54

Jalur sanad Ahmad bin Hanbal melalui Tsaubân

Disini penulis meneliti jalur sanadnya dari periwayat terakhir (mukharrij), yakni Ahmad bin Hanbal, sehingga yang seterusnya sebelum Nabi.

1) Ahmad bin Hanbal

a) Nama lengkap: Ahmad Ibn Muhammad bin Hanbal Ibn Hilâl Ibn Asad al-Syaibânî Abû ‘Abd Allah al-Marwazî al-Baghdâdî.55 Beliau dilahirkan pada bulan Rabi‘ul Awal tahun 164 hijrah atau november 780 M dan wafat pada hari jumaat bulan Rabiul Awal tahun 241 hijrah di kota kelahirannya, Baghdad dalam usia 77 tahun.56

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Antara guru Ahmad adalah Abû Al-Nadar Hâsyim bin al-Qâsim, Ibrâhîm Ibn Khâlid al-Sin‘ânî, dan ‘Abd al-Rahman bin Mahdî.57 Manakala muridnya antaranya adalah al-      

54

Hadis di atas sahîh berdasarkan keseluruhan jalurnya, sebagaimana dikatakan Syeikh Nashiruddin al-Albani, ia menyandarkan hadis ini kepada Abû Dâwud, al-Rûyânî dalam Musnadnya, Ibn ‘Asâkir dalam Târîkh Baghdâd, Ahmad dalam Musnadnya, Abû Nu‘aim dalam al-Hilyah, dan lain-lain. Lihat Silsilah al-Hadîts al-Sahîhah, Muhammad Nasr al-Dîn Al-Albânî, (Riyadh: Maktabah al-Ma‘arif, 1415H/1995M), cetakan terkini, juz 2, h. 647-648, no. 958.

55

Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 2, h. 97. Lihat Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 1, h. 226. 

56

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1403H/1973M), cet. 2, juz 1, h. 465.

57

(39)

Bukhârî, Abû Dâud, dan ‘Abdullah Ibn ‘Umar Ibn Muhammad Ibn Abbân al-Ju‘f.58

c) Pernyataan kritikus hadis terhadap diri beliau: 1. Al-‘Ijlî: Tsiqah, tsabat fî al-Hadîts.

2. Al-Syâfi‘î: Aku telah melihat seorang pemuda di negeri Baghdad; apabila dia berkata ﺎ ﺪ , semua orang akan mengatakan ia adalah sadûq. Ditanya siapakah pemuda tersebut? Jawabnya: Ahmad bin Hanbal.

3. ‘Alî al-Madînî: Sesungguhnya Allah telah memuliakan agama ini kerana Abû Bakr as-Siddîq pada peristiwa al-riddah dan dengan Ahmad bin Hanbal pada peristiwa cobaan mengatakan al-Quran itu makhluk ( مﻮ

ﺔ ا ).

4. Al-Nasâ`î: Ahmad itu tsiqah ma’mûn.

5. Ibn Hibbân: Ahmad itu hâfiz mutqin faqih. 6. Ibn Sa‘ad: Ahmad itu tsiqah tsabit sudûq.59

Tidak ada seorang kritikus pun yang mencela Ahmad bin Hanbal. Pujian yang diberikan orang kepadanya adalah pujian berperingkat tinggi dan tertinggi. Dengan demikian, pernyataannya yang mengatakan bahwa dia telah menerima riwayat hadis di atas dari Abû al-Nadar Hâsyim bin al-Qâsim dengan metode al-samâ‘ (dengan lambang haddatsanâ) dapat dipercaya. Itu berarti bahwa sanad antara beliau dan Abû al-Nadar dalam keadaan bersambung.

      

58

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 1, h. 440-441.  59

(40)

2) Abû al-Nadar

a) Nama sebenarnya adalah Hâsyim bin al-Qâsim bin Muslim bin Miqsam.

Nasabnya adalah al-Laitsî al-Kharâsâni. Kuniyyahnya adalah Abû al-Nadar. Manakala laqabnya adalah Qaisar.60 Dilahirkan pada 134 H dan meninggal di Baghdad pada bulan Zulka’dah tahun 207 H.61

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru ulama hadis ini cukup banyak antaranya Mubârak bin Fadâlah, Syarîk bin ‘Abdullah al-Nakha‘î,62 dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd Allah bin Dînâr. Manakala muridnya antaranya adalah Ahmad bin Hanbal, Ahmad bin Muhammad bin Yahyâ al-Qatthân, dan Abû Bakr bin Abî al-Nadar.63

c) Pernyataan para kritikus terhadap diri beliau:

1. Ahmad bin Hanbal: Abû al-Nadar atsbat dari Syadzân. 2. Yahyâ bin Ma‘în: Tsiqah

3. ‘Alî bin al-Madînî, Muhammad bin Sa‘ad dan Abû Hâtim: Tsiqah

4. Al-‘Ijlî: Abû al-Nadar adalah kalangan kanak-kanak, mendomosili Baghdad, seorang yang tsiqah sâhib sunnah, dan penduduk Baghdad berbangga dengan beliau.64

       60

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 19, h. 214. Lihat Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 11, h. 18. Lihat Al-’Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 2, h. 261. 

61

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 19, h. 216. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrib Tahdzib, juz 2, h. 261. Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 1, h. 191-192. 

62

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 19, h. 214.  63

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 19, h. 215.  64

(41)

Penelitian para kritikus hadis tersebut menunjukkan bahwa Abû al-Nadar adalah al-surghrâ min al-atbâ‘ yang tsiqah. Kerana tidak ada seorang kritikus pun yang mencelanya. Dengan demikian, pernyataannya menerima riwayat hadis di atas dari Mubârak bin Fadâlah dengan metode al-samâ‘ (dengan lambang haddatsanâ) dapat dipercaya. Itu berarti bahwa sanad antara beliau dan Mubârak bin Fadâlah dalam keadaan bersambung.

3) Mubârak bin Fadâlah bin Abî Umayyah

a) Nama lengkapnya: Mubârak bin Fadâlah bin Abî Umayyah. Kuniyyahnya adalah Abû Fadâlah. Manakala nasabnya adalah Basrî. Hamba Zaid bin al-Khatthâb.65 Meninggal dunia pada tahun 166 H. Sadûq yudallis.66 Lâ ba’s bih.67

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Antara gurunya adalah Hasan al-Basrî, Abû Bakr bin ‘Abd Allah al-Mazanî, dan Wakî‘, Hibbân bin Hilâl.68 Manakala murid antaranya Ibn Mubârak, Muslim, dan Hadbah.69 c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya:

1. Hujjâj bin Muhammad: Aku bertanya kepada Syu‘bah tentang Mubarak

dan al-Rabî‘ bin Sabîh, jawabnya: Mubarak lebih aku sukai

berbandingnya,

       65

Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 62.  66

Ahmad ibn ‘Alî Hajar Abû al-Fadhl Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 2, h. 157.  67

Al-‘Ajali, Ma’rifah al-Tsiqât, juz 2, h. 263.   68

Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 2, h. 157.   69

(42)

2. ‘Amrû bin ‘Alî: Aku telah mendengar ‘Affân berkata Mubârak dianggap ahli ibadah.

3. Yahyâ bin Sa‘îd memaniskan ucapan pujian terhadap beliau.

4. Abû Hâtim: Sesungguhnya ‘Affân memujinya secara berlebih-lebihan. 5. ‘Abdullah bin Ahmad, apabila ditanyakan kepada bapaku tentang

al-Mubârak dan al-Rabî‘ bin Sabîh, maka jawabnya: Aku tidak terlalu rapat dengan mereka berdua, al-Mubârak yudallis.70

6. Abû Zur‘ah: Yudallis katsîr, apabila dia mengatakan haddatsanâ maka

tsiqah.71

Para kritikus hadis memuji Mubârak bin Fadâlah, dan ada yang menilainya sebagai yudallis72. Tetapi beliau masih bisa dikatakan tsiqah kerana argumentasi yang dinyatakan oleh kritikus hadis; Abû Zur‘ah di atas.

4) Marzûq

a) Nama lengkapnya: Marzûq Abû ‘Abd Allah al-Syâmî al-Himsî. Nasabnya adalah al-Syâmî al-Himsî manakala kuniyyahnya adalah Abû ‘Abdullah. Beliau mendomisili di Basrah.

       70

Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 10, h. 27.  71

Jalâl al-Dîn ‘Abd al-Rahman bin Abî Bakr, Tabaqât al-Huffâz, (Beirut, Dar Kutub al-‘Ilmiah, 1994), cet. ke-2, h. 93. 

72

Mudallas adalah hadis-hadis yang telah disisipkan ke dalam sanadnya, seseorang yang bukan dari sanadnya, atau dirupakan dengan bukan rupa yang asli. Hadis ini amat daifnya. Ringkasnya perawi tersebut tidak mau menyebutkan nama orang yang memberikan hadis kepadanya. Orang yang diketahui pernah membuat hadis mudallas, tiada dipercayai lagi riwayatnya. Lihat, Ash-Siddieqy,

(43)

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru Marzûq antaranya adalah Abû Asmâ` al-Rahabî, ‘Abd Allah bin ‘Âmir, dan ‘Âsim bin ‘Alî al-Bajalî.73 Manakala muridnya adalah Mubârak bin Fadâlah, Khulaid bin Hassan dan Hammad bin Basyîr al-Jahdamî.74

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya:

1. Yahyâ bin Ma‘în: Marzûq Abû ‘Abdullah al-Syâmî laisa bih ba’s. 2. Ibn Hibbân juga menempatkan nama beliau di dalam karangan al-Tsiqât. 3. Abû Mu‘tamir dan Rauh: Sadûq.75

Tidak ada seorang pun dari kritikus hadis yang mencela pribadi Marzûq. Ini menunjukkan Marzûq adalah seorang yang tsiqah. Dengan demikian, pernyataan beliau yang menerima riwayat hadis di atas dari Abû Asmâ` al-Rahabî dengan lambang haddatsanâ (dengan metode al-samâ‘) dapat dipercaya kebenarannya. Dan berarti pula bahwa sanad antara Marzûq dan Abû Asmâ` al-Rahabî dalam keadaan bersambung.

5) Abû Asmâ` al-Rahabî

a) Nama lengkapnya: ‘Amrû bin Martsad. Nasabnya adalah al-Rahabî al-Syâmî al-Dimasyqî manakala kuniyyahnya adalah Abû Asmâ`. Meninggal dunia di zaman khalifah ‘Abd al-Malik.76

       73

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 27, h. 376. Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 1, h. 115. 

74

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 27, h. 377.  75

(44)

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru Abû Asmâ` al-Rahabî antaranya adalah Tsaubân; hamba kepada Rasulullah, Syaddâd bin Aus al-Ansârî, dan Abû Hurairah. Manakala muridnya pula antaranya adalah Sâlih bin Jubair, Râsyid bin Dâwud al-Sin‘âni, dan Abû Sallâm al-Aswad. c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya:

1. Al-‘Ijlî: Beliau adalah seorang tabien, ahli Syam dan seorang yang tsiqah. 2. Ibn Hibbân juga menggolongkan dirinya di dalam kelompok periwayat

yang tsiqah sebagaimana yang terkandung di dalam kitabnya yaitu al-Tsiqât.77

Penelitian para kritikus hadis tersebut menunjukkan bahwa Abû Asmâ` al-Rahabî adalah al-wusthâ min al-tâbiîn yang tsiqah. Tidak ada seorang pun kritikus hadis yang mencela pribadi beliau. Dengan demikian, pernyataannya yang mengatakan bahwa dia menerima riwayat hadis di atas dari Tsaubân dengan metode

al-samâ‘ (dengan lambang ‘an) dapat dipercaya kebenarannya dan berarti sanad antaranya dan Tsaubân dalam keadaan (muttasil) bersambung.

Tsaubân

Sudah dikritisi penulis pada halaman 25-26.

Jalur sanad Ahmad bin Hanbal melalui Abû Hurairah 1. Abû Ja’far al-Madâ`inî

       76

Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 745. Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 2, h. 295. 

77

(45)

a) Nama lengkapnya: Muhammad bin Ja‘far. Nasabnya adalah al-Bazzâr. Manakala kuniyyahnya adalah Abû Ja‘far al-Madâ`inî.78 Beliau meninggal dunia pada tahun 206 H.79

b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Antara guru Abû Ja‘far adalah ‘Abd al-Samad bin Habîb, ‘Îsâ bin Maimûn al-Madanî, dan Mansûr bin Abî al-Aswad. Manakala muridnya antaranya adalah Ahmad bin Hanbal, Hatim bin al-Laits al-Jauharî, dan Muhammad bin al-Husîn al-Burjulânî.80 c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya:

1. Abî Dâwud: Laisa bih ba’s, orang lain melayyinkannya.81

2. Ahmad bin Hanbal: Lâ ba’s bih.

3. Abû Hâtim: Hadisnya ditulis, akan tetapi tidak boleh dijadikan hujjah dengannya (lâ yuhtaj bih).

4. Ibn Hibbân menyebut namanya di dalam kitab al-Tsiqât.82

Pernyataan terhadap Abû Ja‘far menunjukkan adanya para kritikus hadis yang memuji dan mencelanya dengan lafal layyin dan lâ yuhtaj bih. Sedang lafal layyin

dan lâ yuhtaj bih adalah istilah untuk menyebut sifat periwayat yang tergolong al-jarh (terdapat celaan) yang peringkatnya berada paling dekat dengan peringkat

al-       78

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 16, h. 175. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 2, h. 63. Lihat Al-’Asqalânî , Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 9, h. 86. 

79

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 16, h. 176. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 2, h. 63. 

80

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 16, h. 176.  81

Lihat Al-Dzahabî, Al-Kâsyif fî Man Lahu Riwâyah fî al-Kutub Al-Sittah, juz 1, h. 26. Lihat Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 16, h. 176. 

82

(46)

ta’dîl yang terendah.83 Walaupun Abû Hâtim dan Abû Dâwud sudah terpercaya akan ketsiqahan keduanya tetapi mereka tidak menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi ke-layyin-an dan ke-lâ yuhtaj bih-an Abû Ja‘far al-Madanî.84 Kerananya, kritikan tersebut tidak mengurangi ke-tsiqat-an Abû Ja‘far al-Madanî. 2. ‘Abd al-Samad bin Habîb bin ‘Abdullah

a) Nama lengkapnya: ‘Abd al-Samad bin Habîb bin ‘Abdullah. Nasabnya adalah al-Azdî al-Auzî. Ada pendapat lain yaitu al-Yuhmadî al-Basrî. Al-Bukhârî menambah yakni beliau adalah ‘Abd al-Samad bin Abî al-Hantsar al-Râsibî.85 b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Guru ‘Abd al-Samad

adalah bapanya Habîb, Sa‘îd bin Rahman al-Quthâ‘î dan Ma‘qil al-Qasmalî. Manakala muridnya adalah Muhammad bin Ja‘far al-Madâ`inî, Abû Qutaibah Salm bin Qutaibah, dan Abû al-Nadar Hâsyim bin al-Qâsim.

c) Pernyataan para kritikus hadis terhadap dirinya: 1. Yahyâ bin Ma‘în: Laisa bih ba’s. 86

2. Abû Zakariyâ: ‘Abd al-Samad bin Habîb adalah syeikh Baghdad laisa bih ba’s. Beliau hâhinâ bi baghdâd.

3. Al-Bukhârî: Layyin al-Hadîts, Ahmad mendaîfkannya.87

       83

Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, (Bandung: PT Alma’rif, 1974), cet. 1, h. 318. 

84

Lihat Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 75.  85

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 473.  86

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 473. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 601. 

87

(47)

4. Abû Hâtim: Layyin al-Hadîts, Ahmad mendaîfkannya, hadisnya ditulis,

laisa bi al-Matrûk.88

Memandangkan ‘Abd al-Samad bin Habîb menerima hadis dari ayahnya dengan lambang ‘an, ulama telah banyak yang mempersoalkan tentang lafal atau harf

tersebut. Maka perlu memenuhi syarat-syarat tertentu.89 Setelah diteliti, penulis tidak menemukan data adanya pertemuan yaitu tanggal wafat dan lahir, beliau juga dinyatakan layyin. Oleh kerana ulama tidak menyertakan sebab kelayyinan beliau, maka beliau masih bisa dikatakan tsiqah tetapi kredibilitasnya kurang.

3. Habîb bin ‘Abdullah

a) Nama lengkapnya: Habîb bin ‘Abdullah. Nasabnya adalah Azadî al-Yuhmadî al-Basrî. Manakala kuniyyahnya adalah Abû ‘Abd al-Samad.90 b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Gurunya adalah Syubail

bin ‘Auf al-Ahmasî, al-Hakam bin ‘Amrû al-Ghifârî, dan Sinan bin Salamah bin al-Muhabbaq. Manakala muridnya hanya seorang sahaja yaitu anaknya; ‘Abd al-Samad bin Habîb.91

Penulis tidak menemukan data tentang penilaian kritikus terhadap periwayat ini. Yang menandakan periwayat ini adalah mastûr (tidak diketahui hal ihwalnya). Walaubagaimanapun jahâlah tersebut akan hilang sekiranya ada dua orang atau lebih

       88

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 11, h. 473.  89

Syarat-syarat itu adalah: 1. Pada sanad tidak terdapat tadlîs. 2. Para periwayat yang namanya beriring dan diantarai oleh lambang itu telah terjadi pertemuan. 3. Periwayat yang menggunakan lafal tersebut mestilah orang yang tsiqah. Lihat, Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 79. 

90

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 4, h. 124.  91

(48)

yang meriwayatkan hadis darinya. Secara dzahirnya, mereka berstatus adil tetapi

ke-mastûr-an tersebut menyebabkan tiada ulama yang menilai tsiqah dan mentarjîhkannya. Dengan keintelektualitas yang tidak dapat dibatasi tersebut, penulis dapat memberi kesimpulan beliau adalah periwayat yang adil.

4) Syubail bin ‘Auf

a) Nama lengkapnya: Syubail bin ‘Auf bin Abî Hayyah. Nasabnya adalah al-Ahmasî al-Bajalî. Manakala kuniyyahnya adalah Abû al-Thufail al-Kûfî.92 b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis: Gurunya adalah Abû

Hurairah, ‘Umar bin al-Khatthâb, dan Abî Jabîrah bin al-Dahâk al-Ansârî. Manakala muridnya adalah Habîb bin ‘Abdullah al-Azadî; bapa kepada ‘Abd al-Samad bin Habîb dan Ismâ‘îl bin Abî Khâlid.93

c) Pernyataan para kritikus terhadap diri beliau: 1. Yahyâ bin Ma‘în: Tsiqah

2. Ibn Hibbân menyebut namanya di dalam kitab al-Tsiqât.94 3. Ibn Sa‘îd: Tsiqah, sedikit meriwayatkan hadis.95

Pernyataan para kritikus hadis tersebut telah memadai untuk menetapkan bahwa Syubail bin ‘Auf adalah seorang periwayat hadis dari generasi kibâr al-tâbiîn

yang tsiqah. Dengan demikian, pernyataan Syubail bin ‘Auf bahwa dia menerima hadis di atas dengan metode al-samâ‘ (dengan lambang ‘an) dari Abû Hurairah, tidak       

92

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 8, h. 280. Lihat Al-‘Asqalânî, Taqrîb al-Tahdzîb, juz 1, h. 412. 

93

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 8, h. 280.  94

Al-Mizî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ` al-Rijâl, juz 8, h. 280. Lihat Al-‘Asqalânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, juz 4, h. 273. 

95

(49)

diragukan lagi kebenarannya. Itu berarti pula bahwa sanad antara Syubail bin ‘Auf dan Abû Hurairah bersambung.

5) Abû Hurairah

a) Nama lengkapnya: ‘Abdullah atau ‘Abd Rahman Dausî dari Azd al-Yamanî. Versi lain mengatakan bahwa namanya adalah Abû Hurairah bin Sakhr.96 Beliau memeluk Islam pada tahun ke-7 H pada waktu peristiwa Khaibar dalam usia kira-kira 27 tahun.97 Abû Hurairah lahir pada tahun 21 sebelum hijrah dan meninggal pada tahun 57 H/636M dalam usia 78 tahun.98 b) Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan: Guru Abû Hurairah antara lain

adalah Muhammad SAW, Abû Bakr al-Siddîq, dan Usâmah bin Zaid. Manakala muridnya antara lain adalah ‘Abdullah bin ‘Umar, Muhammad bin Sîrîn, dan ‘Urwah bin Zubîr.99

c) Pernyataan ulama kritikus hadis terhadap beliau:

1. ‘Abdullah bin ‘Umar (w. 37H) berkata bahwa Abû Hurairah sering bersama Nabi Muhammad SAW daripada kami, lebih banyak menghafal hadis dari kami.

       96

‘Izz al-Dîn Ibn Al-Asr Abî al-Hasan ‘Alî bin Muhammad al-Jazrî, UUsl al-Ghâbah fî

Ma’rifah al-Sahâbah, juz 5, h. 318-319.  97

Mahmud ‘Ali Fayyad, Manhaj al-Muhadditsîn fî Dabth as-Sunnah, penerjemah A. Zarkasyi Chumaidy, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 1419H/1998M), cet. 1, h. 108. 

98

Al-Jazrî, UUsl al-Ghâbah fî Ma’rifah al-Sahâbah, juz 5, h. 321. 

99

(50)

2. Al-Syâfi‘î (w. 206H) berkata bahwa Abû Hurairah paling hapal hadis daripada periwayat-periwayat hadis pada zamannya, dan paling banyak meriwayatkan hadis daripada mereka.

3. Al-A‘raj (w. 117H) berkata bahwa Abû Hurairah banyak menerima hadis dari Nabi Muhammad SAW, selalu menghadiri majlisnya, dan tidak melupai apa yang telah didengarinya.100

Abû Hurairah merupakan generasi pertama sahabat. 101 Beliau terkenal sebagai salah seorang yang sangat hampir dan banyak mendampingi Rasulullah, seorang yang terkenal dengan kejujuran dan sangat penyayang.102

Dalam bidang periwayatan hadis, Abû Hurairah menduduki peringkat pertama dari sahabat yang digelari al-muktsirûn fî al-hadîts.103

Para kritikus tiada yang mencela pribadi Abû Hurairah dalam periwayatan hadis. Melihat hubungan pribadinya yang erat dengan Nabi SAW dan dedikasinya yang tinggi dalam memelihara sumber ajaran Islam kedua ini, maka Abû Hurairah       

100

Bustamin dan M. Isa H.A Salam, Metodologi kritik hadis, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2004), cet. 1, h. 52. 

101

Jalâl al-Dîn ‘Abd al-Rahman bin Abî Bakr, Tabaqât al-Huffâz, (Beirut: Dar al-Kutub Al-Ilmiah, 1994), cet. ke-2, h. 17. 

102

Hubungannya yang erat dengan Rasulullah kerana beliau tidak disibukkan dengan urusan. Hal ini kerana ia merupakan seorang yang fakir dan tidak berharta sehingga hampir seluruh waktunya digunakan untuk berada di sisi Rasul, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh kaum anshar pada umumnya. Lihat, Fayyad, Manhaj al-Muhadditsîn fî Dabth as-Sunnah, h. 108. 

103

(51)

termasuk salah seorang sahabat Nabi yang tidak diragukan kejujuran dan kesahihannya dalam menyampaikan hadis. Lambang periwayatan yang digunakan dalam meriwayatkan hadis yang diteliti sanadnya ini adalah samitu. Ini berarti, Abû Hurairah benar-benar telah mendengar langsung hadis tersebut dari Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, dapatlah dinyatakan bahwa hadis yang sanadnya diteliti ini diterima langsung oleh Abû Hurairah dari Nabi SAW. Dan berarti pula bahwa antara Nabi dan Abû Hurairah telah terjadi persambungan periwayatan hadis.

Kekuatan sanad Ahmad bin Hanbal semakin meningkat bila dikaitkan dengan pendukung berupa syâhid dan mutâbi‘. Kesahihan sanad dari Abû Dâwud juga telah menambah kekuatan sanad Ahmad.

Dengan argumentasi-argumentasi tersebut jelaslah bahwa sanad Ahmad bin Hanbal melalui Abû Ja‘far al-Madâ`inî dan seluruh periwayatannya bersifat adil dan dhabit (tsiqat), sanadnya juga dalam keadaan bersambung. Konklusinya dapat dinyatakan bahwa hadis yang bersangkutan berkualitas sahîh li ghairih.104

E. Kegiatan Penelitian Matan

Dalam hubungannya dengan status kehujahan hadis, maka penelitian sanad dan matan memili

Referensi

Dokumen terkait

Menurut al-Turmizi bahwa hadis bukan hanya yang disandarkan kepada Nabi (marfu’), melainkan bisa juga yang disandarkan kepada para sahabat (mauquf) dan yang

Jadi hadis muwassaq adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan tsiqah oleh para pengikut Syi’ah, namun dia

Temuan di dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemimpin menurut Imam Al- Mawardi adalah imamah dan syarat kepada orang yang berhak dipilih sebagai pemimpin

Komparasi-konfrontatif kedua hadis itu dengan ayat-ayat al-Quran yang dilakukan Yusuf al-Qaradawi sebenarnya tidak lebih dari sekadar penegasan kedaifan kedua hadis tersebut,

Hasil penelitian menunjukkan bahwakualitas hadis mengenai larangan marah berkualitas sh}ah}i, pemahaman hadisnya ialah janganlah seseorang mudah marah,

Pengertian Hadis-hadis Tanawwu’ al Ibâdah Hadis-hadis Tanawwu‟ al Ibâdah adalah hadis-hadis yang menerangkan praktek ibadah tertentu yang dilakukan atau diajarkan Rasulullah, akan

هاور ْ دمحأ Hadis tersebut di atas bersambung sanadnya dan semua perawinya termasuk orang-orang terpercaya kecuali Ma’bad al-Juhany menurut adz-Zahaby, Ma’bad termasuk orang yang

Takhrij Hadis Tahkrij Hadis menurut Syuhudin Ismail adalah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan, yang di dalam sumber