• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN PROJECT BASED LEARNING DENGAN MEMPERHATIKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 METRO TAHUN AJARAN 2014/2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN PROJECT BASED LEARNING DENGAN MEMPERHATIKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 METRO TAHUN AJARAN 2014/2015"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA

DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARANPROBLEM

BASED LEARNINGDANPROJECT BASED LEARNINGDENGAN MEMPERHATIKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP

NEGERI 2 METRO TAHUN AJARAN 2014/2015

Oleh

Miftahul Khairiah

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan dan peningkatan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning dengan memperhatikan motivasi belajar. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan komparatif. Populasi penelitian berjumlah 235 siswa melalui teknik Cluster Random Sampling diperoleh sampel sebanyak 60 orang. Pengujian hipotesis menggunakan rumus anava dua jalan dan t-test dua sampel independen. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan sebagai berikut (1) terdapat perbedaan hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning, (2) terdapat perbedaan hasil belajar IPS Terpadu bagi siswa yang memiliki motivasi tinggi dan rendah, (3) hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan Project Based Learning pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi, (4) hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learning lebih tinggi dibandingkan Problem Based Learningpada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, (5) terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu.

(2)

MEMPERHATIKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 METRO TAHUN AJARAN 2014/2015

Oleh

MIFTAHUL KHAIRIAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(3)

MEMPERHATIKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 METRO TAHUN AJARAN 2014/2015

(Skripsi)

Oleh:

MIFTAHUL KHAIRIAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)

Halaman DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Pembatasan Masalah ... 10

D. Rumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Kegunaan Penelitian ... 12

G. Ruang Lingkup Penelitian ... 13

BAB II Tinjauan Pustaka, Kerangka Pikir, dan Hipotesis A. Tinjauan Pustaka ... 14

1. Belajar ... 14

2. Hasil Belajar ... 18

3. Pendekatan Saintifik ... 20

4. Model PembelajaranProblem Based Learning... 21

5. Model PembelejaranProject Based Learning... 25

6. Motivasi Belajar ... 28

B. Penelitian yang Relevan ... 31

C. Kerangka Pikir ... 33

D. Anggapan Dasar Hipotesis ... 37

E. Hipotesis ... 38

BAB III Metodologi Penelitian A. Metode Penelitian ... 39

1. Desain Eksperimen ... 40

(6)

C. Variabel Penelitian ... 46

D. Definisi Konseptual Variabel ... 46

E. Definisi Operasional Variabel ... 48

F. Teknik Pengumpulan Data ... 50

G. Uji Persyaratan Instrumen ... 51

1. Uji Validitas Instrumen…... 51

2. Uji Reliabilitas Instrumen ... 53

3. Taraf Kesukaran ... 55

4. Daya Beda ... 56

H. Uji Persyaratan Analisis Data ... 57

1. Uji Normalitas ... 58

2. Uji Homogenitas ... 58

I. Teknik Analisis Data ... 59

1. T-Test Dua Sampel Independen... 59

2. Analisis Varians Dua Jalan ... 60

J. Pengujian Hipotesis ... 62

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian……… 65

1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 2 Metro ……….. 65

2. Visi dan Misi SMPNegeri 2 Metro ……… 66

3. Data Guru dan Siswa ……….. 68

4. Kegiatan Pengembangan Diri ………. 69

5. Sarana dan Prasarana ………. 69

B. Deskripsi Data ……….. 70

C. Pengujian Persyaratan Analisis Data ……….... 90

1. UjiNormalitas ……… 90

2. Uji Homogenitas ………. 91

D. Hasil Belajar IPS Terpadu di Kelas Eksperimen dan Kontrol ….. 92

E. Pengujian Hipotesis ……….. 94

F. Pembahasan ………... 97

G. Keterbatasan Penelitian………. 107

BAB V Simpulan dan Saran A. Simpulan………. 108

B. Saran……… 109

(7)

Lampiran

1. Daftar Nama Siswa Kelas Eksperimen Kelas VIII B (Model

PembelajaranProblem Based Learning)………. 115

2. Daftar Nama Siswa Kelas Kontrol Kelas VIII A (Model PembelajaranProject Based Learning)……… 116

3. Silabus……….. 117

4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen…. 121 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol …….. 142

6. Kisi-kisi Soal ……… 163

7. Soal Hasil Belajar ………. 165

8. Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar ……… 173

9. Angket Motivasi Belajar ………... 174

10.Uji Validitas Soal ……….. 177

11.Uji Reliabilitas Soal ……….. 181

12.Uji Tingkat Kesukaran ……….. 184

13.Uji Daya Beda ……… 186

14. Uji Validitas Angket ……….. 188

15.Uji Reliabilitas Angket ……….. 190

16.Pembagian Kelompok Kelas Eksperimen (VIII B) ……… 191

17.Pembagian Kelompok Kelas Kontrol (VIII C) ………... 192

18. Hasil Belajar IPS Terpadu dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning ………. 193

19. Motivasi Belajar Kelas Eksperimen (VIII B) dan Kontrol (VIII A) 194 20.Uji Normalitas ………. 195

21.Uji Homogenitas ………. 196

22. Analisis Varian Dua Jalan……… 198

23. DataT-TestPBL dan PjBL untuk motivasi belajar tinggi ………... 199

24. DataT-TestPBL dan PjBL untuk motivasi belajar rendah ………. 200

25.Surat Izin Penelitian Pendahuluan ………... 201

26.Surat Balasan Izin Penelitian Pendahuluan ………. 202

27.Surat Pengajuan Judul ………. 203

28.Surat Izin Penelitian ……… 204

(8)

Tabel Halaman 1. Hasil Ulangan Mid Semester Ganjil Siswa kelas VIII SMP Negeri 2

Metro Tahun Pelajaran 2014/2015 ... 5

2. Penelitian yang Relevan ... 31

3. Definisi Operasional Variabel ... 49

4. Keterangan Validitas Soal ……… 52

5. Keterangan Validitas Angket………... 53

6. Tingkatan Besarnya Reliabilitas ... 54

7. Keterangan Tingkat Kesukaran ………. 56

8. Keterangan Daya Beda ……….. 57

9. Rumus Unsur Tabel Persiapan Anava Dua Jalan ... 59

10. Cara untuk menentukan kesimpulan Hipotesis Anava ……….. 60

11.Jumlah guru dan mata pelajaran yang diajarkan ……….... 68

12.Jumlah siswa SMP Negeri 2 tahun ajaran 2014/2015 ……… 69

13. Sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah ... 70

14.Distribusi frekuensi motivasi belajar pada kelas eksperimen ………… 72

15.Distribusi frekuensi motivasi belajar tinggi pada kelas eksperimen …. 73 16. Distribusi frekuensi motivasi belajar rendah pada kelas eksperimen … 75 17. Distribusi frekuensi motivasi belajar pada kelas kontrol ……….. 76

18. Distribusi frekuensi motivasi belajar tinggi pada kelas kontrol ……… 78

19. Distribusi frekuensi motivasi belajar rendah pada kelas kontrol ……... 79

20. Distribusi frekuensi hasil belajar pada kelas eksperimen ……….. 81

21. Distribusi frekuensi hasil belajar untuk motivasi belajar tinggi pada kelas eksperimen ………... 82

22. Distribusi frekuensi hasil belajar untuk motivasi belajar rendah pada kelas eksperimen ………. 84

23. Distribusi frekuensi hasil belajar IPS Terpadu pada kelas kontrol …… 86

24. Distribusi frekuensi hasil belajar untuk motivasi belajar tinggi pada kelas kontrol ……… 87

25. Distribusi frekuensi hasil belajar untuk motivasi belajar rendah pada kelas kontrol ……… 89

26. Uji Normalitas Data……….. 90

27. Rekapitulasi Uji Normalitas Data………. 91

28. Hasil Uji Homogenitas……….. 91

(9)
(10)
(11)

Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan menjadikan

perjalanannya seperti perjalanan menuju surga

Nabi Muhammad SAW

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang

masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Mario Teguh

Bermimpilah, karena dengan mimpi dan usaha kita dapat membangun kehidupan yg lebih

baik dimasa mendatang

Miftahul Khairiah

Jangan takut untuk melangkah karena hal yang terlihat sulit sekalipun sebenarnya dapat

kita lalui dengan adanya niat, usaha dan doa

Miftahul Khairiah

Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan itu anda dapat

mengubah dunia

(12)

Alhamdulillahirobbil alamin, Segala puji bagi Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah serta karunia-Nyalah skripsi ini dapat diselesaikan Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya kecilku untuk

orang-orang yang berharga dalam hidupku:

Ibu dan Ayahku tersayang, yang selalu mendoakanku, memberi dukungan, kasih sayang, serta mengupayakan segala yang terbaik

untukku

Adik-adikku dan keluarga besarku, yang telah memberikan dukungan, semangat dan doa

Para pendidikku yang telah membimbing, mendidik serta memberikan ilmu yang bermanfaat

(13)

Penulis di lahirkan di Kota Metro pada tanggal 26 Februari 1994 dengan nama lengkap Miftahul Khairiah. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, Putri dari pasangan Bapak Fahendri Zainun dan Ibu Yulfina.

Pendidikan formal yang diselesaikan penulis yaitu :

1. SD Negeri 3 Metro Barat diselesaikan pada tahun 2005 2. SMP Negeri 2 Metro diselesaikan pada tahun 2008 3. SMK Negeri 1 Metro diselesaikan pada tahun 2011

(14)

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat, rahmat, hidayah dan kasih sayang-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul“Studi Perbandingan Hasil Belajar IPS

Terpadu Siswa dengan Menggunakan Model PembelajaranProblem Based LearningdanProject Based Learningdengan Memperhatikan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Metro Tahun Ajaran 2014/2015”.

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

3. Bapak Drs. Buchori Asyik, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 4. Bapak Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Wakil Dekan Bidang

Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidiakn Universitas Lampung.

(15)

7. Bapak Drs. Tedi Rusman, M.Si., selaku Pembimbing Akademik serta Pembimbing II yang telah memberikan arahan, bimbingan dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi.

8. Bapak Drs. Yon Rizal, M.Si., selaku Pembimbing I yang telah memberikan nasehat, arahan dan bimbingannya dalam membimbing penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi.

9. Ibu Dr. Pujiati, S.Pd., M.Pd., selaku Penguji yang telah memberikan motivasi serta membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.

10. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Unila, terimakasih atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

11. Bapak dan Ibu bagian Akademik FKIP Universitas Lampung.

12. Bapak Suyitno, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP N 2 Metro, Ibu/Bapak guru, dan staf pengajar serta siswa/wi yang telah mengizinkan dan membantu peneliti selama penelitian berlangsung.

13. Om Herdi dan Kak Dani, yang telah membantu memberikan informasi kepada penulis.

14. Ibu Yul dan Ayah Endi tercinta yang telah memberikan kasih sayangnya dengan tulus, mendoakanku sepenuh hati, memberi dukungan yang tiada henti, serta yang telah memberikan segala yang terbaik untukku.

(16)

dapat kusebutkan satu persatu, terimakasih untuk doa, dukungan, semangat, keceriaan serta kebersamaannya selama ini.

16. Sahabat dan teman-teman terbaikku Susi, Cici, Yuli, Icha, Ratna, Melan, Mb dita, Isra, Heni, Ocni, Ulan, Dedew, Tiwi Terimakasih untuk

kebersamaan, keceriaan dan dukungannya selama ini.

17. Teman-teman kos Melan, Ica, Lia, Tutut, Ami, dan Tia terimakasih untuk kekeluargaaan, kebersamaan dan semangatnya.

18. Seluruh rekan-rekan Pendidikan Ekonomi Angkatan 2011, Arrum, Awid, Mbole, Defa, Rini, Eka, Anidut, Yusmai, Esti, Yona, Ajeng, Mb Rika, Yayuk, Irfan, Wayan, Wahyu, Fredi, Irvan, Komar, Edi, Sandi, Tomi, Ramadhan, Yuda, Andre, Endah, Lia, Ani, Anida dan yang lainnya, serta kakak tingkat angkatan 2008, 2009, 2010, dan adik tingkat 2012, 2013, 2014.

19. Keluarga besar KKN-KT Pekon Banjar Negara Kec. Wonosobo Tanggamus, Icut, Nenek Cibon, Bila, Ummu, Kida, Mak Puri, Endang Bejog, Kakek Heri, Pai, terimakasih untuk kekeluargaan, persahabatan, kebersamaan, dan kekompakannya.

20. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.

Penulis berharap semoga Allah SWT senantiasa membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang

(17)
(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan hidup manusia, karena pendidikan merupakan suatu wadah aktivitas dalam memperoleh dan menyampaikan ilmu pengetahuan yang dimungkinkan akan dapat meneruskan suatu budaya yang kita anut ke generasi berikutnya. Senada dengan yang dikatakan Juhri (2009: 11) bahwa pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus tak terputus dari suatu generasi ke generasi berikutnya, dimanapun di dunia ini. Pendidikan juga menempati posisi sentral dalam pembangunan sebuah bangsa karena tujuan pendidikan itu sendiri ialah meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

(19)

dengan tujuan pendidikan nasional yang tertera di dalam UU RI No 20 tahun 2003 pasal 3, tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Begitu penting peran pendidikan dalam pembangunan suatu bangsa. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi setiap negara untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan di Indonesia sendiri masih tergolong rendah. Banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan, salah satunya ialah dengan menerapkan kurikulum 2013. Tema dari kurikulum ini yaitu sebagai kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Kurikulum 2013 juga menekan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.

(20)

Guru merupakan pengajar yang mengelola jalannya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Seorang guru dituntut untuk dapat membimbing dan membantu peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan peserta didik yang memiliki kemampuan, kreatif dan dapat menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupannya. Guru harus mampu mengaktualisasikan model pembelajaran yang variatif kepada peserta didik sehingga dapat mendorong peserta didik untuk berperan aktif, inovatif, kreatif, dan kritis dalam proses pembelajaran. Pada kenyataanya guru kurang memahami tentang berbagai macam model pembelajaran juga penerapannya dan cenderung masih menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran.

(21)

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu merupakan gabungan dari beberapa Ilmu-Ilmu Sosial seperti Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Hukum, Politik dan sebagainya. Tujuan utama dari Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Terbentuknya tujuan tersebut karena tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri, setiap manusia pasti akan berhubungan dengan lingkungan sekitar dan berhadapan dengan masalah-masalah yang ada di dalamnya. Mata pelajaran IPS Terpadu membantu peserta didik membahas tentang masalah-masalah yang terjadi dilingkungan sosial masyarakat dan cara memecahkan masalah tersebut sehingga untuk masa mendatang peserta didik diharapkan mampu meyelesaikan masalah yang terjadi di kehidupannya. Melihat hal tersebut, maka mata pelajaran IPS Terpadu menjadi sangat penting untuk dipelajari. Pada kenyataanya proses pembelajaran IPS Terpadu disekolah cenderung membosankan karena biasanya peserta didik hanya menerima apa yang diberikan guru. Agar peserta didik tidak jenuh maka guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran yang bervariasi dan disesuaikan dengan materi pelajaran.

(22)

Namun, saat proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung pasif hal ini terlihat ketika guru mengajukan pertanyaan, hanya beberapa siswa yang mencoba menjawab. Guru juga sesekali menerapkan model pembelajaran yang dapat mendorong siswa aktif namun model pembelajaran yang diterapkan guru kurang variatif.

Setelah melakukan observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran di SMP Negeri 2 Metro maka diketahui bahwa rata-rata hasil belajar IPS Terpadu siswa kelas VIII masih tergolong rendah. Berikut merupakan rata-rata hasil belajar siswa yang tercatat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Ulangan Mid Semester Ganjil Siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Metro Tahun Pelajaran 2014/2015

No. Kelas Interval Nilai Jumlah

Siswa

<76 ≥76

1. VIII A 17 13 30

2. VIII B 19 11 30

3. VIII C 17 11 28

4. VIII D 22 8 30

5. VIII E 24 7 31

6. VIII F 20 9 29

7. VIII G 17 11 28

8. VIII H 21 8 29

Jumlah Siswa 157 78 235

Persentase 66,81 33,19 100

Sumber: Guru Mata Pelajaran IPS Terpadu SMP Negeri 2 Metro

(23)

siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 157 atau 66,81%. Hal ini berarti hasil belajar IPS Terpadu siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Metro tergolong rendah. Sesuai dengan pendapat Djamarah (2006: 128), apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 65% dikuasai siswa maka persentase keberhasilan siswa pada mata pelajaran tersebut tergolong rendah.

Berhasil atau tidaknya pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa bergantung pada bagaimana proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Rendahnya hasil belajar IPS Terpadu kelas VIII diduga karena kurangnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang diterapkan oleh guru diduga menggunakan metode ceramah disertai dengan adanya pertanyaan yang diajukan guru. Siswa dalam pembelajaran ini cenderung pasif terlihat ketika guru mengajukan pertanyaan hanya beberapa orang siswa yang mampu menjawab. Salah satu upaya agar suasana belajar menjadi lebih aktif dan menyenangkan maka, guru sebaiknya lebih memperhatikan proses pembelajaran karena proses pembelajaran yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula. Guru sebaiknya memilih model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa.

(24)

Daryanto (2014: 15) mengemukakan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dari berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum, atau prinsip yang “ditemukan”.

Pendekatan pembelajaran ini tidak hanya dapat meningkatkan keaktifan siswa tetapi juga dapat membimbing siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dunia nyata serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Sardiman (2005: 75) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai. Dengan demikian, maka motivasi belajar diduga dapat mempengaruhi hasil belajar.

Menurut Sani (2014: 76), terdapat beberapa model pembelajaran yang cocok dengan pendekatan saintifik diantaranya Problem Based Learning, Project Based Learning serta Discovery Learning. Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kegiatan pembelajaran tidak akan membosankan jika guru menggunakan model pembelajaran secara bervariasi.

(25)

juga diduga cocok diterapkan pada mata pelajaran IPS Terpadu karena kedua model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah inilah yang nantinya dapat berguna bagi peserta didik untuk menghadapi permasalahan sosial yang terjadi di dunia nyata.

Problem Based Learning atau yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual dalam pembelajarannya sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar (Majid, 2014: 162). Model pembelajaran ini mendorong siswa untuk berperan aktif dalam melakukan penyelidikan dan penyelesaian permasalahan sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Model pembelajaran Problem Based Learning bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah.

Menurut Sani (2014: 172) Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat dan lingkungan. Model pembelajaran ini dapat menjadikan siswa lebih produktif, inovatif dan kreatif.

(26)

yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan sekolah. Penerapan model pembelajaran ini juga diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah yang dapat berguna dalam menghadapi permasalahan dunia nyata.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka hendak dikaji lebih lanjut tentang “Studi Perbandingan Hasil Belajar IPS Terpadu Siswa dengan Menggunakan

Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning dengan Memperhatikan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Metro Tahun Ajaran 2014/2015”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut. 1. Hasil belajar IPS Terpadu siswa SMP Negeri 2 Metro yang masih

tergolong rendah. Hal ini tampak dari masih banyaknya siswa yang tidak mencapai standar ketuntasan belajar yang telah ditetapkan sekolah.

2. Masih banyak guru yang menerapkan metode ceramah dalam proses pembelajarannya.

3. Masih banyaknya siswa yang kurang antusias mengerjakan tugas yang diberikan guru.

4. Penerapan model pembelajaran yang kurang variatif sehingga menyebabkan siswa mudah jenuh.

(27)

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan, terlihat bahwa hasil belajar IPS Terpadu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam maupun dari luar diri individu siswa. Penelitian ini dibatasi pada perbandingan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learningdengan memperhatikan motivasi belajar siswa.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah.

1. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar IPS Terpadu antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning?

2. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar IPS Terpadu bagi siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan rendah?

3. Apakah hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learning pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi?

(28)

5. Apakah terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah.

1. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learning pada mata pelajaran IPS Terpadu.

2. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS Terpadu bagi siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan rendah.

3. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learningpada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi.

4. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learning lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learningpada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.

(29)

F. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Secara Teoritis

a. Untuk melengkapi dan memperkaya khasanah keilmuan serta teori yang telah diperoleh sebelumnya.

b. Sebagai referensi bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian berkaitan dengan model pembelajaran yang diterapkan pada mata pelajaran IPS Terpadu.

2. Secara Praktis

a. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan yang bermanfaat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran disekolah.

b. Bagi guru, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan sumbangan pemikiran dalam pemilihan variasi model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar.

(30)

G. Ruang Lingkup Penelitian

1. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL), variabel moderator (Motivasi Belajar), hasil belajar IPS Terpadu.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII. 3. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Metro tahun pelajaran 2014/2015 pada semester genap.

4. Ruang Lingkup Ilmu

(31)

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Belajar

Belajar merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi setiap manusia. Dengan belajar maka seseorang akan mengalami perubahan, dari yang kurang paham menjadi paham, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari yang tidak bisa menjadi bisa. Menurut Hamalik (2001: 28) belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Senada dengan pendapat tersebut, Majid (2014: 63) menjelaskan bahwa, belajar pada dasarnya adalah tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

(32)

Hal terpenting dalam belajar adalah proses belajar itu sendiri, karena melalui proses belajar yang baik tentunya akan memperoleh hasil yang baik pula. Dibawah ini terdapat beberapa teori mengenai proses belajar antara lain.

a. Teori Behavioristik

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar apabila yang bersangkutan telah menunjukkan prilakunya. Menurut teori ini yang terpenting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa dan respon adalah berupa tanggapan atau reaksi siswa tersebut. Teori ini diduga akan menjadikan siswa sebagai pribadi yang pasif (Karwono dan Mularsih, 2012: 54).

b. Teori Kognitif

(33)

c. Teori Konstruktivisme

Menurut pandangan teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan yang aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Reigeluth dalam Karwono dan Mularsih (2012: 54) menyatakan bahwa konsep konstruktivisme dalam belajar, yaitu suatu pengetahuan merupakan konstruk secara individual dan konstruk sosial oleh peserta didik sendiri berdasarkan pada interpretasi dan pengalamannya. Jadi dalam teori ini pembelajaran sebagai proses konstruk pengetahuan menekankan pada keaktifan siswa untuk membangun pengetahuan tersebut dalam pikirannya baik secara individual maupun sosial. Sedangkan guru hanya sebagai motivator dan fasilitator.

(34)

Slameto (2010: 27-28) mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut.

a. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar

1) Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.

2) Belajar harus dapat menimbulkanreinforcementdan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.

3) Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.

4) Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya. b. Sesuai hakikat belajar

1) Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.

2) Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.

3) Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan respons yang diharapkan.

c. Sesuai materi/bahan yang harus dipelajari

1) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.

2) Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan intruksional yang harus dicapainya.

d. Syarat keberhasilan belajar

1) Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.

2) Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa.

Driscoll dalam Uno (2012: 15) menyebutkan ada dua hal yang harus diperhatikan dalam belajar, yaitu belajar adalah suatu perubahan yang menetap dalam kinerja seseorang dan hasil belajar yang muncul dalam diri siswa merupakan hasil interaksi siswa dengan lingkungannya.

(35)

Perubahan itu ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, kemampuan, pemahaman, daya pikir, keterampilan, dan lain sebagainya.

2. Hasil Belajar

Bukti bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan inilah yang dinamakan dengan hasil belajar. Biasanya hasil belajar diketahui dengan melakukan tes setelah melewati kegiatan belajar. Menurut Uno (2012: 17), hasil belajar adalah pengalaman-pengalaman belajar yang diperoleh siswa dalam bentuk kemampuan-kemampuan tertentu.

Penilaian hasil belajar yang ditentukan dalam proses pembelajaran di sekolah mencakup tiga ranah yaitu afektif, kogniktif dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut dijelaskan oleh Latuheru (2002: 68) sebagai berikut. a. Cognitif Domain(Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang

menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

b. Affective Domain (Ranah Afektif), berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hasil belajar atau kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif.

(36)

Setiap orang yang mengalami proses belajar tentunya ingin memperoleh hasil yang baik. Hasil pembelajaran itu dapat dikatakan baik, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan siswa. b. Hasil belajar itu merupakan pengetahuan asli. Hasil dari proses belajar

mengajar itu bagi siswa seolah-olah telah merupakan bagian kepribadian bagi diri setiap siswa, sehingga akan dapat mempengaruhi pandangan dan cara mendekati suatu permasalahan. Sebab pengetahuan itu dihayati dan penuh makna bagi dirinya.

Gagne dalam Suprijono (2012: 5) menyatakan hasil belajar berupa.

a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempersentasikan konsep dan lambang.

c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.

(37)

3. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Daryanto (2014: 51) mengemukkan bahwa, pendekatan saintifik adalan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dari berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum, atau prinsip yang “ditemukan”.

Pendekatan ini berpusat pada siswa, sehingga menuntut siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Hal ini dimaksud agar siswa mampu mengembangkan karakter dirinya, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah.

Menurut (Daryanto, 2014: 53) pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut.

a. Berpusat pada siswa.

b. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.

c. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.

d. Dapat mengembangkan karakter siswa.

(38)

Pendekatan saintifik bercirikan dengan adanya pengamatan, penemuan, penalaran, pengabsahan serta penjelasan tentang suatu kebenaran. Maka proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik melibatkan proses mengamati, menanya, menalar, mencoba, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Pendekatan saintifik sengaja dikembangkan untuk menumbuhkan sikap, pengetahuan serta keterampilan siswa sehingga dapat menghasilkan siswa yang produktif, kreatif, afektif dan inovatif.

4. Model PembelajaranProblem Based Learning

Menurut Majid (2014:162) Problem Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah konstektual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Senada dengan pendapat di atas, Barrow dalam Huda (2013: 271) mendefinisikan Problem Based Learning sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah.

Selanjutnya Abidin (2014: 160) menyatakan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menyediakan pengalaman otentik yang mendorong siswa untuk belajar aktif, mengonstruksi pengetahuan, dan mengintegrasikan konteks belajar di sekolah dan belajar di kehidupan nyata secara alamiah.

(39)

mendukung pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik (Sani, 2014: 136). Model Problem Based Learning menuntut siswanya untuk berperan aktif dalam pembelajaran, sementara guru hanya sebagai fasilitator. Pada model pembelajaran ini siswa akan dihadapkan dengan permasalahan yang terdapat dalam kehidupan nyata.

Problem Based Learning didasarkan atas teori konstruktivisme. Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan siswa terbentuk berdasarkan pengalamannya sendiri. Teori ini menuntut siswa untuk aktif membangun pengetahuannya lewat interaksi dengan lingkungannya. Menurut Sani (2014: 127)Problem Based Learningdapat membuat siswa belajar melalui upaya penyelesaian permasalahan dunia nyata secara terstruktur untuk mengonstruksi pengetahuan siswa.

Daryanto (2014: 30) mengemukakan tujuan dari Problem Based Learning adalah sebagai berikut.

a. Problem Based Learning ini ditunjukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

b. Bentuk Problem Based Learning penting dalam menjembatani jarak antara pembelajaran di sekolah formal dengan aktivit as mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah.

c. Siswa dapat belajar mengarahkan dan menentukan sendiri apa yang harus dipelajari dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru.

Sani (2014: 153) menyatakan bahwa, tahap pembelajaran yang diusulkan dengan modelProblem Based Learningadalah sebagai berikut.

(40)

b. Siswa mendiskusikan permasalahan dalam kelompok kecil. Kelompok mengklarifikasi fakta dan mencari hubungan dengan konsep yang relevan. Anggota kelompok melakukan curah pendapat berdasarkan pengetahuan awal mereka dalam upaya memahami permasalahan dan mengajukan usulan solusi. Kelompok mengidentifikasi hal-hal yang belum mereka pahami dan perlu dipelajari untuk menyelesaikan masalah.

c. Siswa atau kelompok membuat perencanaan untuk menyelesaikan permasalahan. Anggota kelompok berbagi peran untuk mempelajari fakta dan konsep atau mempersiapkan kegiatan eksplorasi.

d. Masing-masing siswa melakukan penelusuran informasi atau observasi berdasarkan tugas yang telah ditetapkan dalam diskusi kelompok. Data yang diperoleh melalui perpustakaan, internet, pengamatan, wawancara, dan sumber lainnya.

e. Siswa kembali melakukan diskusi kelompok dan berbagi informasi. Informasi atau pengamatan yang diperoleh digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dikaji.

f. Kelompok menyajikan solusi permasalahan kepada teman sekelas dan teman lainnya menanggapi.

g. Anggota kelompok melakukan pengkajian ulang (review) terhadap proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan dan menilai kontribusi dari masing-masing anggota.

Setiap model pembelajaran pasti memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri begitu pula dengan model pembelajaran berbasis masalah. Beberapa keunggulan Problem Based Learning dikemukakan oleh Delisle dalam Abidin (2014: 162) sebagai berikut.

a. Berhubungan dengan situasi kehidupan nyata sehingga pembelajaran menjadi bermakna.

b. Mendorong siswa untuk belajar secara aktif.

c. Mendorong lahirnya berbagai pendekatan belajar secara interdisipliner.

d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih apa yang akan dipelajari dan bagaimana mempelajarinya.

(41)

Selanjutnya Sanjaya (2007: 221) menyatakan kelemahan Problem Based Learningadalah sebagai berikut.

a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

(42)

5. Model PembelajaranProject Based Learning

Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai inti pembelajaran. Model pembelajaran ini bersifat inovatif dan berpusat pada siswa dimana siswa akan dihadapkan dengan permasalahan yang terjadi di dunia nyata dan diminta untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara mereka sendiri. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan Sani (2014: 172) bahwa Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat atau lingkungan.

Pada dasarnya Project Based Learning memungkinkan siswa melakukan aktivitas belajar seperti bertanya, melakukan pengamatan, melakukan percobaan, menalar dan menjalin hubungan dengan orang lain sebagai upaya untuk memperoleh informasi. Model pembelajaran ini mencakup kegiatan menyelesaikan masalah, pengambilan keputusan, keterampilan melakukan penyelidikan, dan keterampilan membuat karya. Karya yang dibuat dalam pembelajaran ini dapat berupa suatu produk sederhana, tulisan karya ilmiah, video, dan lain sebagainya yang terkait dengan kebutuhan masyarakat.

(43)

anak secara aktif membangun pengetahuan dengan cara terus menerus mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru.

Stripling dalam Sani (2014: 173-174) memaparkan karakteristik Project Based Learningyang efektif adalah sebagai berikut.

a. Mengarahkan siswa untuk menginvestigasi ide dan pertanyaan penting.

b. Merupakan proses inkuiri.

c. Terkait dengan kebutuhan dan minat siswa.

d. Berpusat pada siswa dengan membuat produk dan melakukan presentasi secara mandiri.

e. Menggunakan keterampilan berpikir kreatif, kritis, dan mencari informasi untuk melakukan investigasi, menarik kesimpulan, dan menghasilkan produk.

f. Terkait dengan permasalahan dan isu dunia nyata yang autentik.

MacDonell dalam Abidin (2014: 169) menjelaskan bahwa Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan tingkat pengembangan berpikir siswa dengan berpusat pada aktivitas belajar siswa sehingga memungkinkan mereka untuk beraktivitas sesuai dengan keterampilan, kenyamanan dan minat belajarnya.

(44)

kemampuan berkomunikasi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, selain itu siswa juga akan memperoleh kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik sehingga siswa siap menghadapi era globalisasi ini.

Model pembelajaran ini memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan pembelajaran berbasis proyek yaitu.

a. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.

b. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

c. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.

d. Meningkatkan kolaborasi.

e. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan memperaktikkan keterampilan komunikasi.

f. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber belajar.

g. Memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

h. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. i. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan

menunjukkan pengetahuan yang dimiliki kemudian diterapkan dalam dunia nyata.

j. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

Selanjutnya, kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek (PjBL) antara lain.

a. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. b. Membutuhkan biaya yang cukup banyak.

c. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana instruktur memegang peran utama di kelas.

d. Banyak peralatan yang harus disediakan.

(45)

f. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.

g. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.

(Daryanto, 2014: 25-26)

Sani (2014: 180) menjelaskan tentang tahapan pembelajaran berbasis proyek yaitu.

a. Tahap awal pembelajaran adalah menyampaikan tujuan pembelajaran, kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik, dan materi ajar yang harus dikuasai.

b. Peserta didik membentuk kelompok belajar dan mengidentifikasi permasalahan yang ada dilingkungan atau masyarakat yang terkait dengan tujuan pembelajaran atau materi pembelajaran.

c. Kelompok belajar membuat rencana atau rancangan karya untuk mengatasi permasalahan atau menjawab pertanyaan yang akan diidentifikasi.

d. Siswa mengerjakan proyek dan berupaya memahami konsep serta prinsip yang terkait dengan materi ajar secara mendalam.

e. Tahap terakhir pembelajaran berbasis proyek adalah menampilkan atau memamerkan proyek yang telah dibuat.

6. Motivasi Belajar

(46)

Menurut Uno (2012: 23) indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a. Adanya hasrat ingin berhasil.

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar. c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan. d. Adanya penghargaan dalam belajar.

e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.

f. Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.

Fungsi motivasi menurut Hamalik (2001: 161) adalah sebagai berikut. a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan.

b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak.

Juhri (2009: 113) berpendapat bahwa, motivasi belajar merupakan jantung kegiatan belajar, suatu pendorong yang membuat seseorang belajar. Keras tidaknya usaha belajar yang dilakukan oleh seseorang bergantung kepada besar tidaknya motivasi belajar itu. Oleh karena itu, maka keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya motivasi yang dimiliki. Semakin tinggi motivasi yang ada dalam diri seseorang untuk belajar, maka semakin besar pula tingkat keberhasilan belajarnya dan sebaliknya semakin rendah motivasi belajar seseorang maka semakin rendah pula tingkat keberhasilan belajarnya.

(47)

Frandsen dalam Suryabrata (2006: 236) mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut.

a. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas. b. Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk

selalu maju.

c. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman.

d. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi. e. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai

pelajaran.

f. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.

Motivasi belajar dapat timbul dengan adanya dorongan dari dalam maupun dari luar diri seseorang yang sedang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Uno (2012: 23) bahwa, motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita dan faktor ekstrinsik berupa penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik.

(48)

B. Penelitian yang Relevan

Tabel 2. Penelitian yang Relevan

No. Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

1. Helita PjBL, (2) Sikap jujur siswa pada model PBL lebih tinggi dibandingkan pada model PjBL, (3) Sikap tanggung jawab siswa model PjBL lebih tinggi dibandingkan pada PBL, (4) Sikap kerjasama siswa pada model PBL lebih tinggi

dibandingkan pada model PjBL, (5) Sikap santun siswa pada model PBL lebih tinggi dibandingkan pada model PjBL, (6) Sikap Percayadiri siswa pada model PBL lebih tinggi dibandingkan pada bidang studi IPA/ fisika siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Jetis, sehubungan digunakannya modelProblem Based Learning (PBL) dengan pembelajaran konvensional/ tanpa PBL,hasil uji hipotesis ditemukan nilai F hitung sebesar 41,531 dan signifikansi sebesar 0,000, maka Ho ditolak dan H1 diterima.

(49)

Tabel. 2 Lanjutan

No. Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

Masalah dan Hasil siklus 1 sebesar 63,47 (C+) meningkat pada siklus 2 menjadi 79,03 (B+). Rata- rata nilai afektif siswa pada siklus 1 sebesar 60,26 (C) meningkat pada siklus 2 menjadi 81,30 (A). Rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa siklus 1 yaitu 63,7 (C+) meningkat pada siklus 2 menjadi 81,18 (A). (1) Ada pengaruh yang positif dan signifikan motivasi belajar terhadap hasil belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII MTsN Poncowati sebesar 26,3%; (2) Ada pengaruh yang positif dan signifikan cara

belajar terhadap hasil belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII MTsN Poncowati sebesar 24,3%; (3) Ada pengaruh yang positif dan signifikan motivasi belajar dan cara belajar terhadap hasil belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII MTsN

Poncowati sebesar 46,9%.

(50)

Tabel 2. Lanjutan

No. Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

(70% memperoleh nilai di atas 75 dan 6 orang (30%) masih memperoleh nilai dibawah 75,sedangkan pada siklus 2 jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas 75 meningkat menjadi 19 orang (95%) dan siswa yang memperoleh nilai dibawah 75 menurun menjadi 1 orang (5%),dan didukung oleh uji t-test hasil belajar bidang kognitif diketahui nilai

probabilitas atausig< 0,05 yaitu 0,000 maka hipotesis nol siswa yang belajar dengan model PBL dan konvensional. 2)

Terdapat perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang belajar dengan model PBL dan model konvensional di

kelompok siswa bermotivasi tinggi dan rendah. 3) Terdapat interaksi antara model dengan motivasi belajar yang

berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

C. Kerangka Pikir

Proses dari suatu kegiatan sangat menentukan tingkat keberhasilan seseorang

dalam mencapai suatu tujuan. Pada kegiatan pembelajaran, pemilihan model

(51)

keberhasilan siswa. Pemilihan dan penerapan model pembelajaran yang tepat

dapat meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar.

Model pembelajaran yang dapat meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar adalah model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga dapat membuat siswa tertarik dan menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Namun pada kenyataannya, belum banyak guru yang menerapkan model pembelajaran tersebut. Guru cenderung lebih suka menerapkan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah. Pada penerapannya model pembelajaran ini lebih bersifat satu arah yaitu guru sebagai pusat dalam belajar. Guru secara aktif menerangkan pelajaran sedangkan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru.

Penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keberhasilan siswa tentunya harus dilakukan. Dewasa ini, sudah banyak variasi model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan membuat siswa tertarik untuk belajar diantaranya yaitu model pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran dengan pendekatan saintifik tidak menjadikan guru sebagai pusat pemberi materi, guru hanya sebagai fasilitator, disini siswa yang memiliki peran dominan dalam pembelajaran.

(52)

memiliki motivasi rendah akan beranggapan bahwa kegagalan terjadi akibat kurangnya kemampuan tanpa melihat usaha yang telah dilakukan.

Variabel bebas (independen) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS Terpadu. Hasil belajar dengan menerapkan model PBL dan hasil belajar dengan menerapkan model PjBL. Pada penelitian ini juga terdapat variabel moderator yaitu motivasi belajar, yang dibedakan menjadi motivasi belajar tinggi dan rendah.

(53)

127). Teori lain yang juga mendukung pembelajaran berbasis masalah adalah teori penemuan Bruner. Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya sehingga menghasilkan pengetahuan yang bermakna.

Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan. Pada model pembelajaran ini siswa berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Berbeda dari PBL yang lebih menekankan pada proses penyelesaian masalah, model PjBL justru lebih menekankan pada produk atau karya yang dihasilkan. Seperti PBL, model pembelajaran berbasis proyek juga didukung pada teori kontruktivisme (Sani, 2014: 173). Pembelajaran ini dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam membuat perencanaan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan. Project Based Learningjuga dilandaskan oleh teori aktivitas. Teori ini, dalam kegiatan pembelajarannya lebih menekankan pada kegiatan aktif siswa dalam bentuk melakukan sesuatu (doing)daripada kegiatan pasif menerima transfer pengetahuan dari guru.

(54)

ingin dicapai seseorang dan perkiraannya bahwa tindakan tersebut akan mengarah kepada hasil yang diinginkan itu. Teori ini menyatakan tinggi rendahnya motivasi ditentukan oleh harapan. Apabila seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperolehnya cukup besar, maka orang tersebut akan terdorong untuk memperolehnya. Sebaliknya, bila harapan dalam memperoleh hal yang diinginkan kecil, maka motivasinya juga akan menjadi rendah. Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut

Gambar 1. Kerangka Pikir

D. Anggapan Dasar Hipotesis

Pada pelaksanaan penelitian ini, peneliti memiliki anggapan dasar, yaitu. 1. Seluruh siswa kelas VIII semester genap memiliki kemampuan akademis

yang relatif sama dalam mata pelajaran IPS Terpadu. Model Pembelajaran

Motivasi Belajar

Tinggi

Model Pembelajaran Project Based

Learning Model Pembelajaran

Problem Based Learning

Motivasi Belajar

Hasil Belajar

Tinggi

(55)

2. Kelas yang diberi pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan model pembelajaranProject Based Learning diajarkan oleh guru yang sama.

3. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar kognitif IPS Terpadu selain motivasi belajar, model pembelajaran Problem Based Learningdan model pembelajaranProject Based Learning, diabaikan.

E. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah.

1. Terdapat perbedaan hasil belajar IPS Terpadu antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning.

2. Terdapat perbedaan hasil belajar IPS Terpadu bagi siswa yang memilik motivasi belajar tinggi dan rendah.

3. Hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learning pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi.

4. Hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajar dengan model pembelajaran Project Based Learning lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.

(56)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2010: 6) metode penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen dengan pendekatan komparatif. Menurut Sugiyono (2011: 7) penelitian eksperimen yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu

terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Tujuan

umum dari penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh suatu

perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibandingkan

(57)

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

komparatif. Pendekatan komparatif merupakan suatu pendekatan yang bersifat membandingkan. Metode ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dicapai yaitu mengetahui perbedaan suatu variabel, yaitu hasil belajar IPS Terpadu dengan perlakuan yang berbeda.

1. Desain Eksperimen

Penelitian ini bersifat eksperimental semu (quasi experimental design) dengan pola treatment by level design. Penelitian kuasi eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang mendekati eksperimen atau eksperimen semu. Menurut Sukardi (2003: 16) penelitian ini banyak digunakan dibidang ilmu pendidikan atau penelitian lain dengan subjek yang diteliti adalah manusia. Pola treatment by level design digunakan untuk variabel moderator (motivasi belajar) karena dalam hal ini hanya model pembelajaran yang diberi perlakuan terhadap hasil belajar.

(58)

dikemukakan vroom bahwa motivasi merupakan akibat suatu hasil yang ingin dicapai seseorang dan perkiraannya bahwa tindakan tersebut akan mengarah kepada hasil yang diinginkan itu. Apabila seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperolehnya cukup besar, maka orang tersebut akan terdorong untuk memperolehnya. Sebaliknya, bila harapan dalam memperoleh hal yang diinginkan kecil, maka motivasinya juga akan menjadi rendah. Desain penelitian digambarkan sebagai berikut:

Model Pembelajaran Motivasi

Belajar

Model Pembelajaran Problem Based

Learning

Model Pembelajaran Project Based

Learning

Tinggi Hasil belajar > Hasil belajar IPS Terpadu IPS Terpadu Rendah Hasil belajar < Hasil belajar IPS Terpadu IPS Terpadu Gambar 2. Desain Penelitian

2. Prosedur Penelitian

Prosedur yang ditempuh dalam penelitian ini adalah.

(59)

b. Menetapkan sampel penelitian yang dilakukan dengan teknik cluster random sampling yaitu pengambilan sampel penelitian secara acak berdasarkan kelompok-kelompok yang sudah ada, bukan secara individu.Jumlah kelas VIII di SMP Negeri 2 yaitu 8 kelas yang terdiri dari kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII E, VIII F, VIII G dan VIII H dengan populasi siswa kelas VIII sebanyak 235. Kelas VIII A dan kelas VIII B terpilih sebagai sampel penelitian. Kemudian menentukan kelas yang akan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning yaitu kelas VIII B dan kelas yang akan menggunakan modelProject Based Learningyaitu kelas VIII A.

c. Membuat angket untuk memperoleh data tentang motivasi belajar siswa.

d. Memberikan perlakuan berbeda antar kelas. Pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, guru menerapkan model pembelajaran yang berbeda. Guru menerapkan model Problem Based Learning dan Project Based Learning. Pada akhir pembelajaran guru membimbing siswa untuk dapat menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan.

e. Langkah dalam menerapkan model Problem Based Learning adalah sebagai berikut.

1) Guru menyampaikan permasalahan kepada siswa atau siswa mengajukan permasalahan yang relevan dengan topik yang akan dikaji.

(60)

konsep yang relevan. Anggota kelompok melakukan curah pendapat berdasarkan pengetahuan awal mereka dalam upaya memahami permasalahan dan mengajukan usulan solusi. Kelompok mengidentifikasi hal-hal yang belum mereka pahami dan perlu dipelajari untuk menyelesaikan masalah.

3) Siswa atau kelompok membuat perencanaan untuk menyelesaikan permasalahan. Anggota kelompok berbagi peran untuk mempelajari fakta dan konsep atau mempersiapkan kegiatan eksplorasi.

4) Masing-masing siswa melakukan penelusuran informasi atau observasi berdasarkan tugas yang telah ditetapkan dalam diskusi kelompok. Data yang diperoleh melalui perpustakaan, internet, pengamatan, wawancara, dan sumber lainnya.

5) Siswa kembali melakukan diskusi kelompok dan berbagi informasi. Informasi atau pengamatan yang diperoleh digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dikaji.

6) Kelompok menyajikan solusi permasalahan kepada teman sekelas dan teman lainnya menanggapi.

7) Anggota kelompok melakukan pengkajian ulang (review) terhadap proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan dan menilai kontribusi dari masing-masing anggota.

(61)

1) Tahap pertama pembelajaran adalah menyampaikan tujuan pembelajaran, kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik, dan materi ajar yang harus dikuasai.

2) Peserta didik membentuk kelompok belajar dan mengidentifikasi permasalahan yang ada dilingkungan atau masyarakat yang terkait dengan tujuan pembelajaran atau materi pembelajaran.

3) Kelompok belajar membuat rencana atau rancangan karya untuk mengatasi permasalahan atau menjawab pertanyaan yang diidentifikasi.

4) Siswa mengerjakan proyek dan berupaya memahami konsep serta prinsip yang terkait dengan materi ajar secara mendalam.

5) Tahap terakhir pembelajaran berbasis proyek adalah menampilkan atau memamerkan proyek yang telah dibuat.

g. Pertemuan pada setiap kelas sama yaitu 6 kali pertemuan.

h. Melakukan tes akhir/post test pada kedua kelompok subjek untuk mengetahui tingkat kondisi subjek yang berkenaan dengan variabel dependen.

i. Menguji hipotesis, yaitu mengolah data yang diperoleh dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS sebagai pengaplikasian rumus yang telah ditentukan.

(62)

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Metro Tahun Pelajaran 2014/2015 sebanyak 235 yang terdiri dari 8 kelas.

2. Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Dalam penelitian ini diambil populasi sebanyak 8 kelas yang terdiri dari kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII E, VIII F, VIII G, dan VIII H. Hasil teknik cluster random sampling terpilih kelas VIII A dan VIII B sebagai sampel kemudian kedua kelas tersebut diundi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol serta model pembelajaran yang akan digunakan.

(63)

C. Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan tiga variabel, yaitu variabel bebas (independent), variable terikat (dependent) dan variabel moderator.

1. Variabel bebas (independent)

Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari dua model pembelajaran yaitu model pembelajaran Problem Based Learning sebagai kelas eksperimen dilambangkan dengan (X1) dan model pembelajaran Project

Based Learningsebagai kelas kontrol dilambangkan dengan (X2).

2. Variabel terikat (dependent)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS Terpadu yang dilambangkan dengan (Y). Hasil belajar yang diperoleh melalui model pembelajaranProblem Based Learningsebagai (Y1) dan hasil belajar yang

diperoleh melalui model pembelajaran Project Based Learning sebagai (Y2).

3. Variabel moderator

Variabel moderator dalam penelitian ini adalah motivasi belajar.

D. Definisi Konseptual Variabel

1. Hasil Belajar IPS Terpadu

(64)

2. Model PembelajaranProblem Based Learning

Menurut Abidin (2014: 160) Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menyediakan pengalaman otentik yang mendorong siswa untuk belajar aktif, mengonstruksi pengetahuan, dan mengintegrasikan konteks belajar di sekolah dan belajar di kehidupan nyata secara alamiah. Sedangkan menurut Sutirman (2013: 39) Pembelajaran berbasis masalah adalah proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan sistematik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang diperlukan dalam kehidupan nyata. Sehingga dapat dikatakan bahwa Problem Based Learningmerupakan pembelajaran berbasis masalah yang menutut siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, sementara guru hanya memberikan bimbingan dan arahan.

3. Model PembelajaranProject Based Learning

(65)

4. Motivasi Belajar

Menurut Juhri (2009: 113) motivasi belajar merupakan jantung kegiatan belajar, suatu pendorong yang membuat seseorang belajar. Keras tidaknya usaha belajar yang dilakukan oleh seseorang bergantung kepada besar tidaknya motivasi belajar itu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik (Uno, 2012: 23). Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan yang timbul dari dalam maupun luar diri seseorang untuk melakukan kegiatan belajar.

E. Definisi Operasional Variabel

1. Hasil belajar merupakan pengalaman-pengalaman belajar yang dimiliki seseorang dalam bentuk kemampuan-kemampuan tertentu. Hasil belajar diketahui dengan melakukan tes setelah melewati kegiatan belajar.

2. Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menyajikan masalah sebagai langkah awal pembelajaran. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan siswa, mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan berfikir siswa serta dapat meningkatkan kerjasama siswa.

(66)

kreatifitas siswa. Pada pembelajarannya siswa diminta untuk membuat suatu produk atau proyek yang dapat bermanfaat.

4. Motivasi belajar merupakan dorongan baik dari dalam maupun dari luar diri siswa untuk belajar.

Tabel 3.Definisi Operasional Variabel

Variabel Indikator Pengukuran

Hasil Tes Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu

1. Adanya hasrat ingin berhasil. 2. Adanya dorongan dan

kebutuhan dalam belajar. 3. Adanya harapan dan cita-cita

(67)

F. Teknik Pengumpulan Data

Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah.

1. Observasi

Observasi merupakan metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung (Sudjarwo, 2009: 161). Teknik observasi dilakukan pada saat penelitian pendahuluan untuk mengetahui permasalahan yang terdapat disekolah. Dengan pengamatan langsung diketahui bahwa ketika guru mengajukan pertanyaan, hanya beberapa siswa saja yang antusias untuk menjawab..

2. Wawancara

Wawancara dilakukan peneliti dengan narasumber guru IPS Terpadu kelas VIII ketika penelitian pendahuluan. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang hasil belajar siswa dan masalah-masalah apa yang sering dihadapi siswa maupun guru dalam proses pembelajarannya.

3. Dokumentasi

Gambar

Tabel 1. Hasil Ulangan Mid Semester Ganjil Siswa kelas VIII SMPNegeri 2 Metro Tahun Pelajaran 2014/2015
Tabel 2. Lanjutan
Gambar 1. Kerangka Pikir
Gambar 2. Desain Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas makroinvertebrata bentos pada stasiun dua hingga lima didominasi oleh jenis yang intoleran terhadap pencemaran

Pengisian dokumen medis merupakan perilaku kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam mengisi dokumen rekam medis berisi tentang

memang harus ada di dalam jual beli lada agar harga yang akan diberikan. waktu transaksi tidak berbeda mungkin yang tidak boleh itu kalau

Texas Holdem is a 5 card poker game, but instead of each layer being dealt 7 cards, the dealer deals 5 cards in the center of the table, these cards are used by all the players to

[r]

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis berusaha mengkaji dan menganalisa masalah tersebut dengan menulisnya dalam bentuk skripsi yang berjudul: “ANALISIS

Pendaftaran dan pengambl{an Dokumen Kualifikasi dapat diwakilkan dengan membawa surat tugas dari direKur utama/pimpinan perusahaan/kepala cabang. dan kaftu