ANALISIS PENGARUH FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR),
DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA
SYARIAH (SBIS), DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF)
TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA), PERIODE JANUARI 2009
–
DESEMBER 2012
Oleh:
Dwi Rahayu Sulistianingrum
NIM: 109084000074
JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS ILMU EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ANALISIS PENGARUH FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR), DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS), DAN NON
PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA), PERIODE JANUARI 2009 – DESEMBER 2012
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih
Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Dwi Rahayu Sulistianingrum
NIM: 109084000074
JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS ILMU EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
Nama : Dwi Rahayu Sulistianingrum
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 15 September 1991 Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Mujahidin Rt. 007 Rw. 04 No. 4A, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12250.
Agama : Islam
No. Telepon/HP : -/085717587693
Email : [email protected]
Twitter : @dirabankai
PENDIDIKAN FORMAL
Tingkat Pendidikan Sekolah/Universitas Jurusan Tahun Perguruan Tinggi Universitas Islam
Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
Ilmu Ekonomi
dan Studi
Pembangunan
2009-2013
Sekolah Menengah Atas (SMA)
SMA Negeri 47 Jakarta IPS 2006-2009
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
SMP Negeri 153 Jakarta
2003-2006
Sekolah Dasar (SD) SD Negeri 17 pagi Jakarta
ii
ABSTRACT
This study aimed to analyze the influence of Financing to Deposit Ratio (FDR), Third Party Funds (TPF), Bank Indonesia Sharia Certificate (SBIS), and Non-Performing Financing (NPF) on Return on Assets (ROA) of Islamic banking in Indonesia. Analyses were performed with less menggunakakn monthly time series data published by Bank Indonesia in the study period of 2009 to 2012.
The method used in this study is the Ordinary Least Square (OLS) on the program Eviews 5. The results of this study indicate that the Financing to Deposit Ratio (FDR) has the t-count equal to 5.187609 with a significance level of 0.0000, which means that the partial positive and significant impact on Return on Assets (ROA). While in the Third Party Funds (TPF) obtained t-count equal to -2.985527 with a significance level of 0.0047 which means partially negative and significant impact on Return on Assets (ROA). Next to the Indonesian Bank Syariah Certificate (SBIS) obtained t-count equal to 1.149197 with a significance level of 0.2568, it means that no partial effect on Return on Assets (ROA). In addition, for Non Performing Financing (NPF) obtained t-count equal to -3.026928 with a significance level of 0.0042 which means partially negative and significant impact on Return on Assets (ROA). The regression results also show F-statistic value of 9.447454 with a probability of 0.000014 so it can be concluded that the variable Financing to Deposit Ratio (FDR), Third Party Funds (TPF), Bank Indonesia Sharia Certificate (SBIS), and Non-Performing Financing (NPF) simultaneous or together have an influence on the Return on Assets (ROA) on Islamic banking in Indonesia.
iii
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Return on Asset (ROA) perbankan syariah di Indonesia. Analisis dilakukan dengn menggunakakn data runtun waktu bulanan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia dalam penelitian periode 2009 sampai dengan 2012.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS) pada program Eviews 5. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Financing to Deposit Ratio (FDR) memiliki hasil t-hitung sebesar 5.187609 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.0000, yang berarti secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Asset (ROA). Sedangkan padaDana Pihak Ketiga (DPK) diperoleh t-hitung sebesar-2.985527 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.0047 yang berarti secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return on Asset (ROA). Selanjutnya untuk Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) diperoleh t-hitung sebesar 1.149197 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.2568, itu berarti secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return on Asset (ROA). Selain itu, untuk Non Performing Financing (NPF) diperoleh t-hitung sebesar -3.026928 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.0042 yang berarti secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return on Asset (ROA). Hasil regresi ini juga menunjukkannilai F-statistik sebesar 9.447454 dengan probabilitas sebesar 0.000014 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) secara simultan atau bersama-sama memiliki pengaruh terhadap Return on Asset (ROA) pada perbankan syariah di Indonesia.
iv
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan kehadiat Allah SWT yang telah menurunkan Islam sebagai tuntunan kehidupan yang membawa kepada kesejahteraan, keadilan, keberkahan, dan kesempurnaan dan juga atas segala limpahan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat merasakan nikmat
Islam, nikmat Iman, dan nikmat sehat wal’afiat. Shalawat serta salam senantiasa
tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Salallahu A‟laihi Wassalam, pembawa risalah, penyampai amanah, dan pemberi nasihat kepada umat manusia, serta para sahabat, keluarga dan orang-orang sholeh yang Allah ridhoi.
Hanya karena rahmat, karunia, dan keridhaan-Nya lah penulis memiliki kekuatan, kemauan, kesmpatan, dan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini
yang berjudul “Analisis Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana
Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Return on Asset (ROA), periode Januari 2009 – Desember 2012” dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Bisnis di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Alhamdulillah, dengan
pertolongan dan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, skripsi ini telah selesai,
walupun penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, penulis berharap semoga skripsi ini sedikit banyak mudah-mudahan insya Allah dapat bermanfaat bagi banyak orang, Amin.
v
1. Kedua orang tercinta yaitu Bapak Effendi dan Ibu Ramini, mungkin tiada kata yang dapat menggambarkan beribu-ribu rasa terima kasih saya atas segala hal yang telah diberikan hingga detik ini. Skripsi ini merupakan persembahan untuk kedua orang tua saya agar membuat meraka bangga telah melahirkan anak seperti saya.
2. Kakakku satu-satunya yang tercinta dan tersayang, Nur Mukharromah Hastuti, terima kasih untuk semua hal yang telah diberikan kepada penulis. Terima kasih karena selama ini telah menjadi sorang kakak yang paling baik dan berperan sebagai ibu kedua buat saya dan juga menjadi sahabat terbaik di saat saya membutuhkan tempat untuk mencurahkan hati dan berkeluh kesah. Terima kasih atas saran-saran dan nasehatnya yang sangat bermanfaat bagi saya dan juga untuk tidak pernah lelah mengingatkan saya agar senantiasa berdoa, shalat tepat waktu, puasa sunah, shalat sunah, dan banyak-banyak bersedekah agar segala sesuatu yang dilakukan diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT. Semoga kita berdua bisa memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi keluarga kita ya mba, Amin.
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Dr. Lukman, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), yang telah memberikan dukungan untuk IESP dan semua mahasiswanya.
5. Bapak Dr. Ir. H. Roikhan Mochamad Aziz, MM, sebagai penemu habslm selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak membantu penulisan dalam penyelesaian skripsi ini, juga memberikan motivasi, saran serta ilmunya dalam membimbing sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
vi
sunah, puasa, sedekah dan motivasi spiritual lainnya pada setiap pertemuan bimbingan skripsi.
7. Terima kasih banyak untuk sepupu saya, Nesti dan juga sahabat-sahabatnya (Eva, Eni dan Marsha) yang telah memberikan motivasi, semangat dan pengetahuannya serta berbagai informasi mengenai perkuliahan sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
8. Terima kasih banyak kepada Zona, Rini, Rhomdhon, dan Kana untuk kebersamaannya selama ini, semoga kebersamaan kita bisa terus terjalin dengan baik.
9. Terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan, Lia, Anis, Ratna, Citra, Naila, Ami, Lisa, Putri, dan Okta untuk semangat, keceriaan dan pengalaman yang berharga bagi penulis dalam menjalani kegiatan perkuliahan.
10.Terima kasih juga untuk seluruh teman-teman di IESP angkatan 2009 yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu persatu, semoga kita semua bisa menjadi generasi penerus yang bisa membuat Negara Indonesia ini menjadi lebih baik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi bahasa, isi maupun analisisnya, sehingga penulis sangat berharap atas kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaannya.
Akhirkata, penulis ucapkan Alhamdulillahirrabil‟alamin.
Wassalamu‟alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 5 September 2013
vii
DAFTAR ISI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP i
ABSTRACT ii
ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 10
C. Tujuan Penelitian 10
D. Manfaat Penelitian 11
BAB IITINJAUAN PUSTAKA 13
A. Bank Syariah 13
1. Pengertian Bank Syariah 13
2. Prinsip Bank Syariah 18
3. Produk Penyaluran Dana Bank Syariah 18
4. Produk Penghimpunan Dana Bank Syariah 23
5. Jasa Perbankan 25
B. Return on Asset (ROA) 25
C. Financing to Deposit Ratio (FDR) 29
viii
1. Pengertian Dana Pihak Ketiga (DPK) 32
2. Jenis-Jenis Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Syariah 34
E. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) 36
1. Pengertian Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) 36
2. Karakteristik SBIS 36
3. Ketentuan Hukum SBIS 38
4. Mekanisme Penerbitan SBIS 39
5. Pihak-Pihak dalam Lelang SBIS 39
6. Pembatalan Hasil dan Transaksi Lelang SBIS 40
7. Sanksi SBIS 40
F. Non Performing Financing (NPF) 41
1. Pengertian Non Performing Financing (NPF) 41 2. Penilaian Kesehatan Pembiayaan Bermasalah 42 3. Perhitungan Non Performing Financing (NPF) 43
G. Keterkaitan Antar Variabel 44
1. Keterkaitan Antara Financing to Deposit Ratio (FDR) Dengan
Return on Asset (ROA) 44
2. Keterkaitan Antara Dana Pihak Ketiga (DPK) Dengan Return on
Asset (ROA) 45
3. Keterkaitan Antara Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) Dengan
Return on Asset (ROA) 46
4. Keterkaitan Antara Non Performing Financing (NPF) Dengan
Return on Asset (ROA) 47
H. Penelitian Terdahulu 48
I. Kerangka Berpikir 62
J. Hipotesis 67
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 70
A. Ruang Lingkup Penelitian 70
ix
C. Metode Analisis Data 71
1. Uji Asumsi Klasik 74
a. Uji Normalitas 74
b. Uji Multikolinieritas 75
c. Uji Heteroskedatisitas 76
d. Uji Autokorelasi 77
2. Pengujian Hipotesis Statistik 79
a. Uji Parsial (Uji-t) 79
b. Uji Signifikansi Stimultan (Uji Statistik F) 80
3. Uji Koefiesien Determinasi (Adjusted R2) 81
D. Operasional Variabel Penelitian 81
1. Variabel Dependen (Y) 81
2. Variabel Independen (X) 82
a. Financing to Deposit Ratio (FDR) 82
b. Dana Pihak Ketiga (DPK) 82
c. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) 83
d. Non Performing Financing (NPF) 83
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 84
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian 84
1. Sejarah Perkembangan Bank Syariah di Dunia 84
x
b. Perbankan Syariah Modern 85
2. Perkembangan Bank Syariah di Indonesia 86
3. Perkembangan Return on Asset (ROA) 89
4. Perkembangan Financing to Deposit Ratio (FDR) 91
5. Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) 93
6. Perkembangan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) 95
7. Perkembangan Non Performing Financing (NPF) 97
B. Hasil Analisis dan Pembahasan 98
1. Uji Asumsi Klasik 99
a. Uji Normalitas 99
b. Uji Multikolinieritas 100
c. Uji Heteroskedatisitas 102
d. Uji Autokorelasi 103
2. Pengujian Hipotesis Statistik 104
a. Uji Parsial (Uji-t) 105
b. Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) 107
3. Koefiesien Determinasi 108
C. Analisis Ekonomi 109
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 118
A. Kesimpulan 118
xi
DAFTAR PUSTAKA 121
xii
DAFTAR TABEL
No. Keterangan Halaman
1.1 Komposisi Return on Asset (ROA), FDR, DPK, SBIS, NPF Periode 2009 –
2012 Di Indonesia 7
2.1 Perhitungan NPF Berdasarkan Kemampuan Bayar Nasabah (Debitur) di
Bank Syariah 43
2.2 Penelitian Terdahulu 57
4.1 Uji Normalitas Jarque-Bera 99
4.2 Hasil Uji Correlation Matrix 101
4.3 Hasil Uji White Heteroskedasticity Test 103
xiii
DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Halaman
2.1 Skema SBIS 38
2.2 Kerangka Berpikir 66
4.1 Perkembangan Return on Asset (ROA) Periode Januari 2009 – Desember
2012 90
4.2 Perkembangan Financing to Deposit Ratio (FDR) Periode Januari 2009 –
Desember 2012 91
4.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK Periode Januari 2009 – Desember
2012 93
4.4 Perkembangan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) Periode Januari
2009 – Desember 2012 96
4.5 Perkembangan Non Performing Financing (NPF) Periode Januari 2009 –
Desember 2012 97
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Halaman
1 Data Penelitian Januari 2009 – Desember 2012 127
2 Uji Normalitas 129
3 Uji Multikolinieritas 129
4 Uji Heterokedastisitas 130
5 Uji Autokorelasi 130
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bagi suatu negara bank dapat dikatakan sebagai darahnya perkonomian suatu negara. Oleh karena itu, peranan perbankan sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi suatu negara. Dengan kata lain kemajuan suatu bank di suatu negara dapat pula dijadikan ukuran kemajuan negara yang bersangkutan. Semakin maju suatu negara, maka semakin besar peranan perbankan dalam mengendalikan negara tersebut.Artinya, keberadaan dunia perbankan semakin dibutuhkan pemerintah dan masyarakatnya (Kasmir, 2004:7).
Dengan didirikannya lembaga keuangan seperti perbankan di Indonesia, diharapkan bisa menjadi solusi bagi pihak-pihak yang membutuhkan dana untuk menjalankan perekonomian masyarakat. Selain itu, pendirian bank ini diharapkan tidak hanya sebagai lembaga keuangan yang hanya berorientasi pada laba dan hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan maksimal, tetapi juga harus mempunyai kontribusi di dalam pengembangan ekonomi suatu negara.
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia dimulai pada tahun 1991 ketika berdirinya bank umum syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia. Kemudian, untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian syariah di Indonesia, pemerintah merubah UU Perbankan Syariah No. 7 Tahun 1992 tentang Perbanakan menjadi UU No. 10 Tahun 1998 dimana berisi tentang arahan bagi Bank Konvensional dalam membuka Unit Usaha Syariah (UUS) atau mengkonversi menjadi Bank Umum Syariah
2 (BUS). Namun, hingga memasuki pertengahan tahun 2000 tidak banyak tercatat berdirinya BUS yang baru, tapi hanya sebatas membuka UUS, ini dikarenakan para pakar ekonomi berpendapat bahwa UU No. 10 Tahun 1998 belum sepenuhnya membahas tentang Perbankan Syariah. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Juli 2008 pemerintah berhasil membuat suatu landasan hukum yang secara penuh dan spesifik mengatur tentang perbankan syariah yaitu UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (Antonio, 2011:26).
3 Salah satu indikator performance atau kinerja profitabilitas bank
adalah return on asset (ROA). Rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh
mana asset khususnya aktiva produktif (pembiayaan) yang dimiliki bank dapat
menghasilkan laba yang menjadi tujuan dari bisnis perbankan. ROA
memberikan informasi mengenai efisiensi bank yang dijalankan karena return
on asset (ROA) menunjukkan berapa banyak laba yang dihasilkan secara
rata-rata dari $1 asetnya. (Mishkin, 2008:172)
Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank
tersebut dari segi penggunaan asset (Dendawijaya, 2009:118). Semakin besar
ROA menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena tingkat
pengembalian (return) yang diperoleh semakin besar. Sebagaimana halnya
bank konvensional, bank syariah juga merupakan lembaga keuangan yang
berorientasi pada laba (profit oriented). Laba bukan hanya untuk kepentingan
pemilik atau pendiri, tetapi juga untuk pengembangan usaha. Dalam rangka
mmeningkatkan profitabilitasnya bank syariah menempatkan dana yang telah
dihimpun dalam bentuk kredit atau pembiayaan, baik bersifat jangka pendek
maupun jangka panjang (Muhammad dalam Bambang Agus Pramuka,
2010:64).
Pertumbuhan bisnis perbankan syariah selalu menunjukkan kinerja
positif, dapat dilihat dari dari penghimpunan dana yang selalu meningkat
setiap tahunnya dan meningkat sangat pesat di tahun 2009 dengan
4 tumbuh 22,76%. Meskipun pertumbuhan bisnis perbankan syariah meningkat,
tingkat ROA yang merupakan proksi dari profitabilas selalu mengalami
fluktuasi (Kharisma, 2012:2).
Dalam perkembangan bank syariah di Indonesia memperlihatkan
kinerja yang cukup baik, penghimpunan dana pihak ketiga juga mengalami
kenaikan pesat di atas industri perbankan secara umum. Optimalisasi itu
tercermin dari membaiknya rasio pembiyaan dana pihak ketiga financing to
deposit ratio (FDR) bank syariah yang mencapai 100%, data per desember
2012, asset perbankan syariah mencapai Rp 195.018 triliun meningkat dari
periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 49.551 triliun (BI
Desember, 2012:38).
Tingginya FDR bank syariah ini tidak terlepas dari karakteristik utama
bank syariah yang senantiasa mengaitkan kegiatan perbankan dengan aktivitas
sektor riil, hal ini didasari pada prinsip-prinsip perbankan syariah yang dalam
kegiatan operasionalnya tidak dibenarkan melakukan pembiayaan (investasi)
pada jenis usaha yang dapat menimbulkan kemudharatan, seperti melakukan
masyir, gharar, riba, dan bathil serta ikhtikar (spekulasi), dan lain-lain
(Mariyam, 2009:3).
Peningkatan return on asset (ROA) juga salah satunya berasal dari
sumber dana. Sumber dana yang dimiki perbankan syariah berasal dari modal
inti dan dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah
modal yang paling banyak dihimpun oleh bank dari masyarakat yang berupa
5 Ketiga (DPK) yang terkumpul kemudian akan disalurkan dalam bentuk
pembiayaan, dari pembiayaan tersebut bank akan mendapatkan keuntungan
dimana keuntungan tersebut akan menambah return on asset (ROA) bank.
Dana Pihak Ketiga Bank syariah terdiri dari dua kategori mata uang yaitu
rupiah dan dollar (Muhammad, 2004:162).
Sumber dana merupakan hal terpenting bagi bank untuk dapat
meningkatkan jumlah kredit atau pembiayaan yang akan dilempar ke
masyarakat. Dalam memberikan kredit atau pembiayaan, sektor perbankan
memerlukan ketersediaan sumber dana. Semakin banyak dana yang dimiliki
oleh bank, maka akan semakin besar peluang bank untuk menjalankan
fungsinya. Dana-dana yang dimaksud meliputi dana yang bersumber dari bank
itu sendiri, dana yang bersumber dari lembaga lainnya, dan dana yang
bersumber dari masyarakat (Kasmir, 2002:62).
Dalam menghimpun dana dari masayarakat, bank syariah menawarkan
berbagai macam kemudahan dan jenis simpanan yang dapat dipilih oleh
nasabah. Penghimpun dana di bank syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan
deposito (Karim, 2007:107). Dana yang bersumber dari masyarakat luas atau
dana pihak ketiga (DPK) merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan
opersional suatu bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu
membiayai operasinya dari sumber dana ini (Kasmir, 2010:64).
Bank memerlukan tempat untuk menyalurkan dana-dana yang
terkumpul salah satunya dalam bentuk investasi berupa Sertifikat Bank
6 dikeluarkan Bank Indonesia pada Nomor 10/11/PBI/2008 dengan persetujuan
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia berdasarkan Fatwa
DSN-MUI Nomor 63/DSN-DSN-MUI/XII/2007 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) dan Fatwa DSN-MUI Nomor 64/DSN-MUI/XII/2007 tentang sertifikat
Bank Indonesia Syariah jua‟lah untuk menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS). Bank Indonesia menetapkan imbalan atas Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) yang diterbitkan, imbalan yang diterbitkan tersebut
akan mempengaruhi tingkat return on asset (ROA) bank (Sulistyaningsih,
2012:6).Hadirnya SBIS setidaknya merupakan langkah awal dan sinyal untuk
memantapkan dan meningkatkan industri perbankan syariah dan masalah
penempatan likuiditas. Dengan tingkat pengembalian yang setara atau
mendekati bunga Sertifikat Bank Indonesia membuat pilihan instrumen
investasi ini menarik digunakan disaat perbankan mengalami kelebihan
likuiditas.
Menurut Arifin (2009:199), apabila bank syariah mempunyai
kelebihan dana pada tingkat likuiditas maka dana kelebihan tersebut dapat
dititipkan kepada Bank Indonesia yang dalam operasi moneternya melalui
penerbitan SBIS mengumumkan target penyerapan likuiditas kepada
bank-bank syariah sebagai upaya pengendalian moneter dan menjanjikan imbalan
(reward/‟iwadh,ju‟l) dari bank Indonesia kepada perbankan syariah.
Dalam sebuah teori disebutkan bahwa dana pihak ketiga merupakan
tulang punggung dari kegiatan operasional bank. Dana tersebut akan
7 akad bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), jual beli (murabahah) atau
akad pelengkap lainnya. Pembiayaan tersebut menghasilkan revenue bagi hasil
untuk nasabah dan juga untuk bank yang nantinya akan mempengaruhi besar
kecilnya profitabilitas bank. Namun pembiayaan yang besar tentunya memiliki
risiko NPF yang cukup tinggi. NPF adalah pembiayaan yang tidak menepati
jadwal angsuran sehingga terjadi tunggakan.NPF merupakan risiko dari adanya
pembiayaan yang disalurkan oleh Bank kepada nasabah. Besar kecilnya NPF
akan berpengaruh pada profitabilitas, karena hal tersebut mungkin dapat
menurunkan tingkat profitabilitas pada tahun berjalan (Kharisma, 2012:2).
Berikut ini merupakan data tabel yang menggambarkan secara umum
tentang Return on Asset (ROA), Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana
Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non
Performing Financing (NPF) yang terjadi pada tahun 2009 sampai dengan
2012.
Tabel 1.1
Komposisi Return on Asset (ROA), FDR, DPK, SBIS, dan NPF Periode 2009 - 2012 Di Indonesia
Tahun ROA
(%)
FDR (%) DPK
(Rp/Milyar)
SBIS
(Rp/Milyar)
NPF
(%)
2009 1,48 89,70 52.271 3.076 4,01
2010 1,67 89,67 76.036 5.408 3,02
2011 1,79 88,94 115.415 9.244 2,52
2012 2,14 100 147.512 4.993 2,26
8 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa Return on Asset (ROA)
mengalami peningkatan setiap tahunnya sebesar 0,66% dari 1,48% pada tahun
2009 meningkat menjadi 2,14 pada tahun 2012. Peningkatan nilai ROA yang
terus bertambah juga menggambarkan bahwa bank syariah di Indonesia telah
mengalami perkembangan yang pesat pada tahun-tahun terkahir. Pertumbuhan
perbankan syariah di Indonesia juga tidak terlepas dari adanya peran performa
kinerja perbankan syariah itu sendiri yang dapat diukur dari nilai FDR dan
NPF yang relatif terkontrol.
Pada kolom Financing to Deposit Ratio (FDR), terlihat bahwa nilai
FDRsempat mengalami penurunan, dimana pada tahun 2010 sebesar 89,67%
menurun sebesar 0,73% menjadi 88,94% pada tahun 2011. Penurunan ini
menunjukkan bahwa perbankan syariah sempat kesulitan untuk menutup
simpanan nasabah dengan jumlah pembiayaan yang ada. Namun hal terbut
bisa segera diatasi oleh perbankan syariah, hal tersebut terlihat dari
meningkatnya nilai FDR sebesar 11,06% pada tahun 2012.
Sedangkan pada kolom Dana Pihak Ketiga (DPK) setiap tahunnya juga
mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari angka nominal yang terus
bertambah yang juga menggambarkan bahwa perbankan syariah di Indonesia
telah mengalami perkembangan yang pesat pada tahun-tahun terakhir.
Peningkatan DPK bisa terlihat pada tabel di atas, dimana pada tahun 2009
hanya sebesar Rp 52.271 miliar menjadi meningkat sebesar Rp 95.241 miliar
9 Kemudian pada kolom Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), nilai
tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar Rp 9.244 miliar.Sedangkan
nilai terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu Rp 3.076 miliar karena bank
menyalurkan kelebihan dananya pada investasi Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS).
Dan pada kolom Non Performing Financing (NPF) terlihat bahwa nilai
NPF semakin mengecil setiap tahunnya.Besar kecilnya NPF dapat
mempengaruhi kinerja perbankan.Rata-rata NPF pada perbankan syariah di
Indonesia mencapai 3-4 % (BI, Januari 2013:38). Dengan nilai NPF yang
rendah membuat kinerja perbankan syariah meningkat karena pembiayaan
bermasalah yang terjadi pada bank syariah hanya sedikit sehingga dengan
meningkatnya kinerja perbankan tersebut akan membuat probitabilitas yang
dihasilkan menjadi ikut meningkat.
Atas dasar hal-hal tersebut di atas, maka bisa dikatakan terdapat
faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat profitabilitas pada perbankan syariah.
Selain itu, penelitian terhadap Return on Asset (ROA) beserta faktor yang
mempengaruhinya perlu dilakukan, karena saat ini ROA merupakan salah satu
alat ukur untuk mengetahui kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
laba secara keseluruhan dari total aktiva yang dimiliki.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk
10 (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Return on Asset (ROA), Periode Januari 2009 –Desember 2012”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh financing to deposit ratio (FDR) secara parsial
terhadap return on asset (ROA) periode Januari 2009 – Desember 2012?
2. Bagaimana pengaruh dana pihak ketiga (DPK) secara parsial terhadap
return on asset (ROA) periode Januari 2009 – Desember 2012?
3. Bagaimana pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) secara
parsial terhadap return on asset (ROA) periode Januari 2009 – Desember
2012?
4. Bagaimana pengaruh non performing financing (NPF) secara parsial
terhadap return on asset (ROA) periode Januari 2009 – Desember 2012?
5. Bagaimana pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana Pihak
Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non
Performing Financing (NPF) secara simultan atau bersama-sama terhadap
Return on Asset (ROA) periode Januari 2009 – Desember 2012?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisis besarnya pengaruh financing to deposit ratio (FDR)
secara parsial terhadap return on asset (ROA) periode Januari 2009 –
Desember 2012.
2. Untuk menganalisis besarnya pengaruh dana pihak ketiga (DPK) secara
parsial terhadap return on asset (ROA) periode Januari 2009 – Desember
11 3. Untuk menganalisis besarnya pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) secara parsial terhadap return on asset (ROA) periode Januari
2009 – Desember 2012.
4. Untuk menganalisis besarnya pengaruh non performing financing (NPF)
secara parsial terhadap return on asset (ROA) periode Januari 2009 –
Desember 2012.
5. Untuk menganalisis besarnya pengaruh Financing to Deposit Ratio
(FDR), Dana Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) secara simultan atau
bersama-sama terhadap Return on Asset (ROA) periode Januari 2009 –
Desember 2012.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Mahasiswa
a. Dapat mengetahui wawasan atau pengetahuan mengenai pola
hubungan Financing to Deposit Ratio (FDR), dana pihak ketiga
(DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Non Performing
Financing (NPF) terhadap Return on Asset (ROA), periode Januari
2009 – Desember 2012.
b. Memperoleh kesempatan menerapkan pengetahuan teoritis yang
didapat selama menimba ilmu diperkuliahan di dalam berbagai kasus
12 2. Bagi Praktisi Lembaga Keuangan
Memberikan informasi kepada masayarakat khususnya para
praktisi lembaga pemberdayaan umat serta praktisi lembaga-lembaga
keuangan, khusunya perbankan sayriah yang mempunyai komitmen
sebagai lembaga pemberdayaan umat terutama para pelaku ekonomi
mengenai peran serta lembaga keuangan dan kebijakan-kebijakan yang
dapat mengembangkan dunia usaha.
3. Perguruan Tinggi
Penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal dan referensi bagi
penelitian selanjutnya serta memberikan sumbangsih data dalam kaitannya
dengan pertumbuhan dan perkembangan lembaga keuangan atau lembaga
binaan berbasis syariah dalam hal ini adalah perbankan syariah sebagai
13 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Bank Syariah
1. Pengertian Bank Syariah
Secara umum, bank adalah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi
utama, yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan
memberikan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah perekonomian umat
Islam, pembiayaan yang dilakukan dengan akad yang sesuai syariah telah
menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak zaman Rasulullah SAW.
Praktik-praktik seperti menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk
keperluan konsumsi dan untuk keperluan bisnis, serta melakukan
pengiriman uang, telah lazim dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW.
Dengan demikian fungsi-fungsi utama perbankan modern telah menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam, bahkan sejak
zaman Rasulullah SAW. (Karim, 2004:18)
Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah, adalah
bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank
syariah juga dapat diartikan sebagai lembaga keuangan/perbankan
yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan
Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Antonio membedakan menjadi dua
pengertian, yaitu Bank Islam dan Bank yang beroperasi dengan prinsip
14 syariah Islam. Bank Islam adalah bank yang beroperasi dengan prinsip
syariah Islam dan bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada
ketentuan-ketentuan Al- Qur’an dan Hadits. Bank yang beroperasi
sesuai dengan prinsip syariah Islam adalah bank yang dalam
beroperasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya
yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam (Antonio, 2001).
Dalam Islam, uang itu sendiri tidak menghasilkan bunga atau laba dan
tidak dipandang sebagai komoditi. Kedudukan bank Islam dalam
hubungan dengan para kliennya adalah sebagai mitra investor dan
pedagang, sedangkan dalam hal bank di Barat, hubungannya adalah
sebagai kreditur atau debitur (Mannan, 1995:164).
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.21 tahun 2000 tentang Perbankan Syariah, yang dimaksud dengan Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, yang mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
15 Nilai-nilai makro yang dimaksud adalah keadilan, maslahah, sistem zakat, bebas dari bunga (riba), bebas dari kegiatan spekulatif dan yang non produktif seperti perjudian (maysir), bebas dari hal-hal yang tidak jelas dan meragukan (gharar), bebas dari hal-hal yang rusak atau tidak sah (bathil) dan penggunaan uang sebagai alat tukar. Sementara itu, nilai- nilai mikro yang harus di miliki oleh pelaku perbankan syariah adalah sifat-sifat mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yaitu shidiq, amanah, tablig dan fatonah (Ascarya, 2007:30).
Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat simpulkan bahwa bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip islam, yaitu aturan perjanjian (akad) antar-bank dengan pihak lain (nasabah) berdasarkan hukum islam. Sehingga perbedaan antara Bank Islam dengan Bank Konvensional terletak pada prinsip dasar operasinya yang tidak menggunakan bunga, akan tetapi menggunakan prinsip bagi hasil, jual beli, dan prinsip lain yang sesuai dengan prinsip islam, karena bunga diyakini mengandung unsur riba yang diharamkan (dilarang) oleh agama islam (Veithzal, 2007: 758).
Perbankan syariah merupakan bank yang menerapkan nilai-nilai syariah, salah satu diantaranya pelarangan unsur riba, seperti dijelaskan oleh ayat Al-Qur’an di bawah ini:
Surat An-Nisaa’ ayat 161 yang memiliki makna:
“Dan, disebabkan mereka memakan riba (bunga) padahal
16 memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Kami telah
menyediakan bagi orang-orang kafir di antar mereka itu azab yang
pedih”.
Surat Al-Baqarah ayat 276 yang memiliki makna:
“Allah SWT memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah
SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran”.
Dalam amanat terkhirnya pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah,
Rasulullah SAW, masih menekankan sikap islam yang melarang riba (Antonio, 2001:51).
“Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu dan Dia pasti akan
menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil riba.
Oleh karena itu, utang akibat riba harus dihapuskan. Modal (uang
pokok) kamu adalah hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun
mengalami ketidakadilan”.
17 Prinsip perbankan syari’ah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syari’ah. Beberapa prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan. 2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai
akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.
3. Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang".
4. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.
5. Unsur gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan.
6. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
7. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
Bank berdasarkan prinsip syariah dalam penentuan harga
pokoknya sangat jauh berbeda dengan bank yang berdasarkan prinsip
konvensional. Bank berdasarkan prinsip syariah adalah aturan
perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk
18 2. Prinsip Bank Syariah
Menurut Rodoni (2009:123) prinsip syariah adalah aturan atau
perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk
menyimpan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan
lainnya yang sesuai dengan syariah. Bank syariah didirikan dengan tujuan
untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip
Islam ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang
terkait. Prinsip utama yang diikuti oleh bank Islami itu adalah:
a. Larangan riba dalam berbagai bentuk transaksi.
b. Melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan perolehan
keuntungan yang sah.
c. Memberikan zakat.
Jadi bisa dikatakan bahwa prinsip syariah adalah aturan atau
perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk
menyimpan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan
lainnya yang sesuai dengan syariah.
3. Produk Penyaluran Dana Bank Syariah
Bank Islam/Bank Syariah tidak menggunakan metode
meminjam uang dalam rangka kegiatan komersial, karena setiap
pinjam-meminjam uang yang dilakukan dengan persyaratan atau janji
pemberian imbalan adalah termasuk riba (Arifin, 2009:22). Oleh karena
19 menggunakan piranti-piranti keuangan yang mendasarkan pada
prinsip-prinsip berikut:
a. Prinsip Jual Beli
Landasan hukum prinsip jual beli yaitu Q.S. Al-Baqarah (2)
ayat 275 yang artinya “… Allah menghalalkan jual-beli (al-ba‟i) dan
melarang riba…”, menunjukkan bahwa praktik bunga adalah tidak
sesuai dengan semangat Islam. Pengertian jual-beli meliputi berbagai
akad penukaran antara suatu barang dan jasa dalam jumlah tertentu
atas barang dan jasa lainnya. Penyerahan jumlah atau harga barang
dan jasa tersebut dapat dilakukan segera ataupun secara tangguh.
Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi bagian
harga atas barang yang dijual (Karim, 2004:97).
1) Pembiayaan Murabahah
Murabahah berasal dari kata ribhu (keuntungan), adalah transaksi jual beli di mana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli.
2) Pembiayaan Salam
20
yaitu Sabda Rasulullah: “Janganlah kamu menjual barang yang
tidak ada padamu” (HR Ahmad, at-Tarmidzi, dan Ibn Hibban) yang menunjukkan bahwa menjual sesuatu yang tidak ada pada diri penjual tidak diperbolehkan sehingga dalam pemiayaan salam harus ada jaminan bahwa penyediaan barang yang dipesan dapat dipenuhi (Arifin, 2009:29).
3) Pembiayaan Istishna’
Produk istishna’ menyerupai produk salam, tapi dalam
istishna’ pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam
beberapa kali (termin) pembayaran. Skim istishna’ dalam bank
syariah umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.
b. Prinsip Bagi Hasil
Prinsip bagi hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang ditujukan guna mendapatkan barang dan jasa sekaligus. Pembiayaan yang menggunakan prinsip bagi hasil (syirkah) yaitu:
1) Pembiayaan Musyarakah
21 2) Pembiayaan Mudharabah
Mudharabah merupakan bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahib al-maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerja sama dalam paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-maal dan keahlian dari mudharib.
c. Akad Pelengkap Dalam Penyaluran Dana
Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan,
tapi ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan (Karim,
2004:105).
1) Hiwalah/Hawalah (Alih Utang-Piutang)
Tujuan fasilitas hiwalah adalah untuk membantu supplier
mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya.
Bank mendapat ganti-biaya atas jasa pemindahan piutang.
Hiwalah/hawalah juga bisa dikatakan sebagai pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Kontrak hiwalah dalam perbankan biasanya diterapkan pada Factoring (anjak piutang), Post-dated check, dimana bank bertindak sebagai juru tagih tanpa membayarkan dulu piutang tersebut.
22 Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Barang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria: 1. Milik nasabah sendiri; 2. Jelas ukuran, sifat, dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai riil pasar; 3. Dapat dikuasai namun tidak boleh dimanfaatkan oleh Bank. Bank dapat melakukan penjualan barang yang digadaikan atas perintah hakim. Nasabah mempunyai hak untuk menjual barang tersebut dengan seizin bank. Apabila hasil penjualan melebihi kewajibannya, kelebihan tersebut menjadi milik nasabah. Dalam hal hasil penjualan tersebut lebih kecil dari kewajibannya, maka nasabah harus menutupi kekurangannya.
3) Qardh
Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Produk ini digunakan untuk membantu usaha kecil dan keperluan sosial. Dana ini diperoleh dari dana zakat, infaq dan shadaqah.
4) Wakalah (Perwakilan)
Nasabah memberi kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti transfer.
23 Jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung.
4. Produk Penghimpunan Dana Bank Syariah
Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan
dana masyarakat terdiri dari:
a. Prinsip Wadi‟ah (Titipan atau Simpanan)
Al-Wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.
Secara umum terdapat/tidak terdapat dua jenis al-wadiah, yaitu:
1) Wadiah Yad Al-Amanah (Trustee Depository) adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima titipan tidak diperkenankan menggunakan barang/uang yang dititipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang titipan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan. Adapun aplikasinya dalam perbankan syariah berupa produk safe deposit box.
24 kehilangan atau kerusakan barang/uang titipan. Semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan barang/uang titipan menjadi hak penerima titipan. Prinsip ini diaplikasikan dalam produk giro dan tabungan.
b. Prinsip Mudharabah
Al-Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola (mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian ini diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Akad mudharabah secara umum terbagi menjadi dua jenis:
1) Mudharabah Mutlaqah
Adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis.
2) Mudharabah Muqayyadah
25 5. Jasa Perbankan
Selain menjalankan fungsinya sebagai intermediaries (penghubung) antara pihak yang mebutuhkan dana (deficit unit) dengan pihak yang kelebihan dana (surplus unit), bank syariah dapat pula melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan mendapat imbalan berupa sewa atau kekuntungan. Jasa perbankan tersebut antara lain berupa:
a. Sharf (Jual Beli Valuta Asing)
Pada prinsipnya jual beli valuta asing sejalan dengan prinsip sharf. Jual beli mata uang yang tidak sejenis ini, penyerahannya harus
dilakukam pada waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.
b. Al-ijarah (Sewa) adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri. Al-ijarah terbagi kepada dua jenis: 1) Ijarah, sewa murni. 2) ijarah al muntahiya bit tamlik merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa.
B. Return on Asset (ROA)
Return on asset (ROA) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
26 keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset. Pembiayaan merupakan pendapatan bank dari sisi asset disebabkan bank syariah dalam menyalurkan dana pihak ketiga menggunakan pendekatan asset allocation approach dimana pengelompokan sumber dana pihak ketiga baik itu tabungan, giro, dan deposito dibedakan jenis dan karakteristiknya. Oleh karena itu, tabungan, giro, dan deposito dalam aplikasinya menggunakan akad yang berbeda. (Dendrawijaya, 2005:156)
Return on assets (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang
dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva
yang digunakan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan
manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan.
Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan
yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari
segi penggunaan aset. Return on assets merupakan perbandingan antara laba
sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan total aktiva yang dimiliki
perusahaan. Return on assets (ROA) yang positif menunjukkan bahwa dari
total aktiva yang dipergunakan untuk beroperasi, perusahaan mampu
memberikan laba bagi perusahaan. Sebaliknya apabila return on assets yang
negatif menunjukkan bahwa dari total aktiva yang dipergunakan, perusahaan
mendapatkan kerugian. Jadi jika suatu perusahaan mempunyai ROA yang
tinggi maka perusahaan tersebut berpeluang besar dalam meningkatkan
27 memberikan laba maka perusahaan akan mengalami kerugian dan akan
menghambat pertumbuhan.
Riyadi (2006:156) mengungkapkan bahwa yang dimaksud Return on Asset (ROA) adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan perbandingan
antara laba dengan total asset bank, rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan asset yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan.
Menurut Muhammad (2004:161), ROA ini merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum pajak dibagi dengan total aktiva. Rumus ini digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan sumber ekonomi yang berupa total aktiva untuk menciptakan keuntungan.
Rumus yang digunakan adalah:
Laba Sebelum Pajak
ROA (Return on Assets) : X 100% Total Aktiva
1. Keunggulan ROA (Return On Asset)
a. ROA merupakan pengukuran yang komprehensif dimana seluruhnya
mempengaruhi laporan keuangan yang tercermin dari rasio ini.
b. ROA mudah dihitung, dipahami, dan sangat berarti dalam nilai
absolut.
c. ROA merupakan denominator yang dapat diterapkan pada setiap unit
organisasi yang bertanggung jawab terhadap profitabilitas dan unit
usaha.
28 Pengukuran kinerja dengan menggunakan ROA membuat manajer
divisi memiliki kecenderungan untuk melewatkan project-project yang
menurunkan divisional ROA, meskipun sebenarnya proyek-proyek
tersebut dapat meningkatkan tingkat keuntungan perusahaan ecara
keseluruhan. Manajemen juga cenderung untuk berfokus pada tujuan
jangka pendek dan bukan tujuan jangka panjang.
Sebuah project dalam ROA dapat meningkatkan tujuan jangka
pendek, tetapi project tersebut mempunyai konsekuensi negatif dalam
jangka panjang. Yang berupa pemutusan beberapa tenaga penjualan,
pengurangan budget pemasaran, dan pengguaaan bahan baku yang relatif
murah sehingga menurunkan kualitas produk dalam jangka panjang.
Kelemahan utama pada pengukuran akuntansi tradisional seperti
ROA sebagai pengukur penciptaan nilai adalah mengabaikan adanya biaya
modal, sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah
menciptakan nilai atau tidak.
Sebagaimana lembaga-lembaga keuangan lainnya, profit adalah
salah satu bagian dari tujuan didirikannya suatu usaha, profit adalah salah
satu bagian dari tujuan didirikannya suatu usaha, termasuk perbankan
syariah didalamnya. Namun berbeda dengan bank konvensional, dalam
meraih profit bank syariah diharuskan memperhatikan kepedulian social
dan keadilan dalam kegiatan opersionalnya, sehingga tetap sesuai dengan
29 Oleh karena itu, dalam operasinya bank syariah tidak menerapkan
sistem bunga seperti bank konvensional tetapi menerapkan sistem bagi
hasil. Hal ini sesuai dengan fatwa MUI taggal 16 Desember 2003 yang
menggolongkan bunga bank termasuk riba, dan menurut Al-Qur’an riba
itu haram.
C. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Pada perbankan syariah tidak mengenal kredit (loan) dalam penyaluran
dana yang dihimpunnya. Oleh karena itu, aktivitas penyaluran dana yang
dilakukan bank syariah lebih mengarah kepada pembiayaan (financing).
Menurut Muhammad (2005:17), penyaluran pembiayaan adalah
pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang direncanakan.
Variabel ini diwakili oleh FDR (Financing to Deposit Ratio). FDR merupakan
perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh Bank dengan dana pihak
ketiga yang berhasil dihimpun perbankan syariah.
Hal mendasar mengapa bank itu diperlukan adalah karena institusi
keuangan ini bisa memainkan perannya sebagai lembaga intermediasi anatara
penyimpan dana dan peminjam dana. Karena itu wajar saja bila mengukur peran
bank dalam perekonomian suatu Negara adalah dilihat dari seberapa besar
fungsi intermediasi ini bisa dimainkan. Dari fungsi intermediasi, perbankan
syariah menunjukkan kinerja yang mengagumkan. Hal ini bisa dilihat dari tahun
ke tahun besarnya fungsi intermediasi mendekati 100 persen bahkan pernah
melampaui. Dengan kata lain, hampir 100 persen dana pihak ketiga yang ada di
30 konvensional paling tinggi mendekati 70 persen (Amin, 2009:41). Fakta ini
menunjukkan bahwa Bank Syariah lebih pro dalam mengembangkan sektor riil
atau fungsi perbankan syariah jauh lebih tangguh dibanding agregat perbankan
konvensional.
Rasio FDR dipergunakan untuk mengukur sejauh mana dana pinjaman
yang berhasil dikerahkan oleh bank kepada nasabah peminjam yang bersumber
dari dana pihak ketiga. Tinggi rendahnya rasio ini menunjukkan tingkat
likuiditas bank tersebut. Sehingga semakin tinggi angka FDR suatu bank, berarti
digambarkan sebagai bank yang kurang likuid dibanding dengan bank yang
nilai FDRnya lebih kecil.
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/5/BPPP tanggal 2 Mei
1993, besarnya FDR ini dtetapkan oleh Bank Indonesia tidak boleh melebihi
110%. Itu artinya bank boleh memberikan kredit atau pembiayaan melebihi
jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun asalkan tidak melebihi 110%.
Jadi, besarnya FDR yang diijinkan adalah 80% < FDR < 110%, artinya
minimum FDR adalah 80% dan maksimum FDR adalah 110%. (A. Riawan
Amin, 2009:41).
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.9/24/DPbS tanggal 30
Oktober 2007, rasio FDR dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pembiayaan yang diberikan
FDR (Financing to Deposit Ratio) = X100%
31 FDR dihitung dari perbandingan antara total pembiayaan yang
diberikan bank dengan dana pihak ketiga. Total pembiayaan yang dimaksud
adalah pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit
kepada bank lain). Dana pihak ketiga yang dimaksud yaitu antara lain giro,
tabungan, dana deposito (tidak termasuk antarbank). (Furqan, 2012:4)
Menurut Peraturan bank Indonesia No. 12/19/PBI/2010 Tentang Giro
Wajib Minimum Bank Umum Pada Bank Indonesia Dalam Rupiah dan Valuta
Asing, rasio likuiditas memiliki batas bawah sebesar 78% dan batas atas
sebesar 100%. Perhitungan FDR sendiri merupakan salah satu indikator untuk
mengetahui kemampuan likuiditas bank ketika terjadi penarikan dalam jumlah
besar.
Dana pembiayaan adalah dana yang dibutuhkan untuk menggerakkan
sektor riil dan diharapkan mampu untuk memicu pertumbuhan ekonomi.
Begitu pula sebaliknya, bila dana FDR bank syariah tidak dapat disalurkan
dengan baik maka dampaknya selain penggerakkan sektor riil terhambat, juga
mengakibatkan dana masyarakat tersebut menganggur dan dapat
mempengaruhi berkurangnya jumlah uang berdar.
FDR menunjukkan sejauh mana kemampuan Bank Syariah dalam
membayar kembali penarikan dana yang telah dilakukannya kepada nasabah
deposan. Pembayaran yang dilakukan oleh Bank Syariah kepada nasabah
deposan dilakukan dengan mengandalkan pembiayaan yang telah diberikan
32 melihat seberapa jauh pembiayaan kepada nasabah dapat mengimbangi
kewajiban untuk segera memenuhi hutang jangka pendeknya kepada nasabah
deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank
untuk memberikan pembiayaan tersebut. Rasio ini juga digunakan untuk
melihat kemampuan dan kerawanan dari suatu Bank Syariah.
Financing to deposit ratio (FDR) dapat pula digunakan untuk menilai
strategi suatu bank. Manajemen bank konservatif bisasanya cenderung
memiliki FDR yang relatif rendah. Sebaliknya bila FDR melebihi batas
toleransi dapat dikatakan manajemen bank yang bersangkutan sangat
ekspansif atau agresif (Siamat, 2001: 32). Rasio ini juga digunakan untuk
memberi isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau
sebaliknya dibatasi. Jika bank syariah memiliki FDR yang terlalu kecil maka
bank akan kesulitan untuk menutup simpanan nasabah dengan jumlah
pembiayaan yang ada. Jika bank memiliki FDR yang sangat tinggi maka bank
akan mempunyai resiko tidak tertagihnya pinjaman yang tinggi dan pada titik
tertentu bank akan mengalami kerugian (Susilo, 1999:24).
D. Dana Pihak Ketiga
1. Pengertian Dana Pihak Ketiga (DPK)
Salah satu kendala bagi perusahaan dalam menjalankan kegiatannya
adalah masalah kebutuhan dana. Hampir setiap perusahaan memerlukan
dana untuk membiayai kegiatan usahanya, baik untuk biaya rutin maupun
untuk keperluan perluasan usaha. Pentingnya dana membuat setiap
33 tersedia, termasuk perusahaan lembaga keuangan semacam bank (Kasmir,
2008:61).
Bagi bank, dana merupakan faktor yang paling utama dalam
operasional bank. Tanpa dana yang cukup, bank tidak dapat berbuat
apa-apa, atau dengan kata lain bank tidak berfungsi sama sekali. Dana adalah
uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank dalam bentuk tunai, atau
aktiva lain yang dapat segera diubah menjadi uang tunai. Uang tunai yang
dimiliki atau dikuasai oleh bank tidak hanya berasal dari para pemilik bank
itu sendiri, tetapi juga berasal dari titipan atau penyertaan dana orang lain
atau pihak lain yang sewaktu-waktu atau pada suatu saat tertentu akan
ditarik kembali, baik sekaligus maupun secara berangsur-angsur (Arifin,
2009:57).
Menurut Kasmir (2008:62), secara garis besar sumber-sumber dana
bank adalah:
a. Dana yang bersumber dari bank itu sendiri.
b. Dana yang bersumber dari lembaga lain.
c. Dana yang bersumber dari masyarakat luas.
Dana yang berasal dari masyarakat luas adalah dana pihak ketiga
yang dititipkan pada bank. Pada umumnya motivasi utama orang
menitipkan dana pada bank adalah untuk keamanan dana mereka dan
memperoleh keleluasaan untuk menarik kembali dananya sewaktu-waktu
(Arifin, 2009:60).
34 dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya karena mudah didapatkan dan
tidak terbatas asalkan bank bisa memberikan bunga yang relatif lebih tinggi
dan dapat memberikan fasilitas menarik lainnya seperti hadiah dan
pelayanan yang memuaskan. Kerugian dari sumber ini yaitu biaya bunga
maupun biaya promosi relatif lebih mahal bila dibandingkan dari dana bank
itu sendiri.
Jadi, dana pihak ketiga adalah dana yang dimiliki bank yang
bersumber dari pihak luar atau masyarakat yang bertujuan untuk menimpan
sebagian harta/uangnya di bank agar aman dan dapat ditarik bila dibutuhkan
oleh masyarakat yang bertindak sebagai nasabah. Dana pihak ketiga ini
merupakan sumber dana yang terpenting bagi kegiatan operasional suatu
bank.
2. Jenis-Jenis Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Syariah
Meskipun jenis produk simpanan di bank syariah mirip dengan bank
konvensional, namun dalam bank syariah terdapat perbedaan-perbedaan
yang prinsipil (Antonio, 2001: 155).
a. Simpanan Giro
Menurut Undang-Undang Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun
2008, giro adalah simpanan berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain
yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang penarikannya dapat
dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana
perintah pembayaran lainnya, atau dengan perintah pemindahbukuan.
35 berdarkan perhitungan bunga; 2. Giro yang dibenarkan secara syariah
yaitu giro yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadi‟ah.
b. Simpanan Tabungan
Dalam Undang-Undang Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun
2008, yang dimaksud tabungan adalah simpanan berdasarkan akad
wadi‟ah atau investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad
lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang penarikannya
dapat dilakukan dengan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang
disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau
alat lainnya yang dipersamakan dengan alat itu. Tabungan terdiri dari
dua jenis: 1. Tabungan yang tidak dibenarkan secara syariah yaitu
tabungan yang berdarkan perhitungan bunga; 2. Tabungan yang
dibenarkan secara syariah yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip
mudharabah dan wadi‟ah.
c. Simpanan Deposito
Pengertian deposito menurut Undang-Undang Perbankan
Syariah Nomor 21 Tahun 2008 adalah investasi dana berdasarkan akad
mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip
syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu
berdasarkan akad antara nasabah penyimpan dan bank syariah dan/atau
UUS. Deposito ada dua jenis: 1. Deposito yang tidak dibenarkan secara
syariah yaitu deposito yang berdasarkan perhitungan bunga; 2. Deposito
36 mudharabah dan wadi‟ah.
E. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
1. Pengertian Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/11/PBI tanggal 31
Maret 2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah adalah surat berharga
berdasarkan prinsip syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang
rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Menurut Arifin (2009:198), yang dimaksud Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) adalah sertifikat yang diterbitkan Bank Indonesia
sebagai bukti penitipan dana jangka pendek. SBIS merupakan piranti
moneter yang sesuai prinsip pada bank syariah yang diciptakan dalam
rangka pelaksanaan pengendalian moneter. Bank Indonesia menerbitkan
instrumen moneter berdasarkan prinsip syariah dan dapat dimanfaatkan oleh
bank syariah untuk mengatasi bila terjadi kelebihan pada tingkat likuiditas.
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) diterbitkan oleh Bank
Indonesia sebagai salah satu instrumen operasi pasar terbuka dalam rangka
pengendalian moneter yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah dengan
menggunakan akad ju‟alah. Akad ju‟alah adalah janji atau komitmen
(iltizam) untuk memberikan imbalan tertentu („Iwadh/ju‟l) atas pencapaian
hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan.
2. Karakteristik SBIS
a. Menggunakan akad ju‟alah (berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional
37 menggunakan akad mudharabah, musyarakah, wadiah, qardh, dan
wakalah).
b. Diterbitkan oleh Bank Indoneisa.
c. Berjangka waktu paling kurang 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua
belas) bulan.
d. Diterbitkan tanpa warkat (scripless).
e. Dapat diagunkan kepada Bank Indonesia.
f. Merupakan instrumen kebijakan moneter dan saran penitipan dana
sementara.
g. Tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. (www.bi.go.id)
Bank Indonesia (BI) telah menerbitkan instrumen moneter berbasis
syariah yaitu SBIS yang menjadi alternatif tambahan bank syariah, Badan
Usaha Syariah (BUS) atau Unit Usaha Syariah (UUS) dalam pengelolaan
dana investasinya. Dengan adanya instrumen tersebut, bank syariah tidak
perlu takut menerima dana pihak ketiga dari individu atau kelompok dalam
jumlah besar. Saat ini banyak bank umum ataupun unit usaha syariah yang
tidak mau menerima dana masyarkat yang bernilai besar karena ragu tidak
mampu menyalurkannya. Bila hal tersebut dipaksakan, akibatnya bagi hasil
yang diterima pemilik dana justru akan mengecil dan tingkat pembiayaan
bermasalah pun akan meningkat. Kehadiran SBIS dan pemberlakuan UU
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan pemberlakuan UU Perbankan
Syariah maka akan mendorong optimalisasi pengembangan bisnis treasury
38 menggangu perekonomian akibat perbankan lebih senang menempatkan
dananya di SBIS disbanding menyalurkannya.
3. Ketentuan Hukum SBIS
Ketentuan hukum SBIS adalah sebagai berikut:
a. SBIS sebagai instrumen pengendalian moneter boleh diterbitkan untuk
memenuhi kebutuhan Operasi Pasar Terbuka (OPT).
b. Bank Indonesia memberikan imbalan kepada pemegang SBIS sesuai
dengan akad yang dipergunkan.
c. Bank Indonesia wajib mengembalikan dana SBIS kepada pemegangnya
pada saat jatuh tempo.
d. Bank Syariah boleh memiliki SBIS untuk memanfaatkan dananya yang
belum dapat disalurkan ke sektor riil. (Zulkifli, 2008:76)
Gambar 2.1 Skema SBIS
a. Akad c. Pengembalian uang plus bonus
b. Penerbitan SBIS Keterangan:
a. Antara Bank Indonesia (Mustawda‟) dengan Bank Syariah (Muwaddi‟)
melakukan akad terlebih dahulu.
b. Lalu Bank Indonesia menerbitkan SBIS kepada Bank Syariah.
c. Bank Syariah mendapatkan uang yang ditipkannya serta bonus dari
Bank Indonesia. (Zulkifli, 2008:78) Muwaddi‟
(Bank)
Mustawda‟