Dampak Kehadiran Ritel Modern terhadap Profitabilitas Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bekasi

74  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAMPAK KEHADIRAN RITEL MODERN TERHADAP

PROFITABILITAS PEDAGANG PASAR

TRADISIONAL DI KOTA BEKASI

FITRIA PERMATA SARI

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Dampak Kehadiran Ritel Modern terhadap Profitabilitas Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bekasi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

FITRIA PERMATA SARI. Dampak Kehadiran Ritel Modern terhadap Profitabilitas Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bekasi. Dibimbing oleh SAHARA, Ph.D.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak keberadaan ritel modern terhadap profitabilitas pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi. Pemilihan pasar dilakukan secara purposive sampling sehingga terpilih Pasar Jatiasih dan Pasar Family Mart sebagai kelompok pasar perlakuan dan Pasar Bantargebang sebagai pasar kontrol. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah t-test, chi-square test, dan ordinal logistic regression. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan keuntungan yaitu jumlah pembeli, jarak antara pasar tradisonal dengan ritel modern, komoditas utama produk segar serta produk olahan. Semakin dekat jarak antara pasar tradisional di Kota Bekasi dengan ritel modern memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan keuntungan. Kata kunci: chi-square test, keuntungan, ordinal logistic regression, pasar tradisional, ritel modern, t-test

ABSTRACT

FITRIA PERMATA SARI. The Impact of Modern Retail on The Profitability Level of Traditional Market Traders in Bekasi. Supervised by SAHARA, Ph.D.

The aims of this research are to analyze the impact of modern retail on the profitability level of traditional market traders in Bekasi. The market selection is done by purposive sampling method. Jatiasih Market and Family Mart Market are selected as treatment group and Bantargebang Market is selected as control group. The methods using in this study are t-test, chi-square test, and ordinal logistic regression. Factors influencing changes of profit are the number of buyers, the distance between the traditional market with the modern retail, the main commodity of fresh products and processed products. The closer distance the traditional market to the modern retail, the more chance of traditional market traders to increase their profits.

Keywords: chi-square test, profit, ordinal logistic regression, traditional markets, modern retail, t-test

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ilmu Ekonomi

DAMPAK KEHADIRAN RITEL MODERN TERHADAP

PROFITABILITAS PEDAGANG PASAR

TRADISIONAL DI KOTA BEKASI

FITRIA PERMATA SARI

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Dampak Kehadiran Ritel Modern terhadap Profitabilitas Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bekasi

Nama : Fitria Permata Sari NIM : H14100115

Disetujui oleh

Sahara, Ph.D. Pembimbing

Diketahui oleh

Dr.Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec. Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian yang telah dilaksanakan sejak bulan Februari 2014 berjudul Dampak Kehadiran Ritel Modern terhadap Profitabilitas Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bekasi.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Orang tua dan seluruh keluarga atas segala doa, dukungan, dan kasih sayangnya.

2. Sahara, Ph.D. selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar telah membimbing dan memberikan arahan maupun motivasi kepada penulis sehingga dapat terselesaikan dengan baik.

3. Prof. Dominicus Savio Priyarsono, Ph.D. selaku dosen penguji utama dan Deni Lubis, MA selaku dosen komisi pendidikan atas kritik dan saran yang membangun dan bermanfaat yang diberikan kepada penulis.

4. Teman-teman sebimbingan (Elis, Selly, Ratna, Sasha, Triana, Fira, Ezik) atas segala dukungan dan telah membantu penulis selama proses pembuatan skripsi ini.

5. Sahabat-sahabat Penulis (Meliana, Elis, Selly, Ria, Fithri Tyas, Sissy, Sasha, Nindya, Linda, Arief, Nicco, Gialdy, Dodo, Azis, Pangrio, Andri) yang telah memberikan semangat dan bantuan selama menjalankan skripsi.

6. Seluruh keluarga Ilmu Ekonomi 47, HIPOTESA terutama divisi RE-D atas momen dan pengalaman berharganya.

7. Pimpinan dan seluruh staf Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Bekasi, pengelola pasar serta pedagang pasar tradisional Kota Bekasi yang telah bekerjasama dan membantu selama pengumpulan data.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN viii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Penelitian 4

Ruang Lingkup Penelitian 4

TINJAUAN PUSTAKA 4

METODE 10

Lokasi dan Waktu Penelitian 10

Jenis dan Sumber Data 10

Metode Penentuan Sampel 10

Metode Analisis 11

GAMBARAN UMUM 14

HASIL DAN PEMBAHASAN 17

Persaingan dan Kinerja Pedagang Pasar Tradisional Kota Bekasi 19 Analisis Faktor-faktor Mempengaruhi Perubahan Keuntungan Pedagang 22 Pengaruh Jarak Ritel Modern dan Pasar Tradisional terhadap Keuntungan di

Kota Bekasi 23

SIMPULAN DAN SARAN 24

Simpulan 24

Saran 24

DAFTAR PUSTAKA 25

LAMPIRAN 27

(10)

DAFTAR TABEL

1 Jarak antara Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi 11 2 Nama dan Tahun Beroperasi Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di

Kota Bekasi 15

3 Data Monografi Pasar Tradisional di Kota Bekasi Tahun 2013 16 4 Komoditi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Kontrol Kota Bekasi

Tahun 2008 dan 2013 dengan Chi-square test 17

5 Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota

Bekasi dengan t-test 17

6 Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota

Bekasi dengan Chi-square Test 18

7 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Persentase Jumlah Pembeli dan Nilai Penjualan Pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi

dengan t-test 18

8 Pemasok Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota

BekasiTahun 2013 dengan chi-square test 19

9 Metode Pembayaran Utama di i Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol

Kota BekasiTahun 2013 dengan chi-square test 19

10 Strategi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota

BekasiTahun 2013 dengan chi-square test 20

11 Pesaing Terberat di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi

dengan chi-square test 20

12 Penyebab Kelesuan Usaha di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota

Bekasi dengan chi-square test 21

13 Kinerja Pedangang Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol di Kota Bekasi dilihat dari Perubahan Omzet dan Keuntungan sebelum dan sesudah keberadaan ritel modern dengan paired-sample t-test 22 14 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Keuntungan Pedagang

Pasar Tradisional Kota Bekasi 22

DAFTAR GAMBAR

1 Jumlah Ritel Modern Kota Bekasi tahun 2007-2013 2

2 Kerangka Pemikiran Konseptual 9

3 Peta Pasat Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi 14

DAFTAR LAMPIRAN

1 Tabel Jarak Ritel Modern dengan Pasar Tradisional Kota Bekasi 27 2 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar

Kontrol Kota Bekasi dengan t-test 28

3 Hasil Output Komoditi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan

(11)

4 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dilihat dari Jenis Kelamin dengan chi-square Test 31 5 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar

Kontrol Kota Bekasi dilihat dari Letak Kios dengan chi-square Test 32 6 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar

Kontrol Kota Bekasi dilihat dari Status Usaha dengan chi-square Test 33 7 Hasil Output Karakteristik Pedagang Berdasarkan Persentase Jumlah

Pembeli dan Nilai Penjualan Pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol

Kota Bekasi dengan t-test 34

8 Hasil Output Pemasok Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test 36 9 Hasil Output Metode Pembayaran Utama Pedagang di Pasar Perlakuan

dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test 37 10 Hasil Output Strategi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar

Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test 38 11 Hasil Output Metode Pesaing Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan

Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test 39 12 Hasil Output Penyebab kelesuan Utama di Pasar Perlakuan dan Pasar

Kontrol Kota Bekasi dengan Chi-square Test 40

13 Hasil Output paired t-test Keuntungan Sesudah-Sebelum pada Pasar

Kontrol Kota Bekasi` 42

14 Hasil Output paired t-test Omzet Sesudah-Sebelum pada Pasar

Kontrol Kota Bekasi 43

15 Hasil Output paired t-test Keuntungan Sesudah-Sebelum pada Pasar

Perlakuan Kota Bekasi 44

16 Hasil Output paired t-test Omzet Sesudah-Sebelum pada Pasar

Perlakuan Kota Bekasi 45

17 Hasil Output Uji Korelasi Antar Variabel Independen 46

18 Hasil Output Regresi Logistik Ordinal 48

(12)
(13)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sejak pemberlakuan liberalisasi perdagangan pada tahun 1998 menyebabkan terjadinya arus penanaman modal asing (FDI) yang diikuti dengan persaingan secara ketat terutama pada industri ritel. Menurut Shepherd (2005), kondisi yang terjadi selain terbukanya FDI di beberapa negara, perkembangan ritel modern terkait dengan meningkatnya permintaan terhadap jasa yang ditawarkan oleh ritel modern, hal ini yang didasari oleh tingginya tingkat urbanisasi, peningkatan pendapatan perkapita (pertumbuhan pekerja kelas menengah), peningkatan pekerja wanita (peningkatan opportunity cost waktu dari ibu rumah tangga yang berkarir), gaya hidup yang berkiblat ke Barat, meningkatnya penggunaan kartu kredit, dan lain-lain.

World Bank (2007) menunjukkan bahwa pada 1999 ritel modern hanya meliputi 11% dari total pangsa pasar bahan pangan. Menjelang 2004, jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat menjadi 30%. Terkait dengan tingkat penjualan, fakta menununjukkan bahwa jumlah penjualan di ritel modern bertumbuh rata-rata 15%, sementara penjualan di ritel tradisional menurun 2% per tahun. Ekspansi dari ritel modern ini yang turut mendorong jumlah omset penjualan ritel modern semakin meningkat.

Kehadiran ritel modern sering dianggap sebagai ancaman serius oleh pedagang pasar tradisional. Secara faktual ancaman ini mungkin terjadi karena bisnis pasar tradisional dan ritel modern sama yaitu perdagangan ritel. Perdagangan ritel artinya setiap pendirian ritel modern akan memunculkan persaingan dan berhadapan langsung dengan kepentingan pedagang di pasar tradisional. Masalah utama yang dapat terjadi adalah bentuk persaingan yang tidak sehat (Mukbar 2007).

(14)

2

Sumber : Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi Kota Bekasi Gambar 1 Jumlah Ritel Modern Kota Bekasi tahun 2008-2013

Beberapa tahun terakhir ini, banyaknya pembangunan pusat perbelanjaan di Kota Bekasi dengan berlokasi di tempat yang cukup strategis seperti pintu keluar tol atau jalan-jalan arteri yang sangat ramai. Hal ini dikarenakan ritel modern memiliki area perdagangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan pasar tradisional yang biasanya hanya diperuntukkan untuk penduduk sekitar. Namun keberadaan ritel modern yang berdiri berdekatan bahkan bersebelahan dengan pasar tradisional pada akhirnya dapat mematikan secara tidak langsung usaha atau kegiatan di pasar tradisional. Oleh karena itu penelitian ini dikaji untuk mengukur dampak ritel modern terhadap pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi.

Perumusan Masalah

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Namun keberadaan ritel modern dapat memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap pasar tradisional selaku pemain lama untuk dapat bertahan dalam industri ritel nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, tahun 2007 terdapat 13 450 pasar tradisional. Berdasarkan data dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha, pasar tradisional juga memiliki pedagang yang cukup besar hingga mencapai 12.5 juta orang. Sementara itu data Kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa pada tahun 2011 menyebutkan bahwa tersisa 9 559 pasar tradisional. Berdasarkam data di atas, terjadi penurunan jumlah pasar tradisional yang cukup drastis pada periode tersebut.

Pada periode yang sama, peningkatan omset ritel modern cukup pesat, hal ini juga didukung oleh pertumbuhan jumlah ritel yang mencapai 18 152 gerai pada 2011, sementara apabila dibandingkan pada tahun 2007 hanya terdapat 10 365 gerai. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia, ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 17.57% per tahun. Penjualan ritel pada 2006 masih sebesar Rp 49 triliun, namun melesat hingga mencapai Rp 110 triliun pada 2011.

Secara nasional perkembangan pasar tradisional memang telah mengalami penurunan apabila dibanding dengan perkembangan ritel modern, hal tersebut

19 20 24

Jumlah Ritel Modern dan Pasar Tradisional Tahun 2008-2013

Ritel Modern

Pasar Tradisional

(15)

3 dijelaskan pada hasil penelitian Nielsen (2008) jika dilihat pada trend pertumbuhannya, ritel modern tumbuh pesat yaitu 31.40 persen sementara pasar tradisional pertumbuhannya hanya minus delapan persen. Menurut hasil penelitian tersebut di atas bahwa keberadaan pasar tradisional sebenarnya masih diperlukan oleh masyarakat luas, tetapi pertumbuhan pasar tradisional dalam lima tahun terakhir dalam kondisi mengkhawatirkan karena pertumbuhannya menurun sehingga memungkinkan ritel modern akan terus berkembang di Indonesia terutama kota-kota besar salah satunya Kota Bekasi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, Kota Bekasi mengalami pertumbuhan ritel modern yang positif sedangkan pasar tradisionalnya tidak mengalami perkembangan yang positif. Hal ini ditandai dengan jumlah ritel modern di Kota Bekasi hingga tahun 2013 tahun 2013 terdapat 15 pusat perbelanjaan dan sekitar 25 ritel modern dan belum termasuk minimarket (Disperindagkop 2014). Berdasarkan data tersebut, didapatkan fakta jumlah pasar tradisional yang hanya berjumlah 12 di Kota Bekasi lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah ritel modern.

Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa ritel modern berdampak negatif terhadap pasar tradisional. Penelitian yang dilakukan oleh Mega (2012) bahwa semakin dekat jarak antara minimarket dengan pedagang eceran tradisional menyebabkan perubahan omzet yang semakin besar kepada pedagang pasar tradisional. Beberapa penelitian juga belum menemukan bukti bahwa keberadaan ritel modern berdampak negatif terhadap pasar tradisional seperti pada penelitian Suryadharma et al (2007) tentang Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia menyimpulkan bahwa supermarket bukan penyebab utama kelesuan usaha yang dialami pedagang pasar tradisional. Oleh karena itu, Penelitian ini berusaha membuktikan dampak keberadaan ritel modern terhadap pasar tradisional dengan studi kasus Kota Bekasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana persaingan dan kinerja pedagang di pasar tradisional Kota Bekasi?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan keuntungan pedagang di pasar tradisional di Kota Bekasi?

3. Bagaimana pengaruh jarak ritel modern dan pasar tradisional terhadap keuntungan pedagang di Kota Bekasi?

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini antara lain :

1. Menganalisis persaingan dan kinerja pedagang di pasar tradisional Kota Bekasi

2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan keuntungan pedagang di pasar tradisional di Kota Bekasi

(16)

4

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna:

1. Bagi penulis untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan tanggap terhadap permasalahan yang terjadi di daerah dan masyarakat.

2. Bagi para pembaca untuk menambah wawasan dalam memberikan gambaran mengenai dampak keberadaan pasar modern terhadap pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi sehingga akan muncul kritik yang membangun dan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan tulisan ini 3. Bagi pengelola pasar tradisional, asosiasi yang bersangkutan, Pemerintah

Provinsi dan daerah sebagai bahan masukan dan referensi dalam pengembangan pasar tradisional.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengukur dampak ritel modern terhadap pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi. Pengukurannya dengan melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan keuntungan pedagang pasar tradisional. Objek penelitian yang dilakukan difokuskan kepada para pedagang di beberapa pasar tradisional yang ada di Kota Bekasi. Pasar tradisional yang dipilih yang dikelola oleh pemerintah ataupun swasta (selama pola dan tata kelolanya masih relatif sama dengan pasar tradisional pemerintah).

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi dan Konsep Ritel

Menurut Perpres No. 112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, toko modern, dan pusat perbelanjaan. Toko modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri menjual berbagai jenis brang secara eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan. Lebih jelasnya konsep ritel modern dalam Perpres tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dilihat dari sisi luas gerai yang digunakan, kategorisasi dari toko modern dapat dijelakan sebagai berikut:

a. Minimarket kurang dari 400 m2;

b. Supermarket, 400 m2 sampai dengan 5 000 m2; c. Hypermarket, diatas 5 000 m2;

d. Department Store, diatas 400 m2; e. Perkulakan, diatas 5 000 m2.

Dilihat dari sisi item produk yang dijual, kategorisasi dari toko modern dapat dijelaskan sebagai berikut:

(17)

5 b. Department Store menjual secara eceran barang konsumsi utamanya produk sandang dan perlengkapannya dengan penataan barang berdasarkan jenis kelamin dan/atau tingkat usia konsumen; dan

c. Perkulakan menjual secara grosir barang konsumsi.

Pasar memiliki beberapa klasifikasi. Berdasarkan bangunan pasar dibagi menjadi dua jenis, yaitu pasar dengan bangunan permanen atau semi permanen dan pasar tanpa bangunan permanen. Pasar dengan bangunan permanen atau semi permanen adalah pasar yang menggunakan lantai semen/tegel, tiang besi/kayu, atap seng/genteng/sirap, baik berdinding/tidak. Pasar tanpa bangunan permanen (tidak termasuk kaki lima) adalah pasar yang mempunyai bangunan tetapi tidak permanen, misalnya pasar kaget. Pasar kaget adalah pasar yang muncul di lokasi yang tidak diperuntukan pasar dan selesai dengan cepat. (Badan Pusat Statistik 2003)

Pengertian pasar diambil berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor: 70/M-Dag/Per/12/2013 yaitu tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk, yang menurut kelas mutu pelayanan dapat digolongkan menjadi Pasar Tradisional dan Pasar Modern, dan menurut sifat pendistribusiannya dapat digolongkan menjadi Pasar Eceran dan Pasar Grosir. Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, swasta, koperasi atau swadaya masyarakat dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil, menengah dan koperasi dengan usaha skala kecil dan modal kecil. Proses jual beli melalui tawar-menawar. Pasar Modern adalah pasar yang dibangun pemerintah, swasta, atau koperasi yang bentuknya berupa mall, supermarket, departement store, dan shopping centre dimana pengelolaannya dilaksanakan secara modern, dan mengutamakan pelayanan kenyamanan berbelanja dengan manajemen disatu tangan, bermodal relatif kuat, dan dilengkapi harga pasti.

Teori Lokasi

Teori lokasi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi atau ilmu tentang alokasi secara geografis dari sumber daya yang langka serta hubungaan atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain. Secara umum, pemilihan lokasi oleh suatu unit aktivitas ditentukan oleh beberapa faktor seperti, bahan baku lokal, permintaan lokal, bahan baku yang dapat dipindahkan, permintaan luar. (Hoover dan Giarratani 2007)

Secara umum teori lokasi dapat dikelompokkan atas tiga bagian besar, yaitu: 1. Bid-Rent Theories, yaitu kelompok teori lokasi yang mendasarkan analisis pemilihan lokasi kegiatan ekonomi pada kemampuan membayar sewa tanah (bid-rent) yang berbeda dengan harga pasar sewa tanah (land-rent). Berdasarkan hal ini, lokasi kegiatan ekonomi ditentukan oleh nilai bid-rent yang tertinggi yang dapat dibayarkan oleh pengguna tanah. Kelompok teori lokasi ini dipelopori oleh Von Thunen (1854).

(18)

6

tempat dimana biaya produksi dan ongkos angkut yang harus dibayar adalah paling kecil. Bila hal ini dapat dicapai, maka tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan akan menjadi maksimum. Kelompok teori lokasi ini dipelopori oleh Alfred Weber (1929).

3. Market Area Theories, yaitu kelompok teori lokasi yang mendasarkan analisis pemilihan lokasinya kegiatan ekonomi pada prinsip luas pasar (market area) terbesar yang dapat dikuasai perusahaan. Luas pasar tersebut adalah mulai dari lokasi pabrik sampai ke lokasi konsumen yang membeli produk perusahaan yang bersangkutan. Bila pasar yang dikuasai adalah yang terbesar, maka tingkat keuntungan perusahaan menjadi maksimum dan demikian juga sebaliknya. Kelompok teori lokasi ini dipelopori oleh August Losch (1954). Teori Lokasi Market Area

August Losch (1994) mempelopori Teori Lokasi Market Area yang mendasarkan analisis pemilihan lokasi optimal pada luas pasar yang dapat dikuasai (market area) dan kompetisi antartempat (spatial competition). Berdasarkan pada pandangan ini, sebuah perusahaan akan memilih suatu tempat sebagai lokasi yang optimal berdasarkan pada kekuatan persaingan antartempat dan luas pasar yang dapat dikuasainya. Hal ini akan menunjukkan bahwa permintaan dan penawaran antartempat merupakan unsure penting dalam menentukan lokasi optimal dari suatu kegiatan perusahaan. Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Semakin jauh dari tempat penjual, konsumen semakin tidak ingin membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar yang identik dengan penerimaan terbesar. Atas dasar pandangan tersebut, Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau dekat pasar (Tarigan 2007).

Teori lokasi market area ini juga mempunyai asumsi dasar tertentu yang melandasi analisisnya. Pertama, konsumen tersebar secara relative merata antartempat, artinya teori ini cocok digunakan di daerah perkotaan dimana konsentrasi penduduk dan industry relatif merata dibandingkan dengan daerah pedesaan atau pedalaman. Kedua, produk homogen sehingga persaingan akan sangat ditentukan oleh harga dan ongkos angkut. Ketiga, ongkos angkut per kesatuan jarak (ton/km) adalah sama (Sjafrizal 2012).

Penelitian Terdahulu

(19)

7 wakil APPSI semuanya menegaskan bahwa langkah utama yang harus dilakukan demi menjamin keberadaan pedagang pasar tradisional adalah perbaikan infrastruktur pasar tradisional, pengorganisasian para PKL, dan pelaksanaan praktik pengelolaan pasar yang lebih baik. Para pedagang secara eksplisit mengungkapkan keyakinan mereka bahwa supermarket tidak akan menyingkirkan usaha mereka jika syarat tersebut di atas dapat dipenuhi. Sementara itu, terdapat bukti nyata bahwa sebagian pedagang telah menutup usaha dagangnya selama tiga tahun yang lalu. Alasan untuk hal ini bersifat lebih kompleks dari sekadar karena hadirnya supermarket semata. Kebanyakan penutupan usaha erat berkaitan dengan persoalan internal pasar dan persoalan pribadi. Selain itu, pedagang yang pelanggan utamanya bukan rumah tangga dan telah membina hubungan yang baik dengan pelanggan selama waktu yang lama berkemungkinan lebih besar untuk bertahan dalam usahanya.

Penelitian Mega (2012) dengan judul Dampak Pendirian Minimarket terhadap Perubahan Omzet Pedagang Eceran Tradisional dan Tingkat Pengeluaran Masyarakat (Kasus: Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor). HAsil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan omzet pedagang eceran akibat pendirian minimarket adalah jarak antara lokasi usaha pedagang eceran tradisional dengan minimarket dan tingkat pendidikan. Semakin jauh jarak antara lokasi usaha pedagang eceran tradisional dengan minimarket maka perubahan omzet usaha responden akan semakin kecil. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka perubahan omzet usaha responden akan semakin besar.

Aryani (2011) dalam penelitian berjudul Efek Pendapatan Pedagang Tradisional dari Ramainya Kemunculan Minimarket di Kota MalangPenelitian ini bertujuan mengkomparasikan jumlah pendapatan para pedagang di pasar tradisional sebelum dan sesudah munculnya minimarket di Kota Malang serta mengetahui permasalahan yang dihadapi pedagang di pasar tradisional berkaitan dengan keberadaan minimarket. Dari hasil uji beda membuktikan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan para pedagang di pasar tradisional sebelum dengan sesudah munculnya minimarket.

Hadiwiyono (2011) dalam penelitian berjudul “Analisis Kinerja Pasar

Tradisional di Era Persaingan Global di Kota Bogor”. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi Pasar Tradisional di tengah tekanan ekspansi Pasar Modern di kota Bogor dimana penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja bisnis pedagang pasar tradisional mengalami penurunan, sebanyak 67 persen pedagang di pasar mengalami penurunan omset dan keuntungan. Jumlah pedagang masing-masing pasar mengalami fluktuasi, sedangkan jumlah pembeli harian juga menurun juga memicu semakin menyempitnya jam aktif transaksi di dalam pasar.

(20)

8

Hartati (2006) dalam penelitian yang berjudul “Pergeseran Subsektor

Perdagangan Eceran dari Tradisional ke Modern di Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pergeseran subsektor perdagangan eceran dari tradisional ke modern yang terjadi dalam lingkup provinsi maupun nasional, menganalisa laju pertumbuhan pada perdagangan eceran tradisional dan modern, jumlah omzet, serta pertumbuhan omzet pasar tradisional dan modern pada tahun 1993-2003 agar dapat membandingkan kondisi penjualan di pasar tradisional dan pasar modern. Penelitian ini difokuskan untuk melihat pergeseran dari pasar tradisional ke pasar modern dari sisi jumlah pasar dan omzet penjualan, sedangkan pergeseran dengan indikator tenaga kerja hanya sebagai pelengkap karena data yang digunakan masih bersifat umum yaitu tenaga kerja di sektor perdagangan, hotel, dan restoran bukan data yang spesifik seperti jumlah tenaga kerja di pasar tradisional dan modern.

Hipotesis

Hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini untuk menganalisis dampak ritel modern terhadap pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi yaitu :

1. Terdapat perbedaan rata-rata antara omzet maupun keuntungan sebelum dengan sesudah adanya ritel modern baik pada pasar perlakuan maupun pasar kontrol.

2. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan keuntungan pedagang secara signifikan yaitu ukuran kios, umur pedagang, lama berdagang, jumlah pembeli, pendidikan yang ditempuh pedagang, dummy jarak, dummy komoditi utama produk segar, dummy komoditi utama produk olahan, dan dummy letak kios.

3. Semakin jauh jarak pasar tradisional dengan ritel modern maka peluang untuk meningkatkan keuntungan akan semakin besar dibandingkan pasar tradisonal yang dekat dengan ritel modern.

Kerangka Pemikiran

Liberalisasi perdagangan pada tahun 1998 menyebabkan terjadinya arus penanaman modal asing yang diikuti perkembangan pada industri ritel. Menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, bisnis ritel atau usaha eceran di Indonesia mulai berkembang pada kisaran tahun 1980an seiring dengan mulai dikembangkannya perekonomian Indonesia. Hal ini timbul sebagai akibat dari pertumbuhan yang terjadi pada masyarakat kelas menengah, yang menyebabkan timbulnya permintaan terhadap supermarket dan department store di wilayah perkotaan. Hal lain yang mendorong perkembangan bisnis ritel di Indonesia adalah adanya perubahan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas, terutama di kawasan perkotaan yang cenderung lebih memilih berbelanja di pusat perbelanjaan modern. Perubahan pola belanja yang terjadi pada masyarakat perkotaan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan berbelanja saja namun juga sekedar jalan-jalan dan mencari hiburan.

(21)

9 berbagai tempat. Kegairahan para pengusaha ritel untuk berlomba-lomba menanamkan investasi dalam pembangunan gerai-gerai baru tidak sulit untuk dipahami. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 3% sejak tahun 2000 dan makin terkendalinya laju inflasi, bisa menjadi alasan mereka bahwa ekonomi Indonesia bisa menguat kembali di masa mendatang.

Pada 1999 ritel modern hanya meliputi 11% dari total pangsa pasar bahan pangan (World Bank 2007). Menjelang 2004, jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat menjadi 30%. Terkait dengan tingkat penjualan, fakta menununjukkan bahwa jumlah penjualan di ritel modern bertumbuh rata-rata 15%, sementara penjualan di ritel tradisional menurun 2% per tahun. Ekspansi dari ritel modern ini yang turut mendorong jumlah omset penjualan ritel modern semakin lebih sedikit dibandingkan ritel modern, hal ini dapat mengindikasikan akanada dampak yang ditimbulkan dari keberadaan ritel modern terhadap pasar tradisional.

Gambar 2 Kerangka Pemikiran Konseptual Perkembangan Ritel di

Indonesia

Liberalisasi Perdagangan

Terjadi Arus Penanaman Modal Asing

Ekspansi Jumlah Ritel Modern Menurunnya Jumlah Pasar Tradisional

Kehadiran Ritel Modern Berdampak terhadap Pasar Tradisional

Karakteristik pedagang pasar tradisional Kota

Bekasi

Rekomendasi Kebijakan Faktor yang mempengaruhi Perubahan

Keuntungan Pedagang Pasar Tradisional di Kota

(22)

10

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat pada bulan Februari 2014 sampai dengan Mei 2014. Penelitian ini dilakukan pada pasar tradisional yang terpilih secara purposive sampling. Pemilihan lokasi di Kota Bekasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena ritel modern di Kota Bekasi terus mengalami perkembangan yang tidak diiringi dengan perkembangan jumlah pasar tradisional.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawacara kepada para pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi yang dipandu dengan kuesioner. Data sekunder berupa studi literatur dan data-data lain yang berkaitan dengan topik penelitian ini seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi, Dinas Perekonomian rakyat. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data cross section pada tahun 2008 dan 2013.

Metode Penentuan Sampel

Sampling dilakukan melalui tahapan berikut:

1. Mengidentifikasi pasar tradisional yang menjual produk yang sama seperti ritel modern (produk segar, produk olahan, dan sandang). Terdapat delapan dari 12 pasar tradisional yang memenuhi kriteria ini.

2. Pasar tradisional yang dipilih dibagi menjadi kelompok pasar perlakuan dan kelompok pasar kontrol. Pasar tradisional yang menjadi pasar perlakuan dipilih secara purposive sesuai syarat berikut: terdapat ritel modern (supermarket, hypermarket, department store) dalam radius lima kilometer dari pasar tradisional dan ritel modern tersebut mulai dioperasikan antara 2008 dan 2013. Sementara itu syarat pasar tradisional yang dijadikan kelompok kontrol yaitu tidak terdapat ritel modern dalam radius lima kilometer dari pasar tradisional. Pada pasar perlakuan dan pasar kontrol memiliki produk yang homogen (produk yang dijual sama dikedua pasar) sehingga perbedaan diantara kedua kelompok pasar tersebut terletak hanya terletak pada jarak terhadap ritel modern.

(23)

11

4. Pada ketiga pasar terpilih masing-masing dilakukan penarikan sampel kepada 30 pedagang pasar tradisional. Setiap pasar mewakili ketiga kategori produk sehingga satu pasar terdiri dari 10 pedagang produk segar, 10 pedagang produk olahan, dan 10 pedagang sandang pilihan (pakaian, sepatu, tas). Pedagang yang diwawancarai terbatas yaitu hanya pedagang yang telah berdagang di pasar tersebut minimal selama lima tahun.

Metode Analisis

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan alat analisis deskriptif dan statistik inferensia. Penelitian ini juga menggunakan bantuan alat analisis yaitu SPSS 16.

Uji t statistik

Uji t statistik yang digunakan dalam penelitian terdapat dua macam yaitu independent sample t-test serta paired t-test. Kedua uji t ini digunakan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok. Perumusan hipotesis uji t-statistik yaitu:

H0 : µ1- µ2 = 0

H1 : µ1- µ2 ≠ 0

Jika t-statistik > t-tabel pada α atau probality (t-statistik) < α maka tolak Ho. Artinya, variabel Kedua kelompok memiliki variansi yang berbeda. Sebaliknya jika t-statistik < t-tabel pada α atau probaility (t-statistik) > α maka terima Ho. Artinya, Kedua kelompok memiliki variansi yang sama.

Pada penelitian ini independent sample t-test digunakan untuk melihat perbedaan umur pedagang, lama berdagang, ukuran kios, jumlah kios, jumlah pembeli, pendidikan, serta segmentasi pembeli pada pasar perlakuan dengan pasar kontrol. Pada paired t-test digunakaan untuk melihat perbedaan omzet serta keuntungan pedagang pasar tradisional dilihat dari sebelum dan sesudah adamya ritel modern.

Tabel 1 Jarak antara Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi

No. Pasar

Tradisional Ritel Modern

Tahun Jarak Operasi (km) 1 Pasar Jatiasih Giant Superstore Jatiasih 2009 1.3

Giant Supermarket Pekayon 2011 3.5

Grand Galaxy Park 2013 4.9

2 Pasar Family Mart

Carefour Harapan Indah 2010 0.4 Giant Hypermart Harapan

Indah

2010 0.5 3 Pasar

Bantargebang

Giant Superstore Jatiasih 2009 5.3

Plaza Cibubur 2006 13.7

(24)

12

Uji Khi Kuadrat (Chi-Square)

Uji chi-square digunakan untuk mengetahui apakah dua variabel (X dan Y) yang berupa kategorik berkorelasi signifikan dipopulasinya, berlandaskan data sampel yang dimiliki (Firdaus 2011). Perumusan uji hipotesis statistik yaitu:

H0 : Kedua variabel tidak memiliki keterkaitan

H1 : Kedua variabel memiliki keterkaitan

Berdasarkan perbandingan chi-square hitung dengan chi-square tabel, jika chi-square Hitung > chi-square Tabel atau p-value<alpha maka H0 ditolak.

Sebaliknya , jika chi-square Hitung < chi-square Tabel maka H0 diterima.

Pada penelitian ini uji chi-square digunakan untuk melihat keterkaitan komoditas utama pedagang, jenis kelamin pedagang, letak kios, status tempat usaha, pemasok utama pedagang, metode pembayaran utama yang digunakan pedagang, strategi yang digunakan pedagang, pesaing terberat, penyebab kelesuan utama dengan pasar perlakuan dan pasar kontrol.

Uji Korelasi

Analisis korelasi sederhana (Bivariate Correlation) digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi (Trihendradi 2009). Koefisien korelasi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara dua variabel

.

Berdasarkan Wijaya (2009), Coefficient correlation ada tiga yaitu:

1. Pearson digunakan untuk menguji korelasi dengan menggunakan Pearson Product Moment

2. Kendall’s tau-b digunakan untuk melakuak analisis korelasi

non-parametrik dari metode Kendall. Ukuran assosiasi dari variabel yang bersifat ordinal.

3. Spearman digunakan untuk menganalisis korelas non-parametrik yang variabelnya bersifat ordinal.

Hipotesis uji korelasi :

H0 : Tidak ada hubungan (korelasi) antara dua variabel

H1 : Ada hubungan (korelasi) antara dua variabel

Jika nilai probabilitas lebih kecil dari alpha maka tolak H0. Sebaliknya jika

nilai probabilitas lebih besar dari alpha maka terima H0. Pada penelitian ini

dilakukan uji korelasi sederhana yaitu untuk melihat keeratan antar variabel-variabel independen. Variabel yang di uji yaitu ukuran kios, umur pedagang, lama berdagang, jumlah pembeli, pendidikan pedagang, dummy jarak, dummy diversifikasi produk, dummy komoditas utama produk segar, dummy komoditas utama produk olahan, dummy letak kios.

Metode Regresi Logistik Ordinal

(25)

13 model regresi logistik ordinal. Menurut Juanda (2009), model logit diturunkan berdasarkan fungsi peluang logistic kumulatif yang dispesifikkan sebagai berikut:

Pi = F(Zi) = F(α + βXi) = = (1)

Nilai e merepresentasikan bilangan dasar logaritma natural (e=2.718…). Pemilihan sebaran logistic kumulatif ini karena interpretasinya logis dan dapat ditujukan bahwa: 0 ≤ E(Yǀ Xi) = Pi≤ 1

Selain itu, dari sisi matematika merupakan fungsi yang sangat fleksibel dan mudah digunakan serta parameter koefisiennya mudah diinterpretasi. Berdasarkan aljabar biasa, persamaan (1) dapat ditunjukkan menjadi:

(2)

Peubah Pi/(1-Pi) dalam persamaan (2) disebut odds, yang sering juga

diistilahkan dengan risiko atau kemungkinan, yaitu rasio peluang yang terjadi pilihan-1 terhadap peluangterjadi plihan-0 alternatifnya. Jika persamaan (2) ditransformasi dengan logaritma natural maka:

(3)

Persamaan (3) ini menunjukkan bahwa salah satu karakteristik penting dari model logit adalah bahwa model ini mentransformasi masalah prediksi peluang dalam selang (0;1) ke masalah prediksi log odds tentang kejadian (Y=1) dalam selang bilangan riil, -~ ≤ logit (Pi) ≤ ~.

Variabel dependen yang digunakan untuk model dalam penelitian ini adalah Keuntungan pedagang pasar tradisional kota Bekasi. Persamaannya yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + β6D1 + β7D2+β8D3+β9D4+ei

Dimana :

Y= Keuntungan Pedagang (rupiah) (nilai “1” jika keuntungan pedagang kurang dari Rp. 300 000, nilai “2” jika keuntungan pedagang diantara Rp. 301 000 sampai Rp. 1 000 000, nilai “3” jika keuntungan pedagang lebih dari Rp. 1 001 000) X1 = Ukuran Kios (m2)

D2 = Dummy komoditi utama produk segar (nilai “1” jika pedagang menjual produk

segar, nilai “0” jika pedagang menjual lainnya)

D3= Dummy komoditi utama produk olahan (nilai “1” jika pedagang menjual produk

olahan, nilai “0” jika pedagang menjual lainnya)

D4 = Dummy Letak kios (nilai “1” jika letak kios berada di depan pasar, nilai “0” jika

(26)

14

GAMBARAN UMUM

Letak Geografis Ritel Modern dan Pasar Tradisional Kota Bekasi

Gambar 3 Peta Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi

Gambaran Umum Pasar Modern di Kota Bekasi

(27)

15

Gambaran Umum Pasar Tradisional di Kota Bekasi

Sebagian besar pasar tradisional dikelola oleh pemda kota setempat, pada Kota Bekasi, saat ini pengelolaan pasar diserahkan kepada Dinas Perekonomian Rakyat. Kota Bekasi memiliki 12 pasar tradisioanal yang tersebar di setiap kecamatan di Kota Bekasi. Pasar tradisional di Kota bekasi merupakan pasar yang dimiliki oleh pemerintah namun pengelolaannya selain pihak pemerintah tetapi juga pihak swasta. Terdapat tujuh dari 12 pasar tersebut dikelola oleh pemerintah, sementara lima pasar tradisional lainnya dikelola oleh pihak swasta. Beberapa Tabel 2 Nama dan Tahun Beroperasi Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di

Kota Bekasi NO

Nama Pusat

Perbelanjaan/ Tahun NO

Nama Pusat

Perbelanjaan/ Tahun Toko Modern beroperasi Toko Modern beroperasi 1 Mal Metropolitan 1999 21 Giant Wisma Asri 2010

6 Bekasi Square 2007 26 Carrefour Harapan Indah

2008 7 Bekasi Junction 2013 27 Tip Top Pondok Gede 2007

8 Plaza Pondok Gede 1998 28 Lotte Mart 2005

9 Grand Mal Bekasi 1998 29 Superindo Jatimakmur 2012 10 Bekasi Cyber Park 2004 30 Superindo Kalimalang 2000 11 Bekasi Trade 18 Giant Jatibening 2010 38 Superindo Jaka

(28)

16

pasar telah mengalami renovasi atau revitalisasi seperti Pasar Pondok Gede, Pasar Kranggan Mas, Pasar Baru Bekasi. Sebagian pasar yang direvitalisasi tersebut merupakan pasar yang dikelola oleh pihak ketiga yaitu pihak swasta. Berdasarkan data Dinas Perekonomian Rakyat (2014), Jumlah pedagang terbanyak terdapat di Pasar Kranji Baru yang terletak di Kecamatan Jatisampurna sejumlah 1505 sementara Pasar Teluk Buyung hanya tinggal tersisa 11 pedagang. (Tabel 3)

Pada tabel 4 mencatat jenis komoditas yang dijual di pasar tradisional dan proporsi pedagang yang menjual setiap komoditas pada masing-masing kelompok pasar perlakuan dan pasar kontrol. Dalam hal ini tidak terdapat keterkaitan antara komoditas produk yang dijual pedagang dengan pasar tradisional Kota Bekasi dilihat dari signifikansi pada uji chi-square. Komoditas utama yang dijual pedagang pasar tradisional Kota Bekasi baik pasar perlakuan dan pasar kontrol adalah pakaian. Selanjutnya diikuti komoditi telur dan susu untuk pasar perlakuan serta bumbu-bumbuan untuk pasar kontrol. Hal ini membuktikan bahwa terjadi peningkatan kompetisi di pasar yang menyebabkan penetapan harga yang bersaing dan menjaga kualitas agar lebih baik.

Tabel 3 Data Monografi Pasar Tradisional di Kota Bekasi Tahun 2013

No Nama Pasar Dibangun Jumlah Pedagang

Tahun Toko Kios Counter Los

(29)

17

Karakteristik pedagang disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan hasil uji t bahwa umur pedagang di pasar perlakuan lebih tinggi jika dibandingkan dengan umur pedagang di pasar kontrol. Adapun untuk variabel lama berdagang, ukuran kios, jumlah kios, jumlah pembeli serta pendidikan relatif sama.

Karakteristik pedagang selanjutnya disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan hasil uji chi-square bahwa pedagang laki-laki di pasar perlakuan lebih banyak dibandingkan dengan pedagang perempuan. Keadaan sebaliknya di pasar kontrol Tabel 5 Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota

Bekasi dengan t-test *signifikan pada alpha 10%. Std.Dev. = standard deviation.

Tabel 4 Komoditi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%)

Deskripsi Pasar Perlakuan (n=60)

Bumbu-bumbuan 8.33 13.33

Ayam 6.67 10.00

Ikan 6.67 10.00

Sayur-sayuran 6.67 6.67

Buah-buahan 5.00 3.33

Daging(sapi.kambing) 5.00 3.33

Minyak 3.33 10.00

Beras 3.33 0.00

Tas 1.67 10.00

Kacang-kacangan 1.67 6.67

kue dan bahannya 1.67 3.33

Total 100 100 14.17

(30)

18

dimana pedagang perempuan lebih banyak daripada pedagang laki-laki. Sementara itu untuk letak kios baik di pasar perlakuan maupun pasar kontrol lebih banyak pedagang yang kiosnya terletak di belakang pasar daripada di depan pasar.

Pada Tabel 7 menunjukkan karakteristik pedagang berdasarkan segmentasi pembeli dilihat dari persentase jumlah pembeli dan nilai penjualan. Berdasarkan hasil uji t bahwa jumlah pembeli dan nilai penjualan untuk rumah tangga serta warung pada pasar pelakuan rata-rata lebih tinggi jika dibandingkan dari pasar kontrol. Berbeda pada jumlah pembeli dan nilai penjualan untuk restoran serta pedagang keliling di pasar kontrol rata-rata lebih tinggi daripada pasar perlakuan.

Tabel 6 Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%)

Deskripsi Pasar Perlakuan (n=60)

Keterangan : Berdasarkan chi-square test: ***signifikan pada alpha 1%; **signifikan pada alpha 5%; *signifikan pada alpha 10%.

(31)

19

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persaingan dan Kinerja Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bekasi

Tabel 8 menunjukkan persaingan dan kinerja pedagang dilihat dari pemasok utama barang yang dijual pedagang. Berdasakan perolehan hasil uji chi-square bahwa pemasok utama pedagang baik di pasar perlakuan maupun pasar kontrol melalui grosir.

Tabel 9 menunjukkan persaingan dan kinerja pedagang dilihat dari metode pembayaran yang digunakan oleh pedagang untuk memasok barangnya. Berdasakan hasil uji chi-square bahwa metode utama yang banyak digunakan pedagang di pasar perlakuan dan pasar kontrol adalah pembayaran secara tunai.

Tabel 10 menunjukkan persaingan dan kinerja pedagang dilihat dari strategi pedagang. Berdasarkan hasil uji chi-square bahwa strategi utama yang dipilih pedagang baik pasar perlakuan maupun pasar kontrol adalah pelayanan yang baik seperti sopan santun, menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan.

Tabel 8 Pemasok Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%)

Deskripsi Pasar Perlakuan (n=60)

Produksi sendiri 1.67 0.00

100.00 100.00 3.09

Keterangan : Berdasarkan chi-square test: ***signifikan pada alpha 1%; **signifikan pada alpha 5%; *signifikan pada alpha 10%.

Tabel 9 Metode Pembayaran Utama Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%) Deskripsi Pasar Perlakuan

(n=60)

(32)

20

Tabel 11 menunjukkan para pesaing terberat pada pasar perlakuan dan pasar kontrol. Jawaban yang diambil hanya pedagang yang mengklaim memiliki pesaing terberat. Ritel modern merupakan pesaing terberat bagi para pedagang di pasar perlakuan. Pada pasar kontrol pesaing terberat utama adalah pedagang lain di dalam pasar tradisional itu sendiri.

Tabel 12 menunjukkan penyebab penurunan usaha pedagang. Jawaban ini juga hanya diambil dari pedagang yang mengkalim pernah mengalami penurunan omzet maupun keuntungan. Berdasarkan uji chi-square, penyebab penurunan usaha yang utama pada kelompok pasar perlakuan adalah berkurangnya jumlah pembeli. Pada pasar kontrol meningkatnya persaingan dengan pedagang lain di dalam pasar tradisional sebagai faktor utama penyebab kelesuan usaha di pasar. Tabel 11 Pesaing Terberat di Pasar Perlakuan Dan Pasar Kontrol Kota Bekasi

dengan chi-square test (%) Pesaing Terberat

Pedagang lain di dalam pasar tradisional 37.50 44.44

PKL 12.50 11.11

Pedagang lain di pasar tradisional lain 4.20 22.22

Minimarket 0.00 22.22

Total 100.00 100.00 35.27***

Keterangan : Jawaban hanya dari pedagang yang mengklaim mempunyai pesaing terberat.Berdasarkan chi-square test: ***signifikan pada alpha 1%; **signifikan pada alpha 5%; *signifikan pada alpha 10%.

Tabel 10 Strategi Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%)

Deskripsi Pasar Perlakuan (n=60)

Pelayanan yang baik 53.33 76.67

Kualitas barang dijaga 16.67 0.00

Memberi potongan harga 11.67 16.67

Jenis dagangan diperbanyak 8.33 0.00

Prioritas bagi pelanggan 6.67 6.67

Kios selalu dijaga kebersihannya 3.33 0.00

Total 100.00 100.00 10.66*

(33)

21

Tabel 13 menunjukkan kinerja pedagang dilihat berdasarkan omzet dan keuntungan pada tahun 2008 dan 2013. Hasil paired sample t-test menunjukan bahwa pada pasar perlakuan maupun pasar kontrol rata-rata omzet serta keuntungan sebelum keberadaan ritel modern lebih tinggi jika dibandingkan dengan sesudah adanya ritel modern. Berdasarkan tabel terlihat bahwa rata-rata omzet dan keuntungan pedagang di kelompok pasar perlakuan mengalami penurunan kinerja yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pasar kontrol. Hal ini didukung dengan penelitian Hal ini didukung dengan penelitian sebelumnya oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (2006) bahwa terdapat perbedaan rata-rata omzet pada pedagang pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya ritel modern.

Tabel 12 Penyebab Kelesuan Usaha di Pasar Perlakuan Dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%)

Penyebab Kelesuan

Kurangnya jumlah pembeli 29.63 8.70

Meningkatnya persaingan dengan pedagang lain di dalam pasar tradisional

16.67 34.78

Daya beli masyarakat menurun 12.96 4.35 Meningkatnya persaingan dengan

PKL

5.56 8.70

Faktor iklim 3.70 0.00

Kondisi pasar yang memburuk 3.70 0.00

Kualitas barang menurun 1.85 0.00

Harga dari pemasok lebih tinggi 1.85 4.35 Meningkatnya persaingan dari

pedagang lain di pasar tradisional lain

1.85 17.39 Akses jalan menuju pasar kurang

memadai

1.85 0.00

Harga lebih tinggi di pasar tradisional 0.00 4.35 Meningkatnya persaingan dengan

minimarket

0.00 17.39

Total 100.00 100.00 32.18***

(34)

22

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Keuntungan Pedagang Pasar Tradisional Kota Bekasi

Pada Tabel 14 menunjukkan faktor-faktor yang menjadi penyebab perubahan keuntungan. Pengukuran keuntungan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tiga kategori. Pertama, keuntungan pedagang yang berada pada kisaran kurang dari Rp. 300 000,-, kedua keuntungan pedagang pada kisaran Rp.300 000,- sampai dengan Rp. 1 000 000,- dan ketiga keuntungan pedagang sebesar Rp.1 000 000,- ke atas. Tabel 14 memperlihatkan bahwa variabel yang signifikan yaitu jumlah pembeli, dummy jarak, dummy komoditas utama produk segar, dan dummy komoditas utama produk olahan.

Tabel 14 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Keuntungan Pedagang Pasar Tradisional Kota Bekasi

Variabel Koefisien

Pendidikan pedagang(tahun) 0.04 1.04 0.63

Dummy jarak (dekat=1. jauh=0) 1.38 3.96 0.03**

Dummy Komoditas Utama (1=Produk segar. 0=Lainnya)

3.88 48.62 0.01*** Dummy Komoditas Utama (1=produk olahan.

0=Lainnya)

2.39 10.91 0.06* Dummy Letak kios (1=depan. 0=belakang) 0.98 2.66 0.27

R-Square 53.00%

Chi-Square 50.35***

Keterangan : Berdasarkan Regresi Logistik Ordinal: ***signifikan pada alpha 1%; **signifikan pada alpha 5%; *signifikan pada alpha 10%.

Tabel 13 Kinerja Pedangang Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol di Kota Bekasi dilihat dari Perubahan Omzet dan Keuntungan sebelum dan sesudah keberadaan ritel modern dengan paired sample t-test VARIABEL

PASAR PERLAKUAN PASAR KONTROL

(35)

23 Berdasarkan perolehan hasil dengan menggunakan metode regresi ordinal logit, jumlah pembeli merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan keuntungan. Nilai odds ratio sebesar 1.08 dan koefisien bertanda positif menjelaskan bahwa setiap peningkatan satu orang pembeli akan memiliki peluang 1.08 kali atau 8% [(1.08-1)x100%] untuk meningkatkan keuntungan.

Dummy jarak mempengaruhi perubahan keuntungan pedagang pasar

tradisional Kota Bekasi. Nilai odds ratio sebesar 3.96 dengan koefisien positif menjelaskan peluang pasar tradisional yang memiliki jarak dekat dengan ritel modern memiliki peluang lebih besar 3.96 kali atau 296% [(3.96-1)x100%] untuk meningkatkan keuntungan dibandingkan pasar tradisional yang jaraknya jauh dengan ritel modern.

Dummy komoditas utama pada produk segar mempengaruhi perubahan

keuntungan secara signifikan. Koefisien pada variabel ini positif dan nilai odds ratio sebesar 48.62 artinya peluang pedagang menjual komoditi produk segar untuk meningkatkan keuntungan lebih besar 48.62 kali atau 4762% [(48.62-1)x100%] daripada pedagang menjual komoditi lainnya (sandang).

Dummy komoditas utama pada produk olahan secara signifikan berpengaruh

terhadap perubahan keuntungan. Koefisien pada variabel ini bernilai positif dan nilai

odds ratio sebesar 10.91 berarti peluang pedagang menjual komoditi produk olahan

untuk meningkatkan keuntungan lebih besar 10.91 atau 991% [(10.91-1)x100%] daripada pedagang menjual komoditi lainnya.

Pengaruh Jarak Ritel Modern dan Pasar Tradisional terhadap Keuntungan di Kota Bekasi

Berdasarkan hasil dari uji ordinal logit regression, bahwa peluang pasar tradisional yang memiliki jarak dekat dengan ritel modern memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan keuntungan dibandingkan pasar tradisional yang jaraknya jauh dengan ritel modern. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan ritel modern bukan satu-satunya penyebab penurunan keuntungan pedagang di pasar tradisional Kota Bekasi. Jika dilihat dari pesaing terberat, pedagang di pasar perlakuan menyadari bahwa kehadiran ritel modern telah menjadi pesaing terberat utama mereka. Berdasarkan hasil wawancara kepada pedagang, untuk mengatasi hal tersebut pedagang melakukan strategi-strategi agar dapat bersaing dengan ritel modern. Hal ini juga diperkuat berdasarkan hasil penyebab kelesuan usaha pedagang di pasar tradisional bahwa penyebab utamanya bukan oleh ritel modern melainkan kurangnya jumlah pembeli pada pasar perlakuan. Hasil penelitian yang didapat sejalan dengan penelitian Suryadarma et all (2007) bahwa ritel modern bukan penyebab utama penurunan omzet pedagang di pasar tradisional.

Pada penelitian ini juga terbukti bahwa pedagang baik pada pasar perlakuan dan pasar kontrol sama-sama mengalami penurunan keuntungan. Penurunan keuntungan pedagang di beberapa pasar tradisional Kota Bekasi menyebabkan pasar tradisional yang merupakan salah satu wadah aktifitas ekonomi mikro melemah. Melemahnya perekonomian mikro ini juga dapat menyebabkan pemerataan pendapatan yang tidak seimbang. Distribusi pendapatan yang tidak merata mempunyai potensi menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial yang akhirnya akan berdampak pada ketidakstabilan ekonomi.

(36)

24

dianggap memiliki keunggulan dalam memberikan harga relatif lebih rendah untuk banyak komoditas. Namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ritel modern yang memiliki skala ekonomis cukup luas dan akses langsung terhadap produsen dapat menurunkan harga pokok penjualan. Ritel modern saat ini mampu menawarkan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan pasar tradisional untuk beberapa komoditi tertentu sehingga keunggulan biaya rendah pedagang tradisional saat ini mulai tersisih. Oleh karena itu, untuk mempertahankan eksistensi dan meningkatkan potensi pasar tradisional sebagai penggerak ekonomi rakyat kecil, diperlukan sebuah model pengembangan pasar tradisional, dimana pemerintah berperan sebagai pengatur alokasi peran para stakeholders dan penyusun regulasi. Regulasi mengenai pasar tradisional dan ritel modern mengatur tentang pembagian zona usaha sudah ada namun belum bisa dilaksanakan sepenuhnya.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat diperoleh antara lain :

1. Berdasarkan kinerja pedagang pasar tradisional dilihat dari omzet maupun keuntungan pada tahun 2008 dan 2013, pasar perlakuan dan pasar kontrol sama-sama mengalami penurunan omzet dan keuntungan. Hal ini terjadi karena terdapat kelesuan usaha yaitu berkurangnya jumlah pembeli pada pasar perlakuan dan meningkatnya persaingan dengan pedagang lain di pasar kontrol.

2. Berdasarkan hasil uji ordinal logit regression terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan keuntungan yaitu jumlah pembeli, jarak, komoditas utama produk segar, dan produk olahan.

3. Pasar tradisional di Kota Bekasi jaraknya dekat dengan pasar modern berpeluang lebih besar untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini didukung dengan penyebab utama kelesuan usaha bukan keberadaan pasar modern melainkan berkurangnya jumlah pembeli. Pedagang yang menjual komoditi produk segar dan olahan memiliki peluang lebih tinggi untuk meningkatkan keuntungannya.

Saran

Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini:

(37)

25 2. Pedagang pasar tradisional sebaiknya berspesialisasi ke komoditi produk segar atau olahan dibandingkan komoditi sandang (pakaian, tas, sepatu). Hal ini dilakukan karena komoditi sandang bisa jadi telah menjadi sasaran penjualan oleh ritel modern sehingga menyebabkan persaingan ketat dengan pasar tradisional.

3. Penelitian ini memiliki keterbatasan pengukuran dalam hal perolehan data keuntungan pedagang pasar tradisional. Data keuntungan pedagang per hari merupakan data ordinal yang diberikan range. Hal ini dilakukan karena tidak semua pedagang ingin menyebutkan angka pasti keuntungan yang diperolehnya. Sebaiknya untuk mempermudah penelitian selanjutnya dapat digunakan data rasio atau menyebutkan angka pasti keuntungan yang diperoleh pedagang.

DAFTAR PUSTAKA

Aryani, Dwinita. 2011. Efek Pendapatan Pedagang Tradisional dari Ramainya Kemunculan Minimarket di Kota Malang. Jurnal Dinamika Manajemen. Vol. 2, No. 2, pp: 169-180

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Statistik Indonesia. BPS, Jakarta-Indonesia. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. 2006. Dampak Keberadaan Pasar

Modern (Supermarket dan Hypermarket) terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda dan Pasar Tradisional. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM. Vol. 1, No. 1, pp: 97.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Bekasi. 2014. Perkembangana Ritel Modern Kota Bekasi. Bekasi

Firdaus, Muhammad, Harmini, Farid Mochamad Afendi. 2011. Aplikasi Metode Kuantitatif untuk Manajemen dan Bisnis. Bogor: PT IPB Press

Hadiwiyono. 2011. Analisis Kinerja Pasar Tradisional di Era Persaingan Global di Kota Bogor [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Hartati, Widi. 2006. Pergeseran Subsektor Perdagangan Eceran dari Tradisional ke Moderen di Indonesia [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Hoover, Edgar Malone and Frank Giarratani. 2007. Introduction to Regional Economics. Web-Book. Wes Virginia University

Husaini, Usman. 2006. Pengantar Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.

Juanda, Bambang. 2009. Ekonometrika: Pemodelan dan Pendugaan. Bogor: IPB Press

Kementrian Perdagangan. 2011. Jumlah Pasar Tradisional di Indonesia. [diakses: 7 Februari 2014]. Tersedia pada: http://www.kemendag.go.id/

(38)

26

[KPPU] Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Jumlah Pedagang Pasar Tradisional di Indonesia. [diunduh: 7 Februari 2014]. Tersedia pada: www.kppu.go.id/docs/Positioning_Paper/ritel.pdf

Mega, Kusyuniarti. 2012. Dampak Pendirian Minimarket terhadap Perubahan Omzet Pedagang Eceran Tradisional dan Tingkat Pengeluaran Masyarakat (Kasus : Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor)[Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor

Mukbar, Deni. 2007. Denyut Usaha Kecil di Pasar Tradisional dalam Himpitan Hypermarket. Yayasan AKATIGA Pusat Analisis Sosial

Nielsen, Arthur Charles. 2008. Asia Pasific Retail Shooper Trends 2008.A.C. Nielsen. Indonesia [diunduh: 7 Februari 2014]. Tersedia pada: http://pt.nielsen.com/documents/tr_0708_AsiaPacificShopperTrends2008.p df.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013

tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Shepherd, Andrew. 2005. The Implications of Supermarket Development for Horticultural Farmers and Traditional Marketing Systems in Asia. Roma: Agricultural Management, Marketing and Finance Service FAO.

Sjafrizal. 2012. Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Suryadarma, Daniel, Adri Poesoro, Sri Budiyati, Akhmadi, dan Meuthia Rosfadhila. 2007. Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

Tarigan, Robinson. 2007. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi .Jakarta: Bumi Aksara

Trihendradi, Cornelius. 2009. Step by Step SPSS 16.Yogyakarta: CV Andi Offset Wijaya, Toni. 2009. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Yogyakarta:

Universitas Atma Jaya Yogyakarta

(39)

27 Lampiran 1 Tabel Jarak Ritel Modern dengan Pasar Tradisional Kota Bekasi

No. Pasar Tradisional Toko Modern Tahun Jarak

Operasi (km)

1 Pasar Bintara Giant supermarket Bintara 2010 0.6

(1995) Mall Metropolitan 1999 8.0

Grand Metropolitan Mall 2013 7.5 Grand Galaxy Park 2013 6.0 2 Pasar Kranji Baru Summarecon Mall 2013 5.7

(1994) Grand Mall Bekasi 1998 2.6

Blue Mall 2006 5.8

Carefour Harapan Indah 2010 9.8 3 Pertokoan Kranji Tidak menjual 9 bahan pokok

4 Pasar Kranggan Mas Plaza Cibubur 2006 1.9

(2006) Mall Ciputra Cibubur 2013 2.4

Giant supermarket Kranggan 2013 3.8 Super indo Kranggan 2012 3.5 5 Pasar Bantargebang Giant Superstore Jatiasih 2009 5.3

(1993) Plaza Cibubur 2006 13.7

Mall Ciputra Cibubur 2013 13.2 6 Pasar Jatiasih Giant Superstore Jatiasih 2009 1.3

(2005) Naga Swalayan Jatiasih 2005 0.5 Giant Supermarket Pekayon 2011 3.5 Naga Swalayan Pekayon 2003 3.3

Tidak menjual 9 bahan pokok Bekasi Junction

9 Pasar Teluk Buyung Tersisa 12 pedagang

10 Pasar Pondok Gede/ Plaza Pondok Gede 1998 0.2 Atrium Pondok Gede Giant HypermartPondok Gede 2006 0.5

(2010) Tip Top Pondok Gede 2007 0.7

(40)

28

Lampiran 2 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan t-test

Group Statistics

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df

Equal variances not assumed 2.400 58.512

.020 4.917 2.049 .817 9.017

Lama Berdagang Equal variances assumed 1.107 .296 -.121 88

.904 -.167 1.375 -2.900 2.567

Equal variances not assumed -.111 46.138

.912 -.167 1.508 -3.201 2.868

Ukuran kios Equal variances assumed 1.520 .221 .768 88

.445 .767 .998 -1.217 2.751

Equal variances not assumed .852 76.265

.397 .767 .900 -1.025 2.558

Jumlah Kios Equal variances assumed 5.468 .022 1.108 88

.271 .067 .060 -.053 .186

Equal variances not assumed 1.298 84.761

.198 .067 .051 -.035 .169

Jumlah Pembeli Equal variances assumed 4.306 .041 .391 88

.697 1.417 3.627 -5.792 8.625

Equal variances not assumed .361 47.551

.720 1.417 3.926 -6.478 9.311

Pendidikan Equal variances assumed .089 .766 1.423 88

.158 1.167 .820 -.463 2.796

Equal variances not assumed 1.396 55.242

(41)

29 Lampiran 3 Hasil Output Komoditi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan

Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test

(42)

30

Pasar Perlakuan

Pasar

Kontrol Total

Tas Count 3 1 4

Expected Count 1.3 2.7 4.0

% within Pasar 10.0% 1.7% 4.4%

Sepatu Count 2 6 8

Expected Count 2.7 5.3 8.0

% within Pasar 6.7% 10.0% 8.9%

kue dan bahannya Count 1 1 2

Expected Count .7 1.3 2.0

% within Pasar 3.3% 1.7% 2.2%

Total Count 30 60 90

Expected Count 30.0 60.0 90.0 % within Pasar 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value Df

Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 14.171a 13 .362

Likelihood Ratio 17.139 13 .193

N of Valid Cases 90

a. 23 cells (82.1%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .67.

Symmetric Measuresa

Value

(43)

31

Lampiran 4 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dilihat dari Jenis Kelamin dengan chi-square Test

Crosstab

Pasar

Total Kontrol Perlakuan

JenisKelamin Laki-laki Count 9 37 46

Expected Count 15.3 30.7 46.0

% within Pasar 30.0% 61.7% 51.1%

Perempuan Count 21 23 44

Expected Count 14.7 29.3 44.0

% within Pasar 70.0% 38.3% 48.9%

Total Count 30 60 90

Expected Count 30.0 60.0 90.0

% within Pasar 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value Df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 8.026a 1 .005

Continuity Correctionb 6.809 1 .009

Likelihood Ratio 8.189 1 .004

Fisher's Exact Test .007 .004

N of Valid Casesb 90

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14.67. b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measuresa

Value

(44)

32

Lampiran 5 Hasil Output Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dilihat dari Letak Kios dengan chi-square Test

Crosstab

Pasar

Total Kontrol Perlakuan

Letakkios Depan Count 4 18 22

Expected Count 7.3 14.7 22.0

% within Pasar 13.3% 30.0% 24.4%

Belakang Count 26 42 68

Expected Count 22.7 45.3 68.0

% within Pasar 86.7% 70.0% 75.6%

Total Count 30 60 90

Expected Count 30.0 60.0 90.0

% within Pasar 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 3.008a

1 .083

Continuity Correctionb 2.173 1 .140

Likelihood Ratio 3.243 1 .072

Fisher's Exact Test .119 .067

N of Valid Casesb 90

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.33. b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measuresa

Value

Figur

Gambar 1 Jumlah Ritel Modern Kota Bekasi tahun 2008-2013

Gambar 1

Jumlah Ritel Modern Kota Bekasi tahun 2008-2013 p.14
Gambar 2 Kerangka Pemikiran Konseptual

Gambar 2

Kerangka Pemikiran Konseptual p.21
Tabel 1  Jarak antara Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi

Tabel 1

Jarak antara Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi p.23
Gambar 3 Peta Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi

Gambar 3

Peta Pasar Tradisional dan Ritel Modern Kota Bekasi p.26
Tabel 2  Nama dan Tahun Beroperasi Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kota Bekasi

Tabel 2

Nama dan Tahun Beroperasi Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kota Bekasi p.27
Tabel 3  Data Monografi Pasar Tradisional di Kota Bekasi Tahun 2013

Tabel 3

Data Monografi Pasar Tradisional di Kota Bekasi Tahun 2013 p.28
Tabel 5  Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan t-test

Tabel 5

Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan t-test p.29
Tabel 4  Komoditi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Kontrol Kota

Tabel 4

Komoditi Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Kontrol Kota p.29
Tabel 7  Karakteristik Pedagang Berdasarkan Persentase Jumlah Pembeli dan Nilai Penjualan Pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan t-test

Tabel 7

Karakteristik Pedagang Berdasarkan Persentase Jumlah Pembeli dan Nilai Penjualan Pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan t-test p.30
Tabel 6  Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%)

Tabel 6

Karakteristik Pedagang pada Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%) p.30
Tabel 8  Pemasok Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%)

Tabel 8

Pemasok Utama Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%) p.31
Tabel 10  Strategi Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%)

Tabel 10

Strategi Pedagang di Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol Kota Bekasi Tahun 2013 dengan chi-square test (%) p.32
Tabel 11  Pesaing Terberat di Pasar Perlakuan Dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%)

Tabel 11

Pesaing Terberat di Pasar Perlakuan Dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%) p.32
Tabel 12  Penyebab Kelesuan Usaha di Pasar Perlakuan Dan Pasar Kontrol    Kota Bekasi dengan chi-square test (%)

Tabel 12

Penyebab Kelesuan Usaha di Pasar Perlakuan Dan Pasar Kontrol Kota Bekasi dengan chi-square test (%) p.33
Tabel 13  Kinerja Pedangang Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol di Kota

Tabel 13

Kinerja Pedangang Pasar Perlakuan dan Pasar Kontrol di Kota p.34
Tabel 14  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Keuntungan Pedagang Pasar Tradisional Kota Bekasi

Tabel 14

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Keuntungan Pedagang Pasar Tradisional Kota Bekasi p.34

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di