POPULASI DAN HABITAT LUTUNG JAWA (
Tracyphitecus
auratus
E. Geoffrey 1812) DI RESORT BALANAN TAMAN
NASIONAL BALURAN
WAHYU INDAH ASTRIANI
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Populasi dan Habitat Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus E. Geoffrey 1812) di Resort Balanan Taman Nasional Baluran adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
WAHYU INDAH ASTRIANI. Populasi dan Habitat Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus E. Geoffrey 1812) di Resort Balanan, Taman Nasional Baluran. Dibimbing oleh HARNIOS ARIEF dan LILIK BUDI PRASETYO.
Taman Nasional Baluran (TNB) merupakan salah satu habitat alami lutung jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran aktual kondisi populasi, habitat dan mendeskripsikan karakteristik habitat yang digunakan lutung jawa di Resort Balanan, TNB. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – April 2014. Populasi lutung jawa diketahui menggunakan metode terkonsentrasi. Pengaruh dari faktor biotik berupa vegetasi sebagai pakan dan covernya serta faktor abiotik berupa ketinggian, kelerengan, jarak dari sungai dan jarak dari gangguan (jalan dan pemukiman). Berdasarkan variabel dari faktor penyusun habitat tersebut didapatkan nilai yang digunakan untuk mengetahui karakteristik habitat yang digunakan lutung jawa menggunakan Analisis Komponen Utama (AKU). Hasil menunjukkan terdapat sebanyak 6 kelompok lutung jawa yang terdiri dari 93 individu dengan ukuran rata-rata 15,5 ± 5,381. Faktor yang mendukung keberadaan lutung jawa dapat disimpulkan dalam 4 (empat) komponen yaitu faktor biotik tumbuhan regenerasi, faktor abiotik, faktor fisik tumbuhan serta faktor biotik tumbuhan tua.
Kata kunci: abiotik, biotik, habitat, lutung jawa, populasi
ABSTRACT
WAHYU INDAH ASTRIANI. Population dan Habitat of Javan Langur (Tracyphitecus auratus E. Geoffrey 1812) in Balanan Resort, Baluran National Park. Supervised by HARNIOS ARIEF and LILIK BUDI PRASETYO.
Baluran National Park is a one of the habitat used by javan langur. The aims of this research were to get the actual condition of population, habitat and to describe the characteristics of habitat used by Javan langur especially in Balanan Resort, Baluran National Park. Field observation had been done in March to April 2014. Population of javan langur was estimated using Concentration Count Method. Influence of biotic factor, including vegetation as their feeds and cover as well as abiotic factor including altitude, slope, distance from river, distance from disturbance (road and villages) were analyzed by using Principal Component Analysis (PCA). Result showed that there were 6 groups consisted 93 individuals, with average size 15,5 ± 5,381. Factors that contributed to the existence of javan langur could be summarized into four (4) component, which represented biotic factors namely regeneration vegetations, and climax vegetations, and abiotic factors as well as physics factors of vegetations.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
POPULASI DAN HABITAT LUTUNG JAWA (
Tracyphitecus
auratus
E. Geoffrey 1812) DI RESORT BALANAN TAMAN
NASIONAL BALURAN
WAHYU INDAH ASTRIANI
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah yang berjudul “Populasi dan Habitat Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus E. Geoffrey 1812) di Resort Balanan Taman Nasional Baluran” ini berhasil diselesaikan. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret-April 2014.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Harnios Arief, MScF dan Prof Dr Ir Lilik Budi Prasetyo, MSc selaku pembimbing, serta Dr Ir I Nyoman Jaya Wisata, MSc atas bimbingan dan sarannya. Penghargaan penulis sampaikan kepada jajaran staf dari Taman Nasional Baluran, Ir Emi Endah Suwarni, MSc selaku kepala balai TNB, Joko Waluyo, SHut, Bapak Banjar, Bapak Iqbal, H Yusuf Sabarno, SHut, MSi, Bapak Mahrudin dan Bapak Sukadi, KSPTN I Bekol, Bapak Drh Supriyanto, Bapak Suwono beserta staf serta Petugas Resort Balanan Bapak Nurhadi, Bapak Nurkhuzaini, Bapak Indra Sagiwiyanto, Bapak Hendro Siswandi, dan outsourcing Bapak dan Ibu Sukamat, Bapak Sulkan, Bapak Sanito dan Bapak Karlin yang telah membantu penulis selama kegiatan pengumpulan data.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu, Bapak, Joko Susilo, SHut, MSi, Qurrotu Ayunin, SHut, MSi, Dwi Hendriani, SPsi, Bapak Sunadi, fantastic four (Fahri, Karim, Danish dan Raziq) atas segala doa dan kasih sayangnya, Ikatan Keluarga Mahasiswa Bumi Sriwijaya (IKAMUSI) 48, Keluarga Besar KSHE 48 (ex-Pongo pygmaeus) terspecial untuk Winda Agustiani dan Siti Nurjannah atas segala kenangan manis dan tangis selama 3 tahun kebelakang, rekan sebimbingan Berty Fatimah dan Widya Maharani atas kebersaman dan perhatian tanpa henti dilapang, dan Keluarga Besar DKSHE atas dukungan dan semangatnya, serta seseorang yang menjadi alasan atas tujuan ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 1
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 3
Lokasi dan Waktu 3
Alat dan Bahan 3
Metode Pengumpulan Data 3
Analisis Data 5
HASIL DAN PEMBAHASAN 8
Kondisi Umum Lokasi Penelitian 8
Populasi Lutung Jawa 9
Habitat Lutung Jawa 11
Karakteristik Habitat Lutung Jawa 20
SIMPULAN DAN SARAN 22
Simpulan 22
Saran 22
DAFTAR PUSTAKA 23
DAFTAR TABEL
1 Kategori individu berdasarkan jenis kelamin 4
2 Kategeri individu berdasarkan kelas umur 4
3 Populasi lutung jawa di Resort Balanan Taman Nasional Baluran 9 4 Perhitungan struktur umur lutung jawa berdasarkan rata-rata tahunan 10 5 Luasan tutupan lahan di Resort Balanan Taman Nasional Baluran 10 6 Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pada tiap tingkatan di tiap
tipe habitat 11
7 INP tertinggi tumbuhan tiap tingkatan per tipe habitat 11
8 Karakteristik pohon tidur 12
9 Nilai akar ciri 20
10 Matrik komponen terbentuk 21
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka pikir penelitian 2
2 Peta lokasi penelitian 3
3 Analisis vegetasi plot bentuk lingkaran 5
4 Bagan alir pembuatan peta ketinggian dan kemiringan lereng 7 5 Bagan alir pembuatan peta jarak sungai, jalan dan pemukiman 7
6 Lutung Jawa dan pakannya 12
7 Jalan setapak dan pemukiman 14
8 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan ketinggian 16 9 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan kemiringan lereng 17 10 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan jarak sungai 18 11 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan jarak gangguan 19
DAFTAR LAMPIRAN
1 Jenis-jenis tumbuhan pakan dan cover yang ditemukan 25 2 Indeks Nilai Penting tumbuhan tingkat tiang dan pohon di Resort
Balanan 26
3 Hasil Principal Component Analysis (PCA) 29
4 Tallysheet komponen habitat lutung jawa di Resort Balanan, Taman
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus E. Geoffrey 1812) adalah salah satu satwa endemik yang tersebar di pulau jawa, Bali dan Lombok. Berdasarkan Red list International Unioun for Corservation of Nature and Natural Resources, lutung jawa termasuk dalam kategori Vulnerable (Rentan) (IUCN 2014). Hal ini dipengaruhi populasinya yang kian menurun karena habitatnya yang terganggu, perburuan liar dan perdagangan illegal.
Dalam skala nasional, jumlah populasi lutung jawa menurun sebesar 30% pada habitat alami oleh adanya aksi perburuan liar dan menyusutnya habitat karena terfragmentasi (Sofial 2014). Menurut Febriyanti (2008), apabila tidak ada tempat yang dapat menyediakan kebutuhan hidup lutung Jawa maka jumlah populasinya akan semakin menurun.
Selain itu, satwa yang terdaftar dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) marak diperdagangkan secara ilegal. Hasil investigasi Profauna menunjukkan bahwa lutung jawa diperdagangkan di pasar-pasar di daerah Jawa Timur, termasuk Malang (Profauna Indonesia 2013).
Taman Nasional Baluran (TNB) merupakan kawasan pelestarian alam di Provinsi Jawa Timur dan menjadi salah satu habitat alami lutung jawa. Penyebaran lutung jawa dapat ditemukan pada ekosistem hutan mangrove, hutan pantai dan hutan musim dataran rendah (BTNB 2005). Meskipun telah berstatus taman nasional, TNB masih mengalami permasalahan terkait sengketa lahan dengan masyarakat Eks-HGU PT Gunung Gumitir dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu oleh masyarakat dari luar kawasan yang menyebabkan banyaknya aktivitas manusia di dalam kawasan. Selain itu, tutupan lahan di kawasan taman nasional yang didominasi savana merupakan faktor pembatas bagi primata arboreal ini untuk memperoleh makanan. Padahal, satwa ini memiliki ketergantungan terhadap vegetasinya sebagai pakan dan cover.
Kondisi ini diduga dapat mengganggu habitat dan mempengaruhi kestabilan populasi lutung jawa. Oleh karena itu, perlu diketahui data terkini populasi lutung jawa serta kondisi habitat di TNB dengan analisis spasial menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis). Hal ini guna mengetahui keterkaitan lutung jawa terhadap komponen habitat tertentu serta unsur biotik dan abiotik penyusunnya. Sehingga, dapat menjadi dasar pertimbangan dalam pengambilan dan penerapan kebijakan.
Tujuan
1. Memperoleh gambaran aktual kondisi populasi dan habitat lutung jawa di Resort Balanan, TNB.
Manfaat
Hasil yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan salah satu acuan data periodik kedepannya bagi taman nasional. Sehingga, dapat menjadi pertimbangan bagi pihak pengelola dalam upaya pelestarian Lutung Jawa serta habitatnya.
Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui populasi dan habitat lutung jawa di Resort Balanan Taman Nasional Baluran. Spesifikasi data meliputi jumlah individu, sex ratio¸struktur umur dan kepadatan populasi serta keterkaitan populasi dengan keanekaragaman jenis tumbuhan pada masing-masing habitat (Gambar 1). Sehingga, dapat mendeskripsikan karakteristik habitat yang digunakan lutung jawa.
METODE
Waktu dan Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan pada Maret-April 2015. Lokasi penelitian adalah di Resort Balanan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTNW) 1 Bekol, Taman Nasional Baluran, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Gambar 2).
Gambar 2 Peta lokasi penelitian
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan berupa binokuler, walking stick, GPS, kamera, meteran, termometer, tali rafia, tally sheet, alat tulis, kompas, plastik spesimen, Fieldguide Flora Taman Nasional Baluran (Wahono 2013), laptop, Microsoft Office 2010, ArcView 10.1, ERDAS IMAGINE 9.1. dan SPSS.18
Metode Pengumpulan Data
Populasi
Data populasi yang dicari merupakan data komposisi kelompok meliputi Nisbah Kelamin dan Struktur umur. Pengkategorian jenis kelamin dan kelas umur disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2
Tabel 1 Kategori individu berdasarkan jenis kelamin
Kategori Definisi
Jantan Kepala mengerucut, berjambul, memiliki testis, beberapa mengeluarkan suara berupa teriakan yang khas sebagai tanda. Betina Kepala mengerucut, berjambul, memiliki vulva vagina,
memiliki puting susu yang menggantung. Terdapat perbedaan yang jelas pada betina yaitu suatu bidang putih kekuningan tidak beraturan di bagian panggul betina serta bulu yang berwarna pucat pada bagian pantat dan punggung yang lebih hitam dari punggung lutung jantan.
Sumber : Lim dan Sasekumar (1979) dengan modifikasi definisi.
Tabel 2 Kategori individu berdasarkan struktur umur
Kategori Kisaran umur Definisi
Dewasa 8-20 tahun Perilaku dominan mengawasi, organ fisik sudah berkembang sempurna terutama organ seksual (matang kelamin), dan umunya memiliki ukuran tubuh paling besar dibanding kelas umur dibawahnya.
Remaja (muda)
4-8 tahun Ciri seksual belum terlalu terlihat, warna sudah menyerupai individu dewasa, sudah mampu mobilisasi sendiri, namun masih berada disekitar induknya.
Anakan 0-4 tahun berwarna kuning jingga, masih menyusu dan berada dalam gendongan induknya.
Sumber : Pekerti (2007) dengan modifikasi definisi.
Populasi lutung jawa di Resort Balanan TNB diketahui dengan melakukan sensus. Perhitungan jumlah individu dilakukan pada periode aktif pukul 05.30-07.00 dan sore hari 16.00-17.30. Metode yang digunakan adalah metode terkonsentrasi (concentration count). Alikodra (2002) menyatakan bahwa metode ini cocok digunakan untuk menghitung populasi lutung jawa yang memiliki pola kehidupan berkelompok.
Lokasi perjumpaan lutung jawa ditandai dengan GPS. Pemilihan kelompok dilakukan dan disesuaikan berdasarkan keadaan kondisi lapang yang memudahkan pengamat mengikuti pergerakan lutung Jawa (Febriyanti 2008).
Habitat
Gambar 3 Analisis vegetasi plot bentuk lingkaran 1. Komponen biotik
Pengukuran komponen biotik dalam penelitian ini dilakukan pada vegetasi tingkat pohon dan tiang yang berperan bagi lutung jawa, baik untuk sumber pakan maupun cover. Parameter yang dicari meliputi: kerapatan pohon dan tiang, luas bidang dasar tingkat pohon dan tiang, persentase penutupan tajuk, serta kerapatan tumbuhan pakan tingkat pohon dan tiang. Kusmana (1997) membuat kategori yaitu :
- Kategori tiang yaitu dengan diameter batang antara 10 cm - 19,9 cm atau keliling batang lebih dari 31,4 cm
- Kategori pohon yaitu pohon berdiameter batang ≥ 20 cm atau keliling batang lebih dari 62,8 cm.
2. Komponen abiotik
Komponen abiotik yang diukur dalam penelitian ini meliputi : suhu, kelembaban, ketinggian dan kelerengan, jarak dari tepi sungai dan gangguan (jalan dan pemukiman).
Selain data primer diatas, dibutuhkan data sekunder untuk melengkapi pembahasan, meliputi peta kawasan Taman Nasional Baluran, Citra satelit landsat 8-OLI dan Citra SRTM Taman Nasional Baluran
Analisis Data
Populasi
Penduga Populasi Total = ̅ ± (t(α/2(df) . S ̅)
- Struktur umur (SU), nisbah kelamin (SR) dan kepadatan populasi (D)
Struktur umur merupakan perbandingan jumlah individu di dalam setiap kelas umur (Alikodra 2002). Perbandingan disajikan sebagai berikut :
SU = Dewasa : Remaja : Anakan
Nisbah kelamin merupakan perbandingan antara jumlah jantan dan betina yang berpotensi untuk reproduksi (Alikodra 2002). perbandingannya sebagai berikut:
Kepadatan populasi adalah nilai yang menggambarkan ketersediaan individu dalam suatu luasan wilayah tertentu. Luasan yang dipakai adalah luasan areal berhutan saja. Analisis kepadatan populasi dihitung dengan persamaan :
D = ∑ individu / Luas total wilayah (ha)
Habitat
Komponen biotik (tumbuhan) dianalisis dengan menggunakan :
a. Indeks Shannon-Wiener : untuk mengetahui kekayaan jenis (richness) (Magurran 1988)
H’ =
-
ni/N ln ni/N
Keterangan : H’ = indeks Shannon-wiener ni = Jumlah individu N = Jumlah total individu
Kriteria nilai indeks keanekaragaman jenis berdasarkan indeks Shanon-Wiener adalah jika H+< 1 dikategorikan sangat rendah, H+>1-2 kategori rendah, H+> 2-3 kategori sedang (medium), H+> 3-4 kategori tinggi dan jika H+> 4 kategori sangat tinggi.
b. Indeks Nilai Penting : untuk menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas.
INP digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya. Soerianegara dan Indrawan (1998) menjelaskan mengenai Indeks Nilai Penting yang dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR) (Lampiran 2).
- Kerapatan (batang/ ha) = Jumlah individu jenis ke-i Luas total petak contoh - Kerapatan Relatif (%) = Kerapatan jenis ke-i x 100%
Kerapatan total
- Frekuensi = Jumlah petak contoh ditemukan jenis ke-i Luas total petak contoh
- Frekuensi Relatif = Frekuensi jenis ke-i x 100% Frekuensi total
- Dominansi (m2/ ha) = Luas bidang dasar (LBDS) jenis ke-i Luas petak contoh
Komponen abiotik dianalisis dengan menggunakan : a. Pembuatan peta ketinggian dan kelerengan
Peta ASTER GDEM (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer Global Digital Elevation Model) merupakan peta ketinggian diolah dengan program ArcGis 10.1 menghasilkan peta kemiringan lereng. Proses pembuatan peta ketinggian dan kemiringan lereng dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Bagan alir pembuatan peta ketinggian dan kemiringan lereng b. Pembuatan peta jarak dari sungai dan gangguan (jalan dan pemukiman)
Pembuatan peta jarak dari sungai, jalan dan pemukiman penduduk diperoleh dari peta jaringan sungai, jaringan jalan dan digitasi pemukiman yang dianalisis dengan menggunakan software Arc Gis 10.1 (Gambar 5). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
Gambar 5 Bagan alir pembuatan peta jarak sungai, jalan dan pemukiman
Karakteristik habitat lutung jawa
Metode ini dilakukan dengan menggunakan software SPSS 18. Tujuannya adalah untuk mengurangi dimensional dari rangkaian data yang asli yang terdiri dari banyak jumlah variabel yang tidak terkait, lalu memberikan sebanyak mungkin variasi yang ada dari data sebelumnya (Jolliffe 2002 dalam Hasanah Beberapa tumbuhan khas yang ditemukan pada tipe ekosistem ini diantaranya Api-Api (Avicennia sp.), Santegi (Pemphis accidula), Tingi (Ceriops tagal), dan Bakau-bakauan (Rhizopora sp.).
2) Hutan pantai
Tipe ekosistem hutan pantai berada pada ketinggian 25-75 mdpl. Beberapa tumbuhan khas yang ditemukan pada tipe ekosistem ini diantaranya Malengan (Excoecaria agallocha), Manting (Syzigium polyanthum), Ketapang (Terminalia catappa) dan Waru Laut (Hibiscus tiliceus).
3) Savana
Tipe ekosistem savana berada pada ketinggian 75-100 mdpl. Savana di Resort Balanan merupakan jenis savana undulata yang ditumbuhi oleh rumput yang tinggi. Jenis tumbuhan yang ditemukan pada tipe ekosistem ini diantaranya Rumput Merak (Mimosa sp.) dan Bunga Rumpun (Widelia biflora). Savana juga menjadi salah satu daerah yang terinvasi oleh Akasia berduri (Acaccia nilotica) di Resort Balanan, Taman Nasional Baluran.
4) Hutan musim.
Tipe ekosistem hutan musim yang terdapat di resort Balanan dapat dibedakan kedalam dua kelompok, yaitu hutan musim primer dan hutan musim sekunder. Hutan musim primer berada pada ketinggian ≥ 450 mdpl, berada dalam zona inti dan minim gangguan terhadap manusia. Hutan musim sekunder berada pada ketinggian 100-400 mdpl dan telah mengalami gangguan dari invasi alien spesies yaitu Acaccia nilotica sehingga mengganggu pertumbuhan dari vegetasi yang hidup didalamnya. Beberapa tumbuhan khas yang ditemukan pada tipe ekosistem ini diantaranya Pilang (Accacia leucophloea), Cangkring (Erythrina fusca), Asam (Tamarindus indica), Bunut (Ficus pilosa), Mimba (Azedirachta indica) dan Kepuh (Stercullia foetida).
hutan yang biasa dimanfaatkan masyarakat yaitu kopi rabika (biji akasia), savana sebagai padang penggembalaan, dan sumberdaya perairan (memancing).
Populasi Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus)
Berdasarkan pengamatan di lapangan secara sensus, ditemukan 6 kelompok lutung jawa yang terdiri dari 93 individu dengan jumlah individu per kelompok terdiri dari 6-20 individu atau 15,5 ± 5,381. Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan bahwa lutung jawa membentuk kelompok yang terdiri dari 6-23 ekor. Populasi lutung jawa di Resort Balanan Taman Nasional Baluran disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Populasi lutung jawa di Resort Balanan Taman Nasional Baluran Kelompok Dewasa Remaja Anakan Jumlah Habitat
Jantan Betina
Keterangan : HM (Hutan Mangrove); HP (Hutan Pantai); HMS (Hutan Musim Sekunder); HMP (Hutan Musim Primer); DIA (Daerah Invasi Akasia).
Berdasarkan Tabel 3, diketahui nisbah kelamin kelompok lutung di Resort Balanan bervariasi yaitu 1:2, 1:3, 1:4 dan 1:5. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian oleh Ayunin (2013) di Taman Nasional Gunung Merapi yaitu 1:6 dengan 53 individu dan di Resort Bama, Taman Nasional Baluran oleh Kartikasari (1986) yaitu 1:6,5 dengan jumlah 76 individu.
Perubahan ini menunjukkan bahwa jumlah betina produktif mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Hal ini diduga karena adanya daya stres. Populasi yang stres ditandai dengan individu jantan yang lebih banyak dibandingkan betina. Alikodra (1989) menjelaskan bahwa perubahan populasi dipengaruhi oleh faktor fluktuatif (predator) dan siklis (Stres). Stres terjadi karena adanya perubahan hormon pada tubuh yang mengendalikan proses fisiologis dan perilaku satwaliar sehingga mempengaruhi ukuran populasinya.
Selain itu, perubahan terjadi karena sejumlah individu jantan remaja sudah beranjak dewasa dan mulai membentuk kelompoknya sendiri. Leksono (2014) menjelaskan bahwa lutung jawa remaja jantan akan membentuk kelompok baru apabila sudah mendekati struktur umur dewasa. Hal ini ditandai dengan ditemukannya lutung dewasa yang soliter ataupun kelompok bujangan ( male-groups) seperti pada kelompok 1.
kelemahan yaitu selang waktu antar kelas yang tidak sama, akibatnya timbullah gambaran struktur populasi yang menurun.
Tabel 4 Perhitungan struktur umur lutung jawa berdasarkan rata-rata tahunan Kelas umur Kisaran
*Kisaran umur menggunakan pendekatan kelas umur oleh Pekerti (2007).
Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata tahunan, perbandingan struktur umur Dewasa : Remaja : Anakan adalah 2 : 8,4 : 9. Tarumingkeng (1992) dalam Hasnawati (2006) menyatakan bahwa populasi mempunyai struktur umum yang secara garis besar dapat di golongkan atas tiga pola, yaitu struktur menurun, stabil dan meningkat. Struktur umur lutung jawa di Resort Balanan memiliki pola meningkat, dimana kelas umur termuda lebih besar dibandingkan kelas umur diatasnya dengan asumsi tidak ada predator. Semiadi (2006) menerangkan bahwa semakin banyak jumlah individu pada kelas umur yang lebih muda mengindikasikan bahwa populasinya akan meningkat dengan asumsi kematian pada setiap selang waktu adalah konstan. Struktur umur ini dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perkembangbiakan satwa serta menduga prospek kelestarian kedepannya (Alikodra 2002). Sehingga, semakin banyaknya jumlah populasi yang mampu bertahan maka populasi lutung jawa di Taman Nasional Baluran akan semakin meningkat.
Berdasarkan parameter populasi yang telah diketahui diatas, dapat diketahui kepadatan populasi lutung jawa dengan luasan areal berhutan yang menjadi habitat lutung jawa di Resort Balanan, Taman Nasional Baluran (Tabel 5). Luas areal berhutan sebesar 1183,9 ha, sehingga kepadatan populasi lutung jawa sebesar 0,08 individu/hektar.
Tabel 5 Luasan tutupan lahan di Resort Balanan Taman Nasional Baluran
No Jenis tutupan lahan Luas (ha)
1 Hutan mangrove 212,25
2 Hutan pantai 240,84
3 Hutan musim sekunder 430,11
4 Hutan musim primer 300,70
5 Savana (alami) 552,50
6 Lahan pertanian 73
7 Daerah terinvasi akasia 720,57
Luas total 2529,97
mengkonsumsi buah akasia. Untuk itu dilakukan analisis terhadap komponen habitat untuk melihat karakteristik habitat yang mempengaruhi populasi lutung jawa.
Habitat Lutung Jawa
Komponen biotik
Identifikasi jenis tumbuhan diperlukan agar diketahui tingkat keanekaragamannya. Vegetasi merupakan komponen habitat yang penting bagi satwaliar yang digunakan sebagai pakan maupun cover (Meiliana 2001).
Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Shannon-Wienner (ISW), keanekaragaman tumbuhan termasuk kategori rendah-sedang (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat jenis-jenis tumbuhan yang mendominansi dalam habitat tertentu. Soerianegara dan Indrawan (1998) menyatakan bahwa dalam suatu masyarakat hutan, akibat dari adanya persaingan menyebabkan jenis tertentu lebih berkuasa daripada jenis lainnya.
Tabel 6 Indeks keanekaragaman Shannon-wienner pada tiap tingkatan vegetasi di tiap tipe habitat
Tipe habitat Tingkat Indeks Shannon-wiener Keterangan
Hutan mangrove Tiang - -
Pohon 1,3 Rendah
Hutan pantai Tiang 1,9 Rendah
Pohon 2,4 Sedang
Hutan musim (sekunder) Tiang 2,2 Sedang
Pohon 2,4 Sedang
Hutan musim (primer) Tiang 1,6 Rendah
Pohon 1,9 Rendah
Untuk mengetahui jenis tumbuhan yang mendominansi, maka dicari Indeks Nilai Penting (INP) masing-masing jenis tumbuhan. Indeks Nilai Penting merupakan parameter kuantitatif dipakai untuk menunjukkan tingkat dominansi suatu jenis tumbuhan dalam suatu komunitas tumbuhan (Indriyanto 2006). Tabel 7 menunjukkan INP tertinggi tumbuhan tiap tingkatan pada tiap tipe habitat.
Tabel 7 INP tertinggi tumbuhan tiap tingkatan per tipe habitat Tipe
Apak (Ficus infectoria) dan Bunut (Ficus pilosa) dimanfaatkan sebagai pohon tidur sedangkan lainnya dimanfaatkan sebagai pakan. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ini disebabkan adanya kemampuan tumbuhan untuk bersaing dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada (Mahardhika 2001).
Pakan
Lutung dikenal sebagai monyet pemakan daun (Ebony leaf monkey) sehingga konsumsi pokok pakannya adalah daun serta sebagian lagi dari buah dan biji. Buah Krasak (Ficus superba) dan daun Walikukun (Schoutenia ovata) adalah bagian tumbuhan yang biasa dikonsumsi oleh primata ini (Gambar 6). Kartikasari (1986) menyebutkan bahwa pakan kesukaan lutung di TNB adalah Krasak (Ficus superba) dan Pilang (Acacia leucophloea).
(a) (b)
Gambar 6 Lutung jawa dan pakannya : (a) Lutung jawa makan buah Krasak; (b) Lutung jawa makan daun Walikukun
Pilang tidak lagi dijadikan pakan melainkan sebagai pohon tidur. Hal ini terjadi karena adanya penurunan ketersediaan tumbuhan tersebut pada tingkat tiang (Lampiran 2). Menurunnya kondisi tumbuhan pakan regenerasi dapat menyebabkan tidak terpenuhinya pakan lutung jawa secara cukup dikemudian hari. Sehingga, lutung mencari alternatif pakan lain yang relatif melimpah dan mampu memenuhi kebutuhannya.
Alat pelindung (cover)
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 33 jenis tumbuhan yang telah teridentifikasi, 19 jenis diantaranya dimanfaatkan lutung jawa sebagai pakan dan 4 jenis sebagai cover (Lampiran 1). Alikodra (2002) menyatakan struktur vegetasi sangat menentukan peranannya sebagai pelindung, terutama ditentukan oleh bentuk tajuk dan percabangan. Pemilihan pohon tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ditunjukkan pada Tabel 8.
Lutung jawa membutuhkan tajuk pohon maupun tiang yang saling berhimpitan agar dapat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dan berlindung. Keberadaan pohon dengan kanopi bersambung merupakan kondisi ideal sebagai habitat lutung jawa untuk keselamatan dan untuk menghindari predator darat dan udara (Garber 1992 diacu dalam Ayunin 2013). Lutung sering berpindah tempat tidur untuk menghindari parasit atau penyakit akibat kotorannya. Satwa ini akan kembali lagi ke tempat semula dalam jangka waktu agak lama agar parasit hilang terkena air hujan (Pekerti 2007).
Hasil analisis komponen biotik menunjukkan bahwa ketersediaan vegetasi sebagai pakan dan cover di habitatnya mendukung kebutuhan lutung jawa untuk dapat bertahan hidup dan berkembangbiak. Terutama ketersediaan pakan pada tumbuhan tingkat tiang perlu diperhatikan untuk melihat tren dari ketersediaan pakan bagi lutung jawa dikemudian hari. Akan tetapi, habitat tidak hanya terbatas pada komponen biotik saja, untuk itu dibutuhkan analisis lanjutan terkait komponen abiotik yang juga menyusun suatu habitat lutung jawa.
Komponen abiotik
Komponen abiotik yang diukur meliputi ketinggian, kelerengan, jarak dari sungai, jarak dari gangguan (jalan dan pemukiman), suhu dan kelembapan. Variable suhu dan kelembapan tidak diukur ditiap plot. Hasil pengukuran lapang, suhu di Resort Balanan berkisar antara 27,5ᵒc-30ᵒc dengan kelembaban sebesar 80%-90%. Menurut Suwono (2006), kondisi iklim mikro seperti curah hujan, suhu, dan kelembapan tidak terlalu berpengaruh bagi keberadaan lutung Jawa karena kemampuan adaptasi dan hidup di hutan-hutan dataran rendah hingga hutan dataran tinggi dengan ketinggian di atas 2400 mdpl. Variabel lainnya dari komponen abiotik dijelaskan sebagai berikut.
a. Ketinggian
Lutung jawa dapat hidup di berbagai tipe hutan dengan komposisi vegetasi yang berbeda. Menurut Ayunin (2013), ketinggian memengaruhi kehadiran lutung jawa dikaitkan dengan komposisi vegetasi yang dapat berubah sesuai dengan perubahan ketinggian tempat.
b. Kelerengan
Kelerengan menjadi salah satu faktor dalam pemilihan pohon tidur lutung jawa. Pengelompokan kelas kemiringan lereng disesuaikan dengan lokasi penelitian sehingga menjadi tiga kelas yaitu, 0-25% (datar bergelombang) , 25-40% (curam) dan >25-40% (sangat curam) (Gambar 10).
Hasil analisis peta menunjukkan bahwa 44 titik perjumpaan lutung jawa ditemukan pada kelerengan 0%-25% (datar bergelombang), 17 titik pada kelerengan 25%-40% (curam) dan 6 titik pada kelerengan >40% (sangat curam). Hal ini merupakan bentuk adaptasi yang dilakukan oleh lutung jawa dengan dominasi topografi yang datar hingga bergelombang di Taman Nasional Baluran. Penelitian Abdillah (2004) di Resort Rowobendo Taman Nasional Alas Purwo dan Idris (2004) di Pos Selabintana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menemukan lutung jawa di lereng curam. Kondisi tajuk vegetasi pada lereng curam yang emergent dimanfaatkan untuk menghindari predator.
c. Jarak dari sungai
Lutung dan primata umumnya memanfaatkan embun, yang menempel di daun, dan air yang menggenang pada batang-batang pohon untuk memenuhi kebutuhan akan air. Hasil analisis peta membagi kelas jarak sungai dalam 5 kelas, yaitu kelas 0-50 m, 50-100 m, 100-150 m, 150-200 m dan >200 m (Gambar 11). Hasil observasi lapang menunjukkan bahwa ditemukan lutung jawa yaitu sebanyak 13 titik pertemuan lutung jawa ditemukan pada jarak 0-50m,7 titik pada 50-100m, 10 titik pada jarak 100-150m, 21 titik pada 150-200m dan 10 titik berada lebih dari 150-200m. Melliana (2001) menjelaskan bahwa lutung menyukai tempat yang berdekatan dengan air untuk mencari makan. Hal ini berkorelasi dengan vegetasi disekitar sumber air yang relatif lebih banyak dan lebih subur dibanding dengan lokasi yang jauh dari sumber air, terutama pertumbuhan cabang dan tajuk.
d. Jarak dari gangguan (jalan dan pemukiman)
Lutung jawa memiliki sifat pemalu dan sangat sensitif terhadap kehadiran manusia. Hasil analisis peta mengklasifikasikan 5 kelas jarak gangguan yaitu 0-100m, 100-200m, 200-300m, 300-400m, dan 400-500m. Dari pengklasifikasian ini, ditemukan 19 titik (0-100m), 10 titik (100-200m), 1 titik (200-300m), 2 titik (300-400m), dan 3 titik (400-500m). Gambaran pemukiman dan jalan yang terdapat di Resort Balanan ditunjukkan pada Gambar 7
(a) (b)
Gambar 7 Jalan setapak dan pemukiman: (a) jalan setapak di Blok Simacan; (b) pemukiman masyarakat di Blok Simacan
Jalan setapak yang ada di Resort Balanan merupakan satu-satunya aksesibilitas yang digunakan petugas operasional TN untuk patroli dan monitoring berkala, wisata serta mobilisasi masyarakat keluar masuk kawasan menggunakan sepeda motor. Lebar jalan berkisar antara 1 – 2 meter. Intensitas lalu lalang motor relatif sedang karena keseharian masyarakat yang bertani dan beternak. Hal ini perlu dikontrol agar penggunaan sepeda motor tidak makin meningkat terutama di dalam kawasan dan habitat teretentu tempat lutung berada. Dampak lainnya yaitu sampah, terutama di daerah pinggir pantai yang dapat mengganggu vegetasi di habitat lutung jawa tersebut.
Gambar 9 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan ketinggian
Gambar 10 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan kemiringan lereng
Gambar 11 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan jarak dari sungai
Gambar 12 Peta distribusi lutung jawa berdasarkan jarak gangguan
Karakteristik Habitat Lutung Jawa
Penentuan karakteristik lutung jawa dianalisis dengan metode PCA (Principal Component Analysis) atau Analisis Komponen Utama (AKU). Metode ini mengubah dari sebagian besar variabel asli yang saling berkolelasi menjadi satu himpunan variabel baru yang lebih kecil dan saling bebas (tidak berkolelasi lagi) (Ardiyansyah 2013). Data yang diolah telah diuji normalitasnya dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test lalu ditransformasi menggunakan z-score untuk meminimalisasi bias pada data hasil pengukuran (Santoso 2006).
Analisis PCA mengharuskan pengujian seluruh matriks korelasi (korelasi antar variabel) yang diukur dengan besaran Bartlett Test of Sphericity dan Measure Sampling Adequacy (MSA) dengan nilai signifikansi dibawah 0,05 (5%) (Lampiran 3). Pengujian nilai MSA mensyaratkan hasil korelasi signifikan bernilai ≥ 0,5 agar bisa diprediksi variasi nya. Apabila tidak, maka variabel yang tidak memenuhi syarat harus dikeluarkan dan pengujian
diulang kembali dengan menggunakan variabel yang memenuhi nilai ≥ 0,5.
Pengujian ulang ini juga harus memperhatikan asumsi awal yang telah terbentuk, seperti normalitasnya.
Hasil perhitungan SPSS menunjukkan bahwa besarnya nilai Bartlett Test of Sphericity adalah 413,072 dengan signifikansi 0,000. Hal ini dapat disimpulkan bahwa variabel memiliki korelasi yang signifikan dan bisa diolah lebih lanjut lagi. Pengujian nilai MSA mengharuskan variabel kelerengan (X10) dikeluarkan karena tidak memenuhi ketentuan, sehingga tidak dapat diprediksi variannya. Hasil pengujian ulang menghasilkan komponen baru yang terbentuk dari 12 variabel yang digunakan seperti ditunjukkan pada Tabel 9.
Tabel 9 Nilai akar ciri Komponen
Tabel 9 menunjukkan bahwa Total keragaman data adalah sebesar 76,868% dengan nilai nilai akar ciri sebesar > 1. Proporsi keragaman yang dianggap cukup mewakili total keragaman data jika keragaman kumulatif mencapai 70% - 80% (Timm 1975 diacu dalam Abdillah 2014). Dengan demikian, komponen yang terbentuk adalah komponen 1, 2, 3 dan 4.
Metode PCA ini menggunakan metode Rotasi Varimax dengan Kaiser Normalization. Melalui analisis ini, akan dihasilkan besarnya nilai sebuah variabel berkorelasi dengan komponen yang terbentuk seperti pada Tabel Matriks komponen terbentuk(Tabel 10).
Tabel 10 Matriks komponen terbentuk Komponen
1 2 3 4
LBDS tiang ,932 -,077 -,004 ,114
Jumlah tiang ,929 -,085 -,083 ,051
Jumlah pakan tingkat tiang ,880 ,061 -,011 ,205
Tinggi tiang ,612 ,333 ,175 ,016
Ketinggian ,083 ,930 -,135 -,064
Jarak dari gangguan ,004 ,905 ,116 ,066
Tinggi pohon ,007 -,210 ,771 ,132
LBDS pohon -,108 ,376 ,686 ,020
Jarak dari sungai ,002 ,605 -,630 -,085
Tutupan tajuk ,380 ,045 ,548 ,418
Jumlah pohon ,017 ,070 ,053 ,937
Jumlah tingkat pohon ,279 -,119 ,208 ,834
Komponen 1 terdiri dari variabel LBDS tiang (X6), jumlah tiang (X2), jumlah pakan tingkat tiang (X4), dan tinggi tiang (X8) yang menggambarkan faktor biotik tumbuhan regenerasi. Komponen 2 terdiri dari variabel ketinggian (X11), jarak dari gangguan (X13) dan jarak dari sungai (X12) yang menggambarkan faktor abiotik. Komponen 3 terdiri dari variabel tinggi pohon (X7), LBDS pohon (X5) dan tutupan tajuk (X9) yang menggambarkan faktor fisik tumbuhan. Komponen 4 terdiri dari jumlah pohon (X1) dan jumlah pakan tingkat pohon (X3) yang menggambarkan faktor biotik tumbuhan tua.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Jumlah populasi lutung jawa yang ditemukan adalah sebanyak 93 individu yang terbagi menjadi 6 kelompok. Nisbah Kelamin lutung bervariasi sebesar 1:3, 1:4, dan 1:5 dengan perbandingan struktur umur dewasa : Remaja : Anakan adalah 2 : 8,4 : 9. Kepadatan populasi lutung jawa adalah 0,08 individu/ha yang merupakan bentuk adaptasi terhadap keterbatasan habitat yang ada di Resort Balanan Taman Nasional Baluran.
2. Hasil Analisis Komponen Utama (AKU/Principal Component Analysis) menunjukkan terdapat 4 komponen yang menggambarkan karakteristik habitat lutung jawa. Komponen 1 terdiri dari variabel LBDS tiang (X6), jumlah tiang (X2), jumlah pakan tingkat tiang (X4), dan tinggi tiang (X8) yang menggambarkan faktor biotik tumbuhan regenerasi. Komponen 2 terdiri dari variabel ketinggian (X11), jarak dari gangguan (X13) dan jarak dari sungai (X12) yang menggambarkan faktor abiotik. Komponen 3 terdiri dari variabel tinggi pohon (X7), LBDS pohon (X5) dan tutupan tajuk (X9) yang menggambarkan faktor fisik tumbuhan. Komponen 4 terdiri dari jumlah pohon (X1) dan jumlah pakan tingkat pohon (X3) yang menggambarkan faktor biotik tumbuhan tua.
Saran
1. Monitoring lutung jawa sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan komposisi kelompok (sex ratio dan struktur umur). Hal ini berkaitan dengan upaya peningkatan populasi, terutama daya hidup anakan lutung jawa.
2. Perlunya pendokumentasian data populasi lutung jawa dan kondisi habitatnya secara periodik agar kedepannya dapat dipantau perkembangan terhadap populasi dan gangguan pada habitatnya.
3. Sebaiknya dilakukan pemantauan khusus terhadap tumbuhan pakan dan pohon tidur yang dimanfaatkan lutung jawa, terutama tumbuhan regenerasinya (tiang).
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah R. 2014. Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Lutung Jawa (Trachypithecus auratus Geoffroy, 1812) di Resort Rowobendo Taman Nasional Alas Purwo. [skripsi]. Bogor [ID]: DKSHE, Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Ardiyansyah RF. 2013. Pengenalan Pola Tanda Tangan Dengan menggunakan Metode Principal Component Analysis (PCA). [jurnal]. Semarang [ID]: Universitas Dian Nuswantoro
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar Jilid I. Bogor [ID]: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan (YPFK)
Ayunin Q. 2013. Seleksi habitat Lutung Jawa (Trachypithecus auratus cristatus) di Taman Nasional Gunung Merapi. [tesis]. Yogyakarta [ID]: Universitas Gadjah Mada
[BTNB] Balai Taman Nasional Baluran. 2005. Laporan Kegiatan Monitoring Lutung Jawa Keberadaan Lutung (Trachypithecus auratus cristatus) di blok Sumberbatu, Resort Bama Seksi Konservasi Wilayah II Bekol. Banyuwangi [ID] : TNB
Dunteman GH. 1989. Principal Component Analysis. United States [US]: Sage University Press.
Febriyanti NS. 2008. Studi karakteristik cover lutung jawa (trachypithecus auratus geoffroy 1812) di blok ireng-ireng taman nasional bromo tengger semeru jawa timur. [skripsi]. Bogor [ID]: DKSHE, Fakultas Kehutanan, IPB Hasanah A. 2011. Studi Karakteristik Lanskap Habitat Musim dingin Sikep Madu asia (Pernis ptylorhyncus) Berbasis Satellite Tracking di Kalimantan Selatan. [skripsi]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor
Hasnawati. 2006. Analisis Populasi dan Habitat Sebagai Dasar Pengelolaan Rusa Totol (Axis axis Erxl.) di Taman Monas Jakarta [tesis]. Bogor [ID]: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
[IUCN] International Union for Corservation of Nature and Natural Resources. 2014. Trachypithecus auratus. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist /details/22034/0 (diakses 5 Jan 2012)
Idris I. 2004. Pola Pergerakan Lutung Jawa di Pos Selabintana, Taman Nasional Gede Pangrango, Jawa Barat [skripsi]. Bogor [ID]: Program Diploma Konservasi Sumberdaya Hutan. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta [ID]: PT Bumi Aksara
James FC, Shugart HH. 1970. A Quantitative Method of Habitat Description. Audubon Field Notes 24: 727-736.
Kartikasari SN. 1986. Studi Populasi Lutung (Presbytis cristata Raffles) di Taman Nasional Baluran [skripsi]. Bogor [ID]: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Leksono NP. 2014. Studi populasi dan habitat lutung jawa (trachypithecus auratus sondaicus) di cagar alam pananjung pangandaran jawa barat. [skripsi]. Bogor [ID]: DKSHE, Fakultas Kehutanan, IPB
Lim BH, Sasekumar A. 1979. A Prelimernary Study on Feeding Biology of Mangrove Forest Primates. Kuala Selangor [MY]: The Malayan Nature Journal. Hlm 105-112
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey [US]: Princetown University Press.
Maryanto I, Achmadi AS, Kartono AP. 2008. Mamalia Dilindungi Perundang-undangan Indonesia. Jakarta (ID): LIPI Press.
Meiliana H. 2001. Jenis palatabilitas pakan Lutung Budeng (Tracyphitecus cristatus) dan Lutung Hitam (Tracyphitecus cristatus) di Taman Wisata Alam Telaga Warna. [skripsi]. Bogor [ID]: Program Diploma III KSH, DKSHE, Fahutan, IPB
Pekerti A. 2007. Aktivitas Harian Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus) di Stasiun Penelitian Cikaniki TNGHS. [skripsi]. Bogor [ID]: Program Diploma III KSH, DKSHE, Fahutan, IPB
Priyono A. 1998. Penentuan ukuran populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles) dalam penangkaran dengan sistem pemeliharaan di alam Bebas : Studi kasus di PT Musi Hutan Persada. [tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor
Profauna Indonesia. 2013. Lutung Jawa. http://www.google.com/Lutung-Jawa-di -Pasar-Jawa-Timur/ (diunduh pada November 2014)
Santoso S. 2006. Analisis Multivariat : Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta [ID] : Elex Media Computindo
Semiadi G. 2006. Biologi Rusa Tropis. Bogor [ID]: Pusat Penelitian Biologi LIPI. Soerianegara I, Indrawan A. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor [ID]: Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Sofial M. 2014 Okt 30.Perburuan liar, populasi lutung jawa tinggal 30%. Bisnis Indonesia. Rubrik Lintas Jagat: 4 (3-7)
Supriatna J,Wahyono EH. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Jakarta [ID]: Yayasan Obor Indonesia
Suwono. 2006. Analisis Habitat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Terhadap Pelepasliaran Lutung Jawa (Tracypithecus auratus) [skripsi]. Malang [ID]: Institut Pertanian Malang.
Lampiran 1 Pemanfaatan vegetasi sebagai pakan dan cover bagi lutung jawa
Famili Nama jenis Pemanfaatan
Lampiran 2 Indeks Nilai Penting tumbuhan tingkat tiang dan pohon di Resort Balanan
Tipe Habitat Tingkat Jenis vegetasi K KR (%) F FR (%) D DR (%) INP (%)
Hutan Mangrove Tiang - - - - -
Pohon Ceriops Tagal 275 31,43 0,29 20 13,96 24,95 76,38
Rhizopora spilosa 375 42,86 0,57 40 18,42 32,92 115,77
Rhizopora mucronata 150 17,14 0,29 20 16,56 29,61 66,75
Avicennia sp. 25 2,86 0,14 10 6,16 11,01 23,87
Excoecaria agallocha 50 5,71 0,14 10 0,85 1,51 17,23
Hutan Pantai Tiang Azedirachta indica 100 5 0,14 11,54 1,10 3,42 20
Schoutenia ovata 250 12,5 0,10 7,69 3,94 12,22 32,41
Leucaena leucocephala 25 1,25 0,05 3,85 0,44 1,37 6,47
Tamarindus indica 125 6,25 0,14 11,54 1,85 5,74 23,52
Pemphis acidula 25 1,25 0,05 3,85 0,24 0,74 5,83
Persea gratissima 125 6,25 0,10 7,69 1,72 5,34 19,28
Protium javanicum 50 2,5 0,05 3,85 0,61 1,91 8,25
Schleira oleosa 50 2,5 0,05 3,85 1,09 3,39 9,74
Streblus asper 775 38,75 0,38 30,77 14,03 43,51 113,03
Grewia eriocarpa 100 5 0,05 3,85 1,36 4,20 13,05
Excoecaria agallocha 375 18,75 0,14 11,54 5,86 18,17 48,46
Pohon Bridelia ovata 75 2,86 0,14 5,10 127,55 12,02 12,16
Azedirachta indica 425 16,19 0,77 28,91 722,79 68,11 68,88
Acacia leucophloea 75 2,86 0,14 5,10 127,55 12,02 12,16
Schoutenia ovata 150 5,71 0,27 10,20 255,10 24,04 24,31
Tamarindus indica 400 15,24 0,73 27,21 680,27 64,10 64,83
Hibiscus tiliaceus 25 0,95 0,05 1,70 42,52 4,01 4,05
Cordia obliqua 25 0,95 0,05 1,70 42,52 4,01 4,05
Ficus superba 200 7,62 0,36 13,61 340,14 32,05 32,42
Lampiran 2 Indeks Nilai Penting tumbuhan tingkat tiang dan pohon di Resort Balanan (lanjutan)
Tipe habitat Tingkat Jenis vegetasi K KR (%) F FR (%) D DR (%) INP (%)
Pohon Schleira oleosa 100 3,81 0,18 6,80 170,07 16,03 16,21
Terminallia catappa 25 0,95 0,05 1,70 42,52 4,01 4,05
Rhizopora spilosa 50 1,90 0,09 3,40 85,03 8,01 8,10
Rhizopora mucronata 75 2,86 0,14 5,10 127,55 12,02 12,16
Streblus asper 575 21,90 1,04 39,12 977,89 92,15 93,19
Ficus benjamina 150 5,71 0,27 10,20 255,10 24,04 24,31
Grewia eriocarpa 150 5,71 0,27 10,20 255,10 24,04 24,31
Parkia timoriana 100 3,81 0,18 6,80 170,07 16,03 16,21
Buchanania arborescens 25 0,95 0,05 1,70 42,52 4,01 4,05
Hutan Musim (Sekunder) Tiang Acacia leucophloea 25 1,176 0,04 2,38 0,64 1,73 5,29
Falcataria mollucana 50 2,353 0,07 4,76 0,74 2,01 9,13
Syzigium polyanthum 100 4,706 0,07 4,76 1,55 4,21 13,68
Bridelia ovata 200 9,412 0,19 11,90 3,91 10,64 31,95
Stercullia Foetida 25 1,176 0,04 2,38 0,44 1,20 4,76
Schleira oleosa 150 7,059 0,11 7,14 2,52 6,84 21,05
Azadirachta indica 450 21,176 0,22 14,29 7,34 19,96 55,42
Tamarindus indica 50 2,353 0,07 4,76 1,01 2,75 9,86
Bentisan 25 1,176 0,04 2,38 0,28 0,77 4,33
Schoutenia ovata 225 10,588 0,19 11,90 4,03 10,97 33,46
Grewia eriocarpa 225 10,588 0,30 19,05 4,39 11,95 41,59
Hibiscus tiliaceus 25 1,176 0,04 2,38 0,50 1,37 4,92
Cordia obliqua 75 3,529 0,07 4,76 0,91 2,46 10,75
Streblus asper 500 23,529 0,11 7,14 8,50 23,13 53,80
Pohon Falcataria mollucana 100 2,469 0,148 6,250 9,401 0,943 9,662 Acacia leucophloea 375 9,259 0,296 12,500 58,104 5,826 27,585
Lampiran 2 Indeks Nilai Penting tumbuhan tingkat tiang dan pohon di Resort Balanan (lanjutan)
Tipe habitat Tingkat Jenis vegetasi K KR (%) F FR (%) D DR (%) INP (%)
Pohon Syzigium polyanthum 50 1,235 0,037 1,563 2,691 0,270 3,067
Bridelia ovata 25 0,617 0,037 1,563 1,228 0,123 2,303
Stercullia Foetida 50 1,235 0,074 3,125 323,638 32,450 36,809 Schleira oleosa 350 8,642 0,296 12,500 44,711 4,483 25,625
Ficus superba 250 6,173 0,074 3,125 23,685 2,375 11,673
Azadirachta indica 700 17,284 0,370 15,625 55,585 5,573 38,482 Tamarindus indica 225 5,556 0,222 9,375 67,473 6,765 21,696
Bentisan 125 3,086 0,111 4,688 6,264 0,628 8,402
Acacia nilotica 1000 24,691 0,185 7,813 41,668 4,178 36,682
Schoutenia ovata 50 1,235 0,074 3,125 2,878 0,289 4,648
Grewia eriocarpa 350 8,642 0,222 9,375 13,255 1,329 19,346
Spondias cyatherea 25 0,617 0,037 1,563 1,328 0,133 2,313
Cordia obliqua 25 0,617 0,037 1,563 2,545 0,255 2,435
Streblus asper 150 3,704 0,074 3,125 9,814 0,984 7,813
Ficus benjamina 200 4,938 0,074 3,125 333,086 33,397 41,460
Hutan Musim (Primer) Tiang Ficus pilosa 25 12,5 3,13 178,57 0,50 12,45 39,24
Schleira oleosa 100 50 12,50 714,29 2,05 50,71 143,57
Acacia leucophloea 25 12,5 3,13 178,57 0,57 14,06 40,85
Erythrina fusca 50 25 6,25 357,14 0,92 22,78 76,35
Pohon Ficus pilosa 175 26,923 6,73 269,23 625,236 91,219 128,142 Schleira oleosa 150 23,077 5,77 230,77 26,249 3,830 56,906 Acacia leucophloea 125 19,231 4,81 192,31 22,106 3,225 42,456
Schoutenia ovata 25 3,846 0,96 38,46 1,133 0,165 14,011
Acacia nilotica 50 7,692 1,92 76,92 2,754 0,402 18,094
Lampiran 3 Hasil Principal Component Analysis (PCA)
KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. ,681 Bartlett's Test of
Sphericity
Approx. Chi-Square 413,072
Df 66
Sig. ,000
Anti-image Matrices
JP JT JPP JPT LBDSP LBDST TP TT CC TGG JDS JDG
Anti-image Correlation
JP ,514a ,209 -,690 -,153 -,068 -,032 -,007 ,115 -,159 -,193 -,169 ,221 JT ,209 ,673a -,195 -,209 -,087 -,812 ,061 -,057 ,162 -,061 -,107 ,175 JPP -,690 -,195 ,660a ,017 ,022 ,032 -,060 -,082 -,037 ,235 ,172 -,238 JPT -,153 -,209 ,017 ,872a ,071 -,217 ,175 -,258 -,159 -,099 ,128 ,010 LBDSP -,068 -,087 ,022 ,071 ,527a ,067 -,195 ,125 -,036 -,275 ,392 -,142 LBDST -,032 -,812 ,032 -,217 ,067 ,715a -,070 ,044 -,222 ,026 ,012 -,045 TP -,007 ,061 -,060 ,175 -,195 -,070 ,750a -,192 -,246 ,076 ,176 ,042 TT ,115 -,057 -,082 -,258 ,125 ,044 -,192 ,808a -,115 -,232 ,019 ,010 CC -,159 ,162 -,037 -,159 -,036 -,222 -,246 -,115 ,741a ,239 ,122 -,354 TGG -,193 -,061 ,235 -,099 -,275 ,026 ,076 -,232 ,239 ,583a -,371 -,668 JDS -,169 -,107 ,172 ,128 ,392 ,012 ,176 ,019 ,122 -,371 ,691a -,119 JDG ,221 ,175 -,238 ,010 -,142 -,045 ,042 ,010 -,354 -,668 -,119 ,571a
Measures of Sampling Adequacy (MSA).
Lampiran 3 Hasil Principal Component Analysis (PCA) (lanjutan)
Communalities
Initial Extraction
JP 1,000 ,885
JT 1,000 ,879
JPP 1,000 ,832
JPT 1,000 ,820
LBDSP 1,000 ,625
LBDST 1,000 ,889
TP 1,000 ,656
TT 1,000 ,517
CC 1,000 ,621
TGG 1,000 ,894
JDS 1,000 ,770
JDG 1,000 ,837
Component Transformation Matrix
Component 1 2 3 4
1 ,848 ,010 ,268 ,457
2 ,241 ,846 -,422 -,217
3 -,416 ,531 ,623 ,396
4 ,223 ,040 ,601 -,766
Rotated Component Matrixa Component
1 2 3 4
LBDST ,932 -,077 -,004 ,114
JT ,929 -,085 -,083 ,051
JPT ,880 ,061 -,011 ,205
TT ,612 ,333 ,175 ,016
TGG ,083 ,930 -,135 -,064
JDG ,004 ,905 ,116 ,066
TP ,007 -,210 ,771 ,132
LBDSP -,108 ,376 ,686 ,020
JDS ,002 ,605 -,630 -,085
CC ,380 ,045 ,548 ,418
JP ,017 ,070 ,053 ,937
Lampiran 4 Tallysheet komponen habitat lutung jawa di Resort Balanan, Taman Nasional Baluran
No No plot
∑ vegetasi ∑ pakan LBDS Tinggi rata-rata
CC (%)
Kelerengan (%)
Ketinggian (mdpl)
Jarak (m) Keterangan
P T P T P T P T S G H/TH Tipe
habitat*
1 48 6 4 1 2 0,93 0,07 6,5 5,6 51,55 0,55 92 358 100 H HMS
2 47 6 2 3 1 0,37 0,05 8,3 6,5 99,00 0,55 98 309 116,5 H HMS
3 36 2 2 1 1 0,28 0,03 10,5 5,5 22,93 0,6 92 301 100 H HMS
4 26 2 7 1 3 0,12 0,17 8 5,4 99,79 0,6 98 200 112 H HMS
5 25 4 9 2 3 0,34 0,13 9,5 4,2 43,46 0,55 98 376 108,6 H HMS
6 34 2 3 0 1 0,19 0,05 10,2 6,3 31,35 0,45 92 388 86,9 H HMS
7 27 6 3 3 1 1,46 0,06 8,3 6,5 31,37 0,55 98 302 106 H HMS
8 37 1 1 0 0 0,12 0,03 7 7 13,21 0,6 95 305 100 H HMS
9 38 2 2 0 0 0,32 0,03 6,5 3,0 22,34 0,55 90 286 100 H HMS
10 12 9 0 4 0 1,52 0,00 10 0,0 53,71 0,23 33 213 97 H HP
11 11 2 2 2 0 0,05 0 4,5 0 6,98 0,06 0 258 50 H HM
12 13 10 2 2 2 0,91 0,03 8,8 5,0 61,09 0,2 35 311 120 H HP
13 49 2 6 1 2 0,09 0,10 7,0 5,6 95,33 0,45 107 600 578 H HMS
14 50 2 2 0 0 0,12 0,04 8,0 4,0 71,72 0,45 107 650 600 H HMS
15 39 10 4 3 2 0,80 0,06 5,8 4,3 60,11 0,45 132 700 559 H HMS
16 40 5 1 2 1 0,22 0,02 5,4 6,4 14,34 0,5 132 356 50 H HMS
17 44 12 0 0 0 0,46 0,00 3 0 5,30 0,45 130 300 60 H HMS
18 9 7 0 3 0 0,50 0,00 7,1 0,00 98,05 0,07 0 57 113,5 H HM
19 28 4 9 2 1 0,22 0,02 5,4 6,4 14,34 0,5 132 367 100 H HMS
20 14 1 4 0 2 0,09 0,04 10 2,8 22,37 0,2 26 289 105 H HP
21 15 18 2 5 2 1,69 0,04 13,8 7,5 99,71 0,16 62 276 200 H HP
Lampiran 4 Tallysheet komponen habitat lutung jawa di Resort Balanan, Taman Nasional Baluran (lanjutan)
No No plot
∑ vegetasi ∑ pakan LBDS Tinggi rata-rata CC (%)
Kelerengan (%)
Ketinggian (mdpl)
Jarak (m) Keterangan
P T P T P T P T S G H/TH Tipe
habitat*
22 10 7 2 4 1 0,47 0,03 14,29 9,50 90,47 0,1 0 58 77 H HM
23 20 4 7 3 2 1,48 0,08 11,00 7,00 88,54 0,08 25 76 100 H HP
24 21 9 2 4 1 1,13 0,04 19,00 8,50 98,93 0,1 23 57 89 H HP
25 8 3 11 3 3 0,11 0,18 7,67 6,27 92,64 0,1 24 87 65 H HP
26 16 16 14 7 4 1,21 0,26 10,8 6,93 99,41 0,08 25 90 50 H HP
27 3 5 0 2 0 0,31 0,00 13 0 46,92 0,05 2 65 67 H HM
28 19 2 0 2 0 0,14 0,00 10,00 0,00 26,12 0,07 2 67 50 H HM
29 19 3 0 0 0 0,28 0,00 10,00 0,00 26,38 0,05 16 67 55 H HM
30 19 5 0 0 0 0,75 0,00 11,67 0,00 95,82 0,1 75 216 189 H HMS
31 29 7 3 2 1 0,35 0,05 10,00 6,67 97,93 0,09 66 220 200 H HMS
32 32 11 4 4 2 0,95 0,07 8,36 7,67 90,73 0,75 70 201 187 H HMS
33 28 4 8 2 3 0,17 0,11 3,75 5,38 93,74 0,75 55 187 196 H HMS
34 27 8 1 4 1 0,89 0,02 8,5 6 76,36 0,8 56 285 155 H HMS
35 30 6 0 3 0 0,65 0 11,5 0 56,62 0,77 66 200 201 H HMS
36 2 7 0 2 0 0,45 0,00 9,57 0,00 87,85 0,1 0 43 55 H HM
37 4 4 1 2 1 0,33 0,01 11,0 9 78,58 0,1 23 55 67 H HP
38 7 8 1 3 1 11,4 0,02 12,63 3 96,09 0,05 23 77 74 H HP
39 23 5 0 3 0 13 0,00 8,40 0,00 64,04 0,2 22 78 89 H HP
40 17 7 0 3 0 2,35 0,00 15,75 0,00 99,80 0,15 24 149 106 H HP
41 15 5 2 3 1 0,60 0,05 10,20 6,00 47,34 0,15 23 160 94 H HP
Lampiran 4 Tallysheet komponen habitat lutung jawa di Resort Balanan, Taman Nasional Baluran (lanjutan)
No No plot
∑ vegetasi ∑ pakan LBDS Tinggi rata-rata CC (%)
Kelerengan (%)
Ketinggian (mdpl)
Jarak (m) Keterangan
P T P T P T P T S G H/TH Tipe
habitat*
42 18 4 3 2 2 0,29 0,05 8,25 6,33 60,13 0,2 23 100 71 H HP
43 21 3 4 3 1 1,97 0,09 11 4,5 92,4 0,2 24 112 102 H HP
44 6 7 1 3 1 2,44 0,02 9,29 4 94,79 0,15 24 123 113 H HP
45 29 7 1 3 1 2,08 0,02 8 6 99,2 0,15 23 108 97 H HP
46 44 10 12 5 2 10,4 0,18 12,3 5,42 98,62 0,45 95 198 169 H HMP
47 5 7 12 4 4 1,09 0,25 10,7 6,42 95,03 0,1 28 65 98 H HP
48 42 8 3 3 3 0,87 0,04 9,19 6,67 97,51 0,49 96 178 116 H HMP
49 43 5 2 2 2 1,11 0,04 10,40 7,00 92,93 0,55 98 206 77 H HMP
50 51 4 0 1 0 15,9 0,00 14,25 0,00 76,60 0,45 95 159 128 H HMS
51 52 5 7 3 2 0,93 0,12 9,20 4,71 98,99 0,55 95 147 126 H HMS
52 53 6 9 3 4 1,12 0,15 15,50 5,40 99,43 0,5 98 135 114 H HP
53 17 4 5 1 3 0,67 0,07 7,5 6,6 99,69 0,3 36 90 63 H HP
54 25 9 4 2 1 1,09 0,07 14 5 99,49 0,35 36 117 105 H HP
55 33 3 6 1 0 0,7 0,1 12,67 8,83 88,22 0,4 35 209 90 H HP
56 32 3 3 2 1 0,95 0,03 13 5 60,07 0,4 36 87 47 H HP
57 69 7 2 2 2 25,0 0,04 12,5 11,50 95,28 0,1 234 100 1450 H HMP
58 70 8 2 4 2 1,29 0,04 7,6 5 86,41 0,1 210 420 1300 H HMP
59 68 8 2 2 1 0,69 0,05 7,25 7 96,55 0,1 208 400 1307 H HMP
60 71 3 2 2 1 0,36 0,03 9,23 6,30 61,64 0,1 187 359 1095 H HMP
61 55 2 5 1 1 0,21 0,08 11 8,80 70,01 0,1 88 299 183 H DIA
keterangan: P: Pohon; T: Tiang; S: Sungai; G: Gangguan; H: Hadir; TH: Tidak hadir; *:keterangan seperti pada Tabel 3.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 26 Februari 1994 dari Bapak Slamet dan Ibu Sujiati. Penulis adalah putri ketiga dari tiga bersaudara. Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Palembang dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) serta diterima di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten praktikum Rekreasi Alam dan Ekowisata pada tahun 2014. Penulis juga pernah aktif di UKM LISES Gentra Kaheman, Anggota International Forestry Student Association (IFSA-LC IPB), Bendahara I Biro Pengembangan Sumberdaya Manusia (PSDM) serta Anggota Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu (KPK) dan Kelompok Pemerhati Ekowisata (KPE) Himpunan Profesi Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA). Tahun 2013 penulis melaksanakan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di jalur Kamojang-Sancang Barat. Tahun 2014 penulis melaksanakan Praktik Pengenalan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi. Lalu, pada tahun 2015 melaksanakan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) dan penelitian di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.