EVALUASI KUALITATIF PENGGUNAAN
ANTIBIOTIK MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS
BPJS DI RUMKITAL DR. MINTOHARDJO TAHUN
2014
SKRIPSI
ATHIROTIN HALAWIYAH
NIM: 1111102000075
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
EVALUASI KUALITATIF PENGGUNAAN
ANTIBIOTIK MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS
BPJS DI RUMKITAL DR. MINTOHARDJO TAHUN
2014
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi
ATHIROTIN HALAWIYAH
1111102000075
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
ABSTRACT Name : Athirotin Halawiyah Program Study : Pharmacy
Title : Qualitative Evaluation of Meropenem Use in Social Health Insurance Sepsis Patient in Naval Hospital Dr. Mintohardjo 2014
Sepsis is a systemic and deleterious body response to infection. Sepsispatientsrequire abroad-spectrumantibiotictherapywhen thepathogenic bacteria that infects the bodyis unknown. Meropenem is a broad spectrum antibiotic that has a high potential as an empirical and definitive therapy against serious infections caused by multi-drug resistant organism (MDRO) The antibiotic resistance may emerge as a result of inappropriate use of antibiotic. This study aimed to evaluate the quality (appropriateness) use of meropenem in Naval Hospital Dr. Mintohardjo using Gyssens’ flowchart. Certain parameters have been analyzed, which are the adequacy of the data, indication, antibiotic choice, duration, dosage, interval, route and timing of antibiotic usage.This is retrospective study using descriptive-case study approach. Data for this study were drawn from patient’s medical records from January-December 2014 periode. The data retrieval was done by using the total sampling technique, where 26 samples were obtained in accordance with the study inclusion criteria. Patient characteristics were observed, showed that the most common sepsis type is nosocomial sepsis (42%), disease comorbidity is cerebrovascular sepsis (29%), the mean duration of treatment is 20 days, the number of drug received are 13 and the number of antibiotic received is 3. Meropenem was given as empirical therapy in 24 patients (92,3%) and definitive therapy in 2 patients (7.7%). The result of the qualitative evaluation of meropenem use showed that 15% were appropriate (category 0), and 85% were inappropriate (category I-VI). The inappropriate use of meropenem, 9% due to inappropriate dose, 24 % innapropriate interval, 6% duration too long, 49% because there were alternatives that more effective, 3% alternatives that have narrower spectrum, and 9% data insufficiency. Referring to this result, the use of antibiotic meropenemin patients with sepsis in RUMKITAL Dr.Mintohardjo requires efforts in improving the quality of use and prevention of meropenem resistance.
viii UIN Syarif Hidayatullah Jakarta KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur tak terhingga saya panjatkan kepada Allah azza
wa jalla yang telah memberikan segala bentuk kasih sayangNya kepada saya.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW. Berkat rahmat dan pertolongan Allah, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Kualitatif Antibiotik Meropenem pada Pasien Sepsis BPJS di RUMKITAL Dr. Mintohardjo” bertujuan untuk
memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak mulai dari masa perkuliahan hingga penyusunan skripsi, sangatlah sulit
untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih
dan penghargaan sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Azrifitria, M.Si., Apt dan Bapak Drs. M. Samsul Arifin W., Apt
selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah banyak
memberikan bimbingan, ilmu, waktu, dan tenaga, dalam penelitian ini.
2. Prof. Dr. Arief Sumantri S.KM, M.KM selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Drs. Umar Mansur, M.Sc., Apt selaku ketua Program Studi Farmasi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan banyak motivasi dan dukungan.
4. Ibu Dr. Hj. Delina Hasan, M.Kes, Apt selaku dosen Penasehat Akademik
(PA) atas motivasi dan bantuan selama empat tahun penulis menimba ilmu di
Farmasi UIN
5. Bapak dan Ibu dosen pengajar Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah banyak memberikan ilmu dan teladan selama masa perkuliahan.
6. Bapak Ari, Ibu Esti dan seluruh civitas RUMKITAL Dr. Mintohardjo yang
7. Harta saya yang paling berharga, Abi H. Muhammad Syarofuddin Turmudzi
Hudan dan Ibu Dra. Hj. Rohmatin Maghfuroh atas kasih sayang, doa, teladan,
dukungan dan bimbingan yang tak henti mengalir. Terima kasih telah
menjadi murobbi ruhy. Insyaallah rumah di surga tersedia untuk Abi dan Ibu.
8. Adik-adik saya yang sangat saya sayangi, Muhammad Saad Yumnan dan
Ahmad Ubaidunnur, terima kasih untuk selalu mendukungku. Semoga kita
selalu berbakti kepada Abi dan Ibu serta selalu dalam naungan kasihNya.
9. Sahabat-sahabat tersayang; Nur Azizah dan Ratu Fauziyah, ketika
persahabatan berarti saling menginspirasi dan menguatkan. Terima kasih
telah membersamaiku dalam suka dan duka.
10. Teman-teman terdekat; Umniyaty Mufidah dan Syaima, terima kasih
menemaniku selama 3 tahun di perantauan. Semoga kita tetap berteman
hingga akhir hayat.
11. Keluarga Forum Lingkar Pena Ciputat; Kholik, Kak Andik, Tiara, Kak Amal,
Eza, Kak Ali Rif’an dan teman-teman serta senior yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu. Terima kasih untuk kebersamaan, kekeluargaan dan
pembelajaran selama ini. Penulis merasa beruntung mengenal kalian.
12. Teman-teman yang melaksanakan penelitian di RUMKITAL Dr.
Mintohardjo; Bilqis, Nikmah, Dana, Tari, Pipit, terima kasih untuk semangat
yang terus kita nyalakan bersama-sama.
13. Teman-teman seperjuangan Farmasi angkatan 2011, terima kasih atas
persaudaraan dan pertemanan yang berkesan selama 4 tahun ini.
14. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
kelancaran pengerjaan skripsi ini.
Semoga Allah azza wa jalla membalas kebaikan semua pihak yang telah
membantu. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap kritik
dan saran atas kekurangan dan keterbatasan penelitian ini. Semoga hasil
penelitian ini bermanfaat untuk banyak pihak dan perkembangan ilmu
pengetahuan.
Ciputat, 1 Juni 2015
x UIN Syarif Hidayatullah Jakarta HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Athirotin Halawiyah
NIM : 1111102000075
Program Studi : Farmasi
Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Jenis Karya : Skripsi
demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui/karya ilmiah saya,
dengan judul :
EVALUASI KUALITATIF PENGGUNAAN ANTIBIOTIK MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS BPJS DI RUMKITAL DR. MINTOHARDJO
TAHUN 2014
untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.
Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat
dengan sebenarnya
Dibuat di : Ciputat
Pada Tanggal : 1 Juni 2015
Yang menyatakan,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan ... 4
1.3.1. Tujuan Umum ... 4
1.3.2. Tujuan Khusus ... 4
1.4. Manfaat Hasil Penelitian ... 4
1.4.1. Manfaat Teoritis ... 4
1.4.2. Manfaat Praktis ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Antibiotik ... 5
xii UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2.1.2. Penggolongan Antibiotik ... 5
2.1.2.1.Antibiotik Berdasarkan Spektrum Aktivitas .. 5
2.1.2.2.Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja .... 5
2.1.2.3.Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia ... 6
2.1.3. Penggunaan Antibiotik ... 7
2.1.4. Resistensi Antibiotik ... 8
2.1.5. Evaluasi Penggunaan Antibiotik ... 11
2.1.5.1. Penilaian Kualitas Antibiotik ... 11
2.2. Meropenem ... 14
2.2.1. Mekanisme Kerja ... 14
2.2.2. Indikasi ... 14
2.2.3. Dosis ... 14
2.2.4. Efek samping ... 15
2.2.5. Farmakokinetik ... 15
2.2.6. Kepekaan Bakteri Patogen Terhadap Meropenem .... 16
2.2.7. Potensi Interaksi Obat ... 16
2.3. Sepsis ... 16
2.3.1. Definisi Sepsis ... 16
2.3.2. Patogenesis Sepsis ... 17
2.3.2.1.Mekanisme yang Mungkin Terjadi ... 17
2.3.2.2.Fase-fase Respon Inflasi ... 18
2.3.3. Diagnosis ... 21
2.3.4. Manajemen Sepsis Berat ... 23
2.3.4.1.Terapi Antimikroba ... 25
2.4. BPJS ... 27
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 28
3.1. Jenis Penelitian ... 28
3.3. Populasi dan Sampel ... 28
3.3.1. Populasi ... 28
3.3.2. Sampel ... 29
3.4. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29
3.5. Definisi Operasional ... 29
3.6. Prosedur Penelitian ... 33
3.6.1. Persiapan (permohonan izin) ... 33
3.6.2. Pengumpulan Data Penelitian ... 33
3.6.3. Pengolahan Data ... 34
3.6.4. Analisis Data ... 34
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1. Hasil Penelitian ... 37
4.1.1. Karakteristik Pasien ... 37
4.1.2. Peta Resistensi Mikroorganisme ... 39
4.1.3. Evaluasi Antibiotik ... 42
4.2. Pembahasan Penelitian ... 44
4.2.1. Karakteristik Pasien ... 44
4.2.2. Peta Resistensi Mikroorganisme ... 47
4.2.3. Evaluasi Antibiotik ... 50
4.3. Kekuatan dan Keterbatasan Penelitian ... 58
4.3.1. Kekuatan Penelitian ... 58
4.3.2. Keterbatasan Penelitian ... 58
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
5.1. Kesimpulan ... 59
5.2. Saran ... 59
xiv UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1 2 3 4 5
Diagram Alir Gyssens ... Struktur Meropenem ………... Pelepasan mediator yang diinduksi endotoksin ... Pelepasan mediator yang diinduksi superantigen ... Kerangka Konsep Penelitian ………...
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. 2.2. 3.1. 4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5. 4.6.
4.7.
Kriteria Diagnosis Sepsis………... Manajemen Sepsis Berat ………... Definisi Operasional ... ………... Karakteristik Pasien Sepsis yang Menerima Antibiotik
Meropenem ... ………... Data Jumlah Spesimen Uji Sensitivitas Antibiotik RUMKITAL Dr. Mintohardjo Periode Januari-Desember 2014 ... Data Jumlah Kuman yang Terlibat dalam Pembuatan Peta Resistensi Bakteri terhadap Antibiotik di RUMKITAL Dr. Mintohardjo periode Januari-Desember2014 ... Data Profil Kuman Berdasarkan Jenis Spesimen Uji Sensitivitas Antibiotik RUMKITAL Dr. Mintohardjo Periode Januari-Desember 2014………... Hasil Evaluasi Penggunaan Antibiotik Meropenem (n=26) ... Rincian Ketidakrasionalan Penggunaan Antibiotik Meropenem (n=34)………... Jenis Antibiotik Alternatif yang Lebih Efektif ...
22 23 30
38
40
40
41 42
xvi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 2 3
4
Surat Persetujuan Pelaksanaan Penelitian ... Rekapitulasi Data Pasien ………... Rekapitulasi Hasil Evaluasi Meropenem Berdasarkan Kategori Gyssens ………... Laporan Peta Resistensi Bakteri RUMKITAL Dr. Mintohardjo Tahun 2014 ...
66 67
85
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan di rumah
sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di Indonesia. Salah satu
permasalahan infeksi yang paling sering dijumpai adalah infeksi oleh bakteri.
Pemberian antibiotik masih merupakan pilihan utama untuk mengatasi infeksi saat
ini (Rosita, 2013).
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,
yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang
dibuat secara semi-sintesis juga termasuk kelompok ini, begitu pula semua
senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri (Tjay dan Rahardja, 2010). Antibiotik
merupakan obat yang paling banyak diresepkan di dunia. Pada tahun 2006, World
Health Organization (WHO) melaporkan bahwa lebih dari seperempat anggaran
rumah sakit dikeluarkan untuk biaya penggunaan antibiotik (Lestari, et al 2011).
Manfaat penggunaan antibiotik tidak perlu diragukan, akan tetapi penggunaan
antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik.
Resistensi bakteri terhadap antimikroba menjadi masalah penting pelayanan
kesehatan. Infeksi yang disebabkan bakteri multi-drug resistant (MDR)
berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas karena terapi empiris
sering kali tidak tepat. Sehingga, antibiotik lini kedua atau ketiga harus diberikan.
Pemberian antibiotik lini kedua dan ketiga ini sering kali kurang efektif,
kemungkinan terjadi efek samping lebih besar dan biaya yang dibutuhkan lebih
besar (AMRIN-study, 2002).
Salah satu kondisi yang membutuhkan antibiotik adalah sepsis. Sepsis
adalah respon tubuh terhadap infeksi yang bersifat sistemik dan merusak. Sepsis
dapat menyebabkan sepsis berat dan syok septik. Sepsis berat ditandai dengan
disfungsi organ akut. Syok septik adalah sepsis parah disertai hipotensi yang tidak
membaik dengan resusitasi cairan. Sepsis berat dan syok septik adalah masalah
2
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
orang tiap tahun, dan membunuh satu di antara empat penderitanya (Dellinger et
al,2012)
Sepsis paling banyak disebabkan oleh bakteri Gram-positive, diikuti oleh
bakteri Gram-negative dan kombinasi dari keduanya. Pasien dengan sepsis berat
atau syok septik memerlukan terapi antibiotik berspektrum luas sampai bakteri
patogen dan data kerentanan bakteri terhadap anbiotiknya didapatkan. Setelah
bakteri patogen teridentifikasi, de-eskalasi harus dilakukan dengan memilih agen
antimikroba yang sesuai dengan bakteri patogen, aman dan cost effective
(Dellinger et al, 2012)
Meropenem adalah agen antibakteri berspektrum luas yang termasuk
dalam golongan karbapenem. Untuk menangani infeksi, meropenem diindikasikan
sebagai terapi empiris sebelum mikroorganisme penyebab infeksi teridentifikasi
dan juga untuk penyakit yang disebabkan oleh satu bakteri atau banyak bakteri
baik pada orang dewasa maupun anak-anak (Baldwin, 2008). Efek samping
meropenem yang sering terjadi adalah diare, kulit kemerahan, mual dan muntah,
dan inflamasi di tempat injeksi yang terjadi pada <2,5% pasien (Lowe, 2000).
Meropenem tidak diabsorbsi setelah pemberian oral. Meropenem dapat
berpenetrasi dengan baik ke dalam sebagian besar jaringan termasuk paru-paru,
jaringan intrabdomen, cairan interstitial, cairan peritoneal dan cairan
serebrospinal. Waktu paruh meropenem kurang lebih 1 jam. Meropenem
dieliminasi terutama melalui ginjal (Lowe, 2000)
Pada tahun 2008, Meropenem Yearly Susceptibility Test Information
Collection (MYSTIC) melaporkan kepekaan bakteri patogen terhadap
meropenem adalah sebagai berikut: Pseudomonas aeruginosa (439 strain, 85,4%
peka), Enterobacteriaceae (1537 strain, 97,3% peka), methicillin-susceptible
staphylococci (460 strain, 100% peka), Streptococcus pneumoniae (125 strain,
80,2% pada meningitis susceptibility breakpoint), streptococci lain (159 strain,
90-100% peka), Acinetobacter spp. (127 strain, 45,7% peka) (Rhomberg dan
Jones, 2009). Dengan meningkatnya penggunaan antibiotik meropenem di rumah
sakit, kemungkinan resistensi harus diwaspadai (Mardiastuti, 2007).
Penggunaan antibiotik dapat dinilai dengan secara kualitas dengan metode
2011). Penilaian kualitas penggunaan antibiotik dilakukan untuk mengetahui
rasionalitas penggunaan antibiotika. Gyssens et al mengembangkan evaluasi
penggunaan antibiotika untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotika seperti:
ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga
dan spektrum, lama pemberian, dosis, interval, rute dan waktu pemberian
(Pamela, 2011). Salah satu dasar pemilihan jenis dan dosis antibiotik menurut
Permenkes (2011) adalah data epidemiologi dan pola resistensi bakteri yang
tersedia di komunitas atau di rumah sakit setempat. Berdasarkan Surviving Sepsis
Campaign, pemilihan antibiotik untuk pasien sepsis harus berpedoman pada pola
prevalensi bakteri lokal (Dellinger et al, 2012).
Pada tahun 2014 pemerintah mulai memberlakukan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS). Implementasi JKN menuntut rumah sakit untuk dibayar secara prospektif
berdasarkan diagnosa pasien bukan atas dasar tindakan (fee for service) artinya
semakin singkat lama hari rawat pasien maka profit RS akan semakin baik karena
sumber daya yang dikeluarkan rumah sakit lebih efisien (Setiawan dan Ramadani,
2014). Penggunaan antibiotik yang terkendali dapat mencegah munculnya
resistensi dan menghemat penggunaan antibiotik, yang pada akhirnya akan
mengurangi beban biaya perawatan pasien, mempersingkat lama perawatan,
penghematan bagi rumah sakit serta meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit
(Permenkes, 2011)
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian
mengenai kualitas penggunaan antibiotik meropenem pada pasien sepsis rawat
inap BPJS di RUMKITAL Dr. Mintohardjo.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, disusunlah rumusan
penelitian sebagai berikut:
Bagaimanakah kualitas penggunaan antibiotik meropenem pada pasien
sepsis BPJS di ruang rawat inap RUMKITAL Dr. Mintohardjo ditinjau dari
ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga
4
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
antibiotik serta dikaitkan dengan data peta resistensi mikroorganisme terhadap
antibiotik di RUMKITAL Dr. Mintohardjo.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum:
Melakukan evaluasi kualitas penggunaan antibiotik meropenem pada
pasien sepsis BPJS di RUMKITAL Dr. Mintohardjo berdasarkan kategori
Gyssens.
1.3.2. Tujuan Khusus:
1. Menentukan karakteristik pasien sepsis yang menerima antibiotik
meropenem
2. Memperoleh data peta resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik
3. Menilai kualitas penggunaan antibiotik meropenem pada pasien sepsis BPJS
berdasarkan kategori Gyssens
1.4. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1.4.1.Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah ilmu
pengetahuan dalam bidang kefarmasian khususnya pada bidang evaluasi
antibiotik
1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan untuk RUMKITAL
Dr. Mintohardjo dalam hal peningkatan penggunaan antibiotik meropenem
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Antibiotik
2.1.1. Definisi Antibiotik
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,
yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang
dibuat secara semi-sintesis juga termasuk kelompok ini, begitu pula semua
senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri (Tjay dan Rahardja, 2010)
Pengertian antibiotik secara sempit adalah senyawa yang dihasilkan oleh
berbagai jenis mikroorganisme (bakteri, fungi, actinomycetes) yang menekan
pertumbuhan mikroorganisme lainnya. Penggunaannnya secara umum sering kali
memperluas istilah antibiotik meliputi senyawa antimikroba sintetik, seperti
sulfonamida dan kuinolon (Brunton et al, 2006)
2.1.2. Penggolongan Antibiotik
2.1.2.1 Antibiotik Berdasarkan Spektrum Aktifitas
Berdasarkan spektrum aktivitas, antibiotik dibagi menjadi dua golongan,
yaitu (Tjay dan Rahardja, 2010):
a. Antibiotik aktivitas sempit (narrow spectrum)
Obat-obat ini terutama aktif terhadap beberapa jenis kuman saja, misalnya
penisilin-G dan penisilin-V, eritromisin, klindamisin, kanamisin, dan asam fusidat
hanya bekerja terhadap kuman Gram positif. Sedangkan streptomisin, gentamisin,
polimiksin-B, dan asam nalidiksat khusus aktif terhadap kuman Gram negatif.
b. Antibiotik aktivitas luas (broad spectrum)
Antibiotik berspektrum luas bekerja terhadap lebih banyak kuman, baik
jenis kuman Gram positif maupun Gram negatif. Misalnya sulfonamida,
ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin
2.1.2.2.Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja
Berdasarkan mekanisme kerja, antibiotik dibagi sebagai berikut: (Brunton
6
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
a. Agen yang menghambat sintesis dinding sel bakteri, termasuk kelas β
-laktam misalnya penisilin, sefalosporin, karbapenem
b. Agen yang bekerja langsung pada membran sel mikroorganisme,
meningkatkan permeabilitas dan menyebabkan kebocoran komponen
intraseluler, termasuk polimiksin, agen antifungi polien (nistatin dan
amfoterisin)
c. Agen yang mengganggu fungsi subunit ribosom 30S atau 50S sehingga
menghambat sintesis protein secara reversibel, biasanya bersifat
bakteriostatik misalnya kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, klindamisin,
streptogramin
d. Agen yang berikatan dengan subunit ribosom 30S dan mengubah sintesis
protein, biasanya bersifat bakterisid, misalnya aminoglikosida
e. Agen yang mempengaruhi metabolisme asam nukelat bakteri, seperti
rifamisin (rifampin dan rifabutin)
f. Antimetabolit, seperti trimethoprim dan sulfonamid, yang memblok enzim
esensial untuk metabolisme folat
2.1.2.3.Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia
Berdasarkan struktur kimianya, antibiotika dapat digolongkan sebagai
berikut: (Mutschler, 1991)
a. Antibiotik beta laktam, yang termasuk antibiotik beta laktam yaitu penisilin
(contohnya: benzyl penisilin, oksisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin),
sefalosporin (contohnya: azteonam) dan karbapenem (contohnya:
imipenem)
b. Tetrasiklin, contoh: tetrasiklin, oksitetrasiklin, demeklosiklin.
c. Kloramfenikol, contoh: tiamfenikol dan kloramfenikol
d. Makrolida, contoh: eritromisin dan spiramisin.
e. Linkomisin, contoh: linkomisin dan klindamisin
f. Antibiotik aminoglikosida, contoh: streptomisin, neomisin, kanamisin,
gentamisin dan spektinomisin
g. Antibiotik polipeptida (bekerja pada bakteri gram negatif), contoh:
h. Antibiotik polien (bekerja pada jamur), contoh: nistatin, natamisin,
amfoterisin dan griseofulvin
2.1.3. Penggunaan Antibiotik
Berdasarkan tujuan penggunaannya, antibiotik dibedakan menjadi
antibiotik terapi dan antibiotik profilaksis. Antibiotik terapi dapat dibedakan
menjadi antibiotik untuk terapi empiris dan terapi definitif.
Penggunaan antibiotik untuk terapi empiris adalah penggunaan antibiotik
pada kasus infeksi yang belum diketahui jenis bakteri penyebabnya. Tujuan
pemberian antibiotik untuk terapi empiris adalah eradikasi dan penghambatan
pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi, sebelum diperoleh
hasil pemeriksaan biologi. Indikasi penggunaannya adalah apabila ditemukan
sindrom klinis yang mengarah pada keterlibatan bakteri tertentu yang paliing
sering menjadi penyebab infeksi (Permenkes, 2011)
Rute pemberian oral merupakan pilihan pertama untuk terapi infeksi. Pada
infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik
parenteral. Adapun lama pemberian antibiotik empiris adalah jangka waktu 48-72
jam (Permenkes, 2011).
Dasar pemilihan jenis dan dosis antibiotik untuk terapi empiris adalah:
(Permenkes, 2011)
1. Data epidemiologi dan pola resistensi bakteri yang tersedia di komunitas
atau di rumah sakit setempat
2. Kondisi klinis pasien
3. Ketersediaan antibiotik
4. Kemampuan antibiotik untuk menembus ke dalam jaringan/organ yang
terinfeksi
5. Untuk infeksi yang diduga disebabkan oleh polimikroba dapat digunakan
antibiotik kombinasi
Penggunaan antibiotik untuk terapi definitif adalah penggunaan antibiotik
pada kasus infeksi yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab dan pola
8
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pertumbuhan bakteri yang menjadi penyebab infeksi, berdasarkan hasil
pemeriksaan mikrobiologi (Permenkes, 2011)
Rute pemberian oral merupakan pilihan pertama. Pada infeksi sedang
sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral. Jika
kondisi pasien memungkinkan, pemberian antibiotik parenteral harus segera
diganti dengan peroral.Lama pemberian antibiotik definitif berdasarkan pada
efikasi klinis untuk eradikasi bakteri sesuai dengan diagnosis awal yang telah
dikonfirmasi. Selanjutnya harus dilakukan evaluasi berdasarkan data
mikrobiologis dan kondisi klinis pasien serta data penunjang lainnya (Permenkes,
2011)
Dasar pemilihan jenis dan dosis antibiotik untuk terapi definitif: (Permenkes,
2011)
1. Efikasi dan keamanan berdasarkan hasil uji klinik
2. Sensitivitas
3. Biaya
4. Kondisi klinis pasien
5. Diutamakan antibiotik lini pertama/spektrum sempit
6. Ketersediaan antibiotik (sesuai formularium RS)
7. Sesuai dengan Pedoman Diagnosis dan Terapi (PDT) setempat yang terkini
8. Paling kecil memunculkan risiko terjadi bakteri resisten.
Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan pada jaringan atau
cairan tubuh yang belum terinfeksi, namun diduga kuat akan terkena infeksi.
Antibiotik profilaksis diindikasikan ketika besar kemungkinan terjadi infeksi, atau
terjadi infeksi kecil yang berakibat fatal. Penggunaan antibiotik profilaksis
dibedakan menjadi antibiotik profilaksis bedah dan non bedah (Permenkes, 2011)
2.1.4. Resistensi Antibiotik
Resistensi dibedakan sebagai kejadian tidak terhambatnya pertumbuhan
bakteri dengan pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal yang
seharusnya atau pada kadar hambat minimalnya. Multiple drug resistance
merupakan resistensi pada mikroorganisme terhadap dua atau lebih obat maupun
pernah dipaparkan pada mikroba tersebut namun cara kerjanya mirip dengan
antimikroba lain yang sudah mengalami resistensi (Tripathi, 2003)
Timbulnya resistensi terhadap suatu antibiotik terjadi berdasarkan salah
satu atau lebih mekanisme berikut: (Jawetz, 1997)
a. Bakteri dapat mensintesis enzim inaktivator antibiotik. Misalnya
Staphylococcus resisten terhadap penisilin G karena dapat menghasilkan
betalaktamase yang merusak antibiotik tersebut.
b. Bakteri dapat mengubah permeabilitas membrannya terhadap molekul
antibiotik, misalnya pada penggunaan tetrasiklin yang hanya akan dapat
masuk ke dalam sel bakteri yang rentan (sensitif), namun tidak ditemukan
pada beberapa bakteri yang resisten.
c. Bakteri dapat mengembangkan perubahan struktur sasaran molekul
antibiotik, contohnya resistensi pada beberapa bakteri terhadap antibiotik
golongan aminoglikosida merupakan proses yang berkaitan dengan hilang
atau berubahnya struktur protein spesifik pada subunit ribosom 30S bakteri
yang merupakan reseptor pada bakteri yang sensitif.
d. Bakteri mampu mengembangkan perubahan jalur metabolik yang langsung
dihambat oleh molekul antibiotik, misalnya beberapa bakteri yang resisten
terhadap sulfonamid tidak membutuhkan PABA ekstraseluler, tetapi bersifat
seperti sel mamalia yang dapat langsung menggunakan asam folat.
e. Bakteri mampu mengembangkan perubahan enzim, yakni enzim tersebut
dapat melakukan fungsi metabolismenya, bamun tidak rentan dipengaruhi
oleh molekul antibiotik, misalnya pada beberapa bakteri yang rentan
terhadap sulfonamid, enzim dihidropteroat sintetase pada mikroorganisme
tersebut mempunyai afinitas terhadap sulfonamid yang jauh lebih tinggi
daripada afinitasnya terhadap PABA.
Faktor-faktor yang memudahkan berkembangnya resistensi di klinik adalah
sebagai berikut: (Utami, 2012)
1. Penggunaan antibiotik yang irasional, misalnya periode penggunaan terlalu
singkat, dosis terlalu rendah, diagnosis awal yang salah, atau digunakan
10
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Faktor pasien, contohnya pasien dengan pengetahuan yang salah akan
cenderung mengganggap wajinya pemberian antibiotik dalam penanganan
penyakit apapun meskipun disebabkan oleh virus misalnya flu, batuk-pilek,
demam yang banyak dijumpai di masyarakat. Dengan adanya kesalahan
tersebut, pasien dengan kemampuan finansial yang baik akan meminta
diberikan terapi antibiotik yang paling baru dan mahal meskipun tidak
diperlukan, bahkan membeli antibiotik sendiri tanpa peresepan dan dokter
(self medication), sedangkan pasien dengan kemampuan finansial rendah
seringkali tidak mampu untuk menuntaskan regimen terapi, padahal terapi
dengan antibiotik harus dituntaskan.
3. Faktor peresepan, yakni seringkali ditemukan kesulitan dalam menentukan
antibiotik yang tepat pada banyak tenaga klinis yang disebabkan kurangnya
pelatihan dalam hal penyakit infeksi dan tatalaksana antibiotiknya
4. Penggunaan monoterapi, karena dibandingkan dengan penggunaan terapi
kombinasi, penggunaan monoterapi lebih mudah menimbulkan resistensi
5. Gaya hidup, terutama bagi tenaga kesehatan, misalnya mencuci tangan
setelah memeriksa pasien atau desinfeksi alat-alat yang akan dipakai untuk
memeriksa pasien
6. Penggunaan di rumah sakit, yakni adanya infeksi endemik atau epidemik
yang memicu penggunaan antibiotik yang lebih masif di rumah sakit. Selain
itu, kombinsi pemakaian antibiotik yang lebih intensif dan lebih lama
dengan banyakanya pasien yang rentan terhadap infeksi yang berada di
rumah sakit akan memudahkan terjadinya infeksi nosokomial. Hal ini juga
dapat meningkatkan resistensi mikroba endemik tersebut terhadap antibiotik
yang digunakan.
7. Penggunaannya untuk hewan dan binatang ternak, misalnya pada beberapa
antibitoik yang juga dipakai untuk mencegah dan mengobati penyakit
infeksi pada hewan ternak atau digunakan sebagai suplemen rutin untuk
profilaksis atau merangsang pertumbuhan hewan ternak dengan dosis
subterapeutik akan meningkatkan resiko terjadinya resistensi pada berbagai
8. Promosi komersial dan penjualan besar-besaran oleh perusahaan farmasi,
didukung pengaruh globalisasi, memudahkan terjadinya pertukaran barang
sehingga jumlah antibiotik yang beredar semakin luas.
9. Penelitian, yaitu kurangnya penelitian yang dilakukan para ahli untuk
menemukan antibiotik baru.
10. Pengawasan, yaitu lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah dalam
distribusi dan pemakaian antibiotik. Misalnya, pasien dapat dengan mudah
mendapatkan antibiotik meskipun tanpa peresepan dari dokter. Selain itu,
masalah pengawasan juga terkait dengan kurangnya komitmen dari instansi
terkait, baik untuk meningkatkan mutu obat maupun mengendalikan
penyebaran infeksi.
2.1.5. Evaluasi Penggunaan Antibiotik
Evaluasi penggunaan antibiotik bertujuan untuk: (Permenkes, 2011)
a. Mengetahui jumlah atau konsumsi penggunaan antibiotik di rumah sakit
b. Mengetahui dan mengevaluasi kualitas penggunaan antibiotik di rumah
sakit
c. Sebagai dasar untuk melakukan surveilans penggunaan antibiotik di rumah
sakit secara sistematik dan terstandar.
2.1.5.1. Penilaian Kualitas Antibiotik
Kualitas penggunaan antibiotik dinilai dengan menggunakan data yang
terdapat pada Rekam Pemberian Antibiotik (RPA), catatan medik pasien dan
kondisi klinis pasien. Penilaian dilakukan dengan menggunakan alur penilaian dan
klasifikasi/kategori Gyssens dkk. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan
kesesuaian diagnosis (gejala klinis dan hasil laboratorium), indikasi, regimen
dosis, keamanan dan harga (Permenkes, 2011).
Kategori hasil penilaian kualitatif penggunaan antibiotik adalah sebagai
berikut: (Gyssens IC, 2005):
Kategori 0 = penggunaan antibiotik tepat/bijak
Kategori I = penggunaan antibiotik tidak tepat waktu
12
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Kategori IIB = penggunaan antibiotik tidak tepat interval
Kategori IIC = penggunaan antibiotik tidak tepat cara/rute pemberian
Kategori IIIA = penggunaan antibiotik terlalu lama
Kategori IIIB = penggunaan antibiotik terlalu singkat
Kategori IVA = ada antibiotik lain yang lebih efektif
Kategori IVB = ada antibiotik lain yang kurang toksik/lebih aman
Kategori IVC = ada antibiotik lain yang lebih murah
Kategori IVD = ada antibiotik lain yang spektrum antibakterinya lebih sempit
Kategori V = tidak ada indikasi penggunaan antibiotik
Kategori VI = data rekam medik tidak lengkap dan tidak dapat dievaluasi.
Gambar 1. Diagram Alir Gyssens
14
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Diagram alir ini merupakan alat penting untuk menilai kualitas
penggunaan antibiotik. Pengobatan dapat tidak sesuai dengan alasan yang
berbeda pada saat yang sama dan dapat ditempatkan dalam lebih dari satu
kategori. Dengan alat ini, terapi empiris dapat dinilai, demikian juga terapi
definitif setelah hasil pemeriksaan mikrobiologi diketahui (Gyssens, 2005)
2.2. Meropenem
Gambar 2. Struktur Meropenem
(Sumber: Craig, 1997)
Meropenem merupakan antibiotik lini ketiga dari golongan karbapenem.
Meropenem merupakan antibiotik spektrum luas yang aktif melawan bakteri gram
negatif, bakteri gram positif dan bakteri anaerob. Meropenem memiliki kestabilan
tinggi terhadap hidrolisis oleh serin beta-laktamase. Berbeda dengan golongan
karbapenem terdahulu (imipenem/silastatin), meropenem relatif stabil oleh enzim
dehydropeptidase-I (DHP-I) (Baldwin, 2008)
2.2.1. Mekanisme Kerja
Meropenem menganggu sintesis dinding sel bakteri, sehingga
menghambat pertumbuhan bakteri dan menyebabkan kematian sel. Meropenem
berpenetrasi dengan cepat ke dalam dinding sel bakteri dan berikatan dengan
penicillin-binding proteins (PBP) dengan afinitas yang tinggi, sehingga
menginaktivasi bakteri (Baldwin, 2008)
2.2.2. Indikasi
Meropenem diindikasikan sebagai terapi empiris sebelum mikroorganisme
satu bakteri atau banyak bakteri baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
Meropenem disetujui di USA untuk digunakan dalam terapi complicated
intraabdominal infection, complicated skin and skin structure infection dan
meningitis yang disebabkan oleh bakteri (Baldwin, 2008). Di negara lain
meropenem juga disetujui untuk digunakan dalam terapi pneumonia nosokomial,
septikemia, infeksi saluran kencing, febrile neutropenia, cystic fibrosis dan
community acquired pneumonia (Baldwin, 2008).
2.2.3 Efek Samping
Efek samping meropenem yang sering terjadi adalah diare, kulit
kemerahan, mual dan muntah, dan inflamasi di tempat injeksi yang terjadi pada
<2,5% pasien (Lowe, 2000)
2.2.4. Dosis
Dosis orang dewasa berkisar pada 1,5-6 gram/hari setiap 8-12 jam,
tergantung tipe dan keparahan infeksi, kepekaan mikroorganisme dan kondisi
pasien. Dosis orang dewasa disarankan pada anak-anak dengan berat badan lebih
dari 50 kilogram. Pada bayi dan anak-anak berusia antara 3 bulan-12 tahun, dosis
yang direkomendasikan adalah 10-40 mg/kg diberikan secara intravena (Baldwin,
2008)
2.2.5. Farmakokinetik
Meropenem tidak diabsorbsi setelah pemberian oral. Meropenem dapat
berpenetrasi dengan baik ke dalam sebagian besar jaringan termasuk paru-paru,
jaringan intrabdomen, cairan interstitial, cairan peritoneal dan cairan
serebrospinal. Waktu paruh meropenem kurang lebih 1 jam. Meropenem
dieliminasi terutama melalui ginjal (Lowe, 2000)
Pada lansia, penurunan klirens meropenem berhubungan dengan
penurunan kreatinin klirens karena usia dan kemungkinan diperlukan penurunan
dosis. Farmakokinetik meropenem tidak berubah pada pasien dengan kerusakan
16
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2.2.6. Kepekaan Bakteri Patogen terhadap Meropenem
Pada tahun 2008, Meropenem Yearly Susceptibility Test Information
Collection (MYSTIC) melaporkan kepekaan bakteri patogen terhadap
meropenem adalah sebagai berikut: Pseudomonas aeruginosa (439 strain, 85,4%
peka), Enterobacteriaceae (1537 strain, 97,3% peka), methicillin-susceptible
staphylococci (460 strain, 100% peka), Streptococcus pneumoniae (125 strain,
80,2% pada meningitis susceptibility breakpoint), streptococci lain (159 strain,
90-100% peka), Acinetobacter spp. (127 strain, 45,7% peka) (Rhomberg dan
Jones, 2009).
Secara umum, pola kepekaan bakteri gram negatif terhadap meropenem
masih cukup baik di beberapa negara, namun untuk P. aeruginosa terlihat
kepekaannya mulai menurun di Eropa dan Amerika. Dengan meningkatnya
penggunaan antibiotik meropenem di rumah sakit, kemungkinan resistensi harus
diwaspadai (Mardiastuti, 2007).
2.2.7. Potensi Interaksi Obat
Penggunaan bersama meropenem dengan probenesid menyebabkan
peningkatan waktu paruh dan konsentrasi plasma meropenem karena adanya
kompetisi terhadap sekresi tubular aktif. Penggunaan bersama meropenem dengan
probenesid tidak direkomendasikan (Baldwin, 2008)
Meropenem dapat menurunkan konsentrasi serum asam valproat, sehingga
menghasilkan level subterapeutik pada beberapa individu. Sebagai catatan, telah
dilaporkan adanya interaksi yang sama asam valproat dengan golongan
karbapenem lain, yaitu panipenem/betampiron sehingga diperkirakan interaksi
dengan asam valproat merupakan interaksi yang dipengaruhi golongan (Baldwin,
2008)
2.3. Sepsis
2.3.1. Definisi Sepsis
Pada tahun 1992, konferensi konsensus American College of Chest
Physician (ACCP) dan Society of Critical Care Management (SCCM)
dikatakan mengalami SIRS jika ditemukan lebih dari satu tanda berikut: (Levy et
al, 2003)
- Temperatur lebih dari 38 ◦C atau kurang dari 36 ◦C
- Detak jantung lebih dari 90 kali per menit
- Hiperventilasi yang ditandai dengan laju pernapasan lebih dari 20 kali/menit
atau PaCO2 kurang dari 32 mmHg
- Jumlah sel darah putih lebih dari 12.000 sel/µL atau kurang dari 4000
sel/µL
Bone et al (1992) mendefinisikan sepsis sebagai SIRS dan infeksi. Sepsis
adalah respon tubuh terhadap infeksi yang bersifat sistemik dan merusak. Sepsis
dapat menyebabkan sepsis berat dan syok septik. Sepsis berat ditandai dengan
disfungsi organ akut. Sedangkan syok septik adalah sepsis berat disertai hipotensi
yang tidak membaik dengan resusitasi cairan (Dellinger et al, 2012).
Beberapa definisi terkait lainnya adalah community-acquired sepsis yang
didefinisikan sebagai kejadian infeksi di luar rumah sakit atau dua hari pertama
perawatan di rumah sakit kecuali pasien pernah dirawat di rumah sakit 30-90 hari
sebelumnya, dirawat di panti jompo, melakukan hemodialisis atau menggunakan
alat intravaskular dalam jangka panjang; nosocomial yang didefinisikan sebagai
infeksi yang terjadi selama perawatan di rumah sakit (2 hari atau lebih setelah
masuk rumah sakit) atau didapatkan selama 30-90 hari setelah pulang dari rumah
sakit, sedang melakukan hemodialisis, tinggal di panti jompo atau memiliki alat
intravaskular jangka panjang (SWAB, 2010).
2.3.2. Patogenesis Sepsis
2.3.2.1.Mekanisme yang Mungkin Terjadi
Patogenesis sepsis dapat dijelaskan dalam tiga mekanisme yang
melibatkan pelepasan mediator sehingga menghasilkan respon inflamasi sistemik:
(Sagy et al, 2013)
a. Mekanisme 1: respon proinflamasi
Teori dibalik mekanisme ini berhubungan dengan pelepasan mediator
proinflamasi yang berlebihan dan menyebabkan inflamasi serta tanda
18
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
b. Mekanisme 2: kegagalan Compensatory Antiiflammatory Response
(CARS) untuk bekerja
Ketidakseimbangan antara respon proinflamasi dengan respon inflamasi
dipercaya terjadi selama infeksi. Hal ini menyebabkan mediator
proinflamasi untuk menginduksi proses inflamasi yang berlebihan.
c. Mekanisme 3: immunoparalisis
Mediator proinflamasi membanjiri dan memparalisasi sistem imun. Hal ini
menginduksi penurunan imun, menyebabkan ketidakmampuan
menetralisir patogen.
2.3.2.2.Fase-fase Respon Inflamasi
Terdapat tiga fase dalam patogenesis SIRS: (Sagy et al, 2013)
a. Pelepasan toksin bakteri
Invasi bakteri ke dalam jaringan tubuh adalah sumber toksis berbahaya.
Toksin tersebut bisa dinetralkan dan dibersihkan sistem imun atau
sebaliknya. Toksin berikut biasa dilepaskan bakteri gram negatif dan
bakteri gram positif:
- Bakteri gram negatif: lipopolisakarida (LPS)
- Bakteri gram positif: asam lipoteikoat (LPA), muramil dipeptida (MDP),
staphylococcal toxic shock syndrome toxin (TSST), streptococcal
pyrogenic toxin (SPE)
b. Pelepasan mediator sebagai respon terhadap infeksi
- Infeksi bakteri gram negatif dan gram positif dengan pelepasan endotoksin
Efek pelepasan endotoksin seperti lipopolisakarida (LPS) diperkirakan
terjadi saat infeksi bakteri gram negatif. Adapun pada saat infeksi gram
positif, diperkirakan terjadi pelepasan asam lipoteikoat (LPA). Kedua
toksin tersebut mempengaruhi fungsi makrofag sehingga terjadi pelepasan
mediator. Proses ini melibatkan toll-like receptor (TLR)-2 dan TLR-4.
Reseptor tersebut, bersama dengan co-reseptor CD-14 mengenali toksin
yang dilepaskan saat toksis menempel di dinding makrofag. Jika LPS
memerlukan LPS-binding protein (LBP) sebelum dikenali makrofag. LTA
Gambar 3. Pelepasan mediator yang diinduksi endotoksin
Sumber: Sagy et al, 2013
- Infeksi bakteri gram positif dengan pelepasan eksotoksin (superantigen)
Superantigen mengaktivasi limfosit T dan memicu produksi interleukin 2
(IL-2) dan interferon gamma (IFN-ɣ). IL-2 adalah mediator proinflamasi
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, proliferasi, diferensiasi sel T untuk
menjadi sel T efektor dengan peningkatan kemampuan memori. IFN-ɣ
adalah mediator dengan sifat antivirus, immunoregulator dan antitumor.
IFN-ɣ juga mengaktivasi sintesis nitrit oksida dan membantu migrasi
leukosit. Keduanya memicu makrofag untuk melepaskan IL-1 dan faktor
nekrosis tumor alfa. IL-1 dan faktor tumor nekrosis alfa adalah stimulan
penting untuk menciptakan respon inflamasi sebagai respon terhadap
20
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Gambar 4. Pelepasan mediator yang diinduksi superantigen
Sumber: Sagy et al, 2013
- Peran mediator (sitokin) dalam sepsis
Ada dua tipe mediator yang dilepaskan sebagai respon terhadap infeksi
yaitu mediator proinflamasi dan antiinflamasi. Diasumsikan bahwa respon
inflamasi yang menyebabkan sepsis berasal dari kelebihan mediator
proinflamasi dan kegagalan CARS untuk mensupresi imun. Sebaliknya,
apabila CARS dipicu secara berlebihan maka imunoparalisis terjadi
menyebabkan ketidakmampuan imun untuk bekerja.
Pertama, sitokin proinflamasi. Stimulasi makrofag menyebabkan produksi
sejumlah besar TNF-α, IL-1 dan IL-6. TNF-α adalah sitokin yang paling
berperan dalam sepsis dan dilepaskan pertama kali. Mediator proinflamasi
lain memfasilitasi inflamasi dengan meningkatkan adhesi sel
endotelial-leukosit, menginduksi nitrit oksida, pelepasan asam arakidonat, dan
mengaktivasi komplemen kaskade. Selain itu, mediator proinflamasi
meningkatkan koagulasi dengan meningkatkan level faktor koagulasi
jaringan dan koagulan membran. Mediator tersebut menghambat aktivitas
koagulan dengan meningkatkan thrombomodulin dan menginhibisi
Kedua, sitokin antiinflamasi. Berlawanan dengan sitokin proinflamasi,
sitokin antiinflamasi menghambat inflamasi dengan penghambatan TNF-α,
augmentasi reaktan fase akut dan imunoglobulin serta penghambatan
fungsi limfosit T. Mediator antiinflamasi juga menghambat aktivasi sistem
koagulasi. Respon mediator antiinflamasi ini menyediakan mekanisme
feedback negatif untuk mengatur penurunan sintesis mediator proinflamasi
dan memodulasi efeknya sehingga menjaga homostasis dan mencegah
SIRS.
c. Efek kelebihan mediator spesifik
SIRS dihasilkan dari respon proinflamasi yang berlebihan. Sebaliknya, jika
CARS bekerja berlebihan maka terjadi imunosupresi yang tidak tepat. Jika
keseimbangan antara proinflamasi dan CARS terganggu maka homeostasis
tidak terjaga dan perkembangan klinis terhadap disfungsi organ bisa
terjadi.
2.3.3. Diagnosis
Berdasarkan International Guideline for Management of Severe Sepsis and
22
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tabel 2.1. Kriteria Diagnosis Sepsis
Variabel umum Demam (>38,3°C)
Hipotermia (<36°C)
Detak jantung >90/menit lebih dari dua angka di atas nilai normal sesuai usia
Takipnea
Perubahan status mental
Edema signifikan atau keseimbangan positif cairan >20 mL/kg selama 24 jam
Hiperglikemia (glukosa plasma) >140 mg/dL atau 7.7. mmol/L tanpa adanya
diabetes
Variabel inflamasi Leukositosis (WBC count >12.000 µL-1)
Leukopenia (WBC count <4000 µL-1)
WBC count normal dengan lebih dari 10% bentuk immature
Plasma C-reactive protein lebih dari dua angka di atas nilai normal
Variabel hemodinamik Hipotensi arteri (SBP <90 mmHg, MAP <70mmHg
Variabel disfungsi organ Hipoksemia arteri (Pao2/Fio2 <300)
Oliguria akut (keluaran urin <0,5 mL/kg/jam setidaknya selama 2 jam meskipun
sudah dilakukan resusitasi cairan yang cukup )
Peningkatan kreatinin >0,5 mg/dL atau 44,2 µmol/L
Koagulasi abnormal (INR >1,5 atau PTT >60 detik)
Ileus
Thrombocytopenia (platelet count <100.000 µL-1)
Hiperbilirubinemia (plasma total bilirubin >4 mg atau 70 µmol/L)
Variabel perfusi jaringan Hiperlaktatemia (> 1 mmol/L)
Penurunan refill kapiler
2.3.4. Manajemen Sepsis Berat
Berdasarkan International Guideline for Management of Severe Sepsis and
Septic Shock tahun 2012, berikut ini adalah rekomendasi manajemen untuk sepsis
berat:
Tabel 2.2. Manajemen Sepsis Berat
A. Resusitasi awal
a. Resusitasi kuantitaif pada pasien dengan hipoperfusi yang diinduksi
sepsis setelah perubahan cairan awal atau konsentrasi laktat dalam darah ≥ 4 mmol/L. Tujuan selama 6 jam pertama resusitasi adalah:
b. Tekanan vena sentral 8-12 mmHg
c. Tekanan arteri rata-rata (MAP) ≥ 65 mmHg
d. Keluaran urin ≥ 0,5 mL/kg/jam
e. Vena central (vena cava superior) atau saturasi oksigen vena 70% atau
65%
f. Pada pasien dengan peningkatan level laktat maka target resusitasi adalah
untuk menormalkan laktat
B. Skrining untuk sepsis dan perkembangan kondisi
a. Skrining rutin terhadap potensi infeksi pasien sakit kritis untuk
menentukan implementasi awal terapi
b. Usaha peningkatan kondisi pasien sepsis berat berbasis rumah sakit
C. Diagnosis
a. Kultur sebelum terapi antimikroba jika tidak ada keterlambatan
signifikan (>45 menit) dalam memulai penggunaan antimikroba. Paling
tidak dua set kultur darah (baik aerob maupun nonaerob) ditentukan
sebelum terapi antimikroba
b. Penggunaan 1,3 beta-D-glucan assay, mannan dan anti-mannan antibody
assay jika tersedia dan candidiasis invasif terdapat dalam diagnosis
penyebab infeksi
c. Kajian imaging dilakukan untuk mengkonfirmasi sumber infeksi
potensial
D. Terapi antimikroba
24
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
syok sepsis dan sepsis tanpa syok sepsis sebagai tujuan terapi
b. Terapi empiris awal satu atau dua obat yang memiliki aktivitas melawan
bakteri patogen dan yang berpenetrasi dalam konsentrasi adekuat ke
dalam jaringan yang diasumsikan menjadi sumber sepsis.
c. Regimen antibiotik harus dinilai setiap hari untuk melakukan de-eskalasi
d. Gunakan level rendah prokalsitonin atau biomarker serupa untuk
membantuk klinisi mengehntikan antibiotik empriis pada pasien yang
tampak sepsis pada awalnya, tetapi tidak menunjukkan bukti sepsis lebih
lanjut
e. Terapi empiris kombinasi untuk pasien neutropeni dengan sepsis berat
dan untuk pasien yang susah diterapi, patogen MDR seperti
Acinetobacter dan Pseudomonas spp. Untuk pasien dengan infeksi berat
berkaitan dengan gagal napas dan syok septik, terapi kombinasi dengan
beta-laktam extended spectrum dan baik aminoglikosida atau
fluoroquinolone untuk P.aeruginosa. Kombinasi beta-laktam dan
makrolida untuk pasien dengan syok septic digunakan untuk infeksi
Streptococcus pneumoniae. Terapi kombinasi empiris tidak boleh
diberikan lebih dari 3-5 hari. De-eskalasi ke terapi tunggal paling sesuai
harus dilakukan segera profil kepekaan bakteri diketahui.
f. Durasi terapi biasanya 7-10 hari, lebih dari itu mungkin sesuai untuk
pasien yang memiliki respon klinis yang lambat, undrainable foci of
infectioni, bakteremia dengan S. aureus, beberapa fungi dan infeksi virus
atau defisiensi immunologi termasuk neutropenia
g. Terapi antivirus harus dimulai sedini mungkin pada pasien dengan sepsis
berat atau syok septik karena virus.
h. Agen antimikroba tidak boleh digunakan pada pasien dengan kondisi
inflamasi parah yang disebabkan karena noninfeksi.
E. Kontrol sumber
a. Diagnosis infeksi secara anatomik memerlukan pertimbangan apakah
kontrol sumber perlu dilakukan atau tidak secepat mungkin, dan
intervensi dilakukan selama 12 jam pertama setelah diagnosis dibuat, jika
b. Ketika infeksi nekrosis peripancretic diidentifikasi sebagai sumber
infeksi potensial, intervensi definitif baiknya ditunda sampai adanya
pembatasan yang adekuat terhadap jaringan yang terinfeksi dan tidak.
c. Ketika kontrol sumber pada pasien sepsis berat dibutuhkan, intervensi
yang efektif adalah yang paling tidak menyakitkan secara fisiologis
(misal, perkutan daripada surgical drainage untuk abses)
d. Jika alat akses intravaskular adalah sumber sepsis berat atau syok septik,
alat tersebut harus dilepaskan setelah akses vaskular lain terpasang.
F. Pencegahan infeksi
a. Dekontaminasi oral dan digestive secara selektif harus diajukan dan
diinvestigasi sebagai metode untuk mengurangi kejadian pneumonia
yang berhubungan dengan ventilator. Pengukuran kontrol infeksi ini
dapat dimulai dalam pengaturan pelayanan kesehatan dan are dimana
metode ini efektif
b. klorheksidin glukonat oral digunakan dalam bentuk dekontaminasi
orofaringeal untuk menurunkan resiko pneumonia yang berhubungan
dengan ventilator pada pasien dengan sepsis berat.
(Sumber: Dellinger et al, 2012)
2.3.4.1.Terapi Antimikroba
Stichting Werkgroep Antibioticabeleid (SWAB), sebuah badan yang
mengurus kebijakan antibiotik di Belanda membagi terapi antibiotik empiris
sepsis menjadi dua yaitu terapi untuk sepsis tanpa lokasi infeksi yang jelas dan
terapi untuk sepsis dengan adanya lokasi infeksi yang dicurigai. Istilah yang
berhubungan dengan sepsis tanpa lokasi infeksi yang jelas yaitu community
acquired, yang didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi di luar rumah sakit atau
terjadi pada dua hari pertama perawatan di rumah sakit kecuali untuk pasien yang
dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu 30-90 hari sebelumnya, tinggal di
panti jompo, melakukan hemodialisis dan memakai alat intravaskular dalam
waktu lama. Hospital acquired didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi selama
26
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30-90 hari setelah keluar dari perawatan di rumah sakit, melakukan hemodialisis
dan memakai alat intravaskular dalam waktu lama (SWAB, 2010).
Rekomendasi terapi untuk community acquired sepsis menurut SWAB
tanpa neutropenia dan tanpa lokasi infeksi yang jelas adalah sefalosporin generasi
kedua atau ketiga atau amoksisilin dikombinasikan dengan aminoglikosida +
asam klavulanat. Adapun terapi untuk sepsis dengan lokasi infeksi yang dicurigai
dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan lokasi infeksi:
a. Sepsis dan hospital acquired pneumonia
Dalam beberapa studi tidak ditemukan perbedaan antara karbapenem
dengan beta-laktam tunggal atau dikombinasikan dengan kuinolon dan
aminoglikosida (SWAB, 2010). Sementara guideline lain merekomendasikan
seftriakson, levofloksasin dan ampisilin-sulbaktam (Bugano et al, 2008).
Meropenem dilaporkan berhubungan dengan penurunan kegagalan terapi
dibandingkan dengan kombinasi ceftazidime dan aminoglikosida (SWAB, 2010)
b. Urosepsis
SWAB (2010) merekomendasikan sefalosporin generasi kedua atau ketiga
atau kombinasi amoksisilin dan gentamisin.
c. Intraabdominal sepsis
Untuk pasien dengan community acquired intraabdominal sepsis SWAB
merekomendasikan sefalosporin generasi ketiga dikombinasikan dengan
metronidazole dengan atau tanpa aminoglikosida atau amoksisilin + asam
klavulanat dengan atau tanpa aminoglikosida. Sedangkan untuk pasien
nosocomial intraabdominal sepsis adalah sefalosporin dikombinasikan dengan
metronidazol dan aminoglikosida atau amoksisilin + asam klavulanat atau
piperacilin/tazobactam dengan atau tanpa aminoglikosida (SWAB, 2010).
Guideline lain merekomendasikan meropenem dan amikasin (Bugano et al, 2008)
d. Sepsis dan skin and structure infection
Antibiotik yang direkomendasikan untuk uncomplicated skin and structure
infection adalah flukloksasilin. Sedangkan untuk uncomplicated skin and
2.4. BPJS
Berdasarkan UU No. 24 tahun 2011, Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial yang selanjutnya disebut BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial BPJS terbagi menjadi dua, yaitu BPJS
Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS kesehatan berfungsi
menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan. Untuk program Jaminan
Kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, implementasinya dimulai
sejak 1 Januari 2014. Program tersebut selanjutnya disebut dengan Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN).
Tujuan pelaksanaan JKN adalah untuk memberikan perlindungan
kesehatan dalam bentuk manfaat pemeliharaan kesehatan dalam rangka memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah
28 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 3
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan desain case
study. Pengambilan data pasien dilakukan secara retrospektif, melalui
pengumpulan data dari rekam medis pasien rawat inap yang menerima antibiotika
meropenem di RUMKITAL Dr. Mintoharjo, selama periode Januari-Desember
2014.
3.2. Kerangka Konsep Penelitian
Gambar 5. Kerangka Konsep Penelitian
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh data rekam medis pasien Sepsis
di ruang rawat inap RUMKITAL Dr. Mintoharjo periode Januari-Desember 2014. 26 rekam medis pasien yang
menggunakan antibiotik meropenem yang memenuhi
kriteria inklusi
Kualitas penggunaan antibiotik meropenem
Rasional (kategori 0)
Tidak rasional (kategori I-VI)
Parameter Gyssens: (Pamela, 2011)
- ketepatan indikasi,
- ketepatan pemilihan berdasarkan efektivitas
- toksisitas
- harga
- lama pemberian
- dosis
- interval pemberian
- rute pemberian
Subjek dipilih harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria
eksklusi.
Kriteria inklusi adalah:
a. Semua pasien sepsis rawat inap BPJS yang menggunakan antibiotik
meropenem di ruang rawat inap RUMKITAL Dr. Mintoharjo periode
Januari-Desember 2014
b. Subjek penelitian adalah semua usia
c. Rekam medik yang lengkap dan jelas terbaca
Kriteria eksklusi adalah:
a. Pasien tidak dalam rentang terapi yang dapat dievaluasi
3.3.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah populasi yang memenuhi kriteria
inklusi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu
semua pasien yang memenuhi kriteria diambil sebagai sampel penelitian. Dari
hasil uji pendahuluan didapatkan 41 rekam medis pasien sepsis yang menerima
antibiotik meropenem tetapi hanya 26 pasien yang masuk kriteria inklusi.
Sebanyak 15 rekam medis pasien sepsis dieksklusi karena data rekam medis yang
hilang atau tidak memenuhi rentang terapi.
3.4. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang administrasi medis RUMKITAL Dr.
Mintoharjo Jakarta Pusat pada bulan Februari 2015-selesai. Pengambilan data
dilakukan bulan Februari-Maret 2015. Pengolahan data dan analisis data
dilakukan bulan April-Mei 2015.
3.5. Definisi operasional
30
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tabel 3.1. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Cara dan Alat
No Variabel Definisi Cara dan Alat
Ukur Skala Ukur Keterangan
32
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
No Variabel Definisi Cara dan Alat
Ukur Skala Ukur Keterangan 2 Resistensi Tingkat resistensi
No Variabel Definisi Cara dan Alat
Ukur Skala Ukur Keterangan Lama
3.6.1. Persiapan (Permohonan Izin)
Pembuatan dan penyerahan surat permohonan izin pelaksanaan penelitian
dari Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah kepada RUMKITAL Dr. Mintoharjo. Penyerahan surat persetujuan
penelitian dari RUMKITAL Dr. Mintoharjo kepada Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah.
3.6.2. Pengumpulan Data Penelitian
34
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
a. Pengumpulan data sekunder yang diawali dengan mengumpulkan data
resistensi kultur bakteri yang mungkin menyebabkan infeksi di
RUMKITAL Dr. Mintohardjo. Kultur bakteri tersebut diperoleh dari
beberapa pasien selama tahun 2014. Masing-masing kultur tersebut sudah
ditetapkan resistensinya terhadap berbagai antibiotik. Data resistensi
bakteri yang didapatkan kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis
bakteri dan dihitung resistensinya terhadap berbagai antibiotik bertujuan
untuk memperoleh gambaran resistensi bakteri tersebut terhadap antibiotik
yang digunakan.
b. Pemilihan pasien yang masuk ke dalam kriteria inklusi. Data rekam medis
dari pasien tersebut kemudian didokumentasikan berupa nomor rekam
medis, usia pasien, jenis kelamin, diagnosis, dan data penggunaan obat.
c. Data dari rekam medis pasien dan peta resistensi bakteri terhadap
antibiotik dianalisis dan dievaluasi menggunakan metode Gyssens
3.6.3. Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari rekam medis pasien kemudian diolah dengan
menggunakan program Statistical Package for the Social Science (SPSS) edisi
16.0 .
Proses pengolahan data meliputi langkah sebagai berikut:
a. Editing
Proses ini meliputi pemeriksaan kelengkapan data yang akan diolah,
koreksi kesalahan data dan eksklusi data-data yang tidak dibutuhkan
sehingga prngolahan data lebih mudah dan dapat dilakukan peneliti
dengan baik
b. Coding
Proses ini merupakan pemberian kode berupa angka terhadap data-data
yang terdiri dari beberapa kategori dalam satu variabel
c. Input data, yaitu kegiatan memasukkan data yang akan diolah ke dalam
program
d. Cleaning data¸ atau pemeriksaan kembali untuk memastikan data benar
3.6.4. Analisis data
a. Evaluasi kualitas penggunaan antibiotika
Evaluasi kualitas penggunaan antibiotika berdasarkan alur Gyssens
meliputi kelengkapan data, indikasi penggunaan antibiotika, pemilihan antibiotika
berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga dan spektrum, lama pemberian, dosis,
rute dan interval serta waktu pemberian antibiotik. Pedoman yang digunakan
untuk penelitian antara lain International Guideline for Management Severe
Sepsis and Septic Shock 2012, peta resistensi RUMKITAL Dr. Mintohardjo dan
literatur terkait lainnya. Hasil evaluasi yang didapatkan kemudian dinyatakan
dengan persentase.
b. Analisis data
Analisis data dilakukan secara deskriptif, yakni analisis menggambarkan
data yang diperoleh dari selama penelitian secara sederhana sehingga dapat dibaca
dan dianalisis secara sederhana (Nursalam, 2008). Data akan dipaparkan dalam