• Tidak ada hasil yang ditemukan

Economic Valuation And Analysis Of Mangrove Forest Conservation Strategy In The Kubu Raya Regency, Province Of West Kalimantan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Economic Valuation And Analysis Of Mangrove Forest Conservation Strategy In The Kubu Raya Regency, Province Of West Kalimantan"

Copied!
175
0
0

Teks penuh

(1)

MAY

KONS

DI

PRO

A

YOR KON

SE

INS

SERVASI

I KABUPA

OVINSI KA

AHMAD F

E

NSERVAS

EKOLAH

STITUT P

I HUTAN

ATEN KU

ALIMANT

FAISAL S

35108003

SI BIODIV

H PASCAS

PERTANIA

2012

MANGRO

UBU RAYA

TAN BAR

SIREGAR

1

VERSITA

SARJANA

AN BOGO

OVE

A

RAT

R

AS TROPI

A

OR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Valuasi Ekonomi dan Analisis Strategi Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutif dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

(3)

Forest Conservation Strategy in the Kubu Raya Regency, Province of West

Kalimantan.

Under direction of RINEKSO SOEKMADI and AGUS PRIYONO.

Mangrove is a forest type that grown on tidal areas and has a tolerance to certain value of salinity. As an ecosystem, mangrove plays important roles and functions as a life support system. It is often the benefits and functions of a mangrove ecosystem, are not easily recognizable and measurable so mostly neglected in a regional development planning of an area as is the case in the regency of Kubu Raya. The research is aimed at the identification of mangrove ecosystem benefits, total economic value of a mangrove ecosystem and analysis of mangrove conservation strategy in Kubu Raya Regency. The benefits identified consist of direct benefits (such as commercial wood, fire woods, poles, charcoal, aquatic biota, the use of palm leaves and mangrove seedlings) and indirect benefits (such as prevention of abrasion, storing carbon, producing oxygen, seawater intrusion barrier and producing nutrients), optional and existence benefits. It is also identified that the total economic value of mangroves in Kubu Raya Regency is Rp. 400,018,397,288,- per year. The value is the higest among others and it indicated that the peoples of Kubu Raya District significantly respected to existence of mangrove present and in the future. Production forest managed by private sector (IUPHHK) are more efficient and higher economic values than other (in the protection forest and other land use areas). It indicates that the protection forest and other land use areas not managed optimally yet. In order to enhance the benefit values of mangrove in Kubu Raya District, it needs the following strategies: diversification in the uses of protection forest (land utilization, environmental services, and non wood forest products), increase the efficiency of forest management/utilization by local community, application of profer mangrove silviculture, and implementation of criteria and indicator of sustainable mangrove management.

(4)

Mangrove di Kabaupaten Kubu Raya. Dibimbing oleh RINEKSO SOEKMADI dan AGUS PRIYONO.

Hutan mangrove merupakan salah satu kawasan perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting sebagai sistem penyangga kehidupan di daerah pesisir. Secara langsung dan tidak langsung manfaat ini telah banyak diketahui dan dirasakan oleh masyarakat, baik sebagai tempat mencari ikan, udang, kepiting, bahan makanan, dan sumber obat-obatan. Secara fisik hutan mangrove juga dapat berfungsi mempertahankan garis pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan, mengurangi dampak terjadinya pemanasan global dan lainnya.

Bakosurtanal (2009) menyebutkan bahwa luas kawasan mangrove di Indonesia yang bervegetasi adalah sekitar 3.244.018,46 ha. Akan tetapi luas hutan mangrove tersebut telah banyak mengalami penurunan kualitas dan kuantitas yang dikarenakan kegiatan konversi (tambak, pemukiman, persawahan), penebangan kayu yang tidak bertanggung jawab (kayu bakar, pembuatan arang), pencemaran dan lainnya. Menurut data Ditjen RLPS-Departemen Kehutanan dalam Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2008), sekitar 42% dari luas potensial ekosistem mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak berat.

Manfaat barang dan jasa yang disediakan mangrove ada yang dapat dipasarkan maupun yang tidak dapat dipasarkan, baik yang berasal dari lingkungan di sekitar hutan mangrove itu sendiri, maupun yang terjadi dan berada jauh di luar hutan mangrove. Dengan demikian, nilai keseluruhan manfaat hutan mangrove hingga kini tidak mudah dikenali, sehingga sering diabaikan dalam suatu perencanaan pengembangan wilayah (Spaniks and Baukereing 1997).

Konflik pemanfaatan yang terjadi di kawasan mangrove terkadang disebabkan oleh belum diketahuinya manfaat dan fungsi dari sumberdaya mangrove baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Salah satu upaya yang dapat membantu mengurangi dampak masalah ini adalah dengan menghitung potensi ekonomi dari sumberdaya mangrove tersebut. Selain itu, penerapan strategi konservasi yang tepat pada suatu kawasan yang meliputi tiga aspek, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaan jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari sumberdaya dan ekosistemnya sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan suatu kawasan. Dalam tataran inilah, alasan dilakukannya pendugaan nilai ekonomi hutan mangrove baik melalui kajian empiris di lokasi studi maupun menggunakan hasil-hasil penelitian lainnya di beberapa wilayah di Indonesia dan analisis terhadap strategi konservasi hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya.

(5)

merumuskan analisis strategi konservasinya.

Lokasi penelitian adalah hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat yang secara administratif terletak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Batu Ampar, Kubu dan Teluk Pakedai. Lokasi kajian adalah seluas 84.843,08 ha yang terletak pada hutan lindung (50.613 ha), hutan produksi yang dikelola oleh swasta (28.230 ha) dan areal penggunaan lain yang dikelola oleh koperasi/masyarakat (6.000 ha).

Penelitian dilakukan dengan metode survey, yaitu metode yang bertujuan untuk mengumpulkan data dari sejumlah variabel pada suatu kelompok masyarakat melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan potensi hutan mangrove, adanya pemanfaatan oleh masyarakat, swasta, keberadaan hutan lindung dan ketersediaan berbagai data pendukung di wilayah ini. Unit populasi yang diamati adalah usaha pengelolaan hutan oleh perusahaan swasta (IUPHHK), pemaanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat, dan hutan lindung.

Desa-desa yang menjadi obyek penelitian ini adalah desa-desa yang memiliki interaksi dengan pemanfaatan hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya. Desa-desa tersebut adalah Desa Batu Ampar, Teluk Nibung, Nipah Panjang, Padang Tikar I (Kecamatan Batu Ampar), Desa Kubu dan Dabung (Kecamatan Kubu) dan Desa Tanjung Bunga (Kecamatan Teluk Pakedai).

Jenis data yang dikumpulkan dari responden adalah manfaat langsung yang diperoleh oleh masyarakat sekitar hutan mangrove dan perusahaan swasta, manfaat tidak langsung mangrove, manfaat pilihan dan manfaat keberadaan yang diperoleh dari masyarakat sekitar hutan mangrove.

Dalam penelitian ini, pendekatan analisis yang digunakan adalah analisis deskriftif terhadap pemanfaatan hutan mangrove, analisis nilai ekonomi total (total economic value) dan analisis terhadap strategi konservasi hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya.

Berdasarkan analisis terhadap peta SK Menteri Kehutanan No. 259/Kpts-II/2000 tentang Penunjukan Kawasan Perairan dan Daratan Provinsi Kalimantan Barat, Draft Rencana Tata Ruang Kabupaten Kubu Raya 2011, IUPHHK PT. Bios, IUPHHK PT. Kandelia Alam dan Areal Koperasi Panter yang dioverlaikan dengan citra landsat Path 121 Row 60 dan Path 121 Row 61 data Agustus 2011, maka diketahui bahwa luas mangrove di ketiga kecamatan adalah 102.016,89 ha yang terletak di berbagai status penggunaan lahan. Dari luasan tersebut mangrove yang dikelola sesuai dengan status dan peruntukannya adalah 84.843 ha dengan rincian 50.613 ha terletak di hutan lindung (100%), hutan produksi yang dikelola oleh swasta dalam bentuk IUPHHK seluas 28.230 ha (68,4) dan areal penggunaan lain yang dikelola oleh koperasi/masyarakat seluas 6.000 ha (71,6%).

(6)

400.018.397.288,- per tahun, dengan rincian manfaat langsung sebesar 79.406.193.599 pertahun (19,9 %), manfaat tidak langsung Rp. 112.444.187.115,- pertahun (28,1 %), manfaat pilihan Rp. 10.945.253.416,- pertahun (2,3%) dan Rp. 197.222.763.158,- pertahun (49,3%). Nilai manfaat keberadaan hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya adalah yang tertinggi jika dibandingkan dengan manfaat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di Kabupaten Kubu Raya memberikan penilaian yang tinggi terhadap eksistensi keberadaan kawasan hutan mangrove pada saat ini maupun pada masa yang akan datang.

Secara ekonomis, pengelolaan hutan produksi yang dikelola oleh swasta (IUPHHK) memberikan nilai yang lebih besar dan efisien jika dibandingkan dengan pengelolaan pada kawasan hutan lindung dan areal penggunaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan kawasan lainnya (hutan lindung dan areal penggunaan lain) belum secara optimal dilakukan.

Untuk meningkatkan nilai manfaat mangrove saat ini di Kabupaten Kubu Raya maka strategi pengelolaan yang harus dilakukan adalah dengan diversifikasi manfaat pada kawasan hutan lindung (pemanfaatan kawasan, jasa lingkungan dan hasil hutan bukan kayu), efesiensi biaya pengelolaan dan pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh masyarakat, penerapan sistem silvikultur hutan mangrove yang sesuai, dan penerapan kriteria dan indikator pengelolaan hutan mangrove lestari.

Meskipun pengelolaan kawasan yang dilakukan oleh swasta masih memberikan nilai ekonomi total yang lebih tinggi, namun demikian hasil kayu ternyata hanya memberikan kontribusi sekitar 11,6% dari total nilai manfaat yang diberikan pertahunnya. Dengan kondisi ini, maka pengelolaan ekosistem mangrove di Kubu Raya harus dilakukan dengan memperhatikan aspek kehati-hatian, serta memperhatikan kriteria dan indikator pengelolaan hutan yang lestari. Aspek lain perlu dikaji lebih lanjut untuk memperkuat analisis strategi konservasi ini dengan memperhatikan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, satwa dan ekosistemnnya.

(7)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(8)

KONSERVASI HUTAN MANGROVE

DI KABUPATEN KUBU RAYA

PROVINSI KALIMANTAN BARAT

AHMAD FAISAL SIREGAR

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(9)
(10)

N

N

M

T

Nama Maha

Nomor Poko

Mayor

2. Ketua Konse

(Prof.Dr

Tanggal Uji asiswa

ok

Program Stu ervasi Biodiv

r. Ir. Ervizal

an: 17 Juli 2

: Ahmad

: E 35108

: Konserv

M

1. Ko

(Dr. Ir. Rin

(Ir. A

udi/Mayor versitas Trop

AM Zuhud,

2012

Faisal Sireg

80031

vasi Biodive

Menyetujui :

omisi Pembim

nekso Soekm Ketua

Agus Priyono Anggota

pika

, M.S.) 3. D

Tan gar

ersitas Tropik

mbing

madi, M.Sc.F

o, M.S.) a

Dekan Seko

(Dr. Ir. Dah

nggal Lulus ka

F.)

olah Pascasa

hrul Syah, M

:

arjana IPB

(11)

Kupersembahkan karya sederhana ini kepada:

Kedua orangtuaku (Dunia Siregar dan Siti Syariah Pulungan), istri (Maimunah), putraku (Fikri Alamsyah Siregar) dan kedua putriku (Miesya Nafeeza Putri

(12)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak Maret 2012 hingga Mei 2012 ialah valuasi dan strategi konservasi mangrove, dengan judul “Valuasi Ekonomi dan Analisis Strategi Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat”.

Penelitian hingga penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dorongan berbagai pihak. Penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua, abang, kakak, adik, istri, putra dan putri tercinta, serta keluarga besar H. Izrai, yang selalu selalu memberikan dorongan dan doa selama menuntut ilmu di IPB hingga penyusunan tesis ini.

2. Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ir. Agus Priyono, M.S sebagai Anggota Komisi Pembimbing; atas arahan, bimbingan, curahan pemikiran, ide-ide baru, motivasi, nasihat, dan dorongan untuk lulus tepat waktu.

3. Dr. Ir. Bahruni, M.S sebagai Dosen Penguji Luar Komisi Pembimbing; atas arahan dan kesediaannya untuk menguji.

4. Prof. Dr. Ir. Ervizal A.M. Zuhud, M.S sebagai ketua sidang dan ketua Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika; atas arahan dan dorongan untuk cepat menyelesaikan studi.

6. Bapak Dr. Ir. Nyoto Santoso, M.S; atas ilmu, nasihat, dan bantuannya selama menempuh pendidikan di KSHE.

7. Tim Dosen Departemen KSHE; atas ilmu yang tak ternilai.

8. Pak Ir. Fairus Mulia dan Taju Solihin, S.Hut atas dukungan data dan selama pengambilan data di lapangan.

9. Saydina Ali, AMd atas bantuan analisis petanya, Dinen Juanda Bintang, S.Hut atas bantuannya selama pengambilan data lapangan.

10. Teman-teman mahasiswa S2 Konservasi Biodiversitas Tropika 2008: Toto Supartono, Maman Surahman, Julianti Siregar, Mohammad Ichsan, Oyip Supriatin, Insan Kurnia; atas motivasi, kekeluargaan, dan inspirasinya.

11. Teman-teman di LPP Mangrove dan HCV Fahutan IPB (Khumaedi, Eny Naryanti, Heru BP, Joko Hari, Eko Gondrong, Sutopo, Udi, Bayu, Jimmy, Yanti, Dian, Ayu, Erlan, Gilang).

12. Pak Sofwan dan Mbak Mela; atas bantuan dan pelayanan administrasinya. 13. Bapedalda Prov. Kalbar, Dishutbun Kab. Kubu Raya, DPK Kab. Kubu Raya,

Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Kab. Kubu Raya, BPS Kab. Kubu Raya; atas ijin dan bantuan datanya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(13)

Penulis dilahirkan di Kabupaten Tapanuli Selatan pada tanggal 9 April 1975 dari ayah Dunia Siregar dan ibu Siti Syariah Pulungan. Penulis merupakan putra keempat dari sembilan bersaudara.

Pada tahun 1987, penulis lulus dari SD Negeri Sabatolang dan pada tahun 1990 lulus dari SMP Negeri 1 Sipirok, Tapanuli Selatan. Tahun 1993, penulis lulus dari SMA Negeri 1 Sipirok, Tapanuli Selatan dan pada tahun 1998 penulis lulus dari Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Pada tahun 2008, penulis diterima sebagai mahasiswa di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika.

(14)

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5

1.4. Kerangka Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Ciri-ciri Ekosistem Mangrove ... 10

2.2. Potensi Ekositem Mangrove ... 11

2.3. Fungsi dan Manfaat Ekosistem Mangrove... 14

2.4. Pendekatan Penilaian Ekosistem Hutan Mangrove ... 16

2.5. Konservasi Sumberdaya Hutan Mangrove ... 20

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1. Sejarah Pengelolaan Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 23

3.2. Kondisi Fisik ... 24

3.2.1. Luas dan Letak ... 24

3.2.2. Tanah ... 24

3.2.3. Iklim ... 25

3.2.4. Hidrologi ... 27

3.2.5. Kualitas Perairan ... 28

3.2.6. Hidro-oceanografi ... 28

3.3. Kondisi Biologi ... 29

3.3.1. Flora ... 29

3.3.2. Fauna ... 33

3.3.3. Biota Perairan ... 35

3.4. Kondisi Sosial Ekonomi ... 41

3.4.1. Luas Desa-desa Penelitian ... 41

3.4.2. Jumlah Penduduk ... 41

3.4.3. Matapencaharian ... 42

3.4.4. Pendidikan ... 43

3.4.5. Kesehatan ... 45

3.4.6. Agama dan Suku ... 46

3.5. Aksessibilitas ... 46

IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu ... 47

4.2. Data yang Dikumpulkan ... 47

(15)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identifikasi Lokasi dan Luas Hutan Mangrove di Kabupaten

Kubu Raya ... 55

5.2 Identifikasi Manfaat Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 56

5.2.1. Pemanfaatan Mangrove di Hutan Lindung ... 58

5.2.2. Pemanfaatan Mangrove di Hutan Produksi ... 60

5.2.3. Pemanfaatan Magrove di Areal Penggunaan Lain ... 64

5.3 Nilai Ekonomi Total (NET) Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 64

5.3.1 Nilai Manfaat Langsung (Direct Use Value) ... 64

5.3.2 Nilai Manfaat Tidak Langsung (Indirect Use Value) ... 79

5.3.3 Nilai Manfaat Pilihan (Option Value) ... 84

5.3.4 Nilai Manfaat Keberadaan (Existence Value) ... 84

5.3.5 Nilai Manfaat Ekonomi Total Ekosistem Mangrove ... 84

5.4 Strategi Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 88

V. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan ... 99

6.2 Saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(16)

1 Contoh fungsi dan manfaat lingkungan ekosistem mangrove ... 15

2 Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal di Indonesia ... 15

3 Prediksi total nilai ekonomi ekosistem hutan mangrove di Indonesia ... 19

4 Data iklim rata-rata tahunan di daerah studi (1997-2006) ... 26

5 Kualitas air sungai di sekitar areal PT. Kandelia Alam ... 28

6 Daftar jenis tumbuhan di dalam transek di Kabupaten Kubu Raya ... 30

7 Komposisi jenis vegetasi di luar transek ... 31

8 Jenis fitoplankton di kawasan mangrove Kabupaten Kubu Raya ... 36

9 Jenis zooplankton di kawasan mangrove Kabupaten Kubu Raya ... 37

10 Jenis benthos di kawasan hutan mangrove Kabupaten Kubu Raya ... 38

11 Jenis-jenis ikan di kawasan hutan mangrove Kabupaten Kubu Raya ... 39

12 Luas desa-desa lokasi penelitian ... 42

13 Jumlah penduduk di wilayah studi ... 42

14 Jumlah fasilitas pendidikan, tenaga pengajar, murid di desa-desa studi ... 43

15 Fasilitas kesehatan di desa-desa studi ... 44

16 Fasilitas kesehatan dan tenaga medis di desa-desa studi ... 46

17 Jumlah penduduk di tiga kecamatan menurut agama ... 46

18 Luas mangrove di wilayah Kecamatan Batu Ampar, Kubu dan Teluk Pakedai ... 55

19 Identifikasi manfaat hutan mangrove di Kubu Raya ... 57

20 Nilai manfaat kayu komersil ... 66

21 Jumlah rumah tangga pemanfaatan kayu bakar dari mangrove di wilayah studi ... 67

22 Nilai manfaat kayu bakar ... 68

23 Nilai manfaat tiang pancang dan bahan baku arang ... 70

24 Harga arang dan jumlah produksi berdasarkan tingkatan kualitasnya ... 72

25 Nilai manfaat arang mangrove ... 72

26 Nilai manfaat biota air (nelayan tangkap) ... 74

27 Nilai manfaat biota air (nelayan jermal) ... 75

28 Nilai manfaat biota air (alat tangkap ”blat”) ... 76

(17)

32 Nilai manfaat tidak langsung mangrove sebagai penahan abrasi ... 80 33 Nilai manfaat tidak langsung mangrove sebagai penyerap dan

penyimpan karbon ... 81 34 Nilai manfaat tidak langsung mangrove sebagai penghasil oksigen ... 82 35 Nilai manfaat tidak langsung mangrove sebagai penahan intrusi air

laut ... 83 36 Nilai manfaat pilihan (Option Value) mangrove di areal penelitian ... 83 37 Nilai manfaat keberadaan (Existence Value) ekosistem mangrove di

Kabupaten Kubu Raya ... 84 38 Total nilai manfaat hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 86

39 Matrik hasil optimasi kawasan dengan berbagai strategi

pengelolaan mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 90

(18)

1 Perbedaan harga pemanfaatan sumberdaya ... 5

2 Kerangka penelitian Valuasi Ekonomi dan Analisis Strategi Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat ... 9

3 Kategori nilai ekonomi total ekosistem hutan mangrove (Bann 1998) ... 18

4 Peta lokasi penelitian di Kecamatan Batu Ampar Kubu dan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya ... 48

5 Peta lokasi sebaran pemanfaatan ekosistem mangrove pada hutan lindung ... 59

6 Peta lokasi sebaran pemanfaatan ekosistem mangrove hutan produksi ... 61

7 Peta lokasi sebaran pemanfaatan ekosistem mangrove pada areal penggunaan lain ... 65

8 (a) Pemanfaatan kayu mangrove untuk bahan bakar pembuatan arang, dan (b) Kayu mangrove untuk memasak ... 67

9 Pemanfatan tiang pancang dari mangrove untuk tiang rumah dan bahan baku arang ... 69

10 (a) dapur arang berkapasitas kecil, (b) arang hasil pembakaran yang siap jual ... 71

11 Alat tangkap nelayan tradisional ... 74

12 Jermal di pesisir Desa Dabung ... 76

13 Alat tangkap “Blat” ... 76

14 (a) Pengambilan daun nipah, (b) atap daun nipah yang siap pakai ... 77

15 Rumah penduduk yang masih mempergunakan atap daun nipah ... 78

16 Perbandingan nilai manfaat langsung hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya ... 86

17 Perbandingan manfaat langsung kayu dan non kayu ... 86

(19)

1 Peta administrasi Kabupaten Kubu Raya ... 103

2 Desa-desa yang menjadi lokasi penelitian di Kecamatan Batu Ampar, Kubu dan Teluk Pakedai ... 104

3 Citra Band 543 pada lokasi penelitian ... 105

4 Peta penutupan lahan di lokasi penelitian ... 106

5 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung kayu komersil ... 107

6 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung kayu bakar ... 108

7 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung tiang pancang ... 109

8 Analisis usaha mencari kayu mangrove (tiang pancang) ... 110

9 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung arang ... 111

10 Analisis finansial usaha arang mangrove ... 113

11 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung perikanan tangkap ... 117

12 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung perikanan (jermal) ... 118

13 Rician perhitungan analisis usaha jermal ... 119

14 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung perikanan (Blat) ... 121

15 Rincian perhitungan analisis usaha blat ... 122

16 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung perikanan (gastropoda) ... 124

17 Hasil perhitungan analisis ekonomi pemanfaatan hasil perikanan (gastropoda) ... 125

18 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung atap nipah ... 126

19 Hasil perhitungan analisis finansial usaha pembuatan atap nipah ... 127

20 Hasil analisis perhitungan manfaat langsung bibit mangrove ... 129

21 Hasil analisis perhitungan manfaat tidak langsung mangrove sebagai penahan abrasi ... 130

22 Hasil analisis perhitungan manfaat tidak langsung mangrove sebagai penyerap dan penyimpan karbon ... 131

23 Hasil analisis perhitungan manfaat tidak langsung mangrove sebagai penghasil oksigen ... 132

24 Hasil analisis perhitungan manfaat tidak langsung mangrove sebagai pencegah intrusi air laut ... 134

25 Hasil analisis perhitungan manfaat pilihan ... 135

26 Hasil analisis perhitungan manfaat keberadaan ... 136

(20)

dengan metode Continget Valuation Method (CVM) ... 141 29 Kuesioner valuasi ekonomi dan analisis strategi konservasi hutan

mangrove di Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat ... 145 30 Perhitungan nilai ekonomi pada berbagai strategi pengelolaan hutan

(21)

1.1 Latar Belakang

Hutan mangrove merupakan salah satu kawasan perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting sebagai sistem penyangga kehidupan di daerah pesisir. Secara langsung dan tidak langsung manfaat ini telah banyak diketahui dan dirasakan oleh masyarakat, baik sebagai tempat mencari ikan, udang, kepiting, bahan makanan, dan sumber obat-obatan. Secara fisik hutan mangrove juga dapat berfungsi mempertahankan garis pantai, tebing sungai serta mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan, mengurangi dampak terjadinya pemanasan global dan lainnya.

Bakosurtanal (2009) menyebutkan bahwa luas kawasan mangrove di Indonesia yang bervegetasi adalah sekitar 3.244.018,46 ha. Akan tetapi luas hutan mangrove tersebut telah banyak mengalami penurunan kualitas dan kuantitas yang disebabkan kegiatan konversi (tambak, pemukiman, persawahan), penebangan kayu yang tidak bertanggung jawab (kayu bakar, pembuatan arang), pencemaran dan lainnya. Menurut data Ditjen RLPS-Departemen Kehutanan dalam Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2008), sekitar 42% dari luas potensial ekosistem mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak berat. Kecenderungan konversi hutan mangrove menjadi bentuk penggunaan lahan lain semakin meningkat, yang didasari semata-mata kepentingan ekonomi dan kurang memperhatikan keberlanjutan kepentingan ekologi dan sosial.

(22)

mangrove sehingga penghargaan terhadap barang dan jasa itu sering dianggap tidak ada kaitannya dengan mangrove (misalnya: kesuburan perairan sebagai hasil dari kontribusi mangrove, yang menyebabkan banyaknya ikan, udang, kepiting, moluska di suatu wilayah perikanan pantai yang jauh dari hutan mangrove atau yang disebut dengan nilai biologis). Akibat dari ketidaktahuan tersebut, sering disimpulkan bahwa hutan mangrove dapat dikonversi untuk berbagai peruntukan yang hanya menghasilkan barang yang secara langsung dapat dipasarkan, seperti produk dari kegiatan akuakultur (Spaniks and Baukereing 1997).

Sumberdaya mangrove merupakan sumberdaya alam terpulihkan (renewable resources), sehingga menjadi sumberdaya modal yang dapat memberikan pelayanan ekonomi, yaitu memberikan kesempatan kerja dan peluang berusaha, oleh karenanya sumberdaya tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan. Nilai ekonomi tersebut antara lain nilai komersial kayu dan arang, biologis (ikan dan kepiting), pencegah kerusakan lingkungan (abrasi dan intrusi air laut), perosot karbon yang membantu menurunkan kadar pencemaran udara, budaya, perikanan, rekreasi, pendidikan dan nilai keindahan.

Konflik pemanfaatan yang terjadi di kawasan mangrove seringkali disebabkan oleh belum diketahuinya manfaat dan fungsi dari potensi sumberdaya mangrove baik untuk masa sekarang maupun dan masa yang akan datang. Hal ini mengakibatkan nilai manfaat dan fungsi tersebut luput dari perhitungan ekonomi. Salah satu yang dapat membantu masalah ini adalah dengan menghitung potensi ekonomi dari sumberdaya tersebut. Selain itu, penerapan strategi konservasi pada suatu kawasan yang meliputi tiga aspek, yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan lestari sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan suatu kawasan. Dalam tataran inilah, alasan dilakukannya pendugaan nilai ekonomi hutan mangrove baik melalui kajian empiris di lokasi studi maupun menggunakan hasil-hasil penelitian lainnya di beberapa wilayah di Indonesia dan analisis terhadap strategi konservasi hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya.

(23)

pendugaan nilai ekonomi tersebut dapat memberikan kontribusi informasi yang lebih mendalam bagi para pengambilan keputusan dalam merencanakan pengelolaan mangrove. Nilai dugaan ekonomi yang diperoleh dapat digunakan untuk mencari pilihan-pilihan terbaik bagi perencanaan strategis di suatu wilayah. Dari hasil penilaian ini juga diharapkan menjadi masukan dalam proses penyusunan kebijakan lingkungan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, karena dapat membantu memberikan gambaran mengenai seberapa besar benefit yang dihasilkan oleh sebuah kebijakan dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Oleh sebab itu, kajian tentang penilaian ekonomi hutan mangrove di berbagai tempat/lokasi sangat penting untuk dilakukan.

Salah satu kawasan mangrove di Indonesia yang memiliki karakteristik yang khas terletak di kawasan mangrove Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Di wilayah ini terdapat hutan lindung, hutan produksi dan areal penggunaan lain yang dimanfaatkan oleh masyarakat, perusahaan, maupun pemerintah. Berdasarkan hasil analisis terhadap peta Penunjukan Kawasan Perairan dan Daratan sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No. 259/Kpts-II/2000, Draft Rencana Tata Ruang Kabupaten Kubu Raya tahun 2011, dan citra landsat Path 121 Row 60 dan Path 121 Row 61 data Agustus 2011, maka diketahui bahwa luas mangrove di kawasan ini adalah 102.016,89 ha. Beradasarkan fungsi pokoknya, kawasan hutan mangrove di daerah ini terdiri dari hutan lindung seluas 50.613,08 ha, hutan produksi seluas 41.262,89 ha, areal penggunaan lain seluas 8.380,32 ha dan lainnya seluas 1.760,60 ha.

(24)

1.2 Perumusan Masalah

Hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya memiliki peranan dan fungsi yang cukup penting di wilayah pesisir, yaitu: (a) fungsi produksi – manfaat langsung yaitu: penghasil kayu, satwaliar, perikanan (tangkap, budidaya), nipah, tambang dan galian serta hasil hutan lainnya; (b) fungsi ekologis – manfaat tidak langsung yaitu: penahan abrasi, pencegah erosi dan intrusi air laut, penyedia makanan, wisata alam, dan penyerap karbon, (c) fungsi dan manfaat pilihan dari biodiversitas dan (d) fungsi dan manfaat keberadaan dari habitat mangrove.

Nilai manfaat ekonomi hutan mangrove pada setiap lokasi berbeda, tergantung pada faktor sosial ekonomi dan faktor biogeofisik setempat. Oleh sebab itu, penilaian hutan mangrove harus dilakukan secara menyeluruh di Indonesia baik terhadap fungsi yang ternilai oleh pasar (manfaat langsung) maupun fungsi yang tidak dapat dinilai oleh pasar secara langsung (fungsi ekologis, manfaat pilihan dan manfaat keberadaan).

Walapun masih jarang, telah ada beberapa penelitian tentang valuasi ekonomi ekosistem mangrove di Indonesia, seperti Pantai Utara Kabupaten Subang, Segara Anakan-Cilacap, Selat Malaka dan Teluk Bintuni. Namun demikian masih perlu dilakukan berbagai penelitian di berbagai lokasi yang lain ataupun pada lokasi yang sama dengan berbagai kemajuan pendekatan dan teknik penilaian saat ini. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui nilai manfaat yang diperoleh dari hutan mangrove semakin dapat mendekati nilai yang sebenarnya.

Kalangan ekonomis-environmentalis atau yang dikenal dengan istilah kumpulan para pemerhati yang berorientasi semi-konservasionis, sejak dekade tujuh puluhan, mulai mengembangkan logical framework dalam menilai sumberdaya alam dan lingkungan secara holistik. Kerangka berpikir yang dibangun oleh para ahli tersebut secara umum bermaksud untuk melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan agar tetap tersedia dan bermanfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang (dikenal dengan sustainable development concept

yang dipopulerkan oleh Brudlant Commission 1987).

(25)

waktu. Terutama jika hal tersebut berhubungan langsung dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang mendesak, sehingga produk barang dan jasa yang dihasilkan hanya diukur (valuation) apabila mempunyai nilai pasar secara langsung (salah satu kelemahan kaum pengikut Adam Smith dengan mekanisme pasarnya) dan kadangkala sering tidak mencerminkan harga sebenarnya (real prices) (Gambar 1).

Gambar 1 Perbedaan harga pemanfaatan sumberdaya

Mencermati Gambar 1, terlihat bahwa “kelalaian” manusia dalam menilai sumberdaya alam dan lingkungan akan memberikan “kemudaratan sosial” atau diistilahkan sebagai social cost yang pada akhirnya akan dirasakan oleh manusia. Termasuk disini adalah social cost dari adanya degradasi hutan mangrove setiap tahunnya.

Mengingat manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan biota lainnya, maka salah satu tindakan nyata dan perlu dilakukan sesegera mungkin adalah “mulai belajar” menilai manfaat dari ekosistem hutan mangrove secara keseluruhan. Manfaat tersebut ada yang sifatnya ternilai oleh pasar (tangible) dan tak ternilai oleh mekanisme pasar (intangible).

Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut, maka dalam pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya diperlukan kajian valuasi ekonomi guna merumuskan analisis strategi konservasi hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian adalah melakukan valuasi ekonomi pada hutan mangrove seluas 84.843,08 ha di Kabupaten Kubu Raya guna merumuskan analisis strategi konservasinya.

P1

P0

Q-Sosial Q-Swasta

MMC MSC = MC + Ext

S0

(26)

Hasil penelitian berguna untuk :

1. Sebagai data dasar untuk menilai manfaat hutan mangrove di Indonesia. 2. Sebagai bahan masukan bagi berbagai pihak dalam penentuan rencana

pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

1.4 Kerangka Penelitian

Secara biologis dalam keadaan alami, tumbuhan mangrove merupakan sumberdaya utama pada lahan pesisir yang membentuk komunitas ekosistem mangrove. Hal ini karena tumbuhan berada pada tingkat paling bawah dari piramida makanan pada ekosistem tersebut. Sebagai salah satu bentuk ekosistem lahan basah, ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai spesies, terutama bagi jenis-jenis hewan trestrial. Ekosistem hutan mangrove juga berfungsi sebagai perangkap sediman (trap sediment) dan menghalangi erosi sehingga dapat melindungi terumbu karang dan sedimentasi. Fungsi lainnya, yaitu sebagai pelindung wilayah pesisir dari kerusakan yang ditimbulkan oleh ombak dan badai.

Keberadaaan ekosistem hutan mangrove sebagai habitat bagi larva dan juwana berbagai jenis hewan pada eksositem laut dangkal, maka secara langsung memiliki keterkaitan (linkages) dengan kualitas dan kuantitas sumberdaya ikan dan biota lainnya. Dalam hubungan tersebut, dapat dilihat adanya korelasi yang cukup berarti antara luas hutan mangrove dengan produksi udang. Demikian pula dengan hasil penelitian oleh Ruitenbeek tahun 1991 yang menunjukkan bahwa manfaat tradisional hutan mangrove di Teluk Bintuni (perikanan, perburuan, dan pengumpulan produk) oleh penduduk setempat bernilai US $ 10 juta per tahun (Ruitenbeek 1994).

(27)

Manfaat dan fungsi dari ekosistem hutan mangrove dapat bertambah atau berkurang fungsinya dalam suatu wilayah menurut tingkat pemanfaatannya. Artinya, manfaat dari sumberdaya hutan mangrove hanya akan dapat diketahui dan dirasakan kepentingannya, apabila masyarakat mengetahui fungsi dan manfaat tersebut secara langsung (ada ketergantungan).

Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian manfaat ekosistem hutan mangrove adalah menggunakan konsep pendekatan penilaian ekonomi total (total economic valuation) dari produk barang dan jasa yang berguna (use value) dan yang tidak berguna secara langsung (non use value) (Gambar 2). Untuk lebih memahami pendekatan operasional total economic valuation dari suatu sumberdaya, dapat dilihat tulisan Bann (1998;2002) sebagai berikut :

a) Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) merupakan jumlah dari nilai penggunaan (use value = UV) dan nilai non penggunaan (non-use value = NUV). UV adalah jumlah dari nilai pemanfaatan langsung (direct use value = DUV), nilai pemanfaatan tidak langsung (indirect use value = IUV), nilai pilihan (option value = OV). Sedangkan, NUV adalah jumlah dari nilai eksistensi (existence value = XV). Nilai pemanfaatan langsung adalah barang dan jasa sumberdaya dan lingkungan mangrove yang digunakan langsung oleh manusia. Nilai pemanfaatan langsung yang dihitung dalam studi ini meliputi: kayu komersial, kayu bakar, tiang pancang, arang mangrove, biota air, nipah, bibit mangrove.

b) Nilai pemanfaatan tidak langsung adalah nilai ekonomi yang diterima oleh masyarakat dari sumberdaya alam dan lingkungan mangrove secara tidak langsung, seperti manfaat ekologis dari hutan mangrove sebagai penahan abrasi, penyerapan dan penyimpan karbon, penghasil oksigen, dan penahan intrusi air laut.

c) Nilai pilihan diturunkan dari pilihan untuk melakukan preservasi bagi penggunaan barang dan jasa sumberdaya dan lingkungan mangrove di masa yang akan datang yang tidak dapat digunakan pada saat sekarang.

(28)

tanpa maksud untuk memanfaatkannya pada masa yang akan datang, yaitu mereka memberikan nilai secara murni pada sumberdaya hutan, dengan harapan keberadaan sumberdaya hutan tersebut dapat dipertahankan terus-menerus. Banyak pihak ingin memberi uang, waktu, ataupun barang untuk membantu melindungi jenis ekosistem yang langka dan akan terancam punah. Dengan demikian nilai ekonomi total dapat diformulasikan sebagai berikut:

TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV)+(XV)

Teknik perhitungan nilai manfaat ekosistem mangrove dengan pendekatan nilai total ekonomi adalah pendekatan produksi dan nilai pasar (productivity and market values), pendekatan biaya ganti (replacement cost), dan contingent valuation method dengan memanfaatkan data hipotetik mengenai kesediaan membayar (willingness to pay/WTP) dari pengguna sumberdaya ekosistem hutan mangrove.

Secara keseluruhan, luas hutan mangrove di wilayah studi adalah 102.016,89 ha yang terletak pada kawasan hutan lindung (50.613,08 ha), hutan produksi (41.262,89 ha), APL (8.380,32 ha) dan lainnya (1.760,60 ha). Dari luasan tersebut, hutan mangrove yang dikelola dan dimanfaatkan adalah 84.843,08 ha dengan rincian hutan lindung (50.613,08 ha), hutan produksi yang dikelola oleh swasta (28.843,08 ha) dan areal penggunaan lain (6.000 ha) (Gambar 2).

(29)

Gambar 2 Kerangka penelitian Valuasi Ekonomi dan Analisis Strategi Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat

(30)

2.1 Pengertian dan Ciri-ciri Ekosistem Mangrove

Macnae (1968) menganjurkan penggunaan kata “mangrove” sebaiknya digunakan untuk satuan pohon dan semak. Sedangkan kata “mangal” berlaku untuk komunitas tumbuhan tersebut.

Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob. Adapun menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup di sepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis. Nybakken (1982) mendeskripsikan hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Dengan demikian secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tegakan pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di daerah pasang surut yang tergenang pasang dan terbuka pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove.

(31)

daerah bervegatasi maupun di luarnya, dan (5) daratan terbuka/hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut.

Meskipun habitat hutan mangrove bersifat khusus, setiap jenis biota laut di dalamnya mempunyai kisaran ekologi tersendiri dan masing-masing mempunyai relung khusus (Steenis 1958). Hal ini menyebabkan terbentuknya berbagai macam komunitas dan bahkan zonasi, sehingga komposisi jenis berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Steenis (1958) mengemukakan bahwa faktor utama yang mengakibatkan adanya ''Ecological Preference" berbagai jenis adalah kombinasi faktor-faktor berikut ini:

1). Tipe tanah: keras atau lembek, kandungan pasir dan liat dalam berbagai perbandingan.

2). Salinitas: variasi harian dan nilai rata-rata pertahun secara kasar sebanding dengan frekuensi, kedalaman, dan jangka waktu genangan.

3). Ketahanan jenis terhadap arus dan ombak.

4). Kombinasi perkecambahan dan pertumbuhan semai dalam hubungannya dengan amplitudo ekologi jenis-jenis terhadap tiga faktor di atas.

2.2 Potensi Ekositem Mangrove

Berbagai laporan dan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa hutan mangrove ditemukan hampir di setiap Provinsi di Indonesia. Walaupun di daerah pantai Provinsi D.I. Yogyakarta dilaporkan beberapa jenis vegetasi mangrove tumbuh, namun karena luasan yang kecil atau karena tidak membentuk tegakan yang kompak sehingga tidak dikategorikan sebagai hutan, maka luasan hutan mangrove di Provinsi D.I. Yogyakarta tersebut sampai saat ini belum dilaporkan.

(32)

bervegetasi, sedangkan hasil pengukuran Departemen Kehutanan (2006) didasarkan atas lahan bervegetasi dan land system yang termasuk mangrove.

Dibandingkan dengan total luas mangrove di seluruh dunia sekitar 18.107.700,00 hektar (Spalding, Blasco and Field 1997), maka jika kita menggunakan angka luas 3.685.241,16 hektar (Kementerian Kehutanan 2010), berarti Indonesia merupakan tempat mangrove yang terluas di dunia (20,35 %), melebihi Brazil (1,3 juta hektar), Nigeria (1,1 juta hektar), dan Australia (0,97 juta hektar). Sehingga tidaklah heran jika perhatian dunia terhadap kelestarian mangrove Indonesia sangat besar.

Komunitas mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan 89 spesies yang terdiri dari 35 spesies pohon, 9 spesies perdu, spesies liana, 29 spesies epifit, 80 spesies crustacea, 65 spesies moluska, dan 2 spesies parasitik (Nontji 1987 dalam Dahuri et al. 1996). Soemodihardjo (1993) menegaskan bahwa mangrove di Indonesia terdiri atas 15 famili, 18 genus, 41 spesies, dan 116 spesies yang berasosiasi. Berdasarkan Kusmana (1993) di Indonesia saat ini paling sedikit terdapat sekitar 101 jenis tumbuhan mangrove baik yang khas maupun tidak khas habitat mangrove, yang terdiri atas: 47 jenis pohon, 5 jenis semak, 9 jenis herba dan rumput, 9 jenis liana, 29 jenis epifit, dan 2 jenis parasit.

Alikodra et al. (1990) melaporkan bahwa di hutan mangrove muara Cimanuk dan Segara Anakan berturut-turut terdapat 23 jenis dan 16 jenis burung Wader, 12 jenis di antaranya termasuk jenis burung yang melakukan migrasi. Di samping itu beberapa jenis primata terdapat di hutan mangrove antara lain: bekantan (Nasalis larvatus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Presbytis sp.). Juga dijumpai jenis reptilia, seperti: biawak (Varanus salvator), kadal, beberapa jenis ular dan buaya muara (Crocodylus porosus).

(33)

2.3 Fungsi dan Manfaat Ekosistem Mangrove

Secara biologis dalam keadaan alami, tumbuhan mangrove merupakan sumberdaya utama pada lahan pesisir yang membentuk komunitas ekosistem mangrove. Hal ini disebabkan tumbuhan mangrove berada pada tingkat paling bawah dari piramida makanan pada ekosistem tersebut. Sebagai salah satu bentuk ekosistem lahan basah, ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai spesies, baik jenis-jenis hewan teestrial maupun akuatik. Ekosistem hutan mangrove juga berfungsi sebagai perangkap sediman (sediment trap) dan menghalangi erosi sehingga dapat melindungi terumbu karang dari sedimentasi. Fungsi lainnya, yaitu sebagai pelindung wilayah pesisir dari kerusakan yang ditimbulkan oleh ombak dan badai.

Keberadaaan ekosistem mangrove juga penting sebagai habitat bagi larva dan juwana berbagai jenis hewan pada eksositem laut dangkal, sehingga secara langsung memiliki keterkaitan (linkages) dengan kualitas dan kuantitas sumberdaya ikan dan biota lainnya. Dalam hubungan tersebut, maka dapat dilihat hasil penelitian tahun 1991 oleh Ruitenbeek yang menunjukkan bahwa manfaat tradisional hutan mangrove di teluk Bintuni (perikanan, perburuan, dan pengumpulan produk) oleh penduduk setempat bernilai US $ 10 juta per tahun.

(34)
[image:34.612.136.509.89.315.2]

Tabel 1 Contoh fungsi dan manfaat lingkungan ekosistem mangrove

Fungsi Produksi Berkelanjutan Fungsi Pembawa dan Pangatur Kayu bakar Pengendali erosi (pantai dan pinggir sungai)

Arang Penyerap dan recycle limbah manusia dan polutan lainnya

Ikan Memelihara biodiversity

Udang Tempat migrasi habitat

Tanin Tempat pemijahan dan pembibitan Nipa Supplai unsur hara (nutrient)

Obat-obatan Regenerasi nutrien

Perburuan tradisional, penangkapan ikan dan pengumpulan produk

Melindungi dan memelihara terumbu karang

Sumberdaya genetik Tempat tinggal bagi masyarakat local Tempat rekreasi

Fungsi Konversi Fungsi Informasi

Industri dan penggunaan lahan Informasi religius dan spiritual Tambak Inspirasi artistik dan budaya

Usaha tani padi Informasi pendidikan, sejarah dan pengembangan ilmu pengetahuan

Perkebunan Tempat rekreasi Sumber : Bann (1998)

Manfaat dan fungsi dari ekosistem mangrove sebagaimana diuraikan pada Tabel 1 dapat bertambah atau berkurang fungsinya dalam suatu wilayah sesuai dengan kondisi ekosistem mangrove di lokasi tersebut, tingkat pemanfaatan atau berbagai faktor lainnya. Artinya bahwa manfaat dari sumberdaya hutan mangrove tersebut akan spesifik pada masing-masing lokasinya. Selain manfaat dan fungsi ekosistem mangrove tersebut diatas, berbagai produk dan jasa pada tingkat spesies juga telah diketahui berbagai manfaat tumbuhan mangrove (Tabel 2).

Tabel 2 Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan secara

tradisional oleh masyarakat lokal di Indonesia

No. Jenis Kegunaan

1. Acanthus ilicifolius Buah yang dihancurkan dalam air dapat digunakan untuk membantu menghentikan darah yang keluar dari luka dan mengobati luka karena gigitan ular.

2. Acrostichum aureum Bagian tanaman yang masih muda dapat dimakan mentah atau dimasak sebagai sayuran.

3. Aegiceras corniculatum Kulit dan bijinya untuk membuat racun ikan.

4. Avicennia alba Daun yang masih muda dapat untuk makanan ternak, bijinya dapat dimakan jika direbus, kulitnya untuk obat tradisional (astringent), zat semacam resin yang dikeluarkan bermanfaat dalam usaha mencegah kehamilan, salep yang dicampur cara membuatnya dengan biji tumbuhan ini sangat baik untuk mengobati luka penyakit cacar, bijinya sangat beracun sehingga harus hati-hati dalam memanfaatkannya. 5. Avicennia marina Daun yang muda dapat dimakan/disayur, polen dari bunganya dapat

untuk menarik koloni-koloni kumbang penghasil madu yang diternakkan, abu dari kayunya sangat baik untuk bahan baku dalam pembuatan sabun cuci.

6. Avicennia officinalis Biji dapat dimakan sesudah dicuci dan direbus.

[image:34.612.137.522.491.706.2]
(35)

No. Jenis Kegunaan

kulit batang yang masih muda dapat untuk menambah rasa sedap ikan yang masih segar.

8. Bruguiera parviflora Kayunya untuk arang dan kayu bakar.

9. Bruguiera sexangula Daun muda, embrio buah, buluh akar dapat dimakan sebagai sayuran, daunnya mengandung alkaloid yang dapat dipakai untuk mengobati tumor kulit, akarnya untuk kayu menyan, buahnya untuk campuran obat cuci mata tradisional.

10. Ceriops tagal Kulit batang baik sekali untuk mewarnai dan sebagai bahan

pengawet/penguat jala-jala ikan dan juga untuk industri batik, kayunya baik untuk industri kayu lapis (plywood), kulit batang untuk obat tradisional.

11. Excoecaria agallocha Getahnya beracun dan dapat dipakai untuk meracuni ikan.

12. Heritiera littoralis Kayunya baik untuk industri papan, air buahnya beracun dan dapat untuk meracuni ikan.

13. Lumnitzera racemosa Rebusan daunnya untuk obat sariawan.

14. Oncosperma tigillaria Batangnya untuk pancang rumah, umbut untuk sayuran, bunganya untuk menambah rasa sedap nasi.

15. Rhizophora mucronata Kayunya untuk arang/kayu bakar dan chips. Air buah dan kulit akar yang muda dapat dipakai untuk mengusir nyamuk dari tubuh/badan. 16. Rhizophora apiculata Kayunya untuk kayu bakar, arang, chips dan kayu konstruksi.

17. Sonneratia caseolaris Buahnya dapat dimakan, cairan buah untuk menghaluskan kulit, daunnya untuk makanan kambing dan menghasilkan pectine.

18. Xylocarpus moluccensis Kayunya baik sekali untuk papan, akar-akarnya dapat dipakai sebagai bahan dasar kerajinan tangan (hiasan dinding, dll), kulitnya untuk obat tradisional (diarhoea), buahnya mengeluarkan minyak yang dapat dipakai untuk minyak rambut tradisional.

19. Nypa fruticans Daun untuk atap rumah, dinding, topi, bahan baku kertas, keranjang dan pembungkus sigaret, nira untuk minuman dan alkohol, biji untuk ”jely” dan sebagai kolang-kaling, dan pelepah yang dibakar untuk menghasilkan garam.

20. Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata

Air rebusan kulit batang dipakai untuk astringen, anti-diare dan anti muntah. Kulit batang yang sudah dilumatkan bila ditempelkan pada luka baru dapat menghentikan pendarahan luka. Gilingan daun muda yang dikunyah berfungsi untuk menghentikan pendarahan (hoemostatic) dan antiseptik.

21. Ceriops tagal Kulit batang digunakan sebagai astringen, namun kurang disukai. Hasil ekstraksi diminum dapat menghentikan diare, anti muntah dan anti beberapa penyakit disentri.

22. Avicennia alba Avicennia officinalis

Kayu gubalnya agak asin bisa mengembalikan vitalitas seseorang. Umumnya bila direbus bersama kayu gubal Cassia dan ekstraknya diminum berguna memperlancar darah menstruasi.

23. Excoecaria agallocha Asap hasil pembakaran kayu dipakai untuk mengobati lepra. Kayu gubal untuk anti perut kembung dan mucolulitic. Tepung dalam keadaan basah dapat dibalurkan pada kulit untuk menurunkan panas dan mengurangi bengkak. Ekstraksi daun yang diminum dapat mengurangi gejala epilepsi

24. Xylocarpus granatum Xylocarpus mollucensis

Bijinya diminum untuk menyembuhkan diare dan kolera. Air ekstraknya dapat dipakai untuk membasuh luka

25. Clerodendron inerme Air ekstraksi daunnya digunakan untuk membasuh kulit yang diserang parasit. Gilingan daun kering akan melindungi luka dari infeksi. Daun yang direndam dalam spirtus panas dapat mengurangi bengkak bila ditempelkan. Air ekstraksi akar kering terasa pahit dan dapat digunakan untuk mengobati dingin, hepatitis, kanker hati dan luka memar.

(36)

No. Jenis Kegunaan 27. Acanthus ilicifolius

Acanthus embrathatus

Mandi dengan memakai air ekstraksi rebusan kulit batang dan akar dapat mengurangi simpton dingin, mengobati alergi pada kulit dan penyakit. Jika diminum dapat menyembuhkan gejala penyakit sipilis. Gilingan kulit batang segar yang dibalurkan pada luka bernanah akan mempercepat proses penyembuhan. Jika dicampur dengan jahe, hasil gilingannya dapat dipakai secara lokal untuk mengobati infeksi pada mata dan malaria. Jika digiling bersama kunyit dan gula tebu, dapat dipakai untuk ambien. Jika digiling dengan madu serta licorice (Glycyrrhiza glabra), diminum akan menghilangkan sakit punggung 28. Thespesia populnea Kudis dapat diobati dengan menempelkan gilingan buah dan daunnya

pada tempat yang sakit. Ekstrak kulit batang dipakai untuk membersihkan luka yang sudah kronis. Akar muda digunakan sebagai tonik.

29. Hibiscus tiliaceus Bunga segar direbus dengan susu segar dan dipakai ketika dingin untuk membersihkan infeksi pada telinga.

Sumber: Kusmana (2009)

2.4 Pendekatan Penilaian Ekosistem Hutan Mangrove

Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian manfaat ekosistem hutan mangrove adalah menggunakan konsep pendekatan penilaian ekonomi total (total economic valuation) dari produk barang dan jasa yang berguna (use value) dan yang tidak berguna secara langsung (non use value) (Gambar 3). Untuk lebih memahami pendekatan operasional total economic valuation dari suatu sumberdaya, dapat dilihat tulisan Bann (1992) sebagai berikut:

a. Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) merupakan jumlah dari nilai penggunaan (use value = UV) dan nilai non penggunaan (non-use value

= NUV). UV adalah jumlah dari nilai guna langsung (direct use value = DUV), nilai guna tidak langsung (indirect use value = IUV), nilai pilihan (option value = OV). Sedangkan, NUV adalah jumlah dari nilai eksistensi (existence value = XV). Nilai guna langsung adalah barang dan jasa sumberdaya dan lingkungan mangrove yang digunakan langsung oleh manusia. Nilai penggunaan langsung antara lain: kayu komersial, kayu bakar, chips, tiang pancang, arang, biota air, nipah, obat-obatan, bahan pangan, madu, satwa, wisata, bibit mangrove dan lainnya.

(37)

c. Nilai pilihan diturunkan dari pilihan untuk melakukan preservasi bagi penggunaan barang dan jasa sumberdaya dan lingkungan mangrove di masa yang akan datang yang tidak dapat digunakan pada saat sekarang.

d. Nilai bukan penggunaan merupakan nilai keuntungan yang dapat dinikmati manusia sehubungan dengan keberadaan sumberdaya alam dan lingkungan mangrove. Manusia dapat memberikan nilai pada sumberdaya hutan dengan tanpa maksud untuk memanfaatkannya pada masa yang akan datang, yaitu mereka memberikan nilai secara murni pada sumberdaya hutan, dengan harapan keberadaan sumberdaya hutan tersebut dapat dipertahankan terus-menerus. Banyak pihak ingin memberi uang, waktu, ataupun barang untuk membantu melindungi jenis ekosistem yang langka dan akan terancam punah.

[image:37.612.110.501.406.660.2]

Teknik perhitungan nilai manfaat ekosistem mangrove dengan pendekatan nilai total ekonomi adalah pendekatan produksi dan nilai pasar (productivity and market values), pendekatan biaya ganti (replacement cost), dan contingen valuation method dengan memanfaatkan data hipotetik mengenai kesediaan membayar dan menerima (willingness to pay/WTP and willingness to accept/ WTA) dari pengguna sumberdaya ekosistem hutan mangrove.

(38)

Penilaian ekonomi ekosistem mangrove didasarkan pada manfaat dan fungsi yang dihasilkan, baik fungsi produksi, ekologis, dan sosial ekonomi. Keberadaan ekosistem mangrove di beberapa lokasi di Indonesia, seperti Batu Ampar Kalimantan Barat, Segara Anakan di Cilacap, Pantai Utara Kabupaten Subang, Teluk Bintuni Papua dan Selat Malaka, ternyata memberikan manfaat ekonomi yang cukup tinggi dan bervariasi antara lokasi yang berbeda.

Berdasarkan hasil analisis data dari Tabel 3, diketahui bahwa total nilai ekonomi ekosistem mangrove dari berbagai daerah di Indonesia adalah Rp. 29.152.232/ha/tahun, terbagi atas nilai manfaat aktual Rp. 17.577.040/ha/tahun (60,29%) dan nilai manfaat potensial Rp. 11.575.192/ha/tahun (39,71%). Total nilai manfaat langsung Rp. 8.397.939/ha/tahun (28,81%); manfaat tidak langsung Rp. 8.321.335 ha/tahun (28,54%); manfaat pilihan biodiversitas Rp. 94.688/ha/tahun (0.33%) dan nilai manfaat keberadaan habitat Rp. 12.338.270 /ha/tahun (42,32%) (LPP Mangrove 2004).

Tabel 3 Prediksi total nilai ekonomi ekosistem mangrove di Indonesia

No Jenis Manfaat

Rata-rata Nilai Manfaat Aktual

(Rp/ha/thn)

Rata-rata Nilai Manfaat Potensial

(Rp/ha/thn)

Total Nilai Manfaat Aktual + Potensial

(Rp/ha/thn)

(%) (%) (%)

1 Manfaat Langsung 8.103.695 46,10 294.244 2,54 8.397.939 28,81 2 Manfaat Tidak Langsung 3.367.394 19,16 4.953.941 42,80 8.321.335 28,54 3 Manfaat Pilihan Biodiversity: 58.688 0,34 36.000 0,31 94.688 0,33 4 Manfaat Keberadaan Habitat: 6.047.263 34,40 6.291.007 54,35 12.338.270 42,32 Total Nilai Ekonomi (Rp/ha/thn) 17.577.040 100,00 11.575.192 100,00 29.152.232 100 Sumber: LPP Mangrove (2004)

Dari Tabel 3 tersebut di atas, terlihat bahwa ekosistem mangrove memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, namun pemanfaatan aktual saat ini belum optimal karena nilai potensial belum diperhitungkan dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Persentase nilai manfaat langsung lebih tinggi dibanding manfaat tidak langsung maupun manfaat pilihan terhadap perlindungan keanekaragaman hayati hutan mangrove. Dilain pihak, ada korelasi yang kuat antara manfaat langsung hutan mangrove dengan derajat penilaian keberadaan habitat yang ditunjukkan oleh tingginya penilaian masyarakat terhadap keberadaan hutan saat ini dan yang akan datang.

(39)

sebesar Rp. 2.681.893,-/ha/tahun (11,70%) meliputi manfaat kayu bangunan, kayu bakar, arang, chip, pemberat cock bulu tangkis serta daun mangrove untuk pakan ternak. Nilai manfaat ekonomi silvofisheries Rp. 1.323.056,-/ha/tahun (5,77%); tambak rakyat Rp. 5.635.190,-/ha/tahun (24,59%); perikanan Rp. 1.258.676,-/ha/tahun (5,49%); Nipah (atap dan gula nira) Rp. 335.975,-1.258.676,-/ha/tahun (1,47%); tambang dan galian Rp. 8.293.644,-/ha/tahun (36,19%); satwa Rp. 75.188,-/ha/tahun (0,33%) dan hasil hutan lainnya Rp. 2263761,-75.188,-/ha/tahun (9,88%).

Nilai manfaat tidak langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove sebagai lokasi wisata alam memiliki nilai ekonomi tertinggi Rp. 4.142.582,-/ha/tahun (18,08%); fungsi penyedia siklus makanan Rp. 3.751.960,-/ha/tahun (16,37%); penahan abrasi dan intrusi air laut Rp. 3.494.786,-/ha/tahun (15,25%); dan sebagai penyerap karbon Rp. 3.168.355,-/ha/tahun (13,82%). Sementara manfaat pilihan terhadap keanekaragaman hayati hutan mangrove sebesar Rp. 94.688,-/ha/tahun (0,41%) dan keberadaan habitat ekosistem hutan mangrove agar tetap tersedia mempunyai nilai ekonomi Rp. 12.338.270,-/ha/tahun (53,84%).

Analisis terhadap kawasan hutan mangrove menurut wilayah kajian bahwa total nilai ekonomi (aktual dan potensial) bervariasi, karena belum semua manfaat hutan mangrove diperhitungkan seperti nilai manfaat obat-obatan, konservasi habitat, perlindungan spesies langka. Selain itu, juga disebabkan oleh perbedaan potensi sumberdaya hutan mangrove di setiap daerah. Sebagai contoh, hasil perhitungan total nilai ekonomi hutan mangrove di Segara Anakan memiliki nilai ekonomi manfaat tertinggi (Rp. 31.055.380,-/ha/tahun) dibanding Teluk Bintuni (Rp. 26.862.867,-/ha/tahun), Kabupaten Subang (Rp. 19.545.655,-/ha/tahun), dan Selat Malaka (Rp. 17.973.855,-/ha/tahun).

2.5 Konservasi Sumberdaya Hutan Mangrove

(40)

Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Selanjutnya disebutkan bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: (a) perlindungan sistem penyangga kehidupan, (b) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan (c) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (Undang-undang Nomor 5 tahun 1990).

Dalam Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, tertanggal 25 Juli 1990 menyebutkan beberapa jenis lahan basah yang dilindungi. Pasal 1 No 11 menyebutkan: “Kawasan pantai berhutan bakau adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberikan perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan”.

Pasal 26 menyatakan: “Perlindungan terhadap kawasan pantai berhutan bakau dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai bentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembangbiaknya berbagai biota laut di samping sebagai pelindung pantai dan pengikisan air laut serta pelindung usaha budidaya di belakangnya”. Selanjutnya dalam Pasal 27 menyatakan: “Kriteria kawasan hutan bakau adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang teringgi danterendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.”

(41)

serta penyakit, dan b. mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat, dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.

Pengawetan jenis lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dalam peraturan pemerintah ini yang dimaksud dengan pengawetan adalah upaya untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya baik di dalam maupun di luar habitatnya tidak punah. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa bertujuan untuk: (a) menghindarkan jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan; (b) menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa; dan (c) memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada; agar dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia secara berkelanjutan.

(42)

3.1 Sejarah Pengelolaan Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya

Tidak ada catatan pasti yang dijumpai penulis tentang waktu dimulainya

pengelolaan ekosistem hutan mangrove di daerah Kabupaten Kubu Raya (dulu masuk

Kabupaten Pontianak). LPP Mangrove (2001) menyebutkan bahwa berdasarkan

informasi tokoh masyarakat, sejak tahun 1906 penjajahan Belanda masuk ke wilayah

ini dan memanfaatkan kulit kayu bakau untuk penyamak kulit. Selanjutnya, suku

pendatang (etnis China) sejak tahun 1913 memanfaatkan kayu bakau untuk arang dan

menandai sejarah terbentuknya tungku arang bakau di Batu Ampar. Selanjutnya pada

tahun 1918 telah ada dapur arang di Kecamatan Kubu.

Pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang, industi arang diatur dengan upaya

memberikan hak pengelolaan hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan bahan

baku arang. Pada masa ini juga diatur lahan pengusahaan untuk penangkapan ikan,

udang dan kepiting yang ditandai dengan ”Blat” yaitu alat perangkat biota air.

Pada tahun 1945 sampai dengan 1965, hak pengelolaan hutan mangrove untuk

memenuhi kebutuhan bahan baku arang tersebut diteruskan dengan adanya Surat Ijin

dari Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Pontianak. Selanjutnya pada tahun

1971 sampai dengan tahun 1985 dikeluarkan ijin pemanfaatan kayu bakau terutama

untuk ekspor log kayu bakau dan keseluruhan areal merupakan konsesi HPH PT.

Batang Karang, HPH PT. Bumi Indonesia Jaya, HPH PT. Pelita Rimba Raya dan

HPH. PT. Kalimantan Sari. Namun setelah adanya kebijakan larangan ekspor kayu

bulat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia Cq. Departemen Kehutanan dan

tidak adanya industri pengolahan kayu mangrove, maka kegiatan eksplotasi kayu

mangrove ini terhenti.

Sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2002 PT. Inhutani II melakukan

kegiatan eksploitasi hutan mangrove di areal bekas tebangan HPH PT. Kalimantan

Sari di wilayah kelompok hutan Kubu, Sungai Keluang dan Pulau Maya. Kegiatan

ekksploitasi ini kemudian terhenti karena alasan administrasi perijinan.

Selanjutnya pada tahun 2002 sampai dengan saat ini, areal di Kelompok Hutan

Sungai Bunbun dan Selat Syeh dikelola oleh PT. Bios dengan luas 10.100 ha. Pada

(43)

Radak dan Sei Sepada seluas 18.130 ha yang beroperasi hingga saat ini. Areal lainnya

dikelola oleh koperasi PANTER pada lokasi Areal Penggunaan Lain dan sisanya

merupakan kawasan hutan lindung.

3.2 Kondisi Fisik

3.2.1 Luas dan Letak

Wilayah kawasan hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya berada di

Kecamatan Batu Ampar, Kubu dan Teluk Pakedai. Ketiga kecamatan tersebut

memiliki luas wilayah 3.506,2 km2. Kecamatan Batu Ampar merupakan

kecamatan terluas dengan luas 2.002,7 km2, disusul Kubu dengan luas 1.211,6

km2, dan Teluk Pakedai dengan luas 291,9 km2. Sebagaian besar (66,87%) dari

luasan ketiga kecamatan tersebut merupakan hutan negara.

Luas wilayah hutan mangrove di ketiga kecamatan ini mencapai 102.016,89 ha.

Kecamatan Batu Ampar merupakan kecamatan yang mempunyai luas hutan

mangrove terluas dibandingkan dua kecamatan lainnya yaitu seluas 52.300,91 ha,

kemudian diikuti Kecamatan Kubu seluas 40.727,74 ha dan Kecamatan Teluk

Pakedai seluas 8.988,24 ha. Berdasarkan statusnya, maka sekitar 50.613,08 ha berada

pada kawasan lindung (HL), 32.350 ha pada kawasan hutan produksi (HP), 8.380,32

ha pada kawasan areal penggunaan lain (APL), dan lainnya seluas 1.760,60 ha.

Secara geografis hutan mangrove di ketiga kecamatan ini terletak pada

koordinat 0084’– 0087’ LS and 109065’– 109068’ BT. Batas-batas wilayah hutan

mangrove di ketiga kecamatan ini adalah: sebelah Barat berbatasan dengan Selat

Karimata, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sanggau, sebelah Selatan

berbatasan dengan Kabupaten Ketapang, dan sebelah Utara berbatasan dengan

Kabupaten Bengkayang.

3.2.2 Tanah

Jenis tanah di sebagian besar wilayah mangrove Kabupaten Kubu Raya

adalah tanah alluvial hidromorf kelabu. Jenis tanah ini mempunyai drainase

lambat dan mempunyai daya untuk menahan air yang baik. Meskipun demikian,

pada saat kering sering terjadi retakan. Permeabilitas dari jenis tanah ini

tergolong lambat. Warna lapisan atas dan lapisan bawah dari tanah alluvial ini

(44)

(endapan) dan sering mengandung kopal. Lapisan bawah tanah ini bertekstur halus

sampai dengan agak halus, pejal dan dalam keadaan basah lekat karena banyak

mengandung karatan dan gley.

Tekstur tanah pada ekosistem mangrove di wilayah Kabupaten Kubu Raya

didominasi oleh debu dengan prosentase kandungan mencapai 54,0% - 75,65%,

kemudian liat 21,1% - 41,25% dan pasir 2,5% - 5,85%. Kondisi ini dipengaruhi

oleh banyaknya pasokan sedimen dari proses sedimentasi yang datang dari hulu

Sungai Kapuas beserta anak-anak sungainya.

Tingkat keasaman tanah tergolong tinggi dengan kisaran pH antara 2,7 - 5,6.

Hal ini banyak dipengaruhi oleh pasokan air gambut dari lahan-lahan yang ada di

sekitar ekosistem mangrove.

3.2.3 Iklim

Untuk mendapatkan gambaran keadaan iklim daerah survei, data iklim

diambil dari data Amdal PT. Kandelia Kandel (2008) yang menggunakan data

iklim dari stasiun Meteorologi Supadio yang merupakan stasiun terdekat dari

wilayah studi dan dianggap paling mewakili.

(1). Curah Hujan dan Hari Hujan

Curah hujan rata-rata per tahun adalah 2.512,8 mm, sehingga curah hujan

rata-rata per bulan adalah 209,4 mm. Rata-rata hujan bulanan minimum terjadi

pada bulan April sebesar 73,5 mm, dan maksimum terjadi pada bulan Juli sebesar

372,0 mm. Rata-rata jumlah hari hujan per tahun 158 hari dan rata-rata per bulan

adalah 13 hari. Keadaan suhu rata-rata bulanan adalah 26,4 oC. Suhu rata-rata

tertinggi pada bulan Mei yaitu 27,4 °C dan rata-rata terendah pada bulan Januari

yaitu 25,5 °C.

Tabel 4 menunjukkan bahwa daerah studi menurut Koppen termasuk pada

tipe iklim Afaw, yaitu iklim tropika berhujan tanpa bulan kering. Variasi curah

hujan tahunan dari beberapa stasiun yang ada di daerah studi berkisar antara 2.600

- 3.500 mm per tahun. Berdasarkan klasifikasi tipe hujan Schmidt dan Ferguson,

maka daerah studi termasuk ke dalam tipe hujan A yaitu basah. Sedangkan

menurut peta zona agroklimat daerah Kalimantan Barat (Oldeman 1979) termasuk

(45)
[image:45.612.103.484.95.310.2]

Tabel 4 Data iklim rata-rata tahunan di daerah studi (1997-2006)

Bulan

Curah hujan rata2 (mm)

Hari hujan

Suhu rata2

O c

Kelembaban (%)

Kec. Angin Rata2 (km/jam)

Penyinaran matahari

( %)

Januari 143,0 18 25,5 87,0 1,6 53,0

Februari 159,0 16 26,7 88,0 1,8 52,0

Maret 181,2 12 26,0 87,0 1,8 58,0

April 73,5 8 25,9 87,0 1,7 37,0

Mei 185,7 17 27,4 87,0 2,1 49,0

Juni 244,3 10 26,5 82,0 2,3 69,0

Juli 372,0 17 26,2 89,0 2,1 85,0

Agustus 102,5 10 26,3 83,0 2,4 87,0

September 214,2 12 26,5 88,0 2,0 48,0

Oktober 304,4 22 27,0 90,0 1,6 54,0

November 238,0 16 26,9 88,0 2,6 54,0

Desember 295,0 17 26,4 87,0 2,1 45,0

JUMLAH 2.512,8 158 317,3 1.043,0 24,1 691,0

Rata-rata 209,4 13 26,4 86,9 2,0 57,5

Sumber : Amdal PT. Kandelia Alam (2008)

Bulan basah (>100 mm) hampir terdapat sepanjang tahun (11 bulan),

sehingga batas antara musim hujan dan kemarau tidak tegas. Musim kemarau

dengan hujan relatif lebih rendah terjadi selama 1 bulan yaitu bulan April, dengan

rata-rata curah hujan 73,5 mm. Bulan Mei merupakan bulan peralihan dari musim

kemarau ke musim hujan, dan bulan Maret merupakan bulan peralihan ke musim

kemarau.

Penyimpangan iklim kadang-kadang terjadi, yaitu berupa tingginya curah

hujan pada bulan-bulan dimana seharusnya hujan relatif rendah dan hari hujan

lebih sedikit. Pada kondisi seperti ini bulan-bulan kemarau tidak ada atau terjadi

musim hujan sepanjang tahun. Sebaliknya meskipun di daerah studi dikatakan

tidak ada batas yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau, tetapi

kadang-kadang terjadi musim kemarau yang panjang sehingga terjadi kekeringan

dimana-mana dan air sungai menyusut tajam (PT. Kandelia Alam 2008).

(2). Kecepatan dan Arah Angin

Kecepatan angin rata-rata bulanan berkisar antara 1,6 km/jam sampai

dengan 2,6 km/jam. Kecepatan angin rata-rata bulanan dalam setahun adalah

(46)

(3). Kelembaban Udara

Kelembaban relatif tertinggi terdapat pada bulan Oktober (90,0%) dan

minimum pada bulan Juni (82,0%). Rata-rata kelembaban relatif adalah 86,9%.

(4). Lama Penyinaran Matahari

Penyinaran matahari rata-rata bulanan berkisar antara 37,0% - 87,0%.

Penyinaran terendah terjadi pada bulan April sebesar 37,0% dan tertinggi sebesar

87,0% pada bulan Agustus dengan rata-rata tahunan sebesar 57,5% .

(5). Temperatur Udara

Tabel 4 memperlihatkan bahwa suhu udara rata-rata bulanan terendah

adalah 25,5 oC yang terjadi pada bulan Januari dan tertinggi sebesar 27,4 oC

terjadi pada bulan Mei. Rata-rata temperatur tahunan adalah sebesar 26,4oC.

3.2.4 Hidrologi

Kawasan hutan mangrove Kabupaten Kubu Raya merupakan bagian dari

estuari Sungai Kapuas dengan kemiringan lahan yang relatif datar (0 – 8%). Pada

beberapa tempat terdapat bukit-bukit kecil (termasuk yang unik dibanding daerah

mangrove yang ada di Indonesia) dengan kemiringan lahan berkisar antara 15 – 40%.

Kecamatan Batu Ampar, Kubu dan Teluk Pakedai termasuk ke dalam DAS

Kapuas, DAS Mendawah dengan wilayah Sub DAS Keluang, Lida, Jenu, Sapar,

Kelabau, Bunbun, Kemuning, dan Sungai Limau. Kondisi kualitas air di perairan

hutan mangrove Kabupaten Kubu Raya umumnya masih cukup baik, kecuali

untuk daerah muara dan daerah padat pemukiman yang kondisinya cukup keruh.

Kekeruhan daerah muara terutama disebabkan oleh pelumpuran dari

sungai-sungai yang mengalirinya.

Secara umum perairan di lokasi hutan mangrove Kabupaten Kubu Raya

tidak dipergunakan sebagai air minum karena kadar garamnya yang tinggi.

Salinitas ai

Gambar

Tabel 1  Contoh fungsi dan manfaat lingkungan ekosistem mangrove
Gambar 3  Kategori nilai ekonomi total ekosistem hutan mangrove (Bann 1998)
Tabel 4 Data iklim rata-rata tahunan di daerah studi (1997-2006)
Tabel 5  Kualitas air sungai di sekitar areal PT. Kandelia Alam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan pembenah tanah baik menggunakan Pistia stratiotes maupun Ceratophyllum demersum dapat meningkatkan berat basah

merupakan metode yang cocok untuk penelitian yang akan dilaksanakan karena ingin mengetahui pengaruh dari suatu perlakuan. “Penelitian eksperimen selalu dilakuakan

 Berorientasi ke masa depan  Siswa bersama-sama mengulang dengan suara lantang kosakata- kosakata dan kalimat- kalimat baru yang diucapkan guru atau didengar dari

Hasil perhitungan aspek finansial meliputi perhitungan nilai operating profit (OP) sebesar Rp.60.435.500, dapat digunakan untuk biaya produksi berikutnya, net profit

Setelah pencernaan makanan yang mengandung banyak glukosa, secara normal kadar glukosa darah akan meningkat, namun tidak melebihi 170 mg/dl. Banyak hormon ikut serta

[r]

Sehingga karakter dari host tersebut melekat dengan Dahsyat, host yang membawakan acara di Dahsyat tentu saja juga harus memahami konten program Dahsyat itu

Enzim protease yang dihasilkan oleh bakteri selain berperan dalam mendegradasi dinding sel patogen, protease dapat digunakan oleh bakteri tersebut untuk melakukan