RETARDASI MENTAL
DISUSUN OLEH:
Ade Rahmawati Siregar, M.Psi, psikolog
NIP. 19810403 200502 200 1
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
RETARDASI MENTAL
DISUSUN OLEH:
Ade Rahmawati Siregar, M.Psi, psikolog
NIP. 19810403 200502 200 1
DIKETAHUI OLEH:
DEKAN FAKULTAS PSIKOLOGI USU
Prof. Dr. Irmawati, psikolog NIP. 19530131 198003 2 001
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, karena itu penulis berharap mendapat masukan dari para pembaca untuk penyempurnaan tulisan ini.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah memberi penulis kesempatan untuk mengabdikan diri di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada para mahasiswa dan rekan-rekan sejawat di tempat penulis bekerja atas dukungan dan hangatnya persaudaraan.
Akhir kata penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi semua pihak.
Medan, 20 Januari 2012
DAFTAR ISI
SAMPUL DEPAN ………... KATA PENGANTAR ……… DAFTAR ISI …………...………
BAB I. PENDAHULUAN ... BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 1. Sejarah Retardasi Mental... 2. Definisi Retaradasi Mental………...
3. Karakteristik Retardasi Mental...……….. 4. Penyebab Retardasi Mental...………... 5. Gangguan Yang Menyertai Retaradasi Mental... 6. Intervensi dan Treatment Bagi Anak Retaradasi Mental...
BAB III. KESIMPULAN ...………... DAFTAR PUSTAKA ...
BAB I PENDAHULUAN
Banyak istilah yang sering digunakan untuk anak yang mengalami keterbelakangan mental seperti cacat mental, defisit mental bodoh, dungu, tunagrahita (Mangunsong,2009). Nur’aeni (1997) mengatakan bahwa anak yang mengalami keterbelakangan mental adalah mereka yang memiliki kemampuan intelektual atau IQ dan keterampilan penyesuaian diri di bawah rata-rata anak seusianya (Nur’aeni,1997). Esquirol (www.cromwellbooks.com) juga menambahkan bahwa anak keterbelakangan mental memiliki kecenderungan keterlambatan perkembangan. Menurut APA (dalam Mangunsong,2009) para penyandang keterbelakangan mental memiliki rentang IQ < 25-70 skala WISC yaitu dengan klasifikasi retardasi mental mild, moderate, severe dan profound. Hallahan dan Kaufman (2006) menambahkan bahwa sistem klasifikasi inilah yang hingga saat ini dipergunakan oleh sebagian besar sistem sekolah. Maka dapat disimpulkan bahwa keterbelakangan mental merupakan kata lain dari retardasi mental.
secara intelektual maupun perilaku adaptif yang terwujud melalui kemampuan adaptif konseptual, sosial dan praktikal. Kondisi ini muncul sebelum usia 18 tahun (Hallahan&Kaufman,2006). Ada dua poin penting dalam pernyataan tersebut yaitu bahwa retardasi mental mencakup tidak hanya fungsi intelektual melainkan juga tingkah laku adaptif, serta bagaimana keduanya masih dapat dikembangkan pada seseorang yang mengalaminya. Perlu diketahui juga bahwa fungsi intelektual dapat ditentukan dalam tes intelegensi yang mana tes menunjukkan pada kemampuan yang berhubungan dengan akademis. Sementara itu kemampuan adaptif kepada keberfungsian dalam kehidupan sehari-hari seperti kemampuan sosial, konseptual dan praktikal (AAMR dalam Mangunsong,2009). Sedangkan menurut Ibrahim(2007)anak-anak retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang berhenti atau tidak lengkap pada sejumlah sikap, yaitu motorik dan kemampuan berbahasa. Kondisilah ini yang menyebabkan anak belajar dan berkembang menjadi lambat daripada anak lain. Biasanya anak dengan retardasi mental membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berbicara, berjalan, dan kebutuhan personalnya seperti memakai baju dan makan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Sejarah Retardasi Mental
berkembang sedemikian rupa seperti melakukan penelitian untuk mengukur intelegensi dsb (Ibrahim,2007).
2. Definisi Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu kondisi yang didiagnosa sebelum usia 18 tahun dengan fungsi intelektual umum berada di bawah rata-rata. Kondisi ini diiringi dengan terganggunya kemampuan individu untuk menguasai keterampilan yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Anak dengan retardasi mental akan belajar dan berkembang lebih lambat daripada anak lain yang normal. Anak dengan retardasi mental membutuhkan waktu lebih lama untuk berbicara, berjalan, dan menjaga kebutuhan personalnya seperti, memakai pakaian dan makan. Mereka memiliki masalah belajar di sekolah, mereka akan belajar tetapi hal itu membutuhkan waktu lebih lama dan ada beberapa hal yang tidak bisa mereka pelajari (American Psychiatric Association, 2000).
Adapun ciri-ciri retardasi mental (Hanson& Aller dalam Mangunsong,2009):
Bergerak pelan sekali dan berjalan lebih lambat daripada yang lain
Belajar bicara lebih lambat, memiliki masalah bicara
Sulit mengingat sesuatu
Tidak mengerti bagaimana membayar sesuatu
Sulit mengerti peraturan sosial
Sulit mengerti akibat tindakannya
Sulit memecahkan masalah
Sulit berpikir logisintelektual umum berada di bawah rata-rata, yang diiringi dengan terganggunya kemampuan individu untuk menguasai keterampilan yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Adapun ciri-ciri retardasi mental antara lain adalah berjalan lebih lambat daripada yang lain, memiliki masalah bicara, sulit mengingat sesuatu, sulit mengerti peraturan sosial, sulit mengerti akibat tindakannya, sulit memecahkan masalah, serta sulit berpikir logis.
3. Karakteristik Retardasi Mental
Karakteristik retardasi mental (Mangunsong,2009) adalah sebagai berikut : 1. Individu dengan retardasi mental ringan (Mampu Didik) : IQ 50-70
Disebut dengan istilah mild mental retardation
Umumnya tidak terlihat berbeda dengan orang normal.
Biasanya mengalami keterlambatan perkembangan dalam tingkat
ringan sampai sedang, kecuali dalam bidang akademik.
Tidak teridentifikasi sampai mereka memasuki usia sekolah, dimana
kapasitas kognitif mereka mulai terlihat.
Masih bisa mengikuti kelas di sekolah biasa meskipun lambat. Di usia dewasa, mereka dapat bekerja.
Banyak diantaranya yang menikah, memiliki anak, dan tidak berbeda
secara nyata dengan orang normal lainnya. Bagi yang secara total mampu memaksimalkan potensi kecerdasannya, label sebagai penyandang retardasi mental akan hilang dengan sendirinya.
2. Individu dengan retardasi mental sedang (Mampu Latih): IQ 35-40 sampai 50-55
Biasanya mengalami Down Syndrome.
Terlihat berbeda secara nyata dengan orang normal lainnya. Mengalami keterlambatan perkembangan yang signifikan. Berperilaku seperti bayi atau anak-anak.
Menerima pendidikan khusus selama tahun-tahun prasekolah.
Meskipun ada beberapa individu dengan retardasi mental sedang yang
bersekolah di sekolah umum, namun lebih banyak individu yang disekolahkan di sekolah khusus, tempat mereka belajar keterampilan menolong diri sendiri.
Sebagai orang dewasa, mereka tidak mampu berfungsi secara
maksimal.
Lebih banyak bergantung pada bantuan orang lain.
Dapat berhasil pada situasi kompetitif tertentu (situasi pekerjaan yang
telah disesuaikan dengan keadaan mereka). Meskipun demikian, mereka lebih banyak bekerja pada situasi yang suportif dan tidak ada kompetisi di dalamnya.
3. Individu dengan retardasi mental berat : IQ 20-25 sampai 35-40 Disebut dengan istilah severe mental retardation
Bergantung pada orang lain sepanjang hidupnya.
Mengalami berbagai macam gangguan, khususnya pada aspek
mobilitas (motorik) dan komunikasi.
Banyak di antaranya yang menggunakan kursi roda dan berkomunikasi
dalam bentuk yang berbeda dengan orang normal.
Ketidakmampuan dalam berkomunikasi ini menimbulkan kesulitan
Dalam setting pendidikan, individu dengan retardasi mental berat
ditempatkan bersama individu dengan retardasi mental sedang atau berat lainnya, atau ditempatkan di kelas khusus tersendiri.
4. Individu dengan retardasi mental sangat berat : IQ dibawah 20-25 Disebut dengan istilah profound mental retardation
Umumnya memperlihatkan kerusakan pada otak serta kelainan fisik
seperti hydrocephalus.
Bergantung pada orang lain sepanjang hidupnya
Sebagian besar sangat terbatas dalam bergerak, bahkan ada yang tidak
dapat bergerak sama sekali sehingga membutuhkan perawatan seumur hidup dirumah sakit.
Kemampuan berbahasa dan berbicara sangat terbatas. Sebagian besar
hanya mampu melakukan komunikasi non verbal. Tabel 1
21 tahun keatas
RM Ringan (mild)
IQ 50-70
Sering terlihat tidak memiliki gangguan tetapi lambat dalam berjalan, makan
dan aritmatika sampai kelas 3-6 SD dengan pendidikan khusus.
Biasanya dapat mencapai keterampilan sosial dan vokasional untuk membiayai
diri sendiri;mungkin membutuhkan bimbingan dan
dukungan dalam menghadapai tekanan sosial dan ekonomi yang tidak biasa.
RM Sedang Keterlambatan yang
nyata pada
Dapat mempelajari komunikasi sederhana,
(moderate) dan keselamatan dasar serta keterampilan tangan sederhana; tidak mengalami kemajuan dalam fungsi membaca dan aritmatika
pusat pelatihan;berpartisipasi
dalam rekreasi sederhana;bepergian secara
mandiri ketempat-tempat yang dikenal;biasanya tidak bisa melakukan self maintenance
RM Berat minim atau tidak ada sama sekali
Biasanya mampu berjalan tetapi memiliki ketidakmampuan yang spesifik; tidak memiliki
kemajuan dalam membaca dan aritmatika
Dapat menyesuaikan diri dengan rutinitas sehari-hari dan aktivitas repetitif; membutuhkan pengarahan dan supervisi terus-menerus dalam lingkungan yang melindungi
RM sangat berfungsi pada area sensorimotorik;me mbutuhkan bantuan perawat/orang lain
Keterlambatan yang terlihat jelas dalam
semua area perkembangan, dapat
menunjukkan respon emosional dasar
Dapat berjalan, mungkin membutuhkan bantuan perawat/orang lain;tidaka dapat melakukan self maintanence
4. Penyebab Retardasi Mental
Salah satu penyebab retardasi mental adalah kondisi genetik. Beberapa disebabkan oleh karena gen abnormal yang diturunkan dari orang tua, kesalahan ketika perpaduan gen, atau alasan lainnya seperti down syndrome, x fragile syndrome, dan phenylketonuria (Hallahan&Kaufman,2006). Hamel (2007),
setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom sex. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut XY. Dalam setiap sel yang normal, terdapat kira-kira 40.000 gen yang akan menentukan spesifikasi seseorang. Ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. Akan tetapi proses pembelahan sel merupakan suatu proses yang kompleks sehingga dapat terjadi gangguan yang akan menimbulkan kelainan genetik. Kelainan genetik inilah yang kemudian dapat mengakibatkan terjadinya retardasi mental (dalam Mangunsong,1998)
Masalah selama masa kehamilan juga dapat menjadi penyebab retardasi mental. Wanita yang alkoholik atau mendapat infeksi seperti rubella selama kehamilan dapat mempunyai bayi yang retardasi mental. Begitu juga masalah waktu melahirkan seperti tidak mendapat oksigen yang cukup dan cedera pada saat proses persalinan (Hallahan&Kaufman,2006)
Masalah kesehatan, penyakit seperti batuk pertusis, cacar atau meningitis dapat menyebabkan retardasi mental. Penyakit-penyakit yang terjadi pada awal masa kanak-kanak perlu diperhatikan karena hal yang sedemikian itu juga dapat menimbulkan retardasi mental. Selain itu juga disebabkan oleh malnutrisi yang ekstrim, tidak mendapatkan perawatan medis atau karena racun seperti logam mercuri (Hallahan&Kaufman,2006).
Lebih lanjut APA (dalam Nevid,2005) menyatakan retardasi mental dapat disebabkan oleh aspek biologis,psikososial atau kombinasi keduanya. Penyebab biologis mencakup gangguan kromosom dan genetis, penyakit infeksi dan penggunaan alkohol pada saat ibu mengandung. Walaupun demikian lebih dari setengah kasus retardasi mental tetap tidak dijelaskan, terutama yang tergolong dalam retardasi mental ringan (Flint dalam Nevid,2005). Kasus-kasus yang tidak dapat dijelaskan ini mungkin disebabkan dari faktor budaya atau keluarga seperti pengasuhan dalam lingkungan miskin atau penyebab psikososial dan genetis (Thaper dalam Nevid,2005).
5. Gangguan Yang Menyertai Retardasi Mental
Ada beberapa gangguan yang dapat muncul sekaligus bersamaan dengan retardasi mental antara lain (dalam
1. Pervasive developmental disorder
2. Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) 3. Tic disorders and stereotypic movement disorder 4. Mental disorders due to a general medical condition 5. Schizophrenia and other psychotic disorders
6. Mood disorders
7. Anxiety disorders
8. Posttraumatic stress disorder
9. Obsessive-compulsive disorder
10.Eating disorders
1. Mental Retardasi dan cerebral palsy
Ada suatu kecenderungan untuk mengasumsikan bahwa anak-anak cerbral palsy (CP) adalah anak-anak mental retardasi. Apapun penyebabnya, baik
karena genetik atau faktor lingkungan sehingga terjadi adanya kerusakan pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan rusaknya cerbral cortex sehingga menimbulkan mental retardasi.
2. Kombinasi Mental Retardasi dan Tunarungu
Anak-anak tunarungu mengalami berbagai masalah dalam perkembangan bahasa dan komunikasi. Sementara itu, anak-anak mental retardasi akan mengalami kelambanan dan keterlambatan dalam belajar. Pada anak tunaganda, bias terjadi anak tersebut mengalami mental retardasi yang sekaligus tunarungu. Anak-anak yang demikian, mengalami gangguan pendengaran, memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata dan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Dengan demikian, adanya kombinasi dari ketiga keadaan tersebut menyebabkan anak-anak tunaganda memerlukan pelayanan yang lebih banyak daripada anak-anak yang mengalami mental retardasi atau tunarungu saja.
3. Kombinasi Mental Retardasi dan Masalah-masalah Perilaku
Telah diketahui bahwa terdapat hubungan antara mental retardasi dengan gangguan emosional. Anak-anak yang mengalami tunagrahita berat ada kemungkinan besar juga memiliki gangguan emosional. Yang tidak diketahui adalah banyaknya anak secara pasti yang menampakkan kedua kelainan tersebut bersama-sama.
♦ Autisme : Autisme adalah suatu istilah atau nama yang digunakan untuk
perkembangan sosial dan komunikasi yang berat. Anak yang mengalami autisme sulit melakukan kontak mata dengan orang lain sehingga memberikan kesan tidak peduli terhadap orang di sekitarnya. Kelainan utama pada anak autistik adalah dalam hal komunikasi verbal. Mereka sering mengulang kata-kata (echolalia) dan melakukan perbuatan yang selalu sama, rutin dan dalam pola yang tertentu dan teratur. Apabila kegiatannya tersebut mengalami hambatan atau perubahan, maka mereka akan berperilaku aneh serta berteriak-teriak, berjalan mondar-mandir sambil menendang atau membenturkan kepalanya ke tembok. Kondisi ini juga sering terjadi apabila anak dalam keadaan tegang, senang atau berada di tempat yang asing.
6. Intervensi dan Treatment bagi anak Retardasi Mental
Tujuan utama diberikannya intervensi dan treatment adalah untuk mengembangkan potensi individu secara maksimal. Pendidikan dan pelatihan khusus dimulai sedini mungkin. Hal ini termasuk keterampilan sosial untuk membantu individu berfungsi senormal mungkin (dalam www.nlm.nih.gov).
Pendidikan bagi anak retardasi mental memerlukan suatu keahlian khusus, terutama bagi guru-guru yang mengelola proses belajar mengajar. Menurut Mangunsong, 1998 penyesuaian metode dan program pengajaran tersebut, meliputi:
a. Pelajaran harus bersifat konkrit.
e. Kata-kata yang digunakan sederhana dan cepat difahami. f. Tidak memperlihatkan sikap yang menakut-nakuti anak. g. Isi pengajaran supaya menarik minat anak.
Strategi penyusunan kurikulum bagi anak mental retardasi terbagi atas 3, yaitu: 1. Bagi anak Mental Retardasi Ringan
a. Pada dasarnya isi kurikulum(kuantitatif), sama dengan anak-anak normal. Kecuali kualitatifnya sedikit lebih rendah daripada anak normal.
b. Dapat ditambah dengan berbagai latihan ketrampilan.
2. Bagi anak Mental Retardasi Menengah
a. Isi kurikulum baik kuantitas maupun kualitas lebih rendah daripada anak normal.
b. Bobot latihan ketrampilan disarankan lebih banyak. 3. Bagi anak Mental Retardasi Berat
a. Orientasi isi pengajaran pada lingkungan didekatnya. b. Penekanan latihan ketrampilan seperti:
♦ Latihan gerakan-gerakan tertentu.
♦ Latihan mengenal warna.
♦ Latihan mengenal bunyi. ♦ Latihan mengurus diri sendiri.
♦ Latihan membuat mainan dan sebagainya.
4. Terapi terintegrasi karena umumnya anak tunagrahita mengalami “multiple handicapped” sehingga perlu pelayanan berbagai macam professional seperti
speech therapist, ahli fisioterapi dan occupational therapist
Menurut Sebastian (dalam treatment yang dapat dilakukan dengan pendekatan psikososial untuk
mengintervensi perilaku anak retardasi mental, yaitu:
1. Pendekatan perilaku yang bertujuan untuk membentuk keahlian yang tepat dan mengurangi masalah dalam berperilaku :
Teknik percepatan perilaku seperti pemberian reward yang tepat pada
target perilaku
Teknik penurunan perilaku seperti pemberian reward pada periode waktu
tertentu selama masalah perilaku tidak muncul, extinction, response cost, time out.
Pelatihan orangtua dan guru dengan tujuan untuk membantu mereka
berfungsi sebagai coterapis dengan mencegah terjadinya pemberian reinforcement pada masalah perilaku yang muncul.
2. Mengatur kondisi lingkungan
Mengurangi masalah perilaku yang muncul dengan mengatur kembali kondisi lingkungan sosial yang dapat memunculkan masalah perilaku seperti mengubah suasana rebut, temperatur, pencahayaan, keramaian, tetapi memperluas lingkungan yang memberikan stimulasi sosial dan sensori.
3. Pendidikan klien dan keluarga
Memberi pengetahuan kepada keluarga anak mengenai masalah perilaku yang mungkin muncul pada anak retardasi mental dan bagaimana cara menanganinya.
BAB III KESIMPULAN
Retardasi mental adalah suatu kondisi yang didiagnosa sebelum usia 18 tahun dengan fungsi intelektual umum berada di bawah rata-rata. Kondisi ini diiringi dengan terganggunya kemampuan individu untuk menguasai keterampilan yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Anak dengan retardasi mental akan belajar dan berkembang lebih lambat daripada anak lain yang normal. Anak dengan retardasi mental juga membutuhkan waktu lebih lama untuk berbicara, berjalan, dan menjaga kebutuhan personalnya seperti, memakai pakaian dan makan. Mereka memiliki masalah belajar di sekolah, mereka akan belajar tetapi hal itu membutuhkan waktu lebih lama dan ada beberapa hal yang tidak bisa mereka pelajari. Adapun ciri-ciri retardasi mental; (1) Bergerak pelan sekali dan berjalan lebih lambat daripada yang lain (2). Belajar bicara lebih lambat, memiliki masalah bicara (3). Sulit mengingat sesuatu (4).Tidak mengerti bagaimana membayar sesuatu (5).Sulit mengerti peraturan sosial (6) Sulit mengerti akibat tindakannya (7).Sulit memecahkan masalah(8) Sulit berpikir logis.
Berikut ini karakteristik retardasi mental yang terbagi atas 4 yaitu (1) Retardasi mental ringan (Mampu Didik) : IQ 50-70, (2) Retardasi mental sedang (Mampu Latih): IQ 35-40 sampai 50-55, (3) Retardasi mental berat : IQ 20-25 sampai 35-40, (4). Retardasi mental sangat berat: IQ dibawah 20-25.
ekstrim, racun logam mercuri. Selain itu faktor sosial, tingkah laku dan faktor pendidikan juga diperkirakan ikut berpengaruh sebagai penyebab retardasi mental
Tujuan utama diberikannya intervensi dan treatment untuk anak retardasi mental adalah untuk mengembangkan potensi individu secara maksimal. Pendidikan dan pelatihan khusus sebaiknya dimulai sedini mungkin. Hal ini termasuk keterampilan sosial untuk membantu individu berfungsi senormal mungkin. Oleh karena itu pendidikan bagi anak retardasi mental memerlukan suatu keahlian khusus, terutama bagi guru-guru yang mengelola proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, S.,Arie H.,Umie,F& Rifani,L. Welcome to retardasi mental dan hukum
(on-line). Available FTP:
American Psychology Association:Publication Manual,fifth Edition.Washington, DC:APA Press.2001.
American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision. Washington, DC: APA Press.2000.
Definition of mental retardation. (12 Januari 2005).(Online). Tanggal akses:12 April
Hamel,B (2007). Gen ibu tentukan kecerdasan anak. Available FTP:http//www.kompas.com/kompas-cetak/0301/22/iptek92747.htm
Hallahan, D.P., & Kauffman, J.M. 2006. Exceptional Learner: An Introduction to Special Education. International edition: 10 th ed. Boston; allyn and Bacon Ibrahim,A.S (2007). Mental retardasi,permasalahan yang cukup pelik. Available
FTP: http//ww.pelita.or.id/baca.php?id=170
IDEA’s definition of ”Mental Retardation” by American Psychiatric Association. (Online). Tanggal akses : 12 April 2007.
Informasi pendidikan bagi anak tunaganda. (Online).Tanggal akses:16 April 2007.http://www.ditplb.or.id/2006/index.php?menu=profile&pro=48.
Mangunsong, F, dkk. 1998. Psikologi dan pendidikan anak luar biasa. Jakarta : LPSP3 UI.
Mangunsong, F. 2009. Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus jilid kesatu. Jakarta : LPSP3 UI
Mental Retardation. (4 April 2006).(Online). Tanggal akses : 13 April 2007.
Nevid, J.S., Rathus S.A.& Greene, B (2005). Psikologi Abnormal, Edisi kelima Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga
Nur’aeni, 1997. Intervensi dini bagi anak bermasalah. Jakarta : Rineka Cipta. Sarana prasarana pendidikan dalam pendidikan inklusif.(Online).Tanggal
Wenar.C. 1994. Developmental psychopatology. From Infancy to Adolescence. New York : Mc. Graw Hill Inc.