INDONESIA (RSU PMI) BOGOR)
Oleh
PRITA ANDINI
H24103053
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
Prita Andini. H24103053. Penyusunan Anggaran Biaya Rumah Sakit Berdasarkan Pendekatan Activity Based Budgetting (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor). Budi Purwanto.
Jumlah rumah sakit di Kota Bogor selama lima tahun terakhir ini meningkat sehingga menimbulkan persaingan yang ketat antar rumah sakit. Agar dapat bertahan dalam persaingan antar rumah sakit diperlukan strategi yang tepat yang mencakup seluruh aspek fungsional perusahaan. Melalui fungsi-fungsi manajemen, pihak manajemen langsung terlibat dalam membuat strategi baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu cara untuk memaksimalkan fungsi manajemen dalam mencapai tujuan dapat menggunakan penganggaran. Rumah Sakit Umum PMI Bogor (RSU PMI Bogor) telah melaksanakan penganggaran sebagai upaya untuk menjalankan fungsi perencanaan dan pengendalian.
INDONESIA (RSU PMI) BOGOR)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi
pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
PRITA ANDINI
H24103053
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
EVALUAI PENGANGGARAN BIAYA RUMAH SAKIT
(STUDI KASUS RUMAH SAKIT UMUM PALANG MERAH INDONESIA (RSU PMI) BOGOR)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh PRITA ANDINI
H24103053
Menyetujui, Juli 2007
Ir. Budi Purwanto, ME. Dosen pembimbing
Mengetahui,
Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. Ketua Departemen
iii
Penulis dilahirkan di Depok pada tanggal 4 November 1984. Penulis
merupakan anak kedua dari 3 (tiga) bersaudara pasangan Bambang Basu Tjahyo
dan Ratna.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Beji V Depok pada tahun
1997, kemudian melanjutkan ke pendidikan menengah di Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Negeri 2 Depok dan Sekolah Menengah Umum Negeri 38
Jakarta. Pada tahun 2003, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui
jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Manajemen, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen.
Selama menjalani perkuliahan, penulis aktif menjadi panitia di beberapa
kegiatan kampus serta aktif mengikuti beberapa seminar dan pelatihan. Selain itu,
penulis juga merupakan penerima beasiswa Supersemar periode 2005-2007.
iv
KATA PENGANTAR
Salah satu proses manajemen yang penting dalam perusahaan adalah
penganggaran. Penganggaran dilkukan sebagai upaya untuk melaksanakan fungsi
perencanaan, fungsi pelaksanaan dan fungsi pengendalian. Ada beberapa
pendekatan alternatif dalam penyusunan anggaran yang masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu perlu dikaji proses penganggaran yang
terbaik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi anggaran. Berdasarkan alasan
tersebut, penulis mengkaji proses penganggaran yang telah dijalankan oleh suatu
perusahaan. Adapun perusahaan yang dikaji adalah Rumah Sakit Umum Palang
Merah Indonesia Bogor yang bergerak dalam industri perumahsakitan.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan puji dan syukur bagi
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan kasih sayang-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Evaluasi
Penganggaran Biaya Rumah Sakit (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Palang
Merah Indonesia Bogor).” Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data-data yang diperlukan,
pengamatan, wawancara serta bimbingan dari pihak-pihak yang terlibat. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ir. Budi Purwanto, ME. sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan
waktu untuk memberikan bimbingan, membagikan ilmu, saran dan
pengarahan kepada penulis.
2. Ali Mutasowifin, SE, Msi. dan Wita Juwita, STP, MM. selaku dosen penguji
yang telah memberikan saran dan nasihat kepada penulis.
3. Dr. Ir. Jono M. Munandar, MSc. selaku Kepala Departemen Manajemen,
seluruh staf pengajar dan karyawan/wati Departemen Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
4. Bapak Sumanto, Bapak Anwar, Ibu Tjitjih, Ibu Alfiah, Bapak Sugeng, Bapak
Yoga dan karyawan RSU PMI Bogor yang telah memberikan kesempatan,
v
6. Rekan-rekan seperjuanganku : Yunia, Sekar, Aldika dan Kak Yani. Thank you for everything dan tetap semangat.
7. Sahabat-sahabatku di Manajemen : Rinrin, Sri, Dian, Silva, Ranti, Gita, Yuli
dan Tiara yang selalu membantu dan memberikan informasi.
8. Sahabat-sahabatku tercinta : Emce, Nita, Aray, Umi, Rini, Rani Winsih dan
Nana. Terima kasih atas segala bantuan, dukungan dan motivasinya.
9. Keluarga besar MOBSTER yang telah menemani hari-hariku selama tiga
tahun di Bogor.
10.Rekan-rekan di Manajemen 40 yang telah membantu : Pasus, Amel, Lely,
Riri, Anggi dan rekan lainnya.
11.Pak Acep, Mas Hadi, Mas Yadi dan Mba Dina yang telah memberikan
kemudahan dalam administrasi penulis.
12.Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
penyusunan skripsi ini.
Bogor, Juli 2007
vi DAFTAR ISI
ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA... 6
2.1. Gambaran Umum Tentang Rumah Sakit ... 6
2.2. Penelitian Terdahulu ... 9
III.METODOLOGI PENELITIAN ... 11
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 11
3.1.1. Pengertian Anggaran ... 11
3.1.2. Anggaran Rumah Sakit... 14
3.1.3. Langkah Penyusunan Anggaran Rumah Sakit ... 15
3.1.4. Penggunaan Anggaran Untuk Perencanaan dan Pengendalian... 17
3.1.4. Konsep Anggaran Berdasarkan Aktivitas... 19
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 21
3.3. Metode Penelitian ... 23
3.3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23
3.3.2. Jenis dan Sumber Data ... 23
3.3.3. Pengolahan dan Analisis Data ... 24
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1. Gambaran Umum RSU PMI Bogor... 25
4.1.1. Informasi Umum RSU PMI Bogor... 25
4.1.2. Visi, Misi, dan Tujuan RSU PMI Bogor ... 27
4.1.3. Pelayanan di RSU PMI Bogor... 28
4.1.4. Struktur Organisasi RSU PMI Bogor ... 30
4.2. Penganggaran di RSU PMI Bogor... 32
4.2.1. Proses Perencanaan Anggaran ... 33
4.2.2. Usulan Rancangan Anggaran ... 33
4.2.3. Negosiasi Anggaran... 34
vii
4.3.1. Aktivitas-aktivitas Utama pada Proses kerja Perusahaan... 37
4.3.2. Penggerak Aktivitas... 41
4.3.3. Penggerak Aktivitas yang Dibutuhkan ... 42
4.3.4. Sumberdaya dan Biaya yang Dibutuhkan dalam Pelaksanaan Aktivitas ... 43
4.3.5. Anggaran Investasi Baru ... 48
4.3.6. Biaya Tidak Langsung per Aktivitas ... 51
4.4. Analisis Efektivitas Anggaran Biaya RSU PMI Bogor ... 52
4.4.1. Varians Anggaran Konvensional... 52
4.4.2. Varians Anggaran Berdasarkan Aktivitas ... 54
4.4.3. Perbandingan Varians Anggaran Konvensional versus ABB .. 55
4.5. Strategi Peningkatan Efisiensi Anggaran ... 56
V. KESIMPULAN DAN SARAN... 58
1. Kesimpulan ... 58
2. Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 60
viii
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Rata-rata pengeluaran biaya kesehatan dan persentasenya
terhadap total pengeluaran rumah tangga ... 1
2. Jumlah rumah sakit dan tempat tidur di Kota Bogor tahun 2005 ... 3
3. Kapasitas tempat tidur pada masing-masing ruang perawatan yang ada di RSU PMI Bogor ... 29
4. Target kegiatan pelayanan di RSU PMI Bogor tahun 2006 ... 33
5. Anggaran operasional RSU PMI Bogor tahun 2006 ... 35
6. Catatan atas laporan keuangan tahun 2006... 36
7. Activity driver pada aktivitas di RSU PMI Bogor ... 41
8. Rincian Perhitungan pada aktivitas memasukkan data pasien tahun 2006... 42
9. Rincian hasil perhitungan activity driver pada aktivitas di RSU PMI Bogor... 43
10. Perhitungan biaya tenaga kerja langsung RSU PMI Bogor... 44
11. Perhitungan biaya bahan medis ... 45
12. Perhitungan biaya bahan makanan pasien dan karyawan khusus... 45
13. Alokasi personel berdasarkan keadaan saat ini... 46
14. Biaya bangunan dan sarana... 47
15. Biaya administrasi RSU PMI Bogor ... 47
16. Biaya rumah tangga ... 48
17. Kegiatan investasi baru dan perbaikan RSU PMI Bogor tahun 2006... 49
18. Rencana penyusutan biaya tahun 2006 ... 50
19. Rincian anggaran biaya tidak langsung RSU PMI Bogor berdasarkan aktivitas... 51
20. Perhitungan selisih (varians) anggaran konvensional ... 53
21. Perhitungan selisih (varians) anggaran berdasarkan aktivitas ... 54
INDONESIA (RSU PMI) BOGOR)
Oleh
PRITA ANDINI
H24103053
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
Prita Andini. H24103053. Penyusunan Anggaran Biaya Rumah Sakit Berdasarkan Pendekatan Activity Based Budgetting (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor). Budi Purwanto.
Jumlah rumah sakit di Kota Bogor selama lima tahun terakhir ini meningkat sehingga menimbulkan persaingan yang ketat antar rumah sakit. Agar dapat bertahan dalam persaingan antar rumah sakit diperlukan strategi yang tepat yang mencakup seluruh aspek fungsional perusahaan. Melalui fungsi-fungsi manajemen, pihak manajemen langsung terlibat dalam membuat strategi baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu cara untuk memaksimalkan fungsi manajemen dalam mencapai tujuan dapat menggunakan penganggaran. Rumah Sakit Umum PMI Bogor (RSU PMI Bogor) telah melaksanakan penganggaran sebagai upaya untuk menjalankan fungsi perencanaan dan pengendalian.
INDONESIA (RSU PMI) BOGOR)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi
pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
PRITA ANDINI
H24103053
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
EVALUAI PENGANGGARAN BIAYA RUMAH SAKIT
(STUDI KASUS RUMAH SAKIT UMUM PALANG MERAH INDONESIA (RSU PMI) BOGOR)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh PRITA ANDINI
H24103053
Menyetujui, Juli 2007
Ir. Budi Purwanto, ME. Dosen pembimbing
Mengetahui,
Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. Ketua Departemen
iii
Penulis dilahirkan di Depok pada tanggal 4 November 1984. Penulis
merupakan anak kedua dari 3 (tiga) bersaudara pasangan Bambang Basu Tjahyo
dan Ratna.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Beji V Depok pada tahun
1997, kemudian melanjutkan ke pendidikan menengah di Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Negeri 2 Depok dan Sekolah Menengah Umum Negeri 38
Jakarta. Pada tahun 2003, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui
jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Manajemen, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen.
Selama menjalani perkuliahan, penulis aktif menjadi panitia di beberapa
kegiatan kampus serta aktif mengikuti beberapa seminar dan pelatihan. Selain itu,
penulis juga merupakan penerima beasiswa Supersemar periode 2005-2007.
iv
KATA PENGANTAR
Salah satu proses manajemen yang penting dalam perusahaan adalah
penganggaran. Penganggaran dilkukan sebagai upaya untuk melaksanakan fungsi
perencanaan, fungsi pelaksanaan dan fungsi pengendalian. Ada beberapa
pendekatan alternatif dalam penyusunan anggaran yang masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu perlu dikaji proses penganggaran yang
terbaik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi anggaran. Berdasarkan alasan
tersebut, penulis mengkaji proses penganggaran yang telah dijalankan oleh suatu
perusahaan. Adapun perusahaan yang dikaji adalah Rumah Sakit Umum Palang
Merah Indonesia Bogor yang bergerak dalam industri perumahsakitan.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan puji dan syukur bagi
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan kasih sayang-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Evaluasi
Penganggaran Biaya Rumah Sakit (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Palang
Merah Indonesia Bogor).” Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data-data yang diperlukan,
pengamatan, wawancara serta bimbingan dari pihak-pihak yang terlibat. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ir. Budi Purwanto, ME. sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan
waktu untuk memberikan bimbingan, membagikan ilmu, saran dan
pengarahan kepada penulis.
2. Ali Mutasowifin, SE, Msi. dan Wita Juwita, STP, MM. selaku dosen penguji
yang telah memberikan saran dan nasihat kepada penulis.
3. Dr. Ir. Jono M. Munandar, MSc. selaku Kepala Departemen Manajemen,
seluruh staf pengajar dan karyawan/wati Departemen Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
4. Bapak Sumanto, Bapak Anwar, Ibu Tjitjih, Ibu Alfiah, Bapak Sugeng, Bapak
Yoga dan karyawan RSU PMI Bogor yang telah memberikan kesempatan,
v
6. Rekan-rekan seperjuanganku : Yunia, Sekar, Aldika dan Kak Yani. Thank you for everything dan tetap semangat.
7. Sahabat-sahabatku di Manajemen : Rinrin, Sri, Dian, Silva, Ranti, Gita, Yuli
dan Tiara yang selalu membantu dan memberikan informasi.
8. Sahabat-sahabatku tercinta : Emce, Nita, Aray, Umi, Rini, Rani Winsih dan
Nana. Terima kasih atas segala bantuan, dukungan dan motivasinya.
9. Keluarga besar MOBSTER yang telah menemani hari-hariku selama tiga
tahun di Bogor.
10.Rekan-rekan di Manajemen 40 yang telah membantu : Pasus, Amel, Lely,
Riri, Anggi dan rekan lainnya.
11.Pak Acep, Mas Hadi, Mas Yadi dan Mba Dina yang telah memberikan
kemudahan dalam administrasi penulis.
12.Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
penyusunan skripsi ini.
Bogor, Juli 2007
vi DAFTAR ISI
ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA... 6
2.1. Gambaran Umum Tentang Rumah Sakit ... 6
2.2. Penelitian Terdahulu ... 9
III.METODOLOGI PENELITIAN ... 11
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 11
3.1.1. Pengertian Anggaran ... 11
3.1.2. Anggaran Rumah Sakit... 14
3.1.3. Langkah Penyusunan Anggaran Rumah Sakit ... 15
3.1.4. Penggunaan Anggaran Untuk Perencanaan dan Pengendalian... 17
3.1.4. Konsep Anggaran Berdasarkan Aktivitas... 19
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 21
3.3. Metode Penelitian ... 23
3.3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23
3.3.2. Jenis dan Sumber Data ... 23
3.3.3. Pengolahan dan Analisis Data ... 24
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1. Gambaran Umum RSU PMI Bogor... 25
4.1.1. Informasi Umum RSU PMI Bogor... 25
4.1.2. Visi, Misi, dan Tujuan RSU PMI Bogor ... 27
4.1.3. Pelayanan di RSU PMI Bogor... 28
4.1.4. Struktur Organisasi RSU PMI Bogor ... 30
4.2. Penganggaran di RSU PMI Bogor... 32
4.2.1. Proses Perencanaan Anggaran ... 33
4.2.2. Usulan Rancangan Anggaran ... 33
4.2.3. Negosiasi Anggaran... 34
vii
4.3.1. Aktivitas-aktivitas Utama pada Proses kerja Perusahaan... 37
4.3.2. Penggerak Aktivitas... 41
4.3.3. Penggerak Aktivitas yang Dibutuhkan ... 42
4.3.4. Sumberdaya dan Biaya yang Dibutuhkan dalam Pelaksanaan Aktivitas ... 43
4.3.5. Anggaran Investasi Baru ... 48
4.3.6. Biaya Tidak Langsung per Aktivitas ... 51
4.4. Analisis Efektivitas Anggaran Biaya RSU PMI Bogor ... 52
4.4.1. Varians Anggaran Konvensional... 52
4.4.2. Varians Anggaran Berdasarkan Aktivitas ... 54
4.4.3. Perbandingan Varians Anggaran Konvensional versus ABB .. 55
4.5. Strategi Peningkatan Efisiensi Anggaran ... 56
V. KESIMPULAN DAN SARAN... 58
1. Kesimpulan ... 58
2. Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 60
viii
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Rata-rata pengeluaran biaya kesehatan dan persentasenya
terhadap total pengeluaran rumah tangga ... 1
2. Jumlah rumah sakit dan tempat tidur di Kota Bogor tahun 2005 ... 3
3. Kapasitas tempat tidur pada masing-masing ruang perawatan yang ada di RSU PMI Bogor ... 29
4. Target kegiatan pelayanan di RSU PMI Bogor tahun 2006 ... 33
5. Anggaran operasional RSU PMI Bogor tahun 2006 ... 35
6. Catatan atas laporan keuangan tahun 2006... 36
7. Activity driver pada aktivitas di RSU PMI Bogor ... 41
8. Rincian Perhitungan pada aktivitas memasukkan data pasien tahun 2006... 42
9. Rincian hasil perhitungan activity driver pada aktivitas di RSU PMI Bogor... 43
10. Perhitungan biaya tenaga kerja langsung RSU PMI Bogor... 44
11. Perhitungan biaya bahan medis ... 45
12. Perhitungan biaya bahan makanan pasien dan karyawan khusus... 45
13. Alokasi personel berdasarkan keadaan saat ini... 46
14. Biaya bangunan dan sarana... 47
15. Biaya administrasi RSU PMI Bogor ... 47
16. Biaya rumah tangga ... 48
17. Kegiatan investasi baru dan perbaikan RSU PMI Bogor tahun 2006... 49
18. Rencana penyusutan biaya tahun 2006 ... 50
19. Rincian anggaran biaya tidak langsung RSU PMI Bogor berdasarkan aktivitas... 51
20. Perhitungan selisih (varians) anggaran konvensional ... 53
21. Perhitungan selisih (varians) anggaran berdasarkan aktivitas ... 54
ix
No. Halaman
1. Proses penyusunan anggaran pada rumah sakit ... 16
2. Skema prinsip ABB dan ABC ... 20
3. Proses pembuatan anggaran berdasarkan aktivitas ... 21
4. Alur pemikiran penelitian ... 22
5. Langkah-langkah penganggaran di RSU PMI Bogor ... 32
6. Alur kegiatan pelayanan RSU PMI Bogor ... 38
x
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Struktur organisasi RSU PMI Bogor ... 62 2. Struktur organisasi Bidang Keuangan RSU PMI Bogor ... 63 3. Perhitungan selisih (varians) anggaran biaya RSU PMI Bogor
tahun 2006... 64 4. Perhitungan jumlah activity driver... 67 5. Perhitungan biaya tenaga kerja langsung tahun 2006... 70 6. Perhitungan biaya tenaga kerja tidak langsung tahun 2006... 72 7. Pemakaian ruangan & kendaraan per aktivitas... 73 8. Perhitunga biaya bangunan dan sarana Thun 2006... 73 9. Perhitungan biaya pemeliharaan kendaraan per aktivitas tahun 2006 ... 75 10. Jam tenaga kerja tidak langsung per aktivitas ... 76 11. Perhitungan biaya administrasi per aktivitas tahun 2006 ... 77 12. Penyusutan inventaris tahun 2005, rencana investasi baru dan
1.1. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu modal dalam pembangunan suatu
negara. Sumber daya manusia yang sehat jasmani dan rohani diharapkan
dapat memberikan sumbangan tenaga ataupun pikiran dalam rangka
membangun negaranya. Mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang
sehat jasmani dan rohani merupakan cita-cita semua bangsa, termasuk
Indonesia. Namun, kesadaran masyarakat Indonesia akan kesehatan masih
sangat rendah. Dilihat dari sisi pengeluaran biaya kesehatan, Indonesia
termasuk negara dengan tingkat pengeluaran kesehatan yang rendah.
Rata-rata pengeluaran biaya kesehatan per rumah tangga kurang dari lima persen
terhadap pengeluaran rumah tangga seperti terlihat pada Tabel 1. Pada
umumnya masyarakat Indonesia menyadari kesehatan ketika sudah sakit.
Tabel 1. Rata-rata Pengeluaran Biaya Kesehatan dan Persentasenya terhadap Total Pengeluaran Rumah Tangga.
Biaya Kesehatan RBK PBK
(1) (2) (3)
Rawat inap 15.621 2.33
Rawat jalan 15.668 2.34
Mengobati sendiri 5.524 0.82
Pengobatan tradisional 2.353 0.35
Produk jasa kesehatan lain 2.206 0.32
Keterangan : RBK = Rata-rata pengeluaran biaya kesehatan (Rp)
PBK = Persentase rata-rata pengeluaran biaya kesehatan
terhadap pengeluaran rumah tangga (%)
Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dalam Survei
Kesehatan Nasional tahun 2004.
Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia,
pemerintah menetapkan visi Indonesia Sehat 2010 dengan penekanan pada
tiga pilar, yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat, dan pelayanan kesehatan
yang bermutu, adil, dan merata. Visi tersebut didukung dengan upaya
2
masyarakat. Salah satu program yang dilakukan pemerintah adalah
pendirian rumah sakit di setiap kabupaten di Indonesia. Rumah sakit sebagai
bagian yang integral dari keseluruhan sistem kesehatan menjalankan
bisnisnya bergerak ke arah profit oriented tanpa mengabaikan fungsi sosialnya. Oleh karena itu, pengembangan rumah sakit tidak dapat
dilepaskan dari kebijaksanaan pembangunan kesehatan serta peraturan
perundang-undangan. Peraturan Menteri Kesehatan No. 159b Tahun 1988
Bab VII pasal 25 menyebutkan bahwa setiap rumah sakit harus
melaksanakan fungsi sosialnya dengan antara lain menyediakan
fasilitas-fasilitas untuk penderita yang tidak mampu, yaitu :
1. Rumah Sakit pemerintah sekurang-kurangnya 75% dari kapasitas tempat
tidur yang tersedia.
2. Rumah Sakit swasta sekurang-kurangnya 25% dari kapasitas tempat
tidur yang tersedia.
Kota Bogor sebagai kota penyangga ibukota Jakarta senantiasa
bertambah penduduknya setiap tahunnya, sampai dengan tahun 2006
jumlah penduduk Kota Bogor sebanyak 750.250 jiwa
(www.kotabogor.go.id, 2006)1. Peningkatan jumlah penduduk berarti
kebutuhan akan fasilitas kesehatan makin bertambah. Dalam rangka
memenuhi kebutuhan akan fasilitas kesehatan bagi masyarakat Bogor, maka
pemerintah Kota Bogor melaksanakan program pendirian rumah sakit
dengan memberikan izin kepada pihak swasta untuk mendirikan rumah
sakit. Oleh karena itu, jumlah rumah sakit di Kota Bogor selama lima tahun
terakhir ini meningkat, hingga tahun 2005 terdapat delapan rumah sakit yang
tersebar di wilayah Kota Bogor (Tabel 2).
Seiring dengan meningkatnya jumlah rumah sakit di Kota Bogor
akan menimbulkan persaingan yang ketat antar rumah sakit serta
menimbulkan tantangan yang besar bagi para pengelola maupun pemilik
rumah sakit agar kegiatannya dapat tetap bertahan. Agar dapat bertahan
dalam persaingan antar rumah sakit diperlukan strategi yang tepat yang
mencakup seluruh aspek fungsional perusahaan. Melalui fungsi-fungsi
manajemen, pihak manajemen langsung terlibat dalam membuat strategi
1
baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Salah satu cara untuk memaksimalkan fungsi manajemen
dalam mencapai tujuan dapat menggunakan penganggaran. Dalam suatu
perusahaan, anggaran mempunyai peran yang penting untuk menunjang
proses efisiensi yang dilakukan perusahaan terutama dalam fungsi
perencanaan dan pengendalian.
Tabel 2. Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur di Kota Bogor Tahun 2005 Kecamatan Rumah Sakit Kapasitas Tempat Tidur
(1) (2) (3)
010. Bogor Selatan - -
020. Bogor Timur 1 45
030. Bogor Utara 1 91
040. Bogor Tengah 2 416
050. Bogor Barat 3 881
060. Tanah Sereal 1 39
Kota Bogor 8 1.472
2004 8 1.429
2003 7 1.521
2002 6 1.401
2001 6 693
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Bogor dalam Kota Bogor Dalam Angka, 2006.
Rumah Sakit Umum PMI Bogor (RSU PMI Bogor) yang terletak di
Jalan Pajajaran 80 Bogor merupakan rumah sakit yang berpengalaman
dengan tenaga medis dokter spesialis yang lengkap ditunjang dengan
peralatan diagnostic yang modern dan lengkap untuk wilayah Bogor.
Dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 297 buah maka RSU PMI Bogor
dapat memenuhi kebutuhan medis masyarakat Bogor dan sekitarnya. Selama
ini RSU PMI Bogor telah berperan sebagai rumah sakit rujukan untuk
pelayanan medis di wilayah Bogor dan sekitarnya. Pelayanan yang diberikan
antara lain pelayanan medis, pelayanan penunjang medis, pelayanan
penunjang pelayanan non medis dan pelayanan administrasi manajemen.
Untuk menjalankan fungsi perencanaan dan pengendalian,
manajemen RSU PMI Bogor telah melaksanakan penganggaran sebagai
pedoman dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Anggaran yang
4
berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian laba. Selama ini tidak
terjadi permasalahan yang berarti dalam proses penyusunan anggaran di
RSU PMI Bogor. Namun pada tahun 2006 sasaran laba yang ditetapkan
dalam anggaran tidak tercapai, yang ditunjukkan dengan terjadinya selisih
yang sangat besar antara anggaran dengan realisasinya. Oleh karena itu perlu
diselidiki peyebab utama tingginya selisih yang terjadi antara anggaran
dengan realisasinya, apakah karena proses penganggaran atau karena sistem
penganggarannya. Sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan dalam
proses penganggaran di RSU PMI Bogor yang lebih efektif dan efisien.
1.2. Perumusan Masalah
Untuk memperjelas permasalahan yang akan dibahas berdasarkan
pada latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimanakah proses penganggaran yang selama ini dilaksanakan oleh
RSU PMI Bogor?
2. Apa penyebab utama tidak tercapainya sasaran yang ditetapkan dalam
anggaran di RSU PMI Bogor Tahun 2006?
3. Apakah tidak tercapainya sasaran tersebut masih dalam batas
pengendalian manajemen?
4. Bagaimana meningkatkan efektivitas dan efisiensi anggaran di RSU PMI
Bogor?
1.3. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui proses penyusunan anggaran yang dilakukan oleh
RSU PMI Bogor.
2. Untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi dari kegiatan operasional
yang dijalankan oleh RSU PMI Bogor.
3. Untuk mengetahui penyebab utama dari tidak tercapainya sasaran yang
ditetapkan dalam anggaran di RSU PMI Bogor Tahun 2006.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Mengurangi pemborosan biaya yang tidak menghasilkan manfaat.
2. Mengurangi alokasi biaya pada akun-akun biaya yang ditetapkan terlalu
tinggi.
3. Meningkatkan alokasi biaya pada akun-akun biaya yang ditetapkan
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gambaran Umum tentang Rumah Sakit
Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang
menyelenggarakan kegiatan pelayanan berupa pelayanan rawat jalan,
pelayanan rawat inap, pelayanan rawat darurat yang mencakup pelayanan
medis serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan
penelitian (Departemen Kesehatan RI)2. Rumah Sakit sebagai salah satu
bentuk penyelenggaran pelayanan kesehatan memiliki beberapa
karakteristik organisasi yang berbeda dengan bentuk organisasi lain.
Beberapa karakteristik organisasi rumah sakit seperti padat modal, padat
karya, dan padat teknologi menjadikan rumah sakit sebagai suatu organisasi
yang sangat kompleks.
Mengelola sebuah rumah sakit sangat jauh berbeda dengan
pengelolaan usaha di bidang lainnya. Selain rumah sakit itu merupakan
kegiatan yang padat modal, padat karya dan padat teknologi; dalam
menjalankan usaha rumah sakit juga ditekankan penerapan nilai sosial-etika
di samping segi ekonomis. Lingkungan eksternal rumah sakit juga sangat
mempengaruhi gerak dan kemampuan organisasi dalam mencapai tujuannya
sebab lingkungan rumah sakit selalu berubah.
Rumah Sakit di Indonesia dapat dikategorikan menurut jenis
maupun tingkat kemampuannya. Menurut jenisnya, rumah sakit dapat
dikategorikan sebagai berikut :(Departemen Kesehatan RI)2
a. Rumah Sakit Umum (RSU), yaitu rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan untuk semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar
sampai dengan sub-spesialistik.
b. Rumah Sakit Jiwa (RSJ), yaitu rumah sakit yang khusus
menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa.
c. Rumah Sakit Khusus (RSKh), yaitu rumah sakit yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan berdasarkan penyakit atau
disiplin ilmu tertentu, meliputi : Rumah Sakit Kusta (RSK), Rumah
Sakit Tuberkulosa Paru (RSTP), Rumah Sakit Orthopedi (RSO), Rumah
2
Situs Resmi Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Data Statistik
Rumah Sakit 2006. http://www.yanmedik-depkes.net/statistik_rs_2006/
Sakit Bersalin (RSB) dan Rumah Sakit Khusus lainnya seperti : RS
Jantung, Rumah Sakit Kanker dan sebagainya.
Sedangkan pengklasifikasian Rumah Sakit Umum menurut tingkat
kemampuannya berdasarkan Kepmenkes No. 51 Menkes/SK/II/1979 dibagi
menjadi lima kelas, yaitu : (Muninjaya, 1999)
1. Kelas A merupakan rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik spesialistik dan sub-spesialistik luas.
2. Kelas B II (B+), rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialistik luas dan sub-spesialistik terbatas. RS kelas
A dan B II dapat berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan.
3. Kelas B I, rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialitik sekurang-kurangnya 11 jenis spesialistik.
4. Kelas C, rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialitik sekurang-kurangnya 5 spesialistik 4 dasar
lengkap, yaitu : bedah, penyakit dalam, kesehatan anak, serta kebidanan
dan kandungan.
5. Kelas D, rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik dasar.
Menurut Trisnantoro dalam Hadimitomuliani (2006), rumah sakit juga dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk kepemilikannya menjadi :
1. Rumah Sakit Milik Pemerintah
Rumah sakit milik pemerintah adalah rumah sakit yang cenderung hidup
dalam suasana birokrasi dengan sistem yang kaku. Ada dua jenis
pemilik dari rumah sakit pemerintah, yaitu rumah sakit milik pemerintah
pusat dan rumah sakit milik pemerintah propinsi dan kabupaten atau
kota. Rumah sakit milik pemerintah pusat mengacu pada Departemen
Kesehatan, sementara rumah sakit pemerintah propinsi dan kabupaten
atau kota mengacu pada pimpinan daerah dan lembaga perwakilan
masyarakat daerah.
2. Rumah Sakit Milik Militer
Rumah sakit milik militer adalah rumah sakit yang berasal dari program
8
Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian. Sejarah rumah sakit
ini dimulai dari masa kolonial Belanda dengan misi utamanya yaitu
untuk kesehatan militer dan persiapan perang. Contoh rumah sakit yang
paling besar adalah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto di
Jakarta.
3. Rumah Sakit Swasta Milik Yayasan Keagamaan
Rumah sakit swasta milik yayasan keagamaan memiliki sejarah panjang
sejak masa kolonial Belanda. Di berbagai kota, rumah sakit swasta besar
yang dimilki oleh lembaga-lembaga keagamaan antara lain RS Bethesda
di Yogyakarta, RS Charitas di Palembang, dan RS Muhammadiyah di
Yogyakarta. Pada umumnya, filosofi rumah sakit ini sangat
mempengaruhi pola manajemen dan situasi rumah sakit. Sebagai contoh,
rumah sakit keagamaan yang dimiliki oleh lembaga keagamaan yang
konservatif terlihat sangat berhati-hati dalam melakukan investasi dan
pengembangan.
4. Rumah Sakit Swasta Milik Dokter
Kepemilikan rumah sakit oleh dokter biasanya bersumber dari prestasi
klinis seorang dokter. Fenomena saat ini menunjukka terdapat sejumlah
dokter yang bersepakat membangun rumah sakit bersama-sama.
5. Rumah Sakit Swasta Milik Perusahaan
Rumah sakit milik perusahaan merupakan rumah sakit yang dikelola
oleh perusahaan untuk mencari keuntungan. Sejarah rumah sakit ini
masih singkat, tetapi dengan kekuatan modal dan sistem manajemennya,
rumah sakit milik perusahaan dapat menggantikan peran rumah sakit
keagamaan di masa mendatang. Sistem manajemen rumah sakit yang
mencari keuntungan relatif lebih mudah dibandingkan dengan rumah
sakit keagamaan atau rumah sakit pemerintah.
6. Rumah Sakit Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Rumah Sakit BUMN merupakan rumah sakit yang dimiliki oleh
beberapa BUMN yang ada di Indonesia, seperti PT. Aneka Tambang
2.2. Penganggaran di Rumah Sakit
Proses penganggaran di rumah sakit merupakan salah satu proses
yang manajemen keuangan yang sangat penting. Kepentingan dari proses ini
dapat dilihat dari fungi suatu anggaran bagi rumah sakit, yaitu sebagai alat
perencanaan dan pengendalian kegiatan operasional rumah sakit..
Terpenuhinya fungsi dari anggaran tersebut akan membantu pengelola
rumah sakit dalam mencapai efisiensi dan efektifitas pengelolaan secara
keseluruhan.
Pada umumnya rumah sakit besar di Jakarta telah menerapkan
penganggaran sebagai upaya untuk merencanakan dan mengendalikan
kegiatan operasionalnya, namun pelakanaannya belum maksimal
dikarenakan faktor-faktor seperti sumber daya manusia, ketersediaan
informasi, sistem akuntansi, dan sistem pelaporan yang belum bekerja
secara optimal. Hal tersebut ditunjukkan dengan kasus-kasus pelaksanaan
penganggaran yang ada di dua rumah sakit di Jakarta berikut ini :
1. Proses perencanaan anggaran yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit
Kanker ”Dharmais” Jakarta menunjukkan bahwa masih banyak
kelemahan-kelemahan yang dihadapi dalam pelaksanaannya
(Budisusetija, 1996), seperti belum adanya uatu keamaan tujuan yang
hendak dicapai rumah sakit, sulitnya melaksanakan koordinasi dan
komunikasi dalam proses perencanaan anggaran, serta kurangnya tenaga
profesional dalam pengelolaan satuan kerja. Oleh karena itu dibutuhkan
proses perencanaan anggaran yang menunjang efisiensi dan efektivitas
satuan kerja. Pencapaian hal ini dapat terlaksana bila satuan kerja
terlibat penuh dalam proses perencanaan anggaran.
2. Proses perencanaan anggaran di Rumah Sakit Islam Jakarta belum
berjalan dengan baik dikarenakan struktur penyusun yang bertugas
menyusun anggaran tidak seimbang (Kusumaningrum, 2003), artinya
tim anggaran tidak bertugas sesuai dengan spesifikasinya. Hal tersebut
menyebabkan pelaksanaan anggaran tidak sesuai dengan target-target
yang telah ditetapkan dalam anggaran. Di samping itu
10
bagi unit tidak jelas. Oleh karena itu dibutuhkan evaluasi terhadap
proses perencanaan, menyusun reward and punishment untuk pencapaian anggaran dan pelaksanaan kinerja dari manajer sampai
tingkat pelaksana, sehingga salah satu fungsi manajer yaitu membuat
perencanaan dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya dalam penyusunan
anggaran sebaiknya memenuhi tiga kriteria, yaitu : anggaran disusun
berdasarkan program, berdasarkan pusat pertanggungjawaban, dan
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Setiap perusahaan memiliki orientasi ke masa depan dan
memikirkan apa yang mungkin dilakukan di masa yang akan datang untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Aktivitas-aktivitas perusahaan akan
berhasil apabila ditunjang dengan kebijakan-kebijakan yang terarah dan
dibantu oleh perencanaan-perencanaan yang matang. Untuk memastikan
aktivitas berjalan sesuai dengan yang direncanakan diperlukan
pengawasan/pengendalian. Perencanaan dan pengendalian adalah dua hal
yang tak terpisahkan. Perencanaan melihat ke depan, yaitu menentukan
tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan
perusahaan. Pengendalian melihat ke belakang, yaitu menilai apa yang telah
dihasilkan dan membandingkannya dengan rencana yang disusun.
Perbandingan ini kemudian dapat digunakan untuk menyesuaikan anggaran,
sesuai dengan tujuan masa depan yang diinginkan.
3.1.1. Pengertian Anggaran
Pengertian anggaran (budget) menurut Nafarin, 2004 adalah suatu
rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program yang telah
disahkan. Anggaran merupakan alat manajemen yang penting dalam
perencanaan dan pengendalian keuangan perusahaan. Sebagai alat
manajemen, anggaran tidak akan berfungsi dengan baik apabila manusia
yang menggunakan alat tersebut tidak dapat menggunakannya dengan baik.
Oleh karena itu anggaran memiliki fungsi yang sama dengan manajemen
yang meliputi fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, dan fungsi
pengawasan.
1. Fungsi Perencanaan
Anggaran merupakan komponen utama dari perencanaan yang memuat
tujuan dan tindakan dalam mencapai tujuan perusahaan. Anggaran
12
2. Fungsi Pelaksanaan
Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga
pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan (laba).
3. Fungsi Pengawasan
Anggaran merupakan alat pengendalian/pengawasan (controlling), dilakukan dengan cara membandingkan hasil aktual dengan yang
dianggarkan secara periodik serta dengan melakukan tindakan perbaikan
apabila dipandang perlu.
Anggaran pada suatu perusahaan memiliki jenis yang serupa dengan
pusat pertanggungjawaban, antara lain (Anthony dkk, 1993):
1. Anggaran Biaya
Anggaran biaya dapat dibagi menjadi dua macam.
a. Anggaran yang menyangkut pengukuran terukur (engineered
expenses) dalam pusat tanggung jawab, dimana keluaran dapat
diukur. Anggaran ini dirancang untuk mengukur efisiensi, biasanya
penyimpangan (varian) yang tak menguntungkan (unfavorable)
menunjukkan bahwa biaya operasi lebih besar daripada yang
seharusnya.
b. Anggaran yang menyangkut pengeluaran diskresioner (discretion
expense) di pusat tanggung jawab, dimana pengeluaran tidak diukur.
Anggaran ini tidak dirancang untuk mengukur efisiensi atau
inefisiensi. Penyusun anggaran bertanggungjawab untuk
membelanjakan jumlah yang telah ditetapkan, tidak kurang dan
tidak lebih.
2. Anggaran Pendapatan
Anggaran peendapatan terdiri atas proyeksi penjualan (dalam unit)
dikalikan dengan harga jual yang diharapkan. Anggaran ini dirancang
untuk mengukur efektivitas pemasaran. Penyimpangan yang tak
menguntungkan dari anggaran ini menunjukkan bahwa volume
penjualan atau harga jual lebih rendah daripada yang diyakini
3. Anggaran Laba
Anggaran laba merupakan rencana laba tahunan. Anggaran ini terdiri
dari seperangkat proyeksi ikhtisar keuangan untuk tahun mendatang
dengan jadwal pendukung yang berkaitan. Anggaran laba mempunyai
kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
a. Untuk alokasi sumberdaya. Anggaran yang disetujui merupakan
wewenang bagi penyusun anggaran untuk menggunakan
sumberdaya dalam mencapai sasaran anggaran.
b. Untuk merencanakan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan
perusahaan atau divisi.
c. Sebagai alat pengecek akhir anggaran biaya.
d. Untuk membagi tanggung jawab kepada semua manajer atas semua
kinerja keuangan perusahaan atau divisi.
e. Untuk mereview kinerja perusahaan dan mengambil tindakan
tertentu bila kinerja tersebut tidak memuaskan.
Penganggaran (budgeting) adalah proses penyusunan anggaran yang
dibuat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam memperoleh laba. Menurut
Glenn (1995) dalam Wulandari (2006), penganggaran atau perencanaan dan
pengendalian laba yang menyeluruh ditetapkan sebagai pendekatan yang
sistematis dan formal untuk melakukan tahap-tahap penting dalam
melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian yang menjadi tanggung
jawab manajemen.
Terdapat dua dimensi dalam penganggaran yaitu bagaimana anggaran
dibuat dan bagaimana anggaran digunakan untuk mengimplementasikan
rencana organisasi. Penggunaan anggaran untuk melakukan pengendalian,
evaluasi kinerja, komunikasi dan meningkatkan koordinasi menyiratkan
bahwa penganggaran merupakan aktivitas manusia. Sehingga keberhasilan
atau kegagalan penganggaran bergantung pada bagaimana manajemen
mempertimbangkan implikasinya terhadap perilaku karyawannya
Menurut Tunggal (2003), ada beberapa pendekatan alternatif dalam
14
adalah suatu proses penganggaran yang mensyaratkan manajer menyusun
anggaran dari dasar nol. Kaizen budgeting adalah suatu pendekatan anggaran yang secara eksplisit menyaratkan perbaikan berkesinambungan
dan memasukkan seluruh perbaikan yang diharapkan dalam anggaran yang
dibuat. ABB adalah proses mengembangkan suatu anggaran induk dengan
menggunakan informasi yang diperoleh dari analisis berbasis aktivitas.
Pendekatan-pendekatan tersebut bila digunakan dengan tepat dapat
memperbaiki efektivitas anggaran.
3.1.2. Anggaran Rumah Sakit
Semua perusahaan, baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil,
seharusnya membuat anggaran karena perusahaan dapat menarik
keuntungan dari perencanaan dan pengendalian yang berasal dari anggaran.
Rumah Sakit juga memerlukan anggaran, apalagi rumah sakit punya beban
hutang sehingga secara sadar harus dipersiapkan bagaimana caranya agar
dapat membayar tanpa memberatkan. Anggaran diperlukan rumah sakit agar
bersiap diri untuk memenuhi kewajiban, mempersiapkan upaya pemasaran
yang agresif, menjadi tolak ukur aktivitas pada tahun yang akan datang,
serta menjadi pengalaman bagi masa depan.
Menurut Adikoesoemo (1994), anggaran pada rumah sakit selain
berfungsi sebagai pedoman dalam perencanaan keuangan dan kegiatan di
masa datang, juga merupakan bagian dari progam pengendalian keuangan
organisasi. Tujuan pengendalian keuangan rumah sakit yaitu merencanakan
dan mengendalikan kegiatan rumah sakit agar bisa mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, yaitu pendapatan rumah sakit paling sedikit sama atau
lebih besar dari biaya. Pendapatan harus diamankan baik dari pasien yang
berobat jalan, rawat inap, kamar operasi dan sebagainya, serta adanya
pasien-pasien yang tidak mampu (civic mission).
Anggaran pada rumah sakit terdiri atas (Sabarguna, 2004):
1. Anggaran Statistik, meliputi keadaan volume kegiatan dalam bentuk
kuantitatif untuk kegiatan di masa datang. Anggaran statistik diperlukan
maka akan dapat diketahui penerimaan, bila diketahui biaya maka akan
dapat diketahui pengeluaran.
2. Anggaran Operasional, meliputi anggaran penerimaan dan anggaran
pengeluaran.
3. Anggaran uang tunai, yaitu anggaran yang menunjukkan secara nyata
kemungkinan uang tunai yang ada. Anggaran ini penting untuk menjaga
kredibilitas rumah sakit terhadap kewajibannya.
4. Anggaran Modal, merupakan perencanaan untuk pembelian alat- alat,
pembelian bangunan, dan penjadwalan pengeluaran uang.
5. Anggaran Neraca, merupakan perhitungan posisi kekayaan dan hutang
pada akhir tahun yang akan datang.
6. Anggaran Sisa Hasil Usaha, merupakan anggaran yang menggambarkan
berapa kemungkinan hasil usaha yang akan diperoleh.
7. Anggaran Tunai, menggambarkan arus masuk dan keluar uang tunai.
8. Anggaran Fleksibel, digunakan untuk kegiatan yang secara langsung
terkait dengan jumlah orang yang dilayani. Hal ini berarti banyak
sedikitnya jumlah orang yang dilayani akan berpengaruh secara
langsung terhadap biaya variabel. Jadi anggaran fleksibel adalah
anggaran yang nilainya pada biaya variabel sesuai dengan jumlah
pelayanan yang dibutuhkan.
9. Anggaran Program, merupakan proses untuk menyusun kegiata dalam
mencapai tujuan program di masa datang dalam bentuk nilai uang.
Dalam pelaksanaannya, anggaran program membutuhkan waktu,
keterlibatan berbagai pihak, kemampuan dan keterampilan tertentu, serta
data dan informasi yang objektif.
3.1.3. Langkah Penyusunan Anggaran Rumah Sakit
Menurut Newman dalam Sabarguna (2004) dalam menyusun anggaran pada rumah sakit perlu diperhatikan tiga ruang lingkup utama,
yaitu :
1. Keadaan lingkungan.
16
TUJUAN
a) Lingkungan eksternal, seperti : tingkat bunga, kebijakan
pemerintah, dan kemajuan teknologi.
b) Lingkungan pemasaran : kontraktor, kompetitor, dan lain-lain.
c) Lingkungan internal : keadaan petugas, nama baik, hasil kerja yang
lalu, dan kebijakan perusahaan.
2. Pembuatan program
Meliputi misi yang diemban, tujuan yang ingin dicapai, sarana dan
sumber daya yang diperlukan.
3. Anggaran
Meliputi jenis-jenis :
a) Anggaran statistik
b) Anggaran finansial
[image:38.612.140.500.125.608.2]c) Financial Statement
Gambar 1. Proses Penyusunan Anggaran pada Rumah Sakit
MISI
INTERNAL EKSTERNAL
SUMBER DAYA KEGIATAN PENGUMPULAN
DATA
PENYUSUNAN PROGRAM
ANGGARAN STATISTIK
ANGGARAN FINANSIAL
Penyusunan anggaran dilaksanakan secara bertahap dan melibatkan
pihak-pihak antara lain :
1. Bagian Keuangan
Bagian keuangan bertugas menyiapkan data-data historis seperti
anggaran tahun lalu dan kewajiban keuangan yang harus dibayar tahun
yang akan datang.
2. Petugas pelaksana pelayanan
Berupa pertanggung jawaban dari petugas pelaksana pelayanan bersama
dengan bagian medical record dalam rangka penyusunan anggaran statistik.
3. Bagian pemasaran
Bagian pemasaran bertugas memberi masukan mengenai kecenderungan
masa datang dan upaya pemasaran yang ditujukan dalam rangka
peningkatan pemanfaatan.
4. Direksi
Direksi menentukan kebijakan dan arah pengembangan dan
penghematan.
5. Yayasan
Yayasan bersama dengan Dewan Penyantun dan Dewan Medis
melakukan tindakan koreksi, menyetujui dan memberikan dukungan
yang diperlukan.
3.1.4. Penggunaan Anggaran Untuk Perencanaan dan Pengendalian
Dalam suatu perusahaan anggaran mempunyai peran yang sangat
penting dalam menunjang proses efisiensi yang dilakukan perusahaan
terutama dalam fungsi perencanaan dan pengendalian. Anggaran membantu
para manajer dalam fungsi perencanaannya dengan cara menetapkan sasaran
dan mengembangkan strategi untuk mencapai sasaran itu. Strategi
menentukan cara organisasi menyesuaikan kemampuan yang dimilikinya
dengan peluang-peluang di pasar guna mencapai tujuannya. Sedangkan
anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian untuk digunakan dalam
evaluasi kinerja. Menurut Horngren (2005) penggunaan
18
terjadi, membantu para manajer dalam fungsi pengendaliannya. Umpan
balik memungkinkan para manajer membandingkan hasil-hasil aktual
dengan rencana kerja. Anggaran fleksibel dan varians membantu para
manajer mencari jawaban atas perbedaan hasil aktual dengan kinerja yang
direncanakan.
Anggaran statis merupakan anggaran yang dibuat untuk satu rencana
tingkat keluaran. Anggaran induk merupakan anggaran statis karena
pendapatan dan biaya yang disiapkan tergantung pada tingkat aktivitas yang
jarang sama dengan tingkat aktivitas aktual. Sementara anggaran fleksibel
adalah sebuah anggaran yang menyesuaikan pendapatan dan biaya yang
mengalami perubahan dalam pencapaian output. Dengan perubahan output (unit yang diproduksi dan terjual pada perusahaan manufaktur, jumlah
pasien per hari untuk rumah sakit, jumlah siswa untuk sekolah) pendapatan
dan biaya perusahaan juga berubah dari yang dianggarkan. Anggaran
fleksibel dihitung pada akhir periode ketika keluaran output aktual telah diketahui. Anggaran fleksibel memungkinkan para manajer menghitung
varians yang memberikan lebih banyak informasi dibanding informasi
varians dari anggaran statis.
Varians merupakan perbedaan antara jumlah berdasarkan hasil
aktual dan jumlah yang dianggarkan. Bila perbedaannya besar, manajemen
perlu mempelajari dengan teliti untuk menetukan sebab yang mendasarinya.
Penyebab dasar akan mengarah pada perbaikan melalui tindakan korektif
yang sesuai oleh manajemen. Menurut Welsch (2000), ada banyak cara
untuk mempelajari atau menyelidiki varians untuk menentukan sebab yang
mendasarinya, berikut beberapa pendekatannya : Pertemuan dengan manajer
pusat tanggung jawab dan penyelia dan karyawan lainnya dalam pusat
tanggung jawab yang terlibat.
1. Pertemuan dengan manajer pusat tanggung jawab dan penyelia dan
karyawan lainnya dalam pusat tanggung jawab yang terlibat.
2. Analisis situasi kerja termasuk arus kerja, koordinasi aktivitas,
keefektifan penyeliaan, dan keadaan umum lainnya.
4. Penyelidikan di tempat oleh manajer lini.
5. Penyelidika oleh kelompok staf (dispesifikasi menurut tanggung jawab).
6. Pemeriksaan intern.
7. Penelitian khusus.
8. Analisis varians.
Analisis varians mencakup analisis matematis dari dua perangkat
data untuk mendapatkan pendalaman penyebab terjadinya suatu
penyimpangan/varians. Salah satu jumlah diperlakukan sebagai dasar,
standar, atau titik pedoman. Dalam mengembangkan dan melaporkan
analisis varians, harus diingat bahwa hasil harus berurusan dengan
perbedaan yang relevan, dapat dimengerti, mengukur dengan keakuratan apa
yang harus diukur, disajikan dan dijelaskan secara singkat. Ada dua
pendekatan untuk menyajikan hasil analisis varians, yaitu (1) hasil analisis
dilaporkan dalam laporan khusus yang memfokuskan pada masalah khusus
untuk diperhatikan manajemen, (2) hasil dapat dimasukkan dalam laporan
kinerja bulanan.
3.1.5. Konsep Anggaran Berdasarkan Aktivitas (ABB)
Dalam suatu perusahaan anggaran mempunyai peran yang sangat
penting dalam menunjang proses efisiensi yang dilakukan perusahaan
terutama dalam fungsi perencanaan dan pengendalian. Salah satu
pendekatan yang dapat digunakan untuk menyusun anggaran yang efisien
adalah ABB. Konsep ABB memperkenalkan suatu cara penyusunan
anggaran berdasarkan pengerahan dan pengarahan aktivitas ke pencapaian
nilai, artinya selisih antara pendapatan dan biaya dibandingkan dengan
aktiva yang digunakan untuk memperoleh pendapatan menjadi ukuran
apakah aktivitas yang dilaksanakan oleh perusahaan selama tahun anggaran
dapat mencapai nilai. Pada beberapa literatur dijelaskan bahwa ABB
mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem anggaran
tradisional. Menurut Mulyadi dalam Kusumaningrum (2003) keunggulan dari pendekatan ABB ini adalah :
1. Orientasi ke arah pemenuhan kebutuhan pelanggan sehingga proses
20
untuk mencari peluang pengembangan terhadap sistem yang digunakan
untuk menghasilkan nilai bagi pelanggan.
2. Fokus penyusunan pada perencanaan aktivitas sehingga biaya yang
timbul dari adanya aktivitas dapat ditentukan dengan efektif.
3. Mendorong personel untuk mengimplementasikan cara berpikir berbasis
sistem.
ABB merupakan suatu bentuk anggaran yang berfokus pada biaya
aktivitas atau cost driver yang diperlukan dalam operasi. ABB memisahkan biaya-biaya ke dalam kelompok biaya yang homogen berdasarkan cost driver yang berasal dari activity-based costing (ABC), dimana ABB secara prinsip merupakan ABC yang dibalik aliran kasnya (Gambar 1).
ABC ABB
Resources
Resources drivers
Activity
Activity cost driver
[image:42.612.160.506.289.459.2]Products
Gambar 2. Skema prinsip ABB dan ABC Sumber : Kaplan & Cooper 1999 dalam Tunggal (2003)
Menerapkan konsep Activity-based costing (ABC) terhadap proses penganggaran menghasilkan Activity-based budgeting (ABB). Dalam ABB langkah pertama adalah menentukan produk atau jasa yang akan dihasilkan
dan pelanggan yang harus dilayani. Kemudian aktivitas-aktivitas yang
diperlukan untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut ditentukan.
Akhirnya, sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan
aktivitas-aktivitas yang ditentukan tersebut dikuantifikasi secara konseptual.
Proses penyusunan anggaran berdasarkan aktivitas terdiri atas dua
proses utama. Proses pertama yaitu memperkirakan tingkat aktivitas yang
dibutuhkan. Proses kedua adalah menterjemahkan anggaran volume per aktivitas tersebut dalam bentuk anggaran yang bersifat finansial. Penjelasan
Perkiraan aktivitas/sumber daya untuk unit
Anggaran Biaya Pendukung Anggaran Biaya Produksi Anggaran Kas Keluar Anggaran Pendapatan Kotor Anggaran Kas Masuk Anggaran Pendapatan Bersih Anggaran Arus Kas Anggaran Kas Keluar Anggaran Biaya Pemasaran Anggaran Kas Keluar Perkiraan aktivitas/sumber daya untuk unit
Perkiraan harga jual Perkiraan biaya per aktivitas Perkiraan biaya per aktivitas Perkiraan biaya per aktivitas Susun Rencana Penjualan Perkiraan aktivitas/sumber daya untuk unit Target perusahaan dan
[image:43.612.161.507.95.359.2]asumsi
Gambar 3. Proses Pembuatan Anggaran Berdasarkan Aktivitas
Sumber : Thomas Klammer, Activity based budgeting exhibit 6 dalam Hendardi, 2000
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
RSU PMI Bogor memiliki visi dan misi yang jelas yaitu menjadi
rumah sakit unggulan di bidang traumatik dan kegawatdaruratan. Visi dan
misi tersebut dijabarkan dalam kebijakan operasional, keuangan dan
sumberdaya manusia. Salah satu kebijakan keuangan yang dijalankan RSU
PMI Bogor adalah melaksanakan penganggaran. Pelaksanaan penganggaran
di RSU PMI Bogor diawali dengan menterjemahkan visi dan misi ke dalam
target-target yang ingin dicapai oleh RSU PMI Bogor.
Setelah target ditetapkan, RSU PMI Bogor menyusun program kerja
dalam bentuk Rencana Kegiatan RSU PMI Bogor untuk satu tahun ke depan.
Selanjutnya RSU PMI Bogor menyusun anggaran untuk menggambarkan
nilai uang dari rencana kegiatan tersebut. Untuk melihat apakah rencana
yang dibuat berhasil diterapkan, Bagian Keuangan melaporkan hasil
kegiatan operasional rumah sakit dalam bentuk laporan keuangan. Alur
penganggaran RSU PMI Bogor seperti disebutkan di atas dapat dilihat pada
22
RSU PMI Bogor
Keterangan : Alur penganggaran RSU PMI Bogor Alur penganggaran ABB
[image:44.612.140.513.87.648.2]Analisis
Gambar 4. Alur Pemikiran Penelitian Visi, Misi, dan Tujuan
Penetapan Target
Penyusunan Program Kerja
Penyusunan Anggaran di RSU PMI Bogor
Penyusunan Anggaran Berdasarkan Aktivitas
Varians
Anggaran Alternatif (Anggaran Berdasarkan
Aktivitas)
Strategi mengefisienkan anggaran
Laporan hasil sesungguhanya
(aktual)
Driver Perbandingan
Dari Gambar 4 di atas dapat dilihat analisis terhadap anggaran RSU
PMI Bogor (garis panah putus-putus) yang akan dilakukan dalam penelitian
ini adalah menghitung selisih (varians) antara anggaran dengan laporan
realisasi. Selain itu dilakukan ujicoba penyusunan anggaran berdasarkan
aktivitas (Activity Based Budgeting-ABB) berdasarkan program kerja yang
telah disusun oleh RSU PMI Bogor. Setelah tersusun anggaran alternatif
berdasarkan aktuvitas, lalu dilakukan analisis perbandingan antara anggaran
ABB dengan anggaran yang sudah disusun oleh RSU PMI Bogor agar dapat
menentukan metode penganggaran yang terbaik.
Dari anggaran ABB diperoleh activity driver, yaitu sejumlah kriteria yamg menyebabkan perubahan aktivitas. Activity driver diperlukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari penganggaran berdasarkan
aktivitas. Dengan mengetahui activity driver dan varians dari anggaran maka dapat dinilai efektivitas dan efisiensi dari proses penganggaran ABB
maupun proses penganggaran yang dilakukan RSU PMI Bogor.
3.3. Metode Penelitian
3.3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada RSU PMI Bogor di Jl. Pajajaran No.
80 Bogor selama tiga bulan yaitu pada bulan Januari hingga Maret 2007.
3.3.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung di
lapangan dengan pihak rumah sakit atau pihak-pihak lainnya serta hasil
pencatatan di lapangan. Data sekunder diperoleh dari Anggaran Pendapatan
dan Biaya RSU PMI Bogor tahun 2005/2006,Rencana Kegiatan RSU PMI
Bogor tahun 2006, Data Fisik RSU PMI Bogor, Laporan Realisasi
Pendapatan dan Biaya RSU PMI Bogor tahun 2006, Laporan Kegiatan RSU
PMI Bogor, Rencana Fisik RSU PMI Bogor tahun 2006, dan data hasil
wawancara dan pengamatan. Data sekunder lainnya diperoleh dari berbagai
24
3.3.3. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan dua tahap, yaitu
analisis terhadap Anggaran RSU PMI Bogor kemudian menyusun anggaran
alternatif dengan pendekatan Activity Based Budgetting (ABB). 1. Analisis Anggaran RSU PMI Bogor
Analisis varians dilakukan dengan bantuan program Microsoft
Excel, yaitu menghitung varians/ selisih dari anggaran statis (anggaran
pendapatan dan biaya) terhadap hasil aktual.
2. Menyusun Anggaran Berdasarkan Aktivitas
Dalam menyusun anggaran berdasarkan aktivitas,
langkah-langkah yang dilakukan antara lain :
a. Menentukan keluaran atau produk dari rumah sakit, misalnya pasien
yang menginap dan menjalani pengobatan.
b. Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang ada dalam kegiatan
pelayanan pasien.
c. Mengidentifikasi activity driver dari masing-masing aktivitas pelayanan pasien.
d. Mengidentifikasi sumberdaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
aktivitas-aktivitas tersebut.
e. Melakukan estimasi biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan
kegiatan pelayanan pasien.
f. Membandingkan hasil yang diperoleh dari anggaran berdasarkan
4.1. Gambaran Umum RSU PMI Bogor 4.1.1. Sejarah RSU PMI Bogor
Rumah Sakit PMI Bogor merupakan rumah sakit swasta di wilayah
Kota Bogor yang dimiliki oleh Perhimpunan Palang Merah Indonesia. Pada
awalnya RSU PMI Bogor didirikan atas prakarsa kelompok sosial
orang-orang Belanda di kota Bogor tahun 1931 dan pengelolannya diserahkan
kepada NERKAI (Nederlansch Rode Kruis Afdeling Van Indonesie). Antara
tahun 1942-1945 rumah sakit dikuasai oleh Jepang, namun setelah Jepang
kalah perang pengelolaan rumah sakit kembali ke tangan NERKAI. Setelah
Indonesia merdeka, rumah sakit tersebut dihibahkan kepada Pengurus
Palang Merah Indonesia Cabang Bogor dan diberi nama Rumah Sakit
Kedung Halang. Pada tahun 1951 rumah sakit tersebut diserahkan kepada
Markas Besar Palang Merah Indonesia dan berganti nama menjadi Rumah
Sakit Umum Palang Merah Indonesia (RSU PMI) Bogor. Untuk mengelola
RSU PMI Bogor dibentuk Yayasan Rumah Sakit Umum PMI Bogor pada
tahun 1964, yang kemudian dibubarkan pada tahun 1966.
Sejak diserahkan kepada Markas Besar Palang Merah Indonesia,
RSU PMI Bogor ditunjuk sebagai sumah sakit umum yang memberikan
pelayanan kesehatan semua jenis penyakit kepada masyarakat Bogor dan
sekitarnya. Oleh karena itu, pada tahun 1965 RSU PMI Bogor bekerjasama
dengan RS Cipto Mangunkusumo dalam bentuk bantuan tenaga medis dan
paramedis dari RSCM di RSU PMI Bogor. Dalam memberikan pelayanan
kepada pasien RSU PMI Bogor menyediakan ruang perawatan kelas III (sal)
dan kelas II (2 tempat tidur per kamar). Seiring dengan perkembangan
kegiatan di RSU PMI Bogor dan ijin tetap penyelenggaraan rumah sakit
yang telah dimiliki sejak tahun 1992, RSU PMI Bogor menambah ruang
perawatan kelas II, kelas I, dan kelas VIP. Pada tahun 1999 dibuka ruang
perawatan Paviliun Melati, ruang perawatan Kelas I dan Kelas II Mawar,
26
Dengan menyadari bahwa RSU PMI Bogor merupakan rumah sakit
yang berpengalaman dengan tenaga medis dokter spesialis yang lengkap
ditunjang dengan perlatan diagnostik yang modern dan lengkap di Wilayah
Bogor, maka sejak 2002 RSU PMI Bogor membuka Poliklinik Afiat.
Pembukaan Poliklinik Afiat dimaksudkan untuk meluaskan pelayanan di
semua segmen masyarakat dan menunjang sistem subsidi silang. Selain itu
RSU PMI Bogor melayani pasien ASKES dengan mengadakan ikatan
kerjasama dengan PT. ASKES Indonesia. Di tahun itu pula dilakukan
renovasi gedung UGD (Emergency) dan memindahkan ruang perawatan
Paviliun Mawar dan Paviliun Melati yang kini menjadi Poliklinik Afiat ke
lantai III dan IV Gedung Melati.
Oleh karena fasilitas dan pelayanan medis yang dimiliki oleh RSU
PMI Bogor, maka Rumah Sakit mendapatkan status Rumah Sakit Tipe B
menurut standar hasil Workshop Hospital. Sebelumnya RSU PMI Bogor
hanya dinyatakan Rumah Sakit Tipe C pada tahun 1970. Walaupun hanya
sebagai RS Tipe C, namun RSU PMI Bogor telah banyak berkiprah di
bidang pelayanan medik. Seperti pada tahun 1972 Poliklinik Kebidanan
ditunjuk sebagai Poliklinik Keluarga Berencana Wilayah Bogor, tahun 1988
RSU PMI Bogor ditunjuk sebagai Rumah Sakit Pendidikan bagi mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara (Untar), dan sejak tahun
1989 RSU PMI Bogor ditunjuk sebagai pengelola bank darah dan
Sekretariat Bank Mata. Selain itu, RSU PMI Bogor mempunyai prestasi
yang cukup baik antara lain :
1. Meraih Juara I (satu) sebagai Rumah Sakit Swasta Tipe C tingkat
propinsi Jawa Barat Tahun 1988.
2. Juara III (tiga) lomba penampilan RS swasta tipe B tingkat Propinsi
Jawa Barat.
3. Pada bulan Oktober 1999 RS PMI Bogor berhasil meraih juara II lomba
4.1.2.Visi, Misi, dan Tujuan RSU PMI Bogor
RSU PMI Bogor mempunyai visi menjadi rumah sakit yang
memberikan pelayanan terbaik dengan unggulan di bidang traumatik dan
kegawatdaruratan. Adapun misi dari RSU PMI Bogor antara lain :
1. Memberikan pelayanan terbaik dengan selalu berupaya
meningkatkan sumber daya manusia.
2. Mengembangkan layanan unggulan di bidang traumatik dan
kegawatdaruratan.
3. Melakukan upaya menjadi rumah sakit rujukan di wilayah Bogor
dengan berlandaskan prinsip-prinsip kepalang merahan yang dikelola
secara sosioekonomi.
Tujuan umum RSU PMI Bogor adalah menjadi institusi pelayanan
kesehatan yang berlandaskan prinsip kepalangmerahan yang dikelola secara
sosioekonomi. Tujuan umum tersebut dijabarkan ke dalam beberapa tujuan
khusus, yaitu:
1. Menjadi institusi pelayanan kesehatan yang bermutu dengan kualitas
sumber daya manusia yang profesional dan memegang teguh etika
profesi.
2. Menjadi institusi kesehatan yang mengembangkan bidang traumatik
melalui peningkatan sarana, prasarana dan sumber daya manusia secara
berkelanjutan.
3. Menjadi rumah sakit rujukan di wilayah kota Bogor melalui usaha
secara sistematis dan berkesinambungan.
4. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan berlandaskan prinsip
kepalangmerahan yang dikelola secara sosioekonomi.
Di samping itu RSU PMI Bogor mempunyai motto yaitu HUMAN
(Hospitality, Univesitality, Man Power, Activity, Need) yang mempunyai
makna memberikan pelayanan dengan keramahtamahan tanpa membedakan
sosial ekonomi pasien melalui sumber daya manusia yang bermutu dan
berdedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas yang sesuai kebutuhan
28
4.1.3. Pelayanan di RSU PMI Bogor
RSU PMI Bogor menyelenggarakan berbagai bentuk pelayanan
kesehatan, diantaranya :
1. Pelayanan Rawat Jalan
Pelayanan Rawat Jalan di RSU PMI Bogor terdiri atas dua jenis
pelayanan, yaitu Poliklinik Reguler dan Poliklinik Afiat. Poliklinik
Reguler ditujukan untuk semua pasien dengan ekonomi yang cukup
heterogen, jenis pembayaran yang beragam mulai dari pembayaran
umum tanpa jaminan dari instansi manapun, pembayaran ASKES,
pembayaran dengan jaminan pemerintah untuk keluarga miskin
(GAKIN), serta pembayaran dengan kontrak kerjasama. Fasilitas
Poliklinik Reguler terdiri dari Bedah Umum, Bedah Syaraf, Bedah
Urologi, Bedah Orthopedi, Penyakit Dalam/Internist, Paru, Syaraf,
Mata, THT, Kulit & Kelamin, Psikiatri, Anak, Imunisasi & Klinik ASI,
Jantung & Pembuluh Darah, Rehabilitasi Medik& Fisioterapi, Umum,
Gigi & Mulut, dan Konsultasi Gizi.
Poliklinik Afiat ditujukan bagi pasien umum, non ASKES, non
GAKIN, atau pasien kontrak kerjasama seperti dengan perusahaan
tertentu. Poliklinik ini dirancang untuk kelas ekonomi menengah ke atas
yang mengharapkan pelayanan yang cepat, tidak menunggu lama,
fasilitas ruangan bersih, nyaman, aman dan tenang. Poliklinik Afiat
memberikan pelayanan antara lain pelayanan laboratorium yang
meliputi pemeriksaan rutin, mikrobiologi, serologi, kimia klinik, analisa
gas darah, elisa dan tes narkoba; Treadmill; USG; Ekokardiografi,
Autotonometri, Elektrokardiografi, Audiogram; Radiologi; Fisioterapi;
Farmasi; Alat Bantu Dengar, serta Optik.
2. Pelayanan Rawat Inap
Instalasi Rawat Inap di RSU PMI Bogor mempunyai misi
menerapkan manajemen keperawatan yang benar, meningkatkan
kualitas SDM keperawatan, dan melaksanakan asuhan keperawatan
dengan standar yang ditetapkan. Sedangkan tujuannya adalah
keperawatan yang bermutu, serta tercapainya kepuasan pasien dan
keluarga. Fasilitas Rawat Inap terdiri dari VIP/Paviliun Melati (1 tempat
tidur per kamar), Kelas 1/Paviliun Anggrek (1 tempat tidur per kamar),
Kelas 1/Paviliun Mawar (2 tempat tidur per kamar), Kelas 2/Paviliun
Anggrek & Seruni (2 tempat tidur per kamar), Kelas 2 (2 tempat tidur
per kamar), Kelas 3 (sal), Ruang Bayi & Anak, ICU, Ruang Bersalin,
Ruang Rawat Gabung (khusus ibu & bayi), dan Ruang Pemulihan.
Adapun kapasitas tempat tidur yang ada di Instalasi Rawat Inap RSU
[image:51.612.177.512.284.604.2]PMI Bogor adalah sebagai berikut : (Tabel 3)
Tabel 3. Kapasitas Tempat Tidur Pada Masing-masing Ruang Perawatan yang ada di RSU PMI Bogor.
Ruang Perawatan Kapasitas Tempat Tidur (unit)
Paviliun Melati 16
Paviliun Mawar 22
Paviliun Anggrek:
• Kelas I 8
• Kelas II 12
Ruang Rawat Inap Non Paviliun Dewasa : Ruang Soka, Dahlia, Kenanga, Cempaka dan Seruni
• Kelas II 36
• Kelas III 124
Ruang Rawat Bayi dan Anak
• Ruang Alamanda (Bayi) 20
• Ruang Aster (Anak) 18
Ruang khusus
• Ruang ICU 9
• Ruang Intermediate Centre 6
• Kamar Bersalin 6
• Ruang Rawat Gabung 8
• Recovery Room 12
Sumber : Bidang Keuangan RSU PMI Bogor
3. Pelayanan Gawat Darurat
Instalasi Gawat Darurat di RSU PMI Bogor memberikan pelayanan
berupa upaya penanggulangan kepada penderita gawat darurat dengan
fokus mencegah kematian dan kecacatan. Fasilitas Instalasi Gawat
30
X-ray, Ruang Bedah Minor, dan Ambulance. Fasilitas Instalasi Bedah
Sentral terdiri atas Pelayanan 24 jam.
4. Pelayanan Bedah Sentral
Instalasi Bedah Sentral di RSU