SKRIPSI
ANALISIS PENGARUH IKLAN TV OLI TOP 1 TERHADAP
MINAT MEMBELI MASYARAKAT PERUMNAS
SIMALINGKAR MEDAN
OLEH:
IHSAN AHMED MUSTAFA 070502201
PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
▸ Baca selengkapnya: dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa kemasan mempunyai fungsi ...
(2)ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya iklan, bahasa iklan, model iklan, dan pesan iklan terhadap minat beli masyarakat Perumnas Simalingkar Medan terhadap Oli Top 1.
Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode kuantitatif. Pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Pengerjaan metode analisis data menggunakan bantuan SPSS 15,0 for Windows. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakan 96 responden masyarakat Perumnas Simalingkar Medan sebagai sampel penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, analisis data dengan metode analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa gaya iklan, bahasa iklan, model iklan, dan pesan iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha V-Ixion pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan uji signifikan parsial (uji-t) bahwa dari keempat variabel bebas yang paling dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah variabel pesan iklan (X4). Nilai R sebesar 0,748 berarti hubungan antara
variabel gaya iklan (X1), bahasa iklan (X2), model iklan (X3), dan pesan iklan (X4)
terhadap minat beli (Y) sebesar 74,8% yang berarti hubungannya sangat erat.
ABSTRACT
This study purposes were to determined the influence of style (X1),
language (X2), model (X3), and message (X4) of the advertisement towards buying
desire of Top 1 oil for people who live at Simalingkar complex in Medan city. This research was a type of explanatory research, that was research to be learned according to the levels that was based on the goals and objects. The populations in this study were people who live at Simalingkar complex. Then the data collection method in this study was a questionnaire and documentation studied. Data processing was using the SPSS version 15,0 software for widows. Methods of data analysis was using descriptive method and quantitative method that was multiple linear regression analysis used to measured the influence of style, language, model, and message of the advertisement towards buying desire of Top 1 oil for people who live at Simalingkar complex in Medan city.
Based on F test the independent variable (style, language, model, and message) together have a positive and significant influence on the dependent variable (buying desire). Through testing the correlation coefficient (R) obtained the level of correlation or relationship between style, language, model, and message of the advertisement toward the purchase of Top 1 oil were a sufficient relationship. Message of the advertisement factor has the most dominant effect on buying desire of Top 1 oil for people who live at Simalingkar complex.
DAFTAR ISI
2.1.1 Pengertian Promosi dan Bauran Promosi ... 11
2.1.2 Periklanan ... 13
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
3.1 Jenis Penelitian ... 28
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 28
3.3 Batasan Operasional ... 28
3.4 Operasionalisasi Variabel ... 29
3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 31
3.6 Populasi dan Sampel ... 32
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 33
3.8 Jenis Data ... 34
3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 34
3.10 Metode Analisis Data ... 35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40
4.1. Gambaran Umum Perusahaan ... 40
4.2.3. Uji Asumsi Klasik ... 62
4.2.4. Analisis Regresi Linear Berganda ... 69
4.2.5. Uji Hipotesis ... 71
4.2.6. Pengujian Koefisien Determinasi (R²) ... 77
4.3. Pembahasan ... 79
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 83
5.1. Kesimpulan ... 83
5.2. Saran ... 84
DAFTAR PUSTAKA ... 88
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel ... 29
Tabel 4.1 Uji Validitas ... 48
Tabel 4.2 Uji Reliabilitas... 49
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 51
Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 52
Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Merk Motor ... 52
Tabel 4.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan/Uang Saku ... 53
Tabel 4.7 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Gaya Iklan (X1) ... 54
Tabel 4.8 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Bahasa Iklan )X2) ... 55
Tabel 4.9 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Model Iklan (X3)... 57
Tabel 4.10 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Pesan Iklan (X4)... 59
Tabel 4.11 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Minat Beli (Y) ... 60
Tabel 4.12 Pendekatan Kolmogorov-Smirnov ... 65
Tabel 4.13 Uji Glejser ... 68
Tabel 4.14 Uji Nilai Tolerance dan VIF ... 69
Tabel 4.15 Analisis Regresi Linier Berganda... 70
Tabel 4.16 Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) ... 73
Tabel 4.17 Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) ... 75
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
Gambar 1.1 Logo Oli Top 1 ... 2
Gambar 1.2 Cuplikan Iklan Top 1 ... 8
Gambar 2.1 Model Perilaku Konsumen Menurut Kotler... 22
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ... 27
Gambar 4.1 Pendiri Top 1 Oil Company ... 40
Gambar 4.2 Perusahaan Top 1 di California, Amerika Serikat ... 42
Gambar 4.3 Grafik Histogram Uji Normalitas ... 63
Gambar 4.4 Scatter Plot Uju Normalitas ... 64
DAFTAR LAMPIRAN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya iklan, bahasa iklan, model iklan, dan pesan iklan terhadap minat beli masyarakat Perumnas Simalingkar Medan terhadap Oli Top 1.
Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode kuantitatif. Pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Pengerjaan metode analisis data menggunakan bantuan SPSS 15,0 for Windows. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakan 96 responden masyarakat Perumnas Simalingkar Medan sebagai sampel penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, analisis data dengan metode analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa gaya iklan, bahasa iklan, model iklan, dan pesan iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha V-Ixion pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan uji signifikan parsial (uji-t) bahwa dari keempat variabel bebas yang paling dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah variabel pesan iklan (X4). Nilai R sebesar 0,748 berarti hubungan antara
variabel gaya iklan (X1), bahasa iklan (X2), model iklan (X3), dan pesan iklan (X4)
terhadap minat beli (Y) sebesar 74,8% yang berarti hubungannya sangat erat.
ABSTRACT
This study purposes were to determined the influence of style (X1),
language (X2), model (X3), and message (X4) of the advertisement towards buying
desire of Top 1 oil for people who live at Simalingkar complex in Medan city. This research was a type of explanatory research, that was research to be learned according to the levels that was based on the goals and objects. The populations in this study were people who live at Simalingkar complex. Then the data collection method in this study was a questionnaire and documentation studied. Data processing was using the SPSS version 15,0 software for widows. Methods of data analysis was using descriptive method and quantitative method that was multiple linear regression analysis used to measured the influence of style, language, model, and message of the advertisement towards buying desire of Top 1 oil for people who live at Simalingkar complex in Medan city.
Based on F test the independent variable (style, language, model, and message) together have a positive and significant influence on the dependent variable (buying desire). Through testing the correlation coefficient (R) obtained the level of correlation or relationship between style, language, model, and message of the advertisement toward the purchase of Top 1 oil were a sufficient relationship. Message of the advertisement factor has the most dominant effect on buying desire of Top 1 oil for people who live at Simalingkar complex.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Sarana transportasi telah menjadi bagian yang penting dari kehidupan manusia pada saat ini. Hal ini dikarenakan transportasi merupakan salah satu sarana utama bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnnya dengan cepat. Seiring dengan perkembangan teknologi dan pembangunan yang ada di segala bidang saat ini, perkembangan sarana transportasi pun telah berlangsung dengan cepat. Mulai dari sarana transportasi yang sederhana sebelum tahun 1990 sampai dengan sarana transportasi yang mewah telah banyak kita jumpai di Abad 21 ini.
Semakin majunya teknologi berdampak ke banyaknya perusahaan-perusahaan yang menciptakan kendaraan-kendaraan yang sangat canggih agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Dengan semakin banyaknya sarana transportasi yang ada, maka timbul pula kebutuhan untuk merawat mesin kendaraan tersebut. Apa lagi apabila kendaraan tersebut mahal dan sangat berharga, maka pemiliknya tentu saja akan melakukan segala cara agar kendaraannya bisa tetap pada kondisi yang terbaik dan tahan lama.
menciptakan produk-produk yang memiliki kualitas tinggi dengan menggunakan teknologi-teknologi yang canggih untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Top 1 Oil Products Company sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pelumas juga melihat keadaan tersebut sebagai peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Sejak berdirinya pada tahun 1979 di California AS, Top 1 telah berkembang menjadi salah satu perusahaan pengekspor pelumas terbesar di Amerika Serikat terutama di negara bagian California. Hal ini dapat dilihat dari penghargaan yang diterima Top 1 pada tahun 1984, yaitu penghargaan “State of California’s Exporter of the Year” atas kontribusi ekspor yang diberikan kepada
negara bagian Californi
Sumber:
Gambar 1.1 Logo Oli Top 1
berkualitas, membuat Top 1 harus bekerja keras untuk menciptakan produk-produk baru yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen tersebut.
Dalam perjalanannya Top 1 telah menciptakan berbagai macam jenis pelumas, baik produk untuk mobil maupun untuk sepeda motor. Salah satu produk untuk mobil yaitu Top 1 Zenzation, Top 1 Super Plus, dan Top 1 HP Plus. Sedangkan produk yang untuk motor salah satunya Top 1 Action Matic, Top 1 Action-1, dan Top 1 Action Plus.
Produk terbaru yang diciptakan perusahaan Top 1 adalah Top 1 Action Matic, yaitu pelumas khusus yang diciptakan untuk motor matic. Sebagaimana kita ketahui bahwa motor matic akhir-akhir ini sangat banyak diminati masyarakat. Hal ini disebabkan karena motor matic adalah motor yang simple, karena pengendara tidak perlu menaikkan atau menurunkan gear (gigi). Melihat peluang bisnis tersebut, maka Top 1 menciptakan produk yang khusus untuk motor matic mengingat masih sangat sedikit perusahaan yang menciptakan pelumas yang khusus untuk motor matic.
Berdasarkan hasil survei majalah SWA yang bekerja sama dengan lembaga survei MARS . Top 1 berada di peringkat kedua untuk kategori produk mobil, yang hanya kalah dari Mesran, produk Pertamina yang meraih peringkat pertama, disusul berturut-turut Castrol, Pennzoil dan Federal. Sementara itu, di kategori sepeda motor, Top 1 berada pada peringkat pertama disusul Mesran, Castrol, Federal dan Penzoil.
Dari hasil survey tersebut, Top 1 bisa menguasai 29,56% pangsa pasar kategori mobil, yang hanya kalah dari Mesran dengan 38,67% pangsa pasar mobil, dan untuk kategori sepeda motor Top 1 berhasil menguasai 42,72% pangsa pasar, disusul Mesran dengan 26,48% pangsa pasar. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa Top 1 unggul dalam hal Top of Mind Advertising (TOM Ad) yang mampu meraih 26,46%, sedangkan Mesran hanya 16,90%.
Prestasi Top 1 tersebut tidak lepas dari peranan bagian promosi dalam mempromosikan oli Top 1 tersebut. Dalam hal ini, periklanan memiliki peranan yang sangat vital guna menaikkan image Top 1 di mata masyarakat. Tayangan iklan sangat berguna untuk menstimuli atau merangsang panca indera manusia untuk
mengubah sinyal-sinyal yang ditangkap saat melihatnya menjadi tertarik,
menginginkan, mencari bahkan ingin menikmati produk yang diiklankan. Dengan
demikian, perasaan yang ditimbulkan setelah melihat iklan dapat menciptakan atau
mempengaruhi pengambilan keputusan karena adanya iklan dapat membuat
seseorang mengetahui suatu produk.
Menurut Guiltinan (1997:102), iklan akan dapat digunakan untuk mencapai
paling tidak salah satu dari efek berikut, yaitu : tahap kognitif, yang mengindikasikan
bahwa pesan telah diterima; tahap afektif, yang mengindikasikan perkembangan sikap
respon aktual yang dilakukan oleh audience sasaran. Setiap program komunikasi
mempunyai karakteristik yang unik sehingga pemasar harus mempertimbangkannya
agar sesuai dengan harapan yang ingin diraih dari program komunikasi tersebut.
Dan salah satu media yang digunakan untuk iklan adalah media televisi.
Media televisi dinilai lebih baik dalam mengkomunikasikan sebuah iklan
dibandingkan koran, radio, ataupun media promosi luar seperti Billboard. Seperti
yang diungkapkan oleh Schramm dalam Kusnadi (1996:25) bahwa televisi menjadi
sarana yang sangat efektif untuk mempropagandakan hasil produksi dalam mencari
keuntungan secara materi dalam kemasan iklan. Dengan banyaknya televisi di
Indonesia antara lain: TVRI, Indosiar, Metro TV, RCTI, ANTV, Global TV, Trans
TV, Trans7, SCTV, TPI dan TV One semakin menyuburkan produksi iklan di tanah
air, dan menjadikan iklan semakin sulit dipisahkan dalam kehidupan kita.
dibuktikan lewat tanda tangan yang mereka berikan, dan hal ini sering digunakan Top 1 sebagai bahan promosi di televisi.(www.swa.co.id)
Sudah jelas terlihat bahwa iklan dapat menaikkan pangsa pasar sebuah produk. Di dalam iklan sendiri, ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi sukses tidaknya iklan tersebut dalam menarik minat beli konsumen. Dimulai dari gaya iklannya, bahasa iklannya, model iklannya, dan pesan yang ingin disampaikan dalam iklan tersebut (Tjiptono, 2003:81).
Dalam mempromosikan produk terbarunya, yaitu Top 1 Action Matic, Top 1 membuat iklan yang unik dengan menggunakan artis terkenal untuk menjadi bintang iklannya. Hal ini memang menjadi ciri khas Top 1 yang berani menggunakan jasa artis terkenal, jika dibandingkan dengan merek oli lainnya yang sangat jarang menggunakan artis terkenal. Top 1 menggunakan jasa Raffi Ahmad dan Ringgo Agus Rahman sebagai bintang iklannya. Sebagai mana kita ketahui bahwa Raffi dan Ringgo adalah artis yang memiliki kharisma dan image yang lucu di mata masyarakat. Selain itu, iklan tersebut juga sangat menarik, karena dalam iklan tersebut, Top 1 menggunakan bahasa sehari-hari yang sesuai dengan zaman sekarang ini, contohnya kata sapaan “sob” dan “lo”, dan setting iklannya dilakukan di perkotaan yang menggambarkan suasana modern karena iklan tersebut diambil di dekat gedung bertingkat dan banyak mobil yang melintas.
sih?! Aku kan lagi buru-buru ne…” Kemudian Raffi Ahmad datang dengan mengendarai motor matic yang jauh lebih bertenaga dan lebih kencang dibandingkan motor Ringgo, sementara Ringgo sendiri melihat mesin motornya yang panas dan berasap. Kelebihan motor yang dikendarai Raffi digambarkan oleh berdirinya motor Raffi karena tarikan motor yang begitu kuat dan gambar speedometer yang meningkat dengan cepat. Motor tersebut menggunakan oli Top 1 Action Matic sebagai pelumasnya. Karena hal tersebut, wanita yang dibonceng Ringgo berpaling dan naik ke motor yang dikendarai Raffi. Kemudian wanita tersebut mengatakan “sorry yah, aku telat.. ikut Raffi aja deh,,,, daaa…”
Berikut ini beberapa cuplikan gambar yang ada dalam iklan Top 1 Action Matic:
Gambar 1.2 Cuplikan Iklan Top 1
Iklan tersebut menggambarkan perbedaan motor yang memakai oli Top 1 dan yang memakai oli merek lain. Motor yang menggunakan Top 1 jauh lebih bertenaga dibandingkan motor yang tidak memakai Top 1. Dan motor yang bertenaga akan mendapatkan keuntungan lain, yaitu disukai para wanita. Dan untuk menggambarkan tarikan motor yang bertenaga tersebut, iklan tersebut juga manayangkan kerja mesin motor yang menggunakan oli Top 1 yang selalu dilapisi oli Top 1 agar meminimalisir gesekan mesin yang terjadi saat motor dihidupkan. Iklan ini juga memiliki pesan yang disampaikan oleh Raffi, yaitu: “motor matic, pakek Top 1 Action Matic, tarikan enak, gak bikin mesin cepat panas”. Pesan inilah yang diharapkan dapat mempengaruhi persepsi masyarakat yang memiliki motor matic agar segera mengganti oli nya dengan oli Top 1.
Dengan melihat latar belakang yang telah diuraikan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap iklan tersebut untuk mengetahui apakah iklan tersebut berpengaruh positif terhadap pemikiran dan minat beli masyarakat terhadap oli Top 1. Dan peneliti memilih masyarakat Perumnas Simalingkar sebagai objek penelitian, dikarenakan masyarakat Perumnas Simalingkar memiliki status sosial yang bervariasi, baik dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Selain itu peneliti sudah mengenal daerah Perumnas Simalingkar tersebut yang akan memudahkan peneliti untuk memilih responden yang tepat yang akan dapat menggambarkan keseluruhan masyarakat Perumnas Simalingkar.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul : “Analisis Pengaruh Iklan TV Oli Top 1 Terhadap Minat Membeli Masyarakat Perumnas Simalingkar Medan”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah pokok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Apakah iklan Top 1 di Televisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat membeli masyarakat Perumnas Simalingkar Medan?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh iklan oli Top 1 di televisi terhadap minat membeli masyarakat Perumnas Simalingkar Medan.
Sebagai sumbangan informasi dan pengetahuan bagi para pelaku bisnis yang bergerak di bidang pelumas, terutama untuk perusahaan Top 1.
b. Bagi peneliti
Bagi peneliti sendiri adalah untuk mendapatkan keselarasan teori dan praktek terutama mengenai iklan dan pengaruhnya terhadap tindakan pembelian.
c. Bagi pihak lain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Teoretis
2.1.1 Pengertian Promosi dan Bauran Promosi
Promosi mencakup berbagai teknik yang digunakan untuk berkomunikasi dengan para konsumen dan calon potensial konsumen. Bauran promosi meliputi berbagai metode untuk mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa kepada pelanggan potensial dan aktual. Metode-metode tersebut terdiri atas periklanan, penjualan pribadi, promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan pemasaran langsung.
Menurut Sunarto (2004:261), bauran promosi terdiri dari:
2. Penjualan personal (personal selling) yaitu presentasi pribadi oleh para wiraniaga perusahaan dalam rangka mensukseskan penjualan dan membangun hubungan dengan para pelanggan. Penjualan personal adalah alat yang paling efektif pada sejumlah tahap tertentu dalam proses pembelian, khususnya dalam membentuk preferensi, keyakinan, dan tindakan pembeli. Dibandingkan dengan periklanan, penjualan personal memiliki beberapa keunikan. Alat ini melibatkan interaksi pribadi antara dua orang atau lebih, sehingga setiap orang dapat mengamati kebutuhan dan karakteristik pihak lain dan melakukan penyesuaian diri dengan cepat.
3. Promosi penjualan (sales promotion) yaitu insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa. Promosi penjualan meliputi berbagai jenis peralatan kupon, perlombaan, potongan harga, hadiah, dan lain-lain yang semuanya mempunyai keunikan masing-masing. Semuanya menarik perhatian konsumen dan menyediakan informasi yang dapat menghasilkan pembelian. Semuanya dapat mempercepat pembelian dengan menyediakan dorongan atau kontribusi yang dapat memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Cerita, figur, dan berbagai peristiwa tampak lebih nyata dan lebih terpercaya di mata pembaca.
5. Pemasaran langsung (direct marketing) yaitu komunikasi langsung dengan sejumlah konsumen sasaran untuk memperoleh tanggapan langsung melalui penggunaan surat, telepon, faks, e-mail, dan lain-lain. Pemasaran langsung bersifat segera dan khusus. Pesan dapat dibuat dengan cepat, dan dapat disesuaikan agar mengundang ketertarikan konsumen tertentu.
2.1.2 Periklanan
A. Pengertian Iklan
Iklan merupakan suatu proses komunikasi yang bertujuan untuk membujuk atau menggiring orang untuk mengambil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan dengan mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap dan citra konsumen yang berkaitan dengan salah satu produk atau merek (Durianto, dkk, 2003:2).
Menurut Kotler (2001:215), suatu iklan memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Public presentation, iklan memungkinkan setiap orang menerima pesan yang sama tentang produk yang diiklankan.
2. Pervasiveness message, pesan iklan yang sama dapat diulang-ulang untuk memantapkan penerimaan informasi.
3. Amplified expressiveness, iklan mampu mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui gambar dan suara untuk menggugah serta mempengaruhi perasaan publik.
4. Impersonality, iklan tidak bersifat memaksa publik untuk memperhatikan dan menanggapinya, karena merupakan komunikasi yang menolong (satu arah).
B. Tujuan Periklanan
Perusahaan menjalankan aktivitas periklanan dengan tujuan yang berbeda-beda dan berkaitan dengan keadaan perusahaan itu sendiri serta struktur persaingan di pasar. Secara umum, tujuan periklanan mengacu pada keputusan perusahaan tentang penetapan sasaran pasar, penentuan posisi pasar dan marketing mix (Durianto, dkk, 2003:3).
Menurut Kotler dalam Susanto (2001:816), tujuan iklan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
1. Iklan Informatif (Informative Advertising)
fitur-fitur baru dari produk yang sudah ada, menginformasikan perubahan harga dan kemasan produk, menjelaskan cara kerja produk, mengurangi ketakutan konsumen, dan mengoreksi produk. Biasanya jenis iklan ini banyak digunakan secara besar-besaran pada tahap awal peluncuran suatu jenis produk baru dengan tujuan membentuk permintaan awal.
2. Iklan Persuasif (Persuasive Advertising).
Iklan ini dilakukan dengan tahap kompetitif yang bertujuan untuk menciptakan kesukaan, preferensi dan keyakinan sehingga konsumen mau membeli dan menggunakan barang dan jasa, mempersuasif khalayak untuk memilih merk tertentu, menganjurkan khalayak untuk membeli, mengubah persepsi konsumen, membujuk untuk membeli sekarang. Umumnya jenis iklan ini digunakan untuk merek produk yang siklus kehidupannya masih berada pada tahap pertumbuhan (growth stage).
3. Iklan Reminder (Reminder Advertising)
akan produk (consumer’s state of mind). Umumnya iklan jenis ini digunakan pada fase kedewasaan (maturity) suatu merek.
C. Fungsi Iklan
Iklan sebagai teknik penyampaian pesan dalam bidang bisnis yang sifatnya non personal secara teoritik melaksanakan fungsi-fungsi seperti yang dimuat di media massa lainnya (Alo,1997:47).
1. Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran adalah fungsi untuk memenuhi permintaan para pemakai ataupun pembeli terhadap barang-barang ataupun jasa serta gagasan yang diperlukannya.
2. Fungsi Komunikasi
Fungsi komunikasi adalah semua bentuk iklan memang mengkomunikasikan melalui media berbagai pesan dari komunikator kepada komunikan yang terdiri atas sekelompok orang yang menjadi khalayaknya. Sebagai fungsi komunikasi, iklan berisi cerita mengenai suatu produk sehingga harus memenuhi syarat-syarat pemberitaan. 3. Fungsi Pendidikan
psikimotor. Fungsi pendidikan dalam komunikasi harus memberikan pilihan yang bebas dari khalayak untuk mengambil keputusan.
4. Fungsi Ekonomi
Iklan mengakibatkan orang semakin tahu tentang produk-produk tertentu, bentuk pelayanan jasa, maupun kebutuhan serta memperluas ide-ide yang mendatangkan keuntungan finansial.
5. Fungsi Sosial
Iklan juga mempunyai fungsi sosial membantu menggerakkan suatu perubahan standar hidup yang ditentukan oleh kebutuhan manusia di seluruh dunia. Misalnya melalui iklan dapat digerakkan bantuan keuangan, bahan-bahan makanan. Melalui publikasi iklan mampu menggugah pandangan orang tentang suatu peristiwa, kemudian meningkatkan sikap, afeksi yang positif dan diikuti tindakan pelaksanaan nyata atau tindakan sosial.
D. Jenis Iklan
Menurut Lee dan Jhonson (2007:4), iklan terdiri dari: 1. Periklanan produk
2. Periklanan eceran
Periklanan eceran bersifat lokal dan berfokus pada toko, tempat di mana beragam produk dapat dibeli atau di mana satu jasa ditawarkan. Periklanan eceran memberikan tekanan pada harga, ketersediaan, lokasi, dan jam-jam operasi.
3. Periklanan korporasi
Fokus periklanan ini adalah membangun identitas korporasi atau untuk mendapatkan dukungan publik terhadap sudut pandang organisasi. Kebanyakan periklanan korporasi dirancang untuk menciptakan citra menguntungkan bagi sebuah perusahaan dan produk-produknya; meski demikian, periklanan citra secara khusus mengindikasikan kampanye korporasi yang menyoroti keunggulan atau karakteristik menguntungkan dari perusahaan sponsor.
4. Periklanan bisnis ke bisnis
Periklanan yang ditujukan kepada para pelaku industri, para pedagang perantara, serta para profesional.
5. Periklanan politik
Periklanan politik sering kali digunakan para politisi untuk membujuk orang untuk memilih mereka; dan karenanya, iklan jenis ini merupakan sebuah bagian penting dari proses politik.
6. Periklanan direktori
Yellow Pages, meskipun sekarang terdapat berbagai jenis direktori yang menjalankan fungsi serupa.
7. Periklanan pelayanan masyarakat
Periklanan pelayanan masyarakat dirancang untuk beroperasi untuk kepentingan masyarakat dan mempromosikan kesejahteraan masyarakat. Iklan-iklan ini diciptakan bebas biaya oleh para profesional periklanan, dengan ruang dan waktu iklan merupakan hibah oleh media.
8. Periklanan advokasi
Periklanan advokasi berkaitan dengan penyebaran gagasan-gagasan dan klarifikasi isu sosial yang kontroversial dan menjadi kepentingan masyarakat.
E. Televisi Sebagai Salah Satu Media Periklanan
Iklan melalui televisi mempunyai dua segmen dasar yaitu penglihatan (visual) dan (audio), misalnya kata-kata, musik, atau suara lain. Proses penciptaannya biasa dimulai dengan gambar karena televisi lebih unggul di dalam teknik gambarnya yang dapat bergerak. Di samping itu kata-kata dan suara juga harus diperhatikan.
Bentuk-bentuk iklan televisi sangat tergantung pada bentuk siarannya, apakah merupakan bagian dari suatu kongsi, jaringan, kabel, atau bentuk lainnya. Menurut (Khasali, 1992:148) bentuk-bentuk iklan televisi tersebut antara lain adalah :
Merupakan iklan yang penayangannya dan pembuatannya dilakukan atas biaya sponsor atau pengiklan.
2. Partisipasi
Merupakan cara pengiklan dengan menyisipkan iklannya di antara suatu atau beberapa acara (spot). Dalam hal ini pengiklan membeli waktu yang tersedia baik untuk acara yang tetap atau tidak tetap. Tarif iklan pada acara favorit biasanya lebih mahal.
3. Iklan Pergantian Acara (Spot Announcement)
Merupakan pemasangan iklan yang dilakukan pada saat terjadi pergantian acara ditelevisi
4. Iklan Layanan Masyarakat (Public Service Announcement)
Iklan ini biasanya dibuat atas dasar permintaan pemerintah atau suatu lembaga swadaya masyarakat yang biasanya berisi himbauan kepada masyarakat.
2.1.3 Perilaku Konsumen
A. Pengertian Perilaku Konsumen
Ukuran-ukuran besar kecilnya suatu perusahaan dan strategi untuk mendapatkan kedudukan perusahaan yang tepat di pasar akan menentukan laba yang dapat diraihnya. Sebuah faktor kunci adalah strategi penempatan kedudukan perusahaan yang tepat di pasar akan membantu perusahaan untuk menarik minat konsumen membeli produk yang ditawarkan.
yang lebih efektif dan efisien. Perusahaan harus memahami betul siapa pasar sasarannya dan bagaimana perilaku mereka. Konsumen memakai atau membeli produk/jasa adalah untuk memuaskan berbagai keinginan dan kebutuhan. Produk/jasa itu sendiri tidaklah sepenting kebutuhan dan keinginan yang ingin dipenuhinya.
Berbagai macam faktor seperti: faktor psikologis, faktor sosiologis dan faktor antropologis juga menentukan perilaku seseorang untuk memakai produk tersebut. Sedangkan motif, termasuk di dalam faktor psikologis, karena hal tersebut sangat mempengaruhi perilaku konsumen. Sebuah alasan mengapa orang membeli atau memakai produk tertentu ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan program pemasarannya.
Menurut Engel dalam Rangkuti (2003 : 58) perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkomsumsi dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini.
B. Model Perilaku Konsumen
Rangsangan
-Produk -Ekonomi -Budaya -Pengenalan masalah
-Pilihan produk
-Harga -Teknologi -Sosial -Pencarian informasi
-Pilihan merek
-Tempat -Politik -Pribadi -Evaluasi -Pilihan penyalur
-Promosi -Budaya -Psikologis -Keputusan -Waktu pembelian
-Perilaku
pasca pembelian
-Jumlah
Sumber : Kotler (2007)
Gambar 2.1
Model Perilaku Konsumen Menurut Kotler
2.1.4 Minat Beli
(4) minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Dalam Sutantio (2004:253) dikatakan bahwa dalam ekstensi merek, apabila calon pembeli sudah mempunyai cukup informasi mengenai merek induk dan sudah terbentuk persepsi, apabila persepsi tersebut positif maka calon pembeli tersebut biasanya akan tertarik untuk membeli produk ekstensi yang ditawarkan, terutama apabila mereka melihat bahwa produk ektensi tersebut mempunyai kaitan yang logis dengan produk dari merek induk.
Oleh karena itu minat beli konsumen oleh beberapa peneliti terdahulu sering digunakan sebagai indikator kesuksesan suatu produk di pasar. Dalam penelitiannya Samu (dalam Sutantio 2004:253) menunjukkan bahwa salah satu indikator bahwa suatu produk perusahaan sukses atau tidaknya di pasar adalah seberapa jauh tumbuhnya minat beli konsumen terhadap produk tersebut. Sementara itu Mital (dalam Sutantio 2004:253) mengatakan bahwa salah satu indikasi sukses tidaknya suatu produk adalah besarnya minat membeli konsumen terhadap produk yang bersangkutan.
2.1.5 Teori AIDDA
Mengingat iklan merupakan suatu proses atau kegiatan komunikasi yang melibatkan pihak perusahaan dan masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa AIDDA adalah teori yang sesuai untuk melihat tahapan iklan tersebut.
membangkitkan perhatian atau attention. Dalam hubungan ini komunikator harus menimbulkan daya tarik.
Dimulainya komunikasi dengan membangkitkan perhatian akan menjadi suatu awal suksesnya proses komunikasi. Apabila perhatian komunikan telah terbangkitkan, hendaknya disusun dengan upaya menumbuhkan minat atau interest, yang merupakan derajat yang lebih tinggi dari perhatian. Minat merupakan kelanjutan dari perhatan yang merupakan titik tolak bagi timbulnya suatu hasrat atau desire untuk melakukan suatu kegiatan yang diharapkan oleh komunikator. Jika hanya ada hasrat saja pada diri komunikan, maka bagi komunikator ini belum berarti apa-apa sebab harus dilanjutkan dengan datangnya keputusan atau decision, yaitu keputusan untuk melakukan kegiatan atau action sebagaimana yang diharapkan oleh komunikator (Khasali, 1992 : 83).
2.2 Penelitian Terdahulu
Fardinal (2005) telah melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Iklan Klaim Riset Sampo Rejoice Terhadap Keputusan Pembelian Pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi USU”. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh variabel iklan klaim, pengenalan merek, keyakinan konsumen, dan sikap konsumen terhadap niat beli adalah signifikan dan terdapat variabel antara dan variabel bukan antara dari pengenalan merek, keyakinan konsumen, dan sikap konsumen terhadap niat beli.
Fakultas Ekonomi USU”. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh variabel iklan, pengenalan merek, keyakinan konsumen, dan sikap konsumen terhadap niat beli adalah signifikan dan terdapat variabel antara dan bukan antara dari pengenalan merek, keyakinan konsumen, dan sikap konsumen terhadap niat beli. Penelitian ini sendiri menggunakan Consumer Decision Model (CDM) sebagai dasar variabel-variabel dalam penelitiannya, yaitu iklan (F), pengenalan merek (B), kepercayaan konsumen (C), sikap konsumen (A), keputusan pembelian (I).
2.3 Kerangka Konseptual
Iklan adalah segala bentuk penyajian non-personal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembiayaan. Kemudian iklan juga diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli. Pada akhirnya iklan bisa memelihara citra produk bahkan perusahaan dibenak konsumen. Jika suatu perusahaan ingin mempertahankan kekuatan mereknya, maka perusahaan tersebut harus melakukan periklanan secara efektif dan berkelanjutan (Kotler, 2005 : 236).
iklan tersebut (Tjiptono, 2003:81). Berdasarkan teori pendukung yang ada, maka kerangka konseptual pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Sumber : Tjiptono (2003) diolah peneliti Gambar 2.2 Kerangka Konseptual
2.4 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini adalah: “Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara iklan Top 1, berupa gaya, bahasa, model, dan pesan iklan di televisi terhadap minat membeli masyarakat Perumnas Simalingkar Medan”.
Minat Beli
Konsumen
(Y)
Gaya (X
1)
Bahasa (X
2)
Model (X
3)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menurut Ginting dan Situmorang (2008:77) penelitian kuantitatif ialah penelitian yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penelitiannya mempergunakan aspek pengukuran, perhitungan, rumus dan kepastian data numerik.
Penelitian ini juga merupakan penelitian menurut tingkat eksplanasi (penjelasan), penelitian ini dapat dikaji menurut tingkatannya yang didasarkan kepada tujuan dan objeknya. Pada tingkat eksplanasi penelitian termasuk kedalam penelitian asosiatif, yakni penelitian yang menghubungkan dua variabel atau lebih untuk melihat pengaruh (Sugiyono, 2006:6)
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2011 sampai dengan Oktober 2011 yang berlokasi di Perumnas. Simalingkar Medan.
3.3 Batasan Operasional
Adapun batasan operasional penelitian ini yaitu, sebagai berikut :
(X2), Model Iklan (X3), dan Pesan Iklan (X4) dengan minat membeli konsumen
sebagai variabel terikat (Y). 3.4 Operasionalisasi Variabel
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan penelitian maka perlu defenisi variabel-variabel yang akan diteliti sebagai berikut:
1. Iklan Top 1 di Televisi (X)
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan iklan Top 1 di televisi adalah iklan Top 1 yang hadir di berbagai stasiun televisi swasta yang ada di televisi. Meliputi :
1. Gaya iklan (X1), yaitu visualisasi iklan berupa gambar yaitu berupa
cara pengambilan gambar dan lokasi pengambilan gambar; serta tayangan-tayangan yang ditampilkan pada iklan tersebut.
2. Bahasa iklan (X2), yaitu sejauh mana bahasa / kata-kata yang
disajikan pada iklan tersebut mampu menarik dan dimengerti oleh responden.
3. Model iklan (X3), yaitu orang yang membintangi iklan tersebut.
4. Pesan iklan (X4), yaitu informasi tentang produk yang ingin
disampaikan oleh pengiklan kepada konsumen.
2. Minat Beli Masyarakat Perumnas. Simalingkar Medan (Y) Dalam hal ini yang diamati adalah aspek :
a. Kognitif (kesadaran dan pengetahuan)
sedemikian rupa dengan gaya bahasa yang tepat sehingga kelihatan menarik.
b. Afektif (sikap atau perasaan / emosi)
1. Interest (minat), yaitu setelah perhatian khayalak terfokus pada iklan yang dimuat, maka perhatian tersebut dapat menjadi minat yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu lebih jauh mengenai produk tersebut.
2. Desire (keinginan), yaitu kebutuhan atau keinginan khayalak untuk membeli atau memiliki, memakai sesuatu harus dibangkitkan, yaitu dari proses adanya rasa ketertarikan terhadap iklan kemudian timbul keinginan untuk membeli atau memiliki.
3. Decision (keputusan), yaitu tahap di mana kebutuhan khayalak telah berhasil diciptakan.
Tabel 3.1
Operasonalisasi Variabel
Variabel Indikator Skala Ukur
Gaya iklan (X1)
a. Gambar yang ditayangkan
b. Cara pengambilan gambar Likert Bahasa Iklan (X2) a. Bahasa yang digunakan Likert
Model Iklan (X3)
b. Daya tarik pesan Likert
Minat Beli (Y)
a. Kognitif (kesadaran dan pengetahuan) - Attention (perhatian)
b. Afektif (sikap atau perasaan) - Interest (minat)
- Desire (keinginan)
c. Konatif (perilaku atau tindakan) - Decision (keputusan)
Likert
3.5 Skala Pengukuran Variabel
Pada proses pengolahan data, untuk menghitung masing-masing indikator, maka akan digunakan skala Likert, di mana item-item yang relevan dengan apa yang ingin diketahui, kemudian responden diminta untuk memberikan jawaban yang paling sesuai dengan pendapatnya. Skala Likert menggunakan lima tingkatan jawaban, yakni:
a. Sangat setuju : diberi skor 5
b. Setuju : diberi skor 4
c. Kurang setuju : diberi skor 3 d. Tidak setuju : diberi skor 2 e. Sangat tidak setuju : diberi skor 1
Pada penelitian ini responden diharuskan memilih salah satu dari sejumlah kategori jawaban yang tersedia, kemudian masing-masing jawaban diberi skor tertentu (misalnya 1,2,3,4,5). Skor responden dijumlahkan dan juml;ah ini merupakan total skor. Total skor inilah yang akan ditafsir sebagai posisi responden dalam Skala Likert.
3.6 Populasi dan Sampel 1. Populasi
2. Penarikan Sampel
Sampel adalah suatu bagian dari populasai yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya (Ginting dan Situmorang, 2008:125). Menurut Supramono dan Haryanto (2003:63), alternatif formula yang digunakan untuk menentukan sampel pada populasi sulit untuk diketahui (unidentified) adalah sebagai berikut:
n=
Di mana:
n = jumlah sampel
Zα = nilai standar normal yang besarnya tergantung α Bila α = 0,05 maka Z = 1,67
Bila α = 0,01 maka Z = 1,96 p = estimator proporsi populasi
q = 1- p
d = Penyimpangan yang ditolerir = 10%
Peneliti memperoleh jumlah sampel yang besar dan nilai (p) belum diketahui, maka dapat digunakan nilai p = 0,5. Sehingga jumlah sampel menjadi:
n =
n = 96,04 dibulatkan menjadi 96 orang.
orang yang kebetulan ditemui di Perumnas Simalingkar itu dapat dijadikan sebagai sumber data, dengan kriteria tertentu, yaitu orang tersebut tinggal di Perumnas Simalingkar, punya motor matic, dan merupakan pengguna oli Top 1. (Ginting dan Situmorang, 2008: 141).
3.7 Metode Pengumpulan Data 1. Daftar Pertanyaan (kuesioner)
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab.
2. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan data melalui buku, jurnal, dan internet yang menjadi bahan referensi pendukung bagi peneliti.
3.8 Jenis Data
Pada penelitian yang dilakukan, peneliti menggunakan dua jenis data untuk membantu memecahkan masalah yaitu:
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari responden terpilih pada lokasi penelitian. Yaitu data yang diperoleh dari Kuesioner yang diberikan kepada respoden yang dipilih.
3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner yang baik tentunya harus terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Rangkaian penelitian harus dilakukan dengan baik demi mendapatkan hasil penelitian yang berkualitas.
1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengukur apakah data yang telah didapat setelah penelitian merupakan data yang valid dengan alat ukur yang digunakan (kuesioner). Uji validitas ini dilakukan kepada 30 orang masyarakat Perumnas Simalingkar di luar sampel. Pengujian dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Program for Social Sciences)15.0 for Windows dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika rhitung > rtabel maka pertanyaan dinyatakan valid
2. Jika rhitung < rtabel maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan (kuesioner) menunjukkan konsistensi dalam mengukur gejala yang sama. Pengujian dilakukan dengan menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Butir pertanyaan yang sudah dinyatakan valid dalam uji validitas, ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika ralpha > rtabel maka pertanyaan dinyatakan reliabel
2. Jika ralpha < rtabel maka pertanyaan dinyatakan tidak reliable
Metode analisis deskriptif adalah metode penganalisaan yang dilakukan dengan cara menentukan data, mengumpulkan data, dan menginterpretasikan data sehingga dapat memberikan gambaran masalah yang dihadapi.
b. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan analisis regresi, agar dapat perkiraan yang tidak bias dan efisiensi maka dilakukan pengujian asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu: 1. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan Kolmogrov Smirnov. Dengan menggunakan tingkat signifikan 5% maka jika nilai Asymp.sig. (2-tailed) diatas nilai signifikan 5% artinya variabel residual berdistribusi normal (Situmorang, 2008:62).
2. Uji Heteroskedastisitas
Adanya varians variabel independen adalah konstan untuk setiap nilai tertentu variabel independen (homokedastisitas). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji Park dengan pengambilan keputusan jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadinya heteroskedastisitas. Jika probabilitas signifikannya diatas tingkat kepercayaan 5% dapat disimpulkan model regresi tidak mengarah adanya heteroskedastisitas (Situmorang, 2008: 63).
3. Uji Multikolinearitas
tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari besarnya nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) melalui program SPSS. Tolerance mengukur variabilitas variabel terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai umum yang biasa dipakai adalah nilai Tolerance > 1 atau nilai VIF < 5, maka tidak terhadi multikolinearitas (Situmorang, 2008: 104).
c. Analisis Regresi Linier Berganda
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistis regresi linier berganda. Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh hubungan dari variabel-variabel independen dan variabel dependen. Metode regresi linier berganda dalam penelitian ini menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Adapun model persamaan yang digunakan menurut Sugiyono (2006:211), yaitu:
Y = a + b1X1 +b2X2+b3X3+b4X4+ e
Di mana:
Y = Minat Beli
a = Konstanta
b1,b2,b3,b4 = Koefisien Regresi
X1 = Gaya Iklan
X2 = Bahasa Iklan
X3 = Model Iklan
e = Standard Error
Model regresi yang sudah memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan digunakan untuk menganalisis data, melalui pengujian hipotesis sebagai berikut:
a) Uji F
Uji F statistik dilakukan untuk melihat secara bersama-sama apakah ada pengaruh positif dan signifikan dari variaber bebas (X1,X2,X3,X4) terhadap
variabel terikat (Y). Model hipotesis digunakan dalam uji F statistik ini adalah:
H0:b1=b2=b3=b4=0, artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak
berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat.
H0:b1≠b2≠b3≠b4≠0, artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh
positif dan signifikan terhadap variabel terikat.
Nilai F statistik akan dibandingkan dengan nilai F tabel dengan tingkat kesalahan (α) = 5%. Kriteria yang digunakan:
H0 diterima bila Fhitung < F tabel
Ha diterima bila Fhitung > F tabel
b) Uji t
Dilakukan untuk menguji setiap variabel bebas (X) apakah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (Y) secara parsial.
H0 : b1,b2,b3,b4 = 0, artinya secara parsial tidak dapat pengaruh yang positif
dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Ha : b1,b2,b3,b4 ≠ 0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan
signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Kriteria pengambilan keputusan:
H0 diterima jika thitung < ttabel pada α = 5%
Ha diterima jika thitung > ttabel pada α = 5%
c) Pengujian Koefisien Determinan (R2)
Koefisien determinan (R2) pada intinya mengukur seberapa kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. Jika R2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1,X2,X3,X4)
adalah besar terhadap variabel terikat (Y). Hal ini berarti model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat. Sebaliknya, jika R2 semakin mengecil (mendekati nol), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X1,X2,X3,X4) terhadap variabel terikat (Y) semakin lemah. Hal ini berarti
model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1 Sejarah Oli Top 1
Sepak terjang TOP 1 dimulai 37 tahun yang lalu, saat William Arthur Ryan bertekad untuk memulai TOP 1 Oil Products Company, dengan visi untuk menjadi perusahaan penyedia pelumas berkualitas tinggi dari Amerika ke seluruh dunia. Kariernya yang dimulai pada bidang kemiliteran dan jauh dari dunia bisnis dan perdagangan, tidak lantas membuatnya menyerah. Dan terbukti, ia mampu merambah pangsa pasar Asia, Amerika Latin dan Eropa.
Sumber: (www.top1.co.id)
Gambar 4.1
Pendiri Top 1 Oil Company
Sebuah kebanggaan bagi dirinya dan keluarganya, mengemban tugas negara dan menjadi bagian dari Tim Intelejen Angkatan Darat Amerika Serikat, di bawah komando Jenderal MacArthur. Kepercayaan pimpinan perang tertinggi Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II terhadapnya, membuat ia dipercaya untuk mengemban tugas di wilayah Pasifik.
bergabung dengan satuan khusus dibawah Jenderal MacArthur yang bermarkas besar di Tokyo.
Ia mengawali tugasnya pada bulan September 1945, di Yokohama (Jepang), dan dipercaya menjadi bagian dari Tim Ilmiah & Ekonomi yang bertanggung jawab untuk membangun kembali ekonomi Jepang, hingga tahun 1948. Selama di Jepang, William A Ryan menjalin hubungan yang sangat erat dengan kaum industriawan yang berorientasi masa depan perekonomian Jepang, seperti Hattori (pendiri perusahaan jam Seiko), Shoichiro Honda (pendiri Honda), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pada tahun 1950 William A Ryan bergabung dengan perusahaan suku cadang otomotif Amerika Serikat, dengan jabatan sebagai Manajer Pemasaran Internasional hingga 1974. Disinilah seluruh keluarga William A Ryan menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Jepang. Kecintaannya dan kepedulian sosialnya yang tinggi kepada anak-anak, membuatnya mengangkat keluarga yang berjumlah 13 anak, selama ia berada di Jepang.
Dengan jam terbang yang cukup tinggi dalam menggeluti suku cadang otomotif selama kurun waktu 1950-1974 di Jepang, membuatnya yakin bahwa trend produksi mobil dan komponen otomotif akan bergeser, dari Amerika Serikat (Detroit) ke Jepang, kemudian ke Taiwan, Korea, Brasil dan akhirnya ke China.
Pada tahun 1974, pengakuan global terhadap negara Amerika Serikat sebagai produsen pelumas dengan kualitas terbaik di dunia, meyakinkannya untuk mendirikan sebuah perusahaan pelumas yang menawarkan pelumas kualitas tertinggi dari Amerika Serikat ke seluruh bagian dunia.
Sumber: (www.top1.co.id)
Gambar 4.2
Perusahaan Top 1 di Callifornia, Amerika Serikat
Dan setelah melalui perjalanan proses panjang, akhirnya pada tahun 1979 TOP 1 Oil Products Company didirikan, dengan visi menyediakan pelumas berkualitas bagi konsumen di seluruh dunia. Setelah lebih dari 30 tahun berjalan, TOP 1 telah berkembang menjadi suatu organisasi yang jauh lebih besar, namun tetap berpegang pada visi awalnya.
Saat ini, TOP 1 merupakan salah satu eksportir pelumas berkualitas tinggi terbesar di Amerika bagi mayoritas negara-negara di Asia dan Amerika Latin. TOP 1 adalah perusahaan yang berkembang pesat dengan berbagai cakupan lini produk terlengkap yang kualitasnya telah diakui dunia.
4.1.2 Perjalanan Top 1 di Indonesia
Setelah melalui beberapa tahun memasarkan produknya di Indonesia, baru pada tahun 2001, Top 1 mulai diakui sebagai oli yang berkualitas yang dapat dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diterimanya. Penghargaan tersebut antara lain:
1. Indonesia Customer Satisfaction Award (2001-2010)
Penghargaan ini diraih oleh TOP 1 untuk kategori Pelumas Mobil dan penghargaan Diamond untuk kategori Pelumas Motor karena untuk kategori ini, TOP 1 telah berhasil meraih penghargaan 10 kali berturut-turut. Penghargaan ini berhasil diraih oleh TOP 1 karena berdasarkan survey Independent Frontier terhadap ribuan responden di seluruh Indonesia, oli TOP 1 baik oli motor dan oli mobil dinilai “memuaskan”.
2. Indonesia Best Brand Award (2003-2010)
TOP 1 meraih penghargaan Indonesia Best Brand Award (IBBA) untuk ke-8 kalinya secara berturut-turut. Prestasi ini diraih berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga survey terkemuka ,TOP 1 dinilai oleh konsumen sebagai “pelumas terbaik”. TOP 1 meraih 2 kategori sekaligus .Golden Brand untuk kategori Pelumas Mobil, karena TOP 1 meraih penghargaan IBBA 4 kali berturut-turut. Dan Platinum untuk kategori Pelumas Motor, karena TOP 1 meraih penghargaan IBBA 6 kali secara beruntun.
3. Superbrands (2004-2010)
Co dan Synovate Indonesia sejak April 2005 yang lalu membentuk tim khusus Indonesia Superbrands Council, yang ditunjuk langsung oleh Superbrands Organization dan terdiri dari pakar-pakar dalam bidang merek dan media.
4. ICLA (2005 - 2006)
Indonesian Customer Loyalty Award merupakan penghargaan yang diberikan oleh majalah SWA Sembada dan bekerja sama dengan Lembaga Riset Independen MARS kepada brand / merek dengan tingkat loyalitas konsumen yang tinggi terhadap produk tersebut. Penelitian ini dilakukan di Lima kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan) dengan mewawancarai sejumlah kuisioner terstruktur yang melibatkan 1700 responden. Loyalitas dalam penelitian ini adalah ukuran kesetiaan dari pelanggan dalam menggunakan suatu merek produk atau merek jasa pada kurun waktu tertentu. Pelanggan yang loyal akan kembali menggunakan produk/ jasa produk tersebut sehingga sales produk tersebut menjadi meningkat dan pada akhirnya profit juga meningkat.
5. Top Brand (2008-2010)
TOP 1 meraih penghargaan Top Brand untuk kategori pelumas motor dan pelumas mobil sekaligus.Penghargaan ini diberikan hail survei terhadap 3000 konsumen di 6 kota besar di Indonesia : Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makasar. TOP 1 dinilai unggul dalam Top of Mind, Market Share dan Loyalitas konsumen di banding pelumas merek lain.
4.1.3 Jenis-jenis Produk Top 1 di Indonesia
Berikut ini adalah beberapa produk pelumas yang diciptakan Top 1, baik yang khusus untuk mobil maupun sepeda motor.
a. Produk pelumas khusus mobil
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
b. Pelumas khusus sepeda motor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
14.
Semua produk tersebut memiliki kelebihan masing-masing yang dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan mobil atau sepeda motor kita. Untuk produk yang khusus mobil kita ambil contoh Top 1 HD Super Plus 15W 50. Kelebihannya antara lain:
1. Kestabilan oksidasi
2. Penguapan ekstra kecil
3. Indeks kekentalan yang ekstra tinggi
4. Memberikan perlindungan ekstra
5. Menjaga kebersihan mesin secara ekstra.
Kemudian kita bandingkan dengan produk khusus mobil lainnya yaitu
1. Indeks viskositas tinggi sehingga oli ini tetap stabil pada perubahan temperatur
2. Hemat BBM
3. Tarikan mobil lebih ringan
4. Melumasi komponen lebih cepat dan merata
5. Mengurangi pembentukan kerak dan keausan akibat gesekan. Dan untuk produk yang khusus sepeda motor, kita ambil contoh Top 1 Action Matic 10W 40, yaitu produk terbaru yang diciptakan Top 1 yang diformulasikan khusus untuk motor matic yang merupakan objek penelitian ini. Kelebihannya antara lain:
2. Perlindungan ekstra terhadap oksidasi
3. Mengurangi tenaga terbuang (power loss)
4. Perlindungan ekstra terhadap gesekan dan keausan.
Dan dapat kita bandingkan dengan pro memiliki kelebihan antara lain:
1. Memberikan perlindungan maksimal terhadap mesin sepeda motor 4T generasi terkini
2. Ekstra perlindungan terhadap kecepatan dan temperatur tinggi
3. Menghasilkan kinerja kopling basah dengan optimum
4. Meminimalisasi keausan pada silinder
5. Mencegah pembentukan deposit pada suhu tinggi.
Dengan banyaknya pilihan produk yang ditawarkan Top 1, diharapkan konsumen akan selalu memilih oli Top 1 sebagai pelumas mobil atau sepeda motornya. Karena setiap produk Top 1 memiliki keunggulan masing-masing. Begitu juga dengan produk terbarunya yaitu Top 1 Action Matic, yang akan menjadi pilihan baru bagi masyarakat yang memiliki motor matic, karena masih jarang sekali ada pelumas yang diformulasikan khusus untuk motor matic (www.top1.co.id).
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Uji Validitas dan Reliabilitas
bantuan software SPSS (Statistic Package and Social Science ) 15.0 for windows dengan cara one shot method artinya pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner cukup dilakukan sekali.
1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 15.0 dengan kriteria sebagai berikut :
a. Jika r hitung > r tabel maka pertanyaan dinyatakan valid.
b. Jika r hitung < r tabel maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.
c. Nilai r hitung dapat dilihat pada kolom corrected item total correlation.
Penyebaran kuesioner khusus dalam uji validitas dan reliabilitas diberikan kepada 30 responden diluar dari responden penelitian, tetapi memiliki karakteristik yang sama dengan responden penelitian. Nilai r tabel dengan
ketentuan df = jumlah kasus = 30 dan tingkat signifikansi sebesar 5% , maka angka yang diperoleh = 0.361.
VAR00011 64.1000 90.852 .562 .882
Sumber : Hasil pengolahan SPSS 15.0 (Juli 2011)
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan valid karena nilai Corrected Item-Total Correlation di atas 0,361. Dengan demikian, kuesioner dapat dilanjutkan pada tahap pengujian reliabilitas.
2. Uji Reliabilitas
Menurut Ghozali dan Kuncoro (dalam Ginting dan Situmorang, 2008:179) butir pernyataan yang sudah dinyatakan valid dalam uji validitas akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut:
1. Menurut Ghozali jika nilai Cronbach's Alpha > 0.60 maka pernyataan reliabel.
2. Menurut Kuncoro jika nilai Cronbach's Alpha > 0.80 maka pernyataan reliabel.
Tabel 4.2 Uji Reliabilitas
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS 15.0 (Juli 2011)
Pada 19 pernyataan dengan tingkat signifikansi 5% diketahui bahwa koefisien alpha (Cronbach's Alpha) adalah sebesar 0.889, ini berarti 0.889 > 0.60 dan 0.889
Cronbach's
Alpha N of Items
> 0.80 sehingga dapat dinyatakan bahwa kuesioner tersebut telah reliabel dan dapat disebarkan kepada responden untuk dijadikan sebagai instrumen penelitian. 4.2.2 Analisis Data
1. Analisis Deskriptif
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pernyataan (kuesioner). Jumlah pernyataan seluruhnya adalah 19 butir pernyataan, yakni tiga butir pernyataan untuk variabel gaya iklan (X1), dua butir pernyataan untuk
variabel bahasa iklan (X2), lima butir pernyataan untuk variabel model iklan (X3),
tiga butir pernyataan untuk variabel pesan iklan (X4) dan enam butir pernyataan
untuk variabel minat beli (Y).
Kuesioner disebarkan kepada Sembilan puluh enam (96) orang masyarakat Perumnas Simalingkar Medan yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur Jumlah Persentase (%)
Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
dengan 46,87% dari jumlah seluruh responden. Data tersebut menggambarkan bahwa usia produktif (21-30 tahun) lebih dominan dalam menggunakan motor matic yang memakai oli Top 1.
b. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Laki-laki 85 88,54
Perempuan 11 11,45
Total 96 100
Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
Pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa responden laki-laki jauh lebih banyak dari responden perempuan, yaitu berjumlah 85 orang (88,54%), sedangkan responden perempuan berjumlah 11 orang (11,45%). Dari data tersebut terlihat jelas bahwa kebanyakan responden berjenis kelamin pria yang menggunakan motor matic dengan pelumas oli Top 1 yaitu sebanyak 88,54% responden. Ini berarti bahwa saat ini pria lah yang lebih tertarik untuk membeli motor matic sebagai kendaraannya, hal ini dapat disebabkan karena saat ini pria lah yang lebih membutuhkan kendaraan untuk setiap aktivitasnya dibanding wanita yang mungkin lebih suka naik kendaraan umum.
c. Karakteristik Responden Berdasarkan Merk Motor Yang Dipakai Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Merk Motor Yang Dipakai
Merk Motor Jumlah Persentase (%)
Honda 36 37,50
Yamaha 42 43,75
Suzuki 18 18,75
Total 96 100
Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa merk Yamaha yang paling mendominasi, dengan jumlah responden 42 orang (43,75%), kemudian Honda yang berjumlah 36 orang responden (37,50%), dan Suzuki dengan jumlah responden sebanyak 18 orang (18,75%). Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa kebanyakan responden menggunakan motor matic yang bermerek Yamaha yaitu dengan 43,75% responden, yang berarti bahwa pengguna motor matic Yamaha lebih tertarik menggunakan oli Top 1 dibanding merek motor matic lain. Dan hal tersebut juga berarti merek motor matic Yamaha lah yang lebih banyak diminati masyarakat karena motor matic Yamaha lah pelopor motor matic di Indonesia. d. Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan/Uang Saku
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan/Uang Saku
Penghasilan/Uang Saku Jumlah Persentase (%)
Rp. 150.000 - Rp. 500.000 37 38,54
Rp. 500.000 - Rp. 1.500.000 30 31,25
Rp. 1.500.000 - Rp. 3.000.000 17 17,70
> Rp. 3.000.000 12 12,50
Total 96 100
Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
150.000-500.000 adalah uang saku rata-rata pelajar atau mahasiswa perbulannya, atau bahkan ada yang lebih dari 500.000 rupiah.
b. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Gaya Iklan, Bahasa Iklan, Model Iklan, Pesan Iklan, dan Minat Beli .
Tabel 4.7
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Gaya Iklan (X1)
No Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa:
1. Pada pernyataan pertama, dari 96 responden terdapat 4,2% menyatakan sangat setuju bahwa cara pengambilan gambar dalam iklan Top 1 menarik karena sudut pengambilan gambarnya tepat, 63,5% menyatakan setuju, 28,1% menyatakan kurang setuju, 3,1% menyatakan tidak setuju, dan 1,0% menyatakan sangat tidak setuju.
2. Pada pernyataan kedua, dari 96 responden terdapat 6,3% menyatakan sangat setuju bahwa gambar-gambar yang ditayangkan dalam iklan Top 1 menampilkan warna-warna yang menarik., 63,5% menyatakan setuju, 27,1% menyatakan kurang setuju, 3,1% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
40,6% menyatakan kurang setuju, 10,4% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
Dari hasil penelitian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa gaya iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 tersebut tidak terlalu menarik perhatian masyarakat, karena dari tiga pernyataan yang ada, terdapat cukup banyak responden yang menyatakan kurang setuju. Dari pernyataan pertama terdapat 28,1% responden yang menyatakan kurang setuju, pada pernyataan kedua terdapat 27,1% masyarakat yang kurang setuju, dan pada pernyataan ketiga yang paling harus diperhatikan yaitu pernyataan bahwa lokasi pengambilan gambar dalam iklan Top 1 menggambarkan kehidupan modern masa kini, karena terdapat 40,6% responden yang kurang setuju dan 10,4% menyatakan tidak setuju. Jadi gaya iklan Top 1 ini harus lebih dapat diperhatikan Top 1 dalam membuat iklan-iklan selanjutnya.
Tabel 4.8
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Bahasa Iklan (X2)
No Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa:
2. Pada pernyataan kedua, dari 96 responden terdapat 19,8% menyatakan sangat setuju bahwa bahasa yang digunakan dalam iklan Top 1 mudah dimengerti, 62,5% menyatakan setuju, 17,7% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
Dari kedua pernyataan pada variabel bahasa iklan tersebut, dapat kita lihat bahwa responden merasa cukup puas dengan bahasa yang digunakan Top 1 dalam iklannya tersebut. Terlihat dari pernyataan pertama, yakni ada 27,1% yang menyatakan sangat setuju dan 57,3% menyatakan setuju. Dan pada pernyataan kedua ada 19,8% menyatakan sangat setuju dan 62,5% yang menyatakan setuju. Ini berarti bahwa bahasa sehari-hari yang menarik dan bahasa yang mudah dimengerti benar-benar bisa menarik perhatian masyarakat untuk melihat iklan yang disajikan.
Tabel 4.9
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Model Iklan (X3)
No Item
STS TS KS S SS Total
F % F % F % F % F % F %
1 0 0 6 6,3 30 31,3 59 61,5 1 1,0 96 100 2 0 0 3 3,1 24 25,0 52 54,2 17 17,7 96 100 3 1 1,0 0 0 9 9,4 70 72,9 16 16,7 96 100 4 0 0 4 4,2 25 26,0 52 54,2 15 15,6 96 100 5 0 0 2 2,1 13 13,5 67 69,8 14 14,6 96 100 Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
1. Pada pernyataan pertama, dari 96 responden terdapat 1,0% menyatakan sangat setuju bahwa model iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 mempunyai kharisma, 61,5% menyatakan setuju, 31,3% menyatakan kurang setuju, 6,3% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
2. Pada pernyataan kedua, dari 96 responden terdapat 17,7% menyatakan sangat setuju bahwa model iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 sangat populer, 54,2% menyatakan setuju, 25,0% menyatakan kurang setuju, 3,1% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
3. Pada pernyataan ketiga, dari 96 responden terdapat 16,7% menyatakan sangat setuju bahwa model iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 memiliki karakter lucu, 72,9% menyatakan setuju, 9,4% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 1,0% menyatakan sangat tidak setuju.
4. Pada pernyataan keempat, dari 96 responden terdapat 15,6% menyatakan sangat setuju bahwa model iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 ber-image baik, 54,2% menyatakan setuju, 26,0% menyatakan kurang setuju, 4,2% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
kurang setuju, 2,1% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
Dari hasil penelitian, pada variabel model iklan ini, yang paling menonjol adalah pada pernyataan pertama, karena ada 31,3% responden yang kurang setuju kalau model iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 mempunyai kharisma. Begitu juga pada pernyataan kedua dan keempat. Ada 25% responden yang kurang setuju bahwa model iklan yang digunakan Top 1 sangat populer dan 26,0% responden yang menyatakan kurang setuju bahwa model iklan yang digunakan dalam iklan Top 1 ber-image baik. Namun untuk keseluruhan, variabel model iklan ini cukup baik, karena dari lima pernyataan yang ada, persentase responden yang setuju adalah di atas 54%, jadi lebih dari setengah responden menyatakan model iklan yang digunakan cukup menarik.
Tabel 4.10
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Pesan Iklan (X4)
No Item
STS TS KS S SS Total
F % F % F % F % F % F %
1 0 0 6 6,3 16 16,7 66 68,8 8 8,3 96 100 2 1 1,0 3 3,1 23 24,0 61 63,5 8 8,3 96 100 3 0 0 2 2,1 16 16,7 69 71,9 9 9,4 96 100 Sumber: Data primer diolah peneliti (Oktober 2011)
Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat bahwa:
16,7% menyatakan kurang setuju, 6,3% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
2. Pada pernyataan kedua, dari 96 responden terdapat 8,3% menyatakan sangat setuju bahwa pesan yang diutarakan sangat jelas, 63,5% menyatakan setuju, 24,0% menyatakan kurang setuju, 3,1% menyatakan tidak setuju, dan 1,0% menyatakan sangat tidak setuju.
3. Pada pernyataan ketiga, dari 96 responden terdapat 9,4% menyatakan sangat setuju bahwa pesan yang diutarakan dapat menerangkan kelebihan Top 1, 71,9% menyatakan setuju, 16,7% menyatakan kurang setuju, 2,1% menyatakan tidak setuju, dan 0% menyatakan sangat tidak setuju.
Dari hasil penelitian pada variabel pesan iklan, dapat kita lihat bahwa kebanyakan responden setuju dengan pernyataan yang diberikan. Pada pernyataan pertama 68,8% responden yang setuju bahwa pesan yang ditampilkan dalam iklan Top 1 menarik dan menciptakan rasa penasaran. Pada pernyataan kedua, ada 63, 5% responden yang setuju bahwa pesan yang diutarakan sangat jelas. Dan pada pernyataan ketiga ada 71,9% responden yang setuju bahwa pesan yang disampaikan dapat menerangkan kelbihan Top 1. Jadi sangat jelas bahwa pesan yang diutarakan dalam iklan Top 1 bisa menarik perhatian masyarakat.
Tabel 4.11