HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEMAMPUAN PERAWATAN DIRI LANSIA DENGAN PERUBAHAN KONSEP DIRI LANSIA
DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DAN ANAK BALITA WILAYAH BINJAI DAN MEDAN
SKRIPSI Oleh
Febrina Angraini S 071101055
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Hubungan antara Tingkat Kemampuan Perawatan Diri Lansia dengan Perubahan
Konsep Diri Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita
wilayah Binjai dan Medan ”.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan dalam proses penyelesaian
skripsi ini, sebagai berikut:
1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Ismayadi, S.Kep, Ns selaku dosen pembimbing yang senantiasa
memberikan waktu untuk membimbing dan memberikam masukan yang
sangat berharga dalam penulisan skripsi ini.
3. Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS selaku dosen penguji I.
4. Ibu Lufthiani S.Kep, Ns selaku dosen penguji II.
5. Ibu Nur Asiah, S.Kep, Ns selaku dosen pembimbing akademik.
6. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada
penulis.
7. Pihak UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan
8. Terima kasih kepada Ayahanda Morhan Simamora dan Ibunda Rosmawar
Dalimunthe tercinta yang selalu mendoakan dan menyayangi, memberikan
dukungan baik moril maupun materil, dan senantiasa memberikan yang
terbaik untuk penulis. Terima kasih juga penulis ucapkan untuk
saudara-saudaraku tercinta : Ali marzuki, Dinul Fazry, Latifa Hannum, dan Hijrah
Nopriyanti yang senantiasa memberikan doa dan dukungan untuk penulis.
9. Kepada sahabat-sahabat terbaikku, Marliyani, Dita, Novri, Istik, Amel, Fitri,
Pipit dan kak Eka yang selalu, membantu dan mendukung dalam
perkuliahanku, terima kasih atas kritik, saran, dan segala canda tawa kalian
semua.
10. Teman-teman Fakultas Keperawatan stambuk 2007, Ruth, Dian, Dira, Ami,
Maya dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
11. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu per satu
yang telah mendukung dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi peningkatan dan
pengembangan profesi keperawatan. Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Medan, Juni 2011
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ... i
Prakata ... ... ii
Daftar Isi ... iv
Daftar Tabel ... vi
Daftar Skema ... vii
Abstrak ... viii
Bab 1. Pendahuluan. ... 1
1.Latar Belakang ... 1
2.Perumusan Masalah ... 3
3.Hipotesis ... 4
4.Tujuan penelitian ... 4
5.Manfaat Penelitian ... 5
Bab 2. Tinjauan Pustaka ... 6
1. Lansia ... 6
1.1 Pengertian Lansia ... 6
1.2 Proses Penuaan ... 7
1.3 Teori-Teori Penuaan ... 8
1.4 Tugas Perkembangan Lansia ... 11
1.5 Masalah Lansia ... 11
2. Perawatan Diri ... 12
2.1 Pengertian Perawatan Diri ... 12
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Diri ... 13
2.4 Tingkat Kemampuan Perawatan Diri ... 15
3. Self Care ... 17
3.1 Perawatan Diri Sendiri (Self Care) ... 18
3.2 Self Care Defisit ... 19
4. Konsep Diri ... 19
4.1 Identitas Diri ... 20
4.2 Citra Diri ... 21
4.3 Harga Diri ... 22
4.4 Ideal Diri ... 23
4.5 Peran ... 24
Bab 3. Kerangka Konsep ... 25
1. Kerangka Konseptual ... 25
2. Defenisi Konseptual dan Operasional ... 25
Bab 4. Metodologi Penelitian ... 28
1. Desain Penelitian ... 28
2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28
3. Lokasi dan Waktu Penelitian... 30
4. Instrumen Penelitian ... 30
5. Pertimbangan Etik Penelitian ... 31
6. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 32
7. Pengumpulan Data ... 33
8. Analisa Data ... 35
Bab 5. Hasil dan Pembahasan ... 36
1. Hasil dan Pembahasan ... 36
2. Pembahasan ... 42
Bab 6. Kesimpulan dan Saran ... 51
1. Kesimpulan... 51
2. Saran ... 52
Daftar Pustaka ... 54
Lampiran-lampiran 1. Lembar Bukti Kegiatan Bimbingan skripsi ... 57
2. Lembar Surat Pengambilan Data ... 59
3. Formulir Persetujuan Menjadi Responden ... 63
4. Kuesioner Data Demografi ... 64
5. Kuesioner Tingkat Perawatan Diri (ketergantungan lansia) ... 66
6. Kuesioner Konsep Diri ... 68
7. Uji realibilitas instrumen... 70
8. Hasil data responden ... 71
9. Jadwal penelitian ... 82
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Indeks ADL Barthel ... 16
Tabel 3.1. Variabel Berdasarkan Defenisi Operasional ... 26
Tabel 5.1. Distribusi dan Frekuensi Responden berdasarkan data demografi ... 37
Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentase kemampuan perawatan diri
lansia ... 38
Tabel 5.3. Distribusi frekuensi dan persentase komponen konsep diri lansia ... 40
Tabel 5.4. Distribusi frekuensi dan persentase konsep diri lansia ... 41
Tabel 5.5. Hasil analisa hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri
DAFTAR SKEMA
Judul : Hubungan antara Tingkat Kemampuan Perawatan Diri Lansia dengan Perubahan Konsep Diri Lansia di UPT Pelayanan Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
Nama : Febrina Angraini Simamora
NIM : 071101055
Jurusan : S1 Keperawatan Tahun : 2011
Abstrak
Bertambahnya usia seseorang akan diikuti oleh berbagai perubahan yang berpotensi menimbulkan masalah-masalah kesehatan. Setiap perubahan kesehatan dapat menjadi stressor yang mempengaruhi konsep diri seseorang. Salah satunya adalah adanya perubahan fisik yang mengakibatkan ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dasar sehari-harinya. Perubahan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis, ketidakmampuan dalam melakukan perawatan diri akan mempengaruhi konsep diri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan konsep diri lansia. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Terdapat 50 orang sampel sesuai dengan kriteria sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2011. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji hipotesa Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar lansia masih mandiri dalam transfer, mobilisasi, menggunakan toilet, membersihkan diri dan berpakaian. Mayoritas lansia memiliki konsep diri positif (86%). Hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan konsep diri lansia dianalisis dengan uji spearman
sehingga didapatkan hasil taraf signifikan 0.000 (p<0.05) dan r = 0,571. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan konsep diri lansia.
Lansia seharusnya berusaha lebih aktif dan mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari sehingga tercipta konsep diri yang positif pada lansia. Pada penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan desain prospektif agar lebih dapat mengobservasi faktor resikonya.
Title : The Relationship between the Self-Care Ability of the Elderly and the Change of Self-Concept among Elderly at UPT Pelayanan Lanjut Usia dan Anak Balita (Service for the Elderly and Childrens) Binjai and Medan.
Name : Febrina Anggraini Simamora
Student Number : 071101055
Faculty : Nursing Science
Year : 2011
Abstact
The older a person is, the more potential he gets health problems. The change in health will eventually be the trigger which influences his self-concept. Physical change is one of the causes which make a person unable to fulfill his need for life, especially to fulfill his basic need for everyday activities. The change of the physical condition of the elderly will influence his psychological condition, and his inability to do self-care will influence his self-concept.
This research was aimed to identify the relationship between the ability to do self-care of the elderly and the change of their self-concept. The design of this research was descriptive correlation. There were 50 respondents who were used for the samples which were in accordance with the criteria of research. The samples were taken by using quota sampling technique. The research was conducted from February until April, 2011. The data were collected by using questionnaires and analyzed by using Spearman hypothesis test.
The result of the research showed that the majority of the old-aged were still independent in transferring, mobilizing, using lavatories, taking a bath, and putting on clothes. The majority of them had positive self-concept (86%). The relationship between the self-care of the old-aged and their self-concept was analyzed by using spearman test so that the researcher obtained the significance level of 0.000 (p<0.05) and r = 0.571. The result of the research also showed that there was the relationship between the ability of the elderly to do self-care and their self-concept.
It was suggested that elderly should be independent and actively attempt to do everyday activities so that they would have positive self-concept. It was also suggested that the next research of the same case should use prospective design so that the researcher would observe the risk factors.
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia
harapan hidup (BPS, 2000 dalam Setiawan 2009). Jumlah penduduk lansia di
Indonesia pada tahun 2006 sebesar ±19 juta jiwa dengan usia harapan hidup 66,2
tahun. Pada tahun 2010, diprediksi jumlah lansia sebesar 23,9 juta jiwa dengan
usia harapan hidup 67,4 tahun. Sedangkan pada tahun 2020 diprediksi jumlah
lansia sebesar 28,8 juta jiwa dengan usia harapan hidup 71,1 tahun (Effendi,
2009).
Usia individu tidak dapat dielakkan terus bertambah dan berlangsung
konstan dari lahir sampai mati, sedangkan penuaan dalam masyarakat tidak
seperti itu, proporsi populasi lansia relatif meningkat dibandingkan populasi usia
muda (Clement, 1985 dalam Stanley 2006). Pada hakikatnya menjadi tua
merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupannya, yaitu : masa anak, masa dewasa, dan masa tua. Tiga tahap ini
berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti
mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Penurunan kondisi psikis
pada lansia disebabkan karena demensia di mana lansia mengalami kemunduran
daya ingat dan hal ini dapat mempengaruhi ADL (Activity of Daily Living) yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri, dimulai dari bangun tidur,
Studi penelitian yang dilakukan Lembaga Demografi Universitas
Indonesia pada tahun 1998 menemukan bahwa sekitar 74 persen lansia dinyatakan
mengidap penyakit kronis. Tekanan darah tinggi adalah penyakit kronis yang
banyak diderita lanjut usia, sehingga mereka tidak dapat melakukan aktifitas
kehidupan sehari-hari (Wirakartakusumah, 2000 dalam Setiawan 2009).
Penurunan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis. Dengan
berubahnya penampilan, menurunnya fungsi panca indera menyebabkan lanjut
usia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi
(Setiawan, 2009).
Praktik hygiene (perawatan diri) lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan. Selain keterbatasan dalam kemampuan perawatan diri (self care), lansia juga memiliki gambaran diri yang berubah terhadap dirinya sendiri dan
perubahan pada konsep dirinya. Konsep diri terdiri dari beberapa komponen yaitu
: identitas, citra tubuh, harga diri, ideal diri dan peran. Perubahan dalam
penampilan, struktur atau fungsi bagian tubuh akan membutuhkan perubahan
dalam gambaran diri (citra diri). Persepsi seseorang tentang perubahan tubuh
dapat dipengaruhi oleh perubahan tersebut terjadi (Potter & Perry, 2005).
Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran
terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan
peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam
mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang
lain (Nugroho, 2000). Seiring dengan bertambahnya usia populasi kita, perawat
kesehatan dan untuk mengevaluasi standar praktik keperawatan gerontik, dan
untuk membuat perencanaan di masa yang akan datang (Stanley, 2006).
Berdasarkan literature review tersebut, muncul masalah berupa sejauh mana tingkat kemampuan perawatan diri lansia dan perubahan konsep diri apa
saja yang terjadi pada lansia. Dari data yang diperoleh sebelumnya, terdapat
sekitar 160 orang lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita
wilayah Binjai dan Medan dengan tingkat kemampuan perawatan diri yang
berbeda yaitu ada yang minimal care, partial care, dan total care (ketergantungan ringan, sedang, berat dan total). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian
tentang hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan
perubahan konsep diri lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak
Balita wilayah Binjai dan Medan yang bertujuan agar perawat mengetahui batas
kemampuan perawatan diri lansia sehingga dapat mengimplikasikan intervensi
keperawatan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan hidup lansia serta
mengetahui perubahan konsep diri lansia sehingga perawat dapat memotivasi
lansia dalam menjalani kehidupannya.
2. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain :
2.1 Bagaimana tingkat perawatan diri lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia
dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan?
2.2 Bagaimana perubahan konsep diri yang terjadi pada lansia di UPT Pelayanan
2.3 Adakah hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan
perubahan konsep diri lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak
Balita wilayah Binjai dan Medan?
3. Hipotesis
Hipotesis yang diharapkan dari penelitian ini adalah hipotesis alternatif
(Ha) yaitu : terdapat hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia
dengan perubahan konsep diri lansia.
4. Tujuan penelitian
4.1Tujuan umum
Mengidentifikasi hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia
dengan perubahan konsep diri lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia
dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan.
4.2 Tujuan khusus
4.2.1 Mengidentifikasi tingkat kemampuan perawatan diri lansia di UPT
Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan.
4.2.2 Mengidentifikasi perubahan konsep diri lansia di UPT Pelayanan Sosial
Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan.
4.2.3 Mengidentifikasi hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri
lansia dengan perubahan konsep diri lansia di UPT Pelayanan Sosial
5. Manfaat penelitian
5.1 Bagi pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menyediakan informasi bagi perawat mengenai
pemenuhan kebutuhan perawatan diri yang harus diberikan kepada lansia yang
memiliki keterbatasan kemampuan perawatan diri sehingga mengalami perubahan
konsep diri.
5.2 Bagi praktik keperawatan
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai masukan dalam meningkatkan
pemenuhan kebutuhan dasar sehingga kebutuhan perawatan diri lansia yang
memiliki keterbatasan dan perubahan konsep diri dapat terpenuhi. Hasil penelitian
akan berguna bagi perawat untuk memberikan pelayanan dalam hal pemenuhan
kebutuhan perawatan diri lansia sesuai dengan kondisi lansia sehingga tercipta
kualitas hidup yang baik pada lansia.
5.3Bagi Panti
Membantu memberikan pelayanan yang optimal kepada lansia yang
tinggal di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan
Medan.
5.4Sebagai dasar penelitian selanjutnya.
Hasil penelitian ini berguna dalam menambah pengalaman peneliti dan
dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi penelitian selanjutnya yang
berhubungan dengan hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Lansia
1.1 Pengertian Lansia
Menurut UU No. 13 tahun 1998 Pasal 1 Ayat 2 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia menyatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai
usia 60 tahun ke atas (Notoatmojo, 2007). Sedangkan dalam bukunya
Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia
adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Batasan lanjut usia
menurut dokumen perkembangan lanjut usia dalam kehidupan bangsa yang
diterbitkan oleh Departemen Sosial dalam rangka pencanangan hari lanjut usia
nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh Presiden RI, batas umur lanjut usia adalah 60
tahun atau lebih (Setiabudi, 1999 dalam Setiadi 2005).
Ada beberapa pembagian lansia, antara lain : menurut Depkes RI, WHO,
dan menurut pasal 1 Undang – undang No. 4 tahun 1965.
a. Departemen Kesehatan RI membagi lansia sebagai berikut : kelompok
menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas, kelompok usia
lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium, kelompok usia lanjut (kurang dari 65
tahun) sebagai senium.
b. Organisasi kesehatan dunia (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat kriteria
tahun, usia lanjut (elderly) antara 60-74 tahun, usia tua (old) antara 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.
c. Menurut pasal 1 Undang-Undang No. 4 tahun 1965 : “Seseorang dinyatakan
sebagai orang jompo atau usia lanjut setelah yang bersangkutan mencapai
usia 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri
untuk keperluan hidupnya sehari-hari, dan menerima nafkah dari orang lain”
(Mubarak, 2009 ).
1.2 Proses Penuaan
Lansia bukan merupakan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut
dari dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan
tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan (Pudjiastuti, 2003). Proses
penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu masa anak,
masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu
(Mubarak, 2009). Menua menurut Constantinides (1994) dalam Setiadi (2005)
adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi)
dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel
serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang
disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan
linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan, 2006).
Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur
dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada pada tubuh
manusia. Proses ini menjadikan kemunduran fisik maupun psikis. Kemunduran
fisik ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, penurunan pendengaran,
penglihatan menburuk, gerakan lambat, dan kelainan berbagai fungsi organ vital.
Sedangkan kemunduran psikis terjadi peningkatan sensitivitas emosional,
menurunnya gairah, bertanbahnya minat terhadap diri, berkurangnya minat
terhadap penampilan, meningkatnya minat terhadap material, dan minat kegiatan
rekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subjek saja yang berbeda)( Mubarak,
2009).
1.3 Teori-Teori Penuaan
Dalam Maryam, dkk (2008) ada beberapa teori yang berkaitan dengan
proses penuaan, yaitu : teori biologi, teori psikologi, teori sosial, dan teori
spiritual.
Teori biologi. Teori biologi mencakup teori genetik dan mutasi,
immunology slow theory, teori stress, teori radikal bebas, dan teori rantai silang. Menurut teori genetik dan mutasi, semua terprogram secara genetik untuk
spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang
mengalami mutasi. Menurut Immunology slow theory, system imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh yang dapat
menyebabkan kerusakan organ tubuh. Teori stres mengungkapkan menua terjadi
akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak
dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stres
yang dapat menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai. Radikal bebas dapat
terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom)
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan
protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi. Pada
teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia sel-sel yang tua menyebabkan
ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya
elastisitas, kakacauan, dan hilangnya fungsi sel.
Teori psikologi. Pada usia lanjut, proses penuaan terjadi secara alamiah seiring dengan penambahan usia. Perubahan psikologis yang terjadi dapat
dihubungkan dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif.
Kepribadian individu yang terdiri atas motivasi dan intelegensi dapat menjadi
karakteristik konsep diri dari seorang lansia. Konsep diri yang positif dapat
menjadikan seorang lansia mampu berinteraksi dengan mudah terhadap nilai-nilai
yang ada ditunjang dengan status sosialnya. Adanya penurunan dari intelektualitas
yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif, memori, dan belajar pada saat usia
lanjut menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi.
Teori sosial. Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu: teori interaksi sosial menjelaskan mengapa lansia bertindak pada
lansia, kekuasaan dan prestasinya berkurang sehingga menyebabkan interaksi
sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan
mereka untuk mengikuti perintah. Teori penarikan diri menyatakan bahwa
kemiskinan yang diderita lansia dan menurunnya derajat kesehatan
mengakibatkan seorang lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan
di sekitarnya. Teori aktivitas menyatakan bahwa penuaan yang sukses bergantung
bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalam melakukan aktivitas serta
mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting dibandingkan kuantitas dan
aktivitas yang dilakukan. Teori kesinambungan mengemukakan adanya
kesinambungan dalam siklus kehidupan lansia. Pengalaman hidup seseorang pada
suatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi lansia. Hal ini
dapat terlihat bahwa gaya hidup, perilaku, dan harapan seseorang ternyata tidak
berubah meskipun ia telah menjadi lansia. Teori perkembangan menjelaskan
bagaimana proses menjadi tua merupakan suatu tantangan dan bagaimana
jawaban lansia terhadap berbagai tantangan tersebut yang dapat bernilai positif
ataupun negatif. Akan tetapi, teori ini tidak menggariskan bagaimana cara menjadi
tua yang diinginkan atau yang seharusnya diterapkan oleh lansia tersebut. Teori
stratifikasi usia adalah teori dengan pendekatan yang dilakukan bersifat
deterministik dan dapat dipergunakan untuk mempelajari sifat lansia secara kelompok dan bersifat makro. Setiap kelompok dapat ditinjau dari sudut pandang
demografi dan keterkaitannya dengan kelompok usia lainnya. Kelemahannya
adalah teori ini tidak dapat dipergunakan untuk menilai lansia secara perorangan,
mengingat bahwa stratifikasi sangat kompleks dan dinamis serta terkait dengan
Teori spiritual. Komponen spiritual dan tumbuh kembang merajuk pada pengertian hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi individu tentang
arti kehidupan.
1.4 Tugas Perkembangan Lansia
Seiring tahap kehidupan, lansia memiliki tugas perkembangan khusus. Hal
ini dideskripsikan oleh Burnside (1979), Duvall (1977), dan Havighurst (1953)
dan meliputi tujuh kategori utama yaitu ; 1) menyesuaikan terhadap penurunan
kekuatan fisik dan kesehatan, 2) menyesuaikan terhadap masa pensiun dan
penurunan atau penetapan pendapatan, 3) menyesuaikan terhadap kematian
pasangan, 4) menerima diri sendiri sebagai individu lansia, 5) mempertahankan
kepuasan pengaturan hidup, 6) mendefenisikan ulang hubungan dengan anak yang
dewasa, 7) menemukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup (Potter &
Perry, 2005).
1.5 Masalah Lansia
Menurut Nugraha (2000), permasalahan yang berkaitan dengan lanjut usia
secara individu, proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara
fisik, biologi, mental, maupun sosial ekonomi. Semakin lanjut usia seseorang,
mereka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang
dapat mengakibatkan peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya
gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan
ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.
Menurut Mubarak (2009), terdapat beberapa tren dan isu pada lansia, di
semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos atau
kesalahpahaman. Kedua, perubahan perilaku ; pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku, di antaranya : daya ingat menurun, pelupa, sering
menarik diri, ada kecenderungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan
karena dirinya sudah tidak menarik lagi, dan lansia sering menyebabkan
sensitivitas emosional seseorang yang akhirnya menjadi sumber banyak masalah.
Ketiga, pembatasan aktivitas fisik; semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran, terutama di bidang kemampuan fisik yang dapat
mengakibatkan penurunan pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini
mengakibatkan timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya,
sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang
lain. Keempat, kesehatan mental; Selain mengalami kemunduran fisik, lansia juga mengalami kemunduran mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan sosialnya
akan semakin berkurang dan dapat mengakibatkan berkurangnya integrasi dengan
lingkungannya.
2. Perawatan Diri
2.1 Pengertian Perawatan Diri
Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik
secara fisik maupun psikologis (Hidayat, 2009). Kebersihan diri adalah upaya
individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi
dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam
Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka
tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri
(mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari
keluarga dan lingkungannya. Dalam teori self care, Dorothea Orem menganggap bahwa perawatan diri merupakan suatu kegiatan membentuk kemandirian
individu yang akan meningkatkan taraf kesehatannya. Sehingga bila mengalami
defisit, ia membutuhkan bantuan dari perawat untuk memperoleh kemandiriannya
kembali (Hapsah, 2008).
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana
individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah
terjadinya penyakit. Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih
hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan.
Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata,
telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya
pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan keluarga akan pentingnya
kebersihan diri tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang
(Notoatmodjo, 1997).
2.2 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Perawatan Diri
Menurut Potter & Perry (2005), sikap seseorang melakukan perawatan diri
(personal hygiene) dipengaruhi oleh sejumlah faktor yaitu : citra tubuh, praktik sosial, status sosioekonomi, pengetahuan, variabel kebudayaan, pilihan pribadi,
a. Citra tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan
fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu (Stuart & Sundeen, 1991). Citra tubuh ini dapat seringkali
berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan hygiene seseorang.
b. Praktik sosial
Kelompok-kelompok sosial wadah seorang individu berhubungan dapat
mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Praktik hygiene lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan. Misalnya, lansia yang tinggal di rumah perawatan
tidak dapat mempunyai privasi dalam lingkungan yang baru. Mereka tidak
mempunyai kemampuan fisik untuk membungkuk keluar masuk bak mandi
kecuali kamar mandi telah dibentuk untuk mengakomodasi keterbatasan fisik
mereka.
c. Status sosioekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik
kebersihan yang digunakan. Dari segi ekonomi, harus diperhatikan apakah
individu dapat menyediakan bahan-bahan yang penting seperti deodorant, sampo,
pasta gigi, dan kosmetik. Sedangkan dari aspek sosial dilihat apakan penggunaan
produk-produk tersebut merupakan bagian dari kebiasaan sosial yang dipraktikkan
oleh kelompok sosial individu.
d. Pengetahuan
tidaklah cukup. Seseorang juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan
diri sehingga akan terus meningkatkan perawatan dirinya.
e. Variabel kebudayaan
Kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi kemampuan perawatan
hygiene. Seorang dari latar belakang kebudayaan berbeda memiliki praktik perawatan diri yang berbeda. Keyakinan yang didasari kultur sering menentukan
definisi tentang kesehatan dan perawatan diri.
f. Pilihan pribadi
Menurut pilihan dan kebutuhan pribadi, setiap individu memiliki
keinginan dan pilihan tentang kapan untuk melakukan perawatan diri dan
bagaimana ia melakukannya.
g. Kondisi fisik
Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran
terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan
peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam
mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang
lain.
2.3 Tingkat Kemampuan Perawatan Diri Lansia
Perubahan patofisiologis pada korteks serebri mengakibatkan lansia
mengalami defisit perawatan diri. Sehingga perlu diupayakan penyusunan
aktivitas sehari-hari yang lebih sederhana dan singkat yang dapat menimbulkan
kepuasaan bagi lansia dalam melakukannya (Smeltzer, 2001). Dalam Nursalam
klien) berdasarkan teori Orem terdiri dari butuh sedikit bantuan (minimal care), butuh bantuan sebagian dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri (partial care), dan butuh bantuan penuh dalam mmenuhi perawatan diri (total care). Berdasarkan indeks Activity Daily Living (ADL) Barthel, tingkat ketergantungan klien terdiri dari mandiri, ketergantungan ringan, ketergantungan sedang,
ketergantungan berat, dan ketergantungan total.
Tabel 2.1 : Indeks ADL Barthel
No Aktivitas Kemampuan Skor
1
Transfer (tidur → duduk)
Mandiri 3
Dibantu satu orang 2
Dibantu dua orang 1
Tidak mampu 0
2 Mobilisasi (berjalan)
Mandiri 3
Dibantu satu
orang/walker 2
Dengan kursi roda 1
Tergantung orang lain 0
3
Penggunaan toilet (pergi ke/dari WC, melepas/memgenakan celana,
menyeka, menyiram)
Mandiri 1
Perlu pertolongan
orang lain 0
4 Membersihkan diri (lap muka, sisir rambut, sikat gigi)
Mandiri 1
Perlu pertolongan
orang lain 0
5 Mengontrol BAB
Kontinen teratur 2
Kadang-kadang
inkontinen 1
Inkontinen 0
6 Mengontrol BAK
Kontinen teratur 2
Kadang-kadang
inkontinen 1
Inkontinen 0
7 Mandi Mandiri 1
Tergantung orang lain 0
8 Berpakaian (mengenakan baju)
Mandiri 2
Sebagian dibantu 1
Tergantung orang lain 0
9 Makan
Mandiri 2
Perlu pertolongan 1
pertolongan orang lain
10 Naik turun tangga
Mandiri 2
Perlu pertolongan 1
Tidak mampu 0
Skor total 19
Nilai ADL = 19 : Mandiri
15– 18 : Ketergantungan ringan
10– 14 : Ketergantungan Sedang
5– 9 : Ketergantungan Berat
0 – 4 : Ketergantungan total
3. Self Care
Self care adalah tindakan yang matang dan mematangkan orang lain yang mempunyai potensi untuk berkembang, atau mengembangkan kemampuan yang
dimiliki agar dapat digunakan secara tepat, nyata dan valid untuk
mempertahankan fungsi dan berkembang dengan stabil dalam perubahan
lingkungan. Self care digunakan untuk mengontrol atau faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi aktivitas seseorang untuk menjalankan fungsinya
dan berproses untuk mencapai kesejahteraannya (Hapsah, 2008).
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan
kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta
mengembangkan tiga bentuk teori self care di antaranya perawatan diri sendiri (self care) dan self care deficit (Hidayat, 2009).
3.1 Perawatan Diri Sendiri (Self Care)
Dalam teori self care, Orem mengemukakan bahwa self care meliputi : pertama, self care itu sendiri, yang merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksanakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta
mempertahankan kehidupan, kesehatan, serta kesejahteraan; kedua, self care agency merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan
dan lain-lain; ketiga, adanya tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri
sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu
untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam
tindakan yang tepat; keempat, kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan
berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam upaya
mempertahankan fungsi tubuh, self care yang bersifat universal itu adalah aktivitas sehari-hari (ADL) dengan mengelompokkan ke dalam kebutuhan dasar
manusianya. Sifat dari self care selanjutnya adalah untuk perkembangan kepercayaan diri serta ditujukan pada penyimpangan kesehatan yang memiliki ciri
perawatan yang diberikan dalam kondisi sakit atau dalam proses penyembuhan
3.2 Self Care Defisit
Merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala
perencanaan keperawatan diberikan pada saat adanya penurunan kemampuan
dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri serta membantu dalam
proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut
diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai pembimbing orang
lain, memberi dukungan, meningkatkan pengembangan lingkungan untuk
pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik orang lain. Dalam
praktek keperawatan Orem melakukan identifikasi kegiatan praktek dengan
melibatkan pasien dan keluarga dalam pemecahan masalah, menentukan kapan
dan bagaimana pasien memerlukan bantuan keperawatan, bertanggung jawab
terhadap keinginan, permintaan, serta kebutuhan pasien, mempersiapkan bantuan
secara teraturbagi pasien dan mengkoordinasikan serta mengintegrasikan
keperawatan dalam kehidupan sehari-hari pada pasien dan asuhan keperluan
diperlukan ketika klien tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis, psikologis,
perkembangan, dan sosial (Hidayat, 2009).
4. Konsep Diri
Konsep diri (self-concept) merupakan bagian dari masalah psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari
pengalaman seseorang terhadap dirinya. Konsep diri ini berkembang secara
bertahap sesuai dengan tahap perkembangan psikososial seseorang (Hidayat,
sadar maupun tidak sadar dan persepsi tentang totalitas diri, tubuh, harga diri dan
peran (Potter & Perry, 2005).
Tarwoto & Wartonah (2006) menyatakan perkembangan konsep diri
secara bertahap dimulai sejak bayi sudah mengenal dan membedakan dirinya
dengan orang lain. Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda mengenai
konsep diri, ada yang positif dan ada yang negatif. Individu dengan konsep diri
yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan
interpersonal, kemampuan intelektual, dan penguasaan lingkungan sedangkan
konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan sosial yang maladaptif
(Keliat, 1992). Terdapat beberapa komponen konsep diri yaitu identitas, citra diri,
harga diri, ideal diri, dan peran.
4.1 Identitas Diri
Identitas diri adalah penilaian individu tentang dirinya sebagai suatu
kesatuan yang utuh. Identitas mencakup konsistensi seseorang sepanjang waktu
dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau keunikan
dibandingkan dengan orang lain. Identitas seringkali didapat melalui pengamatan
sendiri dan dari apa yang didengar seseorang dari orang lain mengenai dirinya
(Hidayat, 2009).
Identitas diri adalah kesadaran dari individu dan keunikan yang terjadi
terus menerus sepanjang hidup. Menurut Kozier (2004) identitas diri seseorang
biasanya berupa karakteristik-karakteristik yang membedakan seseorang dengan
yang lainnya meliputi nama, jenis kelamin, umur, ras, suku, budaya, pekerjaan
menunjukkan kesadaran akan suatu kepastian dan adanya pemisahan dari yang
lainnya, perasaan diri seutuhnya dan pemeliharaan solidaritas dengan kelompok
sosial yang ideal melalui ekspresi dan keunikan individu. Identitas seperti halnya
citra tubuh sangat berkaitan erat dengan penampilan dan kemampuan. Pada lansia,
pensiun atau meninggalkan pekerjaan mungkin berarti kehilangan makna penting
dari pencapaian dan keberhasilan yang berlanjut. Ketidakmampuan lansia untuk
memenuhi kebutuhan dirinya sering membuat lansia mempertanyakan tentang
identitas mereka dan pencapaian mereka dan dapat mengakibatkan isolasi fisik
dan emosional (Potter & Perry, 2005).
4.2 Citra Diri
Gambaran atau citra diri (body image) mencakup sikap individu terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur dan fungsinya. Perasaan
mengenai citra diri meliputi hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas, femininitas
dan maskulinitas, keremajaan, kesehatan, dan kekuatan. Citra tubuh dipengaruhi
oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan
yang normal seperti penuaan terlihat lebih jelas terhadap citra diri dibandingkan
dengan aspek-aspek konsep diri lainnya (Hidayat, 2009).
Citra diri berhubungan dengan kepribadian. Cara seseorang memandang
diri mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang
realistik terhadap diri, menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberi rasa
aman sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat,
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa citra diri
bergantung pada bagian realitas tubuh, sehingga seseorang biasanya tidak dapat
beradaptasi dengan cepat untuk berubah secara fisik. Perubahan fisik boleh jadi
tidak sesuai dengan citra diri ideal seseorang. Begitu juga dengan lansia,
perubahan fisik yang terjadi akibat proses penuaan dapat merubah persepsi lansia
terhadap tubuhnya (Potter & Perry, 2005). Citra diri akan tumbuh secara positif
dan akurat bila kesadaran akan diri berdasar atas observasi mandiri dan perhatian
yang sesuai akan kesehatan diri, termasuk persepsi saat ini dan masa lalu
(Tarwoto & Wartonah, 2006).
Lansia sering mengatakan bahwa mereka merasa tidak berbeda tetapi
ketika mereka melihat diri mereka dalam cermin, mereka terkejut dengan kulit
yang keriput dan rambut memutih. Penurunan ketajaman pandangan adalah faktor
yang mempengaruhi lansia dalam berinteraksi dengan lingkungan. Proses normal
penuaan menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan. Kehilangan
pendengaran dapat menyebabkan perubahan kepribadian karena lansia menyadari
bahwa mereka tidak lagi menyadari semua yang terjadi atau yang diucapkan.
Kecurigaan, mudah tersinggung, tidak sabar, atau menarik diri dapat terjadi
karena kerusakan pendengaran. Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh
pengalaman sepanjang hidup (Potter & Perry, 2005).
4.3 Harga Diri
Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai, dengan
cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut sesuai dengan ideal
yang lain. Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan dari diri sendiri
maupun dari orang lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan
diterima, dicintai, dihormati oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah
dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat, 2009).
Harga diri dapat dipahami dengan memikirkan hubungan antara konsep
diri seseorang dan ideal diri. Harga diri juga dipengaruhi oleh sejumlah kontrol
yang mereka miliki terhadap tujuan dan keberhasilan dalam hidup. Lansia
cenderung mengalami penurunan harga diri yang disebabkan oleh hilangnya
jabatan dan menurunnya pendapatan. Seseorang dengan harga diri yang tinggi
cenderung menunjukkan keberhasilan yang diraihnya sebagai kualitas dan upaya
pribadi. Ketika berhasil, seorang individu dengan harga diri yang rendah
cenderung mengatakan bahwa keberhasilan yang diraihnya adalah keberuntungan
atau atas bantuan orang lain ketimbang kemampuan pribadi (Mars 1990 dalam
Potter & Perry, 2005).
4.4 Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana harus berperilaku
sesuai dengan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang
diinginkannya atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai yang ingin dicapai. Ideal diri
akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial
(keluarga, budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan (Keliat, 1992). Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu : kecenderungan individu menetapkan
ideal diri pada batas kemampuannya, faktor budaya, ambisi dan keinginan untuk
melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistik, keinginan untuk menghindari
4.5 Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang
sesuai dengan fungsi yang ada dalam masyarakat atau suatu pola sikap, perilaku,
nilai, dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di
masyarakat, misalnya sebagai orang tua, atasan, teman dekat, dan sebagainya.
Setiap peran berhubungan dengan pemenuhan harapan-harapan tertentu. Apabila
harapan tersebut dapat terpenuhi, rasa percaya diri seseorang akan meningkat.
Sebaliknya, kegagalan untuk memenuhi harapan atas peran dapat menyebabkan
penurunan harga diri atau terganggunya konsep diri (Hidayat, 2009).
Menurut Stuart & Sudden (1991), peran membentuk pola perilaku yang
diterima secara sosial yang berkaitan dengan fungsi seorang individu dalam
berbagai kelompok sosial. Sepanjang hidup orang menjalani berbagai perubahan
peran. Perubahan normal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan maturisasi
mengakibatkan transisi perkembangan. Transisi situasi terjadi ketika orangtua,
pasangan hidup, atau teman dekat meninggal atau orang pindah rumah, menikah,
bercerai, atau ganti pekerjaan. Pada lansia banyak perubahan peran yang tejadi,
mulai dari perubahan peran dalam pekerjaan, peran dalam keluarga dan
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
1. Kerangka Konseptual
Pada bab ini akan dijelaskan kerangka konsep penelitian dan juga defenisi
operasional yang digunakan pada penelitian ini. Kerangka konseptual penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat kemampuan
perawatan diri lansia terhadap perubahan konsep diri pada lansia.
Skema 3.1 : kerangka konsep pengaruh tingkat kemampuan perawatan diri lansia terhadap perubahan konsep diri lansia.
2. Defenisi Konseptual dan Operasional 2.1 Defenisi Konseptual
a. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Notoatmojo, 2007).
Tingkat ketergantungan lansia (ADL) berdasarkan indeks ADL Barthel :
a. Mandiri
b. Ketergantungan ringan c. Ketergantungan sedang d. Ketergantungan berat e. Ketergantungan total
Konsep diri :
a. Identitas b. Citra diri c. Harga diri d. Ideal diri e. Peran
b. Perawatan diri adalah perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk
mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis (Hidayat,
2009). Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan
diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku,
kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang
optimal (Effendy, 1998).
c. Konsep diri adalah suatu integrasi yang kompleks dari perasaan, sikap sadar
maupun tidak sadar dan persepsi tentang totalitas diri, tubuh, harga diri dan
peran (Potter & Perry, 2005).
[image:36.595.108.529.416.754.2]2.2 Defenisi Operasional
Table 3.1 : Variabel berdasarkan defenisi operasional
Variabel Defenisi Parameter Alat
ukur Skala Skor
Variabel Independen : Perawatan diri upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal. Mengidentifi-kasi tingkat perawatan diri lansia. Kuesi-oner
ordinal Nilai ADL
20 : mandiri
12-19 : ketergantung an ringan 9-11 : ketergantung an sedang 5-8 : ketergantung an berat 0-4 : ketergantung an total Variabel Dependen : Konsep Diri suatu integrasi yang kompleks dari perasaan, a. Identitas diri Kuesi-oner
sikap sadar maupun tidak sadar dan persepsi tentang totalitas diri, tubuh, harga diri dan peran.
b. Citra diri
c. Harga diri
d. Ideal diri
e. peran Kuesi-oner Kuesi-oner Kuesi-oner Kuesi-oner ordinal ordinal ordinal ordinal = 0 Penerimaan terhadap diri = 1 Tidak menyukai bagian tubuh = 0 Menyukai bagian tubuh = 1 Harga diri rendah = 0 Harga diri tinggi = 1
Pesimis = 0 Optimis = 1
Menyangkal peran = 0 Sesuai
dengan peran = 1
3. Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep di atas peneliti dapat mengambil/
mendirikan hipotesis sebagai berikut :
Ho : Tidak terdapat hubungan antara Tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan konsep diri lansia.
Ha : Terdapat hubungan antara Tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan konsep diri lansia.
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskripsi korelasi untuk
mengidentifikasi hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia
dengan perubahan konsep diri lansia. Pada penelitian ini tidak ada intervensi yang
dilakukan pada kelompok yang akan diteliti.
2. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia dengan tingkat
ketergantungan dalam melakukan perawatan diri (Activity Daily Living) yang mandiri, ketergantungan ringan, sedang, berat maupun total dengan jumlah 160
orang yang tinggal di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah
Binjai dan Medan.
2.2 Sampel
2.2.1 Jumlah Sampel
Menurut Arikunto (2002) bila terdapat populasi lebih dari 100 maka
pengambilan sampel adalah 10-15% atau 20-25% dari total populasi. Berdasarkan
tinggal di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan
Medan sesuai dengan kriteria sampel penelitian. Dalam hal ini sampel yang akan
diambil adalah 10 lansia dengan tingkat ADL mandiri, 10 lansia dengan tingkat
ketergantungan ringan, 10 lansia dengan tingkat ketergantungan sedang, 10 lansia
dengan tingkat ketergantungan berat, dan 10 lansia dengan tingkat ketergantungan
total.
2.2.2 Kriteria Sampel
Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :
1. Lansia yang berumur 60 tahun ke atas.
2. Lansia yang tidak mengalami demensia. Orientasi orang, tempat dan waktu
baik.
3. Dapat berkomunikasi dengan baik, dengan menggunakan bahasa Indonesia.
4. Lansia dengan tingkat kemampuan perawatan diri (ketergantungan dalam
ADL) yang mandiri, ketergantungan ringan, ketergantungan sedang,
ketergantungan berat dan ketergantungan total yang tinggal di UPT Pelayanan
sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan.
5. Bersedia untuk menjadi responden penelitian dengan memberikan persetujuan
menjadi responden penelitian baik secara lisan maupun tulisan dengan
menandatangani inform consent.
2.3Teknik Sampling
akan digunakan adalah quota sampling. Pemilihan sampel dengan cara ini merupakan jenis non-probabilitas dengan menentukan ciri-ciri tertentu sampai
jumlah kuota yang telah ditentukan (Hidayat, 2007).
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak
Balita wilayah Binjai dan Medan yang beralamat di jalan Perintis Kemerdekaan
Binjai. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari - April 2011. Adapun
alasan peneliti memilih panti ini karena UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan
Anak Balita wilayah Binjai dan Medan ini merupakan panti werdha milik
pemerintah yang berada di bawah koordinasi Dinas Sosial dengan kapasitas
jumlah lansia yang cukup besar. Selain itu, di panti ini terdapat banyak lansia
dengan tingkat perawatan diri yang kurang sehingga dapat memudahkan peneliti
untuk mendapatkan sampel yang memadai sesuai dengan kriteria penelitian.
4. Instrumen Penelitian
Data responden ini diperoleh dengan menggunakan alat pengumpul data
berupa kuesioner. Dalam penelitian ini terdapat dua kuesioner yaitu kuesioner
tentang perawatan diri (tingkat ketergantungan lansia) dan kuesioner tentang
konsep diri. Kuesioner ini terbagi atas tiga bagian yaitu : bagian pertama adalah
kuesioner untuk data demografi meliputi umur, agama, jenis kelamin, suku,
pendidikan, dan pekerjaan. Bagian kedua adalah kuesioner untuk perawatan diri
(tingkat ketergantungan lansia). Bagian ketiga adalah untuk kuesioner konsep diri
Kuesioner perawatan diri (tingkat ketergantungan lansia) terdiri dari 10
pertanyaan. Dengan kriteria pemberian skor sesuai dengan indeks ADL Barthel
sehingga diperoleh skor tertinggi 19 dan terendah 0. Klasifikasi skor ADL 19 :
mandiri, 15-18 : ketergantungan ringan, 10-14 : ketergantungan sedang, 5-9 :
ketergantungan berat, 0-4 : ketergantungan total.
Kuesioner konsep diri terdiri atas 15 pernyataan dan masing-masing
bagian dari item konsep diri terdiri atas 3 pernyataan dengan 7 pernyataan negatif dan 8 pernyataan positif. Pernyataan negatif (no 1, 2, 6, 7, 9, 13, 14) dan
pernyataan positif (no 3, 4, 5, 8, 10, 11, 12, 15). Pernyataan konsep diri terdiri dari
identitas diri (no 1-3), citra diri (no 4-6), harga diri (no 7-9), ideal diri (no 10-12),
dan peran (no 13-15). Jika klien menjawab ya maka akan diberi nilai 1 (skor = 1) pada pernyataan positif dan diberi nilai nol (skor = 0) pada pernyataan negatif,
sedangkan jika klien menjawab tidak diberi nilai nol (skor = 0) pada pernyataan positif dan diberi nilai 1 (skor = 1) pada pernyataan negatif.
Menurut rumus statistik Sudjana (2002), dengan rentang terbesar 15 dan
terkecil 0 dibagi dua kategori yaitu konsep diri negatif dan konsep diri positif,
maka diperoleh panjang kelas sebesar 7,5. P = rentang/banyak kelas, dengan P =
7,5 nilai terendah 0 sebagai batas bawah pertama maka konsep diri dikategorikan
sebagai berikut : 0-7 konsep diri negatif dan 8-15 konsep diri positif.
5. Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah peneliti dinyatakan lulus dalam ujian
proposal penelitian untuk selanjutnya mendapat persetujuan dari institusi Fakultas
izin dari Badan Penelitian dan Pengembangan propinsi Sumatera Utara serta
Dinas Sosial Propinsi Sumatera Utara dan akhirnya mengirim surat izin tersebut
kepada pimpinan UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah
Binjai dan Medan. Dalam penelitian ini akan disampaikan beberapa hal yang
berkaitan dengan permasalahan etik yaitu : peneliti menjelaskan terlebih dahulu
tentang informasi penting yang akan dilakukan, antara lain : tujuan, manfaat,
kegiatan dalam penelitian serta hak-hak responden dalam penelitian ini. Jika
responden bersedia untuk diteliti maka responden terlebih dahulu menandatangani
lembar persetujuan (inform consent) yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Bila responden menolak untuk diteliti maka peneliti akan tetap menghormati haknya.
Untuk menjga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama
responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh peneliti
dengan wawancara terstruktur. Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu.
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti
(Nursalam, 2003).
6. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan
atau kesahihan suatu instrument (Arikunto, 2006). Uji validitas instrumen
bertujuan untuk mengetahui kemampuan instrument untuk mengukur apa yang
diukur (Notoatmojo, 2005). Uji validitas isi ini telah dilakukan oleh ahli dalam
penelitian ini yaitu dosen bagian keperawatan Gerontik USU. Dilakukan dengan
cara mengajukan kuesioner dan proposal penelitian kepada penguji validitas
kemudian dikoreksi. Setelah dikoreksi pertanyaan yang tidak valid diganti sesuai
Uji realibilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana alat
pengukurannya dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Instrument dikatakan
realibel adalah instrument yang jika digunakan beberapa kali dalam waktu yang
berbeda untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.
Uji reliabilitas ini dilakukan terhadap 10 orang lansia yang bukan termasuk dalam
sampel di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan
Medan dan data tersebut diolah menggunakan program komputerisasi dengan
analisa KR-20, alasan peneliti menggunakan koefisien KR-20 karena bentuk
pertanyaan pada skor dikotomi dan dengan jumlah pertanyaan yang ganjil.
Pada proses penelitian, peneliti melakukan uji reliabilitas menggunakan
alpha karena metode alpha juga dapat digunakan pada skor dikotomi (0 dan 1) dan
akan menghasilkan perhitungan yang setara dengan KR-20 (Priyatno, 2008). Dari
tabel dapat diketahui bahwa dengan N= 10, nilai r (5%) = 0,632, dengan begitu
maka instrumen tersebut dikatakan realibel jika koefisien korelasinya (r) > r
table. Pada saat uji realibilitas didapatkan hasil r = 0,807 yang berarti bahwa
instrumen yang digunakan telah realibel. Uji realibilitas ini telah dilakukan
sebelum pengumpulan data terhadap 10 orang responden lansia.
7. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh responden
untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat perawatan diri lansia dengan
perubahan konsep diri lansia. Prosedur pengambilan data yang digunakan dengan
1. Mengajukan surat permohonan izin melakukan penelitian pada institusi
Fakultas Keperawatan USU.
2. Mengajukan surat permohonan izin melakukan penelitian pada Badan
Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Utara.
3. Mengajukan surat permohonan izin melakukan penelitian pada Dinas Sosial
Propinsi Sumatera Utara.
4. Mengirimkan surat izin melaksanakan penelitian ke pimpinan UPT Pelayanan
sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan.
5. Setelah mendapat izin kemudian melaksanakan pengumpulan data penelitian
bekerjasama dengan pegawai panti untuk mengetahui klien yang memenuhi
kriteria.
6. Responden yang tidak termasuk dalam kriteria penelitian tidak akan
diikutsertakan dalam data penelitian.
7. Menjelaskan kepada calon responden mengenai tujuan dan manfaat penelitian.
8. Meminta persetujuan calon responden untuk menjadi responden dengan
menandatangani inform consent.
9. Mengidentifikasi tingkat perawatan diri (tingkat ketergantungan) lansia
dengan menggunakan kuesioner.
10.Responden dalam pengisian kuesioner dibantu oleh peneliti dengan
melakukan wawancara.
12.Kuesioner diambil langsung oleh peneliti dan data yang telah terkumpul
kemudian diolah/dianalisa.
8. Analisa Data
Analisa data penelitian dilakukan dengan menempuh tahapan yang dimulai
dari persiapan berupa mengecek kelengkapan identitas dan data responden serta
memastikan baha semua jawaban telah terisi. Data yang diperoleh diidentifikasi
dengan mentabulasi data yang telah terkumpul. Selanjutnya data diolah dengan
program komputerisasi SPSS dalam uji deskriptif untuk mengetahui frekuensi,
presentasi, mean dan standar deviasi untuk data demografi, kuesioner tingkat
perawatan diri dan kuesioner konsep diri.
Selanjutnya hasil pengukuran dibandingkan untuk menguji hipotesa
penelitian dengan menggunakan uji hipotesa Spearmen sehingga dapat diketahui hubungan antara tingkat perawatan diri lansia dengan perubahan konsep diri
lansia. Hipotesis diterima jika alpha yang diperoleh dari hasil perhitungan uji
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil dan pembahasan mengenai
hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan
konsep diri lansia di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah
Binjai dan Medan.
1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2011. Jumlah
seluruh responden adalah sebanyak 50 orang dengan teknik kuota sampel, yaitu
terdapat 10 responden pada setiap tingkatan kemampuan perawatan diri (10
responden dengan tingkat ketergantungan total, 10 orang dengan tingkat
ketergantungan berat, 10 orang dengan tingkat ketergantungan sedang, 10 orang
dengan tingkat ketergantungan ringan, dan 10 orang dengan tingkat kemampuan
mandiri). Hasil penelitian ini menguraikan karakteristik demografi responden,
analisis konsep diri lansia pada tiap tingkat kemampuan perawatan diri.
1.1. Karakteristik Demografi
Deskripsi karakteristik demografi responden terdiri dari jenis kelamin,
umur, agama, pendidikan, pekerjaan sebelum menghuni panti, dan suku. Sebaran
Tabel 5.1 : Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan data demografi (n=50) ; jenis kelamin, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan sebelum menghuni panti, dan suku.
Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Jenis kelamin Laki-laki perempuan 22 28 44 56 Umur 60-74 tahun 75-90 tahun >90 tahun 27 22 1 54 44 2 Agama Islam Kristen 46 4 92 8 Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Pendidikan Tinggi 16 28 1 3 2 32 56 2 6 4 Pekerjaan sebelum menghuni panti werda
Tidak bekerja Petani Nelayan Wiraswasta Lain-lain 7 19 1 19 4 14 38 2 38 8 Suku Batak Melayu Jawa Minang Lain-lain 14 2 31 2 1 28 4 62 4 2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat responden dengan jenis
kelamin perempuan sebanyak 28 responden (56%), sebagian besar responden
berumur 60-74 tahun yaitu sebanyak 27 responden (54%), mayoritas responden
sebanyak 28 responden (56%), pekerjaan sebelum menghuni panti adalah petani
dan wiraswasta sebanyak 19 responden (38%), sebagian besar responden bersuku
jawa yaitu sebanyak 36 responden (62%).
1.2. Kemampuan Perawatan Diri Lansia
Kemampuan perawatan diri lansia terdiri dari 5 tingkatan yaitu : dengan
tingkat ketergantungan total, ketergantungan berat, ketergantungan sedang,
ketergantungan ringan, dan tingkat kemampuan mandiri. Ada 10 aspek yang
dinilai dalam menentukan tingkat kemampuan perawatan diri tersebut,
aspek-aspek tersebut antara lain adalah kemampuan transfer, mobilisasi, penggunaan toilet, membersihkan diri, mangontrol BAB, mengontrol BAK, mandi,
berpakaian, makan, naik turun tangga. Berdasarkan analisa data sebanyak 50
orang responden lansia di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita
wilayah Binjai dan Medan maka distribusi frekuensi dan persentase kemampuan
[image:48.595.110.477.564.747.2]perawatan dirinya adalah sebagai berikut :
Tabel 5.2 : Distribusi frekuensi dan persentase kemampuan perawatan diri lansia di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai
dan Medan
Activity Daily Livings Frekuensi Persentase (%)
Transfer Mandiri
Dibantu 1 orang Dibantu 2 orang Tidak mampu 19 17 13 1 38 34 26 2
Total 50 100
Mobilisasi
Mandiri
Dibantu 1 orang/walker
Dengan kursi roda Tergantung orang lain
16 17 10 7 32 34 20 14
Penggunaan toilet Mandiri Perlu pertolongan 25 25 50 50
Total 50 100
Membersihkan diri Mandiri Perlu pertolongan 29 21 58 42
Total 50 100
Mengontrol BAB
Terkontrol teratur
Kadang-kadang tidak terkontrol Tidak terkontrol 20 21 9 40 42 18
Total 50 100
Mengontrol BAK
Terkontrol teratur
Kadang-kadang tidak terkontrol Tidak terkontrol 15 16 19 30 32 38
Total 50 100
Mandi
Mandiri
Tergantung orang lain
34 16
68 32
Total 50 100
Berpakaian
Mandiri
Sebagian dibantu Tergantung orang lain
30 11 9 60 22 18
Total 50 100
Makan
Mandiri
Perlu pertolongan Tergantung orang lain
19 23 8 38 46 16
Total 50 100
Naik turun tangga
Mandiri Perlu pertolongan Tidak mampu 14 9 27 28 18 54
total 50 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, lansia yang
mampu melakukan perpindahan (transfer) dengan mandiri yaitu sebanyak 19 responden (38%), melakukan mobilisasi dengan dibantu satu orang/walker
sebanyak 17 responden (34%), menggunakan toilet dengan mandiri sebanyak 25
sebanyak 25 responden (50%), mampu membersihkan diri dengan mandiri
sebanyak 29 responden (58%), kadang-kadang tidak dapat mengontrol BAB
sebanyak 20 responden (40%), tidak dapat mengontrol BAK ssebanyak 19
responden (38%), sebagian besar responden mampu mandi sendiri yaitu sebanyak
34 responden (68%), mampu berpakaian dengan mandiri sebanyak 30 responden
(60%), makan dengan pertolongan orang lain sebanyak 23 responden (46%), dan
yang tidak mampu naik turun tangga sebanyak 27 responden (54%).
1.3. Konsep diri lansia
Konsep diri terdiri dari 5 komponen yaitu identitas diri, citra diri, harga
diri, ideal diri dan peran. Berdasarkan analisa data sebanyak 50 orang responden
lansia di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan
Medan maka distribusi frekuensi dan persentase konsep dirinya adalah sebagai
berikut :
Tabel 5.3 : Distribusi frekuensi dan persentase komponen konsep diri lansia (n=50) di UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia dan Anak Balita
wilayah Binjai dan Medan
Komponen konsep diri
Positif Negatif
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%)
Identitas diri 33 66 17 34
Citra diri 44 88 6 12
Harga diri 26 52 24 48
Ideal diri 49 98 1 2
Peran 28 56 22 44
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebagian besar
lansia memiliki identitas diri yang baik (66%) dan identitas yang kurang (34%),
[image:50.595.107.494.553.655.2](12%), sebagian besar memiliki harga diri yang baik (52%) dan harga diri yang
kurang (48%), mayoritas lansia memiliki ideal diri yang baik (98%) dan ideal diri
yang buruk (2%), serta peran yang baik (56%) dan peran yang kurang (44%). Dari
data tersebut dapat diidentifikasi bahwa komponen konsep diri lansia yang banyak
[image:51.595.110.412.305.351.2]terganggu adalah harga diri (48%) dan peran (44%).
Tabel 5.4 : Distribusi frekuensi dan persentase konsep diri lansia (n=50) di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan
Medan
Konsep diri Frekuensi Persentase (%)
Positif 43 86
Negatif 7 14
Berdasarkan analisa data untuk mengukur konsep diri lansia, maka dapat
diidentifikasi bahwa secara keseluruhan konsep diri lansia di UPT Pelayanan
Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan mayoritas dalam
keadaan baik (positif) yaitu sebanyak 86%, dan kurang (negatif) sebanyak 14%.
1.4. Hubungan antara Tingkat Kemampuan Perawatan Diri Lansia dengan Perubahan Konsep Diri Lansia
Analisa hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan
perubahan konsep diri lansia diukur dengan menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian didapat koefisien korelasi (r) antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan konsep diri lansia yaitu (r) 0,571 dengan tingkat signifikan (p) 0,000. Hal ini menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan