• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Road Humps Terhadap Kecepatan dan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas (Studi Kasus : 12 Ruas Jalan di Kota Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Road Humps Terhadap Kecepatan dan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas (Studi Kasus : 12 Ruas Jalan di Kota Medan)"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Faisal, 2005, Pengaruh Road Hump Terhadap Kecepatan dan Tingkat

Kebisingan Lalu Lintas, Tesis Bidang Khusus Rekayasa Transportasi,

Program Studi Teknik Sipil, Program Pasca Sarjana, Universitas Gajah Mada.

Alamsyah, A. A. 2008, Rekayasa Lalu Lintas. UMM Press. Malang.

Anonim, 1996, Baku Tingkat Kebisingan, Surat Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup Nomor: Kep-48/MENLH/1996/25 November 1996,

Kementrian Lingkungan Hidup RI, Jakarta.

Anonim, 2014, Mengolah Data Statistik Hasil Penelitian Menggunakan SPSS,

Wahana Komputer, Semarang

Ansusanto, J. D dan Adji, O. W. (2010), Efektifitas Polisi Tidur dalam Mereduksi

Kecepatan Lalu Lintas. Simposium XIII FSTPT. Semarang.

Arianto, E, J, (2005), Analisis Pengaruh Speed Humps Terhadap Kecepatan,

Tesis Teknik sipil, Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro Semarang.

Direktorat Jenderal Bina Marga, Panduan Survai dan Perhitungan Waktu

Perjalanan Lalu Lintas, Direktorat Pembinaan Jalan Kota,

No.001/T/BNKT/1990.

Departemen Perhubungan (1994), Keputusan Menteri Perhubungan No.3 Tahun

1994 Tentang Alat Pengendali dan Pengaman Jalan, Departemen

(2)

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Prediksi Kebisingan Akibat

Lalu Lintas, Pd T-10-2004-B

Doelle, L.L., 1993, Akustik Lingkungan, Erlangga, Jakarta.

Elizer Jr, R. M. 1993. Guidelines For Design and Aplication OF Speed Humps.

ITE JOURNAL. Hal. 12-13

Hobbs, F.D. 1995. Perencanaan dan Teknik Lalu Lintas. Gajah Mada University

Press. Yogyakarta.

Jaganaputar, Argya dan Tri Basuki Joewono, (2011), Pengaruh Penggunaan

Speed Humps Terhadap Tingkat Kebisingan,Jurnal Transportasi, Vol.11 No.1

Mediastika, C., E., (2005), Akustika Bangunan, Erlangga, Jakarta.

Parkhill, M., Sooklall, R. dan Bahar, G. 2007. Updated Guidelines for the Design

and Application of Speed Humps. ITE JOURNAL. Hlm. 2-8.

Pfaffenberger, Roger C. dan James H. Patterson. 1977. Statical Methods for

Business and Economics. United State of America: Richard D. Irwin, Inc. Purba,

B, 2013, Efektifitas Polisi Tidur dalam Mereduksi Kecepatan Lalu Lintas,

Jurnal Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara,

(3)

Rosli,N,S and Abdul Azeez Kadar Hamsa (2013), Evaluating the Effect of Road

Hump on Traffic Volume and Noise Level at Taman Keramat Residential Area

Kuala Lumpur, Proceding of the Eastern Asia Society for Transportation

Studies, Vol.9.

Siregar,D,L, (2014), Jarak Optimal Jendulan Melintang (Road Humps) Berseri

dalam Mereduksi Kecepatan, Jurnal Departemen Teknik Sipil Fakultas

Teknik Universitas Sumatera Utara, Medan.

Soedirdjo, T. L. 2002. Rekayasa Lalu Lintas. Penerbit ITB. Bandung.

Susanti, Djalante, 2010, Analsis Tingkat Kebisingan di Jalan Raya yang

Menggunakan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APIL), Jurnal SMARTek ,

Vol. 8 No.4.

Usman, Husaini dan R. Purnomo Setiady A. 2003. Pengantar Statistika.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

Wikipedia. 2015. Radar Kecepatan. http://id.m.wikipedia.org/. Diakses 4

(4)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan pada 12 ruas jalan yang ada dikota Medan. Enam

ruas jalan untuk penelitian speed bump yaitu pada Jalan Rumah Sakit Haji, Jalan

Amir Hamzah, Jalan Kapten Muslim, Jalan Abdullah Lubis, Jalan Universitas dan

Jalan Dr. A. Sofian. Enam ruas jalan untuk penelitian Rumble strips yaitu Jalan Dr.

Mansyur, Jalan KH. Wahid Hasyim, Jalan Sei Serayu, Jalan Sei Belutu, Jalan Gajah

Mada dan Jalan Danau Singkarak. Sketsa lokasi penelitian sesuai 12 gambar dibawah

ini.

(5)

Gambar 3.3 Peta Lokasi Penelitian Jl. Kapten Muslim

2. Jalan Tengku Amir Hamzah

Gambar 3.2 Peta Lokasi Penelitian Jl. Tengku Amir Hamzah

(6)

4. Jalan Abdullah Lubis

Gambar 3.4 Peta Lokasi Penelitian Jl. Abdullah Lubis

(7)

6. Jalan Dr. A. Sofian

Gambar 3.6 Peta Lokasi Penelitian Jl. Dr.A. Sofian

(8)

8. Jalan K.H. Wahid Hasyim

Gambar 3.8 Peta Lokasi Penelitian Jl. K.H. Wahid Hasyim

9. Jalan Sei Serayu

(9)

10. Jalan Sei Belutu

Gambar 3.10 Peta Lokasi Penelitian Jl. Sei Belutu

11. Jalan Gajah Mada

(10)

12. Jalan Danau Singkarak

Gambar 3.12 Peta Lokasi Penelitian Jl. Danau Singkarak

3.2 Sampel

Pengambilan sampel bertujuan untuk memperoleh keterangan mengenai

populasi dengan mengamati hanya sebagian saja dari populasi tersebut. Hamparan

(distribusi) normal rata-rata umumnya cukup jika n ≥ 30 (Walpole,1995 dalam

Arianto, 2005). Sampel yang diambil pada penelitian ini sebanyak 30 buah sampel

untuk jenis kendaraan roda empat (mobil penumpang) dan dan 30 buah sampel

(11)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam Penelitian ini terdapat dua jenis data yaitu data primer dan data

sekunder.

3.3.1 Data Primer

Data primer merupakan data utama yang diperlukan dalam penelitian. Data

primer dilakukan dengan melakukan pengujian langsung dilapangan. Data primer

diperoleh melalui survey pendahuluan dan survei utama.

a. Survey Pendahuluan

Survey Pendahuluan dilakukan untuk mengetahui lokasi, Jenis, panjang,

dimensi (lebar dan tinggi) serta bahan pembuat road humps. Dalam survei

pendahuluan dilakukan juga penetapan titik dan jarak area pengukuran yaitu area

1 sampai dengan 4. Adapun hasil pengamatan tersebut ditetapkan titik pengukuran

area 1 (kecepatan bebas) adalah 25 meter sebelum titik paling luar road humps,

area 2 (area perlambatan) adalah 10 meter sebelum road humps, untuk panjang

area 3 (saat kendaraan melintas diatas road humps) adalah titik tengah road

humps, dan untuk area 4 (area percepatan) adalah 10 meter setelah road humps.

Untuk lebih jelas mengenai titik dan jarak pengukuran dapat dilihat pada Gambar

3.13 dan 3.14.

(12)

Gambar 3.14 Titik dan Jarak Area Pengamatan pada rumble strips

b. Survey Utama

Pada survei utama dilakukan survei kecepatan setempat dan survei

kebisingan. Periode pengamatan survei di lapangan dilakukan selama 6 hari

yaitu pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, dan Selasa yakni

pada tanggal 18 Agustus 2015, 19 Agustus 2015, 20 Agustus 2015, 21 Agustus

2015, 22 Agustus 2015, 23 Agustus 2015, dan 25 Agustus 2015 yaitu dari

pukul 09.50 sampai dengan selesai dan dilakukan diluar peak hour. Hal ini

dimaksudkan untuk menghindari antrian pada ruas jalan yang diamati, karena

berpengaruh terhadap data kecepatan yang akan diperoleh. Sampel yang

diambil sebanyak 30 sampel mobil penumpang dan 30 sampel sepeda motor.

Penelitian dilakukan pada sampel yang telah ditetapkan jumlahnya

sebelumnya, sehingga lamanya waktu pelaksanaan pengamatan di lokasi tidak

berpengaruh terhadap hasil penelitian ini. Adapun survei hasil pengamatan dan

perhitungan langsung dilapangan dilakukan sebagai berikut :

1. Kecepatan Setempat (spot speed)

Survei kecepatan setempat dilakukan pada 4 titik pengamatan yaitu titik

(13)

waktu yang dibutuhkan oleh setiap jenis kendaraan roda empat, roda dua dalam

melewati 4 area yang telah ditentukan. Pada saat survei kecepatan setempat

dibutuhkan 2 orang surveyor, surveyor pertama bertugas menembakkan speed gun

kearah belakang kendaraan. Sedangkan surveyor kedua bertugas memegang

formulir dan mencatat data. Pada saat kendaraan mendekati area 1 surveyor

pertama menghidupkan speed gun dengan menekan tombol “ON” yang terletak

didasar layar LCD. Setelah perangkat menampilkan “00” dilayar LCD, lalu

surveyor pertama siap mengukur kecepatan kendaraan dengan cara menunjukkan

gun pada target di area 1, setelah tampilan angka dilayar LCD muncul surveyor

kedua langsung mencatat data dilembar formulir. Kemudian surveyor pertama dan

surveyor kedua mengikuti kendaraan dengan menembakkan gun dan mencatat data

pada saat kendaraan melewati area 2, 3 dan 4. Pengukuran kecepatan setempat

dengan 2 orang surveyor begitu seterusnya dilakukan pada setiap lokasi.

2. Tingkat Kebisingan Lalulintas

Pengukuran tingkat kebisingan lalulintas dilakukan oleh 4 surveyor. Posisi

surveyor 1 adalah 25 m sebelum road humps bertugas mengukur kebisingan dan

mencatat data pada saat kendaraan melewati area 1 dengan cara mengarahkan SLM

kearah kendaraan. Posisi surveyor 2 adalah 10 meter sebelum road humps bertugas

mengukur dan mencatat data pada saat kendaraan yang sama melewati area 2.

Sedangkan posisi surveyor 3 adalah titik tengah road humps bertugas mengukur

kebisingan dan mencatat data pada saat kendaraan yang sama melewati area 3 dan

surveyor 4 adalah 10 meter setelah melewati road humps bertugas mengukur

kebisingan dan mencatat data kendaraan pada saat melewati area 4. Posisi 4

(14)

3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang bersumber dari instansi – insatansi yang

berkaitan dengan penelitian yaitu Dinas Perhubungan kota Medan :

1. Data lokasi penempatan road humps yang ada di kota Medan.

2. Peta jaringan jalan kota Medan.

3.4 Teknik Pengolahan Data

Setelah dilakukan pengukuran kecepatan setempat dan tingkat kebisingan

pada 4 area pengamatan, diperoleh data kecepatan dan tingkat kebisingan pada 6

lokasi speed bump dan 6 lokasi rumble strips. Data-data tersebut kemudian

ditabelkan dengan menggunakan Software Microsoft Excel dan kemudian di analisa

dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Scientist) .

Adapun analisa data dan tahapan yang digunakan dalam pengolahan data adalah

sebagai berikut:

1. Analisa Perbandingan Jenis Road Humps

Dari hasil survei pengukuran kecepatan setempat dan tingkat kebisingan lalu

lintas di lapangan pada 4 area pengamatan, dibuat tabel-tabel secara rinci untuk

setiap 6 lokasi speed bump dan 6 lokasi rumble strips. Kemudian dari semua tabel

dibuat tabel rekapitulasi untuk membandingkan perubahan penurunan kecepatan

setempat dan tingkat kebisingan pada 4 area pengamatan pada mobil penumpang dan

sepeda motor dengan menggunakan Software Microsoft Excel. Dari hasil persentase

perubahan pada 4 area pengamatan tersebut dianalisa apakah speed bump dan rumble

(15)

2. Analisa Pengaruh Road Humps Terhadap Kecepatan Dan Tingkat Kebisingan

Lalulintas.

Untuk mencari pengaruh road humps terhadap kecepatan dan tingkat kebisingan

lalulintas digunakan metode analisis regresi linear berganda. Analisis regresi linear

berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen

(X1, X2,… Xn) dengan variabel dependen (Y). analisis ini untuk mengetahui arah

hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen, apakah masing-

masing variabel independen berhubungan positif atau negative dan untuk

memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen

mengalami kenaikan atau penurunan.

Dalam analisis tingkat kebisingan di road humps (Y), variabel bebas yang

digunakan adalah kecepatan setempat pada area 3 (X1 ), tinggi (X2 ), lebar bagian

bawah road humps (X3 ). Untuk memudahkan pengerjaan ini penulis menggunakan

program perangkat lunak SPSS Versi 16.

Secara umum model matematis persamaan regresi yang dimaksud adalah

sebagai berikut:

(16)

2 2 2

Langkah-langkah untuk melakukan analisis regresi linear berganda menggunakan

program SPSS adalah sebagai berikut:

1. Masuk program SPSS

2. Klik variabel view pada SPSS data editor

3. Pada kolom Decimals angka ganti menjadi 2 untuk variabel x dan y

4. Buka data view pada SPSS data editor

5. Klik Analyze – Regression-Linear

6. Klik variabel X dan masukkan ke kotak Dependent List, kemudian klik

variabel Y dan masukkan ke Independent List.

7. Klik tombol statistics sehingga muncul kotak dialog Linear Regression

Statistics. Tandai pilihan Estimate, Model Fit, dan Descriptives. Selanjutnya,

klik continue.

8. Klik Options, pada Stepping Method Criteria, pilih Use Probability of F

dengan tingkat signifikan 0,05, kemudian klik continue

9. Klik Ok. Hasilnya, pada jendela ouput akan muncul tampilan gambar.

Untuk mengetahui berapa besar hubungan linear antara variabel bebas dan

variabel terikatny maka dicari koefisien determinasi (R2) .

Secara manual, r dapat dicari melalui perumusan berikut :



Sumber: Roger C. Pfaffenberger dan James H. Patterson 1977

(17)

Koefisien determinasi (r2) merupakan nilai yang dipergunakan untuk

mengukur besar kecilnya sumbangan/kontribusi perubahan variabel bebas terhadap

perubahan variabel terikat yang sedang kita amati, yang secara manual dapat

ditentukan cukup dengan mengkuadratkan nilai r yang sudah kita dapatkan dari

formulasi diatas.

Dari variabel-variabel yang telah diolah dengan program SPSS melalui

regresi linear maka didapatkan beberapa model yang menghubungkan antara tingkat

kebisingan dengan beberapa faktor lalu lintas sebagai variabel bebas. Setiap model

tersebut mempunyai nilai R Square atau Koefisien Determinasi (R2) dapat dilihat

pada tabel Model Summary (hasil output olah data).

Adapun metode penelitian ini dilaksanakan dengan mengikuti bagan alir

(18)

MULAI

฀ Geometrik Jalan kota medan

฀ Data lainnya yang berhubungan dengan

penelitian

Pengolahan Data:

฀ Pengelompokan data kecepatan setempat dan kebisingan menurut jenis

speed bump dan rumble strips menggunakan MS excel

฀ Melakukan analisis antara hubungan penurunan kecepatan dan kebisingan

lalu lintas berdasarkan jenis speed bump dan rumble strips menggunakan MS excel

Analisa Data:

Pengaruh road humps terhadap kecepatan dan kebisingan lalu lintas

dengan metode regresi linear menggunakan program SPSS

Kesimpulan dan Saran

SELESAI

(19)

BAB IV

HASIL DAN ANALISA DATA

Data kecepatan setempat dan tingkat kebisingan untuk setiap lokasi speed

bump dan rumble strips, diperoleh dari 30 sampel kendaraan yakni mobil penumpang

dan sepeda motor.

4.1 Speed Bump

Karakteristik speed bump meliputi panjang, dimensi (lebar dan tinggi) serta

bahan pembuatnya pada keenam lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Karakteristik Speed Bump

Adapun data kecepatan setempat mobil penumpang pada keenam ruas jalan

(20)

Tabel 4.2 Data Kecepatan Setempat Mobil Penumpang (Speed Bump)

No. Lokasi Kecepatan Setempat (Km/jam)

Area 1 Area 2 Area 3 Area 4

Grafik 4.1 Kecepatan Setempat Mobil Penumpang (Speed Bump)

Sedangkan data kecepatan setempat sepeda motor pada keenam ruas jalan

yang memiliki speed bump dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Data Kecepatan Setempat Sepeda Motor (Speed Bump)

(21)

Grafik 4.2 Kecepatan Setempat Sepeda Motor (Speed Bump)

Data tingkat kebisingan mobil penumpang pada keenam ruas jalan yang

memiliki speed bump dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Tingkat Kebisingan Mobil Penumpang (Speed Bump)

No. Lokasi

Tingkat Kebisingan (dBA)

Area 1 Area 2 Area 3 Area 4

1 Jl. Rumah Sakit Haji 71.56 76.77 79.66 85.95 2 Jl. Tengku Amir Hamzah 74.46 79.9 69.74 81.44 3 Jl. Kapten Muslim 82.42 80.51 72.35 85.63 4 Jl. Abdullah Lubis 71.08 73.9 72.06 73.483 5 Jl. Universitas 68.87 65.64 70.59 68.44 6 Jl.Dr.A. Sofian 68.46 65.38 67.67 67.75

Rata-rata 72.80 73.68 72.01 77.11

(22)

Sedangkan data tingkat kebisingan sepeda motor pada keenam ruas jalan

yang memiliki speed bump dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Data Tingkat Kebisingan Sepeda Motor (Speed Bump)

No. Lokasi Tingkat Kebisingan (dBA)

Area 1 Area 2 Area 3 Area 4 1 Jl. Rumah Sakit Haji 69.58 75.97 79.25 85.47 2 Jl. Tengku Amir Hamzah 79.95 81.29 70.83 87.82 3 Jl. Kapten Muslim 83.76 81.99 73.27 86.77 4 Jl. Abdullah Lubis 71.31 76.22 73.04 75.21

5 Jl. Universitas 67.06 65.9 72.92 73.27

6 Jl.Dr.A. Sofian 69.11 67.33 71.83 72.89

Rata-rata 73.46 74.78 73.52 80.23

Grafik 4.4 Tingkat Kebisingan Sepeda Motor (Speed Bump)

4.2 Rumble Strips

Karakteristik rumble strips meliputi panjang, dimensi (lebar dan tinggi) serta

(23)

Tabel 4.6 Karakteristik Rumble Strips

Adapun data kecepatan setempat mobil penumpang pada keenam ruas jalan

yang memiliki rumble strips dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Data Kecepatan Setempat Mobil Penumpang (rumble strips)

No. Lokasi Kecepatan Setempat (Km/jam)

Area 1 Area 2 Area 3 Area 4

(24)

Sedangkan data kecepatan setempat sepeda motor pada keenam ruas jalan

yang memiliki rumble strips dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Data Kecepatan Setempat Sepeda Motor (rumble strips)

No Lokasi

Grafik 4.6 Kecepatan Setempat Sepeda Motor (rumble strips)

Data tingkat kebisingan mobil penumpang pada keenam ruas jalan yang

memiliki rumble strips dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Data Tingkat Kebisingan Mobil Penumpang (Rumble Strips)

(25)

Grafik 4.7 Tingkat Kebisingan Mobil Penumpang (rumble strips)

Sedangkan data tingkat kebisingan sepeda motor pada keenam ruas jalan

yang memiliki speed bump dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Data Tingkat Kebisingan Sepeda Motor (Rumble Strips)

No Lokasi

Tingkat Kebisingan (dBA)

Area 1 Area 2 Area 3 Area 4

1 Jl. Dr. Mansur 68.01 76.88 75.55 78.07

2 Jl. K.H. Wahid Hasyim 66.41 72.41 75.88 76.27

3 Jl. Sei Serayu 73.43 77.02 72.8 73.68

4 Jl.Sei Belutu 76.5 72.19 70.4 74.45

5 Jl. Gajah Mada 73.03 72.1 76.36 75.74

6 Jl.Danau Singkarak 73.41 75.49 74.29 74.92

Rata-rata 71.79 74.34 74.21 75.19

(26)

4.3 Analisa Data

Analisa data yang dilakukan pada penelitian ini mencakup tiga tahap yaitu

analisa perbandingan jenis road humps, analisa model pengaruh jenis road humps

terhadap kecepatan dan tingkat kebisingan lalu lintas dan analisa hubungan

kecepatan dan tingkat kebisingan lalu lintas

4.3.1 Perbandingan Jenis Road humps

Setelah data kecepatan kendaraan dan tingkat kebisingan didapat dari

pengukuran dilapangan pada lokasi speed bump dan rumble strips. kemudian kedua

jenis road humps tersebut diperbandingkan untuk perubahan kecepatan dan tingkat

kebisingan pada 4 area pengamatan.

1. Speed Bump

Dari data yang didapat pada hasil pengukuran 4 area pengamatan speed

bump, dibuat tabel rekapitulasi untuk membandingkan hasil perubahan kecepatan

setempat dan tingkat kebisingan lalu lintas.

a. Kecepatan Setempat

Perubahan persentase penurunan dan penambahan kecepatan setempat mobil

penumpang pada 4 area pengamatan speed bump dapat dilihat pada Tabel 4.11

(27)

Dengan melihat data hasil perhitungan pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa

kecepatan setempat mobil penumpang pada 4 area pengamatan menunjukkan reduksi

yang berbeda. penurunan terbesar terjadi ketika kendaraan dari area 1 (kecepatan

bebas) menuju area 2 (area perlambatan) yang terletak di jalan universitas dengan

penurunan kecepatan sebesar 40%. Sedangkan penurunan kecepatan terbesar dari

area 2 ke area 3 terletak di jalan Dr. A. Sofian dengan penurunan kecepatan sebesar

17,09%. Kemudian penurunan kecepatan dari area 3 menuju area 4 hanya terdapat

dijalan rumah sakit haji. Hal ini menujukkan bahwa kendaraan setelah melewati area

3 akan melakukan percepatan.

Sedangkan perubahan persentase penurunan dan penambahan kecepatan

setempat sepeda motor pada 4 area pengamatan speed bump dapat dilihat pada

Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Perubahan Presentase Kecepatan Setempat Sepeda Motor (Speed Bump)

No. Lokasi Perubahan 1-2

Dari tabel diatas perubahan penurunan kecepatan setempat sepeda motor

terbesar dari area 1 (kecepatan bebas) menuju area 2 (perlambatan) terdapat pada

jalan Dr.A. Sofian sebesar 30,68% dan perubahan penurunan kecepatan dari area 2

(area perlambatan) menuju area 3 ( saat kendaraan melintas diatas speed bump)

terbesar terdapat pada jalan Universitas sebesar 11,25%. Sedangkan kecepatan

(28)

Dari perubahan kecepatan setempat mobil penumpang dan sepeda motor

pada 4 area pengamatan diatas bahwa speed bump sangat efektif dalam menurunkan

kecepatan kendaraan. Hal ini sesuai dengan fungsi dari road humps yaitu sebagai

alat pengendali kecepatan lalulintas untuk menurunkan kecepatan pada daerah yang

memiliki geometrik atau tata guna lahan yang kurang menguntungkan sampai 40%.

dimana rata- rata penurunan kecepatan hasil penelitian adalah 40%.

Dari persentase penurunan kecepatan kendaraan diatas, dapat dilihat juga

bahwa speed bump dengan karakteristik yang berbeda akan menghasilkan persentase

penurunan kecepatan yang berbeda. Sebagai contoh adalah speed bump dengan lebar

bawah 50 cm yang terletak di jalan Tengku Amir Hamzah dan jalan Kapten Muslim.

Semakin tinggi elevasi speed bump tersebut, maka persentase penurunan

kecepatannya semakin besar. Demikian juga speed bump yang terletak di jalan

Universitas dan di jalan Dr. A. Sofian yang mempunyai lebar bawah 38 cm,

persentase penurunan kecepatannya semakin besar seiring dengan berkurangnya

lebar speed bump tersebut. Selain itu dari data juga dapat dilihat bahwa untuk speed

bump dengan ketinggian yang sama tetapi dengan ukuran lebar yang berbeda juga

menghasilkan peredaman yang berbeda. Semakin kecil lebar speed bump, semakin

besar persentase penurunan kecepatannya.

b. Tingkat Kebisingan Lalu Lintas

Perubahan persentase penurunan dan penambahan tingkat kebisingan mobil

(29)

Tabel 4.13 Perubahan Presentase Tingkat Kebisingan Mobil Penumpang

Dengan melihat data hasil perhitungan pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa

tingkat kebisingan mobil penumpang pada 4 area pengamatan menunjukkan adanya

penurunan dan penambahan kebisingan. Dimana reduksi tingkat kebisingan terbesar

terjadi pada area 2 ( perlambatan) menuju area 3 (saat kendaraan melintas diatas

speed bump) sebesar 12,72% terdapat pada jalan Tengku Amir Hamzah. Sedangkan

di jalan Universitas, jalan Dr.A.Sofian dan jalan Rumah Sakit Haji justru terjadi

penambahan kebisingan ketika kendaraan dari area 2 menuju area 3.

Sedangkan perubahan persentase penurunan dan penambahan tingakat

kebisingan sepeda motor pada 4 area pengamatan speed bump dapat dilihat pada

Tabel 4.14.

Tabel 4.14 Perubahan Presentase Tingkat Kebisingan Sepeda Motor (Speed Bump)

No. Lokasi Perubahan 1-2

Data perubahan tingkat kebisingan sepeda motor hampir sama dengan tingkat

(30)

area 2 yang terdapat pada jalan Tengku Amir Hamzah. Sedangkan di jalan

Universitas, jalan Dr.A.Sofian dan jalan Rumah Sakit Haji justru terjadi penambahan

kebisingan ketika kendaraan dari area 2 menuju area 3.

Dari perubahan tingkat kebisingan mobil penumpang dan sepeda motor pada

4 area pengamatan diatas bahwa speed bump selain bisa meruduksi kecepatan bisa

juga mereduksi tingkat kebisingan tetapi hanya terjadi pada jalan Tengku Amir

Hamzah, jalan Kapten Muslim dan jalan Abdullah lubis.

Dari persentase penurunan kecepatan kendaraan diatas, dapat dilihat juga

bahwa speed bump dengan karakteristik yang berbeda akan menghasilkan persentase

penurunan tingkat kebisingan yang berbeda. Sebagai contoh adalah speed bump

dengan lebar bawah 50 cm yang terletak di jalan Tengku Amir Hamzah dan jalan

Kapten Muslim. Semakin tinggi elevasi speed bump tersebut, maka persentase

penurunan kebisingannya semakin besar. Selain itu dari data juga dapat dilihat

bahwa speed bump yang terbuat dari bahan aspal lebih tinggi tingkat kebisingannya

dari pada speed bump yang terbuat dari bahan karet.

Tingkat kebisingan yang terukur pada enam lokasi speed bump, telah

melampaui baku tingkat kebisingan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48

Tahun 1996. Dimana pada enam lokasi tersebut terdapat lingkungan kegiatan seperti

perumahan, mesjid, rumah sakit dan perkantoran.

2. Rumble Strips

Dari data yang didapat pada hasil pengukuran 4 area pengamatan rumble

strips, dibuat tabel rekapitulasi untuk membandingkan hasil perubahan kecepatan

(31)

a. Kecepatan Setempat

Perubahan persentase penurunan dan penambahan kecepatan setempat pada 4

area pengamatan rumble Strips dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15 Perubahan Presentase Kecepatan Setempat Mobil Penumpang (Rumble Strips)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa penurunan kecepatan kendaraan hanya

terjadi ketika kendaraan dari area 1 menuju area 2. Sedangkan ketika kendaraan dari

area 2 menuju area 3 tidak terjadi penurunan kecepatan. Penurunan kecepatan mobil

penumpang pada rumble strips hanya terjadi pada jalan K.H. Wahid hasyim sebesar

7,91 %, karena pada lokasi tersebut terdapat persimpangan, sehingga banyak

kendaraan ketika melewati area tersebut menurunkan kecepatannya. Sedangkan

pada jalan Dr. Mansur, jalan Sei Serayu, jalan Sei Belutu, jalan Gajah Mada dan

jalan Danau singkarak tidak adanya penurunan kecepatan ketika melewati rumble

strips. Hal tersebut terjadi karena masih banyak pengendara yang nekat menerobos,

bahkan dengan kecepatan yang cukup tinggi (lebih dari 25 km/jam).

Sedangkan perubahan persentase penurunan dan penambahan kecepatan

setempat sepeda motor pada 4 area pengamatan rumble Strips dapat dilihat pada

(32)

Tabel 4.16 Perubahan Presentase Kecepatan Setempat Sepeda motor

Dari tabel diatas terlihat bahwa perubahan kecepatan setempat mobil

penumpang hampir sama dengan sepeda motor, dimana penurunan kecepatan hanya

terjadi ketika kendaraan dari area 1 menuju area 2. Sedangkan ketika kendaraan dari

area 2 menuju area 3 tidak ada terjadi penurunan kecepatan. Penurunan kecepatan

sepeda motor pada rumble strips hanya terjadi pada jalan K.H. Wahid hasyim

sebesar 3,22 %.

Dari perubahan kecepatan setempat mobil penumpang dan sepeda motor

pada 4 area pengamatan diatas bahwa rumble strips tidak efektif dalam menurunkan

kecepatan kendaraan. Hal ini disebabkan bahwa rumble strips tidak dirancang untuk

mengurangi kecepatan lalu lintas, akan tetapi dirancang untuk memberi peringatan

pada pengendara agar lebih waspada terhadap situasi perjalanan.

b. Tingkat Kebisingan

Perubahan persentase penurunan dan penambahan tingkat Kebisingan mobil

(33)

Tabel 4.17 Perubahan Presentase Tingkat Kebisingan Mobil Penumpang

Dari tabel diatas terlihat bahwa perubahan tingkat kebisingan mobil

penumpang terjadi penurunan terbesar di area 1 menuju area 2 dengan perubahan

sebesar 10,64% terdapat pada jalan Jl. Sei Serayu.

Sedangkan perubahan persentase penurunan dan penambahan tingkat

kebisingan sepeda motor pada 4 area pengamatan rumble strips dapat dilihat pada

Tabel 4.18.

Tabel 4.18 Perubahan Presentase Tingkat Kebisingan Sepeda Motor (Rumble Strips)

Dari tabel diatas terlihat bahwa perubahan penurunan tingkat kebisingan

sepeda motor terbesar hanya terjadi di area 1 menuju area 2 sebesar 5,63% yang

terletak di jalan Sei Belutu.

Tingkat kebisingan yang terukur di enam lokasi penelitian rumble strips,

telah melampaui baku tingkat kebisingan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.

(34)

dimana pada lokasi tersebut terdapat tempat ibadah Mesjid Nurul Huda, tingkat

kebisingan yang diperbolehkan untuk tempat ibadah sebesar 55 dBA, sedangkan

yang terjadi dilapangan sebesar 72.8 dBA (lihat tabel 4.10).

4.3.2 Pengaruh Road Humps Terhadap Kecepatan dan Tingkat Kebisingan

Lalu Lintas

Pada penelitian ini akan diteliti pengaruh tingkat kebisingan di road humps.

Road humps secara efektif dapat menurunkan kecepatan tetapi belum dapat diketahui

seberapa besar pengaruhnya terhadap tingkat kebisingan yang ditimbulkan. Untuk

mendapatkan hubungan antara variable bebas dengan variable terikatnya digunakan

analisis regresi linear. Untuk variable terikatnya adalah kecepatan lalu lintas pada

titik 3, yaitu kecepatan kendaraan pada saat berada di atas road humps, yang diduga

dipengaruhi oleh kecepatan kendaraan pada area 3, tinggi dan lebar bawah road

humps. Untuk memudahkan pengerjaan analisis regresi linear digunakan Program

perangkat lunak SPSS versi 16.

Variable bebas yang dimasukkan adalah kecepatan pada area 3 yaitu

kecepatan di atas road humps, Kemudian tinggi, dan lebar bawah road humps.

Secara fungsional hubungan tersebut ditulis sebagai berikut :

Kebisingan di road hump = f (Kecepatan Area 3, tinggi road humps dan lebar bawah

road humps ). Atau secara matematis ditulis dengan rumus :

Y = ao + + a1 ( kecepatan area 3) + a2 (tinggi road humps) + a3 ( lebar

bawah road humps )

Setelah dilakukan pemasukan data ke program SPSS dengan metode stepwise

terhadap variable-variabel di atas maka diperoleh hasil nilai koefisien model

(35)

Tabel 4.19 Nilai Koefisien Model Persamaan Regresi Mobil Penumpang

Dari tabel di atas dapat dibuat persamaan regresi :

Y = 73,766 – 0,585 X1 + 0,534 X2 + 0,117 X3

Model tingkat kebisingan di atas dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar

73,766 menyatakan apabila variable bebasnya adalah nol atau sama sekali tidak ada

faktor pengaruh maka kebisingan dasar yang terjadi adalah sebesar 73,766 dBA.

Nilai koefisien X1 adalah sebesar – 0,585, maksudnya adalah bahwa setiap ada

penambahan kecepatan sebesar 1 km/jam, maka tingkat kebisingan di speed bump

akan berkurang sebesar 0,585 dBA. Nilai koefisien regresi X2 sebesar 0,534

menyatakan bahwa setiap ada penambahan tinggi 1 cm maka akan menambah tingkat

kebisingan sebesar 0,534 dBA. Dan koefisien regresi X3 sebesar 0,117 menyatakan

bahwa setiap ada penambahan lebar sebesar 1 cm maka akan menambah tingkat

(36)

• Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Nilai R2 mempunyai interval mulai dari 0 sampai 1 ( 0 ≤ R2 ≥ 1 ), semakin

R2 mendekati 1, semakin baik model regresi tersebut, semakin mendekati nol maka

variable independent secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan variabilitas dari

variable dependen.

Tabel 4.20 Hasil Analisis Determinasi Mobil Penumpang (Speed Bump)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .951a .904 .759 2.02047

a. Predictors: (Constant), lebar speed bump, tinggi speed bump, kecepatan area 3

b. Dependent Variable: tingkat kebisingan area 3

Berdasarkan tabel di atas diperoleh R2 (R Square) sebesar 0,904 artinya

variabel-variabel independent dapat menerangkan 90,4 % dari variabel dependennya,

sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain.

Tabel 4.21 Nilai Koefisien Model Persamaan Regresi Sepeda Motor (Speed Bump)

Dari tabel di atas dapat dibuat persamaan regresi :

(37)

Dengan

Y = Tingkat Kebisingan di speed bump ( dBA)

X1 = Kecepatan Rata-rata di area 3 (Km/jam)

X2 = Tinggi speed bump (cm)

X3 = Lebar bawah speed bump (cm)

Model tingkat kebisingan di atas dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar

78,703 menyatakan apabila variable bebasnya adalah nol atau sama sekali tidak ada

faktor pengaruh maka kebisingan dasar yang terjadi adalah sebesar 78,703 dB (A).

Nilai koefisien X1 adalah sebesar -0,559, maksudnya adalah bahwa setiap ada

penambahan kecepatan sebesar 1 km/jam, maka tingkat kebisingan di speed bump

akan berkurang sebesar 0,559 dBA. Nilai koefisien regresi X2 sebesar 0,316

menyatakan bahwa setiap ada penambahan tinggi 1 cm maka akan menambah tingkat

kebisingan sebesar 0,316 dBA. Dan koefisien regresi X3 sebesar 0,077 menyatakan

bahwa setiap ada penambahan lebar sebesar 1 cm maka akan menambah tingkat

kebisingan sebesar 0,077 dBA.

• Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Tabel 4.22 Hasil Analisis Determinasi Sepeda Motor (Speed Bump)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .969a .939 .848 1.15263

a. Predictors: (Constant), lebar speed bump, kecepatan area 3, tinggi speed bump

(38)

Berdasarkan tabel di atas diperoleh R2 (R Square) sebesar 0,939 artinya

variabel-variabel independent dapat menerangkan 93,9 % dari variabel dependennya,

sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain.

Tabel 4.23 Nilai Koefisien Model Persamaan Regresi Mobil Penumpang (Rumble Strips)

Dari tabel di atas dapat dibuat persamaan regresi :

Y = 88,503 - 0,180 X1 - 9,245 X2

Dengan

Y = Tingkat Kebisingan di Rumble Strips ( dBA)

X1 = Kecepatan Rata-rata di area 3 (Km/jam)

X2 = Tinggi Rumble Strips (cm)

Model tingkat kebisingan di atas dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar

88,503 menyatakan apabila variable bebasnya adalah nol atau sama sekali tidak ada

faktor pengaruh maka kebisingan dasar yang terjadi adalah sebesar 88,503 dBA.

Nilai koefisien X1 adalah sebesar -0,180, maksudnya adalah bahwa setiap ada

penambahan kecepatan sebesar 1 km/jam, maka tingkat kebisingan di Rumble Strips

akan berkurang sebesar 0,180 dBA. Nilai koefisien regresi X2 sebesar -9,245

menyatakan bahwa setiap ada penambahan tinggi 1 cm maka akan mengurangi

(39)

• Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Tabel 4.24 Hasil Analisis Determinasi Mobil Penumpang (rumble Strips)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .667a .445 .075 2.12210

a. Predictors: (Constant), tinggi rumble strips, kecepatan area 3 b. Dependent Variable: tingkat kebisingan

Berdasarkan tabel di atas diperoleh R2 (R Square) sebesar 0,445 artinya

variabel-variabel independent dapat menerangkan 44,5% dari variabel dependennya,

sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain.

Tabel 4.25 Nilai Koefisien Model Persamaan Regresi Sepeda Motor (Rumble Strips)

Dari tabel di atas dapat dibuat persamaan regresi :

Y = 88,843- 0,246 X1 -7,740 X2

Dengan

Y = Tingkat Kebisingan di Rumble Strips ( dBA)

X1 = Kecepatan Rata-rata di area 3 (Km/jam)

(40)

X3 = Lebar bawah Rumble Strips (cm)

Model tingkat kebisingan di atas dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar

88,843 menyatakan apabila variable bebasnya adalah nol atau sama sekali tidak ada

faktor pengaruh maka kebisingan dasar yang terjadi adalah sebesar 88,843 dBA.

Nilai koefisien X1 adalah sebesar -0,246, maksudnya adalah bahwa setiap ada

penambahan kecepatan sebesar 1 km/jam, maka tingkat kebisingan di rumble strips

akan berkurang sebesar 0,246 dBA. Nilai koefisien regresi X2 sebesar -7, 740

menyatakan bahwa setiap ada penambahan tinggi 1 cm maka akan mengurangi

tingkat kebisingan sebesar 7,740 dBA.

• Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Tabel 4.26 Hasil Analisis Determinasi Sepeda Motor (rumble Strips)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .512a .262 -.229 2.51442

a. Predictors: (Constant), tinggi rumble strips, kecepatan area 3 b. Dependent Variable: tingkat kebisingan

Berdasarkan tabel di atas diperoleh R2 (R Square) sebesar 0,262 artinya

variabel-variabel independent dapat menerangkan 26,2 % dari variabel dependennya,

(41)

4.3.3 Hubungan Kecepatan dan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas

Untuk menyatakan hubungan antara kecepatan dengan tingkat kebisingan

digunakan analisis regresi linear. untuk Kecepatan setempat pada area 3 (variabel x)

dan tingkat kebisingan pada area 3 (variabel y). Dan dicari juga koefisien

determinasinya (R2) untuk mengetahui kekuatan hubungan linier antara kecepatan

setempat dan tingkat kebisingan. Persamaan linier dan Koefisien determinasi yang

didapat adalah sebagai berikut:

1. Speed Bump

Untuk mobil penumpang didapat persamaan linier y = 1.103x + 49.39 dengan

R² = 0,250. Persamaan linier tersebut dimuat dalam grafik 4.9.

Grafik 4.9. Grafik Hubungan Kecepatan dan Tingkat Kebisingan Pada Mobil Penumpang (Speed Bump)

Sedangkan untuk sepeda motor didapat persamaan linier y = -0.145 + 76.56

(42)

Grafik 4.10. Grafik Hubungan Kecepatan dan Tingkat Kebisingan Pada Sepeda Motor (Speed Bump)

2. Rumble Strips

Untuk mobil penumpang didapat persamaan linier y = -0,167x + 79.23

dengan R² = 0,046 Persamaan linier tersebut dimuat dalam grafik 4.11.

Grafik 4.11. Grafik Hubungan Kecepatan Dan Tingkat Kebisingan Pada Mobil Penumpang (Rumble Strips)

Sedangkan untuk sepeda motor didapat persamaan linier y = -0.120x + 77.71

(43)

Grafik 4.12. Grafik Hubungan Kecepatan Dan Tingkat Kebisingan Pada Sepeda Motor (Rumble Strips)

4.3.4 Analisis Kondisi Lapangan

Berdasarkan hasil observasi dilapangan ternyata tingkat kebisingan terukur

dilokasi penelitian telah melampaui standar baku tingkat kebisingan Keputusan

Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996. Hal ini disebabkan oleh

faktor pengendara yang tidak menurunkan kecepatan ketika akan melewati road

humps. Keduabelas jalan merupakan jalan kolektor, yaitu jalan yang melayani

angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang, volume

sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.

Pemasangan fasilitas speed bump dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan kota

Medan dengan asumsi merupakan permintaan dari masyarakat setempat, seperti pada

jalan Rumah Sakit Haji fasilitas speed bump dipasang depan mesjid Al-Furqon pada

jalan Tengku Amir Hamzah dipasang di depan restoran Lembur Kuring, jalan Kapten

(44)

mesjid Al-jihad, jalan Universitas dipasang di depan bank BTN dan jalan

Dr.A.Sofian dipasang didepan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Sedangkan pihak

perhubungan tidak mengetahui adanya pemasangan fasilitas rumble strips, akan

tetapi mereka berpendapat bahwa fasilitas tersebut dipasang oleh pihak dinas

pekerjaan umum. Fakta tersebut telah dikonfirmasi dengan pegawai instansi terkait

dengan asumsi sebagai upaya kepentingan keselamatan masyarakat. Tidak adanya

bukti nyata berupa surat dari instansi terkait karena dianggap tidak tepat bila

menunjukkan surat kontrak antara instansi terkait dengan kontraktor pemenang

tender untuk proyek pemasangan road humps di beberapa kecamatan kota Medan,

fasilitas speed bump dan rumble strips sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan

dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 3 Tahun 1994 Tentang Alat

Pengendali Pemakai Jalan.

Dimensi dan material dari road humps yang dipasang pada ruas jalan lokasi

penelitian sesuai dengan standar road humps yang telah ditetapkan. Namun lama

kelamaan dimensi road humps itu sendiri tidak sesuai lagi dengan standar dimensi

yang telah ditetapkan karena material road humps tersebut terbuat dari bahan karet

(rubber) dan thermoplastik yang akan merata dengan jalan akibat dilintasi

terusmenerus oleh kendaraan. Hal tersebut mempengaruhi efektifitas road humps itu

sendiri dalam mereduksi kecepatan lalu lintas, karena dinyatakan efektif apabila

(45)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Penurunan kecepatan pada speed bump lebih besar dari pada penurunan

kecepatan pada rumble strips, hal ini menunjukkan bahwa speed bump lebih

efektif dalam mereduksi kecepatan dibandingkan rumble strips.

2. Tingkat kebisingan pada rumble strips lebih tinggi dari tingkat kebisingan

pada speed bump, hal ini jelas menunjukkan bahwa rumble strips memang

dirancang untuk memberikan efek getaran maupun suara yang dapat

menimbulkan kebisingan sehingga diharapkan dapat meningkatkan

kewaspadaan pada pengemudi.

3. Pengaruh road humps terhadap kecepatan dan tingkat kebisingan lalu lintas

dipengaruhi oleh faktor kecepatan (X1 ) tinggi road humps (X2 ) dan lebar

bawah road humps (X3 ). model ini menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di

road humps (Y) adalah fungsi dari kecepatan, tinggi dan lebar bawah road

humps dengan membentuk persamaan regresi linear.

a. Speed bump

 mobil penumpang

Y = 73,766 – 0,585 X1 + 0,534 X2 + 0,117 X3 dengan R2 = 0,904.

 sepeda motor

(46)

b. Rumble Strips

 mobil penumpang

Y = 88,503 - 0,180 X1 - 9,245 X2 dengan R2 = 0,445

 sepeda motor

Y = 88,843- 0,246 X1 -7,740 X2 dengan R2 = 0,262

4. Model persamaan tingkat kebisingan pada penelitian ini terlihat bahwa

kecepatan kendaraan memberikan kontribusi terbesar terhadap tingkat

kebisingan road humps.

5. Tingkat kebisingan yang terukur di lokasi penelitian telah melampaui standar

baku tingkat kebisingan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

48 Tahun 1996. Hal ini disebabkan oleh tingginya kecepatan lalu lintas yang

ada disetiap ruas jalan.

5.2. SARAN

1. Survey kecepatan dapat dilakukan pada malam hari atau pada saat volume

lalu lintas rendah sehingga diperoleh data kecepatan kendaraan dan tingkat

kebisingan yang tidak dipengaruhi oleh antrian (kemacetan).

2. Pemasangan road humps hendaknya diikuti dengan pemasangan rambu atau

tanda yang menunjukkan adanya road humps dijalan tersebut, sehingga

keberadaannya tidak mengejutkan pemakai jalan yang lewat.

3. Perlu adanya pemeliharaan rutin untuk polisi tidur (road humps) dari instansi

terkait agar terjaganya dimensi polisi tidur (road humps) yang sesuai standar

sehingga tidak mengurangi efektifitasnya dalam mereduksi kecepatan lalu

(47)

BAB II TINJAUAN

PUSTAKA

2.1 Jendulan Melintang (Road Humps)

Jendulan melintang adalah kelengkapan tambahan pada jalan yang berfungsi

untuk membuat pengemudi kendaraan bermotor mengurangi kecepatan

kendaraannya, kelengkapan tambahan antara lain berupa peninggian sebagian badan

jalan yang melintang terhadap sumbu jalan dengan lebar, tinggi dan kelandaian

tertentu yang dikenal sebagai polisi tidur ( Abu Bakar, 1999 dalam Affandi, 2005).

Fasilitas jendulan melintang jalan (road humps) ini merupakan adopsi dari UK

Department for Transport untuk mengatasi permasalahan pelanggaran kecepatan

yang mengakibatkan tingginya tingkat kecelakaan (Direktorat Jenderal Prasarana

Wilayah, 2004). Jendulan melintang jalan (road humps) adalah fasilitas yang

dirancang dalam bentuk gangguan geometrik vertikal untuk memberikan efek

paksaan bagi pengemudi menurunkan kecepatan pada daerah yang memiliki kondisi

geometrik atau tata guna lahan yang kurang menguntungkan, sampai 40 %

(Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah, 2004).

Dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 3 Tahun 1994 Tentang

Alat Pengendali Pemakai Jalan disebutkan peraturan tentang alat pengendali atau

pembatas kecepatan (road humps) bahwa alat pengendali atau pembatas kecepatan

(road humps) adalah kelengkapan tambahan pada jalan yang berfungsi untuk

membuat pengemudi kendaraan bermotor mengurangi kecepatannya. Alat pengendali

atau pembatas kecepatan (road humps) berupa peninggian sebagian badan jalan yang

(48)

Pemilihan bahan atau material untuk road humps harus memperhatikan keselamatan

pemakai jalan.

Alat pembatas kecepatan ditempatkan pada jalan di lingkungan pemukiman,

jalan lokal yang mempunyai kelas jalan III C dan pada jalan-jalan yang sedang

dilakukan pekerjaan kontruksi. Alat pembatas kecepatan memperhatikan beberapa hal

(Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah, 2004), seperti:

• Pelaksanaan fasilitas ini terbukti sangat efektif menurunkan kecepatan.

• Fasilitas ini tidak menimbulkan kebisingan sehingga dapat dilaksanakan di

daerah pemukiman.

• Fasilitas ini harus dirancang dan dilaksanankan sesuai standar yang

disyaratkan karena bila tidak justru dapat menciptakan potensi kecelakaan

lalu lintas atau kerusakan kendaraan.

• Perlu diberikan rambu dan fasilitas pendukung lain untuk meningkatkan

efektifitas fasilitas.

Bentuk penampang melintang alat pembatas kecepatan menyerupai trapesium

dan bagian yang menonjol di atas badan jalan maksimum 12 cm, dengan kelandaian

sisi miringnya maksimal 15%. Lebar datar pada bagian sisi miringnya. Proporsional

dengan bagian menonjol di atas badan jalan dan minimum 15 cm seperti yang

ditunjukkan pada Gambar 2.1 dan 2.2. Material alat pembatas kecepatan dapat dibuat

dengan menggunakan bahan yang sesuai dengan bahan dari badan jalan, karet, atau

bahan lainnya yang mempunyai pengaruh serupa sebagaimana juga harus

(49)

Gambar 2.1 Penampang Melintang Polisi Tidur

Gambar 2.2 Polisi Tidur Tampak Atas

(Sumber : Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 3 Tahun 1994)

Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

Angkutan dan Jalan, disebutkan bahwa tujuan aturan ini adalah:

1. Terwujudnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman,

selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk

mendorong perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum,

memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu menjunjung

tinggi martabat bangsa.

2. Terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa.

3. Terwujudnya penegakan hukum dan kepastian hukum bagi masyarakat.

Dalam Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu

Lintas Angkutan dan Jalan, disebutkan bahwa Setiap Jalan yang digunakan untuk

(50)

1. Rambu Lalu Lintas.

2. Marka Jalan.

3. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.

4. Alat Penerangan Jalan.

5. Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan.

6. Alat Pengawasan dan Pengamanan Jalan.

7. Fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan Penyandang Cacat.

8. Fasilitas pendukung kegiatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang berada di

jalan dan di luar badan jalan.

Dalam Pasal 28 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

Angkutan dan Jalan sebagaimana dalam Pasal 25 ayat (1), ditegaskan sebagai

berikut:

1. Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan

dan/atau gangguan fungsi jalan.

2. Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan

pada fungsi perlengkapan jalan.

Dalam hal terjadi pelanggaran lalu lintas yang berakibat kecelakaan lalu lintas

dan menimbulkan kerugian bagi orang lain, Pasal 235 Undang-Undang Nomor 22

Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan dan Jalan menentukan bentuk

pertanggungjawaban yang harus diberikan sebagai berikut:

1. Jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas baik kecelakaan

lalu lintas ringan, sedang maupun berat, Pengemudi, pemilik, dan/atau

(51)

korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak

menggugurkan tuntutan perkara pidana.

2. Jika terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban akibat Kecelakaan

Lalu Lintas sedang dan berat, pengemudi, pemilik, dan/atau Perusahaan

Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada korban berupa biaya

pengobatan dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.

2.2 Jenis Road Humps

2.2.1 Speed Bump

Speed bump pada umumnya mempunyai ukuran dengan tinggi 7,5 cm sampai

15 cm dan lebar 30-90 cm seperti yang terlihat pada Gambar 2.3. Pemasangan speed

bump tidak nyaman bagi pengendara namun pada umumnya mampu mengurangi

kecepatan kendaraan menjadi ≤ 8 km/jam (5mph) (Elizer 1993).

Speed bump mampu mengurangi kecepatan kendaraan yang melewatinya

karena ukuran umum dari speed bump yang cenderung menghasilkan beban kejut

yang lebih besar dari beban kejut yang dihasilkan oleh bentuk polisi tidur lainnya.

(52)

2.2.2 Speed Tables

Speed tables dikenal dengan flat-topped speed humps, dan memiliki susunan

material berupa aspal ataupun beton. Speed tables juga dikenal dengan trapezoidal

humps atau speed platforms. Jika ditandai dengan zebra cross, speed tables bisa juga

dinamakan raised crosswalks atauraised crossings (Parkhill et al, 2007).

Speed tables umumnya mempunyai ukuran tinggi dari 76-90 mm (3–3,5 inch)

dengan panjang sekitar 6,7m (22 ft) dan speed tables umumnya terdiri dari 3,1 m (10

ft) bagian datar dan 1,8 m (6 ft) bagian miring di kedua sisi yang bisa berbentuk

lurus, parabolik, atau profil sinusiodal seperti yang terlihat pada Gambar 2.4. Secara

umum hasil dari pemantauan kecepatan rata-rata berkisar antara 40-48 km/jam (25-

30 mph) pada jalan tergantung pada jarak antar speed tables (Parkhill et al, 2007).

Gambar 2.4 Flat Topped Speed Hump

2.2.3 Speed Hump

Speed hump umumnya mempunyai ukuran dengan tinggi 7,5-10 cm dan lebar

3,6 m (Elizer 1993) seperti yang terlihat pada Gambar 2.5. Pemasangan speed hump

dapat mengurangi kecepatan kendaraan yang melewati yaitu antara 24 km/jam (20

mph) sampai 40 km/jam (25 mph) (Elizer 1993). Dalam Neighborhood Traffic safety

Program, Transportation Division, Department of Public Works and Transportation

(53)

hump tidak ditempatkan pada jalan dengan aktivitas perjalanan yang tinggi

(driveway) atau dalam suatu perpotongan jalan dan juga tidak ditempatkan 76,2 m

(250 ft) dari rambu lalu lintas atau 15,1 m (50 ft) dari suatu perpotongan jalan.

Gambar 2.5 Speed Hump

2.2.4 Pita Penggaduh (Rumble Strips)

Pita penggaduh (rumble strips) memiliki bentuk seperti polisi tidur namun

tidak dirancang untuk mengurangi kecepatan lalu lintas akan tetapi dirancang untuk

memberikan efek getaran mekanik maupun suara, dan pada prakteknya fasilitas ini

efektif digunakan pada jalan antar kota, dengan maksud untuk meningkatkan daya

konsentrasi pengemudi sehingga akan meningkatkan daya antisipasi, reaksi, dan

perilaku (Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah, 2004).

Dimensi pita penggaduh (rumble strips) adalah sesuai dengan persyaratan

spesifikasinya yakni lebar berkisar antara 10-20 cm dan tinggi berkisar antara 8-15

mm dengan panjang yang disesuaikan dengan lebar melintang jalan. Contoh pita

penggaduh (rumble strips) dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Pengaturan jarak optimal untuk pemasangan pita penggaduh (rumble strips)

yaitu sebelum tempat penyeberangan pejalan kaki dan untuk menempatkan pita

penggaduh (rumble strips) pada jarak 7 kali batas kecepatan sebelum tempat

(54)

ditempatkan sekitar 96 m sebelum tempat penyeberangan pejalan kaki (Cynecki et al,

1993 dalam Ansusanto et al, 2010).

Fasilitas pengendali ini dilaksanakan untuk jalan dengan fungsi jalan arteri

kolektor dan lokal, tetapi tidak direkomendasikan untuk digunakan pada jalur jalan di

kawasan permukiman (Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah, 2004). Kemampuan

fasilitas ini dalam mengendalikan tingkat kecepatan akan mengalami penurunan

setelah beberapa waktu berselang dan fasilitas ini dapat menimbulkan kebisingan

(noise) sehingga kurang tepat bila dilaksanakan didaerah permukiman.

(55)

2.3 Kecepatan Lalu Lintas

Kecepatan adalah jarak yang ditempuh dalam satuan waktu, atau nilai

perubahan jarak terhadap waktu, yang secara matematis dapat diekpresikan sebagai d

(d)/d(t). kecepatan dari suatu kendaraan dipengaruhi oleh faktor-faktor manusia,

kendaraan dan prasarana, serta dipengaruhi pula oleh arus lalu lintas, kondisi cuaca

dan lingkungan sekitarnya (Soedirdjo, 2002). Kecepatan menentukan jarak yang

dijalani pengemudi kendaraan dalam waktu tertentu. Pemakai jalan dapat menaikkan

kecepatan untuk memperpendek, atau memperpanjang jarak perjalanan. Nilai

perubahan kecepatan adalah mendasar, tidak hanya untuk berangkat dan berhenti

tetapi untuk seluruh arus lalu lintas yang dilalui (Alamsyah, 2008). Kecepatan

Rencana pada suatu ruas jalan adalah kecepatan yang dipilih sebagai dasar

perencanaan geometrik jalan yang memungkinkan kendaraan-kendaraan bergerak

dengan aman dan nyaman dalam kondisi cuaca yang cerah, lalu lintas yang

renggang, dan pengaruh samping jalan yang tidak berarti (Direktorat Jenderal Bina

Marga, 1997).

Kecepatan sebagai rasio jarak yang dijalani dan waktu perjalanan. Hubungan

(56)

Metode survei waktu tempuh kendaraan dibagi atas 3 metode yaitu

Kecepatan setempat (Spot Speed), kecepatan kendaraan selama bergerak (Running

Speed) dan kecepatan rata-rata kendaraan yang dihitung dari jarak tempuh dibagi

dengan waktu tempuh (Journey Speed).

Metode kecepatan setempat (spot speed) dimaksudkan untuk pengukuran

karakteristik kecepatan pada lokasi tertentu pada lalu lintas dan kondisi lingkungan

yang ada pada saat studi. Ada dua jenis pengukuran kecepatan setempat yaitu

pengukuran tidak langsung (metode dua pengamat) dan pengukuran langsung

(menggunakan speed gun).

Tabel 2.1 Rekomendasi Panjang Jalan untuk Studi Kecepatan Setempat

Perkiraan Kecepatan Rata-Rata

Arus Lalu Lintas (Km/jam) Penggal Jalan (m)

<40 25

40-65 50

>65 75

Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga, 1990

Untuk mengukur kecepatan setempat kendaraan dapat menggunakan alat

speed gun. Alat ini merupakan perangkat yang digunakan dalam penegakan hukum

dan penelitian lalu lintas. Perangkat ini bisa dipegang dengan tangan, ditempatkan

diatas mobil patrol lalu lintas, ataupun ditempatkan di atas jalan. Cara kerja speed

gun berdasarkan efek Dopler, dimana alat tersebut memancarkan suatu gelombang

radar yang diarahkan pada suatu objek yang bergerak (mobil) dan dipantulkan

kembali ke alat untuk kemudian oleh perangkat ini diukur kecepatan objek tersebut

(57)

type Bushnell velocity Radar Gun (Gambar 2.7) yang diperoleh dari Dinas

Perhubungan Provinsi Sumatera Utara.

Gambar 2.7 Bushnell velocity Radar Gun

Prosedur tata cara penggunaan alat speed gun:

1. Pasang baterai di Bushnell Velocity Speed Gun dengan terlebih dahulu.

2. Tekan tombol gun “ON” dengan lembut menekan tombol merah yang terletak

didasar layar LCD. Perangkat akan menjalankan pemeriksaan internal yang

cepat kemudian menampilkan “00”dilayar LCD, lalu siap untuk mulai

mengukur kecepatan benda bergerak.

3. Tujukan gun pada target bergerak yang diukur. Setelah ditarget objek bergerak.

Tekan dan tahan “pemicu” switch yang terletak dibagian depan pegangan gun

grip.

4. Tentukan akurasi relative dari pembacaan yang diambil dengan mengkonfirmasi

bahwa posisi surveyor hampir langsung dengan objek target, setelah itu hasil

(58)

2.4 Kebisingan

Kebisingan berasal dari kata bising yang artinya semua bunyi yang

mengalihkan perhatian, mengganggu, atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari,

bising umumnya didefinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan juga dapat

menyebabkan polusi lingkungan ( Davis Cornwell, 1998 daalm Susanti 2010).

Kebisingan paling baik dijelaskan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan

pengukurannya menimbulkan kesulitan besar, karena bervariasi diantara perorangan

dan situasi yang berbeda (Hobbs, 1995).

Menurut Doelle (1993), semua bunyi yang mengalihkan perhatian,

mengganggu atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari (kerja, istirahat, hiburan, atau

belajar) dianggap sebagai bising. Sebagai definisi standar, tiap bunyi diinginkan atau

tidak oleh penerima dianggap sebagai bising. Apakah bunyi diinginkan atau tidak

oleh seseorang tidak hanya tergantung pada kekerasan bunyi tetapi juga pada

frekuensi, kesinambungan, waktu terjadinya, isi informasi dan aspek subjektif seperti

asal bunyi dan keadaan pikiran dan temparamen penerima.

Sumber kebisingan yang terjadi disekitar kita dapat berasal dari berbagai

sumber. Menurut Mediastika (2005), sumber kebisingan dapat dibedakan menjadi

sumber yang diam dan sumber yang bergerak. Contoh dari sumber yang diam adalah

industri/pabrik dan mesin-mesin konstruksi. Sedangkan contoh dari sumber yang

bergerak misalnya kendaraan bermotor,kereta api, dan pesawat terbang.

kebisingan yang dihasilkan oleh mesin-mesin di dalam pabrik juga dapat

merambat ke luar bangunan pabrik, sehingga selain dirasakan secara langsung oleh

pekerja pabrik, kebisingan juga dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar

(59)

Kebisingan dari kereta api juga memiliki wujud ganda berupa bunyi dan

getaran akibat adanya gesekan roda kereta api dari bahan keras dengan rel kereta api

yang juga terbuat dari bahan keras. Kebisingan yang muncul datang dari mesin

kereta api, klakson, dan gesekan antara roda dan rel yang seringkali menghasilkan

bunyi berdecit. Kebisingan kereta api dirasakan oleh mereka yang berada dalam

stasiun dan bangunan yang dibangun di sekitar jalur kereta api.

Kebisingan yang terjadi dari pesawat terbang umumnya diderita oleh

bangunan yang berlokasi dekat dengan pelabuhan udara dan beberapa ratus meter

dari pelabuhan udara tersebut (ketika pesawat tinggal landas dan mendarat, serta saat

pesawat terbang pada ketinggian yang rendah).

Kebisingan jalan raya disebabkan oleh pemakaian kendaraan bermotor, baik

yang beroda dua, yang beroda empat, maupun yang beroda lebih dari empat. Dengan

begitu banyaknya sumber kebisingan di atas permukaan jalan, maka jalan rayapun

ditetapkan sebagai sumber kebisingan utama dewasa ini.

Faktor- faktor yang mempengaruhi kebisingan lalu lintas adalah sebagai

berikut (Mediastika, 2005) :

1. Jumlah atau volume kendaraan yang semakin banyak dalam suatu ruas jalan akan

mengakibatkan tingkat kebisingan yang lebih tinggi dan sebaliknya.

2. Semakin tinggi rasio kendaraan berkapasitas besar dibandingkan kendaraan

berkapasitas kecil pada suatu ruas jalan, semakin tinggilah kebisingan yang

dihasilkan, terutama apabila kendaraan berkapasitas besar tersebut digunakan

(60)

3. Semakin tinggi rasio kendaraan roda dua bermesin dua langkah dibandingkan

dengan kendaraan roda dua bermesin empat langkah pada suatu ruas jalan,

semakin tinggilah tingkat kebisingan yang dihasilkan.

4. Semakin cepat laju kendaraan, semakin tinggilah tingkat kebisingan pada

kendaraan tersebut (berbeda dengan efek polusi udara, semakin lambat

kendaraan,semakin tinggilah emisi gas buang yang dihasilkan karena

terakumulasi pada satu titik).

5. Selain ditentukan oleh karakteristik kendaraan, laju kendaraan juga sangat

tergantung pada karakteristik jalan.

traffic-light, Zebra-cross, atau perputaran, juga akan menerima kebisingan yang

lebih tinggi, karena kendaraan berhenti atau berjalan lambat pada lokasi tersebut.

8. Keadaan disisi jalan yang berpengaruh terhadap kebisingan adalah muka

bangunan yang berhadap-hadapan dan saling membentuk koridor. Keadaan ini

akan memantulkan bunyi yang dihasilkan jalan, dan mengakibatakan kebisingan

menjadi lebih tinggi.

9. Pemanfaatan trotoar untuk area parkir dan perdagangan informal juga dapat

menimbulkan kebisingan yang lebih tinggi pada suatu titik di tepi jalan, karena

kendaraan berjalan lambat dan sangat mungkin terjadi kemacetan pada ruas jalan

(61)

2.4.1 Tingkat Kebisingan

Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan

bel atau decibel (dB). Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Nomor : Kep-48/MENLH/11/1996, baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal

tingkat kebisingan yang diperbolehkan ke lingkungan dari usaha atau kegiatan

sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan

seperti yang terlihat pada Tabel 2.2 :

Tabel 2.2 Baku Tingkat Kebisingan

Peruntukan Kawasan / Lingkungan Kegiatan Tingkat Kebisingan (dB)

a. Peruntukan Kawasan

1. Perumahan dan Pemukiman

2. Perdagangan dan Jasa

3. Perkantoran dan Perdagangan

4. Ruang Terbuka Hijau

5. Industri

6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum

7. Rekreasi

1. Rumah Sakit atau sejenisnya

2. Sekolah atau sejenisnya

3. Tempat Ibadah atau sejenisnya

(62)

Berdasarkan Pedoman Konstruksi dan Bagunan Pd T-10-2004-B tentang

Prediksi Kebisingan Akibat Lalu Lintas, daerah bising adalah suatu jalur dengan

jarak (lebar) tertentu yang terletak di kedua sisi dan sejajar memanjang dengan jalur

jalan, yang didasarkan pada tingkat kebisingan tertentu (Leq), lamanya waktu

paparan (jam/hari) dan peruntukan lahan sisi jalan bagi permukiman/perumahan,

yaitu sebagai berikut :

a. Daerah Aman Bising (DAB)

• Daerah dengan lebar 21 s/d 30 m dari tepi perkerasan jalan

• Tingkat kebisingannya kurang dari 65 dB (A) (Leq)

• Lama waktu paparan (60 dB(A) – 65 dB(A)) maksimum 12 jam per hari

• Lama waktu paparan malam < 3 (jam/hari)

b. Daerah Moderat Bising (DMB)

• Daerah dengan lebar 11 s/d 20 m dari tepi perkerasan

• Tingkat kebisingan antara 65 dB(A) s/d 75 dB(A) (Leq)

• Lama waktu paparan (65 dB (A) – 75 dB (A)) maksimum 10 jam per hari

• Lama waktu paparan malam < 4 (jam/hari)

c. Daerah Resiko Bising (DRB)

• Daerah dengan lebar 0 s/d 10 m dari tepi perkerasan

• Tingkat kebisingan lebih dari 75 dB(A) (Leq)

• Lama waktu paparan (75 dB(A) – 90 dB(A)) maksimum 10 jam per hari

Gambar

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian Jl. Rumah Sakit Haji
Gambar 3.12 Peta Lokasi Penelitian Jl. Danau Singkarak
Gambar 3.15 Bagan Alir Penelitian
Tabel 4.2 Data Kecepatan Setempat Mobil Penumpang (Speed Bump)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, jarak kelas VIA dari jalan raya adalah ± 9,5 m dengan nilai rata-rata tingkat kebisingan lalu lintas sebesar 81,64 dB(A)

Menentukan korelasi antara persentase kendaraan berat, arus, dan kecepatan kendaraan terhadap tingkat kebisingan yang ditimbulkan di

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berdasarkan 5 lokasi jalan di Surakarta meliputi peningkatan kebisingan (dBA), penurunan kecepatan (km/jam) dan dimensi tinggi speed bump

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada jarak 50 m dengan 10 m sebelum kendaraan melintasi speed hump dan pada jarak 50 m dengan 10 m setelah speed hump

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan kendaraan ringan berpengaruh (p &lt; 0.05) terhadap tingkat kebisingan, dengan persamaan regresi Y = 101,130 - 0,689X yang artinya

Faktor-faktor yang menentukan tingkat kerawanan kecelakaan di sebagian ruas jalan Kota Denpasar yaitu faktor kecepatan rata-rata, faktor tingkat pelayanan jalan (V/C ratio), faktor

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada jarak 50 m dengan 10 m sebelum kendaraan melintasi speed hump dan pada jarak 50 m dengan 10 m setelah speed hump

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model matematis tingkat kebisingan akibat lalu lintas pada jalan tol dengan memperhitungkan variabel volume lalu lintas, komposisi