ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN TERHADAP PERKEMBANGAN UKM BINAAN PTPN III MEDAN
SKRIPSI OLEH
Nindita Prajwalita 110501132
PROGRAM STUDI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
PERSETUJUAN
Nama : Nindita Prajwalita
NIM : 110501132
Departemen : Ekonomi Pembangunan Konsentrasi : Ekonomi Perencanaan
JudulSkripsi : Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Terhadap Perkembangan UKM Binaan PTPN III Medan
Tanggal Pembimbing,
NIP. 19530412 198103 1 006 Drs. Hasan Basri Tarmizi, SU
Penguji I, Penguji II,
Drs. Rujiman, MA.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
Nama : Nindita Prajwalita
PERSETUJUAN PENCETAKAN
NIM : 110501132
Departemen : Ekonomi Pembangunan Konsentrasi : Ekonomi Perencanaan
JudulSkripsi : Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Terhadap Perkembangan UKM Binaan PTPN III MedanA
Tanggal Ketua Program Studi
NIP. 19710503 200312 1 003
Irsyad Lubis, S.E., M.Soc.Sc., Ph.D
Tanggal Ketua Departemen
ABSTRAK
Nama : Nindita Prajwalita
NIM : 110501132
Jurusan : Ekonomi Pembangunan
Pembimbing : Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU
Skripsi ini berjudul “Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Terhadap Perkembangan UKM Binaan PTPN III Medan” tujuan dari penelitian ini adalah untuk : (a) untuk mengetahuai pelaksanaan program kemitraan PTPN III Medan didalam penyaluran kreditnya kedapa UKM. (b) menganalisis pengaruh pelaksanaan program kemitraan terhadap pendapatan UKM mitra binaan PTPN III Medan. (c) menganalisis pengaruh pelaksanaan program kemitraan terhadap penyerapan tenaga kerja oleh UKM mitra binaan PTPN III Medan
Dari kegiatan pengumpulan data, penulis menggunakan data sekunder yang berasal dari PTPN III Medan, juga menggunakan populasi dan sampel yang berasal dari para UKM mitra binaan PTPN III Medan yaitu sebanyak 29 sampel.
Penulis menganalisis dan mengevaluasi yang hasilnya bahwa terdapat perbedaan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan PTPN III Medan yaitu terjadi peningkatan terhadap pendapatan dan penyerapan tenaga kerja dari para UKM.
ABSTRACT
Nama : Nindita Prajwalita
NIM : 110501132
Jurusan : Ekonomi Pembangunan
Pembimbing : Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU
This skripsi titled "Analysis of the execution of the UKM Development Partnership Program Against Patronage PTPN III Medan" the purpose of this study was to: (a) to investigate the implementation of the partnership program PTPN III Medan in lending to UKM. (b) analyze the effect of the implementation of the partnership program for UKM income trained partners PTPN III Medan. (c) analyze the effect of the implementation of the partnership program on employment by the partners UKM PTPN III Medan.
in data collection, the author uses secondary data coming from PTPN III Medan, also uses the population and the sample coming from the SME trained partners PTPN III Medan as many as 29 samples.
Writer analyze and evaluate which results in that there are differences in income and employment before and after becoming trained partners PTPN III Medan is an increase of the income and employment of the UKM.
KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim,
Segala puji dan syukur kehadiran Allah SWT karena dengan berkat dan rahmat-Nya peneliti dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan sebaik mungkin.Skripsi ini berjudul “Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Terhadap Perkembangan UKM Binaan PTPN III Medan”. Dalam tulisan ini penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak baik berupa dorongan semangat dan sumbangan pikiran.
Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada kedua orang tua peneliti, Bapak Andi Supriadi S.T dan Ibu Saini Herawati. Terima kasih buat doa, kasih sayang, nasehat, kerja keras, semangat yang diberi.
Peneliti juga telah memperoleh banyak masukan, bimbingan, nasehat, motivasi dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr.Azhar Maksum, S.E., M.Ec., Ak. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, S.E., M.Ec. selaku Ketua Departemen dan Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si. selaku Sekretaris Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan, saran, dan bimbingan yang baik kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini.
5. Bapa selaku dosen wali dan dosen pembanding yang telah memberikan bimbingan selama masa perkuliahan berlangsung ataupun selama proses skripsi ini berjalan.
6. Ibu Ingrrita Gusti Sari NST, SE, MSI selaku dosen wali dan dosen pembanding yang telah memberikan saran yang sangat bermanfaat bagi penulis.
7. Bapak/Ibu Staf Pengajar Di Fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah berjasa memberikan ilmu, nasehat serta arahan kepada peneliti selama peneliti menimba ilmu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
8. Staf Pegawai Administrasi yang ada di Departemen Ilmu Administrasi ekonomi dan bisnis yang telah banyak membantu segala urusan administrasi sejak awal peneliti memulai studi hingga saat ini.
9. Untuk sahabat-sahabat tercinta terkhusus buat Silvia Atika, Yulida Mahfiza, Cory Brs Pandia terima kasih selama ini sudah memberikan kesan terbaik dari awal masuk kuliah sampai saat ini.
10. Terima kasih untuk kekasih tercinta Syandri Maulana Siregar S.AB yang selama proses mengerjakan skripsi sudah banyak membantu penulis dalam memberikan semangat, masukan, saran terima kasih sayang.
12. Seluruh teman-teman serta pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya sangat membangun sehingga penulis dapat memperbaiki kesalahan di lain kesempatan. Semoga kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua
Medan, februari 2015
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Program Kemitraan ... 6
2.1.1 Latar Belakang ... 6
2.1.2 Pengertian Usaha Kecil Dan Menengah ... 7
2.1.3 Pengertian BUMN,Program Kemitraan,BUMN Pembina10 2.1.4 Pelaksanaan Program Kemitraan Berdasarkan Kepmen Bumn No.236/MBU/2003 dan SE Kementrian BUMN No.SE.433/MBU/2003… 10 2.2 Bentuk Program Kemitraan……… 11
2.2.1 Posisi UKM……….. 15
2.2.2 Kekuatan,Kelemahan,Peluang,Tantangan Pengembangan, Serta Permasalahan yang dihadapi UKM Industri dan Perdagangan……… ... 16
2.2.3 Peran UKM dalam Penyerapan Tenaga Kerja………. 17
2.2.4 Kontribusi UKM dalam Penyrapan Tenaga Kerja….. 19
2.2.5 Progran Kemitraan Sebagai Wadah PengembanganUKM23 2.2.6 Pemberdayaan UKM………. 26
2.3 Teori Kemitraan……….. 26
2.4 Penelitian Terdahulu……….. 29
2.5 Hipotesis……… 32
2.6 Kerangka Konseptual……… 32
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian……… 33
3.2 Jenis dan Sumber Data……… 33
3.4 Teknik Pengumpulan Data……… 36
3.5 Metode Analisis……… .... 36
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian……… . 41
4.1.1 Sejarah singkat berdirinya PT.Perkebunan Nusantara III Medan……….. 41
4.1.2 Visi dan Misi Perusshaan………. 42
4.1.3 Paradigma Baru……… 43
4.1.4 Struktur Organisasi Perusahaan……….. 45
4.1.5 Uraian Tugas PT.Perkebunan Nusantara III………… 46
4.1.6 Pelaksanaan Program Kemitraan oleh PTPN III Medan 64 4.2 Analisis dan Evaluasi………. 81
4.2.1 Uji T-tes untuk pendapatan dari para UKM mitra binaan PTPN III Medan……… .... 82
4.2.2Uji T-tes untuk tenaga kerja yang terserap dai para UKM mitra binaan PTPN III Medan………. ... 87
BAB V Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan ... 92
5.2 saran……… 92
DAFTAR PUSTAKA………. 94
DAFTAR TABEL No.Tabel Judul Halaman 2.1 Pengelompokkan Kegiatan Usaha Ditinjau dari Jumlah Pekerja 7 2.2 Batasan Pengertian Usaha Kecil Menurut Beberapa Instansi 7 2.3 Jumlah Pinjaman dan Tingkat Bunganya………. 11
4.1 Jumlah Penyaluran Kredit, perkmebnagan mitra binaa serta jumlah tenaga kerja yang terserap ……… 78
4.2 Data Mitra binaan PTPN II Medan beserta jenis usahanya(2010- 2014) ………. 79
4.3 Hasil uji Normalitas ……… 83
4.4 Data hasil dari pendapatan ukm sebelum dan sesudah menjadi Mitra binaan PTPN III Mdan………. 84
4.5 Hasil Uji T-tes untuk pendapatan……… .... 85
4.6 Hasil Korelasi pendapatan………. 85
4.7 Hasil Uji Normalitas untuk Tenaga Kerja……… 86
4.8 Data hasil dari tenaga kerja ukm sebelum dan sesudah menjadi Mitra binaan PTPN III Medan………. 87
2.1 Peningkatan Produktivitas Pekerja di Perusahaan ... 18
2.2 Kerangka Konseptual……… 25
4.1 Struktur Organisasi Perusahaan PTPN III Medan ... 45
ABSTRAK
Nama : Nindita Prajwalita
NIM : 110501132
Jurusan : Ekonomi Pembangunan
Pembimbing : Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU
Skripsi ini berjudul “Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Terhadap Perkembangan UKM Binaan PTPN III Medan” tujuan dari penelitian ini adalah untuk : (a) untuk mengetahuai pelaksanaan program kemitraan PTPN III Medan didalam penyaluran kreditnya kedapa UKM. (b) menganalisis pengaruh pelaksanaan program kemitraan terhadap pendapatan UKM mitra binaan PTPN III Medan. (c) menganalisis pengaruh pelaksanaan program kemitraan terhadap penyerapan tenaga kerja oleh UKM mitra binaan PTPN III Medan
Dari kegiatan pengumpulan data, penulis menggunakan data sekunder yang berasal dari PTPN III Medan, juga menggunakan populasi dan sampel yang berasal dari para UKM mitra binaan PTPN III Medan yaitu sebanyak 29 sampel.
Penulis menganalisis dan mengevaluasi yang hasilnya bahwa terdapat perbedaan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan PTPN III Medan yaitu terjadi peningkatan terhadap pendapatan dan penyerapan tenaga kerja dari para UKM.
ABSTRACT
Nama : Nindita Prajwalita
NIM : 110501132
Jurusan : Ekonomi Pembangunan
Pembimbing : Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU
This skripsi titled "Analysis of the execution of the UKM Development Partnership Program Against Patronage PTPN III Medan" the purpose of this study was to: (a) to investigate the implementation of the partnership program PTPN III Medan in lending to UKM. (b) analyze the effect of the implementation of the partnership program for UKM income trained partners PTPN III Medan. (c) analyze the effect of the implementation of the partnership program on employment by the partners UKM PTPN III Medan.
in data collection, the author uses secondary data coming from PTPN III Medan, also uses the population and the sample coming from the SME trained partners PTPN III Medan as many as 29 samples.
Writer analyze and evaluate which results in that there are differences in income and employment before and after becoming trained partners PTPN III Medan is an increase of the income and employment of the UKM.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha kecil menengah mempunyai peranan yang sangat penting dalam ekonomi indonesia, karena menyediakan berjuta lapangan pekerjaan dan menjadi tulang punggung industri pengelolahan. Memberi kepada UKM dalam menjalankan usaha akan mendukung pemulihan ekonomi indonesia, menciptakan lapangan pekerjaan dan menyumbang pada upaya menaggulangi kemiskinan. Begitu potensialnya industri kecil dan menengah dalam menyelamatkan perekonomian nasional sehingga pemerintah telah memberikan perhatian besar bagi pengembangannya.
di indonesia tergolong rendah. Sehingga arus jumlah penduduk yang memiliki tingkat pendidikan formal rendah, tetapi membutukan pekerjaan dapat ditampung untuk bekerja pada sektor usaha kecil dan menengah.
Selain itu, sektor usaha ini mempunyai peluang yang besar, dikarenakan selalu ada pasar bagi produksi barang dan jasa mereka mengingat sektor usaha kecil meengah dan koperasi ini merupakan penghasil barang dan jasa khususnya bagi masyarakat golongan menengah kebawah dengan daya beli yang rendah. Kelebihan lain adalah, sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) mampu bertahan disaat krisis disebabkan modal usahanya adalah dari modal sendiri bukan pinjaman, akan tetapi kelebihan tersebut jugalah yang merupakan kelemahan dari sektor usaha ini untuk berkembang dikarenakan modal sendiri yang umumnya terbatas bahkan kurang sehingga sektor ini selalu terjebak dalam lingkaran setan dan sulit untuk berkembang. Belum lagi masalah manajemen dan pendidikan, lemahnya pemanfaatan informasi dan teknologi, kurang mampu dalam pembentukan organisasi, dan lemah dalam pembentukan jaringan usaha, serta akses pasar yang minim merupakan faktor-faktor penghambat dalam keberhasilan usaha kecil menengah ini.
satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian nasional disamping koperasi dan usaha swasta. Disamping itu juga BUMN merupakan penghasil barang dan jasa untuk kemakmuran kemasyarakat dan memiliki peran yang strategis dalam membantu pembinaan dan pengembangan usaha swasta dan koperasi yang berskala kecil.
PKBL memiliki 2 (dua) program, pertama adalah program kemitraan PKBL dengan usaha kecil dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil dengan tujuan untuk meingkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Kedua adalah program bina lingungan yaitu program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Jumlah penyisihan laba untuk pendanaan program maksimal sebesar 2% (dua persen) dari laba bersih untuk program kemitraan dan maksimal 2% (duapersen) dari laba bersih untuk program bina lingkungan.
Sedangkan menurut Asisten Deputi Pembinaan Kemitraan dan Bina Lingkungan, Kementrian BUMN (2010), sebenarnya peran PKBL BUMN cakupan yang lebih luas dibanding praktek CSR yang dilakukan oleh perusahaan swasta karena PKBL - BUMN juga diharapkan untuk mampu mewujudkan 3 pilar utama pembangunan (triple track), yaitu (1) pengurangan jumlah pengangguran ( job) (2) pengurangan jumlah penduduk miskin (pro-poor) dan (3) peningkatan pertumbuhan ekonomi (pro-growth).
perekonomian indonesia menempati posisi yang kurang menguntungkan dalam sektor pereonomian berkenaan dengan masalah pendanaan dari UKM tersebut. Tidak cukupnya dana yang tersedia membuat UKM kesulitan untuk mengembangkan usahanya.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program kemitraan terhadap perkembangan UKM binaan PTPN III Medan. Melihat pentingnya pelaksanaan program kemitraan terhadap perkembangan Usaha Kecil dan Menengah oleh PTPN III Medan. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk membuat skripsi dengan judul “Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Terhadap Perkembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Binaan PT. Perkebunan Nusantara III Medan”.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas, maka penulis mencoba merumuskn masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada perbedaan pendapatan para UKM sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan PTPN III Medan.
2. Apakah ada perbedaan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh UKM sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan PTPN III Medan.
1.3 Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
2. Untuk mengetahui perbedaan jumlah tenaga kerja yang diserap UKM sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan PTPN III Medan.
.1.4 Manfaat penelitian
Manfaat penelitian ini antara lain adalah :
1. Sebagai bahan masukan bagi PTPN III Medan dalam rangka pengambilan keputusan khususnya dalam pengembangan Usaha Kecil dan Menengah mitra
binan PTPN III Medan.
2. Sebagai bahan studi dan tambahan literaur bagi mahasiswa/mahasiswi
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara khususnya bagi mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan.
3. Sebagai bahan studi, tambahan literatur dan informasi bagi pembaca dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Program Kemitraan
2.1.1 Latar belakang
Tahun 1989 digulirankan pertama kali melalui SK menkeu selaku pemegang saham BUMN No.1232/KMK/1989 tgl 14 oktober 1989 tentang : Pengembangan golongan ekonomi lemah dan Koperasi (PEGELKOP). kemudian direvisi tahun 1994 mengalami perubahan dan penyesuaian melalui: SK Menkeu No. 316/KMK/061/1994 tentang : Pembinaan usaha kecil dan Koperasi (PUKK). Tahun 2003 PUKK berubah menjadi: PKBL (Program kemitraan dan Bina lingkungan) yang diatur melalui : SK Menteri BUMN No. KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 juni 2003 tentang : Program kemitraan badan usaha milik negara dengan usaha kecil. Petunjuk pelaksanaannya diatur melalui : SE Menteri BUMN No. SE. 433/MBU/2003 tanggal 16 september 2003 tentang : Petunjuk pelaksanaan program kemitraan badan usaha milik negara dengan usaha kecil.
2.1.2 Pengertian Usaha Kecil dan Menengah
Ada beberapa pengertian mengenai Usaha Kecil dan Menengah yang dapat didefinisikan sebagai berikut :
1. Menurut Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Pengusaha kecil atau Usaha Kecil (termasuk usaha mikro) sebagai suatu badan usaha milik Warga Negara Indonesia, baik perorangan maupun berbadan hukum yang memiliki kekayaan bersih tidak termasuk tanah dan bangunan sebanyak-banyaknya Rp 200 juta.
2. Biro Pusat Statistik mendefinisikan skala usaha kecil dan menengah
berdasarkan jumlah tenaga kerja Dimana Industri kecil (IK) adalah Perusahaan / usaha industri pengolahan (baik yang berbadan hukum ataupun tidak) yang mempunyai pekerja 5-19 orang termasuk pemilik usaha / pengusaha, dan industri yang mempunyai pekerja antara 1-4 orang. Sedangkan usaha menengah merupakan usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.
3. Menurut Komisi Untuk Perkembangan Ekonomi (Committee For Economic Development) – CED
Mengemukakan usaha kecil sebagai berikut :
1. Manajemen berdiri sendiri, manajer adalah pemilik 2. Modal disediakan oleh pemilik atau sekelompok kecil 3. Daerah operasi bersifat lokal
Selain itu ada dua konsep yang dipergunakan untuk menjelaskan defenisi usaha kecil dan menengah yaitu aspek penyerapan tenaga kerja dan aspek pengelompokkan perusahaan ditinjau dari segi kekyaan perusahaan.
\Defenisi UKM dari segi kekayaan perusahaan adalah:
• Menurut UU No. 10 tahun 1999 yang dimaksud dengan usaha kecil dan
menengah adalah usaha yang mempunyai kekyaan bersi lebih besar dari Rp. 200 juta sampai dengan maksimum Rp. 10 Milyar.
• Berdasarkan SK menteri Deperindag No. 589 tahun 1999 usaha kecil dan
menengah adalah usaha yang mempunyai nilai investasi seluruhnya sampai dengan Rp 1 milyar tidak termasuk tanah dan bangunan.
• Bank Indonesia menentukan batas tertinggi dari investasi, diluar tanah dan
bangunan sebesar Rp 600 juta bagi pengetian industri kecil.
Sedangkan defenisi UKM dari segi tenaga kerja adalah:
• Menurut BPS Indonesia kriteria usaha kecil adalah jika karyawannya 5-19
orang jika kurang dari 5 karyawan digolongkan dalam usaha rumah tangga dan usaha menengah terdiri atas 20-29 karyawan.
• Anderson (1987) mengemukakan defenisi pengelompokkan kegiatan usaha
Tabel 2.1
Pengelompokkan Kegiatan Usaha Ditinjau dari Jumlah Pekerja Usaha -Kecil I- Kecil II
-Kecil II- Kecil III
1 – 9 Pekerja 10 – 19 Pekerja Usaha Menengah Besar - kecil
Kecil - menengah Menengah – menengah Besar menengah
100 - 199 pekerja 201 – 499 pekerja 500 – 999 pekerja 1000 – 1999 pekerja
Usaha besar > 2000 pekerja
Sumber : Anderson, Tommy D (1997, profit in small firms, scholl of eceonomics University of gothenberg, sweden.
Harmein Nst, Baren Ratur Sembiring, Bahri Sayono, Suadi, Rini, Pengembangan Kewirauahaan, 1997, mengungkapkan bahwa batasan perusahaan kecil menurut beberapa I nstansi antara lain:
Tabel 2.2
Batasan Pengertian Usaha Kecil Menurut Beberapa Instansi Instansi Batasan Pengusaha Kecil Keterangan
Dep. Perindustrian Asset Rp. 600 juta Diluar tanah dan bangunan Dep. Keuangan Asset Rp. 300 juta
Dep. Perdagangan Asset Rp. 25 juta Bank Indonesia Asset Rp. 600 juta Badan Pusat Statistik Pengusaha Informal
Pengusaha Kecil
TK 1 s/d 4 orang TK 5 s/d 9 orang Depkop & PPK Asset < Rp. 200 juta
Sumber : Harmen Nst, Baren Ratur Sembiring, Bahri Sayono, Suadi, Rini,
2.1.3 Pengertian BUMN, Program Kemitraan, BUMN Pembina
a. Badan Usaha Milik Negara adalah Perusahaan Perseroan (PERSERO) yang segala kegiatannya bertujuan untuk memperoleh laba yang maksimum.
b. Program Kemitraan, yaitu : Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.”Program Kemitraan ini bertujuan meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui dukungan terhadap modal, serta pelatihan Sumber Daya Manusia yang profesional dan terampil agar dapat mendukung pemasaran dan kelanjutan usaha di masa depan.
c. Unit Program Kemitraan
Berdasarkan pasal 1 KEP-236/MBU/2003 poin 6 yang dimaksudkan dengan unit program kemitraan adalah unit organisasi khusus yang mengelola program kemitraan yang merupakan bagian dari organisasi BUMN Pembina serta bertanggung jawab langsung kepada Direksi BUMN Pembina .
d. Mitra Binaan
Definisi mitra binaan berdasarkan Kepmen No. Kep-236/MBU/2003 pasal 1 yaitu usaha kecil yang mendapatkan pinjaman dari program kemitraan.
e. BUMN Pembina
2.1.4 Pelaksanaan Program Kemitraan Berdasarkan Kepmen BUMN No. Kep.236/MBU/2003 dan SE Kementrian BUMN No. SE-433/MBU/2003.
Agar tujuan pelaksanaan program kemitraan dapat tercapai maka unit program kemitraan sekurang-kurangnya melakukan fungsi pembinaan, evaluasi, penyaluran, penagihan, pelatihan, monitoring, promosi, fungsi administrasi dan keuangan. Unit kemitraan dikantor pusat dibentuk dengan memperhatikan jumlah dana yang dikelola, luas wilayah binaan dan jumlah mitra binaan serta mempertimbangkan kondisi perusahaan.
Sedangkan bentuk pelaksanaan dikantor cabang atau perwakilan disesuaikan dengan kebutuhan. Unit kemitraan atau PUKK bertanggung jawab langsung kepada salah satu anggota direksi yang ditetapkan dalam rapat direksi. Karyawan yang ditunjuk untuk menangani unit program kemitraan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan karyawan lain di BUMN Pembina yang bersangkutan. 2.2 Bentuk program kemitraan :
a. Hibah
Hibah dalam bentuk :
• Meningkatkan ketrampilan manajerial dan tehnik produksi atau
pengolahan,
• Meningkatkan pengendalian mutu produksi
• Meningkatkan pemenuhan standarisasi teknologi
• Bantuan pemasaran produk mitra binaan, dalam bentuk penjualan
produk mitra binaan, mempromosikan produk mitra binaan melalui kegiatan pameran maupun penyediaan ruang pamer (showroom), pendidikan, pelatihan dan pemagangan untuk mitra binaan dapat dilakukan sendiri oleh BUMN Pembina atau menyediakan tenaga penyuluh yang berasal dari lembaga pendidikan atau pelatihan swasta professional maupun perguruan tinggi.
Jangka waktu atau masa pembinaan untuk mitra binaan dapat dilakukan terus-menerus sampai mitra binaan tersebut menjadi tangguh, mandiri, dan bankable (dapat diberi pinjaman).
b. Beban Operasional
Untuk mendukung pelaksanaan program kemitraan, disediakan dana operasional yang bersumber dari hasil penyumbangan dana kemitraan (bukan dari pokok dan penyisihan laba BUMN). Dana operasional tersebut dapat digunakan untuk operasional yang meliputi, antara lain :
• Kegiatan pembinaan
• Beban perjalanan dinas petugas atau pengelola dalam rangka survey lokasi
• Usaha mitra binaan, monitoring atau evaluasi perkembangan usaha
mitra binaan, dan kegiatan penagihan pinjaman.
• Beban upah tenaga harian atau honorer yang membantu pelaksanaan
• Beban kegiatan karyawan unit Program Kemitraan yaitu beban yng
berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan karyawan dalam melaksanakan fungsi Pembina, fungsi administrasi, dan keuangan. • Beban administrasi meliputi beban administrasi bank, beban
surat-menyurat, dan sejenisnya.
• Beban inventaris, yaitu pembelian perangkat komputer beserta program
• Aplikasinya dan inventaris kantor lainnya. Pengadaan kendaraan bermotor
untuk menunjang kegiatan operasional, yang pengadaannya disesuaikan dengan kondisi dana operasional. Realisasi pengadaan inventaris dan kendaraan bermotor dicatat dan dibukukan sebagai aktiva tetap dalam Neraca Program Kemitraan. Sedangkan rencana penggunaan dana operasional dijabarkan secara terperinci dalam RKA Program Kemitraan. Usaha penghapusan pembukuan aktiva tetap diusulkan dalam RKA Program Kemitraan.
c. Penanganan Pinjaman Bermasalah
d. Prioritas program kemitraan
• Program kemitraan ditujukan terutama bagi usaha kecil yang belum
memiliki kemampuan akses perbankan.
• Program Kemitraan dapat dilakukan kepada usaha kecil yang tidak
memiliki kaitan usaha maupun yang memilliki kaitan usaha dengan BUMN Pembina, namun diupayakan kearah terwujudnya keterkaitan usaha.
\e. Tingkat bunga pinjaman
Tingkat bunga yang dikenakan kepada mitra binaan bersifat regresif proporsional, yaitu semakin besar jumlah pinjaman semakin besar pula tingkat bunga yang dikenakan sesuai dengan batasan sbb :
Tabel 2.3
Jumlah Pinjaman dan Tingkat Bunganya No Jumlah pinjaman yang
diberikan
Tingkat bunga
a. s/d Rp. 10.000.000 6 %
b. > Rp. 10.000.000 s/d Rp. 30.000.000
8 % c. > Rp. 30.000.000 s/d
Rp.50.000.000
10 % d. Diatas Rp. 50.000.000 12 % Sumber : Surat Edaran Menteri BUMN No. SE-433/MBU/2003
Tingkat bunga yang diperhitungkan sebelum ketetapan (kepututsan ini tetap berlaku sampai dengan berakhirnya masa pinjaman. Apabila masa pinjaman telah berakhir namun mitra binaan belum melunasi pinjamannya, maka tingkat bunga atas sisa pinjaman tersebut disesuaikan dengan ketetapan ini.
f. Pelaksanaan program kemitraan oleh BUMN Pembina.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, oleh karena itu bagi BUMN Pembina dianjurkan melaksanakan Program Kemitraan. Pelaksanaan Program Kemitraan bagi BUMN berpedoman pada RKA program kemitraan yang telah disetujui oleh Komisaris sedangkan sumber pendanaannya berasal dari laba bersih setelah pajak yang besarnya ditetapkan RUPS.
2.2.1 Posisi UKM
produknya tidak hanya di dalam negeri saja tetapi sampai ke luar negeri, bahkan ada yang melakukan kontak dengan usaha besar.
Teknologi yang digunakan adalah teknologi sederhana sampai madya, penerapan manajemen sederhana, sebagian belum berbadan hukum serta memiliki keterbatasan modal, kemampuan dan ketrampilan, wawasan bisnis dan kewirausahaan. Kondisi usaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia saat ini terdapat sebanyak 42 juta usaha mikro dan kecil 80 % diantaranya bergerak dibidang pertanian. Sementara sektor menengah berjumlah 60 ribu usaha, dan sektor besar hanya berjumlah sekitar 2.518 unit usaha.
2.2.2 Kekuatan, kelemahan, Peluang, Tantangan Pegembangan, serta Permasalahan yang Dihadapi UKM Industri dan Perdagangan.
a. Kekuatan UKM
UKM memiliki beberapa kekuatan potensial yang merupakan andalan yang menjadi basis pengembangan pada masa yang akan datang.
2.2.3 Peran UKM dalam penyerapan tenaga kerja
1. Patut diperhitungkan, diperkirakan mampu menyerap sampai dengan 50% tenaga kerja yang teersedia.
2. Sumber wirausaha baru. Keberadaan UKM selama ini terbukti dapat mendukung tumbuh kembangnya usaha baru.
3. Memiliki segmen pasar yang unik.
4. Melaksanakan manajemen sederhana dan fleksibel terhadap perubahan pasar.
5. Memanfaatkan sumber daya alam sekitar. UKM sebagian besar memanfaatkansumber daya alam yang merupakan unggulan wilayah.Selain memanfaatkan limbah atau hasil sampinng dari industri besar atau industri lainnya.
6. Memiliki potensi untuk berkembang. Berbagai upaya pembinaan yang
b. Kelemahan UKM.
Beberapa kelemahan UKM antara lain :
1. Masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia.
2. Kendala pemasaran produk. Sebagian besar pengusaha UKM lebih memprioritaskan pada aspek produksi sedangkan fungsi-fungsi pemasaran kurang mampu dalam mengakses, khususnya dalam informasi pasar dan jaringann pasar, sehinnga sebagian besar hanya berfungsi sebagai tukang saja. 3. Kecendrungan konsumen yang belum mempercayai mutu produk UKM. 4. Sangat terbatasnaya institusi pemasaran bersama. Sebagian besar UKM\
memanfaatkan modal sendri dalam jumlah yang relatif kecil. Disamping itu mereka menjual produknya secara pesanan dan banyak terjadi penundaan pembayaran.
c. Tantangan UKM
1. Iklim usaha yang kondusif. Iklim usaha yang tidak kondusif diwujudkan dalam adanya monopoli dalam bidang usaha tertentu, penguasaan industri dari hulu ke hilir oleh industri besar, berbagai peraturan yang tidak mendukung (retribusi, perizinan, dan lain-lain). 2. Penberlakuan berbagai standar nasional maupun internasional.
d. peluang UKM
1. Indonesia merupakan pasar yang besar. Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki jumlah penduduk yang besar merupakan peluang pasar yang dimanfaatkan sebagai lahan usaha.
2. Melimpahnya sumber daya alam. Potensi dalam negeri berupa sumber daya alam yang dapat diolah dengan memanfaatkan teknologi yang dimiliki sertadengan ketrampilan sumber daya manusia yang ada merupakan peluang yang harus disiasati untuk menjadi keunggulan kompetitif.
3. Perubahan tatanan ekonomi dunia. Kondisi ini mendorong terciptanya penyatuan ekonomi dunia pasar yang semakin terbuka dan kompetisi yang sehat. Hal ini menjadi peluang bagi UKM untuk lebih meningkatkan ekspor, mutu produk serta jenis produk yang lebih baik.
2.2.4 Kontribusi UKM Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
golongan yang menganggur dan mencari pekerjaan. Sedangkan kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumah tangga, dan golongan yang menerima pendapatan. Yang dimaksud dengan Pasar Kerja adalah proses terjadinya penempatan atas hubungan kerja melalui penyediaan dan permintaan tenaga kerja. Penyediaan atau supply tenaga kerja adalah jumlah orang yang menawarkan jasanya untuk proses produksi. Diantara mereka sebagaian sudah aktif dalam kegiatannya yang menghasilkan barang dan jasa. Mereka dinamakan golongan yang bekerja atau employed persons. Sebagian lain tergolong yang siap atau penganggur. Jumlah yang bekerja dan pencari kerja dinamakan angkatan kerja. Produktivitas tenaga kerja mempengaruhi penyediaan tenaga kerja. Produktivitas mengandung pengertian filosofis-kualitatif dan kuantitatif-teknis operasional. Secara filosofis-kualitatif, produktivitas mengandung pandangan sebagai berikut :
• Tenaga Kerja = Angkatan Kerja + Bukan Angkatan Kerja
Yang dimaksud dengan Pasar Kerja adalah proses terjadinya penempatan atau hubungan kerja melalui penyediaan dan permintaan tenaga kerja.
• Penyediaan Tenaga kerja = Angkatan Kerja =Supply Tenaga Kerja
kerja atau penganggur. Jumlah yang bekerja dan pencari kerja dinamakan angkatan kerja.
• Angkatan Kerja = Yang Bekerja + Penganggur
Produktivitas tenaga kerja mempengaruhi penyediaan tenaga kerja produktivitas mengandung pengertian filosofi kualitatif dan kuantitatif teknis operasional. Secara filosofi kualitatif, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan.
Pandangan hidup demikian mendorong manusia untuk tidak cepat merasa puas, akan tetapi terus mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan kerja. Sedangkan definisi kuantitatif, produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang dipergunakan persatuan waktu. Peningkatan produktivitas dapat terwujud dalam empat bentuk yaitu :
a.Jumlah produksi yang sama diperoleh dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit.
b. Jumlah produksi yang lebih besar dicapai dengan menggunakan sumber daya yang kurang.
c.Jumlah produksi yang lebih besar dicapai dengan menggunakan sumber daya yang sama.
d.Jumlah produksi yang jauh lebih besar diperoleh dengan pertambahan sumber daya yang relatif lebih kecil.
Dalam hal ini, peningkatan produktivitas manusia merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas faktor-faktor lain sangat tergantung pada kemampuan manusia untuk memanfaatkannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas karyawan dapat digolongkan dalam tiga kelompok yaitu :
a.Yang menyangkut kualitas dan kemampuan fisik pekerja b. Sarana pendukung
c. Suprasarana
Kualitas dan kemampuan karyawan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, motivasi kerja, etos kerja, mental dan kemampuan fisik pekerja yang
bersangkutan. Sarana pendukung untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan perusahaan dikelompokkan pada dua golongan, yaitu :
• Menyangkut lingkungan kerja, termasuk teknologi dan cara produksi, sarana
dan peralatan produksi yang dipergunakan, tingkat keselamatan dan kesehatan kerja serta suasana dalam lingkungan kerja itu sendiri.
• Menyangkut kesejahteraan pekerja yang tercermin dalam sistem pengupahan,
jaminan sosial, serta jaminan kelangsungan kerja.
Gambar 2.1
Peningkatan Produktivitas Pekerja di Perusahaan
Sumber: payaman simanjuntak, pengantar ekonomi sumber daya manusia,1998 2.2.5 Program Kemitraan Sebagai Wadah Pengembangan UKM
Kemitraan merupakan hubungan kerjasama usaha di berbagai pihak yang sinergis, bersifat sukarela, dan berdasarkan prinsip saling membutuhkan, saling mendukung, dan saling menguntungkan dengan disertai pembinaan dan pengembangan UKM oleh usaha besar. Salah satu bentuk kemitraan usaha yang
Supra sarana
- Kebijakan pemerintah -Hubungan industrial -manajemen
Peningkatan
produktivitas pekerja di perusahaan Produktivitas
Latihan Etos kerja Motivasi kerja Sikap mental fisik
-Keselamatan dan kesehatan kerja - Upah
-Sarana produksi - Jamsos
-Teknologi lingkungan kerja - Security kesejahteraan
melibatkan UKM dengan usaha besar adalah production linkage. Dimana disini
tingkat pengangguran = ����� ℎ������������
����� ℎ�������� ����� � 100
UKM sebagai pemasok bahan baku dan penolong dalam rangka mengurangi ketergantungan import. The Kian Wie (1992) menyatakan bahwa ada 10 bentuk keterkaitan langsung pemasok (UKM) dan perusahaan besar yaitu melalui produksi, lokasi yang berdekatan, informasi yang jelas mengenai pesanan, bantuan teknis tentang informasi ciri dan mutu komponen, bantuan hibah keuangan atau pinjaman lunak, pembelian bahan baku, manajerial, penetapan harga, bantuan distribusi dan diversifikasi dalam rangka memperkuat keuangan. Akan tetapi, keterkaitan tersebut harus bersifat mendidik untuk bisa mandiri sehingga UKM dapat meningkatkan daya saingnya. Didalam dunia bisnis berkembang beberapa pola kemitraan usaha antara lain : pertama, Inti-Plasma. Inti berfungsi melakukan pembinaan, penyediaan produksi, bimbingan teknis dan pemasaran, sedangkan plasma melakukan fungsi produksi. Kedua, sub-kontrak. Pola ini merujuk pada usaha kecil memproduksi komponen yang diperlukan oleh usaha menengah dan besar sebagai bagian dari produksinya.
sebagai pemasok kebutuhan usaha menengah dan besar. Pola ini dilakukan dalam dunia bisnis atas dasar saling menguntungkan. Keempat, Waralaba. Pemberian waralaba memberikan hak penguasaan lisensi merk dagang dan saluran distribusi perusahaannya kepada penerima waralaba dengan bantuan bimbingan manajemen. Pada prinsipnya pola ini banyak digunakan dalam dunia bisnis terutama bagi merek-merek terkenal dan dikonsumsi banyak orang. Hampir setiap celah bisnis dapat menggunakan pola ini seperti fast food, industri kimia, obat-obatan dan industri jasa lainnya. Pola ini secara bisnis lebih menjamin keberhasilan, namun dalam jangka panjang pola ini dapat menguras devisa negara sangat besar karena royalty yang dibayar secara totalitas sangatlah besar. Kelima, keagenan, pada pola ini usaha kecil diberikan hak khusus untuk memasarkan jasa usaha menengah dan besar. Kelima pola tersebut didasarkan pada peraturan pemerintah Nomor 44 tahun 1997 tentang kemitraan dan Surat Keputusan Bersama Nomor 22/SKB 1998 dan Nomor 07/SKB/VII 1998. Pemerintah menawarkan konsep Bussiness Development Service (BDS) perguruan tinggi, yayasan dalam perusahaan maupun lembaga swadaya masyarakat dan lembaga non pemerintah Lembaga BDS memberikan jasa layanan non keuangan, bersifat dinamis, dan ruang lingkup kerja yang luas sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan bisnis. Layanan yang diberikan dapat berupa konsultasi, pelatihan, bimbingan dan pendampingan, penyusunan proposal, kontak bisnis, dan berbagai fasilitas teknologi.
kelembagaan kemitraan diatur berdasarkan KEP-236/MBU/2003 yang merupakan peraturan yang keluar dikarenakan peraturan sebelumnya belum dapat memenuhi harapan pelaku UKM.
2.2.6 Pemberdayaan UKM
Tujuan utama dari pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat khususnya kelompok lemah yang berada dalam ketidakberdayaan. Sebagai tujuan dari pemberdayaan UKM adalah untuk memperkuat usaha UKM agar menjadi tangguh dan mandiri, sehingga dapat menghadapi perdagangan bebas yang bertujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan perekonomian Indonesia.
2.3 Teori Kemitraan
kemitraan daripada pendekatan dominan. Model kemitraan dalam organisasi membutuhkan persyaratan sebagai berikut :
1. Adanya struktur organisasi yang sederhana (flat) dan sedikit hirarki.
2. Merubah peranan manager, dari “the cop” menjadi peran fasilitator dan suportif. 3. Merubah pengertian “power”, dari “power over” menjadi “power to/with”. 4. Adanya teamwork
5. Adanya keanekaragaman produk (diversity product) 6. Adanya kesamaan gender (gender-balance)
7. Adanya kreativitas dan jiwa kewiraswastaan (creativity and entrepreneurship) Bentuk perusahaan kecil yang dapat dengan mudah didirikan ialah usaha bersama atau partnership. Perusahaan ini dikelola oleh dua orang atau lebih dengan tujuan mendapatkan laba. Dalam partnership pelaku bisnis tidak lagi terlibat seorang diri dalam menjalankan perusahaan. Ada orang lain yang membantu dalam pengelolaan dan pengoperasian perusahaan yang memiliki kecakapan di bidang tertentu dalam mengoperasikan perusahaan. Machfoedz (2004)18 mengemukakan tentang faktor positif dan negatif dari usaha bersama, yaitu :
1. Faktor Positif
-Ketersediaan Modal , Karena partnership merupakan usaha patungan yang didirikan secara bersama-sama oleh para pengelolanya, usaha ini lebih mudah dalam mendapatkan modal. Kemampuan finansial partner juga mendukung peningkatan kemampuan untuk mendapatkan biaya yang lebih besar.
-Keanekaragaman Kecakapan dan Keahlian , Usaha patungan yang ideal sekaligus membawa orang-orang yang mempunyai latar belakang berbeda sehingga saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Perpaduan kecakapan dan keahlian untuk menentukan tujuan, mengelola pengaturan perusahaan, dan memecahkan persoalan dapat membantu keberhasilan usaha.Keluwesan Para partner usaha aktif dalam mengelola perusahaan sehingga bentuk perusahaan ini dapat dengan cepat mengantisipasi perubahan lingkungan usaha.
2. Faktor Negatif
-Ketidakterbatasan Kewajiban , Setiap usaha patungan mempunyai tanggung jawab yang tidak terbatas atas utang perusahaan. Sebenarnya, partner yang manapun dapat melaksanakan kewajiban seorang diri atas utang semua partner dan keputusan hukum, tanpa memandang siapapun di antara mereka yang menjadi penyebab. Seperti halnya pada usaha mandiri, kegagalan perusahaan dapat disebabkan oleh kerugian atas aset pribadi partner secara umum.
-Pembagian Laba , Mereka yang terlibat dalam usaha patungan harus membagi laba, meskipun dengan jumlah pembagian yang tidak sama. Pengambilan keputusan pembagian keuntungan secara adil dapat menjadi permasalahan apabila jumlah kontribusi mereka bervariasi dalam volumenya sehingga pembagiannya menjadi lebih sulit. Sebaliknya, faktor pembagian laba dapat termasuk faktor positif, jika setiap partner memberikan kontribusi modal berupa waktu, kecakapan, keahlian, dan finansial dalam volume yang sama sehingga formula pembagian keuntungan akan lebih mudah. Kemitraan yang positif dibangun dari adanya saling percaya (trust) untuk bekerjasama. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Phil Harkins 19 bahwa Kemitraan dibangun berdasarkan hubungan kerjasama, dan kerjasama dibangun berdasarkan rasa saling percaya di antara pihak-pihak yang bermitra Kepercayaan (trust) adalah fungsi dari komunikasi Jadi kemitraan yang gagal adalah karena rusaknya kepercayaan.
2.4 Penelitian terdahulu
Penelitian terdahulu digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti untuk memulai proses penelitian.
• Penelitian adrey julianus pinem, (2011) tentang “Implementasi Kredit Usaha
diberikan guna mendukung pelaksanaan KUR kemudahan prosedur atau proses administrasi, memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, serta adanya komunikasi yang baik antara bank dengan masyrakat.
• Penelitian Unang Mulkhan dan Maulana Agung, (2011) tentang “ Analisis
Pelaksanaan Program Kemitraan BUMN Terhadap Kesejahteraan UMKM Pendekatan Corporate Responsibility (CSR) (Studi Kasus PTPN VII). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh faktor CSR goal, CSR issue, dan Corporate Relation Program terhadap kesejahteraan UMKM maka penulis menarik esimpulan sebagai berikut : 1. Secara parsial, kesejahteraan UMKM hanya menunjukkan korelasi dan signifikan yang bermakna dengan variabel CSR issu, sedangkan variabel CSR goal dan corporate Relation program tidak memilki pengaruh yang signfikan. Hal ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan PBL yang dilaksanakan oleh PTPN VII lebih banyak didasari oleh aspek legal atau tuntutan erundang0undangan serta isu trerkini tentang sosial, ekonomi dan lingkungan (triple bottom line). 2. Secara simultan, hasil uji regresi linier berganda menunjukkan variabel CSR goal, CSR issue dan corporate Relation Program tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan UMKM. Dimana hanya variabel CSR issue yyang secara parsial memberikan pengaruh pada kesejahteraan UMKM. • Penelitian Nurul Widya Siska Usman, (2011) tentang Analisis Pelaksanaan
program kemitraan ini bertujuan meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui dukungan terhadap modal serta pelatihan sumber daya manusia yang profesional dana terampil agar dapat mendukung pemasaran dan kelanjutan usaha di masa depan. 2. Berdasarkan dari total skor faktor straegis intternal dan eksternal, didapatilah total skor faktor strategis internal sebesar 3,35 dan faktor strategis eksternal sebersar 3,40 dengan demikian dapat dilihat bahwa program kemitraan CSR. PT. SEMEN PADANG memberikan dampak positif pada pemberdayaan UKM yang menjadi Mitra Binaannya, program kemitraan ini patut dikembangkan di kota Padang.
• Penelitian Anggri Nastiti, tentang “Analisis Faktor-Faktor Yang
2.5 Hipotesis
Hipotesis adalah uraian dari jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat perbedaan jumlah pendapatan para UKM sebelum dan sesudah
menjadi mitra binaan PTPN III Medan.
2. Terdapat perbedaan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh para UKM
sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan PTPN III Medan. 2.6 Kerangka konseptual
Gambar 2.1
Skema Kerangka Konseptual
Program Mitra Binaan PT. Perkebunan Nusantara III Medan
Jumlah Tenaga Kerja Yang diserap
sebelum dan Jumlah Pendapatan
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesa penelitian. Dalam mengumpulkan data yang diperlukan untuk menyusun skripsi ini, penulis menggunakan metodologi penelitian berikut :
3.1 Lokasi penelitian
Lokasi ini dilakukan di kantor PTPN III Medan yaitu sebuah perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan. PTPN III Medan merupakan salah satu BUMN yang ditunjuk untuk melaksanakan program kemitraan oleh kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
3.2 Jenis dan Sumber data 3.2.1 Data Primer
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang dihasilkan melalui studi dari pihak lain untuk sasarannya sendiri ( Donal R Cooper & C William, 1997) dalam Setiyadi (2004). Menurut Santoso an Tjiptono (2001), Data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, biasanya sudah dalam bentuk publikasi.
Dalam penelitian ini, data sekunder yang digunakan adalah data tentang mitra binaan PTPN III Medan, seperti : Sejarah singkat perusahaan, tujuan, visi dan misi perusahaan, serta pelaksanaan program kemitraan.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi ialah gabungan dari seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal, atau orang yang memilki karakteristik yang serupa yang menjadi pusat semesta penelitian Ferdinand (2006) dalam Hardiyati (2010:38). Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah rata-rata UKM binaan pada PTPN III Medan.
3.3.2 Sampel
populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Untuk mendapat responden yang hendak dijadikan sampel.
a. Sampling random sederhana (simple random sampling)
Teknik ini dikatakan random sederhana karena cara mengambil sampel dari populasi dilakukan secara random (acak) dengan tidak mempertimbangkan strata dalam lapisan-lapisan. Adapun rumus yang digunakan yaitu rumus slovin :
n=
�1+�2
dimana = n : jumlah sampel N : jumlah populasi
�2 : (∝ ) presisi yang ditetapkan “10%”
n = 290 1+0,102
=
290 1+0,01
=
290
10,1
=
28,73.4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian, penulis menggunakan teknik pengumpulan data berikut :
Pengumpulan Data Primer (Primary Data)
Pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang diperoleh langsung dari tempat penelitian, yang dilakukan dengan cara
b. Kuesioner
Kuesioner adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden dengan panduan kuesioner.
a. Observasi
Observasi merupakan metode penelitian dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung pada obyek penelitian.
c. Studi Kepustakaan
Teknik Studi kepustakaan merupakan cara yang dilakukan untu mengumpulkan data dan informasi melalui berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian ini. Data dan informasi dapat diperoleh melalui buku-buku, internet, jurnal, tesis dan sebagainya.
Analisis data ini dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata pre-test dan post-test perbedaan anatara pendapatan dan tenaga kerja sebelum dan sesudah
menjadi mitra binaan PTPN II Medan.
Analisis ini menggunakan uji satu sampel untuk rata-rata (one sample t test). Dengan uji tersebut akan diketahui apakah ada perbedaan antara nilai rata-rata pre-test dan post-pre-test mitra binaan.
1. Analisis data tahap awal
Sebelum dilakukan uji paired sample t test. Terlebih dahulu diuji normalitas untuk mengetahui apakah mitra binaan berditribusi normal atau tidak. Jika mitra binaan berdistribusi normal maka statistik yang digunakan adalah statistik parameter. Sedangkan jika menggunakan satistik non parameter, maka mitra binaan tersebut tidak harus berditribusi normal. Metode untuk menganalisis data adalah sebagai berikut :
a. Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan untuk mengolah data nilai pre-test dalam menentukan apakah mitra binaan yang telah diuji berdistribusi normal atau tidak. Rumus pengujian ini dikenal dengan chi-kuadrat. Rumus yang digunakan adalah :
�
2=
∑
(0�−��)��
0� : Frekuensi
�� : Frekuensi yang diharapkan
2. Analisis data tahap akhir
Metode untuk menganalisis data nilai akhir setelah diberi perlakuan adalah sebagai berikut :
a. Uji Norrmalitas
Uji Normalitas digunakan untuk mengolah data nilai pre-test dalam menentukan apakah mitra binaan yang telah diuji berdistribusi normal atau tidak. Untuk langkah-langkah pengujian normalitas data tahap akhir sama dengan langkah-langkah uji normalitas pada analisis data tahap awal.
b. Uji Perbedaan Dua Rata-rata
Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui pengaruh hasil pre-test sebelum menjadi mitra binaan dan hasil post-test sesudah menjadi mitra binaan. Untuk mengetahui perbedaan dua rata-rata ini menggunakan uji satu (uji t) pihak yaitu uji pihak kiri. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut :
�0 : �1 ≥�2
�0 : �1<�2
�1= Rata-rata nilai post-test
�2= Rata-rata nilai pre-test
Untuk menguji hipotesis diatas digunakan statistik uji t sebagai berikut :
�
ℎ��=
�̅1−�̅2 ��11+�12 �
Dimana =
s =
�
( �1−1)�21+( �2−1)�22�1+�2− 2
keterangan :
�̅1 : Rata-rata post test
�̅2 : Rata-rata pre test
�1 : Jumlah subyek post tes
�2 : Jumlah subyek pre test
�21 : Standart deviasi post test
�22 : Standart deviasi pre test
� :Simpangan baku
Dengan kriteria pengujinnya adalah diterima �0 jika −������ ≤ �ℎ�����dimana ������ didapat dari daftar distribusi t dengan dk = (�1+�2− 2)
dan tolak �0 untuk 3.5 Batasan Operasional
Penelitian ini dibatasi oleh beberapa aspek sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memahami dan menganalisis permasalahan yang ada. Aspek-aspek yang dimaksud adalah sebagai berikut:
b. Tenaga Kerja
3.6 Defenisi Operasional
Definisi operasional bertujuan untuk menghindari kesalahan pemahaman dalam menafsirkan istilah yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini, variabel-variabel yang menjadi objek penelitian dapat didefiniskan sebagai berikut:
1. Pendapatan merupakan hasil pendapatan bersih dari para UKM Mitra Binaan PTPN III Medan (Rp/Bulan).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya PT.Perkebunana Nusantara III Medan (Persero)
Pembentukan perusahaan diawali dengan proses pengambilan perusahaan-perusahaan milik Belanda oleh Pemerintah RI pada tahun 1958 yang dikenal denagn proses nasionalisasi. Perusahaan Perkebunan Asing hasil nasionalisasi selanjutnya berubah menjadi Perseroan Perkebunan Negara (PPN). Embrio yang turut membentuk perusahaan dari NV. Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam (RcMA) dan NV. Cultuur Mij’de Oekust (CMO) merupakan Perusahaan Perkebunan Belanda yang beroperasi di indonesia sejak zaman Kolonial Hindia Belanda.
status hukum diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan diberi nama PT.Perkebunan (Persero).
Dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektifitas kegiatan usaha, perusahaan-perusahaan dalam lingkungan BUMN Sub Sektor Perkebunan melakukan kegiatan penggabungan usaha berdasarkan wilayah eksploitasi dan perampingan struktur organisasi. Diawali dengan penggabungan manajemen pada tahun 1994, 3 (tiga) BUMN Perkebunan yang terdiri dari PT.Perkebunan III (Persero), PT.Perkebunan IV (Persero), PT.Perkebunan V (Persero), disatukan pengelolaannya kedalam manajemen PT. Perkebunan III (Persero).
Selanjutmya melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996, ketiga perseroan tersebut digabung dan diberinama PT. Perkebunan Nusantara III Perseroan yang berkedudukan di Medan, Sumatera Utara. PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) didirikan dengan Akte Notaris Harun Kamil, SH, No. 36 tanggal 11 Maret 1996 dan telah disahkan Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-8331. HT.01.01.th.96 tanggal 8 Agustus 1996 yang dimuat didalam Berita Negara Republik Indonesia No.81 tahun 1996. Tambahan Berita Negara No. 8674 Tahun 1996.
4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan
• Adapun yang menjadi visi perusahaan adalah menjadi
perusahaan agribisnis kelas dunia dengan kinerja prima dan melaksanakan tata-kelola bisnis terbaik pada tahun 2008
b. Misi
Adapun yang menjadi misi perusahaan PTPN III Medan adalah
• Mengembangkan Industri Hilir berbasis Perebunan secara
berkesinambungan
• Menghasilkan produk yang berkualitas untuk pelanggan.
• Memperlakukan karyawan sebagai aset strategik dan
mengembangkannya secara optimal.
• Berupaya menjadi perusahaan terpilih yang memberikan
‘imbal balik’
terbaik bagi para investor.
• Menjadi perusahaan yang paling menarik untuk bermitra
bisnis.
• Memotivasi karyawan untuk berpartisipasi aktif dalam
pengembangan komunitas.
• Melaksanakan seluruh aktivitas perusahaan yang berwawasan
4.1.3. Paradigma Baru
Sadar bahwa bertanggung jawab pembangunan masa depan PTPN III ada pada seluruh karyawan, untuk itu kami bertekad mewujudkan paradigma bisnis baru PTPN III.
a. Perubahan, perbaikan dan peningkatan metode dan kierja
adalah satu keharusan
b. Kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama untuk
memnangkan persaingan
c. Setiap kegiatan bisnis baru menghasilkan nilai tambahan bagi perusahan
d. Pengembangan hubungan industrial yang egaliter berdasarkan keterbukaan, kesetraan dan kebhinekaan.
e. Pengembangan SDM yag terintegrasi untuk membangun kapital insani (Human) dan intelektual yang dibutuhkan perusahaan.
f. Kepemimpinan yang efektif membangun pengaruh melalui
g. Penghargaan diberikan kepada karyawan berdasarkan
kompetensi dan kinerjanya.
h. Efektivitas operasional harus didukung oleh struktur
organisasi yang sederhana dan dinamis.
i. Pemanfaatan teknologi sebagai perangkat untuk peningkatan produktivitas kerja dan keunggulan kompetitif.
j. Keputusan bisnis diambil berdasarkan fakta dan data akurat. k. Setiap tugas dan operasional perusahaan dilaksanakan
dengan cepat tanggap, cepat tindak lanjut, tuntas, berkualitas dan penuh tanggung jawab.
l. Seluruh aktifitas perusahaan harus berorientasi pada
Gambar 4.1 Struktur organisasi perusahaan PTPN III
4.1.5. Uraian Tugas PT. Perkebunan Nusantara III
Direktur SDM. Berikut ini adalah uraian tugas direksi PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) yang dapat dilihat sebagai berikut:
1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
RUPS adalah pimpinan tertinggi yang membawahi dewan komisaris, Direktur, serta setingkat dibawahnya.
Tugas dan wewenang RUPS adalah :
a. Mengangkat dan menghentikan Dewan Komisaris
b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan dan penggunaan modal / asset perusahaan sesuai dalam mencapai tujuan.
c. Mengawasi Dewan Komisaris dalam melakukan tugas yang telah dibebankan kepadanya oleh pemegang saham.
2. Dewan Komisaris
Dewan komisaris terdiri dari 1 Komisaris Utama dan 4 Komisaris anggota yang bertugas untuk mengawasi pekerjaan Direktur Utama.
Tugas dan wewenang Dewan Komisaris adalah sebagai berikut : a. Memberikan nasihat kepada pemimpin.
b. Membantu pemimpin didalam menginvestasikan dan perusahaan. c. Mengawasi jalannya perusahaan
3. Direktur Utama
Fungsi utama dari direktur utama adalah mengarahkan, memberdayakan, seluruh sumber data perusahaan secara optimal untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan.
a. Adapun sasaran dari direktur utama adalah
1) Tercipatanya perusahaan kelas dunia yang berbasis agribisnis dengan skor Baldrige minimum 750.
2) Tercapainya Net Profit margin (NPM) 15% dan Return On Assets (ROA) 20%
b. Adapun tugas dari direktur utama adalah
1. Membangun perusahaan kelas dunia yang berbasis agribisnis.
2. Melaksanakan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG) disemua jajaran.
3. Meningkatkan nilai perusahaan melalui pelaksanaan The Business Success Model yang tercermin dalam indikator kerja utama (IKU).
4. Mewujudkan portofolio bisnis perusahaan yang memberikan keuntungan
dan nilai tambah.
5. Mensukseskan pelaksanaan sistem manajemen ISO 9000, ISO 14000 dan
6. Menetapkan sistem saran dan prasarana informasi melalui teknologi
informasi yang terintegrasi dan berbasis data base, serta memberdayagunakan secara maksimal.
4. Direktur Produksi
Adapun fungsi utama direktur utama adalah mengelola dan memberdayakan sumber daya produksi, sarana dan prasarana sehingga tercapainya kinerja bidang produksi secara optimal.
a. Sasara dari direktur utama adalah
• Tercapainya komposisi umur tanaman, kelapa sawit (TBM
12% dan TM 84%). Karet (TBM 16% DAN TM 80%), peremajaan tanaman kelapa sawit/karet 4% setiap tahun dan komposisi komoditi tanaman kelapa sawit 70% serta tanaman karte 30%.
• Produktivitas tanaman kelapa sawit sebesar 25 ton
TBH/Ha/Thn dan produktivitas tanaman karet sebesar 1600Kg KK/Ha/Thn.
• Tersedianya kapasitas olahan PKS min.90% untuk 30 Ton
TBS/Jam dan 83% untuk 60 Ton /Jam dengan tingkat efisiensi sebesar 91-93% dan kapasitas pabrik karet sesuai dengan permintaan dan tidak melampauai kapasitas tersedia.
• Tercapainya rendemen CPO sebesar 24% dan inti sawit sebesar
• Tercapainya kualitas hasil olah produksi sesuai standard.
• Tercapainya harga pokok produksi (harga pokok kebun) 65%
terhadap harga jual.
• Terwujudnya proses produksi sesuai dengan standard ISO
9000, ISO 14000 dan SMK3.
b. Tugas dari direktur utama adalah:
1. Menetapkan dan mewujudkan sasaran strategic dibidang produksi. 2. Menetapkan upaya strategik dibidang produksi
3. Menetapkan sistem kerja (work system) bidang produksi untuk
mewujudkan operational excellence.
4. Menterjemahkan kebutuhan pasar menjadi pelaksanaan operasional bidang
produksi.
5. Melaksanakan program sertifikasi ISO 9000 dan ISO 14000 dan SMK3. 6. Mengendalikan biaya produksi pada tingkat yang lebih efisien.
7. Menetapkan sistem sarana dan prasarana informasi melalui teknologi informasi (TI) yang terintegrasi dan berbasis data base, serta memberdayagunakan secara maksimal.
5. Direktur Keuangan
tercapainya cash flow, dan biaya operasional perusahaan yang efektif dan efisien.
a. Sasaran dari direktur keuangan adalah.
1. Terciptanya cost effectiveness pada tingkat harga pokok (FOB) ≤ 80% dari nilai penjualan, dan tercapainya Assets Turn Over (ATO) sebesar 1,1kali. 2. Terpeliharanya solvabilitas pada tingkat DER ≤ 40:60.
3. Terpeliharanya likuaditas pada tingkat ≥ 150%. b. Tugas dari direktur keuangan adalah .
o Menjaga keseimbangan antara pertumbuhan profitabilitas
perusahaan.
o Melaksanakan Assets Assesment secara berkesinambungan
untukmemberdayakan aset potensial.
o Memonitor dan mengevaluasi biaya produksi (harga pokok
FOB) melalui pemanfaatan Activity Based Costing (ABC).
o Memelihara Cash Reserve Requirment minimum 2(dua) bulan
kebutuhan dana operasional.
o Mengkoordinasi dan memberikan pengarahan dalam
penyusunan KAP/RKOP dan RJP.
o Mencari sumber dana bagi pertumbuhan perusahaan.
o Membuat laporan manajemen interim dan laporan keuangan
konsolidasian.
o Membangun sarana dan prasarana informasi menejemen
keuangan melalui teknologi informasi (TI) yang terintegrasi dan berbasis data base, serta memberdayagunakan secara maksimal.
o Mensukseskan pelaksanaan sistem manajemen ISO 9000 dan
ISO 14000 dan SMK3.
o Menetapkan system sarana dan prasarana informasi melalui
teknologi informasi yang terintegrasi dan berbasis data base, serta memberdayagunakan secara maksimal.
6. Direktur Pemasaran
Adapun fungsi utama direktur pemasaran adalah mengelola dan memberdayakan sumber daya pemasaran dan pengadaan secara optimal, sehingga tercapainya kepuasan pelanggan dan pemasok.
a. Sasaran direktur pemasaran adalah.
o Tercapainya peningkatan nilai penjualan sebesar 10% setiap
tahun.
o Terwujudnya kepuasan pelanggan dengan indeks kepuasan
pelanggan 80%.
o Tercapainya Account Recivable (A/R) Turn Over ≤ 14 hari. o Tercapainya finished goods inventory turn over 16 kali. o Tercapainya inventory turn over 8 kali.
o Tercapainya economic order quantity 2 kali (pupuk) dan 4 kali
(barang lainnya).
o Tercapainya kepuasan pemasok pada tingkat 70%.
o Menetapkan dan mengevaluasi upaya strategik dan kebijakan
pemasaran serta pengadaan barang dan jasa.
o Mencari dan membina hubungan dengan mitra bisnis (pemasok
danpelanggan) serta mitra aliansi.
o Menetapkan system pengendalian persediaan hasil produksi
serta bahan baku dan pelengkap.
o Menetapkan pedoman hara barang dan jasa.
o Menetapkan kebijakan dan menyiasati perkembangan pasar
dan perilaku pesaing (market intelligence).
o Menginformasikan kebutuhan pasar sacara berkesinambungan.
kepada direktur produksi.
o Merancang proses bisnis dan work system bidang pemasaran
dan bidang pengadaan barang dan jasa untuk mewujudkan operational axcellence.
o Memasarkan produk dengan biaya penjualan yang efisien, nilai
penjualan optimal tercapainya kepuasan pelanggan.
o Melaksanakan pengadaan barang dan jasa secara efektif dan
efisien, serta terwujudnya pembinaan pemasok.
o Mengendalikan biaya penjualan dan biaya pengadaan pada
tingkat yang efisien.
o Mensukseskan pelaksanaan system manajemen ISO 9000, ISO
14000 serta SMK3.
o Menetapkan sistem saran dan prasarana informasi melalui
teknologi informasi (TI) yang terintegrasi dan berbasis data base, serta memberdayagunakan secara maksimal.
7. Direktur SDM dan Umum
Fungsi Utama direktur SDM dan Umum adalah mengelola dan memberdayakan sumber daya manusia dan sarana pendukung lainnya sehingga tercapain kinerja bidang SDM dan Umum yang optimal.
` a. Sasaran direktur SDM dan Umum adalah.
o Terwujudnya jumlah tenaga kerja sesuai dengan rasio yang
ditetapkan.
o Terwujudnya employee satisfaction index (ESI) : 75%.
o Terwujudnya seluruh aspek legal perusahaan pada tingkat Zero
Risk.
o Terwujudnya lingkungan kerja yang aman pada tingkat
Conflict dabt Zero Accident. • Tugas direktur SDM dan Umum adalah.
o Menetapkan kebutuhan SDM (kompetensi, kuantitas dan
waktu) sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
o Menetapkan sistem kerja (work sistem) bidang SDM untuk
mewujudkan operational excellence.
o Melaksanakan mapping personil secara periodik.
o Menetapkan dan melaksanakan sistem pendidikan dan
pelatihan.
o Menetapkan dan melaksanakan sistem penilaian karya. o Menetapkan sistem kompensasi dan remunerasi. o Menetapkan sistem rekrutmen karyawan.
o Menetapkan sistem jenjang karir karyawan.
o Menetapkan program peningkatan kesejahteraan (Quality Of
Life).
o Menetapkan sistem survey kepuasan karyawan.
o Menetapkan kebijakan untuk memenuhi aspek legal
perusahaan.
o Menjalin hubungan yang harmonis dengan stakeholders.
o Menetapkan kebijakan dan mengevaluasi pelaksanaan bina
lingkungan.
o Mengendalikan biaya Pembinaan SDM dan Umum secara
efisien.
o Mensukseskan pelaksanaan sistem Manajemen ISO 9000, ISO
o Menetapkan sistem sarana dan prasarana informasi melalui
teknologi informasi (TI) yang terintegrasi dan berbasis data base, serta memberdayagunakan sacara maksimal.
8 Kepala Bagian Sekretaris Korporat
Fungsi Utama Kepala Bagian Sekretaris Korporat adalah melaksanakan fungsi manajemen dengan memberdayakan sumber daya yang berhubungan dengan aspek legal dan kepatuhan, aspek manajemen hubungan dengan investor \sehingga terwujudnya Image Corporate yang positif dari stakeholders.
a. Sasaran Kepala Bagian Sekretaris Korporat adalah.
o Terkordinasinya pencapaian strategik target perusahaan setiap
tahun.
o Terwujudnya opini positif dari stakeholders terhadap
perusahaan dengan tingkat Zero Complain.
b. Tugas dari Kepala Bagian Sekretaris Korporat adalah.
o Memberi informasi kepada direksi mengenai mitra strategik,
privatisasi perkembangan pasar modal dan peraturan pelaksanaanya.
o Membuat dan mengusulkan Annual Report dan Company
Profile.
o Mengusulkan penetapan kebijakan investasi. o Melaksanakan surat menyurat intern dan ekstern.
o Mengkoordonir penyelenggaraan press release dan press
conference serta kegiatan wawancara dengan para insan pers.
o Mendistribusikan hasil keputusan rapat direksi, dengan dewan
komisaris dan RUPS.
o Membina hubungan dengan masyarakat, mass media, calon
investor, kreditor, lembaga keuangan dan relasi bisnis dengan cara mempublikasikan perusahaan sehingga tercipta citra perusahaan yang baik.
o Membina dan menjalin hubungan dengan instansi luar, seperti
instansi pemerintah Badan Usaha Milik Negara dan Swasta, media massa, serta melakukan kegiatan perusahaan yang bersifat protokoler.
o Mengusulkan RKAP/Rencana Kerja Operasional (RKO)
Bagian Sekretaris Korporat.
o Menyiapkan bahan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
Rencana Jangka Panjang (RJP), Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), dan laporan Tahunan.
o Mengusulkan Strategik Planning (SO) dan Rencana Jangka
Panjang di Bagian CS.
o Melaksanakan sistem manajemen ISO 9000, ISO 14000, dan
SMK3.
o Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK).
o Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang
terintegrasi berbasis data base secara konsisten dan up to date.
9. Bagian Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK)
Tugas dan wewenang bagian Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) adalah :