TINJAUAN SOSIAL EKONOMI PENGEMIS DI KOTA BINJAI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
Universitas Sumatera Utara OLEH :
ANUGERAH MUBARAK DALIMUNTHE
110902046
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan didepan panitia penguji
Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial
Universitas Sumatera Utara
Medan
Nama : Anugerah Mubarak Dalimunthe
Nim : 110902046
Judul : Tinjauan Sosial Ekonomi Pengemis Di Kota Binjai Hari/ Tanggal : ,Agustus 2015
Waktu : Wib s/d Wib
Tempat : Ruang Sidang FISIP USU
TIM PENGUJI
1. Ketua Penguji : ( )
NIP
2. Penguji I : ( )
NIP
3. Penguji II : ( )
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Nama : Anugerah Mubarak Dalimunthe
Nim : 110902046
ABSTRAK
(Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 112 halaman, 11 tabel serta lampiran)
Skripsi ini diajukan guna memenuhi syarat meraih gelar sarjana Ilmu Kesejahteraan sosial dengan judul “ Tinjauan Sosial Ekonomi Di Kota Binjai”.
Pengemis merupakan sekelompok masyarakat yang memilikin peluang untuk dapat meiliki kehidupan yang layak seperti masyarakat lainnya. Keadaan fisik yang kurang sempurna, faktor usia yang sudah tidak mampu lagi untuk bekerja dan juga karena faktor dorongan yang membuat mereka menjadi seorang pengemis. Faktor fisik yang kurang sempurna menjadikan alasan mereka mengemis dan mereka juga pasrah dengan keadaan menjadikan mereka tidak dapat keluar dari lingkaran kemiskinan yang membelit mereka.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deksriptif dengan metode kualitatif yaitu dengan wawancara kepada 5 informan utama dan 4 informan tambahan. Penelitian ini dilaksanakan dilokasi Tanah Lapang Merdeka, Pasar Kaget dan Jalan Irian Kota Binjai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemis yang melakukan kegiatan di lokasi Tanah Lapang Merdeka, Pasar Kaget dan Jalan Irian bahwa pengemis beranggapan orang yang akan lewat jalan irian dan pengunjung pasar kaget memiliki jiwa sosial yang tinggi. Pengunjung pasar kaget biasanya berusia remaja dan memiliki jiwa belas kasihan yang tinggi. Setiap harinya pengemis bisa mendapatkan uang lebih dari lima puluh ribu rupiah setiap kali mengemis di lokasi - lokasi tersebut. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Apabila kondisi ini kita biarkan terus, maka akan berakibat pada maraknya praktek mengemis dikalangan masyarakat dan menjurus kepada merosotnya mental bangsa indonesia.
UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE DEPARTEMENT OF SOCIAL WELFARE
Name : Anugerah Mubarak Dalimunthe
Nim :110902046
(This thesis consisted of six chapters, 112 the courtyard 11 as well as lamoiran table)
This thesis submitted to qualify a degree of social welfare entitled “the socioeconomic beggars on city binjai ”.
Beggars are a group of people who have a chance to own a decent life as other community, But the state of physical less than perfect, a factor of old age could no longer to work and also because the impulse that makes them being a beggar . In addition to physical factors less than perfect they also accept with the state of which makes they could not get out of a circle of poverty that surrounded them . Methods used in this research is research deksriptif with the qualitative method to interview to several people who are five main informant and 4 additional informant. research it was implemented in the location of the esplanade independent , markets were shocked and road binjai irian city .
The results of research shows that beggars that commit activities in the location of the esplanade independent , markets were shocked and road irian that beggars assume a person who will pass road irian and visitors shocked the market had a high social . Visitors usually shocked the market was a teenager and had a pity that high . Every day of a beggar can get more money than fifty thousand rupiah every time begging at the location and the location . The number is enough to meet the needs of their lives . If this condition we keep , it will be led to many of the practice of begging in the community and being to mental decline in the indonesian nation .
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Tinjauan Sosial Ekonomi Pengemis Di Kota Binjai”. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat
untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara.
Skripsi ini penulis persembahkan untuk ibu saya yang sangat penulis cintai yaitu Israwani dan juga abang dan kakak saya yang telah menjadi semangat penulis dalam keadaan apapun serta seluruh keluarga yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Dalam kesempatan ini pula, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis selama penyusunan skripsi ini :
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
3. Seluruh dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang telah memberikan ilmu kepada penulis baik dalam perkuliahan maupun dalam kehidupan sehari-hari
4. Seluruh staff pendidikan dan administrasi FISIP USU terkhusus buat kak Zuraidah dan kak Sri
5. Ibu Rahayu Purwanti,SE selaku koordinator pekerja sosial UPT. Pelayanan Sosial Gelandangan dan Pengemis Binjai yang telah memberi ijin penulis untuk melakukan penelitian di UPT.
6. Seluruh informan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk melakukan wawancara dengan penulis untuk memberikan informasi yang penulis butuhkan
7. Abang saya bernama Abduh Dalimunthe S.sos sudah memberikan pinjam laptopnya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini 8. Kakak saya bernama Rina Melati Dalimunthe S.sos yang sudah banyak
memberi semangat dan mengajari saya dalam membuat skripsi
9. Kepada teman – teman Kessos 011 yang sudah menemani hari – hari saya dalam empat tahun belakangan
10.Buat geng Binjai Ecko, Earli dan juga Farras yang sudah menemani hari- hari jika lagi suntuk dan semoga nantinya disti bisa ikut ngumpul juga 11.Ecko yang sudah wisuda duluan yang telah meninggalkan saya padahal
janji mau wisuda sama
13.Abstoppen Basketball Team terimakasih kepada teman – teman semua sudah menemani hari – hari saya selama 7 tahun belakangan.
14.Untuk Goeng yang sudah membantu membenarkan table dan juga buang angin sembarangan dari dia yang membuat saya merasa lucu dan menjadi gembira
15.Untuk wari agar cepat dapat punya pacar dan dapat menyelesaikan sarjananya dengan tepat waktu
16.Untuk cinpaw semoga bisa menjadi drg. Yang ahli jangan malpraktek dan juga jangan ngelobi aja kerja
17.Untuk Taza dan Winta semoga kita menjadi abang dan adik yang selalu memberikan arahanyang positif selalu
18.Buat seseorang selama satu tahun sudah menemani hari – hari saya kemarin agar dapat menyelesaikan program sarjananya dengan tepat waktu. Denganmu aku bahagia denganmu semua ceria. Terima kasih karena kamu aku menjadi mengerti apa artinya kehilangan.rip
19.Nia Wahyuni Syahri Harahap semoga cepat menyusul menjadi sarjana sosial dan semoga makin cantik aja dan terimah kasih selama ini sudah memberikan saran yang positif tentang kehidupan
20.Seluruh geng kos Roni, Roni,asa, revor, ecko akhirnya kita semua sudah sidang walaupun si Ecko yang pertama
22.Buat teman satu doping heny,febriany,cindy elvana , heriana dan andri tega kalian meningglakan aku belakangan ya
23.Buat Titok semoga cepat menyusul menjadi sarjana. Jangan malas – malas lagi tok dan jangan pacaran saja kerjamu. Dan sandy semoga kita tetap akrab nantinya walaupun sudah berpisah dari kessos.
24.Buat Dinda Permata Hany terimah kasih sudah menjadi adik stambuk yang baik walaupun kita sering berantem tetapi kita selalu bisa memakluminya dan kembali seperti biasa dan semoga kita berdua bisa menjadi lebih dewasa lagi
25.Buat Balibeys Group semoga selera film kita akan selalu sama terutama buat cindy, pipin yang sudan memberikan saran kepada saya sehingga skripsi ini bisa selesai
26.Untuk meidina ulfa semoga cepat kurus dan biar makin cantik nantinya 27.Untuk GmnI Fisip USU jaya terus dan menang.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang membangun guna perbaikan di masa mendatang. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Agustus 2015
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah...1
1.2. Perumusan Masalah...9
1.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian...10
1.3.2. Manfaat Penelitian...10
1.4. Sistematika Penulisan...10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sosial Ekonomi...12
2.2. Pengemis 2.2.1. Pengertian Pengemis...16
2.2.2. Sebab – Sebab Terjadinya Pengemis...17
2.3. Kemiskinan 2.3.1. Definisi Kemiskinan...18
2.3.2. Faktor – Faktor Penyebab Kemiskinan...20
2.3.3. Jenis – Jenis Kemiskinan...22
2.4 Kesejahteraan Sosial...25
2.5 Kerangka Pemikiran...27
2.6 Definisi Konsep………....28
2.7 Ruang Lingkup Pengemis………30
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian...31
3.2 Lokasi Penelitian...31
3.3 Subjek Penelitian...31
3.4 Teknik Pengumpulan Data...32
3.5 Teknik Analisis Data...33
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Kota Binjai……..………34
4.2 Demografi Kota Binjai……….36
Tabel 4.1……….38
Tabel 4.2……….39
Tabel 4.3……….………40
Tabel 4.4……….………42
Tabel 4.6………...44
Tabel 4.7 ………45
Tabel 4.8………...46
Tabel 4.9………...47
Tabel 4.10………...………47
Tabel 4.11………...48
4.3 Geografi Kota………...49
4.4. Lokasi Pengemis 4.1 Tanah Lapang Merdeka Binjai………...50
4.2 Pasar Kaget Binjai………....51
4.3 Jalan Irian Binjai………...53
BAB V ANALISA DATA 5.1 Pengemis Cacat………59
5.2 Pengemis Lanjut Usia………...66
5.3 Pengemis Anak……….…………72
5.4 Pegawai Upt.Pelayanan Sosial Gelandangan dan Pengemis Binjai………...80
5.5 Tetangga Pengemis………..87
5.7 Penjual Pasar Kaget Binjai………98
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan………....101
6.2 Saran………..……….103
Daftar Pustaka
Lampiran
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Nama : Anugerah Mubarak Dalimunthe
Nim : 110902046
ABSTRAK
(Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 112 halaman, 11 tabel serta lampiran)
Skripsi ini diajukan guna memenuhi syarat meraih gelar sarjana Ilmu Kesejahteraan sosial dengan judul “ Tinjauan Sosial Ekonomi Di Kota Binjai”.
Pengemis merupakan sekelompok masyarakat yang memilikin peluang untuk dapat meiliki kehidupan yang layak seperti masyarakat lainnya. Keadaan fisik yang kurang sempurna, faktor usia yang sudah tidak mampu lagi untuk bekerja dan juga karena faktor dorongan yang membuat mereka menjadi seorang pengemis. Faktor fisik yang kurang sempurna menjadikan alasan mereka mengemis dan mereka juga pasrah dengan keadaan menjadikan mereka tidak dapat keluar dari lingkaran kemiskinan yang membelit mereka.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deksriptif dengan metode kualitatif yaitu dengan wawancara kepada 5 informan utama dan 4 informan tambahan. Penelitian ini dilaksanakan dilokasi Tanah Lapang Merdeka, Pasar Kaget dan Jalan Irian Kota Binjai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemis yang melakukan kegiatan di lokasi Tanah Lapang Merdeka, Pasar Kaget dan Jalan Irian bahwa pengemis beranggapan orang yang akan lewat jalan irian dan pengunjung pasar kaget memiliki jiwa sosial yang tinggi. Pengunjung pasar kaget biasanya berusia remaja dan memiliki jiwa belas kasihan yang tinggi. Setiap harinya pengemis bisa mendapatkan uang lebih dari lima puluh ribu rupiah setiap kali mengemis di lokasi - lokasi tersebut. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Apabila kondisi ini kita biarkan terus, maka akan berakibat pada maraknya praktek mengemis dikalangan masyarakat dan menjurus kepada merosotnya mental bangsa indonesia.
UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE DEPARTEMENT OF SOCIAL WELFARE
Name : Anugerah Mubarak Dalimunthe
Nim :110902046
(This thesis consisted of six chapters, 112 the courtyard 11 as well as lamoiran table)
This thesis submitted to qualify a degree of social welfare entitled “the socioeconomic beggars on city binjai ”.
Beggars are a group of people who have a chance to own a decent life as other community, But the state of physical less than perfect, a factor of old age could no longer to work and also because the impulse that makes them being a beggar . In addition to physical factors less than perfect they also accept with the state of which makes they could not get out of a circle of poverty that surrounded them . Methods used in this research is research deksriptif with the qualitative method to interview to several people who are five main informant and 4 additional informant. research it was implemented in the location of the esplanade independent , markets were shocked and road binjai irian city .
The results of research shows that beggars that commit activities in the location of the esplanade independent , markets were shocked and road irian that beggars assume a person who will pass road irian and visitors shocked the market had a high social . Visitors usually shocked the market was a teenager and had a pity that high . Every day of a beggar can get more money than fifty thousand rupiah every time begging at the location and the location . The number is enough to meet the needs of their lives . If this condition we keep , it will be led to many of the practice of begging in the community and being to mental decline in the indonesian nation .
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Terdapat berbagai masalah sosial yang timbul didalam masyarakat Indonesia, salah satunya adalah semakin bertambahnya fenomena pengemis. Pengemis merupakan seseorang yang mencari pendapatan dengan cara meminta -minta di jalanan atau tempat umum lainnya, fenomena pengemis itu sendiri tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan terjadi juga dinegara diseluruh belahan dunia.
ganti sebutan pengharap berkah di hari kemis dan orang yang melakukannya disebut dengan pengemis (pengharap berkah pada hari kemis) (Dimas, 2013: 4).
Kehidupan pengemis yang berbaur dengan masyarakat menghilangkan kesan bahwa pengemis bukan merupakan masalah sosial. Akan tetapi pada suatu waktu mereka pergi dari masyarakat sekitar mereka tinggal dan menjalani profesi mereka sebagai pengemis, hal ini yang menjadikan kesan pengemis bukan merupakan suatu masalah sosial. Umumnya tidak ada manusia yang ingin menjadi pengemis. Setiap manusia selalu ingin memperoleh kehidupan yang layak. Perubahan yang terjadi didalam kehidupan menyudutkan segelintir masyarakat ini untuk dihadapkan kepada kegiatan mengemis ini.
Kemiskinan merupakan faktor masalah yang paling sering ditemui yang menyebakan seseorang memilih untuk bekerja mencari pendapatan dengan mengemis dengan ditambah lagi tidak adanya skiil atau kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang lain. Kemiskinan sendiri merupakan masalah yang telah menjadi permasalahan global dimana masalah ini timbul dan mulai dibicarakan pasca perang duni kedua yang membawa munculnya negara – negara baru merdeka yang sering disebut negara ketiga. Kondisi negara – negara baru ini sebagian besar hancur akibat penjajahan dan perang, sampai saat ini umumnya kemiskinan yang terjadi didunia terdapat di negara dunia ketiga atau miskin yang selalu ditandai dengan angka kelahiran yang tinggi, sumber daya manusia yang rendah serta pendapatan nasional yang rendah (Nasution, 1996 :29).
kurang diperhatikan masyarakat maupun pemerintah. Masalah ini seharusnya menjadi tanggung jawab kita sebagai warga Negara Indonesia bersama pemerintah sebagai pemimpin negara yang mempunyai tugas utama untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Negara bukan hanya sebagai unsur pemerintahan saja yang bertanggung jawab tetapi seluruh unsur masyarakat, termasuk lembaga swadaya masyarakat, organisasi keagamaan dan organisasi sosial masyarakat lainnya.
Undang – Undang Dasar 1945 pasal 34 mengatur tentang perlindungan hukum yang diberikan oleh negara kepada fakir miskin, pasal tersebut berbunyi “fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh negara”. Negara mengembangkan
mendukung program pemerintah kota yaitu dengan tidak membiasakan diri memberikan sebagian uangnya kepada pengemis yang beroperasi tempat – tempat tersebut.
Pemerintah Sumatera Utara sendiri telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis. Adapun usaha pemerintah dalam menanggulangi pengemis di Sumatera Utara meliputi berbagai usaha penanggulangan meliputi usaha- usaha preventif, responsif, rehabilitatif yang bertujuan agar tidak terjadi pergelandangan dan pengemisan, serta mencegah meluasnya pengaruh yang diakibatkan olehnya di dalam masyarakat dan memasyarakatkan kembali pengemis menjadi anggota masyarakat yang menghayati harga diri, serta memungkinkan pengembangan para gelandangan dan pengemis untuk memiliki kembali kemampuan guna mencapai taraf hidup, kehidupan dan penghidupan yang layak sesuai dengan harkat dan martabat manusia.
daerah pemukiman baru ataupun telah dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat. Usaha responsif yang dilakukan oleh pemerintah Sumatera Utara yaitu usaha-usaha yang terorganisir, baik melalui lembaga maupun bukan dengan maksud menghilangkan pergelandangan dan pengemisan serta mencegah meluasnya di dalam masyarakat. Usaha rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah Sumatera Utara yaitu usaha yang terorganisir meliputi usaha-usaha penyantunan, pemberian pendidikan dan pelatihan kerja, pemulihan kemampuan dan penyaluran kembali baik ke daerah-daerah pemukiman baru melalui transmigrasi maupun ke tengah-tengah masyarakat, pengawasan serta pembinaan lanjut, sehingga dengan demikian pada gelandangan dan pengemis kembali memiliki kemampuan untuk hidup lebih layak sesuai dengan martabgat manusia sebagai warganegara Republik Indonesia.
tersebut menjadi pribadi yang malas, malas berfikir dan tidak tahu lagi mau berbuat apa sehingga jalan satu – satunya adalah dengan meminta – minta (Dimas, 2013:8).
Kesulitan ekonomi memaksa mereka melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup, sementara itu kebutuhan – kebutuhan pokok sekarang sangat tinggi harganya. Pengemis berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan mengemis di jalanan. Pengemis yang sangat erat hubungannya dengan ekonomi dapat dilihat dari sudut subjektif kondisional yaitu pengemis yang pada dasarnya berhubungan dengan karakter mereka sendiri seperti malas bekerja, sifat pasrah pada nasib, acuh tak acuh dalam kehidupan dan lain – lain yang secara langsung merupakan faktor pendorong hidup mereka kepada kehidupan mengemis. Masalah pengemis ini dapat didekati dari sudut objektif yang merupakan faktor – faktor ekstern yang mempengaruhi kehidupan seseorang sehingga terpaksa hidup mengemis. Faktor – faktor tersebut antara lain : geografi, ekologi, ekonomi, sosial dan budaya (Soedjono, 1973 : 15).
belas kasihan orang lain dengan cara menggendong anak bayi dan balita biasanya pengemis ini adalah seseorang ibu.
Meningkatnya jumlah pengemis di Kota Binjai seperti di Persimpangan Lampu Merah Tanah Lapang Binjai, Pasar Kaget Binjai dan Persimpangan Jalan Irian Binjai. Seperti halnya di Pasar Kaget Binjai selain membeli makanan dan minuman untuk dibawa pulang langsung ke rumah para pengunjung juga sering untuk makan dan minum ditempat. Kebiasaan mereka selain menikmati makanan dan minuman juga menghabiskan waktu untuk berbincang dengan keluarga ataupun teman mereka. Hal inilah sebagai salah satu kesempatan yang dijadikan para pengemis untuk mengharapkan belas kasihan daripada pengunjung.
Pengemis merupakan fenomena sosial tersendiri. Fenomena inilah yang mendorong penulis untuk meneliti bagaimana sebenarnya kehidupan sosial ekonomi pengemis - pengemis tersebut yang sering melakukan aksinya di Tanah Lapang Binjai, Pasar Kaget Binjai dan Jalan Irian Kota Binjai sehingga mereka mampu bertahan dalam kehidupannya sehari – hari sebagai pengemis yang hanya mengharap belas kasihan dari orang lain.
rendah tingkat status sosial ekonomi seseorang, maka semakin sedikit pula bentuk penghargaan dari masyarakat yang diterimanya. Bentuk penghargaan yang diterima dalam masyarakat dipengaruhi oleh pekerjaan, tingkat pendidikan, serta jumlah pendapatan yang diterima seseorang.
Populasi Pengemis secara nasional terlihat naik turun menurut Pusat data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial lima tahun terakhir tahun 2007 berjumlah 61.090 dan pada tahun 2011 berjumlah 194.908 ada kenaikan 17% penyebab banyaknya pengemis dikota besar, bukan korban dari tidak adanya lapangan pekerjaan, tetapi juga dari faktor tidak adanya keinginan untuk berusaha dan ketidak memilikinya keterampilan, dan pada kenyataannya banyak kita lihat yang justru masih mampu untuk berusaha. berusaha dalam arti apa saja yang pentingbisamakan(http://rehsos.kemsos.go.id/modelus.phpname=meus&files&id4 yang diakses pada tanggal 25 februari 2015 pukul 14.00 WIB). Waspada online yang terbit pada 2 april 2014 yang diakses pada 26 februari 2015 pukul 17.00 WIB yang berjudul “ Gepeng, Anjal 95.791 orang di SUMUT’ mengemukakan bahwa Jumlah pengemis di Sumatera Utara menurut data Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2010 menyebutkan, populasi pengemis 3.440 orang pengemis. Sesuai data tahun 2013 yang diperoleh dari Dinas Sosial Sumatera Utara menunjukkan jumlah pengemis mencapai 4.823.
sebanyak 20 orang yang terdiri dari Kecamatan Binjai Timur sebanyak 10 orang,
Kecamatan Binjai Selatan 6 orang, Binjai Kota 3 orang dan Binjai Barat 1 orang. Data tersebut didapat oleh dinas sosial dan tenga kerja Kota Binjai bekerja sama
dengan seluruh kepala lingkungan yang ada di kota Binjai (Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Binjai : 2015).
Salah seorang pegawai Dinas Sosial Dan Tenga Kerja Kota Binjai juga berpendapat bahwa semakin maraknya jumlah pengemis di Kota Binjai karena banyaknya pengemis yang sengaja berdatangan dari kota lain seperti Kabupaten Langkat, Kota Medan maupun Kabupaten Deli Serdang, dan biasanya terlihat banyaknya pengemis yang selalu berada di Kecamatan Binjai Kota dikarenakan seluruh pengemis berkumpul di tempat – tempat keramaian yang terletak di Kecamatan Binjai Kota. Menurut data yang penulis peroleh dari Dinas Sosial Dan Tenaga kerja Kota Binjai jumlah pengemis di Kota Binjai tidak mengelami perubahan yang signifikan jumlahnya. Data di atas juga dapat disimpulkan bahwa di Kota Binjai sendiri jumlah pengemis mengalami penurunan.
Berdasarkan uraian latar belakang yang diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul “ Tinjauan Sosial Ekonomi Pengemis Di Kota Binjai ”.
1.2. Rumusan Masalah
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian untuk mengetahui Kondisi Sosial Ekonomi Pengemis Di Kota Binjai.
1.3.2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan bacaan bagi setiap orang atau lembaga yang tertarik dalam penanggulangan masalah pengemis khususnya Pengemis Di Kota Binjai.
1.4. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dari penulisan ini adalah :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan uraian dan teori – teori yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep dan definisi operasional.
BAB III : METODE PENELITIAN
BAB IV : DESKRPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang sejarah singkat lokasi penelitian yang berhubungan dengan masalah objek yang di teliti.
BAB V : ANALISA DATA
Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari penelitian serta analisis data tersebut.
BAB VI : PENUTUP
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sosial Ekonomi
Pengertian sosial ekonomi sering dibahas secara terpisah. Pengertian sosial dalam dalam ilmu sosial menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat. Kata sosial berasal dari kata “socius” yang artinya teman. Dalam hal ini arti teman bukan terbatas sebagai teman sepermainan, teman sekelas, teman sekampung dan sebagainya, yang dimaksud teman disini adalah mereka yang ada disekitar kita yakni yang tinggal dalam satu lingkungan tertentu dan mempunyai sifat yang saling mempengaruhi (Wahyuni, 1986 : 60).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sosial adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat, sedangkan dalam konsep sosiologis, manusia sering disebut makhluk sosial yang artinya bahwa manusia itu tidak dapat hidup dengan wajar tanpa adanya orang lain disekitarnya. Hal ini dapat kita lihat dari pernyataan Soedjono Soekanto “ Dalam menghadapi sekelilingnya,
manusia harus hidup berkawan dengan manusia – manusia lain dan pergaulannya tadi akan mendatangkan kepuasan baginya, bila manusia hidup sendiri misalnya dikurung dalam ruangan tertutup sehingga tidak mendengar suara orang lain, maka jiwanya aka rusak” (Soekanto, 1989: 48).
kehidupan rumah tangga, tentu saja yang dimaksud dan dalam perkembangannnya kata rumah tangga bukan hanya sekedar merujuk pada satu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak – anak melainkan juga rumah tangga bangsa, negara dan dunia. Ekonomi juga sering diartikan sebagai cara untuk memuhi kebutuhan sehari – hari. Dapat disimpulkan bahwa ekonomi berkaitan dengan proses pemenuhan keperluan hidup manusia sehari – hari (Putong, 2005 : 9).
Kondisi sosial ekonomi adalah suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam struktur sosial masyarakat. Pemberian posisi ini disertai denga seperangkat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh sipembawa status. Tingkat sosial merupakan faktor non ekonomis seperti budaya, pendidikan, umur dan jenis kelamin sedangkan tingkat ekonomi seperti pendapatan, jenis pekerjaan, pendidikan dan investasi.
Adapun beberapa kedudukan tersebut yaitu :
1. Golongan masyarakat berpenghasilan rendah, yaitu masyarakat yang menerima pendapatan lebih rendah dari keperluan untuk memenuhi tingkat hidup minimal mereka perlu mendapatkan pinjaman dari orang lain.
2. Golongan masyarakat yang berpenghasilan sedang, yaitu pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tidak dapat menabung. 3. Golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi, yaitu selain dapat
memenuhi kebutuhan pokok, juga sebagian dari pendapatan itu dapat ditabungkan dan digunakan untuk kebutuhan yang lain.
Mengukur kondisi riil sosial ekonomi seseorang atau sekelompok rumah tangga, dapat dilihat dari kebutuhan hidup manusia secara menyeluruh. Dalam laporan PBB I berjudul Report on International Definition and Measurement of Standart and Level Living, badan dunia tersebut menetapkan 12 jenis komponen yang harus digunakan sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan manusia, meliputi :
1. Kesehatan
2. Makanan dan gizi
3. Kondisi Pekerjaan
4. Situasi kesempatan kerja
5. Konsumsi dan tata hubungan aggregative
7. Sandang
8. Rekreasi dan hiburan
9. Jaminan sosial
10. Kebebasan manusia (Siagian, 2012 : 74).
2.2 Pengemis
2.2.1 Pengertian Pengemis
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 31 tahun 1980 pengemis dapat didefinisikan sebagai orang – orang yang mendapat penghasilan dengan meminta – minta ditempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapakan
belas kasihan orang lain (http://www.depsos.go.id diakses pada tanggal 26 februari 2015 pukul 17.00 WIB). Pengemis didalam menjalani kegiatannya selalu mengharap belas kasihan orang lain. Mereka mampu melakukan apa saja untuk menarik simpati dari masyarakat agar mau memberikan belas kasihan berupa uang ataupun hal lainnya. Pengemis sendiri tidak jarang kita melihat bahwa untuk mendapatkan belas kasihan mereka memasang wajah kasihan dan tidak jarang ada sampai yang memaksa agar kita memberikan belas kasihan kepadanya. Pengemis cacat fisik, penggendong anak dan pengemis anak yang sering kita melihat berita di media kabar bahwa ada juga sindikat yang mengorganisir para pengemis anak.
kebutuhan hidup mereka. Kriteria yang dapat diberikan mengenai pengemis adalah :
1. Anak – anak dan orang dewasa (laki – laki dan perempuan).
2. Meminta – minta di rumah – rumah penduduk, pertokoan, persimpangan jalan, pasar, tempat ibadah dan tempat umum lainnya.
3. Bertingkah laku untuk mendapatkan belas kasihan seperti berpura – pura sakit, merintih dan kadang – kadang mendoakan dengan bacaan – bacaan ayat suci.
4. Biasanya mempunyai tempat tinggal tertentu atau tetap, membaur dengan penduduk pada umumnya.
2.2.2. Sebab Terjadinya Pengemis
2.3 Kemiskinan
2.3.1 Definisi Kemiskinan
Secara ilmiah definisi diartikan sebagai batasan arti. Rumusan definisi membantu kesulitan yang dihadapi dalam merumuskan pengertian yang komprehensif dan sempurna tentang suatu konsep, yang dalam ini adalah kemiskinan. Rumusan definisi kemiskinan oleh berbagai pihak tentu dibatasi oleh aspek mana yang ditekankan pembuat definisi kemiskinannya. Cara seperti ini tidak akan menghasilkan makna kemiskinan secara generalis tetapi lebih faktual karena biasanya penekanan dan pemilihan aspek kajian yang dilakukan dipengaruhi oleh fakta, pengalaman, sejarah maupun latar belakang pihak yang merumuskan definisi tersebut maupun lokasi yang dikaji ( Siagian, 2012 : 24 ).
Ada beberapa definisi kemiskinan dibawah ini, antara lain :
1. World bank mendifinisikan kemiskinan sebagai suatu kondisi terjadinya kekurangan pada taraf hidup manusia baik fisik dan sosial sebagai akibat tidak tercapainya kehidupan yang layak karena penghasilannya tidak mencapai 1,00 dolar AS perhari (Siagian, 2012: 25).
3. Jika ditinjau dari pendapatan, maka kemiskinan adalah kondisi kurangnya pendapatan sebagai modal untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok (Siagian, 2012: 25).
4. Jika ditinjau dari penguasaan sumber – sumber, kemiskinan merupakan keterlataran yang disebabkan oleh penyebaran yang tidak merata dari sumber – sumber, termasuk didalamnya pendapatan (Sjahrir, dalam Siagian, 2012 : 26).
5. Kemiskinan merupakan kondisi yang dialami manusia saat mana jumlah rupiah yang dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kurang dari 2.100 kalori perkapita (Esmara, dalam Siagian, 2012: 27).
2.3.2. Faktor – Faktor Penyebab Kemiskinan
Secara umum faktor – faktor penyebab kemiskinan secara kategoris dengan menitikberatkan kajian pada sumbernya terdiri dari dua bagian besar yaitu faktor internal dan fakor eksternal (Siagian, 2012: 114).
Ada beberapa faktor penyebab kemiskinan antara lain :
1. Faktor internal, dalam hal ini berasal dari dalam diri invidu yang mengalami kemiskinan itu yang secara subtansial adalah dalam bentuk kekurangmampuan, yang meliputi :
a. Fisik misalnya cacat, kurang gizi, sakit – sakitan.
b. Intelektual, seperti kurangnya pengetahuan, kebodohan, miskinnya informasi.
d. Spritual, seperti tidak jujur, penipu, serakah dan tidak disiplin. e. Sosial psikologis, seperti kurang motivasi, kurang percaya diri,
kurang relasi dan kurang mencari dukungan.
f. Keterampilan, seperti tidak memiliki keahlian yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
g. Asset, seperti tidak memiliki stok kekayaan dalam bentuk tanah, rumah, tabungan, kendaraan dan modal kerja.
2. Faktor eksternal, yakni bersumber dari luar diri invidu atau keluarga yang mengalami dan menghadapi kemiskinan itu, sehingga pada suatu titik waktu menjadikannya miskin, meliputi :
a. Terbatasnya pelayanan sosial dasar.
b. Tidak dilindunginya hak atas kepemilikan tanah sebagai asset dan alat memenuhi kebutuhan hidup.
c. Terbatasnya lapangan pekerjaan formal dan kurangnya terlindungi usaha – usaha sektor informal.
d. Kebijakan perbankan terhadap layanan kredit mikro dan tingkat bunga yang tidak mendukung sektor usaha mikro.
e. Belum terciptanya sistem ekonomi kerakyatan dengan prioritas sektor riil masyarakat banyak.
f. Sistem mobilisasi denga pendayagunaan dana sosial masyarakat yang belum optimal, seperti zakat.
g. Budaya yang kurang mendukung kemajuna dan kesejahteraan. h. Pembangunan yang berorientasi fisik dan material.
2.3.3 Jenis – Jenis Kemiskinan
Salah satu upaya untuk mengidentifikasi kemiskinan adalah dengan mengetahui berbagai jenis kemiskinan, apabila meninjau kemiskinan itu dari aspek atau sudut pandang tertentu maka akan di temukan jenis kemiskinan itu secara berpasangan. Dengan demikian kemiskinan yang secara nyata dialami seseorang atau sekelompok secara pasti dapat dikategorikan kedalam salah satu jenis dari pasangan itu dan memang hanya salah satu dari dua jenis kemiskinan itu. Dengan kata lain, jenis kemiskinan dalam satu pasangan bersifat ekslusif (Siagian, 2012 : 46).
Ada beberapa jenis kemiskinan antara lain :
1. Kemiskinan Absolut
Yaitu suatu kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga orang tersebut memiliki taraf kehidupan yang rendah, dianggap tidak layak serta tidak sesuai dengan harkat martabat sebagai manusia.
2. Kemiskinan Relatif
Yaitu kemiskinan berdasarkan bagaimana kita memandang dan mengkajinya.
3. Kemiskinan Massa
Yaitu kemiskinan yang dialami secara massal penduduk dalam suatu lingkungan wilayah.
Yaitu kondisi wilayah yang diidentifikasi sebagai wilayah yang menghadapi masalah kemiskinan secara umum berbeda dengan kondisi wilayah yang diidentifikasi tidak menghadapi masalah kemiskinan massa. 5. Kemiskinan Alamiah
Yaitu kemiskinan yang ditemukan jika kajian tentang kemiskina itu didasarkan atas faktor – faktor penyebab kemiskinan itu terjadi.
6. Kemiskinan Kultural
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena faktor budaya. 7. Kemiskinan Terinvolusi
Yaitu kemiskinan yang terkait dengan masalah mental yang sudah sedemikian parah, sehingga sulit dirancang intervensi sosial yang bagaimana dapat mengatasi kemiskinan tersebut.
8. Kemiskinan Struktural
Yaitu kemiskinan yang ditemukan jika kemiskinan dikaji dari segi faktor – faktor penyebab kemiskinan itu sendiri.
9. Kemiskinan Situasional
Yaitu kondisi kehidupan masyarakat yang tidak layak yang disebabkan oleh situasi yang ada.
10.Kemiskinan Buatan
2.3.4. Gejala – Gejala Kemiskinan
Upaya memahami kemiskinan lebih sering dilakukan dengan cara atau pendekatan lain, seperti melalui gejala- gejala kemiskinan. Salah satu cara dan langkah pemahaman kemiskinan adalah melalui penelusuran gejala – gejala kemiskinan (Siagian, 2012 : 16).
Ada beberapa gejala - gejala kemiskinan antara lain :
1. Kondisi Kepemilikan Faktor Produksi.
Kemiskinan tidak datang serta – merta. Demikian halnya dengan pendapatan, juga tidak datang semerta – merta.semuanya melalui saluran, sumber dan prosestertentu. Dengan demikian, salah satu pendekatan untuk mengetahui kemiskinan adalah mengetahui pekerjaan atau mata pencaharian, apa alat produksi yang digunakan dan bekerja dalam upaya mendapatkan pencaharian itu. Pemahaman akan berbagai hal tersebut merupakan jalan bagi kita untuk mengetahui apakah seseorang atau sekelompok tersebut miskin atau tidak.
2. Angka Ketergantungan Penduduk
3. Kekerungan Gizi
Laporan dari berbagai institusi seperti dinas kesehatan maupu rumah sakit sering menggambarkan status masyarakat. Berbagai kesimpulan diperoleh dari laporan tersebut, antara lain adalah wilayah rawan gizi. Informasi ini merupaka gejala sangat miskinnya sesorang atau kelompok. Masalahnya berbagai unsur terdapat dalam kebutuhan pokok dimana kebutuhan fisik merupakan kebutuhan yang paling utama.
4. Pendidikan Yang Rendah
Era modern sekarang ini, pendidikan dianggap sebagai suatu yang penting. Pendidikan bahkan telah sebagai indikator utama kedudukan dalam masyarakat. Oleh karena itu wajar jika setiap orang berupaya meraih tingkat pendidikan bahkan tidak sekedar pendidikan melainkan pendidikan yang tinggi. Hal ini terjadi karena pendidikan dianggap sebagai alat memenagkan persaingan yang makin hari makin ketat.
2.4 Kesejahteraan Sosial
Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, mendifinisikan bahwa kesejateraan sosial sebagai suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Mewujudkan kesejahteraan sosial tersebut dilaksanakan berbagai upaya, program dan kegiatan yang disebut “Usaha Kesejahteraan Sosial” baik yang dilaksanakan
1. Merumuskan kebijakan dan program penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
2. Menyediakan akses penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
3. Melaksanakan rehabilitasi, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan perlindungan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan.
4. Memberikan bantuan sosial sebagai stimulan kepada masyarakat yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial.
5. Mendorong dan memfasilitasi masyarakt serta dunia usaha dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya.
6. Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia dibidang kesejahteraan sosial.
7. Menetapkan standar pelayanan, registrasi, akreditasi, dan sertifikasi pelayanan kesejahteraan sosial.
8. Melaksanakan analisis dan audit dampak sosial terhadap kebijakan dan aktivitas pembangunan
9. Menyelenggarakan pendidikan dan penelitian kesejahteraan sosial.
10.Melakukan pembinaan dan pengawasan serta pemantauan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan keejahteraan sosial.
14.Mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.
2.5 Kerangka Pemikiran
Pengemis merupakan masalah sosial yang sulit untuk diatasi. karena permasalahan pengemis merupakan permasalahan sosial yang kompleks dan klasik. Berbagai aspek didalam kehidupan dapat menjadi indikator penyebab terjadinya pengemis. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pengemis salah satu faktor yang paling sering muncul diakibatkan oleh masalah kemiskinan. Masalah kemiskinan mengakibatkan seseorang menjadi sulit dalam memenuhi kebutuhan pokoknya yang mencakup pendidikan, konsumsi, kesehatan, perumahan dan dana sosial, ditambah tidak adanya skill dan keterampilan yang dikuasai mengakibatkan seseorang tidak mampu untuk bekerja dan memperoleh pendapatan untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Hal ini mengakibatkan seseorang memilih untuk bekerja sebagai pengemis.
Bagan Alur Pemikiran
Pengemis
Ekonomi: 1. Pendapatan 2. Pengeluaran
a. Pendidikan b. Konsumsi c. Kesehatan d. Perumahan e. Dana Sosial f. Tabungan Sosial:
1. Interaksi dengan sesama anggota keluarga
2. Interaksi dengan sesama pengemis 3. Interaksi dengan
2.6. Definisi Konsep
Konsep merupakan istilah khusus yang dipakai oleh para ahli dalam upaya menggambarkan secara cermat fenomena sosial yang dikaji. Untuk menghindari salah pengertian atas makna konsep – konsep yang dijadikan objek penelitian, maka seorang peneliti harus menegaskan dan membatasi makna konsep – konsep yang diteliti. Secara sederhana defenisi disini diartikan sebagai “batasan arti”. Perumusan definisi konsep dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa peneliti ingin mencegah salah pengertian atas konsep yang diteliti. Definisi konsep adalah pengertian yang terbatas dari suatu konsep yang dianut dalam suatu penelitian (Siagian, 2011 : 138).
Definisi konsep bertujuan untuk merumuskan istilah yang digunakan dan menyamakan persepsi tentang apa yang akan diteliti serta menghindari salah pengertian yang dapat mengaburkan tujuan penelitian. Adapun yang menjadi batasan konsep dalam penelitian ini adalah :
1. Pengemis adalah orang – orang yang mendapat penghasilan dengan meminta – minta ditempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapakan belas kasihan orang lain.
2.7. Ruang Lingkup Pengemis
Adapun yang menjadi ruang lingkup pengemis dalam penelitian ini mencakup :
1. Pengemis cacat, yaitu orang – orang yang mendapat penghasilan dengan meminta – minta di tempat umum dengan berbagai cara untuk mendapatkan belas – kasihan orang lain karena memiliki keterbatasan baik secara fisik dan mental.
2. Pengemis lanjut usia, orang – orang yang mendapat penghasilan dengan meminta – minta di tempat umum dengan berbagai cara untuk mendapatkan belas kasihan orang lain yang berusia 55 hingga tutup usia. 3. Pengemis anak, yaitu orang – orang yang mendapat penghasilan dengan
meminta – minta di tempat umum dengan berbagai cara untuk mendapatkan belas kasihan orang lain yang berusia antara 4 – 17 tahun.
Penelitian ini akan melihat kondisi sosial ekonomi dari kedua jenis pengemis yang ditetapkan dalam penelitian ini. Kondisi sosial pengemis yang dimaksud adalah :
a. Interaksi dengan sesama anggota keluarga b. Interkasi dengan sesama pengemis
Sedangkan kondisi ekonomi pengemis yang dimaksud adalah :
1. Pendapatan 2. Pengeluaran
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya, prilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain – lain secara holistik, dengan cara mendeskripsikannya dalam bentuk kata – kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2006:6).
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Binjai, wilayah Kota Binjai yang dimaksud adalah wilayah atau tempat dimana pengemis sering ditemukan. Dalam penelitian ini ditetapkan bahwa tempat penelitiannya adalah dikawasan Tanah Lapang Merdeka Binjai, Pasar Kaget Binjai dan Jalan Irian. Alasan peneliti melakukan penelitian dilokasi tersebut karena lokasi tersebut merupakan tempat yang cukup strategis bagi pengemis untuk mencari uang.
3.3. Subjek Penelitian
Penelitian ini tidak menggunakan populasi dan sampel tetapi menggunakan subjek penelitian. Istilah subjek penelitian merujuk pada individu atau kelompok yang dijadikan unit usaha atau satuan kasus yang diteliti. Penulis dalam penelitian ini menggunakan pengemis sebagai informan utama yang merupakan sumber keterangan yang penting dan informan kunci sebagai pelengkap dari informan utama yang sama – sama tidak dibatasi jumlahnya.
Penulis dalam penelitian ini, penulis menggunakan informan utama dan informan tambahan yaitu sebagai berikut :
1.Informan utama yaitu mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini yaitu pengemis yang beraktifitas di kawasan Tanah Lapang Merdeka Binjai, Pasar Kaget Binjai dan Jalan Irian.
gelandangan dan pengemis Binjai, tetangga pengemis, pengunjung Pasar Kaget Binjai dan penjual makanan Pasar Kaget Binjai .
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Studi kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data atau informasi yang menyangkut masalah yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku, jurnal, majalah surat kabar dan berbagai tulisan atau media informasi yang menyangkut masalah yang diteliti.
2. Studi lapangan, yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan peneliti turun ke lokasi penelitian untuk mencarifakta – fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, yaitu dengan melakukan : a. Observasi yaitu pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti
untuk mendapatkan gambaran tentang objek penelitian yaitu dengan cara mengumpulkan data dengan melihat, mendengarkan dan mencatat kejadian sasaran penelitian.
b. Wawancara yaitu mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan secara tatap muka atau berhadapan langsung dengan informan.
persatu diperdalam untuk mendapatkan keterangan yang lebih lengkap dan mendalam.
3.5 Teknik Analisis Data
Setelah mendapatkan data, selanjutnya dilakukan analisis data untuk memahami dan mendalami permasalahan yang ada serta selanjutnya menjawab pertanyaan penelitian. Menurut Moleong, analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan data (Moleong, 2006: 13).
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1 Sejarah Kota Binjai
Berdasarkan penuturan para orang tua yang dianggap mengetahui asal mula terbentuknya Binjai, yang saat ini menjadi kota Binjai, dahulunya adalah sebuah kampung kecil yang terletak di tepi sungai Bingai. Binjai sebanarnya adalah nama suatu pohon besar, rindang, tumbuh dengan kokoh di tepi sungai Bingai yang bermuara di Sungai Wampu. Pada tahun 1823 Gubenur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang telah mengutus John Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera timur dan dari catatannya di sebutkan sebuah kampung yang bernama Ba Bingai (menurut buku Mission to The Eastcoast of sumatera-Edinbung 1826). Sebenarnya sejak tahun 1822, Binjai telah di jadikan bandar/pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah berasal dari perkebunan lada di sekitar ketapangai (pungai) atau Kelurahan Kebun Lada/Damai.
Timbang Langkat (Binjai) dibuat Benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda. Atas tindakan datuk Sunggal ini Belanda merasa terhina dan memerintahkan kapten koops untuk menumpas para datuk yang menentang Belanda. Pada tanggal 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran yang sengit antara Datuk/masyarakat dengan Belanda. Peristiwa perlawanan ini lah yang menjadi tonggak sejarah dan di tetapkan sebagai hari kota Binjai. Perjuangan para Datuk/rakyat terus berkobar dan pada akhirnya pada 24 Oktober 1872 Datuk Kocik, Datuk Jalil dan Suling barat dapat ditangkap Belanda dan kemudian pada tahun 1873 di buang ke Cilacap. Pada tahun 1917 oleh pemerintah Belanda dikeluarkan Instelling Ordonantie No.12 dimana Binjai di jadikan Gemente dengan luas 267 Ha.
Dalam perkembangannya kota Binjai sebagai salah satu daerah tingkat II di Propinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan peraturan pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah kota daerah kota Binjai telah di perluas menjadi 90,23 Km dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 11 kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993, maka jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan keputusan gubenur sumatra utara No.140-1395 /SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang pembentukan 6 desa persiapan dan kelurahan persiapan di kota Binjai. Berdasarkan SK gubenur sumatera utara No.146-2624/SK/1996 tanggal 7 Agustus 1996,17 desa menjadi kelurahan. (Situs Resmi Kota Binjai. www.binjaikota.go.id. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015. Pukul 08.00 WIB).
4.2 Demografi Kota Binjai
Kota Binjai merupakan kota multi etnis, dihuni oleh suku Jawa, suku Karo, suku Tionghoa, suku Melayu, dan beberapa suku lainnya. Kemajemukan etnis ini menjadikan Binjai kaya akan kebudayaan yang beragam. Jumlah penduduk kota Binjai sampai pada bulan April 2014 adalah 248.456 jiwa dengan kepadatan penduduk 2.506 jiwa/km persegi. Berikut selengkapnya mengenai data demografi di Kota Binjai:
1. Kependudukan
2.754 jiwa/km 2 dan rata-rata 4,32 jiwa per Rumah Tangga. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Binjai Utara sebanyak 71.051 jiwa sedangkan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Binjai Kota yaitu sebanyak 30.473 jiwa. Kecamatan yang paling padat penduduknya terdapat di kecamatan Binjai Kota dengan kepadatan 7.396 jiwa/km2. Sedangkan kecamatan yang jarang penduduknya adalah Binjai Selatan dengan kepadatan 1.631 jiwa/km2.
Jumlah Rumah Tangga yang paling banyak terdapat di Kecamatan Binjai Utara yaitu 16.580 rumah tangga, dan rumah tangga yang paling sedikit terdapat di Kecamatan Binjai Kota yaitu 7.133 rumah tangga. Penduduk Kota Binjai didominasi oleh penduduk berusia 5-9 tahun sejumlah 23.789 jiwa yang terdiri dari 12.355 laki-laki dan 11.434 perempuan. Sedangkan jumlah paling sedikit adalah penduduk berusia 60-64 tahun berjumlah 5.473 orang terdiri dari 2.637 laki-laki dan 2.836 perempuan.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
No Rentang
usia
(tahun)
Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
Laki-laki
Perempuan Laki-laki Perempuan
Laki-laki
perempuan
1 0 – 14 30,939 31,683 36,907 34,645 36,635 34,370
2 15 – 54 86,600 86,755 75,184 78,258 76,032 77,075
3 55+ 10,103 11,045 10,906 12,254 11,506 12,838
Jumlah penduduk
127,642 129,483 122,997 125,157 124,173 124,283
Sumber: Binjai Dalam Angka 2013 dan 2014, BPS Kota Binjai
Catatan: (1) Data tahun 2012, terjadi selisih 20 jiwa antara jumlah detail dengan jumlah akumulasi di BPS BDA 2013, maka peneliti mengikuti jumlah detail data, (2) Terjadi selisih 2000 jiwa data tahun 2013.
Mandailing, Minang dan Aceh, etnis-etnis ini dalam sejarahnya memang merupakan etnis dengan sejarah perkembangan agama Islam yang kuat.
Tabel 4.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
No Agama 2012 2013 2014
1 2 3 4 5 Islam Kristen/Katolik Hindu Budha Konghucu/Aliran Kepercayaan - - - - - - - - - - 201,070 29,332 1485 16989 19 Jumlah Penduduk 248,154 248,456 248,895
Sumber: Database Kota Binjai Tahun 2014 (Bappeda Kota Binjai) Susenas 2013 (BPS)
Catatan: Data BPS Binjai yang tersedia untuk perbandingan agama adalah data SUSENAS 2012. Maka data 2 tahun sebelum yakni tahun 2012 dan 2013 diambil dari persentase agama dikalikan jumlah penduduk kemudian dikali 100 %. Sedangkan tahun 2014 data diperoleh dari Laporan Akhir Database Kota Binjai Tahun 2014 oleh Bappeda Kota Binjai.
Etnis terbesar di Kota Binjai adalah Etnis Jawa yakni 92,545 % yang kemudian ikuti secara berurut adalah Melayu, Mandailing, Karo, Tionghoa, Batak Toba, Minang, Batak Simalungun, Banten dan Aceh. Hal ini ditunjukan dari hasil Susenas tahun 2014 yakni sebesar 39,80%. Kemudian disusul etnis Melayu 12.55 %, etnis Mandailing 9.33%, etnis Karo 9,05%, etnis Tionghoa 7,03%, etnis Batak Toba 6,70%, etnis Minang 6,28%, etnis Batak Simalungun 5,57%, etnis Banten 1,88% dan etnis Aceh 1,81%. Banyaknya etnis Jawa di Binjai tidak terlepas dari
Tabel 4.3
Jumlah Penduduk 10 Etnis Terbesar
No Nama Etnis 2012 2013 2014
sejarah kuli kontak yang diterapkan semasa penjajahan Belanda di Sumatera Utara untuk membuka dan membangun wilayah perkebunan.
Sumber: Database Kota Binjai Tahun 2014 (Bappeda Kota Binjai) Susenas 2013 Catatan: 1. Data di BPS Kota Binjai hanya terdapat 4 spesifikasi mata pencaharian dan dalam presentase. Data diatas merupakan presentase dikalikan jumlah penduduk umur diatas 15 tahun berdasarkan jenis kelamin.
[image:56.595.106.515.183.352.2]Mengenai jumlah pengangguran di Kota Binjai, akan diklasifikasikan menurut jumlah pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan yang ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
No Bidang pekerjaan 2012 2013 2014
1 2 3 4 5
Pertanian Industri Perdagangan Jasa
Lainnya
22.329 33.087 58.448 37.092 43.355
16,601 27,550 55,877 37,881 38,693
Tabel 4.5
Jumlah Pengangguran Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pengangguran Jumlah
2012 2013 2014
tidak tamat SD SD / Mi
SMP / MTs
SMA / SMK / MA Diploma / Universitas
- 9 32 1,175 759
6 32 70 1,521 593
1 11 32 945 130
2. Infrastruktur
Tabel 4.6
Jumlah Tempat Ibadah
No. Tempat Ibadah 2012 2013 2014
1 2 3 4 5 6 Masjid Gereja Pura Vihara Langgar Mushola 146 39 3 14 120 65 152 39 3 13 144 60 152 39 3 13 144 60
Sumber:Data Base Kota Binjai Tahun 2014, Bappeda Kota Binjai.
Tabel 4.7
Jumlah Sekolah Perkecamatan di Kota Binjai
Kecamatan SD SMP Madrasah Tsanawiyah
SMU Madrasah Aliyah
Total
Binjai Utara Binjai Selatan Binjai Timur Binjai Barat Binjai Kota 45 31 31 21 26 16 6 3 3 9 5 1 - 1 2 12 12 1 - 6 7 1 - - 2 85 51 35 25 45
Jumlah 154 37 9 31 10 241
Sumber: Binjai Dalam Angka 2014, BPS Kota Binjai.
Tabel 4.8
Jumlah Prasarana Kesehatan
No. Sarana 2012 2013 2014
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Rumah Sakit Umum Daerah Rumah Sakit Swasta
Apotek Puskesmas Puskesmas Pembantu Polindes/Poskeskel Posyandu Poliklinik Praktik Bidan 2 8 35 8 18 37 244 52 109 2 8 35 8 18 37 244 52 109 2 8 42 8 18 37 244 39 140
Sumber: Binjai Dalam Angka 2013 dan 2014, BPS Kota Binjai
yang dalam kondisi baik sepanjang 239,612 km, selebihnya kondisi sedang, rusak, rusak berat. sedang untuk infrastruktur dasrah lainnya tidak ada perubahan dalam rentang waktu tiga tahun.
Tabel 4.9
Sarana jalan
No. Variabel 2012 2013 2014
1 2 3
Panjang jalan provinsi Panjang jalan kabupaten Panjang jalan negara
14840 334988 12000 14.840 km 335.088 km 12.000 Km 14.840 km 355.605 km 12.000 Km Sumber: Binjai Dalam Angka 2013 dan 2014, BPS Kota Binjai.
Tabel 4.10
Infrastruktur Lainnya
No Nama infrastruktur 2012 2013 2014
1 2 3 4 5 Bandara Pelabuhan Hotel Terminal Stasiun 0 0 7 1 1 0 0 7 1 1 0 0 7 1 1 Sumber: Binjai Dalam Angka 2013 dan 2014, BPS Kota Binjai.
[image:61.595.107.521.455.612.2]tesebut, menghasilkan nilai laju pertumbuhan dengan kecendrungan menurun. Kesadaran masyarakat kota Binjai untuk melaksanakan program pengendalian kelahiran atau berkeluarga berencana dapat dikatakan cukup berhasil.
Tabel 4.11
Laju Pertambahan Penduduk
No. Laju Pertumbuhan Penduduk
Tahun 2009- 2010
Tahun 2011- 2012
Tahun 2013- 2014
1 Persentase 1.20 0.97 0.86
Sumber: Binjai Dalam Angka 2013 dan 2014, BPS Kota Binjai.
4.3 Geografi Kota Binjai
Kota Binjai sebagai salah satu kota di Propinsi Sumatera Utara yang hanya berjarak ± 22 Km dari Kota Medan ( ± 30 menit perjalan ), bahkan batas terluar Kota Binjai dengan batas terluar Kota Medan hanya berjarak ± 8 Km. Kota Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, serta berada pada Jalur Trasportasi Utama yang menghubungkan Propinsi Sumatera Utara dengan Propinsi Nangroe Aceh Darurralam (NAD) serta ke Objek Wisata Bukit Lawang Kabupaten Langkat.
sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kab.Deli Serdang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bingei Kab.Langkat dan Kecamatan Kutalimbaru Kab.Deli Serdang dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Selesai Kab.Langkat. Kota Binjai yang memiliki luas 9.023,62 Ha (± 90,23 Km2) terdiri dari 5 (lima) Kecamatan dan 37 (tiga puluh tujuh) Kelurahan.
Kota Binjai adalah daerah yang beriklim tropis dengan 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Di Kecamatan Binjai Selatan curah hujan cukup besar dibanding dengan kecamatan lainnya di Kota Binjai yaitu 214 mm/14 haru hujan, diikuti dengan Kecamatan Binjai Barat 207 mm/8 hari hujan.
4.4 Lokasi Pengemis Kota Binjai
4.4.1 Tanah Lapang Merdeka Kota Binjai
Tanah Lapang Merdeka Kota Binjai merupakan jantung kota Binjai. Tempat ini menjadi lokasi hampir segala kegiatan acara yang diadakan di Kota Binjai. Lokasi tanah lapang merdeka ini berada tepat ditengah-tengah pusat Kota Binjai dan berada diantara pos militer dan pusat kantor Pemerintahan Kota Binjai.
Keadaan tanah lapang merdeka yang selalu ramai dan dipenuhi oleh segala macam kegiatan, menjadikan lokasi ini menjadi salah satu lokasi yang strategis bagi pengemis dalam melakukan aktivitasnya.
4.4.2. Pasar Kaget Kota Binjai
Pasar kaget kota Binjai merupakan pasar dadakan yang hanya buka pada sore hingga malam hari saja. Pasar kaget terletak di Jalan Irian Kota Binjai, dimana pada waktu pagi hingga sore hari jalan ini terlihat seperti biasa yang ada hanya ruko ruko para pedagang di sepanjang Jalan Irian tersebut, akan tetapi ketika memasuki waktu sore hari ketika ruko-ruko yang ada disepanjang Jalan Irian mulai tutup, aktivitas di jalan ini berubah menjadi pasar yang menjual segala jenis makanan dengan mendirikan tenda-tenda tempat berjualan disepanjang sisi jalan Irian tersebut. Maka dari itu pasar ini dinamakan pasar kaget oleh masyarakat Kota Binjai dikarenakan pasar ini buka dadakan pada sore hari ketika ruko-ruko para pedagang di Jalan Irian sudah tutup.
4.4.3. Jalan Irian Kota Binjai
Jalan Irian merupakan jalan utama yang berada di pusat Kota Binjai, tempat ini sekaligus merupakan kawasan perdagangan di kota Binjai. Disepanjang Jalan Irian ini hampir dipenuhi oleh ruko-ruko para pedagang disisi kiri maupun disisi kanan jalan. Aktivitas di jalan ini sangat padat dari pagi hingga malam hari dikarekan jalan ini merupakan jalan utama pusat Kota Binjai.
BAB V
ANALISA DATA
Bab ini membahas mengenai data – data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di lapangan melalui wawancara dan observasi dengan Informan. Peneliti mengumpulkan data dari 9 informan utama dengan kategori 2 informan pengemis cacat, 2 informan pengemis lanjut usia dan 1 informan pengemis anak, peneliti juga menambahkan 4 informan tambahan yaitu pegawai UPT. Pelayanan Sosial Gelandangan dan Pengemis Binjai, tetangga pengemis, pembeli dan penjual makanan yang ada di Pasar Kaget Binjai. Dalam hal ini, data yang diperoleh langsung dari pengemis yang beraktivitas di tiga lokasi yang telah ditentukan dalam penelitian yaitu di Tanah Lapang Merdeka Kota Binjai, Pasar Kaget Kota Binjai, serta di Jalan Jendral Irian Kota Binjai. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu:
1. Melakukan wawancara mendalam dengan pengemis cacad, pengemis lanjut usia, pengemis anak dalam proses penelitian informan dan mengetahui latar belakang informan tersebut dan dilanjutkan wawancara dengan informan tambahan agar melengkapi data – data yang dibutuhkan. 2. Melakukan observasi di lingkungan tempat pengemis biasa melakukan
aktivitasnya dan mengikuti secara tersembunyi ke lingkungan tempat tinggal informan.
melihat gambaran yang lebih jelas dan rinci, maka penulis mencoba menguraikan data – data yang telah didapatkan dari observasi dan wawancara.
5.1. Pengemis Cacat
5.1.1. Informan Pertama
Nama : Julaidi
Umur : 35 Tahun
Jenis Kelamin : Laki – Laki
Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar
Agama : Islam
Suku : Aceh
Status : Mempunyai Seorang Istri Dan 4 Orang Anak
Alamat : Jln. Apel Kelurahan Bandar Senembah
kebanyakan orang lainnya tetapi ketika berjumpa saudara kembarnya yang seorang yang memiliki keterbatasan fisik maka ia ikut tertular penyakit keterbatasan fisik ketika Julaidi berumur 25 tahun. Julaidi sendiri terkena penyakit keterbelangan fisik ketika ia sudah menikah dan waktu itu sudah memiliki 2 orang anak. Pada 10 hari sekali Julaidi pulang ke Langsa untuk menemui istri dan keempat orang anaknya yang dibantu oleh Abdulrahman dengan menaiki bus jurusan Langsa. Setiap 10 hari sekali Jul pulang ke Langsa dan membawa hasil uang dari kegiatannya mengemis yang akan diberikan kepada istrinya yang nantinya untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Peneliti juga mendapatkan informasi dari istri Jul bahwa setiap kali Jul pulang ke Langsa Jul bisa membawa uang lebih kurang Rp.500.000 yang nantinya uang tersebut untuk kebutuhan sehari – hari istri dan anaknya. Julaidi sudah menetap di Kota Binjai selama 10 tahun dan meninggalkan istri dan keempat orang anaknya di Kota Langsa. Semenjak ia tinggal di Kota Binjai ia langsung menjadi seorang pengemis karena faktor dorongan dari Pak Rusli. Seperti sama halnya dengan Julaidi, Abdulrahman juga diangkat oleh Pak Rusli sebagai anak angkat agar bisa membantu Julaidi untuk melakukan aksi kegiatan mengemis.
Langsa. Pak Rusli sendiri berasal dari Kota Langsa juga yang merantau ke Kota Binjai. Pak Rusli dahulunya bekerja sebagai supir bulldozer, karena usia yang tidak sanggup lagi untuk bekerja dan harus pensiun dari pekerjaannya maka untuk menyambung kehidupannya ia menjadi seorang yang pengemis dan membantu Julaidi untuk mengemis juga. Pak Rusli sendiri memiliki seorang istri dan enam orang anak yang semuanya sudah berumah tangga. Sama halnya dengan Julaidi Pak Rusli juga pulang ke rumahnya yang ada di Langsa setiap 10 hari sekali untuk menemui istrinya dan memberikan nafkah kepada istrinya.
Peneliti ingin mengetahui tentang keadaan sosial Julaidi maka peneliti bertanya kepada rekan Julaidi yang bernama Abdulrahman karena Julaidi sendiri tidak dapat berbicara dan tidak bisa menalar pertanyaan dari peneliti. Pertanyaan pertama yang peneliti tanyakan kepada Abdulrahman tentang Julaidi adalah apakah Julaidi mempunyai keluarga. Abdulrahman menuturkan Julaidi mempunyai seorang istri dan empat orang anak. “ anaknya empat bang. Yang pertama perempuan kelas 6 sd, yang nomor dua perempuan juga kelas 2 sd, yang ketiga belum sekolah berumur 5 tahun dan yang nomor empat laki – laki berumur 1,5 tahun”. Kemudian peneliti bertanya kepada Abdulrahman apakah ada anggota keluarga Julaidi yang terlibat dalam melakukan kegiatan mengemis, dan apakah dalam kegiatan mengemis Jul terorganisir. Abdulrahman menjawab “tidak
ada,hanya Jul sendiri yang mengemis dan tidak terorganisir. “karena bang
Peneliti agar mengetahui keadaan sosial Julaidi dengan warga sekitar tempat ia tinggal maka peneliti bertanya kepada Abdulrahman dengan beberapa pertanyaan antara lain Apakah Jul bersosialisasi dilingkungan tempat tinggal, apakah ia mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan tempat tinggal. Abdulrahman menuturkan bahwa Julaidi tidak bersosialisasi karena keadaan keterbatasan fisiknya. “Engga bang karena jalan saja dia tidak bisa kan gimana mau bersosialisasi. Kegiatannya sehari – hari ya cuma gini la bang pagi hari nanti saya bawa untuk minta sedekah sampai siang hari baru malam lagi nanti saya bawa lagi untuk minta sedekah sehabis isya”.
Setelah mengetahui keadaan sosial dari Julaidi kemudian peneliti juga ingin mengetahui bagaimana kondisi ekonomi julaidi selama menjadi pengemis, dengan demikian peneliti mewawancarai rekan Julaidi yaitu Abdulrahman dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama yang peneliti tanyakan adalah berapa lama Julaidi menjadi seorang pengemis. Abdulrahman menuturkan bahwa Julaidi sudah 10 tahun menjadi seorang pengemis.“ sudah 10 tahun bang. Ya, semenjak
dia sakit”. Setelah mengetahui berapa lama Jul menjadi seorang pengemis
kemudian peneliti bertanya dalam sehari berapa kali Julaidi melakukan kegiatan mengemis dan adakah mata pencaharian lain selain mengemis. Abdulrahman menuturkan bahwa Julaidi mengemis pada pagi dan malam hari, mata pencaharian selain mengemis tidak ada. “ Biasanya bang kalau minta sedekah kami pada pagi hari dari jam 10 pagi sampai jam setengah 2 siang, baru malam hari sehabis isya sampai jam 10 malam bang biasanya kalau mata pencaharian lain selain