SKRIPSI
RESPON CHINA MENGHADAPI AMERIKA-SERIKAT DALAM INISIASI TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP DI KAWASAN ASIA
PASIFIK TAHUN 2009-2015
Response of China Facing United States In Initiative Of Trans-Pacific Partnership In Asia Pacific Region Year 2009-2015
Disusun oleh :
MUHAMMAD AZZAM JULDA 20120510465
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
i RESPON CHINA MENGHADAPI AMERIKA-SERIKAT DALAM INISIASI
TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP DI KAWASAN ASIA PASIFIK TAHUN 2009-2015
Response of China Facing United States In Initiative Of Trans-Pacific Partnership In Asia Pacific Region Year 2009-2015
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh :
MUHAMMAD AZZAM JULDA 20120510465
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS SOSIAL DAN POLITIK
iv
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi dengan judul “Respon China Menghadapi Amerika-Serikat Dalam Inisiasi Trans-Pacific Partnership di Kawasan Asia Pasifik Tahun 2009-2015” ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh derajat gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP) pada Fakultas Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Selain dalam penyusunan skripsi ini, penulis juga telah mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
2. Dra. Mutia Hariati Hussin, M.Si., selaku dosen pembimbing utama dan penguji atas kesabaran dan waktu yang diberikan kepada penulis atas bimbingan dan arahannya selama penyusunan skripsi ini.
v 4. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., selaku dosen penguji seminar proposal skripsi, terima kasih atas revisi dan arahannya dalam kesempurnaan menyusun skripsi pada bab-bab berikutnya.
5. Drs. Bambang Wahyu Nugroho S.IP., selaku dosen penguji sidang akhir skripsi, terima kasih atas revisi dan arahannya dalam kesempurnaan menyusun skripsi pada bab-bab berikutnya.
6. Drs. Husni Amriyanto Putra, M.Si., selaku dosen penguji pada sidang akhir skripsi terimakasih atas perbaikan dan arahannya.
Penulis menyadari bahwa adanya skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca guna perbaikan penulis di kemudian hari. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
vi
ABSTRACT
This undergraduate thesis is going to discuss China's response facing US
initiation in trying dominance Asia Pacific region with the Trans-Pacific Partnership.
These issues have to be lifted to the surface, due to the relatively high capacity of the
United States attempted to launch any breakthrough in the competitive power in the
Asia Pacific region. Therefore, that will place China under the spotlight of attention of
the international community, China has been incredibly strong considering blowing
back off all threats, especially the United States who is trying dominate the Asia-Pacific
region. Finally, the influence of the Chinese government in shaping attitudes and
strategies in the competition of dominating of the Asia-Pacific region to compete with
vii
DAFTAR ISI
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ... iv BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. A. Latar Belakang Masalah... Error! Bookmark not defined. B. Rumusan Masalah... Error! Bookmark not defined. C. Kerangka Teori ... Error! Bookmark not defined. D. Hipotesa ... Error! Bookmark not defined. E. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. F. Sistematika Penulisan ... Error! Bookmark not defined. BAB II TRANS PACIFIC PARTNERSHIP ... Error! Bookmark not defined. A. Sejarah Trans Pacific Partnership ... Error! Bookmark not defined. B. Keterlibatan Amerika Serikat ... Error! Bookmark not defined. C. Kepentingan Amerika Serikat di Dalam Trans Pacific Partnership ... Error! Bookmark not defined.
D. Trans Pacific Partnership dan Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat ... Error!
Bookmark not defined.
E. Potensi Trans Pacific Partnership dan KeanggotaannyaError! Bookmark not defined.
F. Trans Pacific Partnership vs China ... Error! Bookmark not defined.
viii D. Prospek Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership ... Error! Bookmark not defined.
E. Regional Comprehensive Economic Partnership dan Trans Pacific Partnership
Error! Bookmark not defined.
ix
DAFTAR GRAFIK
Grafik 3.1 The total trade shares in the world of RCEP and TPP .... Error! Bookmark not defined.
x
DAFTAR GAMBAR
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Simulasi Pertama. By : Ronglin Li dan Yan Hu ... Error! Bookmark not defined.
Tabel 3.2 Simulasi Kedua. By : Ronglin Li dan Yan Hu ... Error! Bookmark not defined.
xii
DAFTAR SINGKATAN
AANZFTA = ASEAN-Australia-New Zealand FTA ACFTA = ASEAN China Free Trade Area
ADB = ASEAN Development Bank
ASEAN = Association of Southeast Asian Nations BRICS = Brazil Russia India China South Africa CKJFTA = China-Japan-Korea Free Trade Area EHP = Early Harvest Program
FTA = Free Trade Agreement
FTAAP = Free Trade Area of the Asia-Pacific
GATT = The General Agreement on Tariffs and Trade GCC = Gulf Cooperation Council
GDP = Gross Domestic Bruto
NAFTA = North American Free Trade Agreement RCEP = Regional Comprehensive Economic Partnership SCO = Shanghai Cooperation Organisation
TPP = Trans Pacific Partnership
TPSEP = Trans Pacific Strategic Economic Partnership USTR = United States Representative Office
v
ABSTRACT
This undergraduate thesis is going to discuss China's response facing US
initiation in trying dominance Asia Pacific region with the Trans-Pacific Partnership.
These issues have to be lifted to the surface, due to the relatively high capacity of the
United States attempted to launch any breakthrough in the competitive power in the
Asia Pacific region. Therefore, that will place China under the spotlight of attention of
the international community, China has been incredibly strong considering blowing
back off all threats, especially the United States who is trying dominate the Asia-Pacific
region. Finally, the influence of the Chinese government in shaping attitudes and
strategies in the competition of dominating of the Asia-Pacific region to compete with
1
BAB I
PENDAHULUAN
Trans-Pacific Partnership (TPP) merupakan perjanjian perdagangan bebas
atau Free Trade Agreement (FTA) dengan tujuan liberalisasi ekonomi di kawasan Asia
Pasifik.1 Perjanjian TPP awalnya dirintis pada 3 Juni 2005 oleh empat negara yaitu
Brunei, Singapura, Chili, dan Selandia Baru.2
Keikutsertaan AS dalam TPP secara resmi direalisasikan oleh pemerintah AS pada
tahun 2009.3 Presiden Obama menyatakan dukungan yang kuat untuk menciptakan
blok perdagangan baru di kawasan Asia Pasifik, serta pemerintah AS pun menyambut
antusias tersebut dengan menggalakkan kebijakan “Pivot to Asia”.4
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Kebijakan Amerika Serikat dalam “US Pivot” terhadap kawasan Asia-Pasifik
menjadi topik yang sedang banyak dibicarakan. Kebijakan tersebut menimbulkan
beberapa reaksi para analis. Para analis berpendapat bahwa kebijakan AS tersebut akan
memiliki konsekuensi terhadap hubungan antara AS dan China. Kishore Mahbubani
menyatakan: “Sepanjang sejarah, hubungan geopolitik yang paling penting adalah
relasi kekuatan besar antara Amerika Serikat dengan China. Kita melihat meningkatnya
1 Yuan, Wen Jin. “The Trans-Pacific Partnership and China Corresponding Strategies.” A Freeman Briefing Report, 2012.
2Ibid.
3 Hong, Zhao. “China’s Evolving Views on the TPP and the RCEP.” ISEAS Perspective, 2014: 3-4. 4 Gross, Donald. The World Post. 8 September 2013.
2 ketegangan geopolitik antara keduanya”.5 Maksud dari kebijakan “US pivot” terhadap
Asia Pasifik adalah “Amerika akan berperan dalam kepemimpinan di Asia selama
beberapa dekade yang akan datang”.6 Mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton
menyatakan: “Kita perlu maju dan memperbaharui kepemimpinan AS.”7
Kebijakan luar negeri AS secara resmi diarahkan seluruh wilayah Asia Pasifik yang
mencakup wilayah Pasifik dan Samudra Hindia. Kebijakan tersebut diarahkan untuk
membendung pertumbuhan China oleh AS. AS menginisiasi Trans Pacific Partnership
tanpa kehadiran China didalamnya. Hillary Clinton secara terbuka mengakui bahwa
“Salah satu yang paling menonjol di kawasan Asia-Pasifik tentu saja China8, tetapi
Hillary Clinton menolak pandangan bahwa “US pivot” terhadap Asia Pasifik diarahkan
untuk membatasi China, dengan menyatakan bahwa “Kami (AS dan China) akan
menghasilkan lebih banyak keuntungan dari kerjasama daripada konflik”.9
Trans-Pacific Partnership (TPP) oleh Amerika dengan 11 negara Asia-Pasifik.
Kerjasama TPP tidak hanya akan menghapuskan atau mengurangi tarif pada
komoditas, tetapi juga mencakup standar keamanan, hambatan perdagangan dalam
teknologi, tindakan sanitary dan phytosanitary, kebijakan persaingan, hak kekayaan
5 Mahbubani, K. (2011). The new Asian great game. Financial times.
6 Lieberthal, K. (2012). The American Pivot to Asia. Why president Obama’s turn to the East is Easier
Said than done. Foreign Policy.
7 Clinton, H. R. (2011). America’s Pacific Century. U.S. Department of State through Foreign Policy
Magazine.
3 intelektual, pembelanjaan pemerintah, penyelesaian sengketa, serta tenaga kerja dan
perlindungan lingkungan hidup.10
TPP dilihat tidak sekedar untuk memperluas akses pasar Amerika ke kawasan
pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia tersebut, tetapi juga mengirimkan
sinyal-sinyal kepada China. Amerika Serikat memerlukan TPP dikarenakan negara tersebut
memerlukan kerjasama ekonomi yang lingkupannya tidak terlalu multilateral seperti
WTO dan tidak sekecil bilateral11, mengingat negosiasi Doha Developement Agenda
di WTO yang sudah berlangsung selama 12 tahun namun belum memberikan hasil dan
keuntungan perjanjian bilateral yang tidak maksimal.
Kepentingan Amerika Serikat di TPP adalah pertama, TPP akan menciptakan
kesepakatan ekonomi yang komprehensif (mencakup isu-isu yang tidak ada dari Doha
Round seperti jasa, investasi, kompetisi, dan regulasi yang koheren) dan bentuk
perjanjian yang modern sebagai alternatif kesepakatan di Kawasan Asia Pasifik yang
melibatkan Amerika Serikat.12
Kedua, TPP akan mendorong integrasi lebih dalam di Kawasan Asia Pasifik.
Ketiga, TPP akan menhasilkan model yang bisa mengkonsolidasikan perjanjian
perdagangan yang ada sehingga bisa memetakan jalan keluar dari the Noodle Bowl,
10 Niu Tiehang, New Leadership’s New Reform Road Map,
http://www.chinausfocus.com/finance-economy/new-leaderships-new-reform-road-map/
11 Gordon, Bernard K. 2012. “Trading Up in Asia: Why the United States Needs the Trans-Pacific
Partnership.” Foreign Affairs.
12 Petri, Peter A., Michael G. Plummer dan Fan Zhai. 2011. “The Trans-Pacific Partnership and
4 yaitu perjanjian perdagangan internasional yang terlalu banyak sehingga tidak
terorganisir13 yang ada di Asia Pasifik dan sekitarnya. Keempat, TPP akan membantu
memperluas pasar ekspor Amerika Serikat ke Asia.
Melihat dari data perdagangan Amerika Serikat ke negara-negara tersebut, secara
kuantitas perdagangan masih sedikit dan bahkan defisit. Seperti ekspor yang dilakukan
Amerika Serikat ke Brunei Darussalam hanya sebanyak 0,2 milyar dan Selandia Baru
hanya senilai 3,6 milyar. Sedangkan terjadi defisit perdaganan dengan Malaysia senilai
11,6 milyar dan dengan Vietnam senilai 13,1 milyar.14 Diharapkan dengan adanya
perdagangan bebas dapat membuat penambahan kuantitas dan pengurangan defisit
perdagangan.
Dampak dari perjanjian TPP kepada China sangat tergantung pada apakah
kerjasama TPP dapat berhasil dinegosiasikan dan diimplementasikan. The United
States Trade Representative Office (USTR) mendorong perdagangan bebas dengan
standar yang tinggi. TPP merupakan bentuk kerjasama yang berbeda, untuk pertama
kalinya USTR mendorong kerjasama multilateral dengan negara-negara yang tidak di
wilayah geografis yang sama dan berada pada tahap perkembangan ekonomi yang
berbeda. Dengan latar belakang wilayah geografis yang berbeda, Goodman
menyatakan bahwa hal itu akan menantang konsistensi dan kualitas dari kerangka TPP.
"Tujuan TPP adalah menetapkan standar yang tinggi bahwa setiap negara harus
13 Baldwin, Richard E. 2008. “The East Asian Noodle Bowl Syndrome.” Hal. 45-79 in East Asia's
Economic Integration: Progress and Benefit, edited by Daisuke Hiratsuka and Fukunari Kimura. New York: PALGRAVE MACMILLAN.
14 Fergusson, Ian F., William H. Cooper, Remy Jurenas dan Brock R. Williams. 2012. “The Trans-Pacific
5 mematuhi aturan dengan mempertahankan standar yang tinggi dan bersatu dalam visi
dan misi," kata Goodman, "namun pada akhirnya mungkin akan ada beberapa
perlakuan khusus untuk beberapa negara ".15
Beberapa analis China berpendapat jika TPP berhasil dinegosiasikan dan
dilaksanakan di masa depan, hal tersebut akan memiliki dampak ekonomi negatif yang
kuat pada China. Song Guoyou mencatat TPP akan menghasilkan pengalihan
perdagangan. Song berpendapat bahwa beberapa negara anggota TPP adalah
negara-negara berkembang, kualitas produk ekspor mereka sangat mirip dengan China,
kesamaan ini akan memicu persaingan ekspor antara China dan negara-negara
berkembang. Dalam keadaan ini, TPP akan menimbulkan ancaman berat pada ekspor
China ke AS.16 Sementara itu, analis China pada umumnya berpendapat selain dampak
TPP pada perekonomian China, dampak geopolitik China akan menghadapi ancaman
yang lebih besar dalam jangka panjang. Shen Minghui, seorang peneliti di Akademi
Ilmu Sosial China (CASS), menegaskan bahwa pelaksanaan TPP akan mendorong
negara-negara ASEAN dan sekutu AS lainnya di Asia Timur untuk mengambil
kebijakan condong ke arah AS , yang pada gilirannya akan menjauhkan China dari
negara-negara tetangga. Hal ini akan menimbulkan sebuah ancaman yang besar pada
gerakan strategis China dan status China di kawasan Asia Timur. Oleh karena itu, Shen
15 Matthew Goodman, TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP: QUESTIONS & ANSWERS,
www.globaltrademag.com/global-trade-daily/commentary/trans-pacific-partnership-questions-answers
16 Song Guoyou, “TPP shi Meiguo Qianzhi Zhongguo de Xin Fama,” (The US Sees TPP as a New
6 berpendapat bahwa China harus memperhatikan implikasi geopolitik dari TPP dan
menanggapi mereka secara strategis.17
Jika kita melihat beberapa tahun ke belakang, terlihat dengan jelas bahwa AS telah
berusaha menanamkan pengaruh di kawasan Asia Pasifik, yang membuat para analis
China khawatir hal tersebut akan mengancam kelangsungan pemerintahan China dalam
aspek geopolitik setelah kerjasama TPP terealisasikan. Kekhawatiran akan usaha
pengepungan kekuatan China oleh Amerika Serikat muncul dalam pemikiran strategis
China, apakah pengepungan yang bersifat militer, ekonomi, atau terkait dengan
pemerintahan.18 Sumber-sumber resmi media China mengungkapkan atas
kekhawatiran tersebut :
Pada ranah strategis, Amerika Serikat ingin Asia Tenggara untuk membentuk pusat
"Asian Strategic Alliance" yang mencakup Asia Timur Laut, Asia Tenggara dan India.
Pada tingkat politik, AS terus mengekspor "Demokrasi" dan nilai-nilai Barat ke
negara-negara Asia Tenggara. Pada tingkat ekonomi, AS memiliki hubungan dekat dengan
Asia Tenggara dalam hal perdagangan, keuangan dan investasi. Pada tingkat militer
dan keamanan, AS ingin mendirikan pangkalan militer dan lebih positif mencampuri
urusan keamanan di kawasan Asia-Pasifik.19Sejak pengumuman poros AS ke Asia,
Pertahanan Amerika Serikat telah menggeser sebagian besar aset angkatan laut ke
17 Shen Minghui, “TPP de Chengben Shouyi Fenxi,” (A Cost Benefit Analysis of the TPP), Dangdai
Yatai (Contemporary Asia-Pacific), No.1, 2012, hal. 34.
18 Larry Catá Backer, (2010), Encircling China or Embedding It?, Law At The End Of The Day,
http://lcbackerblog.blogspot.com/2010/11/encircling-china.html.
19 Li Bing, Time to Counter US Ploys, Xinhuanet (July 29, 2010),
7 wilayah asia pasifik pada tahun 2020, serta meningkatkan latihan militer dan hubungan
di wilayah tersebut. Dalam proses ini, persaingan maritim di Laut China Selatan terus
dipercepat.20
Amerika Serikat mengumumkan penyebaran pasukan ke Australia. Militer
AS-Australia juga dikabarkan membahas kemungkinan Angkatan Laut AS memiliki akses
yang lebih besar ke Australia di Samudra Hindia atas pangkalan angkatan laut HMAS
Stirling di selatan kota pantai barat Perth.21 Penyebaran angkatan laut ke Singapura
serta rencana untuk membangun empat fasilitas stasiun kapal tempur di pesisir
Singapura dan kerjasama militer dengan Filipina; Filipina dan Amerika Serikat sedang
membahas kerjasama militer, termasuk kerjasama pesawat pengintai di Filipina dan
latihan militer bersama. Meskipun penurunan tingkat anggaran belanja sektor
pertahanan AS, kehadiran militer AS di Asia Timur akan diperkuat dan akan dibuat
"lebih terbagi secara lebih luas, lebih fleksibel, dan lebih berkelanjutan";22
Skripsi ini hendak membahas geliat China dalam menghadapi upaya Amerika
Serikat dalam usaha dominasi kawasan Asia Pasifik dengan Trans-Pacific Partnership
oleh Amerika Serikat . Isu ini dipilih untuk diangkat ke permukaan, pasalnya dengan
kapasitas yang relatif tinggi Amerika Serikat berusaha meluncurkan segala terobosan
dalam persaingan kekuasaan di kawasan Asia Pasifik. Hal ini kemudian menempatkan
20 Dr. Dan Steinbock, Toward Asia-Pacific Free Trade,
http://www.chinausfocus.com/finance-economy/toward-asia-pacific-free-trade-despite-the-tpp/
21 Craig Whitlock. Washington Post, 26 March 2012. U.S., Australia to broaden military ties amid
Pentagon pivot to SE Asia. http://defensealt.org/HzVeNJ
22 Tom Donilon, America is Back in the Pacific and will Uphold the Rules, Financial Times, November
8 China dibawah lampu sorot perhatian masyarakat internasional, mengingat China
sangatlah tangguh menanggalkan segala ancaman khususnya Amerika Serikat demi
menguasai kawasan Asia-Pasifik . Maka dari itu pengaruh pemerintah China dalam
membentuk sikap dan strategi dalam persaingan dominasi kawasan Asia Pasifik
bersaing dengan usaha Amerika Serikat yang berusaha untuk mendominasi menjadi
hal yang menarik untuk dikaji.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana strategi China membangun dominasi di Asia Pasifik sebagai reaksi
inisiasi pembentukan Trans Pacific Partnership ?
C. KERANGKA TEORI
Dalam perspektif realis negara selalu berjuang untuk mencapai kepentingannya,
maka muncul teori Balance of Power untuk menciptakan kedamaian dunia. Dalam BoP
menyatakan bahwa negara akan bergabung dalam aliansi untuk menghindari dominasi
kekuatan yang lebih kuat.
Berdasarkan teori ini, negara bergabung dengan aliansi untuk melindungi dirinya
sendiri atau koalisi terkuat yang dapat menimbulkan ancaman. Kenneth Waltz
menyatakan bahwa teori Balance of Power memahami balancing sebagai tindakan
negara dalam mempertahankan posisinya dalam sistem, bukan meningkatkan
kekuatan.23 Lebih lanjut, Schweller menambahkan bahwa tujuan balancing merupakan
23 Kenneth N. Waltz. 1979. Theory of International Politics. Berkeley: Addison-Wesley Publishing
9 pertahanan diri dan perlindungan nilai-nilai.24 Dalam hal ini dapat dilihat bahwa
balancing digerakkan oleh dorongan untuk menghindari ancaman yang dapat
menimbulkan kekalahan.
Strategi balancing merupakan strategi negara untuk meningkatkan kemampuan
militernya (kapabilitas internal) untuk mengimbangi ancaman atau lawan. Dalam
balancing tidak ada tindakan untuk melawan ancaman atau lawan. Hal ini juga sejalan
dengan pendapat Stephen M. Walt bahwa ketika memasuki sebuah ranah aliansi, maka
negara dapat melakukan balance yaitu menjadi oposisi dari sumber bahaya.25
Stephen M. Walt menyatakan bahwa ada dua alasan utama bagi negara untuk
melakukan balancing, yaitu jika negara gagal mengekang kekuatan hegemon sebelum
menjadi kuat, maka sama saja negara tersebut membahayakan atas usaha mereka.
Karena jika negara tidak melakukan balancing, maka negara tersebut mempunyai
resiko kegagalan untuk mengekang sebuah hegemoni yang potensial sebelum semakin
menguat.26 Untuk beraliansi dengan suatu kekuatan yang mendominasi berarti telah
menempatkan suatu kepercayaan dalam suatu kebaikan yang berkesinambungan.
Strategi yang paling aman yaitu bergabung dengan pihak yang tidak mudah
mendominasi aliansi, untuk menghindar dari pihak yang mudah mendominasi. Seperti
yang dijelaskan oleh Winston Churchill mengenai kebijakan aliansi tradisional Inggris:
24 Randall L. Schweller. Summer, 1994. Bandwagoning for Profit. International Security, Vol 19, No 1.
The MIT Press. Hal 74.
25 Stephen M. Walt. Spring. 1985. Alliance Formation and the Balance of World Power. International
Security Vol 9 No. 4. MIT Press. Hal 4
10 “For four hundred years the foreign policy of England has been to oppose the strongest, most aggressive, most dominating power on the Continent. . . . it would have been easy . . . and tempting to join with the stronger and share the fruits of his conquest. However, we always took the harder course, joined with the less strong Powers, . . . and thus defeated the Continental military tyrant whoever he was. . . .”
Kedua, dengan bergabungnya sesama negara yang senasib yaitu negara yang
terancam, maka dapat meningkatkan pengaruh pada anggota baru. Oleh karena itu,
negara yang melakukan balancing dengan bergabung bersama pihak yang paling
rentan dapat meningkatkan dukungan dari anggota yang baru, dengan kata lain
memiliki kondisi yang sama. Karena pihak yang lebih lemah sangat banyak
membutuhkan dukungan. Negasinya bergabung dengan pihak yang lebih kuat, akan
mengurangi dukungan dari anggota baru (karena akan semakin sedikit menambah
koalisi) dan sangat jauh dari keinginan untuk menambah keanggotaan. Bergabung
dengan pihak yang lemah merupakan pilihan yang terbaik.27 Kenneth Waltz
berpendapat bahwa:
“Secondary states, if they are free to choose, flock to the weaker side; for it is the stronger side that threatens them. On the weaker side, they are both more appreciated and safer, provided, of course, that the coalition they join achieves enough defensive or deterrent strength to dissuade adversaries from attacking.”28
Jika balancing menjadi pola dalam hubungan internasional, maka negara yang
terancam akan memprovokasi negara lainnya untuk beraliansi melawan negara
pengancam. Karena negara yang berusaha mendominasi negara lainnya akan
27 Ibid. Hal 6.
28 Kenneth N. Waltz. 1979. Theory of International Politics. Berkeley: Addison-Wesley Publishing
11 menimbulkan opisisi yang meluas, status quo negara akan dapat melihat ancaman
secara lebih optimis. Dalam sebuah keadaan balancing, kebijakan untuk menahan diri
dan menunjukkan kebaikan merupakan hal yang terbaik. Negara-negara yang kuat akan
dilihat sebagai sekutu karena mereka banyak menawarkan sekutunya, tapi mereka
harus bisa menghindar untuk terlihat agresif. Kebijakan luar negeri dan pertahanan
yang meminimalisir ancaman pada negara lain menjadi arti yang sangat penting di
dunia.
Dalam studi hubungan internasional, konsep balancing kadang-kadang terlihat
samar, tapi secara umum tersirat tindakan kuat melawan sebuah kekuatan hegemoni
atau kekuatan yang mengancam, sebuah situasi yang secara implisit dipahami sebagai
pilihan lebih baik dimana kekuatan yang mendominasi tidak tertandingi.29 Sebuah
negara akan memilih untuk unilateral balancing atau internal balancing, membangun
sendiri kapabilitas militer sebagai perlawanan terhadap kekuatan lain, atau memilih
beraliansi dengan negara lain dalam usaha untuk menantang dan mengancam kekuatan
lain. Selain itu, keputusan negara kecil untuk melakukan balancing turut dipengaruhi
oleh perhitungan termasuk high political dan biaya strategi balancing.30 Ada dua
motivasi untuk melakukan bandwagoning, yaitu pertama bandwagoning dilakukan
sebagai sebuah bentuk ketentraman (appeasement).
29 Waltz (1979) dan Walt (1987) dalam Evelyn Goh. 2005. Meeting the China Challenge: The U.S. in
Souhteast Asia Regional Security Strategies. Washington: East West Center. Hal 3.
30 Evelyn Goh. Winter 2007. Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing
12 Teori Balance of Power menjelaskan dan menunjukkan bahwa negara yang
menghadapi ancaman eksternal cenderung untuk memilih melalukan balancing
daripada bandwagoning terhadap ancaman tersebut. Karena suatu keadaaan yang
balancing dapat menjamin kebebasan sebagian besar negara dibawah kondisi yang
hegemon.
Suatu negara membutuhkan beberapa negara demi tercapainya Balance of Power,
dalam hal ini Amerika Serikat dapat dilihat sebagai pihak yang berkeinginan untuk
mendominasi kawasan Asia Pasifik dengan bergabung dengan TPP dan tentunya
Amerika Serikat membuat pengaruh di kerjasama tersebut. TPP adalah sebagai wadah
aliansi guna mendominasi dan implementasi kepentingan. Amerika Serikat dilihat
sebagai pihak yang mengancam posisi China.
Menurut Morgenthau, Balance of Power adalah suatu keadaan nyata, dimana
kekuasaan terbagi kurang lebih sama diantara beberapa banyak negara.31 Hal ini sama
seperti di kutip oleh Mohtar Mas’oed dalam bukunya, yang mengatakan Balance of
Power sebagai suatu ekuilibrium, dimana variabel-variabel utamanya begitu erat,
sehingga perubahan disatu variabel pasti akan menimbulkan perubahan di variabel
lain.32
Joseph S Nye menambahkan bahwa tatanan dunia dewasa ini terbagi menjadi tiga
dimensi chess game. Pada tingkat pertama adalah kekuatan militer antar negara.
31 Hans J. Morgenthau, Politik Antar Bangsa, Penterjemah A.M Fatwa, Cetakan 1, Jakarta Yayasan Obor
Indonesia, 1991 hal. 3
32 Mohtar Mas’oed, Ilmu hubungan internasional disiplin dan metodologi, Edisi Revisi, LP3ES, Jakarta.
13 Kekuatan militer adalah unipolar. Amerika Serikat adalah kekuatan dominan dalam hal
ini. Pada tingkat menengah, yaitu hubungan ekonomi. Terdapat banyak kutub.
Terdapat suatu balance antar negara. Tingkat bawah adalah hubungan banyak aktor
non-pemerintah.33 Dalam hal ini China tidak melakukan balancing dalam hal kekuatan
militer negara namuntergolong dalam tingkat menengah dalam tatanan politik dunia
yaitu dengan berupaya meningkatkan perekonomian dan pengaruh China di berbagai
negara.
Suatu negara akan menyesuaikan diri jika ada peningkatan kekuatan pada negara
lain dalam sistem itu dengan cara meningkatkan sumber-sumber kekuatan mereka
sendiri. Dalam pandangan tersebut dapat dinyatakan jika Amerika Serikat berusaha
menunjukkan perannya di kawasan Asia Pasifik dan China sebagai negara yang
mempunyai power dan berada di wilayah geografis anggota TPP, China akan
meningkatkan power dengan cara meningkatkan sumber-sumber kekuatan.
Mengingat posisi China tidak berada dalam satu lingkup di TPP maka hal tersebut
merupakan ancaman bagi China. Aliansi adalah perwujudan perlindungan diri suatu
negara dan mempertahankan posisinya dalam sistem. China juga berkeinginan untuk
mempunyai pengaruh dikawasan Asia Pasifik sehingga Balance of Power dapat
tercapai. Suatu negara tidak dapat mencapai balance tanpa adanya negara lain sebagai
sekutu maka dalam hal ini China membentuk aliansi tanpa menghadirkan Amerika
Serikat di dalamnya. China membentuk Regional Comprehensive Economic
33 Joseph S Nye. 2010. Joseph S Nye : Global Power Shift. https://www.ted.com/talks/ joseph_nye_on
14
Partnership (RCEP) yang bergerak dalam bidang perdagangan bebas di kawasan Asia
Pasifik. RCEP dideklarasikan pada saat ASEAN Summit November 2012,
beranggotakan seluruh negara ASEAN, Australia, India, Jepang, New Zealand, dan
Korea Selatan.34 Selain membentuk RCEP, China juga membentuk Asia Infrastructure
Investment Bank. AIIB secara resmi diumumkan oleh presiden Xi Jinping saat
pertemuan APEC 2013 di Bali. AIIB adalah lembaga keuangan internasional yang
bertujuan untuk mendukung pembangunan infrastruktur di kawasan Asia-Pasifik.35
Dalam teoris sebelumnya disebutkan bahwa dengan bergabungnya sesama negara
yang senasib yaitu negara yang terancam, maka dapat meningkatkan pengaruh pada
anggota baru. China sebagai negara yang dominan di kawasan Asia Pasifik berusaha
membuat aliansi dengan negara-negara di sekitar kawasan. Hal tersebut dapat
membawa dampak yang sangat besar dalam balancing terhadap ancaman Amerika
Serikat.
D. HIPOTESA
Sebagai reaksi inisiasi pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP), maka China
berusaha untuk melakukan balancing di kawasan Asia Pasifikdengan cara :
1. Beraliansi dengan negara Asia Pasifik melalui perjanjian Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
34 Kim Tae-Kyung. 2015. “China’s Strategic Advocacy for RCEP: Three-fold Motivations Analysis”.
Hal 3
35 Andrew Elek. 2014. “The potential role of the Asian Infrastructure Investment Bank”. East Asia
15
2. Menginisiasi Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB).
E. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan batasan pada perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui dan menjelaskan kepentingan nasional Amerika Serikat melalui
TPP di Asia Pasifik.
2. Mengetahui dan menjelaskan bentuk-bentuk counter-balance China dalam
usaha balancing di kawasan Asia Pasifik.
Dengan adanya hasil penelitian, maka penelitian ini diharapkan:
1. Memberi sumbangan pemikiran dan informasi bagi Ilmu Hubungan
Internasional, yaitu para akademisi dalam mengkaji dan memahami masalah
hubungan kekuasaan terkait kapabilitas suatu negara, dalam hal ini pembahasan
rivalitas dua negara, antara China dan Amerika Serikat dalam usaha dominasi
di kawasan Asia Pasifik.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi setiap aktor Hubungan Internasional, baik
individu, organisasi, pemerintah, maupun organisasi non-pemerintah baik
16 F. SISTEMATIKA PENULISAN
Skripsi berjudul Respon China Menghadapi Amerika Serikat dalam Pembentukan
Trans-Pacific Partnership di Kawasan Asia Pasifik ini akan dibagi menjadi 4 (empat)
bab.
Bab pertama berisi pendahuluan. Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang
masalah, rumusan masalah, kerangka teori dalam perspektif realisme mengenai
Balance of Power yang sekiranya dapat menjelaskan bagaimana China berupaya untuk
mendominasi negara-negara di kawasan Asia Pasifik setelah inisiasi kerjasama TPP
yang di pelopori oleh Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan hipotesis, dan sistematika
penulisan.
Bab kedua akan membahas TPP secara lebih mendalam. Lalu membahas
bagaimana Amerika Serikat berusaha untuk mendominasi negara-negara kawasan Asia
Pasifik dan pengaruh keterlibatan AS di dalam kerjasama TPP. Kemudian akan dibahas
mengenai posisi AS di satu sisi menguntungkan AS dan melemahkan keberadaan
China di kawasan Asia Pasifik.
Bab ketiga akan berisikan tentang analisis China dalam upaya counter-balance
melalui RCEP dan menginisiasi AIIB paska terbentuknya TPP dengan menggunakan
teori Balance of Power.
Bab keempat merupakan penutup yang berisi kesimpulan dari bab-bab sebelumnya.
17 sudah dibahas dalam bab-bab sebelumnya, utamanya terkait pengaruh pemerintah
18
BAB II
TRANS PACIFIC PARTNERSHIP
Trans-Pacific Partnership (TPP) adalah perjanjian perdagangan bebas (FTA) oleh
12 negara, antara Amerika Serikat dan 11 negara Asia-Pasifik yaitu Australia, Brunei,
Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan
Vietnam. TPP adalah kerjasama standar tinggi karena mereka berusaha untuk
menghapus biaya pajak untuk perdagangan barang, jasa, dan pertanian, serta
membangun dan memperluas peraturan yang membahas berbagai masalah termasuk
hak kekayaan intelektual, investasi asing, dan isu-isu terkait perdagangan lainnya, TPP
memuat lebih dari 20 BAB perjanjian. Para anggota TPP berusaha untuk menciptakan
“Kerjasama abad ke-21" yang membahas isu-isu baru dan lintas sektoral karena
berbagai permasalahan oleh ekonomi yang semakin mengglobal.
Trans-Pacific Partnership (TPP) adalah perjanjian perdagangan bebas multilateral
(FTA) yang bertujuan untuk meliberalisasi ekonomi kawasan Asia-Pasifik. TPP dilihat
sebagai alat Amerika Serikat demi kepentingan perdagangan dan keamanan AS, disisi
lain TPP adalah ancaman bagi China di wilayah Asia Pasifik.
A. SEJARAH TRANS PACIFIC PARTNERSHIP
Perjanjian Trans Pacific-Pertneship (TPP) berawal dari perjanjian perdagangan
khusus yang bernama Trans Pacific Strategic Economic Partnerhsip (TPSEP).
19 tahun 1990-an oleh lima negara yaitu Amerika Serikat, Australia, Singapura, Chile,
dan Selandia Baru melakukan perundingan informal tentang pembuatan kerjasama
perdagangan di kawasan Asia Pasifik.36
Namun pada pertemuan selanjutnya hanya Selandia Baru, Chile dan Singapura
yang antusias untuk melanjutkan perundingan. Kemudian tiga negara tersebut
berunding pada saat pertemuan APEC pada tahun 2002 di Los Cabos Meksiko dan
melanjutkan perundingan pada tahun 2003 di Singapura. Kemudian pada bulan Juli
tahun 2004, Brunei Darussalam ditunjuk untuk berpartisipasi ke dalam negosiasi yang
berlangsung di Wellington, New Zealand sebagai pengamat. Pada bulan April tahun
2005, Brunei Darussalam memutuskan secara resmi untuk bergabung sekaigus menjadi
pendiri perjanjian dan para pendiri TPSEP akhirnya mendeklarasikan hasil perjanjian
pada saat pertemuan menteri perdagangan APEC tahun 2005 di Korea Selatan. 37
Namun pengumuman tentang hasil perundingan tidak disertai dengan ratifikasi saat
itu juga. Chili, Selandia Baru dan Singapura menandatangani perjanjian Trans-Pacific
Strategic Economic Partnership (TPSEP) pada 18 Juli 2005 kemudian Brunei
Darussalam pada tanggal 2 Agustus 2005.38
Pemberlakuan perjanjian berbeda antara satu negara dengan negara lain. TPSEP
berlaku bagi Selandia Baru dan Singapura pada 1 Mei 2006, sedangkan Brunei
36 Deborah d. C. L. L. Elms, (2012), “The Trans-Pacific Partnership Agreement (TPP) Negotiations:
Overview and Prospects.” Rajaratnam School of International Studies 232.hal.1-2
37 Singapore Ministry of Trade and Industry, (2004), “Singapore, Chile and New Zealand complete
second round of Pacific-Three FTA talks”.
38 Meredith Kolsky Lewis, (2011), The Trans-Pacific Partnership: New Paradigm or Wolf in Sheep’s
20 Darussalam menerapkan perjanjian secara parsial pada 12 Juni 2006 dan secara penuh
pada 12 Juli 2009. Sedangkan di Chile, perjanjian mulai berlaku pada 8 November
2006.39
Menurut pasal 1.1 perjanjian TPSEP (2005), tujuan dibentuknya kerjasama didasari
oleh kepentingan bersama untuk memperdalam hubungan dalam berbagai bidang,
diantaranya keuangan, teknologi, pendidikan, ekonomi dan kerjasama. Namun, tidak
terbatas kepada bidang-bidang itu saja karena dapat diperluas ke bidang lainnya.
Dengan demikian, setiap negara anggota juga berupaya mendukung proses liberalisasi
APEC secara konsisten dengan melakukan perdagangan dan investasi yang bebas dan
terbuka. Berikut pasal 1.1 perjanjian TPSEP :
TPSEP didasarkan atas kepentingan bersama dan pendekatan hubungan antar
anggota di berbagai bidang. Perjanjian TPSEP mencakup bidang komersial, ekonomi,
keuangan, ilmu sains, teknologi dan kerjasama antar negara. Perjanjian dapat diperluas
atas persetujuan pihak anggota untuk meningkatkan manfaat dari perjanjian.
Para anggota perjanjian berupaya untuk mendukung proses liberalisasi di APEC
secara konsisten dengan tujuan untuk perdagangan bebas dan investasi. Tujuan
perjanjian ini, sebagaimana diuraikan lebih khusus adalah untuk:
1. Mendorong ekspansi dan penganekaragaman perdagangan di antara negara
anggota;
21 2. Menghilangkan hambatan perdagangan barang dan jasa antara negara anggota
dan memfasilitasi dagang lintas batas negara;
3. Mendorong persaingan yang sehat di area perdagangan bebas;
4. Meningkatkan peluang investasi antar negara;
5. Memberikan perlindungan yang memadai dan efektif dalam penegakan hak
kekayaan intelektual di negara anggota; dan
6. Menciptakan mekanisme yang efektif untuk mencegah dan menyelesaikan
sengketa perdagangan.
TPSEP adalah perjanjian perdagangan bebas pertama yang menghubungkan Asia,
Pasifik, dan Amerika Latin, mengingat negara pendiri berada di berbagai belahan
dunia, Brunei Darussalam dan Singapura yang berada di Asia, Selandia Baru yang
berada di Pasifik, dan Chili yang berada di Amerika Latin . Selain keragaman geografis,
perjanjian ini menarik karena mencakup berbagai bidang. Tidak seperti kebanyakan
perdagangan bebas lainnya, TPSEP mencakup semua sektor, termasuk sektor
pertanian.40
Perjanjian TPSEP mendorong Chile, Selandia Baru, dan Singapura harus
mengurangi tarif menjadi nol pada semua barang pada 2017, dan Brunei mengurangi
tarif menjadi nol pada produk tertentu.41 TPSEP adalah perjanjian yang tergolong
40 Trans-Pacific Partnership, Office of U.S. Trade Representative, http://www.ustr.gov/tpp. Diakses 25
Maret 2016
41 N.Z. Ministry of Foreign Affairs & Trade, The New Zealand–Singapore–Chile– Brunei Darussalam
22 unik.42 Pertama, semua negara yang berpartisipasi adalah anggota APEC, namun target
perjanjian TPSEP akan mencakup seluruh dunia. TPSEP akan menciptakan hubungan
strategis antara negara yang terletak di wilayah geografis yang berbeda.43 Kedua,
negara-negara tersebut tidak termotivasi oleh peningkatan akses pasar, karena
Singapura sudah menerapkan akses bebas pajak pada semua barang kecuali alkohol
dan tembakau. Selandia Baru juga sudah banyak memberlakukan bebas pajak.44
Ketiga, negara anggota TPSEP tidak memiliki ekonomi yang maju atau populasi besar,
namun niat para anggota adalah membentuk perjanjian berstandar tinggi yang dapat
menjadi contoh untuk perjanjian yang luas, dan diharapkan akan menjadi acuan oleh
anggota APEC. 45
TPSEP merupakan perjanjian perdagangan bebas yang diprakarsai dan berlaku bagi
negara P4. Perjanjian ini menggunakan kerjasama dan perdagangan bebas dalam
berbagai bidang, serta beberapa regulasi sebagai instrumennya. Selain itu,
penandatanganan TPSEP ini juga dibarengi dengan ratifikasi dua nota kesepahaman
terkait kerjasama lingkungan dan tenaga kerja. Walaupun TPSEP ini terkesan fleksibel,
namun ia mempunyai badan dan komite yang memastikan implementasi perjanjian
yaitu Komisi Utama. Komisi tersebut bertanggung jawab atas aturan perjanjian.
Komisi ini berhak untuk membuat pertemuan tingkat Menteri atau pejabat senior yang
ditentukan oleh anggota. Menurut Pasal 17.2 TPSEP, Komisi tersebut bertugas untuk
42 Henry Gao, The Trans-Pacific Strategic Economic Partnership Agreement: High Standard or Missed
Opportunity? 4–6 (unpublished manuscript), http://www.unescap.org/tid/artnet/mtg/con09_papers.htm
43Ibid.
44, N.Z. Ministry of Foreign Aff. & Trade, (2005), Trade and the New Zealand Economy: New Zealand’s
Tariffs
23 mengawasi kerja dari komite lain dan kelompok kerja yang dibentuk oleh TPSEP.
Pada saat penandatanganan perjanjian TPSEP, para anggota membentuk beberapa
cabang komite TPSEP, diantaranya komite perdagangan barang, tindakan sanitary dan
phytosanitary serta badan yang mengurus hambatan perdagangan.46
Pasal 17.2 dari TPSEP juga menyebutkan bahwa Komisi utama bertanggung jawab
terhadap hal-hal yang menyangkut implantasi perjanjian, pengujian perjanjian dan
pertimbangan proposal untuk amandemen, mengembangkan perjanjian perdagangan
dan investasi antara para anggota, mengidentifikasi kerjasama komersial, serta
mempertimbangkan setiap masalah yang mungkin mempengaruhi pelaksanaan
perjanjian. TPSEP juga membentuk Majelis Arbitrase ketika perselisihan tidak dapat
diselesaikan melalui konsultasi atau prosedur lain yang melibatkan pengadilan,
konsiliasi dan mediasi. TPSEP adalah perjanjian terbuka karena tujuan para negara
pendiri dari awal adalah untuk memperluas TPSEP. Oleh karena itu, negara anggota
APEC berkesempatan besar untuk bergabung kedalam perjanjian ini. Terbentuknya
TPSEP dan berjalannya perjanjian perdagangan bebas antara negara trans-pasifik ini
ternyata berhasil mendorong atensi negara lain untuk bergabung. Apalagi TPSEP
bersifat ekspansif secara keanggotan, berdasarkan kepada bab 20 pasal 20.6 yang
mengatur mengenai ruang lingkup perjanjian, menyatakan bahwa perjanjian ini terbuka
bagi anggota baru atas persetujuan anggota, terlebih untuk negara anggota APEC,
namun tidak menutup kemungkinan untuk negara non-APEC (h.20.1-20.3). Sehingga
24 selain negara P4, terlebih lagi negara APEC, berkesempatan besar untuk dapat
bergabung kedalam kerjasama TPSEP.47
B. KETERLIBATAN AMERIKA SERIKAT
Keterlibatan Amerika Serikat di TPP berawal pada masa pemerintahan Bush yang
kemudian berganti kepemimpinan yang di pegang oleh Barrack Obama dan
menjadikan kebijakan perdagangan utama Amerika Serikat. Keterlibatan Amerika
Serikat dengan negara-negara anggota perjanjian P4 berawal dengan mengadakan
perundingan pada awal tahun 2008. Pada bulan September 2008, Amerika Serikat
melakukan perundingan secara informal dengan negara P4 membahas minatnya untuk
bergabung dengan Trans-Pacific Partnership. Putaran pertama perundingan secara
formal awalnya dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan Maret 2009, namun karena
perubahan kepemimpinan pemerintahan AS, perundingan putaran pertama ditunda
karena pemerintahan pada masa Obama sedang mengkaji kebijakan perdagangan AS.
Setelah Amerika Serikat terlibat di dalam perjanjian, Trans Pacific Strategic and
Economic Partnership (TPSEP) kemudian berganti nama menjadi Trans-Pacific
Partnership atau TPP. Setelah Amerika Serikat menyatakan minatnya untuk bergabung
ke dalam perjanjian, Australia dan Peru, Vietnam berkeinginan untuk bergabung
dengan Perjanjian P4. 48
47 Ibid.
48 Ann Capling, Multilateralising PTAs in the Asia-Pacific Region: A Comparison of the ASEAN–
25
United States Trade Representative (USTR) memastikan bahwa TPP akan
memperluas akses pasar dan didasarkan atas kerjasama ekonomi. Namun beberapa
peneliti mengkritisi bahwa USTR belum terfokus untuk membahas tentang
perdagangan dengan WTO, tetapi AS sudah terlibat dengan perjanjian lain dan terfokus
pada perjanjian TPP.49
Menurut beberapa analis, keputusan Amerika Serikat untuk bergabung dengan TPP
dilihat tidak didorong oleh potensi akses pasar antar anggota. Sebelum bergabung
dengan TPP, Amerika Serikat sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan
Australia, Chili, Singapura, dan Peru. Oleh karena itu, dengan terlibatnya Amerika
Serikat di dalam perjanjian, hanya akan membentuk hubungan yang baru dengan
negara Vietnam, Selandia Baru, dan Brunei Darussalam. 50
Amerika Serikat melihat peluang TPP bukan hanya membentuk hubungan antar
anggota TPP. AS melihat wilayah Asia Pasifik merupakan pasar yang besar dan
berpotensi, untuk itu kepentingan AS di Asia Pasifik adalah membentuk negara-negara
di wilayah Asia Pasifik sebagai mitra utama Amerika Serikat. Ditambah oleh
pernyataan Presiden Obama bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan
keterlibatannya di Asia Pasifik dengan bergabung sebagai anggota TPP.
Amerika Serikat mengusulkan kepentingan nasionalnya agar dimasukkan dalam
kesepakatan TPP. Poin-poin kepentingan nasional yang diusulkan tersebut berdasarkan
49 Bernard K. Gordon, Obama’s Visit to Indonesia and Australia and the TPP, East Asia Forum.
http://www.eastasiaforum.org/2010/05/30/obamas-visit-toindonesia-and-australia-and-the-tpp/ Diakses 25 Maret 2016
26 kepada sektor-sektor yang memberikan sumbangan besar dalam perekonomian dan
kemakmuran Amerika Serikat seperti akses pasar, jasa keuangan, investasi, intellectual
property, dan lingkungan. TPP memberikan kesempatan yang besar bagi Amerika
Serikat untuk melakukan upaya tersebut, dikarenakan saat ini TPP masih berada dalam
proses negosiasi. Selain itu, Amerika Serikat juga berupaya agar sumberdaya atau
jumlah keanggotaan di TPP bertambah. Penambahan anggota TPP merupakan hal
penting bagi Amerika Serikat, mengingat TPP hanya beranggotakan sembilan negara
hingga tahun 2010. Ditambah negara ini sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas
bilateral dengan empat dari sembilan negara tersebut. Sehingga Amerika Serikat tidak
bisa maksimal memperoleh keuntungan dari TPP tersebut.51
Agar sumberdaya TPP bertambah, Amerika Serikat telah melakukan beberapa
upaya dan mengeluarkan beberapa kebijakan, yaitu menawarkan insentif yang dimiliki
oleh TPP kepada negara anggota APEC dan mengundang negara lain untuk bergabung
dengan TPP. Insentif yang ditawarkan oleh Amerika Serikat tersebut disampaikan
secara tersirat saat negara tersebut menjadi host economy APEC pada tahun 2011.
Amerika Serikat yang saat itu mempunyai wewenang untuk menentukan topik
prioritas forum APEC 2011, mengarahkan pembahasan forum yang beranggotakan
negara-negara kawasan Asia Pasifik tersebut ke TPP. Sehingga TPP menjadi highlight
pada saat itu. Hasilnya, Jepang, Kanada, dan Meksiko menyatakan ketertarikannya
untuk bergabung dengan TPP, dan pakar ekonomi Amerika Serikat mengatakan bahwa
51 Ian F Fergusson dan Bruce Vaughn (2011). “The Trans-Pacific Partnership Agreement.”
27 dengan bergabungnya tiga negara tersebut memberikan signifikansi ekonomi TPP bagi
Amerika Serikat.52
C. KEPENTINGAN AMERIKA SERIKAT DI DALAM TRANS PACIFIC PARTNERSHIP
Amerika Serikat dan negara anggota TPP terus melanjutkan perundingan
membahas tentang perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara 12 negara sebagai
kebijakan ekonomi. Terlebih lagi perjanjian TPP berkaitan dengan perekonomian
bebas yang sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat tentang "Strategic
Rebalance" di kawasan Asia-Pasifik. Kerjasama TPP bertujuan untuk meliberalisasi,
penetapan peraturan yang mengatur perdagangan dan investasi antara keduabelas
anggota dan pasti memiliki implikasi dalam hubungan AS di wilayah Asia Pasifik. 53
Dampak TPP tidak hanya ekonomi, namun juga strategis. Dampak strategis dapat
diuraikan bahwa Amerika Serikat menggunakan perjanjian TPP sebagai alat untuk
menggunakan pengaruh di wilayah Asia Pasifik dan sekitarnya, baik dalam bidang
ekonomi, politik hingga keamanan, dan menciptakan kondisi yang merefleksikan
kebijakan luar negeri AS. Dengan bergabungnya AS menjadi anggota TPP, maka
Amerika Serikat dapat54 :
52 Information about APEC 2007. 2007. “The Importance of APEC.” http://www.apec2007.org 53 CRS Report R44278, The Trans-Pacific Partnership (TPP): In Brief, by Ian F. Fergusson, Mark A.
McMinimy, and Brock R. Williams and CRS In Focus IF10000, The Trans-Pacific Partnership (TPP) Agreement, by Brock R. Williams and Ian F. Fergusson.
54 USTR, “Remarks by Ambassador Michael Froman at the CSIS Asian Architecture Conference,” 22
28 1. Memperkuat aliansi regional dan mitra kerjasama;
2. Mempertahankan kepemimpinan AS dan menanam pengaruh di kawasan
Asia-Pasifik;
3. Meningkatkan keamanan nasional AS;
4. Liberalisasi perdagangan, mendorong reformasi pasar, dan mendorong
pertumbuhan ekonomi;
5. Memperkuat kerangka perdagangan regional dan global; dan
6. Membangun dan memperbaharui aturan perdagangan regional yang sejalan
dengan kepentingan AS dan realitas modern.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II Amerika Serikat telah membentuk perjanjian
perdagangan atau kerjasama perdagangan bebas dengan negara lain sebagai alat yang
di gunakan Amerika Serikat yang bertujuan untuk meluaskan tujuan kebijakan luar
negeri. Jika melihat sejarah tentang inisiasi kerjasama AS dengan negara lain, pada
tahun 1985 Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan
Israel, refleksi politik AS lebih banyak daripada tujuan ekonomi. Pada sekitar tahun
2000, perjanjian perdagangan AS dengan Bahrain, Maroko, dan Oman tidak hanya
berdasarrkan pada tujuan ekonomi semata, namun juga tujuan keamanan dan kebijakan
luar negeri, terutama membantu membentuk kerjasama yang lebih dekat untuk
29 tahun 2004 dengan Singapura. Singapura adalah mitra dekat dalam liberalisasi
perdagangan. 55
TPP adalah kerjasama antar negara yang baru, hal ini memicu berbagai pihak untuk
turut andil memahami kebijakan tersebut, terlebih para petinggi pemerintahan maupun
para peneliti dan analis. Dalam memahami suatu kebijakan tersebut, dapat dipastikan
munculnya perspektif yang mendukung atau mengkritisi. Hal ini berlaku dalam
perjanjian TPP, banyak pihak yang mendukung atau mengkritisi keberadaan TPP entah
dari pihak internal negara maupun pihak eksternal kerjasama TPP. Inisiasi kebijakan
perdagangan AS di Asia, khususnya TPP, memiliki dampak geostrategis yang cukup
penting. Pihak dari National Security Strategy AS menyatakan :
“Sustaining our leadership depends on shaping an emerging global economic order that continues to reflect our interests and values. Despite its success, our rules-based system is now competing against alternative, less-open models.... To meet this challenge, we must be strategic in the use of our economic strength to set new rules of the road, strengthen our partnerships, and promote inclusive development.”56
Dalam pernyataan tersebut dikatakan bahwa mempertahankan kepemimpinan AS
tergantung pada bagaimana membentuk tatanan ekonomi global yang terus
merefleksikan kepentingan dan nilai-nilai AS. AS harus strategis dalam penggunaan
kekuatan ekonomi AS untuk membuat peraturan baru, memperkuat kerjasama , dan
mempromosikan pembangunan secara global.
55 Brock R. Williams, Ben Dolven, Ian F. Fergusson, Mark E. Manyin, Michael F. Martin, Wayne M.
Morrison, ( 2016), The Trans-Pacific Partnership: Strategic Implications, Congressional Research Service, Hal 6
30 Dengan bergabungnya Amerika Serikat ke dalam perjanjian, merupakan sinyal
bahwa Amerika Serikat secara aktif berusaha untuk terintegrasi ke dalam struktur
ekonomi dan diplomasi di Asia. Di dalam artikel Foreign Affairs tahun 2014,
Perwakilan Dagang AS Froman mengatakan bahwa, " Manfaat perjanjian ekonomi
akan menguntungkan bagi semua pihak dan Amerika Serikat berharap akan menjadi
lebih terintegrasi dengan Asia Pasifik. ".57 Menteri Pertahanan Ashton Carter
menyatakan dalam pidatonya pada April 2015, menyatakan bahwa “Bagi saya,
kerjasama TPP adalah penambahan kapal induk (militer)”.58 Perjanjian TPP tersebut
akan memperkuat aliansi AS di Asia Timur.59
Pada tahun 2013, Tom Donilon yang merupakan Penasihat Keamanan Nasional
menulis, “Diplomasi ekonomi AS dapat memajukan kemakmuran global dengan
memperkuat aturan dan norma internasional yang dapat berdampak pada pertumbuhan
negara dan kemajuan perdagangan”.TPP akan menjadi kebijakan penting AS untuk
mengembangkan dan memperkuat institusi regional dengan cara mendorong kerjasama
dan resolusi damai dengan menghormati aturan dan norma. 60
TPP adalah semacam ujian kredibilitas AS sebagai pemimpin regional. Jika
kesepakatan tidak disetujui oleh Kongres, maka seluruh strategi rebalancing dapat
57 Michael Froman, (2014) “The Strategic Argument of Trade,” Foreign Affairs,
58 U.S. Department of Defense, (2015), “Asia-Pacific Remarks,” Secretary of Defense Ashton Carter,
McCain Institute, Arizona State University
59 Dennis C. Blair, (2014), “Who Decides Pacific Trade?” New York Times
31 dilihat sebagai strategi yang lemah dan AS berharap tidak akan menjadi bumerang
AS.61
Kritik terhadap TPP pun muncul di kalangan internal Amerika Serikat yang pesimis
dan khawatir dengan bergabungnya Amerika Serikat kedalam TPP. Diantaranya kritik
oleh seorang mantan duta besar AS untuk China yang mengatakan bahwa: "Di dalam
negeri kita (Amerika Serikat) kita melihat perdagangan dilihat dari segi politik yang
berakhir menang atau kalah. Namun di Asia, hal tersebut dilihat sebagai keterkaitan
kepemimpinan dan komitmen. Jika TPP gagal, akan membuat kekosongan
kepemimpinan di wilayah Asia Pasifik, dan China akan mengisinya ".62
Pada konferensi keamanan regional di Singapura pada bulan Mei 2015, Perdana
Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan: "... Manfaat dan kerugian semua
tercakup di dalam kerjasama TPP. Perjanjian ini memiliki nilai strategis yang lebih
luas. Pelaksanaan TPP akan memperdalam hubungan di kedua sisi Pasifik. Namun jika
gagal, akan merugikan kredibilitas dan integritas AS tidak hanya di Asia, namun di
seluruh dunia. ".63
61 Jeffrey A. Bader and David Dollar, (2015), “Why the TPP Is the Linchpin of the Asia Rebalance,”
Brookings.edu
62 Jon Huntsman, quoted in Peter Baker, (2015) “The Trans-Pacific Partnership and a President’s
Legacy,” New York Times
63 Prime Minister’s Office of Singapore, (2015), “Transcript of Keynote Speech by Prime Minister Lee
32
D. TRANS PACIFIC PARTNERSHIP DAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN
AMERIKA SERIKAT
Dalam konteks perdagangan dunia, perjanjian TPP akan akan menjadi jalan
alternatif Amerika Serikat untuk membentuk perdagangan dan investasi regional dan
global. Peraturan yang ada di perjanjian TPP akan memajukan petumbuhan ekonomi
dan perdagangan, tujuan TPP diantaranya :
1. Mendorong pembukaan pasar dan mereformasi sektor ekonomi di antara
anggota TPP, terutama Malaysia dan Vietnam;
2. Menciptakan dorongan bagi negara Asia-Pasifik untuk terhubung lebih dekat
dengan pasar Amerika Serikat dan Jepang; dan
3. Mengatasi hambatan perdagangan baru melalui pengaturan perdagangan baru,
memperbarui kesenjangan dalam peraturan perdagangan.
Sejak Perang Dunia II, Amerika Serikat berupaya mendorong pertumbuhan
ekonomi dan kemakmuran negara melalui forum multilateral. Melalui perundingan
liberalisasi perdagangan yang bernama GATT, Amerika Serikat bertugas untuk
meliberalisasi hambatan tarif dan non-tarif, menetapkan aturan dan norma atas dasar
transparansi, dan non-diskriminasi. Pada akhirnya terbentuklah World Trade
Organization (WTO).
WTO secara resmi dibentuk pada tahun 2001, untuk saat ini terdapat beberapa
kendala karena terdapat perbedaan antar anggota WTO. Sementara itu, perdagangan
33 multilateral yang ada tidak sejalan dengan lingkungan perdagangan saat ini, misalnya
yang berkaitan dengan perdagangan digital dan peran BUMN. Hal ini menyebabkan
Amerika Serikat dan beberapa negara terdorong untuk membuat pengaturan
perdagangan baru melalui perjanjian bilateral dan regional.64
E. POTENSI TRANS PACIFIC PARTNERSHIP DAN KEANGGOTAANNYA
Saat ini banyak negara di Asia yang sedang mengkaji maupun memperdebatkan
tentang pembuatan keputusan apakah akan bergabung dengan kerjasama atau tidak,
seperti halnya negara anggota yang sedang mengkaji permasalahan ratifikasi TPP.65
Banyak analis yang berpendapat, negara yang pasti akan bergabung adalah Korea
Selatan dan Kolombia, mengingat saat ini kedua negara tersebut terlibat perjanjian
bilateral dengan Amerika Serikat. Beberapa negara yaitu Indonesia, Filipina, Korea
Selatan, dan Thailand, telah menyatakan minatnya secara terbuka untuk bergabung
setelah perundingan kedua pasca TPP diratifikasi. Taiwan juga telah menyatakan
minatnya untuk bergabung dalam keanggotaan. Jika negara besar di Asia dan Taiwan
bergabung, maka pengaruh TPP di kawasan Asia Pasifik akan semakin besar. 66
Kerjasama TPP dapat memberikan perubahan politik domestik suatu negara dengan
mendorong terjadinya perubahan agenda domestik untuk melancarkan akses
perdagangan beberapa negara berkembang ke pasar AS, selain itu dapat menjadi
64 Michael Froman, interview by Gerald F. Seib, (2015) “The U.S. Trade Agenda and the Trans-Pacific
Partnership,” Council on Foreign Relations
65 “Aquino government won’t seek to join, trade chief says,” Nikkei Weekly, March 31, 2015; “Treaty
holds no attraction,” Bangkok Post, October 22, 2014.
34 implementasi tujuan Amerika Serikat tentang hak-hak pekerja internasional,
perlindungan lingkungan, dan pembatasan perdagangan spesies langka.67
Jika TPP terlaksana, akan menarik minat dari negara lain yang merugi akibat tidak
bergabung kedalam perjanjian. Suatu negara yang merugi akan tertekan, jika tekanan
tersebut meluas maka hal tersebut juga akan memperluas jangkauan TPP, sehingga
negara tertekan akan ikut terlibat kedalam perjanjian TPP.Keanggotaan TPP saat ini
tidak melibatkan negara besar dalam hal ekonomi seperti China, India, Indonesia.
Walaupun TPP pada akhirnya diratifikasi dan terlaksana, kehadiran beberapa negara
tersebut akan membuat suatu kekuatan besar dalam hal perdagangan dan investasi di
kawasan Asia Pasifik . Maka pengaruh peraturan perdagangan perjanjian TPP
tergantung pada apakah negara-negara baru akan bergabung dengan TPP.68
Perjanjian TPP merupakan perjanjian yang terbuka bagi semua negara. Negara
APEC maupun non-APEC dapat bergabung dengan TPP asalkan mematuhi peraturan
dan standar yang ada di dalam TPP. Dengan keterbukaan untuk anggota baru,ditambah
perekonomian di kawasan Asia Pasifik yang tumbuh secara cepat, perjanjian TPP
merupakan perjanjian yang sangatlah strategis dan berpotensi.
F. TRANS PACIFIC PARTNERSHIP VS CHINA
Sebagian besar kerjasama ekonomi Asia Timur tidak melibatkan Amerika Serikat.
Misalnya kerjasama framework 10+3 di kawasan Asia Pasifik yang mencakup
67 Brock R. Williams, Ben Dolven, Ian F. Fergusson, Mark E. Manyin, Michael F. Martin, Wayne M.
Morrison, Op.cit, Hal 10
35 ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan. Hal tersebut merupakan salah satu faktor
yang mendorong Amerika Serikat untuk mulai bekerjasama dengan wilayah Asia
Pasifik. Kurangnya kerjasama Amerika Serikat dan Asia Timur membuat hubungan
ekonomi antara mereka pun lemah. Dalam usaha memasuki kawasan Asia Pasifik,
Amerika Serikat terus mendorong rencana APEC tentang pembentukan kesepakatan
untuk mendirikan perjanjian perdagangan bebas di Asia Pasifik (FTAAP) untuk
memperkuat hubungan ekonomi dengan Asia Timur. Namun usaha tersebut tidak
berhasil.69
Karena kurangnya pengaruh AS di regional Asia Pasifik, hubungan Amerika
Serikat dengan negara di Asia akan semakin jauh. Oleh karena itu Amerika Serikat
bergabung dengan TPP sebagai usaha untuk memperdekat hubungan AS dengan
kerjasama ekonomi di Asia aserta memperbaharui kerjasama dengan kawasan
Asia-Pasifik. Setelah Amerika Serikat melakukan kerjasama ekonomi seluruh negara Asia
Timur, maka akan membuka jalan bagi Amerika Serikat untuk mendominasi seluruh
wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara.70
Ketika perjanjian TPP ditandatangani pada tahun 2005, China tidak menunjukkan
atensinya terhadap perjanjian TPP. Namun China mulai bereaksi ketika Amerika
Serikat memutuskan untuk bergabung dan mengusulkan suatu agenda untuk TPP pada
saat KTT APEC di Hawaii pada tahun 2011. Dengan terlibatnya Amerika Serikat
69 Guoyou Song and Wen Jin Yuan, (2012), China’s Free Trade Agreement Strategies, Hal 109 70 Huangpu Liping, (2011),‘‘Meiguo Weihe Jiji Tuidong TPP’’ [The Real Intention Behind the United
36 menunjukkan agenda TPP telah berevolusi dari suatu ide gagasan, kemudian menjadi
suatu inisiasi kebijakan yang penting. Pada akhirnya para analis China mengkaji
tentang niat AS dalam pengembangan perjanjian TPP, serta efek TPP terhadap China.71
Meskipun para pejabat AS menyatakan bahwa kepentingan AS di TPP hanya untuk
tujuan ekonomi, China tetap memandang skeptis atas keberadaan AS. Ketika melihat
sejarah perjanjian dagang Amerika Serikat dengan negara lain, faktor pendorong
Amerika Serikat bukan hanya kepentingan ekonomi, namun juga kepentingan
geopolitik. Dalam kaitannya Amerika Serikat, TPP, dan China, para analis China
mengungkapkan, pertama, China harus menganalisis kepentingan AS tentang
kebijakan “US Pivot”. US Pivot adalah pernyataan Amerika Serikat tentang usaha
peran kepemimpinan di kawasan Asia Pasifik melalui TPP.72
Kedua, tujuan politik Amerika Serikat di TPP adalah untuk membendung kekuatan
China di wilayah Asia Pasifik dan China harus menanggapi secara strategis.73 Selain
itu Amerika Serikat dilihat berusaha untuk melemahkan dan mengurangi pengaruh
China di kawasan Asia-Pasifik, dan dapat dikatakan sebagai usaha “soft
confrontation”.74 Sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar Partai Komunis
71 Guoyou Song and Wen Jin Yuan, Op.cit, Hal 111
72 Fu Mengzi, (2015), “TPP yu Meiguo Yatai Zhanlve Tiaozheng ji dui Zhongguo de Yingxiang” (TPP,
the Adjustment of America’s Asia-Pacific Strategy, and Its influence on China) Zhongguo Pinlun (China Review)
73 Li Xiangyang, (2012), “TPP, Zhongguo Jueqi Guocheng Zhong De Zhongda Tiaozhan” (TPP: A
Serious Challenge for China’s Rise), Guoji Jingji Pinglun (International Economic Review), hal 17— 27.
74 Yang Jiemian, (2012), “Meiguo Shili Bianhua yu Guoji Tixi Chongzu” (The Change of America’s