• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPON CHINA MENGHADAPI AMERIKA-SERIKAT DALAM INISIASI TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP DI KAWASAN ASIA PASIFIK TAHUN 2009-2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RESPON CHINA MENGHADAPI AMERIKA-SERIKAT DALAM INISIASI TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP DI KAWASAN ASIA PASIFIK TAHUN 2009-2015"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

RESPON CHINA MENGHADAPI AMERIKA-SERIKAT DALAM INISIASI TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP DI KAWASAN ASIA

PASIFIK TAHUN 2009-2015

Response of China Facing United States In Initiative Of Trans-Pacific Partnership In Asia Pacific Region Year 2009-2015

Disusun oleh :

MUHAMMAD AZZAM JULDA 20120510465

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

i RESPON CHINA MENGHADAPI AMERIKA-SERIKAT DALAM INISIASI

TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP DI KAWASAN ASIA PASIFIK TAHUN 2009-2015

Response of China Facing United States In Initiative Of Trans-Pacific Partnership In Asia Pacific Region Year 2009-2015

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Politik

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh :

MUHAMMAD AZZAM JULDA 20120510465

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS SOSIAL DAN POLITIK

(3)
(4)
(5)

iv

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi dengan judul “Respon China Menghadapi Amerika-Serikat Dalam Inisiasi Trans-Pacific Partnership di Kawasan Asia Pasifik Tahun 2009-2015” ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh derajat gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP) pada Fakultas Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Selain dalam penyusunan skripsi ini, penulis juga telah mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Dra. Mutia Hariati Hussin, M.Si., selaku dosen pembimbing utama dan penguji atas kesabaran dan waktu yang diberikan kepada penulis atas bimbingan dan arahannya selama penyusunan skripsi ini.

(6)

v 4. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., selaku dosen penguji seminar proposal skripsi, terima kasih atas revisi dan arahannya dalam kesempurnaan menyusun skripsi pada bab-bab berikutnya.

5. Drs. Bambang Wahyu Nugroho S.IP., selaku dosen penguji sidang akhir skripsi, terima kasih atas revisi dan arahannya dalam kesempurnaan menyusun skripsi pada bab-bab berikutnya.

6. Drs. Husni Amriyanto Putra, M.Si., selaku dosen penguji pada sidang akhir skripsi terimakasih atas perbaikan dan arahannya.

Penulis menyadari bahwa adanya skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca guna perbaikan penulis di kemudian hari. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

(7)

vi

ABSTRACT

This undergraduate thesis is going to discuss China's response facing US

initiation in trying dominance Asia Pacific region with the Trans-Pacific Partnership.

These issues have to be lifted to the surface, due to the relatively high capacity of the

United States attempted to launch any breakthrough in the competitive power in the

Asia Pacific region. Therefore, that will place China under the spotlight of attention of

the international community, China has been incredibly strong considering blowing

back off all threats, especially the United States who is trying dominate the Asia-Pacific

region. Finally, the influence of the Chinese government in shaping attitudes and

strategies in the competition of dominating of the Asia-Pacific region to compete with

(8)

vii

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR ... iv BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. A. Latar Belakang Masalah... Error! Bookmark not defined. B. Rumusan Masalah... Error! Bookmark not defined. C. Kerangka Teori ... Error! Bookmark not defined. D. Hipotesa ... Error! Bookmark not defined. E. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. F. Sistematika Penulisan ... Error! Bookmark not defined. BAB II TRANS PACIFIC PARTNERSHIP ... Error! Bookmark not defined. A. Sejarah Trans Pacific Partnership ... Error! Bookmark not defined. B. Keterlibatan Amerika Serikat ... Error! Bookmark not defined. C. Kepentingan Amerika Serikat di Dalam Trans Pacific Partnership ... Error! Bookmark not defined.

D. Trans Pacific Partnership dan Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat ... Error!

Bookmark not defined.

E. Potensi Trans Pacific Partnership dan KeanggotaannyaError! Bookmark not defined.

F. Trans Pacific Partnership vs China ... Error! Bookmark not defined.

(9)

viii D. Prospek Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership ... Error! Bookmark not defined.

E. Regional Comprehensive Economic Partnership dan Trans Pacific Partnership

Error! Bookmark not defined.

(10)

ix

DAFTAR GRAFIK

Grafik 3.1 The total trade shares in the world of RCEP and TPP .... Error! Bookmark not defined.

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Simulasi Pertama. By : Ronglin Li dan Yan Hu ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 3.2 Simulasi Kedua. By : Ronglin Li dan Yan Hu ... Error! Bookmark not defined.

(13)

xii

DAFTAR SINGKATAN

AANZFTA = ASEAN-Australia-New Zealand FTA ACFTA = ASEAN China Free Trade Area

ADB = ASEAN Development Bank

ASEAN = Association of Southeast Asian Nations BRICS = Brazil Russia India China South Africa CKJFTA = China-Japan-Korea Free Trade Area EHP = Early Harvest Program

FTA = Free Trade Agreement

FTAAP = Free Trade Area of the Asia-Pacific

GATT = The General Agreement on Tariffs and Trade GCC = Gulf Cooperation Council

GDP = Gross Domestic Bruto

NAFTA = North American Free Trade Agreement RCEP = Regional Comprehensive Economic Partnership SCO = Shanghai Cooperation Organisation

TPP = Trans Pacific Partnership

TPSEP = Trans Pacific Strategic Economic Partnership USTR = United States Representative Office

(14)
(15)

v

ABSTRACT

This undergraduate thesis is going to discuss China's response facing US

initiation in trying dominance Asia Pacific region with the Trans-Pacific Partnership.

These issues have to be lifted to the surface, due to the relatively high capacity of the

United States attempted to launch any breakthrough in the competitive power in the

Asia Pacific region. Therefore, that will place China under the spotlight of attention of

the international community, China has been incredibly strong considering blowing

back off all threats, especially the United States who is trying dominate the Asia-Pacific

region. Finally, the influence of the Chinese government in shaping attitudes and

strategies in the competition of dominating of the Asia-Pacific region to compete with

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Trans-Pacific Partnership (TPP) merupakan perjanjian perdagangan bebas

atau Free Trade Agreement (FTA) dengan tujuan liberalisasi ekonomi di kawasan Asia

Pasifik.1 Perjanjian TPP awalnya dirintis pada 3 Juni 2005 oleh empat negara yaitu

Brunei, Singapura, Chili, dan Selandia Baru.2

Keikutsertaan AS dalam TPP secara resmi direalisasikan oleh pemerintah AS pada

tahun 2009.3 Presiden Obama menyatakan dukungan yang kuat untuk menciptakan

blok perdagangan baru di kawasan Asia Pasifik, serta pemerintah AS pun menyambut

antusias tersebut dengan menggalakkan kebijakan “Pivot to Asia”.4

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kebijakan Amerika Serikat dalam “US Pivot” terhadap kawasan Asia-Pasifik

menjadi topik yang sedang banyak dibicarakan. Kebijakan tersebut menimbulkan

beberapa reaksi para analis. Para analis berpendapat bahwa kebijakan AS tersebut akan

memiliki konsekuensi terhadap hubungan antara AS dan China. Kishore Mahbubani

menyatakan: “Sepanjang sejarah, hubungan geopolitik yang paling penting adalah

relasi kekuatan besar antara Amerika Serikat dengan China. Kita melihat meningkatnya

1 Yuan, Wen Jin. “The Trans-Pacific Partnership and China Corresponding Strategies.” A Freeman Briefing Report, 2012.

2Ibid.

3 Hong, Zhao. “China’s Evolving Views on the TPP and the RCEP.” ISEAS Perspective, 2014: 3-4. 4 Gross, Donald. The World Post. 8 September 2013.

(17)

2 ketegangan geopolitik antara keduanya”.5 Maksud dari kebijakan “US pivot” terhadap

Asia Pasifik adalah “Amerika akan berperan dalam kepemimpinan di Asia selama

beberapa dekade yang akan datang”.6 Mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton

menyatakan: “Kita perlu maju dan memperbaharui kepemimpinan AS.”7

Kebijakan luar negeri AS secara resmi diarahkan seluruh wilayah Asia Pasifik yang

mencakup wilayah Pasifik dan Samudra Hindia. Kebijakan tersebut diarahkan untuk

membendung pertumbuhan China oleh AS. AS menginisiasi Trans Pacific Partnership

tanpa kehadiran China didalamnya. Hillary Clinton secara terbuka mengakui bahwa

“Salah satu yang paling menonjol di kawasan Asia-Pasifik tentu saja China8, tetapi

Hillary Clinton menolak pandangan bahwa “US pivot” terhadap Asia Pasifik diarahkan

untuk membatasi China, dengan menyatakan bahwa “Kami (AS dan China) akan

menghasilkan lebih banyak keuntungan dari kerjasama daripada konflik”.9

Trans-Pacific Partnership (TPP) oleh Amerika dengan 11 negara Asia-Pasifik.

Kerjasama TPP tidak hanya akan menghapuskan atau mengurangi tarif pada

komoditas, tetapi juga mencakup standar keamanan, hambatan perdagangan dalam

teknologi, tindakan sanitary dan phytosanitary, kebijakan persaingan, hak kekayaan

5 Mahbubani, K. (2011). The new Asian great game. Financial times.

6 Lieberthal, K. (2012). The American Pivot to Asia. Why president Obama’s turn to the East is Easier

Said than done. Foreign Policy.

7 Clinton, H. R. (2011). America’s Pacific Century. U.S. Department of State through Foreign Policy

Magazine.

(18)

3 intelektual, pembelanjaan pemerintah, penyelesaian sengketa, serta tenaga kerja dan

perlindungan lingkungan hidup.10

TPP dilihat tidak sekedar untuk memperluas akses pasar Amerika ke kawasan

pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia tersebut, tetapi juga mengirimkan

sinyal-sinyal kepada China. Amerika Serikat memerlukan TPP dikarenakan negara tersebut

memerlukan kerjasama ekonomi yang lingkupannya tidak terlalu multilateral seperti

WTO dan tidak sekecil bilateral11, mengingat negosiasi Doha Developement Agenda

di WTO yang sudah berlangsung selama 12 tahun namun belum memberikan hasil dan

keuntungan perjanjian bilateral yang tidak maksimal.

Kepentingan Amerika Serikat di TPP adalah pertama, TPP akan menciptakan

kesepakatan ekonomi yang komprehensif (mencakup isu-isu yang tidak ada dari Doha

Round seperti jasa, investasi, kompetisi, dan regulasi yang koheren) dan bentuk

perjanjian yang modern sebagai alternatif kesepakatan di Kawasan Asia Pasifik yang

melibatkan Amerika Serikat.12

Kedua, TPP akan mendorong integrasi lebih dalam di Kawasan Asia Pasifik.

Ketiga, TPP akan menhasilkan model yang bisa mengkonsolidasikan perjanjian

perdagangan yang ada sehingga bisa memetakan jalan keluar dari the Noodle Bowl,

10 Niu Tiehang, New Leadership’s New Reform Road Map,

http://www.chinausfocus.com/finance-economy/new-leaderships-new-reform-road-map/

11 Gordon, Bernard K. 2012. “Trading Up in Asia: Why the United States Needs the Trans-Pacific

Partnership.” Foreign Affairs.

12 Petri, Peter A., Michael G. Plummer dan Fan Zhai. 2011. “The Trans-Pacific Partnership and

(19)

4 yaitu perjanjian perdagangan internasional yang terlalu banyak sehingga tidak

terorganisir13 yang ada di Asia Pasifik dan sekitarnya. Keempat, TPP akan membantu

memperluas pasar ekspor Amerika Serikat ke Asia.

Melihat dari data perdagangan Amerika Serikat ke negara-negara tersebut, secara

kuantitas perdagangan masih sedikit dan bahkan defisit. Seperti ekspor yang dilakukan

Amerika Serikat ke Brunei Darussalam hanya sebanyak 0,2 milyar dan Selandia Baru

hanya senilai 3,6 milyar. Sedangkan terjadi defisit perdaganan dengan Malaysia senilai

11,6 milyar dan dengan Vietnam senilai 13,1 milyar.14 Diharapkan dengan adanya

perdagangan bebas dapat membuat penambahan kuantitas dan pengurangan defisit

perdagangan.

Dampak dari perjanjian TPP kepada China sangat tergantung pada apakah

kerjasama TPP dapat berhasil dinegosiasikan dan diimplementasikan. The United

States Trade Representative Office (USTR) mendorong perdagangan bebas dengan

standar yang tinggi. TPP merupakan bentuk kerjasama yang berbeda, untuk pertama

kalinya USTR mendorong kerjasama multilateral dengan negara-negara yang tidak di

wilayah geografis yang sama dan berada pada tahap perkembangan ekonomi yang

berbeda. Dengan latar belakang wilayah geografis yang berbeda, Goodman

menyatakan bahwa hal itu akan menantang konsistensi dan kualitas dari kerangka TPP.

"Tujuan TPP adalah menetapkan standar yang tinggi bahwa setiap negara harus

13 Baldwin, Richard E. 2008. “The East Asian Noodle Bowl Syndrome.” Hal. 45-79 in East Asia's

Economic Integration: Progress and Benefit, edited by Daisuke Hiratsuka and Fukunari Kimura. New York: PALGRAVE MACMILLAN.

14 Fergusson, Ian F., William H. Cooper, Remy Jurenas dan Brock R. Williams. 2012. “The Trans-Pacific

(20)

5 mematuhi aturan dengan mempertahankan standar yang tinggi dan bersatu dalam visi

dan misi," kata Goodman, "namun pada akhirnya mungkin akan ada beberapa

perlakuan khusus untuk beberapa negara ".15

Beberapa analis China berpendapat jika TPP berhasil dinegosiasikan dan

dilaksanakan di masa depan, hal tersebut akan memiliki dampak ekonomi negatif yang

kuat pada China. Song Guoyou mencatat TPP akan menghasilkan pengalihan

perdagangan. Song berpendapat bahwa beberapa negara anggota TPP adalah

negara-negara berkembang, kualitas produk ekspor mereka sangat mirip dengan China,

kesamaan ini akan memicu persaingan ekspor antara China dan negara-negara

berkembang. Dalam keadaan ini, TPP akan menimbulkan ancaman berat pada ekspor

China ke AS.16 Sementara itu, analis China pada umumnya berpendapat selain dampak

TPP pada perekonomian China, dampak geopolitik China akan menghadapi ancaman

yang lebih besar dalam jangka panjang. Shen Minghui, seorang peneliti di Akademi

Ilmu Sosial China (CASS), menegaskan bahwa pelaksanaan TPP akan mendorong

negara-negara ASEAN dan sekutu AS lainnya di Asia Timur untuk mengambil

kebijakan condong ke arah AS , yang pada gilirannya akan menjauhkan China dari

negara-negara tetangga. Hal ini akan menimbulkan sebuah ancaman yang besar pada

gerakan strategis China dan status China di kawasan Asia Timur. Oleh karena itu, Shen

15 Matthew Goodman, TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP: QUESTIONS & ANSWERS,

www.globaltrademag.com/global-trade-daily/commentary/trans-pacific-partnership-questions-answers

16 Song Guoyou, “TPP shi Meiguo Qianzhi Zhongguo de Xin Fama,” (The US Sees TPP as a New

(21)

6 berpendapat bahwa China harus memperhatikan implikasi geopolitik dari TPP dan

menanggapi mereka secara strategis.17

Jika kita melihat beberapa tahun ke belakang, terlihat dengan jelas bahwa AS telah

berusaha menanamkan pengaruh di kawasan Asia Pasifik, yang membuat para analis

China khawatir hal tersebut akan mengancam kelangsungan pemerintahan China dalam

aspek geopolitik setelah kerjasama TPP terealisasikan. Kekhawatiran akan usaha

pengepungan kekuatan China oleh Amerika Serikat muncul dalam pemikiran strategis

China, apakah pengepungan yang bersifat militer, ekonomi, atau terkait dengan

pemerintahan.18 Sumber-sumber resmi media China mengungkapkan atas

kekhawatiran tersebut :

Pada ranah strategis, Amerika Serikat ingin Asia Tenggara untuk membentuk pusat

"Asian Strategic Alliance" yang mencakup Asia Timur Laut, Asia Tenggara dan India.

Pada tingkat politik, AS terus mengekspor "Demokrasi" dan nilai-nilai Barat ke

negara-negara Asia Tenggara. Pada tingkat ekonomi, AS memiliki hubungan dekat dengan

Asia Tenggara dalam hal perdagangan, keuangan dan investasi. Pada tingkat militer

dan keamanan, AS ingin mendirikan pangkalan militer dan lebih positif mencampuri

urusan keamanan di kawasan Asia-Pasifik.19Sejak pengumuman poros AS ke Asia,

Pertahanan Amerika Serikat telah menggeser sebagian besar aset angkatan laut ke

17 Shen Minghui, “TPP de Chengben Shouyi Fenxi,” (A Cost Benefit Analysis of the TPP), Dangdai

Yatai (Contemporary Asia-Pacific), No.1, 2012, hal. 34.

18 Larry Catá Backer, (2010), Encircling China or Embedding It?, Law At The End Of The Day,

http://lcbackerblog.blogspot.com/2010/11/encircling-china.html.

19 Li Bing, Time to Counter US Ploys, Xinhuanet (July 29, 2010),

(22)

7 wilayah asia pasifik pada tahun 2020, serta meningkatkan latihan militer dan hubungan

di wilayah tersebut. Dalam proses ini, persaingan maritim di Laut China Selatan terus

dipercepat.20

Amerika Serikat mengumumkan penyebaran pasukan ke Australia. Militer

AS-Australia juga dikabarkan membahas kemungkinan Angkatan Laut AS memiliki akses

yang lebih besar ke Australia di Samudra Hindia atas pangkalan angkatan laut HMAS

Stirling di selatan kota pantai barat Perth.21 Penyebaran angkatan laut ke Singapura

serta rencana untuk membangun empat fasilitas stasiun kapal tempur di pesisir

Singapura dan kerjasama militer dengan Filipina; Filipina dan Amerika Serikat sedang

membahas kerjasama militer, termasuk kerjasama pesawat pengintai di Filipina dan

latihan militer bersama. Meskipun penurunan tingkat anggaran belanja sektor

pertahanan AS, kehadiran militer AS di Asia Timur akan diperkuat dan akan dibuat

"lebih terbagi secara lebih luas, lebih fleksibel, dan lebih berkelanjutan";22

Skripsi ini hendak membahas geliat China dalam menghadapi upaya Amerika

Serikat dalam usaha dominasi kawasan Asia Pasifik dengan Trans-Pacific Partnership

oleh Amerika Serikat . Isu ini dipilih untuk diangkat ke permukaan, pasalnya dengan

kapasitas yang relatif tinggi Amerika Serikat berusaha meluncurkan segala terobosan

dalam persaingan kekuasaan di kawasan Asia Pasifik. Hal ini kemudian menempatkan

20 Dr. Dan Steinbock, Toward Asia-Pacific Free Trade,

http://www.chinausfocus.com/finance-economy/toward-asia-pacific-free-trade-despite-the-tpp/

21 Craig Whitlock. Washington Post, 26 March 2012. U.S., Australia to broaden military ties amid

Pentagon pivot to SE Asia. http://defensealt.org/HzVeNJ

22 Tom Donilon, America is Back in the Pacific and will Uphold the Rules, Financial Times, November

(23)

8 China dibawah lampu sorot perhatian masyarakat internasional, mengingat China

sangatlah tangguh menanggalkan segala ancaman khususnya Amerika Serikat demi

menguasai kawasan Asia-Pasifik . Maka dari itu pengaruh pemerintah China dalam

membentuk sikap dan strategi dalam persaingan dominasi kawasan Asia Pasifik

bersaing dengan usaha Amerika Serikat yang berusaha untuk mendominasi menjadi

hal yang menarik untuk dikaji.

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana strategi China membangun dominasi di Asia Pasifik sebagai reaksi

inisiasi pembentukan Trans Pacific Partnership ?

C. KERANGKA TEORI

Dalam perspektif realis negara selalu berjuang untuk mencapai kepentingannya,

maka muncul teori Balance of Power untuk menciptakan kedamaian dunia. Dalam BoP

menyatakan bahwa negara akan bergabung dalam aliansi untuk menghindari dominasi

kekuatan yang lebih kuat.

Berdasarkan teori ini, negara bergabung dengan aliansi untuk melindungi dirinya

sendiri atau koalisi terkuat yang dapat menimbulkan ancaman. Kenneth Waltz

menyatakan bahwa teori Balance of Power memahami balancing sebagai tindakan

negara dalam mempertahankan posisinya dalam sistem, bukan meningkatkan

kekuatan.23 Lebih lanjut, Schweller menambahkan bahwa tujuan balancing merupakan

23 Kenneth N. Waltz. 1979. Theory of International Politics. Berkeley: Addison-Wesley Publishing

(24)

9 pertahanan diri dan perlindungan nilai-nilai.24 Dalam hal ini dapat dilihat bahwa

balancing digerakkan oleh dorongan untuk menghindari ancaman yang dapat

menimbulkan kekalahan.

Strategi balancing merupakan strategi negara untuk meningkatkan kemampuan

militernya (kapabilitas internal) untuk mengimbangi ancaman atau lawan. Dalam

balancing tidak ada tindakan untuk melawan ancaman atau lawan. Hal ini juga sejalan

dengan pendapat Stephen M. Walt bahwa ketika memasuki sebuah ranah aliansi, maka

negara dapat melakukan balance yaitu menjadi oposisi dari sumber bahaya.25

Stephen M. Walt menyatakan bahwa ada dua alasan utama bagi negara untuk

melakukan balancing, yaitu jika negara gagal mengekang kekuatan hegemon sebelum

menjadi kuat, maka sama saja negara tersebut membahayakan atas usaha mereka.

Karena jika negara tidak melakukan balancing, maka negara tersebut mempunyai

resiko kegagalan untuk mengekang sebuah hegemoni yang potensial sebelum semakin

menguat.26 Untuk beraliansi dengan suatu kekuatan yang mendominasi berarti telah

menempatkan suatu kepercayaan dalam suatu kebaikan yang berkesinambungan.

Strategi yang paling aman yaitu bergabung dengan pihak yang tidak mudah

mendominasi aliansi, untuk menghindar dari pihak yang mudah mendominasi. Seperti

yang dijelaskan oleh Winston Churchill mengenai kebijakan aliansi tradisional Inggris:

24 Randall L. Schweller. Summer, 1994. Bandwagoning for Profit. International Security, Vol 19, No 1.

The MIT Press. Hal 74.

25 Stephen M. Walt. Spring. 1985. Alliance Formation and the Balance of World Power. International

Security Vol 9 No. 4. MIT Press. Hal 4

(25)

10 “For four hundred years the foreign policy of England has been to oppose the strongest, most aggressive, most dominating power on the Continent. . . . it would have been easy . . . and tempting to join with the stronger and share the fruits of his conquest. However, we always took the harder course, joined with the less strong Powers, . . . and thus defeated the Continental military tyrant whoever he was. . . .”

Kedua, dengan bergabungnya sesama negara yang senasib yaitu negara yang

terancam, maka dapat meningkatkan pengaruh pada anggota baru. Oleh karena itu,

negara yang melakukan balancing dengan bergabung bersama pihak yang paling

rentan dapat meningkatkan dukungan dari anggota yang baru, dengan kata lain

memiliki kondisi yang sama. Karena pihak yang lebih lemah sangat banyak

membutuhkan dukungan. Negasinya bergabung dengan pihak yang lebih kuat, akan

mengurangi dukungan dari anggota baru (karena akan semakin sedikit menambah

koalisi) dan sangat jauh dari keinginan untuk menambah keanggotaan. Bergabung

dengan pihak yang lemah merupakan pilihan yang terbaik.27 Kenneth Waltz

berpendapat bahwa:

“Secondary states, if they are free to choose, flock to the weaker side; for it is the stronger side that threatens them. On the weaker side, they are both more appreciated and safer, provided, of course, that the coalition they join achieves enough defensive or deterrent strength to dissuade adversaries from attacking.”28

Jika balancing menjadi pola dalam hubungan internasional, maka negara yang

terancam akan memprovokasi negara lainnya untuk beraliansi melawan negara

pengancam. Karena negara yang berusaha mendominasi negara lainnya akan

27 Ibid. Hal 6.

28 Kenneth N. Waltz. 1979. Theory of International Politics. Berkeley: Addison-Wesley Publishing

(26)

11 menimbulkan opisisi yang meluas, status quo negara akan dapat melihat ancaman

secara lebih optimis. Dalam sebuah keadaan balancing, kebijakan untuk menahan diri

dan menunjukkan kebaikan merupakan hal yang terbaik. Negara-negara yang kuat akan

dilihat sebagai sekutu karena mereka banyak menawarkan sekutunya, tapi mereka

harus bisa menghindar untuk terlihat agresif. Kebijakan luar negeri dan pertahanan

yang meminimalisir ancaman pada negara lain menjadi arti yang sangat penting di

dunia.

Dalam studi hubungan internasional, konsep balancing kadang-kadang terlihat

samar, tapi secara umum tersirat tindakan kuat melawan sebuah kekuatan hegemoni

atau kekuatan yang mengancam, sebuah situasi yang secara implisit dipahami sebagai

pilihan lebih baik dimana kekuatan yang mendominasi tidak tertandingi.29 Sebuah

negara akan memilih untuk unilateral balancing atau internal balancing, membangun

sendiri kapabilitas militer sebagai perlawanan terhadap kekuatan lain, atau memilih

beraliansi dengan negara lain dalam usaha untuk menantang dan mengancam kekuatan

lain. Selain itu, keputusan negara kecil untuk melakukan balancing turut dipengaruhi

oleh perhitungan termasuk high political dan biaya strategi balancing.30 Ada dua

motivasi untuk melakukan bandwagoning, yaitu pertama bandwagoning dilakukan

sebagai sebuah bentuk ketentraman (appeasement).

29 Waltz (1979) dan Walt (1987) dalam Evelyn Goh. 2005. Meeting the China Challenge: The U.S. in

Souhteast Asia Regional Security Strategies. Washington: East West Center. Hal 3.

30 Evelyn Goh. Winter 2007. Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing

(27)

12 Teori Balance of Power menjelaskan dan menunjukkan bahwa negara yang

menghadapi ancaman eksternal cenderung untuk memilih melalukan balancing

daripada bandwagoning terhadap ancaman tersebut. Karena suatu keadaaan yang

balancing dapat menjamin kebebasan sebagian besar negara dibawah kondisi yang

hegemon.

Suatu negara membutuhkan beberapa negara demi tercapainya Balance of Power,

dalam hal ini Amerika Serikat dapat dilihat sebagai pihak yang berkeinginan untuk

mendominasi kawasan Asia Pasifik dengan bergabung dengan TPP dan tentunya

Amerika Serikat membuat pengaruh di kerjasama tersebut. TPP adalah sebagai wadah

aliansi guna mendominasi dan implementasi kepentingan. Amerika Serikat dilihat

sebagai pihak yang mengancam posisi China.

Menurut Morgenthau, Balance of Power adalah suatu keadaan nyata, dimana

kekuasaan terbagi kurang lebih sama diantara beberapa banyak negara.31 Hal ini sama

seperti di kutip oleh Mohtar Mas’oed dalam bukunya, yang mengatakan Balance of

Power sebagai suatu ekuilibrium, dimana variabel-variabel utamanya begitu erat,

sehingga perubahan disatu variabel pasti akan menimbulkan perubahan di variabel

lain.32

Joseph S Nye menambahkan bahwa tatanan dunia dewasa ini terbagi menjadi tiga

dimensi chess game. Pada tingkat pertama adalah kekuatan militer antar negara.

31 Hans J. Morgenthau, Politik Antar Bangsa, Penterjemah A.M Fatwa, Cetakan 1, Jakarta Yayasan Obor

Indonesia, 1991 hal. 3

32 Mohtar Mas’oed, Ilmu hubungan internasional disiplin dan metodologi, Edisi Revisi, LP3ES, Jakarta.

(28)

13 Kekuatan militer adalah unipolar. Amerika Serikat adalah kekuatan dominan dalam hal

ini. Pada tingkat menengah, yaitu hubungan ekonomi. Terdapat banyak kutub.

Terdapat suatu balance antar negara. Tingkat bawah adalah hubungan banyak aktor

non-pemerintah.33 Dalam hal ini China tidak melakukan balancing dalam hal kekuatan

militer negara namuntergolong dalam tingkat menengah dalam tatanan politik dunia

yaitu dengan berupaya meningkatkan perekonomian dan pengaruh China di berbagai

negara.

Suatu negara akan menyesuaikan diri jika ada peningkatan kekuatan pada negara

lain dalam sistem itu dengan cara meningkatkan sumber-sumber kekuatan mereka

sendiri. Dalam pandangan tersebut dapat dinyatakan jika Amerika Serikat berusaha

menunjukkan perannya di kawasan Asia Pasifik dan China sebagai negara yang

mempunyai power dan berada di wilayah geografis anggota TPP, China akan

meningkatkan power dengan cara meningkatkan sumber-sumber kekuatan.

Mengingat posisi China tidak berada dalam satu lingkup di TPP maka hal tersebut

merupakan ancaman bagi China. Aliansi adalah perwujudan perlindungan diri suatu

negara dan mempertahankan posisinya dalam sistem. China juga berkeinginan untuk

mempunyai pengaruh dikawasan Asia Pasifik sehingga Balance of Power dapat

tercapai. Suatu negara tidak dapat mencapai balance tanpa adanya negara lain sebagai

sekutu maka dalam hal ini China membentuk aliansi tanpa menghadirkan Amerika

Serikat di dalamnya. China membentuk Regional Comprehensive Economic

33 Joseph S Nye. 2010. Joseph S Nye : Global Power Shift. https://www.ted.com/talks/ joseph_nye_on

(29)

14

Partnership (RCEP) yang bergerak dalam bidang perdagangan bebas di kawasan Asia

Pasifik. RCEP dideklarasikan pada saat ASEAN Summit November 2012,

beranggotakan seluruh negara ASEAN, Australia, India, Jepang, New Zealand, dan

Korea Selatan.34 Selain membentuk RCEP, China juga membentuk Asia Infrastructure

Investment Bank. AIIB secara resmi diumumkan oleh presiden Xi Jinping saat

pertemuan APEC 2013 di Bali. AIIB adalah lembaga keuangan internasional yang

bertujuan untuk mendukung pembangunan infrastruktur di kawasan Asia-Pasifik.35

Dalam teoris sebelumnya disebutkan bahwa dengan bergabungnya sesama negara

yang senasib yaitu negara yang terancam, maka dapat meningkatkan pengaruh pada

anggota baru. China sebagai negara yang dominan di kawasan Asia Pasifik berusaha

membuat aliansi dengan negara-negara di sekitar kawasan. Hal tersebut dapat

membawa dampak yang sangat besar dalam balancing terhadap ancaman Amerika

Serikat.

D. HIPOTESA

Sebagai reaksi inisiasi pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP), maka China

berusaha untuk melakukan balancing di kawasan Asia Pasifikdengan cara :

1. Beraliansi dengan negara Asia Pasifik melalui perjanjian Regional

Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

34 Kim Tae-Kyung. 2015. “China’s Strategic Advocacy for RCEP: Three-fold Motivations Analysis”.

Hal 3

35 Andrew Elek. 2014. “The potential role of the Asian Infrastructure Investment Bank”. East Asia

(30)

15

2. Menginisiasi Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB).

E. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan batasan pada perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui dan menjelaskan kepentingan nasional Amerika Serikat melalui

TPP di Asia Pasifik.

2. Mengetahui dan menjelaskan bentuk-bentuk counter-balance China dalam

usaha balancing di kawasan Asia Pasifik.

Dengan adanya hasil penelitian, maka penelitian ini diharapkan:

1. Memberi sumbangan pemikiran dan informasi bagi Ilmu Hubungan

Internasional, yaitu para akademisi dalam mengkaji dan memahami masalah

hubungan kekuasaan terkait kapabilitas suatu negara, dalam hal ini pembahasan

rivalitas dua negara, antara China dan Amerika Serikat dalam usaha dominasi

di kawasan Asia Pasifik.

2. Sebagai bahan pertimbangan bagi setiap aktor Hubungan Internasional, baik

individu, organisasi, pemerintah, maupun organisasi non-pemerintah baik

(31)

16 F. SISTEMATIKA PENULISAN

Skripsi berjudul Respon China Menghadapi Amerika Serikat dalam Pembentukan

Trans-Pacific Partnership di Kawasan Asia Pasifik ini akan dibagi menjadi 4 (empat)

bab.

Bab pertama berisi pendahuluan. Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang

masalah, rumusan masalah, kerangka teori dalam perspektif realisme mengenai

Balance of Power yang sekiranya dapat menjelaskan bagaimana China berupaya untuk

mendominasi negara-negara di kawasan Asia Pasifik setelah inisiasi kerjasama TPP

yang di pelopori oleh Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan hipotesis, dan sistematika

penulisan.

Bab kedua akan membahas TPP secara lebih mendalam. Lalu membahas

bagaimana Amerika Serikat berusaha untuk mendominasi negara-negara kawasan Asia

Pasifik dan pengaruh keterlibatan AS di dalam kerjasama TPP. Kemudian akan dibahas

mengenai posisi AS di satu sisi menguntungkan AS dan melemahkan keberadaan

China di kawasan Asia Pasifik.

Bab ketiga akan berisikan tentang analisis China dalam upaya counter-balance

melalui RCEP dan menginisiasi AIIB paska terbentuknya TPP dengan menggunakan

teori Balance of Power.

Bab keempat merupakan penutup yang berisi kesimpulan dari bab-bab sebelumnya.

(32)

17 sudah dibahas dalam bab-bab sebelumnya, utamanya terkait pengaruh pemerintah

(33)

18

BAB II

TRANS PACIFIC PARTNERSHIP

Trans-Pacific Partnership (TPP) adalah perjanjian perdagangan bebas (FTA) oleh

12 negara, antara Amerika Serikat dan 11 negara Asia-Pasifik yaitu Australia, Brunei,

Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan

Vietnam. TPP adalah kerjasama standar tinggi karena mereka berusaha untuk

menghapus biaya pajak untuk perdagangan barang, jasa, dan pertanian, serta

membangun dan memperluas peraturan yang membahas berbagai masalah termasuk

hak kekayaan intelektual, investasi asing, dan isu-isu terkait perdagangan lainnya, TPP

memuat lebih dari 20 BAB perjanjian. Para anggota TPP berusaha untuk menciptakan

“Kerjasama abad ke-21" yang membahas isu-isu baru dan lintas sektoral karena

berbagai permasalahan oleh ekonomi yang semakin mengglobal.

Trans-Pacific Partnership (TPP) adalah perjanjian perdagangan bebas multilateral

(FTA) yang bertujuan untuk meliberalisasi ekonomi kawasan Asia-Pasifik. TPP dilihat

sebagai alat Amerika Serikat demi kepentingan perdagangan dan keamanan AS, disisi

lain TPP adalah ancaman bagi China di wilayah Asia Pasifik.

A. SEJARAH TRANS PACIFIC PARTNERSHIP

Perjanjian Trans Pacific-Pertneship (TPP) berawal dari perjanjian perdagangan

khusus yang bernama Trans Pacific Strategic Economic Partnerhsip (TPSEP).

(34)

19 tahun 1990-an oleh lima negara yaitu Amerika Serikat, Australia, Singapura, Chile,

dan Selandia Baru melakukan perundingan informal tentang pembuatan kerjasama

perdagangan di kawasan Asia Pasifik.36

Namun pada pertemuan selanjutnya hanya Selandia Baru, Chile dan Singapura

yang antusias untuk melanjutkan perundingan. Kemudian tiga negara tersebut

berunding pada saat pertemuan APEC pada tahun 2002 di Los Cabos Meksiko dan

melanjutkan perundingan pada tahun 2003 di Singapura. Kemudian pada bulan Juli

tahun 2004, Brunei Darussalam ditunjuk untuk berpartisipasi ke dalam negosiasi yang

berlangsung di Wellington, New Zealand sebagai pengamat. Pada bulan April tahun

2005, Brunei Darussalam memutuskan secara resmi untuk bergabung sekaigus menjadi

pendiri perjanjian dan para pendiri TPSEP akhirnya mendeklarasikan hasil perjanjian

pada saat pertemuan menteri perdagangan APEC tahun 2005 di Korea Selatan. 37

Namun pengumuman tentang hasil perundingan tidak disertai dengan ratifikasi saat

itu juga. Chili, Selandia Baru dan Singapura menandatangani perjanjian Trans-Pacific

Strategic Economic Partnership (TPSEP) pada 18 Juli 2005 kemudian Brunei

Darussalam pada tanggal 2 Agustus 2005.38

Pemberlakuan perjanjian berbeda antara satu negara dengan negara lain. TPSEP

berlaku bagi Selandia Baru dan Singapura pada 1 Mei 2006, sedangkan Brunei

36 Deborah d. C. L. L. Elms, (2012), “The Trans-Pacific Partnership Agreement (TPP) Negotiations:

Overview and Prospects.” Rajaratnam School of International Studies 232.hal.1-2

37 Singapore Ministry of Trade and Industry, (2004), “Singapore, Chile and New Zealand complete

second round of Pacific-Three FTA talks”.

38 Meredith Kolsky Lewis, (2011), The Trans-Pacific Partnership: New Paradigm or Wolf in Sheep’s

(35)

20 Darussalam menerapkan perjanjian secara parsial pada 12 Juni 2006 dan secara penuh

pada 12 Juli 2009. Sedangkan di Chile, perjanjian mulai berlaku pada 8 November

2006.39

Menurut pasal 1.1 perjanjian TPSEP (2005), tujuan dibentuknya kerjasama didasari

oleh kepentingan bersama untuk memperdalam hubungan dalam berbagai bidang,

diantaranya keuangan, teknologi, pendidikan, ekonomi dan kerjasama. Namun, tidak

terbatas kepada bidang-bidang itu saja karena dapat diperluas ke bidang lainnya.

Dengan demikian, setiap negara anggota juga berupaya mendukung proses liberalisasi

APEC secara konsisten dengan melakukan perdagangan dan investasi yang bebas dan

terbuka. Berikut pasal 1.1 perjanjian TPSEP :

TPSEP didasarkan atas kepentingan bersama dan pendekatan hubungan antar

anggota di berbagai bidang. Perjanjian TPSEP mencakup bidang komersial, ekonomi,

keuangan, ilmu sains, teknologi dan kerjasama antar negara. Perjanjian dapat diperluas

atas persetujuan pihak anggota untuk meningkatkan manfaat dari perjanjian.

Para anggota perjanjian berupaya untuk mendukung proses liberalisasi di APEC

secara konsisten dengan tujuan untuk perdagangan bebas dan investasi. Tujuan

perjanjian ini, sebagaimana diuraikan lebih khusus adalah untuk:

1. Mendorong ekspansi dan penganekaragaman perdagangan di antara negara

anggota;

(36)

21 2. Menghilangkan hambatan perdagangan barang dan jasa antara negara anggota

dan memfasilitasi dagang lintas batas negara;

3. Mendorong persaingan yang sehat di area perdagangan bebas;

4. Meningkatkan peluang investasi antar negara;

5. Memberikan perlindungan yang memadai dan efektif dalam penegakan hak

kekayaan intelektual di negara anggota; dan

6. Menciptakan mekanisme yang efektif untuk mencegah dan menyelesaikan

sengketa perdagangan.

TPSEP adalah perjanjian perdagangan bebas pertama yang menghubungkan Asia,

Pasifik, dan Amerika Latin, mengingat negara pendiri berada di berbagai belahan

dunia, Brunei Darussalam dan Singapura yang berada di Asia, Selandia Baru yang

berada di Pasifik, dan Chili yang berada di Amerika Latin . Selain keragaman geografis,

perjanjian ini menarik karena mencakup berbagai bidang. Tidak seperti kebanyakan

perdagangan bebas lainnya, TPSEP mencakup semua sektor, termasuk sektor

pertanian.40

Perjanjian TPSEP mendorong Chile, Selandia Baru, dan Singapura harus

mengurangi tarif menjadi nol pada semua barang pada 2017, dan Brunei mengurangi

tarif menjadi nol pada produk tertentu.41 TPSEP adalah perjanjian yang tergolong

40 Trans-Pacific Partnership, Office of U.S. Trade Representative, http://www.ustr.gov/tpp. Diakses 25

Maret 2016

41 N.Z. Ministry of Foreign Affairs & Trade, The New Zealand–Singapore–Chile– Brunei Darussalam

(37)

22 unik.42 Pertama, semua negara yang berpartisipasi adalah anggota APEC, namun target

perjanjian TPSEP akan mencakup seluruh dunia. TPSEP akan menciptakan hubungan

strategis antara negara yang terletak di wilayah geografis yang berbeda.43 Kedua,

negara-negara tersebut tidak termotivasi oleh peningkatan akses pasar, karena

Singapura sudah menerapkan akses bebas pajak pada semua barang kecuali alkohol

dan tembakau. Selandia Baru juga sudah banyak memberlakukan bebas pajak.44

Ketiga, negara anggota TPSEP tidak memiliki ekonomi yang maju atau populasi besar,

namun niat para anggota adalah membentuk perjanjian berstandar tinggi yang dapat

menjadi contoh untuk perjanjian yang luas, dan diharapkan akan menjadi acuan oleh

anggota APEC. 45

TPSEP merupakan perjanjian perdagangan bebas yang diprakarsai dan berlaku bagi

negara P4. Perjanjian ini menggunakan kerjasama dan perdagangan bebas dalam

berbagai bidang, serta beberapa regulasi sebagai instrumennya. Selain itu,

penandatanganan TPSEP ini juga dibarengi dengan ratifikasi dua nota kesepahaman

terkait kerjasama lingkungan dan tenaga kerja. Walaupun TPSEP ini terkesan fleksibel,

namun ia mempunyai badan dan komite yang memastikan implementasi perjanjian

yaitu Komisi Utama. Komisi tersebut bertanggung jawab atas aturan perjanjian.

Komisi ini berhak untuk membuat pertemuan tingkat Menteri atau pejabat senior yang

ditentukan oleh anggota. Menurut Pasal 17.2 TPSEP, Komisi tersebut bertugas untuk

42 Henry Gao, The Trans-Pacific Strategic Economic Partnership Agreement: High Standard or Missed

Opportunity? 4–6 (unpublished manuscript), http://www.unescap.org/tid/artnet/mtg/con09_papers.htm

43Ibid.

44, N.Z. Ministry of Foreign Aff. & Trade, (2005), Trade and the New Zealand Economy: New Zealand’s

Tariffs

(38)

23 mengawasi kerja dari komite lain dan kelompok kerja yang dibentuk oleh TPSEP.

Pada saat penandatanganan perjanjian TPSEP, para anggota membentuk beberapa

cabang komite TPSEP, diantaranya komite perdagangan barang, tindakan sanitary dan

phytosanitary serta badan yang mengurus hambatan perdagangan.46

Pasal 17.2 dari TPSEP juga menyebutkan bahwa Komisi utama bertanggung jawab

terhadap hal-hal yang menyangkut implantasi perjanjian, pengujian perjanjian dan

pertimbangan proposal untuk amandemen, mengembangkan perjanjian perdagangan

dan investasi antara para anggota, mengidentifikasi kerjasama komersial, serta

mempertimbangkan setiap masalah yang mungkin mempengaruhi pelaksanaan

perjanjian. TPSEP juga membentuk Majelis Arbitrase ketika perselisihan tidak dapat

diselesaikan melalui konsultasi atau prosedur lain yang melibatkan pengadilan,

konsiliasi dan mediasi. TPSEP adalah perjanjian terbuka karena tujuan para negara

pendiri dari awal adalah untuk memperluas TPSEP. Oleh karena itu, negara anggota

APEC berkesempatan besar untuk bergabung kedalam perjanjian ini. Terbentuknya

TPSEP dan berjalannya perjanjian perdagangan bebas antara negara trans-pasifik ini

ternyata berhasil mendorong atensi negara lain untuk bergabung. Apalagi TPSEP

bersifat ekspansif secara keanggotan, berdasarkan kepada bab 20 pasal 20.6 yang

mengatur mengenai ruang lingkup perjanjian, menyatakan bahwa perjanjian ini terbuka

bagi anggota baru atas persetujuan anggota, terlebih untuk negara anggota APEC,

namun tidak menutup kemungkinan untuk negara non-APEC (h.20.1-20.3). Sehingga

(39)

24 selain negara P4, terlebih lagi negara APEC, berkesempatan besar untuk dapat

bergabung kedalam kerjasama TPSEP.47

B. KETERLIBATAN AMERIKA SERIKAT

Keterlibatan Amerika Serikat di TPP berawal pada masa pemerintahan Bush yang

kemudian berganti kepemimpinan yang di pegang oleh Barrack Obama dan

menjadikan kebijakan perdagangan utama Amerika Serikat. Keterlibatan Amerika

Serikat dengan negara-negara anggota perjanjian P4 berawal dengan mengadakan

perundingan pada awal tahun 2008. Pada bulan September 2008, Amerika Serikat

melakukan perundingan secara informal dengan negara P4 membahas minatnya untuk

bergabung dengan Trans-Pacific Partnership. Putaran pertama perundingan secara

formal awalnya dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan Maret 2009, namun karena

perubahan kepemimpinan pemerintahan AS, perundingan putaran pertama ditunda

karena pemerintahan pada masa Obama sedang mengkaji kebijakan perdagangan AS.

Setelah Amerika Serikat terlibat di dalam perjanjian, Trans Pacific Strategic and

Economic Partnership (TPSEP) kemudian berganti nama menjadi Trans-Pacific

Partnership atau TPP. Setelah Amerika Serikat menyatakan minatnya untuk bergabung

ke dalam perjanjian, Australia dan Peru, Vietnam berkeinginan untuk bergabung

dengan Perjanjian P4. 48

47 Ibid.

48 Ann Capling, Multilateralising PTAs in the Asia-Pacific Region: A Comparison of the ASEAN–

(40)

25

United States Trade Representative (USTR) memastikan bahwa TPP akan

memperluas akses pasar dan didasarkan atas kerjasama ekonomi. Namun beberapa

peneliti mengkritisi bahwa USTR belum terfokus untuk membahas tentang

perdagangan dengan WTO, tetapi AS sudah terlibat dengan perjanjian lain dan terfokus

pada perjanjian TPP.49

Menurut beberapa analis, keputusan Amerika Serikat untuk bergabung dengan TPP

dilihat tidak didorong oleh potensi akses pasar antar anggota. Sebelum bergabung

dengan TPP, Amerika Serikat sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan

Australia, Chili, Singapura, dan Peru. Oleh karena itu, dengan terlibatnya Amerika

Serikat di dalam perjanjian, hanya akan membentuk hubungan yang baru dengan

negara Vietnam, Selandia Baru, dan Brunei Darussalam. 50

Amerika Serikat melihat peluang TPP bukan hanya membentuk hubungan antar

anggota TPP. AS melihat wilayah Asia Pasifik merupakan pasar yang besar dan

berpotensi, untuk itu kepentingan AS di Asia Pasifik adalah membentuk negara-negara

di wilayah Asia Pasifik sebagai mitra utama Amerika Serikat. Ditambah oleh

pernyataan Presiden Obama bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan

keterlibatannya di Asia Pasifik dengan bergabung sebagai anggota TPP.

Amerika Serikat mengusulkan kepentingan nasionalnya agar dimasukkan dalam

kesepakatan TPP. Poin-poin kepentingan nasional yang diusulkan tersebut berdasarkan

49 Bernard K. Gordon, Obama’s Visit to Indonesia and Australia and the TPP, East Asia Forum.

http://www.eastasiaforum.org/2010/05/30/obamas-visit-toindonesia-and-australia-and-the-tpp/ Diakses 25 Maret 2016

(41)

26 kepada sektor-sektor yang memberikan sumbangan besar dalam perekonomian dan

kemakmuran Amerika Serikat seperti akses pasar, jasa keuangan, investasi, intellectual

property, dan lingkungan. TPP memberikan kesempatan yang besar bagi Amerika

Serikat untuk melakukan upaya tersebut, dikarenakan saat ini TPP masih berada dalam

proses negosiasi. Selain itu, Amerika Serikat juga berupaya agar sumberdaya atau

jumlah keanggotaan di TPP bertambah. Penambahan anggota TPP merupakan hal

penting bagi Amerika Serikat, mengingat TPP hanya beranggotakan sembilan negara

hingga tahun 2010. Ditambah negara ini sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas

bilateral dengan empat dari sembilan negara tersebut. Sehingga Amerika Serikat tidak

bisa maksimal memperoleh keuntungan dari TPP tersebut.51

Agar sumberdaya TPP bertambah, Amerika Serikat telah melakukan beberapa

upaya dan mengeluarkan beberapa kebijakan, yaitu menawarkan insentif yang dimiliki

oleh TPP kepada negara anggota APEC dan mengundang negara lain untuk bergabung

dengan TPP. Insentif yang ditawarkan oleh Amerika Serikat tersebut disampaikan

secara tersirat saat negara tersebut menjadi host economy APEC pada tahun 2011.

Amerika Serikat yang saat itu mempunyai wewenang untuk menentukan topik

prioritas forum APEC 2011, mengarahkan pembahasan forum yang beranggotakan

negara-negara kawasan Asia Pasifik tersebut ke TPP. Sehingga TPP menjadi highlight

pada saat itu. Hasilnya, Jepang, Kanada, dan Meksiko menyatakan ketertarikannya

untuk bergabung dengan TPP, dan pakar ekonomi Amerika Serikat mengatakan bahwa

51 Ian F Fergusson dan Bruce Vaughn (2011). “The Trans-Pacific Partnership Agreement.”

(42)

27 dengan bergabungnya tiga negara tersebut memberikan signifikansi ekonomi TPP bagi

Amerika Serikat.52

C. KEPENTINGAN AMERIKA SERIKAT DI DALAM TRANS PACIFIC PARTNERSHIP

Amerika Serikat dan negara anggota TPP terus melanjutkan perundingan

membahas tentang perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara 12 negara sebagai

kebijakan ekonomi. Terlebih lagi perjanjian TPP berkaitan dengan perekonomian

bebas yang sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat tentang "Strategic

Rebalance" di kawasan Asia-Pasifik. Kerjasama TPP bertujuan untuk meliberalisasi,

penetapan peraturan yang mengatur perdagangan dan investasi antara keduabelas

anggota dan pasti memiliki implikasi dalam hubungan AS di wilayah Asia Pasifik. 53

Dampak TPP tidak hanya ekonomi, namun juga strategis. Dampak strategis dapat

diuraikan bahwa Amerika Serikat menggunakan perjanjian TPP sebagai alat untuk

menggunakan pengaruh di wilayah Asia Pasifik dan sekitarnya, baik dalam bidang

ekonomi, politik hingga keamanan, dan menciptakan kondisi yang merefleksikan

kebijakan luar negeri AS. Dengan bergabungnya AS menjadi anggota TPP, maka

Amerika Serikat dapat54 :

52 Information about APEC 2007. 2007. “The Importance of APEC.” http://www.apec2007.org 53 CRS Report R44278, The Trans-Pacific Partnership (TPP): In Brief, by Ian F. Fergusson, Mark A.

McMinimy, and Brock R. Williams and CRS In Focus IF10000, The Trans-Pacific Partnership (TPP) Agreement, by Brock R. Williams and Ian F. Fergusson.

54 USTR, “Remarks by Ambassador Michael Froman at the CSIS Asian Architecture Conference,” 22

(43)

28 1. Memperkuat aliansi regional dan mitra kerjasama;

2. Mempertahankan kepemimpinan AS dan menanam pengaruh di kawasan

Asia-Pasifik;

3. Meningkatkan keamanan nasional AS;

4. Liberalisasi perdagangan, mendorong reformasi pasar, dan mendorong

pertumbuhan ekonomi;

5. Memperkuat kerangka perdagangan regional dan global; dan

6. Membangun dan memperbaharui aturan perdagangan regional yang sejalan

dengan kepentingan AS dan realitas modern.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II Amerika Serikat telah membentuk perjanjian

perdagangan atau kerjasama perdagangan bebas dengan negara lain sebagai alat yang

di gunakan Amerika Serikat yang bertujuan untuk meluaskan tujuan kebijakan luar

negeri. Jika melihat sejarah tentang inisiasi kerjasama AS dengan negara lain, pada

tahun 1985 Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan

Israel, refleksi politik AS lebih banyak daripada tujuan ekonomi. Pada sekitar tahun

2000, perjanjian perdagangan AS dengan Bahrain, Maroko, dan Oman tidak hanya

berdasarrkan pada tujuan ekonomi semata, namun juga tujuan keamanan dan kebijakan

luar negeri, terutama membantu membentuk kerjasama yang lebih dekat untuk

(44)

29 tahun 2004 dengan Singapura. Singapura adalah mitra dekat dalam liberalisasi

perdagangan. 55

TPP adalah kerjasama antar negara yang baru, hal ini memicu berbagai pihak untuk

turut andil memahami kebijakan tersebut, terlebih para petinggi pemerintahan maupun

para peneliti dan analis. Dalam memahami suatu kebijakan tersebut, dapat dipastikan

munculnya perspektif yang mendukung atau mengkritisi. Hal ini berlaku dalam

perjanjian TPP, banyak pihak yang mendukung atau mengkritisi keberadaan TPP entah

dari pihak internal negara maupun pihak eksternal kerjasama TPP. Inisiasi kebijakan

perdagangan AS di Asia, khususnya TPP, memiliki dampak geostrategis yang cukup

penting. Pihak dari National Security Strategy AS menyatakan :

“Sustaining our leadership depends on shaping an emerging global economic order that continues to reflect our interests and values. Despite its success, our rules-based system is now competing against alternative, less-open models.... To meet this challenge, we must be strategic in the use of our economic strength to set new rules of the road, strengthen our partnerships, and promote inclusive development.”56

Dalam pernyataan tersebut dikatakan bahwa mempertahankan kepemimpinan AS

tergantung pada bagaimana membentuk tatanan ekonomi global yang terus

merefleksikan kepentingan dan nilai-nilai AS. AS harus strategis dalam penggunaan

kekuatan ekonomi AS untuk membuat peraturan baru, memperkuat kerjasama , dan

mempromosikan pembangunan secara global.

55 Brock R. Williams, Ben Dolven, Ian F. Fergusson, Mark E. Manyin, Michael F. Martin, Wayne M.

Morrison, ( 2016), The Trans-Pacific Partnership: Strategic Implications, Congressional Research Service, Hal 6

(45)

30 Dengan bergabungnya Amerika Serikat ke dalam perjanjian, merupakan sinyal

bahwa Amerika Serikat secara aktif berusaha untuk terintegrasi ke dalam struktur

ekonomi dan diplomasi di Asia. Di dalam artikel Foreign Affairs tahun 2014,

Perwakilan Dagang AS Froman mengatakan bahwa, " Manfaat perjanjian ekonomi

akan menguntungkan bagi semua pihak dan Amerika Serikat berharap akan menjadi

lebih terintegrasi dengan Asia Pasifik. ".57 Menteri Pertahanan Ashton Carter

menyatakan dalam pidatonya pada April 2015, menyatakan bahwa “Bagi saya,

kerjasama TPP adalah penambahan kapal induk (militer)”.58 Perjanjian TPP tersebut

akan memperkuat aliansi AS di Asia Timur.59

Pada tahun 2013, Tom Donilon yang merupakan Penasihat Keamanan Nasional

menulis, “Diplomasi ekonomi AS dapat memajukan kemakmuran global dengan

memperkuat aturan dan norma internasional yang dapat berdampak pada pertumbuhan

negara dan kemajuan perdagangan”.TPP akan menjadi kebijakan penting AS untuk

mengembangkan dan memperkuat institusi regional dengan cara mendorong kerjasama

dan resolusi damai dengan menghormati aturan dan norma. 60

TPP adalah semacam ujian kredibilitas AS sebagai pemimpin regional. Jika

kesepakatan tidak disetujui oleh Kongres, maka seluruh strategi rebalancing dapat

57 Michael Froman, (2014) “The Strategic Argument of Trade,” Foreign Affairs,

58 U.S. Department of Defense, (2015), “Asia-Pacific Remarks,” Secretary of Defense Ashton Carter,

McCain Institute, Arizona State University

59 Dennis C. Blair, (2014), “Who Decides Pacific Trade?” New York Times

(46)

31 dilihat sebagai strategi yang lemah dan AS berharap tidak akan menjadi bumerang

AS.61

Kritik terhadap TPP pun muncul di kalangan internal Amerika Serikat yang pesimis

dan khawatir dengan bergabungnya Amerika Serikat kedalam TPP. Diantaranya kritik

oleh seorang mantan duta besar AS untuk China yang mengatakan bahwa: "Di dalam

negeri kita (Amerika Serikat) kita melihat perdagangan dilihat dari segi politik yang

berakhir menang atau kalah. Namun di Asia, hal tersebut dilihat sebagai keterkaitan

kepemimpinan dan komitmen. Jika TPP gagal, akan membuat kekosongan

kepemimpinan di wilayah Asia Pasifik, dan China akan mengisinya ".62

Pada konferensi keamanan regional di Singapura pada bulan Mei 2015, Perdana

Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan: "... Manfaat dan kerugian semua

tercakup di dalam kerjasama TPP. Perjanjian ini memiliki nilai strategis yang lebih

luas. Pelaksanaan TPP akan memperdalam hubungan di kedua sisi Pasifik. Namun jika

gagal, akan merugikan kredibilitas dan integritas AS tidak hanya di Asia, namun di

seluruh dunia. ".63

61 Jeffrey A. Bader and David Dollar, (2015), “Why the TPP Is the Linchpin of the Asia Rebalance,”

Brookings.edu

62 Jon Huntsman, quoted in Peter Baker, (2015) “The Trans-Pacific Partnership and a President’s

Legacy,” New York Times

63 Prime Minister’s Office of Singapore, (2015), “Transcript of Keynote Speech by Prime Minister Lee

(47)

32

D. TRANS PACIFIC PARTNERSHIP DAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN

AMERIKA SERIKAT

Dalam konteks perdagangan dunia, perjanjian TPP akan akan menjadi jalan

alternatif Amerika Serikat untuk membentuk perdagangan dan investasi regional dan

global. Peraturan yang ada di perjanjian TPP akan memajukan petumbuhan ekonomi

dan perdagangan, tujuan TPP diantaranya :

1. Mendorong pembukaan pasar dan mereformasi sektor ekonomi di antara

anggota TPP, terutama Malaysia dan Vietnam;

2. Menciptakan dorongan bagi negara Asia-Pasifik untuk terhubung lebih dekat

dengan pasar Amerika Serikat dan Jepang; dan

3. Mengatasi hambatan perdagangan baru melalui pengaturan perdagangan baru,

memperbarui kesenjangan dalam peraturan perdagangan.

Sejak Perang Dunia II, Amerika Serikat berupaya mendorong pertumbuhan

ekonomi dan kemakmuran negara melalui forum multilateral. Melalui perundingan

liberalisasi perdagangan yang bernama GATT, Amerika Serikat bertugas untuk

meliberalisasi hambatan tarif dan non-tarif, menetapkan aturan dan norma atas dasar

transparansi, dan non-diskriminasi. Pada akhirnya terbentuklah World Trade

Organization (WTO).

WTO secara resmi dibentuk pada tahun 2001, untuk saat ini terdapat beberapa

kendala karena terdapat perbedaan antar anggota WTO. Sementara itu, perdagangan

(48)

33 multilateral yang ada tidak sejalan dengan lingkungan perdagangan saat ini, misalnya

yang berkaitan dengan perdagangan digital dan peran BUMN. Hal ini menyebabkan

Amerika Serikat dan beberapa negara terdorong untuk membuat pengaturan

perdagangan baru melalui perjanjian bilateral dan regional.64

E. POTENSI TRANS PACIFIC PARTNERSHIP DAN KEANGGOTAANNYA

Saat ini banyak negara di Asia yang sedang mengkaji maupun memperdebatkan

tentang pembuatan keputusan apakah akan bergabung dengan kerjasama atau tidak,

seperti halnya negara anggota yang sedang mengkaji permasalahan ratifikasi TPP.65

Banyak analis yang berpendapat, negara yang pasti akan bergabung adalah Korea

Selatan dan Kolombia, mengingat saat ini kedua negara tersebut terlibat perjanjian

bilateral dengan Amerika Serikat. Beberapa negara yaitu Indonesia, Filipina, Korea

Selatan, dan Thailand, telah menyatakan minatnya secara terbuka untuk bergabung

setelah perundingan kedua pasca TPP diratifikasi. Taiwan juga telah menyatakan

minatnya untuk bergabung dalam keanggotaan. Jika negara besar di Asia dan Taiwan

bergabung, maka pengaruh TPP di kawasan Asia Pasifik akan semakin besar. 66

Kerjasama TPP dapat memberikan perubahan politik domestik suatu negara dengan

mendorong terjadinya perubahan agenda domestik untuk melancarkan akses

perdagangan beberapa negara berkembang ke pasar AS, selain itu dapat menjadi

64 Michael Froman, interview by Gerald F. Seib, (2015) “The U.S. Trade Agenda and the Trans-Pacific

Partnership,” Council on Foreign Relations

65 “Aquino government won’t seek to join, trade chief says,” Nikkei Weekly, March 31, 2015; “Treaty

holds no attraction,” Bangkok Post, October 22, 2014.

(49)

34 implementasi tujuan Amerika Serikat tentang hak-hak pekerja internasional,

perlindungan lingkungan, dan pembatasan perdagangan spesies langka.67

Jika TPP terlaksana, akan menarik minat dari negara lain yang merugi akibat tidak

bergabung kedalam perjanjian. Suatu negara yang merugi akan tertekan, jika tekanan

tersebut meluas maka hal tersebut juga akan memperluas jangkauan TPP, sehingga

negara tertekan akan ikut terlibat kedalam perjanjian TPP.Keanggotaan TPP saat ini

tidak melibatkan negara besar dalam hal ekonomi seperti China, India, Indonesia.

Walaupun TPP pada akhirnya diratifikasi dan terlaksana, kehadiran beberapa negara

tersebut akan membuat suatu kekuatan besar dalam hal perdagangan dan investasi di

kawasan Asia Pasifik . Maka pengaruh peraturan perdagangan perjanjian TPP

tergantung pada apakah negara-negara baru akan bergabung dengan TPP.68

Perjanjian TPP merupakan perjanjian yang terbuka bagi semua negara. Negara

APEC maupun non-APEC dapat bergabung dengan TPP asalkan mematuhi peraturan

dan standar yang ada di dalam TPP. Dengan keterbukaan untuk anggota baru,ditambah

perekonomian di kawasan Asia Pasifik yang tumbuh secara cepat, perjanjian TPP

merupakan perjanjian yang sangatlah strategis dan berpotensi.

F. TRANS PACIFIC PARTNERSHIP VS CHINA

Sebagian besar kerjasama ekonomi Asia Timur tidak melibatkan Amerika Serikat.

Misalnya kerjasama framework 10+3 di kawasan Asia Pasifik yang mencakup

67 Brock R. Williams, Ben Dolven, Ian F. Fergusson, Mark E. Manyin, Michael F. Martin, Wayne M.

Morrison, Op.cit, Hal 10

(50)

35 ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan. Hal tersebut merupakan salah satu faktor

yang mendorong Amerika Serikat untuk mulai bekerjasama dengan wilayah Asia

Pasifik. Kurangnya kerjasama Amerika Serikat dan Asia Timur membuat hubungan

ekonomi antara mereka pun lemah. Dalam usaha memasuki kawasan Asia Pasifik,

Amerika Serikat terus mendorong rencana APEC tentang pembentukan kesepakatan

untuk mendirikan perjanjian perdagangan bebas di Asia Pasifik (FTAAP) untuk

memperkuat hubungan ekonomi dengan Asia Timur. Namun usaha tersebut tidak

berhasil.69

Karena kurangnya pengaruh AS di regional Asia Pasifik, hubungan Amerika

Serikat dengan negara di Asia akan semakin jauh. Oleh karena itu Amerika Serikat

bergabung dengan TPP sebagai usaha untuk memperdekat hubungan AS dengan

kerjasama ekonomi di Asia aserta memperbaharui kerjasama dengan kawasan

Asia-Pasifik. Setelah Amerika Serikat melakukan kerjasama ekonomi seluruh negara Asia

Timur, maka akan membuka jalan bagi Amerika Serikat untuk mendominasi seluruh

wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara.70

Ketika perjanjian TPP ditandatangani pada tahun 2005, China tidak menunjukkan

atensinya terhadap perjanjian TPP. Namun China mulai bereaksi ketika Amerika

Serikat memutuskan untuk bergabung dan mengusulkan suatu agenda untuk TPP pada

saat KTT APEC di Hawaii pada tahun 2011. Dengan terlibatnya Amerika Serikat

69 Guoyou Song and Wen Jin Yuan, (2012), China’s Free Trade Agreement Strategies, Hal 109 70 Huangpu Liping, (2011),‘‘Meiguo Weihe Jiji Tuidong TPP’’ [The Real Intention Behind the United

(51)

36 menunjukkan agenda TPP telah berevolusi dari suatu ide gagasan, kemudian menjadi

suatu inisiasi kebijakan yang penting. Pada akhirnya para analis China mengkaji

tentang niat AS dalam pengembangan perjanjian TPP, serta efek TPP terhadap China.71

Meskipun para pejabat AS menyatakan bahwa kepentingan AS di TPP hanya untuk

tujuan ekonomi, China tetap memandang skeptis atas keberadaan AS. Ketika melihat

sejarah perjanjian dagang Amerika Serikat dengan negara lain, faktor pendorong

Amerika Serikat bukan hanya kepentingan ekonomi, namun juga kepentingan

geopolitik. Dalam kaitannya Amerika Serikat, TPP, dan China, para analis China

mengungkapkan, pertama, China harus menganalisis kepentingan AS tentang

kebijakan “US Pivot”. US Pivot adalah pernyataan Amerika Serikat tentang usaha

peran kepemimpinan di kawasan Asia Pasifik melalui TPP.72

Kedua, tujuan politik Amerika Serikat di TPP adalah untuk membendung kekuatan

China di wilayah Asia Pasifik dan China harus menanggapi secara strategis.73 Selain

itu Amerika Serikat dilihat berusaha untuk melemahkan dan mengurangi pengaruh

China di kawasan Asia-Pasifik, dan dapat dikatakan sebagai usaha “soft

confrontation”.74 Sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar Partai Komunis

71 Guoyou Song and Wen Jin Yuan, Op.cit, Hal 111

72 Fu Mengzi, (2015), “TPP yu Meiguo Yatai Zhanlve Tiaozheng ji dui Zhongguo de Yingxiang” (TPP,

the Adjustment of America’s Asia-Pacific Strategy, and Its influence on China) Zhongguo Pinlun (China Review)

73 Li Xiangyang, (2012), “TPP, Zhongguo Jueqi Guocheng Zhong De Zhongda Tiaozhan” (TPP: A

Serious Challenge for China’s Rise), Guoji Jingji Pinglun (International Economic Review), hal 17— 27.

74 Yang Jiemian, (2012), “Meiguo Shili Bianhua yu Guoji Tixi Chongzu” (The Change of America’s

Gambar

Grafik 3.1 The total trade shares in the world of RCEP and TPP
Grafik 3.2 The total trade intensity index of RCEP and TPP
Tabel 3.1 Simulasi Pertama. By : Ronglin Li dan Yan Hu
Tabel 3.2 Simulasi Kedua. By : Ronglin Li dan Yan Hu
+4

Referensi

Dokumen terkait

Key adalah satu atau gabungan dari beberapa atribut yang dapat membedakan semua baris data (row) dalam tabel secara unik, artinya jika suatu atribut dijadikan sebagai key, maka

Dari hasil penelitian yang didapat, waktu tunggu pelayanan resep obat berdasarkan jenis resep di Apotek Panacea Kupang yaitu waktu tunggu pelayanan resep obat berdasarkan

P SURABAYA 03-05-1977 III/b DOKTER SPESIALIS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH RSUD Dr.. DEDI SUSILA, Sp.An.KMN L SURABAYA 20-03-1977 III/b ANESTESIOLOGI DAN

Oman Sukmana, M.Si selaku Kepala Jurusan Program Studi Kesejahteraan sosial sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah memberikan arahan, dukungan serta motivasinya

yang terjadi akibat gesekan antara drillstring dan formasi. Sumur X-01 merupakan sumur vertikal pada lapangan X yang akan dilakukan pemboran horizontal re-entries dengan membuat

Mengenai kebenaran beliau, Hadrat Masih Mau'ud ‘alaihis salaam menulis: 'Aku melihat bahwa orang yang mau mengikuti alam dan hukum alam telah diberikan kesempatan bagus oleh

Contohnya biaya memasang seubuah iklan di koran untuk sebuah ritel dengan 20 toko dalam suatu area akan sama besarnya dengan biaya iklan yang di keluarkan untuk ritel yang

Pemberitaan yang disajikan Kompas juga lebih bersifat langsung (Straight news) dan memperlihatkan pengelolaan pemerintah terkait pariwisata, dibandingkan dengan media