Implementasi Bimbingan Baca Tulis al-Qur'an dalam Pembelajaran al-Qur'an Hadits di Madrasa Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta

179 

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI BIMBINGAN BACA TULIS AL-

QUR’AN

DALAM PEMBELAJARAN AL-

QUR’AN

HADITS DI

MADRASAH TSANAWIYAH PEMBANGUNAN UIN

JAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh Arruum Arinda NIM 1112011000033

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

IMPLEMENTASI BIMBINGAN BACA TULIS AL-QUR’AN DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MADRASAH

TSANAWIYAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh:

Arruum Arinda NIM. 1112011000033

Menyetujui, Pembimbing

Drs. H. Masan AF, M.Pd NIP. 19510716 198103 1 005

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul Implementasi Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an Dalam Pembelajaran al-Qur’an Hadits Di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta disusun oleh Arruum Arinda, NIM. 1112011000033, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 10 November 2016

Yang Mengesahkan, Pembimbing

(4)
(5)
(6)

vi ABSTRAK

Arruum Arinda (NIM. 1112011000033). Implementasi Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an dalam Pembelajaran al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah

Pembangunan UIN Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi bimbingan baca tulis

al-Qur’an dalam pembelajaran al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah

Pembangunan UIN Jakarta. Penelitan ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 sampai bulan Oktober 2016. Bimbingan baca tulis al-Qur’an di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta dikemas melalui kegiatan habitual curriculum dalam pembelajaran al-Qur’an Hadits.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sementara pemeriksaan atau pengecekan keabsahan datanya menggunakan derajat kepercayaan (credibility), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). Sedangkan teknik analisis data melalui empat tahapan, yaitu pengumpulan data mentah, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dalam melakasanaan bimbingan baca tulis al-Qur’an dalam pembelajaran al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta adalah cukup baik. Siswa antusias dan senang dalam mengikuti bimbingan baca tulis al-Qur’an. Hal ini terlihat berdasarkan pengamatan atau observasi pada pelaksanaan bimbingan baca tulis

al-Qur’an di kelas. Selain dari hasil observasi peneliti juga melaksanakan wawancara

kepada siswa dan guru. menurut siswa peserta didik senang mengikuti bimbingan baca tulis al-Qur’an, dan pada saat ujian peserta didik mudah dalam mengingat materi pembelajaran al-Qur’an Hadits tentang menulis dan membaca teks ayat atau Hadits. Guru al-Qur’an Hadits memaparkan dengan dilaksanakanya bimbingan baca tulis al-Qur’an hasil belajar peserta didik meningkat, hal ini dapat dilihat dari dokumen hasil belajar siswa, dan guru berharap bimbingan baca tulis

al-Qur’an menjadi muatan kurikuler, sehingga tersedia alokasi waktu yang

memadai dan terciptanya pembelajaran yang terstruktur baik dalam pelaksanaan maupun penilaian.

(7)

vii ABSTRACT

Arruum Arinda (NIM. 1112011000033). The Implementation of Learning

al-Qur’an Literacy Guidance in the Al-Qur’an Hadith of MTs Pembangunan UIN Jakarta.

This study aims to determine the implementation of learning al-Qur’an literacy guidance the in the learning of the al-Qur’an Hadith in MTs Pembangunan UIN Jakarta. This research was conducted in August 2015 to October 2016. The Guidance to read and write the al-Qur’an in MTs Pembangunan UIN Jakarta was conducted with habitual activity curriculum in teaching the al-Qur’an and Hadith.

The method used in this research is a case study method that using descriptive qualitative approach. The procedure of data collection were observation, interviews, and documentation. While checking the validity of the data used a degree of confidence (credibility), dependability, and certainty (confirmability). The technique of data analysis through four stages, there were the collection of raw data, data reduction, data presentation, and conclusion.

The results showed that literacy teachers who doing al-Qur’an literacy Guidance in the al-Qur’an Hadith of MTs Pembangunan UIN Jakarta is quite good. Students are enthusiastic and delighted in following the guidance of the

al-Qur’an to read and write. It was seen by observation when the guidance of the

al-Qur’an reading and writing in the classroom applied. In addition the writer also

conducted interviews with students and teachers. According to the student, the learning of this technique is happy and it helped them to memorize the material of al-Qur’an Hadith; write and read the al-Qur’an and Hadith; so that they were easier to face the examination. The al-Qur’an and Hadith teacher explained that the implementation of guidance of the al-Qur’an reading and writing learning

increasing students’ outcomes. It could be seen from the document of students’ learning result. Moreover, teachers expect the guidance of reading and writing the al-Qur’an into curricular load, so it provided adequate time allocation and the creation of structured learning both in the implementation and assessment.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Tiadak kata yang patut terucap kecuali rangkaian puji syukur kepada Allah SWT, yang tak pernah berhentimelimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam, senantiasa saya haturkan kepada Rasulullah SAW, pembawa pelita yang menerangi alam kehidupan dengan kalimat tauhid, kepada para sahabatnya dan para pengikunya yang senantiasa istiqomah di jalannya hingga akhir zaman.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidaklah semata atas usaha sendiri, namun berkat bantuan, motivasi dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menghaturkan ucapkan terima kasih kepada:

1. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. 2. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Serta seluruh jajaran civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Kepala Jurusan Pendidikan Agama Islam Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag. 4. Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Marhamah Saleh, Lc, MA. 5. Pembimbing skripsi Drs. H. Masan AF, M.Pd. yang senantiasa

memberikan arahan, motivasi, serta mengoreksi skripsi penulis hingga selesai.

6. Penasehat Akademik Drs. Achmad Ghalib, M.Ag yang senantiasa memberi bimbingan dan arahan selama menempuh studi SI di Fakultas Ilmu Tarabiyah Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam.

(9)

ix

8. Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadist Alipiah S.Pd.I. yang telah bersabar membimbing saya selama saya penelitian.

9. Segenap pengelola perpustakaan, baik Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta maupun Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan yang telah memberikan fasilitas kepada penulis dalam mencari data-data yang dibutuhkan.

10.Kedua orang tua, ayahanda Sumardis dan Ibunda Marsiyem, yang telah memberikan doa, motivasi, serta curahan kasih sayang yang tiada tara. Begitu juga dengan dukungan moril dan materil yang tiada ternilai harganya untuk keberhasilan dan kesuksesan penulis.

11.Teman-teman Pendidikan Agama Islam, terkhusus PAI A, begitu banyak kenangan yang terukir, tawa, canda, dan air mata dalan satu mahliga semoga persahabat kita dapat terus terjalin sepanjang masa sampa Malaikat Izroil datang mencabut nyawa.

Atas jasa dan bantuan semua pihak, penulis doakan semoga Allah SWT membalas dengan rahmat dan karunia yang tiada terhingga dan dapat menjadi amal jariyyah. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekeliruan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik yang bersifat membangun dan saran dari pembaca untuk perbaikan skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Aamiin.

Jakarta, 10 November 2016

(10)

x DAFTAR ISI

SAMPUL

KATA PENGANTAR ... ……… vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 9

D. Perumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Kegunaan Penelitian ... 9

BAB II Kajian Teori ... 11

A. Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah ... 11

1. Pengertian Pembelajaran al-Qur’an Hadits ... 11

2. Tujuan Pembelajaran al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah ... 16

3. Ruang Lingkup Pembelajaran al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah . 17 4. Materi al-Qur’an Hadits Kelas VIII Semester Ganjil ... 17

B. Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an ... 17

1. Pengertian Bimbingan ... 17

2. Pengertian Baca Tulis al-Qur’an ... 20

3. Tujuan Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an ... 30

4. Materi Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an ... 31

5. Metode Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an ... 51

(11)

xi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 66

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 66

B. Latar Penelitian ... 66

C. Metode Penelitian ... 67

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 68

E. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ... 72

F. Teknik Analisis Data ... 75

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 77

A. Deskripsi Data ... 77

B. Pembahasan ... 82

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI dan SARAN ... 111

A. Kesimpulan ... 111

B. Implikasi ... 112

C. Saran ... 112

DAFTAR PUSTAKA ... 114

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sifat-Sifat Huruf Hijaiyyah ... 32

Tabel 2.2 Mad Tabi’iy ... 36

Tabel 2.3 Huruf-Huruf dibaca Tafkhim ... 41

Tabel 2.4 Huruf-Huruf dibaca Tarqiq ... 44

Tabel 2.5 Huruf-Huruf dibaca Tafkhim dan Tarqiq ... 45

Tabel 2.11 Tanda-Tanda Waqof ... 49

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Observasi ... 69

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Wawancara ... 70

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Wawancara Kepala Madrasah ... 86

Gambar 4.2 Observasi Belajar dan Mengajar ... 87

Gambar 4.3 Observasi Belajar dan Mengajar ... 89

Gambar 4.4 Observasi Belajar dan Mengajar ... 89

Gambar 4.5 Observasi Belajar dan Mengajar ... 90

Gambar 4.6 Kegiatan Siswa ... 92

Gambar 4.7 Komunikata ... 93

Gambar 4.8 Wawancara Siswa ... 97

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Observasi Aktivitas Belajar Mengajar ... 119

Lampiran 2 Pedoman Wawancara Kepala Madrasah ... 127

Lampiran 3 Pedoman Wawancara Guru I ... 134

Lampiran 4 Pedoman Wawancara Guru II ... 137

Lampiran 5 Pedoman Wawancara Siswa ... 144

Lampiran 6 Profil Madrasah Tsanawiyah Pembangun ... 153

Lampiran 7 Surat Permohonan Izin Observasi ... 162

Lampiran 8 Surat Permohonan Izin Penelitian ... 163

Lampiran 9 Surat Keterangan Penelitian ... 164

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga pendidikan merupakan salah satu wadah bagi masyarakat untuk belajar dan memperoleh pengetahuan. Dewasa ini pendidikan telah menjadi kebutuhan primer bagi setiap manusia, dalam mempertahankan dan melangsungkan kehidupanya. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk generasi penerus bangsa. Maju dan berkembangnya suatu bangsa dilihat dari pendidikanya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mencetak generasi unggul dan berakhalaqul karimah. “Pendidikan merupakan proses pengubahan proses dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.”1 Dewasa yang dimaksud adalah bukan hanya dewasa secara mental namun dewasa disini juga dapat diartikan sebagai dewasa dalam bidang intelektual dan spiritual.

Adapun pendidikan menurut Undang-Undang tentang sistem pendidikan nasional No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar setiap peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.2

Dalam mewujudkan cita-cita kecerdasan kehidupan bangsa, sejalan dengan visi dan misi pendidikan nasional Kemendiknas, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki visi 2025 untuk menghasilkan Insan Indonesia cerdas dan kompetitif (insan kamil/insan paripurna). “Insan Indonesia cerdas adalah

1 Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 08

(16)

insan yang cerdas komprehensif, yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.” 3

Selain itu juga menurut Undang-Undang No.20 pasal 5 ayat 4 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa “Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus”.4 Termaktub mengenai tujuan pendidikan dalan GBHN 1983 bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila,bertujuan untuk “meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.” 5

Senada dengan hal di atas, dengan agama islam sebagai way of life dan Al-Qur‟an sebagai pedomanya, tidak hanya mengatur hubungan hamba dengan Tuhanya saja, tetapi juga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia diantaranya adalah pendidikan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur‟an Surat As-Shod ayat 39

(17)

حنَع

anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta membaca al-Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi al-Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, diwaktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya.” (H.R Ad-Dailami)

Dalam kaitanya dengan nilai yang merupakan muatan pendidikan, al-Qur‟an dijadikan sebagai sumber materi pendidikan, karena pokok pertama pendidikan agama Islam adalah al-Qur‟an. “al-Qur‟an merupakan bacaan paling sempurna dan mulia. Karena al-Qur‟an diturunkan kepada yang Maha Bijaksana, Maha Mulia dan Maha Sempurna.” 7

“al-Qur‟an adalah kalam Illahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw tertulis di dalam mushaf berdasarkan sumber-sumber mutawatir dan bersifat pasti kebenaranya, dan yang dibaca oleh umat Islam dalam rangka ibadah.” 8

al-Qur‟an merupakan sumber ilmu pengetahuan. Oleh karena itu hendaknya al-Qur‟an harus terus dibaca, dipahami, dan diteliti. Sesuai dengan firman Allah yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW yaitu al-Qur‟an surat al-„Alaq ayat 1-5 Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan

7 Manna al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, Terj. dari Mabaahits fi Ulumil Qur’an

oleh Aunur Rafiq El-Mazni, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,2011), Cet. VI, h. 14

8 Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Terj. dari MAabahits fi Ulumil-Qur’an

(18)

perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” ( Q.S. al-„Alaq: 1-5)9

Ayat pertama turun tersebut menjelaskan tentang perintah membaca. Manusia dijadikan dari segumpal darah, Allah menjadikan kalam10 sebagai alat pengembangan pengetahuan.11 Membaca merupakan kunci pengetahuan, tanpa membaca pengetahuan manusia tidak akan berkembang. “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media bahasa.” 12

Setelah membaca hendaknya menulis kembali apa yang telah dibaca tujuanya adalah agar kita selalu mengingatnya atau dapat dijadikan bacaan oleh orang lain. Mempelajari al-Qur‟an sebenarnya bukanlah hal yang sulit, jika tiap-tiap individu mampu berihtiar13 dan dan memiliki kemauan tinggi untuk mepelajarinya, pasti akan mampu membaca, memahami dan menulis al-Qur‟an dengan baik. Karena Allah telah menjamin kemudahanya bagi umat yang ingin mempelajari al-Qur‟an. Sebagaimana firman Allah dalam Qur‟an surat al-Qomar ayat 17

 menurunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara beransur-ansur dan sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi tujuanya adalah agar mudah

12Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), Cet. I, h. 7

13 ihtiar adalah berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih sesuatu harapan dan keinginan yang dicita-citakan.

(19)

dipelajari, dimegerti dan dihafal, bukan untuk mempersulit hidup manusia. Hal ini dipertegas dalam Qur‟an surat at-Thaahaa: 2

menjadi susah.” (Q.S. at-Thaahaa: 2)15

Pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang sangat serius, terutama dalam kemampuan baca tulis al-Qur‟an di kalangan umat Islam dengan mengeluarkan surat keputusan bersama Menteri Dalan Negeri dan Menteri Agama RI no. 128/44 Tahun 1982 tentang peningkatan membaca dan menulis al-Qur‟an dikalangan umat Islam, Intruksi Menteri Agama No. 3 Tahun 1990 tentang pelaksanaan Upaya Peningkatan Membaca al-Qur‟an serta intruksi Dirjen Dinas Islam dan Urusan Haji No. 3 Tahun 1991 Tentang Upaya Peningkatan Kemampuan Peningkatan Membaca al-Qur‟an di kalangan umat Islam.16

Hal senada juga dipaparkan oleh Wali Kota Bandar Lampung Drs. H. Herman, H.N. dalam sebuah media sosial Islam, “Kurikulum baca tulis al-Qur‟an saat ini sangat penting untuk mengatasi persoalan prilaku geberasi muda yang dinilai kurang baik. Adanya kurikulum baru ini bisa memperbaiki akhlak dan juga memperdalam ilmu agama para siswa. Setiap murid, dari SD, SMP, dan SMA yang akan menamatkan jenjang pendidikan wajib pandai baca tulis al-Qur‟an.”17

Sejalan dengan aturan tersebut, maka baca tulis al-Qur‟an menjadi muatan wajib kurikuum pendidikan dasar dan menengah, pemerintah menyebutkan bahwa “satuan pendidikan dasar dan menengah harus menempatkan kemampuan baca tulis al-Qur‟an sebagai salah satu kompetensi yang akan dicapai peserta didik dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.” 18

“Pemerintah juga memberikan peluang bagi sekolah, guru, dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, dan lain sebagainya yang tumbuh dari

(20)

aktivitas, kreativitas, dan profesionalisme yang dimiliki.”19

Khususnya lembaga pendidikan berbasis madrasah, yang notabene sebagai penggerak pendidikan Islam. Karena kemampuan baca tulis al-Qur‟an di Madrasah dapat mempegaruhi mata pelajaran agama yang lain seperti aqidah akhlak, fikih, terutama mata pelajaran al-Qur‟an Hadist. Selain itu juga dapat mempengaruhi kemampuan pada tahap pendidikan selanjutnya. Hendaknya semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin meningkat pula kemampuan yang dimiliki siswa. Namun pada realitanya kesulitan baca tulis al-Qur‟an di Madrasah Tsanawiyah masih dijumpai, masalah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kurangnya minat mempelajari al-Qur‟an. al-Qur‟an dianggap sebagai ilmu kuno dan kurang menarik untuk dipelajari, pengaruh teknologi yang melenakan kehidupan dan pemikiran siswa, kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan al-Qur‟an karena lebih mengutamakan pendidikan umum, kompetensi kecakapan lulusan dari jenjang pendidikan sebelumnya misalnya siswa lulusan Sekolah Dasar melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah, dan arus informasi yang tidak disertai dengan penyaringan terhaap hal-hal yang buruk yang dapat mempengaruhi pola pikir dan penyaringan prilaku masyarakat.

Mengingat begitu pentingnya kemampuan membaca dan menulis pada siswa, maka peran guru sangat diperlukan dalam hal ini, guru hendaknya terus memberikan memotivasi kepada siswa agar cinta dan semangat mempelajari al-Qur‟an khususnya mempelajari baca dan tulis al-Qur‟an. Sehingga siswa mampu membaca al-Qur‟an dengan baik dan benar dengan memperhatikan makhorijul huruf, sifat-sifat huruf, tajwid, waqof dan mempertimbangkan ketartilan yanag optimal. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an surat Muzammil ayat 4

……

(21)

“Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan.”(Q.S. al-Muzammil: 4)20

Begitu juga dalam menuliskan ayat al-Qur‟an, hendaknya mampu menuliskan dengan kaidah yang benar, karena al-Qur‟an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW terjaga keotentikanya, berbeda satu huruf dalam penulisan sudah mempengaruhi makna bacaanya. Sebagaimana firman Allah dalam Qur‟an surat al-Buruj ayat 21 sampai 22

yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” ( Q.S. al-Buruj ayat 21- 22)21

Dalam muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan menengah mengenai baca tulis al-Qur‟an, MTs Pembangunan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tidak luput dari upaya sistematika pembelajaran baca tulis al-Qur‟an. Perlunya pemberlakuan Pembelajaran Baca Tulis al -Qur‟an karena masih banyak siswa MTs Pembangunan yang belum dapat ditekankan pada latihan menulis dan membaca. Dalam prosesnya, pelajaran Baca Tulis al-Qur‟an dilaksanakan bersamaan dengan mata Pelajaran al-Qur‟an Hadist. Pada awal pertemuan tahun ajaran baru guru mengajarkan cara penyebutan dan penulisan dasar al-Qur‟an yang sesuai dengan kaidah bahasa arab. Dengan pembiasaan menulis dan membaca al-Qur‟an ini diharapkan siswa dapat menulis dan membaca al-Qur‟an dengan qaidah yang

20Ibid, h. 574

21Ibid, h. 590

(22)

baik dan benar, karena pembelajaran agama khususnya al-Qur‟an Hadist tidak lepas dari aspek membaca dan menulis al-Qur‟an.23 Dari hasil belajar mata pelajaran al-Qur‟an Hadits disinilah guru dapat menilai sejauh mana siswa dapat memahami dan menangkap materi membaca dan menulis al-Qur‟an yang telah diajarkan oleh guru.

Selain itu juga, MTs Pembangunan kegiatan Habitual Curriculum setiap senin hingga rabu pagi. Kegiatanya berupa hafalan juz 30, surat-surat pilihan dan tilawah. Selain itu juga melaksanakan progran tahsin al-Qur‟an setiap dua hari dalam satu minggu setelah pulang sekolah bagi siswa yang belum cakap membaca al-Qur‟an. Dengan kegiatan ini guru dapat menilai kualitas bacaan siswa, makhrorijul huruf, panjang pendek, dan tajwid.24

Dalam konteks MTs Pembangunan, Pembelajaran Baca Tulis al-Qur‟an merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efesien. Guru hendaknya memiliki fleksibilitas dalam mengatur pembelajaran sesuai dengan kondisi dan potensi satuan pendidikan (sekolah/madrasah). karena pembelajaran sejatinya merupakan cerminan serius tidaknya guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Berdasarkan masalah diatas peneliti ingin melaksanakan penelitian di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta. Penelitian ini berjudul “Implementasi Baca Tulis al-Qur’an dalam Pembelajaran Al-Qur’an Hadistdi Madrasah Tsanawiyah Pembangunan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan judul penelitian di atas, penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Kurangnya minat siswa belajar baca dan tulis al-Qur‟an siswa.

2. Masih banyak siswa menganggap remeh mata pelajaran baca tulis Qur‟an.

23 Wawancara dengan guru mata pelajaran al-Qur‟an Hadist MTs Pembangunan UIN Jakarta pada 22 April 2016 pukul 10:00 WIB

(23)

3. Masih banyak siswa yang belum dapat membaca dan menulis al-Quran dengan baik dan benar.

4. Pengaruh teknologi yang melenakan kehidupan dan pemikiran siswa. 5. Kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan al-Qur‟an siswa. 6. Kompetensi kecakapan lulusan dari jenjang pendidikan sebelumnya. 7. Alokasi waktu kurang memadai dalam pembelajaran baca tulis Qur‟an.

C. Pembatasan Masalah

Dengan memperhatikan uraian identifikasi masalah, maka perlu adanya pembatasan masalah supaya penelitian dapat lebih terarah serta mendekati pada fokus pencapaian tujuan. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah implementasi pembelajaran baca tulis al-Qur‟an dalam pembelajaran al-Qur‟an Hadits di MTs Pembangunan UIN Jakarta kelas VIII E tahun ajaran 2016/2017.

D. Perumusan Masalah

Berdasarka pembatasan masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

“Bagaimana implementasi bimbingan baca tulis al-Qur‟an dalam pembelajaran al-Qur‟an Haditsdi MTs Pembangunan UIN Jakarta?”

E. Tujuan Penelitian

Adapun penelitian ini bertujuan:

Untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana implementasi bimbingan baca tulis al-Qur‟an di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta.

F. Kegunaan Penelitian 1. Teoritis

(24)

2. Praktis

a. Menumbuhkan sikap cinta al-Qur‟an kepada pesera didik.

b. Memberikan sikap dan pandangan positif terhadap pembelajaran baca tulis Qur‟an terhadap siswa, karena begitu pentingnya pelajaran baca tulis Qur‟an sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Sebagai bahan masukan untuk guru maupun calon guru agar dapat memberikan layanan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada peserta didik agar dalam proses belajar mengajar terutama dalam pembelajaran baca tulis Qur‟an siswa dapat meningkatkan kemampuan dalam membaca dan menulis Qur‟an.

(25)

11 BAB II KAJIAN TEORI

A. Pembelajara al-Qur’an Hadits di Madarsah Tsanawiyah 1. Pengertian Pembelajaran al-Qur’an Hadits

Dalam dunia pendidikan sering kita dengar dan jumpai istilah-istilah belajar, mengajar, dan pembelajaran. Berikut akan dijelaskan mengenai istilah-istilah belajar, mengajar, dan pembelajaran.

Belajar merupakan suatu terminologi yang menggambarkan suatu proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut mepersyaratkan perubahan yang relatif dan permanen berupa sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan, dan keterampilan melalui pengalaman.

Belajar adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan berdasarkan perngalaman.1 Para ahli mengemukakan pengertian belajar secara terminology dengan rumusan bervariasi, Witheringto menyatakan “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian,yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons baru yang berbentuk keterampilan, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.”

Menurut Gage Berliner “belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang muncul karena pengalaman. Senada dengan Gage Berliner menurut Arthur J. Gates sebagaimana dikutip oleh Purwa Atmaja Prawira bahwa “belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan (learning is the modification of behavior through experience and training)”.2 Namun berbeda dengan pandangan dari tokoh aliran psikologi kognitif seperti Jean Peaget, Robert Glaser, John Anderson, dan David Ausubel mereka berpendapat belajar merupakan suatu proses yang

1 Departemen Pendidikan Nasional,Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), Cet.IV, h. 23

(26)

sifatnya internal,tidak dapat diamati secara langsung, perubahan dalam kemampuan, prilaku individu respons terhadap situasi-situasi tertentu”.3

Menurut Hilgard sebagaimana dikutip oleh Wina Sanjaya mengungkapkan “learning is the process by which an activity originates or changed through training procedures (wether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not atributable to training”.

Bagi Hilgard belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungana alamiah.4

Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan prilaku. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar terjadi melalui usaha dengan mendengar, membaca, mengikuti petunjuk, mengamati, memikirkan, menghayati, meniru, melatih dan mencoba sendiri dengan pengalaman dan latihan. Hal ini ditegaskan oleh Nana Sujana yang berpendapat bahwa belajar adalah “proses yang ditandai dengan adanya perubahan dimana perubahan tersebut dutunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan dan kemampuan daya kreasi, daya penerima dan lain-lain yang terdapat pada individu”.5

Belajar adalah suatu proses berbuat, bereaksi, memahami berkat adanya pengalaman, sedangkan pengalaman pada dasarnya adalah interaksi antar individu dengan lingkungan. Berkat proses interaksi antara pengajar (guru) dan siswa maka terjadi perubahan tingkah laku sebagaimana yang diharapkan. Hal tersebut melatar belakangi terdapat ahli yang lebih menegaskan bahwa belajar adalah proses perubahan prilaku, yang meliputi

3 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009), h. 162.

4 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), Cet. X, h. 228-229

(27)

pengetahuan, kecakapan, pengertian, sikap, keterampilan, dan sebagainya.6 Demikian pula proses belajar-mengajardisusun secara sistematis dan terarah dan dilandasi oleh nilai-nilai etik dan norma-norma tertentu, diatr secara formal, sistematis, dan etis.

Sedangkan pengertian mengajar menurut Wina Sanjaya adalah kata “teach” atau mengajar berasal dari bahasa Inggris Kuno, yaitu taecan. Kata ini berasal dari bahasa Jerman Kuno (Old Teutenic), teikjan, yang berasal dari kata dasar teik, yang berarti meperlihatkan. Kata tersebut juga ditemukan dalam bahasa Sansekerta, dic, nyang dalam bahasa Jerman Kuno dikenal dengan deik. Istilah mengajar (teach) juga berarti token yang berarti tanda atau simbol. Dalam bahasa Inggris Kuno taecan berarti to teach (mengajar). Dengan demikian, token dan teach secara historis memiliki keterkaitan. To teach dilihat dari asal usul katanya berarti memperlihatkan sesuatu kepada seseorang mealui tanda atau simbol, dimaksudkan untuk membangkitkan atau menumbuhkan respon mengenai kejadian, seseorang, observasi, penemuan, dan lain sebagainya.7

Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian tersebut juga danggap sebagai proses mentransfer ilmu. Mentransfer yang dimaksud adalah proses menyebarluaskan. Selain itu juga mengajar tidak hanya diartikan sebagai proses penyampaian materi pembelajaran, atau memberikan stimulus sebanyak banyaknya kepada siswa, akan tetapi mengajar dipandang sebagai proses mengartur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.8 Mengajar merupakan upaya memberikan wawasan kognitif pada peserta didik sebagai bagian dar upaya membangun wawasan tentang sesuatu dalam rangka menumbuhkan kemampuan afektif dan psikomotorik pada siwa.9

6 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2012), Cet. VIII, h. 59

7 Wina Sanjaya, strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2006), h. 95-96

8 Oemar Hamalik, Op.Cit., h. 102

(28)

Mengajar merupakan proses menanamkan pengetahuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Smith bahwa “mengajar adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan (teaching is imparting knowledge or skill)”.10

Oemar Hamalik mengemukakan lima pengertian mengajar, yaitu pertama Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah. kedua mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah. ketiga mengajar adalah usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa. Keempat mengajar atau mendidik adalah memberi bimbingan belajar kepada murid. Kelima mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik sesuai dengan tuntunan masyarakat.

11

Nasution berpendapat bahwa “mengajar adalah suatu aktivitas pengorganisasian atau mengatur lingkungan sebaik-bainya dan menghubungkanya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar”.12

Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar), tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.

Tardif mendefinisikan mengajar secara lebih sederhana tetapi cukup komprehensif dengan menyatakan bahwa mengajar pada prinsipnya adalah any action performed by an individual (the teacher) wiyh the intentition of facilitating learning in another individual (the learner). Artinya mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (guru) dengan tujian membantu atau memudahkan orang lain (siswa) melakukan kegiatan belajar.13

Kegiatan belajar-mengajar merupakan bagian dalam kegiatan teknis pendidikan. Kegiatan ini meruakan kegiatan yang berlangsung dalam suatu masa dan terikat dalam satu situasi serta terarah dalam satu tujuan. Dalam

10Ibid.

11 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), Cet. XVII, h. 44-50

12 Muhinnin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), Cet. XI, h. 179

(29)

teknis inilah secara spesifik disebut proses pembelajaran.14 kegiatan pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan keseluruhan. Dalam prosesnya kegiatan ini melibatkan interaksi individu yang pengajar di suatu pihak dan pilajar di pihak lain. Keduanya berinteraksi dalam suatu proses yang disebut belajar-mengajar.15 Pembelajaran terkait dengan tujuan dan rencana kurikulum yang difokuskan pada persoalan metodologi, seperti teknik mengajar, kegiatan implementasi sumber, dan alat pengukuran yang digunakan dalam situasi mengajar-belajar yang khusus. Pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan kepada siswa sebagai bekal dan persiapan siswa di masa depan, agar siswa mampu hidup dalam masyarakat yang akan datang.16 Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.17

Pengertian pembelajaran menurut bahasa berarti sebuah proses, cara, perbuatan, sehingga orang atau siswa belajar dengan memperoleh ilmu pengetahuan. sedangkan menurut istilah pembelajaran adalah suatu proses belajar-mengajar (PBM) yang merupakan keterpaduan antara kegiatan guru sebagai pengajar dan kegiatan siswa sebaagai pelajar sehingga terjadi saling interaksi keduanya dalam situasi instruksional yang bersifat pengajaran. Dengan demikian, pembelajaran mensyaratkan adanya interaksi dan proses. Interaksi dimaksud merupakan suatu aktivitas gabungan yang melibatkan guru, peserta didik dan mata pelajaran.18

Kata pembelajaran dipakai sebagai padanan kata instruction (bahasa Inggris). Pembelajaran adalah usaha-usaha terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dari dalam diri siwa. Adapun tujuan utama pembelajaran ialah penguasaan pengetahuan. pengetahuan bersumber dari perangkat mata pelajaran yang disampaikan

14 Yudhi Munandi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru ,(Jakarta: Gaung Persada Press ,2012), Cet. IV, h. 3-4

15 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Agama Islam,(Jakarta:PT Rajagrafindo Persada,2005),h.76 16 Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2009), Cet. III, h. 24-25

17 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012),Cet.IV, h. 23

(30)

di sekolah. Mata pelajaran tersebut meliputi berbagai pengalaman yang berasal dari orang tua di masa lalu, yang berlangsung dalam kehidupan manusia yang diuraikan, disusun, serta dimuat dalam buku mata pelajaran dari berbagai referensi.19

Sedangkan al-Qur‟an-Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti keduanya merupakan sumber akidah-akhlak, syari’ah/fikih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. al-Qur‟an Hadis, menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.20

Dengan demikian pembelajaran al-Qur‟an Hadits adalah kegiatan pendidikan berupa proses belajar-mengajar (PBM) yang merupakan keterpaduan antara kegiatan guru sebagai pengajar dan kegiatan siswa sebaagai pelajar sehingga terjadi saling interaksi keduanya dalam situasi instruksional yang bersifat pengajaran dengan memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan al-Qur‟an dan Hadits.

2. Tujuan Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Mata pelajaran al-Qur‟an-Hadis MTs ini merupakan kelanjutan dan kesinambungan dengan mata pelajaran al-Qur‟an-Hadis pada jenjang MI dan MA, terutama pada penekanan kemampuan membaca al-Qur‟an-hadis, pemahaman surat-surat pendek, dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Adapun tujuan mata pelajaran al-Qur‟an-Hadis adalah: a. Meningkatkan kecintaan siswa terhadap al-Qur‟an dan hadis.

19Ibid., h. 26

20 PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 000912 TAHUN 2013

(31)

b. Membekali siswa dengan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur‟an dan hadis sebagai pedoman dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan. c. Meningkatkan kekhusyukan siswa dalam beribadah terlebih salat,

dengan menerapkan hukum bacaan tajwid serta isi kandungan surat/ayat dalam surat-surat pendek yang mereka baca.21

3. Ruang Lingkup Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah

Ruang lingkup mata pelajaran al-Qur‟an-Hadis di Madrasah Tsanawiyah meliputi:

a. Membaca dan menulis yang merupakan unsur penerapan ilmu tajwid. b. Menerjemahkan makna (tafsiran) yang merupakan pemahaman,

interpretasi ayat, dan hadis dalam memperkaya khazanah intelektual. c. Menerapkan isi kandungan ayat/hadis yang merupakan unsur

pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.22

4. Materi Pembelajaran al-Qur’an Hadits di Madarsah Tsanaiyah a. Qur‟an Surah al-Kautsar dan al-Ma‟un tentang kepedulian sosial.

b. Qur‟an Surah al-Quraiys dan asy-Syarh tentang ketetuan rezeki dari Allah.

c. Hadits Nabi tentang tolong menolong. d. Hadits Nabi tentang mencintai anak yatim.

e. Hukum bacaan mad „iwad, mad layyin, dan mad „arid lissukun.

B. Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an 1. Pengertian Bimbingan

Bimbingan” merupakan terjemahan dari kata “guidance”. Kata “guidance” yang kata dasarnya “guide” memiliki arti: menunjukan jalan (showing the way), memimpin (leading), memberikan petunjuk (giving

(32)

instruction), mengatur (regulating), mengarahkan (governing), dan

memberikan nasihat (giving advice). Istilah “guidance”, juga diterjemahkan dengan arti dan bantuan. Ada juga yang menerjemahkan kata “guidance” dengan arti pertolongan. Berdasarkan arti ini, secara etimologis, bimbingan berarti bantuan atau tuntunan atau pertolongan.23 Bimbingan ini dapat dijelaskan dengan akronim kata, sebagai berikut: B adalah Bantuan

I adalah Individu M adalah Mandiri B adalah Bahan I adalah Interaksi N adalah Nasihat G adalah Gagasan A adalah Asuhan

N adalah Norma

Dapat dideskripsikan bahwa Bimbingan adalah bantuan yang berikan oleh pembimbing kepada individu agar yang dibimbing mencapai kemandirian dengan menggunakan berbagai bahan melalui interaksi dan pemberian nasihat serta gagasan dalam suasana asuhan dan berdasarkan norma-norma yang berlaku.24

Menurut Chisholm sebagaimana dikutip oleh Bimo Walgito memberikan pendapat bahwa bimbingan adalah:

“Guidance seeks to have each individual become familiar with a wide range of information about himself, his abilities, his previous development in the various areas of living, and his plans or ambitions for the future. Guidance than seeks to help him become acquanted with the various problems of social, vocational and recreational adjustment with he faces. On the basis of those two types of information and the assistance of counselors, each pupil is helped to face his problems and makes plans for their solution”.25

23 Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi, (Jakarata: PT Rajagrafindo Persada, 2007) ,h. 16

24 Zikri Neni Iska, Pengantar Bimbingan dan Konseling,(Jakarta: Kizi Brother‟s

(33)

Artinya bimbingan telah berupaya agar masing-masing individu menjadi akrab dengan berbagai informasi tentang dirinya, kemampuannya, pengembangan sebelumnya di berbagai bidang kehidupan, dan rencananya atau ambisi untuk masa depan. Bimbingan dari berusaha untuk membantunya dari berbagai masalah penyesuaian sosial , kejuruan dan rekreasi yang dihadapi. Atas dasar dua jenis informasi dan bantuan dari konselor, setiap murid dibantu untuk menghadapi masalah dan membuat rencana untuk solusi mereka.

Bimbingan merupakan salah satu bidang dan program dalam pendidikan, program ini ditujukan untuk membantu mengoptimalkan perkembangan siswa. Menurut Tolbert dikututip oleh Fenti Hikmawati bahwa bimbingan adalah seluruh program atau semua kegiatan dan layanan dalam lembaga pendidikan yang diarahkan untuk membantu individu agar mereka dapat menyusun dan melaksanakan rencana serta melakukan penyesuaian diri dalam semua aspek kehidupanya sehari-hari.26 Menurut Mohammad Surya sebagaimana dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus- menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat perkembangan, yang optimal dan sesuai dengan lingkunganya.27

Bimbingan merupakan suatu proses yang berkesinambungan, bukan kegiatan yang seketika atau kebetulan. Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan.28

Dengan membandingkan pengertian tentang bimbingan yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus-menerus dan sistematis oleh guru pembimbing kepada seseorang

26 Fenti Hikmawati, Bimbingan Konseling, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2010), Cet. I, h. 1

27 Drs. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), Cet. II, h. 37

(34)

atau sekelompok orang yang dibimbing agar mendapat tercapai tujuan yang optimal.

Adapun prinsip-prinsip bimbingan adalah sebagai berikut: a. Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbing

b. Bimbingan harus dimulai dengan identifikasi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing

c. Bimbingan harus fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat

d. Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan di sekilah yang bersangkutan

e. Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang pembimbing yang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup sanggup bekerja sama dengan para pembantunya serta dapat bersedia mempergunakan sumber-sumber yang berguna di luar sekolah f. Program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian teratur untuk

mengetahui sampai dimana hasil dan manfaat yang diperoleh sertapenyesuian antara pelaksanaan dan rencana yang dirumuskan terdahulu.29

Dalam aspek perkembangan belajar bimbingan bertujuan dapat melaksanakan keterampilan atau teknik belajar secara efektif, dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, mampu belajar secara efektif, memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi atau ujian.30

2. Pengertian Baca Tulis al-Qur’an

Membaca dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “baca” secara sderhana dapat diartikan sebagai ucapan lafaz bahasa lisan. Menurut al-Raghib al-Asfhani dikutip oleh Abudin Nata menyatakan bahwa, “ membaca berasal dari kata qara yang terdapat pada surat al-„Alaq ayat

(35)

pertama secara harfiah kata “qara” Menurut W.J.S. Purwadaminto membaca adalah melihat tulisan dan mengerti atau dapt menuliskan apa yang tertulis itu.31 berarti menghimpun huruf-huruf dan kalimat yang satu dengan kalimat lain sehingga membentuk suatu bacaan”.32

Menurut Henry Guntur Tarigan membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media bahasa.33

Menurut Finochiaro dan Bonomo sebagaimana dikutip oleh Henry Guntur Tarigan bahwa “reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or written material” membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis.34 Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca adalah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulis untuk memperoleh pesan ynag hendak disampaikan oleh penulis melalui media bahasa.

Menurut Anderson sebagaimana dikutip oleh Achmad dan Alek, bahwa tujuan membaca terbagi menjadi dua aspek, yaitu tujuan membaca dari segi individu dan tujuan membaca dari segi kelompok. Tujuan membaca individu ditentuakan oleh pengalaman, kecerdasan, pengetahuan, bahasa, minat, serta kebutuhan individu yang bersangkutan. Tujuan ini dipengaruhi oleh pengajar dan materi bacaan serta penyajianya. Sebalikny, tujuan membaca kelompok dipengaruhi oleh pengetahuan, kemampuan berbahasa, minat, kebutuhan, serta tujuan setiap anggota kelompok.35

Membaca dalam berkenaan Al-Qur‟an adalah dapat diartikan melihat tulisan yang terdapat pada Al-Qur‟an atau sumber lain dan melafalkanya.

31 W.J.S. Purwadaminto, Kamus Besar Bahas Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), h.2 32 Abudin Nata, Atay-Ayat Pendidikan Tafsir, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2010), Cet. IV, h. 43

33 Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), Cet. I, h. 7

34 Ibid, h. 9

(36)

Akan tetapi membaca Al-Qur‟an bukan hanya melafalkan huruf saja, tetapi juga mengerti apa yang diucapkan, meresapi isinya, serta mengamalkannya. Iman al-Ghazali mengungkapkan sebagai berikut:

“Adapun kalau menggerakan lidah saja, maka akan makin sedikit yang diperolehnya, karena yang dinamakan membaca harus ada perpaduan antara lidah, akal, dan hati. Pekerjaan lidah adalah membenarkan bunyi huruf dengan tartil. Pekerjaan akal mengenang makna dan tujuanya, sedangkan pekerjaan hati adalah menerima nashat dan peringatan dari apa yang dipahaminya.”36

Sedangkan menulis dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur dan sebagainta).37 Kata “menulis” mendapatkan imbuhan awalan “me” berbentuk kata kerja. Menulis adalah membuat huruf, angka, atau gambar dengan menggunakan alat tulis.38

Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.39 Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara40

Dengan demikian menulis adalah menurunakan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami, menjadi suatu representasi dari kesatuan ekspresi bahasa.

Adapun fungsi menulis bagi pendidikan sebagai berikut: a. Memudahkan para pelajar berfikir

b. Berfikir secara kritis

c. Memecahkan masalah yang sedang dihadapi

36Khodijah, “Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur‟an di MTs Negeri Parung,” skripsi pada Program Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2013, h. 18, tidak dipublikasikan. 37 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahsa Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), Cet. IV, h. 1947

38 Dendy Sugono, dkk., Kamus Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010), Cet. VI, h. 409

39 Henry Guntur Tarigan, Menulis Sebagai Suatu eterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), Cet. I, h. 22

(37)

d. Sebagai suatu cara berkomunikasi41

Dalam konteks al-Qur‟an, menulis bukan hanya aktivitas melukiskan lambang-lambang grfaik melaimkan proses berfikir. Tulisan dapat menolong manuisa dalam melatih dan berfikir kritis, terlebih berkaitan dengan al-Qur‟an pedoman hidup umat Islam.

Al-Qur‟an menurut bahasa adalah kata benda abstrak (masdar) dari karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya., Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”. (Q.S. Al-Qiyamah: 16)43

Adapun definisi al-Qur‟an secara istilah menurut Muhammad „Ali ash-Shabuni adalah sebagai berikut:

(38)

 Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”. (Q.S. As-Syu‟ara: 192-194)45

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur‟an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril as ditulis dalam bentuk mushaf, disampaikan secara mutawatir, membaca dan mempelajarinya dihutung sebagai nilai ibadah.

Dengan demikian bimbingan baca tulis al-Qur‟an adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki kualitas bacaan dan penulisan arab khususnya berkaitan dengan ayat al-Qur‟an dilaksanakan secara terus-menerus terbimbing dan sistematis agar mendapat tercapai tujuan yang optimal.

Kemampuan Baca Tulis al-Qur‟an merupakan dasar bagi anak untuk dapat mengamalkan dan mengajarakan al-Qur‟an serta mengamalkan ajaran Islam baik untuk dirinya maupun orang lain. Oleh karena itu tuntutan untuk dapat membaca dan menulis huruf al-Qur‟an mutlak sangat diperlukan.46 Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW

(39)

َُللا ىَلَص َِللا ُلوُسَر َلاَقَ ف اَِِ َموُقَأ َََأ َةَيحشَخ ََِإ ِةَرَقَ بحلا َةَروُس َمَلَعَ تَأ حنَأ َِِعَ َم اَم

kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Sa'id Al Maqburi dari Atha` bekas budak milik Abu Ahmad dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutus rombongan para sahabat dalam jumlah banyak, beliau meminta kepada mereka bertanya: "Apakah kamu hafal surat al-Baqarah?" dia menjawab; "Ya, " beliau bersabda kepadanya: "Pergilah dan kamu yang jadi imam bagi mereka, " Seseorang yang paling terkemuka di antara mereka berkata; "Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari surat al-Baqarah selain karena aku takut tidak dapat mengamalkannya, " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pelajarilah al-Qur`an dan bacalah, karena perumpamaan al-Qur`an bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal al-Qur`an ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan, Laits bin Sa'ad telah meriwayatkannya dari Sa'id Al Maqburi dari Atha` budak milik Abu Ahmad, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara mursal, dan di dalam hadits tersebut, tidak disebutkan dari Abu Hurairah. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dari Laits kemudian dia menyebutkan hadits”. (HR. Tirmidzi: 2801)47

(40)

a. Dasar Pengajaran Al-Qur’an

Qur‟an adalah risalah Allah untuk seluruh umat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A‟rof ayat 158

Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (Q.S. al-A‟rof: 158)48

Adapun dasar pengajaran al-Qur‟an bersumber pada ajaran agama yaitu al-Qur‟an. Sebagaimana yang tercantum dalam surat al-„Alaq 1 -5. Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. al-„Alaq: 1 -5)49

Menurut Ahmad Syarifudin mengutip pendapat Keputusan Bersama Mentri Dalam Negri dan Mentri Agama RI nomor 128 tahun 1982 menyatakan: “perlunya usaha peningkatan kemampuan baca tulis

48Ibid, h. 170

(41)

bagi umat Islam dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengalaman al-Qur‟an dalam kehidupan sehari-hari”.50

Dasar inilah sebagai pijakan dalam pengajaran al-Qur‟an di lembaga pendidikan baik lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan informal.

b. Dasar Mempelajari al-Qur’an

Adapun dasar mempelajari al-Qur‟an adalah sebagai berikut: 1) Firman Allah surat al-Muzamil ayat 4

….. menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, Telah mengabarkan kepadaku 'Alqamah bin Martsad Aku mendengar Sa'd bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya." Abu Abdirrahman membacakan (al-Qur`an) pada masa Utsman hingga Hajjaj pun berkata, "Dan hal itulah

50 Zuhairini, Metodologi Penelitian Agama, (Solo:Ramdani, 1983), h. 22

(42)

yang menjadikanku duduk di tempat dudukku ini." (HR. Bukhari: nomor 5027)52

Dengan dasar tersebut, kita hendaknya membudayakan kepada anak-anak untuk bisa membaca dan menulis al-Qur‟an. Setelah pandai membaca dan menulis, mereka akan mencintai al-Qur‟an kemudian mereka diharapkan akan mampu mempelajari kandungan al-Qur‟an dan terpatri dalam jiwanya hingga akhir hayat mereka.

c. Keutamaan Belajar dan Mengajar al-Qur’an

Aktifitas belajar al-Qur‟an merupakan aktifitas positif yang diberikan apresiasi luar biasa oleh Rasulullah SAW. Nabi bersabda:

حنَع ِدَثَرَم ِنحب َةَمَقحلَع حنَع ُناَيحفُس اََ ثَدَح ,ٍمحيَعُ ن وُبَأ اََ ثَدَح

حنَع ,يِمَلَسلا ِن حَْرلا ِدحبَع َِِأ

يضر ,َناَفَع ِنحب َناَمحثُع

َلاَق :َلاَق ع ها

َمَلَسَو ِحيَلَع َُللا ىَلَص َِِِلا

حمُكَلَضحفَأ َنِإ" :

َُمَلَعَو َنآحرُقحلا َمَلَعَ ت حنَم

."

َ ىراخبلا اور ُ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Alqamah bin Martsad dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman bin 'Affan ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya.” ( H.R. Bukhari: nomor 5028)53

Al-Qur‟an merupakan kitab suci agama Islam. Agama ini dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Secara hukum dijelaskan bahwa mempelajari Al-Qur‟an diwajibkan oleh agama bagi pemeluknya baik laki-laki maupun perempuan.54

52 Bukhari, Shohih al-Bukgari, (Nasyran:Maktabah Rusyd, 256 ), h. 2094 53Ibid.

54 Jalaludin, Metode Tunjuk Silang Membaca al-Qur’an, (Jakarta: LPPTKA BKPRMI Pusat,

(43)

d. Adab-Adab Membaca dan Menulis al-Qur’an 1) Adab Membaca al-Qur’an

Adapun adab membaca al-Qur‟an yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya adalah sebagai berikut:

a) Berguru secara musyafahah b) Niat membaca dengan ikhlas c) Dalam keadaan bersuci

d) Memilih tempat yang pantas dan suci e) Menghadap kiblat dan berpakaian sopan f) Bersiwak (gosok gigi)

g) Membaca ta’awwudz

h) Membaca al-Qur‟an dengan tartil i) Merenungkan makna al-Qur‟an j) Khusyu’ dan Khudhu’

k) Memperindah suara l) Menyaringkan suara

m) Tidak dipotong dengan pembicaraan lain n) Tidak melupakan ayat-ayat yang sudah dihafal55

2) Adab Menulis al-Qur’an

a) Para ulama sependapat atas anjuran menulis mushaf-mushaf dan mengindahkan tulisanya, lalu menjelaskanya serta memastikan bentuk tulisanya. Para ulama berkata diutamakan memberi titik dan shakal (harakat) pada mushaf, untuk menjaga fdari kesalahan dan perubahan di dalamnya.

b) Tidak boleh menulis al-Qur‟an dengan sesuatu yang najis. c) Apabila al-Qur‟an di tulis pada sebuah papan ata lainya maka

hukum memperlakukanya sama dengan mushaf itu sendiri, baik tulisanya sedikit atau banyak.

(44)

d) Jika orang yang junub atau berhadats besar menulis ayat al-Qur‟an, dengan membawa atau menyentuh kertasnya ketika menulis, maka hukumnya haram. jika dia tidak membawanya dan tidak menyentuhnya, maka ada tiga pendapat. Pertama boleh, kedua haram, dan ketiga boleh bagi yang berhadats kecil dan haram bagi orang yang berjunub.

e) Menulis hadits Rasulullah SAW jika tidak terdapat ayat-ayat Al-Qur‟an di dalamnya, tidaklah haram menyentuhnya. Tetapi yang lebih baik adalah tidak disentuh, kecuali dalam keadaan suci.56

3. Tujuan Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an

Tujuan yang akan dicapai dalam bidang bimbingan baca tulis Al-Qur‟an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu membaca dan menulis al-Qur‟an serta mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah guna membangun dunia sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh al-Qur‟an. Sebagaimana firman Allah SWT dalan Qur‟an surat adz-Dzariyat ayat 56

 mereka mengabdi kepada-Ku”. (Q.S. adz-Dzariyat: 56)57

Berdasarkan surat adz-Dzariyat ayat 56 tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan penciptaan manusia menurut al-Qur‟an adalah beribadah kepada Allah, yang dapat dikembangkan sesuai dengan minat siswa. Disamping itu manfaat pembelajaran baca tulisal-Qur‟an di lembaga pendidikan diantaranya sebagai berikut:

(45)

c. Membentuk akhlakul karimah

d. Meningkatkan lulusan yang berkualitas

e. Meningkatkan pemahaman dan pengamalan Al-Qur‟an

4. Materi Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an

Materi-materi yang terdapat dalam bimbingan baca tulis Qur‟an dibahas dalam ilmu tajwid. Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membaca al-Qur‟an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah dan sifat-sifat bacaan.58 Ilmu tajwid yang terdapat dalam pelajaran baca tulis Qur‟an antara lain membahas tentang sifat huruf, makhrijul huruf, hukum bacaan nun sukun, hukum bacaan mim sukun, macam-macam mad, idgham saghir, saktah, tafkhim, tarqiq dan waqof.

a. Sifat Huruf

Sifat huruf menurut arti bahasa adalah karakteristik dari sesuatu (watak). Sedangkan menurut istilah adalah tata cara atau prilaku bunyi huruf ketika keluar dari makhrojnya, seperti jahr, hams, syiddah, dan lain-lain. Berdasarkan pendapat Ulama yang populer dikalangan Ulama Tajwid, huruf hijaiyyah memiliki 18 sifat lazimah59, dengan rincian ada lima sifat yang mempunyai sifat berlawanan, sedang selebihnya tidak mempunyai sifat yang berlawanan.60 Adapun penjelasanya adalah sebagai berikut:

58NH Rifa‟i, Pedoman Ibadah, (Jombang: Lintas Media, t.t.), h. 151

59 Sifat Lazimah atau Sifar Dzatiyyah ialah sifat asli huruf yang melekat padanya dan tidak dapat lepas darinya, missal Hams, jahr, dst. Adapun Sifat „Aridah adalah sifat tambahan yang

datang kemudian, misalnya Tafkhim-Idghom-Ikhfa’ dan Imalah.

(46)

Tabel 2.1

Sifat Huruf Hijaiyyah

No. Sifat Lazimah Huruf-Hurufnya

Karakter

(47)
(48)

tambahan

14.

Inhiraf ( فر ْ ْْا): Lenturan ujung lidah

condong ke punggung lidah

Berkarakter kuat

15.

Takrir ( رْي رْ لا): Satu kali getaran

ujung lidah

Berkarakter kuat

16.

Istilalah ( ل ْ ْْا) Memelarkan dan menggelayutkan suara mulai dari tepi/pangkal lidah setelah makhroj

maju sampai makhroj

Berkarakter kuat

17.

Tafasysyiy ( ْلا) Bunyinya bersamaan

dengan tersebarnya angina kuat yang keluar dari dalam

mulut

Berkarakter kuat

18. Ghunnah ( غْلا):

Berdengung Berkarakter kuat

b. Makhrijul Huruf

(49)

adalah suara yang bergantung pada makhraj yang bersifat muhaqqaq62 (terlihat nyata) atau muqaddar63 (dikira-kirakan).64

Menurut pendapat yang terpilih bahwa ur ̂f Hij ̂iyyah terbagi menjadi 17 makhraj dan keberadaan 17 makhraj ini terdapat pada lima tempat, yaitu:

1) Al-Jauf ( فْ ْلا): rongga mulut 2) Al- alaq ( ْل ْلا): tenggorokan 3) Al-Lis ̂n ( سللا): lidah

4) Asy-Syafatain ( نْ لا): dua bibir

5) Al-Khaisy ̂m ( ْ ْ ْلا): janur hidung/induk hidung

c. Macam-Macam Mad

Arti mad65 ( ملا) ialah memanjangkan suara ketika memmbaca huruf mad atau huruf l ̂n.66 adapun huruf Mad ada tiga, yaitu:67

1) Alif (baik ada rasm (tulisan) ataupun tidak). Dimana sebelumnya berupa huruf yang berharakat fathah. Sebagai contoh huruf mad alif yang ada rasm adalah seperti alif yang terdapat pada lafaz “ ” dan sebagai contoh mad alif yang tidak ada rasm adalah seperti alif yang terdapat pada lafaz “ مْحرلا ن .

2) Wawu mati (baik ada rasm atau tidak), dimana sebelumnya berupa huruf yang berharakat dhammah. Sebagai contoh huruf mad waw ada rasm adalah seperti waw yang terdapat pada lafaz “ ْ قي” dan

62makhraj Muhaqqaq ( ٌقَقََُ حجَرحََ) adalah makhraj yang bergantung pada bagian tertentu pada bagian-bagian yang terdapat pada tenggorokan, lidah, atau kedua bibir.

63Makhraj Muqaddar ( ٌرَدَقُم حجَرحََ) adalah udara yang berada

64Abdul Majid, Panduan Lengkap Ilmu Tajwid,Terj. dari Al-Wadhih fi Ahkami at-Tajwid oleh Muhammad Isham Muflih al-Qudhat, (Jakarta: Turos, 2015), Cet. I, h. 41

65 perbedaan huruf mad dan mad yaitu: huruf adalah penyebab adanya bacaaan mad (panjang), sedangkan mad adalah bacaan panjang akibat adanya huruf Mad. Dengan demikian perbedaan principal keduanya ialah: huruf mad adalah penyebab sedang Mad adalah akibat.

(50)

sebagai contoh huruf mad waw yang tidak ada rasm adalah seperti waw yang terdapat pada Ha’ Dhamir lafaz “ ل / ل”

3) Ya’ mati (baik ada rasm atau tidak) dimana sebelumnya berupa huruf yang berharakat kasrah. Sebagai contoh huruf mad ya’ yang ada rasm seperti ya’ yang terdapat pada lafaz “ ْ ” dan sebagai contoh huruf mad ya’ yang tidak ada rasm adalah seperti ya’ yang terdapat pada ha’ dhamir lafaz “ ْل / ْل ۦ ” sebagai contoh huruf l ̂n ya’ yang tidak ada rasm adalah terdapat pada (‘ain) nya “” awal surat Maryam).68 Mad Badal Ialah apabila ada huruf Contoh Panjang

(51)

Figur

Tabel 2.1 Sifat-Sifat Huruf Hijaiyyah  ................................................................
Tabel 2 1 Sifat Sifat Huruf Hijaiyyah . View in document p.12
Gambar 4.1 Wawancara Kepala Madrasah  ........................................................
Gambar 4 1 Wawancara Kepala Madrasah . View in document p.13
grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami, menjadi suatu
grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami, menjadi suatu . View in document p.36
Tabel 2.1 Sifat Huruf Hijaiyyah
Tabel 2 1 Sifat Huruf Hijaiyyah . View in document p.46
MAD Tabel 2.2  AB ̂’IY
MAD Tabel 2 2 AB IY . View in document p.50
Tabel Huruf-Huruf Yang Dibaca Tafkhim (2.3 ُ مْيِحْفَتْلَا)
Tabel Huruf Huruf Yang Dibaca Tafkhim 2 3 . View in document p.55
Huruf-Huruf Yang Dibaca Tarqiq Tabel 2.4 ُ قْيِقْرَ تلَا()
Huruf Huruf Yang Dibaca Tarqiq Tabel 2 4 . View in document p.58
Tabel Dibaca Tafkim (ُ مْيِح2.5 ْفَتْلَا) dan Tarqiq (ُ قْيِقْرَتلَا)
Tabel Dibaca Tafkim 2 5 dan Tarqiq . View in document p.59
Tabel Tanda-Tanda Waqaf2.6 78
Tabel Tanda Tanda Waqaf2 6 78 . View in document p.63
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Observasi
Tabel 3 1 Kisi Kisi Observasi . View in document p.83
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Wawancara
Tabel 3 2 Kisi Kisi Wawancara . View in document p.84
Gambar 4.1 mendapat perlakuan sama, dan diberikan Wawancara Kepala Madrasah
Gambar 4 1 mendapat perlakuan sama dan diberikan Wawancara Kepala Madrasah . View in document p.100
Observasi Belajar dan MengajarGambar 4.3 sesuai dengan hukum bacaan yang  telah mereka pelajari
Observasi Belajar dan MengajarGambar 4 3 sesuai dengan hukum bacaan yang telah mereka pelajari. View in document p.103
KomunikataGambar 4.7  mengikuti cabang perlombaan ini
KomunikataGambar 4 7 mengikuti cabang perlombaan ini . View in document p.107
Wawancara SiswaGambar 4.8 ada yang salah betulisan, nah kalau  nulis  di bukunya belum slesai buat
Wawancara SiswaGambar 4 8 ada yang salah betulisan nah kalau nulis di bukunya belum slesai buat . View in document p.111

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (179 Halaman)
Lainnya : Implementasi Bimbingan Baca Tulis al-Qur'an dalam Pembelajaran al-Qur'an Hadits di Madrasa Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta Identifikasi Masalah Pembatasan Masalah Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian Pengertian Pembelajaran al-Qur’an Hadits Pengertian Bimbingan Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an Dasar Pengajaran Al-Qur’an Dasar Mempelajari al-Qur’an Keutamaan Belajar dan Mengajar al-Qur’an Adab-Adab Membaca dan Menulis al-Qur’an Tujuan Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an Materi Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an Pengertian Metode Pembelajaran Metode Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an Aspek-Aspek Metode Pembelajaran Metode Bimbingan Baca Tulis al-Qur’an Macam-Macam Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an Sumiyarsih. Pelaksanaan Pembelajaran Al-Qur’an pada siswa kelas I Sulton Fauzi, Wawan. Implementasi Progran BTQ Bimbingan Baca Tempat dan Waktu Penelitian Latar Penelitian Metode Penelitian METODOLOGI PENELITIAN Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data Derajat kepercayaan credibility Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data Analisa Data METODOLOGI PENELITIAN Tempat Pelaksanaan Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Pelaku Pelaksanaan Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Aktivitas Pelaksanaan Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Wawancara Kepala Madrasah Wawancara Guru Al-Qur’an Hadits Komitmen Madrasah dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pelaksanaan dan Kegiatan Baca Tulis Al-Qur’an Pemahaman Guru Tentang Baca Tulis Al-Qur’an Strategi dalam Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Metode Pembelajaran dalam Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Implikasi Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Sistem Penilaian Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Kendala Pelaksanaan Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an Kesimpulan KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN