SKRIPSI
HUBUNGAN INVESTMENT OPPORTUNITY SET (IOS) TERHADAP
FIRMPERFORMANCE
STUDI KASUS PADA BUMN (2008-2011)
OLEH :
Lenny Silaban 080503049
PROGRAM STUDI AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan sesungguhnya bahwa
skripsi saya yang berjudul ”Pengaruh Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Firm Performance, Studi Kasus pada BUMN (2008-2011)” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan
beban akademik pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga,
dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau
dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika
penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam
skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Medan, 22 Mei 2012
Yang membuat pernyataan,
Lenny Silaban
KATA PENGANTAR
Segala kemuliaan bagi Yesus Kristus karena hanya karena kasih-Nya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Adapun judul dari skripsi ini adalah : ”Hubungan Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Firm Performance, Studi Kasus pada BUMN (2008-2011)”. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Departemen Akuntansi Universitas
Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih
kepada kedua orang tua penulis, yaitu AyahandaOsmar Silaban dan Ibunda Erika
Manaluatas semua dukungan dan cinta kasih yang tiada habisnya sekaligus
sebagai sumber motivasi bagi penulis.
Dalam kesempatan ini juga penulis mengucapkan terimakasih kepada
pihak-pihak yang telah banyak memberi bimbingan, bantuan, saran, serta
dukungan dan doa dalam penyelesaian skripsi ini. Maka dari itu, perkenankanlah
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec., selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak., selaku Ketua
Departemen Akuntansi dan Bapak Drs. Hotmal Ja’far, M.M., Ak., selaku
Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara.
3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak., selaku Ketua Program Studi S1
Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail M.M., Ak.,selaku Sekretaris Program
Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara sekaligus
sebagai Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan
4. Bapak Drs. Rustam, M.Si., Ak selaku Dosen Pembaca Penilai yang telah
banyak memberikan saran kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Kepada para dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara yang
telah mendidik dan menjadi sumber inspirasi dan motivasi, khususnya kepada
Bapak Syarif Fauzie, S.E., Ak., M.Ak., Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum,
M.Ec., Ac., Ibu Dra. Narumondang Bulan Siregar, M.M., Bapak Drs. Arifin
Akhmad, M.Si., Ak., dan Drs. Chairul Nazwar, Ak.
6. Tidak lupa juga penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada keluargaku
yang selalu mendukung dan mendoakan penulis, kepada Abang Joster, Abang
Dandis, Abang Napitupulu, Abang Jeffry, Abang Cornel, Kakak Rumintang,
Kakak Sinta, Kakak Delfi, Kakak Pretty, Kakak Derliana, dan juga kepada
keponakan-keponakanku Windy, Angga, Rio, Wisda, Phristine, Febryan,
Marvel, Keenan, dan Irenea.
Penulis menyadari akan keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, maka dari itu penulis mengharapkan dan menerima saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap agar
skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Medan, 22 Mei 2012
Penulis,
Lenny Silaban
ABSTRAK
HUBUNGAN INVESTMENT OPPORTUNITY SET (IOS) TERHADAP FIRM PERFORMANCE
STUDI KASUS PADA BUMN (2008-2011)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara investment opportunity set (IOS) terhadap firm performance. Penelitian ini berfokus pada perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) karena masih sedikit penelitian yang dilakukan pada BUMN khususnya penelitian mengenai kesempatan berinvestasi. Beberapa pihak eksternal membutuhkan informasi yang lebih banyak mengingat keberadaan beberapa BUMN yang sudad go-public. Penelitian ini menggunakan investment opportunity set (IOS) sebagai variabel independen, firm performance sebagai variabel dependen, dan pertumbuhan perusahaan serta komposisi dewan komisaris sebagai variabel kontrol. Untuk mengetahui hasil dari penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif, analisis korelasi, dan analisis regresi berganda. Data yang diperlukan diperoleh dari www.idx.co.id dan sebagian diperoleh dari laporan annual yang diperoleh dari website BUMN sendiri.
Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara investment opportunity set (IOS) dengan firm performance, sementara itu terdapat hubungan yang negatif antara kedua variabel kontrol yaitu pertumbuhan dan komposisi dewan komisaris terhadap firm performance.
Keywords: Investment Opportunity Set (IOS), Firm Performance,
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN INVESTMENT OPPORTUNITY SET AND FIRM PERFORMANCE
STUDY CASE AT STATE OWN COMPANIES (2008-2011)
The purpose of this research is to find out the relatioship of investment opportunity set (IOS) and firm performance. This research focused on state own companies (BUMN) because there is still only a few research on BUMN especially about opportunity investment. Some externals need to know more about the condition of BUMN which have been going-public because it shows the existence of BUMN in capital market.
This research uses investment opportunity set (IOS) as independent variable, firm performance on dependent variable position, and company’s growth with board composition as control variale. To get the result of these variables, researcher uses descriptive analysis, correlation analysis, and regression linear. The needed datas come from www.idx.co.id and some from annual report that issued by BUMN on its website.
The result of this research finds that there is a positive relationship between investment opportunity set and firm performance and in the meantime there are negative relationship between both control variabels namely company’s growth with board composition and firm performance.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 8
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 9
BAB IITINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 10
2.1.1 Earning Management ... 10
2.1.2 Investment Opportunity Set (IOS) ... 13
2.1.3 Laporan Keuangan ... 17
2.1.4 Pertumbuhan Perusahaan ... 18
2.1.5 Komposisi Dewan Komisaris ... 19
2.1.6 Peneliti Sebelumnya ... 19
2.2 Kerangka Konseptual ... 23
2.3Hipotesis Penelitian ... 24
2.3.1 Investment Opportunity Set dan Firm Performance ... 24
2.3.2 Hubungan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Firm Performance ... 25
2.3.3 Hubungan Komposisi Dewan Komisaris Terhadap Firm Performance ... 26
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 28
3.2 Batasan Operasional ... 28
3.3 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 29
3.3.1 Variabel Terikat (Dependent Variable) ... 29
3.3.2 Variabel Independen (Independent Variable)... 29
3.3.3 Variabel Kontrol (Control Variable) ... 31
3.5 Jenis Data ... 34
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 35
3.7 Teknik Analisis ... 35
3.7.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 35
3.7.2 Analisis Korelasi ... 35
3.7.3 Model Regresi Berganda ... 35
BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis DeskriptifPenelitian ... 36
4.2Analisis Korelasi ... 40
4.3Analisis Regresi Berganda ... 42
4.3.1 Uji Asumsi Klasik ... 42
4.3.1.1 Uji Normalitas ... 43
4.3.1.2 Uji Pendekatan Kolmogrov-Smirnov ... 46
4.3.1.3Uji Heteroskedastisitas ... 47
4.3.1.4 Analisis Multikolonieritas ... 49
4.4 Pengujian Hipotesis Penelitian ... 52
4.4.1 Analisis Regresi Berganda ... 52
4.4.2 Koefisien Determinasi (�2)……….55
4.4.3 Uji Parsial (t-Test) ... 57
4.4.4 Uji Simultan (F-Test) ... 59
BAB VKESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 61
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 62
5.3 Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 64
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Hal.
2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu………... 20
3.1. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel… 32 3.2. Perusahaan yang menjadi Sampel Penelitian……. 34
4.1. Descriptive Statistic………... 37
4.2. Analisis Korelasi……… 41
4.3. Uji Kolmogrov-Smirnov……… 46
4.4. Uji Multikolinearitas dengan Nilai Korelasi…….. 50
4.5. Uji Multikolinearitas dengan Nilai Tolerance…... 51
4.6. Analisis Regresi Berganda………. 53
4.7. Koefisien Determinasi………... 56
4.8. Uji Statistik t……….. 58
DAFTAR GAMBAR
No.
Gambar Judul Hal.
3.1. Kerangka Hipotesis……… 22 4.1. Uji Normalitas dengan Analisis Grafik
Histogram……… 44 4.2. Normalitas dengan Analisis Normal
Probability Plot... 45 4.3. Grafik
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Lampiran Judul Hal.
1 Daftar Sampel Penelitian……… 67
2 Hasil Perhitungan Ratio di Excel……….. 68
3 Analisis Deskriptif……… 70
4 Analisis Korelasi………... 71
ABSTRAK
HUBUNGAN INVESTMENT OPPORTUNITY SET (IOS) TERHADAP FIRM PERFORMANCE
STUDI KASUS PADA BUMN (2008-2011)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara investment opportunity set (IOS) terhadap firm performance. Penelitian ini berfokus pada perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) karena masih sedikit penelitian yang dilakukan pada BUMN khususnya penelitian mengenai kesempatan berinvestasi. Beberapa pihak eksternal membutuhkan informasi yang lebih banyak mengingat keberadaan beberapa BUMN yang sudad go-public. Penelitian ini menggunakan investment opportunity set (IOS) sebagai variabel independen, firm performance sebagai variabel dependen, dan pertumbuhan perusahaan serta komposisi dewan komisaris sebagai variabel kontrol. Untuk mengetahui hasil dari penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif, analisis korelasi, dan analisis regresi berganda. Data yang diperlukan diperoleh dari www.idx.co.id dan sebagian diperoleh dari laporan annual yang diperoleh dari website BUMN sendiri.
Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara investment opportunity set (IOS) dengan firm performance, sementara itu terdapat hubungan yang negatif antara kedua variabel kontrol yaitu pertumbuhan dan komposisi dewan komisaris terhadap firm performance.
Keywords: Investment Opportunity Set (IOS), Firm Performance,
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN INVESTMENT OPPORTUNITY SET AND FIRM PERFORMANCE
STUDY CASE AT STATE OWN COMPANIES (2008-2011)
The purpose of this research is to find out the relatioship of investment opportunity set (IOS) and firm performance. This research focused on state own companies (BUMN) because there is still only a few research on BUMN especially about opportunity investment. Some externals need to know more about the condition of BUMN which have been going-public because it shows the existence of BUMN in capital market.
This research uses investment opportunity set (IOS) as independent variable, firm performance on dependent variable position, and company’s growth with board composition as control variale. To get the result of these variables, researcher uses descriptive analysis, correlation analysis, and regression linear. The needed datas come from www.idx.co.id and some from annual report that issued by BUMN on its website.
The result of this research finds that there is a positive relationship between investment opportunity set and firm performance and in the meantime there are negative relationship between both control variabels namely company’s growth with board composition and firm performance.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pasar modal, sebagai tempat bertemunya lenders dan borrowers untuk
melakukan permintaan dan penawaran atas instrumen keuangan jangka
panjang, telah mampu menjalankan tugas perekonomiannya sebagai alternatif
pendanaan perusahaan selain perbankan. Keterbatasan pinjaman yang
diberikan pihak perbankan membuat perusahaan melakukan penjualan saham
di pasar modal demi mewujudkan struktur modal perusahaan yang kuat.
Struktur modal yang baik akan meningkatkan minat para investor untuk
menanamkan modal di perusahaan yang bersangkutan, hal ini tentu saja akan
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan perusahaan. Menurut Kusuma
(2008 : 1) “pertumbuhan perusahaan memungkinkan terjadinya pemupukan
tabungan yang progresif, penambahan modal dan diversifikasi produk.”
Pertumbuhan perusahaan yang fluktuatif menyebabkan perusahaan kadang
mengalami masa pertumbuhan yang pesat dan ada kalanya justru mengalami
penurunan. Pertumbuhan perusahaan menjadi harapan bagi perusahaan sendiri
dan para investor serta kreditor. Perusahaan yang berada pada kondisi
bertumbuh tentu saja akan meningkatkan peluang berinvestasi.
Pertumbuhan perusahaan akan meningkatkan peluang investasi yang baik
di masa yang akan datang. Dari pertumbuhan perusahaan diharapkan dapat
peluang dalam berinvestasi, semakin besar juga peluang perusahaan untuk
bertumbuh.
Untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi
dimasa depan, investor memerlukan berbagai macam informasi mengenai
kinerja dan kondisi perusahaan. Para peneliti akuntansi dan keuangan
memiliki pandangan yang beragam tentang penilaian kinerja perusahaan. Ada
yang beranggapan bahwa kinerja suatu perusahaan itu tercermin di laporan
keuangan, sebagian lagi beranggapan bahwa kinerja perusahaan itu justru
tercermin di nilai investasi yang akan dikeluarkan di masa mendatang.
Laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan akan menjadi acuan bagi
investor untuk mengambil keputusan berinvestasi. Karena informasi yang
disajikan merupakan alat dalam menilai posisi keuangan perusahaan dan
pencapaian-pencapaian perusahaan. Namun menurut Gumanti dan Puspitasari
(2005) kinerja perusahaan tidak selalu tercermin dari laporan keuangan yang
disajikan perusahaan, namun tercermin dari nilai investasi yang akan
dikeluarkan dimasa mendatang.
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang
menunjukkan laba yang telah diperoleh perusahaan pada satu periode.
Menurut Skousen, Stice, Stice (2009 : 9) “tujuan keseluruhan dari laporan
keuangan adalah menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan
keputusan.” Perusahaan sendiri harus mampu menyediakan laporan keuangan
yang sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya, karena laporan
Laporan keuangan harus dilaporkan atas dasar akrual, dimana transaksi dan
peristiwa yang terjadi diakui pada saat terjadi bukan pada saat kas dibayar atau
diterima, serta dilaporkan pada periode yang bersangkutan. Penyusunan
laporan keuangan dengan dasar akrual akan memberikan informasi yang lebih
akurat. Adriani (2011) menyatakan bahwa laba yang diukur atas dasar akrual
dianggap sebagai ukuran yang lebih baik atas kinerja perusahaan
dibandingkan arus kas operasi karena dasar akrual mengurangi masalah
waktu dan mismatching yang terdapat dalam penggunaan arus kas dalam
jangka pendek.
Laporan keuangan yang dilaporkan atas dasar akrual akan memberikan
kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba atau earning
management dalam menaikkan atau menurunkan angka dalam laporan laba
rugi. Copeland, 1968 (dalam Utami, 2003) mendefenisikan manajemen laba
sebagai, “some ability to increase or decrease reported net income at will”
dengan kata lain manajemen laba merupakan tindakan seorang manajer
dengan menyajikan laporan yang menaikkan (menurunkan) laba periode
berjalan dari unit usaha yang menjadi tanggug jawabnya, tanpa menimbulkan
kenaikan (penurunan) profitabilitas ekonomi unit tersebut dalam jangka
panjang. Menurut Sulistyanto (2002 : 1),“manajemen laba seolah-olah telah
menjadi budaya perusahaan (corporate cultural) yang dipraktekkan semua
perusahaan di dunia.” Tindakan rekayasa manajerial ini tentu saja
Manajemen laba timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara manajer
dan pemegang saham. Manajer sebagai agent memiliki tanggung jawab dalam
hal mengoptimalkan keuntungan para pemegang saham (principal), namun
disisi lain manajer sendiri memiliki tujuan untuk mensejahterakan mereka, hal
ini membawa manajer dalam melakukan tindakan manajemen laba untuk
menyesatkan pemegang saham mengenai kinerja perusahaan. Tindakan
manajemen laba ini menunjukkan bahwa manajer bertindak oportunitis, yaitu
mengambil keuntungan pribadi.
Laporan keuangan yang dibuat dengan angka-angka akuntansi diharapkan
mampu meminimalkan konflik diantara pihak-pihak yang berkepentingan.
Jika ternyata ada kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajer hal ini tentu
saja akan menyebabkan rendahnya kualitas laba. Jika laba yang dilaporkan
sesuai dengan fakta yang terjadi, maka laba dapat dikatakan berkualitas tinggi
karena dapat digunakan oleh users dalam mengambil keputusan. Laba yang
berkualitas adalah laba yang memiliki karakteristik relevan, reliabilitas, dan
komparabilitas.Menurut Subramanyam (2010 : 109), “laba merupakan
informasi perusahaan yang paling diminati dalam pasar uang” sehingga dapat
dilihat bahwa laba dapat menjadisalah satu ukuran kinerja perusahaan yang
dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Komposisi dewan komisaris berpengaruh terhadap kandungan informasi
laba, bahwa melalui perannya dalam menjalankan fungsi pengawasan,
menyusun laporan keuangan sehingga dapat diperoleh suatu laporan laba yang
berkualitas (Adriani, 2011).
Istilah investment opportunit set (IOS)pertama sekali diperkenalkan oleh
Myers, 1977 (dalam Syakhroza, 2007) dalam kaitannya untuk mencapai
tujuan perusahaan. Menurut Myers, IOS memberikan petunjuk yang lebih luas
dimana nilai perusahaan sebagai tujuan utama tergantung pada pengeluaran
perusahaan dimasa yang akan datang. IOS merupakan suatu kombinasi antara
aktiva yang dimiliki (assets in place) dan pilihan investasi dimasa yang akan
datang dengan net present value positif. Dari beberapa penelitian terdahulu,
IOS lebih banyak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
IOS bukan merupakan pertumbuhan riil yang dicapai perusahaan saat ini,
namun kesempatan pertumbuhan perusahaan dimasa mendatang. Pengukuran
dimasa mendatang ini membuat IOS diukur dari investasi perusahaan di
research dan development dan aktiva tetap. Pengukuran IOS dapat diukur
dengan faktor tunggal atau kombinasi beberapa faktor. Sebagian besar IOS
dihitung dengan menggunakan ukuran data-data pasar modal, seperti harga
saham, dan market value of equity sebagai proksi dari IOS. Smith dan Watss,
1992 (dalam Syakhroza, 2007) menyatakan bahwa IOS membutuhkan
pembuatan keputusan dalam lingkungan yang tidak pasti dan konsekuensinya
tindakan manajerial menjadi tidak unobservable yang dapat menyebabkan
prinsipal tidak mengetahui apakah manajer telah melakukan tindakan yang
Kinerja perusahaan (firm performance) dapat diukur dengan rasio
keuangan dari neraca dan laporan keuangan, return dan perubahan stock
market, atau Tobin’s q yang mana mengkombinasikan nilai pasar dengan nilai
akuntansi. Pengukuran kinerja perusahaan lebih ditekankan pada hipotesa
biaya. Penelitian lain menyatakan bahwa pengukuran kinerja perusahaan yang
lebih cocok adalah dengan menguji teori biaya keagenan (agency cost theory)
karena dapat mengendalikan pengaruh harga pasar lokal dan faktor eksternal
lainnya. Disamping itu, teori biaya keagenan ini juga dapat mengendalikan
benchmark bagi kinerja perusahaan jika biaya keagenan diminimalisasikan.
Efesiensi laba digunakan untuk menilai kinerja perusahaan karena dari
besarnya laba dapat diketahui seberapa baik manajer dalam meningkatkan
pendapatan dan meminimalisasikan biaya. Kinerja perusahaan di mata
investor akan tercermin dari harga saham yang ditetapkan, karena kebijakan
investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan dividen dapat dilihat dari
harga saham di pasar modal. Namun, harga saham di pasar modal tidak dapat
sepenuhnya dijadikan acuan nilai fundamental perusahaan karena banyak
faktor yang mempengaruhi harga saham.
Berdasarkan teori tentang penilaian, harga saham dapat dihitung dengan
mendiskontokan arus kas yang diterima oleh investor dimasa mendatang. Arus
kas dapat berupa dividen, sedangkan dividen jika perusahaan memiliki
keuntungan. Sehingga secara tidak langsung ukuran keuntungan
perusahaandapat dijadikan proksi nilai perusahaan dimasa mendatang
Kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat dinilai kesehatannya
dari target kinerja yang telah dicapai oleh perusahaan BUMN tersebut.
Menurut Syakhroza (2007), tingkat kesehatan perusahaan dapat dipasang
sebagai salah satu bentuk target kinerja yang harus dicapai oleh manajemen
BUMN. Meskipun tingkat kesehatan tidak mempengaruhi gaji dan bonus,
namun tingkat kesehatan merupakan salah satu bentuk kinerja yang akan
diperhatikan. Semakin tinggi kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan
maka semakin bagus kinerja perusahaan. Kebijakan-kebijakan yang
dijalankan, terutama kebijakan dividen dan pendanaan, banyak dihubungkan
dengan IOS. Jika perusahaan memiliki IOS maka tingkat dividen cenderung
dikurangi, karena perusahaan membutuhkan sumber dana internal yang lebih
tinggi. Penelitian kinerja perusahaan di BUMN sendiri dimaksudkan untuk
memberikan informasi tambahan demi peningkatan pengetahuan. Di tahun
2012 BUMN yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 16
1.2.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah investment opportunity set berpengaruh terhadap firm
performance pada BUMN yang sudah go public ?
2. Apakah pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap firm performance?
3. Apakah komposisi dewan komisaris berpengaruh terhadapfirm
performance?
1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh investment opportunity set terhadap firm
performance di perusahaan BUMN.
2. Untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadapfirm
performance.
3. Untuk menganalisis pengaruh komposisi dewan komisaris
1.3.2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti, dapat menambah wawasan mengenai manajemen laba,
terutama di perusahaan BUMN.
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi
penelitian-penelitian selanjutnya terutama di bidang Akuntansi Ekonomi.
3. Bagi praktisi, dapat memberi masukan dalam pengambilan keputusan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Earning Management
Secara umum manajemen laba dapat didefenisikan sebagai upaya manajer
untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan
keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui
kinerja dan kondisi perusahaan (Sulistyanto, 2002 : 6). Manajer selaku
pengelola perusahaan memiliki informasi yang jauh lebih banyak
dibandingkan informasi yang dimiliki oleh para pemegang saham.
Ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh pihak manajer dan
pemegang saham akan memicu munculnya kondisi yang disebut dengan
asimetri informasi (information asymmetry). Asimetri informasi dapat
diartikan sebagai suatu kondisi dimana ada ketidakseimbangan perolehan
informasi antara manajer sebagai penyedia informasi (preparer) dengan pihak
pemegang saham. Adanya asimetri informasi akan memungkinkan adanya
konflik yang terjadi antara principal dan agent untuk saling mencoba
memanfaatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri. Tingkat asimetri
informasi akan cenderung relatif tinggi pada perusahaan dengan tingkat
kesempatan investasi yang besar (Suwendra, 2007).
Earning disebabkan karena adanya dasar akrual dalam pelaporan keuangan
modifikasi laporan keuangan dalam menghasilkan jumlah laba yang
dinginkan. Sulistyanto (2002 : 12) menyatakan bahwa informasi dalam
laporan keuangan yang harus diikuti oleh para pihak yang bertanggungjawab
adalah bahwa laporan keuangan itu harus memberikan informasi yang relevan,
netral, lengkap, serta mempunyai daya banding dan daya uji. Pada dasarnya
laporan keuangan dipakai sebagai alat untuk mengetahui kinerja yang telah
dipakai perusahaan secara utuh, tidak hanya kinerja kas tetapi juga kinerja
nonkas.
Manajemen laba merupakan sesuatu yang harus diperhatikan karena
melibatkan pelanggaran yang dibuat oleh pihak manajemen perusahaan dalam
rangka menarik minat para investor. Sulistyanto (2002 : 4) menyatakan bahwa
manajemen laba adalah upaya untuk mengubah, menyembunyikan, dan
menunda informasi keuangan. Manajemen laba dilakukan oleh manajer
perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat
sebagai manajer di perusahaan tersebut diperiode selanjutnya. Tindakan
manajemen laba telah memunculkan beberapa kasus skandal pelaporan
akuntansi sehingga menyebabkan publik meragukan integritas dan kredibilitas
para pelaku dunia usaha.
Ujiyantho dan Pramuka (2007 : 2) mengatakan perilaku manipulasi yang
dilakukan oleh agent dapat diminimumkan melalui suatu mekanisme
monitoring agar tercipta keselarasan (alignment) antar pihak yang
berkepentingan, yaitu:
disejajarkan dengan kepentingan manajer (Jensen dan Meckling, 1976).
- Kepemilikan saham oleh investor institusional. Moh’d et al. (1998) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor agen dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi manajer untuk mengatur laba berkurang.
- Melalui peran monitoring oleh dewan komisaris (board of directors). Dechow et al. (1996) dan Beasly (1996) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara peran dewan komisaris dengan pelaporan keuangan. Mereka menemukan bahwa ukuran dan independensi dewan komisaris mempengaruhi kemampuan mereka dalam memonitor proses laporan keuangan.
Manajemen laba, secara umum, dapat dikelompokkan dalam tiga dasar
basis pengukuran yang digunakan, yaitu:
- Model berbasis akrual
Model yang menggunakan discretionary accruals sebagai proksi
manajemen laba. Model ini dikembangkan oleh Healy (1985),
DeAngelo (1986), Jones (1991), serta Dechow, Sloan, dan Sweeney
(1995).
- Model yang berbasis specific accruals
Merupakan pendekatan yang menghitung akrual sebagai proksi
manajemen laba dengan menggunakan item laporan keuangan tertentu
dari industri tertentu. Model ini dikembangkan oleh McNichols dan
Wilson, Petroni, Beaver dan Engel, Beneish, serta Beaver dan
McNichols.
- Model distribution of earnings, dikembangkan oleh Burgtahler dan
Dari ketiga model di atas, hanya model berbasis agregate accrual yang
diterima secara umum sebagai model yang memberikan hasil paling kuat
dalam mendeteksi manajemen laba karena sejalan dengan akuntansi berbasis
akrual.
2.1.2. Investment Opportunity Set (IOS)
Investment opportunity set (IOS) merupakan nilai sekarang dari
pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi dimasa depan.IOS merupakan
tersedianya alternatif investasi dimasa datang bagi perusahaan.Menurut Gaver
and Gaver, 1993 (dalam Syakhroza, 2007) opsi investasi masa depan tidak
semata-mata hanya ditunjukkan dengan adanya proyek-proyek yang didukung
oleh kegiatan riset dan pengembangan saja, tetapi juga dengan kemampuan
perusahaan dalam mengeksploitasi kesempatan mengambil
keuntungandibandingkan denganperusahaan lain yang setara dalam suatu
kelompok industrinya. Gaver and Gaver, 1993 (dalam Syakhroza, 2007) juga
berpendapat bahwa IOS merupakan nilai perusahaan yang besarnya
tergantung pada pengeluaran yang akan datang, yang pada saat ini sebagai
alternatif investasi yang expected return nya lebih besar.
Selanjutnya IOS dijadikan sebagai dasar untuk menentukan klasifikasi potensi
pertumbuhan perusahaan dimasa depan. Perusahaan bertumbuh memiliki
pertumbuhan margin, laba, dan penjualan tinggi. Perusahaan berfokus pada
tujuan perusahaan, seperti memaksimalkan return kepada para pemegang
return yang diperoleh oleh shareholders. Besarnya return yang diperoleh oleh
pemegang saham menunjukan pertumbuhan perusahaan atau set kesempatan
berinvestasi.
Nilai IOS suatu perusahaan dapat mempengaruhi keputusan kebijakan
perusahaan. Nilai IOS, dalam Solechan (2009), bergantung pada
pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan datang (future
discretionary expenditure) yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan
investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar dari
biaya modal (cost of equity) dan dapat menghasilkan keuntungan.
Dengan asumsi set kesempatan investasi secara rata-rata mengarah ke
investasi aktual, IOS diduga kuat memiliki korelasi dengan realisasi
pertumbuhan perusahaan periode berikutnya.Investment Opportunity Set
perusahaan merupakan sesuatu yang secara melekat bersifat tidak dapat
diobservasi, sifatnya yang tidak dapat diobservasi menyebabkan IOS
memerlukan proksi. Proksi ini digunakan untuk mengukur set kesempatan
investasi perusahaan karena IOS tidak dapat diamati oleh pihak eksternal
perusahaan.
Kallapur dan Trombley, 1999 (dalam Kusuma, 2008) mengklasifikasikan
proksi IOS ke dalam tiga kelompok:
1. Proksi berdasarkan harga
Prospek yang tumbuh dari suatu perusahaan yang sebagian dinyatakan dalam harga pasar, maka perusahaan yang berpotensi tumbuh akan mempunyai nilai pasar relatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan aktiva riilnya. Prospek pertumbuhan sebagian dinyatakan dalam harga saham.
Satu level kegiatan investasi yang tinggi berkaitan secara positif pada nilai IOS suatu perusahaan. Kegiatan investasi ini diharapkan dapat memberikan peluang investasi berikutnya yang semakin besar pada perusahaan yang bersangkutan.
3. Prosi berdasarkan varian
Suatu opsi akan lebih bernilai jika menggunakan variabilitas ukuran untuk memperkirakan besarnya opsi yang tumbuh, seperti variabilitas return yang mendasari peningkatan aktiva.
Pada umumnya proksi yang digunakan untuk mengukur nilai IOS adalah:
- Rasio nilai buku aktiva tetap pada nilai buku perusahaan [PPE/V]. PPE/V
= [Nilai Buku aktiva tetap] : [nilai buku perusahaan].
- Rasio market to book value of equity [MVE/BE]. MVE/BE = [Jumlah
saham beredar x harga jual saham] : [total ekuitas].
- Rasio earning to price [E/P]. E/P = [laba bersih per saham] : [harga jual
saham].
- Rasio market value of the firm to book value of assets [A/V]. A/V = [total
aktiva – total ekuitas + (saham beredar x harga jual saham)] : [total aktiva]
- Rasio tambahan modal saham pada nilai perusahaan [CAP/V]. CAP/V =
[tambahan modal saham dalam satu tahun] : [nilai pasar ekuitas + nilai
buku utang]
- Rasio tambaham modal saham pada nilai buku aktiva [CAP/A]. CAP/A =
[tambaham modal saham dalam tahun] : [nilai buku aktiva]
Perusahaan yang berpotensi tumbuh akan memiliki skor nilai pasar terhadap
nilai bukunya. Perlu selalu dilakukan perbaikan dan pengembangan terhadap
proksi-proksi yang telah ada, karena setiap proksi terutama proksi yang
Secara umum, IOS menggambarkan peluang investasi yang sangat tergantung
dengan expenditure dimasa mendatang. IOS dapat diukur melalui market
value to book value of assets ratio yang secara sistematis dapat
diformulasikan:
�����=
����������� − ������������+
(�������������������������������) �����������
Penggunaan rasio ini atas dasar pemikiran bahwa prospek pertumbuhan
perusahaan terefleksi dari harga saham. Dalam Adriani (2011) rasio ini
berbanding lurus dengan nilai IOS, semakin besar market value to book value
of assets, maka semakin bagus nilai IOSnya.
2.1.3. Laporan Keuangan
Kieso, Warfield, Weygant (2011 : 6) berpendapat bahwa financial reporting is
the financial information a company provides to help users with capital
allocation decisions about the company. Adapun tujuan dari laporan keuangan
adalah untuk membantu pihak-pihak yang berkepentingan mengevaluasi
kinerja sebuah perusahaan di masa lalu dan dalam peramalan kinerjanya di
masa yang akan datang (Stice, Stice, and Skousen, 2008 : 9). Dalam Kieso,
Warfield, Weygandt (2011 : 7) tujuan umum dari laporan keuangan adalah
“to provide financial information about the reporting entity that is useful to
present and potential equity investors, lenders, and other creditors in making
keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi keuangan mengenai laporan
entitas yang berguna untuk menunjukkan potensi ekuitas para investor, para
pihak yang memberi pinjaman, dan para kreditor dalam memmbuat keputusan
sebagai penyedia modal. Laporan keuangan menyediakan informasi
perusahaan secara keseluruhan yang dinyatakan dalam bentuk keuangan.
Dalam Standar Akuntansi Keuangan No. 1 (2009 : 01.7)
laporan keuangan merupakan sumber informasi yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan yang terdiri dari laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan laba rugi komprehensif selama periode, laporan perubahan ekuitas selama periode, catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lainnya, dan laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.
Pasar global yang semakin berkembang luas telah membawa dunia usaha
untuk menyamakan standar laporan keuangan yang kini dikenal dengan
International Financial Reporting Standard (IFRS). Di Indonesia sendiri,
IFRS mulai diterapkan tertanggal 1 Januari 2012. Menurut IFRS, terdapat
empat unsur yang terdapat dalam laporan keuangan (financial statement),
yaitu:
- The Statement of Financial positon (neraca)
- The Income Statement atau Statement of Comprehensive Income (Laporan
Laba Rugi).
- The Statement of Cash Flow (Laporan Arus Kas)
Catatan yang dilampirkan merupakan bagian integral dari setiap laporan
keuangan (Keiso, Weygandt, Warfield, 2011 : 5).
2.1.4. Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan (growth) merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam
meningkatkan ukuran (size) perusahaan (Kusuma, 2008). Pengertian IOS dan
pertumbuhan perlu dibedakan, karena IOS sendiri jika memiliki net present
value positif juga akan memberikan pengaruh terhadap ukuran (size)
perusahaan. Hal yang membedakan IOS dengan growth ialah bahwa tidak
semua growth memberikan net present value positif. Semakin besar tingkat
pertumbuhan perusahaan maka semakin besar kebutuhan perusahaan akan
dana dalam rangka membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut.
Tingkat pertumbuhan yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut
sedang melakukan ekspansi. Semakin tinggi ekspansi, semakin besar akan
kebutuhan dana (Kusuma, 2008). Pertumbuhan merupakan kemampuan
perusahaan untuk meningkatkan size. Pertumbuhan perusahaan merupakan
salah satu faktor penting set kesempatan investasi. Perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan yang tinggi memerlukan investasi yang tinggi. Asosiasi antara
IOS dan kinerja tercermin dari pertumbuhan perusahaan, mulai dari
2.1.5. Komposisi Dewan Komisaris
Secara umum, dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas
pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan
(Utami dan Rahmawati, 2005). Keberadaan dewan komisaris sangatlah
penting, karena mengingat adanya kepentingan dari pihak manajemen untuk
melakukan manajemen laba. Dewan komisaris tidak memiliki otoritas dalam
perusahaan, maka dewan direksi bertanggung jawab untuk menyampaikan
informasi terkait dengan perusahaan kepada dewan komisaris.
Hasil penelitian Utami dan Rahmawati (2005) menemukan bahwa makin
besar komposisi dewan komisaris maka semakin berkurang aktivitas
manajemen laba. Struktur komposisi dewan komisaris oleh beberapa peneliti
dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya
berpengaruh pada kinerja perusahaan.
2.1.6. Peneliti Sebelumnya
Penelitian terhadap IOS sudah banyak dilakukan di beberapa negara. Di
Indonesia sendiri sudah dilakukan beberapa penelitian tentang analisis IOS di
beberapa perusahaan, mulai dari perusahaan swasta sampai BUMN. Berikut
Tabel 2.1
Tinjauan Penelitian Terdahulu Nama
Peneliti
Judul Penelitian Variabel Penelitian
Opportunity Set, Risiko, dan dividend yield dengan arah negatif,
profitabilitas dengan arah positif, dan risiko (beta koreksi) dengan arah positif akan berpengaruh signifikan Terdaftar di BEJ
Dependen:
komposisi dewan direksi berpengaruh negatif Terdaftar di BEJ Tahun 2001-2005
Hasil penelitian dengan regresi berganda antara variabel-variabel
independen berupa rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan
pendirian hanya rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara signifikanpada IOS, sedangkan pada tahap ekspansi awal hanya rasio aktivitas
yangberpengaruh secara signifikan pada IOS. Pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan decline tidak ada satu pun rasio keuangan dalam penelitian ini yang berpengaruhsecara signifikan terhadap IOS. Akhmad Peningkatan Value of The
Studi Kasus pada BUMN
Fitijanti penetapan level IOS perusahaan. Hasil penelitian ini juga menyatakan bahwa tidak ada satupun rasio individual yang dapat mewakili level IOS secara empiris perusahaan dengan IOS yang tinggi nilai
perusahaannya lebih banyak ditentukan oleh aktiva tidak berwujud dibandingkan aset riilnya.
SUMBER: Hasil Olahan Data Penulis (2012)
Tabel 2.1 di atas menunjukkan telah ada beberapa penelitian yang sudah
menggunakan investment opportunity set sebagai variabel penelitian, baik sebagai
variabel independen maupun dependen waktu sebelumnya dan melalui
penelitian-penelitian terdahulu inilah yang menjadi masukan bagi peneliti dalam melakukan
penelitian yang sejenis. Melalui hasil penelitian yang telah diteliti sebelumnya
oleh peneliti-peneliti terdahulu, maka ini menjadi bahan pertimbangan bagi
2.2. Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang, tujuan penelitian, dan tinjauan pustaka yang telah
dijelaskan sebelumnya, maka peneliti membuat kerangka konseptual yang
disusun dengan model berikut:
H1
H2
H3
Keterangan: = Variabel Independen
= Variabel Kontrol
Gambar 3.1Kerangka Hipotesis SUMBER: Teori yang Dikembangkan untuk Penelitian 2012
Firm performancemenunjukkan pencapaian perusahaan, melalui kerangka
konseptual di atas ingin dilihat faktor-faktor apa saja yang berpengaruh
terhadapfirm performance. Dalam penelitian ini, yang merupakan variabel
dependen adalahfirm performance, sedangkan yang menjadi variabel independen Investment Opportunity
Set (IOS)
Firm Performance Pertumbuhan Perusahaan
adalahinvestment opportunity set (IOS) dengan variabel kontrol pertumbuhan
perusahaan (growth) dan komposisi dewan komisaris. Adapun tujuan peneliti
memilih kedua variabel kontrol tersebut adalah karena adanya hubungan antara
peningkatan kinerja perusahaan (firm performance) yang dipengaruhi oleh
peningkatan pertumbuhan perusahaan serta dari beberapa penelitian yang berhasil
dikumpulkan oleh peneliti bahwa adanya pengaruh komposisi dewan komisaris
terhadap kualitas laporan keuangan yang dikaitkan dengan firm
performance.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel
independen dan variabel kontrol terhadap variabel dependen.
2.3. Hipotesis Penelitian
2.3.1. Investment Opportunity Set (IOS) dan Firm Performace
Investasi dimasa mendatang tidak semata-mata hanya ditunjukkan dengan
adanya proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja,
tetapi juga dengan kemampuan perusahaan dalam mengeksploitasi
kesempatan mengambil keuntungan dibandingkan dengan perusahaan lain
yang setara dalam suatu kelompok industrinya.
IOS digunakan sebagai dasar untuk menilai kinerja perusahaan. Dengan IOS,
dapat diukur tingkat pertumbuhan perusahaan, apakah perusahaan dalam
klasifikasi bertumbuh atau tidak bertumbuh. Pertumbuhan perusahaan dapat
mengukur nilai perusahaan. Ketika nilai suatu perusahaan sudah dapat diukur
maka akan diketahui seberapa baik kinerja perusahaan. Kenaikan kinerja yang
masa yang akan datang adalah IOS. Myers, 1977 (dalam Syakhroza, 2007)
menyatakan bahwa semua biaya variabel adalah bagian dari IOS.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang dapat dikembangkan dalam
penelitian ini adalah:
�1 = Firm performance dipengaruhi oleh investment opportunity set (IOS)
2.3.2. Hubungan pertumbuhan perusahaan terhadap firm performance Tingkat pertumbuhan yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan
sedang mengadakan ekspansi (Kusuma, 2008). Perusahaan yang sedang
tumbuh tentu saja membutuhkan dana yang lebih besar, hal ini menyebabkan
perusahaan untuk menahan sebagian besar pendapatannya dan menahan
earning. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan perusahaan semakin besar dana
yang dibutuhkan oleh perusahaan dan semakin rendah jumlah dividen yang
akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Dari penjelasan di atas,
hipotesis yang dapat dikembangkan adalah
2.3.3. Hubungan Komposisi Dewan Komisaristerhadap Firm Performance Dalam hubungannya dengan pelaporan keuangan dalam tindakan
manajemen laba, laporan keuangan sering dibuat menjadi tolok ukur dalam
penilaian kinerja perusahaan. Salah satu laporan keuangan yang dibuat untuk
mengukur kinerja perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba
rugi. Laba yang dilaporkan dalam laporan laba rugi atau Statement of
Comprehensive Income seringkali dipengaruhi oleh metode akuntansi yang
digunakan oleh perusahaan. Hal ini tentu saja menyebabkan laba yang
dilaporkan belum tentu mencerminkan laporan keuangan yang sebenarnya.
Perbedaan laba yang dilaporkan dalam laporan komperhensif akibat perbedaan
metode akuntansi menyebabkan para pihak yang berkepentingan menilai
kinerja perusahaan dari cash flow. Dalam hal ini, statement of cash flow
memiliki nilai lebih dalam penilaian kinerja perusahaan. Pradhono (2004)
dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa arus kas (cash flow)
menunjukkan hasil operasi yang dananya telah diterima tunai oleh perusahaan
serta dibebani dengan biaya yang bersifat tunai dan benar-benar sudah
dikeluarkan oleh perusahaan.
Salah satu pengukuran firm performance yang digunakan adalah net profit
margin yang menunjukkan kemampuan penjualan perusahaan untuk
menghasilkan laba bersih. Laporan keuangan sebagai sumber informasi
perusahaan tidak terlepas dari proses penyusunan laporan tersebut. Karena
kebijakan dan keputusan yang diambil akan mempengaruhi penilaian kinerja
salah satu faktor yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan. Pihak
manajemen akan memilih untuk menggunakan metode tertentu demi
mewujudkan tujuan pencapaian laba yang ditargetkan, karena pada dasarnya
hal ini akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Demikian juga halnya dengan
dewan komisaris yang memiliki dampak yang penting pada sistem kendali
perusahaan.Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis yang dapat
dikembangkan adalah:
�3 = Komposisi dewan komisaris berpengaruh positif terhadap firm
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, data yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu data sekunder yang diambil dari data laporan keuangan
tahunan perusahaan. Penelitian ini menganalisis firm performance (kinerja
perusahaan) di BUMN. Firm performance dinilai dengan menggunakan IOS
atau set peluang investasi, karena IOS dapat berfungsi untuk menilai kinerja
yang telah dicapai oleh perusahaan. Oleh karena itu IOS difungsikan sebagai
variabel independen dan firm performance sebagai variabel dependen.
Sedangkan pertumbuhan perusahaan dan komposisi dewan komisaris
difungsikan sebagai variabel kontrol, dimana variabel ini merupakan variabel
yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar.
3.2.Batasan Operasional
Kinerja perusahaan dinilai oleh kemampuan perusahaan dalam melakukan
investasi dimasa depan. IOS diterapkan dalam perusahaan-perusahaan yang
sudah go public. IOS menggunakan ukuran pertumbuhan harga saham dan
market value. BUMN sendiri yang sudah go public masih berjumlah 16
perusahaan, hasil penelitian Syakhroza (2007) menemukan bahwa penelitian
seperti ini tidak memungkinkan melakukan analisis dengan menggunakan
tiga pendekatan yaitu pertumbuhan aktiva perusahaan, dukungan aktiva
terhadap penjualan yang terjadi, dan capital expenditure.
Pertumbuhan aktiva menunjukkan bahwa adanya harapan perusahaan
untuk meningkatkan jumlah penjualan dimasa yang akan datang. Peningkatan
penjualan ini akan otomatis meningkatkan laba yang diperoleh dan akan
mempengaruhi peningkatan kinerja perusahaan. Perusahaan yang mampu
mencapai target akan mampu menciptakan potensi perusahaan dimasa depan.
Capital expenditure from investment akan menunjukkan komitmen perusahaan
untuk melakukan investasi pada aktiva yang diharapkan dan menghasilkan
laba dimasa mendatang (Syakhroza, 2007).
3.3. Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel 3.3.1. Variable Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah firm performance. Dalam
penelitian ini, proksi yang digunakan untuk mengukur firm performance
adalah rasio laba bersih perusahaan dengan membagikan jumlah laba bersih
pada periode sekarang terhadap penjualan.
3.3.2. Variabel Independen (Independent Variabel)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Investment Opportunity Set
(IOS). Berdasarkan hasil penelitian Syakhroza (2007) yang telah melakukan
mengukur investment opportunity setyang digunakan. Tiga proksi tersebut
adalah:
- Pertumbuhan aktiva
Pada peneliti terdahulu, yang menjadi dasar penelitian selanjutnya si
penulis, Syakhroza (2007) menggunakan dua pendekatan untuk
mengukur rasio pertumbuhan aktiva yaitu pertumbuhan aktiva tetap
dan pertumbuhan total aktiva perusahaan. Namun, dalam penelitian ini
penulis hanya menggunakan salah satu variabel saja yaitu
pertumbuhan total aktiva perusahaan. Rasio ini dipilih oleh penulis
karena rasio ini lebih mendukung proksi yang digunakan oleh penulis
untuk mengukur variabel dependen. Rumus rasio yang digunakan oleh
penulis dalam menghitung pertumbuhan total aktiva yaitu dengan
membagikan selisih antara total aktiva yang dimiliki perusahaan pada
periode sekarang dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan pada
periode sebelumnya terhadap total aktiva yang dimiliki perusahaan
pada periode sebelumnya.
- Kemampuan aktiva untuk menghasilkan penjualan
Sama halnya dengan pengukuran pertumbuhan total aktiva, peneliti
sebelumnya Syakhroza (2007) juga menggunakan dua proksi
pengukuran yaitu aktiva tetap terhadap total penjualan dan total aktiva
terhadap penjualan. Namun, atas dasar pertimbangan dimana pada
pengukuran proksi pertumbuhan aktiva sudah menggunakan total
satu proksi saja yaitu total aktiva terhadap total sales. Rumus yang
digunakan untuk mengukur rasio kemampuan aktiva untuk
menghasilkan laba yaitu dengan membagikan total aktiva yang
dimiliki perusahaan dengan penjualan.
- Capital Expenditure
Penelitian terdahulu Syakhroza (2007) menggunakan empat proksi
untuk mengukur capital expenditure yaitu cash flow dari kegiatan
investasi dibagi penjualan, pembelian aktiva tetap dan investasi dibagi
penjualan, cash flow dari kegiatan investasi dibagi total aktiva, dan
pembelian aktiva tetap dan investasi dibagi total aktiva. Karena
sebelumnya penulis sudah memfokuskan pengukuran terhadap total
aktiva, maka penulis hanya memilih salah satu proksi pengukuran
pengeluaran investasi yaitu cash flow dari kegiatan investasi dibagi
total aktiva.
3.3.3. Variabel Kontrol (Control Variable)
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah:
- Pertumbuhan perusahaan
Diukur dengan menghitung:
• Pertumbuhan penjualan
• Pertumbuhan laba
• Pertumbuhan nilai buku ekuitas
Tabel 3.1
Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel No
.
Variabel Defenisi Operasional menghitung net profit margin.
Net Profit Margin
= Laba Bersih yang terjadi, dan capital
b.Kemampuan aktiva untuk menghasilkan penjualan
= Total Aktiva
Penjualan
c.Capital Expenditure from investment
= Cash Flow dari kegiatan investasi
Total Aktiva
3. Pertumbuhan Perusahaan buku ekuitas, dan pertumbuhan aset.
a. Pertumbuhan Penjualan =TotalPenjualanNeto t−TotalPenjualanNeto t−1
TotalPenjualanNeto t−1
b. Pertumbuhan Laba
=
Labat−Labat−1Labat−1
c.Pertumbuhan Niai Buku Ekuitas
SUMBER: Hasil olahan penulis 2012
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan BUMN yang
telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2008 sampai dengan
tahun 2011. Teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah purposive sampling, yaitu perusahaan yang akan dijadikan sampel
adalah perusahaan yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti atas
dasar pertimbangan tertentu.
Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini harus memenuhi
kriteria sebagai berikut:
a. Merupakan lembaga pemerintah (BUMN).
b. Terdaftar di BEI sejak tahun 2008 dan sudah mempublikasikan laporan
keuangan secara berturut-turut selama tahun 2008-2011.
c. Bukan merupakan perusahaan keuangan (perbankan, pembiayaan, dan
asuransi). Hal ini dikarenakan peneliti menggunakan proksi penjualan
dalam melakukan pengukuran.
Perusahaan yang Menjadi Sampel Penelitian
No. Nama Perusahaan KODE
1 PT Adhi Karya (Persero) Tbk ADHI
2 PT Aneka Tambang (Persero) Tbk ANTM
3 PT Garuda Indonesia Tbk (GIA) (Persero) GIAA
4 PT Jasa Marga (Persero) Tbk JSMR
5 PT Kimia Farma (Persero) Tbk KAEF
6 PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk PGAS
7 PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (PTBA) (Persero) Tbk PTBA
8 PT Semen Gresik (Persero) Tbk SMGR
9 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) TLKM
10 PT Timah (Persero) Tbk TINS
11 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk WIKA
SUMBER: Lampiran 1
3.5.Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang
bersumber dari data sekunder. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam
bentuk jadi, sudah dalam bentuk publikasi. Data laporan tahunan perusahaan
diambil pada periode tahun 2008-2011. Data yang digunakan merupakan data
yang dapat diperoleh dari website www.idx.co.id dan sebagian dari situs
perusahaan-perusahaan yang menjadi objek penelitian.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan melakukan studi dokumentasi yang dilakukan dengan mengumpulkan
data sekunder dari www.idx.co.id dan website perusahaan. Penelitian
menggunakan laporan tahunan perusahaan, karena dalam laporan ini sudah
terdapat laporan-laporan yang berkaitan dengan kinerja perusahaan.
3.7.Teknik Analisis
3.7.1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan profil data
sampel yang meliputi mean, median, maksimum, minimum, dan deviasi
standar dari variabel-variabel yang akan diteliti.
3.7.2. Analisis Korelasi
Analisis korelasi bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan linear antara
dua variabel. Uji korelasi ini tidak menunjukkan hubungan fungsional karena
tidak membedakan antara variabel independen dan variabel dependen.
3.7.3. Model Regresi Berganda
Analisis ini akan menunjukkan besarnya pengaruh variabel independen (X)
terhadap variabel dependen (Y).Kinerja perusahaan diproksi dengan kinerja
laba dan dividen perusahaan. Berdasarkan teori penilaian perusahaan, harga
saham yang dikeluarkan dihitung dari nilai sekarang atas dividen yang akan
diterima oleh investor di masa yang akan datang. Sedangkan dividen di masa
yang akan datang dilihat berdasarkan jumlah laba yang dihasilkan.
PEMBAHASAN
Dalam bab ini, akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan analisis data yang
berhasil dikumpulkan oleh peneliti, hasil dari pengolahan data, dan pembahasan
dari hasil pengolahan data.
4.1. Analisis Deskriptif Penelitian
Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik sampel yang
digunakan dan menggambarkan variabel-variabel dalam penelitian yang meliputi
jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean) dan standar
deviasi.
Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah laba bersih, pertumbuhan
aktiva, kemampuan aktiva untuk menghasilkan penjualan, pertumbuhan
penjualan, pertumbuhan laba, pertumbuhan nilai buku ekuitas, pertumbuhan aset,
dan komposisi dewan komisaris.
Adapun hasil pengolahan descriptive statistic dari setiap variabel yang diteliti
dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
FP 44 .012 .346 .14035 .107563
PTAK 44 -.161 .535 .14535 .160865
KAML 44 .515 4.381 1.32340 1.032238
PEINV 44 -.258 .218 -.06723 .072419
PTPJ 44 -.281 3.870 .22451 .604253
PTLB 44 -.766 10.123 .79746 2.165951
PNBE 44 -1.111 11.623 .44027 1.752280
KDK 40 .200 .600 .39075 .077039
Valid N (listwise) 40
Sumber: Hasil Pengolahan Data penulis 2012
Tabel 4.1 mengindikasikan bahwa jumlah data yang digunakan dalam penelitian
ini sebanyak 44 sampel data. Proksi-proksi yang disebutkan pada tabel diatas akan
dijelaskan sebagai berikut:
1. Firm Performance (Y)
Firm performance menunjukkan perbandingan antara laba bersih dengan total
penjualan. Perusahaan dengan rasio pada firm performance yang tinggi
mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki tingkat kinerja yang bagus.
Pada Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa statistik deskriptif terhadap rasio firm
performance memiliki nilai minimum sebesar 0.012, nilai maksimum 0.346
dan nilai rata-rata sebesar 0.1403 dengan standar deviasi sebesar 0.10756, hal
ini mengindikasikan bahwa terdapat kenaikan kinerja perusahaan.
Rasio pertumbuhan aktiva menunjukkan besarnya perbandingan total
aktiva yang dimiliki oleh perusahaan pada periode sekarang terhadap total
aktiva pada periode sebelumnya. Perusahaan dengan rasio pertumbuhan
aktiva yang tinggi mengindikasikan bahwa pertumbuhan aktiva
perusahaan sedang berkembang dan membaik. Pada Tabel 4.1 dapat
dilihat nilai mínimum sebesar -0.161 nilai maksimum 0.535, nilai rata-rata
1.1453, dan stándar deviasi 0.16087, hal ini mengindikasikan bahwa
pertumbuhan aktiva pada perusahaan yang menjadi sampel penelitian
masih mengalami pertumbuhan yang rendah.
3. Kemampuan aktiva menghasilkan penjualan (���)
Rasio ini menunjukkan besarnya perbandingan antara total aktiva yang
dimiliki perusahaan terhadap penjualan. Perusahaan dengan rasio
kemampuan aktiva menghasilkan penjualan yang rendah mengindikasikan
bahwa penjualan perusahaan dalam keadaan bagus. Pada Tabel 4.1 dapat
dilihat nilai mínimum sebesar 0.52, nilai maksimum 4.38, nilai rata-rata
1.3234, dan standar deviasi 1.03224 hal ini mengindikasikan terdapat
kenaikan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
4. Capital Expenditurefrom investment to total assets (���)
Rasio ini menunjukkan besarnya perbandingan antara jumlah kas bersih
dari aktivitas investasi terhadap total aktiva pada periode sekarang.
Semakin besar nilai rasio semakin besar pengeluaran investasi untuk
kegiatan investasi dan hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan dalam
mínimum sebesar -0.26, nilai maksimum sebesar 0.22, nilai rata-rata
sebesar -0.0672, dan stándar deviasi sebesar 0.7242, hal ini
mengindikasikan bahwa terdapat kenaikan pengeluaran untuk investasi
namun belum signifikan.
5. Pertumbuhan penjualan (���)
Rasio ini mengindikasikan perbandingan antara selisih penjualan pada
periode sekarang dengan penjualan periode sebelumnya terhadap jumlah
penjualan periode sebelumnya. Semakin tinggi rasio menunjukkan
pertumbuhan penjualan yang cukup bagus. Pada Tabel 4.1
mengindikasikan nilai mínimum -0.28, nilai maksimum 3.87, nilai
rata-rata 0.2245, dan standar deviasi 0.60425, hal ini menunjukkan bahwa
terdapat pertumbuhan penjualan pada perusahaan.
6. Pertumbuhan laba (���)
Rasio ini mengindikasikan perbandingan antara selisih laba pada periode
sekarang dengan periode sebelumnya dengan periode laba sebelumnya.
Semakin tinggi rasio maka tingkat pertumbuhan laba semakin tinggi. Pada
Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa nilai mínimum sebesar -0.77, nilai
maksimum 10.12, nilai rata-rata 0.7975, dan stándar deviasi 2.16595, hal
ini menunjukkan bahwa dalam periode empat tahun (2008-2011) telah
terjadi pertumbuhan laba yang cukup signifikan pada perusahaan yang
menjadi sampel penelitian.
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara selisih nilai buku ekuitas
periode sekarang dengan periode sebelumnya terhadap nilai buku ekuitas
periode sebelumnya. Tingkat rasio yang tinggi mengindikasikan
pertumbuhan ekuitas yang tinggi. Pada Tabel 4.1 dapat dilihat nilai
mínimum -1.111, nilai maksimum 11.623, nilai rata-rata 0.44, dan standar
deviasi 1.75 , hal ini menunjukkan terjadi pertumbuhan nilai ekuitas yang
cukup signifikan pada perusahaan yang menjadi sampel penelitian.
8. Komposisi dewan komisaris (��)
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara jumlah dewan komisaris
independen terhadap jumlah dewan komisaris. Nilai mínimum 0.200, nilai
maksimum 0.60, nilai rat-rata 0.39, dan standar deviasi 0.077
4.2. Analisis Korelasi
Analisis ini dilakukan untuk mengukur tingkat kekuatan hubungan antara satu
variabel dengan variabel lainnya. Dalam penelitian ini, korelasi antara variabel
diukur dengan menggunakan Spearman Rank Correlation. Korelasi
Spearman atau sering juga disebut sebagai korelasi Tata Jenjang yang
digunakan dengan menguji hipotesis hubungan antara dua variabel untuk
melihat kuat lemahnya hubungan dan arah hubungan antara dua variabel.
Analisis Korelasi
Correlations
FP PTAK KAML PEINV PTPJ PTLB PNBE KDK
Spearman's rho FP Correlation Coefficient 1.000 .195 .656**
-.295 .064 .168 .393**
KAML Correlation Coefficient .656**
-.021 1.000 -.220 -.037 -.164 .046 -.151
PTLB Correlation Coefficient .168 .525**
-.164 -.057 .554**
KDK Correlation Coefficient -.272 -.388**
-.151 .339*
-.302*
-.273 -.249 1.000
Sig. (2-tailed) .074 .009 .327 .024 .046 .073 .103 .
N 44 44 44 44 44 44 44 44
Dari Tabel 4.2 dapat dilihat korelasi antara variabel dependen dengan
variabel dependen. Firm performancesebagai variabel dependen memiliki
korelasi yang positif terhadap pertumbuhan aktiva, kemampuan aktiva
menghasilkan laba, pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba, dan
pertumbuhan ekuitas namun memiliki korelasi yang negatif terhadap
pengeluaran investasi dan komposisi dewan komisaris. Dalam tabel dapat
dilihat bahwa firm performance paling dipengaruhi oleh variabel pertumbuhan
yaitu pertumbuhan ekuitas sebesar 0.656 diikuti variabel IOS yaitu
kemampuan aktiva menghasilkan laba sebesar 0.393 pada tingkat kepercayaan
90%.
Dapat dilihat bahwa tidak semua unsur-unsur yang digunakan untuk
mengukur IOS dan pertumbuhan memiliki korelasi yang signifikan terhadap
kinerja perusahaan.
4.3. Analisis Regresi Berganda
Regresi linear berganda ditujukan untuk menentukan hubungan linear antar
beberapa variabel bebas dengan variabel terikat. Dalam penelitian ini, mencari
hubungan antara �1�,�1�,�1�,�2�,�2�,�2�,�3 terhadap Y.
4.3.1. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan analisis regresi, agar dapat diperkirakan yang tidak
bias dan efisien maka perlu dilakukan pengujian asumsi klasik. Kriteria
4.3.1.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Normalitas
data dapat menyimpulkan bahwa data dapat dipakai dalam penelitian.
Pengujian normalitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara,
yaitu analisis grafik dan uji statistik. Uji normalitas dengan analisis dapat
dilakukan dengan melihat grafik histogram dan normal probability plot
dan uji statistik dapat dilakukan dengan uji statistik non parametik
Kolmogorov-Smirnov (K-S).
Dalam penelitian ini, uji normalitas yang digunakan yaitu dengan
Gambar 4.1.Uji Normalitas dengan analisis grafik histogram SUMBER: Hasil olahan data penulis 2012
Hasil pengolahan data pada Gambar4.1 menunjukkan bahwa variabel
berdistribusi normal, hal ini ditunjukkan dari grafik histogram yang
memberikan pola distribusi yang tidak menceng (skewness) ke kiri atau ke
Gambar 4.2. Normalitas dengan analisis normal probability plot
SUMBER: Hasil olahan data penulis 2012
Pada Gambar 4.2 menunjukkan bahwa data berdistribusi dengan normal,
4.3.1.2. Uji Pendekatan Kolmogrov-Smirnov
Varians yang mengikuti garis diagonal kadang belum tentu berdistribusi
dengan normal. Maka, untuk memastikan bahwa data yang berada di
sepanjang garis diagonal berdistribusi normal maka dilakukan Uji
Kolmogrov Smirnov (1 sampel KS) dengan melihat data residualnya
apakah berdistribusi secara normal atau tidak. Kriteria yang digunakan
adalah
- Asymp.Sig (2-tailed) > 0,05 =Data residual berdistribusi normal
- Asymp.Sig (2-tailed)< 0,05 = Data residual tidak terdistribusi normal.
Tabel 4.3
Uji Kolmogorov-Smirnov Test
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 44
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation .09074437
Most Extreme Differences Absolute .151
Positive .151
Negative -.075
Kolmogorov-Smirnov Z 1.000
Asymp. Sig. (2-tailed) .270
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.