PENGARUH PERGANTIAN CHIEF EXECUTIVE OFFICER
TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN DENGAN GOOD
CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL
MODERATING
(Studi Pada Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar di BEI)
(Skripsi)
Oleh
ESTI EKA FARIDAYANI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
EFFECT OFCHIEFEXECUTIVEOFFICERREPLICEMENTTOWARD COMPANY’S PERFORMANCEWITHGOOD CORPORATE GOVERNANCEAS
MODERATING VARIABLE BY
ESTI EKA FARIDAYANI
The objective of this research are: (1) to empirically prove the effect of CEO replicement
toward company’s performance, (2) to obtain empirical evidence concerning corporate governance proxid by managerial ownership toward company’s performance, (3) to obtain
empirical evidence concerning corporate governance proxid by the proportion of independent
commissioner toward company’s performance, (4) to obtain empirical evidence concerning
the effect of corporate governance proxid by managerial ownership toward the relation of
CEO replacement and company’s performance, (5) to obtain empirical evidence concerning the effect of corporate governance proxid by the proportion of independent commissioner
toward the relation of CEO replacement and company’s performance,
This research wasconducted onthe transportcompanylistedon the BEIin2010,
2011and2012.Sampleswere takencompany’sby looking atcompanies thatCEOreplacement turnoverduringthe period ofresearchand documentcompany’s performance(ROA) was takena yearafterthe change ofCEOthatyear2011.20121and2013.Analysis ofthe data usedin this study includedescriptivestatistical tests, linearanalysis, and classical assumption.
The conclusions are: (1) the CEO replacement have positive to company’s performance, (2)
the managerial ownership have statistically positiv influence to company performance, (3) the proportion of independent commisioner have statistically positiv influence to company
performance, (4) corporate governance proxied by managerial ownership have positive influence toward the relation of CEO replacement and company’s performance, (5) corporate governance proxied by the proportion of independent commisioner have positive influence
toward the relation of CEO replacement and company’s performance.
ABSTRAK
PENGARUH PERGANTIAN CHIEF EXECUTIVE OFFICER TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN DENGAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE
SEBAGAI VARIABEL MODERATING OLEH
ESTI EKA FARIDAYANI
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Memperoleh bukti empiris pengaruh pergantian CEO
dengan kinerja perusahaan. (2) Memperoleh bukti empiris pengaruh GCG yang
diprosikan dengan kepemilikan menejerial berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. (3) Memperoleh bukti empiris pengaruh GCG yang diprosikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. (4) Memperoleh bukti empiris pengaruh GCG yang diprosikan dengan kepemilikan menejerial berpengaruh terhadap hubungan pergantian ceo dengan kinerja perusahaan. (5) Memperoleh bukti empiris pengaruh GCG yang diprosikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh terhadap hubungan pergantian CEO dengan kinerja perusahaan.
Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan transportasi yang terdaftar di BEI pada tahun 2010,2011 dan 2012. Sampel perusahaan diambil dengan cara melihat perusahaan yang melakukan pergantian CEO selama periode penelitian dan data kinerja perusahaan (ROA) diambil setahun setelah terjadinya pergantian CEO yaitu tahun 2011,20121 dan 2013. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji statistik deskriptif, Analisis linier berganda, dan uji asumsi klasik.
Simpulan dari penelitian ini adalah: (1) pergantian CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (ROA). (2) kepemilikan saham manajer berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. (3) proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. (4)GCG yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap pergantian CEO ke kinerja perusahaan (5) GCG yang diproksikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap pergantian CEO ke kinerja perusahaan.
PENGARUH PERGANTIAN CHIEF EXECUTIVE OFFICER
TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN DENGAN GOOD
CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL
MODERATING
(Studi Pada Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar di BEI)
Oleh
ESTI EKA FARIDAYANI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA EKONOMI
Pada Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Bandar Lampung, Kecamatan Tanjung
Karang Barat, pada tanggal 14 february 1993, sebagai
putri pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak
Salman Fare dan Ibu Prastuti Handa Yani.Penulis
menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Langka
Pura lulus pada tahun 2004,penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah
Pertama diSMP N 1 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2007 dan menempuh
pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA YP Uniladengan jurusan IPA
hingga lulus pada tahun 2010.
Tahun 2010, penulis mengikuti jalur masuk perguruan tinggi Ujian Mandiri dan
terdaftar sebagai mahasiswa Strata 1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan
Bisnis.Penulis aktif di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa fakultas Ekonomi
PERSEMBAHAN
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah
banyakmemberikannikmat, baiknikmatsehatnikmatimandanmenjadikan segala
sesuatu yang sulit ini menjadi
mudah.Sholawatsertasalamsemogaterlimpahkankepadanabi Muhammad SAW,
keluargannya, parasahabatdankepada orang-orang yang
senantiasamengikutisunnahbeliau.
Ku persembahkan skripsi ini kepada:
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat, karunia, berkah, dan
kesempurnaan hidup.
Orang tuaku tercinta, Bapak Salman Fare dan Ibu Prastuti Handa Yani,
terima kasih untuk segala penantian, dukungan, do’a, kasih sayang dan semua hal yang telah diberikan kepada penulis. Setiap perjuangan untuk
menghasilkan karya ini adalah wujud terima kasihku kepada kalian.
Adikku terkasih, Dwi Maulia Andarini terima kasih untuk doa dan
dukungannya selama ini.
MOTO
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka
apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah
bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada
Tuhanmulah engkau
berharap.” (QS. Al
-Insyirah: 5-8)
Anda tidak bisa mengubah orang lain, Anda harus menjadi
perubahan yang Anda harapkan dari orang lain.
SANWACANA
Bissmillahirahmanirrahim
Segala puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT dan shalawat serta
salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya
beserta sahabatnyadan orang-orang yang senantiasamengikutisunnahbeliau.
Alhamdulillah atas Kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi
yang berjudul “Pengaruh Pergantian Chief Executive Officer Terhadap Kinerja Perusahaan Dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel
Moderating (Studi Pada Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar Di
BEI)sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
Terselesaikannya skripsi ini tak lepas dari bantuan, dukungan dan bimbingan
berbagai pihak baik moril maupun materil. Untuk itu dalam kesempatan ini
dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa hormat dan terima
kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Hi. Satria Bangsawan, S. E., M. Si.,selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Fajar Gustiawaty Dewi, S.E.,M.Si.,Akt., selaku Ketua Jurusan
3. IbuYuztityaAsmaranti, S.E.,M.Si.,Akt selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
4. Bapak Yuliansyah, S.E., M.SA.,Ph.D., Akt. selaku Pembimbing Utama yang
telah meluangkan waktu dan fikirannya serta memberikan semangat , saran,
dan masukan untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. IbuLiza Alvia, S.E., M.Sc., Akt.selaku Pembimbing Kedua yang telah
meluangkan waktu dan fikirannya, memberikan bimbingan serta kritik, saran,
masukan dan semangat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi.
6. Ibu Dr. Lindrianasari.,S.E.,M.Si.,Akt., selaku Penguji Utama yang telah
memberikan kritik, saran dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini.
7. Ibu Yenni Agustina,S.E., M.Sc.,Akt selaku Pembimbing Akademik penulis
atas kesediaanya membantu, mengarahkan dan memberi masukan selama
penulis menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lampung.
8. Seluruh Dosen beserta seluruh staf karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan juga
pembelajaran berharga bagi penulis selama menempuh program pendidikan
S1. Khususnya untuk staf karyawan di jurusan Akuntansi pak Sobari, mbak
Sri, mpok, mas Yana, mas Yono, mas Leman, yang telah banyak membantu
selama proses pengerjaan skripsi dan selalu berbagi canda tawa sehari-hari.
9. Orang tuaku tercinta, Bapak Salman dan Ibu Yani, dua sosok terhebat dalam
hidupku yang tanpa lelah selalu mendoakan, mengajari, menghibur,
mendukung, memberikan nasihat, mendengarkan keluh kesah, mengusap air
Bapak Ibu berikan kepadaku selama ini, dan untuk setiap kelancaran semua
urusanku yang kuyakin berkat restu dan doa Bapak dan Ibu yang didengar
oleh Allah.SWT. Semoga Bapak dan Ibu selalu diberikan kesehatan sehingga
dapat mendampingi anak bungsu kalian ini meraih sukses. Amin
10. Adikku Dwi Maulian Andarini dan Minan tersayang, terima kasih atas doa,
semangat dan kasih sayang kepadaku.
11. Sahabat-sahabat terbaikku, Putri Sari Dewi, Tina Sih Panglipur, Endang Sri
Lestari terima kasih telah hadir menjadi sahabat terbaik dikehidupanku.
Terimakasih untuk kasih sayang, doa, dukungan, semangatnya, dan cerita
terbaiknya.
12. Sahabat-sahabatku yang berjuang bersamadalammenyelesaikanskripsi ini,
Fransiska Jeni Oemar, Fadli Andika Putra, Pungki Hartandi, dan Yoga
Saputra. Terima kasih telah berjuang bersama-sama, untuk semua waktu yang
kita habiskan bersama itu sangat berarti dan indah.
13. Sahabat-sahabat tersayang yang selalu mendampingi, Jevri Afriza, Febi
Saputra, Maria Ansela, Feni Sagita, Indana L Anas, M Firas Zaky.
Trimakasih untuk semua dukungan, dan semangatnya. Canda tawa yang
kalian berikan sangat berarti.
14. Teman-teman akuntansi angkatan 2010, wahyu, marwanto, taufik, ferry,
latifa, marrlina, andiani, mareta, egy, bella, nevia, nanda, herlina, indra, teja,
satria, ari, ben, ayu, fina, hendrik, mahmud, nurul, wela, yobel, jirry, yogi,
sisi, dila, rica,yasni, sarif,dan teman-teman seperjuangan lainnya yang tidak
15. Teman – teman di BEM, anas, rama, nurul, tante nova, febi, jejen, sonia, yoga, sela, jepmon, firas, fera, dicky, beni, nay, fais, ido, dimas, bang fani,
dan yang paling kecil liza zahara. Terimakasihatasdukungan,
kebersamaandan rasa kekeluargaanselamaini.
16. Last but not least, untuk seseorang yang selalu ada, selalu mendampingi,
selalu memberi yang terbaik, selalu mengajarkan untuk sabar dan terus
belajar menjadi lebih baik. Terimakasih untuk dukungan, semangat, waktu,
perhatian, segala bantuan, segala doanya yang telah diberikan selama ini.
Terimakasih Rama Naldo Sanjaya.
17. Almamaterku tercinta.
18. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari meskipun telah berusaha semaksimal mungkin skripsi ini
masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, serta
penulis sangat mengharapkan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya
Bandar lampung, April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
II. LANDASAN TEORI ... 9
2.1 Teori Keagenan ... 9
2.2 Asimetri Informasi ... 10
2.3 Laporan Keuangan ... 11
2.4 Pergantian Chief Executif Officer... 13
2.5 Good Corporate Governance ... 14
2.5.1 Kepemilikan Manajerial ... 16
2.5.2 Anggota Dewan Komisaris ... 16
2.6 Kinerja Perusahaan... 18
2.7 Penelitian Terdahulu ... 19
2.8 Model Penelitian ... 24
2.8.1 Kerangka Berfikir... 24
2.9 Pengembangan Hipotesis ... 25
2.9.1 Pengaruh Pergantian Cheif Executif Officer terhadap Kinerja Perusahaan ... 25
2.9.2 Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kinerja Perusahaan ... 26
2.9.3 Pergantian Chief Executif Officer, Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan ... 27
III. METODE PENELITIAN ... 29
3.1 Jenis dan Sumber Data ... 29
3.2 Metode Peengumpulan Data ... 29
3.3 Variabel Penelitian ... 30
3.3.2 Variabel Dependen ... 30
3.3.3 Variabel Pemoderasi ... 31
3.4 Metode Analisis Data ... 32
3.4.1 Analisis Linier Berganda ... 32
3.4.2 Uji Asumsi Klasik ... 33
3.4.2.1 Uji Multikolinieritas ... 34
3.4.2.2 Uji Autokolerasi... 34
3.4.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 34
3.4.2.4 Uji Normalitas ... 35
3.4.2.5 Uji Kelayakan Model ... 36
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1 Deskripsi Objek Penelitia ... 38
4.2 Pengujian Analisis Data Statistik Deskriptif ... 39
4.3 Uji Asumsi Klasik ... 41
4.3.1 Uji Normalitas ... 41
4.3.2 Uji Heteroskedastisitas ... 42
4.3.3 Uji Mutlikolinearitas ... 43
4.3.4 Ujin Autokolerasi ... 44
4.4 Pengujian Hipotesis ... 46
4.4.1 Analisis Regresi Berganda ... 46
4.4.2 Pengujian Model Regresi ... 47
4.4.3 Analisis Koefisien Determinasi ... 48
4.4.4 Hasil Pengujian Hipotesis ... 48
V. SIMPULAN DAN SARAN ... 54
5.1 Simpulan ... 54
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 55
5.3 Saran ... 55
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Ringkassan Penelitian Terdahulu ... 20
2.2 Kerangka Berfikir... 25
4.1 Data Saampel Penelitian ... 38
4.2 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 40
4.3 Uji Multikolinearitas ... 44
4.4 Durbin Watson di Test ... 45
4.5 Hasil Uji DW ... 45
4.6 Annova ... 47
4.7 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi ... 48
4.8.1 Regresi Linier Berganda (H1) ... 49
4.8.2 Regresi Linier Berganda (H2) ... 50
4.8.3 Regresi Linier Berganda (H3) ... 50
4.9 Regresi Linier Berganda (Moderasi) ... 52
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Nama Perusahaan Sampel
Lampiran 2 Uji Statistik Deskriptif
Lampiran 3 Uji Multikolinearitas
Lampiran 4 Durbin Watson Test
Lampiran 5 ANNOVA
Lampiran 6 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi
Lampiran 7 Regresi Linier Berganda
Lampiran 8 Regresi Linier Berganda (Variabel Moderasi)
Lampiran 9 Regresi Linier Berganda (Variabel Moderasi)
Lampiran 10 Uji Normalitas
Lampiran 11 Uji Heteroskedastisitas
Lampiran 12 Histogram
Lampiran 13 Return On Asset
Lampiran 14 Pergantian CEO
Lampiran 15 Proporsi Komisaris Independen
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
4.1 Uji Normalitas ... 42
1
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tata kelola perusahaan yang baik merupakan suatu tonggak bagi perusahaan
dalam menjalankan kepentingan perusahaan. Mulai dari perencanaan awal
perusahaan sampai pada tahap pencapaian. Tata kelola yang dimiliki perusahaan
haruslah memiliki kerangka yang kuat. Bagi perusahaan besar atau kecil memiliki
karyawan yang berkompeten dalam bidangnya merupakan suatu langkah awal
agar perusahaan dapat bersaing dalam dunia bisnis. Salah satu bagian terpenting
dalam menjalankan perusahaan yaitu tim manajerial. Perusahaan harus memiliki
tim manajer yang memiliki visi, misi, strategi pengembangan perusahaan yang
matang dan dapat bertahan dalam persaingan bisnis. Di negara maju yang telah
memiliki tekhnologi yang canggih sekalipun, posisi chief executive officer
masihlah sangat berpengaruh (secara positif maupun negatif) terhadap kinerja
perusahaan. Pergantian chief executive officer menjadi salah satu isu yang penting
bagi perusahaan. Pergantian CEO dapat terjadi akibat buruknya kinerja chief
executive officer dalam menjalankan perusahaan sehingga perusahaan tidak dapat
menghasilkan kinerja yang memuaskan, selain itu pergantian chief executive
officer juga dapat terjadi akibat masa jabat chief executive officer yang sudah
habis.
Penunjukan manajer oleh para pemegang saham untuk menjalankan perusahaan
2
tidak singkronnya antara dua kepentingan, yaitu kepentingan perusahaan dan
kepentingan pribadi manajer dengan kewenangan yang dimilikinya pihak manajer
dapat hanya mementingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan kepentingan
pemegang saham. Hal ini sering terjadi karena ketidaksamaan informasi yang
diterima oleh kedua belah pihak.Manajer berkewajiban memberikan informasi
kepada pemegang saham akan kondisi sebenarnya dari perusahaan yang
dijalankan, namun informasi yang disampaikan terkadang berbeda dengan
kenyataan sebenarnya yang mengakibatkan para investor salah mengambil
keputusan. Manajer juga bertanggung jawab akan baik buruk atau besar kecilnya
perusahaan yang dipercayakan kepadanya dan akan dipertanggungjawabkan di
depan para pemegang saham. Pemegang saham berhak memecat manajer yang
memiliki kinerja rendah.
Pergantian chief executive officer suatu perusahaan diharapkan akan merubah
juga visi,misi dan strategi yang akan dijalankan oleh perusahaan. Setiap
pergantian chief executive officerdiharapkan dapat menyegarkan kembali situasi
dalam perusahaan. Meginson et al. (1994) menyimpulkan bahwa pergantian
eksekutif akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan mereka melaporkan
peningkatan efisensi kinerja secara signifkan ternyata hanya terjadi pada
perusahaan yang melakukan pergantian pada top-manajernya.
Salah satu contoh perusahaan internasional yang melakukan pergantian chief
executive officer dengan tidak tepat padahal perusahaan tersebut memiliki potensi
untuk bersaing dengan baik dalam pasar.Perusahaan elektronik Apple melakukan
pergantian chief executive officerpada tahun 2011 menggantikan chief executive
officer lamanya. Pergantian yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan
3
chief executive officer tersebut malah membuat perusahaan rugi besar dan tidak
dapat bersaing. Kegagalan pergantian chief executive officer yang dilakukan
dibuktiakan dengan survey yang dilakukan perusahaan pada 32 analis, 1 suara
menyarankan perusahaan harus di jual. Sedangkan 25 suara lainnya menyarankan
perusahaan harus benar-benar dijual dan sisanya menyarankan pertimbangan
dijual dan sisa suara menyarankan untuk tidak dijual (portal.paseban.com.dirilis
15 Mei 2013). Di dalam negeri pergantian chief executive officer juga terjadi pada
perusahaan telekomunikasi Indosat. Pergantian chief executive officer yang terjadi
pada 1 November 2012 tersebut berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan.
Hal itu dibuktikan dengan perusahaan yang mengalami kerugian pada penutupan
laporan keuangan tahun 2013. Pergantian chief executive officer indosat yang
diikuti dengan penurunan kinerja internal dan eksternal perusahaan sehingga
mengganggu berjalannya perusahaan secara keseluruhan (Kompas.com. dirilis 2
April 2014).
Terdapat beberapa penelitian yang membahas tentang hubungan pergantian chief
executive officer dan kinerja perusahaan. Barberis et al. (1996) menyatakan bahwa
kompetensi chief executive officermerupakan faktor yang sangat penting dalam
meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Namun penelitian yang berbeda dilakukan oleh Hannan dan Freman (1997) yang
menemukan bahwa sesungguhnya perusahaan terutama perusahaan besar telah
memiliki sistem yang memungkinkan perusahaan tersebut berjalan dengan
sendirinya sehingga perubahan atau pergantian kepemimpinan tidak akan
berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Pfeffer dan Davis Blake (1986) dalam
Novi (2010) menemukan bahwa pengaruh yang akan muncul dari pergantian
4
muncul ketika terjadi proses penggantian manajer yang memiliki kinerja yang
tidak baik.
Masalah corporate governance muncul karena adanya pemisahan antara
kepemilikan dan pengendali perusahaan. Dengan adanya tata kelola perusahaan
yang baik (good corporate governance) seperti adanya monitoring tentang
kepemilikan saham manajemen dalam perusahaan dan peran monitoring yang
dilakukan dewan independen diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali hubungan pergantian chief
executive officerdengan kinerja perusahaan transportasiyang terdaftar
diBursaEfek Indonesia. Adanya hasil yang beragam mengenai penelitian tentang
hubungan pergantian CEO dengan kinerja perusahaan mendorong peneliti untuk
memasukkan praktikcorporate governance sebagai variabel pemoderasi.
Dengan demikian penggunaan good corporate governance sebagai variable
moderating dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkuat hubungan
pergantian chief executive officer dengan kinerja perusahaan.Dalam penelitian ini,
indikator corporate governance yang digunakan adalah kepemilikan manajerial,
dan proporsi komisaris independen.
Beberapa bukti empiris yang menunjukkan bahwa pelaksanaan good corporate
governance dapat memperbaiki kinerja perusahaan antra lain. Ashbaugh, et al.
(2004) terhadap 1500 perusahaandi Amerika Serikat, menunjukkan bahwa
perusahaan-perusahaan yangmelaksanakan good corporate governance
mengalami peningkatan peringkat kredit yang signifikan. Alexakis et al. (2006)
dalam Novi (2010) terhadap perusahaan-perusahaan yang listing di pasar modal
5
corporate governance secara baik mengalami peningkatan rata-rata return saham,
dan mengalami penurunanrisiko yang signifikan. Dobetz, et al. (2003) terhadap
perusahaan-perusahaan yang melaksanakan good corporate governance
mengalami peningkatan expected stock return yang signifikan.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Novi
(2010). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian
yang dilakukanoleh Novi (2010) menggunakankomponengood corporate
governanceyaitukepemilikanmanajerialdankepemilikaninstitusionalsedangkandala
mpenelitianini menggunakan dua komponen good corporate governance yaitu
kepemilikan manajerial, dan proporsi dewan komisaris.
Penggunaankepemilikanmanajerialdanproporsidewankomisarisdiharapkandapatm
enghasilkanhasil yang lebihakuratdanmendapatkanpengembangan yang
lebihbaikdalammencaripengaruhpergantianchief executive
officerterhadapkinerjadengangood corporate
governancesebagaivariabelpemoderasi. Populasi yang dipakai adalah perusahaan
Transportasi.
Alasanpenulismengambilperusahaantransportasisebagaipopulasikarenadiperusaha
antransportasitingkatpergantianchief executive officercukuptinggi.
Berdasarkan alasan diatas peneliti tertarik untuk mengangkat penelitian dengan
judul “Pengaruh Pergantian Chief Executive Officer Terhadap Kinerja
6
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut.
1. Apakah pergantian chief executive officerberpengaruh terhadap kinerja
perusahaan?
2. Apakah good corporate governance yang diprosikan dengan kepemilikan
menejerial berpengaruh terhadap kinerja perusahaan?
3. Apakah good corporate governance yang diprosikan dengan proporsi
komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja perusahaan?
4. Apakah good corporate governance yang diprosikan dengan kepemilikan
menejerial berpengaruh terhadap hubungan pergantian chief executive
officerdengan kinerja perusahaan?
5. Apakah good corporate governance yang diprosikan dengan proporsi
komisaris independen berpengaruh terhadap hubungan pergantian chief
7
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan penelitian diatas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Memperoleh bukti empiris pengaruh pergantian chief executive officer
dengan kinerja perusahaan.
2. Memperoleh bukti empiris pengaruh good corporate governance yang
diprosikan dengan kepemilikan menejerial berpengaruh terhadap kinerja
perusahaan.
3. Memperoleh bukti empiris pengaruh good corporate governance yang
diprosikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh terhadap
kinerja perusahaan.
4. Memperoleh bukti empiris pengaruh good corporate governance yang
diprosikan dengan kepemilikan menejerial berpengaruh terhadap
hubungan pergantian chief executive officer dengan kinerja perusahaan.
5. Memperoleh bukti empiris pengaruh good corporate governance yang diprosikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh terhadap
8
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya
dan meningkatkan perkembangan teori-teori dalam penelitian ini, yaitu teori
keagenan.
2. Manfaat praktisi
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan para pemegang
saham dalam menganalisa perusahaan yang akan dijadikan tempat investasi agar
9
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 Teori Keagenan
Perspektif yang digunakan dalam teori keagenan merupakan bagian dasar dari
pemahaman corporate governance. Masalah konflik agensi biasanya muncul
karena pihak pemilik perusahaan tidak berperan aktif dalam manajemen
perusahaan. Pihak principal biasanya mempekerjakan manajer profesional untuk
menjalankan perusahaan yang sesuai dengan keinginan dan keuntungan pihak
pemilik perusahaan, namun kekuasaan yang dipegang oleh pihak manajer dapat
menimbulkan masalah yaitu tidak bertemunya keinginan pemegang saham dan
keinginan pemilik perusahaan. Jensen and Meckling (1976) menggambarkan
hubungan agency sebagai suatu kontrak dibawah satu atau lebih (principal) yang
melibatkan orang lain (agent) untuk melaksanakan beberapa layanan bagi mereka
dengan melibatkan pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada
agent. Teori keagenan ditekankan untuk menyelesaikan dua masalah pokok dalam
hubungan keagenan. Pertama, yaitu masalah-masalah keagenan yang timbul
karena keinginan atau tujuan yang berbeda dalam hubungan keagenan dan
merupakan suatu hal yang sulit bagi principal untuk benar-benar memperivikasi
tentang apa yang dilakukan agen.
Agency theoryberasumsi bahwa masing-masing individu termotivasi oleh
kepentingan sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara
10
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain
dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi dan
bonus. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena principal tidak
dapat memonitoring aktivitas chief executive officersehari-hari untuk memastikan
chief executive officerbekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham.
Corporate Governance yang merupakan konsep yang didasari oleh teori keagenan
berfungsi untuk meyakini para investor untuk mempercayakan investasinya
kepada manajer dalam suatu perusagaan tersebut. Dengan good corporate
governance diharapkan manajer dapat benar-benar memberikan keuntungan bagi
perusahaan yang akan mensejahterakan para investor maupun masyarakan yang
terlibat dalam perusahaan tersebut.
2.2 Asimetri Informasi
Asimetri informasi yaitu keadaan dimana pihak agen (manajer) lebih mengetahui
keadaan internal dan prospek masa depan perusahaan dibandingkan pemilik
saham atau pun stakeholders lainnya. Terdapat dua jenis asimetri informasi yaitu
,adverse selection dan moral hazard (Novi,2010).
1. Adverse selection
Adverse selection adalah jenis informasi dimana satu pihak atau lebih yang
melangsungkan/ akan melangsungkan transaksi usaha, atau transaksi usaha
potensial memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain. Adverse selection terjadi
karena beberapa orang seperti manajer perusahaan dan para pihak dalam lainnya
lebih mengetahui kondisi kini dan prospek ke depan suatu perusahaan dari pada
11
2. Moral hazard
Moral hazzard adalah jenis asimetri informasi dimana satu pihak atau lebih yang
melangsungkan atau akan melangsungkan transaksi ussaha atau transaksi usaha
potensional dapat mengamati tindakan-tindakan mereka dalam penyelesaian
transaksi-transaksi mereka sedangkan pihak-pihak laintidak.
Terjadinya adverse selection dan morall hazard dapat menimbulkan masalah
dalam suatu perasaan karena pihak manajer dapat memanipulasi data kinerja
perusahaan dan pemakaian sumber daya perusahaan disaat laporan
kepadastakeholders.
2.3 Laporan Keuangan
Menurut PSAK revisi 2013 laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur
dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan
adalah memberikan informasi mengennai posisi keuangan, kinerja keuangan, arus
kas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam
pembuatan keputusan ekonomi.
Laporan keuangan dapat dengan jelas memperlihatkan gambaran kondisi
keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan
operasi normal perusahaan akan memberikan informasi keuangan yang berguna
bagi entitas-entitas di dalam perusahaan itu sendiri maupun entitas-entitas lain di
luar perusahaan. Berikut merupakan beberapa definisi dari laporan keuangan menurut
beberapa ahli, antara lain :
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2007, hal 7) :
” Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan
12
posisi keuangan (yang disajikan dalam berbagai cara misalnya laporan arus kas, atau
laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan
bagian integral dari laporan keuangan.”
Berdasarkan definisi-definisi yang tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa suatu laporan keuangan berfungsi untuk:
a. Mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan pada kurun waktu tertentu
melalui laporan historis yang secara sistematis memberikan informasi
menyeluruh mengenai aktiva, hutang serta modal yang dikenal dengan nama
Neraca (Balance Sheet).
b. Mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan pada kurun waktu tertentu
melalui laporan historis yang secara sistematis memberikan informasi
menyeluruh mengenai penghasilan, biaya serta laba atau rugi yang diperoleh
yang dikenal dengan nama Laporan Laba Rugi (Income Statement).
c. Mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan pada kurun waktu tertentu
melalui laporan historis yang secara sistematis memberikan informasi
menyeluruh mengenai aktivitas investasi, pendanaan dan operasi selama
periode pelaporan, yang dikenal dengan nama Laporan Perubahan Ekuitas
(Statement of Owners Equity atau Statement of Stockholders Equity).
d. Setiap laporan tersebut menyediakan informasi yang berbeda antara yang satu
dengan yang lainnya namun saling berkaitan karena mencerminkan aspek
13
2.4 Pergantian Chief Executif Officer (CEO)
Pergantian kepemilikan dalam suatu perusahaan biasanya akan diikuti oleh
pergantian visi, misi, dan strategi bisnis perusahaan tersebut yang sering
menimbulkan pergantian struktur organisasi dalam perusahaan tersebut. Hal ini
pun akan diikuti dengan pergantian chief executive officer dalam perusahaan,
pergantian kepengurusan organisasi dalam perusahaan diharapkan dapat
meningkatkan kinerja perusahaan.
Barberis, et al (1996) menyatakan bahwa kompetensi chief executive officer
sangat berpengaruh terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan. Meginson et
al. (1994) juga menyimpulkan bahwa pergantian eksekutif akan mempengaruhi
kinerja perusahaan dan mereka melaporkan peningkatan kinerja secara signifkan
ternyata hanya terjadi pada perusahaan yang melakukan pergantian pada
top-manajernya.
Dalam hal ini Lindrianasari (2010) menyatakan bahwa ada teori yang dapat
menjelaskan pergantian CEO, yaitu:
1. Teori Equilibirium Organisasional
Teori ini diperkenalkan oleh March and Simon (1958) dalam Lindrianasari,
(2010) menyatakan bahwa semakin lama masa kerja anggota organisasi,
semakin kecil kemenarikan atau ide-ide inovatif yang mereka hasilkan
dibandingkan pada saat situasi baru (Helmich, 1977) dalam Lindrianasari.
Penelitian yang menggunakan teori ini dalam menelaskan pergantian chief
executive officermerupakan keputusan penting bagi organisasi dengan
14
dilakukan dengan mempertimbangkan apakah eksekutif yang baru tersebut
berasal dari dalam atau luar perusahaan. Organisasi yang menyewa manajer
puncak yang bersal dari luar organisasi menganut aliran pemikiran perspektif
yang lebih luas dan cenderung untuk berubah.
2. Upper-Echelon Theory
Menurut Upper-Echelon Theory bahwa karakteristik latar belakang manajerial
menjelaskan pilihan strategi, dan konsekuensinya, berpengaruh terhadap
kinerja perusahaan Hambrick and Mason (1984) dalam Lindrianasari (2010).
Teori ini menawarkan bahwa eksekutif puncak dapat mempengaruhi luaran
organisasi mereka. Pilihan terhadap strategi dan tingkat kinerja perusahaan
merefleksikan karakteristik manajer Hambrick and Mason (1987) dalam
Lindrianasari (2010). Selanjutnya, Hambrick and Mason (1987) dalam
Lindrianasari (2010) berargumen bahwa upper-echelon theory bersifat
kondisional terhadap bagaimana keberadaan direksi manajerial. Chief
executive officer perusahaan tidak dapat mempengaruhi kekayaan pemegang
saham.
2.5 Good Corporate Governance
Forum of good corporate governance (2001) merumuskan tentang corporate
governance merupakan suatu tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan
antara para partisipan dalam perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja
perusahaan. Tujuan good corporate governance adalah meningkatkan nilai
15
Menurut Cadbury dalam Sutepi (2011)mengatakan bahwa Good Corporate
Governance adalah mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar tercapai
keseimbangan antara kekuatan dan kewenangan perusahaan. Adapun Center for
European Policy Study (CEPS) dalam Sutepi (2011) memformulasikan good
corporate governance adalah seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak, proses
dan pengendalian baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan.
Good corporate governance yang didasari dari teori keagenan diharapkan dapat
menjadi satu landasan bagi investor untuk mempercayakan investasinya kepada
perusahaan yang akan dijalankan oleh manajer dan akan mendapatkan return yang
lebih dari apa yang telah diinvestasikan.
Keputusan Mentri BUMN No. KEP-117/M-BUMN/2002 pasal 1 menyatakan
bahwa suatu struktur dan proses yang digunakan oleh organ BUMN untuk
meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan
nilai pemegang sahan dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholders lainnya, berdasarkan peraturan dan nilai etika. Menurut
keputusan Mentri No. KEP-117/M-BUMN/2002 good corporate governance
ditinjau dari sisi proses menyangkut penegakan akan prinsip-prinsipnya yang
terdiri atas transparasi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan
kewajaran. Sedangkan good corporate governance dilihat dari sisi pengendalian
terdiri atas kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, peran komite audit
dan anggota dewan komisaris. Didalam penelitian ini komponenen good
corporate governance yang digunakan adalah kepemilikan manajerial dan
16
2.5.1 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan saham manajerial dapat membantu penyatuan kepentinganantara
pemegang saham dengan manajer, semakin meningkat proporsi kepemilikan
saham manajerial maka semakin baik kinerja perusahaan. Pada perusahaan
dengan kepemilikan manajerial, manajer yang sekaligus pemegang saham
tentunya akan menselaraskan kepentingannya sebagai manajer dengan
kepentingannya sebagai pemegang saham. Sementara dalam perusahaan tanpa
kepemilikan manajerial, manajer yang bukan pemegang saham kemungkinan
hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
Menurut Morck (1988) dalam Novi (2010) menyatakan bahwa terdapat hubungan
positif antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan(Tobin’s Q) pada
level antara 0% -5%, dan berhubungan negatif pada level 5%-25%. Mereka
menyatakan bahwa terdapat hipotesis pemusatan kepentingan akan terus terjadi
ketika level kepemilikan manajerial lebih kecil dari 5% dan lebih besar dari 25%.
Pada saat level kepemilikan manajerial lebih besar dari 5%-25% hubungan negatif
antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan dijelaskan melalui
entrenchment hypotesis. Pada level kepemilikan namajerialantara 5%-25%
manfaat privat yang diperoleh manajer (agen) melebihi kos yang dikeluarkan
akibat kerugian dari keputusan-keputusan yang tidak memaksimalkan nilai
perusahaan.
2.5.2 Anggota Dewan Komisaris
Dewan komisaris adalah pihak yang berperan penting dalam menyediakan laporan
keuangan perusahaan yang reliable. Keberadaan dewan komisaris mempunyai
pengaruh terhadap kualitas laporan keuangan yang dipakai sebagai ukuran kinerja
17
pada suatu perusahaan yang memiliki peran ganda yaitu peran memonitoring dan
pengesahan. Fama dan Jensen, (1983) dalam Kusumaning (2004) menyatakan
bahwa pengendalian keputusan yang efektif merupakan fungsi positif dari rasio
dewan komisaris eksternal dengan total keanggotaan dewan komisaris. Tujuan
dari aktivitas pengawasan oleh dewan komisaris eksternal adalah untuk
memberikan signal kepada pasar mengenai reputasi aktivitas pengawasan yang
efektif di dalam perusahaan.
Dewan komisaris dapat melakukan tugasnya sendiri maupun dengan
mendelegasikan kewenangan pada komite yang bertanggung jawab pada dewan
komisaris. Dewan komisaris harus memantau efektifitas praktek pengelolaan
korporasi yang baik (good corporate governance)yang diterapkan perseorangan
bila perlu melakukan penyesuaian.
Proporsi dewan komisaris harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan
pengambilan keputusan yang efektif, tepat dan cepat serta dapat bertindak secara
independen. Menurut Peraturan Pencatatan nomor IA tentang Ketentuan Umum
Pencatatan Efek bersifat Ekuitas di Bursa yaitu jumlah komisaris independen
minimum 30%. Dalam rangka menjalankan good corporate governance,
perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen yang jumlahnya
proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan pemegang
saham penggendali dengan ketentuan jumlah komisaris independen
18
2.6 Kinerja Perusahaan
Pengukuran terhadap kinerja perusahaan dilakukan untuk mengetaui apakah
kinerja dari suatu perusahaan tersebut baik atau buruk. Kinerja perusahaan secara
umum mengukur kefektifan dan keefesienan perusahaan. Jika dikaitkan dengan
good corporate governance, maka good corporate governance adalah penggerak
kinerja perusahaan. Berarti penegakan GCG dapat mendorong kinerja. Kinerja
perusahaan dalam penelitian ini dihitung dengan nilai Return On Asset. Return on
Asset (ROA) juga sering disebut Return on Investment (ROI) merupakan rasio
profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan di dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang
dimilikinya.Menurut Kasmir (2012) ROA merupakan rasio yang
menunjukkanhasil (return)atasjumlahaktiva yang digunakandalamperusahaan.
Secara matematis ROA dapat diformulasikan sebagai berikut:
ROA= �� � � � � ��� ( ����)
� ���
Keterangan :
EAIT = Net Income After Tax (laba bersih sesudah bunga dan pajak)
Ave. Total Asset = Rata rata total aktiva (asssets) yang diperlukan dari rata- rata
total aset awal tahun dan akhir tahun.
Return on Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas, yaitu rasio yang
menunjukkan seberapa efektifnya perusahaan beroperasi sehingga menghasilkan
keuntungan atau laba perusahaan. Return on Asset (ROA) juga merupakan salah
satu rasio yang mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Return on Asset
19
dari operasional perusahaan dengan menggunakan seluruh kekayaannya. Tinggi
rendahnya Return on Asset (ROA) tergantung pada pengelolaan asset perusahaan
oleh manajemen yang menggambarkan efisiensi dari operasional perusahaan.
Semakin tinggi Return on Asset (ROA) semakin efisien operasional perusahaan
dan sebaliknya, rendahnya Return on Asset (ROA) dapat disebabkan oleh
banyaknya asset perusahaan yang menganggur, investasi dalam persediaan yang
terlalu banyak, kelebihan uang kertas, aktiva tetap beroperasi dibawah normal dan
lain-lain (Kasmir, 2012).
2.7 Penelitian Terdahulu
Hasil dari beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan acuan dalam
pergantian chief executive officer, Good Corporate Governance dan kinerja
perusahaan, antara lain penelitian Zaroni (2004), Firmansyah (2005), Walandani
(2005), Purwantini (2007), Herawaty (2008), Sevi (2012). Beberapa penelitian
yang mengungkapkan kesimpulan positif antara lain, Zaroni (2004) meneliti
tentang pengaruh kpemilikan pemerintah, kepemilikan asing dan pergantian chief
executive officer terhadap kinerja BUMN dan menghasilkan bahwa pergantian
chief executive officer berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan setelah
diprivatisasi namun kepemilikan pemerintah dan kepemilikan asing berpengaruh
negatif. Herawaty (2008) meneliti peran karakter good corporate governance
sebagai variabel moderating dari pengaruh earning manajemen terhadap nilai
perusahaan menghasilkkan good corporate governance berpengaruh signifikan
terhadap nilai perusahaan. Sevi (2012) menganalisis pengaruh pergantian chief
executive officerterhadap praktek manajemen laba dengan hasil pergantian chief
20
Selain penelitian di atas, terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan hasil
negatif terhadap hubungan antara pergantian chief executive officer, Good
Corporate Governance dan kinerja perusahaan yaitu, Firmansyah (2005) menguji
hubungan pergantian chief executive officerdan kinerja perusahaan menunjukkan
hasil pergantian chief executive officer justru berpengaruh negatif terhadap kinerja
perusahaan. Walandani (2005) meneliti tentang asimetri informasi, manajemen
laba dan indikator good corporate governance terhadap kinerja perusahaan
menghasilkan jumlah dewan direksi dan proporsi dewan komisaris independen
tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Kepemilikan institusional tidak
berpengaruh signifikan dengan kinerja perusahaan. Purwantini (2007) menguji
hubungan mekanisme good corporate governance terhadap nilai perusahaan dan
kinerja perusahaan dan menghasilkan independen dewan komisaris berpengaruh
negatif terhadap nilai perusahaan dan kepemilikan institusional mempengaruhi
secara negatif terhadap nilai perusahaan.
Berikut adalah ringkasan dari penelitian terdahulu mengenai pergantian chief
executive officer, Good Corporate Governance dan kinerja perusahaan.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
24
2.8 Model Penelitian
2.8.1 Kerangka Berfikir
Penelitian ini akan menguji tentang bagaimana bagaimana pengaruh good
corporate governance pada hubungan pergantian chief executive officer terhadap
kinerja perusahaan. Konflik yang sering terjadi pada perusahaan tentang beda
kepentingan antara pihak manajer (agent) dengan pemegang saham (principal)
yang sama-sama berkeinginan untuk mendapatkan utilitas pribadi sebesar
besarnya. Berbagai macam motivasi manajemen laba yang dilakukan pihak
manajer dalam mendisain laporan keuangan perusahaan demi pertanggung
jawaban kepada pemegang saham yang didasari pada teori agensi. Berdasarkan
hal tersebut pergantian chief executive officer diharapkan dapat meningkatkan
kinerja perusahaan. Pergantian chief executive officer diharapkan dapat membawa
perubahan visi,misi dan strategi perusahaan dalam mencapai kinerja yang baik.
Good Corporate Governance merupakan tata kelola perusahaan yang
diperuntukkan untuk hubungan yang baik antara agen dan principal dalam
memaksimalkan kinerja perusahaan. Menurut cadbury good corporate
governance menggambarkan dan mengendalikan perusahaan agar tercapai
keseimbangan antara kekuatan dan kewenangan perusahaan. Maka dengan itu
penggunakaan corporate governance sebagai variable pemoderasi dalam
penelitian ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pergantian chief
executive officer dengan kinerja perusahaan.
Dengan kerangka berfikir seperti diatas, maka konsep penelitian ini adaalah
25
Tabel 2.2 Kerangka Berfikir
2.9 Pengembangan Hipotesis
2.9.1 Pengaruh Pergantian Chief executive officerterhadap Kinerja Perusahaan
Pergantian CEO suatu perusahaan kemungkinan akan diikuti dengan redefinisi
misi, visi, dan strategi bisnis, sehingga menuntut adanya restrukturisasi organisasi
yang sesuai dengan formulasi misi, visi, dan strategi yang baru tersebut.
Penggantian ini seharusnya mampu memicu peningkatan kinerja perusahaan
tersebut. Barberis, et al (1996) menyatakan bahwa kompetensi chief executive
officer sangat berpengaruh terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan.
Meginson et al. (1994) juga menyimpulkan bahwa pergantian eksekutif akan
mempengaruhi kinerja perusahaan dan mereka melaporkan peningkatan efisensi
kinerja secara signifkan ternyata hanya terjadi pada perusahaan yang melakukan
pergantian pada top-manajernya.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Zaroni (2004) yang menghasilkan
peningkatan kinerja perusahaan dipengaruhi oleh pergantian chief executive
KEPEMILIKAN MANAJERIAL
PERGANTIAN CHIEF
EXECUTIVE OFFICE H 1 KINERJA PERUSAHAAN
H
2 H
3
PROPORSI DEWAN
26
officer. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
H1 : Pergantian Chief Executive Officer berpengaruh positif pada Kinerja
Perusahaan
2.9.2 Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kinerja Perusahaan
Corporate governance merupakan sistem tata kelola perusahaan yang didasarkan
pada teori keagenan. Corporate Governance merupakan suatu proses dan struktur
yang digunakan oleh organ perusahaan (pemegang saham, komisaris, dan direksi)
untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna
mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berdasarkan peraturan
perundang-undangan dan nilai-nilai etika. Manfaat langsung dari corporate
governance dapat dilihat dari harga saham yang bersedia dibayar oleh investor.
Investor lebih tertarik membayar mahal saham perusahaan yang memiliki
corporate governance yang baik dibandingkan dengan perusahaan yang
penerapan corporate governance yang buruk.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Purwantini (2007) menyatakan good
corporate governance berpengaruh positif dengan nilai perusahaan. penelitian
yang dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel seperti independensi
dewan komisaris, kepemilikan institusional, struktur kepemilikan terkonsepsi,
nilai perusahaan dan kinerja keuangan yang menghasilkan komponen-komponen
good corporate governance berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan secara
langsung. Melalui kepemilikan manajerial, dan proporsi komisaris independen
27
terhadap kinerja perusahaan. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:
H2 : Corporate governance yang diproksikan dengan proporsi komisaris
independen berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
H3 : Corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
2.9.3 Pergantian Chief Executive Officer, Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan
Sejak tahun 2000 Bapepam bersama pihak-pihak terkait trus aktif dalam
mendorong terlaksananya prinsip-prinsip corporate governance dalam
peningkapan kinerja perusahaan. Pergantian chief executive officer yang dilakukan
oleh perusahaan yang diharapkan juga dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Dengan adanya corporate governance (kepemilikan manajerial dan proporsi
komisaris independen) yang baik diharapkan dapat menjadi suatu garis pembatas
bagi pihak manajer dalam menjalankan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan
profit sebesar-besarnya untuk kepentingan stakeholders.
Teori keagenan menyatakan bahwa bahwa kinerja perusahaan dipengaruhi oleh
adanya konflik agen dan principal yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk
mencapai tingkat kemakmuran yang dikehendaki. Konflik kepentingan dapat
diminimumkan melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk
menyelaraskan berbagai kepentingan. Laporan kinerja perusahaan yang baik akan
meningkatkan nilai perusahaan. Menurut Jensen dan Meckling 1976 (dalam Novi,
28
kepemilikan saham perusahaan oleh manajemmen, sehingga kepentingan pemilik
akan dapat disejajarkan dengan kepentingan manajer.
Hapsoro (2006) mengatakan dewan komisaris merupakan "the ulitimate center of
control" semakin besar jumlah komisaris fungsi servis dan kontrol akan semakin
baik karena akan semakin banyak keahlian dalam memberikan nasehat yang
bernilai dalam strategi dan penyelenggaraan perusahaan.
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial
berpengaruh positif pada hubungan pergantian chief executive officerterhadap
kinerja perusahaan.
H5: Corporate governance yang diproksikan dengan proporsi komisaris
independen berpengaruh positif pada hubungan pergantian chief executive
29
Bab III Metode Penelitian
3.1. Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data
sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai
sumber yang diteliti. Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti
Biro Pusat Statistik, buku, laporan, jurnal dan lain-lain. Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan Sumber Data dari IDX.co.id
3.2. Metode Pengumpulan Data
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan transportasi yang terdapat di BEI
dari tahun 2010 sampai 2012.
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling
yaitu pengambilan sampel menggunakan beberapa criteria, yaitu:
1. Perusahaan transportasi terdaftar di BEI yang melakukan pergantian
CEO selama periode 2010 sampai 2012.
2. Perusahaan memiliki variable-variabel lengkap yang digunakan dalam
penelitian.
3. Menerbitkan laporan keuangan tahunan yang berahir pada tanggal 31
30
Penelitian dilakukan selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 2010 sampai 2012
untuk mendapatkan melihat apakah pergantian CEO yang dilakukan oleh
perusahaan berpengaruh kepada kinerja perusahaan dengan melihat laporan
keuangan sampai tahun terahir yaitu tahun 2012. Pergantian CEO dalam
perusahaan dilihat dari ada atau tidaknya perubahan nama pimpinan pada laporan
keuangan pada tahun pergantian dan sebelum pergantian.
3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Variable Independen
Variable independen adalah variable yang tidak dipengaruhi oleh variable lainnya.
Di dalam penelitian ini variable independennya adalah pergantian CEO yang
dilihat dari ada tidaknya pergantian chief executive officerpada perusahaan
transportasi yang listing dari tahun 2010 sampai 2012. Dan laporan keuangan
yang digunakan adalah laporan keuangan tahun 2011-2013.
3.3.2 Variabel Dependen
Variabele dependen adalah variable yang dipengaruhi oleh variable lain. Variable
dependen dalam penelitian ini adalah kinerja perusahaan yang diukur dengan
Return on Aseet.Return on Asset (ROA) juga sering disebut Return on Investment
(ROI) merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektifitas
perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva
yang dimilikinya.Menurut Kasmir (2012) ROA merupakan rasio yang
menunjukkanhasil (return)atasjumlahaktiva yang digunakandalamperusahaan.
Secara matematis ROA dapat diformulasikan sebagai berikut:
ROA= �� � � � � ��� ( ����)
31
Keterangan :
EAIT = Net Income After Tax (laba bersih sesudah bunga dan pajak)
Ave. Total Asset = Rata rata total aktiva (asssets) yang diperlukan dari rata- rata total aset awal tahun dan akhir tahun.
Return on Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas, yaitu rasio yang
menunjukkan seberapa efektifnya perusahaan beroperasi sehingga menghasilkan
keuntungan atau laba perusahaan. Return on Asset (ROA) juga merupakan salah
satu rasio yang mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Return on Asset
(ROA) digunakan untuk mengetahui besarnya laba bersih yang dapat diperoleh
dari operasional perusahaan dengan menggunakan seluruh kekayaannya. Tinggi
rendahnya Return on Asset (ROA) tergantung pada pengelolaan asset perusahaan
oleh manajemen yang menggambarkan efisiensi dari operasional perusahaan.
Semakin tinggi Return on Asset (ROA) semakin efisien operasional perusahaan
dan sebaliknya, rendahnya Return on Asset (ROA) dapat disebabkan oleh
banyaknya asset perusahaan yang menganggur, investasi dalam persediaan yang
terlalu banyak, kelebihan uang kertas, aktiva tetap beroperasi dibawah normal dan
lain-lain (Kasmir, 2012).
3.3.3 Variabel Pemoderasi
Variabel pemoderasi adalah variabel yang menghubungkan antara variabel
independen dengan variabel dependen. Variabel pemoderasi dalam penelitian ini
adalah corporate governance yang diukur dengan proksi kepemilikan
manajerial,dan proporsi komisaris independen.
1. Kepemilikan Manajerial diukur dengan presentase kepemilikan saham
oleh dewaan direksi dan dewan komisaris dibagi jumlah saham yang
32
2. Proporsi komisaris independen diukur dengan presentase jumlah komisaris
independen dibagi total jumlah anggota dewan komisaris.
3.4 Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis faktor, statistik
deskriptif, dan analisis regresi. Statistik deskriptif memberikan gambaran tentang
distribusi frekuensi variabel-variabel penelitian, nilai maksimum, nilai minimum,
rata-rata danstandar deviasi, Analisis liner berganda digunakan untuk mengukur
kekuatan variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013)
3.4.1Analisis Linier Berganda
Analisis liner berganda digunakan untuk mengukur kekuatan variabel independen
terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013).Penelitian ini dilakukan untuk
melihat keterikatan anatara variabel dependen dengan variabel independen
melelui variabel pemoderasi. Variabel pemoderasi akan memperkuat hubungan
antara variabel dependen dengan variabel independen. Dalam penelitian ini uji
regresi yang digunakan adalah uji nilai selisih mutlak.
Metode regresi linier berganda dalam penelitian ini , yaitu:
Model I:
Q = a + �1��� + e
Model II:
Q = a + �1�1 + e
Model III:
Q = a + �1�2 + e
Model III:
33
Moedel V:
Q = a + �1��� + �2�2 + �3���.�2 + e
Keterangan =
Q = Kinerja Peerusahaan
a = Konstanta
�1- �5 = Koefisien
�1 = Kepemilikan Manajerial
�2 = Dewan Komisaris Independen
CEO = Pergantian CEO
e = Error
Dengan probabily value (tingkat signifikansi) yang ditetapkan sebesar 0,05, maka
kritteria pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Jika probability value hasil penelitian lebih kecil dari probability
valuepenelitian (0,05), maka hipotesis ditolak dan menerima hipotesis
alternatif.
2. Jika probability value hasil penelitian lebih besar dari probability
valuepenelitian (0,05), maka hipotesis ditolak dan menerima hipotesis
34
3.4.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui dan menguji kelayakan model
regresi yang digunakan dalam penelitian ini (Kusumadilaga, 2010). Model regresi
yang baik digunakan harus memenuhi criteria BLUE (best linier
unbiasedestimator). Beberapa pengujian yang digunakan adalah:
3.4.2.1 Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terdapat hubungan antara variable bebas. Model regresi yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi antara variabelnya. Keberadaan multikolinieritas dalam
model regresi dapat dideteksi dengan nilai tolerance dan lawannya, dan varians
inflantion factor.
3.4.2.2 Uji Autokolerasi
Uji autokolerasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam metode regresi linier
terdapat korelasi antara pengganggu pada periode t dengan periode t-1 (periode
sebelumnya). Jika terdapat korelasi maka dinamakan problem autokorelasi. Model
regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Konsekuensi dari
adanya autokorelasi dalam suatu model regresi adalah interval keyakinan menjadi
lebar, dimana jika dipaksakan akan bias dalam mengambil keputusan terutama
tentang b signifikan atau tidaknya secara statistik bagi setiap koefisien regresi
yang terjadi. Deteksi adanya autokorelasi dengan uji Durbin Waatson, dimana
telah disusun interval statistik D-W yang menunjukkan keberadaan autokorelasi
35
3.4.2.3 Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedasitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model
regresi yang baik adalah yang terjadi homokedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas dilakukan dengan
melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat dengan residualnya.
Dasar Analisisnya:
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik –titik yang membentuk suatu pola
tertentu, yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit),
maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola tertentu serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah
angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Analisis dengan grafik plot memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh
karena jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting. Semakin sedikit jumlah
pengamatan, semakin sulit untuk mengintepretasikan hasil grafik plot.
3.4.2.4 Uji Normalitas
Uji normalitas adalah normalitas yang bertujuan untuk menguji apakah model
regresi, variabel pengganggu atau residu mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang baik adalah distribusi normal atau mendekati normal.
Pengujian normalitas data dilakukan dengan melihat sebaran titik-titik pada garis
36
3.4.2.5 Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari
Goodness of Fit. Secara statistik, setidaknya ini dapat diukur dari nilai koefisien
determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t (Ghozali, 2006).
1) Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel terikat. Kelemahan mendasar penggunaan koefisien
determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel bebas yang dimasukkan ke
dalam model. Setiap tambahan satu variabel bebas, maka R2 pasti meningkat.
Oleh karena itu, banyak peneliti menganjurkan menggunakan nilai Adjusted R2
pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Secara umum, nilai Adjusted
R2 untuk data cross sectional relatif rendah.
2) Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam
model mampu menjelaskan variabel terikat. Hasil uji statistik Fdiketahui dari tabel
analisis varians (ANOVA). Untuk menguji kebenaran koefisien regresi secara
keseluruhan, nilai F hitung dibandingkan dengan tingkat signifikansi yang
ditetapkan peneliti. Kriteria pengambilan keputusan yaitu: Jika F hitung > F tabel
(α = 0,05), maka model yang digunakan layak.
3) Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
bebas secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat. Pengujian
hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji t dengan
tahapan-tahapan pengujian hipotesis sebagai berikut:
37
H1: μ1 ≠ 0 artinya terdapat pengaruh antara pergantian chief executive
officerterhadap kinerja perusahaan.
H2: μ2 ≠ 0 artinya terdapat pengaruh corporate governance yang diproksikan
dengan kepemilikan manajerial dan proporsi komisaris independen pada kinerja
perusahaan.
H3: μ3 ≠ 0 artinya terdapat pengaruh corporate governance yang diproksikan
dengan kepemilikan manajerial, dan proporsi komisaris independen pada
hubungan pergantianchief executive officerdengan kinerja perusahaan.
b) Menentukan taraf nyata (α)
Peneliti menggunakan tingkat kesalahan sebesar 5% sehingga tingkat kepercayaan
atau keyakinannya sebesar 95%.
c) Menentukan kriteria pengujian
Apabila t hitung > α = 5% maka hipotesis ditolak
54
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Penelitian ini mencoba untuk menjawab tujuan penelitian, yaitu untuk
menyediakan bukti empiris pengaruh ergantian Chief Executive Officer terhadap
kinerja perusahaan dengan Good Corporate Governance sebagai variabel
pemoderating. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi
berganda dengan variabel independen pergantian CEO, kepemilikan saham
manajer dan proporsi komisaris independen menunjukkan bahwa:
1. Berdasrkan hasil pengujian hipotesis 1 menunjukkan bahwa pergantian
CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (ROA). Hasil ini
ditunjukan dengan besar signifikansi 0,043 yang lebih kecil dari 0,05.
2. Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa kepemilikan saham
manajer berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 yaitu
0,005.
3. Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa proporsi komisaris
independen berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 yaitu
55
4. Hasil pengujian keempat menunjukkan bahwa good corporate governance
yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial berpengaruh positif
terhadap pergantian CEO ke kinerja perusahaan.
5. Hasil pengujian keempat menunjukkan bahwa good corporate governance
yang diproksikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh
positif terhadap pergantian CEO ke kinerja perusahaan.
5.2KeterbatasanPenelitian
Penelitianinimempunyaiketerbatasan, terutamadalamhal:
Hasilmenunjukkankecilnyapengaruhvariabelindependendalammempengaruhivaria
beldependen, yaknihanyasebesar23,7% dansisanyasebesar76,3%.
dipengaruhiolehvariabel-variabel lain yang tidakdimasukkandalam model
sehinggamasihbanyakvariabel yang berpengaruhnamuntidakdimasukkandalam
model ini. Dalampenelitianiniterbataspadapergantian CEO yang dilakukan oleh
perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
20010-2012 sehinggamasihbanyakemiten yang belummasukdalampenelitianini.
5.3Saran
Padapenelitian yang akandatangterdapatbeberapahal yang perludiperhatikan,
diantaraadalahsebagaiberikut:
1. Dalam penelitian mendatang perlu menambahkan variabel good corporate
governance yang lebih lengkap. Karan sangat dimungkinkan penambahan
56
2. Menambahkanrentangwaktu yang
lebihpanjangsehingganantinyadiharapkanhasil yang
diperolehakanlebihdapatdigeneralisasikandanuntukmemperluaspenelitians
ertamenghasilkananalisis yang lebihbaik.
3. Dalam penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan sampel
perusahaan karna dalam penelitian ini hanya menggunakan sampel
perusahaan transportasi. Penambahan sampel diharapkan Agar dapat