• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perilaku konsumen Teh Celup dan Implikasinya pada Strategi Pemasaran di Daerah Kotamadya Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Perilaku konsumen Teh Celup dan Implikasinya pada Strategi Pemasaran di Daerah Kotamadya Bogor"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TEH CELUP

DAN IMPLIKASINYA PADA STRATEGI PEMASARAN

DP DAERAH KOTAMADYA BOGOR

OLEH :

ANGGIAT A. G. SILALAHI A 31.0684

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RINGKASAN

ANGGIAT.A.G.SILALAH1. Analisis Perilaku

ons sum en

Teh Celup dan

Implikasinya pada Strategi Pemasaran di Daerah Kotamadya Bogor. (dibawah bimbingan WILSON.H.LIMBONG).

Potensi pasar dalam negeri merupakan peluang bagi produsen teh celup pada umunmya untuk meningkatkan volume penjualan. Namun keadaan pasar dalam negeri beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa di satu sisi banyak perusahaan baru yang masuk dalam bisnis teh celup namun di sisi lain semakin melemahnya daya beli masyarakat akibat krisis ekonomi, mengakibatkan persaingan antar produsen semakin ketat. Kondisi persaingan dalam industri teh terutama dalam ha1 produk teh celup berimplikasi pada strategi pemasaran yang dilakukan oleh banyak perusahaan teh celup. Dalam menetapkan strategi pemasaran yang baik maka pemahaman perilaku konsumen seperti tentang kebiasaan, kebutuhan dan keinginan konsumen lnenjadi ha1 penting.

(3)

Responden atau element sampling dalam penelitian ini adalah ibu mmah tangga sebagai pengarnbil keputusan untuk pembelian produk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan yang menjadi unit sampling adalah mmah tangga. Penelitian ini

menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling

(pengambilan sampel dengan cara disengaja). Berdasarkan syarat minmal alat

analisis yang digunakan (analisis multivariat) maka sampel yang diambil pada penelitian ini adalah sebanyak 100 responden. Metode analisis yang digunakan adalah tabulasi deskriptif, metode analisis komponen utama dan model analisis multiatribut fishbein.

Hasil kajian terhadap proses keputusan pembelian produk teh celup menunjukkan bahwa proses keputusan pembelian terhadap suatu produk teh celup dilakukan konsumen nunah tangga melalui lima tahap. Pengaruh setiap faktor terhadap keputusan pembelian produk teh celup dengan menggunakan analisis komponen utama dapat dilihat berdasarkan nilai atau derajat pengamh faktor tersebut.

-

Secara b e m t a n lima faktor yang paling berpengaruh adalah manfaat utama tell celup, pengaruh situasi pembelian, pengaruh kemudahan memperoleh, tingkat pengeluaran keluarga per bulan, dan alasan membeli teh celup.

Dengan menggunakan model analisis multiatribut-sikap, berhasil diketahui evaluasi dan penilaian kepercayaan terhadap enam atribut yang melekat pada produk teh celup. Dari enam atribut yang dievaluasi oleh responden maka urutan atribut dari atribut yang dinilai paling penting adalah atribut kualitas seduhan, atribut kemudahan memperoleh, atribut kepopuleran merek, atribut kesesuaian isi kantung, atribut

(4)

kepercayaan responden terhadap enam atribut yang diajukan pada tiga merek maka yang memiliki citara bagus secara berturut-tumt adalah Sariwangi, Sosro dan 2Tang.

Pada penelitian ini studi perilaku konsumen berimplikasi pada bauran pemasaran yang diusulkan untuk produsen teh celup di Kotarnadya Bogor yaitu:

1.) Produk: Memperbaiki kualitas seduhan yang mencakup rasa, aroma dan wama

sesuai dengan kualitas seduhan yang diinginkan oleh konsumen. Produsen

melakukan diferensiasi kemasan namun kemasan yang dijual berfokus pada jenis kemasan kotak isi 25 kantung dan sachet isi 5 kantung.

2.) Harga: Penyesuaian harga akibat laju inflasi tinggi saat ini dapat saja dilakukan dengan memperhatikan loyalitas konsumen pada setiap produk berkaitan dengan batas kenaikan harga yang dapat diterima dan penyesuaian harga berdasarkan jenis kemasan dan jenis produk teh celup pada segmen kelas sosial yang ingin dituju.

3.) Distribusi: Outlet-outlet penjualan perlu dievalusi untuk selanjutnya disesuaikan

dengan jenis produk teh celup dan jenis kemasan yang cocok dijual pada outlet tersebut. Distribusi hendaknya ditingkatkan pada warung-warung dan toko-toko dekat lokasi pemukiman mengikuti kecenderungan berkurangnya konsumen berbelanja di pasar swalayan dan mulai meningkatnya konsumen berbelanja di warung-warung dekat rumah dan pasar tradisional.

4.) Promosi: Dalam mengiklankan dan mempromosikan produk teh celup maka

(5)

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TEH CELUP

DAN IMPLIKASINYA PADA STRATEGI PEMASARAN

D I DAERAH KOTAMADYA BOGOR

OLEH :

ANGGIAT A. G. SILALAHI A 31.0684

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pertanian

Pada

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(6)

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang ditulis oleh :

Nama : Anggiat A.G. Silalahi

Nomor Pokok : A 3 1.0684

Program Studi : Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya

Judul : ANALISIS P E R n A K U KONSUMEN TEH CELUP DAN

IMPLIKASINYA PADA STRATEGI PEMASARAN DI DAERAHKOTAMADYABOGOR

Dapat diterima sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah SEP 499 pada Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

(7)

DENGAN IN1 SAYA MENYATAKAN BAHWA, SKRIPSI IN1 BENAR- BENAR.HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIASUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN

(8)

Penulis dilahirkan di kota Yogyakarta pada tanggal 26 Juli 1975. Penulis

adalah anak kedua dari keluarga R.M.V Silalahi. Pada tahun 1987 penulis

menyelesaikan SD dari SD BPS&K Jakarta, tahun 1990 menyelesaikan SMP dari SMP Negeri 14 Jakarta dan tahun 1993 menyelesaikan SMA dari SMA Negeri 54 Jakarta.

Tahun 1994 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur masuk

Ujian Masuk Perguruan T i g g i (UMFTN) dan tahun 1995 diterima di Jurusan Sosial

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah atas segala berkat, kasih setia dan anugerah- Nya, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai syarat

kelulusan mata kuliah SEP 499 pada Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas

Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Skripsi ini dapat selesai dengan baik, berkat dukungan dan bantuan oleh berbagai pihak. Dalam kesempatan h i , penulis menyampaikan rasa terimakasih yang

terdalam dan sebesar-besamya kepada :

1. Bapak Dr. Ir. W.H. Limbong, MS., sebagai dosen pembimbing yang telah

bersedia membimbing penulis dan memberikan pengarahan dan nasehat.

2. Ibu Ir. Rita N Sutyana, MS., sebagai dosen pembimbing akademik yang telah

membimbing dan memberikan nasehat selama menuntut ilmu di jurusan Sosial Ekonomi.

3. Ibu Ir. Anna Fariyanti, MS., yang bersedia menjadi penguji utama dan Bapak Ir.

Moerdianto, Msi. yang bersedia menjadi penguji Komdik, saat pelaksanaan ujian

sidang.

4. Ibu Ir. Rahmiii, MS., yang bersedia menjadi moderator pada saat seminar skripsi

ini berlangsung.

5. Abang

Ir.

Philip Tarigan, atas kesediaannya meluangkan waktu memberikan

masukan, arahan, serta dorongan moril pada saat pengerjaan skripsi ini.

6 . Kepada mama tercinta untuk kasih sayang dan doanya selama saya menuntut ilmu di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Tak lupa bagi Ayahanda, kakak, adik- adikku untuk dukungan dan bantuan yang diberikan bagi saya selama ini.

7. Special tham to : Arwin, Sunny, dan Ruth, atas persahabatan yang tulus melalui segala dukungan, diskusi, bantuan dan doa dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Teman-teman terdekat: Arwin, Agung, Fajar, Hubert, Tommy, Ferry, Domy,

Buha, dan Bilmar. thanks for your assistance and our friendship as long as we

(10)

9. Teman-teman di IPB: John, Anto, Tino, Maxwell, Wisanto, Nova, Sally, Bado, Bepese, Baot, Andri karpes, Liem, Mita, Utet, Runi, Siska, Friska, Kime, Michol, Meidy, Karen, Sisi, Ivan, serta teman lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. 10. Rekan-rekan Pengurus Cabang GMKI periode 1996-1998 dan periode 1998-2000, khususnya: Tommy, Batara, Freddy, 'Herek' junior, Pandit, Flora, Martha, Nelly&Hetty (twins), Saur, Naomi dan Tessa. Terimakasih atas kebersamaan dan dukungan yang diberikan kepada saya selama ini.

11. Teman-teman se-gubuk (periode 1998-2000) di Gu11tur 38: B'Frans Dabuke,

Tommy, Henry, Fajar, Stefanus dan Daniel. Terimakasih atas kenangan,

kebersamaan dan persahabatan yang tulus sehingga banyak mewamai hidup saya. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu atas doa dan

bantuannya kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa mas& banyak kekurangan yang terdapat pada

skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan masukan untuk perbaikan

tulisan ini. Kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak ymg

membutuhkan.

T~G"..+" T....: 9nni

""'.U*'Y, .,-&I &""A

(11)

DAFTAR IS1

Halaman

DAFTAR IS1

...

..

...

1

...

DAFTAR TABEL

...

...

111

...

DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR LAMPIRAN

...

vi

I

.

PENDAHULUAN

...

1

1

.

1. Latar Belakang

...

1

1.2. Perumusan Masalah

...

3

1.3. Tujuan Penelitian

...

5

. .

...

...

1.4. Manfaat Penelltian

:

5

...

1.5. Ruang Lingkup Penelitian 5

...

I1

.

KERANGKA PEMWRAN

. .

2.1. Tlnjauan Pustaka

...

2.2. Kerangka Pemikiran Teoritis

...

...

2.3. Kerangka Pemikiran Konseptual

111

.

METODE PENELITIAN

...

...

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2. Jenis dan Sumber Data

...

...

3.3. Metode Penarikan Sampel

...

3.4. Metode Pengumpulan Data

. .

...

3.5. Metode Analisis Data
(12)

N

.

GAMBARAN UMZTM PENELITIAN

...

...

4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian

4.2. Karakteristik Umum Konsumen Teh Celup

...

4.3. Karakteristik Umum Produk Teh Celup

...

...

.

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Proses Keputusan Konsumen Dalam Pembelian Teh Celup

...

5.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam

...

Proses Kepuhaan Pembelian

...

5.3. Penilaian Konsumen terhadap Atribut Produk Teh Celup

5.4. Implikasi Studi Perilaku Konsumen Terhadap Strategi Bauran

...

Pe~nasaran Teh Celup

...

VI.KESIMl'ULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

...

...

6.2. Saran

p-u-

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

.

...

1 Perkembangan Produksi Teh Celup Indonesia 9

.

2 Market share Industri Teh Celup Nasional. 1998

...

10

...

.

3 Perkembangan konsumsi perkapita teh celup Indonesia 11

...

4

.

Proyeksi Konsumsi Perkapita Teh Celup Indonesia 12

5

.

Jenis Perilaku Keputusan Pembelian

...

13

6

.

Struktur Penduduk Kotamadya Bogor Menurut

Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. 1999

...

41

...

7

.

Penduduk Kotarnadya Bogor Menurut Mata Pencarian. 1999 42

8

.

Karakteristik Umum Konsumen Rumah tangga

...

44

9

.

Karakteristik Umum Produk Teh Celup Menurut Pendapat Konsumen

...

Di Kotamadya Bogor 47

10

.

Pengelompokan Rerdasarkan Manfaat T_T!arr?s ylng Dikgi~Grn

Sehingga Mengkonsumsi Teh celup. 2000

...

49

11

.

Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Alasan

Mengkonsumsi Teh Celup. 2000

...

49

12

.

Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Tersedianya Waktu Khusus

Untuk Pencarian Informasi. 2000

...

50

13

.

Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Sumber Informasi untuk

Mendapatkan Produk Teh Celup Favorit. 2000

...

51

14

.

Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Besar Pengaruh Iklan dan

PromosiTerhadap Keputusan Pembelian. 2000

...

52

15

.

Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Atribut Yang

Paling Menarik Dari Iklan Produk Teh Celup. 2000

...

53
(14)

16. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Pengaruh Orang Lain

...

Terhadap Keputusan Pembelian Produk Teh Celup, 2000

17. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Faktor Awal Pertimbangan Konsumen dalam Membeli Teh Celup, 2000

...

18. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Faktor-faktor yang

Berpengaruh Terhadap Keputusan Pembelian

...

Produk Teh Celup, 2000

19. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Pengaruh Image Merek

Terhadap Keputusan Pembelian Produk Teh Celup, 2000

...

20. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Pengaruh Lokasi dan Suasana

...

Tempat Pembelian, 2000

21. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Alasan Mernilih

Merek Teh Celup Favorit, 2000

...

22. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Atribut Kualitas Seduhan

Teh Celup yang Menjadi Pertimbangan Utama Saat Memilih

Produk Teh Celup Favorit, 2000

...

23. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Spesifikasi Atribut

Kualitas Seduhan Produk Teh Celup yang Diinginkan, 2000

...

24. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Kesan Kemasan yang

Diinginkan; 2000

...

25. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Kecenderungan

Pembelian Produk Teh Celup, 2000

...

26. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Tempat

Pembelian Teh Celup, 2000

...

27. Pengelompokan Knnsumen Berdasarkan Keseringan / Kebiasan

...

Ganti Merek. 2000

28. Pengelompokan Konsumen Berdasarkan Cara Memutuskan

Pembelian Teh Celup, 2000

...

29. Pengelompokan Berdasarkan Sikap Konsumen Jika
(15)

30. Pengelompokan Berdasarkan Sikap Konsumen Jika

Terjadi Kenaikan Harga Teh Celup Favorit, 2000

...

3 1. Pengelompokan Konsumen Pada Setiap Kelas Pengeluaran

Rumah Tangga per Bulan Berdasarkan Pengaruh Harga, 2000

...

32. Pengelompokan Konsumen Pada Setiap Kelas Pengeluaran Rumah Tangga per bulan Berdasarkan Sikap Konsumen Jika

Terjadi Kenaikan Harga Teh Celup Favorit, 2000

...

33. Faktor-Faktor Utama Perilaku Konsumen Rumah Tangga Pada

...

Pembelian Produk Teh Celup Berdasarkan Derajat Pengaruhnya

34. Urutan Tingkat Kepentingan Atribut Teh Celup

...

35. Urutan T i g k a t Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut

Produk MinumanTeh Celup Merek Sariwangi, 2000

...

36. Urutan Tingkat Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut

Produk M i u m a n Teh Celup Merek Sosro, 2000

...

37. Urntan T i g k a t Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut

Produk Minuman Teh Celup Merek 2Tang, 2000

...

38. Skor Fishbein Tiga Merek Teh Celup, 2000

...

39. Skor Fishbein untuk Tiga Merek Teh Celup Berdasarkan

Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Bulan, 2000

...

40. Bauran Pemasaran Teh Celup yang Diusulkan
(16)
[image:16.602.91.508.105.759.2]

Gambar

DAFTAR GAMBAR

p

&

Halaman

1

.

Proses Pengolahan Teh Celup

...

7

2

.

Lima Tahap Proses Keputusan Pembelian Konsumen

...

14

3

.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen

...

16

4

.

Saluran Pemasaran Barang Konsumsi

...

22

. .

...

5

.

Gambar Alur Kerangka pemiluran 29 6

.

Tahapan Proses Pembelian Teh Celup

...

69

DAFTAR LAMPIRAN Nomor Lampiran Tabel Halaman 1

.

Korelasi Variabel Asal dengan Komponen Utama pada Konsumen Teh Celup

...

...

118

2

.

Evaluasi Sikap Konsumen Terhadap Atribut Produk Miuman Teh Celup

...

119

3

.

Skor Tingkat Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut Produk minuman Teh Celup Merek Sariwangi

...

120

4

.

Skor Tingkat Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut

...

Produk minuman Teh Celup Merek Sosro 121

5

.

Skor Tingkat Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut

...

Produk minuman Teh Celup Merek 2Tang 122

...

6

.

Penurunan Fishbein Konsumen 123

...

.

(17)

BAB

H

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Teh merupakan salah satu dari jenis produk minuman yang dikenal dan digemari ole11 masyarakat Indonesia. Bagi konsumen teh, komoditas ini dianggap mempunyai keunggulan komparatif karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya, citarasa dan aroma yang khas, tidak menimbulkan efek tertentu bila diminum dan

memberikan kesegaran setelah meminumnya. Selain itu teh berkhasiat untuk

menurunkan berat badan, memberikan daya awet muda, se&i mampu mencegah dan menyembuhkan beberapa macam penyakit (Eveline, 1997).

Produk teh sudah sejak lama diproduksi oleh industri di dalam negeri. Dari awal kehadirannya, industri teh di dalam negeri tents mengalami perkembangan. Hasil produksi teh Indonesia dalam bentuk teh kering selain untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri juga menjadi komoditi andalan untuk diekspor. Selama ini Indonesia merupakan salah satu produsen utama teh kerins di dunia. Adapun kehadiran dan perkembangan industri teh di dalam negeri didukung oleh ketersediaan bahan baku yang nielimpah (Spillane, 1992).

Potensi pasar dalam negeri untuk mendukung perkembangan industri tell sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan tingkat konsumsi teh per kapita yang rendah dibandiigkan nesara-negara produsen

(18)

Indonesia (250 gramkapitaltahun) atau sebesar 0.252 dibandingkan tingkat konsumsi teh masyarakat Jepang (993 gramkapitaltahun).

Salah satu usaha yang dilakukan para produsen untuk meningkatkan konsumsi teh di Indonesia adalah menawarkan produk olahan teh yang langsung dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Produk olahan teh adalah produk hasil pengolahan lanjutan dari teh kering yang dapat langsung dikonsumsi oleh konsumen. Sebelumnya produk olahan teh yang dihasilkan produsen berbentuk teh bubuk. Pada awal tahun '80-an diperkenalkan produk teh celup kepada masyarakat Indonesia. Produk ini mendapat sambutan sangat baik, yang ditunjukkan dengan peningkatan

pesat konsumsi teh celup dalam negeri ( Spillane, 1992).

Saat ini secara perlahan terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dari teh i

jenis bubuk ke teh jenis celup. Hal ini terlihat dari perkembangan konsumsi teh celup perkapita di Indonesia yang sangat pesat. Rata-rata pertumbuhan konsumsi perkapita

untuk jenis teh celup dari tahun 1992 - 1997 mencapai 18,5 persen per tahun.

Sementara itu untuk konsumsi jenis teh bubuk, pertumbuhan perkapita untuk teh bubuk rata-rata sebesar 2,l persen per tahun (CIC, 1998).

(19)

tersebut mengindikasikan produk ini akan semakim diterima oleh masyarakat di masa mendatang Pveline, 1997).

/"'

Peluang pasar yang cukup besar di dalam negeri menjadi daya tarik bagi

/

kelompok perusahaan besar untuk masuk dan bersaing didalamnya. Beberapa perusallaan besar yang berhasil dalam usaha pengolahan teh celup antara lain PT Sariwangi, Agricultural Estates Agent, PT Duta Serpack Inti, PT Gunung Slamet, PT

G.mung Subur, 'PTP XII, PT Jangkar Jati, PT Indorub Sumber Wadung, PT Asia

Arben Kencana, dan perusahaan lainnya (CIC,1998).

1.2. Perurnusan Masalah

Persaingan antar produsen produk minuman teh celup di negara Indonesia semakin ketat dalam beberapa tahun terakhir. Ketatnya persaingan tersebut di dorong dari sisi produsen dengan bertambah banyaknya perusahaan baru yang masuk dalam

bisnis teh celup. Sedangkxn dari sisi konslcmen, terjzcl_i penlln;?m cl_zy:m he!i

masyarakat yang mendorong masyarakat melakukan pengurangan terhadap tingkat konsumsinya sebagai dampak'krisis ekonomi.

Ketatnya persaingan antar produsen menghamskan produsen menguasai dan mengembangkan strategi pemasaran yang baik sesuai dengan bauran pemasaran yang

mencakup produk, saluran ditribusi, strategi harga, dan promosi (4P). Dalam

menetapkan bauran pemasaran tersebut, maka pemahaman perilaku konsumen hams

dikuasai perusahaan. Pemahaman perilaku konsumen yang penting dilakukan

diantaranya adalah memahami kebutuhan dan keinginan konsumen serta memahami

(20)

memahami kebutuhan dan keinginan konsumen maka dapat diketahui mengapa konsumen lebih senang membeli produk dengan merek tertentu dan bukan merek lainnya.

Dalam kegiatan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, setiap konsumen melakukan proses pengambilan keputusan. Menurut Schifhan dan Kanuk (1994), keputusan konsumen yang dilaksanakan dalam bentuk titidakan membeli tidak muncul begitu saja tetapi melalui suatu proses tertentu. Proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat kompleks, terkadang diluar jangkauan pemasar dan cederung saling berinteraksi. Faktor-faktor tersebut diantaranya, tingkat pendidikan, tingkat

pendapatan, bauran pemasaran, anggota keiuarga dan lain-lain. Dalam konsep

pemasaran, pengaruh seluruh faktor terhadap keputusan pembelian seorang konsumen disebut sebagai perilaku konsumen (Schiffman dan Kanuk, 1994).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu :

1. Bagaimanakah perilaku konsumen mmah tangga produk minuman teh celup ?

2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi proses keputusan pembelian

produk teh celup oleh konsumen mmah tangga tersebut ?

3. Atribut-atribut produk minuman teh celup apa yang diunggulkan menurut

pendapat konsumennya dan bagaimana penilaian mereka terhadap merek dan atribut produk yang diteliti ?

4. Bagaimanakah implikasi studi perilaku konsumen rumah tangga terhadap

(21)

1.3. Tujuan penelitian

Berdasarkan perurnusan masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian

ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis perilaku konsunlen rumah tangga terhadap produk minuman teh celup.

2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses keputusan pembelian

produk teh celup pada konsumen rumah tangga.

3. Menganalisis atribut-atribut yang menjadi keunggulan produk teh celup serta

mengetahui penilaian terhadap merek dan atribut produk yang diteliti.

4. Menganalisis implikasi studi perilaku konsumen nunah tangga terhadap strategi

pemasaran teh celup.

1.4. Manfaat Penelitian

nasii peneiitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan dalarn pengembangan produk teh celup. Bagi peneliti dan produsen dapat berguna dalam merencanakan pengembangan produk teh celup. Penelitian ini juga bermanfaat bagi pihak pemasar dalam mengembangkan strategi pemasaran produk teh celup.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

(22)

BAB I1

KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Gambaran Umum Produk Teh Celup

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan ole11 Pusat Standarisasi Industri Departemen Perindustrian dan Perdagangan, terdapat deskripsi

mengenai teh hitam celup dan teh hijau celup. Dalam SNI 01-3753-1995, deskripsi

dari teh hitam celup adalah teh kering hasil fermentasi pucuk dan daun muda

termasuk tangkainya dari tanaman teh (Tehanensis L Sims), dan dikemas dalam

kantong khusus untuk dicelup.

Sedangkan dalam SNI 01-4324-1996, deskripsi dari teh hijau celup adalah teh

kering yaig Liasiiitan &pa proses fermentasi dari pengoiahan pucuk, daun muda tanpa penambahan bahan makanan dan bahan tambahan. makanan lainnya dari

tanaman teh (Camelia sinensis), dan dikemas dalam kantong khusus untuk dicelup.

Untuk menjaga standar mutu teh celup yang diperdagangkan, ditetapkan syarat minimal mutu teh celup yang harus dipenuhi oleh setiap produsen. Selain syarat mutu, produsen juga harus memenuhi syarat penandaan tentang label dan syarat pengemasan.

(23)

kantong kertas kecil berpori sehingga mudah dilalui air. Pengemasan texsebut dibantu ole11 mesin otomatis dan kemudian mesin tersebut secara otomatis pula

memasangkan label perusahaan ke kantong dengan benang. Ada mesin yang

memproduksi dua label sekaligus (double), tetapi ada juga mesin yang hanya dapat

memasangkan satu label (single). Setelah itu kemasan kecil yang siap pakai ini

dikemas dalam karton dengan lapisan alumunium foil. Tiap karton umurnnya berisi

20,25, atau 30 kantong dengan berat bersih satu kotak sekitar 50 gr, 60 gr, atau lebih.

Setelah itu teh yang telah dikemas ini dimasukkan dalam kotak-kotak kardus dan siap

dipasarkan ke konsumen (CIC, 1994). Secara lebih rinci, gambaran proses

pengolahan teh celup dapat dilihat pada Gambar 1.

Cartooning

,

[image:23.599.115.473.365.672.2]

Check Weighing

Gambar 1. Proses Pengolahan Teh Celup

(24)

Dewasa ini ditemukan berbagai jenis produk teh celup dengan beragam rasa dan aroma seperti, mangga, lemon, jeruk nipis, apel, ntint, disamping rasa teh asli, yaitu teh hitam dan teh hijau, serta teh wangi (melati). Beberapa perusahaan juga mengembangkan produk teh celup berdasar tujuan tertentu seperti teh celup khusus untuk diet (diet tea) atau teh pelangsing tubuh (slimming tea),.teh pencegah penyakit ginjal, dan teh susuk perut. Salah satu perusahaan yang terkenal yang mengeluarkan produk t e h y a dengan tujuan tertentu adalah PT Martha Tilaar dengan merek dagang Berto Martha Tilaar (Eveline,1997).

2.1.2. Perkembangan Produksi Teh Celup di Indonesia

Laju perkembangan produksi teh celup di Indonesia tercatat dari tahun 1992 sampai 1997 mengalami perkernbangan pesat, peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1994, yaitu sebesar 10,96 persen. Pada tahun 1995 produksi mengalami

penurunan. namun secara rata-rata dalam kurun waktu tersebut produksi teh seli~p

mengalami kenaikan rata-rata sebesar 6,78 persen per tahun (Tabel 1). Jika

produksinya pada tahun 1992 tercatat sekitar 6,l ribu ton, maka pada tahun 1997 telah meningkat menjadi sekitar 15,6 ribu ton (Indocommercial, 1998).

(25)

penambahan investasi. Dengan demikian dapat disimpulkan keseluruhan produksi teh celup hanya dikonsumsi di dalam negeri, dan tidak di ekspor ke luar negeri.

[image:25.599.91.507.285.422.2]

Selain beredar produk-produk teh celup lokal, di pasar domestik temyata juga terdapat beberapa produk impor teh celup. Namun demikian peranannya sangat kecil bila dibandingkan dengan produksi dalam negeri. Karena ha1 tersebut, produknya masih jarang ditemukan dan hanya di konsumsi kalangan tertentu.

Tabel 1. Perkembangan Produksi Teh Celup Indonesia

Seiiring dengan perkembangan teh celup, saat ini telah banyak produsen yang mulai tejun dalam bisnis ini. Hal ini terlihat dari banyaknya merek yang beredar di

pasaran. Berdasarkan laporan CIC (1998), terdapat 19 peru~dwin teh celup di

Indonesia yang menawarkan produk teh celup dengan manfaat, rasa dan aroma yang beraneka ragam. Dari beberapa merek yang beredar, merek sariwangi merupakan merek yang banyak menguasai pasar.

Berdasarkan data Indocommercial, total kapasitas produksi teh celup sariwangi pada tahun 1997 adalah sebanyak 15,O ribu ton per tahun. P e ~ S ~ h a a n ini didukung oleh perusahaan skala besar dalam jaringan distribusi yaitu dengan

melakukan kerjasama dengan PT Unilever Indonesia. Berbagai inovasi dan

Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 *)

Produksi (ton) 6.127 7.579 9.756 11.682 14.050 15.558 Trend (%) - 4,86 10,96 6,44 6,86 4,76

Rata-rata pertumbuhan (%) 6,78

(26)

terobosan barn dalam industri teh celup telah dicapai oleh Sariwangi. Produsen teh celup yang juga mempunyai kapasitas produksi yang cukup besar diantaranya PT. Sinar Sosro, PT Pagilaran dan beberapa pemsahaan lainnya.

Secara umum merek-merek yang mempunyai kapasitas produksi tinggi juga

mempakan merek-merek yang memiliki market share juga tinggi. Berdasarkan data

yang diperoleh dari AC Nielsen untuk tahun 1998 dapat dilihat bahwa posisi

Sariwangi menempati urutan teratas pada industri teh celup nasional dengan market

share sebesar 86 persen diikuti Sosro dan 2Tang masing-masing 5 persen dan 3

persen. Tabel market share dan peringkat industri teh celup nasional selengkapnya

dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Market sitare dun Peringkat Industri Teh Celup Nasional, 1998

2.1.3. Perkembangan Konsumsi Teh Celup di Indonesia

Konsumsi teh celup perkapita dapat diketahui dengan membandingkan total konsumsi teh celup nasional dengan jumlah penduduknya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Indocommercial diperoleh data konsumsi perkapita tersebut. Konsumsi teh celup rata-rata perkapita di Indonesia selama periode 1992 hingga 1997 menunjukkan peningkatan yang cukup pesat.

Peringkat Merek Sosro 2Tang Keris Bendera kepala djenggot Lain-lain Market SItare (O/n\

Sumber : AC Nielsen,1999

(27)

Selama periode tersebut, diperkirakan laju pertumbuhan konsumsi teh celup rata rata per kapita sebesar 18,5 persen per tahun. Tingkat konsumsi perkapita untuk jenis teh celup memang masih rendah yaitu pada tahun 1997 baru mencapai 78,7

gram per kapitanya. Namun demikian tingkat konsumsi tersebut melonjak

dibandingkan dengan tahun 1992 yang barn mencapai 33,s gram.

Tabel 3. Perkembangan Konsumsi (grlkaplthn) Teh Celup Indonesia

--

I

Tahun

I

Jumlah Penduduk

I

Teh celup (ton)

I

Perkapita

1

Trend (%)

/

Krisis eiconomi yang rerjadi seiama icurang leblh dua tahun terakhir ini diperkirakan akan berpengaruh cukup besar terhadap perkembangan industri teh celup di dalam negeri. Karena dengan kondisi perekonomian yang ada jelas akan melemahkan tingkat daya beli masyarakat. Dalarn kondisi seperti ini tidak tertutup pula kemungkiian akan kembalinya masyarakat untuk mengkonsumsi teh jenis

bubuk dari yang sebelumnya mengkons~msi jenis celup. Hal ini disebabkan

perbedaan harga yang cukup besar.

Berdasarkan proyeksi konsumsi perkapita teh celup di Indonesia yang dilakukan oleh Indocommercial, maka pada tahun 1998 diperkirakan terjadi penurunan konsumsi perkapita teh celup sekitar 15 persen. Dengan demikian maka

I

Rata-rata pertumbuhan (%) 18,5 [image:27.595.90.507.259.420.2]
(28)

konsumsi perkapita teh celup pada tahun 1998 hanya mencapai 66,9 gram per penduduk atau sekitar 13,67 ribu ton. Namun diperkirakan laju pertumbuhannya

pada lima tahun mendatang akan kembali lebih tinggi, sehingga pada tahun 2003

--.

akan mencapai 85,7 gram per penduduk atau sekitar 18,86 ton.

Tabel 4. Proyeksi Konsumsi (grlkaplthn) Teh Celup Indonesia

1.1

2.2. Kerangka Pemikiran Teoritis

2.2.1. Perilaku Konsumen J

T..:....+- uJUDLLl peiiiasai= iiddah rnernexki do" me!eyzi te!x""az d z k e k g i i ~ "

konsumen. Sebelum rencana pemasaran dikembangkan maka pemahaman mengenai pasar konsumen dan perilaku konsumen sangatlali penting. Dengan mengenali dan membedakan kelompok konsumen, pengembangan produk atau jasa dapat

disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Namun untuk dapat

memahami perilaku konsumen dalam pembelian barang dan jasa membutuhkan suatu studi tersendiri.

[image:28.605.91.550.216.411.2]
(29)

yang mendahului dan menyusul tindakan tersebut. Dikemukakan pula oleh Schiffinan dan Kanuk (1994) bahwa perilaku konsumen adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.

Tindakan konsumen membeli b e m j u d pada pilihan-pilihan konsumen

terhadap sifat produk, merek, jumlah produk, waktu, dan fcekuensi pembelian. Kotler

(1993) membedakan perilaku keputusan pembelian menjadi tiga jenis, yaitu Perilaku

Tanggapan Rutin (PTR), Pemecahan Masalah Terbatas (PMT), dan Pemecahan

Masalah Perluasan (PMP). Ciri masing-masing jenis perilaku pembelian dapat dilihat

pada Tabel 5.

Tabel 5. Jenis Perilaku Keputusan Pembelian

-. .

Rutin

1. Produk mwah

I

I

Produk lebih mahal 2. Sering dibeli

3 Keterlibatan

konsumen rendah

I

/

4 Kelas produkdan merek sudah dikenal

5 Pemikiran, pencarian dan ~vaktu yang disediakan untuk pembelian kecill S~nnber : Kotler (1993)

Jarang dibeli

Keterlibatan konsumen tinggi

Kelas produk dan merek belum dikenal

Pemikiran, pencarian dan waktu yang disediakan untuk

pembelian banyak

[image:29.605.93.507.415.583.2]
(30)
[image:30.602.90.504.212.264.2]

Keputusan konsumen yang dilaksanakan dalam bentuk tindakan membeli tidak muncul begitu saja tetapi melalui suatu tahapan tertentu. Menurut Kotler (1993), terdapat lima tahap proses keputusan pembelian konsumen beserta faktor- faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut (Gambar 2).

Gambar 2. Lima Tahap Proses Keputusan Pembelian Konsumen

Sumber : Kotler. 1993

Perilaku proses keputusan selalu dimulai dengan pengenalan kebutuhan yang didefinisikan sebagai persepsi atas perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan

' situasi aktual yang memadai untuk mengaktifkan proses keputusan. Pengenalan

kebutuhan pada hakekatnya bergantung pada berapa banyak ketidaksesuaian antara keadaan yang diadapi konsumen sekarang dan keadaan yang diinginkan konsumen (Kotler,1993).

Setelah konsumen mengenali suatu kebutuhan, maka tahap selanjutnya adalah pencarian informasi. Pencarian dapat didefinisikan sebagai kegiatan termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan dan pengumpulan informasi dari pasar. Dengan mengumpulkan informasi, konsumen belajar tentang merek-merek yang bersaing dan ciri masing-masing merek. Oleh sebab itu, perusahaan harus menyusun strategi agar mereknya dikenal, dipertimbangkan dan selanjutnya dipilih untuk dibeli, jika tidak, perusahaan akan kehilangan peluang untuk menjual kepada pelanggan (Kotler, 1993).

Peficarian

Informasi

Pengenalan

Masalah ---C ---C

Evaluasi

Altematif

-+

Keputusan

Pembelian

--+

Peril&u
(31)

Tahap ketiga adalah evaluasi altematif, yaitu konsumen mengevaluasi

berbagai altematif dan membuat pertimbangan nilai yang terbaik untuk memenuhi

kebutuhan. Dalam melakukan evaluasi, konsumen menentukan kriteria. Kriteria tersebut merupakan dimensi atau atribut yang digunakan dalam menilai altematif pilihan. Konsep dasar yang dapat membantu untuk memahami proses evaluasi konsumen, yaitu konsumen bemsaha memuaskan suatu kebutuhan, mencari manfaat serta konsumen memandang setiap produk sebagai rangkaian atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalarn memberikan manfaat yang dicari dan memuaskan kebutuhan tersebut. Kriteria altematif yang sering digunakan konsumen antara lain harga, kepercayaan akan merek, dan kriteria yang bersifat hedonik (Kotler,

1993).

Tahap keempat adalah keputusan pembelian. Konsumen mengambil

keputusan tentang kapan membeli, dimana membeli dan bagaimana membayar. Setelah pembelian terjadi, konsumen akan mengevaluasi pembelian yang

dilakukannya. Jika konsumen merasa puas, maka keyakinan dan sikap yang

terbentuk akan berpengaruh positif terhadap pembelian selanjutnya (Kotler, 1993). Menurut Assael (1992), kesuksesan suatu produk sebagian besar tergantung pada cara konsumen menerirna produk dan rangsangan pemasaran yang dirancang untuk mempengamhi konsumen. Rangsangan pemasaran yang dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap merek tertentu diklasifikasikan menjadi dua yaitu rangsangan primer dan rangsangan sekunder. Rangsangan primer adalah rangsangan yang disebabkan oleh produk itu sendiri, sedangkan rangsangin sekunder disebabkan

(32)

2.2.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Keputusan Konsumen

Proses keputusan membeli setiap konsumen berbeda dan bervariasi. Hal ini disebabkan karena keputusan pembelian yang dilakukan dipengaruhi oleh banyak

faktor. Dalam mengambil keputusan pembelian produk, konsumen mungkin

dipengaruhi oleh faktor pendapatan, kelas sosial, gaya hidup, bauran pemasaran dan lain-lain. Pengaruh yang mendasari perilaku konsumen menurut Engel, Blackwell

dan Miniard (1994), adalah : (1) pengaruh lingkungan, (2) perbedaan dan pengaruh

individual dan (3) proses psikologis konsumen tersebut (Gambar 3).

Budaya Kelas Sosial Pengaruh Pribadi Keluarga

Perbedaan Individu Proses Psikologis

[image:32.595.85.501.319.508.2]

I I I I I I

Gambar 3.Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen

~ u m b & : Engel, Blackwell, Miniard (1994) Sumberdaya Konsumen

Pengetahuan Sikap

Kepribadian, Gaya hidup Demografi

Pengaruh lingkungan merupakan pengaruh yang diterima oleh konsumen individu karena melakukan interaksi dengan individu lainnya di lingkungannya.

-,

Pengaruh lingkungan yang mempengaruhi konsumen individu untuk mengambil keputusan dalam membeli suatu produk, yaitu budaya, keluarga, pengaruh kelompok

Pengenalan Kebuhlhan Pencarian Infonnasi Evaluasi Altematif Pembelian Hasil

sosial, pengaruh kelompok acuan (termasuk pengaruh pribadi) dan pengaruh situasi.

(33)

Keputusan pembelian produk juga bergantung pada sumberdaya yang dimiliki oleh konsumen, motivasi dan keterlibatan konsumen terhadap produk tersebut, pengetahuan, gaya hidup, kepribadian dan sikap yang dimiliki oleh konsumen. Semua faktor-faictor di atas mempakan faktor yang berasal dari konsumen itu sendiri sebagai mahluk individu. Jika individu tersebut memiiiki motivasi untuk membeli produk tersebut tetapi tidak mempunyai sumberdaya (pendapatan), maka produk tersebut tidak akan dibeli oleh konsumen tersebut. Pemahaman ini sangat berguna bagi pemasar untuk menetapkan strategi harga.

Proses psikologis memiliki tiga tahapan, yaitu proses informasi, proses pembelajaran dan pembahan sikap serta perilaku konsumen. Proses psikologis menunjukkan sejauh mana rangsangan pemasaran seperti iklan diterima, ditafsirkan, disimpan dalam ingatan dan kemudian digunakan oleh konsumen tersebut untuk

menilai altematif-altematif produk (tahapan proses informasi). Pengalaman

konsumen di dalam melakukan pembelian dapat menyebabkan pembahan dalam pengetahuan dan sikap. Proses ini disebut proses pembelajaran. Kedua proses di atas akan menyebabkan pembahan sikap consumen (Engel,Blackwell dan Miniard,1994).

2.2.3. Preferensi Konsumen

(34)

sikap dan persepsi yang berlainan diantara konsumen dalam memilih dan menilai produk dan jasa. Bagaimana sebenarnya produk dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen diyakini memiliki peranan besar dalam menentukan kualitas produk dan jasa serta berkaitan dengan kepuasan konsumen.

Kotler (1993) menggambarkan tentang sikap konsumen atas produk atau jasa sebagai suatu evaluasi dari sifat kognitif seseorang, perasaan emosional dan kecenderungan bertindak melalui obyek atau ide. Sedangkan Schifkan dan Kanuk (1994) menggambarkan sikap sebagai ungkapan perasaan terdalam yang mencerminkan kecenderungan konsumen dalam menerima atau tidak menerima secara konsisten dengan tingkat kesukaan pada suatu obyek.

Untuk mengukur preferensi konsumen terhadap produk atau jasa diperlukan suatu model pengukuran yang dapat menganalisis hubungan antara pengetahuan

produk yang dimiliki konsumen dan sikap atas produk sesuai dengan ciri atau atribut

produk. Salah satu metode yang digunakan adalah survai sikap Multiatribut. Metode ini mengandaikan bahwa sikap berhubungan dengan perilaku. Penekanannya adalah pada memastikan kepercayaan penting yang dimiliki seseorang mengenai obyek sikap. Dengan demikian, dapat dilakukan suatu upaya untuk meramalkan pemasaran

berdasarkan perilaku konsumen. Dalam ha1 ini, analisis sikap Multiatribut

mempakan sumber yang kaya akan informasi yang berguna bagi perencanaan dan

tindakan pasar. Selain itu, analisis sikap Multiatribut juga dapat memberikan

(35)

2.2.4. Strategi Pemasaran

Pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam dunia usaha. untuk memperoleh laba yang tinggi dari pasar yang semakin kompetitif, perusahaan berusaha untuk memperolehnya lewat kepuasan konsumen dengan berusaha mengl~asilkan produk yang sedapat mungkln dekat dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam ha1 ini, pemasar tidak lagi melihat konsumen sebagai obyek pemasaran, tetapi sebagai mitra yang mendukung keberhasilan program pemasaran. Perencana strategi yang efektif menaruh perhatian pada jenis konsumen, kebutuhan dan keinginan konsumen. Peluang perusahaan datang melalui pengidentifikasian dan

penyediaan kebutuhan konsumen clan ancaman timbul dari kegagalan memenuhi

kebutuhan konsumen yang berubah-ubah (Jauch clan Glueck, 1995).

Strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh, terpadu yang mengkaitkan keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utarna perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan (Jauch dan Glueck, 1995). Jadi strategi pemasaran adalah suatu rencana yang terintegrasi untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang akan digunakan ole11 perusahaan untuk melayani konsumen sasaran perusahaan.

Konsep strategi pemasaran menurut Kasali (1998) dapat dijelaskan sebagai

Segmentation, Targeting dan Positioning (STP).

a. Segmentatiott

(36)

produk-produk dan atau kombinasi pemasaran yang terpisah. Dalam melakukan segmentasi pasar diperlukan beberapa variabel seperti variabel geografis, demografis,

psikografis dan behavioral berilaku). Menurut Kartajaya (1997) ada tiga cara

membagi pasar (mensegmentasi pasar). Pembagian pasar berdasarkan variabel

demografi, untuk memilah-milab pasar atas faktor 'who to buy'. Sedangkan variabel

psikografi membagi pasar atas faktor 'why to buy'. Variabel behavioral, membagi

pasar atas faktor 'how to buy' dan mengacu pada kegiatan perilaku yang terjadi

secara konkrit. b. Targetiilg

Targeting (pembidikan pasar) merupakan suatu tindakan untuk

mengembangkan ukuran-ukuran daya tarik pasar dan memilih satu atau lebih segmen

pasar untuk dimasuki (Kasali, 1998) dan menurut Kartajaya (1997) dalam

menentukan pasar terdapat dua langkah yang harus dilakukan, yaitu mengevaluasi segmen pasar dan memilih segmen pasar. Dalam mengevaluasi segmen pasar yang berbeda untuk target pasar, hams dilihat tiga faktor yaitu; ukuran segmen, daya tarik strutural dari segmen serta tujuan dan sumberdaya perusahaan. Setelah mengevaluasi berbagai segmen pasar maka perusahaan harus memilih segmen pasar yaitu dalam ha1 memutuskan berapa banyak dan bagaimana segmen yang ingin dilayaninya.

c. Positioning

Selanjutnya ada satu ha1 yang perlu dijaga yaitu menjaga kontinuitas dan

kepuasan pelanggan terhadap produk yang dihasilkan perusahaan. Berdasatkan ha1 tersebut perusahaan hams mempositioningkan produk dan perusahaannya untuk

(37)

(penempatan) adalah suatu tindakan untuk merancang penawaran dan citra pemsahaan sehingga menempati posisi kompetitif yang berarti dan berbeda dalam benak pelanggan sasarannya.

2.2.5. Bauran Pemasaran

Stanton (1991) mengemukakan bahwa strategi pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat didekati dengan konsep bauran,pemasaran (marketing

mix). Strategi bauran pemasaran adalah kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yang dapat dikendalikan pemsahaan guna mengejar tingkat penjualan

dalam pasar sasaran. Menurut Kotler (1993), Bauran pemasaran itu sendii

merupakan kumpulan variabel yang terdiri dari 4-P, yaitu produk (product), harga

(price), saluran distribusi (place), dan promosi (promotion). Dengan kata lain bauran pemasaran menggambarkan seluruh unsur pemasaran dan faktor produksi yang dikerahkan guna mencapai tujuan seperti laba, penghasilan, omset penjualan, bagian dari pasar yang ingin direbut dan sebagainya. Dari keemp& variabel tersebut, alat pemasaran yang paling mendasar pada bauran pemasaran adalah produk yang mempakan penawaran nyata oleh perusahaan pada pasar, termasuk kualitas produk, disain, bentuk, merek dan kemasannya. Keputusan mengenai merek adalah ha1 utama

dalam strategi produk. Suatu merek dikatakan kuat, jika memiliki kesetiaan

konsurnen tinggi (Kotler, 1995).

(38)

yang tepat merupakan awal bagi terciptanya sukses pemasaran. Menurut Kotler (1995), saluran pemasaran dapat dikarakteristikkan dengan jumlah tingkat saluran. Jumlah tingkat perantara menentukan panjang pendeknya sebuah saluran (Gambar 4). Saluran pemasaran untuk barang konsumen terdiri dari tiga tingkat, yaitu (1) saluran

no1 tingkat : menghubungkan produsen langsung ke konsumen, (2) saluran satu

tingkat : produsen, pengecer dan konsumen, (3) Saluran dua tingkat : produsen,

pedagang besar, pengecer dan konsumen.dan

(4)

saluran tiga tingkat : produsen,

pedagang besar, penyalur, pengecer dan konsumen.

Saluran Nol Tingkat

w - C )

Saluran SatuTingkat

(M-R-C)

Saluran Dua Tingkat

gVr-W-R-C)

Saluran Tiga Tingkat

(M-W-1-R-C)

Keterangan :

-

M : Produsen

C : Konsumen

R : Pengecer

W : Pedagang Besar

J : Pemborong

[image:38.602.75.520.317.524.2]

b

Gambar 4. Saluran Pemasaran Barang Konsumsi

Sumber : Kotler. 1995

Pengecer

Produsen Konsumen

(39)

Alat bauran pemasaran lain yang penting adalah harga yang mempakan jumlah utama yang h a m dibayarkan oleh pelanggan untuk produk tersebut. Bauran harga mempakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang menghasilkan

pendapatan. Penetapan harga akan menjadi masalah jika pemsahaan

mengembangkan produk bam. Menurut Kotler (1995), terdapat enam tahap prosedur

yang perlu dilakukan dalam menetapkan harga produk, yaitu : (1) memilih tujuan

penetapan harga, (2) menentukan permintaan, (3) memperkirakan biaya, (4)

menganalisa harga, (5) memilih metode penetapan harga dan ( 6 ) memilih harga akhir.

Meskipun faktor non harga menjadi semakii penting akhir-akhii ini, tetapi harga masih merupakan elemen yang terpenting yang menentukan pangsa pasar dan keuntungan perusahaan.

Promosi adalah alat bauran pemasaran yang tak kalah pentingnya. Promosi mempakan usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan kelebihan-kelebihan produknya dan membujuk pelanggan sasaran untuk' membeli. Empat alat utama bauran promosi adalah iklan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan pribadi (Kotler, 1995).

(40)

Hubungan masyarakat adalah suatu program y ~ dirancang untuk g memperbaiki, mempertahankan maupun melindungi suatu citra pemsahaan lnaupun produk. Elemen terakhir adalah penjualan pribadi yang mempakan presentasi isian dalam pembicaraan dengan calon pembeli dan alat paling efektif pada tahap tertentu dalam proses penjualan temtama untuk membangun keyakinan, preferensi dan tindakan pembeli (Kotler, 1995).

2.2.6. Principal Component Analysis (PCA)

Principal Component Analysis atau analisis komponen utama merupakan

salah satu metode analisis nzuItivariate yang bertujuan meringkaskan sejumlah besar

variabel asal menjadi beberapa kelompok variabel baru. Tetapi peringkasan data ini tetap mempertahankan keragaman total data. Kelompok-kelompok variabel bam

yang jumlahnya lebih sedikit dari variabel asal ini disebut Principal Component atau

komponen utama (Gaspersz

dalam

Dewi. 1997).

Pemilihan komponen utama yang akan diambil untuk menerangkan keragaman data ini dapat dilihat dari akar ciri yang dimiliki komponen utama

/

tersebut. Gaspersz

dalam

Dewi (1997) memberikan batasan, hanya akar ciri yang

lebih besar dari satu yang diambil sebagai variabel bam. ~ e n g a n demikian akar-akar

(41)

Komponen utama tersebut merupakan komponen variabel yang mempunyai koefisien korelasi antara variabel asal dengan komponen utama tersebut. Koefisien korelasi autara sekelompok variabel asal tertentu dengan komponen utamanya secara relatif lebih tinggi dibandingkan koefisien korelasi kelompok variabel tersebut

dengan komponen utama lainnya. Dapat dinyatakan bahwa komponen utama

merupakan sekelompok variabel asal yang mempunyai koefisien korelasi yang lebih tinggi pada komponen utama tersebut dibandingkan dengan komponen utama

lainnya. Koefisien korelasi ini disebut dengan loading dan dilambangkan dengan or.

Pengelompokan variabel asal ke dalam suatu komponen utama menunjukkan bahwa antar variabel dalam suatu kelompok terdapat keterkaitan. Keterkaitan ini merupakan dasar bagi pengelompokan variabel asal ke dalam suatu komponen utama. Alat analisis ini juga dapat digunakan untuk menentukan variabel yang mempunyai derajat pengaruh paling besar terhadap suatu sampel penelitian.

Cara menentukan variabel yang mempunyai derajat pengaruh paling besar dari sejumlah variabel asal terhadap sampel penelitian, yaitu dengan mengkuadratkan

loading variabel asal pada seluruh komponen utama yang terpilih. Hasil pengkuadratan kemudian dijumlahkan untuk semua variabel asal dan disebut sebagai communality, dilambangkan dengan h2. Variabel asal yang mempunyai h2 terbesar

merupakan variabel yang berpengaruh paling besar terhadap sampel. Setelah

(42)

2.3. Kerangka Pemikiran Konseptual

Industri teh celup di Indonesia berkembang cepat. Namun keadaan dalam beberapa tahun terakhir yaitu, banyaknya perusahaan baru yang masuk dalam bisnis teh celup dan semakin melemahnya daya beli masyarakat akibat krisis ekonomi mengakibatkan persaingan antar produsen semakin ketat. Pada saat ini, umumnya produsen yang ada bemsaha untuk bertahan dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki.

Kondisi persaingan dalam industri teh temtama dalam ha1 produk teh celup berimplikasi pada strategi pemasaran yang dilakukan oleh banyak produsen teh celup. Dalam menetapkan strategi pemasaran yang baik maka pemahaman perilaku konsumen seperti tentang kebiasaan, kebutuhan dan keinginan konsumen menjadi ha1 penting temtama diiaitkan dengan kedinamisan perilaku konsumen yang banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dengan memahami konsumen maka penetapan dan pengembangan strategi pemasaran berdasarkan bauran pemasaran yang tepat dapat dilakukan oleh produsen yang berorientasi pasar konsumen.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perilaku konsumen produk minuman teh celup oleh konsumen rurnah tangga, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses keputusan pembelian produk teh celup oleh konsumen rumah

tangga

,

menganalisis atribut-atribut yang menjadi keunggulan produk teh celup serta

mengetahui penilaian terhadap merek dan atribut produk yang diteliti. Tujuan lain

(43)

Konsumen teh celup yang diteliti pada penelitian ini adalah konsumen sektor

~ m a h tangga. Pemilihan rumah tangga sebagai sasaran penelitian disebabkan sektor

ini merupakan konsumen terbesar produk teh celup. Pemahaman perilaku konsumen rumah tangga yang dilakukan dalam penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan gambaran bagi produsen tentang perilaku konsumen teh celup pada umumnya.

Langkah pertama pada penelitian ini adalah menganalisis perilaku konsumen rumah tangga terhadap produk minuman teh celup pada setiap tahap proses keputusan pembelian. Tahap proses keputusan pembelian konsumen tersebut adalah pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi altematif, keputusan pembelian dan perilaku setelah membeli. Analisis perilaku konsumen pada setiap tahap proses keputusan pembelian dilakukan dengan menggunakan alat analisis tabulasi fkekuensi sederhana.

Pada proses keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen rumah tangga, maka terdapat banyak faktor yang mempengaruhi proses keputusan

pembelian tersebut. Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses keputusan

pembelian kemudian dianalisis dengan menggunakan alat analisis komponen utama

PCA) yang merupakan salah satu alat analisis mulitvariate. Alat analisis ini

digunakan dengan tujuan untuk mengetahui faktor faktor yang paling dominan diantara seluruh faktor yang dianalisis. Selain itu alat analisis ini digunakan untuk dapat mengetahui hubungan interaksi antara faktor-faktor yang ada.

Faktor-faktor yang menjadi variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga berdasarkan sumber pengaruh sesuai dengan teori yang menjadi acuan dalam penelitian perilaku konsumen ini dan telah diuraikan pada sub bab sebelumnya yaitu

(44)

pengaruh tersebut adalah pengaruh lingkungan, perbedaan individu dan proses psikologis. Kemudian proses psikologis dipengaruhi oleh rangsangan pemasaran yang meliputi produk, harga, tempat dan promosi.

Langkah penelitian berikutnya adalah melakukan penilaian terhadap atribut dan produk teh celup yang diteliti dalam suatu analisis preferensi konsumen dengan menggunakan metode analisis multiatribut Fishbein. Model ini dapat memberikan gambaran tentang atribut yang dianggap penting atau tidak penting oleh konsumen dan sikap konsumen terhadap merek produk yang diteliti. Cara yang digunakan adalah dengan mengevaluasi tingkat kepentingan atribut-atribut produk teh celup dan mengukur tingkat kepercayaan konsumen pada merek-merek teh celup yang diperbandiigkan. Merek produk teh celup yang diperbandingkan pada penelitian ini ada sebanyak tiga merek yaitu merek-merek yang menguasai pangsa pasar. Adapun atribut yang digunakan ada sebanyak enam buah atribut (n), yaitu atribut kualitas seduhan, kemudahan memperoleh, tampilan kemasan, kepopuleran merek, harga dan volume satu kantung. Atribut yang dipilih untuk digunakan adalah atribut yang berhubungan dengan bauran pemasaran yang diterapkan oleh produsen dan dapat dievaluasi oleh konsumen.

(45)

I

Produk Teh Celup

I

[image:45.595.88.486.51.673.2]

Perilaku Pembelian Konsumen Rumah Tangga

Gambar 5. Gambar Alur Kerangka Pemikiran

C

I

C

C

(46)

BAtd

m

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai perilaku konsumen teh celup mengambil lokasi di wilayah kotamadya Bogor. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja

(purposive) dengan pertimbangan disamping alasan kepraktisan bagi penulis yang berdomisili di Bogor, adalah karena masyarakat Kotamadya Bogor terdiri dari berbagai kelas sosial yang menarik untuk dikaji berkaitan dengan perilaku mengkonsumsi teh celup. Selain itu, Kotamadya Bogor memiliki potensi yang cukup tinggi bagi pemasaran produk teh celup. Kegiatan pengumpulan data dilakukan di bulan Maret 2000.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden yang terpilih dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan. Data primer yang terdapat dalam daftar pertanyaan yang disediakan tersebut terdiri dari data demografi, proses keputusan dalam pembelian teh celup, faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian teh celup, sikap konsumen terhadap atribut dan evaluasi terhadap tiga merek produk teh celup.

(47)

Penanaman Modal (BKPM), Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Pemerintah Daerah Kotamadya Bogor, Biro Pusat Statistik (BPS) dan lembaga survey.

3.3. Metode Penarikan Sampel

Dalam penelitian ini, yang menjadi responden atau element santpling adalah ibu rumah tangga. Pemilihan responden didasarkan pada pertimbangan bahwa pembelian bahan makanan untuk konsumsi keluarga umumnya diputuskan dan dilakukan oleh ibu mmah tangga. Unit sarnpling adaiaii mmah tangga biasa, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sehagian atau seluruh bangunan dan biasanya makan bersama dari satu dapur (BPS, 1999).

Teknik penarikan sampel dilakukan secara sengaja (purposive). Populasi yang merupakan pembeli teh celup dibagi menjadi tiga kelas pengeluaran rumah

tangga. Mengacu pada penggolongan oleh Biro Pusat Statistik (Survey Sosial

Ekonomi Nasional, 1999) masyarakat perkotaan di Indonesia dibagi menjedi 9 golongan pengeluaran per kapita per bulan. Selanjutnya 9 golongan pengeluaran

yang ada, dikelompokkan menjadi 3 golongan atau kelas pengeluaran yaitu kelas

bawab, kelas menengah dan kelas atas. Penggunaan teknik ini untuk mendapatkan informasi responden rumah tangga dari berbagai kelas sosial masyarakat pemakai produk teh celup.

Penggolongan penduduk menjadi 3 kelas dalam penelitian ini, sesuai dengan

penggolongan penduduk yang dilakukan Bank Dunia untuk kepentingan suatu penelitian ilmiah. Kemudian penentuan besarnya jumlah responden di setiap kelas

berdasarkan kriteria Bank Dunia (1998)

dalam

Indikator Kesejahteraan Rakyat
(48)

persen kelompok bawah, 40 persen kelompok menengah dan 20 persen kelompok

atas. Penetapan proporsi pengambilan sampel 4 : 4 : 2 untuk penduduk Indonesia

pada kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang mengalami krisis masih

relevan dilakukan sesuai yang dilakukan BPS

dalam

Survey Sosial Ekonomi Nasional

(1999). Pembagian proporsi sampel tersebut juga didasarkan atas piraniida

penduduk, dimana golongan berpendapatan rendah menempati bagian yang lebih besar dibandingkan golongan berpendapatan atas (Ivo, 1998).

Berdasarkan data mengenai golongan pengeluaran penduduk di atas, didapatkan batas selang untuk tiga kelas pengeluaran masyarakat perkotaan. Masyarakat kelas.bawah adalah penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Rp. 125.000,OO per kapita per bulan. Sedangkan batas pengeluaran per kapita

per bulan penduduk golongan pengeluaran menengah dan atas adalah masing-masing

berada pada batas selang Rp. 125.000,OO sampai Rp. 250.000,OO dan diatas Rp. 250.000,00.

Penggunaan dan penetapan batas pengeluaran penduduk per kapita per bulan tersebut dijadikan patokan untuk pengkelasan responden berdasarkan kelas pengeluaran rumah tangga per bulan. Untuk mendapatkan .batas pengeluaran pada tiga kelas pengeluaran rumah tangga maka batas selang pengeluaran penduduk per kapita per bulan di atas dikalikan rata-rata anggota rumah tangga perkotaan di

Indonesia. Rata-rata anggota tumah tangga di perkotaan adalah 4,34'. Untuk

memudahkan dalam penelitian, maka setiap batas pengeluaran dilakukan pembuiatan.

Pengeluaran nunah tangga kurang dari Rp. 500.000,OO adalah rumah tangga kelas

(49)

bawah, pengeluaran rumah tangga antara Rp. 500.000,OO sampai dengan Rp 1.000.000,00 adalah kelas menengah dan pengeluaran rumah tangga lebih dari Rp 1.000.000,00 adalah rumah tangga kelas atas.

Untuk memudahkan pengambilan sampel di lapangan, khususnya untuk mendapatkan responden yang memenuhi kategori tingkat pengeluaran di atas maka digunakan pendekatan lingkungan fisik tempat tinggal. Hal ini berdasarkan pendapat

Supranto

dalam

Dewi (1997), yang menyatakan bahwa penduduk "kaya" dan

"miskin" cenderung akan bertempat tinggal di daerah atau lingkungan tertentu secara mengelompok. Lokasi yang diperkirakan mewakili masyarakat kelas bawah dipilih lokasi Cidangiang dan Pasar Bogor. Lokasi ini dianggap mewakili berdasarkan ciri fisik penunahan tidak tertata baik dengan tipe rumah &wan kecil dan jalan utama penghubung dalak lingkungan penunahan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

Sedangkan lokasi yang diperkirakan mewakili masyarakat kelas menengah dipilih lokasi Bantarjati dan Sempur. Ciri-ciri umum lokasi adalah lingkungan perumahan telah tertata rapi, tipe rumah berukuran sedang, jalan utama penghubung

lingkungan pemmahan bisa dimasuki kendaraan roda empat. Lokasi yang

diperkirakan mewakili masyarakat kelas atas adalah Bogor Bam, Villa duta dan Villa Indah Pajajaran. Ciri umum lokasi penelitian ini adalah tipe rumah rata-rata 70 keatas.

3.4. Metode Pengumpulan Data

(50)

memuat pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan perilaku konsumen yang mengacu pada model perilaku konsumen Engel, Blackwell dan Miiard (1993). Pada bagian ketiga memuat pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan preferensi konsumen terhadap atribut produk tell celup.

Jenis pertanyaan yang dibuat dalam kuesioner adalah pertanyaan berstruktur yang berisikan pertanyaan tertutup, terbuka dan semi tertutup yaitu pertanyaan- pertanyaan yang lnemberi altematif jawaban kepada respondan untuk memilih salah satu jawaban yang tersedia ataupun menjawab lebih dari satu jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.

3.5. Metode Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan coding untuk

menyeragamkan data yang telah d i i p u l k a n . Dilakukan pula perhitungan

pprspzlrp ji!r&~: r p ~ m ~ c d p ~ YE:: (I_jJlixt &!am benezL. t l ! J ~ ! l ~ j . Data x r p n J -0 dikurnpulkan diolah dengan bantuan program SAS (Statistical Analysis System)

release 6,04 dan program Excel Windo~vs.

3.5.1. Analisis Komponen Utama

Analisis Komponen Utama (AKU) adalah metode yang digunakan untuk n~enguji hubdgan di antara duz variabel yang saling berkoreiasi, me!alui transformasi variabel asal ke variabel baru yang tidak berkorelasi (Chatfield dan

Collins

dalam

Riana (1997). Analisis Komponen Utama merupakan bagian dari
(51)

faktor (variabel bam) yang disebut komponen utama. Kelompok variabel bam yang terbentuk jumlahnya lebih sedikit dari variabel asal tetapi masih dapat menerangkan sebagian keragaman variabel asalnya. Analisis Komponen Utama pertama kali diperkenalkan oleh Karl Pearson, kemudian dikembangkan oleh Harold Hotelling

dalam

Dewi (1997).

Komponen utama sebagai variabel baru

(x)

merupakan kombinasi linear dari

p variabel asal

(x

= X I , x2..

.

.x,j yang saling oi.togonal dan ragamnya menurun dari

yang terbesar sampai yang terkecil. Secara sederhana dapat ditulis sebagai :

Y

= AX_

dengan :

Y = Komponen utama, berdimensi q

X = Matriks asal data, berdimensi p

A = Matriks yang melakukan transfomasi, berdimensi q x p

aq2

. . .

aw

Komponen utama pertama (YI) mempakan kombiiasi linier antara variabel

asal yang mainpu menerangkan keragaman data teibesar dar. dapat dituliskan :

YI = allxl

+

a l ~ x ?

+

a@,, atau -
(52)

Komponen utarna kedua (llz) merupakan kombinasi linier dari variabel asal yang memiliki keragaman maksimum kedua dan tidak berkorelasi dengan komponen yang pertama, dan demikian seterusnya. Secara umum komponen utama ke-j dari p variabel asal dapat dituliskan sebagai berikut:

Y. = ajlxl + aj2

+

. . .

+

ajpx,, atau

-J

T

Y

=a,

+

-J

dengan aj = =(,

. . .

Apj) adalah vektor konstanta dengan syarat g%p = 1, j = 1,2,. . .,p dan gj ini menunjukkan besarnya kontribusi variabel asal terhadap komponen utama ke-j.

Komponen utama yang terpilih dalam penelitian ini adalah komponen utama yang mampu menerangkan keragaman data cukup besar d m ha1 ini dapat dilihat dari

akar cirinya (eigenvalue). Akar ciri yang akan diambil sebagai variabel barn adalah

akar ciri yang leb'i besar dari satu (Gapersz

dalam

Ivo, 1998).

Untuk mengukur pentingnya q komponen utama ke-j dilakukan dengan

mengukur persentase keragaman yang dapat diterangkan oleh q komponen utama

ke-j. Secara m u m , pengukuran persentase keragaman tersebut dapat dituliskan :

(53)

Koefisien korelasi antara masing-masing variabel ke-i dengan komponen utama ke-j dapat dituliskan sebagai berikut : ru = aij (xi, )

Keterangan : aij = vektor ciri dari variabel ke-i pada komponen utama ke-j

xu = akar dari komponen utama ke-j

Nilai koefisien korelasi ini mempakan dasar bagi pengelompokan variabel asal ke-j ke dalam komponen utama sebagai kelompok variabel bam. Koefisien

korelasi ini disebut juga sebagai loading

(a)

.

Nilai koefisien korelasi yang

diperoleh selain menunjukkan keeratan hubungan antara variabel asal dengan komponen utama, juga dapat memperlihatkan besamya pengaruh dari masing-masing

variabel terhadap keputusan konsumen, yaitu dengan mengkuadratkan loading

variabel asal pada seluruh komponen utama sehiigga menghasilkan communality

(h2). Variabel asal yang mempunyai h2 terbesar merupakan variabel yang

berpengaruh paling besar terhadap sampel.

3.5.2. Analisis Multiatribut Fishbein

Data sikap dan persepsi terhadap atribut-atribut dari tiga merek produk teh celup (hasil survei) dianalisis dengan model Multiatribut Fishbein. Model ini dapat memberikan gambaran tentang atribut yang dianggap penting'atau tidak penting oleh konsumen dan merek produk yang lebih disukai konsumen. Formulasi model

(54)

Dimana: Ao = Sikap terhadap objek

bi = Kekuatan kepercayaan bahwa objek memiliki atribut I

ei = Evaluasi mengenai atribut I

n = Jumlah atribut yang menonjol

Ao merupakan sikap konsumen terhadap produk, yang dalarn ha1 ini adalah

produk minuman teh celup. Sedangkan. ei menggambarkan evaluasi terhadap atribut-

atribut yang terdapat pada rninuman teh celup yang diukur dengaii skala -2 untuk

sangat tidak penting, sampai dengan +2 untuk sangat penting. Sementara b,

menggambarkan seberapa kuat konsumen percaya bahwa tiga merek produk minuman teh celup memiliki atribut yang diberikan. Skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lima tingkatan skala untuk jawaban responden atas

pertanyaan yang diberikan terhadap atribut produk yaitu nilai -2, -1,0, +1 dan +2.

3.6. Definisi Operasional

Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini secara operasional

didefmisikan sebagai berikut :

a. Konsurnen adalah pemakai akhir produk yang melak&an pembelian untuk

konsumsi sehari-hari daiam sebulan terakhir sebelurn pengisian kuesioner di daerah kotamadya Bogor. Dalam ha1 ini konsumen adalah anggota rurnah tangga yang diwakili ibu rumah tangga sebagai pengambil keputusan pembelian

produk dalam rumah tangga sebagai unit sampling.

b. Keluarga adalah jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah, baik yang

(55)

c. Kelas sosial adalah kelompok individu yang menganut nilai, minat dan perilaku

yang sama. Dalam penelitian ini kelas sosial diukur berdasarkan besar

pengeluaran rumah tangga responden untuk setiap bulan.

d. Besar pengeluaran rumah tangga adalah nilai nominal uang yang dikeluarkan

rumah tangga responden untuk pembelian produk kebutuhan sehari-hari dan

pelnbayaran jasa setiap bulan.

e. Tingkat pendidikan adalah pendidikan

Gambar

Gambar p& Halaman
Gambar 1. Proses Pengolahan Teh Celup
Tabel 1. Perkembangan Produksi Teh Celup Indonesia
Tabel 3. Perkembangan Konsumsi (grlkaplthn) Teh Celup Indonesia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu merupakan suatu DAS besar yang berada pada wilayah CAT Bandung-Soreang dengan luas wilayah DAS mencapai 1812 Km2. Wilayah DAS Citarum

Jika anda sudah memiliki sistem yang canggih dan lengkap, maka langkah selanjutnya adalah promosi. Kalau di internet, promosi ini cukup mudah untuk dipelajari oleh orang awam

Dimensi f merupakan nilai yang bersifat nyata dari suatu kriteria yang dituliskan dalam fungsi, f : K → R dan tujuannya berupa prosedur optimasi untuk setiap alternatif

Muhammadiyah Palembang lebih banyak yang normal daripada yang tidak normal dimana bayi dengan berat badan lahir normal tadi banyak dilahirkan dari ibu berusia

Kewenangan Menteri untuk mengusulkan Penghapusan Secara Bersyarat atau Mutlak atas Piutang Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dengan nilai sampai dengan

dan strategi umum (grand strategy) yang akan mencapai pilihan yang paling dikehendaki. { Mengembangkan sasaran tahunan

(2014) bahwa ikan gurami yang terserang bakteri pada umumnya menunjukkan gejala klinis berupa warna tubuh menjadi gelap dan menghitam, berenang ke permukaan (megap-megap),

Dalam pemikiran Simpson, untuk dapat memperoleh pengudusan orang percaya harus menyadari kebutuhan akan pengudusan, kemudian datang kepada Yesus sebagai pengudus,