SKRIPSI
PERSEPSI PENGUSAHA TERHADAP SUKU BUNGA
PINJAMAN PERBANKAN DI KOTA MEDAN
OLEH
JAYA SPLIWAN SIREGAR 090523022
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
PERSEPSI PENGUSAHA TERHADAP SUKU BUNGA PINJAMAN PERBANKAN DI KOTA MEDAN
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi pengusaha terhadap suku bunga pinjaman perbankan di kota medan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan usaha furniture, persepsi pengusaha terhadap suku bunga dan untuk mengetahui persepsi pengusaha tentang suku bunga yang wajar/sesuai keekonomian.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada para pengusaha furniture. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat perkembangan usaha furniture adalah terbatasnya akses pemasaran, akses informasi dan manajemen keuangan. Alasan pengusaha tidak berhubungan dengan perbankan adalah masalah bunga kredit atau bunga pinjaman yang masih tinggi, biaya administrasi yang masih tinggi, urusan kredit yang sangat sulit dan masalah agunan. Suku bunga pinjaman yang ideal menurut para pengusaha di Kota Medan adalah tingkat bunga < 5%.
ABSTRACT
PERCEPTION OF ENTREPRENEURS IN THE BANKING LOAN RATE INTEREST IN THE CITY OF MEDAN
Formulation of the problem in this study was to determine how the perception of entrepreneurs to bank lending rates in the city of Medan. The purpose of this study was to determine the employers' perception of interest rates in the city of Medan and to determine the perceptions of entrepreneurs about reasonable interest rates / economic suit in the city of Medan.
Primary data collection through questionnaires distributed to the furniture business. The analytical method used is descriptive analysis.
The results showed that employers want furniture mortgage interest is not too big and reasonable rates expected and ideal that is <5%. Valid test of the validity of the data shows where each variable is positive and the magnitude of the above 0:30 while the reliability of test data shows reliable as a positive value and the amount above 0.70 according to the testing process.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya yang begitu berlimpah sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Persepsi Pengusaha Terhadap Suku
Bunga Pinjaman Perbankan di Kota Medan”, guna memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan Program Strata (S-1) atau gelar sarjana pada
fakultas Ekonomi Program Studi Ekonomi Pembangunan.
Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi dan doa dari
berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan bimbingan, yaitu:
1. Bapak Drs. John Tafbu Ritonga, M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec selaku Ketua Departemen Ekonomi
Pembangunan Fakultas Ekonomi Sumatera Utara
3. Bapak Syahrir Hakim Nasution M.Si selaku Sekretaris Departemen Ekonomi
Pembangunan Fakultas Ekonomi Sumatera Utara
4. Bapak Irsyad Lubis, SE, M.Soc, Sc, PhD selaku Ketua Program Studi
Ekonomi Pembangunan.
5. Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ekonomi
Pembangunan sekaligus Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya
6. Bapak/Ibu Dosen dan seluruh staf pegawai Departemen Ekonomi
Pembangunan yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Keluarga terkasih, Bapak, Mama, Abang dan Kakak yang telah mendukung
saya sepenuhnya. Terimakasih buat doa-doanya, dukungan moral dan
financial, semangat dan masukan yang sangat berharga bagi penulis.
8. Saudara, sahabat dan teman-teman satu angkatan 2009 Ekonomi
Pembangunan Ekstensi yang sama-sama berjuang dan saling memberi
semangat serta dukungan.
9. Para responden yang banyak membantu dalam memberikan data untuk
penulisan skripsi ini.
Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca
semuanya dan semoga Tuhan Yanh Maha Esa membalas kebaikan dan dukungan
yang telah diberikan kepada penulis.
Medan, Juli 2012
Penulis
DAFTAR ISI
1.2 Perumusan Masalah... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi ... 5
2.1.1 Konsep Teoritik Mengenai Persepsi ... 5
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Seseorang ... 7
2.1.3 Pengukuran Persepsi ... 8
2.2 Pengusaha ... 9
2.2.1 Pengertian Pengusaha ... 9
2.2.2 Tiga Macam Resiko yang Dihadapi Oleh Tengusaha ... 14
2.2.3 Pandangan Joseph Schumpeter Tentang Tengusaha ... 15
2.3 Bank ... 16
2.3.1 Pengertian bank ... 16
2.4 Tingkat Suku Bunga ... 18
2.4.1 Teori Klasik Tentang Tingkat Bunga ... 18
2.4.2 Teori Keynes Tentang Tingkat Bunga... 20
2.4.3 Teori Loanable Funds ... 20
2.4.4 Tingkat Bunga Nominal ... 21
2.4.5 Tingkat Bunga Rill... 22
2.5 Sumber pembiayaan pengusaha ... 22
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 24
3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 25
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi wilayah Kota Medan ... 30
4.1.1 Wilayah dan Eopografi ... 30
4.1.2 Kependudukan ... 31
4.1.3 Perkembangan Ekonomi Kota Medan ... 34
4.1.4 Pertumbuhan Ekonomi ... 35
4.1.5 Perkembangan Pnvestasi ... 37
4.1.6 Pendapatan Perkapita ... 39
4.2 Hasil Penelitian ... 41
4.2.1 Perkembangan Usaha Uurniture di Kota Medan ... 41
4.2.2 Perizinan Usaha... 42
4.2.3 Perkembangan Suku Bunga Pinjaman di Kota Medan... 43
4.3 Pembahasan ... 46
4.3.1 Uji Validitas ... 46
4.3.2 Uji Reliabilitas ... 47
4.3.3 Karakteristik Responden dan Usaha ... 48
4.3.4 Faktor Penghambat Perkembangan Psaha Purniture ... 53
4.3.5 Upaya Peningkatan Penyaluran Predit ... 56
4.3.6 Alasan Tidak Berhubungan Dengan Pihak Bank... 59
4.3.7 Sumber Pembiayaan Modal Pengusaha... 61
4.3.8 Tingkat Bunga Ideal Menurut Pengusaha ... 62
4.3.9 Penilaian Terhadap Persepsi ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 67
5.2 Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Tahun
2005-2009 ... 31
4.2 Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2010 ... 33
4.3 Perbandingan Peranan dan Kontribusi Antar Lapangan Usaha Terhadap PDRB Pada kondisi Harga Berlaku Tahun 2005-2007 ... 35
4.4 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan Periode 2005-2007 Menurut Sektor/Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 ... 36
4.5 Perizinan UsahaYang Dikeluarkan Sepanjang Tahun 2011 ... 42
4.6 Perkembangan Suku Bunga Kredit Tertimbang Kota Medan ... 45
4.7 Hasil Uji Validitas ... 46
4.8 Hasil Uji Reabilitas ... 47
4.9 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin .... 48
4.10 Karakteristik Responden Menurut Umur ... 49
4.11 Karakteristik Responden Menurut Pendidikan ... 50
4.12 Karakteristik Responden Menurut Jenis Usaha ... 50
4.13 Karakteristik Responden Menurut Lama Usaha ... 51
4.14 Karakteristik Responden Menurut Jumlah Karyawan ... 52
4.15 Karakteristik Responden Menurut Asset Perusahaan ... 53
4.16 Faktor Penghambat Perkembangan Usaha ... 54
4.17 Upaya Peningkatan Penyaluran Kredit ... 56
4.18 Alasan Tidak Berhubungan Dengan Pihak Bank ... 59
4.19 Sumber Pembiayaan Modal Pengusaha ... 61
4.20 Tingkat Suku Bunga Ideal Menurut Pengusaha ... 62
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1 Tingkat Bunga Menurut Teori Klasik... 19 4.1 PDRB Atas Dasar harga Berlaku 2006-2010 ... 40 4.2 PDRB Perkapita Kota Medan dan PDRB Perkapita
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Kuisioner Penelitian
ABSTRAK
PERSEPSI PENGUSAHA TERHADAP SUKU BUNGA PINJAMAN PERBANKAN DI KOTA MEDAN
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi pengusaha terhadap suku bunga pinjaman perbankan di kota medan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan usaha furniture, persepsi pengusaha terhadap suku bunga dan untuk mengetahui persepsi pengusaha tentang suku bunga yang wajar/sesuai keekonomian.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada para pengusaha furniture. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat perkembangan usaha furniture adalah terbatasnya akses pemasaran, akses informasi dan manajemen keuangan. Alasan pengusaha tidak berhubungan dengan perbankan adalah masalah bunga kredit atau bunga pinjaman yang masih tinggi, biaya administrasi yang masih tinggi, urusan kredit yang sangat sulit dan masalah agunan. Suku bunga pinjaman yang ideal menurut para pengusaha di Kota Medan adalah tingkat bunga < 5%.
ABSTRACT
PERCEPTION OF ENTREPRENEURS IN THE BANKING LOAN RATE INTEREST IN THE CITY OF MEDAN
Formulation of the problem in this study was to determine how the perception of entrepreneurs to bank lending rates in the city of Medan. The purpose of this study was to determine the employers' perception of interest rates in the city of Medan and to determine the perceptions of entrepreneurs about reasonable interest rates / economic suit in the city of Medan.
Primary data collection through questionnaires distributed to the furniture business. The analytical method used is descriptive analysis.
The results showed that employers want furniture mortgage interest is not too big and reasonable rates expected and ideal that is <5%. Valid test of the validity of the data shows where each variable is positive and the magnitude of the above 0:30 while the reliability of test data shows reliable as a positive value and the amount above 0.70 according to the testing process.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam mengembangkan aspek ekonomi suatu bangsa dan menciptakan
lapangan kerja, peran pengusaha sangat penting karena tanpa pengusaha tidak
mungkin kita dapat mengembangkan aspek ekonomi dalam meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa. Sebagai salah satu komponen
masyarakat, pengusaha harus memilliki rasa tanggung jawab atas terwujudnya
tujuan pembangunan nasional, yakni kesejahteraan sosial, spiritual, dan material.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian dewasa ini banyak
pengusaha yang melakukan ekspansi usaha, untuk tujuan tersebut maka
pengusaha memerlukan dana yang relatif besar. Pemenuhan kebutuhan dana
tersebut diperoleh dengan melakukan pinjaman dalam bentuk hutang kepada
bank.
Pengusaha dalam kegiatan usahanya harus didukung oleh perbankan.
Perbankan bekerja untuk membantu dan mendorong kegiatan ekonomi. Jasa yang
diberikan bank adalah jasa lalu lintas peredaran uang. Melalui bank, pengusaha
dapat memperoleh kredit atau pinjaman uang untuk usaha yang dijalankan.
Perbankan merupakan lembaga yang mempunyai posisi strategis dalam
pembiayaan dunia usaha karena bank berfungsi sebagai lembaga intermediasi.
Perbankan dalam operasionalnya diawasi langsung oleh Bank Indonesia karena
Dewasa ini, aksessibilitas dunia usaha terhadap perbankan dalam rangka
pembiayaan sangat tergantung pada mekanisme pasar yang sangat kompetitif.
Pemahaman para pengusaha tentang suku bunga pinjaman merupakan hal yang
perlu diperhatikan oleh pihak perbankan. Suku bunga masih menjadi faktor
penghambat utama pengusaha dalam mengakses dana perbankan karena
tingkatnya masih sangat tinggi.
Tingkat suku bunga yang tinggi akan mengakibatkan pengusaha semakin
sulit dalam mengakses dana dari bank. Mereka akan mengkompensasi dengan
menaikkan harga produk yang berakibat pada masyarakat luas dan juga daya saing
produk akan semakin rendah karena biaya modal yang mahal.
Selain itu, pengusaha juga tidak terlepas dari permasalahan dan hambatan
dalam pengembangan aktivitas usahanya. Masalah mendasar untuk pengusaha
yang paling menonjol adalah masalah yang menyangkut pembiayaan usaha atau
modal usaha. Kebutuhan modal sangat terasa pada saat seseorang ingin memulai
usaha baru. Pada usaha yang sudah berjalan, modal tetap menjadi kendala
lanjutan untuk berkembang. Masalah yang menghadang pengusaha lainnya
menyangkut kemampuan akses pasar dan pemasaran, tata kelola manajemen serta
akses informasi. Kesulitan usaha kecil mengakses sumber-sumber modal karena
keterbatasan informasi dan kemampuan menembus sumber modal tersebut.
Bank sebagai sebuah industri jasa keuangan harus betul-betul dipersiapkan
dengan baik dimana bank adalah sumber dana bagi kebutuhan perkembangan
mempengaruhi investasi. Begitu juga halnya perbankan sendiri, tingkat suku
bunga yang tinggi akan berpengaruh terhadap besarnya pinjaman para pengusaha.
Akibat krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 masih terasa
dampaknya pada kegiatan pengusaha dimana banyak pengusaha mengalami
kebangkrutan dan berdampak lebih lanjut kepada sektor perbankan. Dengan
kondisi perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas tersebut mendorong
perbankan menaikkan suku bunga yang tinggi guna menarik dana dari
masyarakat. Bahkan perbankan menawarkan kepada peminjam dengan suku
bunga mencapai lebih dari 60%.
Hal ini mengakibatkan perbankan menjadi tempat yang tidak
menyenangkan bagi pengusaha yang ingin meminjam dana sehingga banyak bank
yang mudah diguncang isu yang menyebabkan rusak dan berkurangnya
kepercayaan rakyat terhadap bank. Guna menjamin dan memulihkan kepercayaan
tersebut banyak bank yang ditutup atau diambil alih oleh pemerintah. Karenanya
dibutuhkan biaya yang besar melalui program restrukturisasi dan rekapitalisasi
perbankan.
Pasca krisis ekonomi melanda Indonesia, independensi Bank Sentral
Indonesia menjadikan lembaga tersebut sebagai satu-satunya pengendali pasar
uang. Tingkat suku bunga yang rendah, dengan ukuran satu digit (di bawah 10%)
menjadi target dalam pengelolaan ekonomi makro.
Karena peranan perbankan bagi para pengusaha sangatlah penting, maka
diharapkan mampu membantu para pengusaha dalam permodalan dengan
yang stabil dan wajar akan menciptakan iklim investasi yang kondusif dan akan
berpengaruh terhadap permodalan bagi pengusaha.
Berdasarkan uraian dan latar belakang masalah diatas maka penulis
bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Persepsi Pengusaha
Terhadap Suku Bunga Pinjaman Perbankan Di Kota Medan”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang judul di
atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah persepsi pengusaha terhadap suku bunga pinjaman perbankan di
Kota Medan?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan di atas, maka tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perkembangan usaha di Kota Medan.
2. Untuk mengetahui persepsi pengusaha terhadap suku bunga di Kota
Medan.
3. Untuk mengetahui persepsi pengusaha tentang suku bunga yang
1.4. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1. Dari segi teoritis, penelitian ini diharapakan akan dapat menambah
wawasan tentang persepsi pengusaha terhadap suku bunga pinjaman
perbankan.
2. Dari segi praktis, penelitian ini dapat menambah masukan dan wacana
kepada masyarakat luas serta sebagai bahan acuan bagi kalangan
akademisi dan peneliti lain untuk penelitian selanjutnya terutama yang
berminat untuk mengkaji tentang persepsi pengusaha terhadap suku
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Persepsi
2.1.1. Konsep Teoritik Mengenai Persepsi
Persepsi seseorang dapat timbul dari pengalaman yang telah diperolehnya,
baik yang dilakukan sendiri maupun kesan dari orang lain. Akumulasi dari
persepsi akan mampu membentuk suatu opini asumsi atau kesimpulan tentang
sesuatu yang telah dialaminya.
Kotler (2003) mendefinisikan persepsi sebagai perception is the process by
which an individual selected, organized and interprets information inputs to
create a meaningful picture of the world. Sementara wells dan prenskey (2000)
mendefinisikan persepsi sebagai perception is the process consumers use to select
stimuli or object in t.heir environtment, gather information about them and
interpret the meaning of the information.
Pengertian persepsi itu sendiri dapat dilihat dari beberapa definisi persepsi
berikut ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) persepsi adalah: (1)
tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, serapan dan (2) proses seseorang
mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya.
Definisi persepsi menurut Michael W. Levine & Shefner (2000) yaitu:
“persepsi merupakan cara dimana kita menginterpretasikan informasi yang
dikumpulkan (diproses) oleh indera”.
sehingga dapat mengenal mengenal suatu objek dengan jalan asosiasi pada
sesuatu ingatan tertentu, baik secara indera penglihatan, indera perabaan dan
sebagainya sehingga akhirnya bayangan itu dapat disadari.
Menurut Chaplin (2001) dalam kamus lengkap Psikologi, persepsi adalah;
1. Proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan
bantuan indera.
2. Kesadaran dari proses-proses organik.
3. Satu kelompok dari penginderaan dengan penambahan arti-arti yang
berasal dari pengalaman masa lalu.
4. Variabel yang menghalangi atau ikut campur tangan, berasal dari
kemampuan organisme untuk melakukan pembedaan diantara
perangsang-perangsang.
5. Kesadaran intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang
serta merta mengenai sesuatu.
Menurut slameto (2003) persepsi adalah proses yang menyangkut
masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi manusia
terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini
dilakukan lewat inderanya , yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa dan
pencium. Siagian (1995) mendefenisikan persepsi sebagai apa yang ingin dilihat
oleh seseorang yang belum tentu sama dengan fakta yang sebenarnya, dan inilah
yang menyebabkan timbulnya interprestasi berbeda tentang apa yang dilihat dan
Menurut Rakhmat (2004) persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan
informasi dan melampirkan pesan.
Persepsi merupakan suatu proses seseorang menafsirkan stimulus yang
diterimanya dan juga merupakan suatu proses seseorang mengorganisasikan
pikirannya dengan menafsirkan dan mengalami serta mengolah pertanda atau
segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.
2.1.2. Faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang
Persepsi seseorang tidak timbul begitu saja. Tentu ada faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan mengapa dua orang
yang melihat sesuatu mungkin memberikan interprestasi yang berbeda tentang
yang dilihatnya.
Menurut Siagian (1995) Secara umum terdapat 3 faktor yang
mempengaruhi persepsi seseorang. Pertama diri orang yang bersangkutan sendiri
atau pengetahuan yang dimiliki.Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha
memberikan interprestasinya tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh
karakteristik individual dan pengetahuan yang turut berpengaruh seperti sikap,
motif, minat, pengalaman, dan harapannya. Kedua sasaran pesepsi tersebut.
Sasaran ini mungkin berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu
biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya. Hal-hal lain yang
ikut menentukan persepsi seseorang adalah gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk
hal ini tinjauan terhadap persepsi harus secara konstektual artinya perlu
diperhatikan dalam situasi yang mana suatu persepsi itu timbul.
Pendapat ( Rakhmat, 1994 dikutip oleh Sobur 2003) menyebutkan,
faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut
yaitu, pertama faktor fungsional. Faktor fungsional dihasilkan dari kebutuhan,
kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seorang
individu. Kedua faktor struktural berati bahwa faktor tersebut timbul atau
dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem
syaraf individu.Ketiga faktor situasional. Faktor ini banyak berkaitan dengan
bahasa non verbal. Keempat Faktor personal mempengaruhi persepsi adalah
faktor personal yang terdiri atas pengalaman, motivasi, kepribadian.
2.1.3. Pengukuran Persepsi
Mengukur persepsi hampir sama dengan mengukur sikap. Walaupun
materi yang diukur bersifat abstrak, tetapi secara ilmiah sikap dan persepsi dapat
diukur, dimana sikap terhadap obyek diterjemahkan dalam sistem angka. Dua
metode pengukuran sikap terdiri dari metode self report dan pengukuran
involuntary behavior.
Self Report merupakan suatu metode dimana jawaban yang diberikan
dapat menjadi indikator sikap seseorang. Namun kelemahannya adalah bila
individu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan maka tidak dapat mengetahui
pendapat atau sikapnya. Sedangkan pengukuran involuntary behaviour dilakukan
jika memang diinginkan atau dapat dilakukan oleh responden, dalam banyak
merupakan pendekatan observasi terhadap reaksi-reaksi fisiologis tanpa disadari
oleh individu yang bersangkutan. Observer dapat menginterpretasikan
sikap/persepsi individu mulai dari facial reaction, voice tones, body gesture,
keringat, dilatasi pupil mata, detak jantung dan beberapa aspek fisiologis yang
lainnya (Azzahy, 2010).
Menurut Azwar, (2003) skala sikap disusun untuk mengungkap sikap pro
dan kontra, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju terhadap suatu obyek sosial.
Pernyataan sikap terdiri dari dua macam yaitu pernyataan favorable (mendukung
atau memihak) dan unfavorable (tidak mendukung/tidak memihak) pada obyek
sikap.
Jika merujuk pada pernyataan diatas, bahwa mengukur persepsi hampir
sama dengan mengukur sikap, maka skala sikap yang disusun untuk mengungkap
sikap dapat dipakai atau dimodifikasi untuk mengungkap persepsi sehingga dapat
diketahui apakah persepsi seseorang positi, negatif terhadap suatu hal atau obyek.
2.2. Pengusaha
2.2.1 Pengertian Pengusaha
Dewasa ini ada macam-macam istilah yangt berkaitan dengan istilah
pengusaha. Ada yang menamakannya usahawan, ada pula istilah wiraswasta,
wiraniaga, dan kadang-kadang orang menggunakan istilah manajer.
Istilah pengusaha sebenarnya berasal dari perkataan bahasa Belanda yaitu
“ONDERNEMER” yang biasanya dihubungkan dengan istilah badan usaha atau
Menurut Profesor Abdul-kadir Muhammad, SH, pengusaha adalah orang
yang menjalankan perusahaan atau menyuruh menjalankan perusahaan.
Menjalankan perusahaan artinya mengelola sendiri perusahaannya, baik dengan
sendiri maupun dengan bantuan pekerja. lni umumnya terdapat pada perusahaan
perseorangan. Jika pengusaha menjalankan perusahaan dengan bantuan pekerja,
dalam hal ini dia mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai pengusaha dan sebagai
pemimpin perusahaan.
Dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, yang dimaksud pengusaha sebagai berikut.
1. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan
suatu perusahaan milik sendiri;
2. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalani perusahaan bukan miliknya;
3. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
Dalam arti klasik seorang pengusaha adalah seorang pemilik alat-alat
produksi, yang sekaligus memimpin proses produksi dan ia mempekerjakan
sejumlah pekerja dengan imbalan yang tetap, dengan tujuan agar dari proses
produksi yang bersangkutan dapat dicapainya sesuatu penghasilan yang
tergantung dari hasil proses produksi yang bersangkutan.
Apabila kita memperhatikan tipe pengusaha yang sekaligus merupakan
risiko sendiri mengorganisasi serta memimpin produksi maka dapat dikatakan
bahwa fungsinya yang pertama terletak pada tindakan mengkombinasi
faktor-faktor produksi modal dan tenaga kerja (SDM). Wilayah garapannya tersebar
pada tiga buah pasar penting sebagai berikut:
- Pasar modal
- Pasar tenaga kerja
- Pasar barang-barang
Seorang pengusaha pertanma-tama bertindak pada sisi permintaan yaitu:
merekrut pekerja-pekerja dan mempekerjakan mereka dimana pengusaha tersebut
harus membayar sejumlah gaji atau upah.
Di samping itu pengusaha meminjam sejumlah modal yang diperlukannya
(dimana kadangkala ia tidak memiliki cukup modal yang diperlukannya) dan
harus membayar sejumlah bunga modal; membeli bahan-bahan dasar dan
pembantu dimana kesemuanya menyebabkan timbulnya biaya produksi yang
kemudian jika barang-barang tersebut laku terjual di pasar akan menghasilkan
kembalinya modal dan keuntungan yang diharapkan. Namun diperkirakan bahwa
penghasilannya bersifat sangat tidak pasti.
Penghasilan seorang pengusaha tergantung dari persoalan apakah ia dapat
mengelola badan usaha atau perusahaannya demikian rupa, hingga terdapat selisih
positif antara hasil yang diperolehnya dengan biaya yang dikeluarkannya. Sejak
zaman kaum klasik, orang mencoba menerangkan gejala yang dinamakan
Dalam hal menetapkan fungsi pengusaha orang ternyata menemukan
kesulitan tertentu yakni fungsi tersebut ternyata terdiri dari tiga macam elemen.
Elemen-elemen tersebut selaras tiga macam pengerjaan yang menurut pandangan
ekonomi klasik, turut sera membantu proses produksi yakni sebagai berikut;
1. Pemilik alat-alat produksi
2. Pemimpin proses produksi
3. Penanggung resiko
Maka, pandangan Klasik sesuai dengan konstruksi yang dikemukakan
selaras dengan hakekat pengusaha pribadi, yakni;
1. Elemen bunga modal
2. Elemen upah pengusaha, dan
3. Premi pengusaha yang juga dianggap sebagai premi risiko.
Tetapi dengan berubahnya masyarakat fitur pengusaha pribadi turut pula
mengalami perubahan karea ekspansi badan-badan usaha menyebabkan bahwa
modal para pengusaha tersebut tidak cukup untuk membiayai ekspansi tersebut
hingga harus terpaksa meminta bantuan tabungan pihak ketiga dalam kaitan mana
bentuk yuridis badan usaha perseroan terbatas mencapai arti penting.
Badan usaha semakin lama semakin kehilangan unsur kepribadiannya.
Akibat lainnya adalah bahwa pengusaha pribadi, sebagai pencipta penghasilan
juga makin lama makin berkurang artinya. Makin lama makin terlihat bahwa
tidak ada lagi pemimpin proses produksi yang sekaligus merupakan pemilik
Perseroan terbatas mengambil seorang pemimpin sebagai direktur yang
mendapatkan gaji, sedangkan hak milik alat-alat produksi secara yuridis berada di
tangan hukum perseroan terbatas, dan secara ekonomis ia dimiliki oleh sejumlah
besar pemilik saham yang tidak turut serta dalam pimpinan badan usaha dan
kadang-kadang tidak memperdulikannya karerna mereka mungkin tersebar di
seluuh dunia.
Para pemilik saham dan penyedia modal lainnya mengumpulkan modal
yang diperlukan yang dulu dimiliki oleh pemimpin proses produksi hingga dengan
demikian keterangan klasik tidak dapat dipertahankan lagi, sehubungan dengan
penghasilan pengusaha, khususnya premi pengusaha. Bahwasanya seorang
pengusaha pibadi menerima imbalan (gaji) untuk pekerjaannya sebagai pemimpin
proses produksi cukup jelas.
Jika pada sebuah badan usaha, seorang pemimpin tidak dapat
melaksanakan pimpinan maka ia mengambil orang lain untuk melaksanakan tugas
tersebut yang diberi imbalan berupa gaji hingga penghasilannya berkurang dengan
gaji yang dibayarkan itu. Tetapi jika pekerjaan itu dilaksanakan sendiri maka
dengan sendirinya gaji tersebut dapat dinikmatinya sebagai penghasilan.
Dalam hubungan ini elemen bunga modal idak merupakan sebuah
masalah. Pengusaha pribadi yang tidak mampu membiayai semua alat-alat
produksi dengan modalnya sendiri menutupi kebutuhannya akan modal dengan
Pada zaman klasik pengusaha pinjaman uang adalah hal yang merupakan
kekecualian. Dalam kondisi demikian bunga tak perlu dibayarkan hingga bunga
tersebut dapat dinikmati oleh sang pengusaha pribadi.
Pada persoalan premi pengusaha, situasi yang dihadapi agak berbeda. Jasa
pihak ketiga pengusaha pribadi berupa tindakan menanggung resiko. Untuk itu
pengusaha menerima premi pengusaha atau premi resiko menurut pandangan
kaum klasik. Tetapi apabila beralih pada badan usaha yang terlepas dari pribadi
pengusaha, maka tidak ada figur pribadi yang menerima pengalihan resiko dari
pengusaha pribadi sehingga premi pengusaha mengalir kepada orang-orang yang
tidak menanggung resiko.
2.2.2. Tiga Macam Resiko Yang Dihadapi Oleh Pengusaha
Prof. M.J.H. Cobbenhagen berpendapat bahwa seorang pengusaha
menghadapi tiga macam resiko, yaitu:
1. Resiko pendapatan
Resiko pendapatan adalah resiko yang sebenarnya juga dihadapi oleh
setiap subyek ekonomi yang mencapai pendapatan dari badan usaha yang
bersangkutan. Resiko pendapatan timbul karena hasil (revenue) badan
usaha senantiasa mengalami fluktuasi.
2. Resiko modal
Resiko modal dihadapi oleh setiap pengusaha tetapi juga dihadapi oleh
3. Resiko moril
Resiko moril dihadapi oleh setiap pengusaha yang mengalami kegagalan
sebagai pengusaha. Dalam hubungan ini ia menghadapi karier hidup yang
gagal.
2.2.3. Pandangan Joseph Schumpeter Tentang Pengusaha
Joseph Schumpeter kf tmenyatakan bahwa seorang pengusaha merupakan
elemen aktif pada apa yang dinamakan “Durchsetzung neue kombinationen (orang
yang senantiasa mencoba mengusahakan kombinasi factor-faktor produksi dengan
cara yang baru).
Pengusaha merupakan seorang pionir yang senantiasa berupaya untuk
mengembangkan inisiatif. Seorang yang kreatif dan senantiasa berupaya agar
alat-alat produksi dan faktor-faktor produksi yang tersedia padanya, senantiasa
disesuaikan dengan data badan usahanya yang senantiasa mengalami perubahan
supaya dengan demikian ia dapat mendahului pihak saingannya.
Kombinasi faktor-faktor produksi dengan cara baru yang berhasil dapat
menyebababkan terbentuknya:
1. Sebuah artikel baru ataupun diperbaikinya kualitas artikel yang sudah
ada (modifikasi produk).
2. Metode produksi baru yang lebih efisien dan yang lebih menekan
biaya produksi.
3. Pasaran baru.
5. Organisasi baru yang menyebabkan terbentuknya posisi monopoli di
pasar.
Seorang pengusaha perlu memiliki sejumlah sifat sebagai berikut:
1. Ia harus mampu menilai ketidakpastian dengan cara yang tepat.
2. Ia harus mampu mengambil inisiatif dengan cara yang tepat.
3. Ia harus mampu menjalankan keinginannya.
4. Ia harus mampu menilai kemampuan prestasi anak buahnya dengan
cara yang tepat.
Dalam literature ekonomi biasanya pengusaha tipe Joseph Schumpeter
dinamakan orang seorang “entrepreneur”.
2.3.Bank
2.3.1. Pengertian Bank
Bank berasal dari kata banco dari bahasa Italia yang artinya meja atau
bangku. Kegiatan perbankan ini dimulai dari jasa penukaran uang di Eropa.
Kemudian kegiatan operasional perbankan berkembang menjadi tempat penitipan
uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan dan bertambah lagi dengan
kegiatan peminjaman uang. Selanjutnya kegiatannya mencakup banyak kegiatan
yang berhubungan dengan jasa-jasa keuangan dalam perekonomian.
Lembaga keuangan adalah setiap perusahaan yang bergerak di bidang
keuangan dimana kegiatannya baik hanya menghimpun dana ataupun hanya
menyalurkan dana maupun kedua-duanya.
Bank merupakan lembaga keuangan yang menawarkan jasa keuangan
lainnyasecara profesional. Untuk itu bank diistilahkan “department store of fin
ance” yang merupakan organisasi jasa atau pelayan berbagai macam jasa
keuangan (Irmadayanto, 2002 : 53).
Menurut UU No. 7 Tahun1992 sebagaimana telah diubah dengan UU No.
10 Tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Ada juga yang mendefinisikan bank sebagai suatu badan yang usaha
utamanya menciptakan kredit (Suyatno, 1996 :1).
Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bank mempunyai
tiga kegiatan utama :
1. menghimpun dana dari masyarakat (funding) dalam bentuk simpanan giro
(demand deposit), tabungan (saving deposit), dan simpanan deposito (time
deposit) dengan sasaran meminimumkan biaya perolehan dana.
2. menyalurkan dana ke masyarakat (lending) dalam bentuk kredit investasi,
kredit modal kerja, kredit perdagangan, kredit konsumsi, dan kredit
produktif dengan sasaran memaksimumkan pendapatan bank.
3. memberikan jasa-jasa bank lainnya (service) seperti transfer, inkaso,
kliring, safe deposit box, bank card, bank notes, bankgaransi, letter of
2.4. Tingkat Suku Bunga
2.4.1. Teori Klasik tentang Tingkat Bunga
Menurut teori klasik, tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga dimana
pergerakan tingkat bunga pada perekonomian akan mempengaruhi tabungan. Berarti
keinginan masyarakat untuk menabung sangat tergantung pada tingkat bunga.
Semakin tinggi tingkat bunga, semakin besar keinginan masyarakat untuk
menabung atau masyarakat akan terdorong untuk mengorbankan pengeluarannya
guna menambah besarnya tabungan. Jadi tingkat bunga menurut klasik adalah
balas jasa yang diterima seseorang karena menabung atau hadiah yang diterima
seseorang karena menunda konsumsinya.
Investasi merupakan fungsi tingkat bunga, semakin tinggi tingkat bunga,
semakin kecil keinginan masyarakat untuk mengadakan investasi karena
keuntungan yang diharapkan dari investasi tersebut akan lebih dari tingkat bunga.
Tingkat bunga dalam kondisi keseimbangan artinya dorongan masyarakat untuk
menabung akan sama dengan dorongan pengusaha untuk melakukan investasi.
Tingkat keseimbangan bunga berada pada io, dimana pada tingkat bunga
ini tingkat tabungan yang terjadi sama dengan investasi. jika tingkat bunga
bergerak naik (berpindah dari io ke i1), maka jumlah investasi (keinginan investor
guna melakukan investasi) berkurang. Kondisi yang terjadi pada tingkat bunga i1
interest
�1 Saving
�0
�2 i1
i0
i2
0 saving
S2 S0 S1
Gambar 2.1
Tingkat Bunga Menurut Klasik
Tingkat bunga keseimbangan terjadi di pasar sama dengan interaksi antara
penawaran dan permintaan suatu barang. Sejalan dengan proses terjadinya harga
pasar untuk barang, maka tingkat bunga pun ditentukan antara keseimbangan
penawaran tabungan dan permintaan tabungan. Jadi tingkat bungalah sebagai
penggerak antara keseimbangan tabungan dan investasi.
Pendapat klasik tentang tingkat bunga ini didasarkan pada Hukum Say
yang mengatakan bahwa penawaran akan menciptakan permintaan sendiri.
Dengan bertitik tolak dari Hukum Say ini maka setiap tabungan akan otomatis
sama dengan investasi. Tingkat bunga mengalami penurunan dan kenaikan atau
bergerak naik turun dari titik keseimbangan yang hanya bersifat sementara. Bila
terjadi tarik menarik penawaran dan permintaan atau bekerjanya mekanisme harga
2.4.2. Teori Keynes tentang Tingkat Bunga
Keynes mengatakan bahwa tingkat bunga adalah balas jasa yang diterima
seseorang karena orang tersebut tidak menimbun uang atau balas jasa yang
diterima seseorang karena orang tersebut mengorbankan liquidity preference-nya.
Semakin besar liquidity preference seseorang, semakin besar keinginan orang
tersebut untuk menahan uang tunai, maka semakin besar pula tingkat bunga yang
diterima orang tersebut bila ia meminjamkan uang tersebut kepada orang lain.
Setiap pengusaha yang menikmati kredit berarti memerlukan suatu
likuiditas untuk usahanya. Liquidity preference disebabkan oleh tiga hal yaitu :
1. Transaction Motive, yaitu motif menyimpan uang tunai untuk
melakukan pembayaran sehari-hari.
2. Precautionary Motive, yaitu motif menyimpan uang tunai agar
mempunyai persediaan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa tak
terduga.
3. Speculative Motive, yaitu motif mempunyai uang likuid untuk mencari
untung pada saat ada kesempatan untuk melakukan spekulasi.
2.4.3. Teori Loanable Funds
Bunga adalah harga dari loanable funds, Loanable funds adalah dana yang
tersedia untuk dipinjamkan , atau disebut juga dana investasi. Penawaran dana
dkelebihan dana. Di lain pihak, permintaan dana investasi dibentuk oleh jumlah
kebutuhan akan dana masa sekarang dari orang yang membutuhkan dana (
investor ). Kedua kelompok tersebut bertemu di pasar dana investasi dan
Prermintaan dan penawaran dana investashai bertemu di titik E dan
membentuk R* sebagai tingkat bunga keseimbangan dan F sebagai jumlah dana
investasi keseimbangan.
Besarnya dana investasi yang ditawarkan ditentukan oleh rate of time
preference, atau premi yang harus dibayarkan kepada pemilik dana agar mau
meminjamkan dananya. Besarnya dana investasi yang diminta ditentukan darinilai
marginal product of capital, atau harapan akan tingkat produktivitas modal
marjinal ( Boediono, 1994).
2.4.4. Tingkat Bunga Nominal
Tingkat bunga nominal merupakan tingkat bunga yang telah disepakati
oleh debitur dan kreditur. Tingkat bunga inilah yang harus dibayar debitur kepada
kreditur disamping pengembalian pinjaman pokoknya pada saat jatuh tempo.
Tingkat bunga ini sebenarnya adalah penjumlahan dari unsur-unsur tingkat bunga
(Boediono, 1994 ), yaitu :
R*n = R*m + R*p + Rt + R*i
keterangan :
R*n = tingkat bunga nominal R*m = tingkat bunga murni R*p = premi risiko
2.4.5. Tingkat Bunga Riil
Tingkat bunga riil adalah tingkat bunga nominal minus laju inflasi yang
terjadi selama periode yang sama (Boediono, 1994) :
Rr = R*n – R**i
keterangan :
Rr = tingkat bunga riil R*n = tingkat bunga nominal R**i = laju inflasi
R*n adalah simbol untul laju inflasi yang benar-benar terjadi selama
periode tersebut. Sedangkan R**i adalah untuk laju inflasi yang diharapkan
terjadi selama periode yang sama dan laju inflasi yang diharapkan ini menambah
tingkat bunga sebagai unsur “premi inflasi”
2.5. Sumber pembiayaan pengusaha
Salah satu sumber pembiayaan awal pengusaha adalah dari modal sendiri,
biasanya berupa tabungan, namun sumber ini sering tidak cukup untuk melakukan
kegiatan produksi sehingga sering kali usahanya tidak berkembang. Pada
umumnya ada dua jenis pembiayaan usaha yaitu pinjaman modal dan ekuitas
modal. Yang dimaksud dengan pinjaman modal adalah seorang pengusaha
meminjam sejumlah uang dan setuju untuk membayar kembali dalam kerangka
waktu tertentu pada tingkat bunga yang ditetapkan. Tidak perduli apakah
usahanya berhasil atau tidak pinjaman tersebut harus tetap dilunasi beserta
bunganya. Pinjaman bank merupakan salah satu contoh dari pinjaman modal ini.
dengan alasan dana yang dibutuhkan cepat diperoleh, persyaratan yang mudah,
serta tidak adanya urusan administrasi, walaupun mereka harus membayar bunga
yang kadang lebih besar dari yang ditetapkan oleh perbankan.
Sedangkan ekuitas modal adalah seorang pengusaha menjual sebagian
kepemilikan perusahaannya dengan imbalan uang tunai kepada investor. Para
investor menanggung semua atau sebagian besar dari resiko, jika perusahaan
gagal, mereka kehilangan dana mereka. Tetapi jika perusahaan berkembang para
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitan ini menggunakan penelitian deskriptif. Penelitian
deskriptif yaitu melakukan analisis hanya sampai dengan taraf deskriptif yaitu
menganalisis dan menyajikan fakta serta sistematik sehingga dapat lebih mudah
dipahami dan disimpulkan. Penelitian ini berusaha menggambarkan situasi atau
kejadian. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak
bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesa, membuat prediksi, maupun
mempelajari implikasi (Azwar, 1998:7).
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Medan dimana kuisioner diberikan kepada
para pengusaha di kota Medan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan April 2012
s/d selesai.
3.3. Batasan Operasional
Banyaknya pengusaha dan luasnya kota Medan maka untuk menghindari
kesimpangsiuran dan kesalahpahaman dalam rangka pembahasan dan
menganalisis permasalahan serta dalam penyebaran kuesioner kepada responden,
maka penelitian ini dibatasi pada pengusaha furniture di kota Medan.
3.4. Definisi Operasional
Definisi operasional bertujuan untuk melihat sejauh mana variabel dari
variabel-variabel yang menjadi objek penelitian dapat didefenisikan sebagai
berikut:
1. Persepsi pengusaha adalah pemahaman atau pandangan seseorang yang
timbul dari pengalaman yang telah diperolehnya, baik yang dilakukan
sendiri maupun kesan dari orang lain. Akumulasi dari persepsi akan
mampu membentuk suatu opini asumsi atau kesimpulan tentang sesuatu
yang telah dialaminya.
2. Suku bunga pinjaman adalah harga dari penggunaan uang untuk jangka
waktu tertentu atau harga dari penggunaan uang yang dipergunakan pada
saat ini dan akan dikembalikan pada saat mendatang.
3.5. Skala Pengukuran Variabel
Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert sebagai alat untuk
mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena social. Dalam melakukan penelitian terhadap variabel-variabel yang
akan diuji, pada setiap jawaban akan diberi skor. (Sugiyono, 2008:132).
Pembagiannya adalah :
Sangat Setuju : diberi skor 5
Setuju : diberi skor 4
Kurang Setuju : diberi skor 3
Tidak Setuju : diberi skor 2
Sangat Tidak Setuju : diberi skor 1
3.6. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/ subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2008: 115). Pada
penelitian ini yang menjadi populasi adalah pengusaha furniture di kota Medan.
Pengambilan sampel penelitian yang dilakukan dengan menggunakan
metode non-probability sampling dengan menggunakan teknik sample purposive
yaitu sampel yang dipilih secara cermat dengan mengambil orang atau objek
penelitian yang selektif dan mempunyai ciri-ciri yang spesifik (Tika, Pabundu
2006:46). Sampel yang diambil memiliki ciri-ciri yang khusus dari populasi
sehingga dapat dianggap cukup representatif. Ciri-ciri maupun strata yang khusus
tersebut sangat tergantung dari keinginan peneliti.
Populasi penelitian adalah semua pengusaha furniture di kota medan yang
jumlahnya 65 (data diambil dari dinas perindustrian dan perdagangan 2011).
Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara purposive sampling yaitu
sebanyak 30 (tiga puluh) pengusaha furniture di Kota Medan.
3.7. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data yaitu :
1. Data primer
Data yang diperoleh secara langsung dari responden yang terpilih pada
lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan memberikan daftar
2. Data sekunder
Data yang diperoleh melalui studi literatur baik dari data dan dokumen
yang ada di studi pustaka, majalah, internet, dan sumber-sumber lainnya.
3.8. Metode Pengumpulan Data
Dalam teknik pengambilan data dilakukan dengan membuat daftar
pertanyaan dan melakukan penyebaran kuisioner untuk diisi oleh para responden
yang menjadi sampel dalam penelitian ini yakni kepada para pengusaha furniture
yang ada di kota medan.
3.9. Uji Validitas dan Reabilitas
Menurut Azwar (1986) validitas berasal dari kata validity yang
mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam
melakukan fungsi ukurnya. Menurut Arikunto (1999) validitas adalah suatu
ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Menurut Nursalam (2003)
validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan
suatu instrumen.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian validitas di atas, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa validitas adalah suatu standar ukuran yang
menunjukkan ketepatan dan kesahihan suatu instrumen.
Menurut Arikunto (1999) suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut
mengukur apa yang hendak diukur. Tes memiliki validitas yang tinggi jika
hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan
Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran.
Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan
tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.
Menurut Sugiono (2005) Pengertian Reliabilitas adalah serangkaian
pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran
yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. Reabilitas tes
adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat
dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun
diteskan pada situasi yang berbeda-beda.
Menurut Sukadji (2000) reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat
tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam
bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas
tinggi. Menurut Nursalam (2003) Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran
atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali-
kali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati
sama-sama memegang peranan penting dalam waktu yang bersama-samaan.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian reliabilitas di atas,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa reliabilitas adalah suatu keajegan suatu tes
untuk mengukur atau mengamati sesuatu yang menjadi objek ukur.
3.10. Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif yang merupakan analisis yang paling mendasar untuk menggambarkan
hanya pada kelompok individu tertentu yang diobservasi, kesimpulannya tidak
diperluas atau diberlakukan bagi kelompok lain. Sekalipun antara kelompok yang
diobservasi dengan kelompok lain memiliki kesamaan. Dengan demikian data
deskriptifnya hanya menggambarkan satu kelompok dan generalisasinya hanya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Wilayah Kota Medan 4.1.1. Wilayah dan Topografi
Deskripsi Kota Medan sebagai gambaran keadaan secara geografis, lokasi,
batas wilayah, jumlah penduduk dan lainnya. Administrasi pemerintahan Kota
Medan yang dipimpin oleh seorang Walikota saat ini terdiri atas 21 kecamatan
dengan 151 kelurahan/desa yang terbagi dalam 2000 lingkungan. Letak : Kota
Medan terletak antara 2º.27' - 2º.47' Lintang Utara - 98º.35' dan 98º.44' Bujur
Timur, Kota Medan 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut.
Batas Kota Medan berbatasan dengan sebelah Utara, Selatan, Barat dan
Timur dengan Kabupaten Deli Serdang. Letak Kota Medan memang strategis.
Kota ini dilalui Sungai Deli dan Sungai Babura. Kedua sungai tersebut merupakan
jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai. Keberadaan Pelabuhan Belawan
di jalur Selat Malaka yang cukup modern sebagai pintu gerbang atau pintu masuk
wisatawan dan perdagangan barang dan jasa baik perdagangan domestik maupun
luar negeri (eksporimpor), menjadikan Medan sebagai pintu gerbang Indonesia
bagian barat.
Pemerintah Kota Medan pun berambisi memajukan kota ini semaju
kota-kota besar lainnya, tidak saja seperti Jakarta atau Surabaya di Jawa, tetapi juga
kota-kota di negara tetangga, seperti Penang dan Kuala Lumpur. Geologi Kota
Medan merupakan salah satu dari 25 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan
Tingkat I Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli
Serdang di sebelah Utara, Selatan, Barat dan Timur. Sebagian besar wilayah Kota
Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai
penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.
4.1.2. Kependudukan
Penduduk Kota Medan memiliki ciri penting yaitu yang meliputi unsur
agama, suku etnis, budaya dan keragaman (plural) adapt istiadat. Hal ini
memunculkan karakter sebagian besar penduduk Kota Medan bersifat terbuka.
Secara Demografi, Kota Medan pada saat ini juga sedang mengalami masa
transisi demografi. Kondisi tersebut menunjukkan proses pergeseran dari suatu
keadaan dimana tingkat kelahiran dan kematian tinggi menuju keadaan dimana
tingkat kelahiran dan kematian semakin menurun.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2005 – 2009
Tahun Jumlah Penduduk Luas Wilayah (KM²)
Berbagai faktor yang mempengaruhi proses penurunan tingkat kelahiran
ini mengacu pada suatu proses pergeseran dari suatu keadaan dimana tingkat
kelahiran dan kematian tinggi ke keadaan dimana tingkat kelahiran dan kematian
rendah.
Penurunan pada tingkat kelahiran ini disebabkan oleh banyak faktor,
antara lain perubahan pola berfikir masyarakat akibat pendidikan yang
diperolehnya, dan juga disebabkan oleh perubahan pada aspek sosial ekonomi.
Penurunan tingkat kematian disebabkan oleh membaiknya gizi masyarakat akibat
dari pertumbuhan pendapatan masyarakat. Pada tahap ini pertumbuhan penduduk
mulai menurun. Pada akhir proses transisi ini, baik tingkat kelahiran maupun
kematian sudah tidak banyak berubah lagi, akibatnya jumlah penduduk juga
cenderung untuk tidak banyak berubah, kecuali disebabkan faktor migrasi atau
urbanisasi.
Komponen kependudukan lainnya umumnya menggambarkan berbagai
berbagai dinamika social yang terjadi di masyarakat, baik secara sosial maupun
kultural. Menurunnya tingkat kelahiran (fertilitas) dan tingkat kematian
(mortalitas), meningkatnya arus perpindahan antar daerah (migrasi) dan proses
urbanisasi, termasuk arus ulang alik (commuters), mempengaruhi kebijakan
kependudukan yang diterapkan.
Pada akhir proses transisi ini, baik tingkat kelahiran maupun kematian
sudah tidak banyak berubah lagi, akibatnya jumlah penduduk juga cenderung
untuk tidak banyak berubah, kecuali disebabkan faktor migrasi atau urbanisasi.
Komponen kependudukan lainnya umumnya menggambarkan berbagai berbagai
Menurunnya tingkat kelahiran (fertilitas) dan tingkat kematian (mortalitas),
meningkatnya arus perpindahan antar daerah (migrasi) dan proses urbanisasi,
termasuk arus ulang alik (commuters), mempengaruhi kebijakan kependudukan
yang diterapkan.
Tabel 4.2
Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2009
No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5)
4.1.3. Perkembangan Ekonomi Kota Medan
Pembangunan ekonomi daerah dalam periode jangka panjang (mengikuti
pertumbuhan PDRB), membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi,
dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor
non primer, khususnya industri pengolahan dengan increasing retunrn to scale
(relasi positif antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas) yang
dinamis sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi. Ada kecenderungan, bahwa
semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi membuat semakin cepat proses
peningkatan pendapatan masyarakat per kapita, dan semakin cepat pula perubahan
struktur ekonomi, dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lain mendukung
proses tersebut, seperti tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi, relatif tetap.
Perubahan struktur ekonomi umumnya disebut transformasi struktural dan
didefinisikan sebagai rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya
dalam komposisi permintaan agregat (produksi dan pengangguran faktor-faktor
produksi, seperti tenaga kerja dan modal) yang diperlukan guna mendukung
proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Berdasarkan
perbandingan peranan dan kontribusi antar lapangan usaha terhadap PDRB pada
kondisi harga berlaku tahun 2005-2007 menunjukkan, pada tahun 2005 sektor
tertier memberikan sumbangan sebesar 70,03 persen, sektor sekunder sebesar
26,91 persen dan sektor primer sebesar 3,06 persen. Lapangan usaha dominan
yaitu perdagangan, hotel dan restoran menyumbang sebesar 26,34 persen, sub
sektor transportasi dan telekomunikasi sebesar 18,65 persen dan sub sektor
Tabel 4.3
Perbandingan Peranan dan Kontribusi Antar Lapangan Usaha Terhadap PDRB Pada Kondisi Harga Berlaku Tahun 2005-2007
(%)
No. Sektor 2005 2006 2007
1 Tertier 70.03 68.7 69.21
2 Sekunder 26.91 28.37 27.93
3 Primer 3.06 2.93 2.86
4 Lapangan Usaha (perdagangan, hotel, restoran) 26.34 25.98 25.44 5 Sub sektor transportasi dan telekomunikasi 18.65 18.65 19.02
6 Sub sektor industri pengolahan 16.58 13.41 16.28
Sumber: BPS Kota Medan
Kontribusi tersebut tidak mengalami perubahan berarti bila dibandingkan
dengan kondisi tahun 2006. Sektor tertier memberikan sumbangan sebesar 68,70
persen, sekunder sebesar 28,37 persen dan primer sebesar 2,93 persen.
Masing-masing lapangan usaha yang dominan yaitu perdagangan, hotel dan restoran
sebesar 25,98 persen, sektor transportasi dan telekomunikasi sebesar 18,65 persen,
industri jasa pengolahan sebesar 16,58 persen dan jasa keuangan 13,41 persen.
Demikian juga pada tahun 2007, sektor tertier mendominasi perekonomian
Kota Medan, yaitu sebesar 69,21 persen, disusul sektor sekunder sebesar 27,93
persen dan sektor primer sebesar 2,86 persen. Masing masing lapangan usaha
yang dominan memberikan kontribusi sebesar 25,44 persen dari lapangan usaha
perdagangan/hotel/restoran, lapangan usaha transportasi/telekomunikasi sebesar
19,02 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 16,28 persen.
4.1.4. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan prosesnya yang berkelanjutan
juga akan bertambah. Hal ini hanya bisa diperoleh melalui peningkatan output
agregat (barang dan jasa) atau sering disebut PDRB atas dasar harga konstan
setiap tahun. Jadi dalam pengertian ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah
penambahan PDRB atas dasar harga konstan.
Sejalan dengan peningkatan PDRB ADH Konstan tahun 2000 Kota Medan
selama periode 2005-2007, pertumbuhan ekonomi Kota Medan selama periode
yang sama, meningkat rata-rata di atas 7,77 persen. Pertumbuhan ekonomi yang
dicapai, selain relatif tinggi juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup stabil.
Tabel 4.4
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan periode 2005-2007 Menurut Sektor/Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000
(%)
Sektor/Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008
1. Pertanian 1.3 0.37 5.14 3,61
2. Pertambangan & Penggalian 0.88 5.89 10.3 -13,49
3. Industri Pengolahan 3.14 6.59 6.08 3,91
4. Listrik, Gas dan Air bersih 2.27 5.39 2.81 3.50
5. Kontruksi 7.52 11.01 6.43 8.07
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 10.45 6.15 5.94 5.6 7. Transportasi & Keuangan 10.45 13.34 10.61 8.15 8. Keuangan & Jasa Perusahaan 12.11 5.08 12.82 9.5
9. Jasa-jasa 8 6.34 6.83 7.08
PDRB 6.98 7.76 7.78 6.75
Sumber: BPS, Medan dalam angka 2009
Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan tahun 2009 berdasarkan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 terjadi
peningkatan sebesar 6,56 persen terhadap tahun 2008. Pertumbuhan tertinggi
dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi 9,22 persen. Disusul oleh
sektor jasa-jasa 7,42 persen, sektor listrik ,gas dan air bersih 5,06 persen, sektor
pertanian 4,18 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan tumbuh
sebesar 2,94 persen, sektor industri 1,71 persen, dan penggalian tumbuh 0,46
persen. Besaran PDRB Kota Medan pada tahun 2009 atas dasar harga berlaku
tercapai sebesar Rp.72,67 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000
sebesar Rp. 33,43 triliun.
Terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Medan tahun 2009 sebesar 6,56
persen, sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang perumbuhan sebesar
2,20 persen Disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi 1,85 persen, sektor
bangunan 0,91 persen, sektor jasa-jasa 0,76 persen, sektor keuangan, persewaan
dan jasa perusahaan 0,43 persen, sektor industri 0,25 persen, sektor pertanian 0,10
persen, sektor listrik ,gas dan air bersih 0,07 persen dan sektor pertambangan dan
penggalian menyumbang pertumbuhan 0,00 persen.
Dari sisi penggunaan, sebagian besar PDRB Kota Medan pada tahun 2009
digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga yang mencapai 36,20 persen,
disusul oleh ekspor neto 30,53 persen (ekspor 50,82 persen dan impor 20,29
persen), pembentukan modal tetap bruto 20,61 persen, konsumsi pemerintah 9,54
persen dan pengeluaran konsumsi lembaga nirlaba 0,64 persen. PDRB per Kapita
atas dasar harga berlaku pada tahun 2009 mencapai Rp. 34,26 juta, lebih tinggi
dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar Rp. 31,07 juta.
4.1.5. Perkembangan Investasi
industri dan perdagangan barang dan jasa. Saat ini pemerintah kota medan sedang
berusaha pula untuk memperbesar luas wilayahnya. Melihat kondisi ini peluang
bisnis di berbagai bidang seperti bidang industri, pariwisata, perbankan dan
lain-lain akan semakin menjanjikan keuntungan bagi para investor lokal maupun asing.
Investasi merupakan salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Pada perekonomian tertutup, sumber dana investasi sematamata berasal dari
tabungan domestik. Sedangkan pada perekonomian terbuka sumber dana dapat
diperoleh melalui dana dari luar wilayah.
Pertumbuhan produksi pada dasarnya dipengaruhi oleh perkembangan
faktor-faktor produksinya. Salah satu faktor produksi tersebut adalah modal
(investasi). Banyak studi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu daerah
erat kaitannya dengan tingkat produktivitas penggunaan modal (investasi).
Sejak tahun 2001 penanaman modal (investasi) di Kota Medan secara
berangsur-angsur mulai menunjukkan pertumbuhan yang cukup berarti. Hal ini
tidak saja didukung oleh faktor-faktor ekonomi yang dimiliki, tetapi didukung
juga oleh faktor-faktor non ekonomi, sehingga menciptakan iklim dan lingkungan
penanaman modal yang semakin kondusif dari waktu ke waktu.
Langkah-langkah strategis yang ditempuh adalah dengan mengembangkan
kemitraan stratejik diantara sesama pelaku usaha dengan Pemerintah Kota yang
kenyataannya mampu menumbuhkan minat berinvestasi para pemilik modal untuk
menanamkan modalnya di Kota Medan, di berbagai bidang lapangan usaha
potensial. Hal ini juga tidak terlepas dari persepsi yang sama dari seluruh
roda perekonomian dalam volume yang lebih besar, sehingga mampu
menciptakan lapangan kerja lebih banyak, sekaligus meningkatkan pendapatan
masyarakat. Perkembangan positif penanaman modal selama tahun 2005-2007
dapat dilihat dari perkiraan nilai investasi di berbagai sektor lapangan usaha, baik
yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman
Modal Asing (PMA), di samping sektor Pemerintah dan rumah tangga. .
4.1.6. Pendapatan Perkapita
Adanya kenaikan pendapatan per kapita dalam jangka panjang adalah
salah satu indikator adanya pembangunan ekonomi. Peningkatan nilai PDRB
Propinsi Sumatera Utara dan pendapatan per kapita masyarakat akan membawa
perubahan dalam pola permintaan konsumen dari penekanan pada makanan dan
barang-barang kebutuhan pokok lain ke berbagai macam barang-barang
manufaktur dan jasa. Hal ini merupakan faktor yang mempercepat terjadinya
transformasi ekonomi.
Pendapatan per kapita masyarakat Kota Medan atas dasar harga berlaku
pada tahun 2000 mencapai Rp. 6.264.429,65 atau mengalami kenaikan yang
cukup besar bila dibandingkan dengan pendapatan per kapita pada tahun 1993
yang baru mencapai Rp. 2.402.155,05. Bila didasarkan harga konstan tahun 1993,
pendapatan per kapita masyarakat Kota Medan mengalami peningkatan dari Rp.
2.402.155,05 pada tahun 1993 menjadi Rp. 2.775.285,56 pada tahun 2000.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu secara umum
0
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 2006-2010 (Rp/triliun)
Selama periode 2006-2010 PDRB ADHB Kota Medan meningkat sebesar
53,3% dengan total nilai PDRB ADHB Rp. 48,85 triliun pada tahun 2006 menjadi
Rp. 74,88 triliun pada tahun 2010.
Gambar 4.2
Grafik di atas menggambarkan dimana PDRB perkapita kota medan dan
PDRB perkapita kecamatan daerah yang paling tinggi tingkat PDRBnya yaitu
kecamatan medan barat sekitar Rp190 juta, sedangkan untuk PDRB yang paling
rendah terdapat pada kecamatan medan denai yaitu kurang dari Rp10 juta.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Perkembangan Usaha di Kota Medan
Perkembangan usaha industri furniture dikatakan relatif berkembang dan
masih memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Tidak saja karena
ketangguhannya dalam menghadapi berbagai kejutan ekonomi, tetapi juga
kemampuannya yang besar dalam menyediakan lapangan kerja serta mengatasi
kemiskinan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat dikatakan bahwa usaha
furniture di Kota Medan mengalami perkembangan. Hal ini dapat dilihat dari
semakin banyaknya masyarakat yang membuka usaha furniture tersebut dengan
menjual produk-produk yang berkualitas tinggi dan diminati oleh masyarakat luas.
Itu artinya bahwa para pengusaha furniture tersebut sudah mengetahui sistem
informasi teknologi yang dengan cepat mudah mengetahui apa yang menjadi
kebutuhan konsumen saat ini.
Perkembangan lainnya dapat dilihat dari lamanya usaha furniture yang
dijalankan. Pengusaha furniture menyatakan bahwa selama lebih dari 5 tahun
usaha yang mereka jalankan memperoleh pendapatan yang relatif meningkat.
lakukan. Dengan dukungan dan perhatian pemerintah Kota Medan kepada para
pengusaha guna untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan kestabilan
usaha furniture.
Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan usaha
furniture mulai dari pemberian bantuan modal, bantuan peralatan,
mempromosikan hingga mendaftarkan atau membuat merek usaha furniture
tersebut. Semakin banyak usaha ini apalagi usahanya maju, maka bukan saja
menambah jumlah masyarakat sejahtera tetapi juga membantu pergerakan
ekonomi Kota Medan.
Usaha membangun dan mengembangkan ekonomi rakyat semakin sulit
karena secara global berhadapan dengan krisis ekonomi. Tetapi apa pun
kendalanya usaha furniture ini harus tetap mendapat perhatian besar karena
manfaatnya sangat luas bukan hanya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat
akan tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi.
4.2.2. Perizinan Usaha Yang Dikeluarkan Pemerintah Kota Medan
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang izin
usaha, di bawah ini dapat dilihat perkembangan izin usaha yang dikeluarkan
sepanjang tahun 2011.
Tabel 4.5
Perizinan Usaha Yang Dikeluarkan Sepanjang Tahun 2011
No. Jenis Perizinan Total Perizinan
1 Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) 3324
2 Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 2914
3 HO nonindustri 2746
4 HO industry 159
Total perizinan yang dikeluarkan tersebut tercatat Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP) paling besar yang mencapai 3.324 izin, disusul Tanda Daftar
Perusahaan (TDP) sebesar 2.914 izin, HO nonindustri sebesar 2.746 izin dan HO
industri sebesar 159 izin. Dari tahun sebelumnya, dapat dilihat ada peningkatan
yang cukup signifikan dan sangat besar. Karena dari tahun sebelumnya di 2010,
masih belum mengelola 11 perizinan secara penuh dan saat itu masih berada di
SKPD masing-masing. Sementara, di tahun 2011, masih sampai Agustus ,tercatat
sudah sebesar 3324 izin, jika dibandingkan dengan data serupa di periode yang
sama di tahun 2010.
Dari data tersebut khusus untuk SIUP sudah terjadi peningkatan yang
besar. Sebab, perkembangan jasa perdagangan di Kota Medan sangat besar
ditunjukkan dengan tingkat pengurusan perizinan SIUP. Selain itu, dari perizinan
HO nonindustri yang masuk juga menunjukkan adanya kesadaran yang besar
kalangan usaha dan pengusaha untuk memiliki izin. Izin HO sendiri yang masa
berlakunya setiap 3 tahun sekali dipastikan juga meningkat tidak hanya dari
perpanjangan namun pengurusan perizinan baru.
Dari izin HO nonindustri, sekitar 20% di antaranya merupakan perizinan
baru. Artinya dapat dilihat bertumbuh terus usaha baru di masyarakat untuk
kalangan nonindustri.
4.2.3. Perkembangan Suku Bunga Pinjaman di Kota Medan
Suku bunga kredit perbankan di kota Medan pada posisi November 2011