• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Skripsi Hubungan antara Spiritu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Proposal Skripsi Hubungan antara Spiritu"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Telah kita ketahui bersama bahwa menurut UU Sisdiknas RI No.20 Tahun 2003, pengertian dari pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Itu artinya bahwa tujuan pendidikan secara umum adalah meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan sikap spiritual keagamaan.

Dalam setiap aktifitasnya, manusia tidak pernah lepas dari dunia pendidikan. Mengapa demikian? Karena sejatinya pendidikan dapat menjadi sarana bagi setiap orang untuk mengembangkan potensi hidupnya agar lebih berguna dalam aktifitas kehidupannya baik terhadap diri sendiri, sesama, masyarakat, negara, bahkan seluruh dunia. Pendidikan benar-benar mendapat perhatian yang cukup besar tidak hanya pada kehidupan modern seperti saat ini saja, tetapi sudah sejak zaman Rasul SAW. masih hidup beliau cukup menaruh perhatian pada dunia pendidikan. Hal tersebut tertuang dalam berbagai sabda beliau mengenai kewajiban menuntut ilmu dari sejak dalam kandungan hingga ke liang lahat, dsb. Bahkan di dalam kitab suci umat Islam yaitu al-Qur’an, ayat yang pertama kali turun ke muka bumi adalah perintahnya tentang membaca:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Qs. Al-‘Alaq:1)

(2)

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Hal ini dapat dibuktikan dari Tabel.1 berikut.

Kelas Jumlah Siswa

Tuntas Tidak Tuntas Rata-Rata

Kelas

%%

VII.1 25 15 60 10 40 78,42

VII.2 25 12 48 13 52 75,70

VII.3 25 13 52 12 48 76,12

Jumlah 75 40 53,3 35 46,7 76,75

Sumber: TU SMPIT Nurul Muhajirin Batam

Dari tabel terlihat bahwa hasil belajar dari siswa-siswinya masih ada yang di bawah KKM.

Menurut penuturan dari beberapa guru menyatakan bahwa motivasi dan tingkat kecerdasan spiritual merupakan salah satu faktor dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hal ini karena motivasi belajar baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat berpengaruh terhadap kesuksesan suatu proses pembelajaran. Dorongan (motivasi) untuk melakukan perbuatan pada diri manusia tergantung pada kekuatan yang dimilikinya. Semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin kuat dorongan untuk melakukannya. Demikian juga, kadar keberhasilan perbuatannya, tergantung pada kadar kekuatan yang dimiliknya.

Menurut M. Ismail (2014: 231) manusia memiliki beberapa motivasi di dalam dirinya, antara lain:

1. Motivasi materi (fisik), yang meliputi tubuh dan berbagai sarana yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

2. Motivasi emosional (non-materi), yang berupa mentalitas yang selalu dicari dan dimiliki oleh seseorang.

(3)

Dari ketiga motivasi dalam diri seseorang diatas, motivasi spiritual mempunyai dampak atau pengaruh yang paling besar dibandingkan motivasi lain terhadap perbuatan manusia. Sebab, motivasi spiritual lahir dari kesadaran seseorang akan hubungannya dengan Allah SWT. sebagai pencipta segala sesuatu, termasuk pencipta seluruh kekuatan. Maka dari itu, motivasi dan spiritual saling berkaitan satu dengan lainnya.

Di dalam khazanah ilmu pengetahuan saat ini telah ditemukan bahwa di dalam diri seseorang ada tiga macam kecakapan individu antara lain: IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Spiritual dalam bahasa Inggris berasal dari kata “spirit” yang berarti batin, ruhani, dan keagamaan. Menurut Ary Ginanjar Nasution (2001:57), kecerdasan spiritual adalah merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran yang terintegralistik (tauhidi) serta berprinsip hanya karena Allah.

Salah satu indikator kecerdasan spiritual adalah dari sisi religiusitasnya. Sedangkan religiusitas seseorang dapat dilihat dari aktivitas dan ritualitas dalam beragama. Bagi seseorang yang beragama akhlak baik merupakan kewajibannya dalam bersosial, hal itu didasari atas kesadaran seseorang atas hak-hak dirinya dan orang lain. Selain itu juga karena selalu merasa diawasi oleh Rabb-nya (Tuhannya) sehingga semakin hati-hati dalam berperilaku dan bersikap dalam kehidupannya sehari-hari.

Siswa satu kelas di setiap sekolah terutama di SMPIT Nurul Muhajirin memiliki kadar motivasi dan tingkat kecerdasan spiritual yang berbeda-beda walaupun terkadang beragama sama. Apakah kondisi seperti ini memiliki hubungan terhadap hasil belajar khususnya pada mata pelajaran matematika.

(4)

belajar pada mata pelajaran matematika. Dengan demikian akan dapat diketahui hasilnya seberapa signifikankah hubungan diantara ketiganya.

B. Identifikasi Masalah

1. Masalah yang sering kali muncul terutama pada siswa-siswi di SMPIT Nurul Muhajirin adalah kurangnya motivasi belajar pada diri sebagian peserta didik.

2. Hasil belajar dari siswa-siswinya masih ada di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

3. Siswa satu kelas di setiap sekolah terutama di SMPIT Nurul Muhajirin memiliki kadar motivasi dan tingkat kecerdasan spiritual yang berbeda-beda walaupun terkadang beragama sama.

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini dapat dilakukan secara lebih spesifik dan tidak terlalu meluas, maka penelitian ini perlu dibatasi sebagaimana berikut.

1. Penelitian dilakukan di SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

2. Subjek yang diteliti adalah kelas VII Semester Genap tahun pelajaran 2014/2015.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan dijadikan fokus penelitian ini ialah “Adakah hubungan antara motivasi belajar dan spiritual quotient terhadap hasil belajar matematika pada siswa SMPIT Nurul Muhajirin Batam tahun pelajaran 2014/2015 ?”

E. Tujuan Penelitian

(5)

hasil belajar matematika pada siswa SMPIT Nurul Muhajirin tahun pelajaran 2014/2015.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini antara lain:

1. Diharapkan dapat memahami tentang peran motivasi belajar. 2. Diharapkan dapat memahami tentang peran Spiritual Quotient.

3. Diharapakan dapat memahami hubungan antara motivasi belajar dan spiritual quotient terhadap hasil belajar matematika pada siswa SMPIT Nurul Muhajirin tahun pelajaran 2014/2015.

4. Diharapkan pihak-pihak yang terkait dengan dunia pendidikan dapat menerapkan hasil penelitian dalam proses belajar-mengajar baik siswa, guru, orang tua, maupun pihak sekolah yang lain.

(6)

LANDASAN TEORI A. Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi

Teori dasar mengenai motivasi adalah pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Terdapat lima tingkatan motivasi yang dikenal dengan sebutan hierarki kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks, yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting (Maslow dalam Purwato, 2010: 77) adalah:

1. Kebutuhan fisiologis ( rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)

2. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)

3. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)

4. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)

5. Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif, mengetahui, memahami, dan menjelajahi, keserasian, keteraturan, dan keindahan) dan mendapatkan kepuasan diri serta menyadari potensinya.

(7)

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat (Hamzah, 2013:3). Motif tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.

Secara bahasa “Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku” (Hamzah, 2013: 1). Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Atau dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap orang-perorangan sebagai anggota masyarakat. Sedangkan pengertian motivasi menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2011:73) adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

Secara lebih spesifik, motivasi belajar dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi, dan ketekunan dalam kegiatan belajar. Disamping itu motivasi belajar dapat dilihat dari indikator-indikator seperti keantusiasan dalam belajar, minat atau perhatian pada pembelajaran, keterlibatan dalam kegiatan belajar, rasa ingin tahu pada isi pembelajaran, ketekunan dalam belajar, selalu berusaha mencoba, dan aktif mengatasi tantangan yang ada dalam pembelajaran.

Secara operasional motivasi belajar dapat ditentukan oleh indikator-indikator sebagai berikut:

1). Tingkat perhatian siswa terhadap pembelajaran.

2). Tingkat relevansi pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

3). Tingkat keyakinan siswa terhadap kemampuannya dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran.

(8)

Motivasi sangat diperlukan di dalam kegiatan belajar, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Secara umum motivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik (motivasi dari dalam) dan motivasi ekstrinsik (motivasi dari luar) yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya (Sutikno, 2013: 70) yaitu:

a. Motivasi intrinsik, jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan orang lain. Motivasi ini sering disebut “motivasi murni”, atau motivasi yang sebenarnya yang timbul dari dalam diri siswa misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, dsb.

b. Motivasi ekstrinsik, jenis ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, paksaan, atau suruhan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu.

Antara motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik saling menambah atau memperkuat, bahkan motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi intrinsik. Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan, baik dari dalam (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik) yang membuat siswa bersemangat dan senang belajar secara serius dan terus-menerus selama kegiatan belajar-mengajar.

Untuk mengetahui seberapa besar motivasi belajar siswa dapat diketahui seberapa jauh perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran, seberapa jauh siswa merasakan ada kaitan atau relevansi isi pembelajaran dengan kebutuhannya, seberapa jauh siswa merasa yakin terhadap kemampuannya dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran, serta seberapa jauh siswa merasa puas terhadap kegiatan belajar yang telah dilakukan. Keempat variabel tersebut merupakan kondisi-kondisi yang nampak dalam diri siswa selama mengikuti pembelajaran.

2. Fungsi Motivasi

(9)

kepada upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswanya. Secara garis besar ada tiga fungsi motivasi (Hamalik dalam Sutikno, 2013:71) yaitu:

a. Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi ini sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c. Menyelesaikan perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Nampak jelas di sini bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan.

3. Strategi Menumbuhkan Motivasi Belajar

Pembelajaran tidak akan bermakna jika para siswa tidak termotivasi untuk belajar. Maka dari itu perlunya upaya guru untuk sedapat mungkin meningkatkan motivasi belajar siswanya. Beberapa strategi yang dapat dikembangkan oleh guru dalam upaya menumbuhkan dan membangkitkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran menurut Sutikno (2013: 71) adalah sebagai berikut:

(10)

dengan tujuan pembelajaran. (m) Hukuman, yaitu bukan alat untuk menakut-nakuti anak, tetapi untuk merubah cara berpikir anak. Bahwa setiap pekerjaan memiliki konsekuensi.

B. Spiritual Quotient

1. Pengertian Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.

Selama ini kita mengenal adanya beberapa jenis kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang yaitu: IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). IQ merupakan kecerdasan yang digunakan dalam memecahkan masalah logika maupun strategis. EQ memberikan rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Sedangkan SQ berhubungan dengan kemampuan penghayatan seseorang dalam hal keagamaannya.

Manusia sejak lahir telah memiliki jiwa spiritual atau naluri keagamaan untuk mengenal Tuhan. Fitrah manusia yang dibawa sejak lahir ini berupa fitrah ketauhidan. Sebagaimana firman Allah:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).”(QS. Al-A’raaf ayat 172)

(11)

sanubarinya. Adapun segala keraguan dan keingkaran terhadap Tuhan sesungguhnya muncul ketika manusia menyimpang dari jati diri mereka sendiri.

Spiritual dalam Kamus bahasa Inggris (Echols dan Shadily, 1992: 546) berasal dari kata “spirit” yang berarti batin, ruhani, dan keagamaan. Sedangkan dalam kamus Psikologi (Anshori, 1995: 653) spiritual diartikan sebagai “sesuatu mengenai nilai-nilai transendental”. Makna spiritual sendiri berhubungan erat dengan eksistensi manusia dan spiritual pada dasarnya mengacu pada bentuk-bentuk ragam seseorang yang dibangun dari pengalaman arti hidup, ketuhanan, maupun pandangan keagamaan dalam memaknai kehidupan.

Menurut Yudhawati (2011: 104) konsep kecerdasan spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Namun sebenarnya, penyebutan untuk istilah kecerdasan spiritual sebagai Spiritual Quotient masih belum begitu jelas perumusan konsepnya. Berbeda dengan IQ yang perumusan dalam pengukurannya sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender.

Namun menurut Nugroho dalam Ananto (2010:15) menyatakan bahwa pembelajaran yang hanya berpusat pada kecerdasan intelektual tanpa menyeimbangkan sisi spiritual akan menghasilkan generasi yang mudah putus asa, depresi, suka tawuran bahkan menggunakan obat-obat terlarang sehingga banyak siswa yang kurang menyadari tugasnya sebagai seorang siswa yaitu tugas belajar. Sementara itu, mereka yang hanya mengejar prestasi berupa nilai atau angka dan mengabaikan nilai spiritual akan menghalalkan segala cara untuk mendapat nilai bagus. Oleh karena itu, kecerdasan spiritual mampu mendorong siswa mencapai keberhasilan dalam belajarnya karena kecerdasan spiritual merupakan dasar untuk mendorong berfungsinya secara efektif kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

(12)

dalam hubungannya terhadap nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan untuk dapat memaknai arti kehidupan yang lebih bermakna.

2. Dimensi Spiritual Quotient

Hersan Ananto (2008:28) merumuskan setidaknya terdapat 6 dimensi dalam SQ, diantaranya:

a. Prinsip Ketuhanan, meliputi kepercayaan atau keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b. Kepercayaan yang Teguh, meliputi bagaimana responden mengerjakan tugas dengan disiplin dan sebaik-baiknya.

c. Berjiwa Kepemimpinan, meliputi prinsip yang teguh agar mampu menjadi pemimpin yang sejati.

d. Berjiwa Pembelajar, meliputi keinginan seseorang untuk terus belajar.

e. Berorientasi Masa Depan, meliputi orientasi tujuan hidup baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

f. Prinsip Keteraturan, meliputi menyusun rencana atau tujuan dengan jelas.

C. Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar

Dalam proses pendidikan di sekolah, tugas utama seorang siswa atau peserta didik adalah belajar. Selain itu, pada hakikatnya belajar merupakan kebutuhan bagi setiap individu sebagai upaya meningkatkan kualitas diri agar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki.

(13)

menyenangkan. Belajar merupakan komponen paling penting dan vital dalam dalam setiap usaha penyelenggaraan pendidikan sehingga tanpa proses belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan.

Susanto (2013:4) mengatakan belajar ialah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak. Sedangkan menurut Purwanto (2010:85) belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah ketingkah laku yang buruk.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang mencakup berbagai aktivitas yang dilakukan seseorang dalam keadaan sadar sebagai usahanya memperoleh pengetahuan, konsep, dan pemahaman baru agar dapat mengembangkan potensi diri. Sehingga belajar menjadi komponen paling penting dalam kehidupan karena sejatinya segala aktivitas dalam hidup ini merupakan proses belajar.

2. Pengertian Hasil Belajar

Secara sederhana yang dimaksud hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Susanto, 2013:5). Hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Lazimnya hasil belajar dapat ditunjukkan dengan nilai tes atau angka dan simbol-simbol tertentu yang diberikan oleh guru.

(14)

pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Untuk mengetahui apakah hasil belajar telah mencapai tujuan atau belum maka kita dapat melihat hal itu dengan evaluasi.

Evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa (Sunal dalam Susanto, 2013:5). Maka, penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah baik itu pada aspek spiritual, sikap, pengetahuan, maupun keterampilan yang terkait dengan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah melalui suatu tes dan semacamnya yang dapat dinyatakan dalam skor untuk mengetahui sejauh mana suatu materi pelajaran yang diberikan guru diserap oleh siswa dalam aspek-aspek meliputi aspek spiritual, sikap, pengetahuan, maupun keterampilan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar tentu akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Hakim, 2008: 11).

a. Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri setiap individu.

(15)

2) Faktor Ruhaniyah, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental mencakup sikap emosional maupun spiritual yang dapat menunjang keberhasilan belajar bagi siswa. Sikap mental yang positif akan membawa dampak yang baik bagi para siswa untuk dapat meraih hasil belajar yang maksimal. Sikap mental yang positif itu misalnya kerajinan dan ketekunan dalam belajar, ketaatan pada nilai-nilai penghayatan keagamaan yang diyakini, tidak mudah putus asa, selalu optimis, mempunyai semangat dan motivasi dalam melakukan sesuatu, dan selalu percaya diri.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar diri setiap individu. Faktor dari luar diantaranya faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat.

D. Penelitian Relevan

1. Hubungan Spiritual Quotient Siswa Dengan Hasil Belajar Kimia Materi Pokok Kestabilan Unsur yang Terintegrasi Nilai-Nilai Islam di Kelas X SMA Muhammadiyah 2 Semarang. Penelitian ini dilakukan oleh Fajarwati pada tahun 2010 Fakultas Tarbiyah Jurusan Tadris Pendidikan Kimia IAIN Walisongo. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan terdapat hubungan positif antara spiritual quotient siswa terhadap hasil belajar dengan nilai rhitung = 0,540 lebih besar dari rtabel baik dalam taraf signifikansi 1% = 0,478 maupun 5% = 0,374. Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan spiritual siswa dengan hasil belajar yang diperoleh.

(16)

sebesar 25% yang menunjukkan kontribusi yang positif. Artinya, semakin tinggi motivasi seseorang semakin tinggi pula hasil belajar yang diperolehnya.

3. Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi. Penelitian ini dilakukan oleh Filia Rachmi pada tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan terdapat hubungan positif antara kecerdasan spiritual mahasiswa terhadap tingkat pemahaman akuntansi dengan nilai rhitung = 0,837. Artinya, terdapat pengaruh yang cukup signifikan.

E. Kerangka Berpikir

Matematika merupakan mata pelajaran yang kurang diminati oleh siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa kelas VII di SMPIT Nurul Muhajirin yang belum memenuhi KKM. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal dirasa memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan faktor eksternal. Sehingga penelitian akan lebih difokuskan pada faktor internal.

Motivasi belajar dan tingkat kecerdasan spiritual atau spiritual qoutient termasuk dalam faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan dimilikinya motivasi belajar yang baik akan membuat siswa dapat beraktivitas di dalam proses pembelajaran karena adanya dorongan tertentu. Kemudian dengan adanya kecerdasan spiritual yang baik pada tiap-tiap siswa, siswa akan lebih memaknai ilmu matematika sebagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan dan akan menghargai proses kegiatan belajar matematika yang dilaksanakan.

Maka dari itu, semakin tinggi motivasi belajar dan spiritual quotient seorang siswa diduga akan tinggi pula hasil belajar matematika yang akan diperoleh. Semakin rendah motivasi belajar dan tingkat spiritual quotient seorang siswa diduga akan rendah pula hasil belajar matematika yang akan diperoleh.

(17)

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang akan diteliti yang perlu dibuktikan kebenarannya. Pada permasalahan yang diangkat pada penelitian ini, hipotesis yang digunakan yaitu hipotesis asosiatif. Sugiyono (2011:89) mengatakan bahwa hipotesis asosiatif adalah “suatu pernyataan yang menunjukkan hubungan antara dua variabel atau lebih”. Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Hipotesis Pertama

Ha : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

H0 : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

2. Hipotesis Kedua

Ha : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara spiritual quotient dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

H0 : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara spiritual quotient dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

3. Hipotesis Ketiga

Ha : Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dan spiritual quotient dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

H0 : Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dan spiritual quotient dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam.

(18)

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian

Metode penelitian adalah “cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu” (Sugiyono, 2012:3). Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode penelitian korelasional. Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang memiliki karakteristik data berupa analisis statistik, skop populasi besar, kesimpulan bersifat generalisasi, dan hasil bersifat umum. Penelitian korelasional dilakukan untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan/ korelasi antar dua variabel. Hasil kesimpulan penelitian korelasi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat (kausalitet), tapi hanya hubungan korelasional (prediksi/kontribusi). Menurut Arikunto (2010:4) penelitian korelasional dilakukan untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan perubahan, tambahan atau manipulasi terhadap data yang sudah ada.

Jadi, penelitian ini diarahkan untuk menguji hubungan antara dua variabel yaitu motivasi belajar (X1) dan Spiritual Quotient (X2) dengan hasil belajar matematika siswa (Y).

B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:117). Maka populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPIT Nurul Muhajirin Batam tahun pelajaran 2014/2015 sebanyak 75 orang.

2. Sampel

(19)

Nonprobability sampling maksudnya teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi, sampling sistematis, kuota, aksidental, purposive, jenuh, snowball (Sugiyono, 2012:122).

Sedangkan sampling jenuh maksudnya adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2012:124). Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di SMPIT Nurul Muhajirin Batam tahun pelajaran 2014/2015 sebanyak 75 orang.

C. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2010:94). Ada dua jenis variabel pada penelitian ini yaitu:

1. Variabel Terikat (dependent variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012:61). Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar matematika (Y).

2. Variabel Bebas (Independent variable)

Sugiyono (2012:61) mengemukakan bahwa variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah motivasi belajar (X1) dan Spiritual Quotient (X2).

Secara skematis, hubungan antar variabel dapat terlihat pada bagan berikut:

X

1

X

2

(20)

Gambar 1. Skema Keterkaitan Variabel Keterangan: X1 = Motivasi Belajar

X2 = Spiritual Quotient

Y = Hasil Belajar Matematika

D. Instrumen Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data a. Angket atau Kuesioner

“Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons (responden) sesuai dengan permintaan pengguna” (Riduwan, 2011:52). Angket ini digunakan untuk mengumpulkan data-data dari variabel bebas yaitu motivasi belajar dan spiritual quotient. Data-data yang diperoleh dari pengisian angket ini merupakan data primer.

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup. Menurut Riduwan (2011:54) angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan memberi tanda silang (x) ataupun tanda checklist (√).

Teknik pengukuran yang digunakan peneliti adalah skala likert dengan empat skala (Lubis, 2011:74), yakni:

1 = Sangat Tidak Setuju (STS)

2 = Tidak Setuju (TS)

3 = Setuju (S)

4 = Sangat Setuju (SS)

(21)

Tabel.2. Kisi-Kisi Angket Motivasi Belajar

- Mengenal Tuhan sebagai Sang Pencipta

(22)

6. Prinsip Keteraturan

- Memiliki visi-misi dalam hidup

- Memiliki perencanaan hidup

- Kemampuan merumuskan tujuan dalam setiap kegiatan

26,27,28, 29, dan 30

b. Dokumentasi

Menurut Riduwan (2011:58) dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, dan data lain yang relevan dengan penelitian. Maka dokumentasi dalam penelitian ini yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai variabel terikat, yaitu hasil belajar matematika (Y) yang berupa data nilai ujian semester 2 siswa. Dokumentasi mengenai hasil belajar ini diperoleh dari guru mata pelajaran matematika. Data-data yang diperoleh dari dokumentasi ini adalah data sekunder.

2. Pengujian Instrumen Penelitian a. Uji Validitas

(23)

Untuk mengukur validitas instrumen ini, digunakan teknik korelasi product moment Pearson, dengan taraf signifikan sebesar 5%. Penghitungan validitas ini dibantu dengan program SPSS versi 20.Berikut rumus korelasi product moment Pearson (Riduwan,2011:227)

Keterangan: r = Koefisien korelasi

X = Skor yang diperoleh subjek dari seluruh item

Y = Skor total yang diperoleh dari seluruh item

= Jumlah skor item

= Jumlah skor total (seluruh item)

n = Jumlah sampel

b. Uji Reliabilitas

Lubis (2011:78) menyatakan, instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan untuk mengukur subyek atau obyek yang sama pada waktu yang berbeda dengan pengukuran dilakukan oleh orang yang berbeda hasilnya tetap sama.

Untuk mengukur reliabilitas instrumen dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rumus Cronbach Alpha, dengan taraf signifikan sebesar 5%. Peneliti menggunakan rumus Cronbach Alpha karena menurut pendapat Lubis (2011:82) rumus tersebut tepat dipakai untuk instrumen yang mempunyai skala jamak (multiple scale), seperti kuesioner dengan menggunakan skala likert. Penghitungan reliabilitas ini dibantu dengan program SPSS versi 20.

(24)

Dimana rumus

Keterangan:

rii = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan

Si = Varians butir pertanyaan

= Jumlah varian butir pertanyaan

= Varians total

= Jumlah kuadrat butir pertanyaan

= Jumlah butir pertanyaan dikuadratkan

= Jumlah sampel

E. Teknik Analisis Instrumen 1. Uji Normalitas

Untuk menguji normalitas data, digunakan teknik Kolmogorov-Smirnov (Noor,2011:176) dengan bantuan program komputer menggunakan SPSS Versi 20.

Langkah-langkah menguji normalitas data sebagai berikut:

(25)

d. Hitung probabilitas frekuensi (P) dengan membagi banyak frekuensi

dengan banyak data ( ).

e. Hitung probabilitas frekuensi kumulatif dengan membagi frekuensi

kumulatif dengan banyak data.

f. Menentukan nilai z dari tiap-tiap data tersebut dengan rumus

g. Tentukan besar peluang masing-masing nilai z berdasarkan tabel z dan diberi nama F(z).

h. Hitung selisih antara kumulatif proporsi (KP) dengan nilai z pada batas bawah.

i. Selanjutnya, nilai A1 maksimum dibandingkan dengan harga tabel D, yang diperoleh dari harga kritis Kolmogorov-Smirnov satu sampel.

j. Syarat normalitas data:

Dengan membandingkan A1 maksimum dan harga tabel D.

Kriteria pengujian sebagai berikut:

Jika A1 maksimum ≤ harga tabel D, maka distribusi data dinyatakan normal.

Jika data berdistribusi normal, maka statistik yang akan digunakan adalah statistik parametris. Sedangkan jika data berdistribusi tidak normal, maka statistik yang digunakan adalah statistik non-parametris.

F. Teknik Analisis Data

(26)

Keterangan:

= Koefisien korelasi antara variabel X dan Y

= Jumlah harga dari skor variabel X

= Jumlah harga dari skor variabel Y

= Jumlah sampel

= Jumlah hasil perkalian antara X dan Y

= Jumlah X2

= Jumlah Y2

Pengujian signifikansi koefisien korelasi selain dapat menggunakan tabel, dapat juga dihitung dengan uji t. Rumus yang digunakan (Riduwan, 2011:229) adalah:

Jika > maka H0 ditolak

Jika ≤ maka H0 diterimar

(27)

belajar matematika (Y). Rumus korelasi ganda yang digunakan sebagai berikut (Riduwan, 2011:238).

Keterangan:

= Korelasi antara variabel X1 dan X2

= Kuadrat korelasi antara X1 terhadap Y

= Kuadrat korelasi antara X2 terhadap Y

= Kuadrat korelasi X1 terhadap X2

= Korelasi X1 terhadap Y

= Korelasi X2 terhadap Y

= Korelasi X1 terhadap X2

Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi korelasi ganda antara variabel X1 dan X2 dengan variabel Y ditentukan dengan rumus Fhitung, kemudian dibandingkan dengan Ftabel .

Langkah-langkah untuk melaksanakan uji korelasi ganda:

1. Buatlah hipotesis Ha dan H0 dalam bentuk kalimat. 2. Kemudian ubah Ha dan H0 dalam bentuk statistik.

3. Membuat tabel penolong untuk menghitung korelasi ganda.

(28)

Selanjutnya hasil dari korelasi tersebut digunakan untuk menghitung korelasi ganda (R) dengan rumus:

5. Menguji signifikansi dengan membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel.

Berikut rumus menentukan signifikansi korelasi ganda.

Gambar

Tabel.2. Kisi-Kisi Angket Spiritual Quotient

Referensi

Dokumen terkait

Seseorang yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai prestasi yang baik (Sardiman, 2001). Seorang anak menginginkan dorongan yang kuat dalam membantunya meraih prestasi

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hamalik (2004) yang mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan

Menurut Sardiman (2004: 83) seseorang yang memiliki minat yang tinggi akan tekun dalam menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, senang bekerja mandiri, cepat bosan

Mc.Donald (dalam Fathurrohman & Sutikno, 2007) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai dengan munculnya “ feeling ” dan didahului dengan

Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. 21 Perubahan

Tidak adanya interaksi sosial pada anak autis ditandai dengan munculnya paling sedikit dua gejala, yaitu gangguan dalam perilaku nonverbal misalnya kontak mata,

Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Mc. Donald dalam Ariyanto).

Menurut Sardiman (2004: 83) seseorang yang memiliki minat yang tinggi akan tekun dalam menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, senang bekerja mandiri, cepat