ANALISIS SIGAT MUNTAHA AL-JUMU‘
DALAM
KITAB BULUGU AL-MARAM
SKRIPSI SARJANA O
L E H
SURYA BAKTI 060704003
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
PROGRAM STUDI SASTRA ARAB
MEDAN
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis
atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi
berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.
Medan, februari 2010
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...II KATA PENGANTAR...III UCAPAN TERIMA KASIH...IV ABSTRAKSI...VI
PEDOMAN TRANSLITERASI...VIII
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Batasan Masalah...4
1.3 Tujuan Penelitian...4
1.4 Manfaat Penelitian...4
1.5 Metode Penelitian...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...6
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN...24
3.1 Sekilas Tentang Kitab Bulugu Al-Maram...24
3.2 Analisis Pola sigat muntaha al-jumu‘ Dalam Kitab Bulugu Al-Maram...24
3.3 Analisis Bentuk Mufrad dari Sigat Muntaha Al-Jumu‘ Serta Proses Perubahannya...25
3.4 Analisis Keadaan I’rab Sigat Muntaha Al-Jumu‘...50
BAB IV PENUTUP...65
4.1 Kesimpulan...65
4.2 Saran...66
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah rabbi al-‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT, tuhan seru
semesta alam, berkat rahmat dan pertolongan-Nyalah penulis mampu menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW, yang telah membawa risalah yang benar sebagai jalan untuk mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir perkuliahan dan memenuhi persyaratan
untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang ilmu Sastra Arab pada Fakultas
Sastra Universitas Sumatera Utara, maka penulis menyusun sebuah skripsi yang berjudul
“ Analisis Sigat Muntaha Al-Jumu‘ Dalam Kitab Bulugu Al-Maram”.
Dalam penyusunan skiripsi ini tentunya masih terdapat kekurangan-kekurangan
yang disebabkan oleh pengetahuan dan kemampuan serta pemahaman penulis yang
sangat terbatas, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kepada para pembaca untuk
UCAPAN TERIMAKASIH
Berkat ridha dan rahmat Allah SWT serta bantuan dari berbagai pihak, penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh sebab itu sudah sewajarnya penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang sudah banyak membantu penulis, baik
moral maupun material. Untuk itu penulis banyak menyampaikan ucapan terima kasih
yang tulus kepada :
1. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Asbin dan Ibunda Siti Anggur yang telah
membesarkan, mendidik, dan selalu mendoakan penulis hingga penulis
menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi.
Allāhummagfirlī wa liwālidayya wa-irham humā kamā rabbayānī sagīran.
2. Bapak Prof Syafuddin, M.A. Ph.D selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara. Bapak Drs. Aminullah. M.A. Ph.D selaku PD I. Bapak Drs.
Samsul Tarigan selaku PD II dan Bapak Drs. Parlaungan Ritonga. M,Hum.
Selaku PD III Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Khairawati, M.A. Ph.D selaku Ketua Jurusan Program Studi Bahasa
Arab dan Bapak Drs. Mahmud Khudri M.Hum selaku sekretaris Program Studi
Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Suwarto, M.Hum selaku dosen pembimbing I dan Bapak Drs.
Mahmud Khudri M.Hum selaku dosen pembimbing II yang dengan penuh
perhatian telah memberikan dorongan, bimbingan dan pengarahan bagi penulis
sehingga skripsi ini dapat penulis rampungkan.
5. Staf Pengajar Program Studi Bahasa Arab pada khususnya dan staf pengajar
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara pada umumnya yang telah
mendidik dan menuangkan ilmunya kepada penulis selama masa perkuliahan.
6. Bang Andika selaku Staf Administrasi Jurusan Bahasa Arab yang sudah
membantu penulis dalam hal keadministrasian.
7. Bapak Suwanto sekeluarga dan seluruh Jama‘ah mesjid Nurul Falah Eka Rasmi
mengasihi penulis. Penulis tidak bisa membalas atas semua kebaikan mereka.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, hidayah dan ampunan kepada
mereka, Amin.
8. Abanganda Zul Kifli Harahap S.pdi yang telah memberikan pinjaman berupa
buku-buku pendukung skripsi penulis, dan yang telah banyak memberikan
masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skiripsi ini.
9. Teman-teman stambuk ’06 (Arief, Sifeol, Baihaqi, Haris, Mahmuda, Riky,
Rahman, Saleha, Fatimah, Dwi, Elly, Elita, Ika, Sany, Sarah, Jarot, Vira) yang
telah memotipasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Sohib terdekat, Domu Hamonangan Harahap sebagai teman curhat penulis
dalam penyelesaian skripsi ini.
11. Seluruh Mahasiswa Jurusan Sastra Arab yang tergabung dalam Ikatan
Mahasiswa Arab (IMBA)
12. Serta seluruh pihak yang telah memberikan bantuan yang tidak terhingga
kapada penulis dan penulis tidak dapat menyebutkan satu-persatu tapi yang
pasti anda memberikan ruang memori tersendiri bagi penulis.
Penulis tidak dapat membalas jasa yang telah diberikan hanya kepada Allah SWT
penulis meminta semoga diberikan ganjaran dengan kebaikan yang berlipat ganda pula.
Amin!
Medan, Maret 2010
ABSTRAKSI
Nama : Surya Bakti
NIM : 060704003
“Analisis Sigat Muntaha Al-Jumu‘ Dalam Kitab Bulugu Al-Maram”.
Sigat muntaha al-jumu‘ adalah jama’ kasrah bagian dari jama’ taksir dan pada sigat muntaha al-jumu‘ setelah alif taksirnya terdapat dua atau tiga huruf yang tengah
mati.
Permasalahan yang diteliti pada skripsi ini adalah Pola sigat muntaha al-jumu‘
apa saja yang ditemukan, apa bentuk mufrad dari sigat munyaha al-jumu‘ dalan kitab
bulugu al-maram serta bagaimana proses pembentukannya dan bagaimana keadaan i’rabnya.
Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan pola sigat muntaha al-jumu‘ apa
saja yang terdapat, bagaimana bentuk mufradnya serta proses perubahan dari bentuk
mufradnya kepada sigat muntaha al-jumu‘ dan untuk menegetahui bagaimana keadaan i’rab dari sigat muntaha al-jumu‘.
Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Syekh Mustafa
Al-Gulayaini.
Penelitian ini berdasarkan pada study kepustakaan (library research) dengan
menggunakan metode deskriftip.
Hasil penelitian ini adalah bahwa sebagian dari pola sigat muntaha al-jumu‘
ditemukan dalam kitab bulugu al-maram sperti pola fa’alilu, fa‘alilu, afa ‘ilu, afa ‘ilu
mafa‘ilu, mafa‘ilu, fawa‘ilu, fa‘ailu. Dan selain dari pada yang di atas tidak ditemukan.
Bentuk mufrad sigat muntaha al-jumu‘ dan proses pembentukannya terkadang
mempunyai persamaan, sedangkan keadaan i’rab sigat muntaha al-jumu‘ selalu berbeda
PEDOMAN TRANSLITERASI
Transliterasi yang digunakan dalam skripsi ini adalah Pedoman Transliterasi
berdasarkan SK Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
No.158 tahun 1987 dan No. 0543b /U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.
A. Konsonan
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
ba B Be
ta T Te
sa Ś es (dengan titik di atas)
jim J Je
ha ḥ ha (dengan titik di
bawah)
kha Kh ka dan ha
dal D De
zal Ż zet (dengan titik di
atas)
ra R Er
zai Z Zet
sin S Es
syin Sy es dan ye
sad ș es (dengan titik di
bawah)
dad ḍ de (dengan titik di
bawah)
ta ṭ te (dengan titik di
bawah)
za ẓ zet (dengan titik di
bawah)
‘ain ‘ koma terbalik (di atas)
gain G Ge
fa F Ef
qaf Q Ki
kaf K Ka
lam L El
nun N En
waw W We
ha H Ha
hamzah ` apostrof
ya Y Ye
B. Konsonan Rangkap
Konsonan rangkap (tasydid) ditulis rangkap.
Contoh : = muqaddimah
= al-Madinah al-munawwarah
C. Vokal
1. Vokal Tunggal
--- (fathah) ditulis “a”, contoh : = qara’a
--- (kasrah) ditulis “i”, contoh : = raḥima
--- (dammah) ditulis “u”, contoh :
= kutubun
2. Vokal Rangkap
Vokal rangkap
---
(fathah dan ya) ditulis “ai ”Contoh : = zainab
= kaifa
Vokal rangkap
---
(fathah dan waw) ditulis “au”Contoh : = ḥaula
= qaulun
D. Vokal Panjang (maddah)
---
dan---
(fathah) ditulis “a”, contoh :=
qāma=
qaḍā---
(kasrah) ditulis “i”, contoh :=
raḥīmunE. Ta Marbutah
a. Ta marbutah yang berharkat sukun ditransliterasikan dengan huruf “h”
Contoh : = makkah al-mukarramah
= al-syarī‘ah al-islāmiyyah
b. Ta marbutah yang berharkat hidup ditransliterasikan dengan huruf “t”
Contoh : = al-ḥukūmatu al-islāmiyah
= al-sunnatu al-mutawātirah
F. Hamzah
Huruf hamzah
( )
di awal kata dengan vokal tanpa didahului oleh tanda apostrof. Contoh :=
imānunG. Lafzu al-Jalālah
Lafzu al-Jalālah (kata ) yang berbentuk frase nomina ditransliterasi tanpa hamzah. Contoh : = ‘Abdullah
= ḥablulla
H. Kata Sandang “al”
1. Kata sandang “al” tetap ditulis “al”, baik pada kata yang dimulai dengan huruf
qamariyah maupun syamsiyah.
Contoh : = al-amākinu al-muqaddasah
= al-siyāsah al-syar‘iyyah
2. Huruf “a” pada kata sandang “al” tetap ditulis dengan huruf kecil meskipun
merupakan nama diri.
Contoh : = al-Mawardi
= al-Azhar
3. Kata sandang “al” di awal kalimat dan pada kata “Allah SWT, Qur’an” ditulis dengan
Contoh : Al-Afgani adalah seorang tokoh pembaharu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dengan
adanya bahasa manusia dapat menyampaikan tujuan mereka kepada orang lain dengan
mudah dan dengan cepat dapat dimengerti. Ritonga (2009:1) mengatakan: Bahasa adalah
alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa lambang bunyi yang dihasilkan oleh
alat ucap manusia.
Salah satu bahasa yang dipergunakan manusia dalam kehidupan mereka ialah
bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa yang dipergunakan oleh bangsa Arab
dalam menyampaikan isi hati mereka kepada orang lain.
Al-Gulayaini (1987: 7) mengatakan :
/Al-lugatu al-‘arabiyyatu hiya al-kalimātu al-lati yu‘abbaru bihā al-‘arabu ‘an agradihim/ “Bahasa Arab adalah kata-kata yang dipergunakan oleh bangsa Arab dalam
menyampaikan maksud dan tujuan mereka”.
Dalam bahasa Arab terdapat berbagai disiplin ilmu yang sangat penting untuk
diketahui, diantaranya: ilmu sarf, ilmu nahwu, ilmu ma’ani, ilmu badi‘, ilmu imla’ dll.
Diantara beberapa disiplin ilmu yang penulis uraikan di atas ada dua bidang ilmu
yang penting untuk dipelajari yaitu ilmu sarf dan ilmu nahwu.
Al-Gulayaini (1987: 9) mengatakan :
/as-şarfu huwa ‘ilmun bi’uşūlin tu‘rafu bihā şiyagu al -kalimāti al-‘arabiyyati wa ahwālihā al-lati laisat bi i‘rābin wa lā binā’in/ ‘’Sarf ialah: ilmu yang membahas tentang asal-usul kata-kata bahasa Arab, yang dengan ilmu tersebut dapat diketahui bentuk-bentuk dan keadaanya, bukan i‘rab dan bukan pula bina’’.
/wa al-i‘rābu (wa huwa mā yu‘rafu al-yauma bin-nahwi) ‘ilmun biúşūlin tu‘rafu bihā ahwālu al-kalimāti al-‘arabiyyati min haiśu al-i‘rābi wa al-bina’i/ ‘’Dan i‘rab (yang
Dalam linguistik ilmu sarf dikenal dengan morfologi sedangkan ilmu nahwu
dikenal dengan sintaksis.
Verhaar (2001:11) mengatakan: Sintaksis adalah cabang linguistik yang
menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat. Sedangkan morfologi menyangkut
struktur “internal” kata.
Penulis bermaksud untuk mengkaji dua cabang dari disiplin ilmu yang ada dalam
bahasa Arab yaitu ilmu sarf dan ilmu nahwu, dipandang dari bentuk pola dan i‘rabnya,
karena setiap kata masih dapat diubah kepada beberapa pola yang lain yang akhirnya
makna kata itupun bisa berubah, dan setiap letak kata yang ada dalam jumlah bahasa
Arab dapat mengubah bentuk baris sesuai dengan fungsinya dalam jumlah itu.
Perubahan bentuk pola dalam bahasa Arab dapat terjadi di awal, tengah dan akhir
kata , serta ada yang ditetapkan polanya (wazan) dan ada juga yang hanya mengikuti
kebiasaan yang telah diucapkan oleh orang Arab, di antara perubahan ism yang
ditetapkan polanya adalah ism fa‘il, ism maf‘ul, tasgir, sigat muntaha al-jumu‘
(pembagian dari jama‘ taksir)dll.
Dalam karya tulis ini penulis ingin memfokuskan kajian untuk menganalisis sigat
muntaha al-Jumu‘ dalam kitab bulugu al-maram. “Sigat muntaha al-jumu‘ yaitu setiap jamak taksir (kaśrah) yang sesudah alif taksirnya ada dua hurf atau tiga hurf yang tengah
mati (sukun). Misalnya (beberapa dirham) dan (beberapa dinar)”.(tarjamah
jami‘u ad-durus al-‘arabiyyah, Al-Gulayaini,1991: 65)
Selain sigat ini jama‘, sigat ini juga dikenal dengan muntaha maksudnya setelah
sigat muntaha al-jumu‘ tidak ada lagi bentuk jamak yang akan dibahas.
Muhammad (Tanpa tahun : 38) mengatakan :
Penulis akan menganalisis ini dalam kitab bulugu al-maram yang disusun oleh
Al-Hafiz bin Hajar Al-‘Asqalani1
1. Penulis ingin mendalami bidang ilmu sarf dan ilmu nahwu khusus pada
pembahasan sigat muntaha al-jumu‘.
, Kitab ini terbitan Darul Ahya Maktab
Al-‘Arabiyah Indonesia, tanpa tahun, yaitu kitab yang berisi tentang hadist-hadist
Rasulullah SAW, dengan berbahasa Arab fushah. Kitab ini terdiri dari 16 bab, 314
halaman, dan terdapat 1596 hadist di dalamnya. Hipotesis penulis terdapat 64 bentuk
sigat muntaha al-jumu‘ dalam kitab bulugu al-maram.
Adapun alasan penulis memilih judul ini antara lain:
2. Adanya ciri khas dari sigat muntaha al-jumu‘ yaitu huruf tambahan berupa alif
taksir yang terletak di tengah polanya, dan setelah alif taksir itu terdapat dua atau
tiga huruf, dan sigat muntahal jumu‘ juga termasuk kajian dari ismu al-lazi la
yansarif yaitu isim yang tidak bertanwin.
3. Penelitian tentang sigat muntaha al-jumu’ yang dipandang dari dua bidang ilmu
yaitu ilmu sarf dan ilmu nahwu belum pernah dibahas sebelumnya khususnya di
kalangan mahasiswa Program Studi Sastra Arab Fakultas Sastra USU. Namun
Analisis sigat muntaha al-jumu‘ dalam Al-qur’an sudah pernah diteliti oleh
Fitriah (020704007) ditinjau dari satu bidang ilmu yaitu ilmu sarf.
1
Nama beliau ialah Syahabuddin Abu Fadh Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Mahmud .terkenal dengan panggilan Al-Hafiz Hajar Asqalani As-Syafie Qadhi Qudhah yang merupakan pembawa bendera
As-Sunnah Al-Misri , dilahirkan di Mesir 12 Sa’ban 773 H dan wafat 852 H. Umur 9 tahun beliau sudah
hafal Al-Qur’an dan banyak menghapal kitab-kitab ulama terdahulu seperti al-a’alamat as-sams li ibnu
1.2 Batasan Masalah
Agar penyajian suatu objek penelitian dapat sesuai dengan sasaran yang
diinginkan dan terhindar dari penyimpangan, maka penulis perlu membuat batasan
masalah yang meliputi:
1. Pola sigat muntaha jumu‘ apa saja yang ditemukan dalam kitab bulugu
al-maram?
2. Bagaimana bentuk mufrad dari sigat muntaha jumu‘ dalam kitab bulugu
al-maram serta bagaimana proses perubahannya?
3. Apa kedudukan i‘rab sigat muntaha al-jumu‘ dalam kitab bulugu al-maram?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan ini ialah :
1. Untuk mengetahui pola sigat muntaha al-jumu‘ apa saja yang ditemukan
dalam kitab bulugu al-maram.
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk mufrad dari sigat muntaha al-jumu‘ dalam kitab bulugu al-maram serta proses perubahannya.
3. Untuk mengetahui kedudukan i‘rab sigat muntaha al-jumu‘ dalam kitab
bulugu al-maram. 1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat yaitu :
1. Menambah wawasan bagi peneliti pada khususnya dan bagi mahasiswa
Program Studi Bahasa Arab Fakultas Sastra USU pada umumnya.
2. Menambah minat peneliti untuk lebih mendalami kajian bahasa khususnya
Nahwu dan sarf.
3. Sebagai tambahan kontribusi perbendaharaan karya ilmiah bagi Fakultas
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library research) dengan
menggunakan analisis deskriptif, yaitu dengan cara mengumpulkan data, menyusun atau
mengklasifikasi, menganalisis dan menginterprestasikan.(Surakhmad,1990: 147).
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kitab bulugu
al-maram dan untuk mempermudah dalam analisis ini penulis juga menggunakan terjemah bulugu al-maram oleh A.Hassan(2006) Penerbit C.V. Diponegoro, dan teori yang
digunakan penulis dalam analisis ini ialah teori Syekh Mustafa Al-Ghulayaini.
Adapun langkah-langkah penulis dalam pengumpulan data ialah:
1. Membaca hadist yang terdapat dalam kitab bulugu al-maram satu persatu.
2. Mencari dan mengumpulkan sigat muntaha jumu ‘ dalam kitab bulugu
al-maram.
3. Mengidentifikasi dan mengelompokkan sesuai dengan pola-pola tertentu.
4. Menganalisis masing-masing sigat muntaha al-jumu‘ untuk dapat diketahui
asal mufradnya dan bagaimana proses perubahannya.
5. Menganalisis masing-masing sigat muntaha al-jumu ‘ dalam posisi tata letak
kalimat dalam kalam untuk dapat diketahui i‘rabnya.
6. Hasil analisis secara morfologis maupun sintaktis disusun dalam suatu laporan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Analisis tentang sigat muntaha al-jumu’ sudah pernah diteliti oleh Fitriyah
(020704007), dengan judul analisis sigat muntaha al-jumu‘ dalam Al-Qur’an, dan hasil
dari penelitian beliau, bahwa terdapat 11 dari 19 pola sigat muntaha al-jumu‘, dan setiap
kata dari pola yang 11 itu sering berulang-ulang penyebutannya dalam Al-Qur’an,
penelitian beliau hanya ditinjau dari satu bidang ilmu yaitu ilmu sarf yang dikhususkan
pada bentuk polanya, akan tetapi penulis menganalisis objek yang berbeda yaitu
menganalisis tentang sigat muntaha al-jumu‘ dalam kitab bulugu al-maram yang
dikhususkan pada bentuk polanya dan perubahan dari bentuk mufrad ke sigat muntaha
al-jumu‘ serta keadaan i‘rabnya ditinjau dari ilmu nahwu.
Pengertian sigat muntaha al-jumu‘
Adapun sigat muntaha al-jumu‘ sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhyiddin
(1993: 51) adalah :
/Ammā şigatu muntahā al-jumū‘i fadābituhā: an yakūna al-ismu jam‘a at-taksiri wa qad waqa‘a ba‘da ālifi taksirihi harfāni nahwu: masājidu, manābiru, au śalāśatu ahrufin wastuhā sākinun nahwu: mafātihu, ‘asāfīru/ “ Sigat muntaha al-jumu‘ ialah : isim yang
berbentuk jama‘ taksir dan ada dua huruf yang terletak sesudah alif taksirnya contoh: masājidu , manābiru atau tiga huruf yang huruf tengahnya berharkat sukun (berbaris
mati) contohnya: mafātihu, dan ‘asāfiru”
/Şiyagu al-muntahā al-jumū‘i hiya kullu jam‘in kāna ba‘da ālifi taksirihi harfāni, au śalāśatu ahrufin śānihā sākinun, nahwu: (ma‘ābidu) wa (mafātīhu) wa tusamma aidan: şiyagu al-jam‘i al-aqsā/ “Sigat muntaha al-jumu‘ adalah setiap jama‘ setelah alif
taksirnya terdapat dua huruf, atau tiga huruf yang huruf keduanya sukun (mati)
contohnya : (ma’ābidu) dan (mafātihu) dan dinamakan juga dengan şiyagu al-jam’i al-aqşa”(Asmir, 1993: 295)
/
Şiyagu muntahā al-jumū‘i min jumū‘i al-kaśrati jam‘un yuqālu lahu “ muntahā al -jumū‘i wa şigatu m untahā al-jumū‘i wa huwa kullu jam‘in kāna ba‘da ālifi takśirihi harfāni au śalāśatu ahrufin wastuhā sākinun kadarāhima wa danānīra/. “Sigat muntaha al-jumu‘ bagian dari jama‘ kasrah, Jama‘ yang dikatakan baginya muntaha al-jumu‘atau sigat muntaha al-jumu‘ yaitu setiap jama‘ taksir (kasrah) yang sesudah alif
taksirnya ada dua huruf atau tiga huruf yang tengah mati (sukun). Contohnya
:
darāhima beberapa Dirham) dan (danānira: beberapa Dinar)”Menurut Al-Gulayaini pembentukan ism mufrad menjadi sigat muntaha al-jumu’
adalah : Apabila ism yang akan dibentuk itu dari ism yang hurufnya empat, baik dari ism
yang huruf aslinya empat maupun ism yang huruf aslinya tiga dan ada tambahan satu
huruf, maka sigat muntaha al-jumu‘nya dibentuk atas dasar huruf lafalnya, yakni dalam
pembentukannya tidak ada pembuangan huruf.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/dirhamun/ /darāhimu/
‘uang dirham’ ‘beberapa uang dirham’
/masjidun/
/
masājidu/‘mesjid’ ‘beberapa mesjid’
Adanya penambahan alif taksir pada bentuk muntaha al-jumu‘(
,
) adalah ciri khas dari sigat muntaha al-jumu‘.Sedangkan ism yang hurufnya lebih dari empat, apabila ingin dibentuk menjadi
sigat muntaha al-jumu’ maka ketentuannya sebagai berikut :
1. Apabila ism yang hurufnya lebih dari empat (asli empat huruf dan mendapat
tambahan) maka huruf tambahannya harus dibuang 1F 2
.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
2
Dalam pembuangan huruf tambahan ditentukan sebagai berikut :A. huruf mim tambahan di awal lafal lebih baik ditetapkan dari pada huruf tambahan lainnya secara mutlak. B. huruf ta dan nun lebih baik ditetapkan dari yang lain kecuali mim . C. huruf tambahan hamzah dan ya lebih baik
/gadanfarun/ /gadāfiru/
‘seekor singa’ ‘beberapa ekor singa’
Huruf yang dibuang ( ) adalah huruf /nun/ lalu ditambah dengan alif
taksir (ciri khas dari sigat muntaha al-jumu’).
2. Apabila ism yang lebih dari empat huruf sedangkan huruf aslinya tiga maka dirinci
sebagai berikut:
2.1 Apabila tambahan 2 (dua) huruf maka dibuang satu.
Contoh :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/munţaliqun/
/
maţāliqu/‘orang yang berangkat’ ‘orang-orang yang berangkat’
Huruf tambahan( )berupa huruf /mim/ dan /nun/, huruf yang
dibuang ketika dibentuk muntaha al-jumu‘ adalah huruf /nun/ dan
ditambah alif taksir setelah huruf kedua.
2.2 Apabila tambahannya 3 (tiga) huruf maka ketika dibentuk sigat muntaha
al-jumu‘ dibuang dua huruf.
Contoh :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/makhsyausyinun/
/makhāsyinu/‘seorang yang kasar’ ‘beberapa orang yang kasar’
Huruf tambahannya ( ) berupa huruf /mim/,salah satu huruf
/syin/ dan huruf /waw/ kemudian ditambah alif taksir setelah huruf
kedua.
2.3 Apabila huruf tambahan itu berupa huruf ‘illat berbaris mati (sukun) yang berada
sebelum akhir, maka huruf tambahan tersebut dirinci sebagai berikut
2.3.1 Apabila huruf tambahannya berupa huruf alif ( ) atau waw ( ) maka
diganti dengan ya’ (
)
Contoh :
/qirţasun/ /qarāţisu/
‘selembar kertas’ ‘beberapa lembar kertas’
/firdausun/ /farādisu/
‘surga’ ‘surga-surga’
2.3.2 Apabila huruf tambahannya berupa huruf ya’ ( ) maka tidak ada yang
diganti (ditetapkan)
Contoh :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/qindilun/ /qanādilu/
‘lampu gantung’ ‘beberapa lampu gantung’
3. Apabila ism yang akan dibentuk sigat muntaha al-jumu’ dari ism yang huruf aslinya
lima maka hendaknya huruf yang kelima dibuang dan dibentuk atas pola
/fa‘ālilu/.
Contonya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/safarjalun/ /safāriju/
‘buah jambu’ ‘beberapa buah jambu’
Huruf yang dibuang (
)
adalah huruf yang kelima yaitu huruf (lam), kemudian ditambah alif taksir setelah huruf yang kedua.4. Apabila ism yang akan dibentuk sigat muntaha al-jumu‘ dari ism yang hurufnya diatas
lima, maka huruf yang kelima dan setelah huruf yang kelima hendaknya
dibuang.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/’andalībun/ /’anādilu/
‘seekor burung ’ ‘beberapa ekor burung ’
Huruf yang dibuang (
)
adalah huruf ya’ ( ) dan huruf ba ( ),kemudian ditambah alif taksir setelah huruf yang kedua.
5. Sebagian dari pola-pola sigat muntaha al-jumu‘ dapat disambung (ditambah) dengan ta
5.1 Apabila bentuk mufradnya dari ism yang hurufnya di atas tiga dan ada huruf ya’
nisbah (yang menunjukkan kebangsaan).
Contonya : Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/magribiyyun/ /magāribatu/
‘orang maroko’ ‘orang-orang maroko’
5.2 Bentuk mufradnya tidak memakai ya nisbah tetapi huruf sebelum akhir berupa
huruf mad ( ) tambahan, dan huruf mad ini harus dibuang apabila huruf ta
marbutah dimasukkan
Contoh : Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/gaţrifun/ /gaţārifatu/
‘seorang yang dermawan’ ‘beberapa orang yang dermawan’ 5.3 Bentuk mufradnya dari ism ‘ajam (bukan arab) dan hurufnya lebih dari tiga.
Contoh : Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/jaurabun/ /jawāribatu/
‘sepasang kaus kaki’ ‘beberapa pasang kaus kaki’
Sigat muntaha al-jumu’ mempunyai sembilan belas (19) Wazan, Yang seluruhnya
ada pada ism sulasi mazid dan tidak ada pada ism ruba’i al-usul ( ism yang huruf aslinya
empat )atau khumasi al-usul( ism yang huruf aslinya lima), kecuali yang mengikuti
wazan /fa‘ālilu dan / fa‘ālilu, Sebagaimana sulasi mazidpun ada yang
mengikuti dua wazan tersebut.
Wazan-wazan sigat muntaha al-jumu’yang sembilan belas ialah :
1. dan 2. Wazan /fa‘ālilu dan /fa‘ālilu
Ism yang jama’nya dapat dibentuk seperti wazan /fa‘ālilu ialah :
1.1 Setiap Ism yang empat huruf aslinya (ruba’i al-usul) baik yang mujarrad (tidak ada
tambahan) maupun yang mazid (ada tambahan) pada bentuk mufradnya (bentuk
Contoh ruba’i muzarrad.
Bentuk mufrad Muntaha al-jumu’
/dirhamun/ /darāhimu/
‘satu dirham’ ‘beberapa dirham’
(Tidak ada huruf yang dibuang hanya penambahan alif taksir setelah huruf kedua)
Contoh ruba’i mazid.
Bentuk mufrad muntaha al-jumu’
/gadanfarun/ /gadāfiru/
‘seekor singa’ ‘beberapa ekor singa’
(Asalnya /gadfarun/, mendapat huruf tambahan /nun/ dan huruf tambahan
tersebut dibuang pada sigat muntaha al-jumu’, Kemudian ditambah alif taksir setelah
huruf kedua).
1.2 Ism yang huruf aslinya lima (Khumasi usul) baik yang mujarrad ataupun yang mazid
pada bentuk mufradnya.
Contoh khumasi muzarrad:
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/safarjalun/ /safāriju/
‘buah jambu’ ‘beberapa buah jambu’
(huruf yang dibuang ialah /lam/, dan penambahan berupa alif taksir setelah huruf
kedua).
Contoh khumasi mazid.
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/ ‘andalībun/ / ‘anādilu/
‘seekor burung murai’ ‘beberapa ekor burung murai’
(Huruf yang dibuang /ya/ dan /ba/ dan ditambah alif taksir setelah huruf yang
kedua).
Sedangkan Ism yang bentuk Jama’nya mengikuti Wazan
ialah : seperti
yang berupa huruf illat ( ) yang berharkat sukun (berbaris mati) pada bentuk
mufradnya.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/qirţāsun/ /qarāţisu/
‘satu kertas’ ‘beberepa kertas’
(Penggantian huruf alif dengan huruf ya’ dan tambahan alif taksir setelah huruf
kedua).
3. dan 4. Wazan
/
afā‘ilu dan/
afā‘iluIsm yang mengikuti wazan / afā‘ilu ini ada dua yaitu :
3.1 Ism yang mengikuti Wazan / af‘ala dan sebagai sifat tafdhil (makna
lebih/paling).
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/afdalu/
/
afādilu/‘yang lebih utama’ ‘beberapa yang lebih utama’
Dan apabila ism tersebut tidak merupakan shifat tafdhil, maka tidak dapat dijama‘kan
mengikuti wazan tetapi harus dijama‘kan mengikuti wazan /fu‘lun/.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Bentuk Jama’
/ahmarun/ /humrun/
‘warna merah’ ‘beberapa warna merah’
3.2 Ism yang empat hurufnya dan huruf pertamanya berupa huruf Hamzah sebagai huruf
tambahan.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/asba‘un/
/
asābi‘u/ ‘satu jari tangan’ ‘beberapa jari tangan’Sedangkan sigat muntaha al-jumu’ yang mengukuti wazan /afā‘ilu ialah
ism yang seperti tersebut di atas tetapi huruf sebelum akhir berupa huruf mad.( ). Contohnya:
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/uslūbun/ /asālibu/
‘satu jalan’ ‘beberapa jalan’
(Penggantian huruf waw dengan huruf ya’, Dan ditambah alif taksir setelah huruf
kedua).
5. dan 6. Wazan
/
tafā‘ilu dan/
tafā‘iluIsm yang jama’nya mengikuti Wazan / tafā’ilu ialah Ism yang empat
hurufnya dan huruf depannya berupa huruf Ta’ tambahan / /taúzzāidah.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/tinbalun/
/
tanābilu/‘sebuah batu kecil’ ‘beberapa batu kecil’
(Hanya penambahan alif taksir setelah huruf kedua)
Sedangkan ism yang bentuk jama’nya mengikuti Wazan ialah Ism yang
seperti tersebut diatas, tetapi sebelum huruf akhir ada huruf tambahan berupa huruf ‘illat
.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/taqsimun/
/taqāsimu/‘satu bagian’ ‘beberapa bagian’
(Hanya penambahan alif taksir setelah huruf tang kedua).
7. dan 8.Wazan
/
mafā‘ilu dan/
mafā‘iluIsm yang dapat dijama’kan mengikuti Wazan / mafā’ilu ialah Ism yang
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha a-Jumu’
/masjidun/ /masājidu/
‘satu mesjid’ ‘beberapa mesjid’
(Hanya penambahan alif taksir setelah huruf yang kedua)
Adapun ism tersebut diatas apabila huruf ketiganya berupa huruf mad, baik yang asli
atau yang mengganti asal, maka dirinci sbb:
a. Apabila huruf ketiga berupa huruf ya’, maka ditetapkan seperti semula.
Contoh : Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/
ma‘īsyatun/ /ma‘āyisyu/ ‘kehidupan’ ‘kehidupan-kehidupan’b. Apabila huruf ketiga tersebut mengganti huruf asal maka dikembalikan berupa
huruf asalnya.
Contoh : Bentuk Mufrad Asal Muntaha al-Jumu’
/manāratun/
/an-
nūru//manāwiru/
‘menara api’ ‘cahaya’ ‘menara-menara api’
Sedangkan yang bentuk jama’nya mengikuti wazan / mafā‘ilu ialah ism yang
seperti diatas tetapi sebelum huruf akhirnya ada huruf illat.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/misbāhun/ /masābihu/
‘sebuah lampu’ ‘beberapa buah lampu’
(Perubahan huruf alif diganti ya’ dan penambahan alif taksir setelah huruf yang
kedua).
9.dan 10.Wazan
/
yafā‘ilu dan / yafā‘iluIsm yang jama’nya dapat dibentuk seperti Wazan / yafā‘ilu ialah : ism yang
hurufnya empat dan huruf depannya berupa huruf tambahan Ya’( ).
Contohnya :
/yahmadun/ /yahāmidu/
‘yahmad (nama laki-laki)’ ‘beberapa orang bernama yahmad’
(Hanya penambahan alif taksir setelah huruf yang kedua).
Sedangkan ism yang bentuk jama’nya mengikuti wazan / yafā‘ilu ialah ism
yang mengikuti wazan / yafā‘ilu dan sebelum akhir berupa huruf tambahan berupa
huruf illat.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/yanbū‘un/
/
yanābi‘u/ ‘satu mata air’ ‘beberapa mata air’(Penggantian huruf ‘illat waw menjadi huruf ya’ serta penambahan alif taksir setelah
huruf yang kedua).
11. dan 12. Wazan / fawā‘ilu dan
/
fawā‘iluIsm yang bentuk jama’nya mengikuti Wazan / fawā‘ilu ialah :
11.1 Ism yang hurufnya empat (ruba‘i) dan huruf yang kedua berupa waw tambahan
atau Alif tambahan.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/kauśarun/
/kawāśiru/
‘telaga di surga’ ‘telaga-telaga di surga’
11.2 Ism shifat yang bentuk mufradnya mengikuti Wazan / fā‘ilun sama juga shifat Muannas (perempuan) atau shifat untuk Muzakkar ghairu ‘Aqil (yang
tidak punya akal).
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/
hāidun/ /hawāidu/‘satu orang (pr)datang bulan’ ‘beberapa (pr)datang bulan’ Contoh muzakkar ghairu ‘aqil.
/şāhilun/
/şawāhil/
‘suara kuda yang meringkik’ ‘suara-suara kuda yang meringkik’
(Penggantian huruf mad alif dengan huruf waw dan penambahan alif taksir
setelah huruf kedua).
11.3 Ism shifat yang mufradnya mengikuti wazan /fā‘ilatun.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/syā’iratun/ /syawā’iru/ ‘seorang penyair (pr) ‘beberapa penyair (pr)
(Penggantian huruf mad alif dengan waw dan penambahan alif taksir setelah
huruf kedua serta ta’ marbutah dibuang).
Sedangkan ism yang bentuk jama’nya boleh mengikuti wazan /fawā’ilu
ialah ism yang tersebut diatas dan huruf sebelum akhir berupa huruf tambahan yang
berwujud huruf mad.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntha al-Jumu’
/ţūmarun/ /ţawāmiru/
‘satu halaman kertas’ ‘beberapa halaman kertas’
(Penggantian huruf mad alif menjadi huruf ya’ , dan tambahan alif taksir setelah
huruf yang kedua).
13. dan 14. Wazan
/ f
ayā‘ilu dan / fayā‘iluIsm yang bentuknya mengikuti wazan / fayā’ilu ialah ism yang empat
hurufnya dan huruf yang kedua berupa ya’ selaku huruf tambahan /
/
yaúzzaidah.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/
şairafun/ /şayārifu/ ‘seorang kasir’ ‘beberapa kasir’Sedangkan ism yang mengikuti wazan ialah ism yang tersebut diatas tetapi
sebelum huruf akhir ada huruf tambahan yang berupa huruf illat.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/şaikhudun/ /şayākhidu/
‘hari yang sangat panas’ ‘hari-hari yang sangan panas’
(Penggantian huruf mad waw menjadi ya’ dan penambahan alif taksir setelah huruf
yang kedua)
15. Wazan / fa‘āilu
Ism yang dapat dijama’kan dengan mengikuti wazan tersebut diatas ada dua:
15.1 Ism muannas yang empat hurufnya dan huruf sebelum akhir berupa huruf mad
sebagai huruf tambahan, baik muanasnya dengan adanya tanda ataupun tidak.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/sahābatun/ /sahāibu/
‘awan’ ‘awan-awan’
/syamālun/ /syamāilu/
‘angin kencang dari kutub’ ‘angin-angin kencang dari kutub’
(Penggantian huruf mad alif menjadi hamzah dan penambahan alif taksir setelah
huruf kedua serta jika ada ta marbutah tidak dipakai)
15.2 Shifat yang mengikuti wazan / fa‘ilatun, tetapi memakai makna wazan
.
/fā‘ilatun.
Contihnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/karīmatun/
/karāimu/
‘satu orang (pr) yang mulia’ ‘beberapa orang (pr) yang mulua’
(Penggantian huruf ya’ menjadi huruf hamzah serta penambahan alif taksir setelah
16. Wazan
/
fa‘ālā. 17. Wazan fa‘āli.18. Wazan
/
fu‘ālā.Bentuk sigat muntaha al-jumu’ mengikuti pola no.16 & 17,
/
fa‘ālā dan /fa‘āli ialah:a. ism yang bentuk mufradnya mengikuti pola
/
fa‘lā.Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/ fatwā/ /fatāwā dan /fatāwin2F 3
/
‘fatwa/nasehat’ ‘beberapa fatwa/beberapa nasehat’
(Penambahan alif taksir setelah huruf kedua, apabila alif maqsurah dibuang maka
menjadi munsarif)
b. ism yang bentuk mufradnya mengikuti pola / fi‘lā. Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/żifrā / /żafārā/ dan /żafārin/ ‘tulang dibelakang telinga’ ‘tulang-tulang dibelakang telinga’
(Penambahan alif taksir setelah huruf yang kedua, apabila alif maqsurah dibuang
maka menjadi munsarif).
c. ism yang bentuk mufradnya mengikuti pola / fa‘lā’u / baik dia sebagai ism (benda) ataupun sebagai shifat untuk muannas (perempuan) yang tidak ada
muzakkarnya (laki-laki).
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/şahrāun/ /şahārā/dan /şahārin/
‘padang sahara’ ‘padang-padang sahara’
3
(Huruf hamzah dibuang dan penambahan alif taksir setelah huruf yang kedua,
Apabila alif maqsurah dibuang maka menjadi munsarif).
d. ism yang bentuk mufradnya mengikuti pola
/
fu‘lā/ yang digunakan untuk sifat perempuan dan sekali-kali tidak pernah untuk sifat muzakkar (laki-laki).Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/hubla/ /habāla/ dan /habālin/
‘seorang (pr) yang hamil’ ‘beberapa(pr) yang hamil’
(Penambahan alif taksir setelah huruf kedua, apabila alif maqsurah dibuang maka
menjadi munsarif)
Sighat muntaha al-jumu’ yang mengikuti pola no.16 & 18, /fa‘ālā/ dan /fu‘ālā/ ialah sifat yang mufradnya (bentuk tunggal) mengikuti pola /fa‘lānun/ atau
/fa‘ā/ namun yang lebih baik dari kedua pola sigat muntaha al-jumu’ diatas huruf
fa’nya dibaca dammah (berbaris depan).
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/sakrānun/ atau-
/sakrā
/ /sakārā/ atau /sukārā/. ‘yang pemabuk’ ‘orang-orang yang pemabuk’(huruf nun dibuang dan ditambah alif taksir setelah huruf yang kedua)
19. Wazan
/
Fa’āliyyu.Ism yang jama’nya dapat dibentuk dengan wazan tersebut di atas ialah :
19.1 Ism yang tiga hurufnya dan ditambah pada akhirnya huruf Ya’ yang bertaysdid,
tetapi bukan untuk nisbah.
Contohnya :
/kursiyyun/ /karāsiyyu/
‘satu kursi’ ‘beberapa kursi’
(Penambahan alif taksir setelah huruf yang kedua).
19.2 Ism mazid yang ditambahkan di akhirnya huruf alif mamdudah.
Contohnya :
Bentuk Mufrad Muntaha al-Jumu’
/harbā’u/
/
harābiyyu/‘seekor tokek jantan’ ‘beberapa tokek jantan’
(Huruf hamzah diganti dengan huruf ya’ yang bertasydid, dan ditambahkan alif
taksir setelah huruf yang kedua).
Sigat muntaha al-jumu’ bagian dari Ismu al-lazi la yanşarif
Menurut Ahmad tanpa tahun: 37)
/al-ismu al-lażī lā yanşarifu mā fīhi ‘illatāni min ‘ilali tis‘in au wā hidatin taqūmu maqāma ‘illataini/“ Ism yang tidak menerima tanwin ialah ism yang ada padanya dua ‘illat dari ‘illat-‘illat yang sembilan atau satu yang berada ditempat dua ‘illat”.
Adapun ‘illat yang sembilan menurut Ahmad (tanpa tahun: 38) ialah :
/wa al-‘ilalu at-tis‘u hiya al-jam‘u wa wajnu al-fi‘li wa al-‘adlu wa at-ta’nīsu wa at -ta‘rifu wa at-tarkibu wa al-alifu wa an-nunu az-zāidatāni wa al-‘ajmatu wa as-şifatu/
“Dan adapun ‘illat yang sembilan ialah jama‘, wajan fi’il, ‘udul, ta’nis, tarkib, alif dan
/Fa al-jam‘u syarţuhu an yakūna ‘alā şigati muntahā al -jumū‘i wa hiya ‘alā şigati mafā‘ilu nahwu masājidu wa darāhimu wa ganā’imu au mafā‘ilu nahwu maşābihu / “Maka syarat jama’ ialah jika berbentuk sigat muntaha al-jumu’ dan dia diatas pola
mafā’ilu contoh masājidu dan darāhimu dan ganā’imu atau diatas pola mafa’ila contoh
maşābihu”.(Ahmad, tanpa tahun: 38) ‘Aqil (tanpa tahun: 97) mengatakan:
/wa ammā gairu munşarifi falā yadkhulu ‘alaihi hazā at-tanwīnu wa yujarru bi al-fathati illam yudif wa lam tadkhulu ‘alaihi alif lam/ “Dan adapun gairu munsarif, tidak boleh
dimasuki tanwin dan dijarkan dengan fathah selama tidak diidafahkan dan tidak dimasuki alif lam”.
Al-Ghulayaini (1995: 207) mengatakan:
/al-ismu al-lazī lā yanşarifu yumtana‘u min at-tanwīni/ “Ismu al-lazi layansarif dilarang memakai tanwin”.
/wa huwa aidan yurfa‘u bi ad-dammati wa yunşabu bi al-fathati wa yujarru bi al- fathati badlu al-kasrati/ “Dan (ismu al-lazi layansarif) dirafa‘kan dengan dammah dinasabkan
dengan fathah dan dizarkan dengan fathah ganti dari kasrah”.(Al-Gulayaini,1995: 207)
Contohnya :
a. Dirafa’kan dengan dammah : / hazā masājidu/ ‘ ini adalah
mesjid-mesjid’
(Kata adalah bentuk muntaha al-jumu’ yang dirafa‘kan dengan dammah )
b. Dinasabkan dengan fathah : /ra’aitu masājida/ ‘saya telah melihat
beberapa mesjid'
(Kata adalah bentuk muntaha al-jumu’ yang dinasabkan dengan fathah)
c. Dijarkan dengan fathah :
/
şallaitu fi masājida/ ’ saya sudah shalat di beberapa mesjid’(Kata adalah bentuk muntaha al-jumu’ yang dijarkan dengan fathah).
Sigat muntaha al-jumu’ dijarkan dengan fathah selama tidak tersusun dalam jumlah idafah dan tidak dimasuki alif dan lam dan bila tersusun dalam jumlah idafah dan
--
/fa al-mamnu‘u min as-sarfi izā sabaqathu (alif lam) au udifa yujarru bi al-kasrati ‘alā al-aşli: sārainā fi Syawāri’i al-madinati, şallaitu fi al-masājidi/ “Adapun ism yang tidak bertanwin jika dimasuki alif lam atau dimudafkan maka dijarkan dengan kasrah contoh
sārainā fī Syawāri’i al-madinati, şallaitu fi al-masājidi”.(Al-Gulayaini,1995: 208)
Kedua contoh ism yang berbaris bawah di atas ( ,
)
merupakan bentuk ism yang mengikuti bentuk sigat muntaha al-jumu‘, ism yang pertama mengikutipola dan ism yang kedua mengikuti pola , kedua ism tersebut terletak
sesudah harfu jar ( ) yaitu fi ( ) sehingga dibaca majrur ( )
adapun tanda jarnya ialah kasrah karena menjadi mudaf ( ) kepada kata ism
sesudahnya yaitu . Dan kata juga dibaca majrur tanda jarnya ialah kasrah
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Sekilas Tentang Kitab Bulugu Al-Maram
Kitab bulugu al-maram karangan Al-Hafihz ibnu Hajar Al-Asqalani adalah suatu kitab klasik yang berisi kumpulan hadis-hadis fiqih bersumber dari sunnah Rasulullah
SAW. Hadis-hadis tersebut diambil dari berbagai sumber utama, termas
halaman dan 1596 hadits.
Di abad ini, kitab tersebut kedengaran terpakai di mana-mana, bahkan di
Indonesia juga tidak ketinggalan, terutama di madrasah-madrasah dan
pesantren-pesantren, kitab itu disusun pengarangnya seolah-olah bagi orang-orang yang sudah
mengetahui ilmu mustalahul hadits, ilmu usulul figih, dan sudah mahir dalam urusan
fiqih dan hadits, karena di beberapa bab terdapat hadits-hadits yang nampaknya
berlawanan, yang sahih dan yang da’if hingga tidak muda bagi orang yang belum
perpengalaman mengambil faidah darinya.
3.2 Analisis Pola Sigat Muntha Al-Jumu’ dalam Kitab Bulugu Al-Maram.
Sigat muntaha al-jumu‘ yang terdapat dalam kitab bulugu al-maram itu ada yang
ditemukan berulang-ulang dan ada juga yang hanya ditemukan sekali saja, apabila
diklasifikasikan menurut pola-pola sigat muntaha al-jumu‘ yang 19 itu, maka tidak
semua pola yang 19 itu ditemukan dalam kitab bulugu al-maram. Adapun pola-pola yang
ditemukan dalam kitab bulugu al-maram sebanyak 8 pola, dan diantara yang 8 pola itu,
pola yang ke-7 ( ) adalah pola yang paling sering ditemukan, karena kata ism yang
mengikuti pola sigat muntaha al-jumu‘ dalam kitab tersebut banyak yang asal mufradnya
dari ism mujarrad yang didahului huruf mim sehingga sigat muntaha al-jumu‘nya
NO Pola sigat muntaha al-jumu’ Contoh dalam kitab bulugu
al-maram
1
2
3
4
5
6
8
Pola ke-1 (
)
= 5 kali Pola ke-2= 2 kali
Pola ke-3
= 5 kali Pola ke-4 = 1 kali
Pola ke-7 = 18 kali
Pola ke-8 = 5 kali
Pola ke-11 = 7 kali
Pola ke-15 = 11 kali
3.3 Analisis bentuk mufrad dari sigat muntaha al-jumu‘ serta proses perubahannya.
Ism-ism yang mengikuti pola sigat muntaha jumu‘ dalam kitab bulugu maram sebanyak 54 (lima puluh empat) ism, setiap ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ itu mempunyai bentuk mufrad yang berbeda-beda sehingga proses pembentukan sigat muntaha al-jumu‘nya juga berbeda. Penulis akan uraikan bentuk mufrad dari sigat muntaha al-jumu‘ serta proses perubahannya sesuai dengan pola yang ada secara rinci :
1. Pola
/ fa ‘alilu
Ism-ism yang mengikuti pola /fa ‘ālilu/ sebanyak 5 (lima) kata pada 4 (empat) tempat yaitu:
i. hadis ke-457
/Izā khraja masirata śalāśati amyālin aw farāsikha, şalli rak‘ataini. Rawāhu Muslimun. (bābu şalāti al-musāfiri wa al-marādi)/. “Apabila seseorang hendak berjalan sepanjang tiga mil atau farsakh, maka salatlah dua raka’at”. Riwayat Muslim (bab shalat bagi orang
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /farāsikha/ ‘beberapa farsakh’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntahal jumu’ dengan pola
/fa‘ālilu/.
Bentuk mufradnya ialah / farsakhun/ yaitu ism ruba‘i mujarrad (ismempat huruf dasar). Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘
adalah atas dasar huruf lafalnya dengan menambah alif taksir ditengah kata ism tersebut,
sesuai pola /fa‘ālilu/ maka kata /farsakhun/ menjadi
/farāsikha/
.ii. hadis ke-823
/Qultu yā rasula Allāhu inni abi ‘u al-ibla bi al-baqi’i, fa abi ‘u bi ad-danāniri wa akhza ad-darāhima, wa abi’u bi ad-darāhimi wa akhaza ad-danānira. Rawahu al -Khamsatu..(kitābu al-buyu ‘i)/. “ Saya berkata kepada Rasulullah saw. Sungguh saya
telah menjual satu ekor unta di Baqi’, saya menjual dengan harga dinar dan saya membeli dengan harga dirham, dan saya jual dengan harga dirham saya beli dengan harga dinar”. Riwayat yang lima..(kitab jual-beli:).
Dua bentuk ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /ad-darāhima/‘beberapa dirham’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu’
pada pola /fa‘ālilu/. Bentuk mufrad kedua ism tersebut ialah /ad-dirhamu/ yaitu ism ruba‘i mujarrad (ism empat huruf dasar). Adapun proses pembentukan nya
menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ atas dasar huruf lafalnya dengan menambah alif taksir
di tengah kata ism tersebut, sesuai pola /fa‘ālilu/, maka kata /ad-dirhamu/
menjadi /ad-darāhima/.
iii. hadis ke-931
pangkal-pangkal selokan dengan beberapa macam tumbuh-tumbuhan”. Riwayat Muslim. (bab
masaqah dan ijarah)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /al-jadāwili/ ‘pangkal-pangkal selokan’ merupakan bentuk sigat muntaha al-jumu‘ yang mengikuti
pola
/fa‘ālilu/
. Bentuk mufradnya ialah /jadwalun/ yaitu ism ruba‘i mujarrad (ism empat huruf dasar). Adapun proses perubahannya menjadi sigat muntaha al-jumu‘adalah dengan menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut, sesuai pola
/fa‘ālilu/ sehingga kata /jadwalun/ menjadi /al-jadāwili/.
vi. hadis ke-1254
/Anna an-nabiya şallā Allāhu ‘alahi wa sallama qata ‘a fi mijannin śamanuhu śalāśatu darāhima. Muttafaqun ‘alaihi.(bābu haddi as-sariqati)/. “Sesungguhnya nabi saw. Telah
memotong tangan (pencuri) pada perisai, yang harganya tiga dirham”. (bab had
pencurian)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata / darāhima / ‘beberapa dirham’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ dengan pola
/fa‘ālilu/
. Bentuk mufradnya ialah /dirhamun/ yaitu ism ruba‘i mujarrad (ismempat huruf dasar). Adapun proses pembentukannya menjadi sigat muntaha al-jumu‘
adalah dengan menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut, sesuai pola
/fa‘ālilu/, maka kata /dirhamun/ menjadi / darāhima /.
2. Pola / fa‘ālilu
Ism-ism yang mengikuti pola /fa‘ālilu/ sebanyak 2 (dua) pada 1 (satu)
tempat yaitu :
/Qultu yā rasula Allāhu inni abi ‘u al-ibla bi al-baqi’i, fa abi ‘u bi ad-danāniri wa akhza ad-darāhima, wa abi’u bi ad-darāhimi wa akhaza ad-danānira. Rawahu al -Khamsatu..(kitābu al-buyu ‘i)/. “ Saya berkata kepada Rasulullah saw. Sungguh saya
telah menjual satu ekor unta di Baqi’, saya jual dengan harga dinar dan saya beli dengan harga dirham, dan saya jual dengan harga dirham saya beli dengan harga dinar”. Riwayat yang lima..(kitab jual-beli).
Dua ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /ad-danānira/
‘beberapa dinar’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu’ dengan pola
/fa‘ālilu/. Bentuk mufradnya adalah /ad-dināru/ yaitu ism sulaisi mazid (ism
yang bertambah dari tiga huruf dasar) , huruf tambahannya ada dua yaitu (ya) dan
(alif). Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ adalah dengan
membuang huruf (ya) dan digantilah (alif) tambahan sebelum akhir menjadi (ya)
mati dan disesuaikan kepada pola , /fa‘ālilu/ maka kata /ad-dināru/ menjadi kata /ad-danānira/.
3. Pola / afā‘ilu
Ism-ism yang mengikuti pola /afā‘ilu/ sebanyak 5 (lima) pada 5 (lima) tempat yaitu:
i. hadis ke-44
/Asbagi al-wadū’i wa khallil baina al-asābi ‘i wa bālig fi al-istinsyāqi illā antakūna şā’iaman” akhrajahu al-arba ‘atu.(bābu al-wudū’i)/. “Sempurnakanlah wadhu dan selat-selatilah jari-jari dan masukkanlah air kedalam hidungmu (istinsyaq) kecuali kalau
engkau berpuasa. Riwayat oleh perawi yang empat” (Bab wudhu:)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata / al-asābi‘i/ ‘jari-jari’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ dengan pola
/afā‘ilu/. Bentuk mufradnya ialah /al-aşba‘un/ yaitu ism mazid (ism yang
bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya adalah hamzah pada awal kata.
menetapkan pada bentuk dasar katanya, karena tidak lebih dari empat huruf dan ditambah
alif taksir di tengah kata ism tersebut serta disesuaikan pada pola /afā‘ilu/ maka kata /al-aşba‘u/ menjadi / al-asābi‘i/.
ii. hadis ke-128
/
ś
umma yatawadda’u śumma ya’khuzu al-ma’a fa yadkhulu aşābi’ahu fi u şūli asy-sya ‘ri. Muttafaqun ‘alaihi wa al-lafzu li muslimin. (Bābu al-gasli wa hukmu al-junubi)/. “Kemudian ia berwudhu kemudian ia mengambil air lalu ia masukkan jari-jarinya kedalam rambutnya”. Muttfaqun ‘alaihi tetapi lafaz Muslim.(bab mandi dan hukum junub)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata
/aşābi’a/
‘jari-jari’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola , /afā‘ilu/. bentukmufradnya ialah /aşba‘un/ yaitu ism sulaisi mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya berupa hamzah di awal katanya. Adapun proses
perubahannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ ialah dengan menetapkan pada bentuk
dasarnya karena tidak lebih dari empat huruf dan ditambah alif taksir di tengah kata ism
tersebut, sesuai dengan pola /afā‘ilu/ maka kata /aşba‘un/ menjadi
/aşābi’a/.
iii. hadis ke-1205
/ Wa fi kulli isba’in min asābi’i al-yadi wa ar-rajuli ‘asyara min al-ibli. akhrajahu Abu Dāwudin…(bābu ad-diyāti)/. “Dan pada tiap-tiap satu jari dari jari-jari tangan dan kaki,(diyatnya) sepuluh unta”. Dikeluarkan oleh Abu Dawud..(bab diyat)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata / al-asābi‘i/ ‘jari-jari’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ dengan pola
/afā‘ilu/. Bentuk mufradnya ialah /al-aşba‘un/ yaitu ism mazid (ism yang
bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya adalah hamzah pada awal kata.
menetapkan pada bentuk dasar katanya, karena tidak lebih dari empat huruf dan ditambah
alif taksir di tengah kata ism tersebut serta disesuaikan pada pola /afā‘ilu/ maka kata /al-aşba‘u/ menjadi / al-asābi‘i/.
vi. hadis ke-1210
/ Diyatu al-‘asābi’i sawā’un, wa al-asnānu sawā’un: aś-śaniyatu wa ad-darsu saw’un…(bābu ad-diyāti)/. “Diyat pada jari-jari sama, dan gigi sama, gigi depan dan
geraham sama”. (bab diyat)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata / al-asābi‘i/ ‘jari-jari’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ dengan pola
/afā‘ilu/. Bentuk mufradnya ialah /al-aşba‘un/ yaitu ism mazid (ism yang
bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya adalah hamzah pada awal kata.
Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ ialah dengan
menetapkan pada bentuk dasar katanya, karena tidak lebih dari empat huruf dan ditambah
alif taksir di tengah kata ism tersebut serta disesuaikan pada pola /afā‘ilu/ maka kata /al-aşba‘u/ menjadi / al-asābi‘i/.
v. hadis ke-1212
/ Wazāda Ahmadu “wa al-aşābi ‘u sawā’un, kullu hunna ‘asyrun, ‘asyrun, min al -ibli.(bābu ad-diyati:1212)/. “Dan Ahmad menambahkan, dan pada jari-jari semua sama,
sepuluh, sepuluh dari unta”. (bab diyat:1212)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata / al-asābi‘i/ ‘ jari-jari’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ dengan pola
/afā‘ilu
/. Bentuk mufradnya ialah /al-aşba‘un/ yaitu ism mazid (ism yang bertambah daritiga huruf dasar) huruf tambahannya adalah hamzah pada awal kata. Adapun proses
pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ ialah dengan menetapkan pada
tengah kata ism tersebut serta disesuaikan pada pola /afā‘ilu/ maka kata
/al-aşba‘u/ menjadi / al-asābi‘i/.
4. Pola / afā ‘ilu
Ism-ism mengikut i pola
/afā‘ilu/ sebanyak1 (satu) pada 1 (satu) tempat
yaitu:
i. hadis ke-1446
/ Zāta yaumin masruran tabruqu asārira wajhihi, faqāla a lam tarā ilā mujazzizi al -mudlijiyyi. Muttafaqun ‘alaihi.(bābu ad-da’awi wa al-bayanati)/. “Suatu hari nabi saw
mendatangi (Aisyah) dengan gembira, dan mukanya berseri-seri, lalu bersabda: tidakkah
engakau melihat mujazziz al-mudliji?”. (bab dakwah dan bukti)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /asārira/ ‘berseri-seri’ merupakan bentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola
/afā‘ilu/. Bentuk mufradnya ialah /asrārun/ yaitu ism sulaisi mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf pertama berupa huruf hamzah sebagai huruf tambahan dan terdapat
huruf mad sebelum akhir. Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha
al-jumu‘ ialah dengan menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut dan mengganti huruf mad alif (tambahan) menjadi huruf mad ya sesuai dengan pola /afā‘ilu/ maka kata
/asrārun/ menjadi
/asārira/.
5. Pola / tafā ‘ilu
Ism-ism yang mengikuti pola
/tafā‘ilu
/ tidak ada dalam kitab bulugu al-maram.6. Pola / tafā ‘ilu
7. Pola / mafā ‘ilu
Ism-ism yang mengikuti pola /mafā‘ilu/ sebanyak 18 (delapan belas)
bentuk pada 15 (lima belas) tempat, yaitu:
i. hadis ke-98
/ Wazāda abū dāwudin ‘an mu’āż radiya Allāhu ‘anhu wa al-mawāridu wa lafzuhu: ittaqū al-malā ‘ina aś-śalāśah al-barāza fī al-mawārida wa qāri ‘ata aţ -ţarīqi wa al -zulli.(Bābu qadā’u al-hājati)/. “Dan Abu Dawud menambah dari(riwayat) Mu’adz (dan
tempat-tempat air) dan lafaz hadisnya ialah: jauhilah tempat-tempat penyebab tiga laknat, buang air besar di tempat-tempat air, di jalan raya dan di pernaungan” (buang air besar)
Ketiga ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /al-mawāridu/’tempat-tempat air’ /al-malā ‘in/’terlaknat’ /al-mawārida/
‘tempat-tempat air’ merupakan bentuk sigat muntaha al-jumu’ pada pola
/mafā‘ilu/, dari ketiga ism tersebut terdapat dua bentuk kata ism yang sama yaitu /
al-mawāridu/. Bentuk mufradnya ialah /al-mauridu/ yaitu ism sulaisu mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya ialah huruf mim di awal kata.
Adapun proses pembentukan sigat muntaha al-jumu‘nya ialah dengan menambah alif
taksir di tengah kata ism tersebut sesuai dengan pola /mafā‘ilu/ maka kata
/al-mauridu/ menjadi /al-mawārida/. Dan kata /al-malā ‘in/ juga merupakan bentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola /mafā‘ilu/. Adapun bentuk mufradnya ialah /al-mal‘anu/ yaitu ism sulaisi mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya berupa mim di awal katanya. Adapun proses
pembentukan ism yang empat huruf dasarnya kepada bentuk sigat muntaha al-jumu‘
ialah dengan menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut sesuai dengan pola
/mafā‘ilu/ maka kata /al-mal‘anu/ menjadi /al-malā ‘in/.
/ Kunnā nuşalli al -magriba ma ‘a rasūli Allahi sallā Allahu ‘alaihi wa sallama fa yanşarifu ahadunā wa innahu layubşiru mawāqi ‘a nablihi. Muttafaqun ‘alaihi (bābu mawāqita)/. “Kami shalat magrib dengan Rasulullah saw.lalu seseorang diantara kami pulang dalam keadaan bisa melihat tempat-tempat jatuh anak panahnya”. Muttafaqun
‘alaihi (bab tempat-tempat)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /mawāqi‘i/’ tempat-tempat’ merupakan bentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola /mafā‘ilu/. Bentuk mufradnya ialah /mauqi‘un/ yaitu ism sulaisi mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya ialah huruf mim pada awal katanya. Adapun proses
pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ ialah dengan menambah alif taksir di
tengah kata ism tersebut sesuai dengan pola
/mafā‘ilu/ maka kata /mauqi‘un/ menjadi /mawāqi‘i/.
iii. hadis ke-230
/ Nahā an-yuşalliya fi sab ‘i mawāţina: al -mazbalati wa al-majzaroti wa al-maqbarati wa qari ‘ati aţ-ţariqi wa al-hammāmi wa ma ‘aţini al -ibli wa fauqa zahri baiti Allah ta’ala. Rawahu at-tarmizi (bābu syuruti aş -şalāti)/.”Nabi saw. Melarang (seseorang) shalat ditujuh tempat yaitu tempat sampah, penjagalan, kuburan, di tengah jalan, di kamar mandi, tempat pertambatan unta dan di atas baitullah ta’ala”. wayatkan oleh Tarmizi (bab syarat-syarat shalat)
Kedua bentuk ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata
,/mawātina/ ‘
tempat-tempat’ dan/ma‘ātini/
‘pertambatan unta’ merupakanism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola /mafā‘ilu/. Bentuk
mufradnya ialah /ma‘tinun/ dan /mautinun/, kedua ism tersebut adalah ism
ism tersebut sesuai dengan pola /mafā‘ilu/ maka kata /mautinun/ menjadi
/mawātina/
dan /ma‘tinun/menjadi /ma‘ātini/.iv. hadis ke-262
/ Amara rasūlu Allahi şallā Allahu ‘alaihi wa sallama bibina’i al-masājidi fi ad-dauri wa an tunazzafa wa tutayyaba. Rawahu Ahmadu. (babu al-masājidi)/. “Rasulullah saw.
Memerintahkan untuk mendirikan mesjid-mesjid di kampung-kampung, dan hendaklah dibersihkan dan diberi wewangian”. Riwayat Ahmad .(bab mesjid-mesjid)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /al-masājidi/
‘beberapa mesjid’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola
/mafā‘ilu/
. Bentuk mufradnya ialah /al-masjidu/ yaitu ism sulaisi mazid (ismyang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya berupa mim pada awal
katanya. Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ dengan
menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut sesuai dengan pola /mafā‘ilu/
maka kata /al-masjidu/ menjadi /al-masājidi/.
v. hadis ke-263
/ Qaţala Allāhu al-yahūda it-takhazu qubūra anbiya’ihim masājida. Muttafaqun ‘alaihi wa zāda muslimun wa an-naşāra. (bābu al-masājida)/. “Allah telah mambinasakan kaum Yahudi yang telah menjadikan kuburan nabi mereka menjadi mesjid-mesjid. Muttafaqun
‘alaihi dan muslim menambah, juga Nasrani” (bab mesjid-mesjid)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /masājida/
‘beberapa mesjid’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola /mafā‘ilu/. Bentuk mufradnya ialah /masjidun/ yaitu ism sulaisi mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya berupa mim pada awal
katanya. Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ dengan
menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut sesuai dengan pola /mafā‘ilu/
vi. hadis ke-269
/ Lā tuqāmu al-hudūda fi al-masājidi wa lā yustaqādu fihā. Rawahu Ahmadu wa abu dawudi bisanadin da ‘ifin.(bābu al-masājidi)/. “Janganlah tegakkan hukum-hukum had dalam mesjid-mesjid dan tidak ada hukum (tuntut) bela padanya”. Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang lemah. (bab mesjid-mesjid)
Ism yang bergaris bawah pada hadist di atas adalah kata /al-masājidi/
‘beberapa mesjid’ merupakan ism yang berbentuk sigat muntaha al-jumu‘ pada pola
/mafā‘ilu/
. Bentuk mufradnya ialah /al-masjidu/ yaitu ism sulaisi mazid (ism yang bertambah dari tiga huruf dasar) huruf tambahannya berupa mim pada awalkatanya. Adapun proses pembentukannya menjadi bentuk muntaha al-jumu‘ dengan
menambah alif taksir di tengah kata ism tersebut sesuai dengan pola /mafā‘ilu/
maka kata /al-masjidu/ menjadi /al-masājidi/.
vii. hadis ke-275
/ Mā umirt