MODIFIKASI BUBU LIPAT UNTUK PEMANFAATAN
LOBSTER
EDY MISWAR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ii
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Modifikasi Bubu Lipat untuk Pemanfaatan Lobster adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya dan yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2015
iii
© Hak Cipta Milik IPB Tahun 2015 Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik dan tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.
iv
MODIFIKASI BUBU LIPAT UNTUK PEMANFAATAN
LOBSTER
EDY MISWAR
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
v
vii
PRAKATA
Penulis mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas karunia-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini menjelaskan tentang modifikasi bubu lipat untuk pemanfaatan lobster. Isinya merupakan rangkuman hasil penelitian yang dilaksanakan sejak November 2014 sampai Maret 2015 yang dilakukan di laboratorium.
Dalam proses penelitian hingga penyelesaian tesis ini, penulis telah mendapatkan arahan dan bimbingan dari para pembimbing serta bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menghaturkan banyak terimakasih kepada:
1. Dr. Roza Yusfiandayani,S.Pi.sebagai Ketua Komisi Pembimbing.
2. Dr. Ir. Zulkarnain, M.Si. dan Dr. Ir. Gondo Puspito, M.Sc. sebagai Anggota Komisi Pembimbing.
3. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Republik Indonesia. 4. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
5. Rektor Institut Pertanian Bogor.
6. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor beserta para dosen dan staf administrasi.
7. Rektor Universitas Syiah Kuala Aceh.
8. Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala Aceh dan staf administrasi.
9. Ketua Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap beserta staf.
10. Ayah A. Rachman. AR (Alm), Ibu Khadijah Hasan, Adik (Ety Rahmawati, Eny Rahmawati, Muhammad Ikram dan Putri Murhamah).
11. Istriku Maulinda dan ketiga anakku (Ukhtiya Nur Walimah, Imtiyaz Akifah dan Muhammad Oemar Syarief).
12. Pak Ismawan, Mas Didin Komarudin, Pak Ucha, Supriono, Mose, Pak Chalil, Yopi Ilhamsyah, Ratu Sari Mardiah, Fauzan IM, Muthmainnah, David JCH, Nanda, Irfannur, Rizal, Riyan, dan teman-teman seperjuangan mayor TPT dan SPT 2011 yang selalu memberi motivasi dan do a yang tulus selama penulis menimba ilmu di Program Pascasrjana IPB.
13. Sahabat dan sanak saudara serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian dan penyelesaian tulisan ini yang belum disebutkan satu persatu.
Penulis sangat mengharapkan masukan dan kritik yang membangun dari pembaca untuk perbaikan tulisan ini. Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca khususnya dan dunia perikanan umumnya.
Bogor, Agustus 2015
viii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lhokseumawe pada hari kamis tanggal 16 Agustus 1979 dari Bapak A. Arachman. AR dan Ibu Khadijah Hasan. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara.
Penulis lulus dari SMU Negeri 2 Lhokseumawe, Lhokseumawe pada tahun 1998 dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Syiah Kuala Banda Aceh melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Penulis memilih Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan lulus pada tahun 2003.
Pada tahun 2011 penulis memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana pada Mayor Teknologi Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, IPB.
ix RINGKASAN
EDY MISWAR. Modifikasi Bubu Lipat untuk Pemanfaatan Lobster. Dibimbing olehROZA YUSFIANDAYANI,ZULKARNAINdan GONDO PUSPITO.
Udang karang atau lobster merupakan komoditi laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bubu merupakan jenis alat tangkap yang bersifat pasif. Nelayan tradisional banyak menggunakan bubu lipat ini untuk menangkap kepiting bakau dan rajungan, sedangkan untuk menangkap lobster bubu lipat ini masih jarang digunakan. Keuntungan dari penggunaan bubu adalah cara pembuatan dan pengoperasiannya mudah, dapat dioperasikan di tempat dimana alat tangkap lain tidak dapat dioperasikan, hasil tangkapan masih dalam keadaan hidup dan biaya operasinya lebih murah. Kelemahannya yaitu jumlah tangkapannya relatif sedikit dan terdapat beberapa kelemahan pada konstruksinya.Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan konstruksi bubu lipat yang memberikan jumlah tangkapan lobster terbanyak dan membuktikan bahwa tutupan dapat meningkatkan jumlah tangkapan lobster. Penelitian dilakukan di laboratorium menggunakan metode deskriptif komparatif dan eksperimental pada bulan November 2014-Maret 2015.
Satu bubu lipat nelayan atau bubu lipat standar (BLS) dan dua konstruksi bubu yang dimodifikasi dibandingkan. Bubu modifikasi terdiri atas bubu lipat modifikasi 1 (BM-1) dan bubu lipat modifikasi 2 (BM-2). Ketiga bubu berbentuk balok dengan dimensi 50 × 33 × 18 (p × l × t) (cm). Celah masuk BS berbentuk
celah sempit, sedangkan BM-1 dan BM-2 adalah 4 persegi panjang dengan ukuran 33 × 6 (p × t) (cm) yang dilengkapi dengan deretan jeruji besi. Dalam penelitian ini, ketiga bubu dan 20 lobster dimasukkan ke dalam tangki air. Bubu diangkat setelah direndam selama 30 menit. Aktivitas lobster diamati dan jumlah lobster yang terperangkap dihitung. Ujicoba penangkapan lobster dilakukan sebanyak 20 ulangan.
Hasil ujicoba perangkap dengan menggunakan tiga model bubu yang berbeda adalah BM-2 menangkap 470 individu, atau lebih banyak dibandingkan dengan BM-1 (221 individu), dan BLS (109 individu). Hasil perhitungan dengan uji statistik ternyata juga membuktikan bahwa jumlah tangkapan setiap perangkap berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilaiFhit=284,172 >Ftab=3,07. Hasil ujicoba penggunaan tutupan berwarna merah menunjukkan bahwa bubu lipat dengan tutupan (BLT) memperoleh hasil tangkapan sebanyak 227 individu, atau lebih banyak dibandingkan dengan bubu lipat tanpa tutupan (BLTT) (123 individu). Hasil uji statistik juga membuktikan bahwa jumlah tangkapan setiap perangkap berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai Fhit=50,982 >
Ftab=3,96. .
x
SUMMARY
EDY MISWAR. Collapsible Traps Modification for Utilization Lobster.
Supervised by ROZA YUSFIANDAYANI, ZULKARNAIN and GONDO
PUSPITO.
Crayfish or lobster is sea commodities that has high economic value. Bubu is a passive fishing gear. Traditional fishermen use this folding trap to catch mangrove crabs and crabs, while the lobster traps are to capture lobster but are still rarely used. The advantages of the use of traps are easy to build and easy to operate, can be operated in places where other fishing gears cannot be operated, the catch is still alive and operation costs are cheaper. The disadvantage is the amount of catch relatively few and there are some weaknesses of its construction. The purpose of this study is to get traps cathing most lobster and to prove that cover can be able to increase lobster cought. The study was conducted in the laboratory using comparative descriptive and experimental methods, detail periode of November 2014-March 2015.
One folding fishing traps or standard folding traps (BLS) and 2 constructed are traps are modified compared. Traps modification consists of modified 1 folding traps (BM-1) and modified 2 folding traps (BM-2). Third traps of beam shaped with dimensions 50×33×18 (cm). BLS entrance slit-shaped narrow slit, while the BM-1 and BM-2 are rectangle with size of 4 m2with dimension of 33×6 (cm) equipped with a row bars. In this study, three traps and 20 lobsters were put in to a water tank. Bubu removed after 30 minutes. Lobster activity is observed and the number of lobsters caught is counted. Catching lobsters tests were replicated as many as 20 replications.
The results of trap tests by using three different models of traps are showed that the BM-2 capture 470 individuals, or more than the BM-1 (221 individuals), and BS (109 individuals).The results of calculations with the statistical test proved that the amount of each trap catches were significantly different at the level of 95% with a value of Fhit= 284.172> Ftab= 3.07. The results showed that the use of
red-colored cover for covered-folding traps (BLT) obtaining the catch as many as 227 individuals, or more than the non covered-folding traps (BLTT) (123 individuals). Statistical test results also show that the number of catch for each traps was significantly different at the level of 95% with a value of Fhit= 50.982>
Ftab= 3.96.
xi
2 MODIFIKASI KONSTRUKSI LINTASAN DAN CELAH MASUK
TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER 5
PENDAHULUAN 5
METODOLOGI 6
Tempat dan Waktu Penelitian 6
Alat dan Bahan Penelitian 6
Metode Penelitian 7
Penentuan konstruksi lintasan masuk 8
Uji coba bubu lipat 10
Analisis Data 11
HASIL DAN PEMBAHASAN 13
Hasil 13
Pembahasan 14
Ukuran lobster 14
Konstruksi Pintu Masuk Bubu 15
Respon lobster terhadap bubu standar dan modifikasi 15
Kesimpulan 17
3 PENGARUH WARNA TUTUPAN TERHADAP RESPON LOBSTER 18
PENDAHULUAN 18
Metodologi 19
Tempat dan Waktu Penelitian 19
Alat dan Bahan Penelitian 19
Metode Penelitian 19
Pengaruh Tutupan terhadap jumlah tangkapan bubu 25
Kesimpulan 26
4 PEMBAHASAN UMUM 27
5 KESIMPULAN DAN SARAN 28
Kesimpulan 28
Saran 28
DAFTAR PUSTAKA 29
xii DAFTAR TABEL
Tabel 1. Analisis Data 11
Tabel 2. Perlakuan dan ulangan 12
Tabel 3. Sidik ragam/tabel ANOVA 13
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Penelitian 4
2. Bubu lipat standar nelayan (BLS) 7
3. Konstruksi bubu modifikasi 1/ BM-1 (a) dan bubu modifikasi 2 / BM-2 (b) 7
4. Diagram alir metode penelitian 8
5. Model lintasan (a) dan ilustrasi posisi pemasangannya di dalam 9 6. Ilustrasi ujicoba kemiringan sudut lintasan masuk perangkap. 10 7. Ilustrasi posisi bubu di dalam tangki silinder pada ujicoba tiga bubu 11 8. Hubungan antara panjang dan tebal karapas lobster 14 9. Jumlah tangkapan bubu berdasarkan konstruksi pintu masuk. 16
10. Diagram alir metode penelitian 19
11. Konstruksi balok penutup berwarna (a) dan posisi peletakannya di 20 12. Tabel kombinasi warna shelter (a) dan matrik pasangan kombinasi 21 13. Ilustrasi posisi bubu di dalam tangki silinder pada ujicoba posisi bubu 22 14. Jumlah lobster yang mendatangi tutupan berwarna. 22
15. Panjang gelombang elektromagnetik 24
16. Komposisi jumlah tangkapan lobster yang didapat oleh bubu lipat 25
17. Proses modifikasi lintasan masuk 33
18. Shelter yang digunakan pada penelitian 33
19. Posisi peletakan bubu pada ujicoba bubu standar (BS), Bubu modifikasi 1
(BM-1) dan bubu modifikasi 2 (BM-2) 33
20. Posisi peletakan bubu pada ujicoba bubu lipat tutupan (BLT) dan bubu lipat
tanpa tutupan (BLT) 33
21. Trigger yang digunakan pada celah masuh bubu 34 22. Celah masuk bubu yang telah di pasang trigger 34 23. Proses pemindahan lobster ke dalam wadah penampungan 34 24. Lobster yang akan digunakan pada penelitian 34
25. Lobster dalam wadah penampungan akuarium 35
DAFTAR LAMPIRAN
1. Hasil uji ANOVA 32
xiii DAFTAR ISTILAH
Bubu : Alat penangkap berupa jebakan
Modifikasi : Perubahan yang dilakukan untuk tujuan
penyempurnaan
Karapas : Bagian keras yang menutupi punggung dan bagian
bawah (plastron) tubuh suatu individu hewan (biasanya pada kepiting, lobster dan kura-kura)
Konstruksi : Susunan-susunan yang saling terhubung sehingga
menjadi suatu kesatuan
Ukuran mata jaring : Ukuran panjang dua kali kaki jaring
Model : Rencana, representasi, atau deskripsi yang
menjelaskan suatu objek, sistem, atau konsep, yang seringkali berupa penyederhanaan atau idealisasi
Desain : Pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu
benda
Kamera CCTV : Sebuah kamera video digital yang difungsikan untuk
memantau dan mengirimkan sinyal video pada suatu ruang yang kemudian sinyal itu akan diteruskan ke sebuah layar monitor
Efektif : Berhasil sesuai dengan tujuan
(
1 PENDAHULUAN
Udang karang atau lobster merupakan komoditi laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Statistik perikanan tahun 2012 menyatakan bahwa produksi hasil tangkapan lobster sebesar 13.549 ton. Produksi tertinggi (3.385 ton) terdapat di WPP-RI 713, diikuti WPP-RI 711 (3.057 ton) dan WPP-RI 718 (2.155 ton). Data statistik ekspor perikanan juga menyatakan bahwa hasil ekspor lobster pada tahun 2012 sebesar 5.309 ton, tahun 2013 turun sebesar 3,8% menjadi 5.104 ton. Tahun 2012 jumlah volume ekspor tertinggi (98,2%) ditujukan ke negara Asia (terutama Tiongkok, diikuti Jepang dan Taiwan), Eropa dan Australia (Sumiono 2015).
Provinsi Aceh khususnya, memiliki potensi sumberdaya lobster yang masih sangat baik. Kegiatan penangkapan lobster di Aceh masih sangat sederhana dengan menggunakan gillnet, trammel net dan kemampuan menyelam. Penggunaan bius dan racun dengan potasium juga masih digunakan oleh nelayan di beberapa tempat untuk menangkap lobster, dengan menyemprot atau menyuntikkan pada sela-sela rongga karang. Nelayan di Aceh belum menggunakan bubu untuk melakukan penangkapan lobster.
Masithoh et al. (2014) mengemukakan bahwa lobster (Panulirus spp.)
merupakan salah satu komoditas perairan karang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, yang produksinya masih dihasilkan dari penangkapan (Kusuma 2012). Lobster dikenal dengan rasanya yang lezat, sehingga lobster hanya disajikan di restoran-restoran besar dan hotel berbintang dan biasanya hanya dikonsumsi oleh kalangan ekonomi atas (Badan Besar Pengembangan Penangkapan ikan 2006 dalam Kusuma 2012). Lobster yang memiliki nilai ekonomi tinggi ada enam jenis yang tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia.
Terdapat enam spesies lobster endemik kepulauan Indonesia Panulirus homarus (lobster pasir), Panulirus longipes (lobster bintik/batik), Panulirus ornatus (lobster mutiara/maradona), Panulirus penicillatus (lobster batu), Panulirus polyphagus (lobster pakistan) danPanulirus versicolor (lobster bambu)
yang di identifikasi secara random (Agustus 2007 September 2008) disekitar lokasi pendaratan ikan di Lhok Kruet Aceh Jaya Provinsi Aceh, dari keenam spesies ini yang memiliki harga ekonomi paling tinggi adalah lobster mutiara/maradona (Panulirus ornatus) (Tewfik et al. 2009). Pemanfaatan hasil tangkapannya dilakukan dengan cara penangkapan di alam.
Penangkapannya menggunakan berbagai jenis alat tangkap sederhana, seperti pancing, tombak dan bubu. Akan tetapi, pada saat ini pancing dan tombak sudah sangat jarang digunakan karena merusak hasil tangkapan organisme tersebut, sementara bubu masih banyak dioperasikan oleh nelayan. Hal ini dikarenakan kualitas lobster tangkapan bubu lebih baik dibaik dibandingkan alat tangkap yang lain seperti masih dalam keadaan hidup dengan anggota tubuh yang lengkap, sehingga nilai jualnya sangat tinggi di pasaran (Ritonga 2006).
2
Tallo (2015) menyatakan kemudahan pengoperasian bubu lipat menyebabkan jenis bubu ini telah banyak tersebar di beberapa wilayah Indonesia dengan organisme target penangkapan adalah kepiting. Bubu lipat telah digunakan di perairan Kalimantan untuk menangkap kepiting bakau (Tiku 2004) dan perairan Povinsi Jawa Barat serta Jawa Tengah untuk menangkap rajungan dan kepiting bakau (Iskandar 2009). Ketiga jenis bubu tersebut bubu lipat bentuk balok relatif lebih banyak digunakan oleh nelayan untuk menangkap kepiting.
Keuntungan dari penggunaan bubu adalah cara pembuatan dan pengoperasiannya mudah, dapat dioperasikan di tempat dimana alat tangkap lain tidak dapat dioperasikan, hasil tangkapan masih dalam keadaan hidup dan biaya operasinya lebih murah. Kelemahannya yaitu jumlah tangkapannya relatif sedikit (Permatasari 2006). Salah satu jenis bubu yang sangat populer digunakan oleh nelayan untuk menangkap lobster adalah bubu lipat. Jenis bubu ini sebenarnya sudah lama dioperasikan oleh nelayan Jepang untuk menangkap kepiting laut Le Vay (2001). Nelayan Thailand menggunakan bubu lipat untuk memerangkap rajungan Jirapunpipat et al. (2008). Bubu ini dapat dilipat sehingga mudah disusun dan dibawa dalam jumlah yang sangat banyak pada tempat yang terbatas di atas perahu Puspito (2009). Walaupun demikian, bubu ini masih memiliki kelemahan. Puspito (2009), bubu ini cenderung menangkap organisme target berukuran belum layak tangkap. Hal ini dikarenakan oleh konstruksinya yang sulit dimasuki organisme dewasa.
Informasi tentang hasil kajian bubu lipat untuk menangkap belum banyak tersedia. Padahal informasi tersebut dapat membantu untuk memberikan solusi bagi peningkatan efektifitas dan efisiensi penangkapan lobster dengan menggunakan bubu lipat balok. Oleh karena itu penelitian ini perlu mengkaji modifikasi konstruksi bubu lipat dalam upaya peningkatan efektivitas dan efisiensi penangkapan lobster dengan bubu lipat yang ramah lingkungan.
Perumusan Masalah
Mengacu pada potensi kelautan pesisir Indonesia dan minimnya teknologi, maka diperlukan alat tangkap yang memadai dalam melakukan penangkapan udang karang (lobster) sehingga penelitian ini menganalisis desain dan konstruksi bubu untuk dilakukan perbaikan agar dapat diperoleh hasil tangkapan yang cukup baik dan ramah lingkungan.
Bubu yang digunakan untuk menangkap lobster antara lain berbentuk empat persegi panjang, silinder, gendang, limas terpancung, dan kubah. Bahan utama pembentuknya dapat terbuat dari bambu, besi, jaring, kawat, dan plastik. Adapun di Indonesia, yang umum digunakan adalah yang berbentuk empat persegi panjang, dengan bahan utama pembentuknya terbuat dari bambu Budihardjo (1981).
3 Salah satu bagian bubu lipat yang penting adalah bagian mulut masuk (entrance). Bagian ini berfungsi sebagai pintu masuk dan jebakan bagi setiap
organisme yang melewatinya. Miller (1990) mengatakan bahwa mulut masuk bubu memiliki peran penting pada konstruksi bubu. Berdasarkan pengamatan terhadap konstruksi bubu lipat, bagian mulut masuk tidak berfungsi sendirian. Bagian lain juga berperan sehingga lobster bisa melewati bagian mulut masuk. Bagian yang dimaksud adalah lintasan masuk (funnel).
Lintasan masuk berada di bagian depan dari mulut masuk dan merupakan jalan masuk ke dalam bubu. Tanpa bagian ini lobster tidak akan sampai ke bagian mulut masuk atau ke dalam ruangan bubu. Kemudahan lobster menemukan dan melewatinya merupakan tahapan penting bagi keberhasilan penangkapan lobster.
Penelitian mengenai modifikasi bubu lipat perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penangkapan lobster dengan perangkap. Bagian-bagian yang harus diperbaiki diantaranya adalah : ukuran mata jaring lintasan masuk mulut bubu; sudut kemiringan lintasan masuk bubu; ukuran bukaan mulut, bentuk mulut dan penggunaan trigger pada bubu dan penentuan warna tutupan pada bubu yang disukai lobster (Gambar 1).
Tujuan Penelitian
lipat.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah memperbaiki desain umum bubu
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Menentukan ukuran mata jaring (mesh size) pada lintasan masuk bubu untuk
menangkap lobster.
2. Menentukan sudut kemiringan pada lintasan masuk bubu yang tepat untuk menangkap lobster.
3. Menentukan bentuk mulut yang tepat pada bubu baik ukuran, bentuk dan penggunaantrigger pada pintu masuk bubu.
4. Menentukan warna tutupan sebagaishelter yang disukai oleh lobster.
5. Ujicoba hasil tangkapan bubu standar dan bubu modifikasi serta bubu yang menggunakan tutupan dan bubu modifikasi tanpa tutupan.
Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan tentang alat tangkap bubu dan memberikan informasi teknologi penangkapan lobster yang efisien.
2. Sebagai rekomendasi bagi nelayan agar dapat menggunakan bubu yang efektif dan efisien untuk menangkap lobster.
4
Perikanan perangkap lobster
Perangkap merupakan
introduksi dari luar negeri Konstruksi perangkap belumsesuai Hasil tangkapan belumoptimal
PERMASALAHAN
Populasi lobster Kegiatan penangkapan lobster
IN PUT
Diperlukan penelitian konstruksi perangkap yang sesuai dengan tingkah laku lobster
Penelitian konstruksi perangkap dan desain
Ukuran mata jaring pada lintasan masuk perangkap
Sudut kemiringan lintasan masuk perangkap
Bukaan dan bentuk mulut perangkap
Penggunaan trigger pada mulut perangkap
Warnashelteryang disukai lobster
PROSES
Konstruksi perangkap yang sesuai untuk menangkap lobster
OUT PUT
Efektivitas bubu untuk menangkap lobster
TUJUAN
5
2 MODIFIKASI KONSTRUKSI LINTASAN DAN CELAH
MASUK TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER
PENDAHULUAN
Lobster adalah hasil laut yang bernilai ekonomis tinggi dalam perdagangan produk perikanan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Fridman (1988) mengatakan bahwa strategi yang diperlukan untuk menangani masalah teknis yang muncul dalam aktivitas nelayan suatu alat tangkap diantaranya adalah menentukan parameter suatu alat tangkap dengan memperhitungkan kondisi lokasi penangkapan serta menyempurnakan konstruksi alat tangkap yang ada sesuai dengan kondisi daerah penangkapan ikan.
Harga lobster umumnya sangat tinggi yang ditentukan oleh jenis dan ukuran lobster tersebut. Zulkarnain et al. (2011) mengatakan lobster akan memiliki nilai ekonomis lebih tinggi apabila diekspor dalam kondisi hidup dan mutu yang baik, anggota tubuh yang masih lengkap, serta tanpa ada bagian yang rusak atau terluka.
Lesmana (2006) menginformasikan unit penangkapan ikan yang dikembangkan di Indonesia untuk menangkap lobster diantaranya adalah jaring insang karang (coral reef gillnet), jaring insang dasar (buttom gillnet), bubu
(lobster pot), jaring hampar (spread out net), tombak (spear), pancing (special hook and line for spiny lobster), pesambet (cover net) dan unit penangkapan hasil
modifikasigillnetseperti krendet.
Bubu adalah alat tangkap yang dipasang secara pasif dan memiliki ciri khusus pada mulutnya yaitu memudahkan ikan untuk masuk namun membuat ikan sukar keluar. Menurut Brandt (2005), bubu digolongkan ke dalam kelompok perangkap (trap). Subani dan Barus (1989) mendefinisikan perangkap adalah
semua alat penangkap yang berupa jebakan atau penghadang ikan.
Menurut Baskoro (2006), perangkap adalah salah satu alat penangkap yang bersifat statis yang umumnya berbentuk kurungan, berupa jebakan dimana ikan akan mudah masuk tanpa adanya paksaan dan sulit untuk keluar atau lolos karena dihalangi dengan berbagai cara. Keefektifan alat perangkap ini tergantung dari pola migrasi ikan dan tingkah laku renang ikan.
Slack-Smith (2001) membuat terminologi mengenai bubu yang sedikit berbeda dibanding Brandt (2005). Slack-Smith (2001) membedakan terminologi antara perangkap (trap) dengan bubu (pot). Perangkap merupakan alat tangkap
yang bersifat pasif dan menetap, yang memudahkan ikan untuk masuk dan sulit untuk keluar. Pada beberapa konstruksi perangkap, terdapat bagian yang berfungsi mengarahkan ikan agar masuk ke dalam perangkap. Perangkap bersifat menetap sehingga tidak dapat dipindah-pindahkan karena konstruksi dan ukurannya yang besar. Beberapa macam perangkap diantaranya adalah sero, barrier atau penghadang yang terbuat dari tumpukan batu, fyke, dan lain-lain. Adapun bubu
berbentuk lebih sederhana dan ukurannya lebih kecil, sehingga mudah untuk dipindah-pindahkan. Namun prinsip kerjanya sama dengan perangkap, yaitu memudahkan ikan untuk masuk dan sukar untuk keluar.
6
bubu berbentuk drum yang berasal dari Jerman. Tipe bubu di Indonesia diantaranya adalah bubu paralon, bubu gurita, bubu lobster, bubu pakaja, dan bubu kakap merah.
Bubu bersifat pasif menunggu ikan atau hewan laut lainnya masuk ke dalam perangkap dan mencegah ikan atau hewan laut lainnya keluar dari perangkap.Pemasangannya didasarkan atas pengetahuan tentang lintasan-lintasan yang merupakan daerah ruaya ikan ataupun yang berhubungan erat dengan ruaya ikan ke arah pantai pada waktu-waktu tertentu Gunarso (1985). Subani dan Barus (1989) membagi bubu ke dalam tiga golongan, yaitu bubu dasar (ground fishpot),
bubu apung (floating fishpot), dan bubu hanyut (drifting fishpot).
Bubu lipat balok merupakan alat tangkap yang banyak digunakan dalam penangkapan kepiting kerena mudah dioperasikan dan cukup efektif menangkap kepiting. Alat ini mudah dioperasikan oleh nelayan karena tidak membutuhkan keahlian khusus. Bubu lipat balok digunakan oleh nelayan apa adanya untuk menangkap kepiting. Para nelayan hanyan menggunakan alat ini sesuai dengan kebiasaan dan pengalaman sehingga banyak masalah yang terjadi pada alat tersebut.
Purbayanto et al.(2010) menginformasikan bahwa pengetahuan tingkah laku ikan termasuk tingkah laku lobster merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan teknologi penangkapan karena merupakan dasar penentuan aspek teknologi alat yang akan dikembangkan.
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menentukan ukuran mata jaring (mesh size) pada lintasan masuk bubu.
2. Menentukan sudut kemiringan pada lintasan masuk bubu.
3. Menentukan bentuk mulut yang tepat pada bubu baik ukuran, bentuk dan penggunaantriggerpada pintu masuk bubu.
METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian skala laboratorium yang dilaksanakan antara bulan November 2014 Maret 2015. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Teknologi Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa alat dan bahan. Beberapa alat utama dalam penelitian ini terdiri atas alat ukur kualitas, wadah aklimatisasi lobster, wadah penampungan dan wadah percobaan, alat pertukangan (martil, tang, gergaji besi, pelipat kawat), frame lintasan masuk, busur derajat, mistar, jangka sorong, assesoris aquarium, kamera CCTV, kawat galvanis, waring, bubu standar dan bubu modifikasi. Bahan penelitian berupa lobster jenis pasir (Panulirus Homarus), umpan lobster (ikan kembung yang di potong dadu kecil-kecil dengan
7 penelitian, yaitu bubu lipat standar yang digunakan nelayan (BLS) yang dapat dilihat pada Gambar 2, bubu lipat modifikasi 1 (BM-1) dengan sudut kemiringan lintasan 45o yang dapat dilihat pada Gambar 3(a), dan bubu lipat modifikasi 2 (BM-2) dengan sudut lintasan 45oserta lintasan masuk dengan ukuran mata jaring 0,25 inci (waring) yang dapat dilihat pada Gambar 3(b).
Gambar 2. Bubu lipat standar nelayan (BLS)
(a) (b)
Gambar 3. Konstruksi bubu modifikasi 1/ BM-1 (a) dan bubu modifikasi 2 / BM-2 (b)
Metode Penelitian
8
Ukuran mata jaring 1,25 dan 0,25 inchi
Sudut kemiringan = 30o, 45odan 60o
Bentuk celah masuk
Penggunaan trigger pada celah masuk
Respon lobster terhadap bubu lipat standard (BLS) dan bubu
lipat modifikasi 1 (BM-1)
Gambar 4. Diagram alir metode penelitian
Media penelitian berupa 2 akuarium berbentuk balok berukuran 5015040 (plt) (cm) dan tabung silinder 150750 (Øt) (cm). Masing-masing
akuarium berisi air laut sebanyak 150 l dan 300 l dengan salinitas 25-30 ppt. Jumlah lobster yang digunakan sebanyak 80 individu berukuran panjang total antara 7,3-10,85 cm dan tebal karapas antara 1,6-2,6 cm.
Penentuan konstruksi lintasan masuk
Uji lintasan masuk bubu dibuat dalam bentuk sebuah lintasan tiruan sesuai dengan ukuran dan sudut kemiringan lintasan masuk bubu. Jaring yang biasa digunakan membuat bubu dengan beberapa ukuran mata jaring dipasang pada bidang tiruan lintasan masuk. Ukuran mata dan sudut kemiringan bidang lintasan masuk yang lebih mudah dilalui oleh lobster dipilih sebagai ukuran mata jaring dan sudut kemiringan yang mudah dirayapi oleh lobster.
Pengujian lintasan masuk dilakukan dalam dua tahapan yaitu pengujian ukuran mata jaring pada bagian lintasan masuk dan pengujian sudut kemiringan lintasan. Pengujian ukuran mata jaring dimaksudkan untuk mendapatkan ukuran mata jaring yang mudah dilalui oleh lobster, sedangkan pengujian lintasan masuk bubu dimaksudkan untuk mengetahui sudut kemiringan lintasan masuk yang mudah dilalui oleh lobster.
9 Penelitian dimulai dengan meletakkan 1 model lintasan di dasar akuarium. Sudut kemiringan model lintasan ditetapkan 45o (Gambar 5(b)). Selanjutnya, 1 individu lobster dibiarkan bergerak merayapi model lintasan. Seluruh pergerakannya direkam dengan CCTV yang diposisikan di atas akuarium. Waktu yang dibutuhkan oleh lobster untuk melewati model lintasan dihitung dengan menggunakan stopwatch. Ujicoba dilakukan sebanyak 20 kali ulangan
menggunakan 1 individu lobster yang berbeda pada setiap ulangan. Perlakuan yang sama dikenakan terhadap model lintasan berikutnya.
Pola pergerakan dan kecepatan merayap lobster melalui kedua model lintasan dicatat secara deskriptif komparatif. Model lintasan dianggap mudah dilalui oleh lobster jika pola lintasan yang dibentuk cenderung lurus dan waktu yang dibutuhkan oleh lobster untuk melewati model lintasan tidak lama.
Konstruksi mulut masuk dibentuk celah persegi panjang sebagai jalan masuk atau keluar. Ukuran tinggi celah masuk tersebut dibuat sama dengan ukuran tinggi maksimal kepiting. Jirapunpipat et al. (2008) dan Tongdee (2001) mengatakan bahwa kepiting bakau dewasa berada pada ukuran lebar karapas rata-rata 8,5-8,6 cm. penentuan tinggi celah masuk ini bertujuan agar bubu lipat ini tidak hanya menangkap lobster tetapi juga dapat berfungsi menangkap rajungan.
Gambar 5. Model lintasan (a) dan ilustrasi posisi pemasangannya di dalam akuarium (b).
10
Gambar 6. Ilustrasi ujicoba kemiringan sudut lintasan masuk perangkap.
Uji coba bubu lipat
Bubu yang digunakan terdiri atas 2 jenis, yaitu 1 bubu lipat standar (BS) dan 2 bubu lipat modifikasi (BM). Seluruh permukaan BS diselimuti oleh jaring berukuran mata 1,25 , sudut lintasan masuk 30odan celah masuk berbentuk elips. Adapun kedua bubu modifikasi memiliki pintu masuk berbentuk 4 persegi panjang berukuran 33 18 (p t) (cm). Celah masuknya yang berukuran 33 6
(p t) (cm) dilengkapi dengan deretan jeruji kawat Ø = 1,5 mm sebanyak 10
batang Jarak antar jeruji sejauh 5 cm. Perbedaan kedua BM terdapat pada bagian konstruksi lintasannya yang tersusun atas jaring berukuran mata 1,25 (BM-1) dan 0,25 (BM-2).
11
Gambar 7. Ilustrasi posisi bubu di dalam tangki silinder pada ujicoba tiga bubu berbeda.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan pada masing-masing perlakuan berbeda-beda. Secara lengkap, analisis data yang akan dilakukan ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Analisis Data
No. Tujuan Analisis
1. Menentukan kenormalan ukuran lobster yang digunakan pada percobaan
Regresi
2. Menentukan ukuran mata jaring lintasan masuk mulut perangkap
Deskriptif
3. Menentukan sudut kemiringan lintasan masuk
mulut perangkap Deskriptif
4. Menentukan tinggi pintu perangkap Deskriptif
5. Menentukan warna tutupan Deskriptif
6. Membandingkan efektifitas perangkap lipat desain baru dengan perangkap nelayan
Analysis of variance
(rancangan acak lengkap) 7. Membandingkan efektifitas perangkap dengan
tutupan dan tanpa tutupan
Analysis of variance
(rancangan acak lengkap)
12
Y = 0+ 1x + ; . (1)
Keterangan :
Y : Peubah tak bebas/peubah respon;
0 : Intersep/perpotongan dengan sumbu tegak; 1 : Kemiringan;
X : Peubah bebas/peubah penjelas; dan
: Galat.
Analisis regresi ini digunakan untuk menentukan hubungan antara panjang dengan tebal lobster.
Data hasil penelitian 1, 2, 3, 4 dan 5 dianalisa secara deskriptif komparatif. Adapun analisa statistik dikenakan terhadap data hasil penelitian ketiga. Jenisnya adalah analisis regresi dan rancangan acak lengkap 1 faktor (Mattjik dan Sumertajaya 2006).
Tabel 2. Perlakuan dan ulangan
Ulangan (r) Perlakuan (t) Total ulangan P1 P2 P3
Yij : Nilai respon pada perlakuan ke-idan ulangan ke-j; : Rataan umum;
i : Pengaruh perlakuan ke-i;
ij : Pengaruh acak pada perlakuan ke-iulangan ke-j; dan
i, j : 1, ,t dan j= 1, ,r.
Asumsi: ij~N(0, 2) dan i= 0. Adapun hipotesisnya :
H0: 1 = = 6 = 0 (perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon yang
diamati)
13 Tabel 3. Sidik ragam/tabel ANOVA
Sumber Derajat Jumlah Kuadrat Fhit
keragaman bebas (DB) kuadrat (JK) tengah (KT)
Ulangan samar1=r2= =rt=r
Perlakuan t 1 JKP KTP KTP/KTG
Galat t(r 1) JKG KTG
Total tr 1 JKT
Ulangan tidak samar1 r2 rt r
Perlakuan t 1 JKP KTP KTP/KTG
Galat (rt 1) JKG KTG
Total ( rt) 1 JKT
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Pergerakan lobster pada bidang lintasan masuk bubu nelayan menunjukkan bahwa lobster mengalami kesulitan ketika bergerak pada bagian tersebut. Kaki-kaki jalannya tampak terperosok ke dalam jaring bidang lintasan dan kesulitan mendapat pijakan namun lobster tetap berupaya merayap mendekati bagian mulut masuk.
Kelemahan bubu lipat bubu nelayan juga terletak pada bagian bidang lintasan masuk dan konstruksi mulut masuk. Lobster mengalami kesulitan untuk melewati bidang lintasan masuknya. Kaki jalannya menembus mata jaring dan berpijak di atas wadah percobaan sehingga sering terkait pada mata jaring bidang lintasan masuk. Adapun bagian konstruksi mulut masuk juga menghambat lobster untuk masuk ke dalam bubu. Mulut masuknya terlampau rapat dan sempit sehingga lobster mengalami kesulitan membukanya. Lobster telah berupaya melewati bagian mulut masuk, namun duri-duri (spine) pada bagian atas karapas tersebut masih terkait pada jaring di bagian mulut masuk. Selain itu, tarikan dan ikatan tali pada bagian mulut masuk juga terlampau kencang sehingga bagian celah mulut masuk tampak menegang. Mulut masuk yang kurang kendur menyebabkan lobster kesulitan membuka celah mulut masuk. Dengan demikian, bidang lintasan masuk dan konstruksi mulut masuknya harus diperbaiki untuk memudahkan lobster dapat melewatinya dan masuk ke dalam bubu.
Pada dasarnya, lobster dapat melalui semua ukuran mata jaring. Akan tetapi, lobster sulit bergerak pada ukuran mata jaring 1,25 inci. Pada ukuran mata jaring 1,25 inci ini, lobster mengalami kesulitan merayap karena kaki jalannya tidak mendapatkan tumpuan sebagai pijakan dan terperosok masuk ke dalam mata jaring tersebut. Lobster lebih mudah merayap di atas mata jaring 0,25 inci. Kaki-kaki jalannya mendapatkan tumpuan pada ukuran mata jaring ini sehingga dapat merayap dengan mudah di atas mata jaring tersebut.
14
Pergerakan lobster ketika merayapi setiap bidang lintasan masuk dilakukan dengan cara yang berbeda. Kaki jalan pada posisi terdepan menarik tubuhnya ke atas bidang lintasan, sedangkan kaki jalan bagian belakang aktif mendorong tubuh lobster. Kaki jalan bagian depan menggapai setiap mata jaring bagian atas untuk ikut menarik badan lobster ke atas bidang lintasan masuk. Kaki jalan lainnya digunakan sebagai tumpuan untuk berpindah dari mata jaring yang satu ke mata jaring berikutnya. Pergerakan lobster di atas bidang lintasan masuk juga dibantu oleh tumpuan kaki jalan di bagian belakang dan tarikan kaki jalan bagian depan.
Lobster dapat melewati ketiga sudut kemiringan bidang lintasan masuk dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Lobster lebih mudah melewati bidang lintasan masuk dengan sudut 45 derajat. Pada sudut 30 derajat (standar nelayan) lobster akan lebih mudah terperosok ke dalam jaring sedangkan pada sudut 60 derajat mengalami kesulitan pada saat merayapinya, karena pada sudut 60 derajat ini pergerakannya melambat karena harus menanggung berat tubuhnya saat naik dan merayapi lintsan yang relatif meninggi.
Hasil pengamatan juga menunjukkan tingkah laku lobster setelah mengambil umpan. Lobster cenderung memilih sudut di bawah lintansan untuk menghabiskan umpan. Semakin luas celah di bawah lintasan
menampung lobster jadi lebih banyak.
Pembahasan
kapasitas
Ukuran lobster
Hubungan panjang (p) dan tebal (t) dari 40 karapas lobster ditunjukkan pada Gambar 8. Persamaan regresi yang dihasilkannya adalaht = 0,2278 p. Persamaan
ini menjelaskan bahwa setiap pertambahan panjang karapas sebesar 1 cm akan diikuti oleh peningkatan tebal karapas 0,2278 cm. Berdasarkan persamaan tersebut terlihat bahwa hubungan linier antara panjang dan tebal karapas ternyata sangat kuat. Ini ditunjukkan oleh koefisien korelasinya r = 0,9065. Menurut
Supranto (2001), nilai ini sangat akurat, karenar 0,5. Dengan demikian, analisis terhadap hasil penelitian dapat dilakukan, karena hampir seluruh lobster memiliki ukuran panjang dan tebal
dengan lobster lainnya.
yang sebanding atau proporsional antara satu lobster
15 Konstruksi Pintu Masuk Bubu
Dua bagian pintu masuk yang dikaji adalah celah masuk dan lintasan masuk. Pada penelitian ini, celah masuk ditentukan berbentuk 4 persegi panjang yang dilengkapi dengan deretan jeruji besi. Ketinggian celah masuk disesuaikan dengan hasil kajian Puspito (2013) sebesar 6 cm yang memungkinkan rajungan berbagai ukuran akan mudah melewati celah. Selain itu, pemasangan deretan jeruji pada bagian atas celah masuk dimaksudkan untuk menghadang rajungan yang sudah terperangkap agar tidak dapat membebaskan diri keluar bubu. Selanjutnya, kajian terhadap lintasan masuk difokuskan pada sudut kemiringan lintasan dan ukuran mata jaring lintasan.
Respon lobster terhadap bubu standar dan modifikasi
Ujicoba penangkapan lobster dalam akuarium pengujian dengan ketiga jenis bubu lipat memberikan hasil yang berbeda. Bubu lipat modifikasi 2 (BM-2) menangkap lobster terbanyak, yaitu 470 individu. Hasil tangkapan terbanyak kedua didapat oleh bubu modifikasi 1 (BM-1) sebanyak 221 individu, sedangkan bubu lipat standar (BLS) berada pada urutan terakhir dengan jumlah tangkapan sebanyak 109 individu. Hasil perhitungan dengan uji statistik ternyata juga membuktikan bahwa jumlah tangkapan setiap perangkap berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai Fhit=284,172 > Ftab=3,07 (Lampiran 1). Pada penelitian terakhir, BM-2 dijadikan sebagai materi penelitian yang diberi tutupan berwarna merah untuk meningkatkan jumlah tangkapan. Pada Gambar 9 ditunjukkan perbedaan jumlah tangkapan lobster berdasarkan jenis perangkap.
16
Gambar 9. Jumlah tangkapan bubu berdasarkan konstruksi pintu masuk. BLS=109, BM-1=221, BM-2=470
Konstruksi celah masuk bubu standar berbentuk oval yang menyempit ke arah dinding perangkap sangat mengurangi peluang lobster untuk masuk kedalam bubu. Lobster hanya dapat masuk ke dalam bubu jika melalui bagian tengah yang agak terbuka. Berdasarkan pengamatan langsung, pergerakan lobster terkadang terhenti pada lubang masuk. Penyebabnya adalah duri-duri yang terdapat pada karapas lobster tersangkut pada jaring, sehingga menghalangi lobster lain yang akan melewati celah masuk. Kelebihan celah masuk bubu standar hanya pada kemampuannya untuk menghadang lobster yang akan membebaskan diri dari dalam perangkap. Lobster yang sudah terperangkap tidak mungkin dapat keluar dari bubu. Sementara itu, lobster dapat melewati celah masuk bubu modifikasi dari segala arah. Pergerakan lobster hanya sedikit terhambat oleh keberadaan deretan jeruji besi berengsel yang dapat didorong kedalam. Namun demikian, lobster yang telah terperangkap juga tidak dapat membebaskan diri, karena deretan jeruji besi yang terpasang pada bagian sisi atas kerangka celah masuk menghadang pergerakannya.
17 Kesimpulan
Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah:
1. Ukuran mata jaring dengan waktu rata-rata tempuh tercepat lobster masuk ke dalam bubu dengan ukuran 0,25 inci.
2. Sudut kemiringan yang mudah dilalui oleh lobster adalah sudut 45o.
18
3
PENGARUH WARNA TUTUPAN TERHADAP RESPON
LOBSTER
PENDAHULUAN
Lobster lebih banyak ditangkap dengan menggunakan perangkap. Kondisi lobster yang ditangkap dengan perangkap lebih baik dibandingkan dengan alat tangkap lain. Anggota tubuh dan kondisinya ketika ditangkap dengan perangkap masih lengkap tanpa mengalami kerusakan atau kehilangan anggota tubuh, sementara jika ditangkap dengan alat tangkap lain seperti jaring gillnet, trawl,
tombak dan panah maka anggota tubuhnya bisa mengalami kerusakan atau terlepas bahkan lobster mengalami kematian (Ritonga 2006).
Salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan untuk menangkap lobster adalah bubu. Bubu merupakan jenis alat tangkap pasif yang menunggu organisme masuk ke dalamnya dan terperangkap kemudian tidak dapat meloloskan diri. Bubu dapat dibuat dari beberapa jenis material baik material alami maupun material buatan (sintesis) sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Sudirman dan Mallawa (2004) mengatakan bahwa bubu umumnya dibuat dari material seperti rotan, bambu, jaring, plastik atau kawat besi. Material penyusun bubu baik material alami maupun buatan pasti memiliki warna tertentu. Material dengan warna tertentu akan menghasilkan bubu seperti seperti dengan warna bawaannya. Dengan demikian, bubu memiliki warna sesuai dengan warna material penyusunnya.
Fungsi penglihatan bagi lobster memiliki peran penting bagi aktifitas lobster. Lobster bisa melakukan aktifitas hidupnya seperti bergerak, mencari makanan, menghindari predator dan berinteraksi dengan organisme lain di habitatnya. Menurut Chiou et al. (2008) dan Grober (1988), indera penglihatan
krustacea seperti kepiting digunakan untuk mengenali suatu objek, membedakan kontras, navigasi dan berkomunikasi mengenai refleksi polarisasi, mengenali makanan dan menghindari predator. Respon lobster terhadap bubu menentukan keberhasilan penangkapan. Salah satu respon lobster terhadap bubu adalah respon penglihatan lobster terhadap warna. Warna bubu mungkin dapat mempengaruhi lobster yang menjadi target penangkapannya. Penangkapan lobster akan berhasil jika lobster tertarik untuk mendekati bubu, sebaliknya akan gagal apabila lobster cenderung menjauhi bubu.
Purbayanto et al. (2010) menginformasikan bahwa kajian fisiologi dan tingkah laku ikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan teknologi penangkapan ikan, karena merupakan dasar dalam penentuan aspek teknologi alat tangkap yang akan dikembangkan, sehingga dapat dikatakan bahwa teknologi penangkapan tidak akan berkembang jika tidak ada kajian fidiologi dan tingkah laku ikan yang dihubungkan dengan pengembangan suatu alat tangkap.
19 Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh penggunaan tutupan terhadap hasil tangkapan. 2. Melihat warna yang paling disukai oleh lobster.
Metodologi
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian skala laboratorium yang dilaksanakan antara bulan November 2014 Maret 2015. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Teknologi Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa alat dan bahan. Beberapa alat utama dalam penelitian ini terdiri atas alat ukur kualitas, wadah aklimatisasi lobster, wadah penampungan dan wadah percobaan, balok kaca berwarna sebagai shelter, bubu standar dan bubu modifikasi. Bahan penelitian berupa lobster jenis pasir (Panulirus homarus), umpan ikan kembung dan air laut.
Media penelitian berupa 2 akuarium berbentuk balok berukuran 5015040 (plt) (cm) dan tabung silinder 150750 (Øt) (cm). Masing-masing
akuarium berisi air laut sebanyak 150 l dan 300 l dengan salinitas 25-30 ppt.
Lobster yang digunakan sebanyak 80 individu berukuran panjang total antara 7,3 -10,85 cm.
Metode Penelitian
Penelitian terbagi atas 2 tahapan, yaitu penentuan warna yang disukai oleh lobster yang dijadikan dasar sebagai pemilihan warna tutupan dan uji penggunaan tutupan pada bubu. Tahapan 1 dilakukan pada malam hari, sedangkan tahapan 2 dikerjakan pada siang hari. Seluruh penelitian menggunakan metode percobaan dengan melakukan pengujian langsung kedua tahapan penelitian. Diagram alir metode penelitian untuk respon lobster terhadap bubu dapat dilihat pada Gambar 10.
20
Analisis data
Data hasil penelitian tahap 1 dianalisa secara deskriptif komparatif. Analisa statistik dilakukan terhadap data hasil penelitian kedua. Jenisnya adalah analisis regresi dan rancangan acak lengkap 1 faktor (Mattjik dan Sumertajaya 2006).
Adapun hipotesisnya adalah :
H0: 1= = 6= 0 (perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati)
H1: minimal ada satu perlakuan yang berpengaruh terhadap respon i 0.
Pemilihan warna tutupan
Ujicoba warna tutupan menggunakan 5 balok kaca. Masing-masing balok dilapisi dengan plastik berwarna merah, kuning, hijau, biru dan hitam. Salahsatu sisi balok dibiarkan terbuka sebagai tempat lobster berlindung (Gambar 11a).
Respon penglihatan lobster terhadap warna ditentukan dengan cara lobster diberikan kesempatan untuk memilih benda-benda berwarna dalam air. Benda-benda tersebut dibuat seperti tempat berlindung (shelter). Tempat berlindung dengan warna tertentu yang lebih banyak dipilih dan dimasuki oleh lobster dianggap sebagai warna yang lebih disukai oleh lobster.
Pengujian ketertarikan lobster terhadap warna tutupan diawali dengan meletakkan tutupan berwarna merah dan biru secara sejajar. Satu lobster diposisikan 30 cm di depan kedua tutupan dan dibiarkan bergerak mendekati salah satu tutupan (Gambar 11b). Pengujian dilakukan sebanyak 5 ulangan menggunakan lobster yang berbeda. Kerja yang sama dilakukan terhadap pasangan warna tutupan hijau, merah-hijau, biru-hijau, kuning-hijau, hitam-kuning, merah-hitam-kuning, biru-hitam-kuning, hitam-biru, merah-biru dan hitam-merah. Jumlah total lobster yang digunakan sebanyak 50 individu. Balok yang paling banyak didatangi oleh lobster dijadikan sebagai warna tutupan yang paling disukai.
21 Pemilihan pasangan warna pada percobaan ini diawali dengan menentukan pasangan warna dengan membuat matrik dari tabel pasangan warna tersebut (Gambar 12a). Pada matrik tersebut menunjukkan bahwa pasangan warna yang sama tidak di ujicoba (Gambar 12b).
Keterangan :
HT : Hitam M : Merah B : Biru K : Kuning HJ : Hijau
Gambar 12. Tabel kombinasi warna shelter (a) dan matrik pasangan kombinasi warna (b).
Ujicoba tutupan
Hasil ujicoba ketertarikan lobster terhadap warna dengan menggunakan shelter berwarna menghasilkan bahwa lobster banyak memilih shelter warna merah, jadi warna tutupan yang digunakan pada percobaan ini adalah warna yang paling banyak didatangi lobster yaitu merah.
Pada penelitian ini, 1 jenis bubu lipat yang menghasilkan jumlah lobster tangkapan terbanyak pada penelitian sebelumnya dijadikan materi penelitian. Sebanyak 4 bubu yang sama dibuat dan diujicoba di akuarium. Dua bubu dilengkapi dengan penutup (BT) dan 2 bubu lainnya tanpa penutup (BTT). Masing-masing bubu diisi dengan umpan kembung. Pada Gambar 13 diperlihatkan susunan bubu dengan dan tanpa tutupan di dalam akuarium.
22
Gambar 13. Ilustrasi posisi bubu di dalam tangki silinder pada ujicoba posisi bubu dalam tangki pada ujicoba tutupan.
HASIL Warna Tutupan
Pemilihan warna tutupan dilakukan untuk mengetahui ketertarikan lobster terhadap warna. Selanjutnya, warna pilihan digunakan sebagai warna tutupan bubu untuk meningkatkan jumlah tangkapan lobster ketika bubu diangkat atau dioperasikan pada siang hari. Pada Gambar 14 dijelaskan kesukaan lobster terhadap jenis warna. Lobster ternyata lebih menyukai warna merah dibandingkan dengan jenis warna lainnya. Jumlah lobster yang mendatangi tutupan berwarna merah mencapai 144 individu, selanjutnya diikuti oleh hitam (116 individu), biru (95 individu), hijau (86 individu) dan kuning (59 individu).
160
Merah Hitam Biru Hijau Kuning
Warna Shelter
23 PEMBAHASAN
Warna Tutupan
Warna benda merupakan kelengkapan dari suatu benda. Hilbert (1992) mengatakan bahwa warna merupakan atribut utama dari suatu benda. Suatu organisme dapat membedakan warna benda, jika dapat melihat warna dimana banyak faktor berpengaruh terhadap penglihatan organisme agar dapat membedakan warna benda. Glantz dan Barnes (2002) juga menginformasikan bahwa kemampuan penglihatan terhadap warna benda di dalam air merupakan suatu kemampuan penglihatan yang bergantung kepada fungsi photoreceptor. Banyak organisme bermata majemuk harus beradaptasi terang dan gelap yang mana beradaptasi tersebut bergantung kepada penjuluran pigmen warna dan perubahan sudut pandang.
Beberapa jenis krustasea seperti kepiting menunjukkan respon berbeda terhadap warna di dalam air. Hyatt (1974) menginformasikan bahwa kepiting betina dewasa dari jenis Uca pugilator merespon warna biru, merah, kuning dan putih, dimana warna yang lebih terang seperti warna putih, kuning dan merah lebih banyak didekati kepiting tersebut. Knight dan Leggett (1985) menyatakan bahwa kepiting Paragrapsus gaimardiisensitive terhadap warna ultra violet, biru, hijau, merah muda dan kuning. Hal ini berbeda dengan respon lobster yang cenderung menghindari warna kuning hijau dan biru, sementara lobster tersebut cenderung memilih warna seperti merah dan hitam.
Tingkah laku lobster terhadap warna bubu dapat ditentukan melalui pengamatan responnya terhadap warna bubu dalam air. Responnya terhadap warna bubu bergantung kepada kemampuannya dalam membedakan warna benda di dalam air. Selain itu kemampuannya untuk membedakan warna juga dipengaruhi oleh ketajaman penglihatan dan arah penglihatannya. Adapun ketajaman penglihatan lobster dan arah penglihatan menunjukkan kemampuan penglihatan lobster secara umum di habitatnya. Respon lobster terhadap warna juga berhubungan dengan proses fisiologinya dalam siklus hidup dan tingkah lakunya. Pilihan lobster terhadap warna juga merupakan upaya untuk berlindung. Lobster cenderung memilih warna merah dan agak gelap karena ingin berlindung dari keadaan sekelilingnya.
Rabbani dan Zeng (2005) mengatakan bahwa warna latar tempat kultur krustacea seperti kepiting berpengaruh terhadap kehidupan kepiting. Umumnya larva kepiting lebih memiliki keberhasilan hidup pada latar belakang warna gelap. Larva kepiting pada bak berwarna gelap memiliki tingkat survival lebih tinggi jika dibandingkan dengan bak berlatar belakang warna putih, hal ini dikarenakan larva pada bak berwarna putih mudah stress dan memiliki tingkat mortalitas yang tinggi.
24
Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan lobster terhadap warna sesungguhnya di pengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor fisiologis lobster, faktor sensivitasphotopigmentpada retina mata lobster dan faktor tingkah laku lobster.
Sumber : Blacus (2012)
Gambar 15. Panjang gelombang elektromagnetik
Respon lobster terhadap warna juga telah memberikan jawaban terhadap pertanyaan tentang warna bubu yang paling disukainya. Kesukaannya adalah warna merah dan diikuti warna hitam. Oleh karena itu, bubu seharusnya dibuat dengan material berwarna merah atau hitam.
25 dipasaran dengan harga yang relative murah. Selain itu, nelayan yang terampil merajut jaring dapat membuat jaring untuk dinding bubu dengan benang PE warna hijau, biru dan hitam.
Husni (2002) meninformasikan perlakuan wadah berwarna merah memberikan hasil laju pertumbuhan dan bobot rata-rata yang paling tinggi. Keredupan lingkungan yang diciptakan oleh wadah berwarna merah mendukung pertumbuhan udang. Sesuai dengan sifat alami udang yang menyukai tempat-tempat yang redup/gelap, aktif bergerak dan mencari makan pada waktu malam.
Pengaruh Tutupan terhadap jumlah tangkapan bubu
Hasil ujicoba penggunaan tutupan berwarna merah menunjukkan bahwa bubu lipat dengan tutupan (BLT) memperoleh hasil tangkapan sebanyak 227 individu, atau lebih banyak dibandingkan dengan bubu lipat tanpa tutupan (BLTT) (123 individu). Hasil uji statistik juga membuktikan bahwa jumlah tangkapan setiap perangkap berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai Fhit=50,982 > Ftab=3,96 (Lampiran 1). Pada Gambar 16 ditunjukkan komposisi jumlah tangkapan lobster yang didapat oleh bubu lipat tanpa tutupan dan bubu lipat dengan tutupan.
Gambar 16. Komposisi jumlah tangkapan lobster yang didapat oleh bubu lipat tanpa tutupan (BLTT) dan bubu lipat dengan tutupan (BLT).
Lobster selalu menempati celah yang gelap sebagai tempat berlindung. Penggunaan tutupan pada bubu lipat otomatis akan meningkatkan jumlah lobster yang terperangkap. Menurut Kanciruk (1980) dalam Phillips (2006) lobster memiliki kebiasaan hidup mencari tempat berlindung pada celah di bawah batu, karang atau bunga karang dan bawah karang atau tepian tumbuhan. Eggleston dan Lipcius (1992), Smith dan Herrkind (1992) dan Wahle (1992) mengatakan banyak penelitian telah membuktikan bahwa celah gelap sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup lobster. Aktivitas lobster melindungi diri kedalam celah sempit dan gelap berkaitan dengan penguasaan teritoril pada individu sejenis seperti disajikan oleh Cobb (1971) dan Canada et al. (1971), terutama pada jenis
26
Bubu lipat berpenutup warna merah sangat disukai oleh lobter. Ben-Yami (1987) menyatakan bahwa warna merah memiliki panjang gelombang tertinggi antara 5.970-6.220 Ao. Menurutnya, penetrasi cahaya berwarna merah dapat mencapai kedalaman dimana terdapat habitat lobster, sehingga lobster sudah terbiasa dengan nuansa redup yang ditimbulkannya. Husni (2002) menambahkan bahwa penyebab lobster menyukai warna, karena warna sangat mempengaruhi mekanisme fisiologinya. Andriyani et al. (2014) menyimpulkan dari hasil
penelitiannya bahwa krendet berwarna merah lebih banyak mendapatkan hasil tangkapan lobster pada kedalaman daerah penangkapan 3-5 m.
Bell et al. (2006) menginformasikan bahwa mata lobster adalah lateral dan
majemuk yang terdiri dari beberapa ommatidium. Sementara informasi spesifik
mengenai resolusi spasial mata lobster tidak diketahui, mungkin kurang dan monokromatik. Berdasarkan strukturnya, bahwa mata lobster sangat efektif dalam mendeteksi tingkat cahaya rendah dan gerak.
Weiss et al. (2006) juga menginformasikan bahwa merah secara teoritis adalah pilihan warna terbaik karena mata dari banyak hewan laut relatif sensitif terhadap cahaya di atas 600 nm panjang gelombang, cahaya merah dapat menembus air lebih jauh daripada inframerah. Studi ini menemukan bahwa warna merah dapat digunakan untuk mempelajari tingkah laku spiny lobster. Warna merah menyerupai tempat tinggalnya sehingga lobster tidak merasa terganggu. Warna merah memang menarik sebagian kecil ikan yang dekat dengan habitat lobster. Halsey et al. (1974) dalam Husni (2002) menyatakan merah adalah spektrum cahaya yang memiliki panjang gelombang yang paling besar (700 nm). Spektrum cahaya yang memiliki panjang gelombang lebih besar yaitu merah akan diserap lebih cepat di perairan dibanding spektrum cahaya yang berada pertengahan seperti biru, hijau dan kuning Effendi (2000).
Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari penelitian adalah:
1. Lobster lebih menyukai warna merah dibandingkan warna lainnya.
27
4 PEMBAHASAN UMUM
Hasil observasi langsung terhadap konstruksi bubu lipat menunjukkan bahwa ada 2 bagian bubu yang perlu diperbaiki, yaitu konstruksi lintasan masuk dan celah masuk dan penambahan tutupan. Konstruksi lintasan masuknya dengan ukuran mata 1,25 inci menyebabkan lobster sering tertahan pada lintasan masuk karena kaki-kaki jalan lobster terperosok melewati mata jaring. Sementara itu, konstruksi celah masuk yang sempit menyebabkan lobster terjepit pada celah mulut masuk sehingga tidak dapat masuk ke dalam bubu. Selain itu, hasil uji pendahuluan di laboratorium membuktikan bahwa bubu yang dilengkapi dengan tutupan ternyata lebih disukai oleh lobster. Ini untuk mengantisipasi operasi penangkapan lobster dengan bubu yang mulai direndam pada sore hari dan diangkat pada keesokan harinya yang sudah mulai terang. Penggunaan tutupan diharapkan dapat menambah kemampuan bubu menangkap lobster.
Pustaka yang membahas bubu lipat untuk menangkap lobster cukup sulit ditemukan. Kajian mengenai bubu lipat lebih banyak ditujukan untuk menangkap kepiting dan rajungan. Tallo et al. (2014) dan Puspito (2013) meneliti konstruksi
mulut masuk bubu untuk menangkap kepiting bakau. Adapun Komarudin (2012) mempelajari rancang bangun bubu lipat untuk menangkap kepiting bakau. Satu-satunya pustaka yang mengkaji perbaikan konstruksi bubu lipat untuk menangkap lobster ditulis oleh Zulkarnain (2012). Penelitiannya tidak membahas konstruksi lintasan masuk bubu. Sementara itu, penelitian lain dilakukan oleh (Puspito (2008)). Menurutnya, lobster lebih menyukai warna-warna tertentu.
Hasil ujicoba dengan menggunakan tiga bubu berbeda yaitu bubu standar lipat nelayan (BLS), bubu lipat modifikasi 1 (BM-1) dan bubu lipat modifikasi 2 (BM-2) bahwa lobster lebih mudah masuk ke dalam bubu BM-2 karena sudut kemiringan lintasan dimodifikasi menjadi 45o yang memudahkan lobster menaiki lintasan. Selain itu ukuran mata jaring lintasan masuk berbahan waring dengan ukuran mata jaring 0,25 inci memudahkan lobster merayapi lintasan dengan rata-rata kecepatan mencapai 11,6 detik, serta celah masuk yang berbentuk empat persegi panjang dan ditambahkan kawat jeruji besi yang memudahkan lobster hanya mendorong kawat jeruji ketika masuk ke dalam perangkap tanpa ada hambatan. Hasil perhitungan dengan uji statistik ternyata juga membuktikan bahwa jumlah tangkapan setiap perangkap berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilaiFhit=284,172 >Ftab=3,07.
28
5 KESIMPULAN DAN SARAN
KesimpulanKesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah :
1. Ukuran mata jaring yang tepat pada lintasan masuk adalah ukuran 0,25 inci. 2. Sudut kemiringan yang mudah dilalui oleh lobster adalah sudut 45o.
3. Bentuk mulut yang digunakan pada bubu modifikasi adalah empat persegi panjang dengan dimensi 33×6 (p×t) (cm).
4. Warna yang lebih banyak dipilih lobster adalah merah.
5. Hasil ujicoba ketiga bubu yaitu BS, BM-1 dan BM-2 menunjukkan bahwa BM-2 memperoleh hasil tangkapan terbanyak, dan hasil ujicoba bubu modifikasi tanpa tutupan (BLTT) dengan bubu modifikasi pakai tutupan merah (BLT) menunjukkan hasil tangkapan terbanyak diperoleh pada bubu BLT.
Saran
Penelitian memberikan beberapa saran untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi penangkapan lobster yang ramah lingkungan sebagai berikut:
1. Perlu adanya penelitian lapang untuk menguji efektivitas bubu modifikasi guna mendapatkan hasil yang lebih baik pada hasil tangkapan lobster.
29
DAFTAR PUSTAKA
Andriyani S, Boesono H, Fitri ADP. 2014. Pengaruh perbedaan warna krendet dan kedalaman daerah penangkapan lobster (Panulirus sp.) Di pantai Waru perairan Wonogiri. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology3(2): 72-76.
Baskoro MS. 2006. Alat Penangkap ikan yang berwawasan lingkungan. Jurnal Penelitian Perikanan Laut(16): 19-21.
Bell M, Redant F, Tuck I. 2006. Lobsters: biology, management, aquaculture and fisheries.
Ben-Yami M. 1987. Fishing with light: Fishing News [for] the Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Blacus V (2012). Electromagnetic-Spectrum.
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Electromagnetic-Spectrum.svg. Retrieved Juni 8, 2015.
Brandt Av. 2005.Fish catching methods of the world. England.
Budihardjo S. 1981. Studi Perbandingan Jenis Alat Tangkap Lobster POT dengan Bubu Tradisional untuk Menangkap Udang Barong (Panulirus spp) di Pelabuhan Ratu.
Bushmann PJ, Atema J. 1997. Shelter sharing and chemical courtship signals in the lobster, Homarus americanus. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences54(3): 647-654.
Canada FRBo, Station FRBoCB, Scrivener JC. 1971. Agonistic behaviour of the American lobster Homarus americanus (Milne-Edwards): ottawa: queen's printer.
Chiou T-H, Kleinlogel S, Cronin T, Caldwell R, Loeffler B, Siddiqi A, Goldizen A, Marshall J. 2008. Circular polarization vision in a stomatopod crustacean.Current Biology18(6): 429-434.
Cobb JS. 1971. The Shelter-Related Behavior of the Losbter, Homarus Americanus.Ecology: 108-115.
Effendi H. 2000.Telaah Kualitas Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Eggleston DB, Lipcius RN. 1992. Shelter selection by spiny lobster under variable predation risk, social conditions, and shelter size.Ecology: 992-1011. Fridman A. 1988. Perhitungan Dalam Merancang Alat Penangkapan Ikan. BPPI.
Semarang.
Glantz RM, Barnes WJP. 2002. Visual Systems: Neural Mechanisms and Visual Behavior. Crustacean Experimental Systems in Neurobiology'editor', Springer:203-225.
Grober MS. 1988. Brittle-star bioluminescence functions as an aposematic signal to deter crustacean predators.Animal behaviour 36(2): 493-501.
Gunarso W. 1985. Tingkah laku ikan dalam hubungannya dengan alat, metode dan taktik penangkapan. Bogor: Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor 149.
Halsey WD, Shores L, Blackburn RH, Francis F (1974). Collier's Encyclopedia. Mac Millan Educational Corporation. USA:738.
30
Husni MB. 2002. Pengaruh perbedaan warna wadah terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang galah (Macrobrachium rosenbegii de Man).
[Skripsi] Bogor (Id): Institut Pertanian Bogor.
Hyatt GW. 1974. Behavioural evidence for light intensity discrimination by the fiddler crab, Uca pugilator (Brachyura, Ocypodidae). Animal behaviour
22: 796-801.
Iskandar D. 2009. Perbandingan komposisi dan variasi basil tangkapan bubu tambun dengan celah pelolosan (escape-GAP) dan tanpa celah pelolosan (non escape GAP).
Jirapunpipat K, Phomikong P, Yokota M, Watanabe S. 2008. The effect of escape vents in collapsible pots on catch and size of the mud crab Scylla olivacea.
Fisheries Research94(1): 73-78.
Kanciruk P. 1980. Ecology of juvenile and adult Palinuridae (spiny lobsters). The biology and management of lobsters2: 59-96.
Knight D, Leggett L. 1985. Six spectral sensitivity classes in crab visual interneurons.Journal of Comparative Physiology A157(2): 235-245. Komarudin D. 2012. Design Construction of Collapsible Trap to Catch Mud Crab
(Scylla serrata).
Kusuma R. 2012. Pengaruh Kedalaman dan Umpan Berbeda Terhadap Hasil Tangkapan Lobster (Panulius Sp) dengan Jaring Lobster (Bottom Gill Net Monofilament) di Perairan Argopeni Kabupaten Kebumen. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology1(1): 11-21.
Le Vay L. 2001. Ecology and Management of Mud Crab Scylla spp.
Lesmana A. 2006. Uji Coba Dua Macam Krendet untuk Menangkap Spiny Lobster (Panulirus sp.) di Perairan Wonogiri.[Skripsi]. Bogor. Program Sudi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Masithoh I, Uktolseja JlA, Mangimbulude jc, trihandaru s, 2014. Aspek Bioekologi Lobster (panulirus spp.) Sebagai Komoditas Ekonomi Penting.
Prosiding Seminar Nasional Raja Ampat, Waisai,Salatiga, Kabupaten Raja
Ampat - Papua Barat, Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana.
Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2006. Perancangan percobaan dengan aplikasi SAS dan MINITAB.Jilid I. Edisi ke-2. Institut Pertanian (IPB)-Press, Bogor.
Miller RJ. 1990. Effectiveness of crab and lobster traps. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences47(6): 1228-1251.
Permatasari NP. 2006. Seleksi pola dinding bubu plastik untuk menangkap lobster hijau pasir.
Phillips B. 2006. Lobsters: Biology, Management, Aquaculture & Fisheries.
Department of Environmetal Biology, Muresk Institute, Curtin Unyversity of Technology. Australia: Blackwell Puplishing.
Purbayanto A, Riyanto M, Fitri ADP. 2010. Fisiologi dan tingkah laku ikan pada perikanan tangkap. Bogor: IPB Press.
Puspito G. 2008. Design of Plastic Wall on Lobster Trap. JURNAL SAINTEK PERIKANAN3(2): 16-22.
Puspito G. 2009. Perangkap Non Ikan.Bogor (Id) : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. . Institut
31 Puspito G. 2013. Design of entrance and escape gaps in collapsible trap for
mangrove crabs Scylla sp. Aquaculture, Aquarium, Conservation & Legislation-International Journal of the Bioflux Society (AACL Bioflux)
6(4).
Rabbani AG, Zeng C. 2005. Effects of tank colour on larval survival and development of mud crab Scylla serrata (Forskål). Aquaculture Research
36(11): 1112-1119.
Ritonga MMA. 2006. Kemiringan dinding lintasan masuk bubu lobster hijau pasir [Skripsi]. Bogor (Id): Institut Pertanian Bogor.
Slack-Smith R. 2001.Fishing with traps and pots: Food & Agriculture Org.
Smith KN, Herrkind WF. 1992. Predation on early juvenile spiny lobsters Panulirus argus (Latreille): influence of size and shelter. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology157(1): 3-18.
Subani W, Barus H. 1989. Alat penangkapan ikan dan udang laut di Indonesia.
Jurnal Penelitian Perikanan Laut50.
Sudirman H, Mallawa A. 2004.Teknik Penangkapan Ikan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta 168.
Sumiono B. 2015. Status perikanan lobster [sumberdaya, habitat, teknologi penangkapan dan tata kelola]. P4KSI, Disampaikan pada forum FKPPS wilayah, Jakarta:
Supranto J. 2001. Statistik dan Teori Aplikasi. Edisi keenam, Jilid kedua,
Erlangga, Jakarta.
Tallo I. 2015. Rancang Bangun Bubu Lipat Dalam Upaya Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Penangkapan Kepiting Bakau Yang Ramah Lingkungan. Tallo I, Purbayanto A, Martasuganda S, Puspito G. 2014. The Influence of
Different Baits and Funnel Elevations of Collapsible Pot to the Catch of Mangrove Crab. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR)17(1): 124-136.
Tewfik A, Mills D, Adhuri D. 2009. Spiny lobster resources and opportunity for culture in post-tsunami Aceh, Indonesia.spiny lobster aquaculture in the Asia Pacific region: 27.
Tiku M. 2004. Pengaruh Jenis Umpan dan Waktu Pengoperasian Bubu Lipat Terhadap Hasil Tangkapan Kepiting Bakau (Scyllia serata) Di Kecamatan Kubu Kabupaten Pontianak.
Tongdee N. 2001. Size distribution, sex ratio and size at maturity of mud crab (Scylla spp.) in Ranong Province, Thailand.Asian Fisheries Science14(2):
113-120.
Wahle RA. 1992. Body-size dependent anti predator mechanismof the American Lobster.Oikos65: 52-60.
Weiss HM, Lozano-Álvarez E, Briones-Fourzán P, Negrete-Soto F. 2006. Using red light with fixed-site video cameras to study the behavior of the spiny lobster, Panulirus argus, and associated animals at night and inside their shelters.Marine Technology Society Journal40(3): 86-95.
Zulkarnain. 2012. Rancang bangun bubu lipat modifikasi dan penggunaan cacing tanah (Lumbricus rubellus) sebagai umpan alternatif untuk penangkapan spiny lobster [Disertasi]. Bogor (ID) Institut Pertanian Bogor.
32
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups
Lampiran 1. Hasil uji ANOVA
1. Perlakuan 3 Jenis bubu yang berbeda
Jumlah_lobster
ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups
2. Perlakuan Tutupan dan tanpa tutupan
Jumlah_Lobster
33 Lampiran 2. Foto-foto kegiatan penelitian
Gambar 17. Proses masuk
modifikasi lintasan Gambar 18. Shelter yang digunakan pada penelitian
Gambar 20. Posisi peletakan bubu pada Gambar 19. Posisi peletakan bubu pada ujicoba bubu lipat tutupan ujicoba bubu standar (BS), (BLT) dan bubu lipat tanpa Bubu modifikasi 1 (BM-1)
dan bubu modifikasi 2 (BM-2)
34
Lampiran 2 (Lanjutan).
Gambar 21. Trigger yang digunakan pada celah masuh bubu
Gambar 23. Proses pemindahan lobster ke dalam wadah penampungan
Gambar 22. Celah masuk bubu yang telah di pasang trigger
35
Lampiran 2 (Lanjutan).