KERAGAAN GALUR-GALUR HARAPAN SORGUM
(
Sorghum bicolor
(L.) Moench) DI TANAH MASAM, JASINGA
AF’IDATUS SAKINA
AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Keragaan Galur-galur Harapan Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di Tanah Masam, Jasinga adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Januari 2014
Af’idatus Sakina
ABSTRAK
AF’IDATUS SAKINA. Keragaan Galur-galur Harapan Sorgum (Sorghum bicolor
(L.) Moench) di Tanah Masam, Jasinga. Dibimbing oleh TRIKOESOEMANINGTYAS dan DESTA WIRNAS.
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaan galur-galur harapan sorgum hasil pemuliaan IPB di tanah masam. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cikopomayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor mulai bulan Maret sampai Agustus 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu faktor (genotipe). Genotipe yang digunakan adalah 17 galur hasil pemuliaan IPB dan 2 varietas pembanding yaitu Numbu dan UPCA S1. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa terdapat perbedaaan keragaan galur-galur sorgum yang diuji untuk karakter jumlah daun, umur berbunga, panjang malai, dan bobot 1000 butir. Karakter jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang berkorelasi positif dan nyata terhadap bobot biomassa. Karakter tinggi tanaman, diameter batang, bobot biomassa dan bobot 1000 butir berkorelasi positif dan nyata terhadap bobot biji per malai. Galur-galur yang diuji memiliki bobot biji per malai setara dengan kedua pembanding. Galur harapan sorgum yang memiliki potensi hasil lebih baik dari varietas UPCA S1 dengan kisaran antara 3–4 ton ha-1 adalah N/UP-4-3, N/UP-82-3, N/UP-118-7, N/UP-124-7, N/UP-139-1 dan N/UP-139-5. Kata kunci: genotipe, keragaan, sorgum, tanah masam
ABSTRACT
AF’IDATUS SAKINA. Performance of Sorghum Genotypes (Sorghum bicolor
(L.) Moench) under Acid Soil Condition in Jasinga. Supervised by TRIKOESOEMANINGTYAS dan DESTA WIRNAS.
This research was aimed to obtain information on performance of sorghum IPB breeding lines under acid soil conditions. The research was conducted at Cikopomayak, Jasinga, Bogor from March to August 2013. The experimental design used was Randomized Complete Block Design with genotype as the treatment. The plant materials used were 17 strain of sorghum IPB breeding lines, Numbu and UPCA S1 as check varieties. The results showed that there were significantly different among genotypes evaluated for leaf number, flowering time, panicle length and thousand of grain weight. Leaf number, plant height, diameter of stem positively correlated with biomass weight. Plant height, diameter of stem, biomass weight and thousand of grain weight positively correlated with grain weight panicle-1. The IPB breeding lines showed comparable grain weight panicle -1
to the check varieties. Yield potential of N/UP-4-3, N/UP-82-3, N/UP-118-7, N/UP-124-7, N/UP-139-1 dan N/UP-139-5 strain were better than UPCA S1 in range 3–4 ton ha-1.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Agronomi dan Hortikultura
KERAGAAN GALUR-GALUR HARAPAN SORGUM
(
Sorghum bicolor
(L.) Moench) DI TANAH MASAM, JASINGA
AF’IDATUS SAKINA
AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Keragaan Galur-galur Harapan Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di Tanah Masam, Jasinga
Nama : Af’idatus Sakina NIM : A24090119
Disetujui oleh
Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, MSc. Pembimbing I
Dr. Desta Wirnas, SP, MSi. Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr. Ir. Agus Purwito, MSc, Agr Ketua Departemen
PRAKATA
Segenap puji dan syukur hanyalah milik Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Penelitian yang dilakukan oleh penulis berjudul Keragaan Galur-galur Harapan Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di Tanah Masam, Jasinga. Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, MSc dan Dr. Desta Wirnas, SP, MSi sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi serta pelajaran berharga kepada penulis selama penelitian.
2. Dr. Dwi Guntoro, SP, MSi selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan kepada penulis.
3. Dr. Sofyan Zaman, MP selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan masukan dan saran dalam penulisan skripsi.
4. Kementerian Agama RI yang telah membiayai kuliah melalui beasiswa BUD Kemenag RI.
5. Bapak dan ibu tercinta, Afirurrohman dan Mufatiroh, juga adik-adik, Fakhrul Firdaus, Annisa Nuril Fajriyah, dan Fairuz Zaman, yang selalu memberikan semangat, kasih sayang dan doa-doa terbaik.
6. Staf laboratorium pemuliaan tanaman, Siti Marwiyah dan Amsari, yang telah banyak membantu selama penelitian berlangsung.
7. Teman-teman di Laboratorium Pemuliaan IPB, Mayang Sari, Catur Atklistiyanti, Patricia A. Sitanggang, Jorex D. Momongan, Ragil, Milda, dan Akbar yang selalu senantiasa menyemangati dan membantu selama penelitian. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian.
Bogor, Januari 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
Hipotesis ... 2
TINJAUAN PUSTAKA ... 2
Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) ... 2
Tanah Masam ... 3
METODE ... 5
Tempat dan Waktu ... 5
Bahan dan Alat ... 5
Metode Penelitian ... 5
Pelaksanaan Penelitian ... 6
Pengamatan ... 6
Pengolahan Data ... 7
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8
Kondisi Umum ... 8
Keragaan Galur Sorgum di Tanah Masam, Jasinga ... 10
Keragaan Karakter Agronomi Galur Sorgum di Tanah Masam, Jasinga ... 12
Keragaan Komponen Hasil Galur Sorgum di Tanah Masam, Jasinga ... 16
Korelasi antar Karakter Galur Sorgum di Tanah Masam, Jasinga ... 20
KESIMPULAN DAN SARAN ... 22
Kesimpulan ... 22
Saran ... 22
DAFTAR PUSTAKA ... 22
LAMPIRAN ... 25
DAFTAR TABEL
1 Nilai tengah karakter agronomi dan komponen hasil varietas Numbu
dan UPCA S1 di tanah masam, Jasinga 11
2 Rekapitulasi sidik ragam galur-galur harapan sorgum di tanah masam,
Jasinga 11
3 Keragaan karakter agronomi galur-galur harapan sorgum di tanah
masam Jasinga 13
4 Keragaan umur berbunga, umur panen, dan periode pengisian biji galur-galur harapan sorgum di tanah masam Jasinga 15 5 Keragaan komponen hasil galur-galur harapan sorgum di tanah
masam, Jasinga 17
6 Potensi hasil galur-galur harapan sorgum di tanah masam, Jasinga 19 7 Korelasi antara karakter agronomi dan bobot biji per malai
galur-galur harapan sorgum di tanah masam, Jasinga 21 8 Korelasi antar karakter komponen hasil galur-galur harapan sorgum
di tanah masam, Jasinga 21
DAFTAR GAMBAR
1 Pertumbuhan sorgum 8
2 Hama dan penyakit sorgum 9
3 Potensi hasil galur-galur harapan sorgum dengan kedua pembanding
di tanah masam 19
DAFTAR LAMPIRAN
1 Daya tumbuh sorgum di tanah masam Jasinga 26 2 Sifat kimia analisis tanah 1 pada lokasi penelitian 26 3 Sifat kimia analisis tanah 2 pada lokasi penelitian 27
4 Kriteria penilaian hasil analisis tanah 27
5 Data iklim Desa Cikopomayak, Jasinga 2013 28
6 Kondisi pertumbuhan sorgum di tanah masam Jasinga 29
7 Deskripsi varietas Numbu 30
8 Deskripsi varietas UPCA S1 31
9 Layout percobaan 32
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sorgum merupakan salah satu tanaman serealia yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Sorgum bukan tanaman asli Indonesia, melainkan tanaman yang berasal dari daratan Afrika (Etopia, Sudan, Afrika Timur) (Acquaah 2007). Menurut House (1985) sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, dan energi. Biji sorgum dimanfaatkan sebagai sumber pangan dalam bentuk beras dan tepung (Beti et al. 1990). Biji dan batang sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku etanol (Pabendon et al. 2012). Batang dan daun sogrum digunakan sebagai hijauan ternak (Purnomohadi 2006).
Sorgum merupakan sumber pangan potensial di Indonesia. Sorgum memiliki kandungan karbohidrat setara dengan beras dan jagung. Kandungan karbohidrat sorgum sebesar 73 g per 100 g bahan, sedangkan kandungan pada beras dan jagung masing-masing sebesar 79 g dan 72 g. Kandungan protein sorgum (11 g) lebih tinggi dari beras (7 g) dan jagung (9 g) (Beti et al. 1990). Kandungan protein sorgum yang tinggi ini terbatas dalam penggunaannya sebagai sumber pangan. Hal tersebut disebabkan adanya kandungan tanin yang tinggi pada sorgum. Tanin tersebut dapat menyebabkan rendahnya daya cerna protein pada sorgum (Duodu 2003).
Menurut Sirappa (2003) sorgum memiliki keunggulan adaptasi yang luas yaitu dapat berproduksi di lahan marjinal dan toleran terhadap kekeringan maupun genangan air. Indonesia mempunyai potensi lahan kering seluas 148 juta hektar dan 70% dari lahan kering tersebut merupakan lahan kering masam. Lahan kering masam tersebut tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua (Mulyani et al. 2004). Tanah masam adalah tanah yang memiliki pH ≤ 5.5 (Balai Penelitian Tanah 2005). Kendala utama pada lahan masam adalah keracunan alumunium dan defisiensi P. Menurut Zheng (2010) tanah dengan pH < 5 menyebabkan alumunium terlarut menjadi ion Al3+. Hal tersebut dapat menyebabkan tanaman keracunan. Alumunium dapat menghambat aktivitas pemanjangan akar dengan menghancurkan sel maristem apikal. Hal tersebut dapat mempengaruhi penyerapan air dan nutrisi oleh tanaman. Selain itu, pada kondisi masam, unsur P mudah dijerap oleh Al dan Fe (Zheng 2010).
2
Tujuan
1. Mendapatkan informasi tentang keragaan galur-galur harapan sorgum di tanah masam.
2. Mendapatkan informasi tentang keeratan hubungan antara karakter agronomi dan komponen hasil pada galur-galur harapan sorgum di tanah masam. 3. Memperoleh galur-galur harapan sorgum yang berdaya hasil tinggi di tanah
masam.
Hipotesis
1. Terdapat perbedaan keragaan karakter agronomi, komponen hasil dan hasil galur-galur harapan sorgum di tanah masam.
2. Terdapat galur sorgum di tanah masam yang berdaya hasil lebih tinggi dari varietas pembanding.
TINJAUAN PUSTAKA
Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench)
Sorgum memiliki daya adaptasi yang luas sehingga dapat tumbuh baik pada berbagai kondisi (Sirappa 2003). Hal tersebut menjadi salah satu keunggulan sorgum dibandingkan tanaman pangan lain yang dikembangkan di lahan masam. Sorgum dapat tumbuh pada hampir di semua jenis tanah. Sorgum dapat bertoleransi pada keadaan yang panas dan kering. Sorgum dapat tumbuh pada daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan tergenang. Suhu optimum untuk pertumbuhan sorgum berkisar antara 23oC–30oC dengan kelembaban relatif 20– 40% (Deptan 1990). Menurut Sungkono et al. (2009) waktu penanaman sorgum yang baik adalah pada akhir musim hujan. Hal tersebut karena sorgum dapat tumbuh dengan baik serta tidak ada serangan hama dan penyakit yang mencapai ambang batas.
Gerik et al. (2003) melaporkan bahwa pertumbuhan sorgum terdiri dari 3 tahap. Tahap pertumbuhan pertama didominasi oleh pertumbuhan vegetatif. Perkembangan tanaman pada tahap tersebut fokus pada perkembangan struktur vegetatif seperti daun dan anakan. Tahap pertumbuhan kedua yaitu tahap inisiasi bunga. Hal tersebut ditandai dengan kemunculan daun bendera yang membawa malai. Tahap pertumbuhan kedua merupakan tahap penting untuk produksi biji. Tahap pertumbuhan ketiga adalah tahap pengisian biji. Tahap tersebut dimulai dari tanaman berbunga sampai akumulasi bahan kering dalam biji terhenti. Tahap pertumbuhan ketiga berakhir apabila terdapat “black-layer” (lapisan hitam) pada lembaga sorgum.
3 sehingga fungsi akar utama digantikan oleh akar sekunder. Akar sekunder dapat berkembang dan memanjang hingga pada kedalaman 2 meter (Plessis 2008). Selain itu, sistem perakaran pada tanaman sorgum memiliki keunggulan. Keunggulan tersebut yaitu dapat menopang pertumbuhan dan perkembangan tanaman hingga dua atau tiga kali ratun dengan akar yang sama (House 1985).
Plessis (2008) melaporkan batang sorgum bersifat padat, tegak lurus, kering atau berair, serta rasanya tawar atau manis. Batang sorgum merupakan rangkaian berseri dari ruas (internoodes) dan buku (nodes). Sorgum memiliki bentuk batang silinder. Diameter batang bagian pangkal berukuran 5–30 mm. Ruas batang sorgum dilapisi lilin tebal. Lilin tersebut berfungsi mengurangi laju transpirasi dan meningkatkan toleransi terhadap kekeringan pada tanaman. Acquaah (2007) menambahkan batang sorgum memiliki tinggi 0.6–4.5 m. Daun sorgum berwarna hijau. Luas area daun sorgum lebih kecil daripada jagung. Posisi daun sorgum berlawanan pada setiap sisinya dan melekat pada batang utama. Jumlah daun sorgum berkisar 8–22 helai dalam kondisi optimum (Plessis 2008).
Malai sorgum berbentuk kompak atau terbuka. Malai sorgum merupakan susunan dari bunga sorgum. Bunga sorgum akan mekar pada malam hari dan pagi hari (Plessis 2008). Bunga sorgum tersebut akan berkembang menjadi biji. Gerik
et al (2003) melaporkan bahwa tahap inisiasi bunga pada sorgum adalah tahap yang menentukan jumlah produksi biji sorgum per tanaman. Gangguan faktor luar terutama hama dan penyakit pada periode ini akan mempengaruhi jumlah spikelet yang terbentuk. Hal tersebut dapat mengurangi hasil tanaman sorgum.
Biji sorgum secara umum berbentuk oval atau bulat. Warna biji sorgum diantaranya adalah merah, putih, kuning dan coklat (Plessis 2008). Biji sorgum telah masak sempurna apabila terdapat lapisan hitam (black-layer) pada pangkal biji. Biji sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan (Beti et al. 1990). Selain itu, biji sorgum juga mulai diperhatikan sebagai bahan baku etanol yaitu dengan mengubah pati menjadi gula dan diproses menjadi etanol (Pabendon et al. 2012).
Tanah Masam
Tanah masam terbentuk karena sebagian besar kation tanah tercuci oleh air hujan sehingga kation yang tertinggal adalah kation yang bersifat masam seperti Al3+ dan H+ dan menyebabkan tanah bersifat masam (BPPI 2010). Kendala utama tanah masam adalah keracunan alumunium dan defisiensi fosfor (Agustina 2010a; Zheng 2010; Marschner 2012). Alumunium diubah menjadi bentuk ion pada kondisi masam yaitu pada kondisi pH tanah di bawah 5 (Zheng 2010). Keracunan alumunium menyebabkan rendahnya penyerapan air dan nutrisi oleh tanaman sorgum (Baligar et al 1993; Agustina 2010; Marschner 2012). Gejala yang sering dijumpai pada tanaman yang keracunan alumunium adalah pemanjangan akar terhambat (Zheng 2010). Marschner (2012) menambahkan pada kondisi tanah masam, Mn juga dapat menjadi racun bagi tanaman. Selain itu ketersediaan unsur Mg, Ca dan Mo juga berkurang.
4
defisiensi P. Genotip peka yang ditanam di lahan masam yang tidak diberi kapur menunjukkan pertumbuhan yang kurang baik seperti tanaman kerdil dan berwarna kekuningan, sedangkan genotip toleran menujukkan pertumbuhan dan produksi yang baik. Agustina (2011) menambahkan bahwa genotipe sorgum peka pada stadia bibit yang mengalami keracunan alumuniun akan memperlihatkan tanda-tanda seperti menebalnya ujung akar tanaman dan terdapat bagian yang menghitam. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat. Genotip toleran dan peka memberikan respon berbeda pada kondisi cekaman alumunium dan defisiensi fosfor yang berbeda (Agustina 2011).
Pemuliaan Tanaman Sorgum
Pemuliaan tanaman adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan dan seni dalam merakit keragaman genetik suatu populasi tanaman agar memiliki sifat yang lebih baik dari sebelumnya (Syukur et al. 2012). Pemuliaan tanaman memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah untuk perbaikan hasil dan stabilitas hasil, peningkatan daya hasil tanpa menurunkan nilai gizi, dan perbaikan adaptasi tanaman terhadap lingkungan ekologi tertentu (Makmur 1992).
Menurut Acquaah (2007) yang diharapkan dari program pemuliaan tanaman sorgum secara umum adalah menghasilkan tanaman sorgum yang memiliki produktivitas tinggi, stabilitas produksi pada lingkungan yang bervariasi, tinggi tanaman ideal untuk memudahkan panen, berumur genjah, tahan terhadap cekaman abiotik seperti kekeringan dan toleran terhadap alumunium, tahan terhadap hama dan penyakit serta memiliki kualitas biji yang baik seperti kandungan nutrisi yang baik dan kandungan tanin yang rendah.
Indonesia memiliki potensi lahan kering seluas 148 juta hektar, 70% dari lahan kering tersebut merupakan lahan kering masam (Mulyani et al. 2004). Upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan potensi lahan kering masam tersebut adalah dengan perakitan varietas sorgum toleran tanah masam. Menurut Poehlman (1959) dan Makmur (1992) sorgum sebagai tanaman menyerbuk sendiri pada dasarnya memiliki program pemuliaan yang terdiri dari introduksi, seleksi, hibridisasi. Indonesia saat ini telah memiliki beberapa varietas sorgum nasional seperti Numbu, Kawali, UPCA S1, Keris, Mandau, Sorgum Mas, Higari, Badik dan Sangkur. Selain itu, melalui mutasi sinar gamma dari sumber Cobalt-60, BATAN telah menghasilkan galur sorgum mutan harapan asal varietas Durra. Galur-galur tersebut adalah B-100, B-95, B-83, B-76, B-69 dan Zh-30.
Uji Multilokasi
5 interaksi varietas terhadap lingkungan. Galur-galur yang diuji pada tahap ini berkisar antara 10–15 galur (Nasir 2001). Uji multilokasi sorgum dilakukan pada dua musim dan di lokasi yang berbeda. Jumlah lokasi yang disarankan untuk uji multilokasi sorgum adalah 6 lokasi.
METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Desa Cikopomayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Kegiatan pasca panen dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai Agustus 2013.
Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan adalah 17 galur sorgum hasil pemuliaan IPB. Galur tersebut adalah 4-3, 4-8, 17-10, 32-8, 39-10, 48-2, 82-3, 89-3, 118-3, 118-7, 124-7, 139-1, 139-5, 151-3, 156-8, 159-9, N/UP-166-6. Varietas pembanding yang digunakan adalah Numbu dan UPCA S1. Pupuk yang digunakan adalah Urea, SP-36 dan KCl, dosis pupuk yang digunakan adalah 150 kg ha-1 Urea, 100 kg ha-1 SP-36, dan 100 kg ha-1 KCl. Alat yang digunakan adalah alat yang biasa digunakan dalam budidaya sorgum, timbangan analitik Sartorius, meteran, jangka sorong digital Freder, label, dan jaring.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal yang terdiri atas 19 genotipe sorgum dengan 3 ulangan yang ditempatkan secara acak, sehingga diperoleh 57 satuan percobaan. Dalam satu satuan percobaan terdapat 80 tanaman yang diambil 10 tanaman sebagai tanaman contoh. Model matematik rancangan percobaan yang digunakan menurut Gomez dan Gomez (1995) adalah sebagai berikut:
Yij= μ+τi+ βj+ εij ; (i=1,....t, j=1,....r)
Keterangan :
Yij = Pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j μ = Rataan umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i βj = Pengaruh kelompok ke-j
6
Pelaksanaan Penelitian Persiapan Lahan
Tanah diolah sampai kondisi tanah gembur dan remah dengan menggunakan cangkul. Lahan seluas 684.2 m2 dibagi menjadi 3 petak besar untuk 3 ulangan. Setiap ulangan dibagi menjadi 19 petak kecil dengan ukuran 2.8 m × 3 m untuk setiap genotipe dengan jarak antar bedengan 50 cm. Selanjutnya dibuat lubang tanam dengan jarak 70 cm × 10 cm dengan kedalaman 2–3 cm dan benih ditanam sebanyak 3 butir per lubang.
Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan, penyulaman, penjarangan, penyiangan, pebubunan, serta pengendalian hama dan penyakit. Pemberian pupuk dilakukan sebanyak 2 kali dengan cara dialur. Pupuk Urea sebanyak 2/3 bagian diberikan pada saat penanaman sebagai pupuk dasar bersama dengan pupuk SP-36 dan KCl, sedangkan 1/3 bagian pupuk Urea diberikan setelah tanaman berumur 30 HST. Penyulaman dilakukan apabila daya tumbuh benih kurang dari 80%. Penjarangan dilakukan setelah tanaman berumur 21 hari setelah tanam (HST) dengan menyisakan satu tanaman per lubang tanam. Penyiangan gulma dan pembumbunan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada 28 HST dan 56 HST dan 84 HST. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sebanyak 4 kali menggunakan insektisida non sistemik dengan bahan aktif deltamethrin 25 g L-1 yaitu saat tanaman berumur 35 HST, 56 HST, 84 HST dan 98 HST. Lahan sorgum dipasang jaring saat tanaman berumur 77 HST untuk mengantisipasi serangan hama burung. Pemanenan
Kegiatan pemanenan dilakukan saat tanaman berumur 17 MST, 18 MST, 19 MST yaitu saat 80% tanaman dari satu baris galur sudah masak sempurna. Ciri tanaman yang telah masak sempurna adalah apabila lembaga biji sorgum berwarna coklat atau hitam dan apabila digigit biji sorgum pecah dan terasa tepungnya. Cara melakukan pemanenan yaitu dengan memotong malai sorgum satu demi satu selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik dan diberi label yang meliputi nomor tanaman, genotipe, dan tanggal panen.
Pengamatan
Pengamatan terdiri atas pengamatan karakter agronomi dan komponen hasil pada 10 tanaman contoh dari setiap satuan percobaan. Karakter agronomi dan komponen hasil yang diamati adalah:
1. Karakter agronomi
Jumlah daun, dimulai pada buku ke dua pada saat menjelang panen.
Tinggi tanaman, diukur dari pangkal batang hingga ujung malai pada saat menjelang panen.
Diameter batang, diukur pada 10 cm dari pangkal batang menggunakan jangka sorong pada fase vegetatif maksimum.
7
Umur berbunga, yaitu pada saat 50% dari tanaman mulai berbunga dalam satu satuan percobaan.
Umur panen, yaitu saat 80% tanaman dalam satu satuan percobaan sudah masak sempurna.
2. Komponen hasil
Panjang malai, diukur dari dasar malai sampai ujung malai pada saat panen.
Bobot kering malai, ditimbang setelah malai dikeringkan di bawah panas matahari selama 3 hari.
Bobot biji per malai, dilakukan penimbangan biji per malai setelah dikeringkan di bawah panas matahari selama 3 hari.
Bobot 1000 biji, dilakukan penimbangan setelah biji (bernas) dikeringkan di bawah panas matahari selama 3 hari.
Pengolahan Data
Analisis Ragam (ANOVA) untuk mengetahui adanya beda nyata antar genotipe yang diteliti. Jika terdapat beda nyata antar genotipe, dilakukan uji perbedaan nilai tengah dengan metode t-Dunnet taraf 5 % menggunakan program SAS 9.1.3. Nilai kritikal t-Dunnet secara umum dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
�′= �
(�������)�2
�������
� �
1 2⁄
Analisis Korelasi untuk menyatakan derajat hubungan linier (searah bukan timbal balik) antara dua variabel atau lebih. Korelasi digunakan untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antar variabel � dengan variabel �. Hubungan antar karakter dianalisis dengan korelasi Pearson taraf 5% menggunakan program program SAS 9.1.3. Perhitungan korelasi secara umum dapat dihitung dengan rumus:
���= ����� �����
Keterangan:
��� = koefisien kolerasi antara sifat � dan � ����� = peragam antara sifat keduanya (� dan �) �� = ragam sifat �
8
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum
Penelitian dilaksanakan di Desa Cikopomayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor dan di Laboratorium Pemuliaan Departemen Agronomi IPB. Kegiatan budidaya tanaman dilaksanakan pada bulan Maret–Juli 2013. Kegiatan pasca panen dilaksanakan pada bulan Agustus 2013. Curah hujan di lokasi penelitian pada bulan Maret–Juli 2013 rata sebesar 213.5 mm dengan rata-rata hari hujan sebesar 14.75 hari. Rata-rata-rata suhu dan kelembaban masing-masing sebesar 26.31 oC dan 84.24 % (Lampiran 5).
Pengamatan daya tumbuh sorgum dilakukan saat sorgum berumur 14 hari setelah tanam (HST). Sorgum yang ditanam di tanah masam Jasinga memiliki persentase daya tumbuh di atas 80% kecuali galur N/UP-4-3 pada ulangan 1 (79%) dan ulangan 3 (79%), galur N/UP-118-7 pada ulangan 3 (63%) dan galur N/UP-159-9 pada ulangan 3 (76%) (Lampiran 1). Galur-galur yang memiliki daya tumbuh kurang 80% dilakukan penyulaman.
Analisis tanah dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum tanah diolah dan setelah tanaman sorgum berumur 14 MST. Pengambilan sampel tanah pada analisis tanah pertama dilakukan dengan metode pengambilan sampel secara diagonal, yaitu lahan yang akan digunakan ditarik garis diagonal dan diambil sampel tanahnya sebanyak tiga sampel (pangkal, tengah, ujung). Hasil analisis yang diperoleh adalah tanah memiliki nilai pH berkisar antara 4.4–4.6 (masam– sangat masam) dengan Al3+ berkisar antara 0.67–1.91 cmolc kg-1 (Lampiran 2).
9 Pertumbuhan tanaman sorgum terlihat lambat dan tidak seragam sejak tanaman berumur 3 MST. Pertumbuhan tanaman sorgum tidak mengalami perubahan yang signifikan dari kondisi sebelumnya setelah dilakukan pemupukan kedua (Gambar 1). Akhirnya pada saat sorgum berumur 14 MST dilakukan analisis tanah yang kedua. Pengambilan sampel tanah pada analisis tanah kedua sebanyak tiga plot berdasarkan penilaian terhadap kondisi pertumbuhan sorgum pada setiap petak. Penilaian tersebut terdiri dari tiga kriteria yaitu baik, sedang dan kurang baik (Lampiran 6).
Hasil analisis tanah dari tiga plot menunjukkan perbedaan kandungan Al3+ yang jelas (Lampiran 3). Plot 1 memiliki kandungan Al3+ terendah yaitu sebesar 1.34 cmolc kg-1 dan kandungan P2O5 sebesar 3.3 ppm (sangat rendah). Plot 2 memiliki kandungan Al3+ tertinggi yaitu sebesar 3.15 cmolc kg-1 dan kadungan P2O5 sebesar 5.5 ppm (rendah). Plot 3 memiliki kandungan Al3+ sebesar 2.70 cmolc kg-1 dan kandungan P2O5 (3.8 ppm) tergolong sangat rendah. Hal ini memperihatkan bahwa perbedaan kandungan Al3+ dan P2O5 mempengaruhi keragaman pertumbuhan sorgum.
Berdasarkan pengamatan visual yang dilakukan dilapang bahwa tanaman sorgum yang tumbuh pada plot 1 dengan kriteria baik menunjukkan pertumbuhan tanaman yang baik yaitu memiliki daun berwarna hijau, pertumbuhan seragam, tinggi tanaman seragam, waktu pengisian malai dan waktu masak biji seragam. Tanaman sorgum yang tumbuh pada plot 2 dengan kriteria sedang memiliki beberapa daun menguning dan ujungnya kering, tinggi tanaman tidak seragam dan ada yang kerdil, waktu pengisian malai dan waktu masak biji hampir seragam, serta beberapa malai berukuran kecil. Tanaman sorgum yang tumbuh pada plot 3 dengan kriteria kurang baik memiliki daun menguning, beberapa tanaman kerdil dan mati serta beberapa tanaman tidak terbentuk malai.
Gambar 2 Hama dan penyakit sorgum. Larva Chilo partellus (a), serangga
Chilo partellus (b), hama kutu apid (Rhopalos iphummaidis) (c), dan gejala penyakit bacterial top and stalk rot akibat Erwinia chrysanthemi (d).
Pertumbuhan sorgum selama penelitian berlangsung mengalami gangguan hama dan penyakit. Hama menyerang tanaman sorgum pada tahap pertumbuhan pertama adalah belalang (Valanga nigricornis) dan kutu apid (Rhopalos iphummaidis) (Gambar 2c). Gejala yang ditimbulkan serangan belalang adalah bagian pinggir daun bergerigi dan rusak. Hama yang menyerang saat tahap pertumbuhan tiga yaitu larva dari serangga Chilo partellus (Gambar 2a). Serangga
A
10
Chilo partellus (Gambar 2b) hinggap pada malai sorgum dan meninggalkan telur pada biji sorgum. Telur tersebut menetas dan berkembang menjadi larva. Larva
Chilo partellus mengambil makanan dari biji sorgum. Hal tersebut menyebabkan biji sorgum rusak. Kerusakan biji sorgum dapat menurunkan hasil. Menurut Gerik
et al. (2003) serangan hama dan penyakit pada tahap pertumbuhan pertama dan ketiga dapat menurunkan hasil sorgum.
Penyakit yang ditemukan pada pertanaman sorgum yaitu penyakit
bacterial top and stalk rot. Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri Erwinia chrysanthemi (Gambar 2d). Gejala penyakit bacterial top and stalk rot mulai terlihat saat menjelang akhir tahap pertumbuhan pertama. Menurut Claflin (2000), gejala penyakit bacterial top and stalk rot adalah 4–5 daun bagian atas (termasuk pucuk daun) mengalami kematian secara perlahan. Tanaman yang terserang penyakit ini harus segera dicabut agar tidak menyebar ke tanaman yang lainnya. Galur yang terserang penyakit bacterial top and stalk rot adalah N/UP-82-3 dan N/UP-139-1.
Keragaan Galur-galur Harapan Sorgum di Tanah Masam, Jasinga Salah satu tujuan dari program pemuliaan tanaman sorgum Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor adalah untuk mengembangkan varietas tanaman pangan yang toleran terhadap tanah masam. Program tersebut diawali dengan pemilihan tetua. Varietas Numbu terpilih sebagai tetua betina. Varietas UPCA S1 terpilih sebagai tetua jantan. Numbu memiliki keunggulan toleran terhadap tanah masam (Agustina 2011). Keunggulan Numbu lainnya adalah memiliki tipe malai kompak dan berukuran besar serta biji berwarna krem (Balitsereal 2011a). Keunggulan UPCA S1 adalah memiliki tinggi tanaman pendek (ideal). Karakter-karakter tersebut adalah karakter yang diinginkan pemulia terhadap galur sorgum toleran tanah masam.
Rangkaian program pemuliaan tanaman sorgum Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor telah menghasilkan galur-galur sorgum toleran tanah masam. Galur tersebut adalah galur hasil persilangan antara Numbu dan UPCA S1. Galur tersebut telah diseleksi berdasarkan kriteria seleksi tinggi tanaman dan bobot biji per malai. Galur hasil seleksi tersebut adalah N/UP-4-3, N/UP-4-8, N/UP- 17-10, N/UP-32-8, N/UP-39-10, N/UP-48-2, N/UP- 82-3, N/UP-89-3, N/UP-118-3, N/UP-118-7, N/UP-124-7, N/UP-139-1, N/UP-139-5, N/UP-151-3, N/UP-156-8, N/UP-159-9, N/UP-166-6. Galur tersebut digunakan sebagai bahan uji pada penelitian.
11 Tabel 1 Nilai tengah karakter agronomi dan komponen hasil varietas Numbu dan
UPCA S1 di tanah masam, Jasinga
Karakter Numbu UPCA S1
Tabel 1 memperlihatkan tentang keragaan tanaman Numbu dan UPCA S1 di tanah masam Jasinga yang memiliki pH 4.3–4.6 dengan kandungan Al3+ sebesar 1.34–3.15. Numbu memiliki nilai karakter lebih baik dari UPCA S1 kecuali pada karakter jumlah daun, umur berbunga dan panjang malai (Tabel 1). Menurut Agustina et al. (2010a), genotipe toleran memperlihatkan pertumbuhan dan produksi tanaman lebih baik daripada genotipe peka yang ditanam di tanah masam.
Tabel 2 Rekapitulasi sidik ragam galur-galur harapan sorgum di tanah masam, Jasinga
Periode pengisian biji 43.78 1.25 0.2793 18.80
Panjang malai 62.23 2.18* 0.0231 8.11 10% berdasarkan uji F, KT (Kuadrat Tengah), KK (koefesien keragaman).
12
Hasil rekapitulasi sidik ragam (Tabel 2) memperlihatkan nilai koefesien keragaman (KK) pada peubah yang diamati. Menurut Gomez dan Gomez (1995) nilai KK menggambarkan keadaan percobaan, peubah yang memiliki nilai KK yang semakin rendah maka peubah tersebut memiliki akurasi yang semakin tinggi. Nilai KK yang ditoleransi untuk penelitian lapang adalah sebesar 20%. Nilai KK terendah ditunjukkan oleh karakter bobot 1000 butir (4.29 %), sedangkan nilai KK tertinggi ditunjukkan oleh karakter bobot kering malai (36.82 %). Nilai KK yang lebih dari 20 % ditunjukkan oleh karakter bobot biomassa (32.02 %), bobot biji per malai (36.51 %) dan bobot kering malai (36.82 %) sehingga dilakukan transformasi data untuk memperbaiki keheterogenan ragam. Nilai KK karakter bobot biomassa, bobot biji per malai dan karakter bobot kering malai setelah ditransformasi masing-masing menjadi 5.99 %, 12.19 % dan 12.05 %.
Keragaan Karakter Agronomi Galur-galur Sorgum di Tanah Masam, Jasinga
Karakter agronomi yang diamati pada penelitian antara lain jumlah daun, tinggi tanaman, diameter batang, bobot biomassa, umur berbunga 50%, umur panen 80% dan periode pengisian biji. Jumlah daun dihitung dari ruas kedua. Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai ujung malai. Diameter batang diukur dari 10 cm dari pangkal batang. Pengamatan umur berbunga dilakukan apabila malai dalam satu petak telah 50 % berbunga. Pengamatan umur panen dilakukan apabila malai dalam satu petak telah 80 % masak. Periode pengisian biji dihitung dari selisih umur panen dan umur berbunga.
Jumlah Daun
Jumlah daun galur-galur harapan sorgum pada kisaran 7.2–9.8 helai (Tabel 3) lebih baik dari Mutiah (2013) yaitu sebesar 5.8–8.6 helai, namun tidak lebih baik dari Sitanggang (2013) yaitu sebesar 7.7–10.0 helai. Informasi tersebut menunjukkan bahwa galur sorgum yang ditanam di tanah masam Jasinga memiliki jumlah daun lebih rendah dari galur sorgum yang di tanam di Lampung Selatan. Hal tersebut disebabkan tanah masam Jasinga pada penelitian ini memiliki nilai pH 4.3–4.6 dan nilai pH pada penelitian Mutiah (2013) sebesar 4.4–5.2 lebih rendah dari nilai pH tanah masam di Lampung Selatan sebesar 4.75– 5.58 (Sitanggang 2013). Jumlah daun memiliki rataan galur sebesar 8.1 helai. N/UP-17-10 (9.8 helai) memiliki jumlah daun tertinggi dan berbeda nyata lebih tinggi dengan kedua pembanding.
Tinggi Tanaman
13 disebabkan galur-galur yang diuji pada penelitian merupakan galur-galur terbaik hasil seleksi penelitian sebelumnya berdasarkan karakter tinggi tanaman yaitu 170<TT<180 (Mutiah 2013).
Tabel 3 Keragaan karakter agronomi galur-galur harapan sorgum di tanah masam Jasinga
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf a berbeda nyata dengan pembanding Numbu dan b berbeda nyata dengan pembanding UPCA S1 pada taraf 5% berdasarkan uji lanjut t-Dunnett.
14
Tanaman sorgum yang memiliki tinggi tanaman tinggi seperti N/UP-82-3 dapat dikembangkan untuk kebutuhan hijauan pakan ternak maupun bahan baku bioetanol. Tanaman sorgum yang memiliki tinggi batang pendek dapat dikembangkan untuk kebutuhan produksi biji. Hal tersebut disebabkan tanaman sorgum yang tidak terlalu tinggi diharapkan hasil fotosintat akan lebih banyak dialokasikan untuk pengisian biji. Tanaman sorgum yang tidak terlalu tinggi juga diharapkan tahan terhadap kerebahan (Puspitasari 2011).
Diameter Batang
Batang sorgum bersifat padat, bagian tengah batang kering atau berair dan terasa hambar atau manis (Acquaah 2007). Batang sorgum menyimpan cadangan makanan untuk pengisian biji. Batang sorgum yang besar dapat menyediakan suplai makanan yang besar untuk pembentukan biji sorgum. Menurut Ghandi (2012), diameter batang berkorelasi positif dan nyata terhadap bobot biji per malai. Pertambahan diameter batang sorgum akan diikuti oleh pertambahan bobot biji per malai sorgum.
Menurut Puspitasari (2011), karakter tinggi tanaman dan diameter batang dapat menggambarkan tentang kemampuan tanaman dalam mengalokasikan fotosintat dan tegakan tanaman sorgum. Diperoleh kisaran diameter batang 11.42– 16.32 mm dengan rata-rata sebesar 13.97 mm. Diameter batang galur-galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan kedua pembanding (Tabel 3). Hal tersebut menunjukkan bahwa galur-galur tersebut memiliki diameter batang yang setara dengan kedua pembanding. Kisaran diameter batang tersebut dapat menunjukkan bahwa terdapat tanaman sorgum yang toleran maupun yang peka terhadap tanah masam. Diameter batang terbesar dimiliki oleh N/UP-139-1 (16.32 mm).
Bobot Biomassa
Bobot biomassa mewakili akumulasi pertumbuhan pada fase vegetatif tanaman (Sungkono et al. 2009). Bobot biomassa pada galur-galur harapan sorgum yang diuji bervariasi antara 102.71–273.00 g (Tabel 3). Perbedaan bobot biomassa antar galur disebabkan tingkat kepekaan dan toleransi galur terhadap cekaman alumunium dan defisiensi P di tanah masam. Menurut Puspitasari (2011), tanaman yang peka terhadap tanah masam adalah tanaman yang memiliki bobot biomassa rendah, sedangkan tanaman yang toleran memiliki bobot biomassa yang tinggi.
15 Tabel 4 Keragaan umur berbunga, umur panen, dan periode pengisian biji
galur-galur harapan sorgum di tanah masam Jasinga Galur Umur berbunga
(HST)
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf a berbeda nyata dengan pembanding Numbu dan b berbeda nyata dengan pembanding UPCA S1 pada taraf 5% berdasarkan uji lanjut t-Dunnett.
Umur Berbunga
16
berbunga masing-masing sebesar 92.6 HST dan 92.0 HST. Galur N/UP-82-3 (74.6 HST) memiliki umur berbunga lebih cepat dari kedua tetua. Galur tersebut potensial dikembangkan di tanah masam.
Umur Panen dan Periode Pengisian Biji
Pengamatan umur panen dilakukan apabila tanaman dalam satu petak telah 80 % masak sempurna. Biji yang masak sempurna memiliki tekstur keras dan terasa tepungnya apabila digigit. Umur panen berkisar antara 114.0–130.3 HST dengan nilai tengah galur sebesar 124.5 HST. Tabel 4 memperlihatkan bahwa umur berbunga galur-galur harapan yang diuji tidak berbeda dengan kedua pembanding. Pembanding UPCA S1 memiliki umur panen lebih cepat dari Numbu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mutiah (2013) dan Sitanggang (2013) menyebutkan bahwa umur panen UPCA S1 lebih cepat dari Numbu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi lahan tidak mempengaruhi umur panen kedua varietas.
Umur berbunga dan umur panen adalah dua karakter yang mempengaruhi lama tidaknya periode pengisian biji. Periode pengisian biji galur-galur harapan sorgum yang diuji berada pada kisaran 24.3–39.3 hari. Tabel 4 memperlihatkan bahwa galur N/UP-82-3 (39.3 hari) memiliki periode pengisian biji terbesar. Hal tersebut dipengaruhi oleh umur berbunga dan umur panennya. Rata-rata periode pengisian biji pada penelitian ini adalah 31.7 hari, sedangkan pembanding Numbu dan UPCA S1 masing-masing memiliki periode pengisian biji sebesar 30.3 hari dan 24.6 hari. Periode pengisian biji merupakan rentang waktu yang digunakan tanaman untuk memaksimalkan pengisian cadangan makanan pada biji.
Keragaan Komponen Hasil Galur-galur Harapan Sorgum di Tanah Masam, Jasinga
Keragaan komponen hasil dalam penelitian ini dapat dilihat dari karakter panjang malai, sedangkan keragaan hasil dapat dilihat dari karakter bobot biji per malai dan bobot 1000 butir (Tabel 5).
Panjang Malai
17 Tabel 5 Keragaan komponen hasil galur-galur harapan sorgum di tanah masam,
Jasinga
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf a berbeda nyata dengan pembanding Numbu dan b berbeda nyata dengan pembanding UPCA S1 pada taraf 5% berdasarkan uji lanjut t-Dunnett.
Biji
Karakter biji yang diamati adalah bobot biji per malai dan bobot 1000 butir. Menurut Sungkono et al. (2009) bobot biji per malai mewakili fase generatif tanaman sorgum. Bobot biji per malai galur sorgum di tanah masam Jasinga berada pada kisaran 15.10–32.89 g. Hasil penelitian yang dilakukan Mutiah (2013) menunjukkan bahwa karakter yang berkorelasi dengan bobot biji per malai adalah karakter tinggi tanaman, diameter batang, bobot biomassa dan panjang malai. Galur N/UP-82-3 memiliki bobot biji per malai terbesar karena memiliki tinggi tanaman dan bobot biomassa terbesar dari galur-galur yang diuji. Selain itu, galur N/UP-82-3 diduga memiliki toleransi yang baik di tanah masam.
18
per malai setara dengan kedua pembanding. Galur-galur yang diuji merupakan galur-galur terbaik hasil seleksi dari penelitian sebelumnya berdasarkan karakter bobot biji per malai (Mutiah 2013).
Bobot 1000 butir menggambarkan ukuran biji sorgum. Karakter bobot 1000 butir berkisar antara 23.38–29.94 g dengan rata-rata galur sebesar 25.87 g. Tabel 5 menunjukkan bahwa galur berpengaruh nyata terhadap karakter bobot 1000 butir. Galur N/UP-32-8, N/UP-39-10, N/UP-89-3, N/UP-124-7, N/UP-139-1 dan N/UP-139-5 memiliki bobot 1000 butir yang lebih besar dari pembanding UPCA S1. Hal ini menunjukkan bahwa galur tersebut lebih toleran dari pembanding UPCA S1. Galur N/UP-82-3, N/UP-118-7 dan N/UP-156-8 berbeda nyata dengan kedua pembanding. Nilai tengah galur yang berbeda nyata dengan kedua pembanding berada diantara nilai tengah kedua pembanding. Sorgum yang memiliki biji yang besar akan menghasilkan pati yang besar. Menurut Pabendon
et al. (2012) biji sorgum mulai dikembangkan untuk bahan baku etanol yaitu dengan memanfaatkan pati yang terkandung dalam biji sorgum.
Potensi Hasil Galur-galur Harapan Sorgum di Tanah Masam, Jasinga Menurut Acquaah (2007) salah satu tujuan yang diharapkan dari program pemuliaan tanaman sorgum secara umum adalah menghasilkan tanaman sorgum yang memiliki produktivitas tinggi. Menurut Human (2007) tanaman sorgum merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia karena selain memiliki daya adaptasi luas juga memiliki produktivitas yang tinggi. House (1985) menyatakan bahwa rata-rata hasil sorgum pada daerah dengan irigasi minimal dapat mencapai 3–4 ton ha-1.
Penanaman galur-galur harapan sorgum di Jasinga menggunakan jarak tanam 70 cm × 10 cm sehingga diperoleh populasi tanaman sorgum per hektar sebesar 142 857 tanaman. Berdasarkan daya tumbuh 80% populasi tanaman sorgum per hektar menjadi 114 285 tanaman. Potensi hasil diperoleh dari perkalian antara bobot biji per malai dengan 80% populasi tanaman per hektar. Bobot biji per malai masing-masing galur yang digunakan merupakan rata-rata dari 10 tanaman contoh yang diambil secara acak pada tiga ulangan. Potensi hasil galur-galur harapan sorgum di tanah masam Jasinga disajikan pada Tabel 6.
Potensi hasil galur-galur harapan sorgum yang diuji berada pada kisaran 1.73–3.76 ton ha-1 (Tabel 6). Perbedaan potensi hasil pada masing-masing galur diduga karena masing-masing galur memiliki tingkat kepekaan dan toleransi yang berbeda terhadap cekaman alumunium dan defisiensi P di tanah masam. Potensi hasil terbesar dimiliki oleh galur N/UP-82-3 (3.76 ton ha-1). Potensi hasil tersebut lebih baik dari potensi hasil varietas UPCA S1 (2.63 ton ha-1), namun masih lebih rendah dari potensi hasil varietas Numbu (4.16 ton ha-1) di tanah masam Jasinga. Terdapat 6 galur harapan sorgum yang memiliki potensi hasil lebih baik dari varietas UPCA S1 dengan kisaran antara 3–4 ton ha-1. Galur-galur harapan sorgum tersebut adalah 4-3, 82-3, 118-7, 124-7, N/UP-139-1 dan N/UP-139-5. Keenam galur tersebut berpotensi untuk dikembangkan di tanah masam dengan tujuan produksi biji.
19 Tabel 6 Potensi hasil galur-galur harapan sorgum di tanah masam Jasinga
Galur Potensi hasil (ton ha-1)
Gambar 3 Potensi hasil galur-galur harapan sorgum dengan kedua pembanding di tanah masam
17 Galur NUMBU UPCA S1
P
20
Potensi hasil galur-galur harapan sorgum pada dua lokasi yang berbeda disajikan pada Gambar 3. Potensi galur-galur harapan sorgum yang ditanam di Jasinga walaupun telah mencapai rata-rata 2.82 ton ha-1 dan 4.28 ton ha-1 (Mutiah 2013) masih lebih rendah dari galur-galur harapan sorgum yang ditaman di Lampung yaitu mencapai 4.58 ton ha-1 (Sitanggang 2013). Gambar 3 juga memperlihatkan bahwa potensi hasil galur-galur harapan sorgum yang ditanam di Jasinga pada tahun 2013 pada musim yang sama menghasilkan rata-rata potensi hasil sebesar 2.82 ton ha-1 lebih rendah dari potensi hasil galur-galur harapan sorgum yang ditanam pada tahun 2012 yaitu sebesar 4.28 ton ha-1 (Mutiah 2013).
Jika dilihat berdasarkan potensi hasil terbaik, galur yang unggul pada penelitian ini dimiliki oleh galur N/UP-82-3 (4.69 ton ha-1). Galur yang unggul pada Mutiah (2013) dimiliki oleh galur N/UP-118-3 (9.44 ton ha-1), sedangkan galur yang unggul pada penelitian Sitanggang (2013) dimiliki oleh galur N/UP-118-7 (6.95 ton ha-1). Hal ini memberikan informasi bahwa terdapat interaksi genetik dan lingkungan pada galur-galur harapan sorgum di tanah masam.
Korelasi antar Karakter Galur-galur Harapan Sorgum di Tanah Masam, Jasinga
Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui keeratan hubungan antar karakter yang diamati. Analisis korelasi dapat memberi informasi tambahan adanya sifat atau karakter tertentu yang mempengaruhi biomassa tanaman dan daya hasil sehingga sifat tersebut dapat dijadikan kriteria seleksi. Menurut Gomez dan Gomez (1995) nilai koefesien korelasi berada di antara – 1 dan + 1 dengan nilai ekstrim menunjukkan hubungan linear yang sempurna dan nilai tengah nol menunjukkan tidak ada hubungan antara kedua karakter. Nilai koefesien korelasi (r) diantaranya menunjukkan bagian keragaman dalam satu karakter yang dapat diperhitungkan sebagai fungsi linear karakter yang lainnya. Tanda negatif atau positif pada nilai koefesien korelasi menujukkan arah perubahan pada satu karakter secara nisbi terhadap perubahan yang lainnya. Keeratan hubungan antar karakter dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.
Karakter jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang berkorelasi positif sangat nyata terhadap bobot biomassa (Tabel 7). Artinya, pertambahan jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang tanaman sorgum akan diikuti dengan pertambahan bobot biomassa. Sebaliknya, penurunan jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang tanaman sorgum akan diikuti dengan penurunan bobot biomassa. Karakter jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi secara tidak langsung untuk mendapatkan tanaman sorgum yang memiliki bobot biomassa tinggi. Tanaman sorgum yang memiliki biomassa tinggi dapat dikembangkan untuk kebutuhan pakan ternak.
21 Karakter tinggi tanaman, diameter batang dan bobot biomassa berkorelasi positif sangat nyata terhadap bobot biji per malai (Tabel 7). Artinya, semakin tinggi tanaman sorgum maka bobot biji per malai tanaman sorgum akan semakin tinggi. Begitu pula dengan tanaman sorgum yang memiliki diameter batang besar dan bobot biomassa tinggi akan menghasilkan bobot biji per malai yang tinggi. Menurut Gerik et al. (2003) tahap pertumbuhan pertama pada tanaman sorgum lebih fokus pada perkembangan struktur vegetatif yang pada akhirnya akan mendukung pembentukan biji. Karakter tinggi tanaman, diameter batang dan bobot biomassa tersebut dapat dijadikan sebagai karakter seleksi secara tidak langsung untuk mendapatkan tanaman sorgum yang memiliki jumlah biji per malai yang tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2011), Gandhi (2012) dan Mutiah (2013) bahwa tinggi tanaman, diameter batang dan bobot biomassa berkorelasi positif terhadap bobot biji per malai.
Tabel 7 Korelasi antara karakter agronomi dan bobot biji per malai galur-galur harapan sorgum di tanah masam, Jasinga
Karakter JD TT DB UB UP PB BB BBM
berpengaruh nyata pada taraf 5%; **berpengaruh sangat nyata pada taraf 1%; JD: jumlah daun; TT: tinggi tanaman; DB: diameter batang; UB: umur berbunga; UP: umur panen; PB: periode pengisian biji; BB: bobot biomassa; BBM: bobot biji per malai.
Tabel 8 Korelasi antar karakter komponen hasil galur-galur harapan sorgum di tanah masam, Jasinga
berpengaruh nyata pada taraf 5%; **berpengaruh sangat nyata pada taraf 1%; PM: panjang malai; BSB: bobot 1000 butir; BBM: bobot biji per malai.
22
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Terdapat keragaan yang berbeda nyata pada karakter jumlah daun, umur berbunga, panjang malai dan bobot 1000 butir diantara galur sorgum di tanah masam Jasinga. Karakter jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang berkorelasi positif terhadap bobot biomassa. Karakter tinggi tanaman, diameter batang, bobot biomassa dan bobot 1000 butir berkorelasi positif terhadap bobot biji per malai. Galur-galur harapan sorgum yang ditanam di tanah masam Jasinga memiliki bobot biji per malai setara dengan kedua pembanding. Galur harapan sorgum yang memiliki potensi hasil lebih baik dari varietas UPCA S1 dengan kisaran antara 3–4 ton ha-1 adalah N/UP-4-3, N/UP-82-3, N/UP-118-7, N/UP-124-7, N/UP-139-1 dan N/UP-139-5. Keenam galur tersebut berpotensi untuk dikembangkan di tanah masam dengan tujuan produksi biji.
Saran
Perlu dilakukan karakterisi terhadap galur-galur harapan sorgum toleran tanah masam. Data karakterisasi tersebut dapat digunakan untuk pelepasan varietas. Selain itu, perlu dilakukan kajian tentang hama penyakit sorgum untuk mengatasi hama penyakit sorgum di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Acquaah G. 2007. Principles of Plant Genetics and Breeding. Australia (AU): Blackwell Publishing.
Agustina K. 2011. Fisiologi adaptasi sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) terhadap toksisitas aluminium dan defisiensi fosfor di tanah masam [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Agustina K, Sopandie D, Trikoesoemaningtyas, Wirnas D. 2010a. Uji daya adaptasi sorgum pada lahan kering masam terhadap toksisitas aluminium dan defisiensi fosfor (Sorghum bicolor L. Moench). Prosiding Pekan Serealia Nasional [Internet]. [diunduh 8 Des 2013]. Tersedia pada: http://balitsereal.litbang.deptan.go.id /ind/images/stories/07.pdf
Agustina K, Sopandie D, Trikoesoemaningtyas, Wirnas D. 2010b. Tanggap fisiologi akar sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) terhadap cekaman aluminium dan defisiensi fosfor di dalam rhizotron. J.Agron. Indonesia. 32(2):88-94.
Baligar VC, Schaffert RE, Dos Santos HL, Pitta GVE, De AF, Filho CB. 1993. Soil aluminium effects on uptake, influx, and transport of nutrients in sorghum genotypes. Plant and Soil. 150:271-277.
23 [BALITTANAH] Balai Penelitian Tanah. 2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman,
Air dan Pupuk. Bogor (ID): Balai Penelitian Tanah.
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisiska. 2013. Data Iklim. Bogor (ID): BMKG.
[BPPI] Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia. 2010. Pengapuran tanah masam untuk jagung dan kedelai [Internet]. [25 Nov 2013]. Tersedia pada: http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10040.pdf
[BALITSEREAL] Balai Penelitian Tanaman Sereal. 2011a. Deskripsi varietas Numbu. Database Varietas Sorgum [Internet]. [2013 Okt 27]. Maros. Tersedia pada: http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/index.php? option=com_ content&view=article&id=117:numbu-sorgum&catid=47: database-gand um-dan-sorgum.
[BALITSEREAL] Balai Penelitian Tanaman Sereal. 2011b. Deskripsi varietas UPCA S1. Database Varietas Sorgum [Internet]. [2013 Okt 27]. Maros. Tersedia pada: http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/index.php? option=com_ content&view=article&id=245:upca-s1-sorgum&catid=47: database-gand um-dan-sorgum.
Butchee K, Arnall DB, Sutradhar A, Godsey C, Zhang H, Penn C. 2012. Determining critical soil pH for grain sorghum production. International Journal or Agriculture. 2012:1-6.10.1155/2012/130254
Claflin LE. 2000. Compendium of Sorghum Diseases. Second Edition. Frederiksen RA and Odvody GN, editor. United States of America (US): APS Press.
[DEPTAN] Departemen Pertanian. 1990. Teknologi Budidaya Sorgum. Jayapura (ID): Deptan.
Duodu KG, Taylor JRN, Belton PS, Hamaker BR. 2003. Factors affecting sorghum protein digestibility. Journal of Cereal Science. 38:117-131. Gandhi EL. 2012. Uji daya hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di kebun
percobaan Leuwikopo, Dramaga, Bogor, Jawa Barat [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Gerik T, Beab B, Vanderlip R. 2003. Sorghum growth and development. [Internet]. [1 Jan 2014]. Tersedia pada: http://repository.tamu.edu /bitstream/handle/1969.1/87184/pdf_1724.pdf?sequence=1.
Gomez KA dan A Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian. Edisi kedua. Sjamsuddin E dan Baharsjah JS, penerjemah. Jakarta (ID): UI Press. Terjemahan dari: Statistical Procedures for Agricultural Research. House LR. 1985. A Guide to Sorghum Breeding. Second edition. India (IN):
ICRISAT.
Human S. 2007. Perbaikan sifat agronomi dan kualitas sorgum sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan industri melalui pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi. Di dalam: Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, editor. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian yang Dibiayai oleh Hibah Kompetitif; 2007 Agustus 1–2; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hlm 226–223. Isnaini. 2010. Studi pewarisan sifat toleransi alumunium tanaman sorgum manis
24
Makarim AK. 2005. Cekaman abiotik utama dalam peningkatan produktivitas tanaman. Seminar Nasional Pemanfaatan Bioteknologi untuk Mengatasi Cekaman Abiotik pada Tanaman [Internet]. [diunduh 8 Des 2013]. Tersedia pada: http://biogen.litbang.deptan.go.id/terbitan/pdf/prosiding 2006_1-11.pdf
Makmur A. 1992. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta (ID): PT. Rineka Cipta. Mulyani A, Rachman A, Dairah A. 2004. Penyebaran lahan masam, potensi dan
ketersediaannya untuk pengembangan pertanian. Balittanah [Internet]. [diunduh 2013 Okt 25]. Tersedia pada: http://balittanah.litbang. deptan.go.id/dokumentasi /buku/fosfatalam/anny_mulyani.pdf
Mutiah Z. 2013. Uji daya hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di tanah masam, Jasinga [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Natsir M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta (ID): Departemen Pendidikan Nasional.
Pabendon MB, Mas’ud S, Sarungallon RS, Nur A. 2012. Penampilan fenotipik dan stabilitas sorgum manis untuk bahan baku bioetanol. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 31(1):60-69.
Plessis JD. 2008. Sorghum Production. South Africa (tZA): Departemen of Agriculture.
Poehlman JM. 1959. Breeding Field Crops. New York (US): Henry Holt and Company, Inc.
Purnomohadi M. 2006. Potensi penggunaan beberapa varietas sorgum manis (Sorghum bicolor (L.) Moench) sebagai tanaman pakan. Berk. Penel. Hayati. 12:41-44
Puspitasari W. 2011. Pendugaan parameter genetik dan seleksi karakter agronomi dan kualitas sorgum di lahan masam [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Samac DA dan Tesfaye M. 2003. Plant improvement for tolerance to aluminum in acid soils. Plant Cell, Tissue and Organ Culture. 75(3):189-207. doi: 10.1023/A:1025843829545
Sirappa MP. 2003. Prospek pengembangan sorgum di Indonesia sebagai komoditas alternatif untuk pangan, pakan dan industri. Jurnal Litbang Pertanian. 22(4):133-140.
Sitanggang PA. 2013. Keragaan galur sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di tanah Lampung Selatan [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Sungkono, Trikoesoemaningtyas, Wirnas D, Sopandie D. 2009. Pendugaan
parameter genetik dan seleksi galur mutan sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) di Tanah Masam. J. Agron. Indonesia 37(3):220-225.
Syukur M, Sujiprihati S, Yunianti R. 2012. Teknik Pemuliaan Tanaman. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Zaifnejad M, Clark RB, Sullivan CY. 1997. Aluminum and water stress effects on growth and proline of sorghum. J. Plant Physiology. 150(3):338-344. Zheng SJ. 2010. Crop production on acidic soils: overcoming aluminium toxicity
25
26
Lampiran 1 Daya tumbuh sorgum di tanah masam Jasinga
Galur Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3
27 Lampiran 3 Sifat kimia analisis tanah 2 pada lokasi penelitian (Laboratorium Tanah, Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian 2013)
Lampiran 4 Kriteria penilaian hasil analisis tanah (Balai Penelitian Tanah 2005)
Parameter tanah
Nilai Sangat
rendah
28
Lampiran 5 Data iklim Desa Cikopomayak, Jasinga 2013 (BMKG 2013) Bulan Temperatur
(oC)
Kelembaban rata-rata (%)
Curah hujan HH (hari) RR (mm)
Maret 26.18 83.67 17 206
April 26.45 85.36 20 308
Mei 26.27 85.41 12 213
Juni 26.32 82.50 10 127
Rata-rata 26.31 84.24 14.75 213.5
Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor Elevasi : 207 m
Lokasi : 06.31 LS : 106.45 BT Keterangan
29 Lampiran 6 Kondisi pertumbuhan sorgum di tanah masam Jasinga
Galur Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3
N/UP-4-3 Sedang Baik Sedang
N/UP-4-8 Baik Baik Sedang
N/UP-17-10 Baik Sedang Baik
N/UP-32-8 Kurang baik Sedang Baik
N/UP-39-10 Baik Baik Sedang
N/UP-48-2 Baik Baik Kurang baik
N/UP-82-3 Baik Baik Baik
N/UP-89-3 Baik Baik Sedang
N/UP-118-3 Sedang Sedang Sedang
N/UP-118-7 Baik Sedang Baik
N/UP-124-7 Baik Baik Sedang
N/UP-139-1 Baik Baik Sedang
N/UP-139-5 Baik Baik Sedang
N/UP-151-3 Sedang Sedang Sedang
N/UP-156-8 Baik Sedang Sedang
N/UP-159-9 Sedang Sedang Sedang
N/UP-166-6 Baik Baik Baik
NUMBU Baik Baik Sedang
UPCA S1 Baik Baik Baik
30
Lampiran 7 Deskripsi varietas Numbu (Balitsereal 2011a)
Tahun pelepasan : 2001
Asal : India
Umur berbunga 50% : ± 69 hari Umur panen : ± 100-105 hari Sifat tanaman : tidak beranak Tinggi tanaman : 187 cm Bentuk daun : pita Jumlah daun : 14 lembar Kedudukan tangkai : di pucuk
Sifat malai : kompak
Bentuk malai : elips Panjang malai : 22-23 cm
Sifat sekam : menutup sepertiga bagian biji Warna sekam : coklat muda
Warna biji : krem
Sifat biji : bentuk bulat lonjong, mudah rontok Ukuran biji : 4.2; 4.8; 4.4 mm
Bobot 1 000 butir : 36-37 gram Hasil rata-rata : 3.11 ton ha-1 Potensi hasil : 4.0-5.0 ton ha-1
Kerebahan : tahan rebah
Ketahanan : tahan hama aphis, tahan penyakit karat dan bercak daun
Kadar protein : 9.12% Kadar lemak : 3.94% Kadar karbohidrat : 84.58%
31 Lampiran 8 Deskripsi varietas UPCA S1 (Balitsereal 2011b)
Tahun pelepasan : 1985
Asal : Filipina
Umur berbunga 50% : ± 55-69 hari Umur panen : ± 90-100 hari Sifat tanaman : tidak beranak Tinggi tanaman : 140-160 cm
Tipe tanaman : tidak beranak, tidak bercabang, berbatang kokoh Warna daun : hijau merah
Jumlah daun : 13-15 lembar Panjang daun : 50-70 cm
Lebar daun : 7-9 cm
Tipe malai : setengah kompak, tegak, berbentuk elips Bentuk malai : elips
Panjang malai : 20-22 cm
Sifat sekam : menutup sepertiga bagian biji, berbulu halus
Warna sekam : hitam Warna biji : putih kapur
Sifat biji : mudah dirontok dan disosoh Jumlah biji per malai : ± 3 000 butir
Bobot 100 butir : 2.4 gram Bobot biji per malai : ± 40 gram Hasil rata-rata : ± 4.0 ton ha-1 Kadar protein : 9.06% Kadar phosphor : 0.11%
Kadar lemak : 5.7%
Kadar karbohidrat : 66.5% Kadar kalsium : 0.091% Kadar magnesium : 0.205%
Kadar tanin : 0.215%
32
Lampiran 9 Layout Percobaan
4-3 139-1 17-10 42-8 N 159-9 39-10 139-5 118-3 32-8 U 166-6 118-7 4-8 124-7 89-3 151-3 156-8 82-3
U 2
32-8 139-5 159-9 4-8 4-3 151-3 166-6 17-10 118-7 U 39-10 82-3 124-7 118-3 N 42-8 156-8 139-1 89-3
U 3
82-3 156-8 89-3 151-3 39-10 166-6 118-3 42-8 N 4-8 124-7 139-5 159-9 17-10 139-1 32-8 118-7 4-3 U
U 1
T
B
2.8 m 3 m
1 m 1 m
62.2 m
Lampiran 10 Analisis korelasi
Karakter JD TT DB UB UP PB BB PM BSB BBM
JD 1.00
TT 0.17 1.00 0.4780
DB 0.81** 0.34 1.00 <.0001 0.1492
UB 0.18 -0.40 -0.04 1.00
0.4418 0.0835 0.8634
UP -0.05 -0.41 -0.20 0.73** 1.00 0.8168 0.0774 0.4040 0.0003
PB -0.34 0.08 -0.18 -0.55 0.15 1.00
0.1509 0.7266 0.4433 0.0131 0.5299
BB 0.75** 0.61** 0.89** -0.17 -0.37 -0.20 1.00 0.0002 0.0051 <.0001 0.4650 0.1109 0.4067
PM -0.03 0.27 -0.05 -0.01 -0.19 -0.21 0.16 1.00
0.8948 0.2531 0.8313 0.9415 0.4171 0.3756 0.5028
BSB 0.22 0.28 0.47 -0.04 -0.03 0.02 0.46 -0.17 1.00
0.3510 0.2415 0.0383 0.8391 0.8776 0.9154 0.0449 0.4615
BBM 0.29 0.65** 0.57** -0.21 -0.35 -0.12 0.76** 0.14 0.56* 1.00 0.2270 0.0023 0.0096 0.3701 0.1327 0.6240 0.0001 0.5411 0.0124
a*
berpengaruh nyata pada taraf 5%; **berpengaruh sangat nyata pada taraf 1%; JD: jumlah daun; TT: tinggi tanaman; DB: diameter batang; UB: umur berbunga; UP: umur panen; PB: periode pengisian biji; BB: bobot biomassa; PM: panjang malai; BSB: bobot 1000 butir; BBM: bobot biji per malai.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Gresik pada tanggal 19 November 1991 dari ayah Afifurrohman dan Ibu Mufatiroh. Penulis adalah putri pertama dari empat bersaudara. Tahun 2009 penulis lulus dari MA. YKUI Maskumambang dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) jalur Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dan diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten praktikum Pengantar Agama Islam pada tahun ajaran 2011/2012 dan 2012/2013, asisten Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman pada tahun ajaran 2012/2013. Penulis juga aktif sebagai sekertaris CSS MoRA IPB, staff departemen pengajaran Qur’an LDK Al-Hurriyyah, koordinator putri BBQ Asrama Putri TPB IPB, sekretaris Forum Komunikasi Rohis Departemen Faperta, dan Anggota KAMMI Komisariat IPB. Penulis juga pernah mewakili IPB dalam lomba MTQMN cabang MKTIA di Makassar dan mendapat juara harapan 1. Penulis pernah mengikuti program kreativitas mahasiswa gagasan tertulis (PKM-GT) dan didanai.