• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah pertumbuhan pers islam indonesia : studi kasus panji masyarakat pada masa kepemimpinan Prof.Dr.Hamka (1959-1981)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sejarah pertumbuhan pers islam indonesia : studi kasus panji masyarakat pada masa kepemimpinan Prof.Dr.Hamka (1959-1981)"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH PERTUMBUHAN PERS ISLAM INDONESIA

STUDI KASUS PANJI MASYARAKAT PADA MASA KEPEMIMPINAN PROF. DR. HAMKA (1959-1981)

Oleh:

Aprini Erlina

NIJ\1: 102022024355

JURUSAN SEJARAH PE.RADABAN ISLAM

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

SKRIP SI

Diajukau Kepada Fakultas Adab dan Humaniora Untuk Mememihi Syarat-syarat Mencapai

Gelar Sarjana Humaniora

Oleh: Aprini Erliua NIM.102022024355

Dibawah Bimbingan:

Dr:.

セ、ゥョ@

AR, M. Ag NIR 150 734 507

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UIN SYARIF HIDAY ATULLAH

JAKARTA

(3)

PENGESAHAN PANITJA UJJAN

Skripsi yang berjudul: SEJARAH PERTUMBUHAN PERS ISLAM INDONESIA

STUD! KASUS PANJI MASYARAKAT PADA MASA KEPEM!MPINAN HAMKA

(1959-1981) telah diujikan dalam sidang Mrn1aqosah Fakultas Adab dan Humaniora

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 20 November 2006. Skripsi ini diterima

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S l) pada Jurusan

Sejarah Peradaban Islam.

Ketua Sidang

NIP. 150 236 276

Penguji

r. H. Budi Snlistiono, M. Hrnn NIP. 150 236 276

Jakarta, 20 November 2006

Sidang Munaqosa11

Anggota

Sekretaris Sidang

l

A A

Af/ /'

セャ」セカイMO@

Ors. H. M. !Vla'rufMisbah, MA NIP. 150 247 010

iroiuddin AR,M.Ag

(4)

sセLイゥーウゥ@

ini ftupersem6alifi.g,n untuf<..:

1.

1{/aua ora11f} tuaftu tersaya11f} tfan tercinta ya11f} 6etjasa

ュ・ヲ。ャゥゥセョOエオ@

セ@

aunia tfan ya11fj 6etjasa mentfwt{ftu seja{

セ」ゥヲ@

serta ya11f} senantiasa menanti

セウオセ・ウ。ョOw@

2. 'XftR.!i/&R.!zfta{tfan)lat{{u tercinta ya11f} tefali. menantiR.!in

R.f.prali.{u 6a9i

セサオ。イY。L@

ya11fj sefa{u mem6eri/i.gn tfu{ungan

tfan perli.atian

3.

Se{uruli. salia6at-salia6at S<PI yang penuli. {enangan, R.!zt:ian

atfafali. cerita li.Ulupftu tfan aR.!znJtu {ena11fi sefa[u.

4.

%man-teman qoUen :Jfouse ya11f} sefafu menemani R.!ifa

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayal1-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Skripsi ini be1judul "Sejarah Pertumbuhan Pers Islam Indonesia Studi Kasus Panji Masyarakat pada Masa Kepemimpinan Prof. Dr. Hamka

(1959-1981)", disusun untuk melengkapi syarat-syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (SI) pada Fakultas Adab dan Hwnaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa karya ini bukanlah suatu usaha yang sempurna, namun mempakan usaha maksimal yang penulis bisa capai untuk saat ini. Penulisan skripsi ini juga tidak akan terwujud dengan baik tanpa adanya dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar·besarnya kepada:

I. Bapak Prof. Dr. Abd. Chair, MA Dekan Fakultas Adab dan Hwnaniora UIN Syarif Hidayatullah.

2. Bapak Ors. H. Budi Sulistiono, M Hum Ketua Jumsan Sejaral1 Peradaban Islam, yang selalu memberikan motivasi dalarn menyelesaikan skripsi ini. 3. Bapak Ors. H. M. Ma'mf Misbach, MA Sekretaris Jumsan Sejarah Peradaban

(6)

keluarga besar Forkalis (Forum Komunikasi Wali Songo) clan LS-ADI (Lingkar Studi Aksi-Demokrasi untuk Indonesia) yang telah mernberikan

banyak pelajaran yang berarti untuk Penulis.

12. Semua pihak yang telah memberikan dukungan baik moral maupun materil

dalam rnenyelesaikan skripsi ini.

Akhimya hanya kepada Allah jualah semua 1m Penulis serahkan, semoga

semua pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini

mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah S.W.T, dan semoga skripsi ini dapat

memberikan manfaat bagi Penulis kl1ususnya clan bagi pembaca umumnya.

l 0 November 2006

(7)

DAFTARISI

HALAMAN PERSEMBAHAN ... .

KATA PEN GANT AR... ii

DAFT AR ISi.... ... ... ... ... ... ... iii

BAB I BAB II. BAB Ill. PENDAHULUAN ... . 1

A. Latar Belakang Masalah ... . B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

D. Metocle Penelitian dan Penulisan ... 7

E. Sistematika Penulisan ... 8

SEJARAH PERS ISLAM INDONESIA ... . 10

A. Definisi Pers Islam... 10

B. Latar Belakang Kelahiran Pers Islam Indonesia ... 12

C. Pers Islam; Pers Nasional Masa Pergerakan Kebangsaan clan Pers Islam Masa Kemerclekaan ... 15

BIOGRAFI HAMKA ... .. A. Latar Belakang Keluarga clan Penclidikan ... .

26

26

B. Latar Belakang Sosial dan Intelektual... 29
(8)

B. Rubrik dan Artikel ... 38

C. Masalah yang Dihadapi Panji Masyarakat ... 40

D. Panji Masyarakat dan Gerakan Modernisasi Indonesia... 42

BAB V. PENUTUP ... .

47

Kesimpulan ···-···-···-···· 47

(9)

BABI

PENDAHULUAN

A, Latar Belakang Masalah

Dewasa ini infonnasi merupakan komoditas primer yang dibutuhkan orang seiring dengan semakin canggihnya telmologi komunikasi sehingga lazim dikatakan, peradaban pada masa ini merupakan peradaban masyarakat infonnasi. Memang telah meajadi pendapat umum, siapa yang menguasai infomll!si dialah penguasa masa depan. Pada dasamya komm1ikasi merupakan eksistensi awal suatu masyarakat dan sekaligus menentukan pula struktur masyarakat itu. Memang t11juan utanra dalam komunikasi antara manusia ialah tercapai pengertian yang luas dan mendalam.1

Tanpa komunikasi mustahil bagi seseorang dapat memperoleh infonnasi. Tentu dalaru pengablikasiannya, infonnasi memerlukan suatu media penunjang. Salah satu media infonnasi yang tennasuk kategori paling efektif untuk mengadakan perubahan atau mempertahankan intitusi, juga sistem sosial adalah Pers.2 Ensiklopedi Pers Indonesia menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan Pers secara lllllnm adalal1 sebuaI1 sebutan bagi penerbitan, Perusaliaan atau kalangan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan.

1

D. Lawrence Kincaid dan Wilburscran1n1, Asas-asas Ko11n111ikasi antar Manusia, (Jakarta:

LP3ES, 1977), ha!. 6

(10)

Dalam perkembangannya istilah ini diberi pengertian dengan penerbitan Pers.

Bahkan pengertiannya, dalam arti yang sempit yaitu media cetak seperti swat kabar,

majalah tabloid

dan dalarn

arti luas adalah kegiatan yang berlmbllllgan dengan media

massa elektronik antara lain radio siaran dan televisi siaran,

dan

tennasnk internet

sebagai media yang menyiarkan karya jumalistik. 3

Fungsi Pers itu sendiri adalah : fungsi menyiarkan infonnasi, fungsi mendidik,

fungsi menghibur, fungsi mempengaruhi.4 Dilihat dari fungsinya temyata pers cukup

efektif untuk mensosialisasikan suatu gagasan dan ide tertentu. Gagasan politik,

sosial, maupun gagasan keagamaan.

Pers pun dianggap telah menggeser bahkan merubah pola komunikasi

tradisional (lisan) menjadi tertulis dalarn bentuk surat kabar dan majalah. Di samping

itu media cetak telah menampilkan sistem komw1ikasi terbuka, siapa saja dapat

membacanya, sehingga aliran infonnasi bisa meningkat intensitasnya, meski saluran

itu lebih bersifut satu arah, tetapi mempunyai potensi membangkitkan kesadaran

kolektif.5

Dengan demikian penggunaan media massa sebagai media yang dapat

memberikan pengaruh bagi pembacanya, pada akhimya digunakan sebagai keknatan

politik, keagamaan sebagai sarana untuk mengaktualisasikan ide-ide dan

koudisi-kondisi yang ingin dicapainya.

3 Ensiklopedi Pers Indonesia, (Jakarta, Gramedia, 1999), hal. 206

4

http://ibnusalam.tripod.com, tanggal 20 April 2006

(11)

3

Sebetulnya sudah abad ke-19 M, media cetak seperti surat kabar atau majalah merupakan bahan dokumenter yang sangat berharga, karena sebagai sumber informasi, surat kabar tidak hanya memuat data yang menunjukkan fukta suatu peristiwa tetapi juga membuat opini, interprestasi dan pikiran-pikiran spekulatif. Dari fungsi-fimgsi yang berakhir inilah surat kabar tidak hanya sebagai penyebar informasi tetapi menjadi medium yang baik lll!tuk meletakkan pengarnh pada publik atau pembaca.6

Dari fimgsi di atas, pers akan mampu menampilkan suatu pemikiran dan wacana yang berkembang pada suatu masa tertentu, kemunculan suatu gagasan sampru hancumya gagasan itu. Pers telah menjadi sumber sejarah yang dapat direkontrnksi, demikian halnya dengan pers Islrun. Pers Islrun muncul seiring dengan menguatnya semangat Nasionalisme. Para perintis Pers Islam Indonesia, pada awalnya tmnbuh sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam penerbitan-penerbitan milik Belanda. Proses ini dimulai sejak munculnya kebijakan politik etis, suatu politik balas budi yru1g ditawarkan oleh kelompok etis di Kerajaan Belanda.7

Kemunculan pers Islam dimulai pada awal abad ke-20, bersamaan dengru1 lahir dan menyebamya ide-ide reformasi yang berkembru1g di Tinlur Tengah, terutama dari Mesir. Ide-ide tentang refonnasi itu setidaknya menyebar melalui dua majalah terkemuka Mesir, Al-Urwatul Wutsqo dan Al-Manar. Penyebaran ide ini

6 Sartono Kartodirdjo, Pen1ildran dan Perke111bangan Historiografi Indonesia: Suatu

Altemat(f, (Jakarta: Gramedia, 1982), hal. 75

7

SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar), Garis-garis Besar Perkemhangan Pers lndanesia,

(12)

begitu luas, hingga ke Jawa,

clan

melahirkan gerakan Jami'at Khair. Para anggota organisasi ini kemudian menyebar dan mendirikan organisasinya sendiri, seperti KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah. Selain Muhammadiyah, berdiri pula beberapa perkumpulan lain seperti Sarekat Oagang !slam, Persatuan !slam. Organisasi-organisasi ini membangun iklim diskusi bagi pemikiran Islam mutakhir. Dalam skala yang lebih luas, ini memunculkan kebutuhan akan pers Islam.8

Dalam ensiklopedi pers Indonesia, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pers Islam adalah penerbitan yang bemafaskan atau melakukan syiar Islam dan dalam artian juga pers Islam merupakan orang-orang Islam yang terjun ke dalam bidang perusahaan pers, yang memperjuangkan cita-cita !slam agar dapat dilaksanakan. Pers Islam, sebagai bagian dari pers pribumi yang bertujuan menyebarkan semangat kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan, awalnya tampak sebagai media "partisan", karena kecenderungan untuk menyebarkan ideologi kelompok penerbitnya. Media yang tercatat sebagai pers Islam pertama adalah majalah Al-Afunir (1911), terbit di Padang, dan dikelola oleh para ulama muda Sumatra Barat. Setelahnya, kebanyakan pers Islam muncul sebagai bagian dari organisasi Islam, misalnya Sarekat Islam (SI) Surakarta menerbitkan Sarotama (19 l 4 ), ST Semarang menerbitkan Sinar .!awa

(1914), SI Banjannasin menerbitkan Persatoean (1930), SI Bandung menerbitkan

Simpai (1916), SI Palembang menerbilkan Teroqjo (1919), Muhanunadiyah Solo menerbitkan Adil (1932), Muhanunadiyah Semarang menerbitkan Swara Islam

(13)

5

(1931),

clan

NU menerbitkan Swara Nadhatul Ulama (1928). Keberadaan pers Islam

menjadi mitra bagi pers umum. Proses tumbuh dan berkembangnya, serta kendala

yang dihadapinya, boleh jadi

tak

jauh berbeda dengan pers umwn. Kalaupw1 ada

yang berbeda, itu lebih pada substansi media pers Islam. 9

Dan pada tahun 1959, di saat pers fslam masih menjadi pers partisan, Hamka

bersama beberapa tokoh fslam lainnya menerbitkan sebuah majalah Islam yang

independen. Artinya tidak bemaung di bawah organisasi Islam tertentu, yaitu Panji

Masyarakat (Panjimas). Majalah yang telal1 memposisikan dirinya sebagai corong

dari gerakan pembaharuan di Indonesia. Yang ingin membawa semacam gerakan

pencerahan terhadap umat Islam klmsusnya dan bangsa Indonesia pada umumnya,

mencoba membentengi umat Islam dari paham-paham materialisme dan komunisme

dengan konsepsi Islam modem dan berdiri bersama ulama-ulama modemis, dan juga

Reformasi

clan

Modemisasi. Gagasan pembaharuannya adalah kembali kepada

Al-Qur'an dan Hadits. Yang pada masanya memiliki peredaran yang luas di selurnh

Indonesia. 10

Di sinilah ketertarikan Penulis untuk mengkaji Sejarah Pettwnbuhan Pers

Islam Indonesia, beffi!aksud untuk meneliti pertwnbuhan Panji Masyarakat pada

masa kepemimpinan Hamka sebagai bagian dari Pers Islam Indonesia yang sangat

9 ]bid

JO Subhan Afifi, Segn1e11tasi Religius dala111 Pasar Media: Studi tentang segn1e11tasi Pers

(14)

berkembang pada masanya. Posisi dan perannya sebagai pembawa misi amar makruf

nahi munkar diakui oleh Indonesia.

B. Pembatasan dan Peromusan Masalah

Topik tulisan ini mengenai Sejarah Pertumbuhan Pers Islam Indonesia

merupakan pembahasan yang masih sangat umum dan luas sekali. Penulis mencoba

mengidentifikasi beberapa masalah terkait dengan topik tersebut diantaranya adalah:

I. Pers Islam, Sejarah dan Pertumbuhannya di Indonesia

2. Biografi Hamka

3. Sejarah Panji Masyarakat

4. Masalah-masalah yang dihadapi Panji Masyarakat

Dari identifikasi di atas, penulis akan membatasi penelitian ini pada Sejarah Pertumbuhan Pers Islam Indonesia Studi kasus Panji Masyarakat pada masa

Kepemimpinan Harnka. Maka dari pernbatasan rnasalah tersebut akan dibuat

perumusan rnasalah, yaitu: Bagairnana Perturnbuhan Panji Aiasyarakat pada rnasa

kepemimpinan Hanlk:a sebagai Pers Islam Indonesia?

C.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

AdapUII tujuan penelitian mengenai Sejarah Pertumbuhan Pers Islam

Indonesia adalah tmtuk mengetahui Pertwnbuhan Panji Masyarakat pada masa

(15)

7

penelitian ini juga bertujuan untuk menambah khazanah pengetahuan,

dan

riset lebih lanjut mengenai Pers Islam Indonesia.

Sedangkan manfaat dari penelitian

ini

adalah:

1. Untuk menambah bahan pustaka mengenai Sejarah Pertmnbuhan pers Islam Indonesia

2. Menambah wawasan mengenai Petumbuhan Panji Masyarakat Pada Masa Kepemimpinan Hamka

D. Metode Penelitian dan Penulisan

Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan historis, dengan tahap-tahap sebagai berikut

(16)

Jakarta, tanggal 20 September 2006 yang sangat berkaitan dengan judul ini, dan wawancara ini merupakan sumber primer.

2. Analisa data, setela11 dilakukan klasifikasi data penulis melakukan analisa dengan menggunakan Pendekatan Sejaral1. Pendekatan sejaral1 ini lebih menekankan pada sejarah pertumbuhan Panji Masyarakat Pada masa kepemimpinan Hamka.

Teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada buku Pedoman Penu/isan Skripsi, Tesis dan Disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Press, Jakarta: 2002.

E. Sistematika Penulisan

Untuk lebih terarahnya pembal1asan pada penulisan ini, penulis membuat sistematika sesuai dengan masing-masing bab.

Adapun sistematika penyusunan sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, berisi tentang Latar Belakang Masalah, Pembatasan

dan

Pemmusan Masalal1, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
(17)

BABII

SEJARAH PERS ISLAM INDONESIA

A. Definisi Pers Islam

Ensiklopedi pers fndonesia menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan pers secara umum adalah sebutan bagi penerbitan perusahaan )"dllg berkaitan dengan media massa atau wartawan. Sebutan ini berawal dari cara bekerjanya media cetak yang menekankan huruf-huruf di atas kertas yang akan dicetak. Dengan demikian segala barang yang dikerjakan dengan media cetak disebut pers. Pengertiannya terdiri

dari

dua ha! yaitu sempit yaitu media cetak seperti surat kabar, majalah tabloid, dan

dalam arti luas meliputi semua cetakan yang dih1jukan untuk umum atau disebut juga kegiatan yang berhubungan dengan media massa elektronik anta.ra lain radio siaran dan televisi siaran, dan termasuk internet sebagai media yang menyiarka.n ka.rya juma.listik. 1

Buktt, majalah, surat kabar, dan tabloid tennasuk dalam kategori media cetak umwn yang mengala.mi perkembangan yang pesat. tidak ha.nya menjadi media infonnasi tetapi juga telah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Pada awalnya memang pers lebih menitik beratkan pada unsur ceta.k-mencetak, namUll dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan perkembangan teknologi media umum

1

(18)

telah mampu memanfaatkan teknik penyiaran yang cuknp efektif, cepat,

dan

lebih Iuas jangkauannya.

Tapi pers seperti apakah yang dirujuk ketika berbicara tentang pers Islam? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Litbang Republika

dan

The aセゥ。@ Foundation tentang Islam and Civil Society, dengan tema khusus "Pers Islam dan Negara Orde Barn'', mendefmisikan pers Islam sebagai: "Pers yang dalam kegiatan jumalistiknya melayani kepentingan umat Islam, baik yang berupa materi (misalnya kepentingan politik) maupun nilai-nilai".2

Dalam ensiklopedi pers Indonesia dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pers Islam adalah penerbitan yang bernafaskan atan yang melakukan syiar Islam.3 Selain itu yang disebut pers Islam ialah orang-orang Islam yang terjun ke dalam bidang perusahaan pers, yang memperjuangkan cita-cita Islam agar dapat dilaksanakan. Sementara menurut Dedy Djamaluddin Malik (1989) Pers Islam adalal1 menerapkan kaidah jumalistik yang memiliki karateristik tertentu bila dibandingkan dengan jumalistik umum, sehingga lahirlah istilah jumalistik Islami. Jumalistik Islami yang dipraktekkan pers Islam digolongkan dalam Crnsade Journalism, yaitu jumalistik

yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, dalam ha! ini adalah nilai-nilai Islam.4

Pers Islam dalarn kajian ini dimaknakan sebagai pers yang dikelola oleh muslim dengan visi dan misi untuk mengembangkan Islam dengan isi yang relevan dengan

2 Alia Swastika, Media Massa Islam Indonesia, www.Kunci.co.id, 11 September 2006

3

Ibid., hal. 207

4

(19)

12

nilai-nilai keislaman, clan menjadikan pembaca muslim dan uon-muslim sebagai sasaran pasar. 5

Dalam defmisi di atas, penambal1a.11 kata Islam lebih menunjukkan kepada misi

dan muatan yang dibawa oleh suatu penerbitan. Dalam pers Islam ajaran-ajaran Islam menjadi patokan bagi insan pers yang ada di dalamnya. Di lihat dari obyeknya pers

Islam ditujukan khusus untuk kalangan Islam, sementara diiihat dari subyek (pelaku,

pemilik modal) adalah juga orang-orang Islam. Beberapa contoh penerbitan Islam,

antara lain majalah Suara Pembaharuan milik organisasi pendidikan dan dakwah Muhammadiyah, Sabili, dan lain-lain.

B. Latar Belakang Kelahiran Pers Islam Indonesia

Kenumculan pers Islam di Indonesia dimulai pada awal abad ke-20, bersamaan

dengan lahir dan menyebarnya ide-ide reformasi yang berkembang di Timur Tengah, terutama dari Mesir. Ide-ide tentang reformasi itu setidaknya menyebar melalui dua

majalah terkemuka, Al-Urwatul Wutsqo dan Al-Manar yang bukan saja mendapatkan

perhatian Muslimin dari berbagai benua, tapi juga dari tokoh-tokoh bangsa Eropa

yang terkemuka

Penyebaran ide ini begitu luas, hingga ke Jawa, dan melal1irkan gerakan Jami'at

Khair. Para anggota organisasi ini kemudian menyebar dan mendirikan organisasinya sendiri, seperti KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyal1. Selain

(20)

Muhammadiyah, berdiri pula beberapa perkumpulan lain seperti Sarekat Dagang Islam, Persatuan Islam. Organisasi-organisasi ini membangun iklim diskusi bagi pemikiran Islam mutakhir. Dalam skala yang lebih luas, ini memw1culkan kebutul1an akan pers Islam

Pers Islam, sebagai bagian dari pers pribumi yang bertujuan menyebarkan semangat kebangsaan

dan

cita-cita kemerdekaan, awalnya tampak sebagai media "partisan", karena kecendernngan untuk menyebarkan ideologi kelompok penerbitnya. Media yang tercatat sebagai pers Islam pertama di Indonesia adalah majalah Al-Munir (1911), terbit di Padang, dan dikelola ol.eh para ulama muda Sumatra Barat. Setelalmya, kebanyakan pers Islam muncul sebagai bagian dari organisasi Islam, misalnya Sarekat Islam (SI) Surakarta menerbitkan Sarotama

(1914), SI Semarang menerbitkan Sinar Jawa (1914}, SJ Banjarmasin menerbitkan

Persatoean (1930), SI Bandung menerbitkan Simpai (1916), SI Palembang menerbitkan Terodjo (1919), Muhammadiyah Solo menerbitkan Adil (1932), Muhammadiyal1 Semarang menerbitkan Swara ANセャ。ュ@ (193 l}, dan NU menerbitkan

Swara Nadhatul Ulama (1928). Selain mewartakan ajaran Islam, Pembela Islam bersama Medan Muslimin bersikap keras menentang Pemerintah Kolonia!. Biasanya, mereka menggunakan dalil-dalil Islam sebagai dasar untuk menunjuk kejahatan yang dilakukan Pemerintah Kolonial.6

6

(21)

14

Yang dimaksud dengan insan pers di sini

adalah

mereka yang paling terlibat

dalam kegiatan intelektual: para jumalis atau wartawan.7 Para perintis pers Islam

Indonesia, pada awalnya tnmbub sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam

penerbitan-penerbitan milik Belanda.

Perusahaan penerbitan pers

di

Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh orang-orang Belanda yang membuka usaha-usaha penerbitan pada pertengal1an abad 18.

nama penerbitan pertama adalall Bataviasche Nouvellees, terbit pada ta11un 1744 yang

dikelola oleh J.E. Jordens.8

Kebutuhan akan tenaga-tenaga profesional dan terlatil1 dibutuhkan pula dalam

bidang pers. Proses ini secara langsung tela11 menjadi sarana penting bagi para

penduduk pribumi untuk melatih diri dan mencari pengalaman dalam merintis dan

mengelola sebuah penerbitan. Temyata bagi kalangan pribrnni hal ini tidak

disia-siakan, para tokoh pergerakan terbukti adalah para pengelola penerbitan dan para

jurnalis yang handal untuk melakukan propaganda kebangsaan lewat bidang tersebut.

Di tahun 1924 sampai talmn 1930-an usaha penerbitan bemafoskan Islam semakin

merata di berbagai daeral1 seperti : di Jakarta terbit Pemandangan, di Solo ada harian

Adil, Islam Raya, dan As-Siasah. Di Surabaya terbit Soara Oemoem. Di Kalimantan

terbit Felita Islam (Banjannasin), di Bandung terbit Lajnah Bendera Islam. Pada

periode ini di Padang juga dikenal majala11 yang cukup berpengaruh yang diterbitkan

oleh haji karim Amrullall, ayahnda Buya Hamka : Al-Munir (1911 ).

1

Ibid

8

(22)

Di medan, tal1W1 I 934 juga terbit majalah Pedoman Masyarakat yang dipimpin

Hamka, dan Pedoman Islam yang dipimpin oleh Zaenal Abidin Ahmad. Majalah ini

memiliki peredaran yang Juas di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Singapw-a,

SemanjWlg Malaya (Malaysia), Kairo (Mesir) dan Mekkah (Arab Saudi).9

C.

Pers

Islam;

Pers Nasional masa Pergerakan Kebangsaan dan Pers Islam

masa Kemerdekaan

Masa pergerakan nasional merupakan titik sejarah paling penting bagi bangsa

Indonesia, karena masa itu mulai lahir kesadaran kebangsaan. Menurut Anderson,

suatu kebetulan yang aneh bahwa sejak dasawarsa I 920-an bahwa Indonesia telah

"mengada dengan penuh kesadaran diri". Selain itu yang berperan memupuk rasa

kete1ikatan ini adalah sekolah-sekolah yang dibangun oleh rezim penjajah di Batavia,

yang kian banyak jumlahnya sesudah pergantian abad. Secara ketat dan secara

struktural analog dengan birokrasi negara sendiri.10

Dari pendapat Anderson dapat disimpulkan bahwa media cetak telah ikut

melahirkan, menyebarkan dan membentuk bahasa Indonesia, bahasa nasional yang

meajadi unsur penting dalam gerakan kebangsaan.

Perkembangan penting Iainnya pada masa ini adalah lahimya

orgamsas1-organisasi kebangsaan yang modem. Organisasi ini tidak mengatasnamakan

primodialisme, tetapi lebih mengarah kepada semangat ke-Indonesiaan. Tercatat

9

Subhan Afifi, op. cit., hal. 35

10

(23)

16

dalam sejarah bahwa pelopor gerakan kebangsaan adalah Dr. Budi Utomo, Dr. Cipto

Mangunkusumo, Dr. Radjiman Wedjoyodiningrat dan Setia Budi.

Menyusul kemudian muncullah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang selanjutnya

berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang lahir pada l l Nopember 1912. Sarekat

Islam berkembang dengan luar biasa melebihi Budi Utomo. Ia tidak hanya memiliki

cabang di Jawa, tetapi hampir di seluruh kepulauan nusantara. Masa ini terntama

terjadi di masa kepemimpinan Cokroaminoto seorang pemimpin kharismatik dan

handal.

Dalam tahun 19 l 0-1940-an, SI banyak menerbitkan majalah maupun surat kabar.

Penerbitan itu antara lain Simpai terbit tahun 1916, oleh kaum muda Sarekat Islam

Bandung, Benih Merdeka yang dipimpin o!eh Muhammad Samin ketua SI cabang

Medan, al-Islam di Solo editomya adalah Cokroaminoto dan Haji Abdullah Ahmad

dari Padang. 11

Pada periode ini pun Muhammadiyah telah banyak mengeluarkan sendiri

penerbitannya, antara lain: Rosia Alam (l 925) Muhammadiyah cabang Pasar Gede

Yogyakarta, al-Choir Surakarta (l 926), dan lain-Iainu Sementara kalangan

tradisional yang banyak diwakili o!eh NU, yang berdiri sejak tahun 1926, agak

terlambat melakukan penerbitan pada tahun ! 928 antara lain Swara Nad/atul Ulama,

" Dalier Noer, Parlai Islam da/am Pen/as Nasional, (Jakarut: Grafiti, 1987), haL 115 12

Tribuana Said, Sejarah Pers Nasional dan Pe111bangunan Pers Pancasila, (Jakarta: CV.

(24)

Utusan Nadlatul Ulama yang memuat mengenai masalah-maslah keagamaan

clan

perkembangan NU. 13

Perjalanan pers Islam pada periode Kebangkitan Nasional, mengalami pasang

surut, penerbitan yang mlltlcul memiliki misi yang cukup berat yaitu menyuarakan

gerakan kebangsaan. Pers Islam yang lal1ir tidak bersifat independen tetapi ia muncul

dari

organisasi keagamaan, sehingga muatan beritanya tidak lepas dari visi dan misi

organisasi, perkembangannya akan sangat dipengamhi oleh dinamika organisasi

tersebut, apabila organisasi ini mengalarni masa keemasan akan tercermin dalam

penerbitannya, demikian pula jika terjadi sebaliknya. Kontribusi pers pada periode

ini, cukup besar yaitu membantu menyebarkan gagasan nasionalisme Indonesia yang

barn lahir, menjadi corong pergerakan nasional. Pers Islam dan pers nasional banyak

menyerang

dan

menghantam kebijakan-kebijakan pemeri11tal1 kolonial.

Banyak pula diantara wartawannya adalah sebagai pemimpin gerakan kebangsaan

sekaligus pemimpin penerbitan. Bila disebut nania salah seorang tokoh masa itu,

pastilah ia pemah berkecimpung dalam dunia pers dan jumalistik bangsanya. Pers

nampak bukan hanya bagian drui gerakan kebangsaan, nrunun pers adalal1 gerakan

kebangsaan itu sendiri.14

Dalam sejarah perkembangan pers nasional sebelum dan sesudah kemerdekaan,

pers Islam mempllllyai tempat

dan

peranan penting. Seiring dengan gerak

dan

arus

" Dalier Noer. op. cit., hal. 246

14 SPS (Serilrat Peoorbit Surat Kabar), Garis-gari< Besar Perkemhangan Pers Indonesia,

(25)

18

kebangkitan nasional di tanah air, pers Islam berkembang melanjutkan risalah Pan Islamisme yang dirintis Jamaluddin Al-Afghani dan Mohammad Abduh lewat majalah Al-Unvatul Wutsqa (terbit

di

Paris akhir abad ke-19). Tercatat nama-nama seperti majalah Al-Munir (1911) di Sumatra pimpinan Dr. H. Abdullah Ahmad,

Utusan Hindia (1912) terbit di Surabaya dipimpin HOS Tjokroaminoto, Panji Islam

(1934) pimpinan H. Zainal Abidin Ahmad, Pedoman Masyarakat pimpinan Hamka dan H.M. Yunan Nasution. Dua majalah terakhir mempunyai pengaruh cukup luas.

Panji Islam yang lebih mengarahkan perhatiannya pada politik Islam, dikenal karena memuat polemik dua penulis terkemuka yakni Ir. Soekarno dan M.Natsir. Sebnah polemik yang mencerahkan pemikiran dan mempunyai nilai historis bagi pertumbuhan bangsa.15

Kedatangan Jepang pada awalnya memberikan harapan kepada bangsa Indonesia. Jepang yang memiliki banyak kepentingan politik datang sebagai saudara. Jepang bennaksud mencari dukungan politik untuk melawan kekuatan Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Dalam bidang pers Jepang melakukan kontrol yang kuat. Segala penerbitan yang pemal1 ada masa Belanda dan masih terbit masa itu, berusaha dikendalikan oleh Jepang, kehidupan pers Islam semakin sulit. Tekanan penjajahan Jepang, kelangkaan kertas, kekurangan modal,

dan

kelemal1an manajemen serta profesionalisme
(26)

pengelola. Pada zaman pendudukan Jepang, pers Indonesia dirnanfaatkan sebagai

propaganda perang. 16

Setelah Jepang mengalami kemunduran dan menyeral1 kepada Sekutu pada

tanggal 14 Agustus 1945 dan tiga hari kemudian Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Sejak proklamasi pers Indonesia mengalami kebangkitan kembali.

Beberapa bulan setelah proklaniasi, dengan bekal pengalaman kerja pada pemerintah

Belanda dan Jepang para tokoh pers mulai menerbitkan surat kabar. 17

Pada periode perjuangan kemerdekaan organisasi-organisasi kelslaman memiliki

media sendiri-sendiri : Organisasi Sarekat Islam menerbitkan beberapa surat kabar

seperti Sinar Jawa (Semarang), Panjaran Warta (Betawi), dan Saroetomo

(Surakarta). Di bandung, Persatuan Islam (Persis) menerbitkan Al-Li.man, Pembela

Islam, serta Al-Fatwa (huruf Arab Melayu) dan At-Taqwa (bahasa Sunda). Di

Yogyakarta Muhammadiyah selain menerbitkan Suara lvfuhammadiyah, juga

memiliki Suara Aisyiyah dan Mutiara. PB NU menerbitkan Al-Jihad, Al-Islam, dan

Berila NU. 18

Pada periode 1962, peta ideologi pers Indonesia dibagi menjadi dua bagian, yaitu

pers komunis dan pers sinlpatisannya dari kalangan nasionalis sayap kiri, yang

menduduki posisi dominan dalam menciptakan opini publik serta mempengarul1i

kebijaksanaan pemerintah. Pers yang masuk dalam posisi ini adalah pers non atau anti

16 Subhan Afifi, foe. c;1., hal. 37

11

lbid.

18

(27)

20

komunis yang terdiri dari pers agama yaitu pers yang berafiliasi dengan partai

agama, pers kelompok BPS (Badan Pendukung Soekarnoisme ), dan pers militer yaitu

yang dikelola sejumlah perwira Angkatan Darat.

Pers yang masuk dalam pers agama adalah Duta Masyarakat, Sinar Harapan, dan

Kompas. Sedangkan pers kelompok BPS, di antaranya adalah Harian Merdeka,

Berita Indonesia, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan beberapa koran daerah

lainnya. Harian Berila Yudha dan Angkatan Bersenjata adalah contoh dari pers

militer.19

Pers pada masa ini lebih banyak berkonsentrasi pada masalah politik dan menjadi

ajang 'konteks ideologi' antar berbagai ideologi yang ada pada masa itu yaitu Islam,

Nasionalis, Komunis. Pada masa kebangkitan nasional, pers Indonesia memiliki visi

dan misi yang sama yaitu kemerdekaan Indonesia, dan memiliki musuh bersama yaitu

pers kolonial. Namllll paska proklamasi, mw1cullah kepentinga.n politik

masing-masing, pers Indonesia mulai berhadapan secara frontal satu san1a lain.

Ketika sejarah Indonesia memasuki babak barn dengan adanya era yang disebut

era refom1asi, kalangan Islam juga memanfaatkan momentum dengan

berlomba-lomba mendirikan pemsahaan pers. Pers barn mempakan masa ketika pers Islam

mulai berhadapan dengan pasar. Sebagai bagian dari gerak dinamis sebuah generasi

yang tumbuh dalam iklim intelektual yang riuh, menunjukkan gejala kuatnya

artikel-artikel teoritis dan akademis. Selain berpartisipasi dalam pers-pers Islani besar,

19 Ibid.,

(28)

beberapa kelompok anak muda mulai membangun media mereka sendiri, misalnya

Amanah, Sabili, Ummi, dan Annida dan masih banyak lagi benmmculan meramaikan

bursa pasar mediaw

Amanah (1986) rnengawali era pers Islam yang ringan, populer dan meriah,

dengan orientasi bisnis yang

kuat.

Hanya sepertiga dari isi rnajalah Amanah yang rnenurunkan artikel ajaran Islam, sernentara sisanya merupakah artikel populer .21 Majalal1 Sabili mengimplementasikan pemilihan segmentasi "kaum muda, ak1ivis

dakwah .yang ingin menerapkan Islam secara kaffah" dengan bahasan dan gaya bahasa yang sesuai. Keinginan pengelola Sabili untuk membidik segmen kaurn rnuda Islam yang memiliki komitmen tinggi dalam berlslam.22 Majalah Ummi yang bersegmen wanita rnuslim. Majalah ini cukup populer di kalangan wanita rnuslirn dewasa, karena para pengelolanya menyapa pembaca tidak dengan "bentakan yang tajarn", melainkan dengan "bisikan yang bersahabat". Untuk segmen remaja, kelompok Ummi juga rnenerbitkan Annida. Awalnya Annida juga memuat artikel-artikel dakwah, namun terbukti strategi semacam ini tidak bisa merangkul rernaja. Selanjutnya, kebijakan keredaksian diubah dan diputuskan memuat kisal1-kisal1 Islarni.

Selain dimaksudkan sebagai bentuk lain dari dakwah, kisah·kisah Islami juga dipandang marnpu menyuguhkan kepada rernaja realitas yang terjadi dalarn

20

Ibid., hal. 45

21

Alia Swastika, Media Massa Islam Indonesia, www.Kunci.co.id, l l September 2006

22 Subhan Afifi, Op.

(29)

22

kehidupan sehari-hari seorang muslim. Strategi ini justru mencuatkan nama Annida di

kalangan remaja Islam, meskipun popularitas majalah remaja seperti Hai dan Gadis

masih tak tergoyahkan. Seperti halnya majaiah remaja lain, Annida juga tampil khas

remaja: ceria, semarak dan bahasanya ringan. Selain tiras penjualannya yang tinggi,

pendapatan Annida juga banyak ditopang oleh iklan-iklan dari

perusahaan-perusahaan yang segmentasinya remaja muslim seperti iklan kosmetik, butik busana

muslim, kaset kelompok nasyid, dan sebagainya.

Pada sisi lain, kemunculan Annida dengan porsinya besar pada pemuatan cerita

islami telah melahirkan generasi-generasi muda Islam yang dekat dengan kebiasaan

menulis. Para penulisnya bahkan kemudian membentuk kclompok Forum Lingkar

Pena (FLP) yang hingga tahun 2000 telah memiliki anggota lebih dari 6 ribu orang di

seluruh Indonesia. Novel-novel islami yang ditulis anggota FLP ini tennasuk laris

manis di kalangan buku-buku remaja. Fonnula "menyuguhkan Islam dengan

senyum" kemudian menginspirasi banyak kelompok lain buat menerbitkan majalah

bernuansa senada.

Semakin mudahnya izin untuk mendirikan penerbitan setelah

1998

juga menjadi faktor penting yang menyebabkan muncul semakin banyak rnajalah Islami. Sebagian

besar dari rnajalal1 Islam populer mernbidik perempuan dan remaja. Sebut saja

majalah

Nikah, Noor, Karima, Puteri, Muslimah, Permata,

dan beberapa

lainnya. Se.lain menggw1akan fonnula U111111i dan A1111ida, majalah-majalah Islami

(30)

berita, terutama dalam kaitannya dengan pengalaman spiritual mereka sebagai

l. 23

seorang mus 1m.

Banyak pula yang menceritakan kisah nyata tentang petualangan manusia mencari

kebenaran dalam Islam. misal.nya Majalah Hidayah di Jakarta yang selama ini lekat dengan pembaca sebagai majalah yang sejuk, membimbing orang untuk belajar

agama, belum lagi rubrik-rubrik lain yang sangat disenangi p<:mbaca. Seperti: Kisah

Kitab (rujukannya pada kitab-kitab klasik yang memuat kisah-kisah yang patut

direnungi), Kisah Qur'an (kisah yang tidak asing lagi yang dinukilkan dari ayat-ayat

al-Qur'an dan kitab-kitab tafsir), profil dai (menampilkan dai-dai yang sudal1 malang

melintang di tanah air), tokoh-tokoh Islam, Syiar (lembaga Islam yang lebih

mengedepankan pengembangan keislaman), serta artikel-artikel keagamaan yang

diminati banyak orang. 24

Sejak pertengahan tahun 2004 televisi di Indonesia banjir dengan sinetron relib>ius

bertajuk "Haiti". Diawali dengan sukses TPI menayangkan serial Rahasia Ilahi, yang

konon diilhami dari kisah-kisah nyata dalam majalah Hidayah dan Allah Maha Besar

didasarkan pada pengalaman nyata penceritanya sebnah kesaksian didasarkan atas

narasi atau kesaksian orang-orang yang mengalami atau meuyaksikan langsuug

kejadian yang dituturkan dalam sinetron tersebut. Sinetron··sinetron itu dapat

" Alia Swastika, Op. cit.

"Herry Munhanif, Penjelasan dari Majalah Hidayah, http:llwww.111ail-archive.com, tanggal

(31)

24

memberi semacam kelegaan terhadap dahaga robani yang mungkin dialami oleh sebagian orang Indonesia.25

Mulai muncul pula rubrik-rubrik gerai mode (menampilkan aneka macam model busana muslim), konsultasi mode atau konsultasi kecantikan. Meskipun tampak menonjolkan sisi "pop", sebagian pers Islam generasi baru ini tetap berusaha untuk memberikan alternatif lain bagi remaja dalam berhadapan dengan industri hiburan dalam lingkup yang lebih luas. Annida bahkan terang-terangan dirnaksudkan sebagai media yang berusaha mengajak remaja untuk melawan penyebaran hedonisme clan konsumerisme. Selain memberikan nuansa !slami pada budaya pop (misalnya dengan menampilkan profil kelompok nasyid), pernilihan remaja Islam berprestasi, clan sebagainya, media-media ini juga mulai memasukkan isu-isu politik. Di media-media rernaja lainnya, perbincangan tentang politik dan hal-hal yang terlalu serius cenderung dihindari.

Selain pada pilihan isi dan bahasanya, perbedaan yang cukup tajam dengan media Islam pada era-era sebelumnya adalah sistem manajemen yang lebih tertata clan orientasi bisnis yang lebih kuat. Pada masa lalu, kebanyaka.t1 pers Islam dikelola dengan manajemen kekeluargaan. Belum banyak pengelola pers Islam yang mempraktekkan konsep-konsep manajemen dan pemasaran modem. Ketika pers Islam memutuskan untuk rnernperluas pasar clan menggunakan strategi-strategi

25

(32)

seperti yang dipakai oleh media massa lai1U1ya, dengan sendirinya ada kebutuhan untuk menerapkan konsep manajemen dan pemasaran modern.26

Pada periode ini mulai terlihat beberapa pers Islam yang diperhitungkan sebagai sebuah industri yang mengMtungkan. Kesadaran keberagamaan masyarakat dan kebutuhan informasi alternative dalam perspektif Islam ikut melambungkan tiras media-media Islam. Media-media Islam yang berkembang sekarang juga semakin berani untuk menampilkan kharateristik yang semakin beraneka ragam.

Pers saat ini selain berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan hiburan juga tidak boleh dilupakan sebagai salah satu media dakwah. Kenyataan ini jelas berbeda dengan kehidupan pers pada awal-awal abad 20 di mana pers berfungsi sebagai media perjuangan.

26

(33)

BABUI BIOGRAFI HAMKA

A. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) adalah putera dari Syekh Abdul

Karim Amrullah tokoh dari pelopor gerakan-gerakan Ishun "kaum muda" di

Minangkabau. Panggilan kecil Hamka ialal1 Abdul Malik, ia dilahirkan pada tanggal

16 Februari 1908 di Manijuratau lebih tepatnya lahir pada tanggal 13 Muharram 1362

sebuah desa tanah sirah, di tepi danau Maninjau Sumatra Barat.1

Berbicara tentang Hamka, maka tidak lepas pembicaraan kita tentang latar

belakang di mana tokoh tersebut dilahirkan, baik dari kondisi sosial masyarakat

ataupun letak geografisnya. Kalau di perhatikan keberhasilan Han11rn sebagai seorang

yang pandai dan terkenal tidaklah mengherankan, seperti kata pepatah, "buah jatuh

tidak jauh dari pohonnya". Seperti itulah kiranya Hamka dikenal, Hamka dilahirkan

dari keluarga yang memiliki pengetahuan keagamaan yang kuat serta disegani dalam

lingkungannya. Kakeknya Muhammad A111rullal1 seorang nlama dan tokoh

masyaralrnt yang dihormati begitu juga dengan ayahnya yang juga seorang ulama dan

tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemikiran yang luas. Ini dapat

dilihat dari aktivitasnya dalam berbagai organisasi yang diikutinya. 2 Oleh karena itu

1

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: lchtiar Barn Van Hoeve,

1993), hal. 75

2

(34)

Hamka diharapkan oleh ayahnya menjadi seorang ulama juga. Harapan ayahnya ini terucap saat Hamka dilahirkan ketika itu ayahnya berkata bahwa Malik akan dikirim belajar ke Makkah selama l 0 talmn agar ia menjadi orang alim seperti dirinya dan seperti kakeknya. 3

Ketika usianya mencapai 4 tahun ibu dan ayalmya pindah ke Padang Panjang. Di kota gerimis ini ia dimasukkan ke sekolah desa di Padang Panjang pada pagi hari selama 3 tahun, sore haii pergi ke sekolah Diniyyah, dan pada malam harinya berada di Surau bersama teman-teman sebayanya. Begitu usianya mencapai l 0 tahun,

Hamka dipindahkan dari sekolah desa ke Madrasah Thawalib. Pada malam harinya ia sempat belajar bahasa inggris.

Kondisi belajar yang masih memakai cara-cara lama serta keharusan menghafal membuat Haiuka sempat bosan dan meminjam istilal1 Hainka sendiri memusingkan kepala. 4 Keadaan seperti ini yang membuat Hamka lebih senang berada dalam Perpustakaan untuk membaca buku-buku cerita dan sejarah. Kegemaran membaca inilah yang membuatnya menjadi seorang yang otodidak, ia memperoleh pengetalman yang banyak dan luas dengan belajar sendiri tanpa jenjang pendidikan formal. Sebagai seorang anak tokoh pergerakan, sejak kanak-kanak sudal1 menyaksikan dan mendengar langsung pembicaraan tentang pembal1aruan melalui ayal1 dan rekan-rekan ayahnya.

'Hamka, Ke11a11g-kenanga11 Hidup, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991 }, hal. 6

4

(35)

28

Sejak usia sangat muda Hamka sndah dikenal sebagai seorang kelana,

ayahnya bahkan menamakannya "Si Bujang Jauh". Pada tahun 1924, dalam usia 16

tahun ia pergi ke Jawa. Dengan kepergiannya tersebut dimulailab fase baru dalam

kehidupannya, yaitu merantau. Sebagian besar hidupnya dilalui di luar tanab

kelabirannya. Rantau pengembaraan pencarian ilmu di tanab Jawa, ia mulai dari kota

Jogjakarta. Dalarn kesempatan ini Hamka bertemu denga Ki Bagus Hadikusumo,

yang dari dia Harnka mendapatkan pelajaran tafsir al-Qur'an. Ia juga bertemu dengan H.O.S Cokroarninoto dan mendengar ceramalmya tentang Islam dan sosialisme. Di

sarnping itu ia berkesempatan pula bertukar pikiran dengan beberapa tokoh penting

lainnya, seperti H. Fakhruddin dan Syarnsul Ridjal, tokoh Jong Islamieten Bond.

Yogjakarta kelihatannya mempunyai arti penting bagi pertumbulian Hamka

sebagai seorang pejuang dan penganjur Islam. Kota tersebut telab memberikan

sesuatu yang baru bagi Harnka. Ia sendiri menyebut babwa di Yogjakarta ia menemukan "Islam sebagai sesuatu yang hidup, yang menyodorkan suatu pendirian

dan perjuangan yang dirtamis". 5

Setelah beberapa lama di tanal1 Jawa, Hamka pw1 kembali ke Minangkabau

dalam usia tujuh belas tahun, Harnka telall tumbuh menjadi peminlpin di

tengah-tengah lingkungannya, ia sering berpidato di tengah-tengah-tengah-tengah masyarakat Minangkabau

yang telah melahirkan

dan

membesarkamiya itu. Ia juga membuka knrsus pidato bagi teman sebayanya di surau jembatan besi, kemudian basil pidato
(36)

temannya dikumpulkan dan diterbitkan dalam majalah yang diberi nama Khatibul

Ummah.6

Hamka telah pulang ke ralnnatullah pada 24 Juli 1981, namun Jasa dan

pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau

bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara

kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan

Singapura, turut dihargai. 7

Demikianlah Hamka dalam menempuh hidupnya dengan pasti, penguku11an

diri sebagai tokoh dan pengajar Islam telal1 ia guratkan dengan yakin dalam jiwanya,

sehingga Hamka selalu tampil sebagai pembicara atau pemberi ceramal1.

B. Latar Belakang Sosial dan lntelektual

Ranah Minang tanah kelahiran Hamka merupakan daerah yang paling banyak

mendapat pengaruh dari pikiran-pikiran reformasi Islam dan mertiadi daerah utama

penghasil intelektual. Pendidikan agama mernpakan komponen terpenting bagi orang

Minang. Islam mernpakan kelo.iatan roh orang Minang, sementara adat adalah baju

orang Minang dalam bertingkah laku. Keberadaan Islamlah yang merubal1 pemikiran

akan adat, dimana muncul pemikiran untuk meyatukan konsep agama sebagai dasar

konsep demokrasi dan pemerintahan di Minang.8

6

Ibid., ha!. 63

7

http:/l\t1ll1lt'.islamhadhari.net, 20 April 2006

'Dr. B. Setiawan, Ensiklopedi Nasiorui/ flldonesia, (Jakarta: PT. Cipta Asri Pustaka, 1990),

(37)

30

Kuatnya Islam di Minangkabau terjadi aktbat menguatnya

pemusatan-pemusatan kegiatan dan aktivitas para pendak-wah Islam atau pelajar Islam yang

selesai belajar dari luar Minang. Surau dan mesjid menjadi swnber utama pendidikan

bagi orang Minang. 9

Ranah Minang di penghujung abad ke-19 dan paruh abad ke-20, tengah

mengalami kebangkitan yang dikenal dengan sebutan kaum muda. Berbeda dengan

kebangkitan sebelumnya, kebangkitan kali ini ditandai oleh berbagai publikasi

sekolah serta organisasi yang dikelola secara modem. Panji··panji kebangkitan

tersebut dikibarkan oleh empat tokoh, masing-masing : Syeikh Taber Jalaluddin,

Syeikh Muhammad Jamil Jambek, Syeikh Abdullah Ahmad

clan

Syeikh Karim Amrullah. Melalui majalah

al-Iman

dan kemudian digerakkan oleh dasar intelektual

mereka yang bersentul1an dengan pikiran-pikiran pembaharuan di Saudi Arabia dan

Mesir, mereka melakukan langkah-langkah pemba11aruan Islam. Langkab-langkab

pembaharuan ini mendapat reaksi yang cukup keras, terutama dari kalangan kaum

tua. Tindakan mereka dalam memberantas praktek-praktek keagamaan yang menurut

mereka bid'a11 serta telab bercampur dengan tahayul dan khufarat, dipandang oleh

kaum tua mendesak posisi mereka ke kawasan pinggiran.10

Beberapa pergerakan Islam yang muncul di telab mencatat berbagai upaya

reformasi Islam yang dipelopori oleh kaum rnuda bukan hanya dalam masalah

9

Ibid

M. Yunan Yusuf, Corak Penafsiran Ka/am Taftir Al-Azhar, (Jakarta: Perpustakaan IAIN,
(38)

ibadah, tetapi juga yang sangat penting adalah implikasinya dala!n proses kreasi

berpikir menyangkut kehidupan sosial dan politik. Refonnasi Islam mulai marak

selepas para ulama pulang dari proses belajarnya atau melakukan ibadah haji di

Mekkah. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa proses empirik dan edukasi para ulama di

Makkah ini telah membuka mata akan adanya gerakan pembaharnan Islam. Gagasan

barn yang dibawa kaum muda mengakibatkan segala pandangan yang dipegang lcaum

tua dengan sendirinya tersudut dan dianggap semakin ketinggalan.

Ketegangan sosial dalam bentuk polirsasi kaum tua dan muda serta diramu

dengan konflik bersama dengan kaum adat, telah memunculkan sikap kritis yang

begitu tajam dalam pemikiran kaum agama di Minangkabau dan tidaklah berlebihan

bila dikatakan bahwa kondisi ini pulalah yang menirnbulkan sikap kultural yang

mengidentifikasikan Minangkabau dengan Islam. Namun bukanlah beraJti yang

dipertentaugkan itu inti ajaran adat dengan Isl31TI. Sebab dalam adat Minangkabau

sendiri, tergambar jalinan erat antara adat deng311 Islam.11

Saat itu di Sumatera Barat ada tiga corak orientasi keagamaan : pertama,

tradisi agaJna lan1a yang mengakomodasi adat. Kedua, aliraJJ barn tetapi bersifat

ortodoks. Ketiga, modemisasi atau refonnasi Islam yang dimotori oleh kaum muda.

Benturan tradisi adat dengan pemikiran barn ulaJna refonnasi menjadi fenomena yang

11

(39)

32

menyolok. Minangkabau ketika itu jadi terbelah

dua dan

menjadi puncaknya sejak tahun 1914 sampai tahun 1918.12

C. Hamka sebagai

Penulis dan

Karya-karya

Tidaklah berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Hamka adalah seorang pemikir

Islam

modemis yang paling subur di Indonesia. Beliau bukanlah seorang sarjana dengan pendidikan fonnal yang memadai, melainkan seorang otodidak. Namun beliau adalah seorang pribadi yang memiliki kemampuan kognitif yang sedemikian tingginya sehingga hanya dengan beberapa bekal pendidikan masa kecilnya saja beliau sanggup menghimpun

dan

kemudian memprodnksi sedemikian luas ilmu pengetahuan agama melebihi kebanyakan mereka yang berpendidikan fonnal.

Ketrampilan Hamka dalam menulis tidak lepas

dari

pengalarnan dan keterlibatannya dalam dunia pers. Keuletannya dalam menulis

dan

menerbitkan majalah ataupun harian nampaknya lebih didorong oleh semangat keagamaan. Apalagi bagi kaum pembal1aru penyebaran gagasan pembal1aruan sangat penting dilakukan, salah satu caranya adalah lewat penerbitan. Hal ini nampak sangat disadari oleh Hamka.

Hamka adalal1 pendiri dan pemimpin Redaksi

Panji Masyarakat

pada masa awal, selain seorang jumalis ia pun dikenal sebagai seorang ulama yang sangat produktif
(40)

da!am menulis. Se!ain aktif dalam soal keagamaan

clan

politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, Hamka

menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Ando/as, Seruan Islam,

Bintang Islam dan Seruan mオィ。ュュ。、セケ。ィN@ Pada tahun 1928, beliau menjadi editor

majalah Kemajuan Masyarakat.

Pada

tahun 1932, beliau menjadi editor

dan

menerbitkan majalah Al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor

majalah Pedoman Masyarakat,

dan

Pan.Ji Masyarakalu

Dengan pendidikan formal yang sangat terbatas, yang terpenting di antaranya

ber!angsung di madrasah kaum muda di mana ia belajar bahasa Arab

dan

menemukan bacaan barn yang merangsang mengenai pembaharnan Islam dari Mesir

dan

Timur Tengah. Dengan diawali pengalaman inilah, Hamka memulai se(f-studi nya secara

efek'1if sepanjang hidupnya. s・Afセエオ、ゥ@ ini meliputi bacaan yang luas dan intensif

(melalui edisi-edisi Arab, pan1,'l!II1atan yang tajam dan pengalaman !angsung sebagai

peserta dan pemimpin dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa hidupnya).

Produktivitas tidak hanya konstan tapijuga berfariasi.

Dal am tahun I 928 keluarlah buku romanya yang pertama berjudul Si Sabariah.

Dalam tahun 1929 keluarlah buku-bukunya Agama dan Perempuan, Pembe/a Islam,

Adat Minangkabau dan Agama Islam, Kepentingan Tabligh, dan lain-lain.

Di zaman Jepang, banyak terbit karangan-karangannya dalam !apangan agama,

tasawuf, filsafat dan roman. Pada waktu itulal1 keluar romal!llya Tenggelamnya Kapa/

(41)

34

Van Der Wick, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Merantau ke Delli, Keadilan Jlahi.

Dalam lapangan agama dan filsafat ia menulis Tasawwuf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Lembaga Hidup, dan lain-lain.14

Sesudah Revolusi, dikeluarkan buku-buku yang menggunjang, seperti Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Ada/ Minangkabau Menghadapi Revolusi, Negara Islam,

Islam dan Demokras". Tahun 1950 beliau pindah ke Jakarta, di Jakarta keluar buku-bukunya: Ayah/at, Kenang-kenangan Hidup,

dan

Perkembangan Tasawuf Dari Abad ke Abad, dan lain-lain. 15

Sebagai seorang yang luas pengetahuannya di bidang taiikh (Sejarah Islam) Harnka pun menulis buku Sejarah Umat !slain yang terdiri

dari

empat jilid yang ditulis sejak tahun 1938 diangsur sainpai tahun 1955. Karya tulis Hamka berpuncak dengan terbitnya Tafsir al-Azhar sebanyak 30 juz.16 Tafsir ini dikenal sebagai karya tulis monumental Hainka, yang semakin memperkokoh dirinya sebagai jum dakwah yang tidak kenal lelah, sekalii,>us seorang ulaina yang sarat dengan karya-karyannya.

14

Hamka, Tasaw11fModern, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000), hal. IO

"Ibid

16

(42)

A.

Latar Belakang Kelahiran

Panji Masyarakat

Panji Masyarakat, yang biasa disingkat Panjimas, salah satu majalah berorientasi Islam yang tua di Indonesia, yang dalam pertumbuhannya bemsalia meuyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Panji masyarakat terbit pertama kali pada tanggal 15 Juni 1959, oleh K.H. Faqih Usman, FL Abdul Malik Karim

Amrullah, Yusuf Abdullah Puar dan H. M. Yusuf Ahmad. 1

Nama Panji Masyarakat diambil dari dua majalah terkenal yang terbit di Medan, yaitu Pedomm1 Masyarakat yang terbit tahtm 1935 dan Panji Islam yang terbit pada tahun 1930. kedua majalah ini beredar secara nasional. Pedoman lvfa.1yarakat dikelola oleh Hamka

dan

Yunan Nasution, sementara Panji Islam

dikelola oleh Zainal Abidin Ahmad dan Yusuf Alnnad. Pada masa Jepang kedua majalah ini berhenti terbit, karena pemerintah Jepang melaknkan kontrol yang ketat terhadap bidang jurnalistik.

Pada zaman revolusi keempat orang ini hijrah ke Jakarta. Hamka menjadi anggota DPR

dan

pengurus Muliamma.diyah, Zaenal Abidin

Ahmad

menjadi anggota

1

(43)

37

keadaan perjuangan telah banyak meminta agar para pengarang, penulis,

dan

sastrawan Islam lebih konsentrasi pikiran dan tenaganya dalam bidang pekerjaan yang suci itu". Narnpaknya Harnka menginginkan para tokoh Islam untuk mencurahkan gagasan-gagasan dan pikirannya kedalam tulisan tersebut."

Kedua merarnaikan kembali dunia jurnalistik Islam, memunculkan majalah Islam yang bermutu dan taban uji yang menyirami dan mempertinggi kesadaran dan kecerdasan umat dari segala ancarnan, dan terakhir untuk memperkokob barisan frontal dalam mencapai basil-basil perjuangan yang diridboi oleh llahi.

Sedangkan motto dari majalah Panji Masyarakat adalah ''Penyebar Kebudayaan dan Pengetabuan Selaras dengan Peijuangan Refonnasi dan Modemisasi Islam''. Artinya bahwa rnajalah Panji A1asyarakat

akan

lebih menitikberatkan dalarn lapangan kebudayaan dan pengetahuiln umum populer yang diselaraskan dengan perjuangan yang membawa modal reformasi dan modemisasi dalam· Islam,

dan

akan berdiri di sisi para ulama dan cerdik pandai beraliran baru, dalam ikatan pembangunan.

Visi dan rnisi rnajalah Panji masyarakat ini adalah Pertama, ingin membawa semacam gerakan pencerahan terlmdap umat Islam khususnya

dan

bangsa Indonesia pada urnurnnya, Kedua, rnencoba rnernbentengi umat Islam dari paham-pal1am materialisme dan komunisme dengan konsepsi Islam modem dan berdiri bersama

ulama-ulama modemis, dan Ketiga, adalah Refonnasi dan Modemisasi.

(44)

Rubrik Editorial berisikan sikap dan pandangan redaksi terhadap

masalah-masalah dan kejadian-kejadian di masyarakat. Rubrik Pandangan Hidup Muslim,

rubrik ini diasuh langsung oleh Hamka yang be1isi nasehat-nasehat untnk pegangan

hidup muslirn dan pikiran-pikiran Hamka rnengenai kehidupan sosial yang dikaitkan

dengan ajaran Islam. Rubrik Masyarakat Kita adalah rubrik yang lebih banyak

rnengangkat rnasalah-rnasalah sekitar kemasyarakatan, dan yang lebih rnenonjol pada

rnasanya adalah rnasalah-rnasalah kebudayaan. Rubrik bahasa dan Budaya yang

rnernuat tulisan rnengenai perkernbangan sastera dan seni Islam. Rubrik Dunia Islam

rnemuat basil peliputan mengenai perkembangan dunia Islam Internasional. dan

terakhir adalah Suara Pembaca yang mernuat surat-surat dari para pernbaca, baik

berupa kritikan maupun harapan-harapan terhadap Panji Masyarakat di rnasa depan.

Selain mbrik, Panji Masyarakat secara rutin memuat artikel-artikel hasil

tulisan para tokoh-tokoh Islam dan pemikir-pemikir Islam lainnya. Sebagian besar

dari isi majalah ini membahas seputar tema-tema pernbaharuan Islam, modemisasi,

kemasyarakatan, kebudayaan, politik, ilrnu pengetahuan dan pendidikan.

Dalam

Terna Masyarakat, masyaralrnt bagi Panji Masyarakat mengandw1g konsep dan

makna yang baru. Bukan masyarakat yang telah ada, namun suatu model masyarakat

Islami yang ideal. Terna Kebudayaan berkaitan dengan masala.h-masalah kebudayaan

itu sendiri, pernuatan puisi-puisi, kaligrafi Islam, dan perkembangan seni sastra Islam. Modernisasi dan pernbaharuan merupalcan tema yang cukup menonjol sebagai

(45)

40

perkembangannya, pemikiran tokoh-tokoh pembaharu, serta biografi tokoh

pembaharn.

Masalah politik tak lepas dari pembahasan Panji Masyarakat. Artikel ini

memuat berbagai topik sosial politik, mulai dari pemikiran

dan

gagasan

politik

Islam,

demokrasi, sistem pemerintahan [slam, dan isu-isu lainnya yang sedang hangat

chbicarakan pada saat itu. Dalain artikel Ilmu Pengetahuan mengangkat wacana

Islamisasi ilmu sepeli pandangan Islam tentang ilmu kedokteran, astronomi dan

ilmu-ilmu lainnya. Artikel Masalah pendidikan yang muncul adalab masalah pendidikan

agama, perkembangan pendidikan serta lembaga-lembaga pendidikan. 3

C.

Massiah yang dihadapi Panji Masyarakat

Keberadaan pers keagamaan menjadi mitra bagi pers umum. Proses tumbuh.

dan

berkembangnya, serta kendala yang chnadapinya, boleh jadi tak jauh berbeda

dengan pers umum. Kalaupun ada yang berbeda, itu lebih pada substansi media pers

keagamaan.

Masalah yang di hadapi Panji Masyarakat berawal dari masa Demokrasi

Terpimpin di mana pada masa itu terjadi sernacam ketenganggan huh.ungan.

Keteganggan ini diakibatkan tindakan repsesif pemerintal1 terhadap kebebasan pers.

Kebijakan ini kemudian dikomentari oleh Panji Masyarakat, yang hanya

mengingatkan pemerintahan bahwa ha! itu sangat berkaitan dengan pelanggaran hak

3

(46)

asas1 manus1a. Hal ini terl.Jbat bahwa Panji Masyarakat bersikap kritis terhadap

kebijakan yang otoriter tersebut.

Sebagai klimaks yang antagonistik ini, Panji Masyarakat dianggap oleh

Soekamo sebagai musuh-musu.h revolusi yang hams dibersihkan karena telah

memuat tulisan Mohammad Hatta pada edisi no 22 tahun ke II 1960, yang berjudul

"Demokrasi Kita". Tulisan ini berisi tentang penentangan Hatta terhadap Demokrasi Tcrpimpin. Isi tulisan Mohanunad Hatta secara keras mengritik praktck Demokrasi

Terpimpin, yaitu Soekarno yang mengangkat dirinya sendiri menjadi formatir

kabinet, membubarkan konstituante yang dipilih oleh rak-yat, dan tindakah Soekamo

yang membubarkan DPR hasil

dari

pemilihan umum.

Tulisan Hatta yang sangat kcras ini, dimuat olch Panji Afasyarakat. Mcmuat

tulisan yang begitu keras mcncntang Dcmokrasi Tcrpimpin adalah suatu kcbcranian,

karena akan langsung berhadapan dengan Soekamo, dan menjerat mereka dengan

undang-undang pers. Akhirnya Panji Masyarakat dibreidel.4

Namun Ok-tober talmn 1966, atas prakarsa Hamka, H. M Yusuf Ahmad dan

Rusjdi Hamka, Panji Afasyarakat tcrbit kcmbali mencruskan khittahnya sebagai

media Islam yang independen., tidak terikat pada salah satu partai atau golongan.

Dibantu oleh para cendikiawan pengarang clan redaktur muda, Panji Masyarakat

berkembang sebagai media Islam. 5

'Ibid

(47)

42

D. Panji Masyarakat dan Gerakan Modernisme Indonesia

Gagasan-gagasan pembaharuan Islam semenjak awal telah didukung penyebarannya oleh kekuatan media massa. Malah media massa itu merupakan batu loncatan yang melompatkan semangat pembahaman itn dari satn negeri ke negeri yang lain, mengarungi samudera dan menerjang gunung-gunung terjal yang mencoba menghambat taufan pembaharuan.

Dalam membicarakan pembahaman dan pembangunan Islam kembali pada

penghujung abad XIX M, yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani, maka media massa itn merupakan semacam peluru kendali di zaman moderen ini yang melontarkan semangat pembaharuan dan pembangunan itu ke berbagai benua, kemudian tnmbuh laksana benih yang memutik di kawasan benua yang

bersangkutan.6

Hampir bisa dipastikan bahwa organisasi-organisasi yang menamakan dirinya kelompok .pembaharu berusaha untnk memiliki penerbitan sendiri. Di samping menggunakan cara-cara konvensional seperti ceramah, tabliq, atau debat terbuka. Yang bertempat di mesjid, surau, atau madrasah-madrasah .oleh para da'i-da'i mereka.

Peranan media massa dalam penyebaran pembaharnan Islam cukup penting. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana gerakan pembahaman semilkin insentif dan meluas setelah didukung oleh suatu penerbitan. Penerbitan kaum modernis pada masa awal

6

M. Yunan Nasution, "Al-Un,.atu/ W11tsqa" perintis pers Islam, Panji Masyarakat No.

(48)

lebih banyak berupa majalah atau jumal, karena mungkin model surat kabar belum dikenal. Selain itu model jumal merupakan model yang tepat untuk memuat artikel-artikel.

Jrnnal Al-Urwatul Wusqo adalah jurnal paling awal yang terbit di Paris dikelola oleh Jamaluddin al-Afghani, tokoh pelopor gerakan pembaharuan. Jumal ini tidak hanya beredar di Mesir tetapi telah menyebar pula di Jazirah Arabia bahkan menurut Azyumardi Azra, telah menyebar ke Nusantara lewat para jama'al1 haji. Jrnnal itu adalah jumal Al-Manar, jumal ini terbit di Mesir yang dikelola murid Djamaluddin al-Afghani yaitu Muhammad Abduh. Proses penyebaran lewat jrnnal ini terns dilanjutkan oleh penerbitan-penerbitan berikutnya, yang disponsori oleh organisasi-organisasi pembaharuan. Seperti, Fajar Islam yang diterbitkan oleh Sarekat Islam, Suara Muhammadiyah dan Pemhe/a Islam diterbitkan oleh Persis.7 Bentuk-bentuk penerbitan Islam pllll terus mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan dalam bidang ini. Bentuk penerbitan Islam, tidak lagi dalam bentuk jumal, tetapi mulai mllllcul dalam bentuk surat kabar dan majalah.

Dalam periode tiga dekade pada permulaan abad ke 20, saling kait-mengkaitkan dengan arus kebangkitan nasional dan pembaharuan Islam, maka di Indonesia terbit beberapa majalah yang besar pengaruhnya terhadap pembangunan urnat di antaranya majalah Al-Munir (yang memberikan cahaya) di Padang Panjang

7

Azyumardi Azra, The 1i·ansmission of the Idea of Islamic rセヲッイュL@ The Cases al-Manar,

(49)

45

" ... bahwa ijtihad adalah hukum kebudayaan Islam, hukum perubahan yang

menghadapi tiap gejala atau tiap gerak perubahan kebudayaan. Ia adalah hukum

gerak dalam cara hidup umat Islam dalam menghadapi perubahan

alam.,

Islam menyediakan ijtihad sebagai sumber hukum ketiga (setelah Al-Qur'an dan Hadits)

untuk perubahan demi perubahan yang dialami oleh kaum muslimin. IjtiI1ad

memikirkan

dan

melakukan pembaharuan dengan hubungan manusia

dan

manusia."

Oleh karena itu, sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu, bahwa

motivasi didirikan Panji masyarakat adalah meneruskan perjuangan kemerdekaan

melalui media massa dan meramaikan dunia jurnalistik Islam yang bermutu dan

dapat mempertinggi kesadaran dan kecerdasan umat dari segala ancaman

dan

serta mencapai hasil perjuangan yang di ridhoi Ilahi. Sesuai dengan mottonya

"Penyebar kebudayaan dan pengetahuan selaras dengan pe1juangan reformasi

dan

modernisasi Islam", Panji Masyarakat diliarapkan dapat memberikan jawaban

terhadap persoalan modernisasi kaitannya dengan gerakan penceral1an terhadap

wnat Islam.

Gerakan pembaharuan dan modernisasi yang dilakukan Panji Masyarakat

dapat dilihat daripada rubrik dan artikel-artikel Panji Masyarakat, yang tidak

hanya memberikan sikap dan pandangan tentang berbagai kejadian di masyarakat,

tetapi lebih dari itu, Panji Masyarakat telah memberikan solusi

dan

nasebat sebagai pegangan hidup kaum muslim mengenai kehidupan sosial yang
(50)
(51)

A. Kesimpulau

BABY

PENUTUP

1. Panji masyarakat sebagai majalah dwi mingguan terbit pada tanggal 15 Juni

1959 dan dikelola oleh Hamka dibantu Yusuf Ahmad dan anaknya Rusjdi

Hamka. Majalah ini bersikap netral tidak berafiliasi kepada salah satu partai

Islam. Mereka mengatasnamakan pribadi dan kepedulian mereka terhadap

perkembangan pers Islam. Kepedulian ini tidak lepas dari pengalaman mereka

dalam bidangjurnalistik.

2. Panji Masyarakat telah menjadi corong dari proses penyebaran gagasan

pembaharuan. Majalah ini memfokuskan pada agenda-agenda penting

pembaharuan Islam, seperti pembaharuan pemikiran dan praktek keagamaan,

konsep dan cita-cita kemasyarakatan dan pembaharuan pendidikan. Konsep

pembaharuannya adalah seruan untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits.

3. Pers dalam perkembangannya digunakan sebagai media baik berupa jurnal

maupun majalah oleh dakwah Islam, untuk menyuarakan aspirasi dan

pembentukkan publik-opini umat Islam. Demikian halnya Panji Masyarakat

pada masa Hamka merupakan majalah yang berkembang sebagai salah satu

(52)

C. Majalah

Rusjdi Hamka, Hamka dan Pers Islam dalam Pe1juangan Tajdid, Panji Masyarakat No.568/XXIX, 10 Maret 1988

---, Hamka da!am Dakwah dan Pembahruan Islam

Referensi

Dokumen terkait

Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan cara pengumpulan data secara Studi Pustaka ( Library Research), yaitu dengan cara meneliti data

Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode

Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan

Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan cara pengumpulan data secara Studi Pustaka (Library Research), yaitu dengan cara meneliti data

Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan cara pengumpulan data secara Studi Pustaka (Library Research), yaitu dengan cara meneliti data

Jenis metode penelitian dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), metode mengumpulkan, menyusun dan menelaah data-data

harta wakaf oleh pemberi wakaf, maka pengumpulan data dilakukan dalam bentuk penelitian kepustakaan (library research). Dalam hal ini penggunaan kepustakaan meliputi di

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menghimpun data