• Tidak ada hasil yang ditemukan

Embriogenesis Jambu Bol (Syzygium Malaccense (L.) Merr, & Perry) Dengan Penggunaan Auksin Dan Sitokinin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Embriogenesis Jambu Bol (Syzygium Malaccense (L.) Merr, & Perry) Dengan Penggunaan Auksin Dan Sitokinin"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Judul Tesis

EMBRIOGENESIS JAMBU BOL (Syzygium malaccense

(L.)

Merr,

&

Perry) DENGAN PENGGUNAAN AUKSIN

DAN SITOKININ

Nama Mahasiswa:

SUSANA TABAR TRINA S.

Dr. Jr. R·.

J

nimar MS

NomorPokok

Program Studi

Anggota,

f

982101012

AGRONOMl

Menyetujui :

Komisi Pembimbing

Ketua,

A--Prof. Dr. Ir. J.A. Napitupulu. MSc

Anggota,

Ir. Yohannes Samosir, PhD. PDipAgrSt

Ketua Program Studi,

-»l-Prof. Dr. Ir. J.A. Napitupulu. MSc

Tanggal Lulus: 31 Oktober 2002

Dr. Ir. Sumono. MS

(4)
(5)
(6)

RlNGKASAN

Embriogensis jambu hoi (Syzygium malaccense (L.) Merr

&

Peny) dengan

penggunaan Auksindan Sitokinin,

SUSANA TABAR TRINAS.

Tesis Magister Pertanian, Program Pasea Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2002,

di bawah bimbingan Komisi Pembimbing : lA. Napitupulu (Ketua), Jenimar

(Anggota), dan Yobannes Samosir(Anggota).

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruhtingkat konsentrasi 2,4-Ddan .

BAP serta interaksi keduanya terhadap inisiasi kalus yang berasaI

dari

eksplan daun

muda jambu bol guna memperoleh tingkat konsentrasi yang terbaik

untuk

tujuan

perbanyakan bagi embriogenesis, dan untuk mengetahui pengaruhtingkat konsentrasi

NAA dan Kinetin serta interaksi keduanya terhadap kalusembriogenik.

Penelitian ini berlangsung sejak bulan Juli 2001 sampai dengan bulan Mei 2002 di

Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian dan Laboratorium Struktur Hewan

(Bagian Mikroteknik), Program Studi Biologi FMlPA, Universitas Sumatera Utara,

dengan menggunakan Raneangan Acak Lengkap pola Faktorial yang diuJang empat

kali. Faktor yang diteliti meliputi pada tahap inisiasi kalus: 2,4-D dengan empat

taraf

(0,5 mg/l, 1,5 mg/l, 2,5 mg/l, 3,5 mg/l) dan BAP dengan empat taraf (0,0 mg/l, 0,5

mg/l, 1,0 mg/l 1,5 mg/l), pada

tahap

embriogenesis: NAA dengan tiga

taraf

(0,00

mg/l, 0,25 mg/l, 0,50 mg/l) dan Kinetin dengan tiga taraf (0,00 mg/l, 0,50 mg/l, 1,00

mg/l),

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap inisiasi kalus tingkat konsentrasi

2,4-D dan BAP memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap persentase

terbentuknya kalus dan perkembangan kalus tetapi interaksi keduanya nyata terhadap

peningkatan pertambahan bobot kalus umur 8 dan 10 mst Perlakuan0,5 mg/12,4-D

+

0,35 mg/l BAP merupakan konsentrasi yang dapat menghasilkan pertambahan bobot

kalus yang maksimal pada umur 8 dan 10 mst, Pada tahap embriogenesis, tingkat

konsentrasi NAA memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap persentase kalus

embriogenik, sementara tingkat konsentrasi Kinetin nyata meningkatkan persentase

terbentuknya kalus embriogenik, Konsentrasi 0,50 mgll dan 1,00 mgll Kinetin dapat

menghasilkan persentase kalus embriogenik yang tinggi dan basil analisis histologi

menunjukkan adanya tahapan embriogenesis somatik.

1

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)
(90)
(91)
(92)
(93)
(94)
(95)
(96)
(97)
(98)
(99)
(100)
(101)
(102)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil karakterisasi simplisia daun jambu bol diperoleh kadar air sebesar 7,93%, kadar sari larut air 13,28%, kadar sari larut etanol 15,61%, kadar abu total 10% dan kadar abu

Hasil karakterisasi simplisia daun jambu bol diperoleh kadar air sebesar 7,93%, kadar sari larut air 13,28%, kadar sari larut etanol 15,61%, kadar abu total 10% dan kadar abu

Hasil karakterisasi simplisia daun jambu bol diperoleh kadar air sebesar 7,93%, kadar sari larut air 13,28%, kadar sari larut etanol 15,61%, kadar abu total 10% dan kadar abu

ekstrak etanol daun jambu bol mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol darah tikus yang mengalami hiperkolesterolemiab. terdapat perbedaan antara efek penurunan kadar kolesterol

Jakarta : Penerbit Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Dalam Buku Ajar Ilmu

Contoh perhitungan dosis ekstrak etanol daun jambu bol yang akan diberikan pada tikus hiperkolesterolemia. Volume suspensi ekstrak etanol daun jambu bol yang akan diberikan

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.. Dengan

Jakarta: Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Direktorat pengawasan Obat Tradisional.. Biological and Phytochemical Screening of