• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS ESTETIKA ANALISIS SEMIOTIK NOVEL B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TUGAS ESTETIKA ANALISIS SEMIOTIK NOVEL B"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS ESTETIKA

ANALISIS SEMIOTIK NOVEL BEKISAR

MERAH KARYA AHMAD TOHARI

Oleh:

Nur Widyawati Adie Sulistya

2115101146

4B

Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Bahasa dan Seni

Universitas Negeri Jakarta

2014

(2)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kita hidup di dunia berkaitan dengan tanda dan diri kitapun bagian dari tanda itu sendiri.

Tanda-tanda tersebut kemudian dimaknai sebagai wujud dalam memahami kehidupan. Manusia

melalui kemampuan akalnya berupaya berinteraksi dengan menggunakan tanda sebagai alat

untuk berbagai tujuan, salah satu tujuan tersebut adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain

sebagai bentuk adaptasi dengan lingkungan. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain,

setidaknya orang lain tersebut memahami maksud pesan kita, kurang kebih secara tepat. Supaya

komunikasi dapat terlaksana, maka kita harus membuat pesan dalam bentuk tanda (bahasa, kata).

Bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata-kata yang

dibentuk dalam bahasa diungkap melalui satu sistem perlambangan yang dapat dipahami secara

lisan maupun tulisan. Semua ini terungkap dalam tuturan, gerak laku maupun

perbuatan. Kadang-kala, lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa agak sukar untuk

dipahami sehingga memerlukan satu bentuk kajian melalui disiplin tertentu. Maka, disiplin

inilah yang diterapkan melalui pendekatan semiotik. Ia adalah disiplin yang terbentuk dari hasil

gabungan beberapa bidang ilmu lain termasuk antropologi, lingusitik, psikologi, sosiologi dan

lain-lain.

(3)

Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah kajian fiksi dalam menganalisis sebuah novel

berdasarkan semiotikanya. Untuk itu berikut rumusan masalah yang dibahas dalam isi makalah:

1. Apa Pengertian Semiotik?

2. Apa saja kajian semiotik yang terdapat dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari?

3. Bagaimana keterkaitan semiotik yang dibuat oleh pengarang dengan kesesuaian cerita?

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini yaitu supaya mahasiswa mengetahui tentang semiotik dan dapat

menganalisis sebuah novel dari unsure semiotiknya.

(4)

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Semiotik

Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semieon merupakan

istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk merujuk kepada ilmu yang mengkaji sistem

perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Inilah akar dari terbentuknya istilah

semiotik, yaitu kajian sastra yang meneliti sistem perlambangan dan berhubung dengan

tanggapan dalam karya. Semiotik juga dapat dikatakan sebuah disiplin ilmu umum yang

mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkum sistem

bahasa, tetapi juga merangkum lukisan, maupun pementasan drama. Oleh sebab itu kajian

semiotik dapat diterapkan ke berbagai bidang ilmu dan boleh dijadikan asas kajian sebuah

kebudayaan. Karena sosiologi dan linguistik merupakan bidang kajian yang mempunyai

hubungan di antara satu sama lain, semiotik yang mengkaji sistem tanda dalam bahasa juga

berupaya mengkaji wacana yang mencerminkan budaya dan pemikiran. Justru, yang menjadi

perhatian semiotik adalah mengkaji dan mencari tanda-tanda dalam wacana serta menerangkan

maksud daripada tanda-tanda tersebut dan mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk

mendapatkan makna signifikasinya

2.2 Sejarah Ringkas Semiotik

Semiotik adalah sains yang mengkaji sistem perlambangan telah ada sejak zaman Greek,

yaitu; zaman Plato dan Aristotles. Kedua tokoh tersebut telah memulakan sebuah teori bahasa

dan makna. Namun tidak lama selepas itu, teori ini dirasakan tidak wajar, lalu kegunaan dan

(5)

mendapat perhatian John Locke, seorang ahli falsafah Inggeris untuk menjelaskan doktrin

perlambangan ketika itu. Kali ini, kemunculan pendekatan semiotik berangsur-angsur mendapat

perhatian sehingga ia mula mendapat tempat di kalangan tokoh-tokoh yang terkemuka seperti

Ferdinand de Saussure (1875-1913), seorang ahli linguistik Eropah dan Charles Sander Pierce

(1839-1914), seorang ahli falsafah Amerika pada abad ke 19. Oleh karena semiotik merupakan

gabungan dari disiplin-disiplin lain, maka selalu ada perkembangan mengenai disiplin ilmu ini

sehingga ada pada saat ini yang telah dikenalkan melalui beberapa tokoh sebelumnya.

2.3 Teori Semiotik

A. C.S Peirce

Peirce mengemukakan semiotic sebagai teori segitiga makna atau triangle meaning yang

terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretan. Tanda adalah sesuatu

yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu

yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri

dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan

fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini

disebut objek. Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda

atau sesuatu yang dirujuk tanda. Hal yang terpenting dalam proses semiotik adalah bagaimana

makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.

(6)

Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau

penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified. Dalam

berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang

lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut “referent”. Hampir

serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier,

bedanya Saussure memaknai “objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur

tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata “anjing” (signifier)

dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah,

menurut Saussure, “Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti

dua sisi dari sehelai kertas.” (Sobur, 2006).

C. Roland Barthes

Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks

pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik

pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada

orang yang berbeda situasinya. Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan

menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya,

interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh

penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi

(makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman

kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap

mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure. Barthes juga melihat aspek

(7)

terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified,

tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan

membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian

berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.

Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena

dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang

menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang

keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan

tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah

Mitos.

D. Baudrillard

Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak

mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai

sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang

disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari

tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006). Sebuah iklan

menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin, seketika

pria tersebut memiliki energi yang luar biasa, mampu mengerek sebuah truk, tentu hanya

‘mengada-ada’. Karena, mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat

luar biasa. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin

yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas sehari-hari agar tidak mudah capek.

(8)

hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. Barangkali kita masih teringat

dengan kehidupan di sekitar kita seperti di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual

obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan

penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah ‘direkayasa’ agar terlihat benar-benar

manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramai-ramai membeli obatnya.

E. Jaques Derrida

Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksinya. Dekonstruksi, menurut

Derrida, adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk

kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi yang dimulai dengan konsep demistifikasi,

pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya

dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan

konsep (signified). Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah

membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung

artikulasi lain (Subangun, 1994 dalam Sobur, 2006: 100). Dekonstruksi, pertama sekali, adalah

usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa

sebagai medannya. Dengan demikian, yang semula pusat, fondasi, prinsip, diplesetkan sehingga

berada di pinggir, tidak lagi fondasi, dan tidak lagi prinsip. Strategi pembalikan ini dijalankan

dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas.

Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak

hal. Kegothicannya bisa merefleksikan ideologi abad pertengahan yang dikenal sebagai abad

(9)

cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari

moral-moral keagamaan yang seharusnya, misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau

mistis di altar gereja, dan sebagainya.

Namun, Ke-gothic-an itu juga dapat ditafsirkan sebagai ‘klasik’ yang menandakan

kemurnian dan kemuliaan ajarannya. Sesuatu yang klasik biasanya dianggap bernilai tinggi,

‘berpengalaman’, teruji zaman, sehingga lebih dipercaya daripada sesuatu yang sifatnya

temporer.Di lain pihak, bentuk gereja yang menjulang langsing ke langit bisa ditafsirkan sebagai

‘fokus ke atas’ yang memiliki nilai spiritual yang amat tinggi. Gereja tersebut menawarkan

kekhidmatan yang indah yang ‘mempertemukan’ jemaat dan Tuhan-nya secara khusuk,

semata-mata demi Tuhan. Sebuah persembahan jiwa yang utuh dan istimewa.

Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna dan

ideologi baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat

menyingkirkan (“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa

henti hingga menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas. Berbeda dari

Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas, Derrida lebih

melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi yang

membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar melalui

teknik dekonstruksi. Namun, baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik tanda

tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut.

(10)

o Hujan di sore hari pohon-pohon kelapa di seberang lembahitu seperti perawan mandi basah; segar, penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang

tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh

embusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona. Ketika

angin tiba-tiba bertiup lebih kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah,

seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama hujan, seperti gadis-gadis tanggung berbanjar

dan bergurau di bawah curah pancuran.

o Lukisan besar di seberang lembah mendadak mendapat pencahayaan yang kuat dan menjadikannya lebih hidup. Warna-warninya muncul lebih terang, matra ketiganya smakin jelas.

Muncul pernik-pernik mutiara yang berasal dari pantulan sempurna cahaya matahari oleh

dedaunan yang kuyup dan bergoyang. Dari balik bukit, di langit timur yang biru-kelabu,

muncul lengkung pelangi. Alam menyelendangi anak-anak perawannya yang selesai mandi besar dengan kabut cahaya warna-warni.

o Suara beduk dari surau Eyang Mus sudah terdengar, sayup menyelinap ke hujan.Asar sudah lewat dan senja hampir tiba. Makin kecil saja kemungkinan Darsa bisa mengangkat niranya sore ini,

karena belum juga tampak tanda-tanda cuaca akan berubah. Tanda suara beduk mengartikan hari

sudah menjelang malam dan waktunya untuk menjalankan ibadah. Sehingga bila malam mulai

dating tidak mungkn lagi bagi Darsa memanjat pohon untuk mengambil nira kelapa.

o Tubuh ramping Darsa dengan otot kuat dan seimbang serta pundak yang melengkung ke depan menandakan ia seorang penyadap yang selalu memanjat, memeluk pohon kelapa menggunakan kekuatan tangan sehingga membentuk tubuh dan otot yang kuat.

(11)

o Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Kebaya disini merupakan gambaran bahwa sifat tradisional Lasi dalam berpakaian melekat pada dirinya. Dan

pada umumnya memang masyarakat di desa berpakaian masih ke daerahan ataupun

menggunakan kebaya.

o Tetapi Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Dan Darsa

mengikutinya, lalu mengunci pintu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak

jantan menyusup ke sela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan

bergabung dengan betina di kubangan yang menggenang. Pasangan-pasangan kodok

bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serak dan berat.

Induk ayam di emper belakang merangkul semua anaknya ke balik sayap-sayapnya yang hangat.

Udara memang sangat dingin. Wacana tersebut sebenarnya memaknai bahwa Darsa dan Lasi

sedang bermesraan dan layaknya hubungan suami istri. Pengarang menggunakan semiotic

melalui tingkah pasangan kodok dan ayam serta udara dingin yang mendukung semiotic itu.

o Darsa pergi ke sumur untuk mengguyur tubuhnya. Sumur merupakan tempat untuk mengambil air, mencuci dan mandi. Dan sumur umumnya banyak dijumpai di daerah pedesaan, bukan

perkotaan. Disini Darsa menggunakan sumur untuk membersihkan diri (mandi)

o Lasi mandi besar lagi meski rambutnya belum sempat kering. Mandi besar maksudnya membersihkan badan beserta mencuci rambut

o Ketika tepat berada di tengahnya ia melihat setangkai pelepah pinang kuning tiba-tiba runduk lalu

lepas dari batang dan melayang jatuh ke tanah. Pelepah itu terpuruk menimpa rumpun nanas liar.

Di atas sana pelepah pinang itu meninggalkan mayang putih bersih dan masih setengah terbungkus selubung kelopak. Darsa merasa seakan baru melihat sebuah kematian. Mayang putih

(12)

o Banyak celoteh mengatakan bahwa Lasi yang berkulit putih dengan mata dan lekuk pipi yang

khas itu sesungguhnya lebih pantas menjadi istri lurah daripada menjadi istri seorang penyadap.

Umumnya gadis yang cantik dan sempurna fisiknya biasanya layak menjadi istri dari orang yang

tinggi jabatan atau pangkatnya

o Mata para lelaki tiba-tiba menyala bila mereka memandang Lasi. Hal ini berarti meyakinkan bahwa Lasi itu memang gadis yang cantik sehingga mata mereka menyala (tidak mau

melewatkan apa yang telah dilihatnya)

o Emak Lasi mempunyai nasihat yang jitu: segeralah mandi, menyisir rambut, dan merahkan bibir

dengan mengunyah sirih. Kenakan kain kebaya yang terbaik lalu sambutlah suami di pintu

dengan senyum. Wacana ini merupakan nasihat yang digunakan untuk menyambut suami dari

kelelahannya setelah bekerja. Memerahkan bibir dengan sirih merupakan salah satu cara merias

diri (pengganti lipstick). Menggunakan kebaya terbaik menunjukkan kecantikan dan kewanitaan.

Dengan mandi, menyisir rambut, dan memerahkan bibir,serta berpakaian rapi merupakan

persiapan diri menyenangkan hati suami, sehingga suami pun menjadi senang walaupun ia sudah

letih dari pekerjaannya

o Beduk kembali terdengar dari surau Eyang Mus. Magrib. Pada saat seperti itu selalu ada yang ditunggu oleh Lasi; suara "hung", yaitu bunyi pongkor kosong yang ditiup suaminya dari ketinggian pohon kelapa. Untuk memberi aba-aba bahwa dia hampir pulang. Yang menjadi

symbol dari wacana diatas yaitu suara ‘hung’ saat magrib sebagai penanda Darsa akan pulang

o Lasi menegakkan kepala ketika terdengar suara "hung". Wajahnya yang semula

(13)

o Mukri yang tiba-tiba datang dan mengatakan ada kodok lompat merupakan mitos yang juga dapat dikatakan proses semiotic menurut Roland Barthes. Kata ‘jatuh’ adalah hal yang pantang

disebutkan bagi kalangan penyadap ketika ada yang jatuh dari pohon kelapa. Untuk itu

masyarakat jadi tersugesti untuk mengucapkan kodok lompat saat kejadian itu terjadi pada

mereka. Semiotik Kodok lompat ini menjadi penanda bahwa ada seorang penyadap yang jatuh

dari pohon

o Ketika langit sedetik benderang terlihat awan hitam mulai menggantung. Lasi mengisak karena

mendengar dari jauh suara burung hantu. Orang Karangsoga sering menghubungkan suara burung itu dengan kematian.

o Karangsoga, 1961, jam satu siang. Bel di sekolah desa itu berdering. Terdengar ramai para murid memberi salam bersama kepada guru. Sepuluhan anak lelaki dan perempuan keluar dari ruang

kelas enam. Lepas dari pintu kelas mereka bersicepat menghambur ke halaman dan langsung

diterpa terik matahari. Bel jam satu siang pertanda aktivitas di sekolah telah berakhir, dan mereka

bergegas pulang

o Ketiga teman sekelas itu biasa menggoda Lasi, baik di dalam kelas apalagi di luarnya. Kini

ketiganya cengir-cengir lagi dan Lasi menatap mereka dengan mata membulat penuh. Pipinya serta-merta merona. Ada ketegangan merentang titian pinang sebatang. Lasi menatap bulat dengan pipi merona menandakan Lasi marah

o "Lasi-pang, si Lasi anak Jepang," ujar yang satu sambil memonyongkan mulut dan menuding wajah Lasi. Seorang lagi menjulurkan lidah. Memonyongkan mulut, menuding wajah, menjulurkan lidah menyimbolkan bahwa mereka mengejek Lasi

o Matanya yang bulat dan jernih terus memandang Lasi yang masih berurai air mata. Lama-lama

(14)

o Gadis di Karangsoga yang menikah pada usia duapuluh menggambarkan social budaya

masyarakat itu sendiri yang menikah di usia muda. Usia duapuluh dan belum menikah menjadi

icon tersendiri bagi masyarakat itu.

o Di timur sinar matahari menyemburat dari balik bayangan bukit. Puncak-puncak pepohonan

mulai tersapu sinar merah kekuningan. Dari sebuah sudut di Karangsoga pemandangan jauh ke

selatan mencapai dataran rendah yang sangat luas. Wacana diatas menggambarkan suasana pagi

dan cahaya matahari yang mulai menerangi daratan.

o Darsa mengangkat alis menandakan dia heran atau bahkan terkejut

o Matahari hampir mencapai pucuk langit, Pertanda hari semakin siang

BAB 3

Pada bagian ketiga Novel Bekisar Merah karya achmad tohari mengandung semiotik

yang dapat di analisis dan di telaah sebagai berikut :

(15)

Sungai Kecil Tanda dari Kalirong

Batu-batu besar, beberapa diantaranya sangat besar, teronggok diam seperti pengawal abadi yang merendam diri sepanjang masa dalam air jernih Kalirong.

pengawal abadi Tanda dari Batu-batu besar

Buahnya yang kecil dan bulat sering jatuh ke air oleh gerakan berbagai jenis burung yang sedang berpesta dalam kerimbunan daun pohon besar itu.Plang-plung suara buah beringin menimpa air.

Plang-plung suara buah beringin menimpa air --- Buahnya yang kecil dan bulat sering jatuh ke air

Seekor burung merah yang sangat mungil terbang-hinggap pada ranting beringin yang menjulur, menggantung hampir menyentuh air, menggoyang tangkai-tangkai benalu yang tumbuh di sana

(16)

Seekor burung merah yang sangat mungil terbang-hinggap pada ranting beringin yang menjulur

Kukira kamu memang salah. Kamu telah menyakiti istrimu. Kamu juga telah mengabaikan angger-angger, aturan Gusti dalam tata krama kehidupan.

"Sejak semula saya tidak ingin melakukan kesalahan ini. Sungguh, karena seperti yang sudah saya katakan, saya juga sudah bisa menduga apa akibatnya. Tetapi kesalahan itu benar-benar telah saya lakukan.

"Aku juga harus mengawini Sipah meskipun aku tak menghendakinya.

· gambar penderitaan

· melekat

· berahi

· mudah memikulnya.

· menunduk lesu

· Mengangguk-angguk

· Menunduk

(17)

BAB 4

Kata “Geisha” yang diperbincangkan oleh Bu Lanting dan Pak Handar beni menunjukkan

perempuan yang cantik identik dengan pelacur khas Jepang hal ini mereka menyamakan

kecantikan Haruko yang nantinya akan disamakan dengan Lasih dari fisiklinya.

“Ndak gitu. Untuk nyicipi seorang gadis Jepang, mudah. Aku punya uang. Namun untuk

memboyong dia ke rumah ada halangan politis atau halangan tatakrama, atau smacam itu.”

Kalimat diatas dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim

makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Maka tanda

tersebut merupakan tanda kekuasaan pak Handarbeni yang dengan mudah menguasai segalanya

dengan uang. Selanjutnya pada kalimat berikutnya, ‘halangan politis’ dan halangan ‘tata krama’

selanjutnya pada kata ngembari srengengemerupakan penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat atau tokoh dari Pak Handarbeni. Hal ini mitos dari suku Jawa yang takut

nantinya akan kualat. Konotasi dari ngembari srengenge yang salah satu bahasa jawa ini yang berkembang menjadi asumsi dari symbol ‘kualat’.

Tanda kata yang dipakai tokoh dalam membicarakan keturnan Jepang sebagai barang

langka, benda-benda antik, atau bekisar. Hal ini menandakan bahwa langkanya itu diakibatan

sedikitnya keturunan Jepang yang tinggal di Indonesia, dan lagi sangat cantik, bekisar berarti

dalam hal ini menjadi peliharaan manis bagi hidung belang.

Tokoh handarbeni yang mengatakan dalam ucapannya ‘gagah-gagahan’ menunjukkan

sebuah tanda bahwa hidupnya mengambil seorang perempuan cantik hanyalah untuk menjadi

(18)

Menurt Zoest satu hal tanda kegilaan dalam seseorang, hal ini tergambar dalam tokoh Pak

Handarbeni, ketika ia menceritakan peristiwa kebetulannya ketika zaman perang atau kontak

senjata ia hanya menikmatinya seperti bermain petasan.

‘Mata lelaki 61 tahun itu menyala’ kalimat ini menandakan bahwa pak handarbeni

seorang yang tua akan tetapi masih bernapsu besar. Hanya melihat photo saja ia sudah bergairah

dibuktikan dengan hanya memandang photo matanya menyala-nyala.

Ketika Handarbeni mengamati tiga photo Lasih yang berukuran seluruh badan, setengah

dan close up menandakan bahwa ia ingin jauh mengetahui fisik si Lasih, akan tetapi mengapa

harus tiga photo dan berbagai ukuran. Hal ini telah mencerminkan bahwa Pak Handarbeni ini

seorang yang teliti dalam memilih sesuati hal.

Keluguan dan kemalu-maluan photo Lasih menandakan bahwa Pak Handarbeni tertarik

dengan gadis lugu, sebab juga dijelaskan oleh pencerita bahwa Pak Handarbeni ini tak sabar lagi

untuk menemui Lasih, ketika melihat photonya yang cantik. Hal ini juga menunjukkan nafsu pria

tua ini terhadap seorang gadis.

Bu Lanting sering membawa Lasih keluar, makan-makan di restoran dan belanja.

Menandakan bahwa bu Lanting ini telah terbiasa untuk menjinakkan dalam artian seseorang

yang akan dijualnya itu berbalas budi padanya hingga semua kemauan Bu Lanting nantinya akan

terturuti oleh Lasih.

“Berkisarku sudah jinak dan betah di kota” hal ini sebuah ungkapan dan tanda bahwa ini

kepuasan batin Bu Lanting yang telah berhasil membuat Lasih menjadi gadis yang berbeda dari

(19)

“Kamu adalah anakku dan cantik” kalimat ini telah menandakan bahwa Bu Lanting

memberi kenyamanan kepada Lasih agar ia semakin percaya diri, dan semakin mengakrabkan

dirinya kepada Lasih.

Tanda peristiwa muncul ketika Lasih berada dalam kamar, ketika ia duduk di kamar

seorang diri, Lasi merasa ada kerusuhan besar dalam hatinya. Hal ini menandakan ada yang

berbeda kini dalam dirinya, ada sesuatu yang ia takutkan hingga hatinya hatinya merasa keruh

dan bingung.

Tanda gerakan mata ketika lasi mendengar bel dan matanya terpaku, hal ini menandakan

ia bertemu seseorang yang membuat ingatan dalam pikirannya bekerja keras. Matanya kaput,

mata sakura. Hal ini menandakan bahwa Lasi memiliki mata serupa dengan mata seorang Jepang

yang terkenal dengan bunga Sakura. Sebenarnya tak ada kaitan ketika kita membicarakan antara

mata dan sakura. Sebab mata adalah alat indra sedangkan sakura adalah bunga yang khas dari

jepang berwarna merah muda dan mempunyai kelopak berjumlah empat buah. Apakah kita

mengkyalkan bahwa mata Lasi seperti itu. Ini merupakan tanda dari fisik tokoh yang

menggambarkan matanya sipit seperti orang Jepang.

Sebuah tanda ketika Lasi memakai pakaian kimono, hal ini membuat Lasih diperbuat

seperti layaknya gadis Jepang. Ada maksud tertentu dari seorang Bu Lanting yang merias Lasi

dengan pakaian seperti itu.

Ada sebuah tanda kembali ditemukan ketika Lasi bertemu Kanjat, ia dengan mudah

mengingat peristiwa semasa kecil hal ini menunjukkan hal itu atau peristiwa tersebut merupakan

poeristiwa indah dalam hidup Lasi. Lalu ketika matanya memerah ingin berpisah hal ini

menandakan adanya kesedihan yang teramat dalam antara mereka berdua, adanya kerinduan

(20)

simpulkan saat pengarang memposisikan alur antara Lasi dan Kanjat pada episode itu. Dan

senyumnya membuat Lasi memerah. Hal ini menandakan bahwa Lasi tersipu malu.

Semiotik penggambaran fisik selanjutnya ditemukan ketika Lasi bertemu dengan si tua

Handarbeni, yang mempunyai wajah gemuk hampir membentuk bulatan. Tengkuk dan dagunya

tebal. Hidungnya gemuk dan berminyak. Hal ini menandakan bahwa pak Handarbeni ialah

berperawakan tidak menarik dan buruk. Seperti yang diceritakan kembali oleh pengarang ia

seperti seorng guru tua. Wajah Lasi merona ini menandakan ia tersipu malu.

Ketika bertemu dengan Lasi sebuah peristiwa ang menandakan pak Han ini orang yang

menggelikan dengan sikapnya yang seperti orang tua hidung belang, membuat pembaca merasa

rengkuh melihat sikap dan gaya pak Han ini. Sikap Han terkekeh ketika bertemu dengan Bu

Lanting menandakan ia sangat puas dengan Lasi.

Sejak pulang dari rumah Bu Lanting kanjat terus memikirkan Lasi hal ini bertanda ia

telah jatuh hati dengan Lasi dan selalu berdebar dalam hatinya. Lalu percakapan antara Kanjat

dan Prdi yang mengatakan’ terus terang aku sesungguhnya merasa kasihan, dan khawatir Lasi

akan dijadikan perempuan nggak bener. Hal ini telah adanya kekuatan batin dan sesuatu hal aneh

yang tidak dapat diterima logikanya oleh Kanjat. Sebab mana ada orang terlalu baik di kota

Jakarta ini tanpa adanya imbalan tertentu apalagi orang seperti bu Lanting. Satu hal yang juga

menjadi titik lemah Kanjat yaitu ketakutannya akan sesuatu hal dan tidak berani mengambil

keputusan secara cepat agar Lasi selamat dari cengkraman Bu Lanting.

Andaikan saya adalah Mas Kanjat, saya takkan peduli dengan omongan orang

Karangsoga. Kata-kata Pardi ini menandakan 2 pengertian, pertama hal itu berbentuk denotasi

(21)

Lasi ataukah hanya makna konotasi sebaliknya dari denotasi yang bertujuan untuk membuat hati

Kanjat ingin memiliki Lasi agar tidak ragu menjadikan Lasi sebagai istrinya.

Ada banyak tangan yang berhompim pa satu paling putih yaitu tangan Lasi, hal ini

menandakan kenangan masa kecilnya dulu sulit untuk dilupakan apalagi peristiwa bersama Lasi

dan mengartikan bahwa ternyata Kanjat dari dulu sudah mengagumi seorang Lasi.

BAB 5

Tanda berupa anggota badan di gambarkan oleh Lasih pada bab ke lima ini. Ketika ia

lama terbaring di tempat tidur, akan tetapi tak kunjung dapat tidur. Hal ini menandakan

kegelisahan dalam kecamuk hatinya. Ternyata dalam cerita selanjutnya ia memikirkan pemuda

yaitu Kanjat. Dalam batin Lasi ini menggambarkan sebuah rasa cinta yang tumbuh seketika

terhadap pemuda yang ditemuinya tadi. Tapi ia menemui dua orang lelaki yaitu itu salah

seorangnya lagi pak Han, akan tetapi ini menandakan ia tiada tertarik terhadap Pak Han tersebut.

Tanda berupa bentuk rumah tergambar juga saat Lasi mengunjungi rumah Pak Han di

Slipi.yang menceritakan kegagahan bangunan itu, lantainya yang putih, ruang kamarnya yang

besar-besar, dapurnya mengkilap, dan ada kolam ikan, perabotnya jati, dengan bantalan tebal dan

empuk.setiap kamar ada kamar mandi yang mewah. Penggambaran selanjutnya menandakan

bahwa Pak Han ini merupakan orang yang kaya benar.

Tanda photo dalam rumah Pak Han yaitu sebuah photo Lasi yang di pajang di tembok

rumahnya Pak Han dengan pakaian Kimono yang pernah ia pakai sebelumnya. Hal ini

menandakan Lasi sudah di anggap istimewa oleh Pak Han,

Tanda peristiwa ketika Lasi mendengar kata-kata dari Bu lanting yang mengatakan bahwa

(22)

sejenak terpana dan tiba-tiba sulit bernapas. Wajahnya pucat oleh guncangan yang mendadak

menggoyahkan jiwanya, sepasang akisnya merapat. Lasi gelisah. Tetapi Bu koneng tak ambil

peduli. Hal ini menandakan ada suatu keidak siapannya Lasi akan hal itu yang membuat hatinya

bergemuruh kacau. Apalagi slanjtnya pengarang mengatakan ia menangis, hal ini membuat tokoh

mendapat batin yang begitu keras dan mendapat pemikiran yang keras untuk memikirkan

kehidupannya selanjutnya. Apalagi dengan sikap Bu Lanting yang acuh dna tak acuh seoalh ia

tak peduli terhadap Lasi dan suatu pemaksaan kecil dengan buaian kesenangan materi yang akan

diterima oleh Lasi. Seta rayuan mautnya agar Lasi ingin menikah dengan Pak Han.

Tnpa ekspresi muka Lasi ketika mendengar perkataan Bu Lanting, kerut-kerut di

keningnya semakin jelas. Ini sebuah tanda kebingungan yang dialami oleh Lasi. Apalagi ketika

membahas surat cerai yang menurut Bu Lanting sangat mudah. Hal ini menunjukkan apapun di

dunia ini sangat mudah di urus apabila ada uang banyak. Menggambarkan persoalan hidup

kekinian juga.

Sebuah tanda perasaan yang dialami oleh Lasi muncul ketika ia menangis untuk

meminta surat-surat dari Darsa dan kemudian akan menikah dengan Pak Han ia teringat dengan

Kanjat. Ini bertanda ada hati yang telah disimpannya untuk Kanjat. Dan tanda peristiwa lama

yang cepat muncul dalam pikiran Lasi ketika sebuah peristiwa pengkhianatan kembali terbuai

dalam perjalanan hidupnya tersebut.

BAB 6

(23)

Hal ini menandakan bahwa Lasi adalah benar-benar adalah seorang perempuan yang amat cantik.

Sehingga setiap mata lelaki yang melihatnya akan sangat terkesima karena mengangumi

kecantikan yang nyaris sempurn ayang dimiliki oleh Lasi.

Lasi bisa menjadi boneka cantik yang penurut, ia akan mendapat apa yang diinginkannya betul.

Menjadi boneka yang cantik dan penurut maksud Handarbeni disini adalah Lasi tetap menjadi

istrinya yang cantik, yang selalu menuruti apa mau dari Handarbeni maka selagi Lasi dapat

bersikap baik padanya, dia akan menuruti semua keinginan Lasi.

Handarbeni memanjakan Lasi sebagai seorang penggemar unggas menyayangi bekisarnya

Pada kalimat ini yang dimaksudkan sebagai penggemar unggas adalah Handarbeni dan yang

dimaksudkan bekisar adalah Lasi. Yang mana Handarbeni sangat menyayangi dan tak ingin

kehilangan Lasi sang Bekisar. Seperti yang kita ketahui, bekisar adalah unggas elok hasil kawi

silang antara ayam huta dan ayam biasa. Sedangkan bekisar yaitu Lasi adalah hasil keturunan

antara orang Jepang dan Indonesia, namun hasilnya sanagt sempurna yaitu Lasi. Karena

kecantikan Lasi lah Handarbeni tidak ingin kehilangannya.

“ Ya, Las. kamu memang diperlukan Pak Han terutama untuk pajangan dan gengsi, “

Pajangan yang dimaksud adalah diri Lasiyah. Lasi dianggap sebagai pajangan karena

sesungguhnya yang dibanggakan dari dirinya adalah kecantikannya yang bisa ditunjukkan

kepada semua orangsehingga dapat menambah gengsi dari Handarbeni.

Kecuali beberapa anak. Mereka mengelilingi mobil Lasi, masinh-masing dengan mata membulat

Mata anak-anak membulat melihat mobil Lasi. Hal itu menandakan bahwa mobil Lasi tersebut

(24)

benda-benda yang mahal, dan jarang ditemukan di daerah itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa mobil Lasi

sangat menatik perhatian karena harganya sangat mahal dan bagus.

Sangat jelas mereka mengambil jarak

Pada umumnya oaring-orang yang mengambil jarak keppada seseorang karena disebabkan oleh

bebrapa hal. Dan pada penggalan yang berikutnya, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang

dahulu dekat dengan Lasi kini menjaga jarak karena telah merasa tidak pantas sebab kini Lasi

telah berbeda kasta denagn mereka. Lasi kini telah menjadi orng kaya bukanlai Lasi yang mereka

kenal dahulu.

Semua orang ingin memperlihatkan keakraban kepadanya dan wajah mereka cerah ketika diajak

berbicara

Wajah mereka (orang-orang karangsoga) cerah ketika diajak berbicara oleh Lasi. Padahal

mereka selalu memandang rendah Lasi, ketika Lasi masih sangat miskin, bahkan mengolok-olok

Lasi ketika dia dikhianati oleh Darsa suaminya.

Mulut mbok Wiryaji tiba-tiba rasa terkunci

Hal ini menandakan bahwa mboknya tidak lagi merasa bisa berbicara seenaknya kepada Lasik

arena kini Lasi tak lagi seperti dulu. Kini Lasi sudah sangat berbeda ketika dia telah menikah

dengan orang kaya.

Kantong matanya menggantung dan tulang pipinya menonjol.

Kalimat ini menggambarkan keadaan eyang Mus. Hal ini menandakan bahwa eyang Mus tak lagi

sesegar dan sesehat dahulu. Tubuhnya telah renta dan usia yang semakin senja telah berhasil

menggerogoti tubuhnya.

(25)

Hal ini menandakan bahwa Lasi sangat terkejut mendengar pernyataan tentang Kanjat yang kini

telah memiliki seseorang yang sedang dekat dengannya.

Wajah Lasi merah.

Wajah Lasi yang memerah ini menandakan bahwa ia malu karena segala sesuatu tentang dirinya

yang terdahulu diketahui pasti oleh Pardi. Apalagi kektika kejadian dia melarikan diri dari

Karangsoga dan minggat ke Jakarta.

Mata Pardi menyala ketika melihat pipi Lasi merona.

Melihat pipi Lasi yang merona karena malu, mata Pardi pun menyala. Pardi merasa menang

karena dapat membuat Lasi merasa malu.

Kanjat mengerutkan kening.

Kanjat berusaha memahami kata-kata yang dimaksudkan oleh Lasi tentangnya.

BAB 7

Dia tidak berkutik di bawah ketiak istri pertamanya yang peyot dan nyinyir.

Hal ini menandakan bahwa Handarbeni sangat takut pada isttrinya. Istrinyalah yang berkuasa

terhadap Handarbeni.

Mata Lasi menyala ketika melihat liontin de beers

Mata Lasi menyala, menandakan bahwa ia sangat terkesan dengan kalung yang kini ada di

lehernya. Apalagi ketika mengingat kata-kata bu Lanting yang menyebutkan bahwa kalung

(26)

Bibir Lasi gemetar setelah bu Lanting mengatakan kalung itu asli.

Hal itu ketika mengingat kata-kata bu Lanting yang menyebutkan bahwa kalung tersebut asli.

Sebab setahunya, kalung yang asli harganya sangat tinggi.

BAB 8

Kamu sudah menerima Kalung dari Pak Bambung berarti imbalan bagi Lasi atau seperti Lasi

sudah di bayar selama satu malam oleh Pak Bambung. Kalung sebagi imbalan menurut kami

telah cocok sebagai simbol imbalan karena Lasi suka perhiasan itu

Sampah yang dicampakkan ke dalam keranjang berarti tak berarti lagi bagi pak Handarbeni

sehingga dicamppakkan begitu saja.

Bekisar kesayangannya berarti seorang yang sangat cantik seperti bekisar yang dikyrung di

sangkar emas (rumah mewah), sebagai pajangan karena Handarbeni seorang impoten.

Kamu akan makin Berkibar berarti ia akan makin kaya karena pak Bambung lebih kaya

daripada Handabeni.

Si mata gatal artinya laki-laki yang suka menggoda perempuan.

Matanya menyapu sekeliling ruang tamu artinya ia manatap sekelilingnya.

Lambang payung kehidupan berarti tempat berteduh

Kanjat terbatuk berarti terkejut karena disuruh menemui dan berbicara pada Lasi.

Buah ejekan di kampung ini berarti bahan ejekan.

Ke sebuah rumah anggun berarti rumah Pak Bambung yang diberikan untuk Lasi.

Bebek manila berarti julukan Bu Lanting

Agen tai kucing berarti julukan Bu Lanting sebagai agen yang menjual Lasi

(27)

Tidak boleh ada matahari kembar atau dua pucuk kekuatan artinya tidak boleh ada dua orang

yang memimpin.

Belantik kekuasaan berarti bawahan.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semieon merupakan

istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk merujuk kepada ilmu yang mengkaji sistem

perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Inilah akar dari terbentuknya istilah

(28)

tanggapan dalam karya. Semiotik juga dapat dikatakan sebuah disiplin ilmu umum yang

mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkum sistem

bahasa, tetapi juga merangkum lukisan, maupun pementasan drama. Oleh sebab itu kajian

semiotik dapat diterapkan ke berbagai bidang ilmu dan boleh dijadikan asas kajian sebuah

kebudayaan

DAFTAR PUSTAKA

Christomy, Tommy. 2004. Semiotika Budaya. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, UI:Depok

(29)

Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Referensi

Dokumen terkait

memperkirakan waktu. Hal seperti ini adalah hal yang sangat jarang terjadi ” menunjukkan bahwa ada kekhawatiran dan kegelisahan yang dirasakan Fujii terhadap Yoshimi. Fujii

Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan bahwa : “Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada

Tidak hanya tentang persoalan bahasa, kemampuan penulis dalam memainkan jiwa pembacanya melalui cerita atau pesan-pesan moral yang ada di dalam sebuah cerita juga

Bahwa, berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Gugatan dari PENGGUGAT KONPENSI sangat tidak berdasar dan mengada-ada serta terkesan untuk lari dari

Dengan hasil perhitungan di atas menunjukan, bahwa korelasi variabel X1 ke Y sangat lemah hanya 0,26 Menunjukan bahwa Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah tidak berkolerasi terhadap

Pada dimensi ini, ekspektasi pelanggan secara rata-rata juga bernilai sangat tinggi yaitu, yaitu di atas 4,800; yang menandakan bahwa harapan pelanggan terhadap

Meskipun tidak sekali-kali bertabiat budak yang mengaku dan menyembah pada tuannya, walaupun ia di siksa dan di hina, bahkan ada yang sebaliknya, tapi Si Untung terhadap tuannya dan

Stephen Reese, dalam buku “Framing Public Life” yang terbit pada tahun 2008 menuliskan bahwa metode analisis framing pada masa kini sangat diminati dan banyak dipakai di kalangan