TUGAS ESTETIKA
ANALISIS SEMIOTIK NOVEL BEKISAR
MERAH KARYA AHMAD TOHARI
Oleh:
Nur Widyawati Adie Sulistya
2115101146
4B
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Jakarta
2014
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kita hidup di dunia berkaitan dengan tanda dan diri kitapun bagian dari tanda itu sendiri.
Tanda-tanda tersebut kemudian dimaknai sebagai wujud dalam memahami kehidupan. Manusia
melalui kemampuan akalnya berupaya berinteraksi dengan menggunakan tanda sebagai alat
untuk berbagai tujuan, salah satu tujuan tersebut adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain
sebagai bentuk adaptasi dengan lingkungan. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain,
setidaknya orang lain tersebut memahami maksud pesan kita, kurang kebih secara tepat. Supaya
komunikasi dapat terlaksana, maka kita harus membuat pesan dalam bentuk tanda (bahasa, kata).
Bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata-kata yang
dibentuk dalam bahasa diungkap melalui satu sistem perlambangan yang dapat dipahami secara
lisan maupun tulisan. Semua ini terungkap dalam tuturan, gerak laku maupun
perbuatan. Kadang-kala, lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa agak sukar untuk
dipahami sehingga memerlukan satu bentuk kajian melalui disiplin tertentu. Maka, disiplin
inilah yang diterapkan melalui pendekatan semiotik. Ia adalah disiplin yang terbentuk dari hasil
gabungan beberapa bidang ilmu lain termasuk antropologi, lingusitik, psikologi, sosiologi dan
lain-lain.
Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah kajian fiksi dalam menganalisis sebuah novel
berdasarkan semiotikanya. Untuk itu berikut rumusan masalah yang dibahas dalam isi makalah:
1. Apa Pengertian Semiotik?
2. Apa saja kajian semiotik yang terdapat dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari?
3. Bagaimana keterkaitan semiotik yang dibuat oleh pengarang dengan kesesuaian cerita?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu supaya mahasiswa mengetahui tentang semiotik dan dapat
menganalisis sebuah novel dari unsure semiotiknya.
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Semiotik
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semieon merupakan
istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk merujuk kepada ilmu yang mengkaji sistem
perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Inilah akar dari terbentuknya istilah
semiotik, yaitu kajian sastra yang meneliti sistem perlambangan dan berhubung dengan
tanggapan dalam karya. Semiotik juga dapat dikatakan sebuah disiplin ilmu umum yang
mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkum sistem
bahasa, tetapi juga merangkum lukisan, maupun pementasan drama. Oleh sebab itu kajian
semiotik dapat diterapkan ke berbagai bidang ilmu dan boleh dijadikan asas kajian sebuah
kebudayaan. Karena sosiologi dan linguistik merupakan bidang kajian yang mempunyai
hubungan di antara satu sama lain, semiotik yang mengkaji sistem tanda dalam bahasa juga
berupaya mengkaji wacana yang mencerminkan budaya dan pemikiran. Justru, yang menjadi
perhatian semiotik adalah mengkaji dan mencari tanda-tanda dalam wacana serta menerangkan
maksud daripada tanda-tanda tersebut dan mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk
mendapatkan makna signifikasinya
2.2 Sejarah Ringkas Semiotik
Semiotik adalah sains yang mengkaji sistem perlambangan telah ada sejak zaman Greek,
yaitu; zaman Plato dan Aristotles. Kedua tokoh tersebut telah memulakan sebuah teori bahasa
dan makna. Namun tidak lama selepas itu, teori ini dirasakan tidak wajar, lalu kegunaan dan
mendapat perhatian John Locke, seorang ahli falsafah Inggeris untuk menjelaskan doktrin
perlambangan ketika itu. Kali ini, kemunculan pendekatan semiotik berangsur-angsur mendapat
perhatian sehingga ia mula mendapat tempat di kalangan tokoh-tokoh yang terkemuka seperti
Ferdinand de Saussure (1875-1913), seorang ahli linguistik Eropah dan Charles Sander Pierce
(1839-1914), seorang ahli falsafah Amerika pada abad ke 19. Oleh karena semiotik merupakan
gabungan dari disiplin-disiplin lain, maka selalu ada perkembangan mengenai disiplin ilmu ini
sehingga ada pada saat ini yang telah dikenalkan melalui beberapa tokoh sebelumnya.
2.3 Teori Semiotik
A. C.S Peirce
Peirce mengemukakan semiotic sebagai teori segitiga makna atau triangle meaning yang
terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretan. Tanda adalah sesuatu
yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu
yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri
dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan
fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini
disebut objek. Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda
atau sesuatu yang dirujuk tanda. Hal yang terpenting dalam proses semiotik adalah bagaimana
makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.
Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau
penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified. Dalam
berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang
lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut “referent”. Hampir
serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier,
bedanya Saussure memaknai “objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur
tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata “anjing” (signifier)
dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah,
menurut Saussure, “Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti
dua sisi dari sehelai kertas.” (Sobur, 2006).
C. Roland Barthes
Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks
pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik
pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada
orang yang berbeda situasinya. Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan
menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya,
interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh
penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi
(makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman
kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap
mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure. Barthes juga melihat aspek
terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified,
tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan
membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian
berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena
dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang
menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang
keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan
tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah
Mitos.
D. Baudrillard
Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak
mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai
sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang
disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari
tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006). Sebuah iklan
menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin, seketika
pria tersebut memiliki energi yang luar biasa, mampu mengerek sebuah truk, tentu hanya
‘mengada-ada’. Karena, mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat
luar biasa. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin
yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas sehari-hari agar tidak mudah capek.
hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. Barangkali kita masih teringat
dengan kehidupan di sekitar kita seperti di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual
obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan
penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah ‘direkayasa’ agar terlihat benar-benar
manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramai-ramai membeli obatnya.
E. Jaques Derrida
Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksinya. Dekonstruksi, menurut
Derrida, adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk
kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi yang dimulai dengan konsep demistifikasi,
pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya
dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan
konsep (signified). Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah
membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung
artikulasi lain (Subangun, 1994 dalam Sobur, 2006: 100). Dekonstruksi, pertama sekali, adalah
usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa
sebagai medannya. Dengan demikian, yang semula pusat, fondasi, prinsip, diplesetkan sehingga
berada di pinggir, tidak lagi fondasi, dan tidak lagi prinsip. Strategi pembalikan ini dijalankan
dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas.
Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak
hal. Kegothicannya bisa merefleksikan ideologi abad pertengahan yang dikenal sebagai abad
cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari
moral-moral keagamaan yang seharusnya, misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau
mistis di altar gereja, dan sebagainya.
Namun, Ke-gothic-an itu juga dapat ditafsirkan sebagai ‘klasik’ yang menandakan
kemurnian dan kemuliaan ajarannya. Sesuatu yang klasik biasanya dianggap bernilai tinggi,
‘berpengalaman’, teruji zaman, sehingga lebih dipercaya daripada sesuatu yang sifatnya
temporer.Di lain pihak, bentuk gereja yang menjulang langsing ke langit bisa ditafsirkan sebagai
‘fokus ke atas’ yang memiliki nilai spiritual yang amat tinggi. Gereja tersebut menawarkan
kekhidmatan yang indah yang ‘mempertemukan’ jemaat dan Tuhan-nya secara khusuk,
semata-mata demi Tuhan. Sebuah persembahan jiwa yang utuh dan istimewa.
Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna dan
ideologi baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat
menyingkirkan (“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa
henti hingga menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas. Berbeda dari
Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas, Derrida lebih
melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi yang
membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar melalui
teknik dekonstruksi. Namun, baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik tanda
tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut.
o Hujan di sore hari pohon-pohon kelapa di seberang lembahitu seperti perawan mandi basah; segar, penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang
tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh
embusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona. Ketika
angin tiba-tiba bertiup lebih kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah,
seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama hujan, seperti gadis-gadis tanggung berbanjar
dan bergurau di bawah curah pancuran.
o Lukisan besar di seberang lembah mendadak mendapat pencahayaan yang kuat dan menjadikannya lebih hidup. Warna-warninya muncul lebih terang, matra ketiganya smakin jelas.
Muncul pernik-pernik mutiara yang berasal dari pantulan sempurna cahaya matahari oleh
dedaunan yang kuyup dan bergoyang. Dari balik bukit, di langit timur yang biru-kelabu,
muncul lengkung pelangi. Alam menyelendangi anak-anak perawannya yang selesai mandi besar dengan kabut cahaya warna-warni.
o Suara beduk dari surau Eyang Mus sudah terdengar, sayup menyelinap ke hujan.Asar sudah lewat dan senja hampir tiba. Makin kecil saja kemungkinan Darsa bisa mengangkat niranya sore ini,
karena belum juga tampak tanda-tanda cuaca akan berubah. Tanda suara beduk mengartikan hari
sudah menjelang malam dan waktunya untuk menjalankan ibadah. Sehingga bila malam mulai
dating tidak mungkn lagi bagi Darsa memanjat pohon untuk mengambil nira kelapa.
o Tubuh ramping Darsa dengan otot kuat dan seimbang serta pundak yang melengkung ke depan menandakan ia seorang penyadap yang selalu memanjat, memeluk pohon kelapa menggunakan kekuatan tangan sehingga membentuk tubuh dan otot yang kuat.
o Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Kebaya disini merupakan gambaran bahwa sifat tradisional Lasi dalam berpakaian melekat pada dirinya. Dan
pada umumnya memang masyarakat di desa berpakaian masih ke daerahan ataupun
menggunakan kebaya.
o Tetapi Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Dan Darsa
mengikutinya, lalu mengunci pintu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak
jantan menyusup ke sela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan
bergabung dengan betina di kubangan yang menggenang. Pasangan-pasangan kodok
bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serak dan berat.
Induk ayam di emper belakang merangkul semua anaknya ke balik sayap-sayapnya yang hangat.
Udara memang sangat dingin. Wacana tersebut sebenarnya memaknai bahwa Darsa dan Lasi
sedang bermesraan dan layaknya hubungan suami istri. Pengarang menggunakan semiotic
melalui tingkah pasangan kodok dan ayam serta udara dingin yang mendukung semiotic itu.
o Darsa pergi ke sumur untuk mengguyur tubuhnya. Sumur merupakan tempat untuk mengambil air, mencuci dan mandi. Dan sumur umumnya banyak dijumpai di daerah pedesaan, bukan
perkotaan. Disini Darsa menggunakan sumur untuk membersihkan diri (mandi)
o Lasi mandi besar lagi meski rambutnya belum sempat kering. Mandi besar maksudnya membersihkan badan beserta mencuci rambut
o Ketika tepat berada di tengahnya ia melihat setangkai pelepah pinang kuning tiba-tiba runduk lalu
lepas dari batang dan melayang jatuh ke tanah. Pelepah itu terpuruk menimpa rumpun nanas liar.
Di atas sana pelepah pinang itu meninggalkan mayang putih bersih dan masih setengah terbungkus selubung kelopak. Darsa merasa seakan baru melihat sebuah kematian. Mayang putih
o Banyak celoteh mengatakan bahwa Lasi yang berkulit putih dengan mata dan lekuk pipi yang
khas itu sesungguhnya lebih pantas menjadi istri lurah daripada menjadi istri seorang penyadap.
Umumnya gadis yang cantik dan sempurna fisiknya biasanya layak menjadi istri dari orang yang
tinggi jabatan atau pangkatnya
o Mata para lelaki tiba-tiba menyala bila mereka memandang Lasi. Hal ini berarti meyakinkan bahwa Lasi itu memang gadis yang cantik sehingga mata mereka menyala (tidak mau
melewatkan apa yang telah dilihatnya)
o Emak Lasi mempunyai nasihat yang jitu: segeralah mandi, menyisir rambut, dan merahkan bibir
dengan mengunyah sirih. Kenakan kain kebaya yang terbaik lalu sambutlah suami di pintu
dengan senyum. Wacana ini merupakan nasihat yang digunakan untuk menyambut suami dari
kelelahannya setelah bekerja. Memerahkan bibir dengan sirih merupakan salah satu cara merias
diri (pengganti lipstick). Menggunakan kebaya terbaik menunjukkan kecantikan dan kewanitaan.
Dengan mandi, menyisir rambut, dan memerahkan bibir,serta berpakaian rapi merupakan
persiapan diri menyenangkan hati suami, sehingga suami pun menjadi senang walaupun ia sudah
letih dari pekerjaannya
o Beduk kembali terdengar dari surau Eyang Mus. Magrib. Pada saat seperti itu selalu ada yang ditunggu oleh Lasi; suara "hung", yaitu bunyi pongkor kosong yang ditiup suaminya dari ketinggian pohon kelapa. Untuk memberi aba-aba bahwa dia hampir pulang. Yang menjadi
symbol dari wacana diatas yaitu suara ‘hung’ saat magrib sebagai penanda Darsa akan pulang
o Lasi menegakkan kepala ketika terdengar suara "hung". Wajahnya yang semula
o Mukri yang tiba-tiba datang dan mengatakan ada kodok lompat merupakan mitos yang juga dapat dikatakan proses semiotic menurut Roland Barthes. Kata ‘jatuh’ adalah hal yang pantang
disebutkan bagi kalangan penyadap ketika ada yang jatuh dari pohon kelapa. Untuk itu
masyarakat jadi tersugesti untuk mengucapkan kodok lompat saat kejadian itu terjadi pada
mereka. Semiotik Kodok lompat ini menjadi penanda bahwa ada seorang penyadap yang jatuh
dari pohon
o Ketika langit sedetik benderang terlihat awan hitam mulai menggantung. Lasi mengisak karena
mendengar dari jauh suara burung hantu. Orang Karangsoga sering menghubungkan suara burung itu dengan kematian.
o Karangsoga, 1961, jam satu siang. Bel di sekolah desa itu berdering. Terdengar ramai para murid memberi salam bersama kepada guru. Sepuluhan anak lelaki dan perempuan keluar dari ruang
kelas enam. Lepas dari pintu kelas mereka bersicepat menghambur ke halaman dan langsung
diterpa terik matahari. Bel jam satu siang pertanda aktivitas di sekolah telah berakhir, dan mereka
bergegas pulang
o Ketiga teman sekelas itu biasa menggoda Lasi, baik di dalam kelas apalagi di luarnya. Kini
ketiganya cengir-cengir lagi dan Lasi menatap mereka dengan mata membulat penuh. Pipinya serta-merta merona. Ada ketegangan merentang titian pinang sebatang. Lasi menatap bulat dengan pipi merona menandakan Lasi marah
o "Lasi-pang, si Lasi anak Jepang," ujar yang satu sambil memonyongkan mulut dan menuding wajah Lasi. Seorang lagi menjulurkan lidah. Memonyongkan mulut, menuding wajah, menjulurkan lidah menyimbolkan bahwa mereka mengejek Lasi
o Matanya yang bulat dan jernih terus memandang Lasi yang masih berurai air mata. Lama-lama
o Gadis di Karangsoga yang menikah pada usia duapuluh menggambarkan social budaya
masyarakat itu sendiri yang menikah di usia muda. Usia duapuluh dan belum menikah menjadi
icon tersendiri bagi masyarakat itu.
o Di timur sinar matahari menyemburat dari balik bayangan bukit. Puncak-puncak pepohonan
mulai tersapu sinar merah kekuningan. Dari sebuah sudut di Karangsoga pemandangan jauh ke
selatan mencapai dataran rendah yang sangat luas. Wacana diatas menggambarkan suasana pagi
dan cahaya matahari yang mulai menerangi daratan.
o Darsa mengangkat alis menandakan dia heran atau bahkan terkejut
o Matahari hampir mencapai pucuk langit, Pertanda hari semakin siang
BAB 3
Pada bagian ketiga Novel Bekisar Merah karya achmad tohari mengandung semiotik
yang dapat di analisis dan di telaah sebagai berikut :
Sungai Kecil Tanda dari Kalirong
Batu-batu besar, beberapa diantaranya sangat besar, teronggok diam seperti pengawal abadi yang merendam diri sepanjang masa dalam air jernih Kalirong.
pengawal abadi Tanda dari Batu-batu besar
Buahnya yang kecil dan bulat sering jatuh ke air oleh gerakan berbagai jenis burung yang sedang berpesta dalam kerimbunan daun pohon besar itu.Plang-plung suara buah beringin menimpa air.
Plang-plung suara buah beringin menimpa air --- Buahnya yang kecil dan bulat sering jatuh ke air
Seekor burung merah yang sangat mungil terbang-hinggap pada ranting beringin yang menjulur, menggantung hampir menyentuh air, menggoyang tangkai-tangkai benalu yang tumbuh di sana
Seekor burung merah yang sangat mungil terbang-hinggap pada ranting beringin yang menjulur
Kukira kamu memang salah. Kamu telah menyakiti istrimu. Kamu juga telah mengabaikan angger-angger, aturan Gusti dalam tata krama kehidupan.
"Sejak semula saya tidak ingin melakukan kesalahan ini. Sungguh, karena seperti yang sudah saya katakan, saya juga sudah bisa menduga apa akibatnya. Tetapi kesalahan itu benar-benar telah saya lakukan.
"Aku juga harus mengawini Sipah meskipun aku tak menghendakinya.
· gambar penderitaan
· melekat
· berahi
· mudah memikulnya.
· menunduk lesu
· Mengangguk-angguk
· Menunduk
BAB 4
Kata “Geisha” yang diperbincangkan oleh Bu Lanting dan Pak Handar beni menunjukkan
perempuan yang cantik identik dengan pelacur khas Jepang hal ini mereka menyamakan
kecantikan Haruko yang nantinya akan disamakan dengan Lasih dari fisiklinya.
“Ndak gitu. Untuk nyicipi seorang gadis Jepang, mudah. Aku punya uang. Namun untuk
memboyong dia ke rumah ada halangan politis atau halangan tatakrama, atau smacam itu.”
Kalimat diatas dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim
makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Maka tanda
tersebut merupakan tanda kekuasaan pak Handarbeni yang dengan mudah menguasai segalanya
dengan uang. Selanjutnya pada kalimat berikutnya, ‘halangan politis’ dan halangan ‘tata krama’
selanjutnya pada kata ngembari srengengemerupakan penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat atau tokoh dari Pak Handarbeni. Hal ini mitos dari suku Jawa yang takut
nantinya akan kualat. Konotasi dari ngembari srengenge yang salah satu bahasa jawa ini yang berkembang menjadi asumsi dari symbol ‘kualat’.
Tanda kata yang dipakai tokoh dalam membicarakan keturnan Jepang sebagai barang
langka, benda-benda antik, atau bekisar. Hal ini menandakan bahwa langkanya itu diakibatan
sedikitnya keturunan Jepang yang tinggal di Indonesia, dan lagi sangat cantik, bekisar berarti
dalam hal ini menjadi peliharaan manis bagi hidung belang.
Tokoh handarbeni yang mengatakan dalam ucapannya ‘gagah-gagahan’ menunjukkan
sebuah tanda bahwa hidupnya mengambil seorang perempuan cantik hanyalah untuk menjadi
Menurt Zoest satu hal tanda kegilaan dalam seseorang, hal ini tergambar dalam tokoh Pak
Handarbeni, ketika ia menceritakan peristiwa kebetulannya ketika zaman perang atau kontak
senjata ia hanya menikmatinya seperti bermain petasan.
‘Mata lelaki 61 tahun itu menyala’ kalimat ini menandakan bahwa pak handarbeni
seorang yang tua akan tetapi masih bernapsu besar. Hanya melihat photo saja ia sudah bergairah
dibuktikan dengan hanya memandang photo matanya menyala-nyala.
Ketika Handarbeni mengamati tiga photo Lasih yang berukuran seluruh badan, setengah
dan close up menandakan bahwa ia ingin jauh mengetahui fisik si Lasih, akan tetapi mengapa
harus tiga photo dan berbagai ukuran. Hal ini telah mencerminkan bahwa Pak Handarbeni ini
seorang yang teliti dalam memilih sesuati hal.
Keluguan dan kemalu-maluan photo Lasih menandakan bahwa Pak Handarbeni tertarik
dengan gadis lugu, sebab juga dijelaskan oleh pencerita bahwa Pak Handarbeni ini tak sabar lagi
untuk menemui Lasih, ketika melihat photonya yang cantik. Hal ini juga menunjukkan nafsu pria
tua ini terhadap seorang gadis.
Bu Lanting sering membawa Lasih keluar, makan-makan di restoran dan belanja.
Menandakan bahwa bu Lanting ini telah terbiasa untuk menjinakkan dalam artian seseorang
yang akan dijualnya itu berbalas budi padanya hingga semua kemauan Bu Lanting nantinya akan
terturuti oleh Lasih.
“Berkisarku sudah jinak dan betah di kota” hal ini sebuah ungkapan dan tanda bahwa ini
kepuasan batin Bu Lanting yang telah berhasil membuat Lasih menjadi gadis yang berbeda dari
“Kamu adalah anakku dan cantik” kalimat ini telah menandakan bahwa Bu Lanting
memberi kenyamanan kepada Lasih agar ia semakin percaya diri, dan semakin mengakrabkan
dirinya kepada Lasih.
Tanda peristiwa muncul ketika Lasih berada dalam kamar, ketika ia duduk di kamar
seorang diri, Lasi merasa ada kerusuhan besar dalam hatinya. Hal ini menandakan ada yang
berbeda kini dalam dirinya, ada sesuatu yang ia takutkan hingga hatinya hatinya merasa keruh
dan bingung.
Tanda gerakan mata ketika lasi mendengar bel dan matanya terpaku, hal ini menandakan
ia bertemu seseorang yang membuat ingatan dalam pikirannya bekerja keras. Matanya kaput,
mata sakura. Hal ini menandakan bahwa Lasi memiliki mata serupa dengan mata seorang Jepang
yang terkenal dengan bunga Sakura. Sebenarnya tak ada kaitan ketika kita membicarakan antara
mata dan sakura. Sebab mata adalah alat indra sedangkan sakura adalah bunga yang khas dari
jepang berwarna merah muda dan mempunyai kelopak berjumlah empat buah. Apakah kita
mengkyalkan bahwa mata Lasi seperti itu. Ini merupakan tanda dari fisik tokoh yang
menggambarkan matanya sipit seperti orang Jepang.
Sebuah tanda ketika Lasi memakai pakaian kimono, hal ini membuat Lasih diperbuat
seperti layaknya gadis Jepang. Ada maksud tertentu dari seorang Bu Lanting yang merias Lasi
dengan pakaian seperti itu.
Ada sebuah tanda kembali ditemukan ketika Lasi bertemu Kanjat, ia dengan mudah
mengingat peristiwa semasa kecil hal ini menunjukkan hal itu atau peristiwa tersebut merupakan
poeristiwa indah dalam hidup Lasi. Lalu ketika matanya memerah ingin berpisah hal ini
menandakan adanya kesedihan yang teramat dalam antara mereka berdua, adanya kerinduan
simpulkan saat pengarang memposisikan alur antara Lasi dan Kanjat pada episode itu. Dan
senyumnya membuat Lasi memerah. Hal ini menandakan bahwa Lasi tersipu malu.
Semiotik penggambaran fisik selanjutnya ditemukan ketika Lasi bertemu dengan si tua
Handarbeni, yang mempunyai wajah gemuk hampir membentuk bulatan. Tengkuk dan dagunya
tebal. Hidungnya gemuk dan berminyak. Hal ini menandakan bahwa pak Handarbeni ialah
berperawakan tidak menarik dan buruk. Seperti yang diceritakan kembali oleh pengarang ia
seperti seorng guru tua. Wajah Lasi merona ini menandakan ia tersipu malu.
Ketika bertemu dengan Lasi sebuah peristiwa ang menandakan pak Han ini orang yang
menggelikan dengan sikapnya yang seperti orang tua hidung belang, membuat pembaca merasa
rengkuh melihat sikap dan gaya pak Han ini. Sikap Han terkekeh ketika bertemu dengan Bu
Lanting menandakan ia sangat puas dengan Lasi.
Sejak pulang dari rumah Bu Lanting kanjat terus memikirkan Lasi hal ini bertanda ia
telah jatuh hati dengan Lasi dan selalu berdebar dalam hatinya. Lalu percakapan antara Kanjat
dan Prdi yang mengatakan’ terus terang aku sesungguhnya merasa kasihan, dan khawatir Lasi
akan dijadikan perempuan nggak bener. Hal ini telah adanya kekuatan batin dan sesuatu hal aneh
yang tidak dapat diterima logikanya oleh Kanjat. Sebab mana ada orang terlalu baik di kota
Jakarta ini tanpa adanya imbalan tertentu apalagi orang seperti bu Lanting. Satu hal yang juga
menjadi titik lemah Kanjat yaitu ketakutannya akan sesuatu hal dan tidak berani mengambil
keputusan secara cepat agar Lasi selamat dari cengkraman Bu Lanting.
Andaikan saya adalah Mas Kanjat, saya takkan peduli dengan omongan orang
Karangsoga. Kata-kata Pardi ini menandakan 2 pengertian, pertama hal itu berbentuk denotasi
Lasi ataukah hanya makna konotasi sebaliknya dari denotasi yang bertujuan untuk membuat hati
Kanjat ingin memiliki Lasi agar tidak ragu menjadikan Lasi sebagai istrinya.
Ada banyak tangan yang berhompim pa satu paling putih yaitu tangan Lasi, hal ini
menandakan kenangan masa kecilnya dulu sulit untuk dilupakan apalagi peristiwa bersama Lasi
dan mengartikan bahwa ternyata Kanjat dari dulu sudah mengagumi seorang Lasi.
BAB 5
Tanda berupa anggota badan di gambarkan oleh Lasih pada bab ke lima ini. Ketika ia
lama terbaring di tempat tidur, akan tetapi tak kunjung dapat tidur. Hal ini menandakan
kegelisahan dalam kecamuk hatinya. Ternyata dalam cerita selanjutnya ia memikirkan pemuda
yaitu Kanjat. Dalam batin Lasi ini menggambarkan sebuah rasa cinta yang tumbuh seketika
terhadap pemuda yang ditemuinya tadi. Tapi ia menemui dua orang lelaki yaitu itu salah
seorangnya lagi pak Han, akan tetapi ini menandakan ia tiada tertarik terhadap Pak Han tersebut.
Tanda berupa bentuk rumah tergambar juga saat Lasi mengunjungi rumah Pak Han di
Slipi.yang menceritakan kegagahan bangunan itu, lantainya yang putih, ruang kamarnya yang
besar-besar, dapurnya mengkilap, dan ada kolam ikan, perabotnya jati, dengan bantalan tebal dan
empuk.setiap kamar ada kamar mandi yang mewah. Penggambaran selanjutnya menandakan
bahwa Pak Han ini merupakan orang yang kaya benar.
Tanda photo dalam rumah Pak Han yaitu sebuah photo Lasi yang di pajang di tembok
rumahnya Pak Han dengan pakaian Kimono yang pernah ia pakai sebelumnya. Hal ini
menandakan Lasi sudah di anggap istimewa oleh Pak Han,
Tanda peristiwa ketika Lasi mendengar kata-kata dari Bu lanting yang mengatakan bahwa
sejenak terpana dan tiba-tiba sulit bernapas. Wajahnya pucat oleh guncangan yang mendadak
menggoyahkan jiwanya, sepasang akisnya merapat. Lasi gelisah. Tetapi Bu koneng tak ambil
peduli. Hal ini menandakan ada suatu keidak siapannya Lasi akan hal itu yang membuat hatinya
bergemuruh kacau. Apalagi slanjtnya pengarang mengatakan ia menangis, hal ini membuat tokoh
mendapat batin yang begitu keras dan mendapat pemikiran yang keras untuk memikirkan
kehidupannya selanjutnya. Apalagi dengan sikap Bu Lanting yang acuh dna tak acuh seoalh ia
tak peduli terhadap Lasi dan suatu pemaksaan kecil dengan buaian kesenangan materi yang akan
diterima oleh Lasi. Seta rayuan mautnya agar Lasi ingin menikah dengan Pak Han.
Tnpa ekspresi muka Lasi ketika mendengar perkataan Bu Lanting, kerut-kerut di
keningnya semakin jelas. Ini sebuah tanda kebingungan yang dialami oleh Lasi. Apalagi ketika
membahas surat cerai yang menurut Bu Lanting sangat mudah. Hal ini menunjukkan apapun di
dunia ini sangat mudah di urus apabila ada uang banyak. Menggambarkan persoalan hidup
kekinian juga.
Sebuah tanda perasaan yang dialami oleh Lasi muncul ketika ia menangis untuk
meminta surat-surat dari Darsa dan kemudian akan menikah dengan Pak Han ia teringat dengan
Kanjat. Ini bertanda ada hati yang telah disimpannya untuk Kanjat. Dan tanda peristiwa lama
yang cepat muncul dalam pikiran Lasi ketika sebuah peristiwa pengkhianatan kembali terbuai
dalam perjalanan hidupnya tersebut.
BAB 6
Hal ini menandakan bahwa Lasi adalah benar-benar adalah seorang perempuan yang amat cantik.
Sehingga setiap mata lelaki yang melihatnya akan sangat terkesima karena mengangumi
kecantikan yang nyaris sempurn ayang dimiliki oleh Lasi.
Lasi bisa menjadi boneka cantik yang penurut, ia akan mendapat apa yang diinginkannya betul.
Menjadi boneka yang cantik dan penurut maksud Handarbeni disini adalah Lasi tetap menjadi
istrinya yang cantik, yang selalu menuruti apa mau dari Handarbeni maka selagi Lasi dapat
bersikap baik padanya, dia akan menuruti semua keinginan Lasi.
Handarbeni memanjakan Lasi sebagai seorang penggemar unggas menyayangi bekisarnya
Pada kalimat ini yang dimaksudkan sebagai penggemar unggas adalah Handarbeni dan yang
dimaksudkan bekisar adalah Lasi. Yang mana Handarbeni sangat menyayangi dan tak ingin
kehilangan Lasi sang Bekisar. Seperti yang kita ketahui, bekisar adalah unggas elok hasil kawi
silang antara ayam huta dan ayam biasa. Sedangkan bekisar yaitu Lasi adalah hasil keturunan
antara orang Jepang dan Indonesia, namun hasilnya sanagt sempurna yaitu Lasi. Karena
kecantikan Lasi lah Handarbeni tidak ingin kehilangannya.
“ Ya, Las. kamu memang diperlukan Pak Han terutama untuk pajangan dan gengsi, “
Pajangan yang dimaksud adalah diri Lasiyah. Lasi dianggap sebagai pajangan karena
sesungguhnya yang dibanggakan dari dirinya adalah kecantikannya yang bisa ditunjukkan
kepada semua orangsehingga dapat menambah gengsi dari Handarbeni.
Kecuali beberapa anak. Mereka mengelilingi mobil Lasi, masinh-masing dengan mata membulat
Mata anak-anak membulat melihat mobil Lasi. Hal itu menandakan bahwa mobil Lasi tersebut
benda-benda yang mahal, dan jarang ditemukan di daerah itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa mobil Lasi
sangat menatik perhatian karena harganya sangat mahal dan bagus.
Sangat jelas mereka mengambil jarak
Pada umumnya oaring-orang yang mengambil jarak keppada seseorang karena disebabkan oleh
bebrapa hal. Dan pada penggalan yang berikutnya, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang
dahulu dekat dengan Lasi kini menjaga jarak karena telah merasa tidak pantas sebab kini Lasi
telah berbeda kasta denagn mereka. Lasi kini telah menjadi orng kaya bukanlai Lasi yang mereka
kenal dahulu.
Semua orang ingin memperlihatkan keakraban kepadanya dan wajah mereka cerah ketika diajak
berbicara
Wajah mereka (orang-orang karangsoga) cerah ketika diajak berbicara oleh Lasi. Padahal
mereka selalu memandang rendah Lasi, ketika Lasi masih sangat miskin, bahkan mengolok-olok
Lasi ketika dia dikhianati oleh Darsa suaminya.
Mulut mbok Wiryaji tiba-tiba rasa terkunci
Hal ini menandakan bahwa mboknya tidak lagi merasa bisa berbicara seenaknya kepada Lasik
arena kini Lasi tak lagi seperti dulu. Kini Lasi sudah sangat berbeda ketika dia telah menikah
dengan orang kaya.
Kantong matanya menggantung dan tulang pipinya menonjol.
Kalimat ini menggambarkan keadaan eyang Mus. Hal ini menandakan bahwa eyang Mus tak lagi
sesegar dan sesehat dahulu. Tubuhnya telah renta dan usia yang semakin senja telah berhasil
menggerogoti tubuhnya.
Hal ini menandakan bahwa Lasi sangat terkejut mendengar pernyataan tentang Kanjat yang kini
telah memiliki seseorang yang sedang dekat dengannya.
Wajah Lasi merah.
Wajah Lasi yang memerah ini menandakan bahwa ia malu karena segala sesuatu tentang dirinya
yang terdahulu diketahui pasti oleh Pardi. Apalagi kektika kejadian dia melarikan diri dari
Karangsoga dan minggat ke Jakarta.
Mata Pardi menyala ketika melihat pipi Lasi merona.
Melihat pipi Lasi yang merona karena malu, mata Pardi pun menyala. Pardi merasa menang
karena dapat membuat Lasi merasa malu.
Kanjat mengerutkan kening.
Kanjat berusaha memahami kata-kata yang dimaksudkan oleh Lasi tentangnya.
BAB 7
Dia tidak berkutik di bawah ketiak istri pertamanya yang peyot dan nyinyir.
Hal ini menandakan bahwa Handarbeni sangat takut pada isttrinya. Istrinyalah yang berkuasa
terhadap Handarbeni.
Mata Lasi menyala ketika melihat liontin de beers
Mata Lasi menyala, menandakan bahwa ia sangat terkesan dengan kalung yang kini ada di
lehernya. Apalagi ketika mengingat kata-kata bu Lanting yang menyebutkan bahwa kalung
Bibir Lasi gemetar setelah bu Lanting mengatakan kalung itu asli.
Hal itu ketika mengingat kata-kata bu Lanting yang menyebutkan bahwa kalung tersebut asli.
Sebab setahunya, kalung yang asli harganya sangat tinggi.
BAB 8
Kamu sudah menerima Kalung dari Pak Bambung berarti imbalan bagi Lasi atau seperti Lasi
sudah di bayar selama satu malam oleh Pak Bambung. Kalung sebagi imbalan menurut kami
telah cocok sebagai simbol imbalan karena Lasi suka perhiasan itu
Sampah yang dicampakkan ke dalam keranjang berarti tak berarti lagi bagi pak Handarbeni
sehingga dicamppakkan begitu saja.
Bekisar kesayangannya berarti seorang yang sangat cantik seperti bekisar yang dikyrung di
sangkar emas (rumah mewah), sebagai pajangan karena Handarbeni seorang impoten.
Kamu akan makin Berkibar berarti ia akan makin kaya karena pak Bambung lebih kaya
daripada Handabeni.
Si mata gatal artinya laki-laki yang suka menggoda perempuan.
Matanya menyapu sekeliling ruang tamu artinya ia manatap sekelilingnya.
Lambang payung kehidupan berarti tempat berteduh
Kanjat terbatuk berarti terkejut karena disuruh menemui dan berbicara pada Lasi.
Buah ejekan di kampung ini berarti bahan ejekan.
Ke sebuah rumah anggun berarti rumah Pak Bambung yang diberikan untuk Lasi.
Bebek manila berarti julukan Bu Lanting
Agen tai kucing berarti julukan Bu Lanting sebagai agen yang menjual Lasi
Tidak boleh ada matahari kembar atau dua pucuk kekuatan artinya tidak boleh ada dua orang
yang memimpin.
Belantik kekuasaan berarti bawahan.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semieon merupakan
istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk merujuk kepada ilmu yang mengkaji sistem
perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Inilah akar dari terbentuknya istilah
tanggapan dalam karya. Semiotik juga dapat dikatakan sebuah disiplin ilmu umum yang
mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkum sistem
bahasa, tetapi juga merangkum lukisan, maupun pementasan drama. Oleh sebab itu kajian
semiotik dapat diterapkan ke berbagai bidang ilmu dan boleh dijadikan asas kajian sebuah
kebudayaan
DAFTAR PUSTAKA
Christomy, Tommy. 2004. Semiotika Budaya. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, UI:Depok
Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press