(Studi Kasus di SMK YMJ CIPUTAT)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Oleh:
Dewi Handayani 107013000981
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i ABSTRAK
Pengaruh Teknik Membaca Cepat terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Materi Memahami Isi Cerpen Siswa Kelas X SMK, Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh teknik membaca cepat terhadap hasil belajar bahasa Indonesia pada materi memahami isi cerpen siswa kelas X SMK. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan desain penelitian hanya menggunakan postest. Populasinya adalah seluruh siswa SMK YMJ CIPUTAT. Dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Sampel yang terpilih yaitu kelas X-Pariwisata sebagai kelas eksperimen (yang dalam pembelajaran menggunakan teknik membaca cepat) dan kelas X-BM sebagai kelas kontrol (yang pembelajarannya menggunakan teknik membaca konvensional). Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar Bahasa Indonesia berbentuk pilihan ganda sebanyak 18 soal. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t, dan berdasarkan perhitungan uji-t diperoleh thitung 2,16 dan ttabel 1,65 pada taraf signifikansi 5% yang berarti thitung > ttabel (2,16 > 1,65). Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan teknik membaca cepat terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa.
KATA PENGANTAR
Puji sukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt atas limpahan rahmat serta karunia yang tiada batas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan atas baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan cahaya dalam hidup penulis berupa cahaya Islam.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan. Walaupun waktu, tenaga, dan pikiran telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis miliki demi terselesaikannya skripsi ini agar bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan dan dukungan serta bantuan dari berbagai pihak kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis sangat berterima kasih kepada :
1. Dra. Nurlena Rifa’i, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mempermudah dan memperlancar penyelesaian skripsi ini.
2. Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M.Pd dan Dra. Hindun,M.Pd selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bimbingan serta bantuan kepada penulis selama ini.
3. Dr. Nuryani, M.A selaku dosen pembimbing yang selalu sabar dan teliti dalam mengoreksi dan membimbing penulis dalam membuat skripsi ini.
4. Pimpinan dan seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. H. Syarief Mukhsin, SE.,M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK YMJ CIPUTAT, serta segenap guru dan karyawan sekolah yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian.
6. Paling istimewa untuk ayahanda Hana Rohana dan Ibunda tercinta (Alm) Dede Amanah, S.Pd, yang nuraninya mengalir indah dalam darahku, yang
telah tulus merawat, membesarkan, mendidik, dan mencurahkan kasih sayang serta tak bosan-bosannya memberikan dukungan, semangat dan doa untuk penulis.
7. Suami tercinta Doddy Supriyadi, yang selalu mengisi hari-hari saya dengan keindahan.
8. Kakak tercinta M. Handi Hidayat, S.Sos.i, yang selalu memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis.
9. M. Dofir, S.Pd., selaku guru di SMK YMJ, terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
10.Sahabat seperjuangan mahasiswa satu angkatan 2007, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Anung Adhi Nugroho, Putry Agustina, terima kasih untuk semua dukungan dan perhatian yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
11.Adik – adik mahasiswa PBSI angkatan 2010 ; Sri Wahyuningsi, Dessy Husnul Qotimah, dan Nur Amalina, terima kasih atas semua bantuan dan motivasi yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
Penulis berharap dan berdoa kepada Allah swt, agar seluruh pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis, akan mendapatkan balasan yang setimpal,
jazakumullah akhsanal jaza.
Jakarta, Juli 2014
Dewi Handayani
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI
SURAT KETERANGAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 2
C. Pembatasan Masalah ... 4
D. Rumusan Masalah... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
F. Tujuan Penelitian ... 5
BAB II ACUAN TEORITIK A. Hakikat Membaca ... 7
1. Pengertian Membaca ... 7
2. Tujuan Membaca ... 9
3. Jenis-jenis Membaca ... 12
4. Hasil Belajar ... 20
5. Hakikat Cerpen atau Cerita Pendek ... 33
6. Penelitian relevan ... 41
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian... 43
B. Metode dan Desain Penelitian ... 43
C. Variabel Penelitian ... 44
D. Populasi dan Sampel ... 44
E. Instrumen Penelitian ... 45
F. Analisis Data... 48
G. Perumusan Hipotesis Statistik ... 51
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Profil Sekolah ... 53
B. Deskripsi Data ... 54
C. Pengujian Prasyarat Analisis ... 59
D. Pengujian Hipotesis ... 61
E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 62
F. Keterbatasan Penelitian ... 64
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 65
B. Saran ... 65
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Desain Penelitian ... 44
Tabel 2 Hasil Belajar Bahasa Indonesia Kelompok Eksperimen ... 55
Tabel 3 Hasil Belajar Bahasa Indonesia Kelompok Kontrol ... 57
Tabel 4 Perbandingan Hasil Belajar Bahasa Indonesia ... 59
Tabel 5 Hasil Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kontrol .... 60
Tabel 6 Hasil Uji Homogenitas Kelompok Eksperimen dan Kontrol 61 Tabel 7 Hasil Uji Perbedaan dengan Statistik Uji t ... 62
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol . Lampiran 2 Langkah – langkah dan Perhitungan Validitas Item Uji Coba
Instrumen
Lampiran 3 Langkah – langkah dan Perhitungan Reliabilitas Item Uji Coba Instrumen
Lampiran 4 Langkah-Langkah Perhitungan Indeks Kesukaran Tes Berbentuk Pilihan Ganda
Lampiran 5 Langkah-Langkah Perhitungan Daya Beda Tes Berbentuk Pilihan Ganda
Lampiran 6 Hasil Perhitungan Validitas, Daya Beda dan Tingkat Kesukaran Tes Soal Postes
Lampiran 7 Distribusi Frekuensi Kelompok Kontrol dan Eksperimen Lampiran 8 Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kontrol
Lampiran 9 Perhitungan Uji Homogenitas Lampiran 10 Perhitungan Uji Hipotesis Statistik
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa adalah suatu hal yang sangat penting bagi seseorang sebagai
anggota masyarakat. Bahasa digunakan oleh seseorang untuk berkomunikasi
dan berinteraksi dengan orang lain. Tanpa adanya bahasa, seseorang tidak
mungkin bisa komunikasi dengan orang lain di sekitarnya. Oleh karena itu,
keterampilan berbahasa sangat diperlukan bagi semua orang, serta
dikembangkan sejak dini agar seseorang dapat berkomunikasi dan berinteraksi
di masyarakat dengan baik.
Bahasa sangat penting sebagai alat komunikasi, maka di dalam
pembelajaran bahasa Indonesia terdapat pembelajaran berbahasa dengan baik
serta dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan
orang lain. Adapun tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dimaksudkan agar
siswa lebih mahir dalam menggunakan keterampilan berbahasa dengan baik,
sehingga ketika siswa sudah menamatkan jenjang pendidikan di sekolah,
mereka akan lebih terampil menggunakan bahasa secara lisan maupun tulisan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan adanya sistim pendidikan
dan proses belajar mengajar dengan baik. Sehubungan dengan itu, dalam proses
kegiatan belajar mengajar, khususnya seorang guru dituntut untuk mengajar
dengan baik.Hal yang harus dilakukan seorang guru agar mengajar dengan baik
yaitu merencanakan program pembelajaran, menguasai materi yang akan
media, dan memilih pendekatan yang tepat. Semua itu bertujuan untuk
membuat siswa aktif dalam belajar.
Standar Kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia mempunyai
empat keterampilan yaitu berbicara, membaca, menulis, dan menyimak.
Keempat keterampilan berbahasa tersebut dalam pembelajaran saling berkaitan
erat satu sama lain. Di antaranya pengajaran menyimak, berbicara, membaca,
dan menulis saling erat kaitannya. Segala usaha untuk meningkatkan salah satu
segi bahasa tersebut jelas akan berpengaruh kepada ketiga segi lainnya.
Dalam penelitian ini, peneliti akan memaparkan salah satu
keterampilan berbahasa yang perlu dikembangkan di tiap sekolah yakni
keterampilan membaca cepat. Siswa SMK YMJ termasuk fase remaja yang
mempunyai masalah dalam membaca cepat, dengan usianya membuat mereka
malas untuk membaca di dalam atau di luar kelas. Selain faktor di atas,
kurangnya pengetahuan konsep membaca cepat yang benar menjadi salah satu
faktor yang berpengaruh pada pemahaman siswa dalam memahami suatu
bacaan atau teks dalam hal ini cerpen.
Keterampilan membaca sebagai keterampilan berbahasa yang dipelajari
oleh manusia sebelum keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis, akan
tetapi dalam kenyataannya sebagian besar siswa kurang berminat pada
keterampilan membaca di sekolah.
Persoalan membaca tidak terlepas dari pengaruh keyakinan seseorang
dalam membaca, bahwa dengan membaca seseorang mampu mendapatkan
belajar membaca dan kegiatan membaca di sekolah maupun keluarga, sangat
berpengaruh dalam membentuk kebiasaan membaca. Oleh karena itu, seorang
guru harus mampu membuat siswa agar gemar membaca, khususnya membaca
cepat.
Suatu hal yang tidak dapat diabaikan dalam membaca cepat pada
pembelajaran bahasa Indonesia adalah terjadinya salah pengertian dalam
berkomunikasi. Hal ini disebabkan oleh kurang membudayanya penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Membudayakan penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar sebaiknya dimulai dari kalangan pelajar dengan
jalan meningkatkan kemampuan membaca cepat agar dapat memahami semua
materi pembelajaran dengan cepat, khususnya pelajaran bahasa Indonesia.
Kondisi yang seperti inilah yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan
prestasi belajarnya, khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Berdasarkan pernyataan di atas, peneliti memilih judul penelitian “
Pengaruh Teknik Membaca Cepat Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia
pada Materi Memahami Isi Cerpen Siswa Kelas X SMK Yayasan Miftahul
Jannah (YMJ), Ciputat Tahun Pelajaran 20013/2014”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti
1. Membaca cepat masih sangat sulit dilakukan dalam pembelajaran
Bahasa Indonesia. Hal ini dilihat dari rendahnya minat membaca di
kalangan siswa.
2. Beberapa siswa mengatakan bahwa membaca buku sangat menyita
waktu. Untuk itu, sangatlah perlu siswa menguasai cara membaca
buku dengan cepat tanpa mengabaikan makna yang tersirat dari isi
buku yang dibaca.
3. Dalam pelaksanaan membaca cepat ada beberapa faktor yang dapat
menghambat. Banyak siswa yang mengalami kendala dalam
menerapkan cara membaca dengan cepat. Faktor-faktor tersebut
dapat berupa faktor eksternal maupun faktor internal dari siswa.
4. Siswa mampu untuk membaca dengan cepat, tetapi sering kali pesan
atau ilmu yang terdapat dalam buku tersebut tidak dapat
tersampaikan dengan sebagaimana mestinya.
C. Pembatasan Masalah
Setelah mengidentifikasi masalah, peneliti memfokuskan masalah
penelitian pada :
a. Aspek kemampuan membaca cepat siswa
b. Mengetahui tingkat pemahamannya
c. Pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada bidang studi bahasa
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah “ Bagaimanakah PengaruhTeknik Membaca Cepat Terhadap Hasil
Belajar Bahasa Indonesia pada Materi Memahami Isi Cerpen Siswa Kelas
X SMK Yayasan Miftahul Jannah (YMJ), Ciputat Tahun Pelajaran
2013/2014?”.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya
pengaruh teknik membaca cepat terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia
pada materi memahami isi cerpen siswa kelas X SMK Yayasan Miftahul
Jannah (YMJ), Ciputat Tahun Pelajaran 2013/2014.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu secara
teoretis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
Dari segi teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah dan
memberikan pengetahuan tentang pengaruh kecepatan membaca terhadap
prestasi belajar siswa.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai pihak. Bagi
guru, penelitian ini berguna sebagai bahan pertimbangan dalam
mengatasi kesulitan dalam pengajaran materi membaca cepat. Sedangkan
bagi siswa, penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan
dalam meningkatkan hasil belajar dengan membiasakan membaca cepat.
Bagi peneliti, dengan adanya penelitian ini maka teori yang diperoleh dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat menambah
pengalaman peneliti terkait pembelajaran membaca. Bagi sekolah, adanya
penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya peningkatan
kualitas guru dan siswa, sehingga mutu pendidikan di sekolah dapat
BAB II
ACUAN TEORETIS
A. Hakikat Membaca 1. Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh
pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis
melalui media kata-kata atau bahasa tulis.1Selain itu, membaca juga merupakan
suatu cara yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh informasi
sebanyak-banyaknya dari teks (bahasa tulis) yang dibaca. Kegiatan membaca
akan menambah pengetahuan, ilmu, pengalaman, dan peka terhadap informasi
yang ada. Oleh karena itu, dengan memperbanyak membaca maka dapat
memperluas wawasan si pembaca.
Membaca merupakan proses merekonstruksi makna dari bahan-bahan
cetak.2 Definisi ini memberikan kita pemahaman bahwa membaca bukan
sekedar dilafalkan saja bunyinya, namun harus dipahami makna yang
terkandung di dalamnya. Sedangkan komunikasi antara pembaca dan penulis
akan semakin baik jika pembaca mempuyai kemampuan yang lebih baik dalam
memahami teksnya. Hal itu dapat menunjukkan bahwa membaca bukanlah
suatu kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan suatu proses yang tergabung ke
dalam suatu sikap, yaitu sikap pembaca aktif dan interaktif.
1
Henry Guntur Tarigan, Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), h.7
2
Mulyati dkk, Bahasa Indonesia, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), h.45
Membaca merupakan proses yang kompleks.3 Maksudnya membaca
merupakan suatu kemampuan yang kompleks dan memerlukan suatu latihan
agar berhasil dalam membaca secara maksimal. Selanjutnya pengertian tentang
membaca yang dipaparkan oleh Sri Hartati, yaitu membaca berguna untuk
mendapatkan informasi, sehingga perlu pemahaman terhadap isi bacaan.4 Maka
dari itu, seseorang yang membaca harus berusaha memahami teks bacaan agar
informasi yang ada di dalam teks bacaan tersebut dapat dipahami.
Membaca adalah suatu aktivitas yang rumit atau komplek karena
bergantung pada keterampilan berbahasa siswa berikut tingkat
pembelajarannya.5 Di dalam membaca, seseorang harus menyesuaikan bahan
bacaannya terlebih dahulu sebelum memulai proses membaca.
Dari pendapat tokoh-tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca
adalah suatu keterampilan yang sangat kompleks menuntut kemampuan
pemahaman pembacanya secara aktif dan interaktif, dan berlatih secara
terus-menerus agar mendapatkan hasil yang maksimal.
2. Tujuan Membaca
Setiap yang kita lakukan, pada dasarnya mengandung tujuan. Dengan adanya
tujuan, maka kita tidak salah melangkah atau tersesat dalam melaksanakan
kegiatan. Begitu juga dengan kegiatan keterampilan membaca. Apabila dalam
kegiatan membaca kita mengetahui tujuan yang pasti, maka kita tidak akan
salah memilih metode untuk membaca secara baik dan benar.
3
Mohamad Yunus dkk, Bahasa Indonesia, (Jakarta: Universitas Terbuka,2007), h.120 4
Sri Hartati, Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS. (Solo:CV Dino Mandiri,2011), h.27 5
Berkaitan dengan tujuan membaca yaitu :
a. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang
telah dilakukan oleh seorang tokoh, apa-apa yang telah dibuat oleh sang
tokoh, apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan
masalah yang dibuat oleh sang tokoh. Membaca seperti ini disebut
membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details of facts).
b. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik
dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari
atau yang dialami sang tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan
oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut
membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
c. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap
bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan seterusnya,
setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan
kejadian, kejadian dibuat dramatisasi. Membaca ini disebut membaca untuk
mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita (reading for sequence or organization).
d. Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperhatikan oleh sang
pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas
Membaca ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca referensi
(reading for inference).
1) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak bisa,
tidak wajar mengenai seorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau
apakah cerita itu benar atau tidak benar. Membaca ini disebut membaca
untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
2) Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan
ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang dibuat oleh
sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.
Membaca ini disebut membaca untuk menilai, membaca mengevaluasi
(reading to evaluate).
3) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah,
bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana
dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai
pembaca. Membaca ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau
mempertentangkan (reading to compare or contrast).
Tujuan membaca yang dipaparkan oleh Tarigan di atas adalah untuk
memperoleh informasi dari teks cerita yang dibaca. Dalam memaparkan tujuan
membaca tersebut, Tarigan mengelompokkan tujuan-tujuan membaca
berdasarkan beberapa kegiatan yang dilakukan pembacanya, sehingga
tujuannya berbeda-beda antara kegiatan yang satu dengan membaca lainnya
harus dilatih secara bertahap, sehingga siswa bisa menguasai keterampilan
khusus dalam membaca secara baik.
Tujuan orang membaca ialah :6
1.Untuk mengerti atau memahami isi/pesan yang terkandungdalam satu bacaan
seefisien mungkin.
2.Morrow dalam Subyakto dan Nababan mengatakan bahwa tujuan membaca
ialah untuk mencari informasi yang :
a. Kognitif dan intelektual, yakni yang digunakan seseorang untuk
menambah keilmiahannya sendiri;
b. Referensial dan faktual, yakni yang digunakan seseorang untuk
mengetahui fakta-fakta yang nyata di dunia ini; dan
c. Afektif dan emosional, yakni yang digunaan seseorang untuk mencari
kenikmatan dalam membaca.
Pendapat selanjutnya mengenai tujuan membaca setiap individu dalam
kelompok ditentukan oleh pengalaman, kecerdasan, pengetahuan bahasa, minat,
serta kebutuhan bahasa.7
Dari beberapa tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca
memiliki tujuan yang sangat penting bagi semua pembaca. Tujuan membaca
tersebut antara lain untuk mencari informasi tentang suatu hal, mengetahui
secara menyeluruh isi bacaan, serta menilai kebenaran suatu gagasan isi bacaan
yang ditulis oleh pengarang dalam bentuk teks.
6
Subyakto dan Nababan, Metodologi Pengajaran Bahasa, (Jakarta: Pustaka Utama,1993), h.164 7
3. Jenis –jenis Membaca
Tarigan membagi jenis membaca menjadi :
Membaca nyaring
Membaca membaca survei
Membaca ekstensif membaca sekilas
Membaca dangkal membaca dalam hati
Membaca intensif
Membaca telaah isi Membaca telaah bahasa
Membaca teliti Membaca pemahaman Membaca kritis
1. Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan
alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau
pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan
seorang pengarang.
2. Membaca dalam Hati
Membaca dalam hati hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory), yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Tujuan membaca dalam hati adalah secara umum untuk memperoleh informasi. Secara garis
besar membaca dalam hati terbagi atas membaca intensif dan membaca
A. Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Tujuan membaca
ekstensif adalah untuk memahami isi bacaan dengan cepat. Membaca ekstensif
ini meliputi :
1) Membaca Survei
Sebelum membaca biasanya kita meneliti terlebih dahulu apa yang
hendak kita telaah. Bahkan kita mensurvei bahan bacaan yang akan dipelajari.
2) Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau skimming adalah sejenis membaca yang membuat
mata kita bergerak dengan cepat, melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk
mendapatkan informasi
3) Membaca Dangkal
Membaca dangkal atau superficial reading bertujuan untuk memperoleh
pemahaman yang dangkal dan tidak bersifat mendalaminya pada suatu bacaan.
B. Membaca Intensif
Membaca intensif adalah intensive reading adalah membaca dengan penu
kesungguhan agar memperoleh pemahaman pada suatu bacaan. Membaca
intensif mempunyai beberapa kelompok, diantaranya :
(a) Membaca telaah isi
Membaca telaah isi merupakan kegiatan pemahaman yang dilakukan setelah
ketelitian, pemahaman, kekritisan berpikir, serta keterampilan menangkap suatu
ide pada bahan bacaan tersebut. Membaca telaah isi meliputi :
a. Membaca teliti
Membaca teliti membutuhkan keterampilan seperti : survey yang tepat untuk
memperhatikan organisasi atau pendekatan umum, membaca secara seksama
dan membaca ulang paragraf-paragraf untuk menemukan kalimat-kalimat judul
dan perincian-perincian penting, membantu ingatan, mencatat fakta atau ide
yang penting dapat menanamkan kesan yang mendalam pada ingatan kita.
b. Membaca pemahaman
Membaca pemahaman adalah jenis membaca yang bertujuan untuk memahami
standar atau norma kesusastraan, resensi, kritik, drama tulis, dan pola fiksi.
Membaca pemahaman merupakan memahami bacaan secara tepat dan cepat.
Kemampuan membaca pemahaman merupakan dasar dari membaca kritis.
c. Membaca kritis
Membaca kritis atau interpretative reading bertujuan : memahami maksud
penulis, memahami organisasi dasar penulisan, menilai penyajian penulis atau
pengarang, menerapkan prinsip kritis pada bacaan sehari-hari, meningkatkan
minat baca, kemampuan baca dan berpikir kritis, mengetahui prinsip pemilihan
bahan bacaan.
(b) Membaca telaah bahasa
Membaca telaah bahasa merupakan kegiatan membaca yang menuntut adanya
suatu pemahaman yang sangat mendalam pada bahasa yang membangun
membaca bahasa (foreigen language reading) dan membaca sastra (literaty reading). Tujuan utama telaah bahasa adalah untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan koosakata serta memahami isi dan keindahannya.
Ciri-ciri pembaca yang baik meliputi :
a. Tahu mengapa ia membaca
b. Memahami apa yang dibaca
c. Mengenal media cetak, bentuk-bentuk kontemporer media cetak seperti
paperback media grafika, majalah, dan surat kabar
d. Menguasai kecepatan membaca dan beberapa hal seperti membaca
sekilas, memetik secara kasar tiga atau empat hal dalam satu halaman
untuk memperoleh gambaran umum bagian sebagai satu keseluruhan.
A. Pengertian Membaca Cepat
Jadi, membaca cepat adalah membaca yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Biasanya dengan membaca kalimat demi kalimat dan paragraf tetapi tidak membaca kata demi kata. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi, gagasan utama, dan penjelasan dari suatu bacaan dalam waktu yang singkat. Speed reading juga merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat. Tidak ada orang yang dapat membaca cepat karena bakat.
Menurut Soedarso, dalam membaca cepat terkandung pemahaman
yang cepat pula, pemahaman menjadi pangkal tolak pembahasan, bukan
kecepatan. Pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan
terbaik untuk mencapai tujuannya.8 Menurut Harry Shefter dalam bukunya dari
Newyork University dalam bukunya Faster Reading Selftaught, pada umumnya
orang dapat mencapai kecepatan 350-500 kata per menit (kpm).9
B. Tujuan Membaca Cepat
1. Memperoleh kesan umum dari suatu buku, artikel, atau tulisan singkat.
2. Menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan.
3. Menemukan/menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan
C. Manfaat Membaca Cepat
1. Untuk mencari informasi yang kita perlukan dari sebuah bacaan secara cepat dan efektif.
2. Dalam waktu yang singkat dapat menelusuri bahan halaman buku atau bacaan.
8
Soedarso, Speed Reading System Membaca Cepat dan Efektif, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002),h. xiv
9
3. Tidak banyak waktu yang terbuang karena tidak perlu memperhatikan atau membaca bagian yang tidak kita perlukan
D. Teknik Membaca Cepat
Tidak semua orang akan langsung mahir untuk membaca cepat. Keterampilan ini membutuhkan latihan yang mungkin bisa sampai berulang-ulang agar seseorang dapat menguasai teknik-teknik yang tepat dalam membaca cepat. Latihan-latihan ini dipandang penting untuk dilakukan karena biasanya seseorang yang baru pertama kali belajar membaca cepat akan menemui beberapa masalah yang bisa menjadi penghambat dalam membaca cepat. Syarat utama untuk dapat membaca cepat adalah mengetahui dengan persis bahan apa yang sedang dicari. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan pemindaian secara cepat. Hanya mencari bagian-bagian yang dibutuhkan.
Untuk bisa membaca cepat memang perlu teknik tertentu. Secara umum ada dua teknik membaca yaitu:
1. Teknik Scanning
Teknik membaca scanning adalah membaca suatu informasi dimana bacaan tersebut dibaca secara loncat-loncat dengan melibatkan asosiasi dan imajinasi, sehingga dalam memahami bacaan tersebut seseorang dapat menghubungkan kalimat yang satu dengan kata-kata sendiri. Jadi dalam teknik ini tidak seluruh kata/kalimat dibaca. Biasanya kata-kata kunci yang menjadi perhatian pembaca. Misalnya membaca koran, mencari judul-judul atau topik berita yang dianggap menarik. Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain
a. Bagian yang telah diketahui dari buku lain
b. Bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca c. Bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
d. Bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.
Teknik membaca Skimming adalah membaca secara garis besar (sekilas) untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Setelah itu melacak informasi yang ingin diketahui secara mendalam. Untuk memperlancar proses skimming maka lakukanlah terlebih dahulu membaca daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, judul atau sub judul, serta kesimpulan. Dari bagian-bagian buku ini minimal kita bisa menafsirkan apa inti dari isi buku yang akan kita baca tersebut. Teknik ini biasanya dilakukan ketika kita mencari sesuatu yang khusus dalam teks. Fungsi skimming adalah
a. Untuk mengenali topik bacaan
b. Untuk mengetahui pendapat/opini orang
c. Untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
d. Untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis.
e. Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.
E.Langkah-langkah membaca cepat
Sebelum melatih membaca cepat, kita perlu paham beberapa langkah membaca cepat, yaitu:
1. Persiapan
melambangkan kata/kalimat penting dalam isi bacaan. Langkah selanjutnya adalah membaca alinea awal dan akhir. Alinea awal mengantarkan pembaca pada isi bacaan, sedangkan alinea akhir biasanya berupa pokok pikiran dari isi bacaan. Melalui aliena awal dan akhir ini dapat membantu kita menafsirkan keseluruhan isi bacaan. Kemudian kita perlu baca juga rangkuman bacaan.
2. Pelaksanaan
Jika telah melaksanakan tahap persiapan tadi, kita sudah bisa membayangkan gambaran umum isi bacaan dalam buku yang akan dibaca. Selanjutnya kita dapat memulai membaca cepat dengan menggunakan dua teknik tadi yaitu scaning dan skimming. Di sini kita bisa mencari kata-kata kunci yang ada dalam kalimat, selanjutnya dihubungkan melalui asosiasi dan imajinasi sehinga bisa dengan cepat mengambil inti sari isi bacaan tampa harus membaca seluruh isi buku.
Untuk menguasai keterampilan membaca cepat, kita perlu latihan. Latihan ini meliputi latihan otot mata, pheriperial mata, dan latihan pernapasan.
a. Melatih otot mata
Melatih otot mata dapat dilakukan dengan cara gerakan bola mata dalam keadaan terpejam ke atas ke bawah, lalu samping kiri dan kanan. Latihan ini harus dilakukan secara continue minimal selama 14 hari, masing-masing selama lima menit tanpa harus putus. Apabila satu hari saja tidak latihan, maka otot mata akan kembali ke keadaan sebelum latihan.
b. Melatih Pheriperal Mata
Melatih pheriperal mata dapat dilakukan dengan cara pandangan mata mengikuti gerakan telunjuk di depan mata. Tujuannya agar mata kita dapat menjangkau seluruh bacaan tanpa menggeleng-gelengkan kepala, karena menggelengkan kepala itu menghambat membaca cepat.
Melatih pernapasan dapat dilakukan dengan cara tarik napas panjang keluarkan secara perlahan. Kemudian latihan konsentrasi yang berhubungan dengan sikap duduk, tegak, libatkan asosiasi dan imajinasi. Di sini usahakan seolah-olah sedang berkomunikasi dengan sang penulis.
Kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki seseorang dalam membaca pun secara tidak sadar bisa menjadi penghambat untuk bisa membaca dengan cepat. Kebiasaan-kebiasaan yang biasanya sudah dimiliki selama bertahun-tahun ini di antaranya:
a. vokalisasi atau bergumam ketika membaca;
b. membaca dengan menggerakkan bibir namun tidak bersuara (komat-kamit);
c. kepala yang bergerak searah dengan arah tulisan yang dibaca; d. jari-jari tangan yang selalu menunjuk tulisan yang dibaca;
e. gerakan mata yang selalu kembali ke kata-kata sebelumnya atau mengulang membaca kalimat dari depan;
f. membaca di dalam hati.
Untuk mengatasi masalah-masalah ini, usahakan untuk mencegah bibir, jari-jari tangan, dan kepala untuk bergerak pada saat membaca. Cara pencegahannya bisa dengan mengatupkan bibir, memasukkan tangan ke dalam saku atau memegangi kepala pada waktu membaca. Sedangkan untuk menghindari supaya tidak bersuara pada waktu membaca adalah dengan merasakan getaran suara di leher. Dengan meletakkan tangan di leher, akan diketahui apakah kita bersuara atau tidak. Membaca dalam hati memang tidak bisa dicegah, tetapi usahakan supaya tidak memerhatikan pelafalannya.
Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah-masalah dalam membaca cepat.
dengan menyiapkan catatan kata-kata baru yang belum diketahui. Setelah itu, carilah artinya di dalam kamus. Perbendaharaan kata yang banyak sangat membantu dalam memahami suatu bacaan.
2. Sikap tubuh membaca cepat memang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tidak jarang pembaca justru berada dalam posisi tegang. Kondisi yang seperti ini justru menjadi penghambat. Untuk itu, ambilah posisi santai saat membaca.
3. Membaca sepintas lalu dengan membaca sepintas lalu, dapat mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi.
4. Konsentrasi. Konsentrasi yang penuh menghindarkan dari melamun atau pikiran yang melayang-layang. Kesulitan dalam berkonsentrasi menunjukkan kecepatan membaca yang rendah. Untuk itu, usahakan agar selalu berkonsentrasi ketika membaca cepat.
5. Retensi/mengingat kembali informasi dari bacaaan. Mengingat kembali informasi yang baru saja dibaca bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, diskusi, maupun menulis kembali informasi yang sudah diterima.
6. Tujuan dari membaca itu sendiri. Dengan menentukan tujuan dari membaca, akan mengetahui apakah bacaan tersebut sesuai dengan kebutuhan atau seperti yang diinginkan.
7. Motivasi. Motivasi yang jelas dalam membaca akan memengaruhi tingkat pemahaman bacaan. Jika sudah memiliki motivasi yang jelas dalam membaca suatu bacaan, akan lebih mudah menyerap informasi dalam bacaan tersebut. Untuk itu, tumbuhkanlah motivasi dalam membaca.
F. Cara mengukur kecepatan membaca
Mengukur jumlah kata dalam bacaan dapat dilakukan dengan jalan
menghitung kata perbaris rata-rata, hitung jumlah kata dalam lima baris sesudah
itu dibagi lima hasilnya adalah kata perbaris kata-kata. Contoh :
Jumlah kata perbaris rata-rata : 11
Jumlah baris yang dibaca : 60
Jumlah kata yang dibaca : 11 x 60 = 660
Jika kita membaca 2 menit 10 detik, atau 130 detik maka kecepatan membaca
kita adalah 660 kata/ 130 detik = 346 kata permenit.
4. HASIL BELAJAR
A. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar” . pengertian hasil (product) menunjuk kepada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau
proses yang mengakibatkannya berubahnya input secara fungsional. Hasil
produksi adalah perolehan yang didapatkan karena adanya kegiatan
mengubah bahan (raw material) menjadi barang jadi (finished good). Hal yang sama berlaku untuk memberikan batasan bagi istilah hasil panen,
hasil penjualan, hasil pembangunan, termasuk hasil belajar. Dalam siklus
input-proses-hasil, hasil dapat dengan jelas dibedakan dengan input akibat
perubahan oleh proses. Begitu pula dalam kegaiatan belajar mengajar,
setelah mengalami belajar, peserta didik berubah perilakunya disbanding
Belajar adalah proses dalam individu yang berinteraksi dengan
lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Perubahan
ini diperoleh melalui usaha (bukan karena kematangan), menetap dalam
waktu yang relatif lama dan merupakan hasil pengalaman.
Belajar merupakan proses yang unik dan kompleks. Keunikan
tersebut disebabkan karena hasil belajar hanya terjadi pada individu yang
belajar, tidak pada orang lain dan setiap individu menampilkan perilaku
belajar yang berbeda. Perbedaan penampilan itu disebabkan karena setiap
individu mempunyai karakteristik individual yang khas, seperti minat,
intelegensi, perhatian, bakat, dan sebagainya.
Proses pengajaran merupakan sebuah aktivitas sadar untuk membuat
peserta didik belajar. Proses sadar mengandung implikasi bahwa
pengajaran merupakan sebuah proses yang direncanakan untuk mencapai
tujuan pengajaran (goal directed). Dalam konteks demikian maka hasil belajar merupakan perolehan dari proses belajar peserta didik sesuai
dengan tujuan pengajaran (ends are being attained).10
B. Sasaran Evaluasi Hasil Belajar
Dalam sejarah pengukuran dan penilaian pendidikan tercatat, bahwa
pada kurun waktu tahun empat puluhan, beberapa orang pakar pendidikan
di Amerika Serikat yaitu Benjamin S. Bloom, M. D. Englehart, E. Furst,
W. H. Hill, Daniel R. Kratwohl dan didukung pula oleh Ralph A. Tylor,
10
mengembangkan suatu metode pengklasifikasian tujuan pendidikan yang
disebut taxonomy. Ide untuk membuat taksonomi itu muncul setelah lebih kurang lima tahun mereka berkumpul dan mendiskusikan pengelompokan
tujuan pendidikan, yang pada akhirnya melahirkan sebuah karya Bloom
dan kawan-kawannya itu, dengan judul Taxonomy of educational objectives.
Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan berpendapat bahwa taksonomi
(pengelompokan) tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu pada
tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta
didik yaitu; ranah proses berfikir (cognitive domain), ranah nilai atau sikap (affective domain), dan ranah keterampilan (psychomotor domain).11
Mengingat ranah-ranah yang terkandung dalam suatu tujuan
pendidikan merupakan sasaran evaluasi hasil belajar, maka kita perlu
mengenal secara terperinci. Pengenalan terhadap ranah tersebut akan
sangat membantu pada saat memilih dan menyusun instrumen evaluasi
hasil belajar. Adapun ranah-ranah tersebut sebagai berikut:
a. Segi Kognitif
Tujuan ranah kognitif berhubungan dengan ingatan atau
pengenalan terhadap pengetahuan dan informasi, serta
pengembanagan keterampilan intelektual (Jaralinek dan Foster).
Taksonomi atau penggolongan tujuan ranah kognitif oleh Bloom,
mengemukakan adanya 6 (enam) kelas atau tingkat yaitu:
11
1) Pengetahuan (knowledge)
Merupakan tingkat terendah tujuan ranah kognitif berupa
pengenalan dan pengingatan kembali terhadap pengetahuan
tentang fakta, istilah, dan prinsip-prinsip dalam bentuk seperti
mempelajari. Dalam pengenalan siswa diminta untuk memilih
salah satu dari dua atau lebih jawaban.
2) Pemahaman (comprehension)
Merupakan tingkat berikutnya dari tujuan ranah kognitif berupa
kemampuan memahami atau mengerti tentang pelajaran yang
dipelajari tanpa perlu menghubungkan dengan isi pelajaran
lainnya. Dalam pemahaman siswa diminta untuk membuktikan
bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara
fakta-fakta atau konsep.
3) Penerapan (aplikasi)
Penerapan merupakan kemamapuan menggunakan generalisasi
atau abstraksi lainnya yang sesuai dalam situasi konkret atau
situasi baru. Dalam penerapan, siswa dituntut untuk memiliki
kemampuan untuk menyeleksi generalisasi atau abstraksi
tertentu (konsep, dalil, hukum, aturan, gagasan, cara) secara
tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan
4) Analisis
Analisis merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran ke
bagaian-bagian yang menjadi dasar unsur pokok. Untuk analisis,
siswa diminta untuk menganalisis hubungan atau situasi yang
kompleks atau konsep-konsep dasar.
5) Sintesis
Sintesis merupakan kemampuan menggabungkan unsur-unsur
pokok ke dalam struktur yang baru. Dalam sintesis, siswa diminta
untuk melakukan generalisasi.
6) Evaluasi
Evaluasi merupakan kemampuan meniliai isi pelajaran untuk
suatu maksud atau tujuan tertentu. Dalam evaluasi siswa diminta
untuk menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang telah
dimiliki untuk menilai suatu kasus 12
b. Segi Afektif
Segi afektif dapat diuraikan menjadi lima taraf, yaitu:
1) Memperhatikan (Receiving/attending)
Taraf pertama ini berkaitan dengan kepekaan pelajar terhadap
rangsangan fenomena yang datang dari luar. Taraf ini dibagi lagi
ke dalam tiga kategori, yaitu kesadaran akan fenomena, kesedian
12
menerima fenomena, dan perhatian yang terkontrol atau
terseleksi terhadap fenomena.
2) Merespons (Responding)
Pada taraf ini pelajar tidak lagi sekedar memperhatikan
fenomena. Ia sudah memiliki motivasi yang yang cukup,
sehingga tidak saja mau memperhatikan, tetapi juga bereaksi
terhadap rangsangan. Dalam hal ini termasuk ketepatan reaksi,
perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang
datang kepada dirinya.
3) Menghayati nilai (Valuing)
Pada taraf ini tampak bahwa pelajar sudah menghayati dan
menerima nilai. Perilakunya dalam situasi tertentu sudah cukup
konsisten, sehingga sudah dipandang sebagai orang yang sudah
mengahayati nilai.
4) Mengorganisasikan
Pada taraf ini pelajar mengembangkan nilai-nilai ke dalam satu
sistem organisasi, dan menentukan hubungan satu nilai dengan
nilai yang lain, sehingga menjadi satu sistem nilai. Termasuk
dalam proses organisasi ini adalah memantapkan dan
memprioritaskan nilai-nilai yang telah dimilikinya. Nilai itu
terdapat dalam berbagai situasi dan pelajaran, terutama sejarah
dan agama.
Pada taksonomi afektif tertinggi ini, nilai-nilai yang dimiliki
pelajar telah mendarah daging serta memengaruhi pola
kepribadian dan tingkah laku. Dengan demikian, ia sudah dapat
digolongkan sebagai orang yang memegang nilai.
c. Segi Psikomotorik
Segi psikomotorik dapat diuraikan ke dalam taraf-taraf di bawah
ini:
1) Persepsi
Taraf pertama dalam melakukan kegiatan yang bersifat motorik
ialah menyadri objek, sifat, atau hubungan melalui alat indra.
Taraf ini mencakup kemampuan menafsirkan rangsangan, peka
terhadap rangsangan, dan mendiskriminasikan rangsangan. Taraf
ini merupakan bagian utama dalam rangkaian situasi yang
menimbulkan kegiatan motorik.
2) Kesiapan (set)
Pada taraf ini terdapat kesiapan untuk melakukan tindakan atau
untuk beraksi terhadap sesuatu kejadian menurut cara tertentu.
Kesiapan mencakup tiga aspek, yaitu intelektual, fisis, dan
emosional. Karena pada taraf ini terlihat tindakan seseorang
bahwa ia sedang berkonsentrasi dan menyiapkan diri secara fisis
3) Gerakan terbimbing (respon terbimbing)
Taraf ini merupakan permulaan pengembangan keterampilan
motorik. Yang ditekankan ialah kemampuan yang merupakan
bagian dari keterampilan yang lebih kompleks. Respon
terbimbing adalah perbuatan individu yang dapat diamati, yang
terjadi dengan bimbingan individu lain yang memberi contoh.
4) Gerakan terbiasa (respon mekanistis)
Pada taraf ini pelajar sudah yakin akan kemampuannya dan
sedikit banyak terampil melakukan suatu perbuatan. Di
dalamnya sudah terbentuk kebiasaan untuk memberi respon
sesuai dengan jenis-jenis perangsang dan situasi yang dihadapi.
Jadi pelajar sudah berpegang pada pola.
5) Gerakan (respon) kompleks
Pada taraf ini pelajar dapat melakukan perbuatan motorik yang
kompleks, karena pola gerakan yang dituntut memang sudah
kompleks. Perbuatan itu dapat dilakukan secara lancar, luwes,
supel, gesit, atau lincah, dengan menggunakan tenaga dan waktu
yang sedikit.
Taraf yang disebut terakhir ini masih bias dikembangkan dengan
muncul kreativitas untuk berinisiatif dan mencipatakan sesuatu yang
baru.13
4.6. Faktor yang Memengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Belajar sebagai suatu proses sudah barang tentu harus ada yang
diproses (masukan atau input) dan hasil dari pemrosesan (keluaran atau
output). Jadi dalam hal ini kita dapat menganalisis kegiatan belajar itu
dengan pendekatan analisis system. Dengan pendekatan sistem ini
sekaligus kita dapat melihat adanya berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar. Dengan pendekatan sistem,
kegiatan belajar dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar di atas menunjukkan bahwa masukan mentah (raw input)
merupakan bahan baku yang perlu diolah, dalam hal ini diberi pengalaman
belajar tertentu dalam proses belajar-mengajar (teaching-learning process).
13
Munzier Suparta dan Hery Noer Aly, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Opcit, h. 52.
TEACHING – LEARNING
PROCESS INSTRUMENTAL INPUT
ENVIRONMENTAL INPUT
Di dalam proses belajar-mengajar itu turut berpengaruh pula sejumlah
faktor lingkungan (environmental input), dan berfungsi sejumlah faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan (instrumental input) guna menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki (output). Berbagai faktor tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran
tertentu.
Di dalam proses belajar-mengajar di sekolah, maka yang dimaksud
masukan mentah atau raw input adalah siswa, sebagai raw input siswa
memiliki karakteristik tertentu, baik fisiolgis maupun psikologis.
Mengenai faktor fisiologis ialah bagaimana kondisi fisik, panca indera, dan
sebagainya. Sedangkan yang menyangkut psikologis adalah: minat, tingkat
kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif, dan sebagainya.
Sedangkan yang termasuk instrumental input atau faktor-faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan adalah; kurikulum atau bahan
pelajaran, guru yang memberikan pengajaran, sarana dan fasilitas, serta
manajemen yang berlaku di sekolah yang bersangkutan. Di dalam
keseluruhan sistem, maka instrumental input merupakan faktor yang sangat penting pula dan paling menentukan dalam pencapaian hasil atau
output yang dikehendaki, karena instrumental input inilah yang menentukan bagaimana proses belajar-mengajar itu akan terjadi di dalam
dan diri si pelajar.14
14
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yakni; faktor internal (faktor dari dalam
siswa), faktor eksternal (faktor dari luar siswa), dan faktor pendekatan
belajar (approach to learning).
a). Faktor internal siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendri meliputi dua aspek,
yakni: 1) aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah); 2) aspek psikologis
(yang bersifat rahaniah)
Pertama, Aspek fisiologis. Aspek fisiologis meliputi Kondisi umum
jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendi, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas
siswa dalam mengikuti pelajaran.
Kedua, Aspek psikologis. Banyak faktor yang termasuk aspek
psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan
pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa pada
umumnya dipandang esensial itu adalah sebagai berikut; tingkat
kecerdasan atau intelegensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa.
b) Faktor Eksternal Siswa
Seperti faktor internal siswa, fator eksternal siswa juga terdiri atas dua
macam yakni faktor lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial.
Faktor lingkungan sosial meliputi para guru, para staf administrasi,
sepermainan. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi
kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri.
Faktor lingkungan nonsosial meliputi gedung sekolah dan letaknya,
rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar,
keadaan cuaca dan waktu belajar yanag digunakan siswa.
c) Faktor pendekatan belajar
Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi
yang digunakan siswa untuk menunjang keefektifan dan efesiensi dalam
proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti
seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikan rupa untuk
memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu. 15
Sedangkan menurut Wasty Soemanto, banyak sekali faktor yang
mempengaruhi belajar. Namun, dari sekian banyak faktor yang
mempengaruhi belajar, dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu,
faktor stimulasi belajar, faktor metode belajar, dan faktor-faktor individual.
Pertama, faktor stimulasi belajar. Yang dimaksud dengan stimulasi
belajar di sini yaitu segala hal di luar individu yang merangsang individu
itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Yang termasuk
faktor-faktor stimulasi belajar yaitu panjangnya bahan pelajaran, kesulitan bahan
pelajaran, berartinya bahan pelajaran, berat ringannya tugas, dan suasana
lingkungan eksternal.
15
Kedua, faktor metode belajar. Metode mengajar yang dilakukan oleh
guru sangat mempengaruhi metode balajar yang dipakai oleh si pelajar.
Dengan perkataan lain, metode yang dipakai oleh guru menimbulkan
perbedaan yang berarti bagi proses belajar. Faktor metode belajar
menyangkut hal berikut: kegiatan berlatih atau praktik, overlearning dan
drill, resitasi selama belajar, pengenalan tentang hasil belajar, belajar
dengan keseluruhan dan dengan bagian-bagian, penggunaan modalitas
indra, bimbingan dalam belajar, dan kondisi insentif.
Ketiga, Faktor individual. Faktor individual sangat besar pengaruhnya
terhadap belajar seseorang. Adapun yang termasuk faktor individual yaitu:
kematangan, faktor usia kronologis, faktor perbedaan jenis kelamin,
pengalaman sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan jasmani,
kondisi kesehatan rohani, dan motivasi.16
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata hasil belajar atau achievement
merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau
kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang
dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan,
pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hampir
sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang
merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar ini dapat dilihat dari
penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuhnya.17
16
Wasty Soemanto. Psikologi Pendidikan. (Jakarta: Rieneka Cipta, 2006) Cet. Kelima. h. 108- 115
17
Menurut Howard Kingsley seperti yang dikutip oleh Nana Sudjana dalam
bukunya yang berjudul penilaian hasil proses belajar mengajar membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan
pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi
dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne
membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b)
keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, (e) keterampilan
motoris.18
Dengan mengetahui prestasi belajar anak, kita dapat mengetahui
kedudukan anak di dalam kelas, apakah anak tersebut termasuk kelompok anak
pandai, sedang atau kurang. Hasil belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka,
huruf maupun symbol dan pada tiap-tiap periode tertentu, misalnya tiap catur
wulan atau semester, hasil belajar anak dinyatakan dalam buku rapot.19
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai
sebagai usaha belajar selama di sekolah pada setiap individu dalam periode
tertentu. Dengan mengetahui hasil belajar anak di dalam kelas, apakah anak
tersebut termasuk kelompok anak pandai, sedang atau kurang, maka siswa yang
berminat maka akan mencapai hasil belajar yang maksimal pula.
Ada beberapa faktor yang menghambat hasil belajar, diantaranya “
a. Faktor internal, yaitu hambatan-hambatan terhadap seseorang yang berasal
dari dalam dirinya sendiri seperti keadaan fisik (kesehatan, kondisi alat indera,
18
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar… h.22 19
dsb). Keadaan psikis seperti intelegensi, minat, motivasi, kognitif, dan
sebagainya.
b. Faktor eksternal, yaitu hambatan-hambatan yang datang dari luar dan
biasanya berkaitan dengan latar belakang seseorang seperti, keadaan sosial
(latar belakang keluarga, masyarakat, teman-teman pergaulan dan sebagainya),
keadaan nonsosial (suhu udara, pencahayaan, penggunaan teknologi, dsb).
C. Hakikat Cerpen atau Cerita Pendek a. Pengertian Cerita Pendek
Bahasa merupakan sarana untuk menciptakan sebuah karya sastra. Pemilihan kata yang terdapat dalam karya sastra memberikan nilai tersendiri
terhadap karya yang dihasilkan. Oleh karena itu, kata dirangkai sedemikian
rupa sehingga membentuk jalinan kata yang bermakna. Contohnya dalam
membaca cerpen baik di majalah ataupun buku kumpulan cerpen, setelah kita
membaca cerpen, biasanya kita akan mendapatkan pesan tersirat dalam cerpen
tersebut. Dalam cerpen itu pula kita dapat menemukan unsur-unsur cerpen
intrinsik dan ekstrinsik20.
Pengertian cerita pendek (cerpen) adalah cerita yang membatasi diri
dalam membahas salah satu unsur fiksi dalam aspeknya yang terkecil.
Kependekan sebuah cerita pendek bukan karena bentuknya yang jauh lebih
pendek dari novel, tetapi karena aspek masalahnya yang sangat dibatasi.
Dengan pembatasan ini maka sebuah masalah akan tergambar jauh lebih jelas
dan jauh lebih mengesankan bagi pembaca. Kesan yang ditinggalkan oleh
20
sebuah cerita pendek harus tajam dan dalam, sehingga sekali membacanya kita
tidak akan mudah lupa21. Euis Honiarti mengatakan, cerita pendek (cerpen)
adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dikisahkan
sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang
mengharukan atau menyenangkan, dan memiliki kesan yang tidak mudah
dilupakan22. Sedangkan menurut Satyagraha Hoerip dalam Atar Semi
mendefinisikan bahwa cerpen adalah”sebuah karakter yang dijabarkan lewat
rentetan kejadian daripada kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu. Apa yang
“terjadi” didalamnya lazim merupakan suatu pengalamanatau penjelajahan”23 .
Oleh karena itu, cerpen adalah sebuah gambaran tentang kehidupan tokoh yang
menceritakan berbagai macam peristiwa yang menggambarkan tentang watak
seorang tokoh sehingga dapat menimbulkan efek perasaan pada pembacanya.
5.2. Ciri – ciri Cerita Pendek
Cerpen adalah cerita pendek yang alur ceritanya simple dan padat,
dengan tokoh-tokoh yang cukup terbatas dan dapat dibaca hanya sekali duduk.
Cerita pendek tidak boleh dipenuhi dengan hal-hal yang tidak perlu. Maka
darisinilah penulis mengambarkan ciri-ciri cerita pendek.
1. Ceritanya fiktif dan rekaan. Walaupun bukan cerita sebenarnya, isi
ceritanya logis dengan kehidupan.
2. Pokok cerita berfokus pada suatu aspek cerita, yang menimbulkan efek
dan kesan tunggal.
21
Jakob Sumardjo,Memahami Kesusastraan(Bandung: Penerbit Alumni 1984),h.69. 22
Euis Honiarti dan E. Kosasih, Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia,(Bandung CV Pustaka Setia, cet 1 2003).h. 302.
23
3. Mengungkapkan masalah yang terbatas pada hal-hal yang penting saja.
4. Menyajikan peristiwa yang cermat dan jelas24.
Adapun ciri-ciri cerpen berdasarkan pendapat Henry Guntur Tarigan
dalam bukunya Korrie Layun Rampan”Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir”
merumuskan beberapa ciri cerpen yang menunjukan kekhasan sebagai karya
sastra sebagai berikut :
a. Singkat, padu dan intensif. Cerpen hanya ditulis dalam jumlah kata terbatas ( hingga sekitar 15.000 kata).
b. Hanya menimbulkan satu efek saja dalam pikiran pembaca. Karena itu, sifat singkat, padu, dan intensif harus diterapkan secara akurat.
c. Memberikan dampak atau kesan tertentu bagi pembaca.
d. Hanya ada satu situasi. Situasi itulah yang dieksplorasi, sehingga mampu meninggalkan kesan agar sukar dilupakan.
e. Memiliki kesan tunggal, tidak berberaian. Dampak yang ditimbulkan akan bulat dan hanya terjadi satu emosi. Masing-masing elemen cerita mengalir pada suatu kesan, satu dampak, dan pada emosi yang juga tunggal.
f. Bahasa yang digunakan haruslah tajam, sugestif dan menarik perhatian. Penggunaan bahasa yang secara langsung akan mengenai sasaran. Tidak bertele-tele, kata-kata dan kalimat yang digunakan juga dapat mensugesti pembaca, sehingga persoalan yang dikemukakan seolah-olah peristiwa atau kejadian sebenarnya, agar pembaca terbawa ke dalam kisah tersebut.25 Oleh karena itu, dalam ciri-ciri cerpen lain yang menandai sebuah cerpen adalah tidak adanya pergolakan yang menyebabkan perubahan nasib para tokohnya. Serta sebagai salah satu
24
Euis Honiarti dan E. Kosasih, Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia,(Bandung: CV Pustaka Setia, cet 1 2003).h. 302-303
25
bentuk karya fiksi, cerpen merupakan bentuk fiksi yang paling banyak ditulis dan mungkin paling digemari oleh pembaca.
5.3. Unsur-unsur Cerita Pendek A. Unsur-unsur Intrinsik
Unsur Intrinsik atau unsur dalam adalah unsur sastra yang mempengaruhi
terciptanya karya sastra itu dari dalam. Adapun yang termasuk ke dalam
unsur-unsur intrinsik yaitu.
1) Tema
Euis Honiarti menjelaskan tema adalah gagasan atau pesan utama yang
menjalin struktur isi cerita. Tema suatu peristiwa mencangkup segala persoalan,
baik berupa masalah kemanusiaan,kekuasaan, kasihsayang dan sebagainya.
Untuk mengetahui tema suatu cerita, diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap
berbagai unsur karangan itu. Bisa saja temanya itu di sisipkan pada unsur
penokohan, alur, ataupun pada latar.26 Tema juga seringkali disamakan dengan
pengertian topik, akan tetapi tema merupakan suatu gagasan sentral, tema
sering juga disebut ide atau gagasan yang menduduki tempat utama dalam
pikiran pengarang dan sekaligus menduduki tempat utama dalam cerita.27
Dengan demikian, tema adalah ide pokok atau makna yang terkandung dalam
sebuah cerita yang mempunyai maksud tertentu.
2) Penokohan
Penokohan adalah individu yang berperan dalam cerita atau individu
rekaaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam bernbagai
26
Euis Honiarti dan E. Kosasi. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia,(Bandung CV Pustaka Setia, cet 1 2003),h.304
27
peristiwa dalam cerita. Dalam karya sastra khususnya fiksi penulis menciptakan
tokoh-tokoh dengan berbagaai watak penciptaan yang disebut penokohan.
Untuk memberikan gaambaran mengenai tokoh-tokoh dalam sebuah karya
fiksi, tokoh dibedakan dalam beberapa jenis berdasarkan perbedaan sudut
pandang dan tinjauan ,yaitu28.
a) Tokoh rekaan dan sejarah
b) Tokoh protagonis dan antagonis
c) Tokoh putih dan hitam
d) Tokoh statis dan berkembang atau tokoh sederhana
e) Tokoh kompleks atau tokoh bulat yaitu tokoh yang memiliki banyak
karakter dan diungkapkan berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi
kepribadian dan jati dirinya.29
3) Alur
M Atar Semi mengatakan dalam bukunya”Anatomi Sastra”. Alur atau
plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai
sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian
dalam keseluruhan fiksi30. Dengan demikian, alur itu merupakan perpaduan
unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama
cerita dasar yang amat penting dan alur itu mengatur bagaimana
tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain dengan hubungan peristiwa yang
semuanya terikat dalam suatu kesatuan waktu. Plot atau alur kadang-kadang
28
Siswasih dan Kanen M. Ridwan. Bahasa dan Sastra Indonesia,(Jakarta: PT Galaxy Puspa Mega,2009),h. 6-7
29
Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak, ( Yogyakarta: Gadjahmada University Press, 2005),h.224-229
30
disebut juga jalan cerita, ialah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang
disusun secara logis. Plot dibangun oleh beberapa peristiwa yang biasa disebut
alur. Unsur-unsur alur ialah.
a) Perkenalan
b) Pertikaian
c) Perumitan
d) Klimaks/puncak
e) Peleraian
f) Akhir
Unsur-unsur alur ini tidak selalu urutannya seperti itu, tetapi ada yang
dari tengah dulu, lalu kembali keperistiwa awal, kemudian berakhir. Karena
kedudukan-kedudukan unsur inilah, maka ada yang disebut alur maju, alur
mundur dan alur maju mundur. Berdasarkan kualitas hubungan tiap unsur alur,
maka ada alur longgar dan alur erat. Alur longgar ialah jika sebagian
peristiwanya kita lepas ( tidak dibaca) tidak mengganggu keutuhan ceritanya.
Alur erat adalah bila sebagian ceritanya kita tinggalkan akan mengganggu
keutuhan cerita.31 Secara garis besar jadi alur itu adalah yang memacu
mengiringi pembaca menyelururi cerita secara keseluruhan, tidak ada bagian
yang tidak ditinggalkan yang dianggap tidak penting. Dengan demikian, juga
dapat disimpulkan bahwa suatu kejadian ada karena adanya sebab. Suatu
kejadian merupakan sebuah alur cerita, bila di dalamnya terdapat
31
perkembangan kejadian dan perkembangan itu dapat terjadi apabila terdapat
konflik dalam cerita yang dibuat oleh si pengarang di dalam karya sastranya.
4) Latar
Latar atau setting adalah penggambaran mengenai lingkungan tempat peristiwa terjadi yang termasuk dalam latar ialah tempat, waktu, tahun, hari,
bulan, dan lain-lain. Pelukisan latar juga dapat dilakukan dengan cara sejalan
dan dapat pula digambarkan secara kontras. Maksudnya penggambaran ini
untuk menunjang suasana. Latar dibedakan menjadi tiga yaitu :
a. Latar tempat
Latar tempat adalah lokasi atau bangunan fisik lain yang menjadi tempat
terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.
b. Latar waktu
Latar waktu (masa) tertentu ketika peristiwa dalam cerita itu terjadi yang
berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa dalam sebuah karya
fiksi.
c. Latar suasana
Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan
keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersama dengan jalannya
cerita. Cerita menjadi lebih menarik karena berlangsung dalam suasana tertentu.
Latar juga dapat dibedakan menjadi latar sosial dan latar material.latar sosial
yaitu gambaran kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan prilaku
kehidupan sosial di suatu tempat dalam kurun waktu dan tempat yang
benda-benda yang mendukung cerita32. Oleh karena itu, pada dasarnya latar
mutlak dibutuhkan karena masih saling berhubungan denagan tema, plot,
supaya menghasilkan sebuah cerita yang brkualitas dimana cerita itu terjadi dan
kapan waktu terjadinya itulah yang disebut latar atau setting.
5) Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas seseorang pengarang dalam
mengungkapkan ide atau gagasannya melalui cerita. Dengan kata lain, gaya
bahasa adalah caara pengarang mengungkapkan gagasannya melalui bahasa
yang digunakannya33. Dengan demikian, dalam gaya bahasa pengarang memilih
kata-kata yang tepat dan menyusun kalimat dengan menggunakan gaya tertentu
sesuai dengan ciri khas kepribadiannya.
6) Sudut pandang
Sudut pandang atau point of view disebut juga pusat pengisahan, sudut pandang adalah posisi pencerita dalam menyampaikan ceritanya atau selaku
narator yang dapat menjelaskan tokoh-tokoh dalam cerita yang mempunyai
tempat berpijak tertentu dalam hubungannya dengan cerita. Sudut pandang
pencerita ada empat macam
a. Sudut pandang maha kuasa
Pengarang menuturkan seluruh cerita seakan-akan dia tahu segalanya.
Pengarang menceritakan semua tingkah laku tokoh-tokohnya baik yang
dikerjakan, dipikirkan, maupun yang dirasakan para tokoh cerita.
32
Siswasih dan Kanen M. Ridwan. Bahasa dan Sastra Indonesia,(Jakar