• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Umkm) di Kota Bandar Lampung dalam Rangka Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Umkm) di Kota Bandar Lampung dalam Rangka Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBANGUNAN KAPASITAS (CAPACITY BUILDING) USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA BANDAR LAMPUNG DALAM RANGKA MENGHADAPI

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

Oleh:

ESA DEVI SAFIANI

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan pada akhir tahun 2015, dimana arus barang dan jasa akan menjadi lebih bebas. Masih banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh UMKM di Kota Bandar Lampung tentu memunculkan kekhawatiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya penguatan UMKM di Kota Bandar Lampung dalam rangka menghadapi MEA 2015. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Penguatan organisasi UMKM di Kota Bandar Lampung dilihat dari 3 (tiga) aspek yaitu pemanfaatan personel, aspek manajerial dan pengembangan jaringan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan personel yang dilakukan oleh Diskoperindag, dilakukan dengan memberikan pelatihan kewirausahaan dan pelatihan teknis. Aspek manajerial dengan melakukan penyuluhan teknologi tepat guna, pelatihan manajemen keuangan dan manajemen produksi. Pengembangan jaringan bagi UMKM dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan BUMN yang ada di Kota Bandar Lampung, BUMD, instansi lintas sektoral dan mengikutsertakan para pelaku UMKM dalam ajang promosi dan pameran baik pada tingkat lokal maupun nasional, selain itu upaya pengembangan jaringan juga dilakukan dengan pelaksanaan OVOP (one village one product). Namun jumlah peserta yang mendapat pelatihan dan bantuan masih sangat terbatas. Selain itu, sosialisasi MEA yang dilakukan Diskoperindag hanya pada saat pelatihan akibatnya masih banyak pelaku UMKM yang tidak mengetahui informasi tersebut.

Diskoperindag Kota Bandar Lampung harus lebih menggencarkan sosialisasi tentang MEA, meningkatkan intensitas pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi pelaku UMKM, menjalin kerjasama dengan pasar modern, melindungi produk lokal dan memperbanyak jumlah pelaku UMKM yang mendapatkan bantukan modal dan peralatan usaha.

(2)

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

Oleh Esa Devi Safiani

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU ADMINISTRASI

Pada

Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(3)

CAPACITY BUILDING OF MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (UMKM) IN BANDAR LAMPUNG CITY IN ORDER TO

FACE ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 By:

ESA DEVI SAFIANI

Asean economic community will begin at the end of the year 2015, where the trade of goods and services will be more free. Meanwhile there are many problems faced by UMKM in the Bandar Lampung city. The aim of this research is to find out the strategy to strengthen UMKM in the Bandar Lampung city to face asean economic community 2015. This research uses a qualitative approach. Meanwhile data collection was done through deepth interviews and documentations.

The strengthening of the organization of UMKM in the city of Bandar Lampung are seen from three aspect, which are ; the use of personnel, managerial aspects and the development of network. The results show that the aspect of the use of personel conducted by giving enterpreneurship and technical training from Diskoperindag. As for managerial aspects, Diskoperindag conducted socialization about information technology, financial management training and management production training and for development of network aspect, Diskoperindag built a cooperation with local state enterprises (BUMD), state enterprises (BUMN) other institutions. In addition to that Diskoperindag also invites UMKM to join an exhibition either at local level and at national level. Moreover the development of OVOP (one village one product) has established in order to develop the network. But the number of participants who received training and assistance is very limited. Socialization about the Asean economic community itself only done during the training so that there are still many UMKM that don’t know about it. Diskoperindag of the city of Bandar Lampung should be more intens to do a socialization about Asean Economi Community, increasing the intensity of education and training on entrepreneurship for UMKM, building a network with modern market, protecting local products and increasing the number of UMKM which get the capital subsidize and equipment for production.

(4)

1. Tim Penguji

.

Ketua :

tahayu,Sullstlovatl,'

S.Sos.,

!l.Sl.

a

Sekretaris

:

Dewle

Brlmn,Atlka,

S.IP.,

!I.Sl.

Iladtauan, !f.Sl.

198605 1 002

Penguji

'

.

nukan Pembimbing :

Fleillyana,

$.1P., FI.A.

2. Dekan Fakultas llmu Sosial dan

llmu

Politik
(5)

Hama Mahasisura

lbmor

Pgkok Mahasiswa

Jurusan

Fhkultas

IIIENENGAIT (tIFtIflT}

DI KOIA

BANDAR UTilPUIIG DALITU RATIGITA ITTDIIGIIADAPI IIIASYANAIIAT EKONOITII ASEIIN

2015

(Ds4

(Deri

Soflo"t

1116@1026

Ilmu Administrasi f{egara

Ilmu Sosial dan

llmu

Politik

Bahayu

NtP

t97tot22 t99'Lz

2 001

FTET{IETUJUI

1. Komisi Pembimbing

$.S(ts., M.Sl.

Dewle Brlma

Atlka,

S.fP., l[.S1.

NrP 19821212 200,BOL 2

At7

2. Ketua Jurusan llmu Administrasi Negara

(6)

De-ngaaini

saya

bahwa:

1.

Kaya hrlis saya" Skripsi/t-4oran aktrir ini adalah asli dan belum pernah

"

Univelsitas diajutF.n untuk Lmprmg me.ndapatkm gelar akad€mik (Sarjana/Ahli Madya), baik

mauprm di prguruan tingF lainnya.

2.

Karya ttrlis ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak laiq kecuali arahan Tim Pembimbing.

3.

Dalam karya tulis ini tidak terdapat kuya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain" kecuali secffia tertulis dengan jelas

dicantumkan

s€hgai

aclran dalarn naskah dengan disebrilkan nama pengarangnya dan dicantumkan dalam daftar pustaka

4.

Pernyataan

ini

saya buat dengan senmgguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini

maka saya bercedia menerima sanksi akademik benrpa pencabutan gelar

yang

telah

dari karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan nonnayang berlaku di Perguruan Tinggr ini.

Bandar

Ianpung

17 Juoi 2015

Yang membuat pernyataan,

Esa Devi Safiani

(7)

Penulis bernama lengkap Esa Devi Safiani, terlahir di keluarga yang sederhana sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Sarwaji dan Ibu Winarni. Penulis dilahirkan pada hari senin tanggal 27 Desember 1993 di desa Tambah Mulyo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu. Pada tahun 1998, penulis memulai pendidikan dasar di SD N 3 Wates. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Gadingrejo dan pada akhirnya penulis mengakhiri proses wajib belajar sembilan tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pringsewu. Semua penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Pada tahun 2011 berkat ridho Allah SWT penulis lulus dalam seleksi SNMPTN Undangan di Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung, sebagai salah satu penerima beasiswa bidik misi. Sebuah rezeki yang insyaallah merupakan awal dari kesuksesan penullis sendiri, amiin.

(8)

Perwakilan Mahasiswa Universitas Lampung (DPM-UNILA) periode 2013-2014 sebagai anggota Komisi II (Hukum dan Perundang-udangan), dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMAGARA) periode 2013-2014 sebagai Sekretaris Bidang Kajian Pengembangan Keilmuwan.

Singkat kata sampai karya ini penulis buat, sudah cukup puas rasanya penulis menjadi bagian dari “Kampus Hijau” Universitas Lampung. Walaupun kata “cukup” sebenarnya tidak pernah ada, namun penulis rasa sudah saatnya

(9)

Jika saat ini kamu merasa hidup yang kamu lalui terlalu

sulit, jangan pernah menyerah dan berkecil hati, yakinlah

bahwa tidak ada kesuksesan yang diperoleh dengan mudah

dan biarkan kesulitan yang kamu hadapi saat ini menjadi

sejarah yang bisa kamu

ceritakan ketika kamu sukses nanti

(Esa Devi Safiani)

Banyak KEGAGALAN dalam hidup ini dikarenakan

orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan

keberhasilan saat mereka

menyerah.

(Thomas Alva Edison)

Suks

es itu diperoleh dari 99% kerja keras, dan 1 %

kepintaran

(10)

Maha suci Allah dengan segala puji untuk-Nya, sejumlah

Makhluk-Nya, Keridhaan-

Nya, perhiasan ‘Arsy

-Nya dan

sebanyak tinta kalimah-Nya

Untuk-Nya yang tidak pernah tidur dan lupa akan

Makhluknya. Sang penguasa alam semesta beserta isinya

Sebuah karya kecil bernama skripsi ini kupersembahkan

untuk mereka yang menjadi muara kasih sayang tempatku

berteduh,

Ayah-ku Sarwaji, sosok luar biasa yang menguatkan ku dalam

setiap kesulitan yang kuhadapi dengan segala nasihatmu

yang menenangkan jiwa dan mengembalikan semangatku,

ayah memang bukan malaikat tapi ayah adalah yang terhebat

Ibundaku Winarni, arsitek kasih sayang nomor satu yang

paling setia menyayangiku dengan caranya yang sederhana

namun sangat menyentuh hatiku

Adik-adikku, Ali Hamdana dan Iga Ramadhan

Kita semua punya cita-cita yang satu dan kita tahu akan hal

itu, saat ini kita sedang berusaha mencapainya.

FISIPOL UNILA

(11)

Alhamdulillahirrabil’alamin segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang

telah melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Atas segala kehendak dan kuasa Allah SWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : “Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung dalam Rangka Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Administrasi Negara (SAN) pada Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang peneliti miliki. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulusnya kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini antara lain :

1. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia periode 2004-2014, terima kasih banyak atas program yang bapak canangkan sehingga dengan bidik misi saya bisa lebih dekat dengan mimpi yang dulu tak pernah berani untuk saya bayangkan.

(12)

4. Ibu Rahayu Sulistiowati, S.Sos, M.Si selaku dosen pembimbing utama. Teriterima kasih banyak atas saran, masukan, motivasi dan bimbingannya yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Dewie Brima Atika, S.A.N, M.PA. selaku dosen pembimbing kedua penulis. Teriterima kasih banyak atas arahan, saran, masukan, waktu, kesabaran dan bimbingannya yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Ibu Meiliyana, S.IP. M.A selaku dosen pembahas. Terima kasih ibu atas arahan, saran, masukan, waktu, kesabaran yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Seluruh dosen Ilmu Administrasi Negara, teriterima kasih atas segala ilmu yang telah peneliti peroleh selama proses perkuliahan semoga dapat menjadi bekal yang berharga dalam kehidupan peneliti ke depannya.

8. Ibu Nur selaku Staf Administrasi yang banyak membantu kelancaran adminstrasi skripsi ini

9. Pihak Diskoperindag Kota Bandar Lampung yang telah memberikan izin melakukan penelitian, dan UMKM-UMKM yang telah bersedia menjadi informan peneliti, terima kasih atas kerjasamanya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

10. Keluargaku tercinta yang selalu mendoakan dan mendukungku. Bapak dan Ibu yang tak pernah lelah memberikan doa, semangat, motivasi dan kerja kerasnya untuk membiayai anaknya agar menjadi lebih baik. Terima kasih atas didikan yang kalian berikan selama ini. Doakan slalu anakmu, insya allah saya akan sukses dan dapat dibanggakan.

11. Adik- adikku Ali Hamdana dan Iga Ramadhan, tak terasa sekarang kalian sudah beranjak dewasa, tetap semangat untuk belajar yah dik dan yakinlah suatu saat kesuksesan akan ada digenggaman kita.

(13)

disini dan seperti ini.

13. Teruntuk sabahat-sahabatku Syilvia Afista, Amelia Zahra, Watik Astunik, Jenny Tumanggor, Intan PP Sitorus dan Leni Roza Lena, terima kasih atas semua ke”alay’annya yang telah memberi warna dalam perkuliahan ku. 14. Terima kasih untuk keluarga ku di Asrama Astrid A, Nurhikma Harahap,

Puji, Erlin Arisca, Moryana Dewi, Marlina, Mb Ning, Nisa Toriqi, Mbok Martini, Ida, Rere, Siti dan Vika, Terima kasih atas kebersamaan dan dukungannya.

15. Sahabatku Endah Hapsari Terima kasih dukungan dan bantuannya dalam mencari data untuk kelengkapan skripsi ini.

16. Heri Setiawan dan Yudi Apriansyah terima kasih untuk persainggannya, akhirnya kita berhasil menaklukkan MEA.

17. Teman-teman seperjuangan, senasib, sepenanggungan. Saudara terdekatku di dunia Kampus, semua angkatan ANE 011 Faizal, Ria, Riza, Lisa Sagita, Okta, Octa, Ahmed, Akbar, Ririn, Andi, Astri, Kartika, Hesty, Seza, Eka, Deo, Ibnu, Kristi, Tiwi, Rendy, Ciko, Rinanda, Iid, Ade, Laras, Cindy, Lili,, Raras, Farah Anisa, Ninda, Wulan, Nisa, Tria, Iis, Bulan, Rio, Iksan, Widi, David, Devin, Menceng, Frendy, Fredy, Kiyo, Leli, Juzna, Ayu, Fatma, Mut, Fitri, Manda, Popo, panggo, Rosyid, Wahyu, Sigit, Novi Nurkholis, Toto, Rano, Yori, Novilia, Rere, Danisa, Farrah M, Rosyid, M. Rizky, Alisa Ludfiana, Novia, Ratu, Tami, Pebie, Febby, Eky, Dede, Filardis terima kasih atas kebersamaan dan dukungannya.

18. Teman-teman seperjuangan dari lintas jurusan, Eka, Zeva, david, Feni, Rohani, Suheria, Ade, selamat atas gelar S,AB nya. Mb Jul, Resti, Gustia selamat untuk gelar S.E nya (nanti hehe). Juga teman-teman KKN, Dita, Eko, Hendra (papa bear), Dewi (mama bear), Putri, Epol, Mb Desi dan Pawe. 19. Terima kasih untuk keluarga besar DPM-Unila periode 2013/2014, Kak Vian,

(14)

20. Terima kasih untuk keluarga BEM Unila, Marelita, Riko, Bambang, Maya, Ani, dan keluarga kementrian kebijakan publik, terima kasih Kak Qyoko Atas Pengalaman berharganya, Kak Hendi, Johansyah, Evi, Kak Andika, Diah, Lintang, terima kasih atas kebersamaannya.

21. Teriterima kasih untuk temen-temen 2009 Bang Hendi Renaldo, Bang Fahmi, Bang Guruh, Bang Angga, Mb Lita, Mb Kartika. Temen-Temen 2010 Bang Fadri, Bang Desmon, Bang Begg, Bang Pandu, Mba Erisa, Mba Sari, Mba Astria, Mba Rahma, Mba Bunga Mayang Sari, Mba Bunga Janati, Mba Nurul, Bang Woro, Bang Uyung, Bang Ali, Bang Satria, Bang Aden, Bang Loy.

22. Temen-Temen 2012 Bery, Annisa, Novita, Yeen, Eko, Nyum, Endry, Firdaus, Akbar, Nadiril, Johansyah, Rezky, Sherly, Suci, Iyaji, Erna, Dwini, Dewi, Ikhwan, Dara, Purnama, Putri, terima kasih Dukungannya. Teman-teman 2013 (Alas Menara) dan Teman-teman-Teman-teman 2014 (Gelas Antik).

Akhir kata penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan akan tetapi sedikit harapan semoga karya sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

(15)

Halaman ABSTRAK

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN RIWAYAT HIDUP

MOTTO

PERSEMBAHAN SANWACANA

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR BAGAN ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian ... 14

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) ... 15

1. Pengertian Pembangunan Kapasitas (capacity building) ... 15

2. Tujuan Pembangunan Kapasitas (capacity building) ... 17

3. Dimensi Pembangunan Kapasitas (capacity building) ... 18

4. Penguatan organisasi ... 24

B. Tinjauan UMKM ... 27

1. Pengertian UMKM ... 27

2. Azas-azas UMKM ... 29

C. Tinjauan MEA ... 31

1. Sejarah ASEAN dan Percepatan Pembentukan MEA ... 31

2. Arah kebijakan MEA ... 32

(16)

ii

B. Fokus Penelitian ... 39

C. Lokasi Penelitian ... 41

D. Teknik Pengumpulan Data ... 41

E. Teknik Analisis Data ... 43

F. Teknik Keabsahan Data ... 45

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Kondisi Geografis dan Administratif Kota Bandar Lampung ... 48

B. Letak Strategis Kota Bandar Lampung ... 50

C. Visi Kota Bandar Lampung ... 52

D. Misi Kota Bandar Lampung dalam Perekonomian Daerah ... 55

E. Produk Unggulan Kota Bandar Lampung ... 58

F. Sebaran Jumlah UMKM di Kota Bandar Lampung ... 60

G. Pelaksana Teknis Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandar Lampung dalam Bidang Ekonomi Kerakyatan ... 62

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Pemanfaatan Personel ... 71

2. Aspek Manajerial ... 79

3. Pengembangan Jaringan ... 83

B. Pembahasan 1. Pemanfaatan Personel ... 105

2. Aspek Manajerial ... 109

3. Pengembangan Jaringan ... 111

VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 116

B. Saran ... 117

(17)

iii DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1.1 ASEAN Macroeconomic Database 2013 ... 3

Tabel 1.2 Hubungan Intra-Trade Indonesia dengan Anggota ASEAN (dalam milyar USD) ... 3

Tabel 1.3 Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Republik Indonesia tahun 2011-2012 ... 8

Tabel 1.4 Perkembangan UMKM di Provinsi Lampung Tahun 2011-2012 ... 9

Tabel 2.1 Dimensi Pembangunan Kapasitas ... 19

Tabel 2.2 Klasifikasi UMKM ... 28

Tabel 3.1 Data Informan ... 42

Tabel 3.2 Daftar Dokumen-Dokumen yang Berkaitan dengan Penelitian ... 43

Tabel 4.1 Nama Kecamatan dan Kelurahan di Kota Bandar Lampung ... 49

Tabel 4.2 Data UMKM Kota Bandar Lampung Tahun 2013 Perkecamatan ... 61

Tabel 4.3 Data perkembangan UMKM Kota Bandar Lampung tahun 2012-2014 ... 62

Tabel 5.1 Pelaksanaan Penyuluhan ... 81

Tabel 5.2 Penyuluhan Untuk Mengembangkan Jaringan Usaha ... 85

Tabel 5.3 Jumlah Penerima Kredit Ekor (Ekonomi Kerakyatan) Tahun 2006 S/D Desember Tahun 2014 ... 90

Tabel 5.4 Daftar Penerima Sertifikat P-IRT Tahun 2014 ... 93

Tabel 5.5 Sertifikat Halal Bagi UKM di Kota Bandar Lampung Tahun 2014 ... 93

(18)

iv DAFTAR BAGAN

Bagan Halaman

(19)

v DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 5.1 Tema Pelatihan Kewirausahaan oleh Diskoperindag

Kota Bandar Lampung ... 74

Gambar 5.2 Suasana Pelatihan Sulam Usus ... 77

Gambar 5.3 Pelatihan Teknis Jahit Menjahit ... 77

Gambar 5.4 Suasana Pelatihan Teknis Kain Tapis ... 78

(20)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara seperti halnya individu sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk melangsungkan kehidupannya. Sebuah negara tidak bisa berdiri sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain negara-negara di dunia saling melengkapi satu sama lain karena suatu negara juga membutuhkan bantuan dalam membangun negara. Sebagai negara yang sedang membangun, Indonesia menjalin kerjasama dengan berbagai negara dan bergabung dalam beberapa organisasi internasional. Salah satu organisasi Internasional yang diikuti Indonesia adalah ASEAN (Association of South East Asian Nations/Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara). Indonesia menjadi salah satu dari 5 negara pendiri ASEAN dan kini anggota ASEAN telah berjumlah 10 negara.

(21)

Dengan mempertimbangkan keuntungan dan kepentingan ASEAN untuk menghadapi tantangan daya saing global, para pemimpin ASEAN berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat ASEAN. Masyarakat ASEAN adalah sebuah komunitas yang dibentuk dengan beranggotakan negara anggota ASEAN yang diharapkan mampu mempertahankan stabilitas keamanan, mengatasi masalah ekonomi/keuangan dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang dinamis antar sesama negara anggotanya. Pada tahun 2007 para pemimpin ASEAN menegaskan komitmen kuat mereka untuk mewujudkan masyarakat ASEAN dan mempercepat target waktunya yang awalnya 2020 menjadi tahun 2015 (Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 2014:5).

Pembentukan Masyarakat ASEAN terdiri dari tiga pilar yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) ; Masyarakat Politik Keamanan ASEAN atau ASEAN Security Community (ASC); dan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN atau ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC). Ketiga pilar tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling memperkuat tujuan pencapaian perdamaian yang berkelanjutan, stabilitas serta pemerataan kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara.

(22)

negara anggota ASEAN akan mengalami integrasi pasar yaitu berupa “free trade area” (area perdagangan bebas) yang meliputi, penghilangan tarif perdagangan antar negara ASEAN, pasar tenaga kerja dan pasar modal yang bebas yang akan sangat berpengaruh pada perekonomian tiap negara anggota.

Antara peluang dan tantangan dari implementasi MEA bagi pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN tentu tergantung pada cara menyikapi dan kesiapan menghadapi era pasar bebas tersebut. Bagi Indonesia sendiri, disatu sisi MEA memberikan peluang yang berharga untuk bisa berkompetisi dan meningkatkan pangsa pasar, namun disisi lain menjadi tantangan karena masih banyak permasalahan yang harus dibenahi. Jika yang menjadi pertanyaan “Sudah siapkah Indonesia menghadapi MEA di tahun 2015 mendatang?” maka hanya ada 1 (satu) jawaban, “Siap tidak siap Indonesia harus menghadapi MEA”. Dalam hal ini kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA akan menjadi pertaruhan kredibilitas bangsa Indonesia di dunia internasional.

Apabila dilihat dari struktur wilayah, jumlah penduduk dan pendapatan per-capita anggota ASEAN, Indonesia merupakan negara yang paling besar dan paling banyak penduduknya namun pendapatan per-capita masih dibawah rerata ASEAN, dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.1 : ASEAN Macroeconomic Database 2013

Country Total Land Area (sq km)

Total Population (thousand)

Gross Domestic Product (GDP At current prices Per capita

(USS Mn) (USS)

Brunei Darussalam 5,769 400 16,970 42,445

Cambodia 181,035 14,741 14,411 978

Indonesia 1,860,360 244,776 878,223 3,588

Lao PDR 236,800 6,514 9,083 1,394

Malaysia 330,290 29,337 305,154 10,338

(23)

Philippines 300,000 97,691 250,534 2,565

Singapore 716 5,312 276,610 52,069

Thailand 513,120 67,912 366,127 5,391

Viet Nam 330,958 88,773 141,669 1,596

ASEAN 4,435,958 616,614 2,311,315 3,748

Sumber: Direktorat Jendral Perdagangan Luar negeri RI, 2013

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Indonesia merupakan negara terbesar di ASEAN dengan jumlah penduduk yang mencapai 244,776 juta jiwa, atau sekitar 40% dari total seluruh penduduk anggota ASEAN. Sedangkan dalam hal hubungan perdagangan antar Indonesia dengan anggota ASEAN lainnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.2 Hubungan Intra-Trade Indonesia dengan Anggota ASEAN (dalam milyar USD) No Trade Indonesia Dengan Negara Tujuan Total Ekspor 2013 Ekspor Jan-Jun Total Impor 2013 Impor Jan-Jun Neraca Perdagangan 2013 Neraca Jan-Jun

2013 2014 2013 2014 2013 2014

Dunia 182.55 91.08 88.83 186.63 94.41 89.98 -4.08 -3.33 -1.16

ASEAN 40.64 20.49 19.98 53.84 26.81 25.73 -13.20 -6.30 -5.65

1 Singapore 16.69 8.45 8.66 25.58 12.68 12.72 -8.90 -4.23 -4.06

2 Malaysia 10.67 5.33 5.02 13.32 6.32 5.31 -2.66 -0.99 -0.29

3 Thailand 6.06 3.19 2.92 10.70 5.79 4.99 -4.64 -2.60 -2.08

4 Philippines 3.82 1.86 1.87 2.72 0.40 0.36 1.09 1.46 1.52

5 Vietnam 2.40 1.11 1.01 0.78 1.30 1.72 1.62 -0.19 -0.62

6 Myanmar 0.56 0.33 0.25 0.65 0.04 0.08 -0.09 0.29 0.17

7 Cambodia 0.31 0.15 0.20 0.02 0.01 0.01 0.24 0.15 0.19

8 Brunei

Darussalam 0.12 0.07 0.05 0.65 0.27 0.50 -0.52 -0.19 -0.45

9 Laos PDR 0.006 0.003 0.002 0.008 0.004 0.036 -0.010 -0.002 -0.034

Sumber: Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri RI, 2014

(24)

memakai produk luar negeri ketimbang produk dalam negeri sehingga Indonesia menjadi incaran pemasaran bagi negara pesaing.

Untuk menghadapi era pasar bebas se-Asia Tenggara tersebut, dunia usaha di Tanah Air dan pemerintah tentu harus mengambil langkah-langkah strategis, agar dapat menghadapi persaingan dengan negara anggota ASEAN lainnya, tak terkecuali sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Namun, UMKM di Indonesia masih mengalami berbagai permasalahan yang mengakibatkan rendahnya daya saing bila dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya. Permasalahan yang umum dihadapi UMKM di negara sedang berkembang menurut Tambunan (2012:51) diantaranya, keterbatasan modal kerja maupun investasi, kesulitan-kesulitan dalam pemasaran, distribusi dan pengadaan bahan baku, keterbatasan akses ke informasi mengenai peluang besar dan lainnya, keterbatasan pekerja dengan keahlian tinggi (kualitas SDM rendah) dan kemampuan teknologi, biaya transportasi dan energi yang tinggi, keterbatasan komunikasi, dan ketidakpastian akibat peraturan dan kebijaksanaan ekonomi yang tidak jelas.

(25)

dana dan kendala teknis lainnya. Di Malaysia sendiri yang menjadi prioritas utama pembangunan di Malaysia salah satunya adalah penguatan UMKM disertai dengan upaya proteksi produk domestik. Struktur ekonomi Malaysia yang memusatkan pada ekspor yang membuat ekonomi Malaysia berkembang pesat sejak 20 tahun terakhir bila dibandingkan dengan Indonesia. Sebagai negara berkembang, permasalahan yang yang disebutkan Tambunan (2012:51) juga dialami oleh Filiphina. Pemerintah Filipina melalui Department of Trade and Industry (DTI), menyebutkan sektor UKM di Filipina mencapai lebih dari 99% atas seluruh jumlah perusahaan di Filipina dan berkontribusi terhadap sekitar 65% lapangan pekerjaan. Salah satu isu yang menjadi keprihatinan bagi banyak pelaku UMKM adalah sulitnya mendapatkan bantuan modal usaha meskipun pemerintah telah mendorong sektor perbankan untuk UMKM, namun pemerintah Fhilipina telah mendorong UMKM di Filiphina dalam hal perluasan pasar hingga mampu menembus pasar Jepang (Buletin Komunitas ASEAN edisi 5 Agustus 2014).

(26)

Said dan Wijaya dalam Taloren (2014:5) mengemukakan bahwa terdapat tiga alasan pokok UMKM di Indonesia perlu mendapatakan perhatian khusus. Pertama, sebagian besar pelaku ekonomi adalah UMKM. Kedua, UMKM adalah kekuatan rakyat yang efektif untuk menanggulangi kemiskinan. Ketiga, isu UMKM adalah isu global, bukan nasional apalagi lokal. Pentingnya UMKM juga didukung oleh pendapat Rifai (2007:176), menurutnya peran penting UMKM dapat ditinjau dari beberapa aspek. Pertama, besarnya jumlah unit usaha, penyerapan tenaga kerja, dan sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Aspek kedua peran penting UMKM yaitu, UMKM memiliki keunggulan dalam fleksibilitas untuk bertahan terutama dalam krisis ekonomi, fleksibilitas terhadap bahan baku, tenaga kerja, mesin, produk dan harga.

Ketiga, UMKM merupakan sumber konsumsi murah bagi konsumen, terutama pada saat krisis, karena mempergunakan bahan baku lokal. Keempat, UMKM dapat berperan sebagai sumber penghasilan terakhir bagi keluarga karena sebagai familiy firm (usaha keluarga), sehingga dapat mengurangi kemiskinan misalnya melalui peningkatan income per-capita masyarakat, dan aspek kelima, keberadaan UMKM khususnya di negara-negara sedang berkembang sering dikaitkan sebagai salah satu reaksi dan solusi terhadap masalah-masalah ekonomi seperti adanya ketimpangan distribusi pendapatan, pengangguran yang besar, proses pembangunan yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan, masalah urbanisasi dan tingkat kemiskinan yang tinggi.

(27)

industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Berdasarkan data Kementrian Koperasi dan UMKM tahun 2012, jumlah UMKM tercatat 56,5 juta unit atau 99,9% dari total unit usaha. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Setiap unit investasi pada sektor UMKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja jika dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UMKM menyerap 110,8 juta tenaga kerja atau 97,16% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni sebesar 59,08% dari total PDB, data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.3 : Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) di Indonesia tahun 2011-2012

No Indikator Satuan Tahun 2011 Tahun 2012 Jumlah Pangsa Jumlah Pangsa

1 Unit usaha (a+b) 55.211.396 56.539.560

A. (UMKM) (Unit) 55.206.444 99,99 56.534.592 99,99

- Usaha Mikro (UMi) (Unit) 54.559.969 98,82 55.856.176 98,79

- Usaha Kecil (UK) (Unit) 602.195 1,09 629.418 1,11

- Usaha Menengah(UM) (Unit) 44.280 0,08 48.997 0,09

B. Usaha Besar (UB) (Unit) 4.952 0,01 4.968 0,01

2 Tenaga kerja 104.613.681 110.808.154

A. (UMKM) (Orang) 101.722.458 97,24 107.657.509 97,16

- Usaha Mikro (UMi) (Orang) 94.957.797 90,77 99.859.517 90,12

- Usaha Kecil (UK) (Orang) 3.919.992 3,75 4.535.970 4,09

- Usaha Menengah(UM) (Orang) 2.844.669 2,72 3.262.023 2,94

B. Usaha Besar (UB) (Orang) 2.891.224 2,76 3.150.645 2,84 3 PDB Atas Dasar Harga

Berlaku (A+B)

7.445.344,6 8.241.864,3

A. (UMKM) (Rp. Milyar) 4.321.830,0 58,05 4.869.568,1 59,08

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Milyar) 2.579.388,4 34,64 2.951.120,6 35,81

- Usaha Kecil (UK) (Rp. Milyar) 740.271,3 9,94 798.122,2 9,68

- Usaha Menengah(UM) (Rp. Milyar) 1.002.170,3 13,46 1.120.325,3 13,59

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 3.123.514,6 41,95 3.372.296,1 40,92 4 Total Ekspor Non Migas

(A+B)

1.140.451,1 1.185.391,0

A. (UMKM) (Rp. Milyar) 187.441,8 16,44 166.626,5 14,06

- Usaha Mikro (UMi) (Rp. Milyar) 17.249,3 1,51 15.235,2 1,29

- Usaha Kecil (UK) (Rp. Milyar) 39.311,7 3,45 32.508,8 2,74

- Usaha Menengah(UM) (Rp. Milyar) 130.880,8 11,48 118.882,4 10,03

B. Usaha Besar (UB) (Rp. Milyar) 953.009,3 83,56 1.018.764,5 85,94

(28)

UMKM di Indonesia terus berkembang disetiap daerah di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung, sebaran UMKM di Provinsi Lampung tahun 2012 berjumlah 341.297 unit usaha tersebar pada 14 kabupaten/kota. Jumlah usaha mikro di provinsi Lampung yakni berjumlah 251.538 unit, jumlah usaha kecil sebanyak 71.661 unit, sedangkan jumlah jenis usaha menengah di Provinsi Lampung sebanyak 18.098 unit, jumlah tersebut mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, lihat tabel dibawah ini:

Tabel 1.4 : Perkembangan UMKM di Provinsi Lampung Tahun 2011-2012

No Kabupaten/Kota

Jumlah unit usaha

2011 2012

Mikro Kecil Menengah Mikro Kecil Menengah

1 Lampung Selatan 1.532 235 130 1.685 258 143

2 Lampung Tengah 4.945 2.381 693 5.439 2.619 762

3 Lampung Utara 63.507 26.107 763 69.857 28.717 839

4 Lampung Timur 129.950 24.525 431 142.945 26.977 474

5 Lampung Barat 132 646 - 976 710 78

6 Bandar Lampung 11.484 6.784 9.895 12.632 7.462 10.884

7 Mesuji 361 149 469 397 163 515

8 Way Kanan 3.599 2.126 3.101 3.958 2.338 3.411

9 Metro 3.751 22 - 4.126 203 58

10 Tulang Bawang 2.589 187 32 2.847 205 35

11 Pringsewu 4.532 1.210 147 4.985 1.331 161

12 Tubabar 341 144 525 375 158 577

13 Tanggamus - 72 11 258 80 15

14 Pesawaran 962 400 133 1.058 440 146

TOTAL 227.684 64.989 16.328 251.538 71.661 18.098

(29)

Sumatera dengan Pulau Jawa. Sebagai ibukota provinsi, Bandar Lampung memiliki keuntungan karena setiap kegiatan, baik dari pemerintahan, politik, pendidikan, kebudayaan dan perekonomian, lebih cepat bertumbuh dibandingkan dengan kota dan kabupaten lain di Provinsi Lampung.

UMKM di Kota Bandar Lampung bergerak di beberapa sektor yakni sektor industri, sektor perdagangan dan sektor jasa. Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 1.3 jumlah UMKM di Kota Bandar Lampung pada tahun 2012 sebanyak 30.978 unit, jumlah tersebut terbagi kedalam usaha mikro sebanyak 12.632 unit, usaha kecil sebanyak 7.462 unit dan usaha menengah sebanyak 10.884 unit usaha. Perkembangan jumlah UMKM di Kota Bandar Lampung pada tahun 2012 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 9,9% untuk seluruh jumlah UMKM yang ada. Meskipun dari segi kuantitas pertumbuhan UMKM di Kota Bandar Lampung terus menunjukan peningkatan, namun persaingan produk di Indonesia saat ini sangat ketat bukan lagi mengukur dari kuantitasnya tapi lebih menekankan pada kualitas produksinya.

(30)

yang menyatakan bahwa UMKM di Kota Bandar Lampung belum ada yang eksport, pemasaran mereka baru sebatas luar kota salah satunya yaitu usaha kripik pisang “ANDI” yang berlokasi di Kemiling (Pra riset pada selasa 17 Maret 2015).

Rendahnya daya saing tersebut disebabkan karena masih banyaknya permasalahan. UMKM di Kota Bandar Lampung menghadapi berbagai permasalahan yang masih menurunkan daya saing. Berdasarkan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Publik (LAKIP) tahun 2013 Diskoperindag Kota Bandar Lampung mengidentifikasikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi UMKM di Kota Bandar Lampung diantaranya: keterbatasan modal usaha, terbatasnya keterampilan dan penguasaan teknologi tepat guna para pengrajin industri kecil, sehingga sulit mengembangkan usahanya.

(31)

finansial di UMKM. Pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah di Indonesia baru mencapai seperlima atau sekitar 20 % dari kredit yang disalurkan perbankan (http://www.pikiran-rakyat.com/node/281009, diakses pada 18 Maret 2015).

Dari data pra riset yang diperoleh oleh peneliti, selain permasalahan diatas permasalahan lain yang dihadapi pelaku UMKM adalah minimnya kemampuan pemasaran (pra riset penelitian tanggal 23 Maret 2015 pada usaha keripik pisang “Alinda” dan “Karya Mandiri”). Kurangnya pengetahuan atas pemasaran salah

satunya disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UMKM mengenai pasar, selain karena keterbatasan kemampuan UMKM untuk menyediakan barang/jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. Cara pemasaran UMKM masih dinilai konvensional, padahal dengan memanfaatkan teknologi seperti internet UMKM bisa memperluas jaringan pemasaran produknya.

(32)

namun harus ditunjang dengan kesiapan dari berbagai pihak. Jika pelaku usaha di Kota Bandar Lampung mampu memproduksi barang berkualitas dan berdaya saing tinggi, maka MEA menawarkan kesempatan berharga untuk menjadikan ekonomi Kota Bandar Lampung berjaya.

Demi menjaga daya saing UMKM, peningkatan pembangunan kapasitas (capacity building) UMKM menjadi sangat penting. Secara umum capacity building merupakan upaya yang dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai macam strategi untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan responsivitas dari kinerja. Menurut Grindle dalam Keban (2008:201) capacity building meliputi tiga dimensi yaitu sumber daya manusia, organisasi dan reformasi kelembagaan. Pada era sekarang ini penguatan organisasi menjadi tema yang sangat penting mengingat dalam pertumbuhannya, organisasi menghadapi tuntutan-tuntutan baik internal maupun eksternal yang timbul sejalan dengan keberadaannya. Oleh karena itu, organisasi dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus meningkatkan kemampuan yang selaras dengan tuntutan perubahan tersebut. Dengan demikian penguatan organisasi menjadi penting untuk membangun UMKM yang memiliki daya saing secara nasional maupun internasional. Dengan penguatan organisasi tersebut diharapkan UMKM di Kota Bandar Lampung mampu meningkatkan produktivitasnya sehingga mampu bersaing dalam arus liberalisai dari pemberlakuan MEA.

(33)

rekomendasi bagi pemerintah Kota Bandar Lampung maupun stakeholder lain dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan UMKM dalam menghadapi arus liberalisasi barang/jasa, dan menjadi rekomendasi pula untuk UMKM di Kota Bandar Lampung agar mampu bersaing dalam menghadapi MEA di akhir tahun 2015.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah upaya penguatan organisasi UMKM di Kota Bandar Lampung dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015?

C. Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Mendeskripsikan dan menganalisis upaya penguatan organisasi UMKM di Kota Bandar Lampung dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015.

D. Manfaat penelitian

Adapun kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan referensi bagi Kajian Ilmu Administrasi Negara khususnya pada mata kuliah Pengembangan Organisasi.

(34)

A. Tinjauan Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) 1. Pengertian Pembangunan Kapasitas (Capacity Building)

Secara alamiah, organisasi selalu berusaha mencapai tujuan, memenuhi visi dan misinya melalui program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang ditengah arus perubahan lingkungan yang sangat dinamis. Sehubungan dengan dinamika perubahan lingkungan tersebut, organisasi harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Adaptasi memastikan organisasi tetap dalam koridor pencapaian visi dan misinya dan terlebih lagi untuk mempertahankan eksistensinya. Pembangunan kapasitas (capacity building) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghadapi perubahan sesuai dengan tuntutan zaman.

(35)

Pembangunan kapasitas merupakan upaya yang dimaksudkan untuk mengembangkan suatu ragam strategi meningkatkan efficiency, effectiveness dan responsiveness kinerja organisasi. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Grindle dalam Haryono,dkk (2012:39):

“capacity building is intended to encompass a variety of strategies that

have to do with increasing the efficiency, effectiveness, and responsiveness

of government performance”(pembangunan kapasitas merupakan upaya yang dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai macam strategi yang dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan responsivitas dari kinerja pemerintah).

Morrison dalam Whardani (2013:19) melihat capacity building sebagai suatu proses untuk melakukan sesuatu atau serangkaian gerakan, perubahan multilevel didalam individu, kelompok-kelompok, organisasi-organisasi dan sistem-sistem dalam rangka untuk memperkuat kemampuan penyesuaian individu dan organisasi sehingga dapat tanggap terhadap perubahan lingkungan yang ada.

Pengertian lain mengenai pembangunan kapasitas juga dikemukakan oleh Sensions dalam Haryono,dkk (2012:39) yang memberikan definisi:

“capacity building usually is understood to mean helping government, communities and individuals to develop the skills and expertise needed to achieve their goals. capacity building program often designed to

strengthen participant’s abilityes to evaluated their policy choices and implement decisions effectivelly, may include education and training, institutional and legal reforms as well as scientific, technological and

(36)

Sedangkan Rosalyn dalam Haryono,dkk (2012:40) mengatakan bahwa:

“capacity building has been defined as both capabilities (connolly and

lukas, 2002) and actions (blumenthal,2004) to strengthen on

organization’s ability to achieve its vision and to sustain itself. The end

result of capacity building is improved organizational health and overall effectiveness, resulting in increased impacts and outcomes (linnell,2003;newborn,2008) (pembangunan kapasitas didefinisikan sebagai gabungan dari kemampuan dan tindakan untuk memperkuat kemampuan organisasi dalam pencapaian visi dan untuk menopang organisasi itu sendiri. Hasil akhir dari pembangunan kapasitas adalah meningkatkan kesehatan organisasi dan keefektifan secara menyeluruh, yang kemudian menghasilkan hasil dan dampak).

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa capacity building adalah proses atau kegiatan memperbaiki kemampuan seseorang, kelompok, organisasi atau sistem agar tercipta kinerja yang lebih baik dan tanggap terhadap perubahan lingkungan sehingga dapat mencapai tujuan. Hal ini sejalan dengan adanya tuntutan-tuntutan dari luar dan dalam sehingga organisasi perlu secara terus menerus harus menentukan sikap yang kondusif untuk menghadapi tantangan yang menggetarkan eksistensinya. Dengan demikian peningkatan kapasitas diarahkan untuk memperkokoh kemampuan adaptasinya demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Tujuan Pembangunan Kapasitas (Capacity Building)

Adapun tujuan dari capacity building (pembangunan kapasitas) dapat dibagi menjadi dua (Keban, 2008:7) yaitu:

a. Secara umum diidentikkan pada perwujudan sustainabilitas (keberlanjutan) suatu sistem.

(37)

1) Efisiensi dalam hal waktu dan sumber daya yang dibutuhkan guna mencapai suatu outcome.

2) Efektifitas berupa kepantasan usaha yang dilakukan demi hasil yang diinginkan.

3) Responsifitas yakni bagaimana mensinkronkan antara kebutuhan dan kemampuan untuk maksud tersebut.

4) Pembelajaran yang terindikasi pada kinerja individu, grup, organisasi dan sistem.

Dapat kita ketahui bahwa tujuan sebenarnya capacity building merupakan upaya yang dilakukan untuk keberlanjutan suatu organisasi untuk meningkatkan daya tanggap individu, organisasi atau sistem terhadap perubahan lingkungan sehingga mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan zaman. Upaya tersebut dibangun dari potensi yang sudah ada kemudian diproses agar lebih meningkatkan kualitas individu, organisasi serta sistem agar dapat bertahan ditengah perubahan lingkungan.

3. Dimensi Pembangunan Kapasitas (Capacity Building)

Dalam pembangunan kapasitas terdapat beberapa elemen mendasar yang menjadi perhatian. Elemen-elemen tersebut harus dilihat sebagai suatu kesatuan, dimana apabila dibenahi yang satu maka dapat mempengaruhi yang lain. Bila dicermati, elemen-elemen ini menyangkut kemampuan, proses dan lingkungan, hal ini diperkuat dengan pernyataan Brown dalam Haryono,dkk (2012: 43)

“common to all characterizations of capacity building is the assumption

that capacity is linked to performance. A need for capacity building is often identified when performance is inadequate of falters. Moreover, capacity building is only perceived as effective if it contributes to better

(38)

ketika kinerja seseorang atau organisasi dirasa kurang atau melemah. Selain itu, pembangunan kapasitas dapat dikatakan efektif jika berkontribusi dalam peningkatan kinerja yang lebih baik). Dapat diambil pemahaman bahwa pembangunan kapasitas dapat diorientasikan pada beberapa hal yang berbeda yaitu kapasitas individu (sumber daya manusia), organisasi dan pengembangan kapasitas yang diorientasikan pada kapasitas kelembagaan.

[image:38.595.105.524.277.536.2]

Dalam pengembangan kapasitas memiliki dimensi, fokus dan tipe kegiatan. Dimensi, fokus dan tipe kegiatan tersebut menurut Grindle dalam Haryono,dkk (2012:46) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 : Dimensi Pembangunan Kapasitas

Dimensions Focus Type Of Activities

Human Resource (pengembangan SDM)

Supply of profesional and technical personel (kesediaan tenaga teknis dan profesional)

Training, salaries, conditions of work, recruitment (pelatihan, gaji, kondisi kerja dan rekrutmen) Organizational

strengthening (penguatan organisasi)

Manajemen system to improve performance of specific taks and functions; and

microstructures (sistem manajemen dalam

mengembangkan performasi tugas-tugas khusus dan fungsi; struktur mikro)

Incentive system, utilizationnof personel , leadership,

organizational culture, communications, manajerial structures ( sistem insentif, pemanfaatan personil,

kepemimpinan, budaya organisasi, komunikasi dan struktur

manajerial). Institutional reform

(reformasi kelembagaan)

Institusions and system , macrostructures (lembaga dan sistem; struktur makro)

Rules of the game for economic and politicalregimes,policy and legal change, constitutional reform ( aturan permainan untuk rezim politik dan perubahan kebijakan, reformasi konstitusi)

Sumber: Grindle dalam Haryono,dkk (2012:46)

(39)

budaya organisasi, komunikasi dan struktur manajerial. Ketiga dimensi reformasi kelembagaan dengan fokus lembaga dan sistem; struktur makro, sedangkan jenis aktivitasnya meliputi, aturan permainan untuk rezim politik dan perubahan kebijakan, reformasi konstitusi.

Sementara itu Keban (2008:201) mengumpulkan berbagai pendapat yang menggambarkan pemahaman mereka tentang capacity building. Misalnya World Bank menekankan perhatian pembangunan kapasitas pada:

a) Pengembangan sumber daya manusia, khususnya training, rekrutmen, pemanfaatan dan pemberhentian tenaga profesional, manajerial dan teknis. b) Organisasi, yaitu pengaturan struktur, proses, sumber daya dan gaya

manajemen.

c) Jaringan kerja interaksi organisasi, yaitu koordinasi kegiatan-kegiatan organisasi, fungsi jaringan kerja, dan interaksi formal dan informal.

d) Lingkungan organisasi, yaitu aturan dan perundang-undangan yang mengatur pelayanan publik, tanggungjawab dan kekuasaan antar lembaga, kebijakan yang menghambat tugas-tugas pembangunan dan dukungan keuangan dan anggaran.

e) Lingkungan kegiatan yang luas, yaitu mencakup faktor politik, ekonomi dan kondisi –kondisi yang berpengaruh terhadap kinerja.

United Nations Development Programme (UNDP) memfokuskan pada tiga dimensi yaitu:

(40)

b) Modal (dimensi phisik) menyangkut peralatan, bahan-bahan yang diperlukan dan gedung.

c) Teknologi yaitu organisasi dan gaya manajemen, fungsi perencanaan , pembuat keputusan, pengendalian dan evaluasi serta sistem informasi manajemen.

Dalam penelitian jurnal sosial-politika vol 13. No.2 Desember 2006 yang dilakukan oleh Djumadi (2006:153) menyatakan dalam pengembangan kapasitas harus dilakukan secara efektif dengan melakukan tiga tingkatan yaitu:

a) Tingkatan sistem, seperti kerangka kerja yang berhubungan dengan pengaturan, kebijakan-kebijakan, dan kondisi dasar yang mendukung pencapaian objektivitas kebijakan tertentu.

b) Tingkat institusional atau keseluruhan satuan, contoh: struktur organisasi, proses pengambilan keputusan di dalam organisasi-organisasi, prosedur dan mekanisme-mekanisme pekerjaan, pengaturan sarana dan prasarana, hubungan-hubungan dan jaringan-jaringan organisasi.

c) Tingkat individu, contohnya pengembangan keterampilan individu dan persyaratan-persyaratan, pengetahuan, tingkah laku, pengelompokan pekerjaan, dan motivasi-motivasi dari pekerjaan oran-orang didalamnya.

(41)

ada, kepemimpinan, komunikasi, dan struktur manajerial. Dan berkenaan dengan reformasi kelembagaan, perlu diberi perhatian terhadap perubahan sistem dan institusi-institusi yang ada, serta pengaruh struktur makro. Dalam hal ini aktivitas yang perlu dilakukan adalah melakukan perubahan “aturan main” dari sistim

ekonomi dan politik yang ada, perubahan kebijakan dan aturan hukum, serta reformasi sistim kelembagaan yang dapat mendorong pasar dan berkembangnya masyarakat madani.

Haryono,dkk (2012:47) merangkum berbagai pendapat ahli tentang dimensi pembangunan kapasitas, yaitu meliputi tiga dimensi diantaraya: pengembangan sumber daya manusia, penguatan organisasi serta reformasi kelembagaan.

a) Mengembangkan Human Resource (SDM)

Sumber daya manusia adalah faktor sentral dalam organisasi. apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Mengenai pengertian kapasitas sumber daya manusia , Grindle dalam Haryono (2012:48) menyatakan bahwa “initiatives to develop human resource generally seek the capacity of individuals to carry out their profesional and technical

responsibilities” (inisiatif untuk mengembangkan SDM secara umum berusaha

(42)

b) Strengthening organization (penguatan organisasi)

Sebagai salah satu bentuk kehidupan, organisais terikat dalam proses keberadaan, pertumbuhan dan perkembangan. Dalam pertumbuhannya itu, organisasi menghadapi tuntutan-tuntutan baik internal maupun eksternal yang timbul sejalan dengan keberadaannya. Oleh karena itu organisasi secara terus menerus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus meningkatkan kemampuannya yang selaras dengan tuntuan-tuntutan perubahan. Dengan demikian peningkatan tersebut diarahkan untuk memperkokoh kemampuan adaptasinya. Dalam konteks ini pengembangan organisasi atau pembaharuan organisasi sangat diperlukan.

c) Institutional reform (reformasi kelembagaan)

Berkaitan dengan pemahaman akan institusioanl capacity, Willems dalam Haryono,dkk (2012:82) menyatakan

(43)

Konsep institutional capacity merupakan konsep yang terus berkembang. Hal ini juga ditegaskan oleh Segnestam dalam Haryono,dkk (2012:83)

“konsep kapasitas kelembagaan telah berevolusi selama bertahun-tahun dan merupakan sasaran yang terus berubah dari fokus pada pengembangan dan penguatan individu, organisasi dan penyediaan teknik dan manajemen pelatihan guna mendukung perencanaan yang integral dan proses pembuatan keputusan antar institusi. Fokus ini tengah berkembang lebihluas menyangkut juga pemberdayaan, modal sosial, perkembangan lingkungan sesuai dengan budaya, nilai dan relasi kekuasaan yang mempengaruhi”.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa konsep kapasitas kelembagaan mendasar pada kajian kelembagaan yang dipandang tidak hanya sebagai organisasi yang terbatas tetapi juga lebih luas yakni merupakan tatanan atau seperangkat aturan, praktek dan proses yang menganjurkan peran perilaku untuk aktor-aktor, kendala aktivitas dan harapan. Reformasi kelembagaan pada intinya menunjuk kepada pengembangan iklim dan budaya yang kondusif bagi penyelenggaraan usaha menuju realisasi tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan hal yang telah dipaparkan para ahli diatas maka, dalam penelitian ini peneliti memilih berfokus pada salah satu dimensi capacity building yaitu penguatan organisasi. Alasan peneliti memfokuskan pada penguatan organisasi karena mengingat pentingnya eksistensi sebuah organisasi untuk menjalin networking dan memperluas pangsa pasar; selain itu untuk mewujudkan UMKM yang mandiri dan berdaya saing harus dibarengi dengan kelembagaan yang kuat.

4. Penguatan Organisasi

(44)

organisasi menghadapi tuntutan-tuntutan besar yang timbul sejalan dengan keberadaannya. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat berupa tuntutan internal ataupun tuntutan eksternal. Tuntutan eksternal berasal dari perkembangan lingkungan yang semakin hari semakin pesat. Adapun tuntutan internal merupakan tuntutan yang berkembang dari dalam organisasi itu sendiri yakni suatu tuntutan perubahan yang timbul sebagai konsekuensi logis adanya desakan tuntutan dari luar. Semua organisasi baik publik maupun privat harus senantiasa beradaptasi dengan lingkungannya untuk tetap mempertahankan eksistensinya.Semua organisasi baik itu publik maupun privat harus tetap mengembangkan kapasitasnya seiring dengan perubahan lingkungan yang tidak menentu.

Fokus perhatian dalam penguatan organisasi menurut Haryono,dkk (2012:47) terletak pada persoalan pemanfaatan personil, bagaimana mendesain struktur manajerial dan persoalan pengembangan jaringan-jaringan atau network.

1) Pemanfaatan personel

(45)

bidangnya. Sedarmayanti dalam Haryono, dkk (2012:70) mengemukakakn bahwa, profesional adalah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidangnya, keahlian dalam bidang tertentu diperoleh dari hasil pendidikan, pelatihan atau hasil mengikuti program atau pengalaman khusus dalam pekerjaan/bidang tertentu. Haryono, dkk (2012:72) menjelaskan bahwa upaya pemanfaatan personel menjadi penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang profesional yang pada akhirnya mampu melahirkan sumber daya manusia yang mampu menjadi motor penggerak bagi terwujudnya organisasi yang dinamis, inovatif, adaptif dan responsif terhadap tuntutan perubahan dan perkembangan lingkungan.

Pelatihan merupakan instrumen yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pengetahuan, keahlian, perubahan sikap dan perilaku dan koreksi terhadap kinerja. Tujuan pelatihan itu sendiri adalah untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas SDM baik pada tingkatan individu maupun organisasi (Haryono, dkk: 2012:260).

2) Aspek manajerial

(46)

Diskoperindag sebagai salah satu instansi pemerintahan meningkatkan kemampuan manajerial dan permodalan bagi pelaku UMKM.

3) Jejaring kerjasama (network)

Dalam upaya pengembangan jaringan atau network yang merupakan basis dari interaksi sosial dan sah di dalam organisasi. Kemampuan membentuk network atau kerjasama antara organisasi, menuntut adanya kemampuan khusus dari organisasi. Terdapat beberapa faktor yang terlihat kritis atas kinerja network seperti: kemampuan memastikan partisipasi dari aktor-aktor kunci, kemampuan dari aturan prosedur dan penyediaan keuangan untuk jaringan itu sendiri, alokasi yang tepat tentang tanggungjawab, kewenangan organisasi dalam menunjang koordinasi dan juga yang terpenting adalah stabilitas dari susunan institutional. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menunjang jaringan kerjasama adalah sebagai berikut:

a) Jaringan kerjasama yang dibangun harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan, dengan menghindari ketergantungan dan eksploitasi. b) Jaringan kerjasama harus menjaga kesinambungan kegiatan dalam jangka

waktu yang panjang untuk kepentingan bersama.

B. Tinjauan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) 1. Pengertian UMKM

(47)

a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang.

[image:47.595.125.502.523.600.2]

c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-undang.

Tabel 2.2 Klasifikasi UMKM

Ukuran Usaha Aset Omset

Usaha Mikro Minimal 50 Juta Maksimal 300 Juta Usaha Kecil >50 Juta – 500 Juta Maksimal 3 Miliar Usaha Menengah >500 Juta-10 Miliar >2,5 – 50 Miliar Sumber: Undang-undang No 20 tahun 2008 tentang UMKM

(48)

Pendapat lain dikemukakan oleh Badan Pusat Statistik yang memberikan definisi UMKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja, kriteria usaha adalah sebagai berikut : a) Usaha mikro : 1 - 4 orang tenaga kerja

b) Usaha kecil : 5 - 19 orang tenaga kerja c) Usaha menengah : 20 - 99 orang tenaga kerja d) Usaha besar : di atas 99 orang tenaga kerja.

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian UMKM dilihat dari berbagai aspek, baik dari segi kekayaan yang dimiliki oleh pelaku, jumlah tenaga kerja yang dimiliki atau dari jumlah omzet yang didapat pelaku.

2. Azas-Azas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM pasal 3, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan. Perbedaan UKM dengan perusahaan yang berskala besar salah satunya dari asas. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berasaskan, sebagai berikut:

a. Kekeluargaan; adalah asas yang melandasi upaya pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai bagian dari perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, keseimbangan kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

(49)

nasional untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.

c. Kebersamaan; adalah asas yang mendorong peran seluruh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Dunia Usaha secara bersama-sama dalam kegiatannya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

d. Efisiensi berkeadilan; adalah asas yang mendasari pelaksanaan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing.

e. Berkelanjutan; adalah asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses pembangungan melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga terbentuk perekonomian yang tangguh dan mandiri.

f. Berwawasan lingkungan; adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup.

g. Kemandirian; adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan dengan tetap menjaga dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan kemandirian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

h. Keseimbangan kemajuan; adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan ekonomi nasional.

(50)

C. Tinjauan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 1. Sejarah ASEAN dan Percepatan Pembentukan MEA

Association of South East Asian Nations (Assosiasi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) atau yang dikenal dengan ASEAN didirikan pada tanggal 8 agustus 1967 di Bangkok Thailand, oleh para pendiri ASEAN yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand. Kemudian bergabung Brunei Darusalam (1984), Vietnam (1995), Myanmar dan Laos (1997), dan Kamboja (1999), dan saat ini ASEAN beranggotakan 10 Negara (Liflet MEA 2015 diterbitkan oleh Direktorat Jendral Kerjasama Perdagangan Internasional, 2014).

(51)

Dalam perkembangan realisasi konsep MEA selanjutnya,dirumuskan tujuan akhir integrasi ekonomi, yakni mewujudkan ASEAN Vision 2020 Pada Deklarasi Bali Concord II, Oktober 2003. Pencapaian dilakukan melalui lima pilar, yaitu: aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas. Berbagai kerjasama ekonomi dilakukan khususnya dibidang perdagangan dan investasi, dimulai dari Preferential Trade Arrangement (PTA, 1977), ASEAN Free Trade Area (AFTA, 1992), ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS, 1995) dan ASEAN Investment Area (AIA, 1998), kemudian dilengkapi dengan perumusan sektor prioritas integrasi dan kerjasama dibidang moneter lain. Semua hal tersebut merupakan perwujudan dari usaha mencapai MEA.

Langkah untuk memperkuat kerangka kerja MEA kembali bergulir di 2006 antara lain dengan formulasi blue print atau cetak biru yang berisi target dan waktu penyampaian MEA dengan jelas. Mempertimbangkan keuntungan dan kepentingan ASEAN untuk menghadapi tantangan daya saing global, diputuskan untuk mempercepat pembentukan MEA dari 2020 menjadi 2015. Keputusan ini juga menjadi political will para pemimpin ASEAN ditandai dengan ditandatangani ASEAN charter (Piagam ASEAN) yang terdiri dari cetak biru dan jadwal strategis pencapaian MEA di singapura pada 20 November 2007. Dokumen tersebut berisi komitmen negara anggota atas keseriusan pencapaian MEA di mana evaluasi pencapaian MEA akan dilakukan ke masyarakat luas.

2. Arah Kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

(52)

dimana kesenjangan antar negara semakin kecil. Perwujudan MEA disangga oleh 4 pilar yaitu: (i) ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi regional, (ii) ASEAN sebagai kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, (iii) ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dan (iv) ASEAN sebagai kawasan yang secara penuh terintegrasi ke dalam perkonomian global (Liflet MEA 2015 diterbitkan oleh Direktorat Jendral Kerjasama Perdagangan Internasional, 2014).

a. Pasar tunggal dan basis produksi

Melalui realisasi MEA, diharapkan ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan kesatuan basis produksi yang terdiri dari lima elemen inti, yaitu: (i) arus barang yang bebas, (ii) arus jasa yang bebas, (iii) arus investasi yang bebas , (iv) arus modal yang lebih bebas, dan (v) arus tenaga kerja terampil yang bebas. Komponen dalam pasar tunggal dan basis produksi adalah termasuk 12 sektor-sektor prioritas integrasi yakni, produk berbasis agro, transportasi udara, e-ASEAN, elektronika, perikanan, pelayanan kesehatan, produk berbasis karet, tekstil dan pakaian, pariwisata, produk berbasis kayu dan logistik, makanan, ditambah pertanian dan kehutanan.

b. Kawasan ekonomi yang berdaya saing

(53)

c. Pembagunan ekonomi yang merata.

Dibawah karakteristik ini terdapat dua elemen utama yaitu: pengembangan usaha, kecil dan menengah dan inisiatif integrasi ASEAN.

d. Integrasi dengan ekonomi global.

Dua pendekatan yang ditempuh ASEAN dalam berpartisipasi dalam proses integrasi dengan perekonomian dunia adalah: (i) pendekatan koheren menuju hubungan ekonomi eksternal melalui perjanjian perdagangan bebas dan kemitraan ekonomi yang lebih erat; (ii) partisipasi yang lebih erat dalam jejaring pasokan global.

Diberlakukannya MEA pada akhir 2015, negara anggota ASEAN akan mengalami integrasi yang berupa “free trade area” (area perdagangan bebas), penghilangan tarif perdagangan antar negara ASEAN, serta pasar tenaga kerja dan pasar modal yang bebas, yang akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tiap negara. Tahun 2015 menjadi babak baru dalam bidang ekonomi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Pada tahun itu ASEAN akan memulai menjadi pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Ibarat pisau bermata dua antara peluang dan ancaman dari implementasi MEA itu bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN tentu tergantung pada cara menyikapi era pasar bebas tersebut.

D. Kerangka Pikir

(54)

pemasaran, dan banyaknya investasi yang akan masuk ke Indonesia namun disisi lain pemberlakuan MEA menjadi ancaman bagi para pelaku usaha, termasuk pelaku UMKM untuk bersaing dengan produk-produk dari negara anggota ASEAN.

Masih banyaknya permasalahan yang berkaitan dengan UMKM di Indonesia pada umumya dan di Kota Bandar Lampung pada khususnya, tentu memunculkan kekhawatiran. Dengan dibukanya kran impor lebar-lebar dan pemberian fasilitas bagi para negara-negara ASEAN dan multi nasional corporate, UMKM akan kehilangan daya saing. Skala ekonomi produsen dalam negeri akan jauh tertinggal dan sulit untuk berkembang. Produk yang mereka hasilkan akan kalah bersaing dengan produk luar negeri, apabila hal tersebut terjadi maka UMKM yang ada akan semakin melemah. Selanjutnya, akan berdampak pada tingkat pengangguran di Indonesia yang akan melambung tinggi dan pada akhirnya laju pertumbuhan ekonomi nasional akan melambat. Oleh karena itu, UMKM perlu mendapat perhatian lebih baik untuk ditingkatkan daya saingnya supaya tidak tergerus oleh liberalisasi perdagangan yang tak terelakkan. Pengalaman menunjukkan bahwa kurangnya persiapan dalam mengantisipasi liberalisasi perdagangan menyebabkan lemahnya daya saing dunia usaha.

(55)
(56)

37 Peningkatan kualitas

UMKM di Kota Bandar Lampung Bagan 2.1 Kerangka Pikir

UMKM di Kota Bandar Lampung memilik Daya Saing yang tinggi dalam menghadapi Masyarakat

Ekonomi ASEAN 2015

mendatang Penguatan Organisasi

 Pemanfaatan personel

 Aspek manajerial

 Pengembangan jaringan Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) UMKM di

Kota Bandar Lampung Masyarakat Ekonomi ASEAN

(MEA) akan diberlakukan pada akhir tahun 2015

Masih banyaknya permasalahan yang dihadapi UMKM di Kota Bandar Lampung.

Pemerintah daerah melalui

Diskoperindag Kota Bandar Lampung mempunyai tanggung jawab teknis untuk mempersiapkan UMKM dalam menghadapi MEA 2015

Keterangan: Garis pengaruh:

Garis Tanggung jawab:

(57)

A. Tipe dan Metode Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Creswell dalam Herdiansyah (2010:8) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian ilmiah yang lebih dimaksudkan untuk memahami masalah-masalah manusia dalam konteks sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan kompleks yang disajikan dengan melaporkan pandangan terperinci dari para sumber informasi, serta dilakukan dalam setting yang alamiah tanpa adanya intervensi apapun dari penulis.

(58)

yang mendalam dan dokumentasi agar mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Alasan kedua, berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai maka jenis penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif yang berupaya menyajikan deskripsi atau gambaran secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta, sifat serta hubungan fenomena yang akan diteliti, oleh karena itu peneliti ingin mendeskripsikan

Gambar

Tabel 1.1 : ASEAN Macroeconomic Database 2013
Tabel 1.2 Hubungan Intra-Trade Indonesia dengan Anggota ASEAN (dalam
Tabel 1.3 : Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) di Indonesia tahun 2011-2012
Tabel 1.4 : Perkembangan UMKM di Provinsi Lampung Tahun 2011-2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tahapan penelitian sebagaimana digambarkan seperti pada gambar di bawah ini meliputi kegiatan yaitu (1) mengadakan pelatihan soft skill untuk pegawai Badan Pelayanan

Berbeda dengan leukemia akut, pada pemeriksaan darah tepi pasien dengan reaksi leukemoid tidak dijumpai populasi sel monoklonal dan pada sumsum tulang biasanya ditemukan

Jika tidak demikian maka kita harus membaginya dahulu dengan

Wabah penyakit AI telah banyak menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi karena penurunan produksi telur pada ayam, burung puyuh, dan itik petelur, serta

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui.Pengaruh selera secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam pembelian sepeda motor

Based on the facts of this case it was found that there were Shariah issues for the ascertainment of the SAC, namely, whether the BBA facility agreements executed by the parties

Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah mayoritas mahasiswa berada pola Fearful yang memiliki total tertinggi yaitu 100 orang subjek 28.7% dengan dimensi PIU

MFS 2 : Mudahnya berinteraksi dengan teman Bu. Karena kalau tidak bisa mengerjakan malu dengan teman-teman. Takut ketunjuk untuk presentasi di depan kelas. P :