Soal
1. Sebutkan dan jelaskan penafsiran hakim yang boleh ditempuh!
2. Jelaskan tata/mekanisme pembentukan Undang-Undang, Perpu, PP, dan Peraturan Presiden serta buatkan bagan alur mekanisme tersebut!
3. Jelaskan minimal 8 dari 10 asas-asas hukum! Jawaban
1. Penafsiran hakim yang boleh ditempuh adalah penafsiran tata bahasa, penafsiran sahih, penafsiran historis, penafsiran sistematis, penafsiran nasional, penafsiran teleologis, penafsiran ekstentif, penafsiran restriktif, penafsiran analogis, dan penafsiran a contrario (menurut peringkatan).
1) Penafsiaran tata bahasa
Yaitu cara penafsiran berdasarkan pada bunyi undang-undang, dengan berpedoman pada arti perkataan-perkataan dalam hubungannya satu sama lain dalam kalimat-kalimat yang dipakai oleh undang-undang; yang dianut ialah semata-mata arti perkataan menurut tatabahasa atau menurut kebiasaan, yakni arti dalam pekaian sehari-hari.
Sebagai contoh dalam jurisprudensi negeri belanda adalah sebagai berikut: pasal 1140 KUHS memberikan hak mendahului (privilege) kepada seorang yang menyewakan rumah terhadap segala barang perabot rumah yang terdapat dalam rumah sewaan itu. Hal ini berarti, jika penyewa menunggak (yaitu tidak membayar) uang sewa, dan pada suatu waktu dilakukan penyitaan atas barang-barang perabot rumah tersebut, maka si pemilik rumah harus dibayar terlebih dahulu daripada penagih-penagih hutang lainnya dari uang pendapatan lelangan barang-barang tersebut untuk melunasi uang sewa yang belum dibayar. Dalam kalimat terakhir dari pasal 1140 ditegaskan:” tidak peduli apakah barang-barang perabot rumah tersebut kepunyaan si penyewa rumah itu sendiri atau bukan.” Timbullah pertanyaan, apakah pasal 1140 KUHS itu juga berlaku walaupun orang yang menyewakan rumah itu sejak semula, yakni semenjak diadakannya perjanjian sewa-menyewa, sudah mengetahui barang itu bukan milik si penyewa sendiri? Dalam kasus seperti ini, Mahkamah Agung Belanda (Hoge Raad) dalam putusannya tanggal 7 April 1938 telah menjawab “ya”, dengan mengambil pedoman “arti perkataan-perkataan” sebagaimana dipakai dalam undang-undang. 2) Penafsiran shahih (autentik, resmi)
Ialah penafsiran yang pasti terhadap arti kata-kata itu sebagaimana yang diberikan oleh Pembentikan Undang-Undang, misalnya pasal 98 KUHP: “malam” berarti waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit; pasal 101 KUHP: “ternak” berarti hewan yang berkuku satu, hewan memamah biak dan babi.
3) Penafsiran historis, yaitu
a) Sejarah hukumnya, yang diselidiki maksudnya berdasarkan sejarah terjadinya hukum tersebut. Sejarah terjadinya hukum dapat diselidiki dari memori penjelasan, laporan-laporan perdebatan dalam DPR dan surat menyurat antara Menteri dengan Komisu DPR yang bersangkutan.
b) Sejarah Undang-undangnya, yang diselidiki maksud pembentuk undang-undang itu misalnya didenda f 25,-, sekarang ditafsirkan dengan uang Republik Indonesia, sebab harga barang lebih mendekati pada waktu KUHP itu dibuat.
Penafsiran menilik susunan yang berhubungan dengan bunyi pasal-pasal lainnya baik dalam undang-undang itu maupun dengan undang-undang yang lain misalnya “asas monogami” tersebut di pasal 27 KUHS menjadi dasar pasal-pasal 34, 60, 64, 86, KUHS dan 279 KUHS.
5) Penafsiran Nasional
Ialah penafsiran menilik sesuai tindaknya dengan sistem hukum yang belaku misalnya hak-milik pasal 570 KUHS sekarang harus ditafsirkan menurut hak milik sitem hukum Indonesia (Pancasila).
6) Penafsiran teleogis, (sosiologis)
Yaitu penafsiran dengan mngingat maksud dan tujuan undang-undang itu. Ini penting disebabkan kebutuhan-kebutuhan berubah menurut masa sedangkan bunyi undang-undang tetap sama saja.
7) Penafsiran ekstensif
Memberi penafsiran dengan memperluas arti kata-kata dalam peraturan itu sehingga sesuatu peristiwa dapat dimasukkannya seperti “aliran listrik” termasuk juga “benda”.
8) Penafsiran restriktif
Ialah penafsiran dengan membatasi (mempersempit) arti kata-kata dalam peraturan itu, misalnya “kerugian” tidak termasuk kerugian yang “tak berwujud” seperti sakit, cacat, dan sebagainya.
9) Penafsiran analogis
Memberi tafsiran pada suatu peraturan hukum dengn memberi ibarat (kiyas) pada kata-kata tersebut sesuai dengan asas hukumnya, sehingga sesuatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat dimasukkan, lalu dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut, misalnya “menyambung” aliran listrik dianggap sama dengan “mengambil” aliran listrik.
10) Penafsiran a contrario (menurut peringkaran)
Ialah suatu cara menafsirkan undang-undang yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang dihadapi dan yang diatur dalam suatu pasal undang-undang. Dengan berdasarkan perlawanan pengertian (peringkaran) itu ditarik kesimpulan, bahwa soal yang dihadapi itu tidak diliputi oleh pasal yang termaksud atau dengan kata lain berada di luar pasal tersebut.
Contoh: pasal 34 KUHS menentukan bahwa seorang perempuan tidak diperkenankan menikah lagi sebelum liwat 300 hari setelah perkawinannya terdahulu diputuskan. Timbullah kini pertanyaan, bagaimanakah halnya dengan seorang laki-laki? Apakah seorang laki-laki juga harus menunggu lampaunya waktu 300 hari?
Jawaban atas pertanyaan ini ialah “tidak”, karena pasal 34 KUHS tidak menyebutkan apa-apa tentang orang laki-laki dan khusus ditujukan kepada orang perempuan.
2. Tata Cara Pembentukan Undang Undang
Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2011 proses pembentukan Undang-Undang dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
a. Persiapan Pembentukan Undang-Undang
Dalam pembentukan UU, Rancangan Undang-Undang (RUU) dapat berasal dari Presiden, DPR, maupun DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Namun, untuk RUU yang diajukan oleh DPD hanya diperkenankan RUU berkaitan dengan:
• otonomi daerah;
• hubungan pusat dengan daerah;
• pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah;
• pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; • perimbangan keuangan pusat dan daerah.
1) Persiapan Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh Pemerintah
a) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen, sesuai dengan lingkup tugasnya masing-masing.
b) Konsepsi RUU tersebut dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan.
c) RUU yang sudah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada Pimpinan DPR.
d) Dalam surat Presiden tersebut disebutkan menteri yang akan ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR.
e) DPR mulai membahas RUU tersebut dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat Presiden diterima.
f) Penyebarluasan RUU dilaksanakan oleh instansi pemrakarsa.
2) Persiapan Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh DPR (hak inisiatif) dan DPD
a) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR diusulkan oleh DPR (RUU tersebut dapat juga dari DPD yang diajukan kepada DPR).
b) RUU yang telah disiapkan oleh DPR disampaikan dengan surat pimpinan DPR kepada Presiden.
c) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas RUU bersama DPR dalam jangka waktu 60 hari sejak surat pimpinan DPR diterima.
d) Menteri yang ditugasi oleh Presiden dalam pembahasan di DPR mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan.
e) Penyebarluasan RUU dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal DPR. b. Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Undang- Undang
1) Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi, dan atau dengan DPD apabila RUU yang dibahas mengenai otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan pemekaran dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, dan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
2) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan RUU hanya sampai pada tahap rapat komisi/panitialalat keldngkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi.
3) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan RUU diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan RUU yang dibahas.
a) Pembicaraan Tingkat I dilakukan dalam rapat paripurna. Pada tingkat pertama ini apabila RUU diajukan oleh Presiden. Maka yang memberi penjelasan adalah Pemerintah (Presiden) atau menteri yang ditugasi. Tetapi apabila RUU datang dari DPR penjelasan dilakukan oleh pimpinan komisi atau rapat gabungan komisi atau rapat panitia khusus.
b) Pembicaraan Tingkat II dilakukan dalam rapat paripurna. Pada pembicaraan tingkat II, apabila RUU dari pemerintah, maka dilakukan pemandangan umum dari anggota DPR yang membawa suara fraksinya masing-masing terhadap RUU. Pemerintah kemudian menyampaikan tanggapan terhadap pemandangan umum tersebut. Apabila RUU dari DPR, maka diadakan tanggapan pemerintah terhadap RUU tersebut. Setelah itu DPR memberikan tanggapan dan penjelasan yang disampaikan oleh pimpinan komisi, gabungan komisi, atau panitia khusus atas nama DPR.
c) Pembicaraan Tingkat III dilakukan dalam rapat komisi/rapat gabungan komisi/rapat panitia khusus. Dalam pembicaraan tingkat ini dilakukan rapat komisi/rapat gabungan komisi/rapat panitia khusus bersama pemerintah membahas RUU tersebut secara keseluruhan mulai dari pembukaan, pasal-pasal, sampai bagian akhir rancangan undangundang tersebut.
d) Pembicaraan Tingkat IV dilakukan dalam rapat paripurna. Pada tingkat yang terakhir ini dilakukan laporan hasil pembicaraan di tingkat komisi/gabungan komisi/rapat panitia khusus. Penyampaian pendapat terakhir dari fraksi-fraksi yang disampaikan oleh anggota-angotanya dan dilakukan pengambilan keputusan. Pada tingkat ini pemerintah juga diberi kesempatan untuk memberikan sambutan terhadap pengambilan keputusan tersebut.
5) RUU yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden disampaikan oleh pimpinan DPR kepada Presiden untuk disahkan menjadi UU.
6) Penyampaian RUU tersebut dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.
7) RUU tersebut disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama oleh DPR dan Presiden.
8) Dalam hal RUU tidak dapat ditanda tangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut sah menjadi UU dan wajib diundangkan.
c. Pengundangan dan Penyebarluasan UU
1) Setelah RUU disahkan oleh Presiden menjadi UU maka UU tersebut harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
2) Pengundangan dalam Lembaran Negara RI dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan.
3) Undang-Undang tersebut mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan.
4) Pemerintah wajib menyebarluaskan Undang-Undang tersebut dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ruu dari Presiden
Ruu dari DPR RI
Ruu dari DPD
Bagan alur pembentukan Undang-Undang usulan dari DPR RI Disetujui DPR RI
Ditandatangani Presiden RI
Undang-Undang
Usul inisiatif RUU dapat berasal dari :
sekurang-kurangnya 13 orang
Anggota DPR RI atau komisi, Gabungan Komisi
atau Baleg
Disampaikan kepada Pimpinan DPR disertai
daftar nama dan tanda tangan pengusul serta
nama fraksinya
Dalam Rapat Paripurna, Ketua Rapat memberitahukan dan membagikan usul inisiatif RUU kepada para anggota DPR
Rapat Paripurna memutuskan apakah usul RUU
tersebut secara prinsip dapat diterima menjadi
RUU usul daru DPR atau tidak setelah diberkan kepada fraksi untuk
memberikan pendapatnya Disetujui dengan
perubahan, DPR menugaskan kepada Komisi, Baleg atau Pansus
untuk menyempurnakan RUU tersebut
Disetujui tanpa perubahan Pemimpin DPR
menyampaikan RUU kepada Presiden dengan permintaan agar presiden menunjuk
Menteri yang akan mewakili Presiden dalam pembahasan RUU, dan kepada Pimpinan DPD jika RUU yang diajukan terkait dengan DPD
Pembicaraan di DPR RI Pembicaraan Tingkat I Pembicaraan Tingakat II
Disetujui DPR RI Ditandatangani Presiden RI
Proses pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) adalah sebagai berikut :
a. Persiapan Pembentukan Perpu
1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang di keluarkan Presiden harus diajukan ke DPR dalam persidangan berikutnya.
2) Pengajuan Perpu dilakukan dalam bentuk pengajuan RUU tentang penetapan Perpu menjadi Undang-Undang.
3) Dalam hal Perpu ditolak DPR, maka Perpu tersebut harus dicabut.
4) Dalam hal Perpu ditolak oleh DPR, maka Presiden mengajukan RUU tentang pencabutan Perpu tersebut.
b. Pembahasan dan Pengesahan Perpu
Penetapan Perpu menjadi Undang- Undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan RUU. Dengan demikian prosedur pembahasan Perpu di DPR sama dengan pembahasan RUU di DPR.
c. Pengundangan dan Penyebarluasan Perpu
Pada tahap ini juga mempunyai prosedur yang sama seperti pada pengundangan dan penyebarluasan UU.
Proses Penyusunan Peraturan Pemerinatah
1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, pemrakarsa membentuk panitia antar kementerian dan/atau lembaga pemerintah non-kementerian.
2) Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang hukum.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar nonkementerian, pengharmonisasian, penyusunan, dan penyampaian Rancangan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden.
4) Pembahasan PP di DPR sama dengan pembahasan RUU di DPR.
5) Tahap pengundangan dan penyebarluasan PP sama dangan pengundangan dan penyebarluasan UU.
Proses Penyusunan Peraturan Presiden
1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden, pemrakarsa membentuk panitia antar kementerian dan/atau antar non-kementerian.
2) Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar nonkementerian, pengharmonisasian, penyusunan, dan penyampaian Rancangan Peraturan Presiden diatur dalam Peraturan Presiden.
4) Pembahasan Peraturan Presiden di DPR sama dengan pembahasan RUU di DPR. 5) Tahap pengundangan dan penyebarluasan Peraturan Presiden sama dangan
3. ASAS – ASAS HUKUM DI INDONESIA 1. Lex retro non agit ( Asas Retroaktif)
Hukum tidak berlaku surut. Versi lain dari asas ini mengatakan lex prosricit non respicit, artinya hukum harus menatap ke depan bukan ke belakang. Asas ini bersumber dari hukum Romawi yang menjadi salah satu asas fundamental hukum kontemporer. Namun demikian, meskipun asas ini telah diterima dalam praktik hukum, orang mungkin mengahadapi peraturan hukum yang secara nyata melanggar asas ini.
2. Lex superiori derogat lex inferiori
Peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah , lihatdalam pasal 7 UU No.12 Tahun 2011. “Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “hierarki” adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.”
3. Lex posteriore derogat lex priori
Peraturan yang terbaru mengesampingkan peraturan yang sebelumnya. Maksudnya adalah undang-undang lain yang lebih dahulu dima diatur suatu hal tertentu, tidak berlaku lagi jika ada undang-undang-undang-undang baru yang pula tertentu tersebut, akan tetapi makna atau tujuannya belainan atau berlawanan dengan undang-undang lama tersebut.
4. Lex specialis derogate lex generalis
Peraturan yang lebih khusus mengesampingkan peraturan yang bersifat lebih umum, lihat Pasal 1 KUHD. 5. Die normatieven kraft des faktischen
Perbuatan yang dilakukan berulang kali memiliki kekuatan normative , lihat Pasal 28 UU No.4 tahun 2004 6. Nullum crimen nulla poena sine lege
Tidak ada kejahatan tanpa peraturan perundang – undangan yang mengaturnya. Bahwa semua kejahatan yang terjadi diindonesia adalah yang melanggar undang –undang . karena pernyataan diatas menyatakan bahwa tidak ada kejahatan tanpa peraturan perundang – undangan yang mengaturnya, jadi suatu tindak kejahatan dikatakan sebagai perbuatan melanggar hukum apabila melanggar undang – undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam versi lain disebut asas legalitas yang artinya bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika ditentukan terlebih dahulu dal per Undang-Undangan.
7. Pacta sunt servanda Artinya perjanjian harus dipatuhi 8. Asas konkordansi yang sempit
Asas Konkordasi adalah asas dimana hukum yang berlaku dinegara penjajah berlaku juga dinegara jajahannya. Artinya KUHPerdata Belanda banyak menjiwai KUHPerdata Indonesia karena KUHPerdata Belanda dicontoh dalam kodifikasi KUHPerdata Indonesia.
Dimas Rafi Ramaharmuzi 1-J D1 Pajak