( Suatu Studi Deskriptif Terhadap Mahasiswa Etnik Pendatang Di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara )
Disusun Oleh HERIANTO SIHOTANG
ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul “Interaksi Komunikasi Antar Budaya Pada Mahasiswa USU” dengan perumusan masalah, untuk mengetahui bagaimana proses dan faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi komunikasi antar budaya, antara Mahasiswa pendatang dengan Mahasiswa lokal di fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Jalan Universitas No.19 Medan.
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi serta proses yang mempengaruhi adaptasi Mahasiswa etnik pendatang sebagai komunikasi antarbudaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dengan analisa tabel tunggal yang mana menggunakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan varibel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa kolom yang merupakan sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.
Adapun populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa pendatang di fakukltas Sastra Universitas Sumatera Utara yang teregistrasi pada bagian kemahasiswaan dari stambuk 2008-2010 yang berjumlah 952 orang. Sedangkan jumlah sampel yang diambil menurut rumus Taro Yamane sebesar 90 orang.
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaannirrahiim Assalamu’alaikum wr.wb
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan
rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.shalawat serta
salam tak lupa penulis panjatkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang senantiasa
kita harapkan syafaatnya di yaumil akhir.
Adapun judul dari penelitian ini adalah ”Interaksi Komunikasi Antar Budaya
Pada Mahasiswa USU (Suatu Studi Deskriptif Terhadap Mahasiswa Etnik Pendatang Di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara).” Penelitian ini dilakukan untuk melengkapi salah satu persyaratan yang harus ditempuh dalam menyelesaikan studi
Strata 1 (S1) pada program studi Ilmu Komunikasi FISIP di Universitas Sumatera Utara
(USU).
Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini adalah karena adanya motivasi,
masukan serta kritikan yang penulis peroleh dari berbagai pihak.oleh karena itu,penulis
pertama kali menyampaikan terima kasih kepada Bapakku S.Sihotang dan mamakku
R.Hasibuan yang telah berkorban untuk anaknya sampai saat ini dan mendukung penulis baik moril maupun materil. Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih untuk
Adik-adikku, Candra Kirana Sihotang dan istri Mariance Juliana Hasibuan beserta kedua ponakan ku, Prawira Aji Kirana dan adiknya Revaldi Kirana Sihotang,adikku Nopa Sartika Sihotang,dan adikku Neni Ad yang telah menjadi penyemangat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Penghargaan yang tak ternilai penulis sampaikan kepada :
2. Bapak Drs. Amir Purba,MA,selaku Ketua Departemen Ilmu komunikasi Fisip
USU.
3. Ibu Dra. Dewi Kurniawati,M.Si,sekretaris Departemen Ilmu komunikasi Fisip
USU
4. Ibunda Dra. Lusiana A.Lubis,MA,Dosen Pembimbing yang telah banyak
memberikan masukan,bimbingan dan arahan kepada penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Ilm ukomunikasi Fisip USU
6. Kak maya yang banyak membantu peneliti untuk mengurusi atministrasi peneliti
7. Abanganda Zulham, kepala tata tata usaha PD 1 sastra USU yang telah banyak
memberi bantuaan kepada penulis
8. Abangda Samsul Tarigan, Pembantu Dekan 2 Sastra yang telah banyak
memberikan banyak ilmu dan pengalaman sewaktu penulis masi kuliah di Sastra.
9. Abang-abang senioren yang ada di Sastra, Abangda Drs.Boyke Turangan
MSP,Abangda Drs.Yos Rizal,MSP,Abangda Efrison Coto SS,M.Hum,Abanda
Azrai MSP Abangda Sabriandi Erdian SS,M.Hum,Mas yono,Pak Win
Ariyoga,Alm Jhon Irwansah,Singa Maung, Juraidi tanjung, yang telah banyak
memberikan pengalaman kepada penulis
10.Kawan-kawan seperjuangan, Ansor Harahap, Murtopo MT, Palit Hanafi Lubis,
Mario Halawa, Jan Butar-butar, Frans Jun Manalu, Utan Rangga sona, Budi
Warsito,Palla Muara Dona Silaban,Pain dan lain-lain yang tak tertuliskan satu
persatu,semoga cepat sukses ya!!
11.Adik adik yang ada di Gemapala FS USU, dek Arfansyah, Frezer, Afrio landra,
Rocky Tanaka, Alfa reza Lubis, Yogi Satara, Nur Fatimah, heny, Iyan Siregar,
12.Kawan-kawan extensi Fisip angkatan 2008 yang telah pada tamat maupun yg
belum,yang belum mudah-mudahan cepat tamat ya!
13.Kantin mom yang telah banyak membantu Mahasiswa tempat hutang anak-anak
kurang mampu. Makasih atas bantuan yang mem berikan
14.Semua pihak yang belum tersebutkan diatas yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaannya,untuk itu dengan
segala kerendahan hati peneliti berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran
yang sifatnya membangun untuk perbaikan.semoga skripsi ini dapat memberikan
sembangan pemikiran kepada pembaca.
Medan, Desember 2010
Peneliti,
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR ………..………...………..…i
DAFTAR ISI………...………..……….v
DAFTAR LAMPIRAN………..……….………...ix
BAB I PENDAHULUAN……….…...1
I.1 Latar Belakang Masalah….…….……….…….…...…..1
I.2 Perumusan Masalah…...……….………....…..5
I.3 Pembahasan masalah……...………..………...…...5
I.4 Tujuan Manfaat Penelitian ………..…...……...5
I.4.1 Tujuan Penelitian………...…..5
I.4.2 Manfaat Penelitian……….………..…...…..6
I.5 Kerangka Pemikiran……….…….…………6
I.5.1 Komunikasi Antarbudaya…………....……….……….6
I.5.1.1 Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi Antar budaya...7
I.5.1.2 Bahasa Sebagai Bagian Dari Kebudayaan………..9
I.5.1.3 Model Komunikasi antarbudaya……….11
I.5.2 Konsep Interaksi Dalam Komunikasi………14
I.5.3 Model Komunikasi ABX Newcomb (model keseimbangan)....…19
I.5.4 Teori Adaptasi Antar budaya……….21
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………..…..23
II.1 Hakekat Budaya dan Komunikasi Antarbudaya……….….23
II.1.2 Individualisme dan Kolektivisme………..……31
II.2 Terjadinya Komunikasi Antarbudaya………..32
II.2.1 Perspektif Interpretif sebagai Pendekatan Komunikasi Antarbudaya....38
II.2.2 Kompetensi Komunikasi Antarbudaya … ………… .…….41
II.3 Identitas Etnis………...44
II.3.1 Pengertian Identitas Etnis………....……44
II.3.2 Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis………49
II.4 Interaksionisme Simbolik………..…52
II.4.1 Pengertian Teori Interaksionisme Simbolik………....52
II.5 Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)....………..57
II.6 Remaja dan Persahabatan……….……….61
II.7 Konflik Dalam Hubungan Persahabatan……….……..64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN………..…...70
III.1 Metode Penelitian………..…. 70 III.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……….…...70
III.3 Populasi dan Sampel……… ………… ……...70
III.3.1 Populasi………..…70
III.4 Teknik Pengumpulan
Data………...……….72
III.5 Teknik analisis Data………...………72
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……….74
IV.1 Deskripsi Lokasi Penelitian………..74
IV.1.1 Lokasi Penelitian…………...………74
IV.1.2 Keadaan Mahasiswa………. ..…..76
IV.2 Analisis Tabel Tunggal………...77
IV.2.1 Karakteristik Responden………...…...……….77
IV.2.2 Peranan Komunikasi Antarpribadi…………....…...……82
IV.2.3 Konflik Dalam Hubungan Persahabatan………...….…..93
IV.3 Pembahasan………...…..95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...….….99
V.1 Kesimpulan ………...99
ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul “Interaksi Komunikasi Antar Budaya Pada Mahasiswa USU” dengan perumusan masalah, untuk mengetahui bagaimana proses dan faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi komunikasi antar budaya, antara Mahasiswa pendatang dengan Mahasiswa lokal di fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Jalan Universitas No.19 Medan.
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi serta proses yang mempengaruhi adaptasi Mahasiswa etnik pendatang sebagai komunikasi antarbudaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dengan analisa tabel tunggal yang mana menggunakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan varibel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa kolom yang merupakan sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.
Adapun populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa pendatang di fakukltas Sastra Universitas Sumatera Utara yang teregistrasi pada bagian kemahasiswaan dari stambuk 2008-2010 yang berjumlah 952 orang. Sedangkan jumlah sampel yang diambil menurut rumus Taro Yamane sebesar 90 orang.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, peradaban manusia telah berkembang demikian kompleksnya.
Manusia selain sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok dan berkomunikasi
dengan sesamanya, juga sebagai individu-individu dengan latar belakang budaya yang
berlainan. Mereka saling bertemu, baik secara tatap muka maupun melalui media
komunikasi. Maka tidaklah heran, perkembangan dunia saat ini semakin menuju pada
suatu global village (desa dunia). Hal ini menimbulkan anggapan bahwa sekarang ini
komunikasi antarbudaya semakin penting dan semakin vital ketimbang di masa-masa
sebelum ini.
Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita dihadapkan dengan
bahasa-bahasa, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang berbeda. Sulit bagi kita untuk memahami
komunikasi dengan orang yang berbeda budaya bila kita sangat etnosentrik. Begitupun
dengan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka, komunikasi antarbudaya lebih penting lagi
mengingat bangsa kita terdiri dari berbagai suku, agama, ras, etnik, dan golongan.
Interaksi antaretnis dan antarbudaya adalah realitas sosial yang tidak dapat
dihindari terlebih di era globalisasi dewasa ini. Interaksi yang tidak dikelola secara baik
dapat menimbulkan konflik dan ketidakseimbangan relasi. Interaksi yang tidak sehat
dapat saja terjadi oleh karena stereotype, prejudice dan sikap etnosentrisme. Padahal
interaksi yang baik menuntut adanya saling keterbukaan, saling pengertian dan upaya
untuk masuk dan beradaptasi dengan budaya lain.
Setiap kelompok etnik pendatang memiliki kebudayaan, nilai, norma dan pola
kebudayaan dikenal istilah etnosentrime, yang berarti suatu keyakinan kelompok
pendukung satu kebudayaan bahwa nilai dan norma kebudayaan yang mereka anut lebih
unggul. Dengan demikian dapat diberi batasan pengertian bahwa yang dimaksud dengan
etnik pendatang adalah orang yang berasal dari daerah lain yang memiliki kebudayaan,
nilai, norma, dan polak kelakuan yang belum tentu sama dengan penduduk lokal. Artinya
bahwa tidak terbatas pada suatu wilayah geografi saja melainkan dari luar wilayah
geografi, misalnya saja etnik minangkabau, jawa, malaysia, amerika, dan lain-lain adalah
termasuk ke dalam kelompok etnik pendatang, bila konteksnya adalah Kota Medan.
Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di kota-kota besar seperti Kota Medan,
pertemuan kita dengan orang dari daerah lain yang berbeda budaya tidak terhindarkan
lagi. Seperti dikemukakan Margarete Schwezer (dalam Mulyana dan Rahmat, 2003:215)
perbedaan antar daerah tersebut khusus dapat ditemukan dalam bahasa, struktur ekonomi,
struktur sosial, agama, norma-norma, gaya interaksi dan pemikiran, serta sejarah lokal.
Kota Medan sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia yang akan menuju pada
kota megapolitan nantinya, memiliki masyarakat majemuk, karena selain masyarakat tuan
rumah (etnik Batak/Melayu), juga terdapat etnik-etnik pendatang dari berbagai pelosok
nusantara bahkan luar negeri. Sebagai tamu, etnik pendatang harus mampu untuk
berinteraksi dan beradaptasi dengan etnik Batak/Melayu. Paraetnik yang berasal dari
berbagai daerah di Indonesia ini ada yang sudah berdomisili atau menetap (settlers)
terutama mereka yang umumnya mengadu nasib dengan mencari sumber
penghidupan/bekerja dan ada yang tidak menetap (sojourners) hanya untuk melanjutkan
sekolah di kota Medan. Seperti Mahasiswa etnik pendatang yang studi di Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara Medan.
Banyaknya mahasiswa etnik pendatang yang melanjutkan studi Di Fakultas Sastra
karena Universitas Sumatera Utara termasuk salah satu Universitas Negeri di Indonesia.
Selain itu, motivasi mereka kuliah di Medan adalah salah satu orangtua mereka
merupakan etnik Batak atau Melayu namun sudah menetap di kota lain. Ataupun
disebabkan ada salah satu keluarga mereka yang sudah menetap di Kota Medan, serta
motivasi klise yaitu keinginan untuk merantau jauh dari kampung halaman dan pesona
gadis-gadis Kota Medan yang terkenal akan kecantikannya.
Para mahasiswa pendatang tersebut tentunya akan memasuki budaya yang berbeda
dengan budaya etnik asal. Ketika memasuki budaya baru kemungkinan mahasiswa etnik
pendatang mengalami gegar budaya (culture shock) sehingga menimbulkan kecemasan
karena kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial sebelumnya.
Tanda-tanda tersebut meliputi seribu satu cara yang biasa kita lakukan sehari-hari seperti;
kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang lain,
bagaimana berbelanja, kapan menerima dan kapan menolak undangan, ucapan apa yang
harus dikatakan jika ingin turun dari angkutan kota, dan lain-lain. Perbedaan
petunjuk-petunjuk ini mungkin dalam bentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah,
kebiasaan-kebiasaan, norma-norma, dan bahkan makanan.
Kalvero Oberg (dalamMulyana Dan Rahmat, 2003:174) menyatakan gegar budaya
(culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan
yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan keluar daerah
asal. Sebagaimana penyakit lainya, gegar budaya ini dapat diatasi oleh etnik pendatang
dengan adaptasi terhadap budaya setempat. Young Yun Kim (dalam Mulyana dan
Rahmat, 2003:146) mengemukakan setiap individu pendatang untuk jangka waktu pendek
ataupun panjang harus beradaptasi dan berinteraksi dengan budaya tuan rumah.
Demikian pula para mahasiswa etnik pendatang yang studi Di Fakultas Sastra
berbeda-beda ini memasuki suatu budaya baru yang tentunya banyak mengalami hal-hal
baru. Cara untuk memahami hal baru tersebut melalui proses adaptasi terhadap budaya
setempat yaitu dengan budaya etnik Batak atau Melayu agar dapat diterima dan
berinteraksi dengan lingkungannya.
Akhirnya, berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis yang merupakan bagian dari
etnik lokal (tempatan) berkeinginan untuk mengetahui interaksi komunikasi antarbudaya
pada mahasiswa etnik pendatang di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan
dalam sebuah karya ilmiah.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dikemukakan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimaina proses dan
faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa
pendatang dengan mahasiswa lokal (tempatan) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera
Utara.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka masalah yang akan dibahas dalam
penelitian ini adalah:
1) Bagaimana adaptasi mahasiswa etnik pendatang berlangsung sebagai komunikasi
2) Apa yang mempengaruhi proses interaksi mahasiswa etnik pendatang Di Fakultas
Sastra Universitas Sumatera Utara Medan
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :
1) Mengetahui bagaimana adaptasi mahasiswa etnik pendatang berlangsung sebagai
komunikasi antarbudaya Di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan
2) Mengetahui proses yang mempengaruhi adaptasi mahasiswa etnik pendatang Di
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan
1.4 Manfaat Penelitian dan mamfaat penelitian
Manfaat Teoritis : diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi
ilmiah bagi perkembangan ilmu komunikasi, khususnya dalam konteks komunikasi
antarbudaya.
1.5 Kerangka Pemikiran
1.5.1. Komunikasi Antarbudaya
Pada dasarnya, antara komunikasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak
bisa dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan itu terletak pada variasi
langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok
social. Yang menjadi pusat perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi
bagaimana menjajaki makna, model tindakan dan bagaimana makna serta model‐model
itu diartikulasi sebuah kelompok sosial yang melibatkan interaksi antar manusia.
Dari penjelasan tersebut, berikut beberapa pendapat tentang definisi komunikasi
orang‐orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antar suku bangsa, antar etnik, ras
dan kelas sosial. (Andrea L. dan Dennis dalam Liliweri, 2003:12)
Kedua, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi antara produsen
pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. (Samovar dan
Porter dalam Liliweri, 2003:12). Ketiga, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi
yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok,
dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku
komunikasi para peserta. (Charley H. Dood dalam Liliweri, 2003:12) Dari beberapa
definisitadi, Nampak jelas bahwa factor fungsi‐fungsi dan hubungan‐hubungan antara
komponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antar budaya. Namun, yang
menjadi ciri utama dari suatu komunikasi antarbudaya yaitu adanya komunikator dan
komunikan berasal dari budaya yang berbeda. Maka dari itu, komunikasi antar budaya
dapat disimpulkan sebagai komunikasi yang komunikatornya adalah anggota suatu
budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya.
1.5.1.1 Bahasa sebagai Bagian Dari Kebudayaan
Bahasa berfungsi sebagai medium perantara informasi dari satu tempat ke tempat
yang lain. (Samovar dan Porter, 2003, p.186). Peran bahasa dalam budaya dapat dilihat
sebagai suatu perkembangan karena bahasa adalah suatu tindakan simbolik yang
menciptakan suatu substansi dari budaya. Dalam studi kebudayaan, bahasa ditempatkan
sebagai sebuah unsur penting selain unsur‐unsur lain seperti system pengetahuan, mata
pencaharian, adat istiadat, kesenian dan sistem peralatan hidup. Bahkan bahasa dapat
dikategorikan sebagai unsure kebudayaan yang berbentuk non material selain nilai, norma
Sebagaimana diketahui, kebudayaan hanya ditemukan dalam masyarakat manusia
sebab hanya manusialah yang dapat mengembangkan sistem simbol dan
menggunakannya secara lebih baik, apalagi simbol-simbol itu dibentuk dalam
kebudayaan. Secara sederhana, simbol dapat diartikan sebagai sesuatu yang mewakili
sesuatu, dan frekuensi penggunaanya yang paling tinggi ada dalam bahasa. Bahasa yang
digunakan oleh semua komunitas suku bangsa didunia terdiri dari susunan kata-kata,
kata-kata disusun oleh simbol sehingga bahasa merupakan susunan berlapis-lapis dari
simbol yang ditata menurut ilmu bahasa. Pada gilirannya, simbol-simbol itu (baik yang
berasal dari bunyi maupun ucapan) dibentuk oleh sebuah kebudayaan sehingga kata‐kata
maupun bahasa dibentuk pula oleh kebudayaan. Oleh karena itu, bahasa merupakan
kbudaya yang sangat penting yang mempengaruhi penerimaan kita, perilaku kita perasaan
dan kecenderungan kita untuk bertindak menanggapi dunia sekeliling. Dengan kata lain,
bahasa mempengaruhi kesadaran kita, aktivitas dan gagasan kita, benar atau salah, moral
atau tidak bermoral, dan baik atau buruk. Bahasa atau peristiwa mempengaruhi cara
berpikir seseorang atau caranya memandang dunia.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan salah satu unsur
penting dari kebudayaan yang berbentuk nonmaterial, bahasa mencerminkan budaya.
Orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga memiliki cara pandang yang
berbeda. Selain itu, bahasa juga merupakan intisari dari fenomena social. Karena tanpa
adanya bahasa, tidak mungkin ada masyarakat.
1.5.1.2 Model Komunikasi Antarbudaya.
Sesuai dengan subyek penelitian yang sedang dikaji, kita dihadapkan pada
komunikasi interpersonalnya itu harus disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik
dalam budaya lain. Namun sekalipun budaya itu turut mempengaruhi pribadi (frame of
references and field of experiences) seseorang, tapi tidak 100%. Jika dilihat dari perilaku
yang nampak pada proses komunikasi seseorang, bentuknya tidak akan 100% sama
dengan bentuk budaya yang ia anut. Pengaruh budaya terhadap proses penyandian dan
penyandian balik dalam komunikasi interpersonal terlihat pada gambar berikut.
Gambar 2. Model Komunikasi Antarbudaya
Budaya C
Sumber: Deddy Mulyana dan Jalalludin,2002
Gambar ini menunjukkan adanya tiga budaya yang berbeda yang diwakili oleh
tiga bentuk geometric yang berbeda. Bentuk budaya A dan budaya B hampir serupa,
namun lain dengan budaya C yang bentuknya jauh berbeda. bbbbbBb
Dalam setiap budaya ada bentuk lain individu yang agak serupa dengan bentuk
budaya itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa individu yang telah dibentuk oleh budaya.
Bentuk individu sedikit berbeda dari bentuk budaya yang mempengaruhinya. Ini
menggambarkan adanya pengaruhpengaruh lain di samping budaya yang membentuk
individu dan sekalipun budaya itu dominant dalam mempengaruhi individu, orang-orang
dalam suatu budaya pun memiliki sifat‐sifat yang berbeda.
Sementara model Gudykunst dan Kim mengasumsikan bahwa dua orang yang
terlibat dalam kegiatan komunikasi ini mempunyai kedudukan yang sama, sama-sama
sebagai pengirim sekaligus penerima pesan, serta sama-sama melakukan enconding dan
deconding. Hal tersebut mengakibatkan pesan suatu pihak sekaligus juga adalah umpan
balik bagi pihak laiinnya yang ditunjukkan oleh adanya garis dari penyandian seseorang
ke penyandian balik orang lain dan dari penyandian orang kedua ke penyandian balik
orang pertama. Sedangkan kedua garis umpan balik atau pesan itu menunjukkan bahwa
setiap kita berkomunikasi, secara bersamaan kita melakukan penyandian dan penyandian
balik. Dengan kata lain, komunikasi yang terjadi itu tidak statis.
Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian dan penyandian balik terhadap pesan
merupakan suatu proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang
dikategorikan menjadi factor-faktor kultur, sosiokultur dan psikokultur yang nampak pada
lingkaran dengan garis putus-putus. Garis putus-putus itu sendiri menggambarkan bahwa
ketiga factor ini saling berhubungan dan mempengaruhi. Selain itu, kedua individu yang
terlibat juga terletak dalam suatu kotak dengan garis putus-putus yang berarti mewakili
pengaruh lingkaran. Hal ini sekali lagi menggambarkan bahwa lingkaran tersebut
bukanlah suatu sistem tertutup.
Pengaruh kultur dalam model ini meliputi penjelasan mengenai kemiripan dan
(individualisme atau kolektivisme). Sebab ini akan mempengaruhi perilaku komunikasi
kita.
Pengaruh sosiokultur akan nampak pada proses penataan sosial yang berkembang
berdasarkan interaksi dengan orang lain ketika pola-pola perilaku menjadi konsisten
dengan berjalannya waktu. Ada empat faktor utama dalam sosiobudaya yaitu :
keanggotaan kita dalam kelompok sosial, konsep diri kita, ekspektasi peran kita, dan
definisi kita mengenai hubungan antarpribadi.
Dimensi psikokultur mencakup proses penataan pribadi. Penataan pribadi ini
adalah proses yang memberi stabilitas pada proses psikologis. Faktor-faktor dalam
psikobudaya adalah stereotip dan sikap terhadap kelompok lain. Kedua factor ini akan
menciptakan pengharapan mengenai bagaimana orang lain akan berperilaku, dan pada
akhirnya akan mempengaruhi cara kita menafsirkan stimulus yang dating dan prediksi
kita tentang perilaku orang lain.
Ada pula unsur lain yang melengkapi model Gudykunst dan Kim yaitu
lingkungan. Lingkungan akan mempengaruhi kita dalam melakukan penyandian dan
penyandian balik suatu pesan. Yang dimaksudkan dengan lingkungan adalah mencakup
1.5.1.3 Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi Antar Budaya
Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai komunikasi antar budaya, hal yang
terpenting didalamnya yang membedakan dengan kajian ilmu komunikasi lainnya adalah
adanya perbedaan yang relatif tinggi pada latar belakang dari pihak‐pihak yang terkait
dalam proses komunikasi.
Adapun penyebab perbedaan ini tak lain adalah perbedaan budaya.
Perbedaan-perbedaan budaya bersama-sama dengan Perbedaan-perbedaan-Perbedaan-perbedaan lain dalam diri seorang
individu (misalnya kepribadian individu, umur, jenis kelamin, dan penampakan fisik)
dapat memberikan kontribusi pada sifat permasalahan yang melekat dalam komunikasi
antarmanusia. Menurut Lewis dan Slade, ada tiga perbedaan yang paling mendasar dalam
proses komunikasi antar budaya yaitu kendala bahasa, perbedaan nilai dan perbedaan pola
perilaku kultural. (Lewis dan Slade dalam rahardjo, 2005:54). Ketiga hal ini bisa
mengakibatkan kemacetan dalam proses komunikasi antarbudaya.Namun selain itu, ada
pula beberapa faktor penghambat lain seperti etnosentrisme, prasangka dan stereotip.
Etnosentrisme merupakan tingkatan dimana individu-individu menilai budaya
orang lain sebagai inferior terhadap budaya mereka (Rogers & Steinfatt dalam rahardjo,
2005:55).Tanpa memandang siapa individu yang terlibat dan bagaimana budayanya,
etnosentrisme selalu muncul sebagai penghambat terjalinnya komunikasi antar budaya
yang efektif. Perlu diketahui, etnosentrisme itu biasanya dipelajari oleh setiap individu
dalam keadaan tidak sadar, namun selalu diekspresikan dalam keadaan sadar, sehingga
perlu adanya kewaspadaan terhadap perilaku etnosentrisme tersebut.
Stereotip adalah generalisasi tentang beberapa kelompok orang yang sangat
menyederhanakan realitas (Rogers & Steinfatt dalam rahardjo, 2005:57).Sikap seperti ini
seringkali nampak ketika seseorang menilai orang lain pada basis kelompok etnis tertentu,
sebenarnya ketika seseorang sedang melakukan kontak antar budaya dengan individu lain,
pada dasarnya seseorang tersebut sedang berkomunikasi dengan identitas etnis dari
individu tersebut.
Yang menjadi permasalahan utama dalam proses komunikasi antarbudaya adalah
ketika individu-individu yang terkait yang notabene berbeda budaya itu memfokuskan
secara destruktif stereotip negatif yang mereka pegang masing-masing, sehingga persepsi
mereka tidak akan berubah.
Prasangka adalah sikap yang kaku terhadap suatu kelompok yang didasrkan pada
keyakinan atau pra konsepsi yang keliru, juga dapat dipahami sebagai penilaian yang
tidak disadari. (Rogers & Steinfatt dalam rahardjo, 2005:.55).Berdasarkan penilaian tadi,
sikap prasangka telah membuat seseorang memasang pagar pembatas terhadap orang lain
dalam pergaulan dan justru seseorang akan cenderung menjadi emosional ketika
prasangka terancam oleh hal-hal yang bersifat kontradiktif. Itu sangat menghalangi
seseorang untuk dapat melihat kenyataan secara akurat.
Biasanya sikap prasangka diekspresikan melalui komunikasi. Dari uraian tentang
stereotip dan prasangka, perbedaan utama diantara keduanya adalah jika prasangka
merupakan sikap (attitude), namun kalau stereotip merupakan keyakinan (belief). Tapi,
keduanya sama-sama dapat menjadi positif maupun negatif. Baik stereotip maupun
prasangka akan mempengaruhi persepsi seseorang ketika melakukan kontak antarbudaya
dalam berbagai cara.
1.5.2 Konsep Interaksi dalam Komunikasi
Adanya aktivitas-aktivitas dalam kehidupan sosial menunjukkan bahwa manusia
mempunyai naluri untuk hidup bergaul dengan sesamanya (disebut gregariousness).
disamping kebutuhan akan; afeksi (kebutuhan akan kasih sayang), inklusi (kebutuhan
akan kepuasan), dan kontrol (kebutuhan akan pengawasan). Dalam pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut akan mendorong manusia untuk melakukan interaksi
dengan sesamanya, baik untuk mengadakan kerjasama (cooperation) maupun untuk
melakukan persaingan (competition).
Kata interaksi berasal dari Bahasa Inggris interaction artinya suatu tindakan yang
berbalasan. Dengan kata lain suatu proses hubungan yang saling pengaruh
mempengaruhi. Jadi interaksi sosial (social interaction) adalah suatu proses berhubungan
yang dinamis dan saling pengatuh mempengaruhi antar manusia.
Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack dalam buku Sociology and
Social Life menyatakan bahwa : “Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan
sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.
Sementara itu Soerjano Soekamto dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar menyatakan
bahwa : “Interaksi sosial (yang juga dinamakan proses sosial) merupakan syarat utama
terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.”
Interaksi antar manusia dimaksud adalah :
a) interaksi antara individu dengan individu,
b) interaksi antara individu dengan kelompok, dan
c) interaksi antara kelompok dengan kelompok.
Hasil dari pada interaksi sosial ada dua sifat kemungkinan :
a. Bersifat positif; suatu interaksi yang mengarah kerjasama dan menguntungkan.
Contoh persahabatan.
b. Bersifat negatif; suatu interaksi yang mengarah pada suatu pertentangan yang
Berdasarkan hasil interaksi yang negatif tersebut di atas maka itulah yang menjadi
hambatan dalam proses Komunikasi Interpersonal. Dalam situasi pertentangan
Komunikasi Interpersonal tidak dapat dilaksanakan dengan baik, kalau pun dipaksakan
dilaksanakan pasti kegiatan Komunikasi Interpersonal efeknya tidak akan berhasil.
Sehubungan dengan komunikasi antarbudaya. Dalam khasanah ilmu pengetahuan
kata kebudayaan/budaya merupakan terjemahan dari kata culture. Kata culture sendiri
berasal dari Bahasa Latin dari kata colere yang berarti mengolah, mengerjakan,
menyuburkan, dan mengembangkan tanah/pertanian.
E.B. Taylor yang dikutip Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Ilmu
Antropologi menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks
yang meliputi keyakinan dan cara hidup suatu masyarakat yang dipelajari oleh manusia
sebagai anggota masyarakat. Keyakinan adalah keseluruhan idea yang dianut meliputi
religi, pemerintahan, ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan adat istiadat. Cara hidup adalah
pola-pola tindakan yang berhubungan dengan soal kebiasaan meliputi makanan, pakaian,
perumahan, cara-cara perkawian, hiburan, estetika dan sebagainya.
Rapl Linton menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah keseluruhan dari
pengetahuan, sikap, pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan
diwariskan oleh anggota suatu masysrakat tertentu.”
Koentjaraningrat (1984:25) menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah keseluruhan
sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.” Dari beberapa definisi kebudayaan
tersebut di atas dapat disimpulkan dan juga telah disepakati beberapa ahli antropologi,
bahwa kebudayaan dan tindakan kebudayaan itu adalah segala tindakan yang harus dilalui
Berkaitan dengan hal tersebut di atas hal tersebut sesuai dengan fungsi komunikasi
menurut Harol D. Lasswell yang ketiga yaitu; The transmission of the social heritage
from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada
kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi
ke generasi lain. Itulah fungsi komunikasi terutama Komunikasi Interpersonal. (Liliweri,
2003: 75)
Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana kedudukan kultur atau budaya dalam
proses kegiatan Komunikasi Interpersonal. Untuk sementara ini para ahli baru meninjau
hanya mengenai hambatan budaya/kulur dalam proses Komunikasi Interpersonal terutama
kegiatan Komunikasi Interpersonal lintas budaya, yaitu diantaranya :
a. Menyampaikan pesan pada orangθ yang berlainan kultur akan mengundang
perbedaan persepsi terhadap isi pesan sehingga efek yang diharapkan akan sukar
timbul.
b. Menyampaikan pesan verbal pada orang yang berlainan kultur tentu saja akan
banyak perbedaan dalam bahasa sehingga dalam proses kegiatan Komunikasi
Interpersonal tersebut selain hambatan dalam bahasa juga terdapat hambatan
semantic, yaitu perbedaan peristilahan dalam masing-masing bahasa.
c. Menyampaikan pesan verbal pada orang yang berlainan kulturθ disertai
penekanan pesan dengan pesan non-verbal mungkin akan mengundang penafsiran
berbeda hingga tujuan penyampaian pesan tidak akan tersampaikan.
d. Menyampaikan pesan pada orang yang berlainan kulturθ jika bertentangan dengan
adat-kebisaannya, norma-normanya maka akan terjadi penolakan Komunikasi
Interpersonal.
Sehubungan dengan komunikasi antarbudaya antara seseoarang dengan orang lain
persis sama, bahkan pasangan anak kembar pun yang dibesarkan sama-sama dalam
lingungan keluarga yang sama pengalamannya tidak akan persis sama bahkan mungkin
akan berbeda.
Perbedaan pengalaman antara individu (bahkan antar anak kembar) ini bermula
dari perbedaan persepsi masing-masing tentang sesuatu hal. Perbedaan persepsi tersebut
banyak disebabkan karena perbedaan kemampuan kognitif antara individu termasuk anak
kembar tersebut, sedangkan bagi individu yang saling berbeda budaya tentu saja
perbedaan persepsi tersebut karena perbedayaan budaya. Perbedaan persepsi tersebut
kemudian ditambah dengan perbedaan kemampuan penyimpanan hal yang dipersepsi tadi
dalam strorage sirkit otak masing-masing individu tersebut menjadi long-term
memory-nya. Setelah itu perbedaan akan berlanjut dalam hal perbedaan kemampuan mereka
memanggil memori mereka jika diperlukan.
Perbedaan pengalaman tentu saja menjadi hambatan dalam Komunikasi
Interpersonal, karena seperti telah di bahas di muka bahwa terjadinya heterophilious
karena salah satunya diakibatkan perbedaan pengalaman. Sehingga jika terjadi
heterophilious maka proses Komunikasi Interpersonal tidak akan berjalan dan tujuan
penyampaian pesan pun tidak akan tercapai. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan
oleh Lubis (2002:4) bahwa, jika pesan-pesan yang disampaikan melampau batas-batas
kebudayaan, yang dapat terjadi adalah apa yang dimaksud oleh pengirim dalam suatu
konteks tertentu akan diartikan dalam konteks yang lain lagi oleh penerima. Dalam situasi
antar budaya demikian, dapat dikatakan hanya sedikit saja atau tidak sama sekali “ko -
orientasi yang merupakan persyaratan bagi komunikasi umumnya”. Dengan ko-orientasi
yang dimaksud ialah bahwa antara dua pihak yang berkomunikasi seharusnya terdapat
persamaan dalam orientasi terhadap topik dari komunikasi mereka. Atau dapat juga
dengan individu-individu lain yangserupa dalam hal karekteristik-karekteristik sosial
dengannya.
Bahkan lebih jauh lagi Lubis (2002) mengatakan bahwa
d
alam komunikasimanusia, agaknya diperlukan juga keseimbangan diantara kesamaan dan tidak kesamaan,
antara yang sudah dianggap biasa dengan sesuatu yang baru. Ada suatu proposisi dasar
yang menyatakan bahwa kekuatan pertukaran informasi pada komunikasi (antara dua
orang) ada hubungannya dengan derajat heterofili antara mereka. Dengan kata lain, orang
akan menerima hal-hal baru, yang informasional, justru melalui ikatan-ikatan yang lemah.
Heterofili adalah derajat perbedaan dalam beberapa hal tertentu antara pasangan-pasangan
individu yang berinteraksi
1.5.3 Model Komunikasi ABX Newcomb (Model Keseimbangan)
Salah satu teori atau model yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah
Model ABX Newcomb dari Theodore Newcomb. Model komunikasi yang dikembangkan Newcomb merupakan model komunikasi antar pribadi. Melalui modelnya
ini Newcomb menggambarkan tentang dinamika hubungan komunikasi antara dua
individu mengenai suatu objek yang dipersoalkan mereka. Pendekatan Theodore
Newcomb (dalam Effendy, 2000:260) terhadap komunikasi adalah pendekatan seorang
pakar psikologi sosial berkaitan dengan interaksi manusia.
Gambar 1. Model Komunikasi ABX Newcomb
X
Berdasarkan gambar di atas dapat diilustrasikan sebagai berikut. Dalam model
Newcomb ada dua individu (A) dan (B) berorientasi terhadap satu sama lain dan terhadap
objek, manusia atau benda (X). Model ini merupakan pengembangan dari hasil pemikiran
psikolog Heider. Menurut Teori Heider ada dua orang (A) dan (B) yang saling menyukai,
disamping itu ada orang ketiga atau benda lain (X), maka hubungan A dan B disebut
Balanced atau seimbang. Sebaliknya jika A suka pada B dan B suka pada A, namun A
suka pada X tetapi B tidak suka pada X maka hubungan mereka unbalanced atau tidak
seimbang. Bila hubungan seimbang maka tiap pihak akan menentang perubahan. Juka
hubungan tidak seimbang maka akan timbul usaha-usaha untuk memulihkan
keseimbangan tersebut.
Newcomb mengembangkan Teori Heider menjadi hubungan antara dua atau lebih
manusia. Newcomb mengembangkan postulate = dalil (pendapat yang dikemukakan
sebagai kebenaran): A strain symmentry = tekanan menuju kesamaan. Sebagai akibatnya:
bidangpersamaan pendapat akan meluas dengan mengadakan komunikasi. Newcomb
mengemukakan assumption = anggapan komunikasi menyelenggarakan fungsi pokok
yang memungkinkan dua orang atau lebih memelihara perhatian terus –menerus terhadap
satu sama lain dan terhadap objek-objek lingkungan luar mereka. Dengan demikian:
komunikasi adalah a learned response to strain = reaksi yang dipelajari terhadap tekanan
dan bahwa kita ingin memperoleh lebih banyak kegiatan komunikasi (memberi, mencari
dan bertukar informasi) di dalam kondisi ketidakpastian dan ketidakseimbangan.
Model ini mengingatkan kepada diagram jaringan kelompok kerja yang dibuat
para psikologi sosial dan merupakan awal formulasi konsistensi kognitif. Menurut
Newcomb, yang kemudian dikenal dengan sebutan “model keseimbangan”, pola
komunikasi yang terjadi antara dua individu mempunyai dua bentuk atau situasi
orang yang berkomunikasi tentang suatu hal/objek sama-sama mempunyai sikap
menyukai atau selera yang sama terhadap hal/objek yang dibicarakan. Keadaan tidak
seimbang terjadi apabila terdapat perbedaan sikap diantara kedua orang tersebut. Namun,
apabila keadaan tidak seimbang ini terjadi, umumnya masing-masing pihak akan
berupaya untuk mengurangi perbedaan sehingga keadaan “relatif seimbang” bisa tercapai.
Sementara kalau keadaan seimbang terjadi masing-masing pihak berusaha untuk
terus mempertahankannya. Menjaga keseimbangan inilah yang menurut Newcomb
merupakan hakekat utama dari komunikasi antar pribadi (McQual dan Windahl dalam
Effendy, 2000:262).
Model ABX dari Theodore Newcomb jika dikaitkan dengan penelitian ini adalah
keadaan mahasiswa etnik pendatang yang tidak seimbang dalam berkomunikasi dengan
etnik tuan rumah (etnik Batak/Melayu), sehingga agar keadaan menjadi relatif seimbang
salah satu pihak yaitu etnik pendatang harus bisa mengurangi keadaan yang tidak
seimbang tersebut dengan cara beradaptasi.
1.5.4 Teori Adaptasi Antar Budaya
pendekatan kedua yang dijadikan landasan berfikir dalam penelitia ini adalah Teori
Adaptasi Antarbudaya yang dikemukakan oleh Young Yun Kim (dalam Liliweri, 2001:82) tentang pengalaman-pengalaman adaptasi antarbudaya dari individu-individu
yang tumbuh, dilahirkan dan ditingkatkan pada suatu kebudayaan kemudian pindah ke
kebudayaan lain. Beberapa perspektif teori ini diambil dari beberapa konsep dan
prinsip-prinsip dari “teori sistem umum” yang menekankan ciri-ciri dinamik holisentrik, interaktif
dari individu-individu sebagai sistem komunikasi terbuka. Proses dan hasil adaptasi
antarbudaya secara teoritis berdasarkan pada perspektif “teori sistem umum” , yang
dijelaskan sebagai suatu proses komunikasi dimana orang-orang asing mempelajari dan
mendapatkan bentuk-bentuk komunikasi dominan dari masyarakat tuan rumah. Orang
asing memperoleh bentuk-bentuk komunikasi kultural dari
masyarakat tuan rumah dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan sosial baru
melalui komunikasi.
Adaptasi merupakan proses pengambangan dari organisme manusia untuk berusaha
menurunkan keseimbangan internal dari stress yang berkepanjangan dengan
meningkatkan kemampuan komunikasi tuan rumah dan berpartisipasi melalui komunikasi
antar pribadi dan aktifitas komunikasi massa dengan lingkungan masyarkat tuan rumah.
Sebagaimana ditunjukan oleh para imigran tetap dan tidak tetap yang secara sukses
berhasil mengatasi situasi yang menekan dan mentransformasikan diri mereka secara
adaptif. Seperti Young Yun Kim kemukakan (dalam Mulyana dan Rahmat, 2003:138)
bahwa pada saatnya seorang imigran akan menggunakn cara-cara berprilaku masyarakat
1.5.5 Kerangka konsep
Kerangka konsep adalah hasil pemikiran rasional, yang bersipat kritis dalam
memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai (Nawawi.1995:40).
Kerangka konsep dapat berupa teori-teori yang sudah ada dan bahkan berupa
kemungkinan-kemungkinan implementasi hasil penelitian bagi kehidupan nyata.
Adapun konsep-konsep dapat diteliti secara empiris,maka harus dioperasionalkan
dengan mengubahnya menjadi variable. Suatu variable adalah konsep tingkat rendah,yang
acuan-acuanya secara relatif mudah diidentifikasikan dan diobservasi serta mudah
diklasifikasi, diurut atau di ukur (Kriyantono,2006:20). Dalam penelitian ini
variable-variabel yang akan diteliti adalah:
a. Variabel Bebas (X) adalah sejumlah gejala,factor,atau unsur yang menentukan atau
mempengaruhi munculnya gejala,factor,atau unsure lainya. Dengan kata lain variable
bebas adalah variable yang mempengaruhi variable lain (variable terikat/Y). variabel
bebas dalam penelitian ini adalah komunikasi antarbudaya.
b. Variabel terikat (Y)
Variabel terikat adalah sejemlah gejala atau factor maupun unsur yang ada atau muncul
yang ditentukan oleh adanya variabel bebas dan bukan karena adanya variabel lain.
Variabel (X) Komunikasi Antar Budaya
Variabel (Y)
Interaksi Mahasiswa Pendatang 1.5.6 Model Teoritis
Model teoritis merupakan desain penelitian berdasarkan variabiabel yang telah
ditetapkan,yaitu:
berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan diatas, maka untuk
lebih memudahkan penelitian perlu dibuat operasionel variabel-variabel sebagai berikut :
Variabel Teoritis Variabel Oprasioanal Variabel Bebas (X)
Komunikasi Antar Budaya :
a. Interaksi Pribadi
b. Perasaan Pikiran
4. Member Dukungan
a. Member Pendapat
b. Bekerja Sama
c. Memberi Penghargaan
1.5.7 Definisi Operasional
Definisi operasional menyatakan bagaimana operasi atau kegiatan yang harus
dilakukan untuk memperoleh data atau indicator yang menunjukkan konsep dimaksud
(irawan,1995:29), maka variabel yang perlu didefinisikan sebagai berikut:
A. Komunikasi antarbudaya indikatornya adalah Etnosentrisme merupakan suatu
kecenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya
sebagai yang mutlak dan digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak
terhadap semua budaya lain. Indikatornya yaitu:
1. Prasangka social
Prasangka social adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai negative yang diwarnai
oleh perasaan sesaat, artinya kondisi emosional yang berperan menimbulkan
prasangka social. Factor-faktor yang mempengaruhi prasangka social yaitu :
a. Kepribadian
Dalam perkembangan kepribadian seseorang akan terliat pula pembentukan
prasangka sosialanya,karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa
curiga, berpikir dogmatis dan berpola pada diri sendiri.
semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka sangat mempengaruhi
cara berpikirnya.
c. Status Sosial
status social sangat mempengaruhi seseorang dalam proses pembentukan
prasangka social.
2. Stereotip
Stereotif adalah citra yang dimiliki sekelompok orang tentang sekelompok orang
lainya. Stereotip biasanya negative dan dinyatakan sebagai sifat-sifat kepribadian
tertentu antara lain yaitu:
a. Mendengar
Tidak jarang kita mendengar hal negative yang sama tentang sekelompok
orang,misalnya:orang sunda suka basa-basi,orang padang pelit,orang batak kasar
dan sebagainya.
b. mengganggu
akibat citra negatif yang melekat pada kelompoknya menyebabkan
kelompok lain suka mengganggunya.
B. interaksi mahasiswa Pendatang merupakan hubungan-hubungan atau
kontak-kontak social yang dinamis dalam kompus yang menyangkat hubungan antara
mahasiswa local dengan Mahasiswa pendatang dalam upaya mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Indikatornya adalaha:
Keterbukaan merupakan suasana sikap komunikator yang menerima dan
memahami semua pesan tentang cirri dan sifat khas komunikan. Keadaan
ini ditunjukkan melalui:
a. Perhatian
Perhatian merupakan bentuk tanggapan terhadap keberadaan orang lain yang
b. Sikap
sikap merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan cara-cara tertentu
terhadap objek sikap yang diwujudkan dalam penerimaan perbedaan,saling
pengertian dan sikap menghargai.
2. Empati
Empati merupakan suasana emosional komunikator yang menerima dan
memahami semua pesan tentang komunikan sama seperti sikap komunikan
menerima dan memahami dirinya,dengan cara:
a. Menerima perbedaan
Menerima perbedaan merupakan asumsi dari perbedaan dan teori realitas
majemuk yang diperlukan untuk menjembatani pemisahan inividu yang
terkandung dengan cara menerima perbedaan.
b. Mengenali diri
Mengenali diri merupakan pengembangan Empati melalui mengenal diri kita
secukupnya sehingga dimungkinkan peneguhan kembali identitas individual
secara mudah dengan menyadari nilai,asumsi,dan keyakinan individu secara
cultural.
3. Merasa positif
Merasa positif merupakan suatu perasaan komunikator tentang pribadi
komunanikannya serta situasi yang melibatkan keduanya sangat
mendukung untuk dipahami. Perasaan positif tersebut antara lain:
a. sebagai suasana interaksi pribadi
dimana komunikator merasa bahwa pesan-pesan tentang pribadinya
4. Memberi dukungan
Memberi dukungan merupakan pemahaman sikap komunikator untuk
mempertahankan diri dalam berinteraksi dengan orang lain dengan cara
BAB II Uraian Teoritis
II.1 Hakekat Budaya dan Komunikasi Antarbudaya
Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai
aspek, seperti adanya keberagaman suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan
sebagainya. Di lain pihak, perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini dengan
mobilitas dan dinamika yang sangat tinggi, telah menyebabkan dunia menuju ke arah
“desa dunia” (global village) yang hampir tidak memiliki batas-batas lagi sebagai akibat
dari perkembangan teknologi modern. Oleh karenanya masyarakat (dalam arti luas) harus
sudah siap menghadapi situasi-situasi baru dalam konteks keberagaman kebudayaan atau
apapun namanya. Interaksi dan komunikasi harus pula berjalan satu dengan yang lainnya,
adakah sudah saling mengenal atau pun belum pernah sama sekali berjumpa apalagi
berkenalan. Dalam berkomunikasi dengan konteks keberagaman kebudayaan kerap kali
menemui masalah atau hambatan-hambatan yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya
saja dalam penggunaan bahasa, lambang-lambang, nilai atau norma-norma masyarakat
dan lain sebagainya. Pada hal syarat untuk terjalinya hubungan itu tentu saja harus ada
saling pengertian dan pertukaran informasi atau makna antara satu dengan lainnya. Dari
itu mempelajari komunikasi dan budaya merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan.
Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata
uang. Budaya menjadi bagian dari prilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi
pun turut menentukan memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya seperti
yang dikatakan Edward T. Hall bahwa komunikasi adalah Budaya dan Budaya adalah
komunikasi. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk
masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasike
generasi berikutnya. Pada sisi lain, budaya merupakan norma-norma atau nilai-nilai yang
dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.
Tidak banyak orang menyadari bahwa bentuk-bentuk interaksi antarbudaya
sesungguhnya secara langsung atau tidak melibatkan sebuah komunikasi. Pentingnya
komunikasi antarbudaya mengharuskan semua orang untuk mengenal panorama
dasar-dasar komunikasi antarbudaya itu.
Dalam kenyataan sosial, manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau
dia tidak berkomunikasi. Dapat dikatakan pula bahwa interaksi antar-budaya yang efektif
sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Maka dari itu kita perlu tahu apa-apa
yang menjadi unsur-unsur dalam terbentuknya proses komunikasi antarbudaya, yang
antara lain adalah adanya komunikator yang berperan sebagai pemrakarsa komunikasi;
komunikan sebagai pihak yang menerima pesan; pesan/simbol sebagai ungkapan pikiran,
ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk
simbol.
Komunikasi itu muncul, karena adanya kontak, interaksi dan hubungan antar
warga masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Sehingga “kebudayaan adalah
komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan, begitulah kata Edward T. Hall. Jadi
sebenarnya tak ada komunitas tanpa kebudayaan, tidak ada masyarakat tanpa pembagian
kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain,
tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa komunikasi.
Di sinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya itu.
Menurut Alo Liliweri (pakar komunikasi antarbudaya) mengatakan bahwa sebagai
bagian dari tuntutan glabalisasi yang semakin tidak terkendali seperti saat ini, mendorong
sektoral. Belum lagi perubahan-perubahan global lainnya yang semakin deras dan
menjadi bukti nyata bahwa semua orang harus mengerti karakter komunikasi antarbudaya
secara mendalam.
Lebih lanjut, Alo Liliweri menjelaskan bahwa esensi komunikasi terletak pada
proses, yakni sesuatu aktivitas yang “melayani” hubungan antara pengirim dan penerima
pesan melampaui ruang dan waktu. Itulah sebabnya mengapa semua orang pertama-tama
tertarik mempelajari komunikasi manusia (human communication), sebuah proses
komunikasi yang melibatkan manusia kemarin, kini, dan mungkin di masa yang akan
datang.
Sedangkan budaya atau kebudayaan menurut Burnett Taylor dalam karyanya yang
berjudul Primitive Culture, adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh
manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Di samping mengetahui pengertian
kebudayaan kita juga harus mengetahui unsur-unsur kebudayaan manusia yang antara lain
adalah sejarah kebudayaan, identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian,
bahasa dan interaksi, stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas kebudayaan dan nilai,
etnosentrisme, perilaku non-verbal, hubungan antar ruang, konsep tentang waktu,
pengakuan dan ganjaran, pola pikir, dan aturan-aturan budaya.
Jadi yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya ialah komunikasi
antarpribadi yang dilakukan mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan. Jadi, suatu
proses kumunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh
sejumlah orang (karena memiliki keragaman) memberikan interpretasi dan harapan secara
berbada terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna
yang dipertukarkan.
menghendaki adanya interaksi sosial. Menurut Jackson (1967), menekankan bahwa isi
(content of communication) komunikasi tidak berbeda dalam sebuah ruang yang
terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) esensial dalam bentuk relasi (relations).
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan
komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain.
Tingkat ketidakpastian itu akan berkurang manakala kita mampu meramalkan secara tepat
proses komunikasi. Karena itu, dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak
dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi.
Demikian pula, dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat
tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa
tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila
bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi
untuk memperbarui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan
memperbaharui sebuah manejemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat
kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi,
mengurangi konflik yang seluruhnya merupakan bentuk dari komunikasi antarbudaya.
Karena itu, terjadinya kesenjangan dalam masyarakat seringkali disebabkan oleh
datangnya perubahan dari luar. struktur sosial baru berdasarkan profesi dan fungsi yang
lebih rasional mengakibatkan perubahan relasi. Dalam kaitannya dengan komunikasi
antar budaya, perubahan-perubahan yang datang dari dalam maupun dari luar sangat
berpengaruh terhadap perubahan relasi antar budaya. Akibat kontak, interaksi dan
hibingan antar anggota masyarakat yang berbeda kebudayaannya, muncullah komunikasi
antarbudaya.
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada komunitas tanpa budaya, tidak ada
informasi. Dengan kata lain tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada
kebudayaan tanpa adanya komunikasi. Disinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi
antarbudaya. Semua fenomena itu, selain karena disebabkan perubahan yang ada, juga
karena kurangnya komunikasi. Akhirnya, memerlukan sebuah komunikasi antarbudaya
guna mengurangi kesalahpahaman di antara sesama manusia.
Komunikasi antarbudaya terjadi ketika dua atau lebih orang dengan latar belakang
budaya yang berbeda berinteraksi. Proses ini jarang berjalan dengan lancar dan tanpa
masalah. Dalam kebanyakan situasi, para pelaku interaksi antarbudaya tidak
menggunakan bahasa yang sama, tetapi bahasa dapat dipelajari dan masalah komunikasi
yang lebih besar terjadi dalam area baik verbal maupun nonverbal. Khususnya,
komunikasi nonverbal sangat rumit, multidimensional, dan biasanya merupakan proses
yang spontan. Orang-orang tidak sadar akan sebagian besar perilaku nonverbalnya
sendiri, yang dilakukan tanpa berpikir, spontan, dan tidak sadar (Samovar, Larry A. dan
Richard E. Porter, 1994). Kita biasanya tidak menyadari perilaku kita sendiri, maka
sangat sulit untuk menandai dan menguasai baik perilaku verbal maupun perilaku
non-verbal dalam budaya lain. Kadang-kadang kita merasa tidak nyaman dalam budaya lain
karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Khususnya, perilaku nonverbal jarang
menjadi fenomena yang disadari, dapat sangat sulit bagi kita untuk mengetahui dengan
pasti mengapa kita merasa tidak nyaman.
Pentingnya komunikasi antarbudaya dikarenakan interaksi sosial keseharian kita
itu adalah sesuatu yang tak dapat ditolak. Di dalam percakapan biasa antara dua orang
terjadi sekitar 35% komponen verbal sedangkan 65% lagi terjadi dalam komponen
nonverbal (Ray L. Birdwhistell, 1969). Namun demikian, studi sistematis tentang
komuniksi nonverbal telah lama diabaikan. Studi komunikasi secara tradisional
komuniksi yang lain. Sepertinya telah ada semacam praduga yang tidak beralasan
mengenai bidang tersebut. Misalnya, kebanyakan program-program pengajaran bahasa
asing sering mengabaikan perilaku komunikasi nonverbal.
Dewasa ini, pengetahuan mengenai kebudayaan-kebudayaan asing, baik itu
melalui kontak langsung maupun tidak langsung melalui media massa merupakan
peng-alaman umum yang semakin banyak. Namun demikian, ketidaktahuan umum akan
adanya perbedaan-perbedaan antara perilaku komunikasi nonverbal mereka sendiri
de-ngan perilaku nonverbal kebudayaan asing telah membaut orang awam berpikiran bahwa
gerakan-gerakan tangan dan ekspresi wajah adalah sesuatu yang universal.
Pada kenyataannya, hanya sedikit saja yang mempunyai makna universal
khusus-nya adalah tertawa, tersenyum, tanda marah, dan menangis. Karena itulah, orang
cen-derung beranggapan bahwa bila mereka berada dalam suatu kebudayaan yang berbeda di
mana mereka tidak mengerti bahasanya mereka mengira bisa aman dengan sekedar
mengetahui gerakan-gerakan manual. Namun karena manusia memiliki pengalaman
hidup yang berbeda di dalam kebudayaan yang berbeda, ia akan menginterpretasikan
secara berbeda pula tanda-tanda dan simbol-simbol yang sama (Bennet, Milton J., 1998).
Telah dikenal ribuan anekdot mengenai kesalahpahaman akibat komunikasi
antarbudaya antara orang-orang dari budaya yang berbeda-beda. Karena besarnya jumlah
pasangan budaya, dan karena kemungkinan kesalahpahaman berdasarkan bentuk verbal
maupun perilaku nonverbal antara tiap pasangan budaya sama besarnya, maka terdapat
banyak anekdot mengenai hal-hal tentang antarbudaya yang mungkin dibuat. Yang
diperlukan adalah cara untuk mengatur dan memahami banyaknya masalah yang mungkin
timbul dalam komunikasi antarbudaya. Sebagian besar perbedaan dalam komunikasi
II.1.1 Keakraban dan Kebebasan Mengungkapkan Perasaan
Tindakan keakraban merupakan tindakan yang secara simultan mengungkapkan
kehangatan, kedekatan, dan kesiapan untuk berkomunikasi. Tindakan-tindakan itu lebih
menandai pendekatan daripada penghindaran dan kedekatan daripada jarak. Contoh
tindakan keakraban misalnya senyuman, sentuhan, kontak mata, jarak yang dekat, dan
animasi suara. Budaya yang menunjukkan kedekatan atau spontanitas antarpersonal yang
besar dinamakan “budaya kontak” karena orang-orang dalam negara-negara ini biasa
berdiri berdekatan dan sering bersentuhan. Orang-orang dalam budaya kontak yang
rendah cenderung berdiri berjauhan dan jarang bersentuhan.
Sangat menarik bahwa budaya kontak tinggi biasanya terdapat di negara-negara
hangat dan budaya kontak rendah terdapat di negara-negara beriklim sejuk. Banyak
penelitian yang menunjukkan bahwa yang termasuk mempunyai budaya kontak adalah
negara-negara Arab, Perancis, Yunani, Itali, Eropa Timur, Rusia, dan Indonesia.
Negara-negara dengan budaya kontak rendah misalnya Jerman, Inggris, Jepang, dan Korea
(Samovar, Larry A., Richard E. Porter and Lisa A. Stefani, 1998). Jelas bahwa budaya di
iklim dingin cenderung berorientasi hubungan antarpersonalnya ‘dingin’, sedangkan
budaya di iklim hangat cenderung berorientasi antarpersonal dan ‘hangat’. Bahkan,
orang-orang di daerah hangat cenderung menunjukkan kontak fisik lebih banyak daripada
II.1.2 Individualisme dan Kolektivisme
Salah satu dimensi paling fundamental yang membedakan budaya adalah tingkat
individualisme dan kolektivisme. Dimensi ini menentukan bagaimana orang hidup
bersama, dan nilai-nilai mereka, dan bagaimana mereka berkomunikasi. Kajiannya
tentang individualisme dalam lima puluh tiga negara, negara yang paling individualistik
secara berurutan adalah Amerika, Australia, Inggris, Kanada, dan Belanda yang
semua-nya negara Barat atau Eropa. Negara yang paling rendah tingkat individualismesemua-nya
adalah Venezuela, Kolombia, Pakistan, Peru, dan Taiwan yang semuanya budaya Timur
atau Amerika Selatan. Korea berurutan ke-43 dan Indonesia berurutan ke-47. Tingkat
yang menentukan suatu budaya itu individualistik atau kolektivistik mempunyai dampak
pada perilaku nonverbal budaya tersebut dalam berbagai cara. Orang-orang dari budaya
individualistik relatif kurang bersahabat dan membentuk jarak yang jauh dengan orang
lain. Budaya-budaya kolektivistik saling tergantung, dan akibatnya mereka bekerja,
bermain, tidur, dan tinggal berdekatan dalam keluarga besar atau suku. Masyarakat
industri perkotaan kembali ke norma individualisme, keluarga inti, dan kurang dekat
dengan tetangga, teman, dan rekan kerja mereka (Hofstede, Geert, 1980).
Orang-orang dalam budaya individualistik juga lebih sering tersenyum daripada
orang-orang dalam budaya yang cenderung ketimuran. Keadaan ini mungkin dapat
dijelaskan dengan kenyataan bahwa para individualis bertanggungjawab atas hubungan
mereka dengan orang lain dan kebahagiaan mereka sendiri, sedangkan orang-orang yang
berorientasi kolektif menganggap kepatuhan pada norma-norma sebagai nilai utama dan
kebahagiaan pribadi atau antarpersonal sebagai nilai kedua. Secara serupa, orang-orang
dalam budaya kolektif dapat menekan penunjukan emosi baik yang positif maupun yang
negatif yang bertentangan dengan keadaan dalam kelompok karena menjaga keutuhan
untuk mengungkapkan emosi karena kebebasan pribadi dihargai paling tinggi. Penelitian
mengenai hal tersebut mengungkapkan bahwa orang-orang dalam budaya individualistik
lebih akrab secara nonverbal daripada orang-orang dalam budaya kolektif.
II.2 Terjadinya Komunikasi Antarbudaya
Akar dari studi komunikasi antarbudaya dapat ditemukan dari era Perang Dunia
Kedua, ketika Amerika mendominasi panggung dunia. bagaimanapun, disadari
pemerintah dan pebisnis bekerja melewati benua, dan berpindah-pindah dan akhirnya
mereka sering menyadari perbedaan budaya yang terjadi. Kendala utama adalah bahasa,
bagimana mereka harus mempersiapkan ini dan hal ini menjadi tantangan bagi
komunikasi lintasbudaya yang mereka jalani.
Sebagai respon, pemerintah Amerika pada tahun 1946 membangun sebuah FSI
(Foreign Service Institute). FSI ini kemudian memilih Edward T. Hall dan beberpa ahli
antropologi dan bahasa termasuk Ray Birdwhistell dan George Trager untuk mengurus
keberangkatan dan kursus untuk para pekerja yang biasa keluar negeri. Karena bahan
pelatihan antarbudaya masih jarang/langka maka mereka mengembangkan keahlian
mereka sendiri. Alhasil, FSI memformulasikan cara baru untuk melihat baudaya dan
komunikasi, dan lahirlah studi komunikasi antarbudaya ( Martin, Thomas , 2007:44-45)
Istilah antarabudaya (interculture) pertama kali diperkenalkan oleh seorang
antroplog, Edward T.Hall pada 1959 dalam bukunya The Silent Language. Karya Hall
tersebut hanya menerangkan tentang keberadaab konsep-konsep unsur kebudayaan,
misalnya system ekonomi, religi, sistem pengetahuan sebagaimana apa adanya.
Hakikat perbedaan antarbudaya dalam proses komunikasi baru dijelaskan satu
tahun setelah itu, oleh David K. Berlo mealui bukunya The Process of Communication
menawarkan sebuah model proses komunikasi. Menurut Berlo, komuniksi akan berhasil
jika manusia memperhatikan faktor-faktor SMCR yaitu : source, messege, channel,
receiver.
Semua tindakan komunikasi itu berasal dari konsep kebudayaan. Berlo berasumsi
bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk melaksanakan tindakan itu.
Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan sangat penting terhadap perilaku komuniksi
seseorang termasuk memahami makna-makna yang dipersepsi terhadap tindakan
komuniksi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001:1-2).
Studi komunikasi antarbudaya, menggabungkan 2 unsur yaitu budaya dan
komunikasi. Hubungan antara budaya dan komunikasi begitu kompleks, perspektif
dialektis mengasumsikan bahwa budaya dan komunikasi saling berhubungan dan timbal
balik. Jadi, budaya mempengahui komunikasi dan sebaliknya. Menurut Burke dalam
Intercultural Communication in Context , untuk itu, kelompok budaya mempengaruhi
proses di mana persepsi dari realitas diciptakan dan dibangun: ’’semua komunitas di
semua tempat setiap waktu memanifestasikan pandangan mereka sendiri terhadap realitas
yang mereka lakukan. Keseluruhan budaya merefleksikan model realitas kontemporer’’.
Bagaimanapun, kita mungkin saja bisa mengatakan bahwa komunikasi membantu
menciptakan realitas budaya dari suatu komunitas ( Martin & Thomas, 2007: 92).
Rumusan objek formal komuniksi antarbudaya baru dipikirkan pada tahun
1970-1980an. ‘’Annual ‘’tentang komuniksi antarbudaya yang disponsori Speech
Communication Association, terbit pertama kali tahun 1974 oleh Fred Casmir dalam The
International anda Intercultural Communiction Annual. Kemudian Dan Landis
menguatkan konsep komunikasi anatarbudaya dalam International Journal of
Tahun 1979, Molefi Asante, Cecil Blake dan Eileen Newmark menerbitkan
sebuah buku khusus membicarakan komunikasi antarbudaya, yakni The Handbook of
Intercultural Communication . selanjutnya thun 1983 lahir International and Intercultural
Communication Annual yang dalam setiap volumenya mulai menempatkan rubrik khusus
untuk menampung tulisan tentang komunikasi antarbudaya. Edisi lain tentang komuniksi,
kebudayaan, proses kerja sama antarbudaya ditulis oleh Gundykunst, Stewart dan Ting
Toomey tahun 198, komunikasi anatretnik oleh Kim tahun 1986, adaptasi Lintas budaya
oleh Kim dan Gundykunst tahun 1988 dan terakhir komuniksi/bahasa dan kebudayaan
oleh Ting Toomey & Korzenny, tahun 1988 (Liliweri, 2001:2-3).
Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi, bagaimana
menjaga makna, pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu
diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik,
proses pendidikan , bahkan lingkungan lingkungan teknologi yang melibtakan interaksi
antarmanusia (Liliweri, 2004:10).
Young Yun Kim dalam Rahardjo mengatakan, tidak seperti studi-studi
komunikasi lain, maka hal yang terpenting dari komunikasi anatarbudaya yang
membedakannya dari kajian keilmuan lainnya adalah tingkat perbedaan yang realatif
tinggi pada latar belakang pengalaman pihak-pihak yang berkomunikasi karena adanya
perbedaan kutural. Selanjtnya menurut Kim, asumsi yang mendasari batasan tentang
komunikasi anatarbudaya adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang
sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan (homogenitas) dalam keseluruhan latar
belakang pengalaman mereak daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda
(Rahardjo, 2005: 52-53).
Selanjutanya, salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa