• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Interaksi Komunikasi Antar Budaya Pada Mahasiswa USU.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "“Interaksi Komunikasi Antar Budaya Pada Mahasiswa USU."

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

( Suatu Studi Deskriptif Terhadap Mahasiswa Etnik Pendatang Di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara )

Disusun Oleh HERIANTO SIHOTANG

(2)

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul “Interaksi Komunikasi Antar Budaya Pada Mahasiswa USU” dengan perumusan masalah, untuk mengetahui bagaimana proses dan faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi komunikasi antar budaya, antara Mahasiswa pendatang dengan Mahasiswa lokal di fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Jalan Universitas No.19 Medan.

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi serta proses yang mempengaruhi adaptasi Mahasiswa etnik pendatang sebagai komunikasi antarbudaya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dengan analisa tabel tunggal yang mana menggunakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan varibel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa kolom yang merupakan sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.

Adapun populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa pendatang di fakukltas Sastra Universitas Sumatera Utara yang teregistrasi pada bagian kemahasiswaan dari stambuk 2008-2010 yang berjumlah 952 orang. Sedangkan jumlah sampel yang diambil menurut rumus Taro Yamane sebesar 90 orang.

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaannirrahiim Assalamu’alaikum wr.wb

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan

rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.shalawat serta

salam tak lupa penulis panjatkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang senantiasa

kita harapkan syafaatnya di yaumil akhir.

Adapun judul dari penelitian ini adalah ”Interaksi Komunikasi Antar Budaya

Pada Mahasiswa USU (Suatu Studi Deskriptif Terhadap Mahasiswa Etnik Pendatang Di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara).” Penelitian ini dilakukan untuk melengkapi salah satu persyaratan yang harus ditempuh dalam menyelesaikan studi

Strata 1 (S1) pada program studi Ilmu Komunikasi FISIP di Universitas Sumatera Utara

(USU).

Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini adalah karena adanya motivasi,

masukan serta kritikan yang penulis peroleh dari berbagai pihak.oleh karena itu,penulis

pertama kali menyampaikan terima kasih kepada Bapakku S.Sihotang dan mamakku

R.Hasibuan yang telah berkorban untuk anaknya sampai saat ini dan mendukung penulis baik moril maupun materil. Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih untuk

Adik-adikku, Candra Kirana Sihotang dan istri Mariance Juliana Hasibuan beserta kedua ponakan ku, Prawira Aji Kirana dan adiknya Revaldi Kirana Sihotang,adikku Nopa Sartika Sihotang,dan adikku Neni Ad yang telah menjadi penyemangat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

Penghargaan yang tak ternilai penulis sampaikan kepada :

(4)

2. Bapak Drs. Amir Purba,MA,selaku Ketua Departemen Ilmu komunikasi Fisip

USU.

3. Ibu Dra. Dewi Kurniawati,M.Si,sekretaris Departemen Ilmu komunikasi Fisip

USU

4. Ibunda Dra. Lusiana A.Lubis,MA,Dosen Pembimbing yang telah banyak

memberikan masukan,bimbingan dan arahan kepada penulis untuk menyelesaikan

skripsi ini.

5. Seluruh Dosen Ilm ukomunikasi Fisip USU

6. Kak maya yang banyak membantu peneliti untuk mengurusi atministrasi peneliti

7. Abanganda Zulham, kepala tata tata usaha PD 1 sastra USU yang telah banyak

memberi bantuaan kepada penulis

8. Abangda Samsul Tarigan, Pembantu Dekan 2 Sastra yang telah banyak

memberikan banyak ilmu dan pengalaman sewaktu penulis masi kuliah di Sastra.

9. Abang-abang senioren yang ada di Sastra, Abangda Drs.Boyke Turangan

MSP,Abangda Drs.Yos Rizal,MSP,Abangda Efrison Coto SS,M.Hum,Abanda

Azrai MSP Abangda Sabriandi Erdian SS,M.Hum,Mas yono,Pak Win

Ariyoga,Alm Jhon Irwansah,Singa Maung, Juraidi tanjung, yang telah banyak

memberikan pengalaman kepada penulis

10.Kawan-kawan seperjuangan, Ansor Harahap, Murtopo MT, Palit Hanafi Lubis,

Mario Halawa, Jan Butar-butar, Frans Jun Manalu, Utan Rangga sona, Budi

Warsito,Palla Muara Dona Silaban,Pain dan lain-lain yang tak tertuliskan satu

persatu,semoga cepat sukses ya!!

11.Adik adik yang ada di Gemapala FS USU, dek Arfansyah, Frezer, Afrio landra,

Rocky Tanaka, Alfa reza Lubis, Yogi Satara, Nur Fatimah, heny, Iyan Siregar,

(5)

12.Kawan-kawan extensi Fisip angkatan 2008 yang telah pada tamat maupun yg

belum,yang belum mudah-mudahan cepat tamat ya!

13.Kantin mom yang telah banyak membantu Mahasiswa tempat hutang anak-anak

kurang mampu. Makasih atas bantuan yang mem berikan

14.Semua pihak yang belum tersebutkan diatas yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaannya,untuk itu dengan

segala kerendahan hati peneliti berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran

yang sifatnya membangun untuk perbaikan.semoga skripsi ini dapat memberikan

sembangan pemikiran kepada pembaca.

Medan, Desember 2010

Peneliti,

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI

KATA PENGANTAR ………..………...………..…i

DAFTAR ISI………...………..……….v

DAFTAR LAMPIRAN………..……….………...ix

BAB I PENDAHULUAN……….…...1

I.1 Latar Belakang Masalah….…….……….…….…...…..1

I.2 Perumusan Masalah…...……….………....…..5

I.3 Pembahasan masalah……...………..………...…...5

I.4 Tujuan Manfaat Penelitian ………..…...……...5

I.4.1 Tujuan Penelitian………...…..5

I.4.2 Manfaat Penelitian……….………..…...…..6

I.5 Kerangka Pemikiran……….…….…………6

I.5.1 Komunikasi Antarbudaya…………....……….……….6

I.5.1.1 Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi Antar budaya...7

I.5.1.2 Bahasa Sebagai Bagian Dari Kebudayaan………..9

I.5.1.3 Model Komunikasi antarbudaya……….11

I.5.2 Konsep Interaksi Dalam Komunikasi………14

I.5.3 Model Komunikasi ABX Newcomb (model keseimbangan)....…19

I.5.4 Teori Adaptasi Antar budaya……….21

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………..…..23

II.1 Hakekat Budaya dan Komunikasi Antarbudaya……….….23

(7)

II.1.2 Individualisme dan Kolektivisme………..……31

II.2 Terjadinya Komunikasi Antarbudaya………..32

II.2.1 Perspektif Interpretif sebagai Pendekatan Komunikasi Antarbudaya....38

II.2.2 Kompetensi Komunikasi Antarbudaya … ………… .…….41

II.3 Identitas Etnis………...44

II.3.1 Pengertian Identitas Etnis………....……44

II.3.2 Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis………49

II.4 Interaksionisme Simbolik………..…52

II.4.1 Pengertian Teori Interaksionisme Simbolik………....52

II.5 Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)....………..57

II.6 Remaja dan Persahabatan……….……….61

II.7 Konflik Dalam Hubungan Persahabatan……….……..64

BAB III METODOLOGI PENELITIAN………..…...70

III.1 Metode Penelitian………..…. 70 III.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……….…...70

III.3 Populasi dan Sampel……… ………… ……...70

III.3.1 Populasi………..…70

(8)

III.4 Teknik Pengumpulan

Data………...……….72

III.5 Teknik analisis Data………...………72

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……….74

IV.1 Deskripsi Lokasi Penelitian………..74

IV.1.1 Lokasi Penelitian…………...………74

IV.1.2 Keadaan Mahasiswa………. ..…..76

IV.2 Analisis Tabel Tunggal………...77

IV.2.1 Karakteristik Responden………...…...……….77

IV.2.2 Peranan Komunikasi Antarpribadi…………....…...……82

IV.2.3 Konflik Dalam Hubungan Persahabatan………...….…..93

IV.3 Pembahasan………...…..95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...….….99

V.1 Kesimpulan ………...99

(9)

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul “Interaksi Komunikasi Antar Budaya Pada Mahasiswa USU” dengan perumusan masalah, untuk mengetahui bagaimana proses dan faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi komunikasi antar budaya, antara Mahasiswa pendatang dengan Mahasiswa lokal di fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Jalan Universitas No.19 Medan.

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi serta proses yang mempengaruhi adaptasi Mahasiswa etnik pendatang sebagai komunikasi antarbudaya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dengan analisa tabel tunggal yang mana menggunakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan varibel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa kolom yang merupakan sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.

Adapun populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa pendatang di fakukltas Sastra Universitas Sumatera Utara yang teregistrasi pada bagian kemahasiswaan dari stambuk 2008-2010 yang berjumlah 952 orang. Sedangkan jumlah sampel yang diambil menurut rumus Taro Yamane sebesar 90 orang.

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, peradaban manusia telah berkembang demikian kompleksnya.

Manusia selain sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok dan berkomunikasi

dengan sesamanya, juga sebagai individu-individu dengan latar belakang budaya yang

berlainan. Mereka saling bertemu, baik secara tatap muka maupun melalui media

komunikasi. Maka tidaklah heran, perkembangan dunia saat ini semakin menuju pada

suatu global village (desa dunia). Hal ini menimbulkan anggapan bahwa sekarang ini

komunikasi antarbudaya semakin penting dan semakin vital ketimbang di masa-masa

sebelum ini.

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita dihadapkan dengan

bahasa-bahasa, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang berbeda. Sulit bagi kita untuk memahami

komunikasi dengan orang yang berbeda budaya bila kita sangat etnosentrik. Begitupun

dengan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka, komunikasi antarbudaya lebih penting lagi

mengingat bangsa kita terdiri dari berbagai suku, agama, ras, etnik, dan golongan.

Interaksi antaretnis dan antarbudaya adalah realitas sosial yang tidak dapat

dihindari terlebih di era globalisasi dewasa ini. Interaksi yang tidak dikelola secara baik

dapat menimbulkan konflik dan ketidakseimbangan relasi. Interaksi yang tidak sehat

dapat saja terjadi oleh karena stereotype, prejudice dan sikap etnosentrisme. Padahal

interaksi yang baik menuntut adanya saling keterbukaan, saling pengertian dan upaya

untuk masuk dan beradaptasi dengan budaya lain.

Setiap kelompok etnik pendatang memiliki kebudayaan, nilai, norma dan pola

(11)

kebudayaan dikenal istilah etnosentrime, yang berarti suatu keyakinan kelompok

pendukung satu kebudayaan bahwa nilai dan norma kebudayaan yang mereka anut lebih

unggul. Dengan demikian dapat diberi batasan pengertian bahwa yang dimaksud dengan

etnik pendatang adalah orang yang berasal dari daerah lain yang memiliki kebudayaan,

nilai, norma, dan polak kelakuan yang belum tentu sama dengan penduduk lokal. Artinya

bahwa tidak terbatas pada suatu wilayah geografi saja melainkan dari luar wilayah

geografi, misalnya saja etnik minangkabau, jawa, malaysia, amerika, dan lain-lain adalah

termasuk ke dalam kelompok etnik pendatang, bila konteksnya adalah Kota Medan.

Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di kota-kota besar seperti Kota Medan,

pertemuan kita dengan orang dari daerah lain yang berbeda budaya tidak terhindarkan

lagi. Seperti dikemukakan Margarete Schwezer (dalam Mulyana dan Rahmat, 2003:215)

perbedaan antar daerah tersebut khusus dapat ditemukan dalam bahasa, struktur ekonomi,

struktur sosial, agama, norma-norma, gaya interaksi dan pemikiran, serta sejarah lokal.

Kota Medan sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia yang akan menuju pada

kota megapolitan nantinya, memiliki masyarakat majemuk, karena selain masyarakat tuan

rumah (etnik Batak/Melayu), juga terdapat etnik-etnik pendatang dari berbagai pelosok

nusantara bahkan luar negeri. Sebagai tamu, etnik pendatang harus mampu untuk

berinteraksi dan beradaptasi dengan etnik Batak/Melayu. Paraetnik yang berasal dari

berbagai daerah di Indonesia ini ada yang sudah berdomisili atau menetap (settlers)

terutama mereka yang umumnya mengadu nasib dengan mencari sumber

penghidupan/bekerja dan ada yang tidak menetap (sojourners) hanya untuk melanjutkan

sekolah di kota Medan. Seperti Mahasiswa etnik pendatang yang studi di Fakultas Sastra

Universitas Sumatera Utara Medan.

Banyaknya mahasiswa etnik pendatang yang melanjutkan studi Di Fakultas Sastra

(12)

karena Universitas Sumatera Utara termasuk salah satu Universitas Negeri di Indonesia.

Selain itu, motivasi mereka kuliah di Medan adalah salah satu orangtua mereka

merupakan etnik Batak atau Melayu namun sudah menetap di kota lain. Ataupun

disebabkan ada salah satu keluarga mereka yang sudah menetap di Kota Medan, serta

motivasi klise yaitu keinginan untuk merantau jauh dari kampung halaman dan pesona

gadis-gadis Kota Medan yang terkenal akan kecantikannya.

Para mahasiswa pendatang tersebut tentunya akan memasuki budaya yang berbeda

dengan budaya etnik asal. Ketika memasuki budaya baru kemungkinan mahasiswa etnik

pendatang mengalami gegar budaya (culture shock) sehingga menimbulkan kecemasan

karena kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial sebelumnya.

Tanda-tanda tersebut meliputi seribu satu cara yang biasa kita lakukan sehari-hari seperti;

kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang lain,

bagaimana berbelanja, kapan menerima dan kapan menolak undangan, ucapan apa yang

harus dikatakan jika ingin turun dari angkutan kota, dan lain-lain. Perbedaan

petunjuk-petunjuk ini mungkin dalam bentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah,

kebiasaan-kebiasaan, norma-norma, dan bahkan makanan.

Kalvero Oberg (dalamMulyana Dan Rahmat, 2003:174) menyatakan gegar budaya

(culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan

yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan keluar daerah

asal. Sebagaimana penyakit lainya, gegar budaya ini dapat diatasi oleh etnik pendatang

dengan adaptasi terhadap budaya setempat. Young Yun Kim (dalam Mulyana dan

Rahmat, 2003:146) mengemukakan setiap individu pendatang untuk jangka waktu pendek

ataupun panjang harus beradaptasi dan berinteraksi dengan budaya tuan rumah.

Demikian pula para mahasiswa etnik pendatang yang studi Di Fakultas Sastra

(13)

berbeda-beda ini memasuki suatu budaya baru yang tentunya banyak mengalami hal-hal

baru. Cara untuk memahami hal baru tersebut melalui proses adaptasi terhadap budaya

setempat yaitu dengan budaya etnik Batak atau Melayu agar dapat diterima dan

berinteraksi dengan lingkungannya.

Akhirnya, berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis yang merupakan bagian dari

etnik lokal (tempatan) berkeinginan untuk mengetahui interaksi komunikasi antarbudaya

pada mahasiswa etnik pendatang di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan

dalam sebuah karya ilmiah.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka

dikemukakan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimaina proses dan

faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa

pendatang dengan mahasiswa lokal (tempatan) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera

Utara.

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka masalah yang akan dibahas dalam

penelitian ini adalah:

1) Bagaimana adaptasi mahasiswa etnik pendatang berlangsung sebagai komunikasi

(14)

2) Apa yang mempengaruhi proses interaksi mahasiswa etnik pendatang Di Fakultas

Sastra Universitas Sumatera Utara Medan

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :

1) Mengetahui bagaimana adaptasi mahasiswa etnik pendatang berlangsung sebagai

komunikasi antarbudaya Di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan

2) Mengetahui proses yang mempengaruhi adaptasi mahasiswa etnik pendatang Di

Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan

1.4 Manfaat Penelitian dan mamfaat penelitian

Manfaat Teoritis : diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi

ilmiah bagi perkembangan ilmu komunikasi, khususnya dalam konteks komunikasi

antarbudaya.

1.5 Kerangka Pemikiran

1.5.1. Komunikasi Antarbudaya

Pada dasarnya, antara komunikasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak

bisa dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan itu terletak pada variasi

langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok

social. Yang menjadi pusat perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi

bagaimana menjajaki makna, model tindakan dan bagaimana makna serta model‐model

itu diartikulasi sebuah kelompok sosial yang melibatkan interaksi antar manusia.

Dari penjelasan tersebut, berikut beberapa pendapat tentang definisi komunikasi

(15)

orang‐orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antar suku bangsa, antar etnik, ras

dan kelas sosial. (Andrea L. dan Dennis dalam Liliweri, 2003:12)

Kedua, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi antara produsen

pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. (Samovar dan

Porter dalam Liliweri, 2003:12). Ketiga, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi

yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok,

dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku

komunikasi para peserta. (Charley H. Dood dalam Liliweri, 2003:12) Dari beberapa

definisitadi, Nampak jelas bahwa factor fungsi‐fungsi dan hubungan‐hubungan antara

komponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antar budaya. Namun, yang

menjadi ciri utama dari suatu komunikasi antarbudaya yaitu adanya komunikator dan

komunikan berasal dari budaya yang berbeda. Maka dari itu, komunikasi antar budaya

dapat disimpulkan sebagai komunikasi yang komunikatornya adalah anggota suatu

budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya.

1.5.1.1 Bahasa sebagai Bagian Dari Kebudayaan

Bahasa berfungsi sebagai medium perantara informasi dari satu tempat ke tempat

yang lain. (Samovar dan Porter, 2003, p.186). Peran bahasa dalam budaya dapat dilihat

sebagai suatu perkembangan karena bahasa adalah suatu tindakan simbolik yang

menciptakan suatu substansi dari budaya. Dalam studi kebudayaan, bahasa ditempatkan

sebagai sebuah unsur penting selain unsur‐unsur lain seperti system pengetahuan, mata

pencaharian, adat istiadat, kesenian dan sistem peralatan hidup. Bahkan bahasa dapat

dikategorikan sebagai unsure kebudayaan yang berbentuk non material selain nilai, norma

(16)

Sebagaimana diketahui, kebudayaan hanya ditemukan dalam masyarakat manusia

sebab hanya manusialah yang dapat mengembangkan sistem simbol dan

menggunakannya secara lebih baik, apalagi simbol-simbol itu dibentuk dalam

kebudayaan. Secara sederhana, simbol dapat diartikan sebagai sesuatu yang mewakili

sesuatu, dan frekuensi penggunaanya yang paling tinggi ada dalam bahasa. Bahasa yang

digunakan oleh semua komunitas suku bangsa didunia terdiri dari susunan kata-kata,

kata-kata disusun oleh simbol sehingga bahasa merupakan susunan berlapis-lapis dari

simbol yang ditata menurut ilmu bahasa. Pada gilirannya, simbol-simbol itu (baik yang

berasal dari bunyi maupun ucapan) dibentuk oleh sebuah kebudayaan sehingga kata‐kata

maupun bahasa dibentuk pula oleh kebudayaan. Oleh karena itu, bahasa merupakan

kbudaya yang sangat penting yang mempengaruhi penerimaan kita, perilaku kita perasaan

dan kecenderungan kita untuk bertindak menanggapi dunia sekeliling. Dengan kata lain,

bahasa mempengaruhi kesadaran kita, aktivitas dan gagasan kita, benar atau salah, moral

atau tidak bermoral, dan baik atau buruk. Bahasa atau peristiwa mempengaruhi cara

berpikir seseorang atau caranya memandang dunia.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan salah satu unsur

penting dari kebudayaan yang berbentuk nonmaterial, bahasa mencerminkan budaya.

Orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga memiliki cara pandang yang

berbeda. Selain itu, bahasa juga merupakan intisari dari fenomena social. Karena tanpa

adanya bahasa, tidak mungkin ada masyarakat.

1.5.1.2 Model Komunikasi Antarbudaya.

Sesuai dengan subyek penelitian yang sedang dikaji, kita dihadapkan pada

(17)

komunikasi interpersonalnya itu harus disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik

dalam budaya lain. Namun sekalipun budaya itu turut mempengaruhi pribadi (frame of

references and field of experiences) seseorang, tapi tidak 100%. Jika dilihat dari perilaku

yang nampak pada proses komunikasi seseorang, bentuknya tidak akan 100% sama

dengan bentuk budaya yang ia anut. Pengaruh budaya terhadap proses penyandian dan

penyandian balik dalam komunikasi interpersonal terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2. Model Komunikasi Antarbudaya

Budaya C

Sumber: Deddy Mulyana dan Jalalludin,2002

Gambar ini menunjukkan adanya tiga budaya yang berbeda yang diwakili oleh

tiga bentuk geometric yang berbeda. Bentuk budaya A dan budaya B hampir serupa,

namun lain dengan budaya C yang bentuknya jauh berbeda. bbbbbBb

(18)

Dalam setiap budaya ada bentuk lain individu yang agak serupa dengan bentuk

budaya itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa individu yang telah dibentuk oleh budaya.

Bentuk individu sedikit berbeda dari bentuk budaya yang mempengaruhinya. Ini

menggambarkan adanya pengaruhpengaruh lain di samping budaya yang membentuk

individu dan sekalipun budaya itu dominant dalam mempengaruhi individu, orang-orang

dalam suatu budaya pun memiliki sifat‐sifat yang berbeda.

Sementara model Gudykunst dan Kim mengasumsikan bahwa dua orang yang

terlibat dalam kegiatan komunikasi ini mempunyai kedudukan yang sama, sama-sama

sebagai pengirim sekaligus penerima pesan, serta sama-sama melakukan enconding dan

deconding. Hal tersebut mengakibatkan pesan suatu pihak sekaligus juga adalah umpan

balik bagi pihak laiinnya yang ditunjukkan oleh adanya garis dari penyandian seseorang

ke penyandian balik orang lain dan dari penyandian orang kedua ke penyandian balik

orang pertama. Sedangkan kedua garis umpan balik atau pesan itu menunjukkan bahwa

setiap kita berkomunikasi, secara bersamaan kita melakukan penyandian dan penyandian

balik. Dengan kata lain, komunikasi yang terjadi itu tidak statis.

Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian dan penyandian balik terhadap pesan

merupakan suatu proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang

dikategorikan menjadi factor-faktor kultur, sosiokultur dan psikokultur yang nampak pada

lingkaran dengan garis putus-putus. Garis putus-putus itu sendiri menggambarkan bahwa

ketiga factor ini saling berhubungan dan mempengaruhi. Selain itu, kedua individu yang

terlibat juga terletak dalam suatu kotak dengan garis putus-putus yang berarti mewakili

pengaruh lingkaran. Hal ini sekali lagi menggambarkan bahwa lingkaran tersebut

bukanlah suatu sistem tertutup.

Pengaruh kultur dalam model ini meliputi penjelasan mengenai kemiripan dan

(19)

(individualisme atau kolektivisme). Sebab ini akan mempengaruhi perilaku komunikasi

kita.

Pengaruh sosiokultur akan nampak pada proses penataan sosial yang berkembang

berdasarkan interaksi dengan orang lain ketika pola-pola perilaku menjadi konsisten

dengan berjalannya waktu. Ada empat faktor utama dalam sosiobudaya yaitu :

keanggotaan kita dalam kelompok sosial, konsep diri kita, ekspektasi peran kita, dan

definisi kita mengenai hubungan antarpribadi.

Dimensi psikokultur mencakup proses penataan pribadi. Penataan pribadi ini

adalah proses yang memberi stabilitas pada proses psikologis. Faktor-faktor dalam

psikobudaya adalah stereotip dan sikap terhadap kelompok lain. Kedua factor ini akan

menciptakan pengharapan mengenai bagaimana orang lain akan berperilaku, dan pada

akhirnya akan mempengaruhi cara kita menafsirkan stimulus yang dating dan prediksi

kita tentang perilaku orang lain.

Ada pula unsur lain yang melengkapi model Gudykunst dan Kim yaitu

lingkungan. Lingkungan akan mempengaruhi kita dalam melakukan penyandian dan

penyandian balik suatu pesan. Yang dimaksudkan dengan lingkungan adalah mencakup

(20)

1.5.1.3 Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi Antar Budaya

Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai komunikasi antar budaya, hal yang

terpenting didalamnya yang membedakan dengan kajian ilmu komunikasi lainnya adalah

adanya perbedaan yang relatif tinggi pada latar belakang dari pihak‐pihak yang terkait

dalam proses komunikasi.

Adapun penyebab perbedaan ini tak lain adalah perbedaan budaya.

Perbedaan-perbedaan budaya bersama-sama dengan Perbedaan-perbedaan-Perbedaan-perbedaan lain dalam diri seorang

individu (misalnya kepribadian individu, umur, jenis kelamin, dan penampakan fisik)

dapat memberikan kontribusi pada sifat permasalahan yang melekat dalam komunikasi

antarmanusia. Menurut Lewis dan Slade, ada tiga perbedaan yang paling mendasar dalam

proses komunikasi antar budaya yaitu kendala bahasa, perbedaan nilai dan perbedaan pola

perilaku kultural. (Lewis dan Slade dalam rahardjo, 2005:54). Ketiga hal ini bisa

mengakibatkan kemacetan dalam proses komunikasi antarbudaya.Namun selain itu, ada

pula beberapa faktor penghambat lain seperti etnosentrisme, prasangka dan stereotip.

Etnosentrisme merupakan tingkatan dimana individu-individu menilai budaya

orang lain sebagai inferior terhadap budaya mereka (Rogers & Steinfatt dalam rahardjo,

2005:55).Tanpa memandang siapa individu yang terlibat dan bagaimana budayanya,

etnosentrisme selalu muncul sebagai penghambat terjalinnya komunikasi antar budaya

yang efektif. Perlu diketahui, etnosentrisme itu biasanya dipelajari oleh setiap individu

dalam keadaan tidak sadar, namun selalu diekspresikan dalam keadaan sadar, sehingga

perlu adanya kewaspadaan terhadap perilaku etnosentrisme tersebut.

Stereotip adalah generalisasi tentang beberapa kelompok orang yang sangat

menyederhanakan realitas (Rogers & Steinfatt dalam rahardjo, 2005:57).Sikap seperti ini

seringkali nampak ketika seseorang menilai orang lain pada basis kelompok etnis tertentu,

(21)

sebenarnya ketika seseorang sedang melakukan kontak antar budaya dengan individu lain,

pada dasarnya seseorang tersebut sedang berkomunikasi dengan identitas etnis dari

individu tersebut.

Yang menjadi permasalahan utama dalam proses komunikasi antarbudaya adalah

ketika individu-individu yang terkait yang notabene berbeda budaya itu memfokuskan

secara destruktif stereotip negatif yang mereka pegang masing-masing, sehingga persepsi

mereka tidak akan berubah.

Prasangka adalah sikap yang kaku terhadap suatu kelompok yang didasrkan pada

keyakinan atau pra konsepsi yang keliru, juga dapat dipahami sebagai penilaian yang

tidak disadari. (Rogers & Steinfatt dalam rahardjo, 2005:.55).Berdasarkan penilaian tadi,

sikap prasangka telah membuat seseorang memasang pagar pembatas terhadap orang lain

dalam pergaulan dan justru seseorang akan cenderung menjadi emosional ketika

prasangka terancam oleh hal-hal yang bersifat kontradiktif. Itu sangat menghalangi

seseorang untuk dapat melihat kenyataan secara akurat.

Biasanya sikap prasangka diekspresikan melalui komunikasi. Dari uraian tentang

stereotip dan prasangka, perbedaan utama diantara keduanya adalah jika prasangka

merupakan sikap (attitude), namun kalau stereotip merupakan keyakinan (belief). Tapi,

keduanya sama-sama dapat menjadi positif maupun negatif. Baik stereotip maupun

prasangka akan mempengaruhi persepsi seseorang ketika melakukan kontak antarbudaya

dalam berbagai cara.

1.5.2 Konsep Interaksi dalam Komunikasi

Adanya aktivitas-aktivitas dalam kehidupan sosial menunjukkan bahwa manusia

mempunyai naluri untuk hidup bergaul dengan sesamanya (disebut gregariousness).

(22)

disamping kebutuhan akan; afeksi (kebutuhan akan kasih sayang), inklusi (kebutuhan

akan kepuasan), dan kontrol (kebutuhan akan pengawasan). Dalam pemenuhan

kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut akan mendorong manusia untuk melakukan interaksi

dengan sesamanya, baik untuk mengadakan kerjasama (cooperation) maupun untuk

melakukan persaingan (competition).

Kata interaksi berasal dari Bahasa Inggris interaction artinya suatu tindakan yang

berbalasan. Dengan kata lain suatu proses hubungan yang saling pengaruh

mempengaruhi. Jadi interaksi sosial (social interaction) adalah suatu proses berhubungan

yang dinamis dan saling pengatuh mempengaruhi antar manusia.

Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack dalam buku Sociology and

Social Life menyatakan bahwa : “Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan

sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.

Sementara itu Soerjano Soekamto dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar menyatakan

bahwa : “Interaksi sosial (yang juga dinamakan proses sosial) merupakan syarat utama

terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.”

Interaksi antar manusia dimaksud adalah :

a) interaksi antara individu dengan individu,

b) interaksi antara individu dengan kelompok, dan

c) interaksi antara kelompok dengan kelompok.

Hasil dari pada interaksi sosial ada dua sifat kemungkinan :

a. Bersifat positif; suatu interaksi yang mengarah kerjasama dan menguntungkan.

Contoh persahabatan.

b. Bersifat negatif; suatu interaksi yang mengarah pada suatu pertentangan yang

(23)

Berdasarkan hasil interaksi yang negatif tersebut di atas maka itulah yang menjadi

hambatan dalam proses Komunikasi Interpersonal. Dalam situasi pertentangan

Komunikasi Interpersonal tidak dapat dilaksanakan dengan baik, kalau pun dipaksakan

dilaksanakan pasti kegiatan Komunikasi Interpersonal efeknya tidak akan berhasil.

Sehubungan dengan komunikasi antarbudaya. Dalam khasanah ilmu pengetahuan

kata kebudayaan/budaya merupakan terjemahan dari kata culture. Kata culture sendiri

berasal dari Bahasa Latin dari kata colere yang berarti mengolah, mengerjakan,

menyuburkan, dan mengembangkan tanah/pertanian.

E.B. Taylor yang dikutip Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Ilmu

Antropologi menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks

yang meliputi keyakinan dan cara hidup suatu masyarakat yang dipelajari oleh manusia

sebagai anggota masyarakat. Keyakinan adalah keseluruhan idea yang dianut meliputi

religi, pemerintahan, ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan adat istiadat. Cara hidup adalah

pola-pola tindakan yang berhubungan dengan soal kebiasaan meliputi makanan, pakaian,

perumahan, cara-cara perkawian, hiburan, estetika dan sebagainya.

Rapl Linton menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah keseluruhan dari

pengetahuan, sikap, pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan

diwariskan oleh anggota suatu masysrakat tertentu.”

Koentjaraningrat (1984:25) menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah keseluruhan

sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat

yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.” Dari beberapa definisi kebudayaan

tersebut di atas dapat disimpulkan dan juga telah disepakati beberapa ahli antropologi,

bahwa kebudayaan dan tindakan kebudayaan itu adalah segala tindakan yang harus dilalui

(24)

Berkaitan dengan hal tersebut di atas hal tersebut sesuai dengan fungsi komunikasi

menurut Harol D. Lasswell yang ketiga yaitu; The transmission of the social heritage

from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada

kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi

ke generasi lain. Itulah fungsi komunikasi terutama Komunikasi Interpersonal. (Liliweri,

2003: 75)

Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana kedudukan kultur atau budaya dalam

proses kegiatan Komunikasi Interpersonal. Untuk sementara ini para ahli baru meninjau

hanya mengenai hambatan budaya/kulur dalam proses Komunikasi Interpersonal terutama

kegiatan Komunikasi Interpersonal lintas budaya, yaitu diantaranya :

a. Menyampaikan pesan pada orangθ yang berlainan kultur akan mengundang

perbedaan persepsi terhadap isi pesan sehingga efek yang diharapkan akan sukar

timbul.

b. Menyampaikan pesan verbal pada orang yang berlainan kultur tentu saja akan

banyak perbedaan dalam bahasa sehingga dalam proses kegiatan Komunikasi

Interpersonal tersebut selain hambatan dalam bahasa juga terdapat hambatan

semantic, yaitu perbedaan peristilahan dalam masing-masing bahasa.

c. Menyampaikan pesan verbal pada orang yang berlainan kulturθ disertai

penekanan pesan dengan pesan non-verbal mungkin akan mengundang penafsiran

berbeda hingga tujuan penyampaian pesan tidak akan tersampaikan.

d. Menyampaikan pesan pada orang yang berlainan kulturθ jika bertentangan dengan

adat-kebisaannya, norma-normanya maka akan terjadi penolakan Komunikasi

Interpersonal.

Sehubungan dengan komunikasi antarbudaya antara seseoarang dengan orang lain

(25)

persis sama, bahkan pasangan anak kembar pun yang dibesarkan sama-sama dalam

lingungan keluarga yang sama pengalamannya tidak akan persis sama bahkan mungkin

akan berbeda.

Perbedaan pengalaman antara individu (bahkan antar anak kembar) ini bermula

dari perbedaan persepsi masing-masing tentang sesuatu hal. Perbedaan persepsi tersebut

banyak disebabkan karena perbedaan kemampuan kognitif antara individu termasuk anak

kembar tersebut, sedangkan bagi individu yang saling berbeda budaya tentu saja

perbedaan persepsi tersebut karena perbedayaan budaya. Perbedaan persepsi tersebut

kemudian ditambah dengan perbedaan kemampuan penyimpanan hal yang dipersepsi tadi

dalam strorage sirkit otak masing-masing individu tersebut menjadi long-term

memory-nya. Setelah itu perbedaan akan berlanjut dalam hal perbedaan kemampuan mereka

memanggil memori mereka jika diperlukan.

Perbedaan pengalaman tentu saja menjadi hambatan dalam Komunikasi

Interpersonal, karena seperti telah di bahas di muka bahwa terjadinya heterophilious

karena salah satunya diakibatkan perbedaan pengalaman. Sehingga jika terjadi

heterophilious maka proses Komunikasi Interpersonal tidak akan berjalan dan tujuan

penyampaian pesan pun tidak akan tercapai. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan

oleh Lubis (2002:4) bahwa, jika pesan-pesan yang disampaikan melampau batas-batas

kebudayaan, yang dapat terjadi adalah apa yang dimaksud oleh pengirim dalam suatu

konteks tertentu akan diartikan dalam konteks yang lain lagi oleh penerima. Dalam situasi

antar budaya demikian, dapat dikatakan hanya sedikit saja atau tidak sama sekali “ko -

orientasi yang merupakan persyaratan bagi komunikasi umumnya”. Dengan ko-orientasi

yang dimaksud ialah bahwa antara dua pihak yang berkomunikasi seharusnya terdapat

persamaan dalam orientasi terhadap topik dari komunikasi mereka. Atau dapat juga

(26)

dengan individu-individu lain yangserupa dalam hal karekteristik-karekteristik sosial

dengannya.

Bahkan lebih jauh lagi Lubis (2002) mengatakan bahwa

d

alam komunikasi

manusia, agaknya diperlukan juga keseimbangan diantara kesamaan dan tidak kesamaan,

antara yang sudah dianggap biasa dengan sesuatu yang baru. Ada suatu proposisi dasar

yang menyatakan bahwa kekuatan pertukaran informasi pada komunikasi (antara dua

orang) ada hubungannya dengan derajat heterofili antara mereka. Dengan kata lain, orang

akan menerima hal-hal baru, yang informasional, justru melalui ikatan-ikatan yang lemah.

Heterofili adalah derajat perbedaan dalam beberapa hal tertentu antara pasangan-pasangan

individu yang berinteraksi

1.5.3 Model Komunikasi ABX Newcomb (Model Keseimbangan)

Salah satu teori atau model yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah

Model ABX Newcomb dari Theodore Newcomb. Model komunikasi yang dikembangkan Newcomb merupakan model komunikasi antar pribadi. Melalui modelnya

ini Newcomb menggambarkan tentang dinamika hubungan komunikasi antara dua

individu mengenai suatu objek yang dipersoalkan mereka. Pendekatan Theodore

Newcomb (dalam Effendy, 2000:260) terhadap komunikasi adalah pendekatan seorang

pakar psikologi sosial berkaitan dengan interaksi manusia.

Gambar 1. Model Komunikasi ABX Newcomb

X

(27)

Berdasarkan gambar di atas dapat diilustrasikan sebagai berikut. Dalam model

Newcomb ada dua individu (A) dan (B) berorientasi terhadap satu sama lain dan terhadap

objek, manusia atau benda (X). Model ini merupakan pengembangan dari hasil pemikiran

psikolog Heider. Menurut Teori Heider ada dua orang (A) dan (B) yang saling menyukai,

disamping itu ada orang ketiga atau benda lain (X), maka hubungan A dan B disebut

Balanced atau seimbang. Sebaliknya jika A suka pada B dan B suka pada A, namun A

suka pada X tetapi B tidak suka pada X maka hubungan mereka unbalanced atau tidak

seimbang. Bila hubungan seimbang maka tiap pihak akan menentang perubahan. Juka

hubungan tidak seimbang maka akan timbul usaha-usaha untuk memulihkan

keseimbangan tersebut.

Newcomb mengembangkan Teori Heider menjadi hubungan antara dua atau lebih

manusia. Newcomb mengembangkan postulate = dalil (pendapat yang dikemukakan

sebagai kebenaran): A strain symmentry = tekanan menuju kesamaan. Sebagai akibatnya:

bidangpersamaan pendapat akan meluas dengan mengadakan komunikasi. Newcomb

mengemukakan assumption = anggapan komunikasi menyelenggarakan fungsi pokok

yang memungkinkan dua orang atau lebih memelihara perhatian terus –menerus terhadap

satu sama lain dan terhadap objek-objek lingkungan luar mereka. Dengan demikian:

komunikasi adalah a learned response to strain = reaksi yang dipelajari terhadap tekanan

dan bahwa kita ingin memperoleh lebih banyak kegiatan komunikasi (memberi, mencari

dan bertukar informasi) di dalam kondisi ketidakpastian dan ketidakseimbangan.

Model ini mengingatkan kepada diagram jaringan kelompok kerja yang dibuat

para psikologi sosial dan merupakan awal formulasi konsistensi kognitif. Menurut

Newcomb, yang kemudian dikenal dengan sebutan “model keseimbangan”, pola

komunikasi yang terjadi antara dua individu mempunyai dua bentuk atau situasi

(28)

orang yang berkomunikasi tentang suatu hal/objek sama-sama mempunyai sikap

menyukai atau selera yang sama terhadap hal/objek yang dibicarakan. Keadaan tidak

seimbang terjadi apabila terdapat perbedaan sikap diantara kedua orang tersebut. Namun,

apabila keadaan tidak seimbang ini terjadi, umumnya masing-masing pihak akan

berupaya untuk mengurangi perbedaan sehingga keadaan “relatif seimbang” bisa tercapai.

Sementara kalau keadaan seimbang terjadi masing-masing pihak berusaha untuk

terus mempertahankannya. Menjaga keseimbangan inilah yang menurut Newcomb

merupakan hakekat utama dari komunikasi antar pribadi (McQual dan Windahl dalam

Effendy, 2000:262).

Model ABX dari Theodore Newcomb jika dikaitkan dengan penelitian ini adalah

keadaan mahasiswa etnik pendatang yang tidak seimbang dalam berkomunikasi dengan

etnik tuan rumah (etnik Batak/Melayu), sehingga agar keadaan menjadi relatif seimbang

salah satu pihak yaitu etnik pendatang harus bisa mengurangi keadaan yang tidak

seimbang tersebut dengan cara beradaptasi.

1.5.4 Teori Adaptasi Antar Budaya

pendekatan kedua yang dijadikan landasan berfikir dalam penelitia ini adalah Teori

Adaptasi Antarbudaya yang dikemukakan oleh Young Yun Kim (dalam Liliweri, 2001:82) tentang pengalaman-pengalaman adaptasi antarbudaya dari individu-individu

yang tumbuh, dilahirkan dan ditingkatkan pada suatu kebudayaan kemudian pindah ke

kebudayaan lain. Beberapa perspektif teori ini diambil dari beberapa konsep dan

prinsip-prinsip dari “teori sistem umum” yang menekankan ciri-ciri dinamik holisentrik, interaktif

dari individu-individu sebagai sistem komunikasi terbuka. Proses dan hasil adaptasi

antarbudaya secara teoritis berdasarkan pada perspektif “teori sistem umum” , yang

(29)

dijelaskan sebagai suatu proses komunikasi dimana orang-orang asing mempelajari dan

mendapatkan bentuk-bentuk komunikasi dominan dari masyarakat tuan rumah. Orang

asing memperoleh bentuk-bentuk komunikasi kultural dari

masyarakat tuan rumah dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan sosial baru

melalui komunikasi.

Adaptasi merupakan proses pengambangan dari organisme manusia untuk berusaha

menurunkan keseimbangan internal dari stress yang berkepanjangan dengan

meningkatkan kemampuan komunikasi tuan rumah dan berpartisipasi melalui komunikasi

antar pribadi dan aktifitas komunikasi massa dengan lingkungan masyarkat tuan rumah.

Sebagaimana ditunjukan oleh para imigran tetap dan tidak tetap yang secara sukses

berhasil mengatasi situasi yang menekan dan mentransformasikan diri mereka secara

adaptif. Seperti Young Yun Kim kemukakan (dalam Mulyana dan Rahmat, 2003:138)

bahwa pada saatnya seorang imigran akan menggunakn cara-cara berprilaku masyarakat

(30)

1.5.5 Kerangka konsep

Kerangka konsep adalah hasil pemikiran rasional, yang bersipat kritis dalam

memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai (Nawawi.1995:40).

Kerangka konsep dapat berupa teori-teori yang sudah ada dan bahkan berupa

kemungkinan-kemungkinan implementasi hasil penelitian bagi kehidupan nyata.

Adapun konsep-konsep dapat diteliti secara empiris,maka harus dioperasionalkan

dengan mengubahnya menjadi variable. Suatu variable adalah konsep tingkat rendah,yang

acuan-acuanya secara relatif mudah diidentifikasikan dan diobservasi serta mudah

diklasifikasi, diurut atau di ukur (Kriyantono,2006:20). Dalam penelitian ini

variable-variabel yang akan diteliti adalah:

a. Variabel Bebas (X) adalah sejumlah gejala,factor,atau unsur yang menentukan atau

mempengaruhi munculnya gejala,factor,atau unsure lainya. Dengan kata lain variable

bebas adalah variable yang mempengaruhi variable lain (variable terikat/Y). variabel

bebas dalam penelitian ini adalah komunikasi antarbudaya.

b. Variabel terikat (Y)

Variabel terikat adalah sejemlah gejala atau factor maupun unsur yang ada atau muncul

yang ditentukan oleh adanya variabel bebas dan bukan karena adanya variabel lain.

(31)

Variabel (X) Komunikasi Antar Budaya

Variabel (Y)

Interaksi Mahasiswa Pendatang 1.5.6 Model Teoritis

Model teoritis merupakan desain penelitian berdasarkan variabiabel yang telah

ditetapkan,yaitu:

berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan diatas, maka untuk

lebih memudahkan penelitian perlu dibuat operasionel variabel-variabel sebagai berikut :

Variabel Teoritis Variabel Oprasioanal Variabel Bebas (X)

Komunikasi Antar Budaya :

(32)

a. Interaksi Pribadi

b. Perasaan Pikiran

4. Member Dukungan

a. Member Pendapat

b. Bekerja Sama

c. Memberi Penghargaan

1.5.7 Definisi Operasional

Definisi operasional menyatakan bagaimana operasi atau kegiatan yang harus

dilakukan untuk memperoleh data atau indicator yang menunjukkan konsep dimaksud

(irawan,1995:29), maka variabel yang perlu didefinisikan sebagai berikut:

A. Komunikasi antarbudaya indikatornya adalah Etnosentrisme merupakan suatu

kecenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya

sebagai yang mutlak dan digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak

terhadap semua budaya lain. Indikatornya yaitu:

1. Prasangka social

Prasangka social adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai negative yang diwarnai

oleh perasaan sesaat, artinya kondisi emosional yang berperan menimbulkan

prasangka social. Factor-faktor yang mempengaruhi prasangka social yaitu :

a. Kepribadian

Dalam perkembangan kepribadian seseorang akan terliat pula pembentukan

prasangka sosialanya,karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa

curiga, berpikir dogmatis dan berpola pada diri sendiri.

(33)

semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka sangat mempengaruhi

cara berpikirnya.

c. Status Sosial

status social sangat mempengaruhi seseorang dalam proses pembentukan

prasangka social.

2. Stereotip

Stereotif adalah citra yang dimiliki sekelompok orang tentang sekelompok orang

lainya. Stereotip biasanya negative dan dinyatakan sebagai sifat-sifat kepribadian

tertentu antara lain yaitu:

a. Mendengar

Tidak jarang kita mendengar hal negative yang sama tentang sekelompok

orang,misalnya:orang sunda suka basa-basi,orang padang pelit,orang batak kasar

dan sebagainya.

b. mengganggu

akibat citra negatif yang melekat pada kelompoknya menyebabkan

kelompok lain suka mengganggunya.

B. interaksi mahasiswa Pendatang merupakan hubungan-hubungan atau

kontak-kontak social yang dinamis dalam kompus yang menyangkat hubungan antara

mahasiswa local dengan Mahasiswa pendatang dalam upaya mencapai

tujuan-tujuan tertentu. Indikatornya adalaha:

(34)

Keterbukaan merupakan suasana sikap komunikator yang menerima dan

memahami semua pesan tentang cirri dan sifat khas komunikan. Keadaan

ini ditunjukkan melalui:

a. Perhatian

Perhatian merupakan bentuk tanggapan terhadap keberadaan orang lain yang

(35)

b. Sikap

sikap merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan cara-cara tertentu

terhadap objek sikap yang diwujudkan dalam penerimaan perbedaan,saling

pengertian dan sikap menghargai.

2. Empati

Empati merupakan suasana emosional komunikator yang menerima dan

memahami semua pesan tentang komunikan sama seperti sikap komunikan

menerima dan memahami dirinya,dengan cara:

a. Menerima perbedaan

Menerima perbedaan merupakan asumsi dari perbedaan dan teori realitas

majemuk yang diperlukan untuk menjembatani pemisahan inividu yang

terkandung dengan cara menerima perbedaan.

b. Mengenali diri

Mengenali diri merupakan pengembangan Empati melalui mengenal diri kita

secukupnya sehingga dimungkinkan peneguhan kembali identitas individual

secara mudah dengan menyadari nilai,asumsi,dan keyakinan individu secara

cultural.

3. Merasa positif

Merasa positif merupakan suatu perasaan komunikator tentang pribadi

komunanikannya serta situasi yang melibatkan keduanya sangat

mendukung untuk dipahami. Perasaan positif tersebut antara lain:

a. sebagai suasana interaksi pribadi

dimana komunikator merasa bahwa pesan-pesan tentang pribadinya

(36)

4. Memberi dukungan

Memberi dukungan merupakan pemahaman sikap komunikator untuk

mempertahankan diri dalam berinteraksi dengan orang lain dengan cara

(37)

BAB II Uraian Teoritis

II.1 Hakekat Budaya dan Komunikasi Antarbudaya

Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai

aspek, seperti adanya keberagaman suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan

sebagainya. Di lain pihak, perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini dengan

mobilitas dan dinamika yang sangat tinggi, telah menyebabkan dunia menuju ke arah

“desa dunia” (global village) yang hampir tidak memiliki batas-batas lagi sebagai akibat

dari perkembangan teknologi modern. Oleh karenanya masyarakat (dalam arti luas) harus

sudah siap menghadapi situasi-situasi baru dalam konteks keberagaman kebudayaan atau

apapun namanya. Interaksi dan komunikasi harus pula berjalan satu dengan yang lainnya,

adakah sudah saling mengenal atau pun belum pernah sama sekali berjumpa apalagi

berkenalan. Dalam berkomunikasi dengan konteks keberagaman kebudayaan kerap kali

menemui masalah atau hambatan-hambatan yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya

saja dalam penggunaan bahasa, lambang-lambang, nilai atau norma-norma masyarakat

dan lain sebagainya. Pada hal syarat untuk terjalinya hubungan itu tentu saja harus ada

saling pengertian dan pertukaran informasi atau makna antara satu dengan lainnya. Dari

itu mempelajari komunikasi dan budaya merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan.

Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata

uang. Budaya menjadi bagian dari prilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi

pun turut menentukan memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya seperti

yang dikatakan Edward T. Hall bahwa komunikasi adalah Budaya dan Budaya adalah

komunikasi. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk

(38)

masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasike

generasi berikutnya. Pada sisi lain, budaya merupakan norma-norma atau nilai-nilai yang

dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.

Tidak banyak orang menyadari bahwa bentuk-bentuk interaksi antarbudaya

sesungguhnya secara langsung atau tidak melibatkan sebuah komunikasi. Pentingnya

komunikasi antarbudaya mengharuskan semua orang untuk mengenal panorama

dasar-dasar komunikasi antarbudaya itu.

Dalam kenyataan sosial, manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau

dia tidak berkomunikasi. Dapat dikatakan pula bahwa interaksi antar-budaya yang efektif

sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Maka dari itu kita perlu tahu apa-apa

yang menjadi unsur-unsur dalam terbentuknya proses komunikasi antarbudaya, yang

antara lain adalah adanya komunikator yang berperan sebagai pemrakarsa komunikasi;

komunikan sebagai pihak yang menerima pesan; pesan/simbol sebagai ungkapan pikiran,

ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk

simbol.

Komunikasi itu muncul, karena adanya kontak, interaksi dan hubungan antar

warga masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Sehingga “kebudayaan adalah

komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan, begitulah kata Edward T. Hall. Jadi

sebenarnya tak ada komunitas tanpa kebudayaan, tidak ada masyarakat tanpa pembagian

kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain,

tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa komunikasi.

Di sinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya itu.

Menurut Alo Liliweri (pakar komunikasi antarbudaya) mengatakan bahwa sebagai

bagian dari tuntutan glabalisasi yang semakin tidak terkendali seperti saat ini, mendorong

(39)

sektoral. Belum lagi perubahan-perubahan global lainnya yang semakin deras dan

menjadi bukti nyata bahwa semua orang harus mengerti karakter komunikasi antarbudaya

secara mendalam.

Lebih lanjut, Alo Liliweri menjelaskan bahwa esensi komunikasi terletak pada

proses, yakni sesuatu aktivitas yang “melayani” hubungan antara pengirim dan penerima

pesan melampaui ruang dan waktu. Itulah sebabnya mengapa semua orang pertama-tama

tertarik mempelajari komunikasi manusia (human communication), sebuah proses

komunikasi yang melibatkan manusia kemarin, kini, dan mungkin di masa yang akan

datang.

Sedangkan budaya atau kebudayaan menurut Burnett Taylor dalam karyanya yang

berjudul Primitive Culture, adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian,

hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh

manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Di samping mengetahui pengertian

kebudayaan kita juga harus mengetahui unsur-unsur kebudayaan manusia yang antara lain

adalah sejarah kebudayaan, identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian,

bahasa dan interaksi, stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas kebudayaan dan nilai,

etnosentrisme, perilaku non-verbal, hubungan antar ruang, konsep tentang waktu,

pengakuan dan ganjaran, pola pikir, dan aturan-aturan budaya.

Jadi yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya ialah komunikasi

antarpribadi yang dilakukan mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan. Jadi, suatu

proses kumunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh

sejumlah orang (karena memiliki keragaman) memberikan interpretasi dan harapan secara

berbada terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna

yang dipertukarkan.

(40)

menghendaki adanya interaksi sosial. Menurut Jackson (1967), menekankan bahwa isi

(content of communication) komunikasi tidak berbeda dalam sebuah ruang yang

terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) esensial dalam bentuk relasi (relations).

Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan

komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain.

Tingkat ketidakpastian itu akan berkurang manakala kita mampu meramalkan secara tepat

proses komunikasi. Karena itu, dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak

dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi.

Demikian pula, dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat

tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa

tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila

bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi

untuk memperbarui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan

memperbaharui sebuah manejemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat

kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi,

mengurangi konflik yang seluruhnya merupakan bentuk dari komunikasi antarbudaya.

Karena itu, terjadinya kesenjangan dalam masyarakat seringkali disebabkan oleh

datangnya perubahan dari luar. struktur sosial baru berdasarkan profesi dan fungsi yang

lebih rasional mengakibatkan perubahan relasi. Dalam kaitannya dengan komunikasi

antar budaya, perubahan-perubahan yang datang dari dalam maupun dari luar sangat

berpengaruh terhadap perubahan relasi antar budaya. Akibat kontak, interaksi dan

hibingan antar anggota masyarakat yang berbeda kebudayaannya, muncullah komunikasi

antarbudaya.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada komunitas tanpa budaya, tidak ada

(41)

informasi. Dengan kata lain tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada

kebudayaan tanpa adanya komunikasi. Disinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi

antarbudaya. Semua fenomena itu, selain karena disebabkan perubahan yang ada, juga

karena kurangnya komunikasi. Akhirnya, memerlukan sebuah komunikasi antarbudaya

guna mengurangi kesalahpahaman di antara sesama manusia.

Komunikasi antarbudaya terjadi ketika dua atau lebih orang dengan latar belakang

budaya yang berbeda berinteraksi. Proses ini jarang berjalan dengan lancar dan tanpa

masalah. Dalam kebanyakan situasi, para pelaku interaksi antarbudaya tidak

menggunakan bahasa yang sama, tetapi bahasa dapat dipelajari dan masalah komunikasi

yang lebih besar terjadi dalam area baik verbal maupun nonverbal. Khususnya,

komunikasi nonverbal sangat rumit, multidimensional, dan biasanya merupakan proses

yang spontan. Orang-orang tidak sadar akan sebagian besar perilaku nonverbalnya

sendiri, yang dilakukan tanpa berpikir, spontan, dan tidak sadar (Samovar, Larry A. dan

Richard E. Porter, 1994). Kita biasanya tidak menyadari perilaku kita sendiri, maka

sangat sulit untuk menandai dan menguasai baik perilaku verbal maupun perilaku

non-verbal dalam budaya lain. Kadang-kadang kita merasa tidak nyaman dalam budaya lain

karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Khususnya, perilaku nonverbal jarang

menjadi fenomena yang disadari, dapat sangat sulit bagi kita untuk mengetahui dengan

pasti mengapa kita merasa tidak nyaman.

Pentingnya komunikasi antarbudaya dikarenakan interaksi sosial keseharian kita

itu adalah sesuatu yang tak dapat ditolak. Di dalam percakapan biasa antara dua orang

terjadi sekitar 35% komponen verbal sedangkan 65% lagi terjadi dalam komponen

nonverbal (Ray L. Birdwhistell, 1969). Namun demikian, studi sistematis tentang

komuniksi nonverbal telah lama diabaikan. Studi komunikasi secara tradisional

(42)

komuniksi yang lain. Sepertinya telah ada semacam praduga yang tidak beralasan

mengenai bidang tersebut. Misalnya, kebanyakan program-program pengajaran bahasa

asing sering mengabaikan perilaku komunikasi nonverbal.

Dewasa ini, pengetahuan mengenai kebudayaan-kebudayaan asing, baik itu

melalui kontak langsung maupun tidak langsung melalui media massa merupakan

peng-alaman umum yang semakin banyak. Namun demikian, ketidaktahuan umum akan

adanya perbedaan-perbedaan antara perilaku komunikasi nonverbal mereka sendiri

de-ngan perilaku nonverbal kebudayaan asing telah membaut orang awam berpikiran bahwa

gerakan-gerakan tangan dan ekspresi wajah adalah sesuatu yang universal.

Pada kenyataannya, hanya sedikit saja yang mempunyai makna universal

khusus-nya adalah tertawa, tersenyum, tanda marah, dan menangis. Karena itulah, orang

cen-derung beranggapan bahwa bila mereka berada dalam suatu kebudayaan yang berbeda di

mana mereka tidak mengerti bahasanya mereka mengira bisa aman dengan sekedar

mengetahui gerakan-gerakan manual. Namun karena manusia memiliki pengalaman

hidup yang berbeda di dalam kebudayaan yang berbeda, ia akan menginterpretasikan

secara berbeda pula tanda-tanda dan simbol-simbol yang sama (Bennet, Milton J., 1998).

Telah dikenal ribuan anekdot mengenai kesalahpahaman akibat komunikasi

antarbudaya antara orang-orang dari budaya yang berbeda-beda. Karena besarnya jumlah

pasangan budaya, dan karena kemungkinan kesalahpahaman berdasarkan bentuk verbal

maupun perilaku nonverbal antara tiap pasangan budaya sama besarnya, maka terdapat

banyak anekdot mengenai hal-hal tentang antarbudaya yang mungkin dibuat. Yang

diperlukan adalah cara untuk mengatur dan memahami banyaknya masalah yang mungkin

timbul dalam komunikasi antarbudaya. Sebagian besar perbedaan dalam komunikasi

(43)

II.1.1 Keakraban dan Kebebasan Mengungkapkan Perasaan

Tindakan keakraban merupakan tindakan yang secara simultan mengungkapkan

kehangatan, kedekatan, dan kesiapan untuk berkomunikasi. Tindakan-tindakan itu lebih

menandai pendekatan daripada penghindaran dan kedekatan daripada jarak. Contoh

tindakan keakraban misalnya senyuman, sentuhan, kontak mata, jarak yang dekat, dan

animasi suara. Budaya yang menunjukkan kedekatan atau spontanitas antarpersonal yang

besar dinamakan “budaya kontak” karena orang-orang dalam negara-negara ini biasa

berdiri berdekatan dan sering bersentuhan. Orang-orang dalam budaya kontak yang

rendah cenderung berdiri berjauhan dan jarang bersentuhan.

Sangat menarik bahwa budaya kontak tinggi biasanya terdapat di negara-negara

hangat dan budaya kontak rendah terdapat di negara-negara beriklim sejuk. Banyak

penelitian yang menunjukkan bahwa yang termasuk mempunyai budaya kontak adalah

negara-negara Arab, Perancis, Yunani, Itali, Eropa Timur, Rusia, dan Indonesia.

Negara-negara dengan budaya kontak rendah misalnya Jerman, Inggris, Jepang, dan Korea

(Samovar, Larry A., Richard E. Porter and Lisa A. Stefani, 1998). Jelas bahwa budaya di

iklim dingin cenderung berorientasi hubungan antarpersonalnya ‘dingin’, sedangkan

budaya di iklim hangat cenderung berorientasi antarpersonal dan ‘hangat’. Bahkan,

orang-orang di daerah hangat cenderung menunjukkan kontak fisik lebih banyak daripada

(44)

II.1.2 Individualisme dan Kolektivisme

Salah satu dimensi paling fundamental yang membedakan budaya adalah tingkat

individualisme dan kolektivisme. Dimensi ini menentukan bagaimana orang hidup

bersama, dan nilai-nilai mereka, dan bagaimana mereka berkomunikasi. Kajiannya

tentang individualisme dalam lima puluh tiga negara, negara yang paling individualistik

secara berurutan adalah Amerika, Australia, Inggris, Kanada, dan Belanda yang

semua-nya negara Barat atau Eropa. Negara yang paling rendah tingkat individualismesemua-nya

adalah Venezuela, Kolombia, Pakistan, Peru, dan Taiwan yang semuanya budaya Timur

atau Amerika Selatan. Korea berurutan ke-43 dan Indonesia berurutan ke-47. Tingkat

yang menentukan suatu budaya itu individualistik atau kolektivistik mempunyai dampak

pada perilaku nonverbal budaya tersebut dalam berbagai cara. Orang-orang dari budaya

individualistik relatif kurang bersahabat dan membentuk jarak yang jauh dengan orang

lain. Budaya-budaya kolektivistik saling tergantung, dan akibatnya mereka bekerja,

bermain, tidur, dan tinggal berdekatan dalam keluarga besar atau suku. Masyarakat

industri perkotaan kembali ke norma individualisme, keluarga inti, dan kurang dekat

dengan tetangga, teman, dan rekan kerja mereka (Hofstede, Geert, 1980).

Orang-orang dalam budaya individualistik juga lebih sering tersenyum daripada

orang-orang dalam budaya yang cenderung ketimuran. Keadaan ini mungkin dapat

dijelaskan dengan kenyataan bahwa para individualis bertanggungjawab atas hubungan

mereka dengan orang lain dan kebahagiaan mereka sendiri, sedangkan orang-orang yang

berorientasi kolektif menganggap kepatuhan pada norma-norma sebagai nilai utama dan

kebahagiaan pribadi atau antarpersonal sebagai nilai kedua. Secara serupa, orang-orang

dalam budaya kolektif dapat menekan penunjukan emosi baik yang positif maupun yang

negatif yang bertentangan dengan keadaan dalam kelompok karena menjaga keutuhan

(45)

untuk mengungkapkan emosi karena kebebasan pribadi dihargai paling tinggi. Penelitian

mengenai hal tersebut mengungkapkan bahwa orang-orang dalam budaya individualistik

lebih akrab secara nonverbal daripada orang-orang dalam budaya kolektif.

II.2 Terjadinya Komunikasi Antarbudaya

Akar dari studi komunikasi antarbudaya dapat ditemukan dari era Perang Dunia

Kedua, ketika Amerika mendominasi panggung dunia. bagaimanapun, disadari

pemerintah dan pebisnis bekerja melewati benua, dan berpindah-pindah dan akhirnya

mereka sering menyadari perbedaan budaya yang terjadi. Kendala utama adalah bahasa,

bagimana mereka harus mempersiapkan ini dan hal ini menjadi tantangan bagi

komunikasi lintasbudaya yang mereka jalani.

Sebagai respon, pemerintah Amerika pada tahun 1946 membangun sebuah FSI

(Foreign Service Institute). FSI ini kemudian memilih Edward T. Hall dan beberpa ahli

antropologi dan bahasa termasuk Ray Birdwhistell dan George Trager untuk mengurus

keberangkatan dan kursus untuk para pekerja yang biasa keluar negeri. Karena bahan

pelatihan antarbudaya masih jarang/langka maka mereka mengembangkan keahlian

mereka sendiri. Alhasil, FSI memformulasikan cara baru untuk melihat baudaya dan

komunikasi, dan lahirlah studi komunikasi antarbudaya ( Martin, Thomas , 2007:44-45)

Istilah antarabudaya (interculture) pertama kali diperkenalkan oleh seorang

antroplog, Edward T.Hall pada 1959 dalam bukunya The Silent Language. Karya Hall

tersebut hanya menerangkan tentang keberadaab konsep-konsep unsur kebudayaan,

misalnya system ekonomi, religi, sistem pengetahuan sebagaimana apa adanya.

Hakikat perbedaan antarbudaya dalam proses komunikasi baru dijelaskan satu

tahun setelah itu, oleh David K. Berlo mealui bukunya The Process of Communication

(46)

menawarkan sebuah model proses komunikasi. Menurut Berlo, komuniksi akan berhasil

jika manusia memperhatikan faktor-faktor SMCR yaitu : source, messege, channel,

receiver.

Semua tindakan komunikasi itu berasal dari konsep kebudayaan. Berlo berasumsi

bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk melaksanakan tindakan itu.

Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan sangat penting terhadap perilaku komuniksi

seseorang termasuk memahami makna-makna yang dipersepsi terhadap tindakan

komuniksi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001:1-2).

Studi komunikasi antarbudaya, menggabungkan 2 unsur yaitu budaya dan

komunikasi. Hubungan antara budaya dan komunikasi begitu kompleks, perspektif

dialektis mengasumsikan bahwa budaya dan komunikasi saling berhubungan dan timbal

balik. Jadi, budaya mempengahui komunikasi dan sebaliknya. Menurut Burke dalam

Intercultural Communication in Context , untuk itu, kelompok budaya mempengaruhi

proses di mana persepsi dari realitas diciptakan dan dibangun: ’’semua komunitas di

semua tempat setiap waktu memanifestasikan pandangan mereka sendiri terhadap realitas

yang mereka lakukan. Keseluruhan budaya merefleksikan model realitas kontemporer’’.

Bagaimanapun, kita mungkin saja bisa mengatakan bahwa komunikasi membantu

menciptakan realitas budaya dari suatu komunitas ( Martin & Thomas, 2007: 92).

Rumusan objek formal komuniksi antarbudaya baru dipikirkan pada tahun

1970-1980an. ‘’Annual ‘’tentang komuniksi antarbudaya yang disponsori Speech

Communication Association, terbit pertama kali tahun 1974 oleh Fred Casmir dalam The

International anda Intercultural Communiction Annual. Kemudian Dan Landis

menguatkan konsep komunikasi anatarbudaya dalam International Journal of

(47)

Tahun 1979, Molefi Asante, Cecil Blake dan Eileen Newmark menerbitkan

sebuah buku khusus membicarakan komunikasi antarbudaya, yakni The Handbook of

Intercultural Communication . selanjutnya thun 1983 lahir International and Intercultural

Communication Annual yang dalam setiap volumenya mulai menempatkan rubrik khusus

untuk menampung tulisan tentang komunikasi antarbudaya. Edisi lain tentang komuniksi,

kebudayaan, proses kerja sama antarbudaya ditulis oleh Gundykunst, Stewart dan Ting

Toomey tahun 198, komunikasi anatretnik oleh Kim tahun 1986, adaptasi Lintas budaya

oleh Kim dan Gundykunst tahun 1988 dan terakhir komuniksi/bahasa dan kebudayaan

oleh Ting Toomey & Korzenny, tahun 1988 (Liliweri, 2001:2-3).

Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi, bagaimana

menjaga makna, pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu

diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik,

proses pendidikan , bahkan lingkungan lingkungan teknologi yang melibtakan interaksi

antarmanusia (Liliweri, 2004:10).

Young Yun Kim dalam Rahardjo mengatakan, tidak seperti studi-studi

komunikasi lain, maka hal yang terpenting dari komunikasi anatarbudaya yang

membedakannya dari kajian keilmuan lainnya adalah tingkat perbedaan yang realatif

tinggi pada latar belakang pengalaman pihak-pihak yang berkomunikasi karena adanya

perbedaan kutural. Selanjtnya menurut Kim, asumsi yang mendasari batasan tentang

komunikasi anatarbudaya adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang

sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan (homogenitas) dalam keseluruhan latar

belakang pengalaman mereak daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda

(Rahardjo, 2005: 52-53).

Selanjutanya, salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa

Gambar

Gambar 2. Model Komunikasi Antarbudaya
Gambar 1. Model Komunikasi ABX Newcomb
Table 1. Tiga pendekatan Komunikasi Antarbudaya
Tabel 3. Usia
+7

Referensi

Dokumen terkait

FISIP USU dapat dilihat dari intensitas penggunaan Twitter dengan interaksi sosial mahasiswa FISIP USU, Twitter membantu mahasiswa FISIP USU dalam berinteraksi sesame teman,

Model Proses Komunikasi antar budaya mahasiswa keturunan Tionghoa dengan mahasiswa suku Sunda. (Informan : Rendy &

Peran komunikasi antar budaya masyarakat dalam menyelesaikan konflik adalah interaksi antara orang-orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya cukup berbeda

Dari hasil wawancara yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa komunikasi antar budaya mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi pertama pada saat pertama

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan culture shock yang dialami mahasiswa asal Papua angkatan 2012 di USU dalam interaksi komunikasi antarbudaya.

Mahasiswa mampu Mampu memahami dan menjelaskan bagaimana kebudayaan mempengaruhi komunikasi antar budaya, keberadaan kesenian dalam komunikasi antar budaya, bahasa dan interaksi dalam

KESIMPULAN Pola komunikasi antar budaya yang digunakan mahasiswa dalam mengurangi konflik antar etnik di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang yaitu komunikasi dilakukan secara

viii ABSTRAK Deli Melia, 2022: Implementasi Komunikasi Antar budaya Pada Pasangan Perkawinan Antar budaya Pasangan Suami Istri Muallaf di Kuta Bali Kata Kunci: Komunikasi antar