i
MODEL KOMUNIKASI RISIKO KESIAPAN MASYARAKAT
MENGHADAPI BENCANA GUNUNG API
EDI PUSPITO
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Model Komunikasi Risiko Kesiapan Masyarakat Menghadapi Bencana Gunung Api adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bencana Gunung Api. Dibimbing oleh SUMARDJO, TITIK SUMARTI dan PUDJI MULJONO.
Komunikasi mengacu pada tindakan satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan, terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh dan ada kesempatan melakukan umpan balik. Dalam komunikasi setidaknya terdapat unsur partisipan, pesan, dan saluran informasi.
Komunikasi risiko merupakan proses berbagi makna mengenai bahaya fisik seperti lokasi kerja yang berbahaya, pencemaran lingkungan, penyakit dan lain-lain baik melalui komunikasi tatap muka maupun bermedia. Komunikasi risiko membutuhkan kepercayaan yang mencakup kompetensi, obyektivitas, keadilan, konsistensi dan keyakinan. Dengan kata lain keyakinan ini didasarkan pada catatan masa lalu yang baik. Adapun komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana adalah kondisi fisik dan mental seseorang yang mendasari pengelolaan informasi dalam menghadapi risiko bencana gunung api.
Perilaku merupakan proses pengolahan informasi melibatkan panca indra dan proses berpikir yang akan ditampilkan dalam bentuk gerak maupun disimpan di dalam memori. Perilaku manusia didasari oleh motivasi atau dorongan, baik dorongan biologis, insting maupun dorongan dari lingkungan. Dalam teori perilaku terencana, keinginan untuk melakukan suatu tindakan didasari atas pengetahuannya, keyakinan atas norma subyektif dan keyakinan mengontrol sumber daya.
Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh faktor alam yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana alam identik dengan ketidakmampuan masyarakat terdampak bencana untuk mengatasi sendiri dengan menggunakan sumber daya sendiri, sehingga masyarakat terdampak bencana membutuhkan pertolongan dari pihak lain. Oleh sebab itu peran komunikasi sangat diperlukan dalam penanganan bencana yang membutuhkan peran multi aktor.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana perilaku komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api dalam kesiapan menghadapi bencana gunung api. Untuk itu disusun indikator kesiapan menghadapi bencana gunung api yang merujuk pada konsep readiness dari Armenakis, model komunikasi antar manusia dari DeVito, model memori Wough dan Norman, dan teori perilaku terencana dari Fishbein dan Ajzen.
masyarakat menghadapi bencana gunung api di wilayah rawan bencana gunung api.
Pendekatan penelitian kuantitatif yang diperkuat kualitatif dengan metode survei dan wawancara mendalam serta pengamatan aktivitas komunikasi masyarakat. Penelitian dilakukan di Desa Dukun Kecamatan Dukun dan Desa Jumoyo Kecamatan Salam Kabupaten Magelang Jawa Tengah, serta Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman DI Yogyakarta. Jumlah sampel sebanyak 200 dibagi secara proporsional pada tiga wilayah, serta masing-masing wilayah terbagi atas laki-laki dan perempuan dengan proporsi yang sama. Penentuan sampel dilakukan secara acak sederhana menggunakan perangkat lunak Microsoft excel.
Hasil penelitian antara lain menunjukkan a) laki-laki dan perempuan berbeda nyata pada tingkat pendidikan dan status pekerjaannya, pendidikan responden memiliki hubungan nyata dengan lama tinggal di wilayah rawan bencana dan status pekerjaan; b) masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak bencana berbeda memilliki perilaku komunikasi yang berbeda; c) dalam hal manfaat komunikasi, tidak terdapat perbedaan nyata dalam hal manfaat komunikasinya; d) masyarakat di wilayah R3 yang mengalami dampak paling parah memiliki kerentanan paling tinggi dalam hal komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api; e) penguasaan media yang diarahkan kepada kemanfaatan komunikasi merupakan faktor penentu kesiapan menghadapi bencana gunung api; f) strategi untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana gunung api diarahkan kepada penguasaan media komunikasi dan manfaat komunikasi agar masyarakat di wilayah bencana gunung api lebih siap menghadapi bencana gunug api.
EDI PUSPITO. Model of Risk Communication Readiness in Facing Volcanic Disaster. Under supervision of SUMARDJO, TITIK SUMARTI and PUDJI MULJONO.
Communication refers to the act of one person or more, which send and receive messages distorted by interference, occurs in a particular context, has an effect and there is opportunity to give a feedback. There are element in communication; participants, message, and channel information.
Risk communication is the process of sharing meaning about the physical dangers such as hazardous work sites, environmental pollution, diseases, etc., either through face-to-face or through mediated communication. Risk communication requires trust which includes competence, objectivity, fairness, consistency and faith. In other words, this belief is based on the past record that is good. Communication of disaster readiness is physical and mental condition of a person's underlying information management of encounter volcano disaster risk.
Behavior is a process of information processing that involves sensory and thought processes that will be displayed in the form of motion and kept in memory. Human behavior based on motivation or encouragement, either biological urge, instinct and impulse of the environment. In the theory of planned behavior, a desire to perform an action based on the knowledge, belief of subjective norm and belief to control the resource.
The natural disaster is a disaster caused by natural factors that threaten and disrupt the lives and livelihood of the society resulting the emergence of human fatalities, damage of environmental, loss of property and things, and psychological impact. Natural disaster is identical with disaster affected people inability to cope on their own by using their own resources, therefore the disaster affected people need help from others. Therefore, the role of communication is needed in disaster management that requires a multi actor role.
Issues raised in this study was how communication behavior of people in disaster prone area mostly for their readiness to face volcano disaster risk. Therefore a paradigm of readiness to face volcano disaster that refers to the concept of readiness by Armenakis, model of communication among people by DeVito, Norman and Wough memory model, and the theory of planned behavior by Fishbein and Ajzenin.
The main objective of this study are to: (a) analyze people profile in volcano disaster prone area that has many variations; (b) analyze communication behavior of people in disaster prone area, mainly in readiness to face volcano disaster; (c) analyze the use of people communication media in disaster prone area, mainly in readiness to face volcano disaster; (d) analyze risk communication of readiness to face volcano disaster of people, who live in volcano disaster prone area; (e) analyze determining factors of communication benefit in readiness of people in volcano disaster prone area to face volcano disaster; (f) to design communication
strategy for community’s readiness in facing volcanic disaster in volcanic disaster
and Wukirsari in DI Yogyakarta. Total sample of 200 persons divided proportionally into 3 regions, and sample in each region was divided into men and women with the same proportion. Sampling was conducted using simple random method with a software named Microsoft excel.
The results of the research are among others showed that: (a) men and women were significantly different at the educational level and occupation status,
respondent’s educational level was related significantly with the length of stay in
the disaster prone area and with the occupation status; (b) the community who stayed in different disaster exposure revealed different communication behavior; (c) there was no significant difference, in terms of its communication benefit; (d) community in the R3 area, who experienced the most severe disaster effects, showed the highest vulnerability in terms of risk communication for readyness in facing volcanic disaster; (e) the skill in using communication media, which was directed into communication benefit was the determinning factors of readiness in facing volcanic disaster; (f) strategy to improve readiness in facing the volcanic disaster was directed into the skill in using communication media and communication benefit so that the community in the volcanic disaster areas would be more ready in facing volcanic disaster.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2015
Penguji luar komisi :
Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Dr Ir Djuara P Lubis, MS 2. Dr Ir Sarwititi, MS
NIM : I362100091
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Prof Dr Ir Sumardjo, MS Ketua
Dr Ir Titik Sumarti, MS Anggota
Dr Ir Pudji Muljono, MSi Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Dr Ir Djuara P Lubis, MS
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MscAgr
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2012 ini ialah Komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api, dengan judul Model Komunikasi Risiko Kesiapan Masyarakat Menghadapi Bencana Gunung Api.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof Dr Ir Sumardjo, MS, Ibu Dr Ir Titik Sumarti, MS dan Dr Ir Pudji Muljono, MSi selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada para sesepuh, budayawan, penggiat radio komunitas di wilayah Gunung Merapi serta para relawan di lingkup Jalin Merapi, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga dan teman-teman yang telah membantu baik secara moril maupun materiil.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
xv
DAFTAR TABEL xvi DAFTAR GAMBAR xviii 1 PENDAHULUAN
Latar belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan penelitian 6
Kegunaan Penelitian 6
Ruang Lingkup Penelitian 7
2 KERANGKA TEORITIS DAN EMPIRIS
Tinjauan Pustaka 10
Kerangka Berpikir 27
Metode Penelitian 40
3 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN PROFIL MASYARAKAT DI WILAYAH RAWAN BENCANA GUNUNG API
Abstrak 49
Pendahuluan 49
Metode 50
Hasil dan Pembahasan 51
Simpulan 57
4 PERILAKU KOMUNIKASI
Abstrak 58
Pendahuluan 58
Metode 59
Hasil dan Pembahasan 60
Simpulan 73
5 MANFAAT KOMUNIKASI BAGI MASYARAKAT DI WILAYAH RAWAN BENCANA GUNUNG API
Abstrak 74
Pendahuluan 74
Metode 75
Hasil dan Pembahasan 76
Simpulan 89
6 MODEL DAN FAKTOR PENENTU KESIAPAN MENGHADAPI RISIKO BENCANA GUNUNG API
Abstrak 90
Pendahuluan 90
Metode 92
Hasil dan Pembahasan 93
Simpulan 113
Masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientsai nilai budaya manusia
Partisipan komunikasi penurunan risiko masa tanggap darurat letusan Gunung Merapi 2010
Klasifikasi media menurut jenis, pengguna, dan sasaran Struktur pengelola sistem informasi bencana
Kegiatan komunikasi pada berbagai status bencana Komunikasi dan kesiapan menghadapi perubahan
Perbedaan pengetahuan, sikap, keyakinan dan respon yang siap dan yang rentan menghadapi bencana gunung api
Perbedaan keterampilan bermedia antara rentan dan siap menghadapi bencana gunung api
Perbedaan karakteristik partisipan yang rentan dan yang siap menghadapi bencana gunung api
Jumlah kepala keluarga dan proporsi sampel 3 desa lokasi penelitian
Indikator kelompok variabel karakteristik individu (X1) Indikator kelompok variabel persepsi terhadap partisipan (X2 Dimensi persepsi terhadap partisipan
Indikator kelompok variabel penguasaan media komunikasi (X3)
Dimensi penguasaan media komunikasi
Indikator kelompok variabel keterampilan penggunaan media (X4)
Dimensi keterampilan menggunakan media komunikasi Indikator kelompok variabelintervensi media (X5) Dimensi tingkat kepercayaan terhadap intervensi media Indikator kelompok variabelfaktor lingkungan (X6) Dimensi Dukungan Lingkungan
Indikator kelompok variabelmanfaat komunikasi (Y1) Dimensi manfaat komunikasi
Definisi operasional dan dimensi kelompok variabelsiaga bencana (Y2)
Sebaran responden menurut indikator pada variabel karakteristik individu dan menurut wilayah terdampak bencana
26
gunung api , serta hasil uji beda Kruskal Wallis
Sebaran responden berdasarkan indikator pada variabel karakteristik individu dan hasil uji beda Mann Whitney berdasarkan jenis kelamin
Hasil uji Rank Spearman hubungan antar indikator pada variabel karakteristik individu responden di wilayah rawan bencana gunung api
Sebaran responden berdasarkan variabel perilaku komunikasi dan wilayah terdampak bencana, serta hasil uji beda Kruskal Wallis berdasarkan wilayah terdampak bencana berbeda
Hasil uji Kruskal Wallis perbedaan persepsi terhadap sumber informasi berdasar jenis kelamin dan status pekerjaan
Koefisien korelasi hasil uji Rank Spearman terhadap hubungan persepsi terhadap partisipan dengan tingkat pendidikan formal dan lama tinggal responden di wilayah terdampak bencana Sebaran responden berdasarkan karakteristik individu dan tingkat penguasaan media komunikasi
Sebaran responden menurut wilayah terdampak bencana gunung api dan alasan tidak menguasai media komunikasi Hasil uji Kruskal Wallis terhadap perbedaan penguasaan media berdasar jenis kelamin dan status pekerjaan
Hasil uji Rank Spearman terhadap hubungan penguasaan media komunikasi dengan tingkat pendidikan formal dan lama tinggal di wilayah rawan bencana gunung api
Sebaran responden berdasarkan karakteristik individu dan tingkat keterampilan penggunaan media komunikasi
Hasil uji Kruskal Wallis beda jenis informasi yang diakses oleh responden berdasar jenis kelamin dan status pekerjaan
Koefisien korelasi hasil uji Rank Spearman hubungan jenis informasi yang diakses dengan tingkat pendidikan dan lama tinggal di wilayah rawan bencana gunung api
Sebaran responden berdasar karakteristik individu dan proporsi jenis informasi yang diakses
Sebaran tingkat kepercayaan masyarakat terhadap berbagai tayangan di media radio dan TV
Sebaran masyarakat berdasar persepsi tentang pengaruh lingkungan terhadap kesiapan menghadapi bencana gunung api Sebaran responden berdasar tingkat manfaat komunikasi dan wilayah penelitian
Sebaran tingkat keterampilan komunikasi, tingkat manfaatkomunikasi dan indeks manfaatkomunikasi menurut wilayah penelitian
Aktivitas dan karakteristik beberapa akunt twitter
Sebaran responden berdasar karakteristik individu dan manfaat komunikasi
Hasil uji beda Kruskal Wallis manfaat komunikasi antara laki-laki dan perempuan
48
Hasil uji Pearson hubungan antara perilaku komunikasi dengan manfaat komunikasi
Variabel laten dan indikatornya
Sebaran responden dan uji beda Kruskal Wallis berdasar rerata tingkat kesiapan menghadapi bencana gunung api dan wilayah terdampak bencana
Sebaran rerata tingkat kesiapan menghadapi bencana gunung api berdasar jenis kelamin
Hasil kriteria kesesuaian model SEM komunikasi risiko kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api
Pengaruh antar variabel model komunikasi risiko kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api
Hasil analisis pengaruh faktor lingkungan terhadap manfaat komunikasi dan faktor lingkungan terhadap kesiapan menghadapi bencana
Irama kentongan dan maknanya
Faktor pendorong dan penghambat komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api
Bahaya, kerentanan, risiko, dan bencana (BNPB, 2007) Kebiasaan, adat dan kepribadian
Model hipotesis proses pembentukan perilaku Model teori perilaku terencana (Hale dkk, 2002)
Komunikasi universal antarmanusia menurut DeVito (2011) Keanggotaan dalam berbagai jaringan komunikasi
Alur pikir penelitian perilaku komunikasi masyarakat dalam kesiapan menghadapi bencana gunung api
Karakteristik sistem
Pengintegrasian media komunikasi dalam sistem informasi bencana (Web) Jalin 25 Merapi
Kerangka pikir aktivitas komunikasi risiko menghadapi bencana gunung api
Kerangka berpikir hubungan antar variabel model komunikasi risiko kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api Peta wilayah penelitian model komunikasi risiko kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api
Proporsi jenis pekerjaan sektor informal yang dijadikan sumber matapencaharian oleh masyarakat pada tiga wilayah
14 15 16 17 18
19 20 21 22
penelitian
Sebaran status pekerjaan laki-laki dan perempuan di wilayah rawan bencana gunung api
Sebaran status pekerjaan dan tingkat pendidikan masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api
Sebaran tingkat pendidikan masyarakat berdasar lama tinggal di wilayah terdampak bencana gunung api
Perbandingan persepsi terhadap partisipan
Grafik proporsi tingkat kepercanaan responden terhadap kemasan acara di media massa TV dan radio berdasar wilayah penelitian
Konsep model komunikasi risiko kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api
Standarized loading factor model komunikasi risiko kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api
Tabisma, Tabungan Siaga Bencana di Dusun Deles
Keterpaduan saluran komunikasi dalam komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api
55 56 56 61 71
Latar belakang
Bencana gunung api telah mendorong banyak manusia di seluruh dunia terlibat sebagai partisipan komunikasi. Lalu lintas informasi pada saat bencana akan meningkat secara nyata dibanding pada keadaan normal. Situs twitter Jalin Merapi terjadi lonjakan pengikut dari sekitar 800 followers menjadi sekitar 33.000 followers pada saat erupsi Gunung Merapi 2010 (Jalin Merapi 2010). Informasi saat bencana sangat banyak dan beragam, tumpang tindih, dan tidak terkendali. Masyarakat, baik di wilayah bencana maupun diluar wilayah bencana disuguhi beragam informasi dari berbagai media yang berusaha menggambarkan fakta di lapangan.
Indonesia secara geografis berada di kawasan "Pacific Ring of Fire" memiliki lebih dari 83 gunung api aktif sehingga berpotensi sering terjadi gempa bumi maupun meletusnya gunung api. Bencana gunung api meskipun memiliki tanda-tanda, namun kejadian dan dampak dari bencana tersebut tidak dapat dihindari. Upaya-upaya menekan risiko bencana gunung api harus senantiasa dilakukan, baik sebelum, selama, maupun setelah terjadi bencana. Mengingat penanganan bencana gunung api membutuhkan peran berbagai pihak, baik masyarakat di wilayah rawan bencana, pemerintah, swasta, LSM, maupun para relawan dan donatur, maka peran komunikasi menjadi sangat penting. Peran komunikasi terutama untuk menyinergikan berbagai bentuk bantuan, baik material maupun non material. Oleh sebab itu agar penanganan bencana berjalan secara efektif, maka perlu dikembangkan sebuah model komunikasi untuk kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api.
Dalam UU No. 24 tahun 2007 dijelaskan bahwa bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh faktor alam yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Menurut Nivolianitou dan Synodinou (2011) bencana alam merupakan gangguan serius terhadap suatu komunitas yang menyebabkan kerugian materi, ekonomi, atau lingkungan hidup yang melampaui batas kemampuan masyarakat yang terdampak untuk mengatasi dengan menggunakan sumber dayanya sendiri.
Gunung api merupakan tempat keluarnya magma ke permukaan bumi, umumnya berbentuk kerucut yang terbentuk dari timbunan bahan letusan, seperti lava dan material lepas yang berasal dari bagian dalam bumi. Gunung api dapat menimbulkan bahaya bagi penduduk yang tinggal di sekitar gunung api tersebut. Bahaya paling utama dari letusan gunung api adalah bahaya yang langsung terjadi ketika letusan sedang berlangsung. Jenis bahaya tersebut adalah awan panas, lontaran batu pijar, hujan abu yang lebat, leleran lava, dan gas beracun,sedangkan bahaya sekunder dari letusan gunung api adalah lahar (BNPB, 2008).
dengan 2001 antara 1 sampai 7 tahun sekali. Portal BBC tanggal 27 Oktober 2010 menyebutkan bahwa korban jiwa pada letusan Gunung Merapi disebabkan oleh luka bakar serius, sementara itu portal Kabupaten Sleman yang dirilis 3 Desember 2010 mengungkapkan korban jiwa yang ditemukan disebabkan sakit maupun karena usia lanjut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan paling tidak ada empat faktor utama yang menimbulkan banyak korban dan kerugian akibat bencana, yaitu (a) pemahaman terhadap karakteristik bahaya; (b) sikap/perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya alam; (c) kurangnya informasi/peringatan dini yang menyebabkan ketidaksiapan; (d) ketidakberdayaan/ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya. Meskipun upaya penurunan risiko bencana telah dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian/lembaga/instansi terkait serta lembaga/organisasi non pemerintah maupun masyarakat, namun kejadian bencana tetap menunjukkan peningkatan baik intensitas maupun dampak kerugiannya (BNPB 2007).
Anwar (2011) mengatakan bencana alam merupakan suatu peristiwa yang tidak mudah diprediksi kapan akan terjadi. Banyak pihak meyakini kejadian bencana alam merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan suatu komunitas atau individu menjadi jatuh miskin. Hilangnya aset (tempat tinggal, alat produksi, maupun lahan kerja) dalam waktu yang sangat cepat diyakini menjadi faktor penting yang memicu terjadinya kerentanan ekonomi yang bisa mengancam suatu komunitas.
Salah satu bencana gunung api adalah letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang menimbulkan korban jiwa sebanyak 242 orang meninggal di wilayah Daerah IstimewaYogyakarta dan 97 orang meninggal di wilayah Jawa Tengah (BNPB, 2010). Kerusakan yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Merapi berdampak pada sektor permukiman, infrastruktur, telekomunikasi, listrik dan energi, serta air bersih. Di sektor permukiman, akibat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 telah mengubur sejumlah dusun di Provinsi DI Yogyakarta dan mengakibatkan ribuan rumah penduduk mengalami kerusakan. Tercatat 2.636 unit rumah rusak berat dan tidak layak huni, 156 rumah rusak sedang, dan 632 rumah rusak ringan, sehingga secara keseluruhan terdapat 3.424 rumah di wilayah Provinsi DI Yogyakarta yang mengalami kerusakan sebagai dampak erupsi Gunung Merapi. Wilayah Provinsi Jawa Tengah, tercatat total 3.705 rumah yang mengalami kerusakan akibat erupsi Gunung Merapi, dengan sebaran 551 rumah rusak berat, 950 rumah rusak sedang, dan 2.204 rumah rusak ringan.
untuk memberikan peringatan dini maupun informasi yang erat kaitannya dalam, saat bencana maupun pasca bencana.
Beberapa korban saat erupsi Gunung Merapi disebabkan masyarakat tidak memprediksi hembusan awan panas yang melewati wilayah tempat tinggal. Selain itu adanya kekhawatiran hilangnya harta benda, serta kurangnya antisipasi masyarakat dalam menghadapi perubahan bencana Gunung Merapi menyebabkan mereka terlambat mengungsi.
Paradigma sistem penanggulangan bencana saat ini menuntut masyarakat lebih berperan aktif dalam penurunan risiko bencana. Tanggungjawab penurunan risiko bencana tidak hanya pada pemerintah pusat, akan tetapi juga menjadi tanggungjawab pemerintah daerah. Demikian pula ruang lingkup penurunan risiko bencana juga semakin luas dari tanggap darurat diperluas menjadi mitigasi, tanggap darurat, rehabilitas, dan rekonstruksi.
Pengelolaan bencana adalah suatu medan yang melibatkan multi aktor, lintas disiplin ilmu, dan antar institusi. Bencana juga tidak mudah dikarantina serta memiliki karakter persoalan yang berbeda satu dengan yang lain. Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gajah Mada (2013) mengatakan karakteristik bencana yang dihadapi masing-masing wilayah berbeda, oleh sebab itu pemetaan risiko bencana hendaknya disajikan secara lengkap dan dapat diakses semua pihak.
Selama ini berbagai potensi bantuan bergerak sendiri-sendiri, bahkan relawan yang berasal dari luar wilayah merasa bingung karena tidak ada informasi yang memadai. Akibatnya pertolongan menjadi lamban, terjadi penumpukan logistik di titik-titik tertentu, sedangkan dititik lain terjadi kelangkaan bantuan. Pertolongan dalam bencana berpacu dengan waktu, berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu, masing-masing bertindak serampangan, dan sayangnya tidak ada tindaklanjut atas sejumlah masukan temuan lapangan (Chandra, 2011).
Gambar 1. Bahaya, kerentanan, risiko, dan bencana (BNPB, 2007)
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian kejadian yang akan datang. Hal tersebut disebabkan kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu risiko dapat diartikan sebagai suatu kerugian yang mungkin dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dikemudian hari. Konsep risiko menurut Charette dalam Pramana (2011) berhubungan dengan kejadian di masa datang, melibatkan perubahan, serta melibatkan pilihan dan ketidakpastian bahwa pilihan itu akan dilakukan.
Risiko bencana (disaster risk) Potensi kerugian yang timbul akibat
bencana Bahaya (hazard)
Fenomena alam/ buatan yang berpotensi mengancam kehidupan manusia, kerusakan harta benda dan
lingkungan
Kerantanan (vulnerability)
Kondisi masyarakat yang menyebabkan ketidakmampuan
menghadapi bencana
Pemicu
Dalam disiplin penanggulangan bencana, risiko bencana adalah interaksi antara tingkat kerentanan wilayah dengan ancaman bahaya (hazard) yang ada. Ancaman bahaya, khususnya bahaya alam sifatnya tetap karena bagian dari dinamika proses alami pembangunan atau pembentukan roman muka bumi baik dari tenaga internal maupun eksternal. Adapun tingkat kerentanan wilayah dapat dikurangi melalui peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman tersebut (Harjadi dkk 2007). Secara grafis hubungan antara ancaman, kerentanan, risiko dan kejadian bencana dapat dilihat pada Gambar 1.
Kerentanan (vulnerability)
Kerentanan dalam komunikasi risiko menghadapi bencana dapat disebabkan oleh persoalan internal individu pada masyarakat di wilayah rawan bencana maupun faktor lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Persoalan internal individu berupa kondisi fisik yang menghambat kegiatan komunikasi. Permasalahan panca indra sebagai media penerimaan stimulus akan menghambat dalam berkomunikasi. Pemberian maupun penerimaan informasi akan terhambat akibat ketidakmampuan pancaindra menerima stimulus dengan baik. Persoalan internal yang lain adalah kemampuan berbahasa yang buruk, rasa percaya diri yang kurang, kurang memiliki kemampuan memahami orang lain, mudah berprasangka buruk adalah hal-hal yang dapat meningkatkan kerentanan dalam komunikasi risiko menghadapi bencana.
Dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang penurunan risiko bencana, untuk mengurangi risiko dilakukan melalui kegiatan fisik, penyadaran, dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana. Kesiapan menghadapi bencana dimaksudkan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian, serta langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyiapan sarana komunikasi, pemasangan alat peringatan dini, penyiapan lokasi evakuasi, pusat informasi, pos komando, dan lain-lain.
Perserikatan Bangsa-bangsa menyelenggarakan berbagai program berkaitan dengan penurunan kerentanan yang disebabkan oleh bencana melalui organisasi-organisasi dibawahnya. Melalui program pangan dunia (WFP), organisasi-organisasi pangan dunia (FAO), organisasi yang mengurusi pengungsi (UNHCR), organisasi internasional untuk migrasi (IOM), program pembangunan PBB (UNDP) dan organisasi yang mengurusi anak-anak (UNICEF). Dalam penyelenggaraan kebencanaan dan kemanusiaan diawasi dan difasilitasi oleh koordinator urusan kemanusiaan (OCHA). Untuk melakukan koordinasi bantuan semua lembaga kemanusiaan, baik di dalam maupun di luar sistem PBB dilakukan oleh IASC.
sebagai hari pengurangan bencana alam (Internatioan Day for Natural Disaster Reduction).
Bentangan yang sangat luas dalam penurunan risiko bencana dan tuntutan adanya peranserta seuluruh partisipan memerlukan suatu strategi komunikasi yang efektif agar kegiatan penurunan risiko bencana dapat berjalan secara optimal. Berdasar hal tersebut maka perlu dirumuskan model komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api yang dapat meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana gunung api sehingga risiko bencana gunung api dapat dikurangi.
Perumusan Masalah
Berdasarkan temuan di lapangan, belum optimalnya penurunan risiko bencana meletusnya Gunung Merapi disebabkan oleh banyak faktor. Dalam pendekatan komunikasi faktor tersebut antara lain (a) Simpang siurnya berita yang diterima masyarakat dari berbagai sumber seringkali menimbulkan kekacauan pada penurunan risiko bencana; (b) Pemerintah tidak sepenuhnya mampu melakukan kontrol beredarnya informasi di tengah-tengah masyarakat mengingat banyak kalangan turut serta dalam penyebarluasan informasi, seperti melalui layanan pesan singkat, internet, radio, dan televisi; (c) Masih lemahnya masyarakat dalam mengakses informasi yang diperlukan dalam penurunan risiko bencana (pra, tanggap darurat, dan pasca bencana).
Sesuai amanah UU 24 tahun 2007, penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan hanya pada saat terjadi bencana (tanggap darurat), melainkan dimulai pada pra bencana sampai dengan pasca bencana. Pada pasal 27 butir a. menyebutkan setiap orang berkewajiban memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana. Beragamnya informasi yang diperlukan masyarakat menuntut mereka untuk memiliki kemampuan dalam mencari dan berbagi informasi terkait bencana.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah disusun sebagai berikut :
1. Bagaimanakah profil masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api? 2. Bagaimana perilaku komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana
gunung api untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api?
3. Sejauhmana manfaat komunikasi bagi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api?
4. Sejauhmana kesiapan masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api menghadapi bencana gunung api, serta faktor-faktor apa saja yang menentukan kesiapan menghadapi bencana gunung api dari perspektif komunikasi?
5. Bagaimana strategi yang harus diterapkan pada masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana gunung api.
media komunikasi untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api, serta karakteristik partisipan untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api yang mendukung dan tidak mendukung kesiapan menghadapi bencana gunung api.
Tujuan penelitian
Penelitian ini secara umum dilakukan untuk menjawab permasalahan bagaimana kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana gunung api melalui kegiatan komunikasi. Perilaku komunikasi yang diteliti dilihat dari dimensi media komunikasi, partisipan, bentuk pesan, dukungan faktor eksternal, manfaat komunikasi, dan kesiapan menghadapi bencana gunung api dari perspektif komunikasi. Asumsi dasar dari penelitian ini adalah apabila masyarakat memiliki keterampilan yang tinggi dalam berkomunikasi, memiliki persepsi yang baik terhadap partisipan dan intervensi media, ditunjang ketersediaan sarana prasarana, norma dan nilai budaya, maka masyarakat akan memperoleh manfaat komunikasi yang optimal dalam mewujudkan masyarakat yang siap menghadapi bencana gunung api.
Berdasarkan pembatasan permasalahan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Menganalisa profil masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api; (2) Menganalisa perilaku komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api; (3) Menganalisa manfaat komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api; (4) Menganalisa kesiapan masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk menghadapi bencana gunung api, serta Menganalisa faktor-faktor yang menentukan kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api dari perspektif komunikasi; dan (5) menyusun model komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api pada masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai titik awal penyusunan model kesiapan menghadapi bencana gunung api dari perspektif komunikasi. Dalam tatanan praktis, melalui pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api dalam kesiapan menghadapi bencana gunung api dapat disusun strategi yang efektif bagi peningkatan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana gunung api.
Kebaruan
Penelitian tentang kesiapan (readiness) banyak dikaji untuk ruang lingkup managemen dan pendidikan dan belum digunakan untuk mengkaji kesiapan dalam ranah bencana. Penelitian komunikasi yang terkait dengan bencana juga banyak dikaji terutama terkait bagaimana koordinasi antar partisipan dan penggunaan perangkat keras maupun perangkat lunak untuk kepentingan bencana. Penelitian ini menggabungkan dua ranah, yaitu tentang komunikasi dan tentang kesiapan (readiness). Penelitian ini menawarkan sebuah konsep baru tentang kesiapan menghadapi bencana gunung api dari perspektif komunikasi. Hasil akhir dari penelitian ini adalah skenario meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana gunung api dari perspektif komunikasi.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini termasuk ke dalam ruang lingkup penelitian komunikasi. Substansi penelitian ini mengenai komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api. Penelitian dilakukan di tiga lokasi yang berbeda jenis terdampak bencananya untuk selanjutnya dilakukan pengujian terhadap perbedaan perilaku komunikasi masyarakat pada tiga lokasi tersebut. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi terhadap faktor-faktor yang menentukan manfaat komunikasi dan kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api.
Pola penyajian disertasi disusun berdasarkan tujuan penelitian, yaitu : 1. Profil masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api.
2. Perilaku komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api.
3. Manfaat komunikasi masyarakat untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api.
4. Model komunikasi risiko dan faktor penentu kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api.
5. Strategi peningkatan kesiapan masyarakat menghadapi bencana gunung api yang diulas pada pembahasan umum.
Perilaku yang dianalisa meliputi keterampilan dalam penggunaan media komunikasi, penguasaan media komunikasi, persepsi terhadap partisipan dan persepsi terhadap intervensi media. Selain itu dibahas mengenai persepsi masyarakat terhadap dukungan lingkungan untuk komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api.
Daftar Istilah
(b) Komunikasi adalah penyampaian informasi dari partisipan yang satu kepada partisipan lainnya sehingga terjadi kesamaan makna antar partisipan.
(c) Komunikasi risiko adalah proses berbagi makna mengenai bahaya fisik seperti lokasi kerja yang berbahaya, pencemaran lingkungan, penyakit, dan lain-lain melalui komunikasi tatap muka maupun bermedia.
(d) Komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana gunung api adalah kondisi fisik dan mental seseorang yang mendasari pengelolaan informasi dalam menghadapi bencana gunung api.
(e) Agen komunikasi adalah orang atau pihak yang berperan sebagai jembatan informasi dari partisipan yang satu kepada partisipan lainnya
(f) Media sosial (sosial media) adalah sebuah sarana berkomunikasi secara online, para penggunanya dapat berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
(g) Teknologi informasi adalah teknologi yang digunakan untuk memproses, memanipulasi, dan mengorganisasi atau menata sekelompok data yang memiliki nilai pengetahuan bagi penggunanya
(h) Teknologi komunikasi adalah teknologi yang membantu manusia menyalurkan, menyebarkan informasi ke tempat tujuan.
(i) Konvergensi media adalah penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan ke dalam satu titik tujuan.
(j) Komunitas adalah kelompok orang yang hidup di suatu wilayah dan saling berinteraksi, meminati dan berkecimpung di bidang sama, dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa.
(k) Relawan adalah seorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penurunan risiko bencana
(l) Konvergensi sosial adalah pemanfaatan teknologi untuk berkomunikasi satu sama lain, menemukan dan memahami dunia di sekitar kita, dan untuk belajar. (m) Bencana alam adalah kejadian luar biasa yang disebabkan oleh perubahan rupa muka bumi yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis, yang melampaui batas kemampuan masyarakat yang terdampak untuk mengatasi dengan menggunakan sumber daya sendiri.
(n) Gunung api atau gunung berapi adalah bentuk muka bumi dengan ketinggian tertentu yang memiliki lubang tempat keluarnya magma atau material lain ke permukaan bumi.
(o) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
(p) BPBD atau Badan penanggulangan Bencana Wilayah adalah lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
(r) HT atau radio panggil adalah media komunikasi yang menggunakan frekuensi sangat tinggi (verry high frequence/ VHF)
(s) Portal berita atau website adalah salah satu menu di internet yang memuat informasi bermakna penting dari bermacam kategori peristiwa.
(t) Radio Komunitas adalah stasiun penyiaran media elektronik audio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pembiayaan berasal dari swadaya pengelola, iuran anggota komunitas, dan donatur. Jangkauan siaran dinikmati dalam wilayah yang terbatas.
2
KERANGKA TEORITIS DAN EMPIRIS
Tinjauan Pustaka
Komunikasi Risiko
Health dan O’Hair (2009) mengatakan perilaku memahami risiko adalah
bagaimana manusia secara individu dan dalam kelompok melihat lingkungan mereka dan hal-hal yang mengancam kehidupan mereka berdasarkan cara pandang keseluruhan dunia. Risiko harus dipahami, dikelola dan dikomunikasikan sehingga orang dapat menjalani kehidupan yang sehat dan bahagia.
Perkembangan industri telah menimbulkan berbagai risiko baru, sementara kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang risiko tersebut serta membuka peluang untuk dialog dalam pengambilan keputusan berdasarkan penilaian risiko (Palenchar 2009). Selanjutnya dijelaskan pada awal perkembangannya komunikasi risiko diarahkan untuk kepentingan politik para pejabat pemerintah dan usahawan yang membutuhkan dukungan masyarakat untuk suatu keputusan politik. Komuikasi risiko dikembangkan dari kebutuhan praktis masyarakat industri untuk mengelola teknologi dan untuk melindungi warga dari bahaya teknologi buatan manusia dan bahaya alam. Melihat uraian di atas, awal berdirinya komunikasi risiko bersifat satu arah yaitu dari para ahli sebagai partisipan kunci kepada masyarakat.
Palenchar selanjutnya menjelaskan perkembangan selanjutnya, bahwa komunikasi risiko menyoroti pentingnya pendekatan dialogis, membangun hubungan untuk menangani keprihatinan dan persepsi warga masyarakat dan para pekerja. Namun demikian pendekatan dialogis sering terhambat oleh kurangnya lembaga yang responsif terhadap kebutuhan, perhatian, dan pemahaman publik terhadap risiko potensial dan nyata. Geuter dan Stevens (1983) dalam Palenchar (2009) menjelaskan hal penting lain dari sebuah riset adalah pendekatan dimana dalam melihat berbagai fenomena didasarkan pada psikologi kognitif. Sementara itu penelitian tentang risiko, model, sgtrategi, dan teori-teori memiliki implikasi manusia.
Reynolds dan Seeger (2005) dalam Palenchar (2009) menjelaskan komunikasi risiko menyangkut tentang produksi pesan yang dirancang khusus untuk memperoleh tanggapan publik, sebagian besar dimediasi melalui saluran komunikasi massa, mengandalkan kredibilitas sebagai elemen mendasar persuasi, dan bertujuan untuk mengurangi bahaya dan meningkatkan keamanan masyarakt.
Koentjaraningrat (1981) menjelaskan perilaku kelompok merupakan kumpulan dari perilaku-perilaku individu. Koentjaraningrat memetakan perilaku manusia kedalam kebiasaan, adat istiadat, dan kebribadian yang didasarkan atas jumlah individu dan jumlah materi. Pengelompokkan tersebut selanjutnya diilustrasikan sebagaimana Gambar 2.
Gambar 2. Kebiasaan, adat dan kepribadian
Pada bagian lain Koentjaraningrat mengutip kerangka Kuckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientsai nilai budaya manusia sebagaimana Tabel 1. Setiap manusia atau kelompok manusia memiliki orientasi yang berbeda dalam hidupnya, dan hal tersebut akan menentukan perilakunnya sehari-hari.
Tabel 1 Masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientsai nilai budaya manusia
Masalah dasar
dalam hidup Orientasi Nilai Budaya
Hakekat hidup Hidup itu buruk Hidup itu baik Hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu baik Hakekat karya Karya itu untuk nafkah
hidup
Perilaku Terencana (Theory of Planed Behavior)
Perilaku, Sebuah Proses Pengolahan Informasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud digerakan (sikap), tidak saja badan atau ucapan. Perilaku menurut Solso, dkk. (2007) terbentuk dari cara memperoleh dan memproses informasi mengenai dunia, cara informasi tersebut disimpan dan diproses oleh otak, cara kita menyelesaikan masalah, berpikir, dan menyusun bahasa, dan bagaimana proses tersebut ditampilkan dalam perilaku yang dapat diamati.
Perilaku pada hakikatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpikir, persepsi dan emosi. Perilaku juga dapat diartikan sebagai aktifitas organisme baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Notoatmodjo, 2007). Skinner dalam Notoatmodjo (2007), merumuskan perilaku sebagai respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Berdasarkan teori Skinner tersebut maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior).
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain secara jelas. Respons seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan, dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Adapun perilaku terbuka apabila respon terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan atau praktik yang dapat diamati orang lain. Dengan demikian perilaku terbentuk karena adanya faktor eksternal atau stimulus, yaitu faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun non fisik dalam bentuk sosial budaya, ekonomi, maupun politik. Karakteristik individu yang menentukan seseorang merespon stimulus dari luar dapat berupa perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti, dan sebagainya. Dari banyak penelitian yang ada menunjukkan faktor eksternal merupakan faktor yang memiliki peran sangat besar dalam membentuk perilaku manusia karena dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya dimana seseorang itu berada (Notoatmodjo, 2007)
(a) Sensasi, yaitu deteksi energi fisik yang dihasilkan atau dipantulkan oleh obyek-obyek fisik yang terjadi ketika energi dalam lingkungan eksternal atau dalam tubuh merangsang reseptor dalam organ-organ panca indra;
(b) Persepsi adalah proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan sensoris mereka guna member arti bagi lingkungan mereka;
(c) Perhatian adalah konsentrasi yang hanya terfokus pada salah satu alat indra dan stimulus yang diterima sangat menonjol atau tergantung pada kesadaran individu;
(d) Berpikir, adalah dimana otak bekerja dan memproses stimulus yang ada hingga menimbulkan respon dan menghasilkan keputusan, atau hasil-hasil yang baru.
Berdasar uraian di atas maka informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan dan pemberian identitas dari stimulus yang diterima oleh pancaindra yang disimpan dalam memori, dikomunikasikan kepada orang lain, maupun sebagai dasar dalam berperilaku. Stimulus dapat berasal dari alam, benda-benda, hewan, tumbuhan, maupun dari manusia.
James, Waugh, dan Norman dalam Solso (2007) mengembangkan model perilaku kognitif didasarkan pada rangkaian peristiwa. Sebuah stimulus memasuki indra, dengan sistem syaraf sensorik dilakukan pendeteksian, selanjutnya stimulus tersebut disimpan dalam memori, dan akan melakukan reaksi terhadap memori tersebut.
Perilaku menurut Rogers dan Shoemaker (1986) merupakan suatu tindakan nyata yang dapat dilihat atau diamati. Perilaku tersebut terjadi akibat adanya proses penyampaian pengetahuan suatu stimulus sampai ada penentuan sikap untuk bertindak atau tidak bertindak, dan hal ini dapat dilihat dengan menggunakan panca indra. Perilaku atau tingkah laku adalah kebiasaan bertindak yang menunjukkan tabiat seseorang yang terdiri dari pola-pola tingkat laku yang digunakan oleh individu dalam melakukan kegiatannya. Perilaku terjadi disebabkan adanya stimulus, motivasi, dan tujuan.
Perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan. Dengan kata lain, perilaku pada umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu. Tujuan spesifik tidak selamanya diketahui dengan sadar oleh yang bersangkutan. Dorongan yang memotivasi pola perilaku individu yang nyata dalam kadar tertentu berada dalam alam bawah sadar. Dari uraian tersebut diatas, pembentukan perilaku dapat diilustrasikan pada Gambar 3.
Rogers menyatakan bahwa perilaku komunikasi merupakan suatu kebiasaan dari individu atau kelompok di dalam menerima atau menyampaikan pesan yang diindikasikan dengan adanya partisipasi, hubungan dengan sisitem sosial, kekosmopolitan, hubungan dengan agen pembaharu, keterdedahan dengan media massa, keaktifan mencari informasi, dan pengetahuan mengenai hal-hal baru.
Berdasarkan pada definisi perilaku yang telah diungkapkan sebelumnya, perilaku komunikasi diartikan sebagai tindakan atau respon dalam lingkungan dan situasi komunikasi yang ada, atau dengan kata lain perilaku komunikasi adalah cara berfikir, berpengetahuan dan berwawasan, berperasaan dan bertindak atau melakukan tindakan yang dianut seseorang, keluarga atau masyarakat dalam mencari dan menyampaikan informasi melalui berbagai saluran yang ada di dalam jaringan komunikasi masyarakat setempat Hapsari 2007 dalam Panggalo (2013).
Gambar 3 Model hipotesis proses pembentukan perilaku
Rogers (1983) mengungkapkan ada tiga variabel perilaku komunikasi yang sudah teruji secara empiris nyata yaitu pencarian informasi, kontak dengan penyuluh, dan keterdedahan pada media massa. Variabel pertama yaitu pencarian informasi masih perlu didampingi dengan penyampaian informasi, sesuai dengan model transaksional yang bersifat saling menerima dan memberi informasi secara bergantian. Dalam mencari dan menyampaikan informasi, seyogyanya juga mengukur kualitas (level) dari komunikasi. Berlo (1960) mendeskripsikan level komunikasi adalah mengukur derajat kedalaman mencari dan menyampaikan informasi yang meliputi (a) sekedar bicara ringan, (b) saling ketergantungan (independen), (c) tenggang rasa (empaty), (d) saling interaksi (interaktif).
Kebutuhan seseorang akan informasi mampu menggerakannya secara aktif melakukan pencarian informasi. Berlo (1960) mengungkapkan bahwa perilaku komunikasi seseorang dapat dilihat dari kebiasaan berkomunikasi. Berdasarkan definisi perilaku komunikasi, maka hal-hal yang sebaiknya perlu dipertimbangkan adalah bahwa seseorang akan melakukan komunikasi sesuai dengan kebutuhannya. Halim dalam Panggalo (2013) mengungkapkan bahwa komunikasi, kognisi, sikap, dan perilaku dapat dijelaskan secara lebih baik melalui pendekatan situasional, khususnya mengenai kapan dan bagaimana orang berkomunkasi tentang masalah tertentu.
Perilaku Tertutup • Sikap • Motivasi • Sugesti Terbuka • Berjalan • Berbicara
Faktor sosial
• Keanggotaan dalam organisasi sosial
• Peran dalam organisasi sosial
S
ti
m
u
lu
s
Sensasi
Persepsi
Perhatian
Berpikir
Dorongan Perilaku
Setiap perilaku manusia didasari atas dorongan, yaitu apa yang disebut motif (Santoso 2010), baik dorongan biologis, instink, maupun dorongan yang datangnya dari lingkungan sekitar. Atkinson et.al. (1983) memberikan beberapa contoh tentang dorongan manusia untuk berperilaku, misalnya dorongan lapar untuk memperoleh kenyang, sehat, kuat dan sebagainya. Lapar dijelaskan secara panjang lebar bagaimana rasa lapar itu terjadi, bagaimana unsur-unsur makanan tersebut dapat mempengaruhi tubuh manusia sehingga pada akhirnya seseorang memutuskan jenis, jumlah, waktu makan untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam hal berkomunikasi, manusia memiliki beragam tujuan seperti memberi informasi, mendidik, mempelajari, menghibur, menganjurkan, menolak dan sebagainya (Schramm 1993). Sementara itu Lasswell dalam Wiryanto (2000) menjelaskan tentang fungsi komunikasi, yaitu pengawasan lingkungan, hubungan antar bagian dalam masyarakat, serta sosialisasi.
Fungsi pengawasan merujuk pada kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan penyebarluasan informasi berbagai peristiwa yang terjadi di dalam maupun diluar lingkungan suatu masyarakat. Selanjutnya upaya tersebut diarahkan kepada tujuan mengendalikan situasi yang ada di masyarakat. Beberapa contoh dari aktivitas komunikasi tersebut adalah untuk mencegah kekerasan dan keamanan.
Fungsi korelasi merujuk kepada upaya-upaya memahami berbagai persitiwa melalui kegiatan interpretasi atau penafsiran informasi sehingga diperoleh sebuah pemahaman atas peristiwa tersebut. Melalui fungsi korelasi komuniksi diarahkan untuk mencapai konsesus atas sebuah peristiwa. Upaya-upaya untuk mencapai konsensus disebut sebagai propaganda.
Fungsi sosialisasi merujuk pada upaya-upaya mendidik dan mewariskan nilai-nilai, norma dan prinsip-prinsip dari satu generasi ke generasi lainnya. Kemampuan berbahasa, tata krama, lagu dan syair merupakan beberapa contoh fungsi sosialisasi.
Hale dkk. (2002) mengatakan bahwa Fishbein dan Ajzen telah mengembangkan teori perilaku beralasan (Theory of Reasoned Action/TRA). Dalam teorinya dikatakan bahwa niat adalah prediktor terkuat dari perilaku yang tidak memaksa. Sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap, norma subyektif, dan kontrol sumber daya. TRA mendasarkan pemikiran bahwa perilaku seseorang berada dalam kendali pelaku, dan manusia adalah mahluk rasional. Oleh sebab itu setiap perilaku seseorang memiliki latar belakang yang mendorong untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.
Sikap, Sebuah Kesiapan Merespon Secara Konsisten
Sikap menurut Hale dkk (2002) merupakan respon atas perasaan untuk melakukan sesuatu aktifitas komunikasi. Adapun perasaan itu bersumber dari keyakinan perlunya melakukan aktifitas komunikasi yang bersumber dari pengetahuan dan evaluasi atas berbagai informasi.
King (2010) mengatakan sikap (attitude) adalah berbagai pendapat dan keyakinan kita mengenai orang lain, obyek, atau gagasan, atau secara sederhana, sikap adalah bagaimana kita merasakan berbagai hal. Dalam bukunya King mengutip beberapa pendapat ahli untuk mengungkapkan hubungan sikap dengan perilaku. Sikap yang dapat mendorong seseorang berperilaku antara lain adalah sikap yang kuat, semakin kuat sikap maka cenderung untuk berperilaku sebagaimana sikapnya. Ketika seseorang menunjukkan kesadaran yang kuat atas sikapya dan ketika seseorang mengulang-ulang dan melatihnya maka sikap tersebut akan semakin menunjukkan perilaku yang akan dilakukan seseorang. Kepentingan seseorang akan sesuatu juga merupakan prediktor kuat terhadap perilaku.
Sikap menurut Allport dalam Rahayu (2001) adalah keadaan mental dan taraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respons individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (upi.edu). Sikap merupakan kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Norma Subyektif, Tekanan Sosial untuk Melakukan atau Tidak Melakukan
Norma subyektif berhubungan dengan pandangan seseorang terhadap suatu keadaan atau kejadian, dan perasaan yang timbul apabila seseorang tidak mengikuti pandangan orang lain atas suatu keadaan atau kejadian. Norma subjektif adalah persepsi seseorang mengenai tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku (Ajzen,1991). Dalam model theory of reasoned action dan theory of planned behavior, norma subjektif adalah fungsi dari
Believe strenth
Believe Evaluation
Normative Belief
Motivation to comply
Control Belief
Perceived power
Attitude
Subjective Norm
Perceived Behavioral Control
Behavioral Intenstion
Volitional Behavior
normative beliefs, yang mewakili persepsi mengenai preferensi significant others yaitu apakah perilaku tersebut harus dilakukan.
Norma subyektif banyak dikaji pada penelitian-penelitian psikologi, seperti penelitian tentang intensi berwirausaha (Andika dan Iskandarsyah, 2012) menunjukkan norma subyektif memiliki pengaruh terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. Norma sosial diperoleh dari mendenganrkan saran orang-orang terdekat.
Sebuah norma subyektif adalah fungsi dari keyakinan normatif dan motivasi untuk mematuhi perilaku yang diharapkan. Sebuah keyakinan normatif mengacu pada sejauh mana individu memandang perilaku tertentu atau kondisi yang diharapkan dan diinginkan dalam pikiran orang lain yang penting bagi individu. Motivasi untuk mematuhi perilaku yang diharapkan mengacu pada bagaimana memaksa individu untuk memenuhi berbagai harapan. Seseorang akan merasakan bahwa teman-temannya, keluarga, dan rekan kerja berpikir tentang suatu keyakinan yang dapat mempengaruhi niat seseorang melakukan suatu tindakan (Springston dkk 2009)
Keyakinan Mengontrol Perilaku
Pada tahun 1985 Fishbein dan Ajzen menyempurnakan teorinya dengan menambahkan unsur kontrol perilaku sebagai unsur yang turut berpengaruh kepada niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Kontrol perilaku yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen mengambil konsep tentang self-efficacy Bandura. Konsep self-efficacy berakar dari teori sosial kognitif Bandura, dengan mengacu keyakinan bahwa seseorang dapat berhasil melaksanakan perilaku yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu. Konsep self-efficacy mengarah pada persepsi kemudahan atau kesulitan dalam melaksanakan perilaku tertentu. Hal tersebut terkait dengan kontrol keyakinan, yang mengacu pada keyakinan seseorang adanya faktor yang dapat memfasilitasi atau yang menghambat kinerja perilaku.
Unsur Komunikasi
Gambar 5 Komunikasi universal antarmanusia menurut DeVito (2011) Selanjutnya DeVito mengatakan bahwa tujuan manusia berkomunikasi yaitu untuk penemuan diri, berhubungan, baik dengan keluarga, tetangga, maupun teman kantor, untuk meyakinkan, dan untuk bermain. Komunikasi tersebut dilakukan secara langsung maupun melalui media.
Menurut Littlejohn dan Foss (2011) dalam komunikasi dikenal adanya komunikasi intra pribadi, antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. (a) Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Komunikasi intra pribadi menekankan bagaimana jalannya proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya; (b) komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung (face to face) maupun melalui media (misalnya telepon, surat); (c) komunikasi kelompok (group communication) memfokuskan pembahasannya pada interaksi di antara orang-orang dalam kelompok kecil; (d) komunikasi organisasi (organization communication) mengarah pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi; (e) komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan pada sejumlah khalayak yang besar.
Dalam disertasinya, Saleh (2006) mengutip tentang fungsi komunikasi menurut Lasswell, yaitu untuk pengamatan terhadap lingkungan; penghubung bagian-bagian yang ada di dalam masyarakat agar masyarakat dapat memberi respon terhadap lingkungan tersebut; dan pemindahan warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. Konsep pengamatan terhadap lingkungan merupakan pengumpulan dan pendistribusian informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu lingkungan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar masyarakat. Komunikasi sebagai penghubung bagian-bagian masyarakat mengandung arti melakukan interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan, dan selanjutnya memberitahukan cara-cara memberikan reaksi terhadap apa yang terjadi. Adapun fungsi komunikasi sebagai pemindahan warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya berfokus pada mengkomunikasikan pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sumber
Penerima
Sumber
Partisipan Komunikasi Risiko Kesiapan Menghadapi Bencana
Komunikasi bencana tidak terlepas dari konsep jaringan komunikasi, sebab dalam bencana diperlukan campur tangan partisipan di luar masyarakat yang terkena bencana. Oleh sebab itu komunikasi dalam bencana berfungsi sebagai penghubung antar partisipan, yaitu masyarakat di wilayah bencana dengan masyarakat luas yang berperan dalam penurunan risiko bencana.
Rogers dan Kincaid (1981) mengatakan jaringan komunikasi sebagai keterhubungan antar individu-individu melalui arus informasi yang berpola, hubungan yang stabil (Rogers dan Rogers, 1976), melalui jalan tertentu (Muhammad, 2000), saling mempengaruhi, dan untuk mencapai tujuan bersama (Schramm, 1993), serta memiliki kesamaan isu/pesan komunikasi (Jahi, 1993). Hubungan yang terbentuk di dalam masyarakat sangat banyak, dapat berupa hubungan atas dasar saudara, pekerjaan yang sama, hubungan antar tetangga, hubungan antar pelajar atau mahasiswa, dan lain-lain.
Pada dasarnya manusia memiliki kebebasan untuk bergabung atau terlibat dalam suatu jaringan komunikasi. Keterlibatan tersebut antara lain bergantung pada tujuan yang hendak dicapai dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu seseorang tidak hanya terlibat atau bergabung dengan satu jaringan komunikasi saja, melainkan dapat terlibat dan bergabung dengan berbagai jaringan komunikasi. Gambar 6 menunjukkan keanggotaan seseorang dalam berbagai jaringan komunikasi.
Seseorang terhubung dalam suatu jaringan komunikasi terkait erat dengan kebutuhan hidupnya. Maslow (1993) mengungkapkan kebutuhan manusia berkembang. Kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Kebutuhan terendah adalah kebutuhan fisik, seperti bernapas, makan, dan minum. Kebutuhan berikutnya adalah rasa aman, seperti kebutuhan rumah, kesehatan di hari tua, dapat menyekolahkan putra-putrinya dan lain-lain. Setelah itu ada kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain. Kemudian baru kebutuhan harga diri, agar dirinya dalam pergaulan sosial bisa dihargai.
Kebutuhan akhir adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk melaksanakan karya nyata di tengah masyarakat.
Tabel 2 Partisipan komunikasi penurunan risiko masa tanggap darurat letusan Gunung Merapi 2010
Partisipan Peran dalam penurunan
kerentanan bencana Kegiatan komunikasi Relawan di lapangan dukungan keahlian dan
tenaga dalam penerimaan
Lembaga internasional Kebijakan pemberian bantuan internasional
Sumber : hasil penelitian berdasar informan jalin merapi
Keterhubungan seseorang dalam jaringan dapat dilakukan secara sukarela
atau ―paksaan‖ karena terikat status. Sifat tersebut akan mempengaruhi tingkat keterhubungan seseorang dengan jaringan komunikasi. Contoh keterhubungan dalam jaringan komunikasi yang bersifat sukarela antara lain yang berkaitan dengan kesenangan, hobi, atau bermain. Apabila seseorang telah merasa bosan atau tidak lagi menemukan kesenangan dalam jaringan komunikasi, maka setiap saat orang tersebut dapat keluar dari jaringan. Sedangkan keterlibatan dalam jaringan komunikasi yang dipaksakan adalah keterlibatan dalam jaringan komunikasi karena status, misalnya sebagai pegawai, sebagai kepala desa, tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Keterlibatan ini terjadi selama masih memiliki status di dalam masyarakat.
Dalam penurunan risiko bencana, partisipan yang terhubung dalam jaringan komunikasi antara lain pemerintah, LSM, relawan, masyarakat di wilayah rawan bencana, para donasi, perusahaan mass media, dan lembaga asing. Jalin Merapi, sebuah lembaga non pemerintah yang banyak berperan dalam penurunan risiko bencana Gunung Merapi, telah memetakan partisipan yang terhubung di dalam jaringan komunikasi penurunan risiko bencana Gunung Merapi sebagaimana terlihat pada Tabel 2.
Media Komunikasi Risiko Kesiapan Menghadapi Bencana
Kecepatan dalam pertukaran informasi dan ketepatan informasi terkait bencana merupakan hal mendasar dalam komunikasi risiko kesiapan menghadapi bencana. Memahami tanda-tanda alam yang dapat mengarah kepada kejadian bencana, tingkat bencana, dan dampak yang dapat ditimbulkan merupakan prasarat agar komunikasi berjalan efektif. Namun demikian pemahaman tentang tanda-tanda bencana menjadi tidak berarti apabila tidak dikomunikasikan dengan partisipan. Perlu diingat kembali bahwa bencana identik dengan kebutuhan akan bantuan pihak lain, oleh sebab itu informasi yang diperoleh harus disebarluaskan dengan cepat dan tepat. Menghadapi ketidakpastian, masyarakat di wilayah rawan bencana gunung api dituntut untuk menguasai berbagai media komunikasi yang dapat digunakan dalam penanganan bencana.
fakta yang ada. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kesalahan dalam menginterpretasikan suatu kejadian, kesalahan dalam meneruskan informasi yang diterima, maupun kesalahan dalam menyampaikan informasi.
Tabel 3 Klasifikasi media menurut jenis, pengguna, dan sasaran
Sumber : hasil penelitian berdasar informan jalin merapi
Coombs (2009) mengatakan dalam komunikasi krisis terdapat dua proses yaitu (a) pengetahuan tentang krisis; dan (b) pengelolaan reaksi partisipan. Komunikasi krisis memberikan cukup informasi untuk membuat keputusan, dan keputusan tersebut kemudian dikomunikasikan kepada partisipan. Pemahaman tim pengelola krisis terhadap partisipan dapat mengelola reaksi partisipan terhadap krisis.
Dari pemikiran tersebut, upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi sangat diperlukan. Masyarakat dituntut mampu mencari informasi, menyebarluaskan informasi, dan menelaah informasi sehingga informasi yang beredar dan dikonsumsi masyarakat merupakan informasi yang benar dan tepat.
Permasalahan yang dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi masyarakat di wilayah rawan bencana untuk kesiapan menghadapi bencana gunung api. Masalah penelitian tersebut kemudian dikaji dan dicari jawabannya secara deduktif maupun induktif. Penyusunan kerangka berpikir secara deduktif didasarkan atas berbagai teori, antara lain teori pembentukan perilaku, teori tindakan terencana, teori kesiapan perubahan, teori komunikasi, maupun dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Secara grafis kerangka pikir penelitian perilaku komunikasi masyarakat dalam kesiapan menghadapi bencana gunung api ditampilkan dalam Gambar 7.
Gambar 7 Alur pikir penelitian komunikasi risiko kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana gunung api (gabar diunduh dari internet)
Komunikasi Risiko, Berbagi Makna Antar Partisipan tentang Bahaya Fisik
Komunikasi risiko menurut beberapa ahli adalah proses berbagi makna mengenai bahaya fisik seperti lokasi kerja yang berbahaya, pencemaran lingkungan, radiasi, kanker, bahaya merokok, perubahan iklim, kejahatan, bunuh diri, dan terorisme. (Rowan 2009). Komunikasi risiko terjadi dalam pengaruh komunikasi interpersonal, organisasi, dan lingkungan dimensi seperti internet, media cetak, televisi. Komunikasi risiko erat kaitannya dengan faktor kepercayaan. Untuk memahami komunikasi risiko maka penting untuk mempelajari tentang penilaian risiko dan manajemen risiko